You are on page 1of 10

Artikel Penelitian

GAMBARAN PENGETAHUAN PEMULUNG TERHADAP ASPEK


KESEHATAN KESELAMATAN KERJA (K3) DALAM PENGELOLAAN
SAMPAH DI TEMPAT PEMBUANGAN SEMENTARA (TPS)
KOTA PEKANBARU

Intan Komala Sari


Miftah Azrin
Suyanto
intannkomalaasarii@gmail.com

ABSTRACT
Scavengers are workers who collect and sort solid waste that has value as
recyclable materials. Scavengers have high risk factors to get disease and job
accidents, but very limited research review about that. The aims of this research
are to identify respondense characteristics and to describe knowledge of among
scavengers about aspect of Occupational Health and Safety (OHS) at Temporary
Disposal (TPS) Pekanbaru City. The methodology is descriptive study and used
primary data by collecting direct interviews and giving questioners to 24
scavangers at 6 Temporary Disposal (TPS) Pekanbaru City. The accidental
sampling technique is used in this research. The results show that characters of
scavengers are dominated by females (54%), whose age between 26-45 years old
(58%), and primary school graduates (29%), with working pattern up to <9
hour/day (71%) and most of respondense have enough category about aspect of
Occupational Health and Safety (OHS).

Key words : Scavengers, knowledge, occupational health and safety (OHS),


temporary disposal (TPS).

PENDAHULUAN masyarakat dan pemerintahan.2


Diperlukan suatu upaya pengelolaan
Permasalahan sampah yang terjadi sampah yang maksimal untuk
saat ini bukan lagi menjadi hal baru di mengatasi permasalahan sampah ini.
Indonesia, terutama di daerah perkotaan Salah satu bentuk keseriusan negara
yang memiliki volume penduduk yang dalam menghadapi permasalahan
besar.1 Permasalahan sampah telah lingkungan, terutama mengenai sampah
menjadi permasalahan nasional dapat dinilai dari lahirnya Undang-
sehingga pengelolaannya menjadi Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang
tanggung jawab semua komponen Pengelolaan Lingkungan Hidup; Pasal

