You are on page 1of 7

PEMANTAUN PARAMETER DINAMIKA POPULASI IKAN KEMBUNG

(Rastrelliger sp) DI PERAIRAN PESISIR PULAU TERNATE


PROVINSI MALUKU UTARA
Umar Tangke
Staf Pengajar Faperta UMMU-Ternate, e-mail: khakafart@yahoo.com

ABSTRAK

Penelitian dengan tujuan untuk memantau tingkat eksploitasi sumberdaya


dengan mengkaji aspek dinamika populasi ikan kembung (Rastrelliger sp) di
perairan peisisir pulau Ternate di laksanakan selama pada bulan Juli sampai
September 2014 dengan pengumpulan sampel dari hasil tangkapan nelayan dengan
menggunakan alat tangkap gill net dan mini purse seine. Data hasil pengkuran di
analisis dengan menggunakan program Microsoft excel 2010 dan program FISAT
untuk mengestimasi aspek dinamika populasi ikan. Hasil yang didapat adalah
nilai L = 28.46, nilai K = 0.710/tahun, nilai t0 = -0.24, nilai M = 1.47, nilai F = 1.72,
nilai Z = 3.19. hasil ini menunjukan bahwa ikan kembung yang tertangkap oleh
nelayan memiliki laju pertumbuhan yang cepat serta tingkat kematian yang
tinggi, sehingga umumnya ikan kembung yang tertangkap adalah ikan yang belum
melakukan pemijahan. Hasil analisis Y/R dan B/R menunjukan bahwa tingkat
eksploitasinya cukup tinggi dengan nilai E = 0.54.

Kata Kunci: Rastrelliger sp, ikan kembung, pesisir pulau Ternate

I. PENDAHULUAN Jenis hasil tangkapan ikan lebih


1.1. Latar Belakang didominasi oleh ikan pelagis kecil diantaranya
Pemanfaatan sumberdaya perikanan di ikan layang (Decapterus spp), ikan komo (Auxis
Provinsi Maluku Utara lebih didominasi oleh thazard), ikan kembung (Rastrelliger sp), ikan
perikanan tangkap 82.46 % dengan jumlah selar (Selaroides sp) dan jenis ikan pelagis kecil
potensi sumberdaya ikan yang dapat lainnya (DKP Kota Ternate, 2011). Ikan
dimanfaatkan diperkirakan mencapai 150.997 kembung (Rastrelliger sp) (Gambar 2)
ton/tahun untuk jenis ikan pelagis dan ikan merupakan salah satu komoditi perikanan
demersal (DKP. Prov. Malut, 2010). Perairan tangkap kota Ternate dengan total produksi
pulau Ternate merupakan bagian dari provinsi rata-rata adalah lebih 438 kg/bulan yang di
Maluku Utara dan merupakan salah satu tangkap menggunakan alat tangkap jaring
perairan yang sangat berperan dalam lingkar (mini purse seine) dan jaring insang
menyumbang produksi perikanan tangkap (Gill net) dengan waktu operasi penangkapan
khususnya jenis ikan pelagis dan ikan rata-rata adalah 1-2 kali operasi penangkapan
demersal. Potensi perikanan tangkap perairan per hari.
pulau Ternate diperkirakan sebesar 47.838,25 Melihat jenis alat tangkap yang
ton/tahun dan baru dimanfaatkan sebesar digunakan serta intensifnya jumlah waktu
23.919,25 ton/tahun. Perairan pulau Ternate operasi penangkapan sumberdaya ikan
terletak di pesisir Barat Pulau Halmahera kembung di perairan pesisir pulau Ternate,
dengan aktifitas nelayan yang didominasi oleh maka kelestarian sumberdaya ikan kembung
perikanan rakyat dengan daerah penangkapan tersebut perlu di kajiagar dapat dimanfaatkan
berada pada wilayah 1 - 3 mil atau di pesisir secara terus menerus. Agar dapat menjaga
perairan pulau Ternate (Gambar 1). kelestariannya, maka pemanfaatan dan
pengelolaannya harus dilaksanakan secara
Jurnal Ilmiah agribisnis dan Perikanan (agrikan UMMU-Ternate) Volume 7 Edisi 2 (Oktober 2014)

rasional. Informasi mengenai dinamika pertamakali tertangkap oleh alat tangkap (Lc),
populasi ikan kembung (Rastrelliger sp) dari yield per rekrut relatif (Y/R), biomassa per
daerah yang bersangkutan diharapkan dapat rekrut relatif (B/R). Informasi tersebut sangat
dipergunakan sebagai dasar pengelolaannya. penting diketahui sebagai informasi untuk
Pengkajian parameter dinamika populasi ikan pemanfaatannya sehingga sumberdaya ikan
meliputi panjang asimtot (L), koefisien kembung di perairan pesisir pulau Ternate
pertumbuhan (K), kematian total (Z), dapat terjaga dan memberikan manfaat bagi
kematian alami (M), kematian karena masyarakat nelayan.
penangkapan (F), laju eksploitasi (E), ukuran

