You are on page 1of 4

Akibat Muntah Darah

Seorang perempuan berusia 61 tahun diantar keluarganya ke UGD RSU dengan keluhan muntah
darah. Dari alloanamnesis diketahui muntah darah terjadi sejak 3 hari sebelum masuk RS. Warna
muntahan seperti kopi pekat dengan jumlah kurang lebih 4 gelas. Pagi hari sebelum MRS, pasien
merasa mual terus-menerus yang disertai nyeri ulu hati, kemudian muntah beberapa kali sebelum
akhirnya muntah darah kembali. Selain muntah darah pasien juga BAB berwarna hitam seperti
ter, dan ini baru petama kali dikeluhkan. Sejak usia 40-an, pasien sering mengkonsumsi jamu
dan obat-obat untuk menghilangkan pegal linu dan masih terus diminum sebelum pasien MRS.
Pasien mempunyai riwayat hipertensi, terakhir diperiksa dimantri tekanan darah pasien adalah
160/90 dan pasien tidak teratur minum obat antihipertensi.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sesak, kesadaran apatis, konjungtiva
anemis, tanda vital TD 90/50, nadi 130x/menit, RR 32x/menit, dan suhu 38C. setelah dilakukan
rehidrasi, ternyata pasien bertambah sesak, gelisah, nadi teraba lemah, tekanan darah tidak
terukur. Tiba-tiba pasien menjadi tidak sadar. Dokter melakukan resusitasi jantung paru namun
tidak berhasil. Pada pemeiksaan penunjang EKG didapatkan gambaran asystole.

Step 2
1. Apa penyebab dari muntah darah, feses seperti ter dan nyeri ulu hati? Dan hubungan antara
muntah darah, feses seperti ter dengan nyeri ulu hati?
2. Apa hubungan obat penghilang pegal linu dengan keluhan sekarang?
3. Apa hubungan hipertensi, usia dengan keluhan pasien?
4. Apa interpretasi dari hasil pemeriksaan?
5. Mengapa keadaan pasien memburuk setelah dilakukan rehidrasi?
6. Apakah tatalaksana pada pasien di skenario sudah benar?
7. Apa diagnosis kerja pada pasien dan diagnosis bandingnya?

Step 3
1. Penyebab dari keluhan:
Muntah darah sering disebut juga hematemesis merupakan manifestasi utama jika
terjadi perdarahan pada saluran pencernaan bagian atas. Hematemesis ini perlu
dibedakan dengan batuk darah atau hemoptisis yang berasal dari saluran napas.
Contoh gangguan pada saluran pencernaan bagian atas yang sering menyebabkan
hematemesis adalah rupture varises esophagus.
Kejadian feses seperti ter dapat juga disebut melena. Perlu dibedakan dengan feses
yang disertai darah atau disebut hematoschezia, merupakan feses yang bercampur
dengan darah dan mempunyai warna yang lebih kemerahan karena berasal dari
saluran cerna bawah. Melena dapat terjadi sebagai manifestasi dari perdarahan
saluran cerna bagian atas. Contohnya pada kasus penyakit ulkus peptikus yang
terjadi di lambung maupun duodenum.
Nyeri ulu hati disebabkan adanya gangguan keseimbangan pada lambung antara
agresif dengan defensif, seperti gastritis, ulkus peptikum atau ulkus duodenum.
Selain itu juga bisa disebabkan penggunaan obat antiinflamasi yang menghambat
prostaglandin.
Hubungan antara nyeri ulu hati dengan muntah darah dan melena, jika lambung mengalami
perdarahan maka bisa menimbulkan gejala muntah darah dan feses seperti ter.

2. Prostaglandin dihasilkan lambung yang berfungsi untuk melindungi mukosa lambung,


pemberian obat penghilang pegal linu yg kemungkinan merupakan obat antiinflamasi non-
steroid dalam waktu yang lama dimana cara kerjanya NSAID akan menghambat COX 1
dan COX 2 sehingga akan menurunkan produksi dari prostaglandin, akibatnya proteksi
lambung menurun yang dapat menyebabkan tukak lambung selain itu penurunan
prostaglandin dapat menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah yang akan memperlambat
proses regeneratif.

3. Hipertensi tidak terkontrol dapat mempengaruhi keluhan sekarang akibat tingginya


tekanan darah pasien sehingga dikhawatirkan dapat menjadi penyulit untuk berhentinya
suatu perdarahan dan dapat terjadi perdarahan yang lebih banyak. Selain itu, hipertensi
tidak terkontrol dapat menyebabkan komplikasi pada keadaan pasien akibat gangguan
kardiovaskuler. Contohnya dapat terjadi syok kardiogenik akibat kegagalan fungsi
jantung..

4. Interpretasi:
Syok : Tekanan darah 90/50
Demam : 38OC (kompensasi dari pengeluaran CO2 atau proses peradangan)
Takikardi : 130x/menit (kompensasi karena tekanan darah turun)
Takipneu : 32x/menit (kompensasi karena terjadinya hipoksia)
Apatis : Penurunan tekanan darah sehingga mengganggu kerja otak
Konjungtiva anemis : Penurunan sirkulasi darah
Tubuh sudah melakukan kompensasi tetapi tekanan darah masih rendah, jadi syok terdiri
dari syok kompensasi, syok dekompensasi dan syok ireversibel. Jika tekanan darah masih
dibawah normal maka kemungkinan syok sudah masuk tahap dekompensasi.

5. Keadaan memburuk bisa karena pemberian cairan yang salah, dosis yang kurang tepat.
Misalnya jika tindakan rehidrasi menggunakan kristaloid dan tidak dilakukan monitoring
yang tepat dapat terjadi komplikasi edema paru akibat kelebihan cairan dan ini
menimbulkan gejala sesak nafas.
Selain itu, kemungkinan dapat juga terjadi komplikasi lain karena pasien memiliki riwayat
hipertensi tidak terkontrol. Misalnya syok kardiogenik.

6. Penatalaksanaan awal seharusnya :


- Jika ditemukan adanya snooring maka bebaskan jalan nafas terlebih dahulu
- Jika ada perdarahan, segera hentikan perdarahan
- Pemberian cairan (IV Line RL atau garam fisiologis) sesuai dosis
- Pemberian Oksigen
- Jika pemeriksaan laboratorium Hb kurang atau sama dengan 10 g/dl maka dapat
diberikan transfusi darah.
7. Diagnosis kerja yaitu syok hipovolemik et causa suspek ulkus peptikum. Ulkus peptikum
hanya bisa didiagnosis jika telah di endoskopi, jadi klo belum diendoskopi harus
ditambahkan suspek

Diagnosis banding Syok kardiogenik