PRILAKU KONSUMSI ISLAMI1 OLEH : NURUL HUDA2

PENDAHULUAN Keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup merupakan naluri manusia. Sejak kecil, bahkan ketika baru lahir, manusia sudah menyatakan keinginan untuk memenuhi kebutuhannya dengan berbagai cara, misalnya dengan menangis untuk menunjukkan bahwa seorang bayi lapar dan ingin minum susu dari ibunya. Semakin besar dan akhirnya dewasa, keinginan dan kebutuhan seorang manusia akan terus meningkat dan mencapai puncaknya pada usia tertentu untuk seterusnya menurun hingga seseorang meninggal dunia. Teori Perilaku konsumen (consumer behavior) mempelajari bagaimana manusia memilih di antara berbagai pilihan yang dihadapinya dengan memanfaatkan sumberdaya (resources) yang dimilikinya. Teori perilaku konsumen rasional dalam paradigma ekonomi konvensional didasari pada prinsip-prinsip dasar utilitarianisme. Diprakarsai oleh Bentham yang mengatakan bahwa secara umum tidak seorangpun dapat mengetahui apa yang baik untuk kepentingan dirinya kecuali orang itu sendiri. Dengan demikian pembatasan terhadap kebebasan individu, baik oleh individu lain maupun oleh penguasa, adalah kejahatan dan harus ada alasan kuat untuk melakukannya. Oleh pengikutnya, John Stuart Mill dalam buku On Liberty yang terbit pada 1859, paham ini dipertajam dengan mengungkapkan konsep ‘freedom of action’ sebagai pernyataan dari kebebasan-kebebasan dasar manusia. Menurut Mill, campur tangan negara di dalam masyarakat manapun harus diusahakan seminimum mungkin dan campur tangan yang merintangi kemajuan manusia merupakan campir tangan terhadap kebebasan-kebebasan dasar manusia, dan karena itu harus dihentikan. Lebih jauh Mill berpendapat bahwa setiap orang di dalam masyarakat harus bebas untuk mengejar kepentingannya dengan cara yang dipilihnya sendiri, namun kebebasan
1

Makalah disampaikan dalam diskusi bulanan Fakultas Ekonomi Universitas Yarsi tanggal 6 Nopember 2006 2 Dosen Tetap Fakultas Ekonomi Universitas Yarsi

ternyata terlalu pahit untuk harga Rp. Pengalaman tersebut akan menjadi informasi bagi konsumen yang akan mempengaruhi keputusan konsumsinya mengenai kopi di masa yang akan datang. Tidak selamanya konsumen dapat memperkirakan manfaat dengan tepat. Saat membeli suatu barang. meningkatkan konsumsi suatu barang atau jasa harus disertai dengan pengurangan konsumsi pada barang atau jasa yang lain. 3. Lebih nikmat kopi tubruk di warung kopi yang Rp.. Jika untuk setiap tambahan barang diperlukan biaya sebesar harga barang tersebut (P).. bisa jadi manfaat yang diperoleh tidak sesuai dengan harga yang harus dibayarkan: segelas kopi Starsbuck. Setiap barang dapat disubstitusi dengan barang lain.000. maka konsumen akan berhenti membeli barang tersebut manakala tambahan manfaat yang diperolehnya (MU) sama besar dengan tambahan biaya yang harus dikeluarkan. 5. Maka jumlah konsumsi yang optimal adalah jumlah di mana MU = P. semakin kecil tambahan kepuasan yang dihasilkan. Adanya kelangkaan dan terbatasnya pendapatan memaksa orang menentukan pilihan.per cangkir. Beberapa prinsip dasar dalam analisa perilaku konsumen adalah: 1. Konsumen tunduk kepada hukum Berkurangnya Tambahan Kepuasan (the Law of Diminishing Marginal Utility). 2. 4. Semakin banyak jumlah barang dikonsumsi. konsumen akan memilih yang biayanya lebih kecil. Agar pengeluaran senantiasa berada di anggaran yang sudah ditetapkan. Dengan demikian konsumen dapat memperoleh kepuasan dengan berbagai cara. Kelangkaan dan terbatasnya pendapatan.seseorang untuk bertindak itu dibatasi oleh kebebasan orang lain. . Dasar filosofis tersebut melatarbelakangi analisa mengenai perilaku konsumen dalam teori ekonomi konvensional. Jika dua barang memberi manfaat yang sama. 3. 40. artinya kebebasan untuk bertindak itu tidak boleh mendatangkan kerugian bagi orang lain. misalnya. maka konsumen akan memilih barang yang memberi manfaat lebih besar. bila untuk memperoleh dua jenis barang dibutuhkan biaya yang sama. Konsumen mampu membandingkan biaya dengan manfaat. Di sisi lain.000.per gelasnya.

