You are on page 1of 10

Biota Laut

Biota laut terbagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok hewan dan tumbuhan. Romimohtarto &
Juwana (1999) menyatakan bahwa biota laut secara umum terbagimenjadi tiga berdasarkan cara
atau sifat hidupnya meliputi:
Planktonik, yaitu biota yang melayang-layang, mengapung dan bergerak mengikutiarus. Jenis ini
umumnya ditemukan di kolom permukaan air. Terbagi menjadi 2 yaitu Fitoplankton (plankton
tumbuhan) seperti alga biru dan doniflegellata, dan Zooplankton (plankton hewan) misalnya
lucifer, udang rebon, ostracoda dancladocera.
Nektonik, yaitu biota yang berenang-renang umumnya dapat melawan arus (terdiridari hewan
saja). Contohnya adalah ikan, ubur-ubur, cumi-cumi dan lain-lain.
Bentik, yaitu biota yang hidup di dasar atau dalam substrat, baik tumbuhan maupunhewan. Terbagi
menjadi 3 macam yaitu 1) menempel (sponge, teritip, tiram danlainnya); 2) merayap (kepiting,
udang karang dan lain-lain) dan 3) meliang (cacing,karang dan lain-lain).
II.2.1. Lamun
Padang lamun (seagrass bads) merupakan salah satu ekosistem yang terletak didaerah pesisir.
Lamun (segrass) tumbuh di perairan dangkal yang agak berpasir. Sering pula dijumpai di terumbu
karang. Lamun adalah tumbuhan berbiji tunggal (monokotil) dari kelas angiospermaea. Tumbuhan
ini telah menyesuaikan diri untuk hidup terbenamdi dalam laut terdiri atas rhizome, daun dan akar.
Rhizome merupakan batang yangterbenam dan merayap secara mendatar dan berbuku buku.
Pada buku buku tersebuttumbuh betang pendek yang tegak ke atas, berdaun dan berbunga.
Dengan rhizome danakarnya inilah tumbuhan tersebut dapat menancapkan diri dengan kokoh di
dasar lauthingga tahan terhadap hempasan gelombang dan arus. System pembiakan lamun melalui
penyerbukan di dalam air (hydrophilous pollination) (Aya, D., 2014).
Secara ekologis padang lamun memiliki peranan penting bagi ekosistem. Lamun merupakan
sumber pakan bagi invertebrata, tempat tinggal bagi biota perairan dan melindungi mereka dari
serangan predator. Lamun juga menyokong rantai makanan dan penting dalam proses siklus
nutrien serta sebagai pelindung pantai dari ancaman erosi ataupun abrasi (Romimohtarto dan
Juwana, 1999).
Ekosistem Padang Lamun memiliki diversitas dan densitas fauna yang tinggi dikarenakan karena
gerakan daun lamun dapat merangkap larva invertebrata dan makanan tersuspensi pada kolom air.
Alasan lain karena batang lamun dapat menghalangi pemangsaan fauna bentos sehingga kerapatan
dan keanekaragaman fauna bentos tinggi (Abdillah, 2013).
Daerah Padang Lamun dengan kepadatan tinggi akan dijumpai fauna bentos yang lebih banyak
bila dibandingkan dengan daerah yang tidak ada tumbuhan lamunnya. Menurut Romimohtarto dan
Juwana (1999) ekosistem lamun memiliki kerapatan fauna keanekaragaman sebesar 52 kali untuk
epifauna dan sebesar 3 kali untuk infauna dibandingkan pada daerah hamparan tanpa tanaman
lamun (Abdillah, 2013).
Lamun (seagrasses) adalah satu satunya kelompok tumbuh tumbuhan berbungayang terdapat
dilingkungan laut. Tumbuh tumbuhan ini hidup di habitat perairan pantaiyang dangkal. Seperti
halnya rumput di darat, mereka mempunyai tunas berdaun yangtegak dan tangkai tangkai yang
merayap yang efektif untuk berkembang biak. Berbedadengan tumbuh tumbuhan lainnya (alga
dan rumput laut), lamun berbunga, berbuah danmenghasilkan biji. Mereka juga mempunyai akar
dan system internal untuk mengangkutgas dan zat zat hara (Aya, 2014).
