You are on page 1of 7

Artikel Penelitian

Kebijakan Pemerintah dalam Pengelolaan Sampah


Domestik

Government Policy in Domestic Waste Management

Surahma Asti Mulasari* Adi Heru Husodo** Noeng Muhadjir***

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan, **Jurusan Ilmu Kedokteran Klinik Fakultas Kedok-
teran Universitas Gadjah Mada,***Universitas Negeri Yogyakarta

Abstrak quality and community impact of the waste management, and the methods
Sampah berpotensi menciptakan masalah kesehatan lingkungan. Peme- of monitoring and managing waste in DIY. This research was a qualitative
rintah mengupayakan berbagai kebijakan pengelolaan sampah seperti case study design. The phenomenon in this research was the waste ma-
pelayanan sampah dan memberdayakan masyarakat untuk mengelola nagement policy in DIY. Waste problem in the province DIY was the district
sampah secara mandiri. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kebi- service coverage which was still very low, except for the city of Yogyakarta
jakan pemerintah dalam mengelola sampah domestik di Daerah Istimewa (90%). The waste transported to landfill was still low compared to the vo-
Yogyakarta (DIY), perubahan kualitas lingkungan dan masyarakat akibat lume of waste generated. The policy in DIY for waste management was that
kebijakan pengelolaan sampah, dan untuk mengetahui metode peman- in all districts/cities in DIY there had been units formed, responsible for
tauan dan pengelolaan sampah yang ada di DIY. Jenis penelitian ini adalah managing waste. The changes in the quality of environment and communi-
kualitatif dengan rancangan studi kasus. Fenomena yang menjadi studi ty were that the environment and roads are getting clean, beautiful, and
dalam penelitian ini adalah kebijakan pengelolaan sampah di DIY. Per- comfortable. The methods for monitoring and evaluation of waste manage-
masalahan sampah yang ada di DIY adalah cakupan pelayanan pemerin- ment policy in the province had not been set forth in the standard procedure.
tah kabupaten yang masih sangat rendah, kecuali Kota Yogyakarta (90%). Waste problem had been a concern for local government of DIY. The poli-
Sampah terangkut ke tempat pembuangan akhir masih rendah diban- cy had been supported by the service program, project, regulatory, and
dingkan volume sampah yang dihasilkan. Kebijakan untuk pengelolaan special incentives for waste management.
sampah adalah di seluruh kabupaten/kota DIY telah terbentuk badan/unit Keywords: Policy, local government, waste
yang bertanggung jawab mengelola sampah. Perubahan kualitas lingkun-
gan dan masyarakat adalah lingkungan dan jalan menjadi bersih, asri, dan
nyaman. Metode pemantauan dan evaluasi kebijakan pengelolaan sampah Pendahuluan
di DIY belum dituangkan dalam prosedur baku. Permasalahan sampah su- Sampah kota diartikan sebagai sampah yang dibuang
dah menjadi perhatian bagi pemerintah daerah DIY. Kebijakan telah oleh masyarakat kota. Permasalahan sampah kota adalah
didukung dengan program layanan, proyek, regulasi, dan insentif khusus volume sampah besar dan melebihi daya tampung tempat
untuk pengelolaan sampah. pembuangan akhir (TPA).1 Lahan TPA semakin sempit,
Kata kunci: Kebijakan, pemerintah daerah, sampah faktor jarak mengakibatkan mengangkut sampah kurang
efektif, teknologi pengolahan sampah tidak optimal, ter-
Abstract batasnya tempat penampungan sampah sementara (TPS),
Waste had great potential in creating environmental health issues. The go- kurangnya sosialisasi dan dukungan pemerintah menge-
vernment had tried various ways of waste management policy such as nai pengelolaan sampah, minimnya edukasi dan manaje-
waste management services and people empowerment to manage their men diri mengenai pengeolahan sampah, dan manajemen
waste independently. The objectives of this study is to observe the problem
of garbage in the Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), the Governments Alamat Korespondensi: Surahma Asti Mulasari, FKM Universitas Ahmad
policy in managing domestic waste in DIY, the changes in environmental
Dahlan, Jl. Prof. Dr. Soepomo S.H. Janturan Warungboto Yogyakarta 55164,
Hp. 08164222647, e-mail: rahmasti_fkmuad@yahoo.com

