You are on page 1of 9

Sumatra Journal of Disaster, Geography and Geography Education sjdgge.ppj.unp.ac.

id
ISSN 2222-XXXX (Online)
Vol 1, No. 1, 2017

Penerapan Model Pembelajaran Problem Posing Dalam Mata

Pembelajaran Geografi Pada Materi Pengembangan Karakteristik

Bencana Di SMA Negeri Kabupaten Kerinci

Oleh
Dhea Darysyani

Mahasiswa Program Megister Pendidikan Geografi


Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang,
INDONESIA

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk melihat penerapan model pembelajaran Problem Posing dalam mata
pembelajaran geografi pada materi pengembangan materi karakteristik bencana terhadap hasil belajar di
SMA Negeri Kabupaten Kerinci. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan
metode analisis data akhir dengan menggunakan Uji-t untuk menguji perbedaan rerata nilai untuk dua buah
sampel Data dalam penelitian ini adalah data kuantitatif. PopulasI penelitian yang digunakan di seluruh SMA
Negeri Kabupaten Kerinci terdapat 13 SMA. Sampel penelitian di lakukan yang ditentukan dengan teknik
Claster Random Sampling .Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang validitas dan
reliabilitasnya sudah diuji.
Berdasarkan hasil penelitian ini dijabarkan bahwa penerapan model pembelajaran problem posing dapat
meningkatkan hasil belajar Geografi di SMA Negeri Kabupaten Kerinci, dari hasil uji-t didapatkan skor
thitung sebesar 5,86 dan ttabel sebesar 1,70 (0,05;29) berdasarkan nilai rata-rata di SMA Negeri 3
Kabupaten Kerinci sebesar 78,966 dan di SMA Negeri 6 Kabupaten Kerinci sebesar 83,621 dapat
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara model pembelajaran problem
posing dalam mata pembelajaran geografi pada materi pengembangan materi karakteristik bencana
terhadap hasil belajar di SMA Negeri Kabupaten Kerinci.terhadap hasil belajar di SMA Negeri Kabupaten
Kerinci.

Kata Kunci: Problem Posing, Karakteristik Bencana, Hasil Belajar

1|Page
Sjdgge.ppj.unp.ac.id
Sumatra Journal of Disaster, Geography and Geography Education sjdgge.ppj.unp.ac.id
ISSN 2222-XXXX (Online)
Vol 1, No. 1, 2017