JOM FK Vol.3 No.1 Februari 2016 1


12 ayat 1, yang ditindaklanjuti dengan sehingga menyebabkan TPS liar
lahirnya Undang-Undang Nomor 18 bermunculan dimana-mana, sehingga
Tahun 2008 tentang pengelolaan sangat berpotensi menyebabkan
sampah, dimana di dalamnya diatur terjadinya pencemaran lingkungan di
mengenai tugas dan wewenang sekitar TPS. Munculnya permasalahan
pengelolaan sampah rumah tangga, ini menyebabkan peran serta pemulung
sejenis rumah tangga dan spesifik.3 sebagai orang yang mencari nafkah
Kota Pekanbaru merupakan dengan cara mengumpulkan dan
salah satu kota yang sedang mengalami memilah barang-barang bekas di TPS
perkembangan dan pembangunan,4 untuk kemudian dijual ke pendaur8
dengan jumlah penduduk yang cukup menjadi sangatlah penting, sehingga
besar. Data dari sensus penduduk yang nantinya sampah yang akan dibuang ke
dilakukan Badan Pusat Statistik tahun TPA sudah berkurang cukup banyak
2010 (BPS2010) menyebutkan jumlah dan tidak menimbulkan timbunan yang
penduduk yang bermukim di kota menggunung di lokasi TPA tersebut.9
Pekanbaru adalah 16,21% dari Pekerjaan pemulung jika dilihat
5.538.367 jiwa total penduduk provinsi dari segi kesehatan dan keselamatan
Riau.5 Jumlah penduduk kota kerjanya, memiliki risiko yang sangat
Pekanbaru yang cukup besar ini tinggi untuk terkena berbagai penyakit
menjadikan kota Pekanbaru tidak luput dan kecelakaan kerja. Lingkungan kerja
dari permasalahan sampah. yang tidak kondusif dan kotor serta
Permasalahan sampah di kota asupan gizi yang tidak baik
Pekanbaru sejalan dengan pertambahan mempermudah pemulung terjangkit
jumlah penduduk disertai ragam berbagai penyakit seperti batuk, pilek,
aktivitas masyarakatnya menyebabkan gatal-gatal, diare dan lain-lain.
volume dan jenis sampah yang Faktanya, tidak banyak pemulung yang
dihasilkan setiap hari semakin menggunakan Alat Pelindung Diri
bertambah dan beragam, namun (APD) selama bekerja, padahal
keadaan tersebut tidak diikuti dengan pekerjaan pemulung selalu
perbaikan dan penyediaan sarana dan berhubungan dengan sampah yang
prasarana pengelolaan sampah yang terdiri dari berbagai benda dan materi
memadai serta masih rendahnya baik organik maupun anorganik, salah
pemahaman masyarakat mengenai satunya adalah benda-benda tajam yang
pentingnya hidup bersih.6 Data dari bisa mengakibatkan luka pada
10
Dinas Kebersihan dan Pertamanan pemulung.
(DKP) Kota Pekanbaru menyebutkan Instansi terkait yang ada di kota
hanya terdapat 2 Tempat Pembuangan Pekanbaru hingga saat ini belum ada
Akhir (TPA), 6 Tempat Pembuangan yang memiliki atau mengelola data
Sementara (TPS) resmi dan 20 armada mengenai kehidupan kesehatan dan
mobil operasional DKP yang keselamatan pemulung di kota
mengangkut timbunan sampah untuk Pekanbaru serta upaya pencegahannya,
dibawa ke TPA dalam 3 putaran siklus padahal permasalahan ini merupakan
sehari.7 permasalahan yang sangat terlihat jelas
Sarana dan prasarana di lingkungan masyarakat kota
pengelolaan sampah di kota Pekanbaru Pekanbaru. Berdasarkan permasalahan
yang dimiliki saat ini tidak sebanding tersebut di atas, maka penulis tertarik
dengan melimpahnya produksi sampah untuk melakukan penelitian tentang
yang dihasilkan oleh masyarakat Gambaran Pengetahuan Pemulung
JOM Vol.1 No.1 Januari 2016 2
Terhadap Aspek Kesehatan
Keselamatan Kerja (K3) dalam
Pengelolaan Sampah di Tempat
Pembuangan Sementara (TPS) Kota
Pekanbaru.

METODE PENELITIAN

Desain penelitian yang


digunakan adalah penelitian deskriptif
cross-sectional. Sampel penelitian ini
diambil secara accidental sampling.11
Data dikumpulkan secara langsung
melalui informed concent dan pengisian Gambar 4.1 (a)
kuesioner oleh responden Data yang Karakteristik Pemulung Menurut
didapatkan dikumpulkan dan diolah Usia
secara manual dan komputerisasi
Berdasarkan gambar 4.1 (a)
kemudian disajikan dalam bentuk tabel
menunjukkan bahwa pemulung di 6
dan diagram sesuai dengan tujuan
TPS resmi DKP kota Pekanbaru
penelitian. Data yang diperoleh
didominasi oleh usia 26-45 tahun yaitu
dianalisis dengan analisis univariat.
sebanyak 14 orang (58%).
HASIL PENELITIAN

Berdasarkan penelitian yang


telah dilakukan di 6 Tempat
Pembuangan Sampah (TPS) resmi
Dinas Kebersihan dan Pertamanan
(DKP) kota Pekanbaru pada periode
November 2015 hingga Desember 2015
didapatkan bahwa sampel berjumlah 24
orang pemulung.
Gambar 4.1 (b)
4.1 Distribusi karakteristik Karakteristik Pemulung Menurut
pemulung berdasarkan usia, Jenis Kelamin
jenis kelamin, pendidikan
dan pola bekerja. Berdasarkan gambar 4.1 (b)
menunjukkan bahwa pemulung di 6
Berdasarkan hasil penelitian TPS resmi DKP kota Pekanbaru
terhadap 24 orang pemulung yang didominasi oleh perempuan yaitu
berada di 6 TPS resmi DKP kota sebanyak 13 orang (54%).
Pekanbaru, dapat ditemukan berbagai
macam karakteristik responden sebagai
berikut:

