You are on page 1of 14

BAB I

PENDAHULUAN

Analisis gas darah arteri memberikan informasi tentang status asam-basa, ventilasi
dan oksigenisasi. Analisis gas darah vena memberikan informasi tergantung pada status
asam-basa pasien dan kemampuannya untuk berventilasi, instrumen gas darah mengukur
pH (konsentrasi H+), tekanan parsial dari karbon dioksida (pCO2), dengan informasi ini
mesin bisa mengkalkulasi level bikarbonat (HCO3) dan base excess (BE) dan presentasi
saturasi hemoglobin dengan oksigen (SO2).
Di dalam laboratorium klinis gas karbondioksida dan oksigen adalah gas darah yang
sering diperiksa kadarnya, sedangkan gas karbon monoksida kadang kadang diperiksa
seperti pada kasus keracunan gas karbonmonoksida. Teknik dan alat pemeriksaan gas
darah pertama kali di perkenalkan dan dipakai pada waktu wabah polio di Kopenhagen
yaitu sekitar awal tahun 1950.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Analisa gas darah, juga disebut gas darah arteri (ABG) analisis, adalah tes yang
dilakukan pada darah dari arteri bertujuan untuk mengukur jumlah oksigen dan karbon
dioksida dalam darah, serta keasaman darah (pH) . (Wilson,2006)
Prosedur memerlukan beberapa keterampilan tetapi bila dikerjakan dengan tepat akan
hanya sedikit berisiko. Komplikasi, terjadi 0,58% dari waktu termasuk episode
vasovagal, nyeri lokal, dan hematoma kecil. Pemeriksaan gas darah arteri dan pH sudah
secara luas digunakan sebagai pegangan dalam penatalaksanaan pasien-pasien penyakit
berat yang akut dan menahun. Meskipun biasanya pemeriksaan ini menggunakan
spesimen dari darah arteri,jika sampel darah arteri tidak dapat diperoleh suatu sampel
vena campuran dapat digunakan.Pemeriksaan analisa gas darah (AGD) penting untuk
menilai keadaan fungsi paru-paru.
Pemeriksaan gas darah juga dapat menggambarkan hasil berbagai tindakan penunjang
yang dilakukan, tetapi kita tidak dapat menegakkan suatu diagnosa hanya dari penilaian
analisa gas darah dan keseimbangan asam basa saja, kita harus menghubungkan dengan
riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, dan data-data laboratorium lainnya.

Tabel nilai normal gas darah dari sampel arteri dan vena campuran
Parameter Nilai normal gas darah arteri Nilai normal gas darah vena
campuran
Ph 7,35 - 7,43 7,33 - 7,43
Rata-rata 7,40 Rata-rata 7,38
PO2 80 - 100 mmHg 34 - 49 mmHg
Saturasi O2 95% - 100% 70% - 75%
PCO2 34 45 mmHg 41 51mmHg
HCO3 22 26 mEq/L 24 28 mEq/L
Kelebihan basa (base -2 sampai +2 0 sampai +4
excess/BE)
(Sumber : Hudak & Gallo 1997)

2
B. TUJUAN
Gas darah arteri memungkinkan untuk pengukuran pH darah (dan juga keseimbangan
asam basa), oksigen dalam darah, kadar karbondioksida darah, kadar bikarbonat, saturasi
oksigen, dan kelebihan atau kekurangan basa. Analisis gas darah diindikasikanuntuk
mengkaji sifat, rangkaian, dan beratnya gangguan metabolik dan pernapasan.
Penelitian ini biasanya dilakukan untuk menilai penyakit khususnya pernapasan dan
kondisi lain yang dapat mempengaruhi paru-paru, dan sebagai pengelolaan pasien untuk
terapi oksigen (terapi pernapasan). Komponen asam-basa dari uji tes dapat memberikan
informasi tentang fungsi ginjal.Secara ringkas dapat kita ambil kesimpulan tujuan GDA
yaitu untuk :
1. Menilai tingkat keseimbangan asam dan basa
2. Mengetahui kondisi fungsi pernafasan dan kardiovaskuler
3. Menilai kondisi fungsi metabolisme tubuh.
Pada dasarnya pH atau derajat keasaman darah tergantung pada konsentrasi ion
H+ dan dapat dipertahankan dalam batas normal melalui 3 faktor, yaitu:

