KACANG TANAH

DI LAHAN ALFISOL ALKALIS

TEKNOLOGI PRODUKSI

⎟ 15

toleran terhadap kekeringan. seperti tipe spanish (berbiji dua) dan valensia (berbiji lebih dari dua). Pengolahan tanah • tanah dibajak 2x sedalam 15–20 cm.000 hektar) budidaya kacang tanah di Indonesia dilakukan di tanah Alfisol. Saat ini. lalu digaru. serta toleran terhadap jamur aspergillus flavus. dibersihkan dari sisa tanaman dan gulma • dibuat bedengan selebar 3–4 meter. hingga bertekstur berat (lempung). Penggunaan benih unggul • Beberapa varietas unggul baru kacang tanah mempunyai berbagai karakteristik. Varietas perlu disesuaikan dengan permintaan pasar. • benih yang digunakan dipilih yang: sehat. tahan terhadap penyakit. dan diratakan. mulai tanah bertekstur ringan (berpasir). antar bedengan dibuat saluran drainase sedalam 30 cm dan lebar 20 cm. sebagian besar (lebih dari 500. pH tanah yang tinggi (alkalis). Budidaya kacang tanah di beberapa daerah menghadapi kendala berupa pH tanah yang tinggi (alkalis) yang banyak tersebar di daerah sekitar gunung kapur. • Kebutuhan benih 150–180 kg polong kering atau 80–90 kg ose kering per hektar. dan naungan. Cara tanam • Penanaman dapat dilakukan dengan tugal atau alur bajak 16 ⎟ . seragam. bertekstur sedang (lempung berpasir). 2. 3. TEKNIK BUDIDAYA 1. dan jelas asal usulnya. tanah yang paling sesuai untuk tanaman kacang tanah adalah yang bertekstur ringan dan sedang. seperti di pantai utara dan bagian selatan Jawa Timur dan Jawa Tengah dan DIY.Teknologi Produksi Kacang Tanah PENDAHULUAN Tanaman kacang tanah pada dasarnya dapat ditanam hampir di semua jenis tanah. Namun.

digunakan jarak tanam yang lebih rapat. diberikan pada alur tanaman. Untuk tanah yang kurang subur.5 ton/ha pupuk kandang. Oleh karena itu perlu tambahan unsur S sebanyak 400 kg/ha melalui pemupukan ZA (kandungan S 24%) atau bubuk belerang (kandungan S 85%) yang dicampur rata pada tanah sebelum tanam.4) dan kandungan belerangnya rendah (kurang dari 20 ppm SO4) biasanya sering terancam klorosis (gejala kuning). perlu dipupuk 50 kg Urea/ha atau 100 kg ZA/ha. 5. Confidon 70 WS. Pengendalian hama Hama utama antara lain wereng Empoasca.dengan jarak tanam 35–40 cm x 10–15 cm. • Pada daerah yang kandungan (Ca)-nya rendah perlu diberi kapur atau dolomit sekitar 300–500 kg/ha. • Pemulihan klorosis (gejala kuning) diatasi dengan penyemprotan larutan yang mengandung 0. ⎟ 17 . • Daerah dengan tanah Alfisol-alkalis (pH > 7. Jika kandungan P-tersedia lebih dari 12 ppm tidak perlu dipupuk P. 45 dan 60 hari. 4. 0. yang diberikan pada saat tanam atau pada umur 7–15 hari. 3% ammonium sulfat (ZA).3 me/100g. Marshal 200 SC). penggerek daun Stomopteryx subscevivella.1% asam sitrat. ulat grayak Spodoptera litura .5 EC. Hama-hama tersebut dapat dikendalikan dengan insektisida kimia (Regent 50 EC. Decis 2. Kekurangan S juga dapat diatasi dengan pemberian 2. perlu diberikan 100 kg SP36 per hektar.5–1% FeSO4. Meteor 25 EC. Pemupukan • Untuk tanah yang kandungan N-totalnya kurang dari 1%.2% Urea pada umur 30. yang diberikan pada saat tanam. • Pupuk K hanya diberikan jika kandungan K-tersedia dalam tanah kurang dari 0. Kebutuhan pupuk KCl 35– 50 kg/ha KCl (45%) atau 25–40 kg/ha KCl (60%). diaplikasikan berdasarkan pemantauan hama. • Bila kandungan P-tersedia dalam tanah kurang dari 12 ppm. 0. satu biji/lubang. ulat jengkal Plusia chalcites. pupuk KCl diberikan pada saat tanam.

