You are on page 1of 13

TUGAS KULIAH

GEOTEKNIK

CALIFORNIA BEARING RATIO

Disusun Oleh:
Irvan Sakti Nugroho 21100114140063
Ahmad Farhan Nugraha 21100114130065
Chairiyatul Fitri 21100114130069
Novrisa Wahyu Pradana 21100114130070
Charisma Siallagan 21100114140073
Ricky Habel 21100114140074
Ridwan Silalahi 21100114140082

DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG
SEPTEMBER 2017
DAFTAR ISI
Daftar Isi ...ii
Daftar Gambar .iii
BAB I Pendahuluan
I.1 Definisi Umum CBR (California Bearing Ratio)..........1
I.2 Tujuan dan Kegunaan Uji CBR ............................................................ 3
I.3 Lapisan Pengerasan Tanah untuk Jalan ................................................. 3
I.4 Jenis Pengujian CBR ............................................................................. 4
BAB II Pengujian CBR di Laboratorium
II.1 Peralatan Uji CBR................................................................................ 6
II.2 Prosedur Pengujian CBR ..................................................................... 7
Daftar Pustaka ..................................................................................................... iv

ii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Rating CBR dan Kegunaannya ........................................................ 1
Gambar 1.2 Lapisan Pengerasan Tanah ............................................................... 3
Gambar 1.3 CBR Masing-masing Material ......................................................... 4
Gambar 1.4 Alat CBR di Laboratorium ............................................................... 5
Gambar 1.5 Alat CBR di Lapangan ..................................................................... 5
Gambar 2.1 Mesin Penetrasi pada Uji CBR ......................................................... 6

iii
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Definisi Umum CBR (California Bearimg Ratio)
CBR merupakan suatu perbandingan antara beban percobaan (test load)
dengan beban Standar (Standard Load) dan dinyatakan dalam persentase.
Metoda ini awalnya diciptakan oleh O.J poter kemudian di kembangkan oleh
California State Highway Departement, kemudian dikembangkan dan
dimodifikasi oleh Corps insinyur-isinyur tentara Amerika Serikat (U.S Army
Corps of Engineers). Metode ini menkombinasikan percobaan pembebanan
penetrasi di Laboratorium atau di Lapangan dengan rencana Empiris untuk
menentukan tebal lapisan perkerasan. Hal ini digunakan sebagai metode
perencanaan perkerasan lentur (flexible pavement) suatu jalan. Tebal suatu
bagian perkerasan ditentukan oleh nilai CBR.
Lapisan tanah yang akan dipakai sebagai lapisan sub-base atau sub-grade
suatu konstruksi jalan pada umumnya memerlukan proses pemadatan agar
mampu menerima beban sesuai dengan yang direncanakan. Salah satu cara
untuk mengukur kekokohan (bearing) lapisan tanah adalah pengujian
California Bearing Ratio (CBR).

Gambar 1.1 Rating CBR dan Kegunaannya


Prinsip dasar dari pengujian CBR adalah membandingkan besarnya
beban (gaya) yang diperlukan untuk menekan torak dengan luas penampang 3
inch ke dalam lapisan perkerasan sedalam 0.1 inch (2.54 mm) atau 0.2 inch
(5.08 mm) dengan beban standar. Oleh karena itu, kekokohan lapisan
perkerasan dinyatakan dalam kekokohan relatif atau persen kekokohan.
Besarnya beban standar untuk penetrasi 0.1 inch adalah 3000 lbs (pound) atau