404
Mulasari, Husodo & Muhadjir, Kebijakan Pemerintah dalam Pengelolaan Sampah Domestik

sampah tidak efektif.2 sampah domestik yang dilakukan lima kabupaten/kota


Sampah berdampak pada kesehatan, lingkungan dan di DIY, mengetahui perubahan kualitas lingkungan dan
sosial ekonomi.3 Sampah menjadi tempat pembiakan masyarakat akibat kebijakan pengelolaan sampah terse-
lalat dan disenangi tikus sehingga mendorong penularan but, dan untuk mengetahui metode pemantauan dan
infeksi. Sampah menurunkan kualitas lingkungan, esteti- pengelolaan sampah yang ada di lima kabupaten/kota di
ka terganggu karena bau dan berserakan.4 Pembuangan DIY.
sampah ke badan air mengakibatkan banjir dan
meningkatkan biaya pengelolaan air. Sampah berdampak Metode
pada perkembangan pariwisata.3 Persoalan sampah da- Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan rancangan
pat menghambat perkembangan otonomi daerah dan me- studi kasus. Penelitian ini memberi pengetahuan terjadi-
ngurangi arus investor.5 nya fenomena pada individual, organisasi, sosial dan poli-
Pengelolaan sampah perkotaan dilakukan dengan dua tik. Konsep triangulasi dipergunakan untuk menanggapi
sistem, yaitu sentralisasi dan desentralisasi.6 Pengelolaan secara positif kelemahan yang ada, menggunakan metode
sampah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ditangani se- dan sumber data secara berganda.
bagian besar oleh pemerintah secara sentralisasi. Lokasi penelitian di DIY meliputi satu Kotamadya
Pengelolaan tersebut mulai dari penarikan retribusi, Yogyakarta, empat kabupaten yaitu Bantul, Sleman,
pengumpulan dari sumber, pengumpulan di TPS, dan Kulon Progo, dan Gunung Kidul. Responden penelitian
pengakutan ke TPA. ini adalah staf Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota
Pengolahan sampah di Jakarta masih mengandalkan Yogyakarta, BLH Kabupaten Bantul, Dinas Pekerjaan
peran pemerintah. Petugas kebersihan mengambil sam- Umum (DPU) Bantul, KLH Sleman dan Kulon Progo,
pah dari penduduk dan membawa sampah ke TPS untuk DPU Kulon Progo, Dinas Pekerjaan Umum Unit
diangkut ke TPA oleh dinas kebersihan. Persentasi mas- Pelaksana Teknis (DPU UPT) Kebersihan dan Per-
yarakat yang dilayani di Jakarta masih sangat tinggi, ber- tamanan Gunung Kidul, masyarakat pengelola sampah
arti peran serta masyarakat masih rendah. Di Jakarta mandiri dari Sukunan Sleman, Kelurahan Bener Yogya-
mulai dilakukan pemberdayaan masyarakat dalam karta, Badekan Bantul, masyarakat umum di Kulon Progo
mengelola sampah untuk mengatasi sampah.7 Kota dan Gunung Kidul.
Surabaya menghasilkan sampah 2.177 ton per hari, yang Analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan dan
masuk TPA 1.480 ton per hari. Lainnya dikomposkan di menyajikannya dalam bentuk teknik penjelasan (expla-
sepuluh sentra pengomposan komunal milik Dinas nation-building). Semua sumber diperiksa dan dievaluasi
Kebersihan dan Pertanaman (DKP), 13 kelurahan bersama sehingga merupakan gabungan informasi dari
pengomposan rumah tangga, dan dibakar dalam sepuluh berbagai jenis bukti-dokumen, peralatan, wawancara dan
unit insenerator mini yang tersebar di wilayah kota. observasi. Analisis data dilakukan dengan analisis trans-
Pemerintah Daerah Surabaya melibatkan pemerintah, krip.10
swasta, dan masyarakat dalam mengelola sampah.8 Di
Kota Bandung, tanggung jawab pengelolaan sampah Hasil
dibagi menjadi dua, yaitu pengangkutan dari rumah ke Sampah di DIY belum menjadi prioritas seperti hal-
TPS menjadi tanggung jawab masyarakat sedangkan nya sampah di beberapa kota besar. Permasalahan sam-
dari TPS ke TPA menjadi tanggung jawab pemerintah. pah yang ada di kabupaten/kota di DIY berdasarkan hasil
Pengelolaan di Bandung belum baik ditandai dengan studi pendahuluan (Tabel 1). Cakupan pelayanan terbaik
banyaknya sampah yang tidak terangkut dari TPS dan ada di Kota Yogyakarta yaitu dapat melayani 90 persen
yang menumpuk di beberapa bagian kota. Pem- daerah. Demikian halnya untuk sampah yang terangkut
berdayaan masyarakat mulai digalakkan untuk meng- ke TPA paling banyak adalah Kota Yogyakarta (34,89%),
atasi sampah.9 sedangkan terendah berada di Kabupaten Bantul
Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul menggunakan (1,91%).
TPA Piyungan. TPA Piyungan berada di Bantul, tetapi Dari Tabel 2, dapat dilihat bahwa badan pelaksana
justru Bantul memberikan kontribusi sampah paling ren- untuk pengelolaan sampah yang dilakukan di lima kabu-
dah dibandingkan dengan Kota Yogyakarta dan Sleman paten/kota di DIY yaitu Kota Yogyakarta, Kabupaten
karena sebagian Bantul merupakan perdesaan dan memi- Bantul, Kabupaten Sleman, Kabupaten Kulon Progo, dan
liki lahan kosong yang luas. Secara garis besar, pemerin- kabupaten Gunung Kidul. Regulasi sebagai dasar hukum
tah DIY belum mengalami kendala pengelolaan sampah, pelaksanaan pengelolaan sampah bervariasi, tetapi semua
akan tetapi perlu dikaji lebih jauh tentang kemungkinan berproses berdasarkan aturan yang ada, baik itu aturan
timbulnya permasalahan sampah dikemudian hari. yang bersifat nasional ataupun lokal daerah. Program
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kegiatan pe-
perbedaan kebijakan pemerintah dalam pengelolaan layanan yang dilakukan oleh Pemerintah daerah untuk