Pendahuluan
Pendidikan merupakan pondasi awal manusia untuk dapat berjalan dalam kehidupan ini, sejak awal
manusia diciptakan, pendidikan telah menjadi bagian dalam kehidupan untuk dapat beradaptasi dengan
lingkungan. Tujuan yang hakiki dari pendidikan adalah upaya membangun manusia agar dapat
mengembangkan dirinya secara berkelanjutan dan, mandiri sebagai seorang manusia seutuhnya. Dalam
menjalankan kehidupan manusia memerlukan pengetahuan dan sikap yang fleksibel, serta akomodatif
terhadap tantangan zaman. Manusia yang diharapkan dari hasil pendidikan yakni, mereka yang dengan
pengetahuan, keterampilan dan sikapnya tidak saja mampu menghadapi masalah yang dialaminya, akan
tetapi secara proaktif dapat mengendalikan diri dan lingkungannya untuk mencapai tujuan hidup secara
mandiri, tanggung jawab, dan memiliki suatu proses pendidikan yang baik. Proses pendidikan merupakan
salah satu upaya yang dilakukan oleh peserta didik agar mampu mengembang kemampuan, semakin
berkembang ilmu pengetahuan, semakin tinggi perkembangan zaman, maka teknologi semakin modern
sehingga guru dituntun lebih berkualitas dalam melakukan proses pembelajaran yang baik, yang mana guru
yang berkualitas itu harus mewujudkan tujuan pendidikan dalam suatu pengajaran.Pada prinsipnya
pendidikan diselenggarakan secara demokratis, terbuka, pembudayaan, dan pemberdayaan, membangun
kemajuan, mengemangkan kreativitas, mengembangkan budaya membaca, menulis, berhitung bagi semua
komponen pendidikan (Depdiknas, 2003).
Susanto (2013:4) mengemukakanbelajar merupakan suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dengan
sengaja dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konep, pemahaman, atau pengetahuan baru sehingga
memungkinkan seseorang terjadinya perubahan perilaku yang relative tetap baik dalam berfikir, merasa,
maupun bertindak. Pengajaran merupakan proses yang berfungsi membimbing mengembangkan diri
sebagai tugas perkembangan yang harus dijalankan oleh para siswa, manusia yang berkembang itu manusia
yang selalu berubah dan perubahan itu merupakan hasil belajar dan hal ini tidak terlepas dari peran guru.
Guru sebagai orang yang terlibat langsung dalam pembelajaran, sesungguhnya dapat mengupayakan
banyak hal diantaranya penerapan metode yang tepat, menyenangkan, membangkitkan antusiasme siswa
dan mendorong siswa dalam mengembangkan pengetahuan, untuk mengembangkan pengetahuan dalam
pembelajaran salah satunya dapat diterapkan metode.
Pada umumnya ketika guru membelajarkan siswa di kelas, masih banyak dijumpai penerapan metode
mengajar dengan menggunakan metode konvensional yaitu tidak diberdayakan alat serta sumber belajar
yang optimal dikarenakan proses pembelajaran menjadi terpusat pada guru, sehingga guru masih dianggap
sebagai sumber ilmu yang utama. Proses pembelajaran yang demikian itu sudah tidak menarik bagi siswa
karena hanya menetapkan objek saja bukan sebagai subjek dalam proses pembelajaran. Dan juga siswa
merasa jenuh dan dapat dilihat pada waktu mereka mengikuti pembelajaran. Siswa kurang mengerti dengan
materi yang disampaikan guru, dan juga guru hanya memberikan materi yang ada dalam buku paket kurang
memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir kritis dan mengemukakan argumen. Berdasarkan
observasi dilakukan di kelas X SMA Negeri 6 Kerinci permasalahan yang terlihat selama proses
pembelajaran geografi dalam pengembangan materi karakteristik bencana yaitu kurangnya aktivitas belajar
yang ditunjukan siswa, seperti jarang mengajukan pertanyaan, kurang respon guru, kurang ada semangat
dan motivasi siswa dalam megikuti pembelajaran, dipelajari,hal ini berdampak terhadap hasil belajar siswa

2|Page
Sjdgge.ppj.unp.ac.id
Sumatra Journal of Disaster, Geography and Geography Education sjdgge.ppj.unp.ac.id
ISSN 2222-XXXX (Online)
Vol 1, No. 1, 2017

Oleh karena itu untuk mengatasi hal tersebut dalam proses pembelajaran dituntut kemampuan seorang guru
dalam memilih dan mengkombinasikan metode sesuai dengan materi yang akan diajarkan seperti dalam
pengembangan materi karakteristik bencana sehingga siswa dapat lebih aktif dan meningkatkan daya
juanag dalam belajar. Dengan demikian penerapan metode pembelajaran yang bervariasi salah satu solusi
untuk mengatasi permasalahan pembelajaran diatas, salah satunya dengan menerapkan metode mengajar
melalui model pembelajaran Problem Posing dalam pengembangan materi karakteristik bencana menjadi
salah satu alternatif dalam mengembangkan berpikir kritis, yang diharapkan dapat meningkatkan keaktifan
dan daya juang siswa, sehingga siswa mendapatkan hasil yang lebih baik.
Berdasarkan uraian latar belakang masalah maka tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbandingan
hasil belajar yang menggunakan model pembelajaran Problem Posing dalam mata pembelajaran geografi
pada materi pengembagan karakteristik bencana terhadap hasil belajar Geografi di SMA Negeri Kabupaten
Kerinci.

Metode
Berdasarkan permasalahan dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk melihat
pengaruh model pembelajaran problem posing dalam mata pembelajaran geografi pada materi
pengembanagn kararkteristik bencana terhadap hasil belajar di SMA Negeri Kabupaten Kerinci. Jenis
penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen Data dalam penelitian ini adalah data kuantitatif.
PopulasI penelitian yang digunakan di seluruh SMA Negeri Kabupaten Kerinci terdapat 13 SMA. Sampel
penelitian di lakukan yang ditentukan dengan teknik Claster Random Sampling . Instrument digunakan
dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar yang diuji dengan uji Validitas, Tingkat Kesukaran soa l (
Difficulty index ), Daya pembeda, reliabiltas metode analisis data akhir dengan menggunakan Uji-t untuk
menguji perbedaan rerata nilai untuk dua buah sampel