hingga teknik pilihan dan alokasi anggaran untuk berkonsumsi. memiliki perbedaan yang mendasar dengan teori konvensional. dan bukan dengan jumlah kekayaan yang dimiliki.2. seperti sebuah kebun yang terletak di dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat. Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. kebenaran dan ketaqwaan kepada Allah merupakan kunci moralitas Islam. 2. motif dan tujuan konsumsi. Harta merupakan alat untuk mencapai tujuan hidup. prinsip ini mengarahkan seorang konsumen untuk mengutamakan konsumsi untuk akhirat daripada dunia. (QS. Kebajikan. Maka hujan gerimis (pun memadai). sedangkan konsumsi duniawi adalah present consumption.Teori perilaku konsumen yang dibangun berdasarkan syariah Islam. jika hujan lebat tidak menyiraminya. dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat.265) 265. Konsep sukses dalam kehidupan seorang muslim diukur dengan moral agama Islam. Konsumsi untuk ibadah merupakan future consumption (karena terdapat balasan surga di akherat). PERMASALAHAN Tulisan ini akan membahas lebih jauh tentang bagaimana konsep teori prilaku konsumen dalam pendekatan ekonomi mikro Islam . Mengutamakan konsumsi untuk ibadah daripada konsumsi duniawi. Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya Karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka. Kebajikan dan kebenaran dapat dicapai dengan prilaku yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan dan menjauhkan diri dari kejahatan. Kedudukan harta merupakan anugrah Allah dan bukan sesuatu yang dengan sendirinya bersifat buruk (sehingga harus dijauhi secara berlebihan). 3. Ada tiga nilai dasar yang menjadi fondasi bagi perilaku konsumsi masyarakat muslim : 1. jika diusahakan dan dimanfaatkan dengan benar. Perbedaan ini menyagkut nilai dasar yang menjadi fondasi teori. Semakin tinggi moralitas semakin tinggi pula kesuksesan yang dicapai. Keyakinan akan adanya hari kiamat dan kehidupan akhirat.

PEMBAHASAN Prinsip Konsumsi Dalam Islam Menurut Manan. Pelarangan dilakukan karena berkaitan dengan hewan yang dimaksud berbahaya bagi tubuh dan tentunya berbahaya bagi jiwa . ada 5 prinsip konsumsi dalam islam : 1. Firman Allah dalam QS : Al-Baqarah : 173 173. terkait dengan moral dan spritual (Mempersekutukan tuhan) 2. Prinsip Kesederhanaan. dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah[108]. Maka tidak ada dosa baginya. tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas. pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid[534]. prinsip ini mengandung arti ganda mengenai mencari rizki yang halal dan tidak dilarang hukum. makanan harus baik dan cocok untuk dimakan. [534] Maksudnya: tiap-tiap akan mengerjakan sembahyang atau thawaf keliling ka'bah atau ibadat-ibadat yang lain. 3. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang yang berlebih-lebihan. darah. Sesungguhnya Allah Hanya mengharamkan bagimu bangkai. makan dan minumlah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. dan janganlah berlebih-lebihan[535]. Hai anak Adam. [535] Maksudnya: janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan. prinsip ini mengatur perilaku manusia mengenai makan dan minuman yang tidak berlebihan Firman Allah dalam QS : Al-A’raaf :31 31. . [108] Haram juga menurut ayat Ini daging yang berasal dari sembelihan yang menyebut nama Allah tetapi disebut pula nama selain Allah. Prinsip Keadilan. Prinsip Kebersihan. daging babi. tidak kotor ataupun menjijikkan sehingga merusak selera.

kolam dan sebagainya. Dihalalkan bagimu binatang buruan laut[442] dan makanan (yang berasal) dari laut[443] sebagai makanan yang lezat bagimu. 1992). Maslahah merupakan tujuan hukum syara’ yang paling utama. yakni: kehidupan atau jiwa (al-nafs). seorang muslim diajarkan untuk menyebut nama Allah sebelum makan dan menyatakan terima kasih kepadanya setelah makan Konsep Maslahah Dalam Prilaku Konsumen Islami Syariah Islam menginginkan manusia mencapai dan memelihara kesejahteraannya. 5. Prinsip kemurahan hati. intelektual (alaql). Firman Allah dalam QS : Al-Maidah : 96 96. Semua barang dan jasa yang mendukung .4. dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. memukat dan sebagainya. Imam Shatibi menggunakan istilah ‘maslahah’. keyakinan (al-din). dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan. Ada lima elemen dasar menurut beliau. Prinsip moralitas. [442] Maksudnya: binatang buruan laut yang diperoleh dengan jalan usaha seperti mengail. properti atau harta benda (al mal). dan keluarga atau keturunan (al-nasl). danau. Karena Telah mati terapung atau terdampar dipantai dan sebagainya. [443] Maksudnya: ikan atau binatang laut yang diperoleh dengan mudah. selama kamu dalam ihram. termasuk juga dalam pengertian laut disini ialah: sungai. dengan mentaati perintah Islam tidak ada bahaya maupun dosa ketika kita memakan dan meminum makanan halal yang disediakan Tuhannya. dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat. maslahah adalah sifat atau kemampuan barang dan jasa yang mendukung elemen-elemen dan tujuan dasar dari kehidupan manusia di muka bumi ini (Khan dan Ghifari. Menurut Imam Shatibi. yang maknanya lebih luas dari sekadar utility atau kepuasan dalam terminologi ekonomi konvensional.