405
Kesmas, Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 8, No. 8, Mei 2014

Tabel 1. Permasalahan Sampah

Volume Sampah
Kabupaten Jumlah Penduduk Volume Sampah Berdasarkan Penduduk Terlayani Sampah Terangkut Sampah Terangkut TPSA
(m3/hari) Jumlah Penduduk (%) (m3/ hari) (%)
(m3/hari)

Yogyakarta 541.250 320 487,125 90 170 34,89 Piyungan


Sleman 850.176 2.917.75 2.125,44 9,6 280 13,17 Piyungan
Bantul 1.020.363 2.550,91 2.550,9075 1,9 48,73 1,91 Piyungan
Kulon Progo 388.755 70 971,8875 7,2 70 7,20 Banyuroto
Gunung Kidul 424.348 334,17 1.060,87 17 57 5,37 Baleharjo

Keterangan : Diselaraskan dengan teori bahwa sampah yang dihasilkan per orang adalah 2,5 liter/org/hari

Tabel 2. Kebijakan Pengelolaan Sampah

Kabupaten/Kota Badan Pelaksana Regulasi Program Kebijakan Proyek Insentif

Yogyakarta Badan UU No.18 Tahun 2008 Pengumpulan dan Komposting, Dana stimulan 2 juta,
Lingkungan Perda Kota Yogyakarta pengangkutan sampah daur ulang plastik, Lomba dengan pemenang
Hidup No.18 Tahun 2002 bank sampah, Rp15 juta, tanaman, dan
faskel, mesin pencacah,
jejaring pengepul Honor sosialisasi
Kota Yogyakarta Pembagian bak takakura
(14.750 keranjang takaku-
ra untuk 14 kelurahan)
Bantul Badan UU No.18 Tahun 2008, Pengumpulan dan Pengomposan, Gerobak, tong sampah,
Lingkungan Permendagri No.33 pengangkutan sampah, bank sampah, 3R, komposter, mesin jahit,
Hidup, Tahun 2010, jejaring pengelolahan jejaring pengelola sampah mesin pencacah sampah
Dinas Perda Kabupaten Bantul sampah mandiri mandiri organik, dan mesin pen-
Pekerjaan No.15 Tahun 2011 cacah sampah plastik,
Umum mengikutsertakan komu-
nitas pada kompetisi
tingkat nasional
Sleman KLH Perda Kabupaten Sleman Pengumpulan dan Pengomposan, Reward perlombaan,
No 14 Tahun 2007, pengangkutan sampah daur ulang, dan keringanan retribusi
Perda Kabupaten Sleman daerah swakelola sampah untuk pengurangan
No. 13 Tahun 2011 residu, dan B3 rumah
tangga
Kulon Progo Dinas PU oleh UU No.18 Tahun 2008, Pengumpulan dan Mobil Hijau KLH, 3R, Penghargaan terhadap
UPTD kebersihan UU No. 32 Tahun 2009, pengangkutan sampah, dan kegiatan pemilahan program pengelolaan
dan pertanaman, Perda Kabupaten mobil hijau sampah sampah
Dinas KLH Daerah Tingkat II
No.08 tahun1991,
Peraturan Bupati
Kulon Progo No.17
Tahun 2005, Instruksi
Bupati KP No. 03
Tahun 2010
Gunung Kidul DPU UPT UU No.18 Tahun 2008 Pengumpulan dan Program peran serta Pemberian sarana dan
Kebersihan dan pengangkutan sampah masyarakat, yaitu prasarana
Pertamanan penyuluhan, pembinaan,
pelatihan, penyediaan
sarana prasarana, gotong
royong, dan 3R

pengelolaan sampah. diperoleh masyarakat ketika mau mengelola sampah


Dampak kebijakan pengelolaan sampah pada peruba- secara mandiri.
han kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat di Pemantauan yang dilakukan berbeda antara lima
lima kabupaten/kota di DIY relatif sama, yaitu bersih, as- daerah kabupaten/kota di DIY. Pemantauan kegiatan
ri, dan nyaman. Pemerintah lewat kebijakannya men- dilakukan untuk tujuan yang sama yaitu memastikan
dorong keterlibatan aktif masyarakat dalam mengelola kebijakan berjalan dengan baik, akuntabilitas, dan
sampah. Hal tersebut diharapkan dapat mengubah peri- transparansi. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk
laku masyarakat sehingga daya dukung lingkungan dapat tanggung jawab pemerintah terhadap masyaraka
terus dirasakan oleh masyarakat. Keuntungan ekonomi (Tabel 3).