Lamun bersama-sama dengan mangrove dan terumbu karang merupakan satu pusat kekayaan
nutfah dan keanekaragaman hayati di Indo Pasifik Barat. Sebanyak 20 negara ditumbuhi lamun.
Dari jumlah itu 15 negara, termasuk Indonesia terletak diwilayah yang memliki jumlah terbesar
jenis lamun. Di kawasan Negara-Negara ASEAN, beberapa jenis lamun tersebar di semua Negara
ASEAN, jenis lainnya ada yangtidak terdapat di satu Negara tetapi terdapat di Negara lain (Aya,
2014).
Lamun juga berperan penting terhadap kesehatan ekosistem terumbu karang. Ekosistem padang
lamun menyaring sedimen yang berasal dari daratan kearah laut. Sedimen bisa berupa pasir,
lumpur atau bahkan sampah yang bisa menutupi karang dan menyebabkan karang stres. Sedimen
di ekosistem padang lamun juga dimanfaatkan menjadi materi organik yang bisa berguna bagi
ekosistem terumbu karang. Daun lamun yang terbawa ke ekosistem terumbu karang dapat terurai
menjadi senyawa yang dibutuhkan oleh biota terumbu karang. (Fahlevi, 2014).
Pada ekosistem lamun, juga menjadi tempat memijah beberapa biota terumbu karang, seperti ikan
baronang dan beberapa jenis bintang laut. Lamun juga merupakan makanan bagi penyu. Padang
lamun juga berperan sebagai perantara transfer materi dari ekosistem mangrove ke ekosistem
terumbu karang. Biota dari padang lamun juga bisa menjadi makanan bagi biota terumbu karang,
karena terkadang, biota dari padang lamun, baik secara sengaja atau tidak bisa ke ekosistem
terumbu karang (Fahlevi, 2014).
Secara ekologi padang lamun mempunyai beberapa fungsi penting bagi wilayah pesisir,yaitu
produsen detritus dan zat hara;mengikat sedimen dan menstabilkan substrat yang lunak, dengan
sistem perakaran yang padat dan saling menyilang; sebagai tempat berlindung, mencari makan,
tumbuh besar dan memijah bagi beberapa jenis biota laut, terutama yang melewati masa
dewasanya di lingkunganini; dan sebagai tudung pelindung yang melindungi penghuni padang
lamun dari sengatan matahari (Aya, 2014).
II.2.2. Makroalga
Makroalga adalah tumbuhan tidak berpembuluh yang tumbuh melekat pada substrat di dasaran
laut.Tumbuhan tersebut tidak memiliki akar, batang, daun, bunga, buah dan biji sejati (Jana,2006).
Menurut Atmaja dan Sulistijo (1988) penyebaran makroalga dibatasi oleh daerah litoral dan sub
litoral dimana masih terdapat sinar matahari yang cukup untuk dapat melakukan proses
fotosintesis. Di daerah litoral merupakan tempat yang cocok bagi kehidupan alga karena terdiri
atas batuan (Raharjanto, 2012).
Peran makroalga dalam ekologi perairan sebagai produsen primer.Produsen primer adalah
organisme yang dapat menghasilkan suatu makanan yang berada pada tingkatan tropic terendah
(Odum, 1971). Fungsi utama makroalga adalah sebagai sumber makanan yang kaya akan protein
bagi organisme laut itu sendiri ataupun manusia karena makroalga merupakan satu-satunya
tumbuhan dengan struktur asam amino lengkap (Raharjanto, 2012).
Daerah intertidal pada pantai yang berbatu-batu mempunyai sifat tertutup sesuai daerah alga merah
atau alga coklat terutama alga dari genus fucus alga yang sering disebut rumput laut
(seaweeds).Sebagian kecil makroalga laut melekat pada substrat dasar berupa berlumpur dan
berpasir.Sebagian besar makroalga hidup dan melekat pada benda keras yang cukup
kokoh.Umumnya ditemukan melekat pada terumbu karang, batuan, potongan karang, cangkang
molusca, potongan kayu dan sebagainya.Makroalga dapat diklasifikasikan menjadi tiga divisi
berdasarkan kandungan pigmen fotosintetik dan pigmen asesoris, yaitu: Rhodophyta, Phaeophyta,
dan Chlorophyta (Raharjanto, 2012).
