You are on page 1of 17

1

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbilalamin, kami mengucapkan rasa syukur kepada

Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya kami dapat

menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.

Terimakasih kepada guru kami yang telah membimbing kami untuk

menyelesaikan makalah ini. Dan tidak lupa kami juga berterimakasih kepada para

anggota yang telah mengerjakan makalah ini dengan sebaik-baiknya.

Adapun makalah yang akan membahas tentang Revolusi Hijau dan

Industrialisasi di Indonesia pada masa Orde Baru ini kiranya dapat bermanfaat dan

menambah wawasan bagi para pembaca. Walaupun kami mengetahui bahwa

makalah ini jauh dari kata sempurna. Untuk itu, kami akan senang hati menerima

kritik dan saran agar kami dapat membuat makalah lebih baik lagi.
2

BAB I

PENDAHULUAN

Orde Baru adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soeharto dari

tahun 1996 sampai tahun 1998 di Indonesia yang menggantikan Orde Lama yang

merujuk kepada era pemerintahan Soekarno. Orde Baru hadir dengan

semangat koreksi total atas penyimpangan yang dilakukan oleh Soekarno

pada masa Orde Lama.

Dalam jangka waktu tersebut, ekonomi Indonesia berkembang pesat

meskipun hal ini terjadi bersamaan dengan praktik korupsi yang merajalela. Selain

itu, kesenjangan antara rakyat yang kaya dan miskin juga semakin melebar.

Beriringan dengan hal tersebut, ilmu pengetahuan dan tekhnologi dalam

sektor pertanian dan industri di Indonesia juga berkembang pesat. Namun,

keadaan ekonomi di Indonesia masih belum labil.

Untuk mengatasi keadaan ekonomi yang kacau sebagai peninggalan

pemerintah Orde Lama tersebut, maka pemerintah Orde Baru melakukan

serangkaian langkah dan berbagai kebijakan ekonomi.


3

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Revolusi Hijau dan Industrialisasi

Revolusi Hijau adalah istilah untuk perubahan secara cepat dalam bidang

pertanian (yang dapat berupa peralatan pertanian, cara bercocok tanam, perubahan

rotasi tanaman, atau sistem pengairan) dari tradisional ke modern dengan peran

ilmu pengetahuan dan tekhnologi dalam upaya meningkatkan produksi pangan.

Revolusi hijau atau Revolusi Agraria di tandai makin berkurangnya

ketergantungan petani pada cuaca dan alam. Pengertian ini merujuk juga pada

sebuah kondisi dimana para pakar tekhnologi pertanian melakukan persilangan

(breeding) antar jenis tanaman tertentu sehingga menghasilkan jenis tanaman

unggul yang mempunyai ciri ; berumur pendek, memberikan hasil produksi

berlipat ganda, dan mudah beradaptasi dalam lingkungan apapun. Asal memenuhi

syarat, antara lain:

a. Tersedia cukup air

b. Pemupukan teratu

c. Tersedia bahan kimia pemberantas hama dan penyakit serta pemberantas

rerumputan pengganggu.

Sedangkan industrialisasi adalah suatu proses modernisasi dan perubahan

sosial ekonomi yang mengubah sistem pencaharian masyarakat agraris menjadi

masyarakat industri, dimana masyarakat berfokus pada

ekonomi yang meliputi pekerjaan yang semakin beragam, gaji, dan penghasilan

yang semakin tinggi.


4

B. Sejarah Lahirnya Revolusi Hijau

Revolusi Hijau mulai mendapat perhatian setelah Thomas Robert Malthus

(1766 1834) mulai melakukan penelitian dan memaparkan hasilnya. Malthus

menyatakan bahwa kemiskinan adalah masalah yang tidak bisa di hindari leh

manusia. Kemiskinan terjadi karena pertumbuhan penduduk lebih cepat daripada

peningkatan produksi pangan, yang notabene tidak seimbang.