JOM Vol.1 No.1 Januari 2016 3


tentang upaya menjaga kesehatan
diri

Pengetahuan Frekuensi Persentase

pemulung (n) (%)

Baik 4 17 %

Cukup 14 58 %
Gambar 4.1 (c)
Karakteristik Pemulung Menurut Kurang 6 25 %
Tingkat Pendidikan

Berdasarkan gambar 4.1 (c)


menunjukkan bahwa pemulung di 6 Berdasarkan tabel 4.2 dapat dilihat
TPS resmi DKP kota Pekanbaru bahwa pengetahuan pemulung tentang
berlatar belakang pendidikan tamat SD upaya menjaga kesehatan diri terbanyak
yaitu sebanyak 8 orang (33%). adalah pemulung berpengetahuan
cukup sebanyak 14 orang (58%).

4.3 Gambaran pengetahuan


pemulung tentang upaya
menjaga keselamatan kerja.

Pengetahuan pemulung tentang


upaya menjaga kesehatan diri dapat
dilihat pada tabel 4.3 berikut :

Tabel 4.3 Distribusi pengetahuan


Gambar 4.1 (d) pemulung di TPS kota Pekanbaru
Karakteristik Pemulung Menurut tentang upaya menjaga keselamatan
Jenis Kelamin kerja

Berdasarkan gambar 4.1 (d) Pengetahuan Frekuensi Persentase


menunjukkan bahwa pemulung di 6
TPS resmi DKP kota Pekanbaru pemulung (n) (%)
memiliki pola bekerja selama <9
Baik 8 33 %
jam/hari yaitu sebanyak 17 orang
(71%). Cukup 13 54 %
4.2 Gambaran pengetahuan
Kurang 3 13 %
pemulung tentang upaya
menjaga kesehatan diri.

Pengetahuan pemulung tentang Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat


upaya menjaga kesehatan diri dapat bahwa pengetahuan pemulung tentang
dilihat pada tabel 4.2 berikut : upaya menjaga keselamatan kerja
terbanyak adalah pemulung
Tabel 4.2 Distribusi pengetahuan
berpengetahuan baik yaitu sebanyak 13
pemulung di TPS kota Pekanbaru
orang (54%).
JOM Vol.1 No.1 Januari 2016 4
4.4 Gambaran pengetahuan banyak ditemukan pada usia produktif
pemulung tentang upaya dikarenakan pada usia ini umumnya
menjaga kesehatan pemulung sudah berkeluarga dan
lingkungan. memiliki tanggungan untuk menghidupi
anggota keluarganya, dan pemulung
Pengetahuan pemulung tentang semakin sedikit ditemukan pada usia
upaya menjaga kesehatan lingkungan tua dikarenakan semakin tua umur
dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut : seseorang maka tenaganya pun ikut
menurun.
Tabel 4.4 Distribusi pengetahuan
pemulung di TPS kota Pekanbaru Sebagian besar pemulung pada
tentang upaya menjaga kesehatan penelitian ini adalah berjenis kelamin
lingkungan perempuan sebesar 54.00%. Hal ini
sesuai dengan penelitian yang
Pengetahuan Frekuens Persentas
dilakukan oleh Eko F. Nugroho, yang
pemulung i (n) e (%) menunjukkan sebanyak 64,9%
pemulung di TPA Gunung Tugel
Baik 4 17 % berjenis kelamin perempuan14 dan
penelitian yang dialakukan Eka Lestari
Cukup 19 79 % bahwa 56,1% pemulung di TPA Terjun
berjenis kelamin perempuan.15 Hasil
Kurang 1 4%
berbeda ditemukan pada penelitian
yang dilakukan Aisyah Ameriani yang
mendapatkan hasil bahwa 93,6%
Berdasarkan tabel 4.4 dapat dilihat pemulung di Bantar Gebang berjenis
bahwa pengetahuan pemulung tentang kelamin laki-laki.13 Perbedaan hasil ini
upaya menjaga kesehatan lingkungan dapat terjadi karena perbedaan
terbanyak adalah pemulung karakteristik lokasi penelitian dan
berpengetahuan cukup sebanyak 19 kehidupan responden. Responden
orang (79%). perempuan umumnya bekerja untuk
membantu memenuhi kebutuhan
PEMBAHASAN keluarga yang kurang tercukupi oleh
5.1 Gambaran Karakteristik suami.
pemulung berdasarkan usia,
jenis kelamin, pendidikan dan Sebanyak 33% pemulung
pola bekerja. dalam penelitian ini berlatar pendidikan
terakhir yaitu tamat SD, diikuti dengan
Hasil penelitian didapatkan 29% pemulung yang tidak tamat SD, 21
sebagian besar pemulung berusia 26-45 % pemulung memiliki tingkat
tahun. Hasil yang sama juga didapatkan pendidikan SMP, dan 17 sisanya
pada penelitian yang dilakukan oleh Siti memiliki pendidikan tamat SMA.
K. Azhari , menyatakan bahwa 56% Dilihat dari segi pendidikannya,
pemulung di kota Bandung berada pada umumnya pemulung memiliki
usia produktif kerja yaitu usia 25-45 pendidikan rendah sehingga
tahun12 dan penelitian Aisyah Ameriani keterbatasan pendidikan ini menjadi
yang menyatakan bahwa 36% salah satu faktor alasan menjadi
pemulung berada pada kategori usia pemulung. Hal ini sesuai dengan
sedang yaitu 29-49 tahun.13 Pemulung beberapa hasil penelitian lain mengenai

