You are on page 1of 9

EFEKTIFITAS HEALTH EDUCATION TENTANG KEBERSIHAN

GENETALIA TERHADAP PENGETAHUAN PENCEGAHAN


FLOUR ALBUS PADA REMAJA PUTRI DI
MTS AL AL-MASUDY MOJOKERTO

LIDA KHALIMATUS SADIYA

ABSTRAK

Reproductive health education in schools is done through curricular


programs are incorporated into and extracurricular subjects such as education
(health education). Generally reproductive health education in schools which do
cederung successful because the school is able to reach the population more
directly than other health care institutions. The purpose of this study was to
analyze the effectiveness of health education about genital hygiene for prevention
of flour albus knowledge in adolescent girls. This study design is pre experiment
with approaches One-Group Pre-Post Test Design. The population was around all
the girls were 83 respondents and samples were taken with total sampling
technique sampling. Data taken using a questionnaire instrument on prevention
knowledge whitish, then analyzed editing, coding, scoring and tabulating and
tested with cross tabs. The results showed no effectiveness of health education on
hygiene genitalia towards knowledge flour albus on teenage girls in class IX MTs
AL-MAS'UDY Village Simbaringin Kutorejo District of Mojokerto as evidenced
by the results of cross tabulation (cross-tabs) data obtained after the change of
given health education an increase in the percentage of respondents who
pengetahunya enough by 56.6%. Health education is a primary capital to be done
in the community in order to prevent discharge. So expect the higher level of
public knowledge will further increase the level of health in this study, especially
on taking care of the genitalia of knowledge whitish

Keywords: Health Education, Knowledge and Flour Albus


PENDAHULUAN Pengetahuan akan keputihan secara
Masa remaja merupakan tepat akan membantu dalam
masa transisi yang ditandai oleh membedakan antara keputihan yang
adanya perubahan fisik, emosi dan normal dengan keputihan yang tidak
psikis. Masa remaja merupakan masa normal. Sehingga pencegahan dan
pematangan organ reproduksi penanggulangan dapat dilakukan
manusia, dan sering disebut masa secara dini dan menghindarkan diri
peralihan. Tanda-tanda pada dari kemandulan dan kanker leher
perempuan adalah mulai terjadinya rahim lebih lanjut (Shadine, 2009).
menstruasi sedangkan pada laki-laki Menurut WHO hampir
adalah mulai mampu menghasilkan seluruh wanita dan remaja pernah
sperma (Kusmiran, 2012). Salah satu mengalami keputihan (flour albus)
pelayanan yang ada di sekolah 60% pada remaja dan 40% pada
adalah UKS, UKS dalam wanita usia subur (WUS). Menurut
pelaksanaannya memiliki program penelitian di Indonesia, wanita yang
pokok yang dikenal dengan Trias pernah mengalami keputihan
UKS yang meliputi Pendidikan (flouralbus) sebanyak 75%
Kesehatan, Pelayanan Kesehatan dan mengalami keputihan (flour albus)
Pembinaan Lingkungan Sekolah minimal satu kali dalam seumur
Sehat. Pendidikan kesehatan yang hidupnya dengan 50% pada remaja
dilakukan di sekolah diantaranya dan 25 % pada WUS, ini berbeda
adalah pendidikan kesehatan tajam dengan negara lain yang hanya
reproduksi. 25% saja dan penelitian di Jawa
Pendidikan kesehatan Timur menunjukkan 75% remaja
reproduksi di sekolah dilakukan menderita keputihan (flouralbus)
melalui program kurikuler yang minimal satu kali seumur hidup, bisa
dimasukkan kedalam mata pelajaran mengalami keputihan (flouralbus)
sekolah maupun ekstra kurikuler sebanyak dua kali atau lebih (Moki,
seperti penyuluhan (health 2007). Hasil penelitian
education). Umumnya pendidikan MaretaWulanPermatasari di SMA
kesehatan reproduksi yang dilakukan Negeri 9 Semarang pada tahun 2012
di sekolah cederung berhasil karena dapat diketahui bahwa pengetahuan
sekolah mampu menjangkau remaja putrid tentang personal
populasi yang lebih banyak secara hygiene yang termasuk kategori baik