406
Mulasari, Husodo & Muhadjir, Kebijakan Pemerintah dalam Pengelolaan Sampah Domestik

tangga.12
Tabel 3. Bukti Pelaporan Kebijakan Pengelolaan Sampah Seluruh wilayah kabupaten kota di DIY telah memi-
Kabupaten/Kota Jenis Pemantauan
liki TPA. Kota Yogyakarta memiliki TPA Piyungan,
Kulon Progo memiliki TPA Banyuroto, dan Gunung
Yogyakarta Pembuatan laporan periodik volume sampah harian Kidul memuliki TPA Baleharjo. TPA disediakan sebagai
Pembuatan profil pengelolaan sampah kota Yogyakarta
Pembuatan profil pengelolaan sampah rumah tangga
sarana mengelola sampah. Ketersediaan TPA merupakan
dengan memilah dan mengolah sampah 3R bukti tanggung jawab pemerintah untuk memberikan
Bantul Laporan periodik per bulan sampah harian pelayanan publik. Walaupun begitu, tetap ada per-
Dokumen/data sekunder Program Pengelolaan Sampah
KLH Bantul dan DPU Bantul, dan Data Pengelolan TPST
masalahan yaitu tidak semua sampah dapat terangkut.
Piyungan Hal ini mungkin karena terbatasnya sarana-prasarana
Sleman Pembuatan profil pengelolaan persampahan seperti TPS, truk sampah, dan jalan yang bisa dilalui.
Data sekunder pengelolaan persampahan dari DPUP
Sleman
Kendala penyediaan layanan publik di antaranya ada-
Kulon Progo Data sekunder KLH dan PU tentang persampahan lah infrastruktur, sumber daya, dan kerangka kelemba-
Ada review rencana strategis (renstra) KLH Kabupaten gaan pelayanan publik. Meningkatkan pelayanan publik
Kulon Progo
Gunung Kidul Data Sekunder DPU UPT Kebersihan dan Pertamanan
seringkali merupakan permasalahan manajemen diban-
Dokumen Masterplan persampahan dan DED TPA Gunung dingkan masalah teknis atau keuangan. Permasalahan
Kidul adanya TPA, yaitu daerah tersebut banyak mengalami
pencemaran air, tanah, ataupun udara. Sampah yang
Pembahasan dibuang ke TPA sebagian besar berasal dari wilayah per-
Analisis Profil Persampahan di DIY kotaan. Sampah perkotaan lebih banyak dalam volume
TPA terbesar di DIY adalah TPA Piyungan yang se- dan kandungan bahan berbahaya yang berpotensi mence-
tiap harinya dijadikan tempat akhir puluhan truk sampah mari lingkungan sekitar TPA.
yang beroperasi di tiga daerah (Kota Yogyakarta, Sle- Lahan TPA semakin terbatas akibat penduduk sekitar
man, dan Bantul). Pengoperasian TPA Piyungan di menolak kehadiran TPA karena metode open dumping
bawah pengawasan Sekretariat Bersama Yogyakarta, mengakibatkan pencemaran air permukaan dan air tanah
Sleman, dan Bantul (Sekber Kartamantul). Sampah yang (dari air lindi), udara (bau dan asap), serta tanah (sam-
dibuang ke TPA lebih sedikit secara persentase bila pah dan air lindi) dan menjadi sarang penyakit.13