Hasil penelitian Malthus itu menimbulkan kegemparan di Eropa dan

Amerika. Akibatnya, muncul berbagai gerakan pengendalian pertumbuhan

penduduk dan usaha penelitian untuk meningkatkan produksi pangan. Penelitian

ini dilakukan di negara Meksiko, Filipina, India, dan Pakistan. Dan di sponsori

oleh lembaga Ford and Rockefeller Foundation. Pusat penelitian ini menghasilkan

suatu varietas baru yang biasa dikenal dengan IR-8 atau PB-8dan hasilnya jauh

melebihi rata-rata hasil varietas lokal. Varietas tersebut adalah hasil persilangan

genetik antara varietas padi kerdil dari Taiwan yang bernama Dee Geowoogendan

varietas padi jangkung dari Indonesia yang bernama Peta.

Pada tahun 1966 IR-8 mulai disebarkan ke Asia diikuti penyebaran IR-5

pada tahun 1967. Kemudian pada Tahun 1968 sebagian negara Asia termasuk

Indonesia telah melaksanakan penanaman padi jenis IR secara luas di masyarakat.

Hingga pada tahun 1976 areal sawah di Asia yang ditanami IR sudah mencapai 24

juta hektar.
5

C. Konsep Revolusi Hijau di Indonesia dan Upaya Pemerintah Indonesia

Meningkatkan Produksi Pangan

Revolusi Hijau di indonesia di formulasikan dalam konsep Panca Usaha

Tani yaitu:

a. Pemilihan dan penggunaan bibit unggul atau varietas unggul

b. Pemupukan teratur

c. Pengairan yang cukup

d. Pemberantasan hama secara intensif

e. Teknik penanaman yang teratur.

Adapun usaha pemerintah untuk meningkatkan produksi pertanian dan

pangan, dilakukan dengan empat usaha pokok, yaitu :

a. Ekstensifikasi : Usaha meningkatkan produksi pertanian dengan membuka

lahan baru termasuk usaha penangkapan ikan dan penanaman rumput

untuk makan ternak.

b. Intensifikasi : Usaha meningkatkan produksi pertanian dengan

menerapkan panca usaha tani.

c. Diversifikasi : Usaha meningkatkan produksi pertanian dengan

keanekaragaman usaha tani.

d. Rehabilitasi : Usaha meningkatkan produksi pertanian dengan pemulihan

kemampuan daya produksivitas sumber daya pertanian yang sudah kritis.


6

D. Dampak Revolusi Hijau

1. Dampak Positif

a. Menyebabkan munculnya tanaman jenis unggul berumur pendek

sehingga intensitas penanaman per tahun semakin bertambah.

Akibatnya, tenaga kerja yang di butuhkan lebih banyak.

b. Meningkatkan pendapatan petani.

c. Merangsang kesadaran petani dan masyarakat pada umumnya akan

pentingnya teknologi.

d. Merangsang dinamika ekonomi masyarakat.

2. Dampak Negatif

a. Sistem bagi hasil mengalami perubahan. Sistem panen secara bersama-

sama pada masa sebelumnya mulai di geser oleh sistem upah. Pembeli

memborong semua hasil dan biasanya menggunakan sedikit tenaga kerja.

Akibatnya, kesempatan kerja di pedesaan makin berkurang.

b. Pengaruh ekonomi uang di dalam berbagai hubungan sosial di daerah

pedesaan makin kuat.

c. Ketergantungan pada pupuk dan zat kimia pembasmi hama juga

berdampak pada tingginya biaya produksi yang harus di tanggung petani.

d. Peningkatan produksi pangan tidak di ikuti oleh pendapatan petani secara

keseluruhan karena penggunaan tekhnologi modern hanya di rasakan oleh

petani kaya.
7

BAB III

KESIMPULAN

Pengaruh Revolusi Hijau dan Industrialisasi di Indonesia pada masa Orde

Baru muncul karena pengaruh besar Revolusi Hijau dan Industrialisasi dari luar.

Dan berhasil memberikan banyak dampak positif bagi masyarakat Indonesia.