1
sekitar 1350 kg, sedangkan besarnya beban standar untuk penetrasi 0.2 inch
adalah 4500 lbs atau sekitar 2025 kg. Satu hal yang perlu diingat bahwa
pengujian CBR hanya mengukur kekokohan relatif dari lapisan permukaan
tanah, karena diameter penampang torak yang dipergunakan hanya sekitar 4.96
cm, sehingga daerah (volume) lapisan tanah di bawah torak yang terpengaruh
tekanan (stress bulb) hanya di permukaan.
CBR ini pula dapat diartikan sebagai perbandingan yang dapat
menentukan kekuatan dari suatu tanah terhadap batuan sebagai material
standar. Kekuatan tanah dasar tentu banyak tergantung pada kadar airnya.
Semakin tinggi kadar air yang dimiliki sebuah tanah, maka semakin kecil
kekuatan CBR dari tanah tersebut.
Meskipun demikian, hal itu tidak berarti bahwa sebaiknya tanah dasar di
padatkan dengan kadar air rendah untuk mendapatkan sebuah nilai CBR yang
tinggi, karena kadar air tidak konstan pada nilai rendah itu. Setelah pembuatan
jalan, maka air akan dapat meresap kedalam tanah dasar sehingga kekuatan
CBR turun sampai kadar air mencapai nilai yang constant. Kadar air yang
constant inilah yang disebut kadar air keseimbangan. Batas-batas kadar air dan
berat isi kering dapat ditentukan dari hasil percobaan laboratorium, yaitu
percobaan pemadatan dan CBR.
Metode ini mengombinasikan percobaan pembebanan penetrasi di
Laboratorium atau di Lapangan dengan rencana Empiris untuk menentukan
tebal lapisan perkerasan. Hal ini digunakan sebagai metode perencanaan
perkerasan lentur (flexible pavement) suatu jalan. Tebal suatu bagian
perkerasan ditentukan oleh nilai CBR. Karena kerkerasan jalan harus
memenuhi 2 syarat, yaitu:
1. Secara keseluruhan perkerasan jalan harus cukup kuat untuk memikul berat
kendaraan-kendaraan yang akan memakainya.
2. Permukaan jalan harus dapat menahan gaya gesekan dan keausan dari roda-
roda kendaraan, juga terhadap pengaruh air dan hujan.

2
I.2 Tujuan dan Kegunaan
Pengujian CBR bertujuan untuk menentukan kekokohan permukaan
lapisan tanah yang umumnya akan dipakai sebagai sub-base (urugan) atau sub-
grade (lapisan tanah dasar) konstruksi jalan. Nilai CBR dikembangkan untuk
mengukur kapasitas daya dukung beban tanah yang digunakan sebagai jalan.
CBR juga dapat digunakan untuk mengukur kapasitas daya dukung beban
perkerasan jalan. Semakin keras suatu material, semakin tinggi rating CBR.
Tanah pertanian umumnya mempunyai nilai CBR sekitar 3, tanah lempung
basah mempunyai nilai CBR 4.75, pasir lembab memiliki CBR10, aggregat
memiliki CBR lebih dari 80.
I.3 Lapisan Pengerasan Tanah untuk Jalan
Lapisan Pengerasan Tanah dibagi menjadi 4 yaitu:
Lapisan Tanah Dasar (Subgrade), Lapisan tanah dasar adalah lapisan tanah
yang berfungsi sebagai tempat perletakan lapis perkerasan dan mendukung
konstruksi perkerasan jalan diatasnya.
Lapisan Pondasi Bawah (Subbase Course), Lapis pondasi bawah adalah
lapisan perkerasan yang terletak di atas lapisan tanah dasar dan di bawah
lapis pondasi atas.
Lapisan pondasi atas (base course), Lapisan pondasi atas adalah lapisan
perkerasan yang terletak di antara lapis pondasi bawah dan lapis
permukaan.
Lapisan Permukaan (Surface Course), Lapisan permukaan adalah lapisan
yang bersentuhan langsung dengan beban roda kendaraan.

