You are on page 1of 18

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PERAWATAN

SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2016/2017

Modul : LAS LISTRIK

Pembimbing : Ir.Dwi Nirwntoro,S.ST

Tanggal Praktikum :4 Mei 2017

Tanggal Penyerahan : 10 Mei 2017

Oleh :

Kelompok :V

Nama : 1. Mega Suci Lestari (151411017)

2. Moch. Hibatul Aziz (151411018)

3. Nabila Fatin Kamilasari (151411021)

4. Nabila Nisa Mukarom (151411022)

Kelas : 2A- D3 Teknik Kimia

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2017
I. Tujuan Praktikum

Mahasiswa mengerti memahami dan dapat mengoperasikan mesin las.


Mahasiswa mengerti setiap komponen-komponen dan fungsinya.
Mahasiswa dapat melakukan kerja secara efisien :
o Ketepatan waktu (dikerjakan yang terlebih utama)
o Ketelitian ukuran
o Ketelitian dalam pengelasan

Mahasiswa harus memahami bagaimana posisi yang tepat pada saat melakukan
pengelasan.

II. Landasan Teori

2.1 Prinsip Kerja Mesin Las

Pada pengelasan listrik berkas elektron, sambungan terjadi karena benda kerja
di hujani oleh berkas elektron berkecepatan sangat tinggi, akibatnya pinggiran benda
yang akan dilas mencair atau dapat dikatakan oleh adanya penetrasi dari elektron.
Biasanya tidak digunakan filler dan proses ini baik digunakan tidak saja untuk logam
biasa, tetapi juga digunakan untuk logam keras yang tahan api, termasuk logam-
logam yang sulit di las menggunakan pengelasan biasa. Untuk lebih jelas, perhatikan
gambar berikut ini.
Senapan elektron berada dalam ruang hampa yang di atur sedemikian rupa,
sehingga dapat ditarik ke atas maupun ke bawah ataupun bergerak dalam bidang

datar. Ruang hampa biasanya mencapai tekanan dimana serangkaian


berkas dipasangkan dan di arah kan secara terpusat dan fixed (stasioner), kemudian
benda kerjanya yang bergerak. Karena panasnya berkas elektron tersebut, sehingga
mampu membuat wolfram menjadi uap, bahkan bahan-bahan dengan titik didih yang
tinggin sekali pun mampu dijadikan uap.

Proses pengelasan listrik berkas elektron ini dapat dikendalikan secara


numerik khususnya untuk komponen elektronika dan tercatat mempunyai kecepatan
pengelasan sedemikian tinggi (misal: untuk Al-alloy 2024 T-4 setebal 12 mm,
kecepatan pengelasan nya = 800 mm/menit), sehingga komposisi metalurgi ke-2
logam induk tidak sempat terpengaruh.

Berkas elektron terbentuk di dalam ruang hampa, lalu mengalir melintasi


lubang khusus dan menembus gas Argon atau Helium, lalu mengenai benda kerja
(logam induk). Kecepatannya masih dapat ditingkatkan, namun menjadi tidak bebas
dari kontaminasi.

2.2 Bagian-bagian Mesin Las

Mesin las yang digerakkan dengan motor, cocok dipakai untuk pekerjaan
lapangan atau pada bengkel yang tidak mempunyai jaringan listrik. Busur nyala las
ditimbulkan oleh arus listrik yang diperoleh dari mesin las.
Busur nyala terjadi apabila dibuat jarak tertentu antara elektroda dengan benda kerja
dan kabel masa dijepitkan kebenda kerja.
2.3 Sumber Tenaga Mesin Las

Sumber tenaga mesin las dapat diperoleh dari:

motor bensin atau diesel


gardu induk

Tenaga listrik tegangan tinggi dialihkan kebengkel las melalui beberapa


transformator.
Tegangan yang diperlukan oleh mesin las biasanya:
- 110 Volt
- 220 Volt
- 380 Volt
2.4 Jenis-jenis Mesin Las

Mesin las ada dua macam, yaitu:


mesin las D.C (direct current mesin las arus searah)
mesin las A.C (alternating current mesin las arus bolak-balik)