dibandingkan jumlah sampah yang dihasilkan penduduk Di TPA Piyungan banyak ditemukan bahan-bahan
di masing-masing kabupaten kota di DIY. Hal tersebut berbahaya yang dibuang seperti aki, batu baterai, serta
dikarenakan keadaan geografis mereka yang masih seba- pecahan lampu tubular lamps (TL) bekas. Bahan terse-
gian berupa perdasaan dengan jumlah lahan yang masih but mengandung unsur timbal (Pb) yang berbahaya bagi
luas, serta akses yang jauh dari fasilitas pengelolaan sam- manusia.14 Sampah di TPA sebagian besar berasal dari
pah pemerintah daerah (pemda). Perdesaan tidak terlalu sampah domestik, dan di dalamnya ada bahan berbahaya
merasakan persoalan sampah karena masih ada lahan un- misalnya, seperti deterjen, pemutih, dan minyak
tuk menimbun atau membakar sampah, banyak lahan pelumas.15
kosong untuk membuang sampah, misalnya di sungai, Penerapan program pengelolaan sampah yang dise-
tepi sawah, atau tanah kosong. Hal tersebut diperkuat lenggarakan oleh pemda di Kabupaten Bantul, Sleman,
oleh Sucipto,6 yang menyatakan di desa jumlah sampah Kulon Progo dan Gunung Kidul belum dapat mencakup
masih sedikit dan jenisnya pun tidak bervariasi sehingga seluruh wilayah. Program hanya dapat menjangkau di
alam masih dapat mengatasinya. sekitar ibu kota kabupaten, hanya wilayah Kota Yogya-
Faktor-faktor yang memengaruhi permasalahan sam- karta yang program pengelolaan sampah mandiri dapat
pah di DIY diantaranya adalah perilaku sadar lingkungan menjangkau seluruh wilayah. Hal ini disebabkan oleh ter-
dan masalah ekonomi (retribusi). Tingkat pengetahuan batasnya akses layanan, kesediaan SDM, dan luasnya
dan sikap masyarakat tentang pengelolaan sampah di wilayah. Daerah perkotaan menjadi prioritas utama dari
daerah pedesaan kemungkinan masih rendah sehingga program. Tidak semua desa atau kelompok dalam
memengaruhi perilaku sadar lingkungan. masyarakat terjangkau program pengelolaan sampah pe-
Perbandingan dapat dilakukan dengan hasil peneliti- merintah. Keaktifan dari wilayah/kelompok masyarakat
an Dusun Pedukuhan Desa Sidokarto Godean Sleman desa memegang peranan penting dalam keikutsertaan
Yogyakarta yang masyarakatnya (54,5%) memiliki sikap program.
yang tidak baik dalam mengolah sampah. Sampah di- Akses informasi pada tindakan dan kinerja pemerin-
bakar sehingga mengakibatkan pencemaran lingkung- tah merupakan hal yang penting sebagai media promosi
an.11 Penelitian di Kecamatan Daha Selatan menyebut- bagi akuntabilitas pemerintah. Akses merupakan salah
kan pula bahwa tingkat pendidikan dan pengetahuan satu komponen penting dalam keberhasilan partisipasi
berkorelasi positif dengan pengelolaan sampah rumah masyarakat. Masyarakat dengan akses informasi menjadi