JOM Vol.1 No.1 Januari 2016 5


pendidikan pemulung, didapatkan berpengetahuan cukup mengenai upaya
63,3% pemulung di Kecamatan menjaga kesehatan diri. Sementara itu,
Banyumanik kota Semarang penelitian lain yang dilakukan oleh
berpendidikan tamat SD16, 34,1% Herlinda, diketahui bahwa pengetahuan
pemulung di TPA Terjun tamatan SD15, informan terhadap risiko kesehatan dan
dan 93,94% pemulung di TPA Kedaung kecelakaan sangat rendah sekali.19
Wetan Tangerang berlatar pendidikan Perbedaan hasil penelitian ini dapat
tidak tamat SD.17 Fakta ini menjelaskan terjadi karena perbedaan karakteristik
bahwa dengan bekal pendidikan yang lokasi dan jumlah responden penelitian.
minim maka mereka terjerat dalam Dari hasil penelitian ini dapat terlihat
kelompok pekerjaan yang sifatnya bahwa pengetahuan pemulung di
marginal. Tentu saja menjadi pemulung Pekanbaru tergolong lebih baik.
bukanlah suatu cita-cita seseorang yang
dapat dibanggakan. Demikian pula Pengetahuan pemulung
dengan pemulung di TPS yang ada di mengenai hidup sehat menunjukkan
Kota Pekanbaru. bahwa secara sosial budaya, pemulung
telah tersosialisasi dengan baik.
Dilihat dari distribusi pola Pengalaman pemulung selama proses
bekerja, didapatkan 71% pemulung kehidupannya memberikan stok
memiliki pola bekerja <9 jam/hari. Hal pengetahuan yang terkumpul dalam
ini sesuai dengan penelitian yang ingatannya dan dapat digunakan pada
dilakukan oleh Aisyah Ameriani pada saat yang diperlukan. Namun
pemulung di Kabupaten Tangerang, pengetahuan pemulung tentang hidup
didapatkan hasil bahwa 66,6 % sehat tidak selalu dapat melahirkan
pemulung bekerja pada kisaran jam perilaku-perilaku kesehatan yang sesuai
kerja sedang yaitu 121 210 jam per dalam menanggapi berbagai masalah
bulan, namun terdapat juga 16,7% kesehatan. Responden meyakini bahwa
pemulung yang bekerja dengan jam risiko sakit yang mereka alami selama
kerja yang tinggi yaitu di atas 210 jam ini hanya sebagai akibat kelalaian
per bulan13 dan penelitian yang mereka sendiri dan karena faktor usia
dilakukan oleh Yustisa bahwa 34% yang sudah tua serta perubahan cuaca.
pemulung di Kota Denpasar bekerja Semua kondisi ini diyakini
pada kisaran waktu 40-60 jam per mempengaruhi tingkat kesehatan
minggu.18 Alasan beratnya pekerjaan mereka.
mereka dapat menjadi salah satun
alasan pemulung bekerja <9 jam/hari, Pada dasarnya pemulung
namun pada hakikatnya data ini dapat mengetahui bahwa kondisi pekerjaan
menggambarkan bahwa sebagian besar dan tempat bekerjanya adalah suatu
pemulung sudah memahami aturan jam kondisi yang tidak menyenangkan,
bekerja normal. namun faktanya banyak perilaku
pemulung selama bekerja yang tidak
5.2 Gambaran pengetahuan mencerminkan pengetahuan mereka
pemulung tentang upaya tersebut seperti tetap menggunakan
menjaga kesehatan diri. sarung tangan yang sama berhari-hari
saat bekerja walaupun mereka tahu
Hasil penelitian yang dilakukan bahwa sarung tangan itu telah kotor.
dengan cara pengisian kuesioner ini, Hal ini terjadi karena responden tidak
didapatkan hasil bahwa 58% pemulung