Gambar 1.2 Lapisan Pengerasan Tanah

3
Gambar 1.3 CBR masing-masing material
I.4 Jenis Pengujian CBR
Uji CBR (California Bearing Ratio) terbagi menjadi dua, yaitu uji CBR di
laboratorium dan uji CBR di lapangan.
1. Uji CBR Laboratorium
Pengujian ini dimaksudkan untuk menentukan CBR (California
Bearing Ratio) tanah dacampuran tanah agregat yang dipadatkan di
laboratorium pada kadar air tertentu. CBR laboratorium ialah
perbandingan antara beban penetrasi suatu bahan terhadap bahan standar
dengan kedalaman dan kecepatan penetrasi yang sama. CBR
laboratorium dapat dibedakan atas 2 macam yaitu :
a. CBR laboratorium rendaman (soaked design CBR)
b. CBR laboratorium tanpa rendaman (Unsoaked Design CBR)
Pada pengujian CBR laboratorium rendaman pelaksanaannya lebih
sulit karena membutuhkan waktu dan biaya relatif lebih besar
dibandingkan CBR laboratorium tanpa rendaman. Sedang dari hasil
pengujian CBR laboratorium tanpa rendaman sejauh ini selalu
menghasilkan daya dukung tanah lebih besar dibandingkan dengan CBR
laboratorium rendaman.

4
Gambar 1.4 Alat CBR di Laboratorium
2. Uji CBR di Lapangan
CBR (California Bearing Ratio) adalah perbandingan antara beban
penetrasi suatu lapisan tanah atau perkerasan terhadap bahan standar
dengan kedalaman dan kecepatan penetrasi yang sama. Pelaksanaan
pengujian CBR Lapangan diatur dalam SNI 1738-2011 (Cara Uji CBR
Lapangan).

Gambar 1.5 Alat CBR di Lapangan

5
BAB II
PENGUJIAN CBR DI LABORATORIUM

II.1 Peralatan Uji CBR


a. Mesin penetrasi (loading machine) yang berkapasitas minimum 4,45 ton
dengan kecepatan penetrasi sebesar 1,27 mm permenit.

Batang Mesin
Penetrasi
Cincin Penguji

Gambar 2.1 Mesin Penetrasi


b. Mold / cetakan logam berbentuk silinder dengan diameter dalam 154,4
0,669 mm dengan tinggi 177,8 0,13 mm. Cetakan harus dilengkapi
dengan leher sambung dengan tinggi 50,8 mm dan keeping atas logam yang
berlubang dengan tebal 9,35 mm, diameter lubang tidak lebih dari 1,59 mm.
c. Piringan pemisah dari logam dengan diameter 150,3 dan tebal 61,4 mm.
d. Alat pengukur pengembangan yang terdiri dari keping pengembangan
yang berlubang dengan batang pengukur tripot logam, dan arloji penunjuk.
e. Keping beban dengan berat 2,27 kg, diameter 194,2 mm dengan lubang
tengah berdiameter 54,0 mm.
f. Torak penetrasi dari logam berdiameter 49,5 mm, luas 1935 mm dan
panjang tidak kurang dari 101,6 mm.
g. Satu buah arloji beban dan satu buah arloji pengukur penetrasi
h. Timbangan dengan ketelitian 5 gram
i. Talam, alat perata,bak perendaman.

6
II.2 Prosedur Pengujian CBR
Ada dua macam pengujian CBR di laboratorium, yaitu pengujian kering
(unsoaked) dan pengujian basah (soaked).
a. Pengujian Kering (unsoaked)
1. Menentukan berat volume kering ( dry) maksimum dan kadar air
optimum contoh tanah, yang diperoleh dari pengujian standard proctor
atau modified proctor.
2. Menimbang berat tabung (mold) CBR, tanpa alas dan colar.
3. Menyiapkan contoh tanah yang akan diuji kekokohannya dan
mengeringkan di dalam oven selama 24 jam.
4. Mengeluarkan contoh tanah dari oven, biarkna hingga dingin,
kemudian tambahkan air sampai kadar air optimum dan aduk merata.
5. Memasukkan tanah secukupnya ke dalam silinder CBR yang talah
dipasang colar, sehingga volume tanah setelah ditumbuk kira-kira
tinggal 1/5 volume tabung.
6. Menumbuk tanah di dalam tabung secara merata sebanyak 56 kali
dengan memakai penumbuk (rammer) seberat 10lbs (sekitar 4,5kg)
yang dijatuhkan dari ketinggian 45cm atau 18 inchi.
7. Mengulangi langkah 5 dan 6 sebanyak 5 kali sampai tanah dalam
tabung penuh dan permukaannya rata.
8. Meletakkan beban standard seberat 10lbs (berupa lempengan logam
yang berlubang ditengahnya) diatas permukaan tanah di dalam tabung
CBR.
9. Meletakkan tabung yang berisi tabung dan beban standard pada mesin
penekan, dan atur ketinggian agar torak penenkan yang mempunyai
luas penampang 3inch (diameter 4,96cm) melewati lubang beban dan
duduk tepat diatas permukaan contoh tanah.
10. Memasang dan mengatur dial penurunan agar jarum penunjuk
penurunan tepat pada posisi nol.
11. Menjalankan mesin penekan dengan kecepatan 0.05 inch per menit.