407
Kesmas, Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 8, No. 8, Mei 2014

lebih mudah mengikuti kebijakan publik.16 serta menimbulkan harapan. Dengan kemampuan ini
Tantangan penerapan program pengelolaan sampah pula seseorang dapat mengubah kepercayaan, nilai-nilai,
di daerah perkotaan adalah sifat masyarakat cenderung pendapat, sikap, dan perilaku orang lain.18
individual, bersifat ekonomis, dan sulit untuk menerima Walaupun pembuatan keputusan dilakukan bersama,
program baru. Masyarakat perkotaan cenderung bersifat pengaruh pemimpin seringkali masih sangat besar. Ketua
kritis dan realistis sehingga dibutuhkan proses sosialisasi dapat menyatakan pilihannya secara langsung (terbuka),
yang baik dan bekelanjutan. Masyarakat perkotaan harus bahkan mengarahkan anggotanya maupun secara tidak
diberi pemahaman tentang keuntungan, efektivitas, dan langsung, dan para pengikut setianya akan mengikuti
efisiensi dari program pengolahan sampah agar dapat pilihan ketua serta seringkali secara kasat mata agar da-
berpartisipasi. pat dilihat oleh sang ketua.18
Tanpa adanya pemahaman kepada masyarakat,
pengelolaan sampah akan sulit untuk diterapkan karena Kebijakan Pengelolaan Sampah di Kabupaten/Kota DIY
berbagai alasan di antaranya adalah sibuk, tidak ada wak- Dari Tabel 2 diperoleh hasil bahwa badan pelaksana
tu, dan banyak alasan yang lainnya.17 Sebagian besar untuk pengelolaan sampah tiap kabupaten dan kota
pengelola kota/kawasan masih menggunakan cara memiliki perbedaan. Pada awalnya, permasalahan sam-
berpikir desa yang menganggap alam masih dapat pah di DIY memang dikelola oleh DPU yang memiliki
menangani permasalahan sampah dengan sendirinya.6 sarana prasarana untuk pengelolaan sampah. Sejalan
Keberlangsungan program pengelolaan sampah tergan- dengan perkembangan organisasi pada pemerintah dan
tung dari kesadaran masyarakat untuk bergerak. Tanpa hubungan sampah dengan lingkungan hidup, dibentuk-
kesepakatan pimpinan bersama masyarakat, kebijakan lah suatu badan yang dikhususkan untuk mengelola
pengelolaan sampah tidak mungkin terlaksana. Ke- lingkungan. Pada prinsipnya, pengelolaan sampah perko-
bijakan pengelolaan sampah akan berhasil apabila terda- taan dapat dilakukan oleh unit atau badan apapun
pat kepemimpinan yang baik, serta didukung penuh oleh asalkan terdapat pembagian kerja, program, dan standar
pemuka masyarakat, visi, misi dan tujuan organisasi yang operasional prosedur (SOP) yang jelas. Hal yang ter-
jelas. penting adalah tujuan dari pengelolaan sampah tercapai.
Pengelolaan sampah bertujuan menciptakan ling- Di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, Bantul,
kungan dan masyarakat yang sehat, maka faktor utama Kulon Progo, dan Gunung Kidul juga menunjuk dinas
yang harus diperhatikan adalah peran serta masyarakat. tertentu untuk bertanggung jawab terhadap pengelolaan
Peran serta masyarakat merupakan aspek penting dalam sampah. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang di-
melaksanakan pengelolaan sampah. Mengubah perilaku lakukan di Kota Samarinda bahwa penanganan sampah
masyarakat merupakan hal yang cukup sulit, tetapi de- domestik umumnya ditangani oleh pemerintah di tingkat
ngan pembinaan terus hasil akan diperoleh.12 Inisiator provinsi maupun tingkat pemerintah kota/kabupaten.
atau stimulator dibutuhkan dalam membentuk organ- Untuk menangani sampah di Kota Samarinda, dibentuk
isasi/kelompok. Memperkenalkan gagasan dan norma Dinas Kebersihan dan Pertamanan.19
baru memerlukan kewibawaan tersendiri, untuk men- Regulasi sebagai dasar kegiatan pelayanan yang di-
jamin berhasilnya sesuatu kegiatan baru serta pembagian berikan oleh pemerintah kepada masyarakat tentang pe-
hak dan kewajiban yang adil.13 Organisasi membu- ngelolaan sampah diwujudkan dalam bentuk peraturan
tuhkan seorang pemimpin dalam menjalankan kegiat- perundangan di setiap kabupaten kota di DIY. Regulasi
annya. tersebut sebagai dasar hukum pelaksanaan kegiatan dan
Pemimpin yang baik akan dipatuhi anggotanya kare- berperan sebagai aturan yang harus ditaati oleh masya-
na rasa hormat dan loyalitas bawahan, demikian pula rakat. Penegakan hukum (law enforcement) dikatakan
pada organisasi sosial kemasyarakatan. Hal ini karena sebagai salah satu upaya peningkatan partisipasi. Kesa-
sifat kegiatannya merupakan sukarela, tidak bergaji, dan daran masyarakat terhadap regulasi akan sangat mem-
bersifat sosial. Kesediaan masyarakat perlu ditumbuhkan bantu upaya pengelolaan sampah.19 Penegakan hukum
diantaranya dengan teladan dan motivasi dari pemimpin. menjadi salah satu pembangun budaya sadar lingkungan.
Pemimpin dapat mengarahkan, memengaruhi, dan mene- Budaya tersebut diwujudkan dengan membuat peraturan
tapkan pilihan terhadap suatu program. Program pe- perundangan (regulasi), pembatasan wilayah, dan pem-
ngelolaan sampah mandiri yang diselenggarakan oleh pe- berian kompensasi ekonomi berupa insetif dan disinsen-
merintah daerah tidak akan berhasil terlaksana apabila tif.20
pemerintah tidak dapat melibatkan pemimpin masya- Reward atau insentif dalam penegakan hukum dibu-
rakat setempat. tuhkan. Insentif merupakan motivasi dan pendukung
Kemampuan memengaruhi dipandang sebagai modal profesionalisme dalam bekerja. Hal tersebut perlu men-
utama bagi seseorang (pemimpin) untuk memperoleh ke- dapatkan perhatian apabila menghendaki kerja yang op-
san, rasa hormat, kepatuhan, loyalitas, dan kerja sama, timal dari orang yang bekerja untuk perusahaan tersebut.