langsung dibanding lembaga sebanyak (38,5%), kategori cukup
pelayanan kesehatan lainnya. Siswa sebanyak (44,6%) dan kategori
akan lebih terbuka dalam menerima kurang sebanyak (16,9%). Hasil
informasi yang akan diberikan penelitian yang dilakukan Wiwin
(Efendi, 2009). Akan tetapi tidak Embo Johar di SMA muhammadiyah
semua pelajaran tentang kesehatan 1 semarang tahun 2013. Didapatkan
reproduksidiberikan terutama yang hasil, siswi yang melakukan upaya
mengarah pada keputihan (flour pencegahan keputihan (flouralbus)
albus). Kurangnya informasi tentang kurang (17,8%), cukup sebanyak
kebersihan genetalia memungkinkan (42,5%), dan yang baik sebanyak
siswa tidak mampu mencegah (39,7%). Penelitian yang dilakukan
terjadinya keputihan (flour albus). oleh Donalita di SMA negeri 4
semarang. Didapatkan hasil sebagian saya akan ingat, dan kalau saya
besar siswi memiliki pengetahuan kerjakan saya akan tahu. Pemberian
menjaga kebersihan genetalia informasi yang benar, lengkap dan
eksterna yang buruk yaitu (82,8%), tepat dalam memilih metode yang
dan (96%) responden mengalami akan di sampaikan pada remaja putri,
keputihan (flouralbus). Tingginya salah satunya melalui pendidikan
angka keputihan (flour albus) pada kesehatan (health education) tentang
remaja dikarenakan kurangnya kesehatan reproduksi, termasuk
informasi tentang kebersihan kebersihan genetalia. Adanya
genetalia. pendidikan kesehatan (health
Berdasarkan studi education) tentang kebersihan
pendahuluan yang dilakukan genetalia, remaja putri bisa
penelitipada tanggal 18 November memperoleh pengetahuan yang benar
2014 Di MTsAL-MASUDY Desa termasuk resiko bila tidak dijaga
Simbaringin, Kecamatan Kutorejo, (Syafrudin, 2009).
Kabupaten Mojokerto, berdasarkan Salah satu gejala terjadinya
wawancara yang dilakukan pada 10 kelainan atau penyakit pada organ
remaja putri pada kelas IX, di reproduksi adalah Keputihan (flour
dapatkan hasil dari 8 remaja putri albus). Penyabab keputihan (flour
kurang mendapatkan informasi albus) adalah masalah kebersihan
tentang membersihkan genetalia (vulva hygine) disetitar organ intim.
yang benar dan 2 remaja Selain itu, keputihan (flour
putrimendapatkan informasi tentang albus)dapat disebabkan oleh
membersihkan genetalia yang benar, berbagai hal, seperti infeksi
jadi hampir seluruh remaja putri mikroorganisme yaitu bakteri, jamur,
kurang mendapatkan informasi virus atau parasit. Keputihan
tentang cara membersihkan genetalia (flouralbus) merupakangejala yang
yang benar. sangat sering dialami oleh sebagian
Organ reproduksi besar wanita. Keputihan (flouralbus)
merupakan salah satu organ tubuh dapat fisiologi ataupun patologis.
yang sensitif dan memerlukan Keadaan normal, getah atau lendir
perawatan khusus. Pengetahuan dan vagina adalah cairan bening tidak
perawatan yang baik merupakan berbau, jumlahnya tidak terlalu
faktor penentu dalam memelihara banyak dan tanpa rasa gatal atau
kesehatan reproduksi. Usaha nyeri, sebaliknya dalam keadaan
pencegahan juga memerlukan dasar patologis, terdapat cairan berwarna,
pengetahuan yang baik (Ratna, berbau, jumlahnya banyak dan
2009). Perilaku yang didasari disertai gatal dan rasa panas atau
pengetahuan lebih langgeng nyeri, dan hal itu dapat dirasa sanga
dibandingkan perilaku yang tidak tmengganggu. Perempuan yang
didasari pengetahuan (Syafrudin, memiliki riwayat infeksi yang
2009). Progam UKS dapat ditandai dengan keputihan (flour
memberikan pendidikan kesehatan albus) berkepanjangan mempunyai
melalui penyuluhan. Ungkapan dari dampak buruk untuk masa depan
Syafrudin, kalau saya mendengar kesehatan reproduksinya. Yang akan
saya akan lupa, kalau saya melihat mengakibatkan kemandulan dan
kanker leher rahim lebih lanjut. Keterangan
Perempuan dianjurkan untuk P : Prosentase
melakukan tindakan pencegahan f : Jumlah jawaban yang benar
dengan menjaga kebersihan genitalia n : Jumlah skor maksimal
(Shandine, 2009).