2.4.1 Mesin Las D.C

Pemasangan kabel sekunder, pada mesin las D.C dapat diatur / dibuat menjadi
DCSP atau DCRP.
Bila kabel elektroda dihubungkan kekutub negative mesin, dan kabel masa
dihubungkan kekutub positif maka disebut hubungan polaritas lurus (D.C.S.P)
Pada hubungan D.C.S.P, panas yang timbul, sepertiga memanaskan elektroda
dan dua pertiga memanaskan benda kerja. Berarti benda kerja menerima panas
lebih banyak dari elektroda.
Bila kabel elektroda dihubungkan kekutub positif mesin, dan kabel masa
dihubungkan kekutub negative maka disebut hubungan polaritas terbaik
(D.C.R.P)

catatan:
DCSP = direct current straight polarity
DCRP = direct current revers polarity
Pada hubungan D.C.R.P, panas yang timbul, dua pertiga memanaskan
elektroda dan sepertiga memanaskan benda kerja. Berarti elektroda menerima
panas yang lebih banyak dari benda kerja
kapan dipergunakan D.C.R.P, tersebut?
Ini tergantung pada :
- bahan benda kerja
- posisi pengelasan
- bahan dan salutan elektroda
- penembusan yang diinginkan
Keuntungan-keuntungan pada mesin D.C antara lain:
- busur nyala stabil
- dapat menggunakan elektroda bersalut dan tidak bersalut
- dapat mengelas pelat tipis dalam hubungan DCRP
- dapat dipakai untuk mengelas pada tempat-tempat yang lembab dan sempit

2.4.2 Mesin Las A.C


Pada mesin las A.C, kabel masa dan kabel elektroda dapat
dipertukarkan tanpa mempengaruhi perubahan panas yang timbul pada
busur nyala.
Keuntungan-keuntungan pada mesin A.C, antara lain:
- busur nyala kecil, sehingga memperkecil kemungkinan timbunya
keropos pada rigi-rigi las
-perlengkapan dan perawatan lebih murah
Besar arus dalam pengelasan dapat diatur dengan alat penyetel, dengan
jalan memutar handle menarik atau menekan, tergantung pada
konstruksinya.

Besar ampere yang dihasilkan mesin dapat dilihat pada skala ampere.
2.5 Macam-macam Cara Pengerjaan Mesin Las

2.5.1 Las Laser

Pada mulanya, sinar laser tidak dimaksudkan untuk mengelas, biasanya


dugunakan untuk keperluan metrologi (pengukuran), termasuk untuk
mengukur/menguji kelurusan, kerataan, kesikuan dan kedataran suatu benda.
Sinar laser dapat memancarkan berkas dengan diameter sekitar 10 mm
berwarna merah dan sinarnya visibel, artinya dapat dilihat oleh mata telanjang.
Karena intensitas panas yang begitu tinggi, maka sinar laser dapat digunakan
untuk pekerjaan pengelasan dan karena energi yang dipindahkan dalam bentuk
berkas cahaya, maka laser dapat digunakan dalam media yang transparan tanpa
mengenai benda kerjanya.

Pada proses pengelasan, energi diteruskan dalam bentuk pulsa dan


bukan sebagai berkas sinar yang kontinu. Berkas cahaya dengan intensitas
panas tinggi itu dibuat terpusat pada benda kerja yang akan di las, sehingga
mampu menghasilkan peleburan (fusion) pada permukaan benda kerja yang
akan dilas.Untuk persiapan pengelasan, termasuk penyetelan peralatan utama
dan penunjang, memerlukan banyak waktu, maka tipe pengelasan jenis ini
tergolong lambat. Penggunaannya relatif terbatas, yakni untuk komponen
kecil, khususnya industri elektronika.
2.5.2 Las Gesek

Pada pengelasan gesek, penyambungan terjadi oleh adanya panas yang


ditimbulkan oleh gesekan akibat perputaran satu dengan yang lain antara
logam-logam induk dibawah pengaruh gaya aksial. Ke-2 permukaan yang
bergesekan tadi menjadi panas, bahkan mendekati titik didih logam nya,
sehingga permukaan logam didaerah tersebut menjadi plastis. Dalam kondisi
panas tersebut, pergerakan/pergesekan relatif antar ke-2 logam dihentikan,
kemudian di aplikasikan gaya tekan arah aksial, sehingga terjadi sambungan
las lantak.Besarnya gaya tekan ini, bisa sama atau lebih besar dari gaya tekan
sewaktu pemanasan, dimana nilainya tergantung dari jenis bahan yang akan di
las.Kilatan atau percikan bungan api yang timbul selama proses pengelasan,
ternyata bermanfaat untuk membersihkan sambungan dari kotoran (minyak
dan karat), terutama oksida. Gambar ilustrasi las gesek dapat dilihat dibawah
ini.