JOM Vol.1 No.1 Januari 2016 6


mau mengeluarkan uangnya untuk ini juga sesuai dengan penelitian yang
membeli sarung tangan yang baru. dilakukan Herlinda yang menunjukkan
bahwa tingkat pengetahuan informan
Selain keadaan di atas, dari data yang kurang baik terhadap Risiko
yang didapatkan dan pengamatan Keselamatan di TPS. Kurangnya
langsung oleh peneliti tentang keadaan pengetahuan pemulung mengenai upaya
responden, dapat diketahui bahwa menjaga keselamatan kerja ini dapat
mereka tidak menganggap bahwa dipengaruhi oleh usia, jenjang
demam, sakit perut, sesak nafas, sakit pendidikan, dan lama kerja. Seperti
kulit atau sakit kepala sebagai suatu halnya yang diampaikan oleh
keadaan yang mengkhawatirkan. Rosenstock I yang dikutip dari Fibriana,
Selama mereka masih dapat melakukan yang menyatakan bahwa keyakinan
aktivitas, terutama bekerja seseorang dipengaruhi oleh latar
mengumpulkan barang bekas, maka belakang usia, jenjang pendidikan, dan
keadaan badan tersebut dapat dikatakan lama kerja. 20
sehat-sehat saja.
Jenjang pendidikan responden
Pada hakikatnya pengetahuan yang hanya Sekolah Dasar hingga
tersebut dapat membimbing pemulung Sekolah Menengah, bahkan ada yang
untuk melakukan tindakan-tindakan tidak sekolah, menyebabkan mereka
agar pola hidupnya dapat selaras tidak mengetahui secara pasti penyebab
dengan nilai-nilai kesehatan. Upaya penyakit yang dialami dan kecelakaan
pemulung untuk selalu membersihkan yang pernah di alami. Usia responden
diri dari segala kotoran setelah selesai yang rata-rata adalah usia produktif,
bekerja menjadi bukti bahwa mereka membuat mereka merasa tetap kuat dan
juga paham tentang kesehatan. Namun bersemangat dalam bekerja. Sehingga
tidak dapat dipungkiri bahwa peranan responden merasa selalu kuat dan tidak
lingkungan kerja yang setiap hari sakit.
mereka hadapi dapat mengaburkan
nilai-nilai sehat yang sesungguhnya. Lama kerja sebagai pemulung
Walaupun sudah tergolong cukup baik, di lokasi TPS tidak mempengaruhi
namun tetap harus diberikan keyakinan responden akan Resiko
penyuluhan kepada pemulung dengan keselamatan kerja menjadi lebih baik
harapan agar perilaku mereka dapat karena mereka bekerja di tempat yang
menjadi lebih baik. sama dan tingkat pendidikan yang sama
juga, sehingga mereka mempunyai
5.3 Gambaran pengetahuan keyakinan yang kurang lebih sama.
pemulung tentang upaya Sehingga keyakinan yang terbentuk
menjaga keselamatan kerja. diperoleh dari pengalaman selama
Hasil penelitian didapatkan bekerja di TPS tersebut. Dari informasi
bahwa pengetahuan pemulung yang didapatkan di lapangan, biasanya
seorang responden yang telah lama
mengenai upaya menjaga keselamatan
kerja tergolong cukup. Hal ini diperkuat bekerja sebagai pemulung
dengan pengamatan peneliti terhadap menginformasikan pengalaman mereka
kegiatan pemulung di TPS, sebagian pada pemulung yang lain sehingga
besar pemulung sudah menggunakan terbentuklah keyakinan yang sama
alat pelindung diri saat bekerja, namun terhadap suatu stimulus yang datang,
tidak secara lengkap. Hasil penelitian seperti yang disampaikan oleh Soekidjo