Gambar 1. Peta Perairan Ternate dan Lokasi Tangkapan Ikan


Kembung (Rastrelliger sp)

Gambar 2. Ikan Kembung (Rastrelliger sp)

1.2. Tujuan dan manfaat Penelitian Data hasil pengukuran kemudian


Peneltian ini bertujuan untuk memantau ditabulasi kedalam tabel distribusi frekuensi
tingkat eksploitasi sumberdaya ikan kembung dengan selang 0.6 cm menggunakan program
dengan mengkaji aspek dinamika populasi di Excel 2010, data selanjutnya dianalisis
perairan pesisir pulau Ternate sehingga dapat menggunakan Program FISAT dengan sub
menjadi bahan infomasi kepada pengguna dan program Elefan I untuk mengestimasi panjang
DKP Kota Ternate dalam pengelolaan infinity (L) dan koefisien pertumbuhan (K),
sumberdaya ikan kembung di tersebut. sesuaiformula yang dikemukakan oleh Von
Bertalanffy (Sparre et.al, 1999) dengan
II. METODE PENELITIAN persamaan matematisnya adalah :
Sampel ikan kembung (Rastrelliger sp) di
K ( t t0 )
kumpulkan dari hasil tangkapan nelayan Lt = L (1 exp ) .....................(1)
selama bulan Juli sampai Bulan September 2014
di perairan pesisir pulau Ternate dan Keterangan:
sekitarnya. Pengukuran sampel dilakukan di Lt = Panjang ikan kembung (cm) pada umur t
Laboratorium Pengolahan Hasil Perikanan (tahun)
Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. L = Panjang asimptot ikan kembung (cm)
K = Koefisien pertumbuhan (per tahun)

9
Jurnal Ilmiah agribisnis dan Perikanan (agrikan UMMU-Ternate) Volume 7 Edisi 2 (Oktober 2014)

to = Umur teoritis ikan kembung pada saat Kelompok umur diduga melalui analisis
panjangnya sama dengan nol (tahun) sebaran frekuensi panjang karena frekuensi
t = Umur ikan kembung (tahun) panjang ikan umumnya berasal dari umur yang
Pendugaan umur teoritis pada saat sama dan cenderung akan membentuk sebaran
panjang ikan kembung sama dengan nol (t o) normal. Berdasarkan metode normal separation
sesuai rumus empiris Pauly dalam Sparre et al. yang terdapat pada paket program Fisat II dapat
(1999) yaitu : menggambarkan jumlah kohort dari sebaran
frekuensi panjang. Grafik pertumbuhan ikan
log (-to) = -0,3922 0,2752 log L - 1,308 log K........(2)
kembung pada Gambar 3, menunjukan bahwa
t0 adalah Umur teoritis ikan kembung ikan kembung yang tertangkap setiap
pada saat panjangnya sama dengan nol (tahun). pengambilan sampel di perairan peisisir pulau
Mortalitas total (Z) diduga menggunakan Ternate terdapat satu modus panjang, terlihat
metode kurva yang dikonversi ke panjang. pula terjadi pergeseran modus tiap
Metode kurva ini telah tergabung dalam pengambilan sampel ikan yang juga
program FISAT-II (Gayanilo Jr et al., 1996). memnggambarkan terjadinya penambahan
Laju mortalitas alami (M) diduga dengan ukuran panjang ikan kembung setiap bulan
menggunakan hubungan empiris mulai dari pengambilan sampel pertama pada
(Pauly,1980): bulan Juli hingga September 2014. Pada
Gambar 3 terlihat terjadi pertumbuhan panjang
Log M = 0.0066 - 0.279 LogL + 0.6543 LogK + 0.4634 masing-masing kohort dengan selang waktu
LogT .(3) masing-masing pertumbuhan selam satu bulan.

