You are on page 1of 22

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, dengan kekuatan dan
pertolongannya, akhirnya kami bisa menyelesaikan pembuatan makalah ini.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Patofisiologi. Dalam
pembelajaran dan penyusunan makalah, kami banyak mendapatkan bimbingan, arahan, dan
dukungan dari berbagai pihak. Maka dari itu kami mengucapkan terimakasih kepada dosen
Poltekkes Kemenkes Semarang , khususnya mata kuliah Patofisiologi yang telah berperan
penting dalam penyelesaian makalah ini.
Selain itu kami memohon maaf atas kekurangan-kekurangan yang ada dalam makalah ini,
karena kami masih dalam tahap pembelajaran. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan
makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang
membangun demi tercapainya kesempurnaan makalah yang akan datang.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan mengenai Patofisiologi
dan mendapat ridho dari Allah SWT yang senantiasa memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya bagi
kita semua.

Penulis

ii
INTISARI
Penyakit refluks gastroesofageal (Gastroesophageal Reflux Disease/GERD) didefinisikan
sebagai suatu keadaan patologis sebagai akibat refluks kandungan lambung ke dalam
esofagus yang menimbulkan berbagai gejala yang mengganggu (troublesome) di
esophagusmaupun ekstra esofagus dan atau komplikasi (Susanto, 2002).
Penyebab GERD antara lain adalah stress, Makanan atau minuman yang menyebabkan
melemahnya fungsi LES (Lower Esophageal Spincter/sfingter esofagus bawah), contoh
terlalu banyak mengonsumsi kafein, keju, coklat., Merokok, alcohol, Obat-obatan, contoh
golongan NSAID (ibuprofen, alminoprofen, fenbufen, indoprofen, naproxen, dan
ketorolac). , Peningkatan tekanan perut, karena obesitas atau kehamilan, Hiatal hernia,
Akibat dari GERD antara lain adalah penyempitan kerongkongan, pendarahan
kerongkongan dan kondisi yang disebut Barretts esophagus (terjadi pembentukan jaringan
pada dinding kerongkongan seperti yang ditemukan dalam usus) . Jika hal ini terjadi,
perjalanan penyakit ini berhubungan dengan kanker kerongkongan..
Gejala khas GERD adalah heartburn, yaitu rasa terbakar di dada disertai nyeri kadang
kadang bercampur dengan gejala disfagia (kesulitan menelan makanan), dan regurgitasi
rasa asam pahit dari lambung terasa di lidah). gejala tidak khas ataupun gejala ekstra
esofagus juga bisa timbul yang meliputi nyeri dada non kardiak (non cardiac chest
pain/NCCP), suara serak, laringitis, batuk, asma, bronkiektasis, gangguan tidur (Makmun2009),

iii
DAFTAR ISI
JUDUL ............................................................................................................i

KATA PENGANTAR ...................................................................................ii

INTISARI ..................................................................................................... iii

DAFTAR ISI ................................................................................................. iv

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................1

A. Latar Belakang ................................................................................. 1

B. Rumusan Masalah ............................................................................ 2

C. Tujuan Penulisan .............................................................................. 2

D. Manfaat Penulisan ............................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN .............................................................................. 3

A. Definisi GERD .................................................................................. 3

B. Penyebab GERD ............................................................................... 4

C. Akibat Dari Penyakit GERD ........................................................... 5

D. Nama Familiar GERD Di Masyarakat Umum .............................. 5

E. Pathogenesis GERD .......................................................................... 6

F. Tanda Dan Gejala GERD ................................................................. 8

G. Gambaran Pemeriksaan Pada GERD ............................................ 9

H. Penatalaksanaan Perawatan Penyakit Pada GERD ....................11

BAB II PENUTUP ....................................................................................... 16

A. Simpulan .......................................................................................... 16

B. Saran ................................................................................................. 18

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 19

LAMPIRAN (Pertanyaan Dan Jawaban) ................................................. 20