Dari segi morfologi rumput laut tidak memperlihatkan adanya perbedaan antara akar, batang, dan
daun. Bentuk tersebut adalah thalus belaka. Bentuk thalus belaka. Bentuk thalus rumput laut
bermacam-macam, antara lain bulat, pipih, gepeng dan bulat seperti kantong, rambut dan
sebagainya. Berdasarkan jumlah sel yang menyusunnya alga ini ada yang tersusun uniseluler (satu
sel) atau multiseluler (banyak sel). Pada makro alga, jenis percabangan antara lain adalah pectinate
(berderet searah pada thalus utama), pinnate (bercabag dua-dua sepanjang thalus utama secara
berselang selang), ferticilate (cabangnya berpusat melingkari aksis atau sumbu utama) dan ada
juga yang sederhana, tidak bercabang. Sifat substansi thalus juga beraneka ragam ada yang lunak
seperti gelatin (gelatinous), keras mengandung atau diliputi zat kapur (calcerous), dan sebagainya.
Untuk marga eucheuma thalusnya adalah bulat silinder atau gepeng, bercabang berselang tidak
teratur, di atau tikotomous (Raharjanto, 2012).
II.2.3. Sponge
Spons (Sponges) merupakan hewan dari filum Porifera dengan jumlah spesies yang diketahui
sekitar 8.000 spesies. Hewan ini ditemukan di perairan dan sebagian besar ditemukan di laut. Jika
kita melihat hewan ini sering dikatakan sebagai terumbu karang yang mirip seperti tumbuhan.
Banyak orang awam mengira bahwa terumbu karang adalah tumbuhan padahal mereka adalah
golongan dari hewan (Amel, 2012).
Porifera sendiri merupakan hewan multiselular yang memiliki struktur tubuh sederhana. Tubuhnya
tidak memiliki saluran pencernaan, otot, saraf, dan gonad. Bentuk tubuh porifera bervariasi mulai
dari membulat, berbentuk tabung, bercabang, flabellate, dan lain-lain. Ukuran hewan ini bervariasi
mulai dari 3 10 mm hingga 1,5 2 meter. Tubuh spons sendiri memiliki tekstur yang tersusun
dari fibril kolagen pada bagian mesofil, serat spongin (ditemukan pada beberapa Ordo
Demospongiae), dan komponen skeleton anorganik seperti kalsium karbonat (CaCO3) (pada
Calcarea) atau silika (SiO2) (pada Hexactinellida, Demospongiae, Homoscleromorpha).
Komponen penyusun skeleton anorganik ditunjukkan dengan adanya spikula yang bentuknya ada
yang terpisah, bergabung dan saling menyambung (Amel, 2012).
Berdasarkan sistematika, spons dimasukkan dalam Poirfera yang memiliki empat kelas yakni
Hexactinellida, Calcarea, Demospongiae dan Homoscleromorpha. Disamping itu juga terdapat
kelas yang sudah punah seperti Archaeocyatha, Sphinctozoa dan Stromatoporoidea. Pembagian
kelas tersebut didasarkan adanya data fosil, struktur skeleton, struktur spikula, dan tipe
perkembangannya (Amel, 2012).
Berdasarkan data paleontologi, porifera merupakan hewan multiselular tertua. Fosil tertua dari
spons yang belum punah, yakni Hexactinellida, ditemukan pada era awal Proterozoic. Sementara
Demospongiae ditemukan pada akhir Proterozoic (sekitar 750 juta tahun yang lalu). Dan
menariknya adalah ditemukannya keratose, yakni Demospongiae non-spikula, pada periode yang
sama. Adapun spons paling akhir adalah Calcarea yang ditemukan pada periode Cambrian. Dari
data paleontologi tersebut, Homoscleromorpha adalah spons termuda yang ditemukan pada awal
dari periode Carboniferous. Struktur Organisasi Sel Porifera Hewan ini memiliki struktur berupa
dua lapisan sel epitel yakni pinacoderm dan choanoderm. Sel pinacoderm ditunjukkan adanya sel
berbentuk datar yang disebut dengan pinacocyte yang mana sel tersebut merupakan lapisan di
bagian luar dan berfungsi sebagai saluran sistem air. Adapun sel choanoderm memiliki bentuk sel
seperti kerah baju yang menghubungkan dengan ruangan choanocyte. Ruangan antara lapisan luar
pinacocyte dengan sistem air terdapat jaringan mesofil. Mesofil ini bersifat inert namun dinamis
serta kompleks. Di dalam mesofil ini juga terdapat simbion yang berupa mikroba tertentu (Amel,
2012).