Berdasarkan latar belakang Kemudian di kriteriakan
diatas, penulis ingin meneliti tentang menjadi:
Efektifitas health education tentang 1) Baik (76-100%)
kebersihan genetalia terhadap 2) Cukup (56-75%)
pengetahuan pencegahan flour 3) Kurang (<56%)
albuspada remaja putri kelas IX Di
MTs AL-MASUDY Desa HASIL PENELITIAN
Simbaringin, Kecamatan Kutorejo, 1. Karakteristik responden
Kabupaten Mojokerto berdasarkan pengetahuan pre test
Pengetahuan F %
METODE PENELITIAN Baik 1 1,2
Desain penelitian ini yaitu pra
Cukup 41 49,4
eksperimen dengan pendekatan One-
Group Pre-Post Test Design. Kurang 41 49,4
Variabel penelitian yaitu efektifitas Total 83 100
pemberian health education tentang Sumber : Data Primer, 2015
kebersihan genetalia sebagai variabel
independen dan pengetahuan Distribusi frekuensi responden
pencegahan keputihan sebagai berdasarkan pada tabel 1diperoleh
variabel dependen. data bahwa hampir setengahnya
Populasi penelitian yaitu responden mempunyai pengetahuan
seluruh semua remaja putri sebanyak yang cukup dan kurang terhadap
83 responden dan sampel diambil fluor albus sebelum penyuluhan
dengan teknik total sampling sebanyak 41 responden (49,4%
sampling. Data diambil dengan
menggunakan instrument kuesioner 2. Karakteristik responden
tentang pengetahuan pencegahan berdasarkan pengetahuan post
keputihan, kemudian dianalisa secara Pengetahuan F %
editing, coding, scoring dan Baik 29 34,9
tabulating serta diuji dengan uji Cukup 44 53,0
cross tab.. Kurang 10 12,0
Untuk pengetahuan diberi skor:
1) Jika jawaban benar diberi skor :1 Total 83 100
Sumber : Data Primer, 2015
2) Jika jawaban salah diberi skor : 0
Distribusi frekuensi responden
Hasil penskoringan dihitung berdasarkan pada tabel 2 diatas
denga menggunakan rumus sebagai menunjukkan bahwa sebagian besar
berikut : responden mempunyai pengetahuan
f yang cukup terhadap fluor albus
P X 100%
n sebelum penyuluhan sebanyak 44
responden (53,0%).
Pengetahuan setelah Pengetahuan merupakan hasil
diberikan health education terdapat tahu, dan ini terjadi setelah orang
26 (31,3%) responden yang melakukan penginderaan terhadap
pengetahuannya baik yang suatu obyek tertentu. Penginderaan
sebelumnya mempunyai terjadi melalui indera manusia, yaitu
pengetahuan kurang sebanyak 17 : indera penglihatan, pendengaran,
(20,5%). Dari responden setelah penciuman, rasa, dan raba. Sebagian
diberikan health education terdapat besar pengetahuan manusia diperoleh
47 (56,6%) yang pengetahuannya melalui mata dan telinga.
cukup sebelumnya mempunyai Pengetahuan atau kognitif merupakan
pengetahuan cukup sebanyak 32 domain yang sangat penting dalam
(38,6%). Sedangkan responden membentuk tindakan seseorang. Dari
setelah diberikan health education pengalaman dan penelitian terbukti
terdapat 10 (12,0%) yang bahwa perilaku yang tidak didasari
pengetahuannya kurang sebelumnya oleh pengetahuan (Notoatmodjo,
mempunyai pengetahuan kurang 2006). Keputihan(fluor albus) adalah
15(10,8%). Dari hasil tabulasi silang keluarnya cairan selain darah dari
terjadi perubahan dari setelah liang vagina di luar kebiasaan, baik
diberikan health education terjadi berbau maupun tidak berbau dan
peningkatan persentase responden disertai rasa gatal setempat
yang pengetahunya cukup sebesar (Kusmiran, 2012).