408
Mulasari, Husodo & Muhadjir, Kebijakan Pemerintah dalam Pengelolaan Sampah Domestik

Insentif dapat berupa penghargaan ataupun kompensasi jalannya program tentang sampah.
sebagai balasan dalam melakukan sesuatu.21 Akuntabilitas dilaksanakan dengan cara penyusunan
Tiap kota/kabupaten di DIY memiliki program-pro- perencanaan strategis, pelaksanaan kegiatan, pengukuran
gram untuk mengurangi volume sampah ke TPA dan me- kinerja, dan pelaporan.25 Akuntabilitas merupakan per-
rupakan pengelolaan sampah terpadu perkotaan. Proyek wujudan kewajiban instansi pemerintah untuk memper-
pengolahan sampah yang dilakukan oleh kabupaten/ko- tanggungjawabkan keberhasilan ataupun kegagalan pen-
ta di DIY diterapkan dengan konsep tiga R (3R), yaitu re- capaian tujuan dan sasaran organisasi secara periodik.
duce, reuse, recycling. Pengelolaan sampah terpadu dap- Dokumen seperti laporan atau profil tentang persam-
at didefinisikan sebagai pemilihan dan penerapan teknik- pahan di kabupaten/kota DIY telah tersedia dan wajib
teknik, teknologi, dan program-program manajemen.22 dibuat oleh pemda unit khusus masalah persampahan.
Pengelolaan sampah terpadu perkotaan meliputi pen- Monitoring dan evaluasi dibutuhkan dalam kegiatan
gendalian timbulan sampah, pengumpulan sampah, pengelolaan sampah. Hal tersebut berkaitan dengan ke-
transfer dan transport, pengolahan, dan pembuangan berlangsungan program. Apabila pemerintah melalui di-
akhir. Pengelolaan limbah domestik harus dilakukan se- nas terkait terbatas untuk melakukan monitoring dan
cara terpadu oleh semua pihak, pemerintah, masyarakat, evaluasi. Pemerintah dapat menggunakan perpanjangan
lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan perguruan ting- tangan dari pemerintah desa ataupun perangkan desa
gi.10 Konsep 3R merupakan konsep dasar pengelolaan yang lain, bahkan dapat menggandeng organisasi sosial
sampah yang diterapkan di perkotaan, seperti pengolah- ataupun organisasi masyarakat.
an sampah di Kecamatan Klungkang Kebupaten Klung- Sistem monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan di
kang dan dilaksanakan di Kota Samarinda.19,22 Kota Samarida dapat menjadi contoh. Penanganan sam-
pah diperlukan pengawasan yang terus-menerus dan
Dampak Perubahan Kualitas Lingkungan dan Masyarakat dievaluasi terus-menerus, antara lain pengawasan secara
Perilaku bertanggung jawab terhadap lingkungan, intern di dalam rumah tangga ketua RT di wilayahnya
dapat membantu menciptakan kebersihan lingkungan. dengan pengawasan secara langsung, insfeksi rutin oleh
Kebijakan pengelolaan sampah yang diterapkan di DIY lurah, dan dinas keberhasilan mengawasi para petugas
diharapkan dapat mengubah perilaku masyarakat sehing- kebersihan dengan membentuk koordinator lapangan.19
ga daya dukung lingkungan dapat terus dirasakan oleh
masyarakat. Daya dukung lingkungan dipengaruhi oleh Kesimpulan
perilaku manusia. Persamaan dalam pengelolaan sampah di lima kabu-
Dampak dari kebijakan pengelolaan sampah salah paten/kota di DIY adalah kebijakan yang diterapkan di
satunya adalah terjaganya kebersihan lingkungan. Ling- setiap wilayah bervariasi dasar hukumnya. Akan tetapi,
kungan yang bersih akan meningkatkan kesehatan mas- telah ada badan/unit yang bertanggung jawab mengelola
yarakat, meningkatkan kualitas hidup manusia, dan men- sampah dengan berbagai program dan projek yang di-
dukung produktivitas manusia. Pernyataan tersebut jalankan sebagai bentuk pelayanan publik di DIY sesuai
sesuai dengan Sidar,3 bahwa mengelola sampah mem- dengan ketentuan undang-undang persampahan.
bantu meningkatkan perekonomian dan kebersihan ling- Perubahan akibat pengelolaan sampah adalah lingkung-
kungan, serta menghindarkan dari berbagai penyakit. an menjadi bersih, asri, dan nyaman, serta mendatangkan
Dampak pengelolaan sampah bagi komunitas dan pe- manfaat ekonomi. Metode pemantauan dan evaluasi ke-
merintah adalah meningkatkan kualitas lingkungan, per- bijakan pengelolaan sampah di DIY memiliki persamaan
ekonomian, sosial kemasyarakatan, dan budaya ling- di lima kabupaten/kota, yaitu belum dituangkan dalam
kungan. Pengalaman daerah dalam mengelola sampah di prosedur baku tetapi telah memenuhi tanggung jawabnya
antaranya pengelolaan sampah terpadu di Kabupaten dalam akuntabilitas dan transparansi pelayanan publik.
Sragen, Sukunan Bersemi di Banyuraden dan Sleman
Yogyakarta, Tangerang (perumahan Mustika Tigaraksa).24 Saran
Kebijakan pengelolaan sampah di perkotaan dengan
Metode Pemantauan dan Evaluasi Kebijakan Pengelolaan melibatkan masyarakat, badan usaha, atau instansi pe-
Sampah merintah lain perlu dilakukan di daerah sehingga per-
Dari Tabel 3, dapat diketahui bahwa belum ada doku- masalahan sampah dapat dicegah. Kebijakan akan ber-
men laporan pemantauan dan evaluasi kebijakan pen- jalan dengan optimal ketika ada mekanisme monitoring
gelolaan sampah. Akan tetapi, telah ada data-data yang dan evaluasi yang baik dari pihak pemerintah daerah di
secara periodik di-update untuk mengetahui kondisi per- DIY.
sampahan di wilayah masing-masing dan ada beberapa
dokumen lain yang merupakan dokumen pelaporan pro- Daftar Pustaka
gram kerja yang bersisi data dan cerita keberhasilan dan 1. Sudradjat HR. Mengelola sampah kota. Jakarta; Penerbit Penebar

409
Kesmas, Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 8, No. 8, Mei 2014

Swadaya; 2006. Lingkungan. 2008; 9 (1): 92-7.