Misalnya. Kegiatan-kegiatan ekonomi meliputi produksi. yang memiliki maslahah bagi umat manusia. Konsep ini sangat berbeda dengan konsep Pareto Optimum. itulah yang disebut maslahah.maslahah dapat dibagi dua jenis: pertama. dan kedua: maslahah terhadap elemen-elemen yang menyangkut hanya kehidupan akhirat. berbeda dengan konsep utility. maslahah terhadap elemen-elemen yang menyangkut kehidupan dunia dan akhirat. Berdasarkan kelima elemen di atas. disebut ‘needs’ atau kebutuhan. maka penilaian individu tersebut menjadi gugur. Dengan demikian seorang individu Islam akan memiliki dua jenis pilihan: • Berapa bagian pendapatannya yang akan dialokasikan untuk maslahah jenis pertama dan berapa untuk maslahah jenis kedua. Namun. Adapun sifat-sifat maslahah sebagai berikut: Maslahah bersifat subyektif dalam arti bahwa setiap individu menjadi hakim bagi masing-masing dalam menentukan apakah suatu perbuatan merupakan suatu maslahah atau bukan bagi dirinya. Dan semua kebutuhan ini harus dipenuhi. kriteria maslahah telah ditetapkan oleh syariah dan sifatnya mengikat bagi semua individu. konsumsi dan pertukaran hyang menyangkut maslahah tersebut harus dikerjakan sebagai suatu ‘religious duty‘ atau ibadah.tercapainya dan terpeliharanya kelima elemen tersebut di atas pada setiap individu. konsumsi. dan usaha pencapaian tujuan itu adalah salah satu kewajiban dalam beragama. Konsep maslahah mendasari semua aktivitas ekonomi dalam masyarakat. bila seseorang mempertimbangkan bunga bank memberi maslahah bagi diri dan usahanya. Maslahah orang per seorang akan konsisten dengan maslahah orang banyak. . Mencukupi kebutuhan – dan bukan memenuhi kepuasan/keinginan – adalah tujuan dari aktivitas ekonomi Islami. maupun dalam pertukaran dan distribusi. namun syariah telah menetapkan keharaman bunga bank. Semua aktivitas tersebut. baik itu produksi. Tujuannya bukan hanya kepuasan di dunia tapi juga kesejahteraan di akhirat. yaitu keadaan optimal di mana seseorang tidak dapat meningkatkan tingkat kepuasan atau kesejahteraannya tanpa menyebabkan penurunan kepuasan atau kesejahteraan orang lain.

Misalnya dibolehkannya memakai baju yang nyaman dan indah. sehingga tidak semua barang/jasa dapat dan layak dikonsumsi oleh umat Islam. Tahsiniyyah : syariah menghendaki kehidupan yang indah dan nyaman di dalamnya. tahsiniyyah dan hajiyyah. konsumen Islam. akan mengkonsumsi barang lebih sedikit daripada nonmuslim. keturunan dan keluarga serta harta benda. Dalam membandingkan konsep ‘kepuasan’ dengan ‘pemenuhan kebutuhan’ (yang terkandung di dalamnya maslahah). . yaitu mencakup terpeliharanya lima elemen dasar kehidupan yakni jiwa. karena memiliki alokasi untuk hal-hal yang menyangkut akhirat. Hukum syara’ dalam kategori ini tidak dimaksudkan untuk memelihara lima hal pokok tadi melainkan menghilangkan kesempitan dan berhati-hati terhadap lima hal pokok tersebut. keyakinan atau agama. Penjelasan dari masing-masing tingkatan itu sebagai berikut: Daruriyyah : Tujuan daruriyyah merupakan tujuan yang harus ada dan mendasar bagi penciptaan kesejahteraan di dunia dan akhirat. Terdapat beberapa provisi dalam syariah yang dimaksudkan untuk mencapai pemanfaatan yang lebih baik. maka tidak akan ada kedamaian. Jika tujuan daruriyyah diabaikan.• Bagaimana memilih di dalam maslahah jenis pertama: berapa bagian pendapatannya yang akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan dunia (dalam rangka mencapai ‘kepuasan’ di akhirat) dan berapa bagian untuk kebutuhan akhirat. Hal yang membatasinya adalah konsep maslahah tersebut di atas. Tidak semua barang/jasa yang memberikan kepuasan/utility mengandung maslahah di dalamnya. akal/intelektual. kita perlu membandingkan tingkatan-tingkatan tujuan hukum syara’ yakni antara daruriyyah. keindahan dan simplifikasi dari daruriyyah dan hajiyyah. yang timbul adalah kerusakan (fasad) di dunia dan kerugian yang nyata di akhirat. Hajiyyah : Syari’ah bertujuan memudahkan kehidupan dan menghilangkan kesempitan. Pada tingkat pendapatan tertentu.