56,6%. Hasil penelitian menunjukkan
Hasil uji Wilcoxon bahwa responden setengahnya
menunjukkan data bahwa = 0,000 mempunyai pengetahuan yang cukup
dan = 0,05 sehingga < maka H0 dan kurang hal ini terjadi karena
ditolak dan H1 diterima sehingga ada mereka belum mempunyai
efektifitas health education tentang pengalaman dan informasi yang
kebersihan genetalia terhadap cukup tentang fluor albus maka
pengetahuan pencegahan flour albus mereka masih menganggap bahwa
pada remaja putri kelas IX Di MTs fluor albus merupakan kejadian yang
AL-MASUDY Desa Simbaringin, wajar dan bukan sebuah penyakit dan
Kecamatan Kutorejo, Kabupaten tidak perlu diberikan penanganan
Mojokerto. secara khusus sehingga banyak
responden yang mempunyai
pengetahuan yang kurang tentang
PEMBAHASAN fluor albus. Pengetahuan responden
1. Pengetahuan flour albus pada pada penelitian ini terjadi karena
remaja putrisebelum diberikan dipengaruhi oleh faktor usia,
health education pendidikan serta sumber informasi
Berdasarkan tabel 1 diperoleh yang didapatkan responden.
data bahwa hampir setengahnya
responden mempunyai pengetahuan 2. Pengetahuan flour albus pada
yang cukup dan kurang terhadap remaja putrisetelah diberikan
fluor albus sebelum penyuluhan health education
sebanyak 41 responden (49,4%). Berdasarkan tabel 2 diperoleh
data bahwa bahwa sebagian besar
responden mempunyai pengetahuan tentang fluor albus menunjukkan
yang cukup terhadap fluor albus bahwa terdapat perubahan
sebelum penyuluhan sebanyak 44 pengetahuan responden dalam
responden (53,0%). melakukan kebersihan genitalia dan
Meningkatkan pengetahuan tentang fluor albus dimana sebagian
masyarakat juga dapat melalui besar dari mereka lebih banyakyang
metode penyuluhan. Dengan memiliki pengetahuan yang cukup
pengetahuan bertambah seseorang dan terdapat hampir setengah
akan merubah perilakunya (Azwar, responden memiliki pengetahuan
2007). Menurut Notoatmodjo (2005) yang baik. Hal ini dapat
dari berbagai macam cara yang telah menunjukkan bahwa dengan
digunakan untuk memperoleh pemberian pendidikan kesehatan
kebenaran pengetahuan seseorang tentang fluor albus dapat
biasanya diperoleh dari pengalaman meningkatkan pengertian dan
yang berasal dari berbagai macam pemahaman responden tentang fluor
sumber. Misalnya media massa, albus sehingga dapat mempengaruhi
media elektronik, buku petunjuk pengetahuan responden dari
petugas kesehatan, media poster, pengetahuan yang kurang menjadi
kerabat dekat dan sebagainya. pengetahuan yang baik.
Pendidikan kesehatan reproduksi di Pengetahuan yang didapatkan
sekolah dilakukan melalui program terkadang bukan sumber yang baik
kurikuler yang dimasukkan kedalam karena dapat terpengaruh informasi
mata pelajaran sekolah maupun dan pengalaman yang turun temurun
ekstrakurikuler seperti penyuluhan. dari orang tua atau keluarga dan
Umumnya pendidikan kesehatan saudara sehingga masih belum cukup
reproduksi yang dilakukan di sekolah untuk praktik kesehatan sehari-hari
cederung berhasil karena sekolah ditinjau dari segi pengetahuan medis.
mampu menjangkau populasi yang Pengetahuan yang didapatkan
lebih banyak secara langsung responden juga belum tentu dapat
dibanding lembaga pelayanan dimengerti, hal ini tergantung pada
kesehatan lainnya. Siswa akan lebih cara penyampai informasi dan
terbuka dalam menerima informasi tingkat pemahaman informasi dari
yang akan diberikan (Efendi, penerima informasi. Petugas
2009).Pengetahuan dan perawatan kesehatan perlu memberikan
yang baik merupakan faktor penentu informasi yang lengkap dan tepat
dalam memelihara kesehatan pada masyarakat agar mereka
reproduksi. Usaha pencegahan juga memiliki pengetahuan yang baik
memerlukan dasar pengetahuan yang untuk hidup lebih sehat.
baik (Ratna, 2009). Adanya Berdasarkan sumber
penyuluhan tentang kebersihan informasi diperoleh data hampir
genetalia, remaja putri bisa setengahnya memperoleh informasi
memperoleh pengetahuan yang benar dari media cetak sebanyak 37
termasuk resiko bila tidak dijaga responden (44,6%), tetapi yang
(Syafrudin, 2009). menerima informasi sebagian besar
Hasil penelitian menunjukkan memperoleh dari tenaga kesehatan
bahwa setelah diberikan penyuluhan sebanyak 27 responden (32,5%).