Mesin yang digunakan harus mampu memegang salah satu dari logam
induk, sedang logam lain nya diputar dan dihentikan, setelah sushu pengelasan
tercapai. Kecepatan perputaran dan tekanan kontak sangat tergantung kepada
ukuran dan jenis bahan benda kerja nya. Sebagai contoh: sebuah poros baja
karbon berdiameter 25 mm, memerlukan kecepatan putar 1500 rpm dan
tekanan aksial sebesar10 MPa, sedangkan untuk poros stainless steel dengan
ukuran yang sama, diperlukan kecepatan putar sekitar 3000 rpm dan tekanan
aksial sebesar 85 MPa.
Keunggulan:
a. peralatan sederhana
b. kecepatan pengelasan tinggi
c. mutu pengelasannya baik
d. persiapan untuk pengelasan cukup singkat
e. energi yang dibutuhkan cukup rendah

Kekurangan:
a. hanya terletak pada benda kerjanya yang harus selalu simetris.

2.5.3 Las Ultrasonik

Las ultrasonik adalah proses penyambungan padat untuk logam-logam


yang sejenis, maupun logam-logam berlainan jenis, dimana secara umum
bentuk sambungan nya adalah sambungan tindih. Energi getaran berfrekwensi
tinggi mengenai daerah las-las an dengan arah paralel dengan permukaan
sambungan. Tegangan geser osilasi pada permukaan las-las an yang terjadi
akibat pengaplikasian gaya, akan merusak dan merobek lapisan oksida yang
ada di ke-2 permukaan logam induk yang akan dilas.

Gambar ilustrasi ini, menunjukkan sistem pengelasan satu titik.

Sebelum pengelasan, perlu diatur besarnya gaya jepit, waktu dan daya
yang diperlukan, sementara itu logam induk diletakkan diatas meja kerja. Pada
menjelang periode pengelasan, sebuah elemen penggetar (sonotrode)
ditekankan pada benda kerja untuk waktu tertentu dan gaya penjepit nya
ditingkatkan secara bertahap, kemudian energi ultrasonik dihentikan secara
otomatis dan benda kerja dilepaskan.

Gaya jepit, waktu atau laju pengelasan dan energi di atur sesuai dengan
jenis dan ketebalan logam induk.Sebagai contoh lembaran tipis atau kawat-
kawat halus, hanya memerlukan energi sebesar beberapa Watt saja, sedangkan
benda yang besar dan keras, memerluka energi ratusan Watt dan gaya jepit
ribuan Newton. Waktu yang dibutuhkan untuk pengelasan biasanya kurang
dari 1 detik, bila berlangsung lebih dari 1 detik, hal ini berarti enegi ultrasonik
nya kurang., sedangkan ketebalan maksimum benda kerja adalah 3 mm.

Pengelasan ultrasonik jenis cincin atau las kampuh ultrasonik, banyak


digunakan dalam industri pengemasan, pemotongan lembaran tipis (foil),
penerbangan dan ruang angkasa serta pembuatan reaktor nuklir.

Keuntungan:
a. Waktu pengelasan relatif singkat
b. Hasil lasan lebih kuat dibandingkan pengelasan manapun

Kekurangan:
a. Tebal benda kerja maksimum 3 mm
b. Pengoperasian nya relatif sulit, terutama untuk mengetahui energi
ultrasonik yang tepat

III. METODOLOGI PERCOBAAN


3.1 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan adalah :
Mesin las
Kabel las dan brender las
Pemegang elektroda
Elektroda
Tang penjepit
Kacamata las
Gergaji besi
Besi
3.2 Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang dilakukan dalam praktikum kali ini adalah:

Mempersiapkan keseluruhan peralatan yang akan dipergunakan untuk


mengelasdan pergunakan kacamata las maupun alat pelindung yang lain.

Menyalakan busur las listrik dengan cara:


Memegang elektroda secara menyudut dan ujung elektroda
digoreskan pada permukaan benda kerja.
Memegang elektroda secara tegak lurus dan pada ujung
elektrodadiketukan/disentuhkan naik turun pada permukaan benda
kerja.

Setelah busur listrik terbentuk,elektroda digerakan ke pinggir plat.

Dilakukan pengelasan dan kubangan las dibuat melebur diameter elektoda,

Elektroda digerakan dengan kecepatan yang konstan supaya terbentuk jalur


las yang sama lebarnya.

Bila elektroda harus diganti sebelum pengelasan selesai, maka busur listrik
perlu dinyalakan lagi.

Setelah proses pengelasan selesai segera matikan busur listrik.