Dithane M-45. Penyiangan gulma dan pembubunan Penyiangan gulma pertama dilakukan sebelum tanaman berbunga dan penyiangan ke dua setelah ginofor masuk ke dalam tanah. 8. Delsane MX200 atau Daconil). beraroma tengik. menyebabkan polong mudah terinfeksi jamur Aspergillus flavus yang menyebabkan kacang menjadi pahit. Jika terlambat panen. dan bebas hama gudang. tidak lembab. Baycor. • Pada saat panen kondisi tanah harus lembab untuk mengurangi kehilangan hasil akibat polong tertinggal dalam tanah. Pengairan Periode kritis tanaman adalah pada awal pertumbuhan. Pengendalian penyakit Penyakit utama kacang tanah antara lain layu bakteri Ralstonia solanacearum. dikeringkan hingga kadar air 10% yang ditandai dengan mudah terkelupasnya kulit ari. 18 ⎟ . umur 25. Pengairan pertama bisa diberikan sebelum tanam atau segera setalah tanam. 45. berserat. Cercospora arachidicola. 10. dan beracun. Panen • Panen dilakukan minimal pada saat masak fisiologis. 9. biji dapat tumbuh di lapangan.6. sirkulasi udara lancar. Hal ini dapat diketahui dengan mengambil beberapa sampel tanaman: tanaman yang siap panen ditandai dengan dalam satu tanaman 75% kulit polongnya telah keras. Apabila pada umru kritis tersebut terjadi kekurangan air. dan 60 hari. Pascapanen • Setelah panen polong segera dirontokkan. 7. Penundaan polong basah lebih dari 24 jam. bercak daun akhir Cercosporidium personatum dan karat Puccinia arachidis dapat dikendalikan dengan fungisida kimia (Topsin. bercak daun awal. 50. bagian dalam berwarna coklat dan polong mudah pecah. diaplikasikan pada umur 35. Benlate. maka perlu pengairan yang dapat dimasukkan melalui saluran antarbedengan. dan umur 75 hari. disimpan pada gudang yang kering. • Penyimpanan sebaiknya dalam bentuk polong kering.

agak tahan infeksi Aspergillus flavus. Varietas Jerapah Varietas Turangga Varietas Kancil ⎟ 19 . Umur panen 90–95 hari. toleran terhadap kekeringan dan kemasaman.92 ton/ha. agak tahan penyakit bercak daun.0 ton/ha. ukuran biji sedang (45–50 g/ 100 biji). toleran terhadap penyakit bercak daun dan karat daun. Varietas ini beradaptasi luas. Toleran terhadap kekeringan dan penaungan serta susuai untuk tumpangsari. tahan penyakit bakteri layu. Berbiji 2 per polong (Spanish). Umur panen 90–95 hari. • TURANGGA. • KANCIL. Berbiji 2 per polong (spanish) lonjong bulat. Jerapah tahan terhadap layu bakteri. Produktivitas ratarata mencapai 1. Toleran gejala klorosis daun.VARIETAS UNGGUL • JERAPAH. ukuran sedang (35–40 g/100 biji). ukuran biji sedang (40–50 g/100 biji).0 ton/ha. Kancil tahan terhadap penyakit bakteri layu. karat dan Aspergillus flavus. agak tahan penyakit bercak daun dan karat. Umur panen 100– 110 hari. berbiji 3–4 per polong (valencia). Produktivitas rata-rata 2. Produktivitas rata-rata mencapai 2.

Hasil polong ratarata di lahan kering Alfisol alkalis 2. Hasil polong rata-rata di lahan kering Alfisol alkalis 2. Varietas ini dimurnikan dari varietas lokal Tuban. Varietas Tuban 20 ⎟ . memiliki adaptasi baik di lahan kering Alfisol seperti di Tuban. namun agak peka penyakit daun.Varietas Bison • BISON berbiji 2 per polong (spanish). tahan penyakit layu.Umur panen 90–95 hari. flavus. tahan penyakit karat. toleran penaungan. agak tahan bercak daun. flavus . Varietas Domba • TUBAN. .0 ton/ ha.1 ton/ha dengan rendemen biji 70%. sesuai untuk tumpangsari dengan tanaman jagung atau ubikayu.0 ton/ha dengan rendemen biji 72%. • DOMBA berbiji 3–4/polong.Umur panen 90–95 hari. Toleran terhadap klorosis dan beradaptasi baik di lahan kering kapuran. agak tahan A. (valencia) agak tahan penyakit karat. tahan A. agak tahan bercak daun. agak toleran kekeringan.Umur panen 90–95 hari. Hasil polong rata-rata 2. dan toleran klorosis sehingga beradaptasi baik di lahan kering kapuran. Berbiji dua/polong (spanish).