Menurut Azwar (2007) menyatakan diberikan health education terjadi
Informasi merupakan pemberitahuan peningkatan persentase responden
secara kognitif baru bagi yang pengetahunya cukup sebesar
penambahan pengetahuan.Pemberian 56,6%.
informasi adalah untuk Hasil uji Wilcoxon
menggugahkesadaran ibu hamil menunjukkan data bahwa = 0,000
terhadap suatu motivasi yang dan = 0,05 sehingga < maka H0
berpengaruh terhadap ditolak dan H1 diterima sehingga ada
pengetahuan.Hasil penelitian ini efektifitas health education tentang
menunjukkan bahwa sebagian besar kebersihan genetalia terhadap
dari mereka banyak yang menerima pengetahuan pencegahan flour albus
informasi dari tenaga kesehatan. pada remaja putri kelas IX Di MTs
Menurut responden penelitian orang AL-MASUDY DesaSimbaringin,
yang paling dapat dipercaya untuk Kecamatan Kutorejo, Kabupaten
memberikan informasi tentang Mojokerto
kesehatan adalah tenaga kesehatan Keputihan yang disebabkan
karena mereka lebih mempunyai oleh infeksi biasanya disertai dengan
kemampuan baik secara teori rasa gatal di dalam vagina dan
maupun prakteknya sehingga ketika disekitar bibir vagina bagian luar,
responden diberikan informasi yang kerap pula disertai bau busuk, dan
jelas tentang fluor albus dapat menimbulkan rasa nyeri sewaktu
meningkatkan pemahaman dan berkemih atau senggama (Shadine,
pengertian yang dimiliki dan dapat 2009).
merubah sikap responden dari Penyuluhan kesehatan
negatif menjadi positif. merupakan suatu proses belajar
3. Efektifitas pengetahuan remaja untuk mengembangkan pengertian
tentang fluor albus sebelum yang benar dan sikap yang positif
dan sesudah health education dari individu atau kelompok terhadap
Berdasarkan tabulasi silang kesehatan yang bersangkutan
pengetahuan setelah diberikanhealth mempunyai cara hidup sehat sebagai
educationterdapat 26 (31,3%) bagian dari cara hidupnya sehari atas
responden yang pengetahuannya baik kesadaran dan kemauannya sendiri
yang sebelumnya mempunyai (Syafrudin, 2009). Tujuan
pengetahuan kurang sebanyak pendidikan kesehatan adalah
17(20,5%). Dari responden setelah mengubah perilaku individu,
diberikan health education terdapat kelompok dan masyarakat menuju
47 (56,6%) yang pengetahuannya hal hal yang positif secara
cukup sebelumnya mempunyai terencana melalui proses belajar.
pengetahuan cukup sebanyak 32 Seseorang mengubah sikapnya
(38,6%). Sedangkan responden dengan beberapa cara salah satunya
setelah diberikan health education yang disebut dengan cognitive
terdapat 10 (12,0%) yang dissonance adalah adanya suatu
pengetahuannya kurang sebelumnya gangguan keseimbangan tentang
mempunyai pengetahuan kurang kemantapan pengertian yang sudah
15(10,8%). Dari hasil tabulasi silang dimiliki seeorang. Cognitive
terjadi perubahan dari setelah dissonanceakan timbul pada
seseorang jika yang bersangkutan MASUDY Desa Simbaringin
menghadapi hal hal yang baru, Kecamatan Kutorejo Kabupaten
dimana individu akan Mojokertodiperoleh data bahwa
mengembalikan keseimbangan hampir setengahnya responden
melalui suatu proses rasionalisasi mempunyai pengetahuan yang
dengan mengubah pengertian atau cukup dan kurang sebanyak 41
sikapnya. Namun jika antara responden (49,4%).
pengertian atau sikapnya. Namun 2. Pengetahuan flour albus pada
jika antara pengertian dan sikap yang remaja putrisebelum diberikan
sudah diikuti selama ini oleh yang health education di diMTS AL
bersangkutan dengan yang baru MASUDY Desa Simbaringin
perbedaannya terlalu besar, maka Kecamatan Kutorejo Kabupaten
cara mengembalikan keseimbangan Mojokertodiperoleh data bahwa
adalah dengan menolak yang baru bahwa sebagian besar
(Mubarak, 2009). Menurut Maulana responden mempunyai
(2009) tujuan dari pendidikan pengetahuan yang cukup
kesehatan ialah mengubah perilaku sebanyak 44 responden (53,0%).
