You are on page 1of 25

KEPERAWATAN JIWA

"PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) PADA PASIEN


DENGAN PERILAKU KEKERASAN SESI 1 DI RUANG ARIMBI, RSJ
PROVINSI BALI DI BANGLI

OLEH :
KELOMPOK 3A
D-IV KEPERAWATAN TK 3, SEMESTER IV

1. Putu Jana Yanti Putri (P07120214028)


2. Ni Nyoman Diah Vitri P. (P07120214029)
3. Luh Agustina Rahayu (P07120214030)
4. I Gusti Ayu Indah Juliari (P07120214031)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2016
PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK)

PADA PASIEN DENGAN PERILAKU KEKERASAN

I. LATAR BELAKANG

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Kesehatan jiwa

merupakan suatu keadaan dimana seseorang yang terbebas dari gangguan

jiwa, dan memiliki sikap positif untuk menggambarkan tentang kedewasaan

serta kepribadiannya. Menurut data WHO pada tahun 2012 angka penderita

gangguan jiwa mengkhawatirkan secara global khususnya yang mengalami

perilaku kekerasan, sekitar 450 juta orang yang menderita gangguan mental.

Orang yang mengalami gangguan jiwa sepertiganya tinggal di negara

berkembang, sebanyak 8 dari 10 penderita gangguan mental itu tidak

mendapatkan perawatan. Di Indonesia mencapai 1,7 per mil. Artinya, 1-2

orang dari 1.000 penduduk di Indonesia mengalami gangguan jiwa berat. Hal

ini diperburuk dengan minimnya pelayanan dan fasilitas kesehatan jiwa di

berbagai daerah Indonesia sehingga banyak penderita gangguan kesehatan

mental yang belum tertangani dengan baik. Prevalensi gangguan mental

emosional pada penduduk Indonesia 6,0persen. Dan di Bali di perkirakan

jumlah penduduk yang mengalami gangguan jiwa termasuk skizofrenia

sebanyak 2,3 permil. Berdasarkan laporan RSJ Propinsi Bali tahun 2015 dari

tiga bulan terakhir (Januari,Februari,Maret) di peroleh bahwa dari 1490 klien

yang di rawat. Terdapat 1248 (83,8%) orang klien mengalami skizofrenia

diantaranya 840 (67,3%) laki-laki dan 408 (32,7%) perempuan. Di Rumah

Sakit Jiwa Provinsi Bali di Bangli, khususnya di Ruang Arimbi. jumlah


pasien dengan perilaku kekerasan yang dirawat pada September 2016 adalah

15 orang.

Untuk menangani masalah gangguan jiwa tersebut khususnya pada

pasien dengan PK (perilaku kekerasan) salah satunya dapat menggunakan

terapi aktivitas kelompok. Terapi Aktivitas Kelompol (TAK) adalah

sosialisasi TAK adalah upaya memfasilitasi kemampuan sosialisasi sejumlah

pasien dengan masalah hubungan sosial. Salah satu gangguan hubungan

sosial pada pasien gangguan jiwa adalah pasien dengan PK (perilaku

kekerasan). Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) adalah terapi yang dirancang

untuk meningkatkan kesehatan psikologis dan emosional pasien dengan

masalah keperawatan jiwa dan bertujuan membantu anggota dalam

meningkatkan koping dalam mengatasi stressor dalam kehidupan. TAK

memiliki tujuan terapeutik dan tujuan rehabilitatif. Terapi aktivitas kelompok

ini secara signifikan memberi perubahan terhadap ekspresi kemarahan kearah

yang lebih baik pada klien dengan riwayat kekerasan.

II. LANDASAN TEORI

A. Pengertian prilaku kekerasan

Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang

bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis.

Berdasarkan definisi ini maka perilaku kekerasan dapat dibagi menjadi dua

yaitu perilaku kekerasan secara verbal dan fisik. Sedangkan marah tidak

harus memiliki tujuan khusus. Marah lebih menunjuak kepada suatu

perangkat perasaan-perasaan tertentu dengan perasaan marah.


B. Penyebab Prilaku kekerasan

Respon kemarahan dapat di fluktuasi dalam rentang adaptif mal adaptif.

Rentang respon kemarahan dapat digambarkan sebagai berikut ;

1. Assertif adalah mengungkapkan marah tanpa menyakiti, melukai

perasaan orang lain, atau tanpa merendahkan harga diri orang lain.