iv
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Refluks gastroesophageal adalah fenomena fisiologis normal dialami sesekali oleh
kebanyakan orang, terutama setelah makan. Gastroesophageal reflux disease (GERD) terjadi
ketika jumlah asam lambung yang refluks ke kerongkongan melebihi batas normal,
menyebabkan gejala dengan atau tanpa cedera mukosa esofagus yang terkait (yaitu,
esofagitis).
Sudah sejak lama prevalensi GERD di Asia dilaporkan lebih rendah dibandingkan dengan
di negara-negara Barat. Namun, banyak penelitian pada populasi umum yang baru-baru ini
dipublikasikan menunjukkan kecenderungan peningkatan prevalensi GERD di Asia.
Prevalensi di Asia Timur 5,2 %-8,5 % (tahun 2005-2010), sementara sebelum 2005 2,5%-
4,8%; Asia Tengah dan Asia Selatan 6,3%-18,3%, Asia Barat yang diwakili Turki menempati
posisi puncak di seluruh Asia dengan 20%. Asia Tenggara juga mengalami fenomena yang
sama; di Singapura prevalensinya adalah 10,5%, di Malaysia insiden GERD meningkat dari
2,7% (1991-1992) menjadi 9% (2000-2001), sementara belum ada data epidemiologi di
Indonesia (Jung, 2009),(Goh dan Wong, 2006).Di Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu
Penyakit Dalam FK UI-RSUPN Cipto Mangunkusumo didapatkan kasus esofagitis sebanyak
22,8 % dari semua pasien yang menjalani endoskopi atas dasar dispepsia (Makmun, 2009).
Antara laki-laki dan perempuan tidak terdapat perbedaan insidensi yang begitu jelas,
kecuali jika dihubungkan dengan kehamilan dan kemungkinan non-erosive reflux disease
lebih terlihat pada wanita. Walaupun perbedaan jenis kelamin bukan menjadi faktor utama
dalam perkembangan PRG, namun Barretts esophagus lebih sering terjadi pada laki-laki.
Gastroesophageal reflux disease (GERD) terdiri dari spektrum gangguan yang terkait,
termasuk hernia hiatus, reflux disease dengan gejala yang terkait, esofagitis erosif, striktur
peptikum, Barrett esofagus, dan adenokarsinoma esofagus. Selain beberapa patofisiologi dan
hubungan antara beberapa gangguan ini, GERD juga ditandai dengan terjadinya
komorbiditas pada pasien yang identik dan oleh epidemiologi perilaku yang serupa diantara
mereka.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari GERD?
2. Apa saja penyebab dari GERD?

1
3. Apa akibat dari GERD?
4. Apa nama familiar GERD pada masyarakat umum?
5. Bagaimana pathogenesis dari GERD?
6. Apa saja gejala dari GERD?
7. Apa saja gambaran pemeriksaan untuk penyakit GERD?
8. Bagaimana penatalaksaan perawatan GERD?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui definisi dari GERD
2. Untuk mengetahui penyebab dari GERD
3. Untuk mengetahui akibat yang disebabkan dari penyakit GERD
4. Untuk mengetahui nama familiar GERD pada masyarakat umum
5. Untuk mengetahui pathogenesis dari GERD
6. Untuk mengetahui gejala dari GERD
7. Untuk mengetahui gambaran pemeriksaan pada penyakit GERD
8. Untuk mengetahui penatalaksanaa perawatan GERD
D. Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan makalah ini adalah sebagai sumber informasi untuk meningkatkan
pengetahuan para pembaca khususnya tentang Gastro Esophageal Reflux Disease ( GERD ).

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi GERD

Penyakit refluks gastroesofageal (Gastroesophageal Reflux Disease/GERD) didefinisikan


sebagai suatu keadaan patologis sebagai akibat refluks kandungan lambung ke dalam
esofagus yang menimbulkan berbagai gejala yang mengganggu (troublesome) di esofagus
maupun ekstra esofagus dan atau komplikasi (Susanto, 2002).
Pada orang normal, refluks ini terjadi pada posisi tegak sewaktu habis makan. Karena
sikap posisi tegak tadi dibantu oleh adanya kontraksi peristaltik primer, isi lambung yang
mengalir masuk ke esofagus segera dikembalikan ke lambung. Refluks sejenak ini tidak
merusak mukosa esofagus dan tidak menimbulkan keluhan atau gejala. Oleh karena itu,
dinamakan refluks fisiologis. Keadaan ini baru dikatakan patologis, bila refluks terjadi

2
berulang-ulang yang menyebabkan esofagus distal terkena pengaruh isi lambung untuk
waktu yang lama. Istilah esofagitis refluks berarti kerusakan esofagus akibat refluks cairan
lambung, seperti erosi dan ulserasi epitel skuamosa esofagus (Susanto, 2002).

B. Penyebab GERD
Faktor faktor penyebab GERD antara lain adalah :
1. Stress
2. Makanan atau minuman yang menyebabkan melemahnya fungsi LES (Lower
Esophageal Spincter/sfingter esofagus bawah), contoh terlalu banyak mengonsumsi
kafein, keju, coklat.
3. Merokok, alcohol
4. Obat-obatan, contoh golongan NSAID (ibuprofen, alminoprofen, fenbufen,
indoprofen, naproxen, dan ketorolac).
5. Peningkatan tekanan perut, karena obesitas atau kehamilan.
6. Hiatal hernia
Hiatal hernia adalah penonjolan dari suatu bagian lambung melalui diafragma, dari
posisinya yang normal di dalam perut.

3
7. Bile reflux
Bile reflux adalah sebuah arus balik dari empedu ke dalam perut dari saluran empedu
(saluran yang terhubung ke hati dan kantung empedu)

8. Sindrom Zollinger-Ellison , yang dapat hadir dengan keasaman lambung meningkat


karena gastrin produksi.
9. Hypercalcemia
Yang dapat meningkatkan gastrin produksi, menyebabkan keasaman meningkat.
10. Skleroderma dan sistemik sclerosis , yang dapat fitur dismotilitas esofagus.
11. Penggunaan obat-obatan seperti prednisolon .
12. Visceroptosis atau Glnard sindrom.
C. Aibat Dari Penyakit GERD
GERD yang tidak diterapi dengan baik dapat menyebabkan terjadinya komplikasi antara
lain penyempitan kerongkongan, pendarahan kerongkongan dan kondisi yang disebut
Barretts esophagus (terjadi pembentukan jaringan pada dinding kerongkongan seperti yang
ditemukan dalam usus) . Jika hal ini terjadi, perjalanan penyakit ini berhubungan dengan
kanker kerongkongan..