1. Mekanisme dapar kimia


Terdapat 4 macam dapar kimia dalam tubuh, yaitu:
a. Sistem dapar bikarbonat-asam karbonat
Merupakan jumlah terbesar dalam cairan ekstrasel.
Reaksi terhadap asam :
HCl+NaHCO3 H2CO3+NaCl
H2CO3 H2O + CO2
b. Sistem dapar fosfat
Terdapat di dalam sel darah merah dan sel lain terutama di tubulus ginjal
Terdapat dalam bentuk Na2HPO4 dan NaH2PO4
Reaksi terhadap asam :
HCl + Na2HPO4 NaCl + NaH2PO4
Reaksi terhadap basa :
NaOH + NaH2PO4 Na2HPO4 + H2O
c. Sistem dapar protein
Terutama terdapat dalam sel jaringan dan juga plasma
Bekerja sebagai asam lemah maupun basa lemah ataupun garam basa yang
dapat mengikat atau melepaskan ion H+
3
d. Sistem dapar hemoglobin
Hb bekerja sebagai asam lemah dan membentuk sistem dapar dengan basa
kuat seperti bikarbonat dan fosfat.
CO2 hasil metabolisme jaringan berdifusi ke plasma lalu ke SDM.
CO2 + H2O H2CO3 H+ + HCO3-
H+ + Hb- HHb
HCO3- + K+ KHCO3 di dalam SDM
KHCO3 K+ + HCO3- masuk plasma
Ion Cl- plasma mengimbangi masuk SDM KC
2. Mekanisme pernafasan
3. Mekanisme ginjal
Mekanismenya terdiri dari:
a. Reabsorpsi ion HCO3-
b. Asidifikasi dari garam-garam dapar
c. Sekresi ammonia

C. INDIKASI
1. Pasien dengan penyakit obstruksi paru kronik.
2. Pasien deangan edema pulmo.
3. Pasien akut respiratori distress sindrom (ARDS).
4. Infark miokard.
5. Pneumonia
6. Klien syok
7. Post pembedahan coronary arteri baypass.
8. Resusitasi cardiac arrest.
9. Klien dengan perubahan status respiratori.
10. Anestesi yang terlalu lama.

D. KOMPLIKASI
1. Apabila jarum sampai menebus periosteum tulang akan menimbulkan nyeri.
2. Perdarahan.
3. Cidera syaraf.
4. Spasme arteri.

4
E. LOKASI FUNGSI ARTERI

1. Arteri radialis dan arteri ulnaris (sebelumnya dilakukan allens test)


2. Arteri brakialis
3. Arteri femoralis
4. Arteri tibialis posterior
5. Arteri dorsalis pedis
Arteri femoralis atau brakialis sebaiknya tidak digunakan jika masih ada
alternatif lain, karena tidak mempunyai sirkulasi kolateral yang cukup untuk
mengatasi bila terjadi spasme atau trombosis. Sedangkan arteri temporalis atau
axillaris sebaiknya tidak digunakan karena adanya risiko emboli otak.
Contoh allens test:

Cara allens test:


Minta klien untuk mengepalkan tangan dengan kuat, berikan tekanan langsung
pada arteri radialis dan ulnaris, minta klien untuk membuka tangannya, lepaskan
tekanan pada arteri, observasi warna jari-jari, ibu jari dan tangan. Jari-jari dan tangan
harus memerah dalam 15 detik, warna merah menunjukkan test allens positif.
Apabila tekanan dilepas, tangan tetap pucat, menunjukkan test allens negatif. Jika
pemeriksaan negatif, hindarkan tangan tersebut dan periksa tangan yang lain.

5
F. PROSEDUR PENGAMBILAN DAN NILAI - NILAI NORMAL GAS DARAH
ARTERI
Penemuan kembali teknik untuk pengukuran elektroda gas darah arteri telah
memungkinkan analisis laboratorium cepat terhadap ketidakseimbangan asam-basa.
Pada tahun 1960-an, gas darah arteri (GDA) diambil hanya oleh dokter. Sejak 1970-
an perawat telah dapat mengambil dengan aman.
Prosedur meskipun secara standar dasar nasional, namun agak beragam antar
institusi. Punksi arteri dipertimbangkan sebagai keterampilan lanjut pada semua
perawat unit kritis. Jangan mengubah tambahan oksigen pasien segera sebelum
pengambilan sampel. Perubahan terhadap sistem pengiriman oksigen memerlukan 15
menit untuk adaptasi. Pengecualian terhadap aturan ini adalah selama upaya
resusitasi.
Berikut tabel mengenai nilai normal gas darah arteri (GDA)
Tes Nilai normal GDA
Ph 7,35 - 7,43
Rata-rata 7,40
PO2 80 - 100 mmHg
Saturasi O2 95% - 100%
PCO2 34 45 mmHg
HCO3 22 26 mEq/L
Kelebihan basa (base excess/BE) -2 sampai +2