Sistem saluran air Sistem sirkulasi air merupakan ciri khas dari porifera yang terdiri atas bagian
berupa ostia, saluran masuk, apopyle, ruangan koanosit, prosopyle, saluran keluar dan osculum.
Air masuk dimulai dari suatu saluran yang disebut sebagai ostia dan selanjutnya air bergerak
menuju ke ruangan koanosit dan kemudian menuju ke saluran keluar yang bermuara pada
oskulum. Aliran air dalam sistem ini disebabkan oleh gerakan dari flagel sel koanosit (Amel,
2012).
Berdasarkan tipe saluran air pada sponges, maka ada 4 tipe saluran yakni (Amel, 2012):
askon (asconoid) rongga internalnya memiliki pola saluran yang jelas;
sikon (syconoid) ruangan koanosit memanjang melalui seluruh bagian tubuh spons dari korteks
hingga atrium;
sylleibid ruangan koanosit memanjang dan tersusun secara radial di sekitar rongga atrium yang
mengalami invaginasi;
leukon (leuconoid) koanosit disusun secara menyebar di dalam ruangan koanosit pada bagian
mesofil
II.2.4. Karang
Karang yang ada di pantai tebentuk dari kerangka luar tubuh salah satu jenis
coelenterata.Coelenterata (dalam bahasa yunani, coelenteron = rongga) adalah invertebrata yang
memiliki rongga tubuh.Rongga tubuh tersebut berfungsi sebagai alat pencernaan
(gastrovaskuler).Coeleanterata disebut juga Cnidaria (dalam bahasa yunani, cnido = penyengat)
karena sesuai dengan cirinya yang memiliki sel penyengat.Sel penyengat terletak pada tentakel
yang terdapat disekitar mulutnya. Coelenterata memiliki struktur tubuh yang lebih kompleks.Sel-
sel Coelenterata sudah terorganisasi membentuk jaringan dan fungsi dikoordinasi oleh saraf
sederhana (Adi, 2008).
Ukuran tubuh Coelenterata beraneka ragam.Ada yang penjangnya beberapa milimeter, misal
Hydra dan ada yang mencapai diameter 2 m, misalnya Cyanea.Tubuh Coelenterata simetris radial
dengan bentuk berupa medusa atau polip.Medusa berbentuk seperti lonceng atau payung yang
dikelilingi oleh lengan-lengan (tentakel).Polip berbentuk seperti tabung atau seperti medusa
yang memanjang. Coelenterata merupakan hewan diploblastik karena tubuhnya memiliki dua
lapisan sel, yaitu ektoderm (epidermis) dan endoderm (lapisan dalam atau gastrodermis). Ektoderm
berfungsi sebagai pelindung sedang endoderm berfungsi untuk pencernaan.Sel-sel gastrodermis
berbatasan dengan coelenteron atau gastrosol. Gastrosol adalah pencernaan yang berbentuk
kantong. Makanan yang masuk ke dalam gastrosol akan dicerna dengan bantuan enzim yang
dikeluarkan oleh sel-sel gastrodermis. Pencernaan di dalam gastrosol disebut sebagai pencernaan
ekstraseluler. Hasil pencernaan dalam gasrosol akan ditelan oleh sel-sel gastrodermis untuk
kemudian dicerna lebih lanjut dalam vakuola makanan. Pencernaan di dalam sel gastrodermis
disebut pencernaan intraseluler. Sari makanan kemudian diedarkan ke bagian tubuh lainnya secara
difusi (Adi, 2008).