insyaAllah tidak akan terjerumus pada pembelanjaan yang ditujukan untuk keburukan yang bisa membawa keluarga itu pada kemaksiatan. kuncinya adalah bagaimana kita mengatur anggaran pendapatan dan belanja rumah tangga. “Pengaturan belanja yang baik itu merupakan setengah usaha. Lalu bagaimana seorang muslim mengatur anggaran rumah tangganya? Islam.” katanya. sebagaimana kita telah mengetahui. minum. Islam memperingatkan agen ekonomi agar jangan sampai terlena dalam berlomba-lomba mencari harta (at-takaatsur). Ini belum ditambah dengan barangbarang mewah yang beredar mulai dari alat-alat kecantikan sampai kepada mobil-mobil mewah. Padahal pola hidup seperti ini hanya akan memperburuk neraca transaksi berjalan karena meningkatkan impor barang tersebut sehingga menguras devisa dan pada gilirannya akan menekan nilai tukar mata uang dalam negeri.Dari paparan di atas. Banyak barang-barang tertentu yang semestinya belum layak dikonsumsi oleh bangsa ini. keseluruhannya mengandung bahan-bahan yang harus diimpor dengan mengabaikan sumber-sumber yang sesungguhnya dapat dipenuhi dari dalam negeri. Pada intinya bila umat Islam dalam mencari harta sampai kemudian membelanjakannya tetap berpedoman bahwa itu semua merupakan bagian dari ibadah. telah diperkenalkan dan kemudian menjadi mode yang ditiru sehingga meningkatkan impor akan barang tersebut.” Kalau nasihat itu datang dari seorang yang miskin. menganjurkan umatnya untuk bekerja dan berusaha dengan baik. dalam satu hari saja. . Bagi sahabat Mu’awiyah. sandang dan papan. Disadari atau tidak sesungguhnya pola konsumsi dan gaya hidup kita cenderung merugikan diri sendiri. Islam juga memerintahkan agar harta dikeluarkan untuk tujuan yang baik dan bermanfaat. dan dia dianggap sebagai setengah mata pencaharian. lalu bagaimana sesungguhnya aplikasi teori perilaku konsumen Islami? Marilah kita cermati nasihat sahabat Abu Bakar as-Shidiq: “Sesungguhnya aku membenci penghuni rumah tangga yang membelanjakan atau menghabiskan bekal untuk beberapa hari. Dimulai dari pemenuhan kebutuhan pokok (primer) seperti makan. kita boleh saja mengabaikannya. Lain halnya bila nasihat itu datang dari seorang sekaya Abu Bakar. Islam memberikan arahan yang sangat indah dengan memperkenalkan konsep israf (berlebih-lebih) dalam membelanjakan harta dan tabzir.

yakni kebutuhan manusia untuk memudahkan kehidupan. Islam mengajarkan kepada kita agar pengeluaran rumah tangga muslim lebih mengutamakan kebutuhan pokok sehingga sesuai dengan tujuan syariat. Setidaknya terdapat tiga kebutuhan pokok: Pertama adalah kebutuhan primer. Untuk mewujudkan lima tujuan syariat ini. Satu-satunya gaya hidup yang cocok adalah simple living ( hidup sederhana) dalam pengertian yang benar secara syar’i. kebutuhan sekunder. Pemenuhan kebutuhan ini tergantung pada bagaimana pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder serta. yaitu kebutuhan yang dapat menciptakan kebaikan dan kesejahteraan dalam kehidupan manusia. kesehatan. tempat tinggal. Pola hidup konsumtivme seperti di atas tidak pantas dan tidak selayaknya dilakukan oleh pribadi yang beriman dan bertaqwa. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan makan. ibu rumah tangga yang umumnya merupakan manajer rumah tangga.keturunan dan kehormatan). bahkan mengharamkan pengeluaran yang berlebih-lebihan dan terkesan mewah. karena dapat mendatangkan kerusakan dan kebinasaan. Kedua. berkaitan dengan lima tujuan syariat. pengetahuan dan pernikahan. sekali lagi. Ketiga adalah kebutuhan pelengkap. Meski satu rumah tangga sudah mampu memenuhi sampai kebutuhan ketiga atau pelengkap. Kebutuhan inipun masih berkaitan dengan lima tujuan syariat itu tadi. yakni nafkah-nafkah pokok bagi manusia yang dapat mewujudkan lima tujuan syariat (yakni memelihara jiwa. Allah berfirman dalam .” (QS al-Israa ayat 16): 16. bertaqwa. sesuai dengan pendapatan yang diperoleh suaminya. agar terhindar dari kesulitan. akal. Tanpa kebutuhan primer kehidupan manusia tidak akan berlangsung. rasa aman. agama. Maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam . Kebutuhan ini tidak perlu dipenuhi sebelum kebutuhan primer terpenuhi. bersyukur dan menerima. Islam tetap tidak menganjurkan.Islam membentuk jiwa dan pribadi yang beriman. minum. mesti disiplin dalam menepati skala prioritas kebutuhan tadi. Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri.

