You are on page 1of 4

Tugas BHP (tutorial 23)

SCENARIO 1: THE ETHICS OF SECOND OPINION

Mr. A (45 y.o. male) has been suffering from nausea and severe vomitting for two days. He was
admitted to the hospital where he was examined by a famous gastroenterologist, Dr. B. After an
endoscopic examination he was diagnosed as having acute gastritis and was given five kind of
oral medication for four days, but the nausea and vomitting remained for another four days.

Mr. A was feeling uneasy because it seems there hasnt been any improvement, and rather
dissapointed because all the time the doctor comes in the morning to examine him for less than
three minutes, talked to him briefly as if he was in a hurry. He was afraid the doctor has made a
wrong diagnosis. Then he ask dr. B if he can ask dr. C (another gastroenterologist in the hospital)
for a second opinion.

Dr. B said that dr. C is also a gastroenterologist, the same as he is, and also dr. C is much more
junior and less experience, it wont make any difference.

Mr. A then ask dr. B to consult him to a gastroenterologist surgeon, dr. B said there is no
indication for operation. Mr. A then ask the doctor to send him to a better hospital in town, dr. B
said that doctors in another hospital will give him the same treatment. Since Mr. A insisted on
moving dr. B then gave him a referral letter.

Summary

- An overview of second opinion including from Indonesian Medical Code of Ethics


perspective

Menurut Kode Etik Kedokteran Indonesia Pasal 19: Setiap dokter tidak boleh
mengambil alih pasien dari teman sejawat, kecuali dengan persetujuan keduanya atau
berdasarkan prosedur yang etis

- What a doctor should say and do if a patient ask for second opinion to another doctor?

Boleh dilakukan jika memang dibutuhkan informasi medis yang lebih dengan
tidak lupa menjaga kerahasiaan pasien. Adapun mengambil alih pasien dilarang jika tidak
ada persetujuan dari kedua pihak.

- What a doctor should say and do if a patient ask for second opinion to another doctor
without his prior knowledge?

Sesuai dengab WMA Declaration of Lisbon tentang Hak Pasien:


Pasien mempunyai hak untuk memilih dengna bebas dan mengganti dokter dan rumah
sakit ataupun pelayanan kesehatan, tidak peduli jika mereka ada di sektor swasta ataupun
pemerintah.

Pasien juga mempunyai hak untuk bertanya kepada dokter lain pada tahap apapun.

- Should a doctor receive a patient which ask him for second opinion without the
knowledge of his primary doctor?

sesuai kode etik kedokteran pasal 15

secara etik seharusnya bila seorang dokter didatangi oleh seorang pasien yang diketahui
telah ditangani oleh dokter lain, maka ia segera memberitahu dokter yang telah terlebih
dahulu melayani pasien tersebut.

Hubungan dokter-pasien terputus bila pasien memutuskan hubungan tersebut. Dalam hal
ini dokter yang bersangkutan seyogyanya tetap memperhatikan kesehatan pasien yang
bersangkutan sampai dengan saat pasien telah ditangani oleh dokter lain.

- What a secondary doctor should say and do when acknowledging that the primary doctor
has made a mistake?

Sesuai kodeki, dokter tersebut tidak boleh menjelek-jelekkan teman sejawatnya juga
tidak boleh memperlihatkan bahwa ia tidak sepaham dengan teman sejawatnya dengan
menyindir, atau dengan sikap yang mengarah ke arah demikian. Seandainya seorang
teman sejawat membuat kekeliruan dalam pekerjaanya, maka teman sajawat yang
mengetahui hal itu seyogyanya menasehatinya. Dokter yang keliru pun harus menerima
nasihat ataupun teguran dengan lapang dada asal disampaikan dalam suasana
persaudaraan.

- How can doctors make the process of second opinion as a way to cooperate for the
patients best interest

Sebelum memberikan second opinion , dokter hrus memiliki informasi mengenai


data pasien selengkap mungkin. Apabila ditemukan kesalahan oleh dokter sebelumnya ,
tidak boleh membuka kesalahan dokter tersebut.

SCENARIO 2: THE ETHICS OF REFERRING PATIENT

Mrs. A (40 y.o.) was diagnosed by dr. B, a general practitioner, as having appendicitis which
require surgery. Dr. B then referred her to dr. C, a surgeon in a hospital. The husband, Mr. A
asked dr. B if she can be referred to dr. D instead. Dr. D was known as a good surgeon that also
works in the same hospital.

Dr. B said that he knows both of the surgeons but prefers dr. C because they can collaborate
better after surgery. Moreover, dr. C said if Mrs. A insisted to be referred to dr. D, he wont take
any responsibility if there is anything wrong with the surgery. Afterward Mrs. A agreed to be
operated by dr. C. After dr. C left the room, she overheard a nurse said to her colleague that dr. B
is in a group with dr. C.

He always send his patient to dr. C and receive money from him, known as fee splitting. Mr. A,
the husband, said to her that he felt a suspiscion and felt mistrust to dr. C. Who knows that the
diagnosis was made up in order to be able to send a patient to the surgeon, so he can receive
extra fee. The two then decided to change to another hospital.

Summary

- An overview of referring a patient.

Patient referral adalah transfer pasien dari satu klinisi ke klinisi lain. Tertiary care
biasanya terjadi saat aja rujukan dari personel medis primer ataupun sekunder.

Give a case example of accepted practice in referring a patient for each of the following
situations:

-A general practitioner refers a patient to a specialist

-A general practitioner refers a patient to another general practitioner

- A specialist refers a patient to a specialist from different field of expertise

Dokter A merupakan dokter spesialis jantung. Dokter A memiliki pasien X


dengan penyakit gagal jantung. Untuk meningkatkan kemampuan pasien X dalam
menjalankan aktivitas sehari-hari, maka Dokter A merujuk pasien X ke Dokter B yang
merupakan spesialis rehab medik agar pasien X menjalani rehabilitasi

- A specialist refers a patient to a specialst from the same field of expertise

Dokter C merupakan dokter spesialis penyakit dalam. Dokter C mendapatkan


pasien Y dengan diagnosis SLE. Agar pasin Y mendapat perawatan yang lebih sesuai,
maka Dokter C merujuk pasien Y ke Dokter D yang merupakan dokter spesialis penyakit
dalam bagia reumathologi

- A specialist refers a patient to a general practitioner

Dokter A merupakan dokter spesialis THT. Suatu hari seorang pasien B menghubungi
dokter A. Saat itu dokter A sedang ada diluar kota dan dari gejala yang diceritakan curiga
pasien B hanya batuk pilek biasa. Maka Dokter A merujuk pasien ke dokter C yang
merupakan dokter umum yang di kenal.

- A general practitioner/specialist refers to an expert in non-medical field

Suatu hari datang pasien Q ke tempat praktek dokter R. Pasien Q mengeluh depresi dan
bercerita banyak tentang masalah rumah tangganya. Dokter R lalu menyarankan Pasien Q
untuk datang dan merujuk ke seorang Psikolog S yang dia kenal.

- Who should decide to which doctor the patient should be referred to ?

Sesuai persetujuan antara dokter dan pasien

- An overview of fee splitting in medical practice. Is it ethical or unethical to give your


colleague-doctor a fee after they refer you a patient? Give arguments to your opinion

tidak etis, karena dengan adanya fee-splitting, nantinya seorang dokter merujuk
pasien bukan berdasarkan beneficence untuk pasiennya, melainkan untuk mendapat
keuntungan pribadi.