2. Frustasi adalah respon yang timbul akibat gagal mencapai tujuan atau

keinginan. Frustasi dapat dialami sebagai suatu ancaman dan

kecemasan. Akibat dari ancaman tersebut dapat menimbulkan

kemarahan.

3. Pasif adalah respon dimana individu tidak mampu mengungkapkan

perasaan yang dialami.

4. Agresif merupakan perilaku yang menyertai marah namun masih dapat

dikontrol oleh individu. Orang agresif bisaanya tidak mau mengetahui

hak orang lain. Dia berpendapat bahwa setiap orang harus bertarung

untuk mendapatkan kepentingan sendiri dan mengharapkan perlakuan

yang sama dari orang lain.

5. Mengamuk adalah rasa marah dan bermusuhan yang kuat disertai

kehilangan control diri. Pada keadaan ini individu dapat merusak

dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.

Untuk menangani pasien dengan PK (perilaku kekerasan) salah

satunya dapat menggunakan terapi aktivitas kelompok

Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) adalah terapi yang dirancang

untuk meningkatkan kesehatan psikologis dan emosional pasien dengan

masalah keperawatan jiwa dan bertujuan membantu anggota dalam


meningkatkan koping dalam mengatasi stressor dalam kehidupan. TAK

memiliki tujuan terapeutik dan tujuan rehabilitatif. Terapi aktivitas kelompok

ini secara signifikan memberi perubahan terhadap ekspresi kemarahan kearah

yang lebih baik pada klien dengan riwayat kekerasan. Terapi aktivitas

kelompok ini memberi hasil : kelompok menunjukkan loyalitas dan tanggung

jawab bersama, menunjukkan partisipasi aktif semua anggotanya, mencapai

tujuan kelompok, menunjukkan terjadinya komunikasi antar anggota dan

bukan hanya antara ketua dan anggota. Dalam Terapi Aktifitas Kelompok

Perilaku Kekerasan dibagi dalam 5 sesi, yaitu:

Sesi 1 : Mengenal Perilaku Kekerasan yang Biasa Dilakukan.

Sesi 2: Mencegah Perilaku Kekerasan Fisik

Sesi 3: Mencegah Perilaku Kekerasan Sosial.

Sesi 4: Mencegah Perilaku Kekerasan Spiritual.

Sesi 5: Mencegah Perilaku Kekerasan dengan Patuh Mengonsumsi Obat.

III. TUJUAN

A. Tujuan Umum

Klien dapat mengendalikan perilaku kekerasan yang biasa dilakukannya.

B. Tujuan Khusus

1. Klien dapat mengenal perilaku kekerasan yang biasa dilakukannya.

2. Klien dapat mencegah perilaku kekerasan melalui kegiatan fisik.

3. Klien dapat mencegah perilaku kekerasan melalui interaksi sosial.

4. Klien dapat mencegah perilaku kekerasan melalui kegiatan spiritual

yang biasa dilakukannya.


5. Klien dapat mencegah perilaku kekerasan

dengan cara patuh minum obat

IV. SESI KEGIATAN


Dalam Terapi Aktivitas Kelompok Perilaku Kekerasan di bagi ke dalam 5
sesi, yaitu :
Sesi 1 : Mengenal Perilaku Kekerasan yang Biasa Dilakukan.
Sesi 2: Mencegah Perilaku Kekerasan Fisik
Sesi 3: Mencegah Perilaku Kekerasan Sosial.
Sesi 4: Mencegah Perilaku Kekerasan Spiritual.
Sesi 5: Mencegah Perilaku Kekerasan dengan Patuh Mengonsumsi Obat.

V. KLIEN
A. Kriteria klien
1. Klien dengan perilaku kekerasan yang sudah mulai mampu bekerja
sama dengan perawat.
2. Klien dengan perilaku kekerasan yang dapat berkomunikasi dengan
perawat.
3. Klien dengan perilaku kekerasan yang sedang dalam kondisi tenang.

B. Proses Seleksi
1. Mengobservasi klien yang termasuk kriteria.
2. Mengidentifikasi klien yang termasuk kriteria.
3. Mengumpulkan klien yang termasuk kriteria.
4. Membuat kontrak dengan klien yang setuju ikut TAK PK, meliputi:
menjelaskan tujuan TAK PK pada klien, rencana kegiatan kelompok
dan aturan main dalam kelompok.