dan tidak (pula) kikir. Sesungguhnya pembagian Allah atas rizki hambaNya telah ditentukan batasan. Untuk itu diperlukan satu pilihan yang sangat bijak agar kedua hal tersebut bisa dicapai secara optimal. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta). Allah mengetahui kemampuan seorang hamba di dalam . kadar dan jenisnya. Apalagi melakukan pembelanjaan untuk barang-barang yang bukan hanya tidak bermanfaat tetapi juga dibenci Allah. Atau dalam QS al-israa ayat 29: 29. narkoba. atau membangun pendidikan yang baik demi dihasilkannya SDM yang berkualitas. Sementara kikir adalah satu sikap hidup yang dapat menahan dan membekukan harta. Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami). dan jangan pula terlalu Pemurah. [852] Maksudnya: jangan kamu terlalu kikir. Pemerintah kita misalnya menghadapi pilhan sulit antara membangun infrastruktur untuk merangsang investasi. Islam mengharamkan segala pembelanjaan yang tidak mendatangkan manfaat. seperti: minuman alkohol. Juga pembelian yang mengarah pada perbuatan bid’ah dan kebiasaan buruk. Dalam QS al-Furqaan ayat 67. Masyarakat atau negara juga sering harus menghadapi pilihan-pilihan yang tidak mudah.negeri itu. Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya[852] Karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. dan barang haram lainnya. dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. harta dan masyarakat. Untuk mencegah agar kita tidak terlanjur ke gaya hidup mewah. Namun itu semua tidak berarti membuat kita menjadi kikir. Sesungguhnya bukan hanya individu yang akan menghadapi pilihan sulit seperti ini. baik manfaat material maupun spiritual. Sikap berlebihan akan merusak jiwa. mereka tidak berlebihan. tidak berlebihan dan tidak pula kikir. Islam mengajarkan kepada kita sikap pertengahan dalam mengeluarkan harta. Kemudian kami hancurkan negeri itu sehancurhancurnya.

dengan sedikit ketakutan. salah satu ujian itu bisa berupa adanya rasa lapar. Allah berfirman dalam (QS Al Baqarah ayat 155). menjelaskan: “Masyiah Rabbaniyah adalah totalitas keinginan seorang hamba untuk pasrah dan menyerahkan seluruh jiwa dan raga terhadap keinginan dan ketentuan Tuhan dalam segala aspek kehidupan. kelaparan. Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu. Kelangkaan barang juga akan menuntut seorang hamba untuk kreatif dalam menghasilkan barang dan jasa guna memenuhi kebutuhan hidup sekaligus mencari jalan keluar bagi kesulitan yang dihadapinya. Sesungguhnya kehadiran manusia di muka bumi hanyalah sekadar mewujudkan kehendak Tuhan (masyiah Rabbaniyah). Satu contoh bagaimana manusia mengatasi kelangkaan sumber energi yang dalam beberapa puluh tahun ke depan diperkirakan habis. Sayyid Qutbh dalam Saad Marthon. 155. seorang manusia akan lebih terdorong untuk memakmurkan kehidupan masyarakat jika menemukan kesulitan dalam kehidupan ekonomi. Begitulah. Banyak penelitian dilakukan untuk menghasilkan sumber energi alternatif. Sebagai dalam ayat di atas. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. dan kekurangan atas bahan makanan pokok. baik dalam proses pembuatan barang.membelanjakan dan men-tasaruffkan-kan rizki yang telah diberikan tanpa adanya sikap melampaui batas dan tindak keborosan. Allah mengetahui seberapa jauh kemampuan hambaNya untuk mengelola rizki dan kekayaan yang telah diberikan tanpa melanggar batas-batas yang telah ditentukan (Quthb. Adanya kelangkaan satu barang tidak hanya menghadirkan ujian keimanan dan kesabaran seorang manusia. 2004). jiwa dan buah-buahan. Kebutuhan Dan Keinginan . penelitian dan analisis kehidupan sosial. tak lain merupakan ujian keimanan dan kesabaran seorang hamba. Ujian dan cobaan Allah yang sangat beragam itu. kekurangan harta. proses untuk memberdayakan hasil bumi dan wewenang mengolah serta memakmurkan bumi yang telah dititipkan Allah kepada manusia”. 1939 dalam Marthon.