Barrets esophagus Kanker kerongkongan


D. Nama Familiar GERD Di Masyarakat Umum
Di mayarakat umum penyakit peradangan GERD biasa dikenal dengan istilah asam
lambung. Kondisi ini disebabkan oleh naiknya asam lambung menuju esofagus dan
menimbulkan nyeri pada ulu hati atau sensasi terbakar di dada. Esofagus yang juga dikenal
sebagai kerongkongan adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan mulut
dan lambung.

E. Pathogenesis GERD
GERD dapat dibagi menjadi dua yaitu erosive esophagitis (EE) dan non-erosive reflux
disease (NERD).Pasien-pasien NERD tidak didapatkan lesi pada esofagus saat pemeriksaan
endoskopi (Singh, 2012). Beberapa hal yang berperan dalam patogenesis GERD, diantaranya
adalah peranan infeksi Helicobacter pylori (H. pylori), peranan kebiasaan/gaya hidup ala
barat dengan diet tinggi lemak, peranan motilitas, dan hipersensitivitas viseral. Peranan
infeksi H. Pylori dalam patogenesis GERD relatif kecil dan kurang didukung oleh data yang
ada. Peranan alkohol, diet serta faktor psikis tidak bermakna dalam patogenesis GERD,
sedangkan rokok dan berat badan berlebih dikatakan sebagai faktor risiko terjadinya GERD.
Beberapa obat-obatan bronkodilator dapat juga mempengaruhi GERD (PGI, 2013).
Pasien GERD, mekanisme predominan adalah transient lower esophageal spinchter
relaxation (TLESR), menurunnya bersihan esofagus, disfungsi sfingter esofagus, dan
pengosongan lambung yang lambat. Peranan refluks non-asam/gas dalam patogenesis GERD
didasarkan atas hipersensitivitas viseral yang memodulasi persepsi neural sentral dan perifer
terhadap rangsangan regangan maupun zat non-asam dari lambung.
Patogenesis terjadinya GERD menyangkut keseimbangan antara faktor defensif dari
esophagus dan faktor efensif dari bahan reflukstat. Yang termasuk faktor defensif esophagus,
adalah pemisah antirefluks, bersihan asam dari lumen esophagus, dan ketahanan ephitelial
esophagus. Sedangkan yang termasuk faktor ofensif adalah sekresi gastrik dan daya pilorik.

a. Pemisah antirefluks

5
Pemeran terbesar pemisah antirefluks adalah tonus LES. Menurunnya tonus LES
dapat menyebabkan timbulnya refluks retrograde pada saat terjadinya peningkatan
tekanan intraabdomen. Sebagian besar pasien GERD ternyata mempunyai tonus LES
yang normal. Faktor-faktor yang dapat menurunkan tonus LES adalah adanya hiatus
hernia, panjang LES (makin pendek LES, makin rendah tonusnya), obat-obatan (misal
antikolinergik, beta adrenergik), dan faktor hormonal. Selama kehamilan, peningkatan
kadar progesteron dapat menurunkan tonus LES.

b. Bersihan asam dari lumen esophagus


Faktor-faktor yang berperan dalam bersihan asam dari esophagus adalah gravitasi,
peristaltik, eksrkresi air liur, dan bikarbonat. Setelah terjadi refluks sebagian besar
bahan refluksat akan kembali ke lambung dengan dorongan peristaltik yang dirangsang
oleh proses menelan.

c. Ketahanan epithelial esophagus


Berbeda dengan lambung dan duodenum, esophagus tidak memiliki lapisan mukus
yang melindungi mukosa esophagus. Mekanisme ketahanan ephitelial esophagus
terdiri dari :

1) Membran sel
2) Batas intraseluler (intracellular junction) yang membatasi difusi H+ ke jaringan
esophagus
3) Aliran darah esophagus yang mensuplai nutrien, oksigen, dan bikarbonat, serta
mengeluarkan ion H+ dan CO2
4) Sel-sel esophagus memiliki kemampuan untuk mentransport ion H+ .

