You are on page 1of 26

LAPORAN KASUS BESAR

SEORANG WANITA 62 TAHUN


DENGAN ODS PTERIGIUM NASAL

Penguji Kasus : dr. Liana Ekowati, M.Si.Med., Sp.M (K)


Pembimbing : dr. Kartika Cindy Fibrian
Dibacakan oleh : Anastasia Piramitha Angela Soesanto
Dibacakan tanggal : 4 September 2017

I. PENDAHULUAN
Pterigium merupakan pertumbuhan fibrovaskular berbentuk
segitiga yang tumbuh dari arah konjungtiva menuju kornea pada daerah
interpalpebra. Pterigium lebih sering terdapat pada bagian nasal
konjungtiva dan berpotensi mengganggu visus. Puncak segitiga pterigium
(apex) yaitu bagian pterigium yang tumbuh masuk ke jaringan kornea.
Usia penderita biasanya pada usia dewasa muda (20-40 tahun).1
Pterigium berasal dari bahasa yunani pteron yang berarti wing atau
sayap. Insiden pterigium cukup tinggi di indonesia yang terletak dekat
2
ekuator yaitu 13,1%. Faktor risiko terjadinya pterigium yaitu faktor
keturunan, paparan ultra-violet (UV), suhu yang tinggi, iklim tropis, debu,
1,3,4,5
lingkungan yang banyak angin dan peradangan kronis. Kejadian
pterigium semakin meningkat dengan bertambahnya usia dan kegiatan di
luar rumah. Hal-hal diatas dapat menginduksi produksi faktor
pertumbuhan, atau mengakibatkan peradangan kronis, atau mengakibatkan
kerusakan DNA.5
Gejala klinis pada pasien pterigium berupa kemerahan, rasa panas
pada mata, gatal, mata kering, rasa mengganjal pada mata, hingga
gangguan visual. Pterigium menjadi permasalahan yang sulit karena
tingginya angka pterigium rekuren. Recurrence rate pasca operasi
pterigium di Indonesia adalah 3552%. Pterigium juga menimbulkan

1
masalah kosmetik serta dapat mengganggu penglihatan bila menutup axis
visual dan astigmatisma.6
Laporan kasus ini akan membahas seorang wanita berusia 62 tahun
dengan ODS pterigium nasal.

II. IDENTITAS PENDERITA


Nama : Ny. S
Umur : 62 tahun
Agama : Islam
Alamat : Simpongan-Semarang
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Pendidikan : SMP
No.CM : 827792

III. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada pasien pada tanggal 24
Agustus 2017 pukul 11.00 WIB di RS William Booth

Keluhan utama : Mata kanan dan kiri mengganjal

Riwayat penyakit sekarang :


1 tahun yang lalu, penderita mengeluh mata kanan dan kiri mengganjal
saat berkedip seperti ada daging tumbuh di sudut mata dalam, gatal (+),
mata merah (+), keluhan bertambah jika terkena debu dan angin. Mata kabur
seperti terhalang kabut (+), cekot-cekot (-), kotoran mata (-), berair (-),
melihat dobel (-), silau terutama bila terkena sinar (-), demam (-).
Penderita hanya memberikan obat tetes mata insto saat mata terasa gatal dan
merah. Keluhan dirasa membaik dengan obat insto namun beberapa jam
kemudian mata kembali mengganjal dan merah. Penderita belum
memeriksakan diri ke dokter karena merasa penyakitnya tersebut belum
sangat mengganggu.

2
3 bulan sebelum masuk rumah sakit, penderita mengeluh mata kanan
dan kiri semakin mengganjal, daging yang tumbuh di sudut dalam mata
semakin meluas. Mata merah (+), gatal (+), penglihatan kabur (+), cekot-
cekot (-), kotoran mata (-), berair (-), melihat dobel (-), silau terutama bila
terkena sinar (-), demam (-). Penderita merasa penyakitnya semakin parah
dan pada 24 Agustus 2017 memeriksakan dirinya ke RS William Booth.

Riwayat penyakit dahulu :


- Penderita belum pernah sakit seperti ini sebelumnya
- Riwayat operasi mata sebelumnya disangkal
- Riwayat trauma pada mata sebelumnya disangkal
- Riwayat pemakaian kacamata sebelumnya disangkal
- Riwayat memakai lensa kontak disangkal
- Riwayat darah tinggi (+) sejak 8 tahun yang lalu tidak minum obat
- Riwayat kencing manis disangkal
- Riwayat alergi disangkal
- Riwayat terkena debu, angin dan sinar matahari (+), pasien pernah
bekerja sebagai tukang sapu jalan pada tahun 2007-2012 tanpa
kacamata pelindung

Riwayat penyakit keluarga :


Tidak ada anggota keluarga yang sakit seperti ini

Riwayat sosial ekonomi :


Penderita bekerja sebagai ibu rumah tangga dan tinggal dengan suaminya
Pasien dulu pernah bekerja sebagai tukang sapu jalan namun karena
penglihatannya semakin berkurang pasien berhenti dari pekerjaannya.
Pasien memiliki 3 orang anak yang semuanya telah mandiri. Biaya
pengobatan ditanggung BPJS.
Kesan : sosial ekonomi kurang.