Namun, bukan berarti hal tersebut dapat membawa Indonesia menjadi negara

pengimpor pangan seutuhnya. Banyak kendala yang menghalangi pertanian

Indonesia sehingga perekonomian Indonesia mengalami penurunan dan

peningkatan. Namun pada akhirnya, Indonesia tetap berhasil ber- swasembada

pangan.
8

DAFTAR PUSTAKA

Badrika, I Wayan, Sejarah Untuk SMA Kelas XII, (Jakarta : Erlangga, 2006)

Sudirman Tebba, Jurnalisme Baru, Kalam Indonesia, (Jakarta, 2005)

http://id.shvoong.com/humanities/history/2139410-perkembangan-satelit-dan-
radio-di/#ixzz1Yw31M6Ig

http://id.shvoong.com/humanities/history/2139155-perkembangan-industri-
pertanian-dan-nonpertanian/#ixzz1Yw21QYvP
9

BAB I

PENDAHULUAN

Sejarah Revolusi Hijau diperkenalkan pertama kali oleh William Gaud

pada 1968. Mantan Direktur USAID, lembaga donor milik pemerintah Amerika

Serikat ini, membandingkan masifnya perubahan di bidang pertanian itu dengan

Revolusi Merah di Soviet dan Revolusi Putih di Iran, dua perubahan besar secara

politik di dua negara musuh bebuyutan Amerika Serikat itu. Perubahan yang oleh

Gaud disebut revolusi itu dimulai dari Meksiko. Negara di Amerika Latin ini

mengubah sistem pertaniannya secara radikal pada 1945. Salah satu alasannya

adalah karena berbanding terbaliknya pertambahan jumlah penduduk dengan

kapasitas produksi gandum. Penduduk terus bertambah sementara produksi

gandum terus berkurang. Mereka pun menggenjot pertaniannya melalui riset,

penyuluhan, dan pembangunan infrastruktur yang didanai beberapa lembaga besar

lainnya. Hasilnya, dari semula mengimpor gandum pada 1943, negara ini

bisa memenuhi kebutuhan gandumnya pada 1956.

Delapan tahun kemudian, Meksiko bahkan sudah mengekspor gandum ke

negara lain. Karena perubahan itu dianggap berhasil maka beberapa lembaga

besar kemudianmembawa teknologi yang sama ke berbagai dunia.Kalau di

Meksiko mereka fokus pada gandum, maka di belahan dunia lain mereka fokus

pada padi. Salah satunya dengan mendirikan International Rice Research Institute

(IRRI) di Los Banos, Filipina. Dari pusat riset padi ini lahir padi varietas baru

bernama International Rice (IR) seperti IR 64 dan IR 36 yang disebar ke dunia,

termasuk Indonesia. Produk mereka inilah yang menjangkau hampir separuh

penduduk dunia dan kemudian menggantikan padi lokal, termasuk di Indonesia.


10

IRRI yang mempunyai kantor perwakilan di 14 negara mulai bekerjasama dengan

Indonesia pada tahun 1972, melalui Balai Litbang Pertanian Departemen

Pertanian (Deptan). Deptan yang seharusnya jadi kepanjangan tangan pemerintah

ternyata kemudian hanya jadi kepanjangan tangan korporasi dan lembaga

internasional.
11

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Revolusi Hijau

Revolusi Hijau adalah sebutan tidak resmi yang dipakai untuk

menggambarkan perubahan fundamental dalam pemakaian teknologi budidaya

pertanian yang dimulai pada tahun 1950-an hingga 1980-an di banyak negara

berkembang, terutama di Asia. Hasil yang nyata adalah tercapainya swasembada

(kecukupan penyediaan) sejumlah bahan pangan di beberapa negara yang

sebelumnya selalu kekurangan persediaan pangan (pokok), seperti India,

Bangladesh, Tiongkok, Vietnam, Thailand, serta Indonesia, untuk menyebut

beberapa negara. Norman Borlaug, penerima penghargaan Nobel Perdamaian

1970, adalah orang yang dipandang sebagai konseptor utama gerakan ini.

B. Perkembangan Revolusi Hijau, Teknologi Dan Industrialisasi

Kebijakan modernisasi pertanian pada masa Orde baru dikenal dengan

sebutan Revolusi Hijau. Revolusi Hijau merupakan perubahan cara bercocok

tanam dari cara tradisional ke cara modern. Revolusi Hijau (Green Revolution)

merupakan suatu revolusi produksi biji-bijian dari hasil penemuan-penemuan

ilmiah berupa benih unggul baru dari berbagai varietas, gandum, padi, dan jagung

yang mengakibatkan tingginya hasil panen komoditas tersebut.