2. Tim Penulis Penebar Swadaya. Penanganan dan pengolahan sampah. 15. Sangodoyin AY. Hazardous wastes assessing the efficacy of structures
Jakarta: Penerbit Penebar Swadaya; 2008. and approaches to management in Nigeria. Environmental Management
3. Basriyanta. Memanen sampah. Yogyakarta: Penerbit Kanisius; 2011. and Health. 2000; 11 (1): 39-46.
4. Tim Penulis Redaksi Rumah. Pengelolaan sampah rumah tangga. 16. Azfar O, Khknen S, Lanyi A, Meagher P, Rutherford D.
Jakarta: Penerbit PT Prima Infosarana Media; 2008. Decentralization, governance and public services the impact of institu-
5. Annihayah. Urgensi manajemen persampahan ; belajar dari kasus Kota tional arrangements. IRIS Center, University of Maryland, College Park;
Bandung [online]. Bantul: Pemerintah Kabupaten Bantul; 2004 1999.
[Diakses 29 Juni 2006]. Diunduh dalam: http://www.bantul.go.id/- 17. Mulasari SA. The community participation factor of waste self manage-
web.php?mod=bantulkita&baca=31 ment in Gondolayu Village Province of Yogyakarta. Proceeding
6. Sucipto CD. Teknologi pengolahan daur ulang sampah. Yogyakarta: International Seminar on Research in Sciences UAD. 2007.
Penerbit Gosyen Publ; 2012. 18. Slamet JS. Kesehatan lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University
7. Badan Pengendalian Lingkungan Hidup DKI Jakarta. Pedoman pem- Press; 2004.
berdayaan masyarakat dalam mengelola sampah. Jakarta: Terbitan 19. Sudiran FI. Instrumen sosial masyarakat Karangmumus Kota
Badan Pengendalian Lingkungan Hidup DKI Jakarta dan URDI; 2013. Samarinda dalam penanganan sampah domestik. MAKARA, SOSIAL
8. Sarbidi. Kajian regionalisasi tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah HUMANIORA. Juni 2005; 9 (1): 16-26.
menggunakan analisis SWOT (Studi Kasus TPA Benowo Surabaya). 20. Perdue WC, Stone LA, Gostin LO. The built enviroment and its rela-
Jurnal Pemukiman. 2009; 4 (1): 10-28. tionship to the publics health : the legal framework. American Journal
9. Muttaqien AR, Sugiyantoro. Indentifikasi pengelolaan sampah kota of Public Health. 2003; 93 (9): 1390-4.
Bandung (studi kasus Komplek Berung Indah, Komplek Perumahan 21. Kingma M. Economic incentive in community nursing: attraction, re-
Cibangkong, RW 8 Kelurahan Ciroyom, RW 02 Kelurahan Sukabungah, jection, or indifference. Human Resources for Health [seriasl on inter-
RW 02 Kelurahan Bina Harapan Cisaranten, dan Kelurahan Maleer). net]. 2003 [cited 2013 Sept 4]; 1 (2). Available from: http://www.hu-
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota. 2014; 1 (2): 354-62. man-resources-health.com./content/1/1/2.
10. Yin RK. Studi kasus desain dan metode. Jakarta; PT RajaGrafindo 22. Yasa MT, Surayasa N. Studi evaluasi pengelolaan sampah dengan kon-
Persada; 2004 sep 3R (studi kasus: Kecamatan Klungkung Kabupaten Klungkung).
11. Mulasari SA. Hubungan tingkat pengetahuan dan sikap terhadap peri- Jurnal Lingkungan. Februari 2012; 21 (1): 1-5.
laku asyarakat dalam mengelola sampah di Dusun Padukuhan Desa 23. Wibowo A, Djajawinata DT. Penanganan sampah perkotaan terpadu.
Sidokarto Kecamatan Godean Kabupaten Sleman Yogyakarta. Jurnal 2002 [diakses 24 Mei 2006]. Diunduh dalam: http://kkpl.go.id/pap-
Kemas. Fakultas Kesehatan Masyarakat UAD. 2012; 6 (3): 204-11. book/ penanganan%20sampah%20perkotaan%20terpadu. pdf.
12. Riswan, Sunoko HR, Hadiyarto A. Pengelolaan sampah rumah tangga 24. Sidarto. Analisis usaha proses pengelolaan sampah rumah tangga den-
di Kecamatan Daha Selatan. Jurnal Ilmu Lingkungan. April 2011; 9 (1) gan pendekatan cost and benefit ratio guna menunjang kebersihan
: 31-9. lingkungan. Jurnal Teknologi. Desember 2010; 3 (2): 161-8.
13. Sudarwanto S. Peran strategis perempuan dalam pengelolaan limbah pa- 25. Ciptorini D, Hasanbasri M. Otonomi daerah dan akuntabilitas kinerja
dat bernilai ekonomi. Jurnal EKOSAINS. 2010 Maret; 2 (1): 65-74. dinas Kesehatan Kabupaten Kulonprogo di Daerah Istimewa
14. Ganefeti SP, Susanto JP, Suwarni A. Pengelolaan leachete tercemar Pb Yogyakarta. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Desember 2004;
sebagai upaya pencegahan pencemaran lingkungan TPA. Jurnal Teknik 7 (4): 211-7.

410