3
IV. PEMERIKSAAN
PEMERIKSAAN FISIK ( tanggal 24 Agustus 2017 pukul 11.30 WIB di
RS William Booth)
Status Praesen
Keadaan umum : baik
Kesadaran : compos mentis, GCS 15
Tanda vital : TD : 160/100 mmHg Suhu : 36,50C
Nadi : 78x/menit RR : 22x/menit
Pemeriksaan fisik : Kepala : mesosefal
Thoraks : Cor : tidak ada kelainan
Paru : tidak ada kelainan
Abdomen : tidak ada kelainan
Ekstremitas : tidak ada kelainan

Status Ophthalmologi

Lensa keruh Lensa keruh


tidak merata Jaringan fibrovaskuler pada sisi nasal tidak merata
meluas kearah kornea ODS 3 mm dari limbus

4
Oculus Dexter Oculus Sinister
3/60 VISUS 4/60
C -1.50 x 150 6/24 NBC KOREKSI S -2.00 6/20 NBC
-----------------------------------Add +3.00 J2--------------------------------------
Gerak bola mata bebas ke segala PARASE/PARALYSE Gerak bola mata bebas ke segala
arah arah
Trichiasis (-),Dischiasis (-) SUPERCILIA Trichiasis (-),Dischiasis (-)
Edema (-), Ptosis (-), PALPEBRA SUPERIOR Edema (-), Ptosis (-),
lagoftalmus (-),Tumor (-), lagoftalmus (-),Tumor (-),
Eritema (-), Entropion (-), eritema (-),Entropion (-),
Ektropion (-) Ektropion (-)
Edema (-), bekas luka (-), PALPEBRA INFERIOR Edema (-), bekas luka (-),
Tumor (-), eritema (-), Entropion Tumor (-), eritema (-),Entropion
(-), Ektropion (-) (-), Ektropion (-)
Hiperemis (-), sekret (-), CONJUNGTIVA Hiperemis (-), sekret (-),
kemosis (-) PALPEBRALIS kemosis (-)
Hiperemis (-), sekret (-), CONJUNGTIVA Hiperemis (-), sekret (-),
kemosis (-) FORNICES kemosis (-)
Injeksi (-), Sekret (-), CONJUNGTIVA BULBI Injeksi (-), Sekret (-), Hiperemis
Hiperemis (+) minimal, Jaringan (+) minimal, Jaringan
fibrovaskuler nasal meluas fibrovaskuler nasal meluas
kearah kornea 3 mm dari kearah kornea 3 mm dari
limbus. limbus.
Tidak ada kelainan SCLERA Tidak ada kelainan
Jernih, Jaringan fibrovaskuler CORNEA Jernih, Jaringan fibrovaskuler
nasal menutupi kornea 3mm nasal menutupi kornea 3mm
dari limbus dari limbus
Kedalaman cukup, CAMERA OCULI Kedalaman cukup,
Tyndall Effect (-), hipopion (-), ANTERIOR Tyndall Effect (-),hipopion (-),
hifema (-) hifema (-)

5
Kripte (+), sinekia (-) IRIS Kripte (+), sinekia (-)
Bulat, central, regular, PUPIL Bulat, central, regular,
diameter: 3 mm, RP (+) N, diameter: 3 mm, RP (+) N,
RAPD (-) RAPD (-)
Keruh tak rata LENSA Keruh tak rata
(+) kurang cemerlang FUNDUS REFLEKS (+) kurang cemerlang
Papil N II : Bulat, batas tegas, FUNDUSCOPY Papil N II : Bulat, batas tegas,
warna kuning kemerahan, CDR warna kuning kemerahan, CDR
0,3 0,3
Vasa : AVR 1/2, spasme (-), AV Vasa : AVR 1/2, spasme(-), AV
crossing (+), copper wire (+) crossing (+), copper wire (+)
Retina : edema (-), perdarahan Retina : edema (-), perdarahan
(-), eksudat (-), ablatio (-) (-), eksudat (-), ablatio (-)
Makula : reflex fovea (+) Makula : reflex fovea (+)
cemerlang cemerlang
Jernih CORPUS VITREUM Jernih
T. digital normal TENSIO OCULI T. digital normal

V. RESUME
Seorang wanita, 62 tahun, datang ke RS William Booth dengan keluhan
sejak 1 tahun terdapat sensasi benda asing di mata kanan dan kiri, mata merah (+),
gatal (+), penurunan visus seperti berkabut (+), lakrimasi (-), sekret (-), photofobia
(-), nyeri/cekot-cekot (-). Pada 24 Agustus 2017 penderita memeriksakan dirinya
ke RS William Booth.
Faktor risiko : riwayat paparan debu, angin dan sinar UV (+)
Pemeriksaaan fisik : Hipertensi stage II (+)

6
Status oftalmologi :
Oculus dexter (OD) Pemeriksaan Oculus sinister (OS)
Injeksi (-), Sekret (-), CONJUNGTIVA BULBI Injeksi (-), Sekret (-),
Hiperemis (+) minimal, Hiperemis (+) minimal,
Jaringan fibrovaskuler nasal Jaringan fibrovaskuler nasal
meluas kearah kornea 3 meluas kearah kornea 3 mm
mm dari limbus. dari limbus.
Jernih, Jaringan fibrovaskuler CORNEA Jernih, Jaringan fibrovaskuler
nasal menutupi kornea nasal menutupi kornea 3mm
3mm dari limbus dari limbus
Keruh tidak rata LENSA Keruh tidak rata
(+) kurang cemerlang FUNDUS REFLEKS (+) kurang cemerlang
VI. DIAGNOSIS BANDING
ODS Pterigium Nasal
ODS Pseudopterigium
ODS Pinguekula

VII. DIAGNOSIS KERJA


ODS Pterigium Nasal

VIII. DIAGNOSIS TAMBAHAN


1. ODS Katarak Senilis Imatur
2. Retinopati Hipertensi stage II dengan arterioloskelorsis grade II
3. Hipertensi stage II