VI. KRITERIA HASIL


A. Evaluasi Struktur
1. Kondisi lingkungan tenang, dilakukan ditempat terbuka dan nyaman
bagi pasien.
2. Posisi tempat di ruang pasien bersantai dengan menggunakan meja
dan kursi.
3. Klien dan fasilitator duduk bersama membentuk lingkaran.
4. Peserta sepakat untuk mengikuti kegiatan.
5. Alat yang digunakan dalam kondisi baik.
6. Leader, Co-leader, Fasilitator, observer berperan sebagaimana
mestinya (menyesuaikan).
B. Evaluasi Proses
1. Leader dapat mengkoordinasi seluruh kegiatan dari awal hingga
akhir.
2. Leader mampu memimpin acara.
3. Co-leader membantu mengkoordinasi seluruh kegiatan.
4. Fasilitator mampu memotivasi peserta dalam kegiatan.
5. Fasilitator membantu leader melaksanakan kegiatan dan bertanggung
jawab dalam antisipasi masalah.
6. Observer sebagai pengamat melaporkan hasil pengamatan kepada
kelompok yang berfungsi sebagai evaluator kelompok
7. Peserta mengikuti kegiatan yang dilakukan dari awal hingga akhir.
C. Evaluasi Hasil
Diharapkan 75% dari kelompok mampu :
1. Mengenal perilaku kekerasan yang biasa dilakukannya.
2. Mencegah perilaku kekerasan melalui kegiatan fisik.
3. Mencegah perilaku kekerasan melalui interaksi sosial.
4. Mencegah perilaku kekerasan melalui kegiatan spiritual yang biasa
dilakukannya.
5. Mencegah perilaku kekerasan dengan cara patuh minum obat.

VII. ANTISIPASI MASALAH


A. Penanganan terhadap klien yang tidak aktif dalam aktivitas
1. Memanggil klien
2. Memberi kesempatan pada klien untuk menjawab sapaan perawat
atau klien lain
B. Bila klien meninggalkan kegiatan tanpa izin
1. Panggil nama klien
2. Tanyakan alasan klien meninggalkan kegiatan
C. Bila klien lain ingin ikut
1. Berikan penjelasan bahwa kegiatan ini ditujukan kepada klien yang
telah dipilih
2. Katakan pada klien bahwa ada kegiatan lain yang mungkin didikuti
oleh klien tersebut
3. Jika klien memaksa beri kesempatan untuk masuk dengan tidak
memberi pesan pada kegiatan ini

VIII. PENGORGANISASIAN
A. SESI 1
1. Pelaksanaan
a. Hari/Tanggal : Jumat, 30 September 2016
b. Waktu : 10.00-10.45 WITA
c. Alokasi waktu :
1) Perkenalan dan pengarahan ( 10menit)
2) Terapi kelompok ( 30 menit)
3) Penutup ( 5 menit)
d. Tempat : Di Ruang Arimbi, RSJ Provinsi Bali di
Bangli
e. Jumlah klien : 5 orang
2. Tim Terapi
a. Leader Sesi 1: I Gusti Ayu Indah Juliari
Uraian tugas :
1) Mengkoordinasi seluruh kegiatan
2) Memimpin jalannya terapi kelompok
3) Memimpin diskusi
b. Co-leader Sesi 1 : Ni Nyoman Diah Vitri Pradnyaningrum
Uraian tugas :
1) Membantu leader mengkoordinasiseluruhkegiatan
2) Mengingatkan leader jikaadakegiatan yang menyimpang
3) Membantumemimpinjalannyakegiatan
4) Menggantikan leader jikaterhalangtugas
c. Observer Sesi 1 : Putu Jana Yanti Putri
Uraian tugas :
1) Mengamati semua proses kegiatanyang berkaitan dengan
waktu, tempat dan jalannya acara
2) Melaporkan hasil pengamatan pada leader dan semua angota
kelompok denga evaluasi kelompok
d. Fasilitator Sesi 1 : Luh Agustina Rahayu
Uraian tugas :
1) Memotivasi peserta dalam aktivitas kelompok
2) Memotivasi anggota dalam ekspresi perasaan setelah
kegiatan
3) Mengatur posisi kelompok dalam lingkungan untuk
melaksanakan kegiatan
4) Membimbing kelompok selama permainan diskusi
5) Membantu leader dalam melaksanakan kegiatan
6) Bertanggung jawab terhadap program antisipasi masalah
3. Metode dan Media
a. Metode
1) Diskusi
2) Bermain peran/stimulasi
b. Media
1) Buku Gambar
2) Penggaris
3) Spidol keci
IX. SETTING TEMPAT