L = parameter pertumbuhan (cm) dan T


3.2. Pertumbuhan
= rata-rata suhu lingkungan perairan tahunan
Pendugaan panjang infiniti (L) dan
(C) = 29.4 C. Mortalitas penangkapan (F)
koefisien pertumbuhan (K) ikan kembung di
ditentukan dengan mengurangkan M
perairan pesisir pulau Ternate dengan
terhadap Z dan laju eksploitasi (E) ditentukan
menggunakan formula pertumbuhan von
dari Z/F serta ukuran pertama kali tertangkap
Bertalanfy masing-masing adalah L = 28.46
(Lc) dihitung dengan bantuan paket program
cm, K = 0.710 per tahun dan t 0 = -0.24. Nilai
FISAT-II (Gayanilo Jr et al., 1996). Yield Per
dugaan parameter pertumbuhan di estimasi
Recruitment dan biomassa per rekrut relatif
dengan menggunakan program FISAT sub
(B/R,) sebagai fungsi dari E ditentukan dari
program ELEFAN I dengan routin Response
dugaan parameter pertumbuhan dan
Surface Rn = 0.96. Berdasarkan parameter
probabilitas hasil tangkapan (Pauly and
pertumbuhaan L, K dan t0, maka kurva
Soriano 1986) dengan menggunakan alat bantu
pertumbuhan ikan kembung di perairan peisir
program FISAT-II
pulau Ternate seperti terlihat pada Gambar 4
dengan persamaan pertumbuhannya adalah Lt
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Kelompok Umur = 28.46 [1-exp-0.710(t+0,24)]. Dugaan persamaan
Sampel ikan kembung yang dipakai pertumbuhan jika dibuat hubungan umur
selama penelitian merupakan hasil tangkapan terhadap panjang tubuh ikan kembung, maka
dari nelayan yang menggunakan alat tangkap terlihat bahwa populasi ikan kembung yang
gill net dan mini purse seine selama bulan Juli tertangkap di pesisir pulau Ternate berumur
sampai September 2014 dengan lokasi sekitar 0.8 - 4.6 tahun.
penangkapan berada pada jarak 1 - 3 mil dari Nilai dugaan parameter pertumbuhan
pesisir pulau Ternate. Jumlah sampel yang L = 28.46 dan K = 0.710 pertahun di perairan
dipakai untuk analisis adalah 1.189 ekor pesisir pulu Ternate tersebut jika dibandingkan
dengan ukuran panjang terkecil 13.4 cm dan dengan nilai L dan nilai K yang didapat oleh
ukuran panjang terbesar adalah 27.4 cm. sampel peneliti lainnya pada spesies yang sama di
ikan selanjutnaya dibagi dalam 3 kelompok perairan yang berbeda diantaranya Mose dan
umur dengan jumlah kelas sebanyak 24 kelas Hutubessy (1996), L = 33 cm, K = 1.37,
pada interval 0.6 cm. Nurhakim (1993), L = 26.33 cm, K = 0.759 dan

10
Jurnal Ilmiah agribisnis dan Perikanan (agrikan UMMU-Ternate) Volume 7 Edisi 2 (Oktober 2014)

Suhendra dan Amin (1990), L = 24.70, K Ternate mempunyai pertumbuhan yang lebih
= 1.15, dan Suwarso (2010) L 21.6. Nilai L baik dibandingkan dengan ikan kembung yang
dan K ikan kembung yang diperoleh di tertangkap di perairan Laut Jawa, Selat Malaka
perairan pesisir pulau Ternate lebih besar dari dan Teluk Jakarta. Tingginya nilai parameter
nilai L dan K hasil penelitian Nurhakim di pertumbuhan ikan kembung di perairan pulau
Laut Jawa serta Suhendra dan Amin di Selat Ternate dan perairan pulau Ambon diduga ada
Malaka serta Suwarso di Teluk Jakarta hal ini hubungannya dengan faktor kondisi eko-
menjelaskan ikan kembung di perairan pulau biologi dari habitat kedua perairan tersebut.