7
12. Melakukan pembacaan atu pencatatan gaya yang terjadi setiap 0.025
inch.
13. Gambarkan grafik hubungan antara penetrasi dan gaya tekan yang
terjadi, seperti contoh pada Gambar 7.5
14. Hitung kekokohan tanah dengan perumusan
Gaya pada penetrasi 0.1" [lbs]
CBR 0.1 = 100% .................................... (3.1)
1000 [lbs]

Atau dengan perumusan


Gaya pada penetrasi 0.2" [lbs]
CBR 0.2 = 100% ................................... (3.2)
1500 [lbs]

b. Pengujian Basah (soaked)


1. Tentukan berat-volume kering (dry) maksimum dan kadar air
optimum contoh tanah, yang diperoleh dari pengujian Standard Proctor
atau Modified Proctor
2. Timbang berat tabung (mold) CBR, tanpa alas dan collar
3. Siapkan contoh tanah yang akan diuji kekokohannya dan keringkan
didalam oven selama 24 jam.
4. Keluarkan contoh tanah dari oven, biarkan hingga dingin, kemudian
tambahkan air sampai kadar air optimum dan aduk sampai rata
5. Masukkan tanah secukupnya ke dalam tabung silinder CBR yang telah
dipasang collar, sehingga volume tanah setelah ditumbuk kira-kira
tinggal 1/5 volume tabung.
6. Tumbuk tanah di dalam tabung secara merata sebanyak 56 kali dengan
memakai penumbuk (rammer) seberat 10 lbs (sekitar 4.5 kg) yang
dijatuhkan dari ketinggian 45 cm (18 inch)
7. Ulangi langkah 5 dan 6 sebanyak 5 kali sampai tanah di dalam tabung
penuh dan permukaannya rata.
8. Taruh beban standar seberat 10 lbs (berupa lempengan logam yang
berlubang di tengahnya) diatas permukaan tanah didalam tabung CBR.
9. Rendam tanah dan tabung CBR di dalam air selama 4 hari (96 jam)

8
10. Apabila diperlukan, pengembangan tanah di dalm tabung (swelling)
dapat diukur dengan memasang dial penurunan pada permukaan
contoh tanah
11. Angkat tabung-tabung yang berisi tanah dari dalam air dan tiriskan
selama kurang lebih 15 menit
12. Letakkan tabung yang berisi tanah dan beban standar pada mesin
penekan, dan atur ketinggian agar torak penekan yang mempunyai luas
penampang 3 inch2 ( diamater 4,96 cm ) melewati lubang beban standar
dan duduk tepat di atas permukaan contoh tanah
13. Pasang dan atur dial penurunan agar jarum penunjuk penurunan tepat
pada posisi nol.
14. Jalankan mesin penekan dengan kecepatan 0,05 inch per menit.
Lakukan pembacaan ( pencatatan ) gaya yang terjadi setiap penetrasi
0,025 inch.
15. Gambarkan grafik hubungan antara penetrasi dan gaya tekan yang
terjadi.
16. Hitung kekokohan tanah dengan perumusan :
0,1" []
CBR0,1 = x 100 %
1000 []

atau dengan perumusan :


0,2" []
CBR0,2 = x 100 %
1500 []

9
DAFTAR PUSTAKA
Badan Standar Nasional. 2011. Cara Uji CBR (California Bearing Ratio). Jakarta :
Badan Standar Nasional.
Budi, Gogot Setyo. 2011. Pengujian Tanah di Laboratorium. Yogyakarta : Graha
Ilmu.

iv