L CL

K K

F F

K K
Keterangan :

F K F
L Leader
Co-leader
CL O

K Fasilitator
Klien

O Observer
X. LANGKAH KEGIATAN
A. SESI 1
Mengenal Perilaku Kekerasan yang Biasa Dilakukan
1. Orientasi
a. Salam terapeutik kepada klien
b. Perkenalan nama lengkap dan nama panggilan semua struktur
(beri papan nama)
c. Menanyakan nama lengkap dan nama panggilan dari semua
klien (beri papan nama)
d. Menanyakan perasaan klien saat ini
e. Leader menjelaskan tujuan kegiatan yaitu mengenal perilaku
kekerasan yang biasa dilakukan
f. Leader menjelaskan aturan main berikut:
1) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus
minta izin kepada terapis.
2) Lama kegiatan 45 menit.
3) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
2. Tahap kerja
a. Leader mendiskusikan penyebab marah
1) Tanyakan pengalaman tiap klien marah
2) Tulis di papan tulis/flipchart/whiteboard
b. Leader mendiskusikan tanda dan gejala yang dirasakan klien
saat terpapar oleh penyebab marah sebelum perilaku kekerasan
terjadi
1) Tanyakan perasaan tiap klien saat terpapar oleh penyebab
(tanda dan gejala)
2) Tulis di papan tulis tulis/flipchart/whiteboard
c. Leader mendiskusikan perilaku kekerasan yang pernah
dilakukan klien (verbal, merusak lingkungan,
menciderai/memukul orang lain, dan memukul diri sendiri)
1) Tanyakan perilaku yang dilakukan saat marah
2) Tulis di papan tulis tulis/flipchart/whiteboard
d. Leader membantu klien memilih salah satu perilaku kekerasan
yang paling sering dilakukan untuk diperagakan.
e. Leader melakukan bermain peran/simulasi untuk perilaku
kekerasan yang tidak berbahaya (terapis sebagai sumber
penyebab dan klien yang melakukan perilaku kekerasan).
f. Leader menanyakan perasaan klien setelah selesai bermain
peran/simulasi.
g. Leader mendiskusikan dampak/akibat perilaku kekerasan
1) Tanyakan akibat perilaku kekerasan
2) Tuliskan di papan tulis /flipchart/whiteboard
h. Leader memberikan reinforcement pada peran serta klien
i. Beri kesimpulan penyebab, tanda dan gejala, perilaku
kekerasan, dan akibat perilaku kekerasan
3. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Leader menanyakan perasaan klien setelah mengikuti
TAK.
2) Leader memberikan pujian atas keberhasilan kelompok.
b. Tindak lanjut
1) Leader menganjurkan klien memulai dan mengevaluasi
jika terjadi penyebab marah, yaitu tanda dan gejala,
perilaku kekerasan yang terjadi, serta akibat perilaku
kekerasan.
2) Leader menganjurkan klien mengingat penyebab, tanda
dan gejala perilaku kekerasan dan akibatnya yang belum
diceritakan.
c. Kontrak yang akan datang
1) Menyepakati belajar cara baru yang sehat untuk mencegah
perilaku kekerasan.
2) Menyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya.
B. SESI 2
Mencegah Perilaku Kekerasan Fisik
1. Orientasi
a. Salam terapeutik kepada klien
b. Mengingatkan kontrak kepada klien yang telah mengikuti sesi
I
c. Klien dan terapis pakai papan nama
d. Leader menanyakan perasaan klien saat ini
e. Menjelaskan tujuan kegiatan: belajar cara baru yang sehat
untuk mencegah perilaku kekerasan.
f. Menjelaskan aturan main :
1) Klien Bersedia mengikuti TAK
2) Berpakaian rapi dan bersih
3) Peserta tidak diperbolehkan makan, minum atau merokok
selama pelaksanaan TAK
4) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus
minta izin kepada terapi
5) Lama kegiatan 45 menit
6) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir

2. Tahap kerja
Melakukan pemilihan peserta yang akan di lakukan tahap kerja
dengan permainan sederhana yaitu diputarkan musik, kemudian
klien memutar bola yang di pegang, bila musik di hentikan dan ada
peserta TAK yang masih memegang bola berarti dia adalah peserta
yang terpilih untuk dilakukan tahap kerja selanjutnya.
a. Leader mendiskusikan kegiatan fisik yang biasanya dilakukan
oleh klien.
1) Tanyakan kegiatan : rumah tangga, harian, dan olah raga
yang biasa silakukan oleh klien.
2) Tulis dipapan tulis/flipchart/whiteboard
b. Leader menjelaskan kegiatan fisik yang dapat digunakan untuk
menyalurkan kemarahan secara sehat: tarik napas dalam,
menjemur/memukul kasur/bantal, menyikat kamar mandi,
main bola,senam, memukul gendang.
c. Berikan pujian setiap klien selesai bercerita
d. Co-leader mempraktekkan cara sehat untuk mencegah perilaku
kekerasan.
e. Leader meminta masing-masing klien memperagakan cara
mencegah perilaku kekerasan.
f. Leader memberikan pujian dan mengajak semua klien
bertepuk tangansetiap klien selesai memperagakan.

3. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Leader menanyakan perasaan klien setelah menikuti TAK
2) Leader memberikan pujian atas keberhasilan kelompok
3) Leader memberitahukan kemajuan masing masing klien
dalam mencapai hasil tiap sesi.
b. Tindak Lanjut
1) Menganjurkan klien menggunakan cara yang telah
dipelajari jika stimulus penyebab perilaku kekerasan.
2) Menganjurkan klien malatih secara teratur cara yang telah
dipelajari.
3) Memasukkan pada jadwal kegiatan harian klien
c. Kontrak yang akan datang
1) Menyepakati untuk belajar cara baru yang lain, yaitu
interaksi sosial yang asertif.
2) Menyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya.
C. SESI 3
Mencegah perilaku kekerasan Sosial
1. Orientasi
a. Salam terapeutik kepada klien
b. Mengingatkan kontrak kepada klien yang telah mengikuti sesi
II
c. Klien dan terapis pakai papan nama
d. Leader menanyakan perasaan klien saat ini
e. Leadermenanyakan apakah ada penyebab marah,tanda dan
gejala marah, serta perilaku kekerasan
f. Leader menanyakan apakah kegiatan fisik untuk mencegah
perilaku kekerasan sudah dilakukan.
g. Menjelaskan tujuan kegiatan: latihan cara cara sosial untuk
mencegah perilaku kekerasan
h. Menjelaskan aturan main
1) Jika ada yang ingin meninggalkan kelompok harus
meminta izinkepada leader
2) Lama kegiatan 30 menit
3) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir
2. Tahap kerja
a. Leadermendiskusikan dengan klien cara bicara jika ingin
meminta sesuatu dari orang lain.
b. Leadermenuliskan cara-cara yang disampaikan klien.
c. Co-leadermendemonstrasikan cara meminta sesuatu tanpa
paksaan yaitu, Saya perlu/ingin/minta...., yang akan saya
gunakan untuk.....
d. Leader meminta klien untuk memperagakan percakapan
dengan orang di sebelahnya
e. Ulangi d sampai semua klien mencoba.
f. Berikan pujian atas keberhasilan klien
g. Co-leader mendemonstrasikan cara menolak dan
menyampaikan rasa sakit hati pada orang lain, yaitu,Saya
tidak dapt melakukan...atauSaya tidak menerima
dikatakan .....atau Saya kesal dikatakan seperti....
h. Leader meminta klien untuk memperagakan percakapan
dengan orang di sebelahnya
i. Leader memilih dua orang klien secara bergilir
mendemonstrasikan ulang cara pada poin d
j. Ulangi g sampai semua klien mendapat giliran.
k. Memberikan pujian pada peran serta klien.

3. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Leader menanyakan perasaan klien setelah menikuti TAK
2) Leader memberikan pujian atas keberhasilan kelompok
b. Tindak Lanjut
1) Menganjurkan klien menggunakn kegiatan fisik dan
interaksi sosial yang asertif, jika stimulus penyebab
perilaku kekerasan terjadi.
2) Menganjurkan klien melatih kegiatan fisik dan interaksi
sosial yang asertif secara teratur.
3) Memasukkan interaksi sosial yang asertif pada jadwal
kegiatan harian pasien.
c. Kontrak yang akan datang
1) Menyepakati TAK yang akan datang: kegiatan ibadah.
2) Menyepakati waktu dan tempat
D. SESI 4
Mencegah Perilaku Kekerasan spiritual
1. Orientasi
a. Salam terapeutik kepada klien
b. Mengingatkan kontrak kepada klien yang telah mengikuti sesi
III
c. Klien dan terapis pakai papan nama
d. Leader menanyakan perasaan klien saat ini
e. Leadermenanyakanapakah ada penyebab marah, tanda dan
gejala marah, serta perilaku kekerasan.
f. Leader menanyakanapakah kegiatan fisik dan interaksi sosial
yang asertif untuk mencegah perilaku kekerasan sudah
dilakukan.
g. Menjelaskan tujuan kegiatan: yaitu kegiatan ibadah untuk
mencegah perilaku kekerasan
h. Menjelaskan aturan main
1) Jika ada yang ingin meninggalkan kelompok harus
meminta izinkepada leader
2) Lama kegiatan 30 menit
3) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir
2. Tahap kerja
a. Leader menanyakan agama dan kepercayaan masing-masing
klien.
b. Leadermendiskusikan kegiatan ibadah yang biasa dilakukan
masing-masing klien.
c. Co-leader menuliskan kegiatan ibadah masing-masing klien
d. Leadermeminta klien untuk memilih satu kegiatan ibadah.
e. Co-leadermendemonstrasikan kegiatan ibadah yang dipilih.
f. Leader meminta klienmendemonstrasikan kegiatan ibadah
yang dipilih..
g. Berikan pujian dengan tepuk tangan bersama kepada klien
yang sudah selesai.
3. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Leader menanyakan perasaan klien setelah menikuti TAK
2) Leader memberikan pujian atas keberhasilan kelompok
b. Tindak Lanjut
1) Menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik, interaksi
sosial yang asertif, dan kegiatan ibadah jika stimulus
penyebab perilaku kekerasan terjadi.
2) Menganjurkan klien melatih kegiatan fisik, interaksi sosial
yang asertif, dan kegiatan ibadah secara teratur.
3) Memasukkan kegiatan ibadah pada jadwal kegiatan harian
klien.
c. Kontrak yang akan datang
1) Menyepakati TAK yang akan datang: cara minum obat
teratur.
2) Menyepakati waktu dan tempat

E. SESI 5
Mencegah Perilaku Kekerasan Dengan Patuh Mengonsumsi
1. Orientasi
a. Salam terapeutik kepada klien
b. Mengingatkan kontrak kepada klien yang telah mengikuti sesi
IV
c. Klien dan terapis pakai papan nama
d. Leader menanyakan perasaan klien saat ini
e. Leader menanyakan penyebab marah, tanda dan gejala marah,
serta perilaku kekerasan.
f. Leader menanyakan apakah kegiatan fisik dan interaksi sosial
yang asertif untuk mencegah perilaku kekerasan sudah
dilakukan.
g. Menjelaskan tujuan kegiatan: patuh minum obat untuk
mencegah perilaku kekerasan
h. Menjelaskan aturan main
1) Jika ada yang ingin meninggalkan kelompok harus
meminta izinkepada leader
2) Lama kegiatan 45 menit
3) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir

2. Tahap kerja
a. Leader menjelaskan untungnya patuh minum obat, yaitu
mencegahkambuh karena obat memberi perasaan tenang
b. Leader menjelaskan kerugian bila tidak patuh minum obat.
c. Leader meminta tiap klien menyampaikan obat yang dimakan :
nama dan warna ( upayakan tiap klien menyampaikan) dan
waktu memakannya. Buat daftar di whiteboard
d. Menjelaskan enam benar minum obat
e. Meminta klien untuk menyebutkan enam benar minum obat
f. Berikan pujian pada klien yang benar
g. Diskusikan perasaan klien sebelum minum obat (tulis di
whiteboard)
h. Diskusikan perasaan klien setelah teratur minum obat
(whiteboard)
i. Menjelaskan keuntungan minum obat, yaitu salah satu cara
mencegah perilaku kekerasan/ kambuh.
j. Menjelaskan akibat/kerugian tidak minum obat,yaitu kejadian
perilaku kekerasan/kambuh.
k. Minta klien menyebutkan kembali keuntungan dan kerugian
minum atau tidak minum obat.
l. Berikan pujian bila benar.

3. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Leader menanyakan perasaan klien setelah menikuti TAK.
2) Laederenanyakan jumlah cara pencegahan perilaku
kekerasan yang telah dipelajari.
3) Leader memberikan pujian atas keberhasilan kelompok.
b. Tindak Lanjut
1) Menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik, interaksi
sosial asertif kegiatan ibadah, dan patuh minum obat untuk
mencegah perilaku kekerasan.
2) Memasukkan minum obat pada jadwal kegiatan harian
klien
c. Kontrak yang akan datang
1) Terapismengakhirisesi TAK perilaku kekerasan
2) Buat kesepakatan baru untuk TAK yang lain sesuai dengan
indikasi klien.

XI. EVALUASI DAN DOKUMENTASI


A. SESI 1
1. Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada
tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai
dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi persepsi perilaku
kekerasan sesi 1, kemampuan yang diharapkan adalah mengetahui
penyebab perilaku, mengenal tanda dan gejala, perilaku kekerasan
yang dilakukan dan akibat perilaku kekerasan. Formulir evaluasi
sebagai berikut :

Sesi 1 TAK
Stimilasi perilaku Kekerasan
Kemampuan Psikologi
No. Memberi Tanggapan Tentang
Mempraktekkan
Tanda &
Nama Penyebab Perilaku Akibat cara mengontrol
gejala
klien PK kekerasan PK PK dengan nafas
PK
dalam
1.
2.
3.
4.
5.

2. Petunjuk:
Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan mengetahui
penyebab perilaku kekerasan, tanda dan gejala yang dirasakan,
perilaku kekerasan yang dilakukan dan akibat perilaku kekerasan,
serta mempraktekkan cara mengontrol perilaku kekerasan dengan
nafas dalam. Beri tanda (+) jika mampu dan beri tanda (-) jika tidak
mampu.
3. Dokumentasi:
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada
catatan proses keperawatan tiap klien.Contoh : Klien mengikuti
Sesi 1, TAK stimulus persepsi perilaku kekerasan. Klien mampu
menyebutkan penyebab perilaku kekerasannya (disalahkan dan
tidak diberi uang), mengenal tanda dan gejala yang dirasakan
(gregeten dan deg-degan), perilaku kekerasan yang dilakukan
(memukul meja), akibat yang dirasakan (tangan sakit dan dibawa
ke rumah sakit jiwa), dan cara mengontrol perilaku kekerasan
dengan latihan tarik nafas dalam. Anjurkan klien mengingat dan
menyampaikan jika semua dirasakan selama di rumah
sakit.Formulir yang dievaluasi

B. SESI 2
1. Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung,
khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah
kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi
persepsi perilaku kekerasan sesi 2, kemampuan yang di harapakan
adalah dua kemampuan mencegah perilaku kekerasan secara fisik.
Formulir evaluasi sebagai berikut:
Sesi 2:
Stimulasi Persepsi Perilaku Kekerasan
Kemampuan mencegah perilaku kekerasan fisik
Mempraktekkan cara fisik yangMempraktekkan cara fisik
No Nama klien
pertama yang kedua
1.
2.
3.
4.
5.

2. Petunjuk :
Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan
mempraktekkan 2 cara fisik untuk mencegah perilaku kekerasan.
Beri tanda (+) jika klien mampu dan tanda (-) jika klien tidak
mampu
3. Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada
catatan proses keperawatan tiap klien. Contoh : klien mengikuti
sesi 2 TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan, klien mampu
mempraktekkan tarik nafas dalam, tetapi belum mampu
mempraktekkan pukul kasur dan bantal. Anjurkan dan bantu klien
mempraktekkan di ruang rawat (buat jadwal).