6
Episode refluks bervariasi tergantung kandungan isinya, volume, lamanya, dan
hubungannya dengan makan. Pada proses terjadinya refluks, sfingter esofagus bawah dalam
keadaan relaksasi atau melemah oleh peningkatan tekanan intra abdominal sehingga
terbentuk rongga diantara esofagus dan lambung. Isi lambung mengalir atau terdorong kuat
ke dalam esofagus. Jika isi lambung mencapai esofagus bagian proksimal dan sfingter
esofagus atas berkontraksi, maka isi lambung tersebut tetap berada di esofagus dan peristaltik
akan mengembalikannya ke dalam lambung. Jika sfingter esofagus atas relaksasi sebagai
respon terhadap distensi esofagus maka isi lambung akan masuk ke faring, laring, mulut atau
nasofaring (Hadi, 2002).
F. Tanda Dan Gejala Dari GERD
Gejala klinis GERD digolongkan menjadi 3 macam, yaitu gejala tipikal, gejala atipikal, dan gejala
alarm.
1. Gejala tipikal (typical symptom)
Adalah gejala yang umum diderita oleh pasien GERD, yaitu: heart burn, belching (sendawa),.
Heartburn, yaitu rasa terbakar di dada disertai nyeri kadang-kadang bercampur dengan gejala
disfagia (kesulitan menelan makanan), dan regurgitasi (rasa asam pahit dari lambung terasa di
lidah)
2. Gejala atipikal (atypical symptom)
Adalah gejala yang terjadi di luar esophagus dan cenderung mirip dengan gejala penyakit lain.
Contohnya separuh dari kelompok pasien yang sakit dada dengan elektrokardiogram normal
ternyata mengidap GERD, dan separuh dari penderita asma ternyata mengidap GERD. Kadang
hanya gejala ini yang muncul sehingga sulit untuk mendeteksi GERD dari gejala ini. Contoh
gejala atipikal: asma nonalergi, batuk kronis, faringitis, sakit dada, dan erosi gigi.
3. Gejala alarm (alarm symptom)
Adalah gejala yang menunjukkan GERD yang berkepanjangan dan kemungkinan sudah
mengalami komplikasi. Pasien yang tidak ditangani dengan baik dapat mengalami komplikasi.
Hal ini disebabkan oleh refluks berulang yang berkepanjangan. Contoh gejala alarm: sakit
berkelanjutan, disfagia (kehilangan nafsu makan), penurunan berat badan yang tidak dapat
dijelaskan,tersedak.

Heartburn

7
Penting untuk diperhatikan bahwa keparahan gejala tidak selalu berkaitan dengan keparahan
esofagitis, tetapi berkaitan dengan durasi reflux. Pasien dengan penyakit yang nonerosif dapat
menunjukkan gejala yang sama dengan pasien yang secara endoskopi menunjukkan adanya erosi
esophagus.
G. Gambaran Pemeriksaan Pada GERD
Gambaran pemeriksaan yang dilakukan pada penyakit peradangan GRD antara lain adalah
sebagai berikut

1. Endoskopi
Dewasa ini endoskopi merupakan pemeriksaan pertama yang dipilih oleh evaluasi
pasien dengan dugaan PRGE. Namun harus diingat bahwa PRGE tidak selalu disertai
kerusakan mukosa yang dapat dilihat secara mikroskopik dan dalam keadaan ini
merupakan biopsi. Endoskopi menetapkan tempat asal perdarahan, striktur, dan
berguna pula untuk pengobatan (dilatasi endoskopi).

2. Radiologi
Pemeriksaan ini kurang peka dan seringkali tidak menunjukkan kelainan, terutama
pada kasus esofagitis ringan. Di samping itu hanya sekitar 25 % pasien PRGE
menunjukkan refluks barium secara spontan pada pemeriksaan fluoroskopi. Pada
keadaan yang lebih berat, gambar radiologi dapat berupa penebalan dinding dan
lipatan mukosa, tukak, atau penyempitan lumen.
3. Tes Provokatif

8
a) Tes Perfusi Asam (Bernstein) untuk mengevaluasi kepekaan mukosa esofagus
terhadap asam. Pemeriksaan ini dengan menggunakan HCL 0,1 % yang dialirkan
ke esofagus. Tes Bernstein yang negatif tidak memiliki arti diagnostik dan tidak
bisa menyingkirkan nyeri asal esofagus. Kepekaan tes perkusi asam untuk nyeri
dada asal esofagus menurut kepustakaan berkisar antara 80-90%.
b) Tes Edrofonium. Tes farmakologis ini menggunakan obat endrofonium yang
disuntikan intravena. Dengan dosis 80 g/kg berat badan untuk menentukan
adanya komponen nyeri motorik yang dapat dilihat dari rekaman gerak peristaltik
esofagus secara manometrik untuk memastikan nyeri dada asal esofagus.
4. Pengukuran pH dan tekanan esofagus
Pengukuran pH pada esofagus bagian bawah dapat memastikan ada tidaknya
RGE, pH dibawah 4 pada jarak 5 cm diatas SEB dianggap diagnostik untuk RGE.
Cara lain untuk memastikan hubungan nyeri dada dengan RGE adalah menggunakan
alat yang mencatat secara terus menerus selama 24 jam pH intra esofagus dan tekanan
manometrik esofagus. Selama rekaman pasien dapat memeberi tanda serangan dada
yang dialaminya, sehingga dapat dilihat hubungan antara serangan dan pH
esofagus/gangguan motorik esofagus. Dewasa ini tes tersebut dianggap sebagai gold
standar untuk memastikan adanya PRGE.
5. Tes Gastro-Esophageal Scintigraphy
Tes ini menggunakan bahan radio isotop untuk penilaian pengosongan esofagus
dan sifatnya non invasif (Djajapranata, 2001).
6. Pemeriksaaan Esofagogram
Pemeriksaan ini dapat menemukan kelainan berupa penebalan lipatan mukosa
esofagus, erosi, dan striktur.
7. Tes PPI
Diagnosis ini menggunakan PPI dosis ganda selama 1-2 minggu pada pasien yang
diduga menderita GERD. Tes positif bila 75% keluhan hilang selama satu minggu.
Tes ini mempunyai sensitivitas 75%.