IX. TERAPI
Pro: Perencanaan ODS eksisi pterigium nasal + Conjungtival limbal
autograph dengan lokal anestesi. Pada pasien dilakukan operasi pada OS
terlebih dahulu karena lebih mendekati pupil.
Cendo Lyteers ED 4x1 gtr ODS
Konsultasi ke Penyakit Dalam untuk menangani Hipertensi

7
X. EDUKASI
1. Menjelaskan kepada penderita bahwa keluhan pada mata kanan dan kiri
disebabkan terdapat selaput tumbuh yang disebut pterigium yang mungkin
dapat disebabkan oleh karena sering terpapar debu, asap, angin, ataupun
sinar matahari jangka lama dan sering di ruangan ber-AC.
2. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga bahwa akan diberikan obat tetes
mata untuk mengurangi gejala iritasi, kemerahan dan rasa panas pada mata
3. Menjelaskan kepada penderita dan keluarga bahwa untuk mengatasi keluhan
penderita sebaiknya dilakukan operasi eksisi pterigium dengan
pertimbangan pertumbuhan jaringan sudah meluas sehingga menyebabkan
gangguan penglihatan.
4. Menjelaskan kepada penderita sebaiknya menghindari / mengurangi sering
diruangan ber AC, paparan debu, asap, angin, dan sinar matahari
5. Menjelaskan kepada penderita untuk kontrol kembali untuk memeriksakan
luka pasca operasi 1 minggu, 2 minggu, 1 bulan dan 2 bulan pasca operasi.
6. Menjelaskan kepada penderita dan keluarga untuk kemungkinan
perencanaan operasi pterigium mata kanan serta penanganan katarak setelah
evaluasi hasil operasi pterigium baik.
7. Pengendalian tekanan darah sebagai faktor resiko retinopati

XI. SARAN
- Persiapan operasi : lab darah rutin, PTT, PTTK, GDS, Ureum,
Creatinin
- Pengendalian tekanan darah tinggi

XII. PROGNOSIS
OD OS
Quo ad visam Dubia ad bonam Dubia ad bonam
Quo ad sanam Dubia ad bonam Dubia ad bonam
Quo ad vitam Ad bonam
Quo ad cosmeticam Dubia ad bonam

8
XIII. DISKUSI
1. ANATOMI KONJUNGTIVA DAN KORNEA
a. Konjungtiva
Konjungtiva merupakan membran mukosa transparan dan tipis yang
membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis)
dan permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris). 4,5,7
Konjungtiva menghubungkan bola mata dan kelopak mata. Dari
kelopak mata bagian dalam, konjungtiva terlipat ke bola mata baik di
bagian atas maupun bawah. 4,5,7
4,7
Secara anatomi, konjungtiva terdiri atas 3 bagian:
1) Konjungtiva Palpebra
Mulai pada mucocutaneus junction yang terletak pada bagian
posterior kelopak mata, yaitu daerah dimana epidermis
bertransformasi menjadi konjungtiva. Konjungtiva palpebra dapat
dibagi lagi menjadi zona marginal, tarsal, dan orbital. Konjungtiva
marginal dimulai pada mucocutaneus junction hingga konjungtiva
proper. Kemudian zona tarsal konjungtiva merupakan bagian dari
konjungtiva palpebralis yang melekat erat pada tarsus. Zona ini
bersifat sangat vaskuler dan translusen. Zona terakhir adalah zona
orbital, yang mulai dari ujung perifer tarsus hingga forniks. Secara
fungsional, konjungtiva palpebra merupakan daerah dimana reaksi
patologis bisa ditemui.
2) Konjungtiva Bulbi
Menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera di bawahnya.
Konjungtiva bulbi dimulai dari forniks ke limbus, dan bersifat sangat
translusen sehingga sklera di bawahnya dapat divisualisasikan.
Konjungtiva bulbi melekat longgar dengan sklera melalui jaringan
alveolar, yang memungkinkan mata bergerak ke segala arah.
3) Konjungtiva Forniks
Konjungtiva forniks merupakan tempat peralihan konjungtiva
tarsal dengan konjungtiva bulbi. Konjungtiva forniks melekat secara

9
longgar dengan struktur di bawahnya yaitu fasia muskulus levator
palpebra superior serta muskulus rektus. Karena perlekatannya
bersifat longgar, maka konjungtiva forniks dapat bergerak bebas
bersama bola mata ketika otot-otot tersebut berkontraksi. Pada
pterigium, konjungtiva yang mengalami fibrovaskular adalah
konjungtiva bulbi.3,4,5
Aliran darah konjungtiva berasal dari arteri siliaris anterior dan
arteri palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis bebas dan bersama
dengan banyak vena konjungtiva yang umumnya mengikuti pola
arterinya membentuk jaring-jaring vaskuler konjungtiva yang banyak
sekali. Pembuluh limfe konjungtiva tersusun dalam lapisan superfisial
dan lapisan profunda dan bersambung dengan pembuluh limfe
palpebra hingga membentuk pleksus limfatikus yang banyak.
Konjungtiva menerima persarafan dari percabangan pertama
(oftalmik) nervus trigeminus. Saraf ini hanya relatif sedikit
mempunyai serat nyeri.3,6

Gambar 1. Anatomi Mata


1. Limbus
2. Konjungtiva bulbi
3. Konjungtiva forniks
4. Kongjungtiva palpebra
5. Punctum lakrimalis
6. Margo inferior palpebral