IV. Data Pengamatan

Nama Alat Gambar Fungsi


Mesin las Untuk sumber pembangkit
listrik

Kabel Las Tempat mengalirnya arus


listrik

Penjepit elektroda Untuk menjepit elektroda


yang digunakan

Elektroda Sebagai pembakar,


sehingga membuat busur
menyala

Pelindung sinar Untuk melindungi wajah


dari percikan bunga api
V. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan pengelasan menggunakan las listrik.
Pengelasan (welding) adalah salah salah satu teknik penyambungan logam dengan cara
mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan
atau tanpa logam penambah dan menghasilkan sambungan yang kontinyu. Tujuan praktikum
ini adalah mengerti, memahami dan dapat mengoperasikan mesin las listrik dan mengerti
setiap komponen-komponen dan fungsinya

Las listrik merupakan salah satu proses penyambungan logam dengan menggunakan
tenaga listrik sebagai sumber panas. Jenis sambungan dengan las Iistrik ini adalah merupakan
sambungan tetap. Prinsip las listrik ialah menyambung logam dengan cara mencairkan logam
menggunakan sumber panas dari bunga api listrik. Bunga api listrik terjadi dengan cara
menyalurkan arus listrik. Pengapi listrik terjadi dengan cara menyalurkan arus listrik melalui
elektroda yang didekatkan pada bagian yang akan disambung dan sekaligus elektroda yang
telah diberi bahan pelapis berfungsi sebaga kawat las atau kawat pengisi. (Morgan dan
Setiawan, 1987). Pada bagian yang terkena busur listrik tersebut akan mencair, demikian juga
elektroda yang menghasilkan busur listrik akan mencair pada ujungnya dan merambat terus
sampai habis. Logam cair dari elektroda dan dari sebagian benda yang akan disambung
tercampur dan mengisi celah dari kedua logam yang akan disambung, kemudian membeku
dan tersambunglah kedua logam tersebut.
Elektroda yang digunakan untuk pengelasan merupakan elektroda berselaput. Pada
proses pengelasan dengan menggunakan elektroda baja berselaput, busur listrik yang terjadi
diantara ujung elektroda karbon dan logam atau diantara dua ujung elektroda karbon akan
memanaskan dan mencairkan logam yang akan dilas sehingga dapat menyambungkan dua
buah logam. Untuk menyambung logam, dilakukan pengelasan dengan menggoreskan
elektroda yang terhubung dengan pemegang elektroda ( tanpa menyentuh ), hingga
memercikkan api, lalu digoreskan ke logam dengan agak cepat supaya yang hasil dari
pengelasan kuat tidak mudah patah. . Untuk penyambungan logam, api dilewatkan lebih
singkat daripada saat pemotongan, sehingga yang terjadi adalah timbulnya tambalan
tambalan kecil yang dapat menghubungkan kedua logam. Api dilewatkan tidak lama agar
yang terjadi bukan merupakan proses pemotongan logam.

Perlengkapan las selain logam yang akan di las dan elektroda terdiri dari, sebagai
berikut:
Mesin las listrik (rectifier)
Merupakan komponen utama pada las listrik yang dapat menghasilkan
tegangan listrik, sehingga elektroda menjadi panas dan dapat memancarkan
percikan api ketika digesekkan dengan kerangka besi. Rectifier yang
digunakan adalah jenis pengkutuban langsung (DC-).
pemegang elektroda
Pemegang elektroda ini berfungsi untuk menjempit elektroda berselaput agar
arus listrik dapat mengalir dari mesin las ke elektroda yang digunakan,arus
listrik akan menghasilkan panas yang apabila elektroda berselapu digoreskan
pada bidang maka elektroda akan mencair dan bersatu dengan bidang kerja
klem massa
Pada praktikum, klem massa ini dijepitkan pada bidang kerja atau kerangka
besi. Fungsi dari klem massa ini adalah menghantarkan arus listrik dari mesin
listrik ke badan kerja, sehingga menimbulkan percikan api.

pelindung sinar (tabir dan kacamata peindung)


tabir atau kacamata pelindung wajib digunakan. Tabir dan kacamata
pelindung digunakan karena pengelasan menyebabkan timbulnya sinar
inframerah dan ultra violet yang dapat merusak penglihatan

Tenaga listrik yang biasanya dipergunakan untuk mengelas yaitu arus listrik searah
(dc). Keuntungan menggunakan arus searah ialah dapat dipergunakan mengelas bermacam-
macam logam dengan bermacam-macam jenis elektroda. Selain itu dapat mengelas plat baja
berukuran tebal 1mm.

Hal-hal yang harus diperhatikan saat percobaan adalah teknik pengelasannya. Adapaun
teknik yang digunakan pada saat pengelasan adalah saat api belum memercik goreskan
elektroda denganperlahan, namun apabila api telah memercik electrode digoreskan dengan
cepat. Elektroda digoreskan dengan cepat maksudnya adalah agar elektroda yang telah
mencair tidak menempel antara bidang dan elektroda yang masih utuh. Apabila hal tersebut
terjadi, bidang dan elektroda akan menempel dan sukar untuk dilepaskan. Peralatan
keselamatan juga adalah hal yang wajib dalam praktkum ini terutama untuk melindungi mata.
Alat pelindung mata seperti tabir digunankan agar sinar berbahaya yang dihasilkan saat
pengelasan dapat terhalangi oleh alat pelindung mata. Posisi badan harus dijaga agar
pernapasan tidak mengenai asap yang ditimbulkan dari pengelasan, karena asap tersebut
berbahaya bagi kesehatan karena mengnadung gas karbit/asetilen.
Setelah pengelasan selesai, peralatan perlu disimpan ke dalam box dengan susunan
yang benar agar tidak terjadi kerusakan pada peralatan las. Selain itu, peralatan las diletakkan
di tempat yang kering karena jika terjadi kontak dengan air akan menyebabkan korsleting
listrik pada rectifier dan karat pada peralatan lainnya yang sebagian besar banyak
mengandung komponen besi.

VI. SIMPULAN DAN SARAN


6.1 Simpulan
Setelah dilakukan praktikum las listrik, dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1. Las listrik adalah termasuk suatu proses penyambungan logam dengan menggunakan
tenaga listrik sebagai sumber panas.
2. Perlengkapan las terdiri dari mesin listrik (rectifier), Pemegang elektroda, klem
massa, Pelindung sinar, Pakaian kerja, Lain-lain
3. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengelas yaitu Posisi Pengelasan, Pemilihan
Elektroda, Kecepatan Pengelasan, Pengaturan Besar Arus Listrik, Sudut Kemiringan
Elektroda dan Kerenggangannya, Bentuk sambungan dan Lintasan dan lain-lain.

VII. KESELAMATAN KERJA


Perlengkapan yang diperlukan untuk mendapatkan keselamatan kerja:
Helm dan tabir
Digunakan untuk melindungi kulit muka dan mata dari sinar las (sinar ultra violet dan
ultra merah) yang dapat merusak kulit maupun mata. Sinar Ias yang sangat
terang/kuat itu tidak boleh dilihat dangan mata langsung sampai jarak 16 meter. Helm
las ini dilengkapi dengan kaca khusus yang dapat mengurangi sinar ultra violet dan
ultra merah tersebut.
Sarung tangan
Dibuat dari kulit atau asbes lunak untuk memudahkan memegang elektroda, juga
melindungi tangan dari panas. Pada waktu mengelas harus selalu dipakai sepasang
sarung tangan.
Baju las/apron
Baju las/apron dibuat dari kulit atau dari asbes. Baju las yang lengkap dapat
melindungi badan dan sebagian kaki. Bila mengelas pada posisi diatas kepala, harus
memakai baju las yang lengkap. Pada pengelasan posisi lainnya dapat dipakai apron.
Sepatu las
Sepatu las berguna untuk melindungi kaki dari semburan bunga api. Bila tidak ada
sepatu las, sepatu biasa yang tertutup seluruhnya dapat juga dipakai.
Kamar las
Kamar Ias dibuat dari bahan tahan api. Kamar las penting agar orang yang ada di
sekitarnya tidak terganggu oleh cahaya las.
Untuk mengeluarkan gas, sebaiknya kamar las dilengkapi dangan sistem ventilasi
yaitu di dalam kamar las ditempatkan meja Ias. Meja las harus bersih dari bahan-
bahan yang mudah terbakar agar terhindar dari kemungkinan terjadinya kebakaran
oleh percikan terak las dan bunga api.
Masker las
Jika tidak memungkinkan adanya kamar las dan ventilasi yang baik, maka gunakanlah
masker las, agar terhindar dari asap dan debu las yang beracun.

VIII. DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2015. Laporan Las Listrik. http://dokumen.tips/documents/laporan-las-listrik

56462f57c0837.html [9 Mei 2017]

Bintoro,Gatot. 2000. Dasar-dasar Pekerjaan Las. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.


Ilma, Intan. T.t.. Las Listrik. http://www.dokumen.tips/documents/las-listrik-intan-
ilma.html

[9 Mei 2017]

Oktavianus, T.A. (2012). Laporan Praktikum Las Listrik.


http://aditm11.blogspot.com/2012/04/laporan-praktikum-las-listrik.html [9 Mei 2017]
LAMPIRAN