Gambar 3. Sebaran Kelompok Umur Ikan Kembung di Pesisir Pulau Ternate

Gambar 4. Kurva Pertumbuhan Ikan Kembung (Rastrelliger sp) di Pesisir Pulau Ternate

Jika nilai L dan K diperairan pulau penangkapan yang dilakukan oleh nelayan
Ternate dibandingkan dengan hasil penelitian pulau Ternate dengan jumlah operasi
Mose dan Hutubessy (1996) di perairan Ambon, penangkapan 1-2 kali operasi per hari.
maka nilai L dan K diperairan pulau Ternate Tingginya tingkat eksploitasi ini menyebabkan
lebih kecil. Kecilnya nilai L dan K ini diduga terjadinya degradasi morfometrik terhadap
akibat tingkat eksploitasi terlalu tinggi hal ini sumberdaya ikan kembung yang ada di
dibuktikan dengan jumlah operasi perairan pulau Ternate selain itu hasil

11
Jurnal Ilmiah agribisnis dan Perikanan (agrikan UMMU-Ternate) Volume 7 Edisi 2 (Oktober 2014)

penelitian Suruwaky dan Gunaisah (2013) di R2terbesar pada analisis regresi. Nilai r untuk
perairan Sorong dan sekitarnya juga persamaan regresi adalah 0,89. Nilai dugaan
menemukan degradasi morfometrik ikan kematian karena penangkapan (F) sebesar 1.72
kembung akibat tingkat eksploitasi yang tinggi pertahun diperoleh dari pengurangan nilai M
diakibatkan oleh laju penangkapan yang terhadap Z. pada Gambar 5 kurva hasil
terlalu tinggi. tangkapan untuk menduga nilai Z, dapat
dilihat bahwa Lingkaran hitam digunakan
3.3. Mortalitas dan Laju Eksploitasi untuk perhitungan nilai Z yang didasari nilai
Moratalitas tahunan M. F, dan Z ikan R2 terbesar pada analisis regresi dengan
kembung diperoleh masing-masing 1.47; 1.72; lingkaran kosong merupakan data yang belum
dan 3.19 pertahun. Kurva hasil tangkapan rekrut. Nilai r untuk regresi adalah 0.89, a = -
dalam menduga nilai Z (Gambar 5). 13.30 dan b = 0.46.
Perhitungan nilai Z yang didasari nilai

Gambar 5. Kurva Hasil Tangkapan Ikan Kembung Di Perairan


Pulau Ternate 2014.

Nilai dugaan Mortalitalis total (Z) dari


penelitian ini sebesar 3.19 pertahun terlihat 3.4. Selektifitas Penangkapan
lebih kecil dari nilai dugaan Z yang Dimensi ikan berpengaruh terhadap
diperoleh Oktaviani (2013), yaitu 7.37 peluang ikan untuk lolos dan atau tertahan
pertahun. Hal ini akibat dari kematian karena pada jaring. Hubungan antara peluang
penangkapan yang tinggi dari ikan kembung (F tertangkapnya ikan oleh jaring dengan
= 1.72 pertahun) yang diperoleh dari penelitian dimensi atau panjang tubuh ikan dapat diplot
ini. Kematian alami (M) yang diduga dengan ke dalam bentuk grafik, sehingga akan
menggunakan formula empiris Pauly pada diperoleh satu pola yang disebut kurva seleksi
penelitian ini sebesar 1.47 lebih kecil bila penangkapan. Kurva ini kemudian
dibandingkan dengan hasil penelitian lainnya digunakan untuk menduga panjang ikan
pada spesies yang sama, yaitu 5.91 pertahun mula-mula yang tertangkap oleh jaring (Lc).
(Oktaviani, 2013). Nilai dugaan laju Eksploitasi Untuk jaring tidak selektif peluang untuk Lc
(E) untuk ikan kembung pada daerah ini dianggap 50 %. Dengan menggunakan
penelitian sebesar 0.54 (E > 0.50). Menurut program FISAT-II, diperoleh dugaan Lc ikan
Gulland (1971) bahwa suatu sumberdaya yang kembung di perairan pesisir pulau Ternate
dieksploitasi dalam kondisi optimun apabila 14.90 cm. Berdasarkan persamaan
nilai F = M, yaitu Eopt = 0,5. Jadi pemanfaatan pertumbuhan von Bertalanffy yang
ikan Kembung di perairan pesisir Pulau diperoleh, umur ikan kembung pada saat
Ternate telah melebihi batas maksimum pertama kali tertangkap (Lc) adalah 8 bulan
(Sparre et al., 1989). dengan panjang 14.90 cm. Nilai dugaan Lc di