8. Manometri esofagus

9
Tes ini untuk menilai pengobatan sebelum dan sesudah pemberian terapi pada
pasien NERD. Pemeriksaan ini juga untuk menilai gangguan peristaltik/motilitas
esofagus.
9. Histopatologi
Pemeriksaan untuk menilai adanya metaplasia, displasia atau keganasan. Tetapi
bukan untuk memastikan NERD (Yusuf, 2009).
10. Tes darah
Dilakukan berbagai tes darah, seperti memeriksa jumlah sel darah merah untuk
menentukan apakah penderita mengalami anemia. Tes darah juga memungkinkan
untuk mencari tahu apakah ada infeksi karena kuman Helicobacter pylori dan anemia
pernisiosa.
11. Tes darah tinja
Tes ini memeriksa adanya darah dalam tinja, yang mungkin sebagai tanda gastritis
H. Penatalaksanaan Perawatan Penyakit GERD
Pada dasarnya terdapat 5 target yang ingin dicapai yaitu menghilangkan gejala/keluhan,
menyembuhkan lesi esofagus, mencegah kekambuhan, memperbaik kualitas hidup, dan
mencegah timbulnya komplikasi.
Penatalaksanaan GERD :

1. Non farmakologik
a) Modifikasi Gaya Hidup

Mengangkat kepala saat tidur (meningkatkan bersihan esofageal). Gunakan


penyangga 6-10 inchi di bawah kepala. Tidur pada kasur busa.

Menghindari makanan yang dapat menurunkan tekanan LES (lemak, coklat,


kopi, kola, teh bawang putih, bawang merah, cabe, alkohol, karminativ
(pepermint, dan spearmint)

Menghindari makanan yang secara langsung mengiritasi mukosa esofagus


(makanan pedas, jus jeruk, jus tomat dan kopi.

Makan makanan yang tinggi protein (meningkatkan tekanan LES)

Makan sedikit dan menghindari tidur segera setelah makan (jika mungkin 3
jam) (menurunkan volume lambung)

10
Penurunan berat badan (mengurangi gejala)

Berhenti merokok (menurunkan relaksasi spontan sfingter esofagus).

Menghindari minum alkohol (meningkatkan amplitudo sfinter esofagus,


gelombang peristaltik dan frekuensi kontraksi).

Menghindari pakai pakaian yang ketat.

Menghentikan, jika mungkin, penggunaan obat-obat yang dapat menurunkan


tekanan LES (Antikolinergik, barbiturat, benzodiazepin (misalnya diazepam),
kafein, penghambat kanal kalsium dihidropiridin, dopamin, estrogen, etanol,
isoproterenol, narkotik (meperidin, morfin), nikotin (merokok) nitrat,
fentolamin, progesteron dan teofilin).

Menghentikan, jika mungkin, penggunaan obat-obat yang dapat mengiritasi


secara langsung mukosa esofagus (tetrasiklin, quinidin, KCl, garam besi,
aspirin, AINS dan alendronat).

b) Pendekatan Intervensi

Pembedahan Antirefluks

Intervensi bedah adalah alternatif pilihan bagi pasien GERD yang


terdokumentasi dengan baik. Tujuan pembedahan antirefluks adalah untuk
menegakkan kembali penghalang antirefluks, yaitu penempatan ulang LES,
dan untuk menutup semua kerusakan hiatus terkait. Operasi ini harus
dipertimbangkan pada pasien yang gagal untuk merespon pengobatan
farmakologi, memilih untuk operasi walaupun pengobatan sukses karena
pertimbangan gaya hidup, termasuk usia, waktu, atau biaya obat-obatan,
memiliki komplikasi GERD (Barrets Esophagus/BE, strictures, atau
esofagitis kelas 3 atau 4), ataumempunyai gejala tidak khas dan
terdokumentasikan mengalami refluks pada monitoring pH 24-jam.

Terapi Endoluminal

Beberapa pendekatan endoluminal baru untuk pengelolaan GERD baru saja


dikembangkan. Teknik-teknik ini meliputi endoscopic gastroplastic plication,

11
aplikasi endoluminal radiofrequency heat energy (prosedur Stretta), dan
injeksi endoskopik biopolimer yang dikenal sebagai Enteryx pada
penghubung gastroesofageal.