C. SESI 3
1. Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses Tak berlangsung, khususnya pada
tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai
dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi persepsi perilaku
kekerasan sesi 3, kemampuan klien yang diharapkan adalah
mencegah perilaku kekerasan secara sosial. Formulir evaluasi
sebagai berikut:
Sesi 3: TAK
Stimulasi persepsi perilaku kekerasan
Kemampuan mencegah perilaku kekerasan social
Mamperagakan cara
Memperagakan caraMemperagakan cara
No Nama Klien mengungkapkan
meminta tanpa paksa menolak yang baik
kekerasan yang baik
1.
2.
3.
4.
5.

2. Petunjuk
Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
Untuk tiap klien, beri penilaian akan kemampuan mempraktikkan
pencegahan perilaku kekerasan secara social: meminta tanpa paksa,
menolak dengan baik, mengungkapkan kekesalan dengan baik. Beri
tanda () jika klien mampu dan tanda () jika klien tidak mampu.

3. Dokumentasi:
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada
catatan proses keperawatan tiap klien. Contoh : klien mengikuti Sesi 3
TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan. Klien mampu
memperagakan cara meminta tanpa paksa, menolak dengan baik dan
mengungkapkan kekerasan. Anjurkan klien mempraktikkan di ruang
rawat (buat jadwal).

D. SESI 4
1. Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada
tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai
dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi persepsi perilaku
kekerasan Sesi 4, kemampuan klien yang diharapkan adalah
perilaku 2 kegiatan ibadah untuk mencegah kekerasan. Formulir
evaluasi sebagai berikut.
Sesi 4 : TAK
Stimulasi persepsi perilaku kekerasan
Kemampuan mencegah perilaku kekerasan spiritual
Mempraktikkan kegiatanMempraktikkan kegiatan
No Nama klien
ibadah pertama ibadah kedua
1.
2.
3.
4.
5.

2. Petunjuk:
Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama
klien
Untuk tiap klien, beri penilaian akan kemampuan
mempraktikkan pencegahan perilaku kekerasan secara social :
meminta tanpa paksa, menolak dengan baik, mengungkapkan
kekesalan dengan baik. Beri tanda () jika klien mampu dan
tanda () jika klien tidak mampu.
3. Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK
pada catatan proses keperawatan tiap klien. Contoh : klien
mengikuti Sesi 4, TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan.
Klien mampu memperagakan dua cara ibadah. Anjurkan klien
melakukannya secara teratur di ruangan (buat jadwal).

E. SESI 5
1. Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung khususnya pada
tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai
dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi persepsi perilaku
kekerasan sesi 5, kemampuan yang diharapkan adalah mengetahui
lima benar cara minum obat, keuntungan minum obat, dan akibat
tidak patuh minum obat. Formulir evaluasi sebagai berikut.
Sesi 5: TAK
Stimulasi persepsi perilaku kekerasan
Kemampuan mencegah perilaku kekerasan
dengan patuh minum obat
Menyabutkan Menyebutkan akibat
Menyebutkan lima
No Nama klien keuntungan minumtidak patuh minum
benar minum obat
obat obat
1.
2.
3.
4.
5.

2. Petunjuk:
Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama
klien
Untuk tiap klien, beri penilaian akan kemampuan
mempraktikkan pencegahan perilaku kekerasan secara sosial:
meminta tanpa paksa, menolak dengan baik, mengungkapkan
kekesalan dengan baik. Beri tanda () jika klien mampu dan
tanda () jika klien tidak mampu.
3. Dokumentasi
Dokumentasi kemampuan yang dimiliki klien pada catatan
proses keperawatan tiap klien. Contoh : klien mengikuti Sesi 5,
TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan. Klien mampu
menyebutkan keuntungan minum obat, belum dapat
menyebutkan keuntungan minum obat dan akibat tidak minum
obat. Anjurkan klien mempraktikkan lima benar cara minum
obat, bantu klien merasakan keuntungan minum obat, dan akibat
tidak minum obat
DAFTAR PUSTAKA

Dermawan, Deden. 2013. Keperawatan Jiwa: Konsep dan Kerangka Kerja


Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Gosyen Publishing.

Keliat, Dr. Budi Anna, S.Kp, M.App.Sc, & Akemat S.Kp, M.Kep. 2004.
Keperawatan Jiwa Terapi Aktivitas Kelompok. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC

Kusumawati, farida. 2010.Buku ajar keperawatan jiwa. Jakarta :salemba medika

Maramis. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya : Airlangga University


Press

Yosep, I. 2012. Keperawatan Jiwa Edisi Revisi. Bandung : PT Refika Aditama