Begitu pula untuk pengambilan oksigen dan pembuangan karbondioksida secara
difusi.Coelenterata memiliki sistem saraf sederhana yang tersebar benrbentuk jala yang berfungsi
mengendalikan gerakan dalam merespon rangsangan. Sistem saraf terdapat pada mesoglea.
Mesoglea adalah lapisan bukan sel yang terdapat diantara lapisan epidermis dan
gastrodermis.Gastrodermis tersusun dari bahan gelatin. Tubuh Coelenterata yang berbentuk polip,
terdiri dari bagian kaki, tubuh, dan mulut. Mulut dikelilingi oleh tentakel. Coelenterata yang
berbetuk medusa tidak memiliki bagian kaki. Mulut berfungsi untuk menelan makanan dan
mengeluarkan sisa makanan karena Coelenterata tidak memiliki anus. Tentakel berfungsi untuk
menangkap mangsa dan memasukan makanan ke dalam mulut.Pada permukaan tentakel terdapat
sel-sel yang disebut knidosit (knidosista) atau knidoblas.Setiap knidosit mengandung kapsul
penyengat yang disebut nematokis (nematosista) (Adi, 2008).
Coelenterata hidup bebas secara heterotrof dengan memangsa plankton dan hewan kecil di
air.Mangsa menempel pada knodosit dan ditangkap oleh tentakel untuk dimasukkan kedalam
mulut.Habitat Coelenterata seluruhnya hidup di air, baik di laut maupun di air tawar.Sebagaian
besar hidup dilaut secara soliter atau berkoloni. Ada yang melekat pada bebatuan atau benda lain
di dasar perairan dan tidak dapat berpindah untuk bentuk polip, sedangkan bentuk medusa dapat
bergerak bebas melayang di air. Reproduksi Coelenterata terjadi secara aseksual dan seksual.
Reproduksi aseksual dilakukan dengan pembentukan tunas. Pembentukan tunas selalu terjadi pada
Coelenterata yang berbentuk polip. Tunas tumbuh di dekat kaki polip dan akan tetap melekat pada
tubuh induknya sehingga membentuk koloni. Reproduksi seksual dilakukan dengan pembentukan
gamet (ovum dengan sperma). Gamet dihasilakan oleh seluruh Coelenterata bentuk medusa dan
beberapa Coelenterata bentuk polip. Contoh Coelenterata berbentuk polip yang membentuk gamet
adalah hydra (Adi, 2008).
Coelenterata terutama kelas Anthozoa yaitu koral atau karang merupakan komponen utama
pembentuk ekosistem terumbu karang.Ekosistem terumbu karang merupakan tempat hidup
beragam jenis hewan dan ganggang.Keanekaragaman organisme terumbu karang yang paling tingg
terdapat di Asia Tenggara, dari Filipina dan Indonesia hinggaq Great Barier Reef di Australia. Dua
puluh lima persen ikan yang dikonsumsi manusia juga hidup pada ekosistem ini.Selain itu,
terumbu karang sanga indah sehingga dapat di jadikan objek wisata. Karang di pantai sangat
bermanfaat sebagai penahan ombak untuk mencengah pengikisan pantai (Adi, 2008).
II.2.5. Cumi-Cumi & Sotong
Sotong atau "ikan" nus adalah binatang yang hidup di perairan, khususnya sungai maupun laut atau
danau. Hewan ini dapat ditemukan di hampir semua perairan yang berukuran besar baik air tawar,
air payau, maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat permukaan hingga beberapa ribu
meter di bawah permukaan. Sotong juga merupakan makanan sejenis seafood. Sotong sering kali
disalahtafsirkan sebagai cumi-cumi. Keduanya berbeda karena sotong bertubuh pipih, sementara
cumi-cumi lebih berbentuk silinder. Selain itu, cangkang dalam sotong tersusun dari kapur yang
keras, sedangkan pada cumi-cumi lunak (Khalik, 2014).
Sotong memiliki cirri umum antara lain (Khalik, 2014):
Tubuh panjang dan meruncing.
Memiliki 8 lengan dan 2 tentakel
Memiliki sirip dari bagian leher hingga ujung ekornya.