Nilai normal gas darah arteri dapat terlihat pada tabel di atas, perhatikan
bahwa hanya ada dua pengukuran, PO2 dan PCO2 adalah pengukuran gas darah
secara nyata. Namun semua nilai harus ditentukan dengan analisa gas darah. Ini
penting sekali bahwa pengukuran komponen non-pernapasan (metabolik)
dimasukkan, dan HCO3 aktual dan kelebihan basa paling berguna.
Orang tua memiliki nilai PO2 dan saturasi oksigen mendekati bagian yang
lebih rendah dari rentang normal, dan orang muda cenderung mempunyai nilai lebih
tinggi dari normal.
Asam adalah suatu substansi yang dapat mendonorkan ion H+ , yang dapat
dikatakan sebagai bagian paling penting dalam asam. Banyak substansi memiliki H+
dalam struktur kimianya, tetapi beberapa tidak dapat mendonorkan H+ karena

6
ikatannya terlalu kuat. Hanya substansi tertentu yang dapat melepaskan H+nya disebut
asam.
Basa adalah substansi yang dapat menerima atau berikatan dengan H+. Istilah
basa dan alkali digunakan dengan cara saling bertukaran.
Pengukuran pH adalah satu-satunya cara untuk menentukan apakah tubuh
terlalu asam atau terlalu alkali. Angka pH rendah (dibawah 7,35) menunjukkan status
asam dan angka pH tinggi (diatas 7,45) menunjukkan status alkali.
Definisi

Asam : substansi yang dapat mendonorkan ion hidrogen, H+. Contohnya :


H2CO3 H+ + HCO3-
(asam)

Basa : substansi yang dapat menerima ion hidrogen, H+. Semua basa adalah substansi
alkalin. Contohnya:
HCO3- + H+ H2CO3
(basa)

PROSEDUR UNTUK PENGAMBILAN ANALISA GAS DARAH ARTERI


A. Alat
1. Spuit gelas atau plastik 5 atau 10 ml
2. Botol heparin 10 ml, 1000 unit / ml (dosis multi)
3. Jarum nomor 22 atau 25 (bevel pendek)
4. Penutup udara dari karet
5. Kapas alkohol
6. Wadah berisi es ( baskom atau kantong plastik )
7. Beri lebel untuk menulis status klinis pasien yang meliputi :
a. Nama, tanggal, dan waktu
b. Apakah menerima O2 dan bila ya berapa banyak dan dengan rute apa
c. Suhu

7
B. Teknik
1. Arteri radialis umumnya dipakai meskipun brakhialis juga dapat digunakan
2. Bila menggunakan pendekatan arteri radialis lakukan tes Allens. Secara terus
menerus bendung arteri radialis dan ulnaris. Tangan akan putih kemudian
pucat. Lepaskan aliran arteri ulnaris. Tes Allens positif bila tangan kembali
menjadi bewarna merah muda. Ini meyakinkan aliran arteri bila aliran arteri
radialis tidak paten
3. Pergelangan tangan dihiperektensikan dan tangan dirotasi luar.
a. Penting sekali melakukan hiperektensi pergelangan tangan-biasanya
menggunakan gulungan handuk untuk melakukan ini.
b. Untuk fungsi arteri brakialis, siku dihiperektensikan setelah
meletakkan handuk dibawah siku.
4. 1 ml Heparin diaspirasi kedalam spuit, sehingga dasar spuit basah dengan
heparin, dan kelebihan heparin dibuang melalui jarum, dilakukan perlahan
sehingga pangkal jarum penuh dengan heparin dan tak ada gelembung udara.
5. Arteri brakialis atau radialis dilokalisasi dengan palpasi dengan jari tengah dan
jari telunjuk, dan titik maksimum denyut ditemukan. Bersihkan tempat
tersebut dengan kapas alkohol.
6. Jarum dimasukkan dengan perlahan kedalam area yang mempunyai palpasi
penuh. Ini akan paling mudah dengan memasukkan jarum dan spuit kurang
lebih 45-90 derajat terhadap kulit.
7. Sering kali jarum masuk menembus pembuluh arteri dan hanya dengan jarum
ditarik perlahan darah akan masuk ke spuit.
8. Indikasi satu-satunya bahwa darah tersebut darah arteri adalah adanya
pemompaan darah kedalam spuit dengan kekuatannya sendiri
a. Bila kita harus mangaspirasi darah dengan menarik plunger spuit. Ini
kadang-kadang diperlukan pada spuit plastik yang terlalu keras..
sehingga tak mungkin darah tersebut positif dari arteri. Hasil gas
darah tidak memungkinkan kita untuk menentukan apakah darah dari
arteri atau dari vena.
9. Setelah dara 5 ml diambil, jarum dilepaskan dan petugas yang lain menekan
area yang dipungsis selama sedikitnya 5 menit (10 menit untuk pasien yang
mendapat antikoagulan)