kebutuhan pakaian untuk menolak panas dan dingin. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara filosofi yang melandasi teori permintaan Islami dan konvensional. sehingga fisik manusia tetap sehat dan mampu menjalankan fungsinya secara optimal sebagai hamba Allah yang beribadah kepadaNya. yakni kelangkaan. akan sangat terlihat betapa bedanya ilmu ekonomi Islam dengan ilmu ekonomi konvensional. Karena keduanya memberikan efek yang sama bila tidak terpenuhi. Menurut Imam al-Ghazali kebutuhan (hajat) adalah keinginan manusia untuk mendapatkan sesuatu yang diperlukan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya dan menjalankan fungsinya. Pada tahapan ini mungkin tidak bisa dibedakan antara keinginan (syahwat) dan kebutuhan (hajat) dan terjadi persamaan umum antara homo economicus dan homo Islamicus.Sebagaimana kita pahami dalam pengertian ilmu ekonomi konvensional. Kita melihat misalnya dalam hal kebutuhan akan makanan dan pakaian. Kelangkaan akan barang dan jasa timbul bila kebutuhan (keinginan) seseorang atau masyarakat ternyata lebih besar daripada tersedianya barang dan jasa tersebut. Jadi kelangkaan ini muncul apabila tidak cukup barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan tersebut. Manakala manusia lupa pada tujuan penciptaannya. Dari pemilahan antara keinginan (wants) dan kebutuhan (needs). Ilmu ekonomi konvensional tampaknya tidak membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Namun manusia harus mengetahui bahwa tujuan utama diciptakannya nafsu ingin makan adalah untuk menggerakkannya mencari makanan dalam rangka menutup kelaparan. sesuatu yang tampaknya agak sepele tetapi memiliki konsekuensi yang amat besar dalam ilmu ekonomi. bahwa ilmu ekonomi pada dasarnya mempelajari upaya manusia baik sebagai individu maupun masyarakat dalam rangka melakukan pilihan penggunaan sumber daya yang terbatas guna memenuhi kebutuhan (yang pada dasarnya tidak terbatas) akan barang dan jasa. Imam al-Ghazali tampaknya telah membedakan dengan jelas antara keinginan (raghbah dan syahwat) dan kebutuhan (hajat). . maka esensinya pada saat itu tidak berbeda dengan binatang ternak yang makan karena lapar saja. Kebutuhan makanan adalah untuk menolak kelaparan dan melangsungkan kehidupan. Islam selalu mengaitkan kegiatan memenuhi kebutuhan dengan tujuan utama manusia diciptakan. Dalam kaitan ini.

Norma dan batasan ini pada gilirannya akan membentuk gaya hidup ( life style) dan pola perilaku konsumsi ( patterns of consumption behaviour) tertentu yang secara lahiriah akan membedakannya dari gaya hidup yang tidak diilhami oleh ruh ajaran Islami. 660 H) dalam Qowaid al-Ahkam fi Masolih al-Anam. al-Izz bin Abdus Salam (w. pendapatan dan lain-lain tanpa mempedulikan pada dimensi spiritual karena hal itu dianggapnya berada di luar wilayah otoritas ilmu ekonomi. ilmu ekonomi konvensional tidak terlalu merisaukan adanya perbedaan ini. menebangi hutan. Imam as-Syatibi (w. Pandangan konvensional yang materialis melihat bahwa konsumsi merupakan fungsi dari keinginan. harga barang. Maka tidak heran jika sekarang terjadi bermacam-macam bencana alam yang mengerikan disebabkan karena doktrin keinginan sama dengan kebutuhan. Pembahasan tentang tingkatan-tingkatan pemenuhan kebutuhan manusia (hajaat) telah menarik perhatian para ulama di sepanjang zaman. nafsu. Mereka tetap berpendirian bahwa kebutuhan adalah keinginan dan sebaliknya. proses industri yang menimbulkan polusi udara dan air) apalagi masa depan kelak di akhirat. Tidak ada perasaan apakah konsumsi sekarang akan berpengaruh kepada masa depan dirinya sendiri (misalnya mengkonsumsi alkohol dan merokok). Di sini tampak pula pandangan integral beliau tentang falsafah hidup seorang Muslim. . 808 H) dalam Muqoddimah. Imam alGhozali dalam al-Mustasfa dan Ihya. Lebih jauh Imam al-Ghazali menekankan pentingnya niat dalam melakukan konsumsi sehingga tidak kosong dari makna dan steril.Anehnya. Konsumsi dilakukan dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Padahal konsekuensi dari penyamaan ini berakibat pada terkurasnya sumber-sumber daya alam secara membabi buta dan menciptakan ketidakseimbangan ekologi yang gawat. Di antara mereka ada yang lebih menonjol dari yang lain dan secara khusus membahasanya dalam karya-karya ilmiahnya seperti Imam al-Juwaini (w. Penyusunan tingkatan konsumsi ini menjadi menarik karena Islam memberikan norma-norma dan batasan-batasan (constraints) pada individu dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup mereka. masa depan umat manusia ( misalnya. menguras minyak bumi. 790 H) dalam al-Muwafaqot dan Ibnu Khaldun (w. Tidak ada yang dapat menghalangi perilaku homo economicus kecuali kemampuan dananya. 478 H) dalam kitabnya al-Burhan fi Usul al-Fiqh. Pandangan ini tentu sangat berbeda dari dimensi yang melekat pada konsep konsumsi konvensional.