Bergerak dengan cara berenang
Makan dengan cara mencabik dan menelan potongan daging mangsanya
Bisa mengubah warna dan tekstur kulitnya
Memiliki cangkang dalam bentuk pipih seperti perisai
Dalam tangga klasifikasi ilmiah, termasuk ke dalam ordo Dekapoda
Cumi-cumi adalah kelompok hewan cephalopoda besar atau jenis moluska yang hidup di
laut.Nama itu Cephalopoda dalam bahasa Yunani berarti "kaki kepala", hal ini karena kakinya
yang terpisah menjadi sejumlah tangan yang melingkari kepala. Seperti semua cephalopoda, cumi-
cumi dipisahkan dengan memiliki kepala yang berbeda. Akson besar cumi-cumi ini memiliki
diameter 1 mm. Cumi-cumi banyak digunakan sebagai makanan. Cumi-cumi adalah salah satu
hewan dalam golongan invertebrata (tidak bertulang belakang Salah satu jenis cumi-cumi laut
dalam, Heteroteuthis, adalah yang memiliki kemampuan memancarkan cahaya Organ yang
mengeluarkan cahaya itu terletak pada ujung suatu juluran panjang yang menonjol di depan. Hal
ini dikarenakan peristiwa yang terjadi pada cumi-cumi jenis ini Heteroteuthis menyemprotkan
sejumlah besar cairan bercahaya apabila dirinya merasa terganggu, proses ini sama seperti pada
halnya cumi-cumi biasa yang menyemprotkan tinta (Khalik, 2014).
Cumi-cumi memiliki cirri umum antara lain (Khalik, 2014):
Tubuh panjang dan meruncing
Memiliki 8 lengan dan 2 tentakel
Memiliki sepasang sirip di bagian dekat ujung ekornya
Bergerak dengan cara berenang
Makan dengan cara mencabik dan menelan potongan daging mangsanya
Hanya bias bengubah warna kulitnya
Memiliki cangkang dengan bentuk tangkai
Dalam tangga klasifikasi ilmiah, termasuk ke dalam ordo Dekapoda
II.2.6. Bintang laut
Bintang laut merupakan hewan invertebrata yang termasuk dalam filum Echinodermata, dan kelas
Asteroidea. Echinodermata (dalam bahasa yunani, echino = landak, derma = kulit) adalah
kelompok hewan triopoblastik selomata yang memilki ciri khas adanya rangka dalam
(endoskeleton) berduri yang menembus kulit. Walaupun dalam bahasa Inggris ia dikenal dengan
sebutan starfish, hewan ini sangat jauh hubungannya dengan ikan. Sesuai dengan namanya itu,
jenis hewan ini berbentuk bintang dengan 5 lengan. Bintang laut termasuk hewan simetri radial
dan umumnya memiliki lima atau lebih lengan. Mereka bergerak dengan menggunakan sistem
vaskular air. Bintang laut sebenarnya adalah makhluk hidup yang bebas, namun dikarenakan
ketiadaannya organ gerak yang memadai, bintang laut hanya bergerak mengikuti arus air laut
(Huda, 2011).
Tubuh bintang laut terdiri dari bagian oral (yang memiliki mulut) dan Aboral (yang tidak memiliki
mulut). Hewan ini banyak dijumpai di pantai. Ciri lainnya adalah alat organ tubuhnya bercabang
ke seluruh lengan. Mulut terdapat di permukaan bawah atau yang disebut permukaan oral dan
anusnya terletak di permukaan atas atau disebut juga permukaan aboral. Kaki tabung tentakel
(tentacle) terdapat pada permukaan oral. Sedangkan pada permukaan aboral selain anus terdapat
pula madreporit. Madreporit adalah sejenis lubang yang mempunyai saringan dalam
menghubungkan air laut dengan sistem pembuluh air dan lubang kelamin (Huda, 2011).
Permukaan Echinodermata umumnya berduri, baik itu pendek tumpul atau runcing panjang. Duri
berpangkal pada suatu lempeng kalsium karbonat yang disebut testa. Sistem saluran air dalam
rongga tubuhnya disebut ambulakral. Ambulakral berfungsi untuk mengatur pergerakan bagian
yang menjulur keluar tubuh, yaitu kaki ambulakral atau kaki tabung ambulakral.Kaki ambulakral
memiliki alat isap (Huda, 2011).