2. Farmakologik

a) Antasida dan Produk Antasida-Asam Alginat


Digunakan untuk perawatan ringan GERD. Antasida efektif mengurangi
gejala-gejala dalam waktu singkat, dan antasida sering digunakan bersamaan
dengan terapi penekan asam lainnya. Pemeliharaan pH intragastrik di atas 4
dapat menurunkan aktivasi pepsinogen menjadi pepsin, sebuah enzim proteolitik.
Netralisasi cairan lambung juga dapat mengarah pada peningkatan tekanan LES.
Produk antasid yang dikombinasikan dengan asam alginiat adalah agen
penetral yang tidak ampuh dan tidak meningkatkan tekanan LES, namun
membentuk larutan yang sangat kental yang mengapung di atas permukaan isi
lambung. Larutan kental ini diperkirakan sebagai pelindung penghalang bagi
kerongkongan terhadap refluks isi lambung dan mengurangi frekuensi refluks.

b) Penekanan Asam dengan Antagonis Reseptor H2 (simetidin, famotidin, nizatidin,


dan ranitidin)
Terapi penekanan asam adalah pengobatan utama GERD. Antagonis
reseptor H2 dalam dosis terbagi efektif dalam mengobati pasien GERD ringan
hingga sedang.
Kemanjuran antagonis reseptor H2 dalam perawatan GERD sangat
bervariasi dan sering lebih rendah dari yang diinginkan. Respons terhadap
antagonis reseptor H2 tampaknya tergantung pada (a) keparahan penyakit, (b)
regimen dosis yang digunakan, dan (c) durasi terapi.

c) Proton Pump Inhibitor (PPI) (esomeprazol, lansoprazol, omeprazol, pantoprazol,


dan rabeprazol)
PPI lebih unggul daripada antagonis reseptor H2 dalam mengobati pasien
GERD sedang sampai parah. Ini tidak hanya pada pasien erosif esofagtis atau
gejala komplikasi (BE atau striktur), tetapi juga pasien dengan GERD nonerosif
yang mempunyai gejala sedang sampai parah. Kekambuhan umumnya terjadi
dan terapi pemeliharaan jangka panjang umumnya diindikasikan.
PPI memblok sekresi asam lambung dengan menghambat H+/K+-triphosphatase

12
adenosin lambung dalam sel parietal lambung. Ini menghasilkan efek
antisekretori yang mendalam dan tahan lama yang mampu mempertahankan pH
lambung di atas 4, bahkan selama lonjakan asam setelah makan.
PPI terdegradasi dalam lingkungan asam sehingga diformulasi dalam tablet
atau kapsul pelepasan tertunda. Pasien harus diinstruksikan untuk meminum obat
pada pagi hari, 15 sampai 30 menit sebelum sarapan untuk memaksimalkan
efektivitas, karena obat ini hanya menghambat secara aktif sekresi pompa proton.
Jika dosisnya dua kali sehari, dosis kedua harus diberikan sekitar 10 hingga 12
jam setelah dosis pagi hari dan sebelum makan atau makan makanan ringan

d) Agen Promotilitas
Khasiat dari agen prokinetik cisaprid, metoklopramid, dan bethanechol
telah dievaluasi dalam pengobatan GERD. Cisapride memiliki khasiat yang
sebanding dengan antagonis reseptor H2 dalam mengobati pasien esofagitis
ringan, tetapi cisaprid tidak lagi tersedia untuk penggunaan rutin karena efek
aritmia yang mengancam jiwa bila dikombinasikan dengan obat-obatan tertentu
dan penyakit lainnya.
Metoklopramid, antagonis dopamin, meningkatkan tekanan LES, dan
mempercepat pengosongan lambung pada pasien GERD. Tidak seperti cisapride,
metoklopramid tidak memperbaiki bersihan esofagus. Metoklopramid dapat
meredakan gejala GERD tetapi belum ada data substantial yang menyatakan
bahwa obat ini dapat memperbaiki kerusakan esofagus.
Agen prokinetik juga telah digunakan untuk terapi kombinasi dengan
antagonis H2-reseptor. Kombinasi dilakukan pada pasien GERD yang telah
diketahui atau diduga adanya gangguan motilitas, atau pada pasien yang gagal
pada pengobatan dengan penghambat pompa proton dosis tinggi.

e) Protektan Mukosa
Sucralfat, garam aluminium dari sukrosa oktasulfat yang tidak terserap,
mempunyai manfaat terbatas pada terapi GERD. Obat ini mempunyai laju
pengobatan yang sama seperti antagonis reseptor H2 pada pasien esofagitis
ringan tapi kurang efektif dari pada antagonis reseptor H2 dosis tinggi pada
pasien dengan esofagitis refrakter. Berdasarkan data yang ada, sukralfat tidak
direkomendasikan untuk ALGORITMA TERAPI.