Tujuan Revolusi hijau adalah mengubah petani-petani gaya lama (peasant)

menjadi petani-petani gaya baru (farmers), memodernisasikan pertanian

gaya lama guna memenuhi industrialisasi ekonomi nasional. Revolusi hijau


12

ditandai dengan semakin berkurangnya ketergantungan para petani pada cuaca

dan alam karena peningkatan peran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam

peningkatan produksi bahan makanan.

Upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk menggalakan revolusi

hijau ditempuh dengan cara :

1. Intensifikasi Pertanian

Intensifikasi Pertanian di Indonesia dikenal dengan nama Panca Usaha

Tani yang meliputi :

a. Pemilihan Bibit Unggul

b. Pengolahan Tanah yang baik

c. Pemupukan

d. Irigasi

e. Pemberantasan Hama

2. Ekstensifikasi Pertanian

Ekstensifikasi pertanian, yaitu Memperluas lahan tanah yang dapat

ditanami dengan pembukaan lahan-lahan baru (misal mengubah lahan tandus

menjadi lahan yang dapat ditanami, membuka hutan, dan sebagainya).

3. Diversifikasi Pertanian

Usaha penganekaragaman jenis tanaman pada suatu lahan pertanian

melalui sistem tumpang sari. Usaha ini menguntungkan karena dapat

mencegah kegagalan panen pokok, memperluas sumber devisa, mencegah

penurunan pendapatan para petani.


13

4. Rehabilitasi Pertanian

Merupakan usaha pemulihan produktivitas sumber daya pertanian yang

kritis, yang membahayakan kondisi lingkungan, serta daerah rawan dengan

maksud untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di daerah tersebut. Usaha

pertanian tersebut akan menghasilkan bahan makanan dan sekaligus sebagai

stabilisator lingkungan.

C. Pelaksanaan Penerapan Revolusi Hijau

1. Pemerintah memberikan penyuluhan dan bimbingan kepada

petani. Kegiatan pemasaran hasil produksi pertanian berjalan lancar sering

perkembangan teknologi dan komunikasi.Tumbuhan yang ditanam

terspesialisasi atau yang dikenal dengan monokultur, yaitu menanami

lahan dengan satu jenis tumbuhan saja. Pengembangan teknik kultur

jaringan untuk memperoleh bibit unggul yang diharapkan yang tahan

terhadap serangan penyakit dan hanya cocok ditanam di lahan tertentu.

2. Petani menggunakan bibit padi hasil pengembagan Institut Penelitian Padi

Internasional (IRRI=International Rice Research Institute) yang

bekerjasama dengan pemerintah, bibit padi unggul tersebut lebih dikenal

dengan bibit IR. Pola pertanian berubah dari pola subsistensi

menjadi pola kapital dan komersialisasi. Negara membuka investasi

melalui pembangunan irigasi modern dan pembagunan industri pupuk

nasional.

3. Pemerintah mendirikan koperasi-koperasi yang dikenal dengan KUD

(Koperasi Unit Desa).


14

Di Indonesia, penggunaan pupuk dan pestisida kimia merupakan

bagian dari Revolusi Hijau, sebuah proyek ambisius Orde Baru untuk

memacu hasil produksi pertanian dengan menggunakan teknologi modern,

yang dimulai sejak tahun 1970-an. Memang Revolusi Hijau telah

menjawab satu tantangan ketersediaan kebutuhan pangan dunia yang terus

meningkat. Namun keberhasilan itu bukan tanpa dampak dan efek

samping yang jika tanpa pengendalian, dalam jangka panjang justru

mengancam kehidupan dunia pertanian.