Hasil Penelitian Dan Pembahasan


A. Deskripsi Daerah Penelitian
Kabupaten Kerinci adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jambi, Indonesia. Kerinci ditetapkan sebagai
Kabupaten sejak awal berdirinya Provinsi Jambi dengan pusat pemerintahan di Sungai Penuh. Pada tahun
2011, pusat pemerintahan berpindah ke Siulak. Nama kerinci berasal dari bahasa tamil yaitu kurinji, yang
merupakan nama bunga yang tumbuh di daerah pegunungan india selatan. Berdasarkan rancangan
penelitian eksperimen ini, terdapat dua kelompok data yang mewakili dan dideskripsikan secara terpisah.
Kedua kelompok data tersebut antara lain: Kajian penelitian ini bersumber pada dua data sebagai variabel
yang telah ditetapkan peneliti yaitu variabel 1) hasil belajar Geografi menggunakan model pembelajaran
problem posing mata pembelajaran geografi pada materi pengembangan materi di SMA 6 Negeri
Kabupaten Kerinci 2) hasil belajar Geografi menggunakan model pembelajaran problem posing mata
pembelajaran geografi pada materi pengembangan materi di SMA 3 Negeri Kabupaten Kerinci.

3|Page
Sjdgge.ppj.unp.ac.id
Sumatra Journal of Disaster, Geography and Geography Education sjdgge.ppj.unp.ac.id
ISSN 2222-XXXX (Online)
Vol 1, No. 1, 2017

1. Hasil Belajar Geografi SMA Negeri 6 Kabupaten Kerinci Menggunakan Model Problem Posing
Dalam pembelajaran Geografi Pada Materi Pengembangan Karakteristik bencana
Berdasarkan Hasil Analisis data deskriptif berkaitan dengan Hasil belajar Geografi SMA Negeri 6
Kabupaten Kerinci menggunakan model pembelajaran problem posing Dalam pembelajaran Geografi
Pada Materi Pengembangan Karakteristik bencana diperoleh jumlah skor sebesar 2425, nilai rata-rata
sebesar 83,621, nilai minimal skor sebesar 65, nilai maksimal skor sebesar 100, rentang skor 35, standar
deviasi sebesar 10,50, varian data 110,53, nilai modus 80, banyak kelas 6 dan panjang kelas sebesar
6,01.Selanjutnya kecenderungan distribusi Hasil Belajar Geografi SMA Negeri 6 Kerinci Menggunakan
Model Pembelajaran Problem Posing Dalam pembelajaran Geografi Pada Materi Pengembangan
Karakteristik bencana di atas digambarkan juga dalam distribusi frekuensi sebagai berikut:
Tabel 1: Distribusi Frekuensi Data Hasil belajar Siswa Dengan Model Pembelajaran Problem Posing
Dalam pembelajaran Geografi Pada Materi Pengembangan Karakteristik bencana di SMA
Negeri 6 Kerinci

No. Kelas Interval Frekuensi %


1. 65-71 5 17.24

2. 71.01-77,01 4 13.79

3. 77.02-83.01 6 20.69

4. 83.02-89.02 3 10.34

5. 89.03-95.03 7 24.14

6. 95.04-101.04 4 13.79

Total 29 100.00
Sumber : Pengolahan data primer

Berdasarkan hasil distribusi frekuensi data pada tabel diatas terlihat bahwa sebanyak 3 orang responden
siswa (10,34%) berada pada kelas rata-rata yakni antara interval 77,02-83,01. Kemudian sebanyak 15 orang
siswa (37,93%) berada dibawah kelas rata-rata dimana masing-masing 6 orang responden siswa (20,69%)
berada pada interval 77,02-83,01, 4 orang responden (13,79) berada pada kelas 71,01-77,01 dan 5 orang
responden (17,24) berada pada kelas 65,00-71,00. Kemudian sebanyak 11 orang responden siswa (44,83%)
berada pada kelompok data diatas rata-rata, yakni sebanyak 2 kelas data masing-masing pada kelas
89,03-95,03 terdapat 7 orang siswa (24,14%) dan pada interval kelas 95,04-101,04 terdapat 4 orang siswa
4|Page
Sjdgge.ppj.unp.ac.id
Sumatra Journal of Disaster, Geography and Geography Education sjdgge.ppj.unp.ac.id
ISSN 2222-XXXX (Online)
Vol 1, No. 1, 2017

(13,79%). Berdasarkan hasil tersebut maka disajikan histogram hasil belajar siswa dengan model problem
posing dalam pembelajaran Geografi Pada Materi Pengembangan Karakteristik bencana sebagai berikut.