12
Jurnal Ilmiah agribisnis dan Perikanan (agrikan UMMU-Ternate) Volume 7 Edisi 2 (Oktober 2014)

inimenunjukkan bahwa rata-rata ukuran ikan 3.5. Hasil per Rekrutmen Relatif.
yang tertangkap oleh alat yang beroperasi Fungsi Lc/L dan M/K sangat
merupakan kelompok ikan yang masih muda menentukan nilai Y/R dan B/R, dimana nilai
dan belum sempat melakukan pemijahan masing-masing Lc/L dan M/K adalah 0.051
tahunan. Untuk menjaga ketersediaan dan dan 2.12. Dengan nilaiLc sebesar 14.90 cm nilai
kelestarian stok spesies ikan kembung di Emaks= 0.364 pertahun menghasilkan Y/R
perairanpesisir pulau Ternate, maka maksimum sebesar0.016 dan biomassa per
diupayakan nilai Lc tersebut ditingkatkan recruit pada Emaks sebesar 0.259 atau 25.9 % dari
agar ikan kembung yang tertangkap minimal bimassa virgin. Laju eksploitasi saat
telah melakukan pemijahan dengan ukuran ini(Gambar 6) adalahE = 0.54 dimana nilai ini
panjang > 24 cm (Mosse dan Hutubessy, 1996), > menunjukan bahwa laju eksploitasi telah lebih
20.71 cm (Oktaviani, 2013). tangkap dengan nilai dugaan pemanfaatan
sebesar 56.4 %.

Gambar 6. Grafik Hasil Tangkapan Per Rekrutmen Relatif Ikan


Kembung di Pesisir Pulau Ternate

IV. PENUTUP tertangkap oleh nelayan adalah ikan kembung


Hasil analisis dinamika populasi ikan dengan ukuran 14.90 yakni ukuran ikan yang
kembung di perairan pesisir pulau Ternate dapat belum melakukan pemijahan selain dapat dilihat
disimpulkan bahwa ikan kembung yang juga bahwa laju eksploitasi ikan kembung pada
tertangkap di perairan pesisir Pulau Ternate perairan pesisir pulau Ternate telah lebih
memiliki laju pertumbuhan cepat serta tingkat tangkapan dengan nilai E = 0.54..
kematian yang tinggi, dimana umumnya yang

DAFTAR PUSTAKA

DKP Provinsi Maluku Utara. 2010. Laporan Tahunan Produksi Perikanan Tangkap.
DKP Kota Ternate. 2011. Statistik Perikanan Tangkap Kota Ternate.
Gulland, J.A. 1971. Fish Resources of the Ocean. Fishing New Books, London, 255p.
Nurhakim S., 1993. Beberapa Parameter Populasi Ikan Banyar (Rastrelliger kanagurta) di Perairan
Laut Jawa. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. Hal 64-75.
Oktaviani, D. 2013. Etnozoologi, Biologi Reproduksi, Dan Pelestarian Ikan Lema Rastrelliger
Kanagurta (Cuvier, 1816) Di Teluk Mayalibit Kabupaten Raja Ampat Papua Barat
Indonesia. Disertasi Fakultas MIPA Program Pascasarjana Universitas Indonesia.
Saputra, S. W., 2007. Dinamika Populasi. Bahan Ajar Mata Kuliah Dinamika Populasi. Program
Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. FPIK. Universitas Dipenogoro. Semarang

13
Jurnal Ilmiah agribisnis dan Perikanan (agrikan UMMU-Ternate) Volume 7 Edisi 2 (Oktober 2014)

Suhendrata, T dan E. M. Amin. Pendugaan Pertumbuhan dan Pola Penambahan Baru IKan
Kembung Lelaki (R kanagurta) di Perairan Selat Madura. Jurnal Penelitian Perikanan
Laut No. 54, Hal 59-64.
Sparre P. dan S. C. Venema. 1999. Introduksi Pengkajian Stok Ikan Tropis Buku I Manual (Edisi
Terjemahan). Kerjasama Organisasi Pangan, Perserikatan Bangsa-bangsa dengan Pusat
Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian, Jakarta.
Suruwaky A. M. dan Gunaisah E., 2013 Identifikasi Tingkat Eksploitasi Sumberdaya Ikan
Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta) Di tinjau dari Hubungan Panjang Berat. Jurnal
Akuatika Vol. IV No. 2. ISSN 0853-2523. Hal. 131-140.
Suwarno, 2010. Biologi Reproduktif, Preferensi Habitat Pemijahan Dan Dugaan Stok Pemijah Ikan
Kembung (Rastrelliger brachysoma) di Pantai Utara Jawa. Laporan Program Intensif
Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Rekayasa. Balai Riset Perikanan Laut. BRPKP,
Kementrian Kelautan dan Perikanan.

14