10
b. Kornea
Kornea adalah salah satu media refrakta yang terdiri dari 5 lapisan,
yaitu:
1. Epitel
- Tebalnya 50 m, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang
saling tumpang tindih.
- Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke
depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel
gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel
poligonal di depnanya melalui desmosom dan makula okluden; ikatan
ini menghambat pengaliran air, elektrolit, dan glukosa yang merupakan
barier.4
2. Membran Bowman
Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan
kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari
bagian depan stroma dan lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi.4
3. Stroma
Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu
dengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di
bagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat
kolagen memakan waktu yang lama yang kadang-kadang sampai 15
bulan.4
4. Membran descement
Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma
kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya,
bersifat sangat elastik dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai
tebal 40 m.4
5. Endotelium
Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-40
m. Endotel melekat pada membran descement melalui hemidesmosom
dan zonula okluden.4

11
Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf
siliar longus dan saraf nasosiliar. Saraf ke V, saraf siliar longus berjalan
suprakoroid masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran bowman
melepaskan selubung schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai
pada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus Krause untuk
sensasi dingin ditemukan di daerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah
dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan. Trauma atau
penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan sistem pompa endotel
terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi edema kornea.
Endotel tidak mempunyai daya regenerasi. 4
Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya. Pembiasan sinar
terkuat dilakukan oleh kornea, yaitu 40 dioptri dari 50 dioptri. 4

500
mikron

Gambar 2. Lapisan Kornea


1. Epitel kornea
2. Membrana Bowman
3. Stroma kornea
4. Membrana descement
5. Endotelium

12
2. PTERIGIUM
Pterigium merupakan pertumbuhan jaringan fibrovaskular
berbentuk segitiga yang tumbuh dari arah konjungtiva menuju kornea pada
daerah interpalpebra. Kata pterigium berasal dari bahasa Yunani, yaitu
pteron yang artinya sayap. Pterigium umumnya tumbuh pada daerah
interpalbebra, lebih sering tedapat pada bagian nasal konjungtiva. Puncak
segitiga disebut apeks, yaitu bagian pterigium yang tumbuh masuk ke
jaringan kornea. Usia penderita pada umumnya dewasa muda (20-40
tahun) dan kejadian meningkat pada daerah tropis dan subtropis. 1,3,4

2
2.1 Faktor Risiko
Faktor risiko yang mempengaruhi pterigium antara lain faktor
herediter dan faktor lingkungan yakni radiasi ultraviolet sinar matahari,
iritasi kronik dari bahan tertentu di udara.
1. Radiasi ultraviolet
Faktor risiko lingkungan merupakan faktor penting dalam
timbulnya pterigium, terutama paparan sinar matahari. Sinar
ultraviolet yang diabsorbsi oleh kornea dan konjungtiva akan
menyebabkan kerusakan sel dan proliferasi sel. Banyaknya paparan
sinar matahari dipengaruhi oleh letak geografis, waktu di luar rumah,
penggunaan pelindung kepala / mata.
2. Faktor Genetik
Beberapa laporan kasus menyatakan bahwa sekelompok
anggota keluarga dengan pterigium dan berdasarkan penelitian case
control menunjukkan adanya riwayat keluarga dengan pterigium.
Kejadian ini kemungkinan diturunkan secara autosomal dominan.
3. Faktor lain
Iritasi kronik atau inflamasi yang terjadi pada area limbus atau
perifer kornea merupakan pendukung terjadinya teori keratitis kronik
dan terjadinya limbal defisiensi, dan saat ini merupakan teori baru

13
patogenesis dari pterigium. Wong juga menunjukkan adanya
pterigium angiogenesis factor dan penggunaan pharmacotherapy
antiangiogenesis sebagai terapi. Debu, kelembaban yang rendah, dan
trauma kecil dari bahan partikel tertentu, dry eye dan virus papilloma
juga dapat menjadi penyebab dari pterigium.

2.2 Patogenesis 4,8


Etiologi pterigium belum diketahui dengan jelas. Tetapi penyakit
ini lebih sering ditemukan pada orang yang tinggal di daerah iklim panas.
Gambaran yang paling diterima tentang hal tersebut adalah respon
terhadap faktor-faktor lingkungan seperti paparan sinar matahari
(ultraviolet), daerah kering, inflamasi, daerah angin kencang dan debu atau
faktor iritan lainnya. Salah satu teori menyatakan pengeringan lokal dari
kornea dan konjungtiva yang disebabkan kelainan tear film menimbulkan
pertumbuhan fibroplastik baru. Tingginya insiden pterigium pada daerah
kering, iklim panas mendukung teori ini.
Ultraviolet merupakan mutagen untuk p53 tumor supresor gene
pada limbal basal stem cell. Tanpa proses apoptosis, transforming growth
factor-beta diproduksi dalam jumlah berlebihan dan menimbulkan
peningkatan proses kolagenase. Sel-sel bermigrasi dan terjadi proses
angiogenesis. Akibatnya terjadi perubahan degenerasi kolagen dan terlihat
jaringan subepitelial fibrovaskular. Jaringan subkonjungtiva akan
mengalami degenerasi elastoik proliferasi jaringan vaskular bawah
epithelium dan kemudian menembus kornea. Kerusakan pada kornea
terdapat pada lapisan membrana Bowman oleh pertumbuhan jaringan
fibrovaskular, sering disertai dengan inflamasi ringan. Epitel dapat normal,
tebal atau tipis, dan kadang terjadi displasia.
Limbal stem cell adalah sumber regenerasi epitel kornea. Pada
keadaan defisiensi limbal stem cell, terjadi pembentukan jaringan
konjungtiva pada permukaan kornea. Gejala dari defisiensi limbal adalah
pertumbuhan konjungtiva ke kornea, vaskularisasi, inflamasi kronis,