Barangkali keadaan ini dapat lebih ditegaskan bahwa meninggalkan had tana’um tidak diwajibkan secara keseluruhan begitu juga menikmatinya tidak dilarang semuanya. Hal ini disebabkan karena ujung perbatasan ini dapat menjerumuskannya ke dalam hal-hal yang membuatnya terlena secara tidak sadar dan akhirnya melalaikan tugasnya dalam beribadah kepada Allah. Antara had ad-dhorurah dengan tana’um terdapat area yang sangat luas disebut had al-hajah di mana keseluruhannya halal dan mubah. ia hanya mampu bertahan hidup dengan penuh kelemahan dan kesusahan. Yang dimaksud dengan had ar-ramq atau batasan darurat adalah tingkatan konsumsi yang paling rendah dan bila manusia berada dalam kondisi ini. ia tetap akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Menurut al-Ghazali area ini memiliki dua ujung batasan yang berbeda yaitu ujung yang berdekatan dengan perbatasan dharurah dan ini dinilainya tidak mungkin dipertahankan karena akan menimbulkan kelemahan dan kesengsaraan dan ujung yang lain berbatasan dengan tana’um di mana individu yang berada di sini dianjurkan untuk ekstra waspada. Imam al-Ghazali sendiri menolak gaya hidup seperti ini karena individu tidak akan mampu melaksanakan kewajiban agama dengan baik dan akan meruntuhkan sendi-sendi keduniaan yang pada gilirannya juga akan meruntuhkan agama karena dunia adalah ladang akhirat (ad-Dunya Mazro’ah al-akhirah). tetapi juga bertujuan untuk bersenang-senang dan bernikma-nikmat. had alhajah dan yang tertinggi adalah had at-tana’um. Kendatipun begitu. walaupun untuk itu. Sebagian dihalalkan. Menurut Imam al-Ghazali gaya hidup bersenang-senang ini tidak cocok bagi seorang mukmin yang tujuan hidupnya untuk mencapai derajat tertinggi dalam ibadah dan ketaatan.Dalam bukunya yang berjudul Ihya Ulumiddin Imam al-Ghazali membagi tiga tingkatan konsumsi yaitu sadd ar-Ramq dan ini disebut juga had ad-dhorurah. Beliau menasihati kita agar sedapat mungkin menetap di had al-hajah dengan sedekat mungkin mendekati had ad-dharurah dalam rangka meneladani para Nabi dan Wali. Tingkatan tana’um digambarkan bahwa individu pada tahapan ini melakukan konsumsi tidak hanya didorong oleh usaha memenuhi kebutuhannya an sich. gaya hidup demikian tidak seluruhnya haram. yaitu ketika individu menikmatinya dalam kerangka menghadapi nasib di akhirat. .