Sistem ambulakral Asteroidea terdiri dari (Huda, 2011):
Medreporit adalah lempengan berpori pada permukaan cakram pusat dibagian dorsal tubuh.
Saluran cincin terdapat di rongga tubuh cakram pusat
Saluran radial merupakan cabang saluran cincin ke setiap lengan
Kaki ambulakral merupakan juluran saluran radial yang keluar.
Sistem ekskresi tidak ada.Pertukaran gas terjadi melalui insang kecil yang merupakan
pemanjangan kulit.Sistem sirkulasi belum berkembang baik. Echinodermata melakukan respirasi
dan makan pada selom.Sistem saraf Echinodermata terdiri dari cincin pusat saraf dan cabang saraf.
Echinodermata tidak memiliki otak.Untuk reproduksi Echinodermata ada yang bersifat
hermafrodit dan dioseus. Fertilisasi berlangsung secara eksternal.Zigot berkembang menjadi larva
yang simetris bilateral bersilia.Hewan ini juga dapat beregenerasi. Echinodermata merupakan
hewan yang hidup bebas.Makanannya adalah kerang, plankton, dan organisme yang
mati.Habitatnya di dasar air laut, di daerah pantai hingga laut dalam. Echinodermata
dikelompokkan menjadi lima kelas, yaitu Asteroidea, Ophiuroidea, Echinoidea, Holothuroidea,
dan Crinoidea (Huda, 2011).
II.2.7. Landak Laut
Bulu babi (Sea Urchin) hidup di pesisir pantai atau perairan dangkal yang umumnya memiliki
terumbu karang yang indah. Hewan yang berduri di sekujur tubuhnya ini memiliki sistem proteksi
diri berupa racun yang pada duri-durinya. Hewan ini memang dirancang sedemikian rupa oleh
sang Pencipta untuk melindungi diri dari serangan predator di habitatnya. Makhluk pasif ini
sebenarnya tidak menyerang, namun bukan tidak mungkin saat kita berenang di laut terjadi kontak
fisik oleh hewan satu ini. Efek terkena bulu babi pada kulit ialah nyeri pada kulit yang tertusuk
bulu babi bahkan reaksi pada tubuh yaitu kesusahan bernapas. Selain itu efek pasca tertusuk hewan
ini adalah rasa gatal berkepanjangan hingga satu minggu lamanya, bahkan bisa lebih. (Ibrahim,
2013).
Bulu babi dan landak laut saja sebenarnya sudah memiliki nama ilmiah yang berbeda satu sama
lainnya. Bulu babi memiliki nama latin Temnopleurus alexandrii, sedangkan landak laut adalah
Diadema antillarum. Jika memang dua ekor hewan ini sama, seharusnya nama latin mereka juga
sama. Setidaknya mirip satu sama lain. Kedua biota laut ini termasuk ke dalam filum
Echinodermata, kelas Echinoidea. Hewan yang tergabung dalam kelas ini memiliki ciri-ciri utama
berupa tubuhnya yang lonjong dan mempunyai duri-duri tipis pada sekujur lapisan permukaan luar
tubuh mereka. Duri-duri ini terbuat dari senyawa CaCO3 atau kalsium karbonat sehingga memiliki
tekstur yang keras. Habitat spesies-spesies ini pada umumnya terdapat di perairan yang tenang di
laut tropis. Mereka mendiami lapisan dasar laut yang berbatu, mulai dari kedalaman 10 sampai 70
meter dpl. Banyak terdistribusi pada perairan laut di daerah Asia seperti laut-laut di Indonesia
(Ibrahim, 2013).
Memiliki saluran pencernaan yang panjang. Dimulai dari mulut pada bagian bawah (oral) tepat di
tengah-tengah badan, esophagus, lambung yang mengalami modifikasi menjadi kantung-kantung
kecil, insestinum, rectum dan berakhir pada anus yang tepat berada pada sisi kebalikan dari bagian
mulut. Jika mulut terdapat pada bagian central oral, maka anus terdapat pada sebelah atas (aboral)
dari tubuh mereka (Ibrahim, 2013).
BAB III