JOM Vol.1 No.1 Januari 2016 7


Notoadmodjo, yang menyatakan bahwa (71%). Pada pengisian kuesioner
sebagian besar pengetahuan manusia didapatkan data gambaran pengetahuan
diperolah melalui penginderaan mata pemulung mengenai aspek kesehatan
dan telinga.21 diri, keselamatan kerja dan kesehatan
lingkungan dalam kategori cukup.
5.4 Gambaran pengetahuan
pemulung tentang upaya Saran sebagai berikut :
menjaga kesehatan
lingkungan. a. Melakukan Sosialisasi mengenai
Risiko Keselamatan dan Kesehatan
Data hasil penelitian Kerja oleh Dinas Kesehatan dan
didapatkan pengetahuan pemulung Puskesmas terdekat.
mengenai upaya menjaga kesehatan b. Menyarankan kepada Dinas
lingkungan tergolong dalam kategori Kebersihan kota Pekanbaru untuk
cukup. Hal ini diperkuat dengan menyediakan Alat Pelindung Diri
penelitian yang dilakukan oleh (APD) terutama masker, sarung
Rochgiyanti yang mendapatkan hasil tangan, topi dan sepatu booth bagi
bahwa pengetahuan pemulung terhadap pemulung selama bekerja di TPS
kesehatan lingkungannya cukup baik untuk melindungi aspek kesehatan
namun tidak dapat dipungkiri bahwa dan keselamatan kerjanya karena
peranan lingkungan jugalah yang dapat bagaimanapun pemulung turut
mengaburkan nilai-nilai pengetahuan berkontribusi dalam upaya
yang sesungguhnya.22 mengurangi sampah.
c. Pemulung diharapkan mampu
Banyak diantara pemulung meningkatkan kesehatan kerja
yang kurang mengetahui mengenai dengan menjaga jarak antara posisi
bahaya tumpukan sampah dan efek kerja dengan sampah untuk
sampah plastik terhadap lingkungan, menghindari resiko terhadap
hal ini dikarenakan kurangnya kesehatan dan keselamatan kerja.
sosialisasi dari pihak terkait mengenai d. Dilakukan penelitian lanjutan
hal tersebut kepada pemulung. mengenai hubungan pengetahuan
Lingkungan sekitar TPS memiliki pemulung mengenai aspek
dampak langsung yang sangat besar Kesehatan Keselamatan Kerja (K3)
bagi para pemulung sehingga perlu terhadap perilaku pemulung di TPS
ditingkatkan pengetahuan pemulung kota Pekanbaru.
mengenai upaya menjaga kesehatan
lingkungan. DAFTAR PUSTAKA

SIMPULAN DAN SARAN 1. Tansatrisna, Diwyacitra. 2014.