10

8
7
6
6
Frekuensi

5
4 4
4
3

Y
0
71 77,01 83,01 89,02 95,03 101,04
Kelas interval

Gambar 1 :Histogram Data Hasil Belajar Siswa Dengan Model Pembelajaran Problem Posing Dalam
pembelajaran Geografi Pada Materi Pengembangan Karakteristik bencana di SMA
Negeri 6 Kerinci

Berdasarkan histrogram data hasil belajar siswa dengan model pembelajaran Problem Posing Dalam
pembelajaran Geografi Pada Materi Pengembangan Karakteristik bencana dapat dilihat nilai 71,
77,01,83,01 berada di bawah kelas rata-rata, kemudian 83,02 dan 89,02 nilai di kelas rata-rata kemudian
95,03 dan 101,04 berada di kelas atas rata-rata.
2. Hasil belajar Siswa SMA Negeri 3 Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Problem Posing
Dalam pembelajaran Geografi Pada Materi Pengembangan Karakteristik bencana
Berdasarkan Hasil Analisis data deskriptif berkaitan dengan belajar Geografi siswa SMA Negeri 3
Kerinci dengan diperoleh jumlah skor sebesar 2290, nilai rata-rata sebesar 78,966, nilai minimal skor
sebesar 65, nilai maksimal skor sebesar 95, rentang skor 30, standar deviasi sebesar 8,17, varian data
66,75, nilai modus 75, banyak kelas 6 dan panjang kelas sebesar 5,15. Selanjutnya kecenderungan
distribusi hasil belajar Geografi siswa dengan Model Pembelajaran Problem Posing Dalam
pembelajaran Geografi Pada Materi Pengembangan Karakteristik bencana di atas digambarkan juga
dalam distribusi frekuensi sebagai berikut:

5|Page
Sjdgge.ppj.unp.ac.id
Sumatra Journal of Disaster, Geography and Geography Education sjdgge.ppj.unp.ac.id
ISSN 2222-XXXX (Online)
Vol 1, No. 1, 2017

10

8
8

6 6
6
Frekuensi

4
4
3

2
2

X
0
65 70,14 75,29 80,44 85,59 90,74 95,89
Kelas interval

Tabel 2:Distribusi Frekuensi Data Hasil belajar Siswa Dengan Model Pembelajaran Problem Posing
Dalam pembelajaran Geografi Pada Materi Pengembangan Karakteristik bencana di SMA Negeri 3
Kabupaten Kerinci

No. Kelas Interval Frekuensi %


1. 65-70,14 6 20,69

2. 70,15-75,29 8 27,59

3. 75,30-80,44 6 20,69

4. 80,45-85,59 4 13,79

5. 85,60-90,74 3 10,34

6. 90,75-95,89 2 6,90

29
Total 100
Sumber : Pengolahan data primer,

6|Page
Sjdgge.ppj.unp.ac.id
Sumatra Journal of Disaster, Geography and Geography Education sjdgge.ppj.unp.ac.id
ISSN 2222-XXXX (Online)
Vol 1, No. 1, 2017

Berdasarkan hasil distribusi frekuensi data pada tabel diatas terlihat bahwa sebanyak 6 orang responden
siswa (20,69%) berada pada kelas rata-rata yakni antara interval 75,30-80,44. Kemudian sebanyak 14 orang
siswa (48,28%) berada dibawah kelas rata-rata dimana masing-masing 8 orang responden siswa (27,59%)
berada pada interval 70,15-75,29 dan 6 orang responden siswa (20,69%) berada pada kelas interval
65-70,14. Kemudian sebanyak 9 orang responden siswa (31,03%) berada pada kelompok data diatas
rata-rata, yakni sebanyak 3 kelas data masing-masing pada kelas 80,45-85,59 terdapat 4 orang siswa
(13,79%), pada kelas 85,60-90,74 terdapat 3 orang siswa (10,34%) dan pada interval kelas 90,75-95,89
terdapat 2 orang siswa (6,90%).\
Berdasarkan hasil tersebut maka disajikan histogram hasil belajar geografi siswa dengan Dengan Model
Pembelajaran Problem Posing Dalam pembelajaran Geografi Pada Materi Pengembangan Karakteristik
bencana di SMA Negeri 3 Kabupaten Kerinci sebagai berikut.