8
10. Gelembung udara harus dibuang keluar spuit. Lepaskan jarum dan tempatkan
penutup udara pada spuit. Putar spuit diantara telapak tangan untuk
mencampurkan heparin.
11. Spuit diberi lebel dan segera tempatkan dalam es atau air es, kemudian bawa
ke laboratorium.
12. Catatan :
a. Bila saturasi O2 juga diukur, ini memberikan pencocokan-silang untuk
keakuratan PO2 (gunakan PO2 dan pH untuk menghitung saturasi O2
pada aturan mikroskopik gas darah dan melihat apakah saturasi O2
yang dihitung ini sesuai dengan saturasi O2 yang diukur ditambah
karboksihemoglobin (saturasi O2 yang terhitung = saturasi O2 yang
diukur + karboksihemoglobin)
b. Bila kandungan CO2 juga diukur, ini memberikan pencocokan-silang
untuk keakuratan PCO2 ( gunakan PCO2 dan pH untuk menghitung
kandungan CO2 pada aturan mikroskopik gas darah dan melihat apakah
kandungan CO2 yang dihitung sesuai dengan kandungan CO2 yang
diukur)
c. Cara lain untuk meyakinkan keakuratan yaitu dengan melakuakn tes
duplikat ada dua penganalisa gas darah yang berbeda. Bila ada
perbedaan dalam dua penentuan, tes harus dilakuakan untuk ketiga
kalinya.
d. Teknisi melakukan analisa dan harus melaporkan adanya kecurigaan
bahwa hasil tidak benar. Contoh :
1) Bila spuit datang dengan ada gelembung udara
2) Bila saturasi O2 yang dihitung dan dan saturasi O2 yang di ukur
tidak sesuai
3) Bila kandungan CO2 yang dihitung dan kandungan CO2 yang
diukur tidak sesuai.

9
G. LANGKAH-LANGKAH UNTUK MENILAI GAS DARAH

1. Pertama-tama perhatikan pH (jika menurun klien mengalami asidemia, dengan


dua sebab asidosis metabolik atau asidosis respiratorik; jika meningkat klien
mengalami alkalemia dengan dua sebab alkalosis metabolik atau alkalosis
respiratorik; ingatlah bahwa kompensasi ginjal dan pernafasan jarang
memulihkan pH kembali normal, sehingga jika ditemukan pH yang normal
meskipun ada perubahan dalam PaCO2 dan HCO3 mungkin ada gangguan
campuran)
2. Perhatikan variabel pernafasan (PaCO2 ) dan metabolik (HCO3) yang
berhubungan dengan pH untuk mencoba mengetahui apakah gangguan primer
bersifat respiratorik, metabolik atau campuran (PaCO2 normal, meningkat atau
menurun; HCO3 normal, meningkat atau menurun; pada gangguan asam basa
sederhana, PaCO2 dan HCO3 selalu berubah dalam arah yang sama;
penyimpangan dari HCO3 dan PaCO2 dalam arah yang berlawanan menunjukkan
adanya gangguan asam basa campuran).
3. Langkah berikutnya mencakup menentukan apakah kompensasi telah terjadi (hal
ini dilakukan dengan melihat nilai selain gangguan primer, jika nilai bergerak
yang sama dengan nilai primer, kompensasi sedang berjalan).
4. Buat penafsiran tahap akhir (gangguan asam basa sederhana, gangguan asam basa
campuran).
Tes Rentang normal dewasa Interpretasi
PaO2 80-100 mmHg
PaCo2 35-45 mmHg
Ph 7,35-7,43
HCO3 22 26 mEq/L
SaO2 95% - 100%
Nilai gas darah normal :

Tekanan parsial oksigen (PaO2) : 80-100 mm Hg


Tekanan parsial karbon dioksida (PaCO2) : 35-45 mmHg
Oksigen konten (O2CT): 15-23%
Saturasi oksigen (SaO2): 95-100%
Bikarbonat (HCO3): 22-26 mEq / liter

10
Istilah Asam-Basa

Pengukuran pH : Hanya satu-satunya cara untuk memberitahukan bila tubuh terlalu asam atau
terlalu alkali
Asidemia : Kondisi asam darah pH < 7.35
Alkelemia : Kondisi alkalin darah pH > 7,45
Asidosis : Proses penyebab asidemia
Alkalosis : Proses penyebab alkalemia

Bila angka lebih rendah dari 7,35, terjadi asidemia dan bila lebih tinggi dari 7,45
terjadi alkelemia. Asidemia berarti kondisi dimana darah terlalu asam. Asidosis berarti
proses pada pasien yang menyebabkan asidemia. Kata sifat dari proses ini adalah
asidotik. Alkalosis berarti proses pada pasien yang menyebabkan alkalamia, dan kata
sifat proses ini adalah alkalotik.
Perhatian yang besar terhadap hal ini telah diberian untuk mendefenisikan istilah
karena akan ada lebih dari satu proses yang terjadi pada pasien pada waktu yang
bersamaan. Sebagai contoh bila asidosis dan alkalosis terjadi bersamaan, pH
menunjukkan proses mana yang lebih kuat diantara keduanya. pH dibawah 7,35 bila
asidosis lebih kuat, di atas 7,45 bila alkalosis lebih kuat, dan diantara 7,35 dan 7,45 bila
asidosis dan alkalosis hampir sama kuatnya. Nilai pH darah menunjukkan rata-rata
asidosis dan alkalosis yang terjadi.

H. TANDA DAN GEJALA GANGGUAN ASAM-BASA

Tanda dan Gejala Gangguan Asam-Basa

Gangguan Asam-Basa Tanda dan Gejala

Asidosis Respiratori Tanda-tanda narkosis CO2 :


- Sakit kepala
- Letargi
- Mengantuk
- Koma
- Peningkatan frekuensi jantung

11
- Hipertensi
- Berkeringat
- Penurunan responsivitas
- Tremor/asteriksis
- Papiledema
- Dipsnea (bisa ada atau tidak)

Alkalosis Respiratori Gejala tidak jelas :


- Pusing
- Kebas
- Kesemutan (parastesia)
- Ekstremitas
- Kram otot
- Tetani
- Kejang
- Peningkatan refleks tendon dalam aritmia
- Hiperventilasi

Pernapasan Kassmaul
Asidosis Metabolik Hipotensi
Letargi
Mual dan muntah

Non-spesifik :
Alkalosis Metabolik - Refleks hiperaktif
- Tetani
- Hipertensi
- Kram otot
- Kelemahan

12
I. ABNORMALITAS PERNAPASAN

Parameter Kondisi Mekanisme

PCO2 Asidosis Respiratori Penurunan dalam pengeluaran gas CO2 oleh


paru ( hipoventilasi )

PCO2 Alkalosis Respiratori Peningkatan pengeluaran gas CO2 oleh paru


( hiperventilasi )

HCO3- Alkalosis non-respiratori 1. Asam non-volatil hilang


(metabolik)
BE 2. HCO3- meningkat

HCO3- Asidosis non-respiratori 1. Asam non-volatil ditambahkan


(metabolik) (menggunakan HCO3- )

BE 2. HCO3- hilang

13
DAFTAR PUSTAKA

1. Stein SM. BOHS Pharmacy practice manual: a guide to the clinical experience. 3rd ed.
2010.
2. Lippincott Williams & Wilkins. Hughes J. Use of laboratory test data: process guide and
reference for pharmacists. 2004.
3. Pharmaceutical Society of Australia. Kailis SG, Jellet LB, Chisnal W, Hancox DA.
4. A rational approach to the interpretation of blood and urine pathology tests. Aust J
Pharm 1980 (April): 221-30 KDOQI Clinical Practice Guidelines for Chronic Kidney
Disease: Evaluation, Classifi cation, and Stratifi cation. 2000. National Kidney
Foundation.

14