14
kerusakan membran basement, dan pertumbuhan jaringan fibrotik. Tanda
ini juga ditemukan pada pterigium dan karena itu banyak penelitian
menunjukkan bahwa pterigium merupakan manifestasi dari defisiensi atau
disfungsi limbal stem cell. Kemungkinan akibat sinar ultraviolet terjadi
kerusakan limbal stem cell di daerah interpalpebra.
Pemisahan fibroblast dari jaringan pterigium menunjukkan
perubahan phenotype, pertumbuhan banyak lebih baik pada media
mengandung serum dengan konsentrasi rendah dibanding dengan
fibroblast konjungtiva normal. Lapisan fibroblast pada bagian pterigium
menunjukkan proliferasi sel yang berlebihan. Pada fibroblast pterigium
menunjukkan matriks metalloproteinase, dimana matriks ekstraselluler
berfungsi untuk jaringan yang rusak, penyembuhan luka, mengubah
bentuk. Hal ini menjelaskan kenapa pterigium cenderung terus tumbuh,
invasi ke stroma kornea dan terjadi reaksi fibrovaskular dan inflamasi.

8
Gambar 3. Jalur Patogenesis Pterigium

15
2,4,9
2.3 Gambaran Klinis Dan Klasifikasi Pterigium
Pterigium lebih sering dijumpai pada laki-laki yang bekerja di luar
rumah. Bisa unilateral atau bilateral. Kira-kira 90% terletak di daerah
nasal. Pterigium yang terletak di nasal dan temporal dapat terjadi secara
bersamaan walaupun pterigium di daerah temporal jarang ditemukan.
Kedua mata sering terlibat, tetapi jarang simetris. Perluasan pterigium
dapat sampai ke medial dan lateral limbus sehingga menutupi sumbu
penglihatan yang dapat menyebabkan penglihatan kabur.2,4
Secara klinis pterigium muncul sebagai lipatan berbentuk segitiga
pada konjungtiva yang meluas ke kornea pada daerah fissura interpalpebra.
Biasanya pada bagian nasal tetapi dapat juga terjadi pada bagian temporal.
Deposit besi dapat dijumpai pada bagian epitel kornea anterior dari kepala
pterigium (stoker's line).9
Pterigium dibagi menjadi tiga bagian yaitu : body, apex (head) dan
cap. Bagian segitiga yang meninggi pada pterigium dengan dasarnya ke
arah kantus disebut body, sedangkan bagian atasnya disebut apeks dan ke
belakang disebut cap.9

Gambar 4. Pterigium
Pembagian pterigium berdasarkan perjalanan penyakit dibagi atas 2
tipe, yaitu:2
- Pterigium progresif: tebal dan vaskular dengan beberapa infiltrat di
depan kepala pterigium (cap pterygium)
- Pterigium regresif : tipis, atrofi, sedikit vaskular. Akhirnya menjadi
membentuk membran tetapi tidak pernah hilang.

16
Gejala klinis pterigium pada tahap awal biasanya ringan hanya
keluhan kosmetik bahkan sering tidak ada keluhan sama sekali
(asimptomatik). Beberapa keluhan yang sering dialami pasien antara lain :
- Mata terasa kering dan seperti berpasir
- Mata sering berair, tampak merah, seperti rasa terbakar, dan gatal
- Mengganggu penglihatan
Pada pterigium yang lanjut, dapat menutupi pupil dan aksis
visual sehingga visus juga menurun
Timbul astigmatisma akibat kornea tertarik oleh pertumbuhan
pterigium tersebut, biasanya astigmatisma with the rule
ataupun astigmatisma irregular.
Pembagian pterigium berdasarkan penyebaran ke arah kornea dan
pelibatan visus yaitu :10
1. Tipe I : meluas kurang 2 mm dari kornea. Stoker's line atau deposit
besi dapat dijumpai pada epitel kornea dan kepala pterigium. Lesi
sering asimptomatis meskipun sering mengalami inflamasi ringan.
Pasien dengan pemakaian lensa kontak dapat mengalami keluhan
lebih cepat.
2. Tipe II : menutupi kornea sampai 4 mm, bisa primer atau rekuren
setelah operasi, berpengaruh dengan tear film dan menimbulkan
astigmatisma.
3. Tipe III : mengenai kornea lebih 4 mm dan mengganggu aksis
visual. Lesi yang luas terutama yang rekuren dapat berhubungan
dengan fibrosis subkonjungtiva yang meluas ke fornik dan biasanya
menyebabkan gangguan pergerakan bola mata.
Pterigium juga dapat dibagi ke dalam 4 derajat (gradasi klinis menurut
Youngson), berdasarkan bagian kornea yang tertutup pertumbuhan
pterigium, yaitu :
1. Derajat 1 : jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea.
2. Derajat 2 : jika sudah melewati limbus kornea tetapi tidak lebih dari 2
mm melewati kornea.

17
3. Derajat 3 : sudah melebihi derajat 2 tetapi tidak melebihi tepi pupil
mata dalam keadaan cahaya normal (diameter pupil sekitar 3 4 mm)
4. Derajat 4 : pertumbuhan pterigium melewati tepi pupil sehingga
mengganggu penglihatan.

Gambar 5. Derajat Pterigium menurut Youngson (1972) 11


A. Pterigium derajat 1, B. Pterigium derajat 2, C. pterigium derajat 3,
D. pterigium derajat 4
2,3,9
2.4 Diagnosis Banding
Secara klinis pterigium dapat dibedakan dengan dua keadaan yang
sama yaitu pinguekula dan pseudopterigium. Pinguekula bentuknya kecil,
meninggi, masa kekuningan berbatasan dengan limbus pada konjungtiva
bulbi di fissura interpalpebra dan kadang-kadang mengalami inflamasi.
Pinguekula merupakan degenerasi hialin dari jaringan submukosa
konjungtiva. Pembuluh darah tidak masuk ke pinguekula, tetapi bila terjadi
peradangan atau iritasi maka sekitar bercak degenerasi akan terlhat
pembuluh darah yang melebar. Pada pinguekula tidak perlu pengobatan,
kecuali yang mengalami peradangan (pinguekulitis) dapat diberikan obat-
obatan antiradang. Tindakan eksisi tidak diindikasikan. Prevalensi dan
insiden meningkat dengan meningkatnya umur. Pinguekula sering terjadi
pada iklim sedang dan iklim tropis dengan angka kejadian sama pada laki-
laki dan perempuan. Paparan sinar ultraviolet bukan faktor resiko
penyebab pinguekula.
Pseudopterigium mirip dengan pterigium, dimana adanya jaringan
parut fibrovaskular yang timbul pada konjungtiva bulbi menuju kornea.

18
Berbeda dengan pterigium, pseudopterigium adalah akibat inflamasi
permukaan okular sebelumnya seperti trauma, trauma kimia, konjungtivitis
sikatrikal, trauma bedah atau ulkus perifer kornea. Untuk mengidentifikasi
pseudopterigium, cirinya tidak melekat pada limbus kornea. Probing
dengan muscle hook dapat dengan mudah melewati bagian bawah
pseudopterigium pada limbus, dimana hal ini tidak dapat dilakukan pada
pterigium. Pada pseudopterigium tidak dapat dibedakan antara head, cap
dan body serta pada pseudopterigium cenderung keluar dari ruang fissura
interpalpebra yang berbeda dengan true pterigium.

Tabel 1. Diagnosis Banding Pterigium

Pembeda Pterigium Pinguekula Pseudopterigium


Definisi Jaringan Benjolan pada Perlengketan
fibrovaskuler konjungtiva bulbi konjungtiva bulbi
konjungtiva bulbi dengan kornea
berbentuk segitiga yang cacat
Warna Putih kekuningan Putih-kuning Putih kekuningan
keabu-abuan
Letak Celah kelopak Celah kelopak Pada daerah
bagian nasal atau mata terutama konjungtiva yang
temporal yang bagian nasal terdekat dengan
meluas ke arah proses kornea
kornea sebelumnya
: > = =
Progresifitas Sedang Tidak Tidak
Reaksi Tidak ada Ada Ada
kerusakan
permukaan
kornea
sebelumnya
Pembuluh darah Lebih menonjol Menonjol Ada
konjungtiva
Sonde Tidak dapat Tidak dapat Dapat diselipkan di
diselipkan diselipkan bawah lesi karena
tidak melekat pada

19
limbus
Puncak Ada pulau pulau Tidak ada Tidak ada (tidak
Funchs (bercak ada head, cap,
kelabu) body)
Histopatologi Epitel ireguler dan Degenerasi hialin Perlengketan
degenerasi hialin jaringan
dalam stromanya submukosa
konjungtiva

2.5 Penatalaksanaan 9,12


Pada awal perjalanan penyakit, dokter sering mengambil tindakan
konservatif dengan menghindari asap dan debu dan memberi obat topikal
seperti lubrikans, vasokonstriktor dan kortikosteroid digunakan untuk
menghilangkan gejala terutama pada derajat 1 dan derajat 2. Untuk mencegah
progresifitas, beberapa peneliti menganjurkan penggunaan kacamata
pelindung ultraviolet. Pterigium yang ukurannya lebih besar dari 3 mm dapat
menyebabkan astigmatisma, dan diperlukan intervensi untuk memperbaiki
visus
Indikasi eksisi pterigium sangat bervariasi. Eksisi dilakukan pada
kondisi adanya ketidaknyamanan yang menetap, gangguan penglihatan akibat
pertumbuhan yang progresif ke tengah kornea atau aksis visual, dan adanya
gangguan pergerakan bola mata. Eksisi pterigium bertujuan untuk mencapai
gambaran permukaan mata yang licin sesuai dengan anatomisnya. Suatu
teknik yang sering digunakan untuk mengangkat pterigium dengan
menggunakan pisau yang datar untuk mendiseksi pterigium ke arah limbus.
Memisahkan pterigium ke arah bawah pada limbus lebih disukai, kadang-
kadang dapat timbul perdarahan oleh karena trauma jaringan sekitar otot.
Setelah eksisi, kauter sering digunakan untuk mengontrol perdarahan.
Beberapa teknik operasi yang dapat menjadi pilihan yaitu :

20
1. Bare sclera : tidak ada jahitan atau jahitan benang absorbable
digunakan untuk melekatkan konjungtiva ke sklera di depan insersi
tendon rektus. Meninggalkan suatu daerah sklera yang terbuka.
2. Simple closure : tepi konjungtiva yang bebas dijahit bersama (efektif
hanya jika defek konjungtiva sangat kecil).
3. Sliding flaps : suatu insisi bentuk L dibuat sekitar luka kemudian flap
konjungtiva digeser untuk menutupi defek.
4. Rotational flap : insisi bentuk U dibuat sekitar luka untuk membentuk
lidah konjungtiva yang dirotasi pada tempatnya.
5. Conjunctival graft : suatu free graft biasanya dari konjungtiva
superior, dieksisi sesuai dengan besar luka dan kemudian dipindahkan
dan dijahit.
6. Amnion membrane transplantation : mengurangi frekuensi rekuren
pterigium, mengurangi fibrosis atau skar pada permukaan bola mata
dan penelitian baru mengungkapkan menekan TGF- pada
konjungtiva dan fibroblast pterigium. Pemberian mytomicin C dan
beta irradiation dapat diberikan untuk mengurangi rekuren tetapi
jarang digunakan.
Indikasi operasi pterigium :
a. Iritasi mata yang signifikan dan tidak berkurang dengan medikamentosa
b. Kosmetik, terutama untuk penderita wanita
c. Penurunan visus karena astigmatisma atau pelebaran pterigium ke axis
visual
d. Perkembangan terus berlanjut sehingga dapat dipastikan akan terjadi
gangguan visual
e. Diplopia sekunder karena penarikan dari pterigium terhadap otot bola mata

2.6 Komplikasi
Komplikasi pterigium diantaranya adalah merah, iritasi, skar kronis
pada konjungtiva dan kornea, distorsi dan penglihatan sentral
berkurang, skar pada otot rektus medial yang dapat menyebabkan

21
diplopia. Komplikasi yang jarang diantaranya adalah malignan
degenerasi pada jaringan epitel diatas pterigium. 12
Komplikasi saat operasi eksisi antara lain perforasi korneosklera, graft
oedem, graft hemorrhage, graft retraksi, jahitan longgar, korneoskleral
dellen, granuloma konjungtiva, epithelial inclusion cysts, skar
konjungtiva, skar kornea dan astigmatisma, disinsersi otot rektus.
Komplikasi terbanyak adalah rekuren pterigium post operasi.
Umumnya rekurensi terjadi pada 3-6 bulan pertama setelah operasi
akibat terjadinya reaktivasi proses inflamasi pada area operasi. Jika
setelah operasi limbus stem cell dan jaringan fibroblastik tetap aktif,
maka hal ini dapat meningkatkan proliferative cytokines and growth
factors (VEGF) yang menginduksi proliferasi fibrovaskuler. Kenaikan
sntesis metalloproteinase yang menghancurkan membran Bowman
2,13
dan kolagen stroma juga meningkatkan progress pterigium.
Faktor predisposisi terjadinya rekurensi setelah operasi biasanya
diakibatkan oleh : 14,15
- Tidak semua tenon yang terkena dibersihkan
- Terdapat sisa debris jaringan fibrotic di kornea dan limbus
- Permukaan sklero-kornea kasar, dengan irregularitas
- Tepi jahitan konjungtiva tegang
- Limbus sklero-kornea terpapar, tidak tertutup oleh konjungtiva atau
membrane amnion
- Terbukanya tepi konjungtiva bekas operasi
- Reaksi inflamasi tidak terkontrol
- Faktor individu dan lingkungan :
Laki-laki usia dibawah 40 tahun
Pasien Asia, Afrika Amerika dan Hispanic
Adanya gen VEGF-460 (terkait dengan proliferasi vascular dan
pterigium)
Paparan debu dan angina
Sindroma mata kering

22
3.KATARAK
Katarak adalah suatu keadaan kekeruhan lensa. Penuaan adalah sebab
paling umum dari katarak, namun beberapa faktor lain dapat terlibat, termasuk
trauma, toksin, penyakit sistemik (diabetes mellitus), merokok, dan keturunan.
Katarak dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein
lensa terjadi akibat kedua-duanya. Sebagian besar kasus bersifat bilateral,
walaupun kecepatan perkembangan masing-masing jarang sama. Kekeruhan lensa
tersebut dapat menyebabkan lensa menjadi tidak transparan sehingga pupil akan
berwarna putih atau abu-abu. Kekeruhan ini dapat ditemukan pada berbagai
lokalisasi di lensa seperti pada korteks, nukleus, subkapsular. Pemeriksaan yang
dilakukan pada pasien katarak meliputi pemeriksaan tajam penglihatan, slit lamp,
funduskopi, serta tonometri bila memungkinkan. Berdasarkan usia katarak dapat
diklasifikasikan dalam : 3,4
1. Katarak kongenital (usia <1 tahun)
2. Katarak juvenil (usia >1 tahun)
3. Katarak senilis (usia >50 tahun)
Katarak senilis adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia
lanjut, yaitu usia di atas 50 tahun.4
3,4
Penyebab katarak:
1. Proses penuaan
2. Infeksi intrauterine (rubella, toksoplasmosis, histoplasmosis)
3. Komplikasi penyakit intraokuler lain seperti uveitis, glaucoma, ablasio
retina, retinitis pigmentosa
4. Penyakit sistemik seperti galaktosemia, diabetes mellitus, hipoparatiroid
5. Trauma (katarak traumatika) pada trauma fisik (trauma tembus atau tak
tembus), radiasi sinar UV, sinar rontgen, sinar neutron, elektrik shock, dan
termal shock
6. Obat-obatan (kortikosteroid)
7. Pasca EKEK (Katarak sekunder)

23
Katarak Senilis dibagi menjadi empat stadium yaitu insipien, imatur
(intumesen), matur, dan hipermatur (Morgagni).3
Tabel 2. Perbedaan stadium katarak senile 3
Gejala Insipien Imatur/ Matur Hipermatur/ Katarak
Intumesen Morgagni
Kekeruhan lensa Ringan Sebagian Seluruh Masif
Cairan lensa Normal Bertambah Normal Berkurang
(air masuk) (air+masa lensa keluar)
Iris Normal Terdorong Normal Tremulans
Iris shadow Negatif Positif Negatif Pseudopositif
COA Normal Dangkal Normal Dalam
Sudut Bilik Mata Normal Sempit Normal Terbuka
Penyulit Glaucoma Glaucoma, uveitis

Gejala yang paling sering muncul pada penderita katarak adalah


penurunan penglihatan secara progresif dan penglihatan yang berkabut.
Tatalaksana untuk katarak pada umumnya adalah dengan pembedahan berupa
EKEK, EKIK, ataupun dengan fakoemulsifikasi.3

XIV. ANALISIS KASUS


Pada kasus ini, pasien didiagnosis sebagai ODS Pterigium berdasarkan
pemikiran sebagai berikut:

1. Anamnesis
Seorang wanita, 62 tahun, datang ke RS William Booth dengan
keluhan sejak 1 tahun yang lalu ada sensasi benda asing di mata kanan dan
kiri, mata merah (+), gatal (+), penurunan visus seperti berkabut (+),
lakrimasi (-), sekret (-), photofobia (-), nyeri/cekot-cekot (-).
Faktor risiko : riwayat terpapar debu, angina dan sinar UV (+)

2. Pemeriksaan status oftalmologis

24
Pemeriksaan oculi dextra et sinistra didapatkan hiperemis (+)
minimal pada konjungtiva bulbi, jaringan fibrovaskuler pada nasal
meluas kearah kornea 3 mm dari limbus. Lensa keruh tidak merata,
fundus reflex (+) kurang cemerlang.
Dalam kasus ini, pterigium yang dialami oleh penderita adalah
pterigium derajat 3 yaitu pertumbuhan jaringan fibrovaskuler 2mm
dari limbus, tetapi tidak melebihi pinggiran pupil mata dalam keadaan
cahaya normal upil dalam keadaan normal sekitar 3 4 mm). Pada
penderita juga didapatkan penurunan daya penglihatan akibat penutupan
kornea oleh jaringan pterigium.
Pasien diberikan Cendo Lyteers Eye Drops 4x1 tetes sehari OS
untuk mencegah iritasi, rasa panas dan kemerahan Penderita pada kasus
ini akan direncanakan operasi ODS eksisi pterigium. Terapi eksisi
merupakan terapi definitif untuk pasien ini karena progressivitas
pertumbuhan pterigium yang dapat menutupi axis visual pasien. Pada
pasien juga sudah terdapat astigmatisma akibat tarikan jaringan
fibrovaskular pada kornea. Terapi yang disarankan pada pasien ini
adalah conjungtival limbal autograft karena tingkat rekurensinya lebih
rendah. Setelah pulang ke rumah penderita sebisa mungkin menghindari
paparan sinar matahari dengan memakai pelindung kepala/mata saat
keluar rumah, kurangi di ruangan ber AC, memakai tetes air mata buatan
untuk tetap menjaga kondisi air mata, dan kontrol untuk evaluasi hasil
operasi.

25
DAFTAR PUSTAKA
1. PERDAMI. 2006. Panduan Manajemen Klinis. Jakarta : PP PERDAMI.
2. Edward JH, Mark J. 2002. Ocular Surface Disease Medical Surgical
Management.
3. Ilyas, Sidharta. 2008. Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
4. Vaughan DG, Taylor A, Paul R. Oftamologi Umum. Ed: 14. 2000. Jakarta
: Widya Medika
5. Chui JJY, Coroneo MT. Pterygium pathogenesis, actinic damage, and
recurrence. In: Hovanesian JA, editor. Pterygium: Techniques and
Technologies for Surgical Success. Thorofare, NJ: Slack Incorporated;
2012:126
6. Van Setten G, Aspiotis M, Blalock TD, Grotendorst G, Schultz G.
Connective tissue growth factor in pterygium: simultaneous presence with
vascular endothelial growth factor-possible contributing factor to
conjunctival scarring. 2003; 241 (2): 135-139
7. Ellis, Harold. 2006. Clinical Students Elevent Edition. Massachusetts,
USA : Blackwell Publishing, Inc.
8. Dushku N, John M, Schultz GS, Reid TW. 2002. Pterygia pathogenesis:
corneal invasion by matrix metalloproteinase expressing altered limbal
epithelial basal cells Arch Ophthalmol.
9. Stephen GW. 2004. Pterygium in Duanes Clinical Ophthalmology,
chapter 35, vol 6, Lippincont William & Wilkin.
10. Kanskii JJ. 2007. Pterygium in Clinical Ophthalmology A Systematic
Approach, 6th Ed.
11. Youngson RM. Recurrence of pterygium after excision. Brit.J.Ophthal.
1972; 56: 120-125. 7
12. Gazzard G, Saw S, Farook M, Koh D, Wijaya D, et al. 2002. Pterygium in
Indonesia : Prevalence, severity and risk factors. British Journal of
Ophthalmology.
13. Fisher JP. 2005. Pterygium. Available in :
http://emedicine.medscape.com/article/1192527-overview
14. Anandam, Vidya. 2012. Management of Pterygium. Available in :
http://103.255.188.147/newsletterproject/issue/linkfiles/SL000259.pdf
15. Fisher JP. 2015. Pterygium Treatment & Management. Available in :
http://emedicine.medscape.com/article/1192527-treatment

26