individu / masyarakat di bidang 3. Ada efektifitas health education
kesehatan. tentang kebersihan genetali
Hasil penelitian ini aterhadap pengetahuan
menunjukkan bahwa health pencegahan flour albus pada
educationyang diberikan terhadap remaja putri kelas IX Di MTs
responden tentang kebersihan AL-MASUDY Desa
genitalia terhadap fluor albus Simbaringin, Kecamatan
merupakan salah satu bentuk Kutorejo, Kabupaten Mojokerto
tindakan atau kegiatan yang dapat yang dibuktikan dengan hasil uji
dilakukan untuk merubah wilcoxon = 0,001, = 0,05
pengetahuandalam melakukan sehingga < maka H1 diterima.
kebersihan organ reproduksi wanita
dan mencegah terjadinya fluor albus, SARAN
dimana health education pendidikan 1. Hendaknya remaja putri lebih
kesehatan merupakan sebuah modal dapat meningkatkan pengetahuan
utama untuk dilakukan pada dan pemahaman tentang fluor
masyarakat agar dapat mencegah albusdengan cara mencari
terjadinya fluor albus. Sehingga informasi yang lebih banyak,
diharapkan semakin tinggi tingkat dimana informasi tersebut dapat
pengetahuan masyarakat akan diperoleh dari membaca media
semakin meningkatkan derajat massa (Koran atau majalah) serta
kesehatan yang pada penelitian ini sering mengikuti penyuluhan
khususnya tentang merawat genitalia yang dilakukan oleh tenaga
terhadap pengetahuan fluor albus kesehatan sehingga dapat
. menambah pengetahuan dan
KESIMPULAN memahami tentang cara
1. Pengetahuan flour albus pada membersihkan genitalia yang
remaja putrisebelum diberikan benar serta apabila ada tanda
health education di diMTs AL tanda keputihan yang tidak wajar
lebih baik langsung datang ke Aplikasi. Jakarta: Rineka
tenaga kesehatan Cipta.
2. Diharapkan bagi institusi Notoatmodjo, Soekidjo.2007.
pendidikan dapat lebih sering Kesehatan Masyarakat Ilmu
mengadakan seminar atau dan Seni. Jakarta: Rineka
symposium yang lebih banyak Cipta.
dan sering terutama tentang fluor Notoatmodjo, soekidjo.2007.
albus sehingga mahasiswa dapat Pendidikan Kesehatan.jakarta:
menerima informasi yang lebih PT.Rineka Cipta.
banyak dan jelas dan mereka Nursalam. 2013. Metodologi
dapat lebih siap di dalam Penelitian Ilmu Keperawatan.
memberikan pendidikan Jakarta: Salemba Medika.
kesehatan atau health education Sarwono SW. 2011. Psikologi
pada masyarakat nantinya secara Remaja. Jakarta: Rajawali Pers
tepat dan benar Setiadi. 2013. Konsep Dan Praktik
3. Diharapkan peneliti berikutnya Penulisan Riset Keperawatan.
dapat mempergunakan hasil Yogyakarta: Graha Ilmu.
penelitian ini sebagai data awal Shadine, Mahannad. 2009. Penyakit
atau juga menggunakan materi Wanita, pencegahan, deteksi
lain seperti faktor-faktor yang dini dan pengobatannya.
mempengaruhi sikap tentang Jakarta: Keen Books.
fluor albusdapat juga Syafrudin. 2009. Promosi Kesehatan
menggunakan sampel dan tempat Untuk Mahasiswa Kebidanan.
yang lebih luas sehingga hasil Jakarta: Trans Info Media.
penelitian dapat digenerelasikan Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi
untuk Mahasiswa
Keperawatan. Jakarta: EGC.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Mohammad. 2009. Psikologi
Remaja, Perkembangan Peserta
Didik. Jakarta: Bumi Aksaara.
Effendi, Ferry. 2009. Keperawatan
Kesehatan Komunitas. Jakarta:
Salemba Medika.
Kusmiran, Eny. 2012. Kesehatan
Reproduksi Remaja dan
Wanita. Jakarta: Salemba
Medika.
Moki. 2007. Efektifitas Policresulen
Vaginal Suppositoria Terhadap
Keputihan Pada Wanita Usia
Subur. diakses pada tanggal 25
januari 2014 pada jam 21.00).
Notoatmodjo, Soekidjo.2010.
Promosi Kesehatan Teori &