13
BAB III

PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan pembahasan makalah, dapat disimpulakn bahwa :

1. Penyakit refluks gastroesofageal (Gastroesophageal Reflux Disease/GERD) didefinisikan


sebagai suatu keadaan patologis sebagai akibat refluks kandungan lambung ke dalam
esofagus yang menimbulkan berbagai gejala yang mengganggu (troublesome) di
esophagusmaupun ekstra esofagus dan atau komplikasi (Susanto, 2002).
2. Penyebab GERD antara lain adalah stress, Makanan atau minuman yang menyebabkan

melemahnya fungsi LES (Lower Esophageal Spincter/sfingter esofagus bawah), contoh

terlalu banyak mengonsumsi kafein, keju, coklat., Merokok, alcohol, Obat-obatan, contoh

golongan NSAID (ibuprofen, alminoprofen, fenbufen, indoprofen, naproxen, dan

ketorolac). , Peningkatan tekanan perut, karena obesitas atau kehamilan, Hiatal hernia,

Bile reflux, Sindrom Zollinger-Ellison Hypercalcemia, Skleroderma dan sistemik

sclerosis, Visceroptosis atau Glnard sindrom.

14
3. Akibat dari GERD antara lain adalah penyempitan kerongkongan, pendarahan

kerongkongan dan kondisi yang disebut Barretts esophagus (terjadi pembentukan jaringan

pada dinding kerongkongan seperti yang ditemukan dalam usus) . Jika hal ini terjadi,

perjalanan penyakit ini berhubungan dengan kanker kerongkongan..

4. Di mayarakat umum penyakit peradangan GERD biasa dikenal dengan istilah asam

lambung.

5. Pathogenesis GERD. GERD terjadi melalui 3 mekanisme :

1)Refleks spontan pada saat relaksasi LES tidak adekuat

2)Aliran retrograd yang mendahului kembalinya tonus LES setelah menelan

3)Meningkatnya tekanan intra abdomen (misalnya saat batuk).

6. Gejala khas GERD adalah heartburn, yaitu rasa terbakar di dada disertai nyeri kadang

kadang bercampur dengan gejala disfagia (kesulitan menelan makanan), dan regurgitasi

(rasa asam pahit dari lambung terasa di lidah). gejala tidak khas ataupun gejala ekstra

esofagus juga bisa timbul yang meliputi nyeri dada non kardiak (non cardiac chest

pain/NCCP), suara serak, laringitis, batuk, asma, bronkiektasis, gangguan tidur (Makmun

2009), (Jung, 2009).

7. Beberapa pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis GERD


adalah:

Endoskopi

Pemeriksaan histopatologi

15
Pemeriksaan pH metri 24 jam

Tes darah

Tes darah tinja

8. Penatalaksaan Perawatan Penyakit GERD. Penatalaksanaan GERD :

1. Non farmakologik

2. Farmakologik.

B. Saran

1. Individu yang mengalami keluhan-keluhan refluks gastroesofagus perlu mencari


pengobatan sedini mungkin sehingga keluhan berat dan komplikasi dapat dicegah.
2. Bagi tenaga kesehatan maupun tenaga pengajar perlu memberikan sumbangsih penelitian
maupun referensi mengenai penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)
mengingat sedikit dijumpai referensi penunjang mengenai penyakit ini.
3. Untuk menghindari GERD sebaiknya mengatur pola hidup dengan cara makan dalam
porsi kecil, menghindari makanan asam, makanan berlemak, makanan yang merangsang
lambung, kopi, the, peppermint, cokelat, terutama sesaat sebelum tidur, serta menjaga
berat badan.

16
DAFTAR PUSTAKA

Asroel, Harry. 2002. Penyakit Refluks Gastroesofagus . Universitas Sumatera


Utara : Fakultas Kedoketeran Bagian Tenggorokan Hidung dan Telinga.
Bestari, Muhammad Begawan. 2011. Penatalaksanaan Gastroesofageal Reflux
Disease (GERD). Divisi Gastroentero-Hepatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran / RS Dr. Hasan Sadikin Bandung CDK 188 /
vol. 38 no. 7 / November 2011.
P Marco Fisichella, MD. Gastroesophageal Reflux Diseases. Emedicine.com. Feb 2007.
http://www.emedicine.com/med/topic857.htm
Richter JE. Gastroesophageal Reflux Disease, in Yamada's Textbook of Gastroenterology 4th Ed,
Yamada. Lippincott Williams & Wilkins Publishers. 2003. page 1196.
Katzung, Betram (ed). Drug Used in The Treatment of Gastroenterintestinal Diseases, in Basic &
Clinical Pharmacology 9th Edition. McGraw-Hill Professional; 2004.E-book. Page 1469.
http://chikosafaraz.blogspot.co.id/2015/01/gerd-dan-bakteri-h-pylori-dr-anggoro.html
http://arininacita.blogspot.co.id/2012/05/askep-gerd.html
http://kumpulanmakalahpreskes.blogspot.co.id/2011/05/gastro-esofageal-refluk-disease-gerd.html
http://adidom9.blogspot.co.id/2011/06/makalah-gerd.html
http://medlinux.blogspot.co.id/2011/12/penatalaksanaan-gerd-gastroesophageal.html
http://referensimakalahjurnal.blogspot.co.id/2015/03/gastroesophageal-reflux-disease.html
https://erzafebri.blogspot.co.id/2011/12/gastro-esophageal-reflux-disease-gerd.html
https://sembuhkangerd.com/fundoplication-tindakan-operasi-anti-refluks/