Persepsi dan Partisipasi Masyarakat
Berdasarkan penelitian yang dalam Pengelolaan Sampah Rumah
telah dilakukan dapat disimpulkan Tangga. Makalah Kolokium.
bahwa pemulung yang bekerja di 6 TPS [Dikutip 08 Agustus 2014]: 1-24.
resmi DKP kota Pekanbaru didominasi Tersedia pada:
oleh kelompok usia terbanyak yaitu http://skpm.ipb.ac.id/karyailmiah/in
usia 26-45 tahun (58%), berjenis dex.php/kolokium/article/download
SuppFile/80
kelamin perempuan (54%), memiliki
tingkat pendidikan terakhir tamat SD
(33%) dan pola bekerja <9 jam/hari

JOM Vol.1 No.1 Januari 2016 8


2. Undang-Undang Republik Jurnal Geografi. 2009; 6(2): 121-
Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 32. [Diunduh 24 April 2015 jam
Pengelolaan Sampah. 7 Mei 2008. 05:57:32 wib]. Tersedia pada:
Lembaran Negara Republik http://journal.unnes.ac.id/nju/index.
Indonesia Tahun 2008 Nomor 69. php/JG/article/view/98
Jakarta.
9. Abidin, Achmad. Realita, Peran dan
3. Mulyadi A, Siregar SH, Saam Z.
Keberadaan Pemulung di Tempat
Perilaku Masyarakat dan Peran
Pembuangan Akhir (TPA) Sampah
Serta Pemerintah Daerah dalam
Benowo Melalui Video
Pengelolaan Sampah di Kota
Dokumenter. [Diunduh 22 April
Tembilahan. Jurnal Ilmu
2015 jam 16:26:22 wib].1-13.
Lingkungan [Diunduh 12 Februari
Tersedia pada:
2015]; 2(3):147-162. Tersedia
http://ppta.stikom.edu/upload/uploa
pada:
d/file/07510160020makalah%20bid
http://ejournal.unri.ac.id/index.php/
in.pdf.
JIL/article/view/329.

10. Herlinda. Persepsi Pemulung


4. Susanti R, Asriwandari H. Analisa
Terhadap Risiko Kesehatan dan
Pertukaran Sosial Mengenai Pola
Keselamatan Kerja Dikaitkan
Bekerja Pemulung di TPA Muara
dengan Penggunaan Alat Pelindung
Fajar Kecamatan Rumbai Kota
Diri (APD) di Tempat
Pekanbaru. Jurnal. [Diunduh 22
Penampungan Sampah Sementara
April 2015]: 1-15. Tersedia pada:
(TPS) Tegallega, Bandung, 2010
http://repository.unri.ac.id/xmlui/bit
[Tesis]. Jakarta (ID): Universitas
stream/handle/123456789/395/Jurn
Indonesia. [Diunduh 13 Januari
al%20Karya%20Ilmiah.pdf?sequen
2015 jam 02:07:54 wib]: 1-53.
ce=1
Tersedia pada:
http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital
5. Badan Pusat Statistik. Sensus /20253641-T%2028451-
Penduduk Indonesia tahun 2010. Persepsi%20pemulung-
[Diunduh 24 April 2015]: 1-3. full%20text.pdf.
Tersedia pada:
http://sp2010.bps.go.id/index.php/si
te?id=14&wilayah=Riau]. 11. Maulana MM. Profil Pemulung
Sampah di TPAKopi Luhur Kota
Cirebon. 2012. [Dikutip 16
6. Tarmidzi. 2014. Penelitian di Kota
Desember 2015]. Diakses dari
Pekanbaru: Efektifitas Perda
:http://repository.upi.edu/s_geo_08
Sampah. [Internet]. [Diunduh 22 07012_chapter3.pdf/
April 2015]. Tersedia pada:
http://tarmidzish.blogspot.com/201
3/06/penelitian-di-kota- 12. Azhari K. Sketsa Masyarakat
pekanbaru.html Pemulung Kota Bandung. Jurnal
Sosioteknologi Edisi 17. 2009.
7. Profil Kota Pekanbaru. [Internet]. [Dikutip 16 Desember 2015]: 696-
[Diunduh 18 Juli 2015 jam 701. Diakses dari:
00:28:13 wib]: 1-9.Tersedia pada: http://journals.itb.ac.id/index.php/s
http://ciptakarya.pu.go.id/profil/pro ostek/article/view/2010.
fil/barat/riau/pekanbaru.pdf.

13. Ameriani A. Analisis Karakteristik


8. Sutardji. Karakteristik Demografi Pemulung, Karakteristik Kerja,
dan Sosial Ekonomi Pemulung. Hubungan Sosial, dan
JOM Vol.1 No.1 Januari 2016 9
Kesejahteraan Pemulung (Kasus [Dikutip 16 Desember 2015].
Pemukiman Pemulung Di Desa Diakses dari:
Kedaung, Kecamatan Pamulang, http://pps.unud.ac.id/1284-
Kabupaten Tangerang, Propinsi 2132623850-tesis.pdf
Banten). Skripsi. 2006. [Dikutip 16
Desember 2015]. Diakses dari:
http://repository.ipb.ac.id/handle/12 19. Herlinda. Persepsi Pemulung
3456789/44573 Terhadap Risiko Kesehatan dan
Keselamatan Kerja Dikaitkan
dengan Penggunaan Alat Pelindung
14. Nugroho EF. Karakteristik Diri (APD) di Tempat
Pemulung di TPA Tugel. Jurnal. Penampungan Sampah Sementara
2010. [Dikutip 16 Desember 2015]. (TPS) Tegallega, Bandung, 2010
Diakses dari: [Tesis]. Jakarta (ID): Universitas
http://ejournal.unnes.ac.id/article/do Indonesia. [Dikutip 13 Januari 2015
wnload jam 02:07:54 wib]: 1-53. Diakses
dari:
http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital
15. Lestari E. Dermatosis (Penyakit /20253641-T%2028451-
Kulit) Ditinjau Dari Aspek Persepsi%20pemulung-
Keselamatan dan Kesehatan Kerja full%20text.pdf
Pada Pemulung di TPA Terjun
Medan Marelan. Media Kesehatan
Masyarakat Indonesia Vol.11/ No.2 20. Fibriana AI. Jurnal Kesehatan
. 2012. [Dikutip 31 Desember Masyarakat. 2013. [Dikutip 4
2015]. Diakses dari : Januari 2016]. Diakses dari:
http://ejournal.undip.ac.id/article/do http://journal.unnes.ac.id/nju/index.
wnload php/kemas

16. Agisti W. Karakteristik Demografi 21. Notoadmojo S. 2003. Ilmu


Sosial Ekonomi Pemulung Kesehatan Masyarakat Prinsip-
Berdasarkan Daerah Asal (Studi Prinsip Dasar. Rineka Cipta,
Kasus di Kecamatan Banyumanik Jakarta.
Kota Semarang). Skripsi. 2009.
[Dikutip 31 Desember 2015].
Diakses dari: 22. Rochgiyanti dkk. Perilaku
http://lib.unnes.ac.id/207/ Pemulung Dalam Memahami Pola
Hidup Sehat di TPA Basirih Kota
Banjarmasin. 2010. [Dikutip 16
17. Mustikawati IS. Perilaku Personal Desember 2015]. Diakses dari:
Hygiene Pada Pemulung di TPA http://eprints.unlam.ac.id/233/
Kedaung Wetan Tangerang. Forum
Ilmiah Volume 10 Nomor 1. 2013.
[Dikutip 31 Desember 2015].
Diakses dari :
http://digilib.esaunggul.ac.id/public
/UEU-Journal-4522-Intan.pdf

18. Wiyatna MYP. Analisis Pengaruh


Faktor Sosial Demografi dan
Aktivitas Ekonomi Terhadap
Kesejahteraan Keluarga Pemulung
di Kota Denpasar. Tesis. 2015.

JOM Vol.1 No.1 Januari 2016 10