10

8
8

6 6
6
Frekuensi

4
4
3

2
2

X
0
65 70,14 75,29 80,44 85,59 90,74 95,89
Kelas interval

Gambar 1 :Histogram Data Hasil Belajar Siswa Dengan Model Pembelajaran Problem Posing Dalam
pembelajaran Geografi Pada Materi Pengembangan Karakteristik bencana di SMA
Negeri 3 Kerinci

7|Page
Sjdgge.ppj.unp.ac.id
Sumatra Journal of Disaster, Geography and Geography Education sjdgge.ppj.unp.ac.id
ISSN 2222-XXXX (Online)
Vol 1, No. 1, 2017

Perbedaan Antara Hasil Belajar Geografi Siswa Dengan Menggunakan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Problem Posing di SMA Negeri 6 Dan Sma 3 Kabupaten Kerimci
Berdasarkan hasil analisis data terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar geografi siswa
dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe problem posing dan metode ceramah.
Perbedaan hasil belajar ini menunjukan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe problem posing
memiliki pengaruh yang positif bagi siswa. Hal ini terkait dengan kelebihan model pembelajaran ini
dibandingkan dengan Analisis data mengenai hasil belajar siswa melalui uji-t maka diperoleh nilai thitung
5,86. Sementara nilai ttabel pada tingkat keyakinan 95% dengan nilai ttabel = 1,70. Dari hasil uji-t dapat
dinyatakan dengan nilai thitung > ttabel yaitu 5,86 > 1,70. Hal ini berarti bahwa variabel bebas yaitu
penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe problem posing berpengaruh secara signifikan terhadap
variabel terikat yaitu hasil belajar siswa. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan ada pengaruh
yang signifikan dari penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe problem posing terhadap hasil
belajar siswa pada matapelajaran geografi dapat diterima. Dilihat dari nilai rata-rata hasil belajar siswa
yang menggunakan metode ceramah (metode konvensional) diperoleh 78,97 yang mengalami
peningkatan jika diterapkan metode pembelajaran kooperatif tipe problem posing yaitu sebesar 83,621.

B. Kesimpulan

Berdasarkan paparan data dan hasil penelitian serta pembahasan sebelumnya dapat ditarik keseimpulan
sebagai berikut : Rata-rata hasil belajar geografi pada SMA 6 KERINCI adalah 83,621 lebih tinggi
dibandingkan SMA 3 KERINCI erdasarkan pengujian hipotesis didapatkan data yang diperoleh
perbedaan yang signifikan dalam pembelajaran geografi yang menggunakan model pembelajaran
Problem Posing dengan hasil belajar siswa

Rujukan
Matore, Mohd Effendi Ewan Mohd. 2015. The Influence of AQ on the Academic
Achievement among Malaysian Polytechnic Students. International
Education Studies; Vol. 8, No. 6; 2015

Mulyatiningsih, Endang. 2012. Metode Penelitian Terapan Bidang Pendidikan.


Bandung: Alfabeta

Muranti. 2017. Penerapan Strategi Kooperatif Nht Dan Tps Dalam Pembelajaran
Matematika Ditinjau Dari Adversity Quotient Siswa SMP. Jurnal
Manajemen Pendidikan - Vol. 12, No. 1.

Ngalimun. 2013. Strategi dan Model Pembelajaran. Yogyakarta: Aswaja Pressindo

8|Page
Sjdgge.ppj.unp.ac.id
Sumatra Journal of Disaster, Geography and Geography Education sjdgge.ppj.unp.ac.id
ISSN 2222-XXXX (Online)
Vol 1, No. 1, 2017

Hakim, Lukman. 2009. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Wancana Prima.

Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Pustaka Setia

Hanafiah, Nanang. dan Suhana, Cucu. 2012. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung:
Refika Aditama

lbone, Azis Abdul, dkk. 2009. Panduan Penyusunan Proposal Penelitian Dengan
Mudah. Yayasan Jihadul Khair Center.

Arifin, Zainal. 2012. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.

Haryono, Dan Hadi, Amirul. 1998. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung:


Pustaka Setia.

9|Page
Sjdgge.ppj.unp.ac.id