Kajian al-Ghazali tentang tingkatan konsumsi ini banyak bersentuhan dengan apa yang telah dikemukakan oleh Imam al-Juwaini dan itu adalah wajar karena Imam alHaromain adalah salah satu gurunya dan al-Ghazali banyak belajar dan mengambil ilmu dari padanya. Utamakan Akhirat dari pada dunia Pada tataran dasar konsumsi dilakukan bersifat duniawi (CW) dan bersifat Ibadah (Ci) Keduanya bukan subtitusi yang sempurna karena perbedaan ekstrim. Para ekonom Muslim lebih menyukai istilah dan kategorisasi yang dikembangkan oleh Imam as-Syatibi dalam al-Muwafaqot yaitu dhoruriyah. semakin besar konsumsi akhirat / ibadah semakin besar menuju falah begitu juga sebaliknya . Preferensi Konsumsi Preferensi konsumsi dan pemenuhannya dapat di dipetakan/ mapping sebagai berikut: 1. as-Syatibi dan Ibnu Khaldun.911 H ) dalam al-Asybah wan Nazhoir menulis lima tingkatan yaitu dhorurah. F terdapat hubungan positif antara pencapaian tujuan Falah dengankebutuhan konsumsi ibadah. hanya ada sedikit perbedaan dalam penggunaan bahasa. dan fudhul. Umumnya mereka membagi tiga kategori pemenuhan kebutuhan. Di samping itu kategorisasinya juga banyak persamaannya dengan para ulama sesudahnya seperti al-Izz bin Abdus Salam. Sekalipun demikian. belakangan Imam Suyuthi ( w. manfa’ah. hajiyah dan tahsiniyah (kamaliyyah). Dalam Al-Qur’an & hadits konsumsi duniawi adalah untuk masa sekarang (present consumption) sedangkan untuk konsumsi ibadah untuk masa depan (future consumption). Ibadah lebih bernilai tinggi karena orientasinya pada meraih falah yaitu pahala dari Allah swt. ziinah. hajah. Semakin tinggi ujuan falah semakin di tuntut tinggi Konsumsi kebutuhan ibadah .

Semakin tinggi tujuan falah yg akan dicapai. .CI F Terdapat hubungan negatif antara pencapaian Tujuan falah dg kebutuhan konsumsi duniawi. yang pada akhirnya menjauhkan dari menuju target falah. Karena Cw Ci . Semakin dituntut untuk kurangi konsumsi ke Butuhan dunia CW Seorang muslim yang rasional yaitu yang beriman dengan maksimumkan falah adalah tujuannya. Sebaliknya dengan semakin tidak rasional. Semakin rasional (beriman) seorang muslim maka budget line-nya akan semakin condong vertical (inelastis) semestinya anggaran konsumsi ibadahnya harus lebih banyak dibandingkan anggaran konsumsi duniawinya. Hubungan keimanan dengan pola Budget Line Ci (a). maka semakin kufur sehingga semakin besar anggaran konsumsinya untuk duniawi.

Ada lima prinsip konsumsi dalam Islam menurut Manan yaitu : prinsip keadilan. Maslahah mempunyai makna yang lebih luas dari sekadar utility atau kepuasan dalam terminologi ekonomi konvensional. maka budget line-nya akan semakin condong horizontal (elastis) Cw 2. . menurut Imam alGhazali kebutuhan (hajat) adalah keinginan manusia untuk mendapatkan sesuatu yang diperlukan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya dan menjalankan fungsinya. keadilan. yaitu kebutuhan akan kemewahan atau kebutuhan tersier 2. yaitu kebutuhan pelengkap/ penunjang atau sekunder c. 3. KESIMPULAN Berdasarkan uraian pada bagian pembahasan maka beberapa hal yang dapat disimpulkan 1. kebersihan. Tahsiniyyah. kemurahan hati dan moralitas 2. halalan toyyiban.kebersihan. Maslahah merupakan tujuan hukum syara’ yang paling utama. Diantaranya: kesederhanaan. kesederhanaan . yaitu kebutuhan tingkat dasar atau kebutuhan primer b. Semakin tidak rasional ( kufur) seorang muslim. Memperhatikan etika dan norma Islam memiliki seperangkat etika dan norma dalam berkonsumsi. Konsisten dalam prioritas pemenuhannya Ulama telah membagi prioritas pemenuhan kebutuhan dalam tiga bagian: a. Hajjiyah . Daruriyyah. keseimbangan dan lain-lain. Kebutuhan dan keinginan merupakan sesuatu yang berbeda.(a).

Zikrul Hakim. Mustafa Edwin. Pengenalan Ekslusif Ilmu ekonomi Islam. Pengantar Ekonomika Mikro Islami. Essay in Islamic Economy. Yogyakarta Karim. Ekonomi Mikro Dalam Perspektif Islam. Muhammad . Fahim (1995). IIITI Khan. Hendrie. Jakarta Metwally (1995) . Muhammad (2004) . Nurul Huda. Nejatullah (1986). dkk (2006). M.B(2003). Teori dan model ekonomi islam. PT bangkit daya insana . Ekonomi Islam Ditengah Krisis Ekonomi Global. Jakarta: Kencana Prenada Group. . Adiwarman (2002). Yogyakarta: BPFEYogyakarta Nasution. EKONISIA. Said. Siddiqi. Jakarta: LIPPM. Ekonomi Mikro Islami. The Islamic Foundation Marton. Pemikiran Ekonomi Islam. Saad. (2004).DAFTAR PUSTAKA Anto.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful