You are on page 1of 9

,

, ,
, , , ,
,
,
, ,

.

.



.

Segala puji bagi Allah, yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat hamba-hambanya, Maha suci
Allah, Dia-lah yang menciptakan bintang-bintang di langit, dan dijadikan padanya penerang dan
Bulan yang bercahaya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan
Rasul-Nya, yang diutus dengan risalah kebenaran, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi
peringatan, mengajak pada kebenaran dan menerangi umatnya dengan cahaya keimanan.

Ya Allah, jadikanlah kecintaan kami kepada Rasulallah SAW bagaikan Abu Bakar yang
menangis bahagia saat diizinkan Rasulallah SAW untuk menemaninya dalam berhijrah ke
Madinah.

Aisyah (RA) berkata,

Maka, aku melihat Abu Bakar menangis, dan aku tak pernah mengira ada seseorang yang
menangis sedemikian hebatnya karena bahagia.

Ya Allah, jadikanlah kecintaan kami kepada Rasulallah SAW bagaikan Bilal bin Rabah yang tak
mampu lagi kumandankan adzan setelah kematian Rasulallah SAW, semata karena dia tak
mampu lagi mengingat wajah Rasul yang mulia itu. Bahkan, Bilal mengajukan pensiun dini dari
pekerjaannya sebagai muadzin masjid Nabawi setelah Rasulallah SAW wafat. Dia memilih
hidup di Suriah agar dapat berjihad dalam dakwah, namun kecintaannya kepada Rasulallah tak
pernah bisa pudar. Saat sakratul maut, isterinya menangis sebab mereka jauh dari para sahabat
Nabi di Madinah.

Bilal berkata,
.. ..
Janganlah engkau menangis, dinda, sebab besok aku akan berjumpa dengan (manusia) yang
paling kucinta, Muhammad SAW.
Jadikanlah kami penyambung risalah perjuangan Rasulallah SAW hingga tidak ada umat
manusia di muka bumi ini yang tidak tahu keagungan pribadinya. Maka, jadikanlah perjuangan
kami seperti Iqbal yang berkata,

***

Meskipun dalam darahku mengalir keturunan India *** tetapi suaraku adalah penyampai
keturunan Adnan (Rasulallah SAW)


Hadirin kamu muslimin dan muslimat jamaah shalat Idul Fitri yang mulia.

Maka, pada pagi yang indah ini, saat kumandang takbir bersahutan dengan kicauan burung dan
gemericik rahmat ampunan dari Allah SWT, saya selaku khatib, pertama-tama ingin mengajak
hadirin sekalian untuk meningkatkan taqwa kepada Allah SWT. Taqwa dalam arti menjalankan
segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.

Izinkanlah saya selaku khatib dalam khutbah yang singkat ini menyampaikan tiga momentum
pembelajaran.

Pertama: Idul Fitri sebagai momentum pembelajaran tentang usia.

Ketika Rasulallah SAW berhijrah ke Madinah, beliau SAW mendapati orang-orang berpesta
dalam dua hari. Rasulallah SAW bertanya, Ada apa ini? Para penduduk Madinah itu
menjawab, Kami dulu berpesta dalam dua hari ini. Rasulallah SAW kemudian berkata,

Sungguh, Allah SWT telah mengganti dua hari itu dengan yang lebih baik dari padanya: Idul
Fitri dan Idul Adha.

Sejak peristiwa itu umat Islam menunaikan shalat Idul Fitri di Madinah. Budaya jahiliyah yang
berpesta-pora dalam dua hari, diganti oleh ajaran Islam dengan bersyukur pada Allah SWT.
Sepanjang malam raya, kaum muslimin bertahmid, bertasbih, dan bertahlil mengagungkan asma
Allah SWT.

Di Madinah, Rasulallah SAW bertindak selaku imam dan khatib shalat. Shalat ditunaikan tanpa
adzan dan iqomah. Rasulallah datang ke Musholah (tempat sholat), dan langsung memimpin
sholat Id tanpa shalat sunnah lainnya, lalu beliau SAW menyampaikan khutbahnya. Khutbah
seperti itulah yang pada pagi hari ini sedang khatib tunaikan sebagai upaya mencontoh
Rasulallah SAW.

Maka, Syukur kita bahwa pada pagi ini kita sampai di gerbang kemenangan Idul Fitri dengan
diberikan umur panjang. Umur merupakan salah satu nikmat Allah SWT yang seringkali
diabaikan oleh hamba-hamba-Nya. Ada dua nikmat, kata Rasulallah SAW, yang manusia sering
terlena: sehat dan umur.
Bukankah tidak ada seorang pun di antara kita yang mampu membendung perjalanan usia.
Karena itu, Idul Fitri menjadi pembelajaran penting tentang perjalanan usia kita. Bila pada Idul
Fitri tahun lalu kita masih berusia dua puluh lima tahun, misalnya, maka Idul Fitri tahun ini kita
sudah berusia dua puluh enam tahun. Begitulah seterusnya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal, Rasulallah bersabda,

Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba di hari kiamat hingga ditanyakan kepadanya
empat hal: Usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya bagaimana ia pergunakan, hartanya
dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia keluarkan, serta ilmunya, apa yang ia telah perbuat
dengannya.

Manusia tercipta mula-mula lemah, kemudian kuat, dan kemudian lemah kembali seraya tumbuh
uban di kepalanya. Allah SWT berfirman,

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan kamu
sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat. Kemudian Dia menjadikan kamu sesuadah kuat itu
lemah (kembali) dan beruban. (QS : Ar-Rum 54)

Bila kita renungi secara lebih sungguh-sungguh, maka kita akan dapatkan bahwa seluruh
rangkaian kewajiban agama kita merupakan peringatan bagi diri kita tentang perjalanan usia kita
di dunia ini.

Untuk itulah, para ulama terdahulu, dalam upayanya merenungi setiap detik kehidupan yang
dijalaninya, mengatakan, shalat lima waktu adalah neraca harian kita. Shalat Jumat
merupakan neraca pekanan, puasa di bulan Ramadhan menjadi semacam neraca tahunan,
dan ibadah haji menjadi neraca atau timbangan usia kita.

Bila setiap muslim melakukan kalkulasi dengan benar pada neraca hariannya, pekanannya dan
tahunan niscaya ia akan beruntung dalam menapaki kehidupan ini. Demikian pula sebaliknya,
mereka yang tak pernah melihat neraca kehidupannya, hanya akan menjadi manusia-manusia
yang merugi.

Demikianlah kita mendengar Umar bin Khattab berkata, barangsiapa yang hari ini sama dengan
harinya yang kemarin, maka dia adalah orang yang tertipu. Dan barangsiapa yang hari ini lebih
buruk dari hari kemarin, maka ia adalah orang yang tercela.

Sadarkan diri kita semua bahwa usia sangat cepat berlalu. Ia berlari meninggalkan kita melebihi
kemampuan kita untuk mengejarnya. Perhatikanlah, rasanya baru kemarin kita memulai
ramadhan, tetapi kini kita telah berada di hari raya Idul Fitri.
Baru kemarin, rasanya, kita duduk di bangku Sekolah Dasar, bermain-main petak umpat dengan
teman sebangku, bercengkerama dengan teman sekelas dan bersenda gurau di bangku kuliah.
Kini kita telah disini, di kesenjaan usia kita, sebagian telah merayakan reuni alumni yang ke-
empat puluh, sebagian lain telah bermenantu, beranak cucu dan sebagian lain sulit menemukan
rambut hitam di kepalanya sendiri.

Waktu laksana angin, ia berhembus cepat baik saat kita senang ataupun susah. Dan, manakala
maut datang menjemput, masa-masa yang panjang yang pernah dilalui seseorang hanyalah
merupakan bilangan masa pendek yang berlalu bagaikan kilat.

Penyari Arab mengatakan,

Apabila akhir dari perjalanan umur adalah kematian, maka panjang pendeknya usia sama saja. Ia
hanya tertulis di batu nisan. Selebihnya adalah hisab

Maha benar Allah SWT dalam firman-Nya,

Pada hari mereka melihat hari kebangkitan itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di
dunia) melaikan (sebentar saja) yaitu di waktu sore atau di waktu pagi. (QS: An-Naziat ayat 46)

Waktu yang telah berlalu tak akan pernah kembali. Setiap detik yang bergeser dari jam tangan
kita telah menjadi sesuatu yang lampau. Ia pergi dan kita masih di sini, dengan sejuta persoalan
yang membelenggu diri kita.

Hasan al-Basri, seorang penyair sufi berkata,

Tidaklah fajar hari ini terbit, kecuali ia akan memanggil, Wahai anak Adam, aku adalah ciptaan
yang baru dan aku akan menjadi saksi atas setiap pekerjaanmu, maka mintalah bekal kepadaku.
Karena bila aku telah berlalu, aku tak akan kembali hingga hari kiamat tiba.

Untuk itulah, sering kita dapati orang yang meratapi masa mudanya saat ia telah berusia renta,
lanjut dimakan zaman, rapuh dikikis angan-angan.

Penyair Arab lainnya mengatakan,



***
***

Seseorang hanyalah pengendara di atas pundak usianya ***Berkelana ia mengikuti hari dan
bulan.Ia berjuang dan rehat di siang dan malam ***Semakin jauh dari dunia, semakin dekat ia
dengan pusara.
Maka, hari ini kita pun berbahagia sebab diberi umur panjang dan telah terlahir kembali sebagai
manusia yang bersih. Ibarat ulat, kita telah melewati masa kepompong. Kini, kita telah menjadi
kupu-kupu yang indah setelah sebulan penuh dibungkus dalam ketaatan kepada Allah SWT,
menahan hawa nafsu, amarah murka, bahkan menghindari hal-hal yang halal di siang hari.


Hadirin kamu muslimin dan muslimat jamaah shalat Idul Fitri yang mulia.

Kedua: Idul Fitri sebagai momentum pembelajaran tentang taubat.

Pembelajaran kedua dari peristiwa Idul Fitri adalah tentang taubat. Selama Ramadhan, kita
bertarawih, qiyamul lail, shalat witr dan berbagai ibadah sunnah lainnya yang merupakan wujud
taubat kita. Kini, Idul fitri menjadi gerbang kemenangnya.

Memang, dalam menjalani kehidupan ini, kita pasti pernah berbuat salah dan dosa. Hal demikian
adalah manusiawi. Sebab, bukankah Rasulallah SAW berkata,

Setiap anak cucu Adam memiliki dosa, dan sebaik-baik pendosa adalah dia yang
bertaubat.(HR Ibnu Majah). Mengapa demikian, sebab manusia diciptakan dalam keadaan
lemah (QS An-nisa: 28)

Manusia yang lemah itu diberikan jalan taubat sebagai wujud kasih sayang Allah kepada kita.

Suatu hari, Umar bin Khattab RA datang menghadap Rasulallah SAW dengan membawa
beberapa orang tawanan. Di antara para tawanan itu terlihat seorang wanita sedang mencari-cari
anaknya, lalu jika ia mendapatkan seorang bayi di antara tawanan dia langsung mengambil bayi
itu, mendekapkannya ke perut untuk disusui. Lalu Rasulullah SAW berkata kepada kami,
Bagaimana pendapat kamu sekalian, apakah wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam
api? Kami menjawab, Tidak, demi Allah, sedangkan dia mampu untuk melemparnya.
Rasulullah SAW bersabda, sungguh Allah lebih mengasihi hamba-Nya dari pada wanita ini
terhadap anaknya. (HR Muslim).

Karena sedemikian kasih dan sayangnya Allah pada kita, maka Allah sangat senang bila seorang
hamba terlanjur berbuat dosa lalu bertaubat, berjanji sepenuh hati tak akan pernah mengulangi
perbuatannya.

Rasulallah SAW menggambarkan kesenangan Allah itu dengan berkata, Sungguh Allah akan
lebih senang menerima taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya dari pada
(kesenangan) seorang di antara kalian yang menunggang untanya di tengah padang luas yang
sangat tandus, lalu unta itu terlepas membawa lari bekal makanan dan minumannya dan putuslah
harapannya untuk memperoleh kembali. Kemudian dia menghampiri sebatang pohon lalu
berbaring di bawah keteduhannya karena telah putus asa mendapatkan unta tunggangannya
tersebut. Ketika dia dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia mendapati untanya telah berdiri di
hadapannya.. (HR Muslim)
Seringkali kita merasa bahwa dosa yang kita lakukan hanya dosa-dosa kecil saja, sehingga tak
diperlukan segera bertaubat.


Ibnul Qayyim berkata,

Jangan meremehkan dosa-dosa kecil. (Lihatlah) patok kayu (di dermaga) yang melilit tambang,
ia bahkan dapat menarik kapal.

Karena itu, taubat tidaklah sebatas usaha seorang hamba untuk memohon ampunan dari Allah,
namun ia sekaligus termasuk ibadah yang mulia di sisi-Nya karena perbuatan itu merupakan
perintah dari Allah. Sebagaimana Allah berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya,
mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu
ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak
menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka
memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: Ya Tuhan
kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha
Kuasa atas segala sesuatu. (QS At-tahrim:8)

Karena itulah, taubat merupakan amalan para nabi. Aisyah mengatakan, Dahulu Rasulullah
sebelum meninggal banyak mengucapkan: maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya aku
memohon ampun dan aku bertaubat kepada-Nya. (HR Bukhari-Muslim)

Demikian pula para nabi sebelumnya. Adam dan Hawa, adalah para pendosa pertama yang
segera bertaubat. Allah abadikan dalam firman-Nya,

Keduanya berkata, wahai Tuhan kami, kami adalah orang-orang yang berbuat zhalim pada diri-
diri kami, kalau sekiranya Engkau tidak mengampuni (dosa-dosa) dan merahmati kami, niscaya
kami termasuk orang-orang yang celaka. (QS Al-Araf: 23)

Saudaraku, sesungguhnya rahmat Allah itu sangat luas sehingga tidak sepantasnya bagi seorang
hamba untuk berputus asa dari rahmat-Nya.

Maka menarik untuk mengutip Ibnul Qayyim sekali lagi. Katanya,





Sekiranya seorang pelaku maksiat mengetahui bahwa kenikmatan bertaubat lebih dahsyat
berlipat-lipat dari kelezatan maksiat, niscaya dia akan bersegera menuju taubat lebih cepat dare
usahanya menggapai maksiat.

Hadirin kamu muslimin dan muslimat jamaah shalat Idul Fitri yang mulia.

Ketiga: Idul Fitri sebagai momentum pembelajaran tentang sabar

Pembelajaran ketiga dari peristiwa Idul Fitri adalah tentang sabar. Selama ramadhan kita dilatih
untuk bersabar, dan Idul Fitri ini adalah momentum gerbang kemenangannya.

Seringkali, dalam menjalani kehidupan ini, kita bertemu dengan persoalan yang menguras
energi, sabar adalah kunci jawabannya. Dalam ilmu akhlak, sabar dimaknai berjuang
melakukan segala perintah Allah, menjauhi larangannya dan menghindar dari prasangka buruk
atas segala takdir-Nya.

Ia mudah diucapkan, sulit dilaksanakan. Suatu kali, Rasulallah SAW melewati pemakaman.
Beliau mendapati wanita menangis tersedu-sedu, beliau kemudian berkata, bertaqwalah kepada
Allah dan bersabarlah. Wanita itu menjawab, engkau tidak merasakan apa yang kurasakan,
karena engkau tidak mengalami musibah seperti aku.

Wanita itu tak mengetahui bahwa itu Rasulallah SAW sampai seseorang kemudian
memberitahunya. Dia lalu mendatangi rumah Rasulallah SAW, dan meminta maaf. Aku tadi
tidak mengenalimu, katanya. Rasulallah SAW pun berkata,

Sesungguhnya sabar itu adalah pada pukulan pertama. (HR Muslim)

Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa sabar itu bukanlah selepas kita puas mengamuk,
mencaci-maki lalu setelah tersadar, kita mengurut dada sambil berkata, Aku sabar sekarang.

Lebih jauh, Rasulallah SAW mengingatkan bahwa para Nabi adalah orang-orang yang paling
berat ujiannya, lalu orang-orang shaleh, lalu masyarakat pada umumnya. Karena itu, saat
mendapat musibah yang menguji kesabaran, kita berharap sedang naik kelas menuju tangga
kemuliaan yang lebih tinggi.

Ibnul Qayyim berkata,



!! ..