Gebrakan revolusi hijau di Indonesia memang terlihat pada dekade

1980-an. Saat itu, pemerintah mengkomando penanaman padi, pemaksaan

pemakaian bibit impor, pupuk kimia, pestisida, dan lain-lainnya. Hasilnya,

Indonesia sempat menikmati swasembada beras. Namun pada dekade

1990-an, petani mulai kelimpungan menghadapi serangan hama,

kesuburan tanah merosot, ketergantungan pemakaian pupuk yang semakin

meningkat dan pestisida tidak manjur lagi, dan harga gabah dikontrol

pemerintah

Bahan kimia sintetik yang digunakan dalam pertanian, pupuk

misalnya telah merusak struktur, kimia dan biologi tanah. Bahan pestisida

diyakini telah merusak ekosistem dan habitat beberapa binatang yang

justru menguntungkan petani sebagai predator hama tertentu. Disamping

itu pestisida telah menyebabkan imunitas pada beberapa hama. Lebih

lanjut resiko kerusakan ekologi menjadi tak terhindarkan dan terjadinya

penurunan produksi membuat ongkos produksi pertanian cenderung

meningkat. Akhirnya terjadi inefisensi produksi dan melemahkan


15

kegairahan bertani. Revolusi hijau memang pernah meningkatkan produksi

gabah. Namun berakibat:

a) Berbagai organisme penyubur tanah musnah

b) Kesuburan tanah merosot / tandus

c) Tanah mengandung residu (endapan pestisida)

d) Hasil pertanian mengandung residu pestisida

e) Keseimbangan ekosistem rusak

f) Terjadi peledakan serangan dan jumlah hama.

Revolusi Hijau bahkan telah mengubah secara drastis hakekat

petani. Dalam sejarah peradaban manusia, petani bekerja mengembangkan

budaya tanam dengan memanfaatkan potensi alam untuk pemenuhan

kebutuhan hidup manusia. Petani merupakan komunitas mandiri. Namun

dalam revolusi hijau, petani tidak boleh membiakkan benih sendiri.

Bibit yang telah disediakan merupakan hasil rekayasa genetika, dan sangat

tergantung pada pupuk dan pestisida kimia yang membuat banyak

petani terlilit hutang. Akibat terlalu menjagokan bibit padi unggul, sekitar

1.500 varietas padi lokal telah punah dalam 15 tahun terakhir ini.

Meskipun dalam Undang-Undang No. 12/1992 telah disebutkan bahwa

petani memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan jenis tanaman dan

pembudi-dayaannya, tetapi ayat tersebut dimentahkan lagi oleh ayat

berikutnya, yakni petani berkewajiban berperan serta dalam mewujudkan

rencana pengembangan dan produksi budidaya tanam (program

pemerintah). Dengan begitu, kebebasan petani tetap dikebiri oleh rezim

pemerintah.
16

BAB III

PENUTUP

1. Revolusi Hijau adalah sebutan tidak resmi yang dipakai untuk

menggambarkan perubahan fundamental dalam pemakaian teknologi

budidaya pertanian yang dimulai pada tahun 1950-an hingga 1980-an di

banyak negara berkembang, terutama di Asia.

2. Revolusi Hijau (Green Revolution) merupakan suatu revolusi produksi

biji-bijian dari hasil penemuan-penemuan ilmiah berupa benih unggul baru

dari berbagai varietas, gandum, padi, dan jagung yang mengakibatkan

tingginya hasil panen komoditas tersebut.

Tujuan Revolusi hijau adalah mengubah petani-petani gaya lama (peasant)

menjadi petani-petani gaya baru (farmers), memodernisasikan

pertanian gaya lama guna memenuhi industrialisasi ekonomi nasional.

3. Di Indonesia, penggunaan pupuk dan pestisida kimia merupakan bagian

dari Revolusi Hijau, sebuah proyek ambisius Orde Baru untuk memacu

hasil produksi pertanian dengan menggunakan teknologi modern, yang

dimulai sejak tahun 1970-an. Memang Revolusi Hijau telah menjawab

satu tantangan ketersediaan kebutuhan pangan dunia yang terus

meningkat. Namun keberhasilan itu bukan tanpa dampak dan efek

samping yang jika tanpa pengendalian, dalam jangka panjang justru

mengancam kehidupan dunia pertanian.


17

DAFTAR PUSTAKA

http://army-as.web.id/2010/11/makalah-revolusi-hijau/

http://ridwanaz.com/umum/biologi/revolusi-hijau-pengertian-revolusi-hijau-dan-
dampak-nya/

http://arifpemimpi.blogspot.com/2011/10/info-revolusi-hijau-sejarah.html

http://kampus.okezone.com/read/2011/03/11/95/433941/bacteri-sakazakii-dan-
inkonsistensi-intelektual-kita

http://blog.ub.ac.id/hierra/2011/05/13/revolusi-hijau-2/