17
LAMPIRAN
(PERTANYAAN DAN JAWABAN)

1. Bagaimana kuman Helicobacter Pyloridapat menyebabkan GERD?


Jawab : Di lambung sendiri sebetulnya terdapat kuman yang dapat hidup di lambung yaitu
H.Pylori. Walaupun kuman ini hidup tapi dia tidak dapat bergerak terlalu jauh dari mukosa
lambung karena terhalang adanya asam lambung. Dengan pemberian obat penekan produksi
asam lambung, maka keasaman dalam lambung berkurang dan kuman H.Pylori serasa kuda
lepas dari kandangnya. H.Pylori dapat berjalan bebas di organ pencernaan melalui mukosa
(dinding dalam saluran pencernaan). Karena faring, esofagus, lambung, dan usus merupakan
satu saluran yang tersambung maka H.Pylori ini dapat berjalan hingga tempat tersebut.
Seperti layaknya makhluk hidup, H.Pylori pun dapat berkembang biak di tempat dia singgah.
Kuman H.Pylori ketika sampai di mukosa saluran pencernaan, akan mengeluarkan racun
dan zat yang dapat merusak mukosa. Rusaknya mukosa menyebabkan tubuh bereaksi untuk
mempertahankan diri. Efek dari respon tubuh tersebut menimbulkan suatu reaksi
peradangan. Peradangan tersebut menimbulkan suatu sensasi yang tidak nyaman di dalam
tubuh dengan harapan otak sebagai pengendali tubuh mengambil suatu tindakan untuk
menghilangkan penyebab kerusakan tersebut. Kuman H.Pylori sebetulnya kuman yang dapat
dimatikan dengan antibiotik yang sesuai.
2. Tindakan bedah yang bagaimana yang dilakukan pada GERD?
Jawab : tindakan bedah yang dilakukan adalah fundoplication. Fundoplication yaitu teknik
bedah yang bertujuan untuk memperkuat penghalang untuk reflux asam ketika sfingter tidak
berfungsi secara normal. Selama prosedur fundoplication, bagian lambung yang paling dekat
dengan masuknya esophagus dikumpulkan, dibungkus, dan dijahit sekitar ujung bawah
kerongkongan dan sfingteresofagus bagian bawah (pengumpulan dan penjahitan satu
jaringan ini disebut dengan lipatan). Prosedur ini meningkatkan tekanan bagian ujung bawah
kerongkongan dan dengan demikian mengurangirefluks asam.
3. Mengapa PPI menjadi pengobataan yang paling efektif?
Jawab : Penghambat Pompa Proton (PPI/Proton Pumb Inhibitor).Golongan obat ini
merupakan drug of choice dalam pengobatan GERD. Inhibitor pompa proton (PPI)
menghambat sekresi asam lambung dengan menghambat sistem + / K + H enzim ATPase
dalam sel parietal lambung. Obat golongan ini digunakan dalam kasus-kasus esofagitis berat

18
dan pada pasien yang kondisinya tidak menanggapi terapi antagonis reseptor H2. Pilihan
termasuk omeprazole (Prilosec), lansoprazole (Prevacid), rabeprazole (Aciphex), dan
esomeprazole (Nexium). PPI merupakan obat yang paling kuat yang tersedia untuk
mengobati GERD. Agen ini harus digunakan hanya ketika kondisi ini telah
didokumentasikan secara obyektif. Mereka memiliki efek samping sedikit dan ditoleransi
dengan baik untuk penggunaan jangka panjang. Namun, data menunjukkan bahwa PPI dapat
mengganggu homeostasis kalsium dan memperburuk cacat konduksi jantung. Obat golongan
ini juga bertanggung jawab untuk patah tulang pinggul pada wanita menopause.
Golongan obat ini bekerja secara langsung pada pompa proton sel parietal dengan
mempengaruhi enzim H, K-ATPase yang dianggap tahap akhir sebagai proses pembentukan
asam lambung. Obat-obatan ini sangat efektif dalam menghilangkan keluhan serta
penyembuhan lesiesofagus, bahkan pada esofagitis erosif derajat berat serta yang refrakter
dengan golongan antagonist reseptor H2. Dosis yang diberikan untuk GERD adalah
dosispenuh, yaitu : Omeprazole 2 x 20 mg, Lansoprazole 2 x 30 mg, Pantoprazole 2 x 40mg,
Rebeprazole 2 x 10 mg, Esomeprazole 2 x 40 mg. Umumnya pengobatandiberikan selama 6
8 minggu (terapi inisial) yang dapat dilanjutkan dengan dosispemeliharaan (maintenance
therapy) selama 4 bulan atau on demand therapytergantung dari derajat esofagitisnya.

19