Jika kesulitan hidup yang engkau rasakan berkepanjangan padahal tak pernah berhenti kau
berdoa pada Allah, yakinlah bahwa sesungguhnya Allah tidak saja ingin menjawab doa-doamu
itu. Tetapi Dia ingin memberikanmu karunia lain yang bahkan engkau tak memintanya.

Ulama mengatakan, tiga hal yang merusak kesabaran: tergesa-gesa, marah dan cepat putus asa.
Umar bin Khattab berkata, tergesa-gesa adalah perbuatan syaitan.
Marah juga merusak kesabaran. Dikisahkan bahwa Nabi Yunus tak kuasa menahan emosi. Dia
pergi meninggalkan kaumnya yang tak kunjung beriman. Namun, kepergiannya belum mendapat
izin Allah SWT. Alih-alih untuk mendapatkan kebebasan, dia justru mendapatkan kesempitan.

Dalam perjalanan lautnya, dia kemudian ditelah ikan paus. Allah berfirman,

Dan (ingatlah kisah) Nabi Yunus, ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka
bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan
sangat gelap bahwa: Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau,
sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim. (QS al-Anbiya: 87)

Faktor ketiga yang merusak kesabaran adalah cepat putus asa. Bukankah Nabi Yakub tak pernah
putus asa mencari puteranya yang hilang hingga Allah pertemukan kembali dengan Nabi Yusuf.
Allah SWT abadikan kisah itu pada ayat berikut ini:

Hai anak-anakku, pergilah kalian, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan
janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat
Allah kecuali kaum yang kafir. (QS Yusuf: 87)

Untuk itulah, para ulama mengatakan, dalam hal kesabaran belajarlah dari Nabi Ayub. Memang
sebarapa sabar Nabi Ayub? Dalam riwayat diceritakan, ketika Nabi Ayub diuji dengan penyakit,
semua orang menjauhinya. Bukan hanya itu, seluruh usahanya bangkrut. Tujuh anaknya
meninggal dan ia didera penyakit menjijikan. Saat semua orang menjauhinya, hanya isterinya
yang sabar melayaninya.

Hingga suatu hari, isterinya berkata, Tak bisakah kau meminta Tuhanmu agar
menyembuhkanmu dan kehidupan kita kembali normal?. Sebuah permintaan yang menusiawi.
Namun, Ayub menjawab, Berapa tahun usiaku dalam keadaan sehat dulu? Istrinya menjawab,
delapan puluh tahun. Ayub bergumam, Sungguh tak pantas aku mengeluh untuk sakit yang
baru delapan belas tahun ini.

Allah SWT mengabadikan kata hati Ayub dalam firman-Nya,

Dan kisah Nabi Ayub ketika dia bergumam, wahai Tuhanku, Engkau pertemukan aku dengan
ujian, dan Engkau sebaik-baik pemberi Kasih Sayang (QS al-Anbiya: 83).

Ayub tak mengeluh sedikitpun. Sampai suatu hari, Ayub meminum segelas air dan dengan izin
Allah seluruh penyakitnya hilang. Ia bahkan kembali muda, tampan dan mempesona. Saat
isterinya kembali ke rumah, dia tak mengenali suaminya, dan bertanya, Hai anak muda, apakah
engkau melihat orang sakit yang ada di rumah ini?
Ayub tersenyum, dan berkata, Akulah orang yang engkau maksudkan itu. Setelah itu, Allah
membalas kesabaran Ayub dan istrinya dengan memberi keturunan, harta dan kesuksesan. Ibnu
Abbas mengatakan, kesabaran Ayub dan istrinya adalah teladan utama dalam menghadapi ujian
Allah. Karena itu, keduanya mendapat kehormatan dengan diberikan anak-anak sebanyak dua
puluh tujuh orang.

Demikianlah tiga pembelajaran dari momentum hari raya Idul Fitri ini. Semoga kita termasuk
orang-orang yang pandai mengambil hikmah dari hari ke hari agar saat usia semakin bertambah,
kita semakin sering bertaubat dan semakin pandai pula dalam bersabar.

. .



.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2016/07/02/81187/khutbah-idul-fitri-1437-tiga-pelajaran-
momentum-idul-fitri/#ixzz4i3X4CN1x
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook