You are on page 1of 431

351.

077
Ind
p

PROFIL KESEHATAN INDONESIA


TAHUN 2016

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


2017
351.077 Katalog Dalam Terbitan. Kementerian Kesehatan RI
Ind
p Indonesia. Kementerian Kesehatan RI. Sekretariat Jenderal
Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2016. --
Jakarta : Kementerian Kesehatan RI. 2017

ISBN 978-602-416-253-5
1. Judul I. HEALTH STATISTICS

Buku ini diterbitkan oleh


Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Jalan HR. Rasuna Said Blok X-5 Kav 4-9, Jakarta 12950
Telepon no: 62-21-5229590, 5221432, 5277168
Fax no: 62-21-5277168
E-mail: datainformasi.pusdatin@kemkes.go.id
Website: http://www.kemkes.go.id

ii
TIM PENYUSUN
Pengarah
dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes
Sekretaris Jenderal Kemenkes RI

Ketua
Dr. drh. Didik Budijanto, M.Kes
Kepala Pusat Data dan Informasi

Editor
drg. Rudy Kurniawan, M.Kes
Yudianto, SKM, M.Si
Boga Hardhana, S.Si, MM
drg. Titi Aryati Soenardi, M.Kes

Anggota
Cecep Slamet Budiono, SKM, MSc.PH; Nuning Kurniasih, S.Si.Apt, Msi;
Evida V. Manullang, S.Si, MKM; Wardah, SKM, MKM; dr. Fetty Ismandari, M.Epid;
Marlina Indah Susanti, SKM, M.Epid; Supriyono Pangribowo, SKM, MKM;
Annisa Harpini, SKM, MKM; Khairani SKM, MKM; Ratri Aprianda, SKM, MKM;
Eka Satriani Sakti, SKM; dr. Yoeyoen Aryantin Indrayani; Reno Mardina, SKM;
Erwin Susetyoaji, SKM, M.Kes; Hira Ahmad Habibi, S.Sn; Dian Mulya Sari, S.Ds;
B. B. Sigit; Sinin; Hellena Maslinda

Kontributor
Kementerian Dalam Negeri; Badan Pusat Statistik; Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional; Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan;
Biro Perencanaan dan Anggaran; Biro Keuangan dan BMN; Biro Kepegawaian; Pusat Pembiayaan
dan Jaminan Kesehatan; Pusat Krisis Kesehatan; Pusat Kesehatan Haji; Setditjen. Kesehatan
Masyarakat; Dit. Kesehatan Keluarga; Dit. Kesehatan Lingkungan; Dit. Kesehatan Kerja dan
Olahraga; Dit. Gizi Masyarakat; Setditjen. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit; Dit.
Surveilans dan Karantina Kesehatan; Dit. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular
Langsung; Dit. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik; Setditjen.
Pelayanan Kesehatan; Dit. Pelayanan Kesehatan Primer; Dit. Pelayanan Kesehatan Rujukan; Dit.
Pelayanan Kesehatan Tradisional; Setditjen. Kefarmasian dan Alat Kesehatan; Set. Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan; Set Badan Pengembangan dan Pemberdayaan
Sumber Daya Manusia Kesehatan; Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan Sumber Daya
Manusia kesehatan; Pusat Pendidikan Sumber Daya Manusia Kesehatan; Konsil Kedokteran
Indonesia; Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia

iii
KATA PENGANTAR
SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Berkat rahmat dan izin Allah SWT maka penyusunan Profil


Kesehatan Indonesia 2016 telah selesai lebih cepat dibanding tahun
sebelumnya. Penghargaan dan ucapan terima kasih kami sampaikan
kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan
Profil Kesehatan Indonesia 2016 ini.

Profil Kesehatan Indonesia yang berisi situasi dan kondisi kesehatan


yang cukup komprehensif ini disusun berdasarkan ketersediaan
data, informasi, dan indikator kesehatan yang ada. Sumber data
diperoleh dari unit teknis di lingkungan Kementerian Kesehatan
serta institusi lain terkait seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial (BPJS), Kementerian Dalam Negeri dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN) baik berupa data rutin maupun hasil dari survei atau sensus.

Profil Kesehatan Indonesia 2016 ini menyajikan data dan informasi tentang Demografi,
Sarana Kesehatan, Tenaga Kesehatan, Pembiayaan Kesehatan, Kesehatan Keluarga, serta
Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan. Data dan informasi yang ditampilkan
pada Profil Kesehatan Indonesia dapat membantu dalam membandingkan capaian
pembangunan kesehatan antara satu provinsi dengan provinsi lainnya, mengukur capaian
pembangunan kesehatan di Indonesia, serta sebagai dasar untuk perencanaan program
pembangunan kesehatan selanjutnya.

Selain dalam bentuk cetakan, Buku Profil Kesehatan ini tersedia dalam bentuk soft copy
yang dapat diunduh melalui website www.kemkes.go.id. Semoga publikasi ini dapat berguna
bagi semua pihak, baik pemerintah, organisasi profesi, akademisi, sektor swasta, dan
masyarakat serta berkontribusi secara positif bagi pembangunan kesehatan di Indonesia.
Kritik dan saran kami harapkan sebagai penyempurnaan profil yang akan datang.

Jakarta, Juli 2017


Sekretaris Jenderal
Kementerian Kesehatan

dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes

iv
KATA SAMBUTAN
MENTERI KESEHATAN RI

Pembangunan kesehatan diselenggarakan untuk


meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup
sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya. Program prioritas
Pembangunan Kesehatan pada periode 2015 2019
dilaksanakan melalui Program Indonesia Sehat dengan
mewujudkan paradigma sehat, penguatan pelayanan
kesehatan, dan jaminan kesehatan nasional. Upaya
mewujudkan paradigma sehat ini dilakukan melalui
pendekatan keluarga dan gerakan masyarakat hidup sehat
(Germas).

Keberhasilan pelaksanaan pembangunan kesehatan sangat dipengaruhi oleh pendekatan,


kebijakan, dan strategi program yang tepat serta sasaran yang jelas. Agar sumber daya yang
ada dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien, maka upaya-upaya pembangunan
kesehatan diselenggarakan secara terintegrasi sejak dari perencanaan sampai ke
pelaksanaan, pemantauan dan evaluasinya. Sasarannya pun difokuskan kepada keluarga,
dengan dihidupkannya kembali Pendekatan Keluarga. Dukungan data dan informasi
kesehatan yang akurat, tepat, dan cepat sangat menentukan dalam pengambilan keputusan
menuju arah kebijakan dan strategi pembangunan kesehatan yang tepat.

Saya menyambut gembira atas terbitnya Profil Kesehatan Indonesia 2016 sebagai publikasi
data dan informasi kesehatan yang komprehensif. Publikasi seperti ini diharapkan dapat
digunakan sebagai landasan dalam pengambilan keputusan dalam setiap proses manajemen
kesehatan. Profil Kesehatan ini juga merupakan pemenuhan hak terhadap akses informasi
dan edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab. Saya berharap
upaya peningkatan kualitas Profil Kesehatan Indonesia terus dilakukan, baik ketepatan
waktu, validitas, kelengkapan, dan konsistensi data, serta kecepatan penerbitan Profil
Kesehatan Indonesia ini sehingga pemanfaatannya akan lebih optimal. Pada kesempatan ini
pula saya mengajak kepada semua pihak untuk saling bersinergi dalam menyelenggarakan
pembangunan kesehatan guna tercapainya sasaran pembangunan kesehatan yang berbasis
data.

v
iv
Akhir kata saya sampaikan penghargaan dan terima kasih kepada semua pihak yang
berkontribusi, khususnya pengelola data di pusat, daerah, dan lintas sektor dalam
penyusunan Profil Kesehatan 2016 ini.

Jakarta, Juli 2017


Menteri Kesehatan RI

Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek Sp.M (K)

vi
DAFTAR GAMBAR

BAB I. DEMOGRAFI
GAMBAR 1.1 JUMLAH PENDUDUK INDONESIA (DALAM JUTAAN) MENURUT JENIS
KELAMIN TAHUN 2012 2016 .................................................................................... 2

GAMBAR 1.2 JUMLAH PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 2012 ................................ 3

GAMBAR 1.3 PERSENTASE PERSEBARAN PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2016 ............... 3

GAMBAR 1.4 PIRAMIDA PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2016 ................................................ 4

GAMBAR 1.5 PETA PERSEBARAN KEPADATAN PENDUDUK (JIWA/KM DI DONESIA


TAHUN 2016 ....................................................................................................................... 5

GAMBAR 1.6 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TAHUN 2013 2016 (DALAM


PERSEN) ................................................................................................................................ 7

GAMBAR 1.7 GARIS KEMISKINAN DI INDONESIA TAHUN 2012 2016 ................................. 8

GAMBAR 1.8 PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MENURUT PROVINSI TAHUN 2016 ....... 9

GAMBAR 1.9 PERSENTASE RATA-RATA PENGELUARAN PER-KAPITA PER-BULAN


TAHUN 2016 ...................................................................................................................... 11

GAMBAR 1.10 TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA (TPT) TAHUN 2016 .............................. 13

GAMBAR 1.11 RATA-RATA LAMA SEKOLAH PENDUDUK UMUR 15 TAHUN KEATAS


(DALAM TAHUN) TAHUN 2012 - 2016 ..................................................................... 14

GAMBAR 1.12 ANGKA MELEK HURUF (DALAM PERSEN) MENURUT PROVINSI TAHUN
2016 ....................................................................................................................................... 15

GAMBAR 1.13 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH TAHUN 2013 - 2016 ................ 16

GAMBAR 1.14 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI KASAR PENDIDIKAN TAHUN 2013 -


2016 ....................................................................................................................................... 17

GAMBAR 1.15 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI MURNI PENDIDIKAN TAHUN 2013 -


1016 ....................................................................................................................................... 18

GAMBAR 1.16 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA MENURUT PROVINSI TAHUN 1996 -


2016 ....................................................................................................................................... 19

GAMBAR 1.17 KOMPONEN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA INDONESIA TAHUN


2015 - 2016 ......................................................................................................................... 20

GAMBAR 1.18 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA INDONESIA MENURUT PROVINSI


TAHUN 2016 ....................................................................................................................... 21

vii
BAB II. SARANA KESEHATAN
GAMBAR 2.1 JUMLAH PUSKESMAS TAHUN 2012 2016 ........................................................... 26

GAMBAR 2.2 RASIO PUSKESMAS PER KECAMATAN DI INDONESIA TAHUN 2012 2016
................................................................................................................................................... 27

GAMBAR 2.3 JUMLAH PUSKESMAS YANG MEMBERIKAN PELAYANAN SESUAI


STANDAR DI INDONESIA TAHUN 2016 .................................................................... 28

GAMBAR 2.4 JUMLAH PUSKESMAS RAWAT INAP DAN NON RAWAT INAP TAHUN
2012 2016 ........................................................................................................................ 29

GAMBAR 2.5 JUMLAH PUSKESMAS YANG MELAKSANAKAN PELAYANAN KESEHATAN


KERJA DI INDONESIA TAHUN 2016 ............................................................................ 31

GAMBAR 2.6 JUMLAH PUSKESMAS YANG MELAKSANAKAN PELAYANAN KESEHATAN


OLAH RAGA DI INDONESIA TAHUN 2016 ................................................................ 32

GAMBAR 2.7 PUSKESMAS YANG MENYELENGGARAKAN PELAYANAN KESEHATAN


TRADISIONAL TAHUN 2016 .......................................................................................... 34
GAMBAR 2.8 PUSKESMAS YANG MENYELENGGARAKAN PELAYANAN KESEHATAN
TRADISIONALDI INDONESIA TAHUN 2016 .............................................................. 34
GAMBAR 2.9 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DAN RUMAH SAKIT
KHUSUS DI INDONESIA TAHUN 2013 - 2016 ........................................................ 36

GAMBAR 2.10 PERSENTASE RUMAH SAKIT MENURUT KELAS DI INDONESIA TAHUN


2016 ....................................................................................................................................... 37
GAMBAR 2.11 RASIO JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT PER 1.000 PENDUDUK DI
INDONESIA TAHUN 2012 - 2016 ................................................................................. 37
GAMBAR 2.12 RASIO TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT PER 1.000 PENDUDUK DI
INDONESIA TAHUN 2016 ............................................................................................... 38
GAMBAR 2.13 PERSENTASE AKREDITASI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2016 ....... 39
GAMBAR 2.14 JUMLAH SARANA PRODUKSI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN DI
INDONESIA TAHUN 2016 ............................................................................................... 41

GAMBAR 2.15 JUMLAH SARANA DISTRIBUSI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN DI


INDONESIA TAHUN 2015 ............................................................................................... 41
GAMBAR 2.16 PERSENTASE INSTALASI FARMASI KABUPATEN/KOTA YANG
MELAKUKAN MANAJEMEN PENGELOLAAN OBAT DAN VAKSIN SESUAI
STANDAR DI INDONESIA TAHUN 2016 .................................................................... 43
GAMBAR 2.17 JUMLAH PROGRAM STUDI POLTEKKES DIPLOMA III DAN IV DI
INDONESIA TAHUN 2016 ............................................................................................... 45

GAMBAR 2.18 JUMLAH PESERTA DIDIK DIPLOMA III DAN IV POLTEKKES DI INDONESIA
TAHUN 2016 ....................................................................................................................... 46

viii
BAB III. SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN
GAMBAR 3.1 REKAPITULASI SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN DI INDONESIA
TAHUN 2016 ....................................................................................................................... 50

GAMBAR 3.2 JUMLAH TENAGA MEDIS DI INDONESIA TAHUN 2016 ...................................... 51

GAMBAR 3.3 JUMLAH SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN DI PUSKESMAS DI


INDONESIA TAHUN 2016 ............................................................................................... 52

GAMBAR 3.4 PERSENTASE PUSKESMAS DENGAN KECUKUPAN DOKTER MENURUT


REGIONAL DI INDONESIA TAHUN 2016 ................................................................... 53

GAMBAR 3.5 PERSENTASE PUSKESMAS DENGAN KECUKUPAN DOKTER GIGI DI


INDONESIA TAHUN 2016 ............................................................................................... 54

GAMBAR 3.6 PERSENTASE PUSKESMAS DENGAN KECUKUPAN PERAWAT DI


INDONESIA TAHUN 2016 ............................................................................................... 55

GAMBAR 3.7 PERSENTASE PUSKESMAS DENGAN KECUKUPAN BIDAN DI INDONESIA


TAHUN 2015 ....................................................................................................................... 56

GAMBAR 3.8 PERSENTASE PUSKESMAS YANG MEMILIKI LIMA JENIS TENAGA


KESEHATAN PROMOTIF DAN PREVENTIF MENURUT PROVINSI TAHUN
2016 ....................................................................................................................................... 57

GAMBAR 3.9 JUMLAH SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN DI RUMAH SAKIT DI


INDONESIA TAHUN 2016 ............................................................................................... 58

GAMBAR 3.10 JUMLAH DOKTER SPESIALIS DAN DOKTER GIGI SPESIALIS DI RUMAH
SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2016 ............................................................................. 59

GAMBAR 3.11 PERSENTASE RUMAH SAKIT KABUPATEN/KOTA YANG MEMILIKI EMPAT


DOKTER SPESIALIS DASAR DAN TIGA DOKTERSPESIALIS PENUNJANG
MENURUT PROVINSI TAHUN 2016 ............................................................................ 60

GAMBAR 3.12 KABUPATEN/KOTA DAERAH TERTINGGAL, TERDEPAN, DAN TERTULAR


(3T) ......................................................................................................................................... 61

GAMBAR 3.13 PERBANDINGAN JUMLAH TENAGA KESEHATAN (DOKTER UMUM,


DOKTER GIGI, PERAWAT, DAN BIDAN DI DAERAH 3T DENGAN JUMLAH
NASIONAL TAHUN 2016 ................................................................................................. 62

GAMBAR 3.14 RASIO DOKTER TERHADAP 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN


2016 ....................................................................................................................................... 63

GAMBAR 3.15 RASIO DOKTER GIGI TERHADAP 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA


TAHUN 2016 ....................................................................................................................... 64

GAMBAR 3.16 RASIO PERAWAT TERHADAP 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN


2016 ....................................................................................................................................... 65

ix
GAMBAR 3.17 RASIO BIDAN TERHADAP 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN
2016 ....................................................................................................................................... 66

GAMBAR 3.18 JUMLAH DOKTER UMUM, DOKTER GIGI, DOKTER SPESIALIS, DAN
DOKTER GIGI SPESIALIS YANG MEMILIKI STR PER 31 DESEMBER 2016 ..... 67

GAMBAR 3.19 JUMLAH PENERBITAN STR MENURUT RUMPUN TENAGA KESEHATAN


TAHUN 2016 ....................................................................................................................... 68

GAMBAR 3.20 JUMLAH PENERBITAN STR BARU MENURUT RUMPUN TENAGA


KESEHATAN TAHUN 2016 ............................................................................................. 69

GAMBAR 3.21 JUMLAH LULUSAN DIPLOMA III DAN DIPLOMA IV POLITEKNIK


KESEHATAN MENURUT JENIS TENAGA KESEHATAN TAHUN 2016 .............. 70

GAMBAR 3.22 JUMLAH DOKTER SPESIALIS, DOKTER GIGI SPESIALIS, DOKTER UMUM,
DOKTER GIGI, DAN BIDAN SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP AKTIF
MENURUT KRITERIA WILAYAH DI INDONESIAPER 31 DESEMBER TAHUN
2016 ....................................................................................................................................... 72

GAMBAR 3.23 JUMLAH RESIDEN DOKTER SPESIALIS BERDASARKAN REGIONAL


WILAYAH PADA TAHU 2016 ......................................................................................... 73

GAMBAR 3.24 JUMLAH DOKTER PESERTA INTERNSIP TAHUN 2016 ......................................... 74

GAMBAR 3.25 KABUPATEN/KOTA PENEMPATAN NUSANTARA SEHAT TAHUN 2016 ...... 76

GAMBAR 3.26 JUMLAH PENEMPATAN TENAGA KESEHATAN PADA TIM NUSANTARA


SEHAT TAHUN 2016 ......................................................................................................... 76

GAMBAR 3.27 TREN PERMOHONAN REKOMENDASI PENGAJUAN/PERPANJANGAN


RPTKA DAN IMTA BAGI SDMK WNA TAHUN 2014-2016 .................................. 78

BAB IV. PEMBIAYAAN KESEHATAN


GAMBAR 4.1 ALOKASI DAN REALISASI ANGGARAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI
TAHUN 2010 2016 ........................................................................................................ 82

GAMBAR 4.2 ALOKASI DAN REALISASI ANGGARAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI


MENURUT UNIT ESELON I TAHUN 2016 ................................................................. 82
GAMBAR 4.3 PERSENTASE ANGGARAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI BERDASARKAN
JENIS BELANJA TAHUN 2016 ........................................................................................ 83

GAMBAR 4.4 REALISASI DANA DEKONSENTRASI KESEHATAN MENURUT PROVINSI DI


INDONESIA TAHUN 2016 ............................................................................................... 85
GAMBAR 4.5 PERKEMBANGAN JUMLAH PESERTA BPJS KESEHATAN TAHUN 2014
2016 ....................................................................................................................................... 87
GAMBAR 4.6 PROPORSI JUMLAH PESERTA BPJS KESEHATAN PER 31 DESEMBER
TAHUN 2016 ....................................................................................................................... 88

x
GAMBAR 4.7 GAMBARAN JUMLAH PESERTA BPJS KESEHATAN MENURUT JENIS DAN
PERSENTASE PENAMBAHANNYA TAHUN 205 - 2016 ........................................ 89
GAMBAR 4.8 JUMLAH KEPESERTAAN BPJS KESEHATAN MENURUT PROVINSI PER 31
DESEMBER 2016 (DALAM RIBUAN) ........................................................................... 89
GAMBAR 4.9 PERKEMBANGAN JUMLAH FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA
(FKTP) YANG BEKERJA SAMA DENGAN BPJS KESEHATAN TAHUN 2014 -
2016 ....................................................................................................................................... 90
GAMBAR 4.10 PROPORSI JENIS FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA (FKTP) YANG
BEKERJA SAMA DENGAN BPJS KESEHATAN PER 31 DESEMBER 2016 ......... 91
GAMBAR 4.11 GAMBARAN JUMLAH FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA (FKTP)
YANG BEKERJA SAMA DENGAN BPJS KESEHATAN DAN PERSENTASE
PENAMBAHANNYA MENURUT JENIS TAHUN 2014 - TAHUN 2016 .............. 91
GAMBAR 4.12 JUMLAH FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA (FKTP) YANG
BEKERJA SAMA DENGAN BPJS KESEHATAN MENURUT PROVINSI PER 31
DESEMBER 2016 ................................................................................................................ 92
GAMBAR 4.13 SEBARAN JUMLAH FKTP YANG BEKERJA SAMA DENGAN BPJS
KESEHATAN TAHUN 201 ................................................................................................ 93
GAMBAR 4.14 PERKEMBANGAN JUMLAH FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN TINGKAT
LANJUTAN (FKRTL) YANG BEKERJA SAMA DENGAN BPJS KESEHATAN
TAHUN 2014 - 2016 ......................................................................................................... 93
GAMBAR 4.15 PROPORSI JENIS FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN TINGKAT LANJUTAN
(FKRTL) YANG BEKERJA SAMA DENGAN BPJS KESEHATAN PER 31
DESEMBER 2016 ................................................................................................................ 94
GAMBAR 4.16 GAMBARAN JUMLAH FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN TINGKAT LANJUT
(FKRTL) YANG BEKERJA SAMA DENGAN BPJS KESEHATAN DAN
PERSENTASE PENAMBAHANNYA MENURUT JENIS TAHUN 2014 - 2016 ... 94
GAMBAR 4.17 JUMLAH FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN TINGKAT LANJUTAN (FKRTL)
YANG BEKERJASAMA DENGAN BPJS KESEHATAN PER 31 DESEMBER
2016 ....................................................................................................................................... 95
GAMBAR 4.18 SEBARAN JUMLAH FKRTL YANG BEKERJA SAMA DENGAN BPJS
KESEHATAN TAHUN 2016 ............................................................................................. 96
GAMBAR 4.19 ALOKASI ANGGARAN DAN REALISASI PENERIMA BANTUAN IURAN (PBI)
BPJS TAHUN 2014 2016 .............................................................................................. 96

BAB V. KESEHATAN KELUARGA


GAMBAR 5.1 ANGKA KEMATIAN IBU DI INDONESIA TAHUN 1991 - 2015 ........................... 102

GAMBAR 5.2 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL K4 DI INDONESIA TAHUN


2006 - 2016 ......................................................................................................................... 105

GAMBAR 5.3 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL K4 MENURUT PROVINSI


TAHUN 2016 ....................................................................................................................... 106

xi
GAMBAR 5.4 CAKUPAN IMUNISASI TT5 PADA WANITA USIA SUBUR DI INDONESIA
TAHUN 2016 ....................................................................................................................... 108

GAMBAR 5.5 CAKUPAN IMUNISASI TT2+ PADA IBU HAMIL DI INDONESIA TAHUN 2016
................................................................................................................................................... 109

GAMBAR 5.6 CAKUPAN PERSALINAN DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN


MENURUT PROVINSI TAHUN 2016 ........................................................................... 110

GAMBAR 5.7 CAKUPAN KUNJUNGAN NIFAS (KF3) DI INDONESIA TAHUN 2008 - 2016 .. 112

GAMBAR 5.8 CAKUPAN KUNJUNGAN NIFAS (KF3) DI INDONESIA MENURUT PROVINSI


TAHUN 2016 ....................................................................................................................... 113

GAMBAR 5.9 PUSKESMAS MELAKSANAKAN KELAS IBU HAMIL MENURUT PROVINSI


TAHUN 2016 ....................................................................................................................... 115

GAMBAR 5.10 PUSKESMAS MELAKSANAKAN PROGRAM PERENCANAAN PERSALINAN


DAN PENCEGAHAN KOMPLIKASI (P4K) MENURUT PROVINSI TAHUN
2016 ....................................................................................................................................... 116

GAMBAR 5.11 CAKUPAN PESERTA KB BARU DAN KB AKTIF MENURUT JENIS


KONTRASEPSI TAHUN 2016 .......................................................................................... 118

GAMBAR 5.12 CAKUPAN PESERTA KB AKTIF DI INDONESIA TAHUN 2016 .............................. 118

GAMBAR 5.13 PERSENTASE TEMPAT PELAYANAN KB DI INDONESIA TAHUN 2016 ........... 119

GAMBAR 5.14 PERSENTASE PUS BUKAN PESERTA KB (UNMEET NEED) DI INDONESIA


TAHUN 2016 ....................................................................................................................... 120

GAMBAR 5.15 TREN ANGKA KEMATIAN NEONATAL, BAYI, DAN BALITA TAHUN 1991
2015 ....................................................................................................................................... 124
GAMBAR 5.16 CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL PERTAMA (KN1) MENURUT
PROVINSI TAHUN 2016 .................................................................................................. 126
GAMBAR 5.17 PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI CAMPAK PADA BAYI DI INDONESIA
TAHUN 2007 - 2016 ......................................................................................................... 128
GAMBAR 5.18 PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI CAMPAK PADA BAYI MENURUT
PROVINSI TAHUN 2016 .................................................................................................. 129
GAMBAR 5.19 CAKUPAN IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA BAYI MENURUT PROVINSI
TAHUN 2016 ....................................................................................................................... 130
GAMBAR 5.20 ANGKA DROP OUT IMUNISASI DPT/HB1-CAMPAK PADA BAYI TAHUN
2007 - 2016 ......................................................................................................................... 131
GAMBAR 5.21 CAKUPAN DESA/KELURAHAN UCI MENURUT PROVINSI TAHUN 2016 ...... 132

GAMBAR 5.22 CAKUPAN PUSKESMAS YANG MELAKSANAKAN PENJARINGAN


KESEHATAN PESERTA DIDIK KELAS I MENURUT PROVINSI TAHUN 2016 ... 134

xii
GAMBAR 5.23 CAKUPAN PUSKESMAS YANG MELAKSANAKAN PENJARINGAN
KESEHATAN PESERTA DIDIK KELAS VII DAN X MENURUT PROVINSI
TAHUN 2016 ....................................................................................................................... 135
GAMBAR 5.24 PERSENTASE PUSKESMAS YANG MELAKSANAKAN KEGIATAN
KESEHATAN REMAJA MENURUT PROVINSI TAHUN 2016 ............................. 137
GAMBAR 5.25 CAKUPAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI UMUR 0 5 BULAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2016 ........................................................................... 139
GAMBAR 5.26 CAKUPAN PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A PADA BALITA (6 59 BULAN)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2016 ........................................................................... 140
GAMBAR 5.27 PERSENTASE GIZI BURUK DAN KURANG PADA BALITA 0 59 BULAN
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2016 .............................................. 142
GAMBAR 5.28 PERSENTASE GIZI BURUK DAN KURANG PADA BALITA 0 23 BULAN
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2016 .............................................. 143
GAMBAR 5.29 PERSENTASE PENDEK PADA BALITA 0 59 BULAN MENURUT PROVINSI
DI INDONESIA TAHUN 2016 ......................................................................................... 144
GAMBAR 5.30 PERSENTASE BALITA PENDEK DAN SANGAT PENDEK BERUMUR 0 23
BULAN MENURUT PROVINSIDI INDONESIA TAHUN 2016 ............................... 145
GAMBAR 5.31 PERSENTASE BALITA KURUS DAN SANGAT KURUS BERUMUR 0 59
BULAN MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2016 .............................. 146
GAMBAR 5.32 PERSENTASE BALITA KURUS DAN SANGAT KURUS BERUMUR 0 23
BULAN MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2016 .............................. 147

BAB VI. PENGENDALIAN PENYAKIT


GAMBAR 6.1 PROPORSI KASUS TUBERKULOSIS MENURUT KELOMPOK UMUR TAHUN
2012 - 2016 ......................................................................................................................... 155

GAMBAR 6.2 ANGKA NOTIFIKASI KASUS TUBERKULOSIS PER 100.000 PENDUDUK


TAHUN 2008 - 2016 ......................................................................................................... 156

GAMBAR 6.3 ANGKA NOTIFIKASI SEMUA KASUS TUBERKOLUSIS PER 100.000


PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 2016 ................................................... 156

GAMBAR 6.4 ANGKA KEBERHASILAN PENGOBATAN PASIEN TUBERKULOSIS TAHUN


2008-2016 ........................................................................................................................... 157

GAMBAR 6.5 ANGKA KEBERHASILAN PENGOBATAN PASIEN TUBERKULOSIS MENURUT


PROVINSI TAHUN 2016 ................................................................................................. 158

GAMBAR 6.6 JUMLAH KASUS HIV POSITIF DAN AIDS YANG DILAPORKAN DI
INDONESIA SAMPAI TAHUN 2016 ............................................................................ 159

GAMBAR 6.7 PROPORSI KASUS BARU HIV POSITIF DAN AIDS MENURUT JENIS
KELAMIN DI INDONESIA TAHUN 2016 ..................................................................... 160

xiii
GAMBAR 6.8 PERSENTASE KASUS BARU HIV POSITIF DAN AIDS MENURUT KELOMPOK
UMUR TAHUN 2016 ........................................................................................................ 161

GAMBAR 6.9 PERSENTASE KASUS BARU HIV POSITIF DAN AIDS MENURUT FAKTOR
RISIKO DI INDONESIA TAHUN 2016 ........................................................................... 161

GAMBAR 6.10 JUMLAH KASUS AIDS MENURUT PEKERJAAN DI INDONESIA TAHUN 2016
................................................................................................................................................... 162

GAMBAR 6.11 ANGKA KEMATIAN AKIBAT AIDS YANG DILAPORKAN TAHUN 2004 -
2015 ....................................................................................................................................... 163

GAMBAR 6.12 CAKUPAN PENEMUAN PNEUMONIA PADA BALITA DI INDONESIA TAHUN


2008 - 2016 ......................................................................................................................... 165

GAMBAR 6.13 ANGKA PREVALENSI DAN ANGKA PENEMUAN KASUS BARU KUSTA
(NCDR) TAHUN 2011 - 2016 ........................................................................................ 166

GAMBAR 6.14 PETA ELIMINASI KUSTA PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2005 DAN 2016
................................................................................................................................................... 167

GAMBAR 6.15 ANGKA CACAT TINGKAT 2 PENDERITA KUSTA BARU PER 1.000.000
PENDUDUK TAHUN 2012-2016 ................................................................................. 168

GAMBAR 6.16 ANGKA CACAT TINGKAT 2 KUSTA PER 1.000.000 PENDUDUK PER
PROVINSI TAHUN 2016 ................................................................................................. 168

GAMBAR 6.17 PROPORSI KUSTA MB DAN PROPORSI KUSTA PADA ANAK TAHUN 2012 -
2016 ....................................................................................................................................... 169

GAMBAR 6.18 DISTRIBUSI KASUS TETANUS NEONATORIUM PER PROVINSI TAHUN


2016 ....................................................................................................................................... 171
GAMBAR 6.19 DISTRIBUSI KASUS CAMPAK RUTIN DI INDONESIA TAHUN 2016................... 172
GAMBAR 6.20 INCIDENCE RATE (IR) CAMPAK PER 100.000 PENDUDUK MENURUT
PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2016 .................................................................... 173
GAMBAR 6.21 PROPORSI KASUS CAMPAK PER 100.000 PENDUDUK MENURUT
KELOMPOK UMUR DI INDONESIA TAHUN 2016 .................................................. 174

GAMBAR 6.22 SEBARAN KASUS DIFTERI MENURUT PROVINSI TAHUN 2016 ........................ 175
GAMBAR 6.23 PROPORSI KASUS DIFTERI MENURUT KELOMPOK UMUR DI INDONESIA
TAHUN 2016 ....................................................................................................................... 175
GAMBAR 6.24 PENCAPAIAN NON POLIO AFP RATE PER 100.000 ANAK USIA < 15
TAHUN MENURUT PROVINSI TAHUN 2016 ........................................................... 176
GAMBAR 6.25 NON POLIO AFP RATE PER 100.000 ANAK < 15 TAHUN DI INDONESIA
TAHUN 2016 ....................................................................................................................... 177

GAMBAR 6.26 PENCAPAIAN SPESIMEN ADEKUAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2016 ... 178

xiv
GAMBAR 6.27 PERSENTASE SPESIMEN ADEKUAT AFP MENURUT PROVINSI TAHUN
2016 ....................................................................................................................................... 178

GAMBAR 6.28 ANGKA KESAKITAN DEMAM BERDARAH DENGUE PER 100.000


PENDUDUK TAHUN 2010-2016 ................................................................................... 179

GAMBAR 6.29 ANGKA KESAKITAN DEMAM BERDARAH DENGUE PER 100.000


PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 2016 ................................................... 180

GAMBAR 6.30 CASE FATALITY RATE DEMAM BERDARAH DENGUE MENURUT PROVINSI
TAHUN 2016 ....................................................................................................................... 181

GAMBAR 6.31 JUMLAH KABUPATEN/KOTA TERJANGKIT DBD DI INDONESIA TAHUN


2010-2016 ........................................................................................................................... 182

GAMBAR 6.32 ANGKA BEBAS JENTIK DI INDONESIA TAHUN 2010-2015 ................................ 182

GAMBAR 6.33 JUMLAH KASUS CHIKUNGUNYA DI INDONESIA TAHUN 2010-2016 ............ 183

GAMBAR 6.34 JUMLAH KASUS KRONIS FILARIASIS DI INDONESIA TAHUN 2010 2016 ... 184

GAMBAR 6.35 CAKUPAN POPM FILARIASIS TAHUN 2010 2016 .............................................. 186

GAMBAR 6.36 PROPORSI KABUPATEN/KOTA MENURUT TINGKAT ENDEMISITAS


MALARIA TAHUN 2016 ................................................................................................... 186

GAMBAR 6.37 ANGKA KESAKITAN MALARIA (ANNUAL PARACITE INCIDENCE /API) PER
1.000 PENDUDUK BERISIKO TAHUN 2009-2016 .................................................. 187

GAMBAR 6.38 ANGKA KESAKITAN MALARIA (ANNUAL PARACITE INCIDENCE/API) PER


1.000 PENDUDUK BERISIKO MENURUT PROVINSI TAHUN 2016 .................. 188

GAMBAR 6.39 JUMLAH KABUPATEN/KOTA DENGAN API<1 PER 1.000 PENDUDUK


MENURUT PROVINSI TAHUN 2016 ........................................................................... 189

GAMBAR 6.40 PERSENTASE PEMBERIAN ARTEMICIN-BASED COMBINATION THERAPY


(ACT) MENURUT PROVINSI TAHUN 2016 ............................................................... 190

GAMBAR 6.41 SITUASI RABIES DI INDONESIA TAHUN 2009 2016 .......................................... 191

GAMBAR 6.42 SITUASI LEPTOSPIROSIS DI INDONESIA TAHUN 2009 2016 ......................... 193

GAMBAR 6.43 JUMLAH KASUS DAN KEMATIAN ANTRAKS DI INDONESIA TAHUN 2009-
2015 ....................................................................................................................................... 194

GAMBAR 6.44 JUMLAH KASUS, KEMATIAN, DAN CASE FATALITY RATE (CFR) FLU
BURUNG DI INDONESIA TAHUN 2005-2016 .......................................................... 195

GAMBAR 6.45 KABUPATEN/KOTA YANG MELAKUKAN PENGENDALIAN VEKTOR


TERPADU MENURUT PROVINSI TAHUN 2016 ....................................................... 197

GAMBAR 6.46 PERSENTASE PUSKESMAS YANG MELAKSANAKAN PENGENDALIAN


TERPADU (PANDU) PTM MENURUT PROVINSI S.D. TAHUN 2016 ................ 200

xv
GAMBAR 6.47 PERSENTASE DESA/KELURAHAN YANG MELAKSANAKAN POSBINDU PTM
MENURUT PROVINSI S.D. TAHUN 2016 .................................................................. 201

GAMBAR 6.48 PERSENTASE KABUPATEN/KOTA YANG MEMPUNYAI PERATURAN KTR


MENURUT PROVINSI S.D. TAHUN 2016 .................................................................. 202

GAMBAR 6.49 PERSENTASE KABUPATEN/KOTA YANG MELAKSANAKAN KEBIJAKAN KTR


MINIMAL PADA 50% SEKOLAH MENURUT PROVINSI S.D. TAHUN 2016 ... 203

GAMBAR 6.50 PERSENTASE PEMERIKSAAN IVA MENURUT PROVINSI S.D. TAHUN 2016
................................................................................................................................................... 204

GAMBAR 6.51 JUMLAH KEJADIAN BENCANA MENURUT JENIS PER BULAN DI


INDONESIA TAHUN 2016 ............................................................................................... 205

GAMBAR 6.52 PERSENTASE KEJADIAN BENCANA MENURUT JENIS DI INDONESIA


TAHUN 2016 ....................................................................................................................... 206

GAMBAR 6.53 PERSENTASE KEJADIAN BENCANA ALAM DI INDONESIA TAHUN 2016 ...... 206

GAMBAR 6.54 PERSENTASE KEJADIAN BENCANA NON ALAM DI INDONESIA TAHUN


2016 ....................................................................................................................................... 207

GAMBAR 6.55 PERSENTASE KEJADIAN BENCANA SOSIAL DI INDONESIA TAHUN 2016 .... 207

GAMBAR 6.56 JUMLAH KEJADIAN BENCANA MENURUT PROVINSI TAHUN 2016 .............. 208

GAMBAR 6.57 JUMLAH PROVINSI TERKENA BENCANA MENURUT JENIS BENCANA


TAHUN 2016 ....................................................................................................................... 209

GAMBAR 6.58 CAPAIAN PEMERIKSAAN PERTAMA JAMAAH HAJI MENURUT PROVINSI


TEMPAT PEMERIKSAAN TAHUN 2016 ...................................................................... 213

GAMBAR 6.59 JEMAAH HAJI INDONESIA MENURUT KELOMPOK UMUR TAHUN 2016 .... 214

GAMBAR 6.60 PROPORSI STATUS ISTITHAAH KESEHATAN JEMAAH HAJI INDONESIA


TAHUN 2016 ....................................................................................................................... 215

BAB VII. KESEHATAN LINGKUNGAN


GAMBAR 7.1 CAPAIAN DESA/KELURAHAN YANG MELAKSANAKAN SANITASI TOTAL
BERBASIS MASYARAKAT TAHUN 2012 - 2016 ....................................................... 222

GAMBAR 7.2 PERSENTASE DESA/KELURAHAN YANG MELAKSANAKAN SANITASI


TOTAL BERBASIS MASYARAKAT TAHUN 2016 ..................................................... 223

GAMBAR 7.3 PERSENTASE KABUPATEN/KOTA PENYELENGGARA TATANAN KAWASAN


SEHAT TAHUN 2016 ........................................................................................................ 226

GAMBAR 7.4 PERSENTASE RUMAH TANGGA DENGAN AKSES AIR MINUM LAYAK
TAHUN 2016 ....................................................................................................................... 228

xvi
GAMBAR 7.5 PERSENTASE SARANA AIR MINUM YANG DILAKUKAN PENGAWASAN
TAHUN 2016 ....................................................................................................................... 229

GAMBAR 7.6 PERSENTASE RUMAH TANGGA YANG MEMILIKI AKSES TERHADAP


SANITASI LAYAK TAHUN 2016 ..................................................................................... 231

GAMBAR 7.7 PERSENTASE TEMPAT-TEMPAT UMUM YANG MEMENUHI SYARAT


KESEHATAN TAHUN 2016 ............................................................................................ 233

GAMBAR 7.8 PERSENTASE TEMPAT PENGOLAHAN MAKANAN YANG MEMENUHI


SYARAT KESEHATAN TAHUN 2016 ............................................................................ 235

GAMBAR 7.9 PERSENTASE RUMAH SAKIT YANG MELAKUKAN PENGOLAHAN LIMBAH


MEDIS SESUAI STANDAR TAHUN 2016 .................................................................... 237

GAMBAR 7.10 PERSENTASE RUMAH TANGGA YANG MENEMPATI RUMAH LAYAK HUNI
MENURUT PROVINSI TAHUN 2016 ........................................................................... 240

GAMBAR 7.11 PERSENTASE RUMAH TANGGA KUMUH MENURUT PROVINSI TAHUN


2016 ....................................................................................................................................... 242

xvii
DAFTAR TABEL

TABEL 1.1 PENDUDUK SASARAN PROGRAM PEMBANGUNAN KESEHATAN DI


INDONESIA TAHUN 2016 ............................................................................................... 6

TABEL 1.2 PERSEBARAN JUMLAH DAN PROPORSI PENDUDUK MISKIN MENURUT


KELOMPOK BESAR PULAU DI INDONESIA TAHUN 2013 - 2016 ..................... 10

TABEL 1.3 PENDUDUK USIA 15 TAHUN KEATAS MENURUT JENIS KEGIATAN UTAMA
2013 2016 (JUTA ORANG) ......................................................................................... 12

TABEL 2.1 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT BERDASARKAN


PENYELENGGARAAN DI INDONESIA TAHUN 2013 2016 .............................. 35
TABEL 4.1 SEPULUH KODE CBGS TERBANYAK PADA TINGKAT LAYANAN RAWAT
JALAN TINGKAT LANJUT (RJTL) SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2016 ..... 97
TABEL 4.2 SEPULUH KODE CBGS TERBANYAK PADA TINGKAT LAYANAN RAWAT
INAP TINGKAT LANJUT (RITL) SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2016 ........ 98
TABEL 6.1 PERKIRAAN PERSENTASE KASUS PNEUMONIA PADA BALITA MENURUT
PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2016 ................................................................... 164

TABEL 6.2 REKAPITULASI KLB DIARE TAHUN 2016 ................................................................... 170


TABEL 6.3 REKAPITULASI KLB DIARE DI INDONESIA TAHUN 2008 - 2016 ....................... 170
TABEL 6.4 DISTRIBUSI KASUS LEPTOSPIROSIS DI 6 PROVINSI DI INDONESIA TAHUN
2009 2015 ........................................................................................................................ 192
TABEL 6.5 JUMLAH KEJADIAN BENCANA ALAM DAN JUMLAH KORBAN YANG
DITIMBULKAN TAHUN 2016 ......................................................................................... 209
TABEL 6.6 JUMLAH KEJADIAN BENCANA NON ALAM DAN JUMLAH KORBAN YANG
DITIMBULKAN TAHUN 2016 ......................................................................................... 210
TABEL 6.7 JUMLAH KEJADIAN BENCANA SOSIAL DAN JUMLAH KORBAN YANG
DITIMBULKAN TAHUN 2016 ......................................................................................... 211
TABEL 6.8 PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN JEMAAH HAJI INDONESIA DI ARAB
SAUDI TAHUN 2016 ......................................................................................................... 215

****

xviii
DAFTAR LAMPIRAN

BAB I. DEMOGRAFI
Lampiran 1.1 Pembagian Wilayah Administrasi Pemerintahan Menurut Provinsi
Tahun 2015 .........................................................................................................................
Lampiran 1.2 Estimasi Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Rasio Jenis
Kelamin Menurut Provinsi Tahun 2016 ...................................................................
Lampiran 1.3 Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia Menurut Kelompok Umur dan
Jenis Kelamin Tahun 2016 ............................................................................................
Lampiran 1.4 Estimasi Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin, Luas Wilayah dan
Kepadatan Penduduk Menurut Provinsi Tahun 2016 ........................................
Lampiran 1.5 Estimasi Jumlah Lahir Hidup, Jumlah Bayi (0 Tahun), Jumlah Batita (0 - 2
Tahun), Jumlah Anak Balita (1 - 4 Tahun), dan Jumlah Balita (0 - 4 Tahun)
Menurut Provinsi Tahun 2016 .....................................................................................
Lampiran 1.6 Estimasi Jumlah Penduduk Menurut Penduduk Usia Muda, Usia
Produktif dan Usia Non Produktif Menurut Jenis Kelamin Provinsi Tahun
2016 .......................................................................................................................................
Lampiran 1.7 Estimasi Jumlah Wanita Usia Subur (15 - 49 Tahun), WUS Imunisasi (15 -
39 Tahun), Ibu Hamil, Ibu Bersalin Dan Ibu Nifas Menurut Provinsi
Tahun 2016 .........................................................................................................................
Lampiran 1.8 Estimasi Jumlah Anak Pra Sekolah, Jumlah Anak Usia Kelas 1
SD/Setingkat, dan Jumlah Anak Usia SD/Setingkat Menurut Provinsi
Tahun 2016 .........................................................................................................................
Lampiran 1.9 Jumlah Penduduk Miskin, Persentase Penduduk Miskin dan Garis
Kemiskinan Tahun 2000 2016 ...................................................................................
Lampiran 1.10 Garis Kemiskinan, Jumlah, dan Persentase Penduduk Miskin Menurut
Provinsi dan Tipe Daerah Tahun 2016 .....................................................................
Lampiran 1.11 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan
(P2) Menurut Provinsi Tahun 2016 ...........................................................................
Lampiran 1.12 Indeks Gini Menurut Provinsi Tahun 2012 2016 ..............................................
Lampiran 1.13 Persentase Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Sebulan Menurut
Kelompok Barang dan daerah Tempat Tinggal Tahun 2016 ...........................
Lampiran 1.14 Persentase Rata-Rata Pengeluaran Bukan Makanan Perkapita Perbulan
Tahun 2016 .........................................................................................................................
Lampiran 1.15 Jumlah Pengangguran dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Menurut Provinsi Tahun 2016 ..................

xix
Lampiran 1.16 Rata-Rata Lama Sekolah Penduduk Berumur 15 tahun Keatas Menurut
Provinsi dan Jenis Kelamin Tahun 2016 ..................................................................
Lampiran 1.17 Angka Melek Huruf (Persentase Penduduk Umur 15 tahun Keatas Yang
Melek Huruf) Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin Tahun 2012 2016 ....
Lampiran 1.18 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Menurut Provinsi Tahun 2013 2016 ....
Lampiran 1.19 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin
Tahun 2016 .........................................................................................................................
Lampiran 1.20 Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Menurut Provinsi Tahun 2013
2016 ....................................................................................................................................
Lampiran 1.21 Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Menurut Provinsi dan Jenis
Kelamin Tahun 2016 ........................................................................................................
Lampiran 1.22 Angka Partisipasi Murni (APM) Pendidikan Menurut Provinsi Tahun
2013 2016 ........................................................................................................................
Lampiran 1.23 Indeks Pembangunan manusia dan Peringkat Tahun 2012 2016 .............
Lampiran 1.24 Indeks Pembangunan Manusia dan Komponen Menurut Provinsi Tahun
2015 2016 ........................................................................................................................

BAB II. SARANA KESEHATAN


Lampiran 2.1 Jumlah Puskesmas dan Rasionya Terhadap Penduduk Menurut Provinsi
Tahun 2012 2016 ..........................................................................................................
Lampiran 2.2 Rasio Puskesmas Per Kecamatan Tahun 2016 ......................................................
Lampiran 2.3 Puskesmas Yang Memberikan Pelayanan sesuai Standar Tahun 2016 ......
Lampiran 2.4 Jumlah Puskesmas Rawat Inap Dan Non Rawat Inap Menurut Provinsi
Tahun 2012 2016 ..........................................................................................................
Lampiran 2.5 Jumlah Puskesmas Dengan Pelayanan Pengembangan Menurut Provinsi
Tahun 2016 .........................................................................................................................
Lampiran 2.6 Jumlah Puskesmas Yang Telah Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan
Tradisional Menurut Provinsi Tahun 2016 .............................................................
Lampiran 2.7 Jumlah Rumah Sakit Di Indonesia Menurut Penyelenggara Dan Provinsi
Tahun 2016 .........................................................................................................................
Lampiran 2.8 Jumlah Rumah Sakit, Umum Dan Tempat Tidur Menurut Pengelola
Tahun 2013 2016 ..........................................................................................................
Lampiran 2.9 Jumlah Rumah Sakit Khusus Dan Tempat Tidur Menurut Jenis Rumah
Sakit Tahun 2016 ..............................................................................................................
Lampiran 2.10 Jumlah Rumah Sakit, Tempat Tidur, Dan rasio tempat Tidur Per 1000
Penduduk Menurut Kelas Rumah Sakit Dan Provinsi Tahun 2016 ...............

xx
Lampiran 2.11 Jumlah Tempat Tidur Di Rmah Sakit Menurut Kelas Perawatan Dan
Provinsi Tahun 2016 ........................................................................................................
Lampiran 2.12 Akreditasi Rumah Sakit Di Indonesia Tahun 2016 ...............................................
Lampiran 2.13 Jumlah Program Studi Diploma IV Institusi Politeknik Kesehatan
(POLTEKES) Sampai Dengan Desember Tahun 2016 ..........................................
Lampiran 2.14 Jumlah Peserta Didik Program Diploma IV Poltekkes Berdasarkan Jenis
Tenaga Kesehatan Tahun 2016 ...................................................................................
Lampiran 2.15 Jumlah Jurusan/Program Studi Diploma III Institusi Politeknik Kesehatan
(POLTEKKES) Menurut Jurusan Dan Provinsi Tahun 2016 ...............................
Lampiran 2.16 Jumlah Peserta Didik Program Diploma III Poltekkes Berdasarkan Jenis
Tenaga Kesehatan Tahun 2016 ...................................................................................
Lampiran 2.17 Jumlah Peserta Didik Diploma III Pltekkes Menurut Jenis Tenaga
Kesehatan Tahun Ajaran 2014/2015 Sampai Dengan 2016/2017 ...............
Lampiran 2.18 Jumlah Sarana Produksi Bidang Kefarmasian Dan Alat Kesehatan
Menurut Provinsi Tahun 2015 ....................................................................................
Lampiran 2.19 Jumlah Sarana Distribusi Bidang Kefarmasian Dan Alat Kesehatan
Menurut Provinsi Tahun 2015 Tahun 2015 ...........................................................
Lampiran 2.20 Persentase Puskesmas Yang Menyediakan Obat Dan Vaksin Menurut
Item Obat Triwulan IV Tahun 2016 ...........................................................................
Lampiran 2.21 Persentase Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota (IFK) Yang Melakukan
Manajemen Pengelolaan Obat Dan Vaksin Sesuai Standar Triwulan IV
Tahun 2016 .........................................................................................................................

BAB III. SUMBER DAYA KESEHATAN


Lampiran 3.1 Rekapitulasi Sumber Daya Manusia Kesehatan Menurut Jenis Tenaga
dan Provinsi Tahun 2016 ...............................................................................................
Lampiran 3.2 Jumlah Sumber Daya Manusia Kesehatan di Puskesmas Menurut Jenis
Tenaga dan Provinsi Tahun 2016 ...............................................................................
Lampiran 3.3 Kecukupan Dokter Umum, Dokter Gigi, Perawat, dan Bidan di
Puskesmas Menurut Provinsi Tahun 2016 .............................................................
Lampiran 3.4 Jumlah Puskesmas yang Memiliki Lima Jenis Tenaga Kesehatan Promotif
dan Preventif Menurut Provinsi Tahun 2016 ........................................................
Lampiran 3.5 Jumlah Sumber Daya Manusia Kesehatan di Rumah Sakit Menurut
Provinsi Tahun 2016 ........................................................................................................
Lampiran 3.6 Jumlah Dokter Spesialis dan Dokter Gigi Spesialis di Rumah Sakit
Menurut Provinsi Tahun 2016 ....................................................................................

xxi
Lampiran 3.7 Persentase Rumah Sakit Kabupaten/Kota Kelas C yang Memiliki 4
Dokter spesialis Dasar dan 3 Dokter Spesialis Penunjang Menurut
Provinsi Tahun 2016 ........................................................................................................
Lampiran 3.8 Jumlah Sumber Daya Manusia Kesehatan di daerah Tertinggal, dan
Tertular Menurut Jenis Tenaga dan Provinsi Tahun 2016 ...............................
Lampiran 3.9 Jumlah Dokter Umum, Dokter Spesialis, Dokter Gigi, dan Dokter Gigi
Spesialis yang Memiliki Surat Tanda Registrasi Menurut Provinsi Sampai
dengan 31 Desember Tahun 2016 ............................................................................
Lampiran 3.10 Jumlah Penerbitan Surat Tanda Registrasi Tenaga Kesehatan Menurut
Provinsi Tahun 2016 ........................................................................................................
Lampiran 3.11 Jumlah Penerbitan Surat Tanda Registrasi Baru Tenaga Kesehatan
Menurut Provinsi Tahun 2016 .....................................................................................
Lampiran 3.12 Jumlah Dokter Umum Sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Menurut
Kriteria Wilayah dan Provinsi Per 31 Desember 2016 .......................................
Lampiran 3.13 Jumlah Dokter Gigi Sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Menurut
Kriteria Wilayah dan Provinsi Per 31 Desember 2016 .......................................
Lampiran 3.14 Jumlah Dokter Spesialis dan Dokter Gigi Spesalis Sebagai Pegawai tidak
Tetap (PTT) Aktif Menurut Kriteria Wilayah dan Provinsi Per 31
Desember 2016 .................................................................................................................
Lampiran 3.15 Jumlah Bidan Sebagai Pegawai tidak Tetap (PTT) Aktif Menurut Kriteria
Wilayah dan Provinsi Per Desember 2016 .............................................................
Lampiran 3.16 Jumlah Peserta Penugasan Khusus ResidenDokter Spesialis Menurut
Provinsi Tahun 2016 ........................................................................................................
Lampiran 3.17 Jumlah Lulusan Program Studi Diploma III Poltekes Menurut Jenis
Jenis Tenaga Kesehatan Tahun 2014 2016 .........................................................
Lampiran 3.18 Jumlah Lulusan Program Studi Diploma III Poltekkes Menurut Jenis
Program Studi Tahun 2016 ...........................................................................................
Lampiran 3.19 Jumlah Lulusan Program Diploma IV Poltekkes Menurut Jenis tenaga
Kesehatan Tahun 2016 ...................................................................................................
Lampiran 3.20 Jumlah Dokter Peserta Internship Menurut Bulan Pemberangkatan dan
Provinsi Tahun 2016 ........................................................................................................
Lampiran 3.21 Jumlah Kabupaten/Kota dan Puskesmas Penempatan Nusantara sehat
Menurut Periode Sampai Dengan Tahun 2016 ....................................................
Lampiran 3.22 Penempatan Nusantara Sehat Menurut Kabupaten/Kota dan Puskesmas
Tahun 2016 .........................................................................................................................
Lampiran 3.23 Jumlah Penempatan Tenaga Kerja Kesehatan Pada Tim Nusantara Sehat
(Periode I Sampai Dengan Periode V) Menurut Provinsi Hingga Tahun
2016 .......................................................................................................................................

xxii
Lampiran 3.24 Permohonan Rekomendasi Pangajuan/Perpanjangan RPTKA dan Imta
Bagi SDMK WNA Tahun 2014 2016 .......................................................................

BAB IV. PEMBIAYAAN KESEHATAN


Lampiran 4.1 Alokasi Dan Realisasi Anggaran Kementerian Kesehatan RI Menurut
Eselon I Tahun 2016 ........................................................................................................
Lampiran 4.2 Laporan realisasi Anggaran Kementerian Kesehatan Kondisi Per 31
Desember 2016 Berdasarkan Jenis Belanja ...........................................................
Lampiran 4.3 Laporan Realisasi Anggaran Kementerian Kesehatan Tahun 2016 Kondisi
Per 31 Desember Berdasarkan Sumber Dana .......................................................
Lampiran 4.4 Realisasi Dana Dekonsentrasi Kesehatan Menurut Provinsi Tahun 2016 ..
Lampiran 4.5 Alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) Kesehatan Menurut Provinsi Tahun
2016 .......................................................................................................................................
Lampiran 4.6 Cakupan Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Per 31
Desember Tahun 2016 ...................................................................................................
Lampiran 4.7 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Yang Bekerjasama Dengan BPJS
Kesehatan Per 31 Desember Tahun 2016 ..............................................................
Lampiran 4.8 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan Yang Bekerja Sama
Dengan BPJS Kesehatan Per 31 Desember Tahun 2016 ...................................

BAB V. KESEHATAN KELUARGA


Lampiran 5.1 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K1 dan K4, Persalinan Ditolong Tenaga
Kesehatan, dan Kunjungan Nifas Menurut Provinsi Tahun 2016 .................
Lampiran 5.2 Persentase Puskesmas Melaksanakan Kelas Ibu Hamil dan
Melaksanakan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan
Komplikasi (P4K) Menurut Provinsi Tahun 2016 .................................................
Lampiran 5.3 Cakupan Peserta KB Aktif Menurut Provinsi Tahun 2016 ................................
Lampiran 5.4 Persentase Peserta KB Baru Menurut Metode Kontrasepsi dan Provinsi
Tahun 2016 .........................................................................................................................
Lampiran 5.5 Cakupan Peserta KB Aktif Menurut Metode Kontrasepsi dan Provinsi
Tahun 2016 .........................................................................................................................
Lampiran 5.6 Persentase Peserta KB Baru Menurut Tempat Pelayanan dan Provinsi
Tahun 2016 .........................................................................................................................
Lampiran 5.7 Jumlah Tempat Pelayanan KB Menurut Provinsi Tahun 2016 .......................
Lampiran 5.8 Hasil Pelayanan Peserta KB Baru Pasca Persalinan/Pasca Keguguran
(PP/PK) Menurut Metoda Kontrasepsi Tahun 2016 ...........................................

xxiii
Lampiran 5.9 Jumlah dan Persentase PUS Bukan Peserta KB (UNMET NEED) Tahun
2016 .......................................................................................................................................
Lampiran 5.10 Cakupan Imunisasi TT Pada Wanita Usia Subur Menurut Provinsi Tahun
2016 .......................................................................................................................................
Lampiran 5.11 Cakupan Imunisasi TT Pada Ibu Hamil Menurut Provinsi Tahun 2016 .......
Lampiran 5.12 Persentase Puskesmas Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan Santun
Lansia Menurut Provinsi Tahun 2016 .......................................................................
Lampiran 5.13 Cakupan Kunjungan Neonatal Menurut Provinsi Tahun 2016 .......................
Lampiran 5.14 Cakupan Imunisasi Dasar Pada Bayi Menurut Provinsi Tahun 2016 ...........
Lampiran 5.15 Drop Out Rate Cakupan Imunisasi DPT/HB (1)- Campak dan Cakupan
Imunisasi DPT/HB (1)- DPT/HB (3) Pada Bayi Menurut Provinsi Tahun
2014 2016 ........................................................................................................................
Lampiran 5.16 Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Imunization (UCI) Menurut
Provinsi Tahun 2014 2016 .........................................................................................
Lampiran 5.17 Cakupan Imunisasi Anak Sekolah Menurut Provinsi Tahun 2016 .................
Lampiran 5.18 Cakupan Puskesmas Yang Melaksanakan Penjaringan Kesehatan Peserta
Didik Kelas I Menurut Provinsi Tahun 2016 ...........................................................
Lampiran 5.19 Cakupan Puskesmas Yang Melaksanakan Penjaringan Kesehatan Peserta
Didik Kelas VII dan X Menurut Provinsi Tahun 2016 ..........................................
Lampiran 5.20 Persentase Puskesmas Menyelenggarakan Kegiatan Kesehatan Remaja
Menurut Provinsi Tahun 2016 ....................................................................................
Lampiran 5.21 Persentase Bayi Baru lahir Mendapat Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan
Bayi Mendapat ASI Eksklusif Menurut Provinsi Tahun 2016 ..........................
Lampiran 5.22 Persentase Balita Umur 6 59 Bulan Mendapat Vitamin A dan Balita
Ditimbang 4 Kali Dalam Enam Bulan Terakhir Menurut Provinsi Tahun
2016 .......................................................................................................................................
Lampiran 5.23 Persentase Balita Usia 0 23 Bulan Menurut Status Gizi Dengan Indeks
BB/U Menurut Provinsi Tahun 2015 2016 ..........................................................
Lampiran 5.24 Persentase Balita Usia 0 59 Bulan Menurut Status Gizi Dengan Indeks
BB/U Menurut Provinsi Tahun 2015 2016 ..........................................................
Lampiran 5.25 Persentase Balita Usia 0 23 Bulan Menueur Status Gizi Dengan Indeks
TB/U Menurut Provinsi Tahun 2015 2016 ..........................................................
Lampiran 5.26 Persentase Balita Usia 0 59 Bulan Menurut Status Gizi Dengan Indeks
TB/U Menurut Provinsi Tahun 2015 2016 ..........................................................
Lampiran 5.27 Persentase Balita Usia 0 23 Bulan Menurut Status Gizi Dengan Indeks
BB/TB Menurut Provinsi Tahun 2015 2016 ........................................................
Lampiran 5.28 Persentase Balita Usia 0 59 Bulan Menurut Status Gizi Dengan Indeks
BB/TB Menurut Provinsi Tahun 2015 2016 ........................................................

xxiv
Lampiran 5.29 Persentase Balita Kurus dan Ibu Hamil Risiko KEK Mendapat Makanan
Tambahan Menurut Provinsi Tahun 2016 ..............................................................
Lampiran 5.30 Persentase Remaja Putri dan Ibu Hamil Mendapat Tablet Tambah Darah
(TTD) Menurut Provinsi Tahun 2016 ........................................................................
Lampiran 5.31 Persentase Ibu Hamil Menurut Konsumsi Energi, Protein, Karbohidrat,
dan Protein Terhadap Standar Kecukupan Gizi Tahun 2016 ..........................
Lampiran 5.32 Persentase Ibu Hamil Dengan Kecukupan Energi dan Protein Menurut
Provinsi Tahun 2016 ........................................................................................................

BAB VI. PENGENDALIAN PENYAKIT


Lampiran 6.1 Jumlah Kasus Kusta Yang Tercatat dan Angka Prevalensi Per 10.000
Penduduk Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin Tahun 2016 .........................
Lampiran 6.2 Jumlah Kasus Baru Tuberkulosis Paru BTA Positif Menurut Kelompok
Umur, Jenis Kelamin dan Provinsi Tahun 2016 ....................................................
Lampiran 6.3 Jumlah Kasus Tuberkulosis Semua Tipe Menurut Kelompok Umur, Jenis
Kelamin, dan Provinsi Tahun 2016 ............................................................................
Lampiran 6.4 Jumlah Kasus Baru Tuberkulosis Paru BTA Positif Menurut Kelompok
Umur, Jenis Kelamin, dan Provinsi Tahun 2016 ...................................................
Lampiran 6.5 Hasil Cakupan Penemuan Kasus Penyakit Tuberkulosis Menurut Provinsi
Tahun 2016 .........................................................................................................................
Lampiran 6.6 Cakupan Tuberkulosis Semua Tipe Sembuh, Pengobatan Lengkap, dan
Angka Keberhasilan Pengobatan (Succes Rate) Menurut Provinsi Tahun
2016 .......................................................................................................................................
Lampiran 6.7 Cakupan Tuberkulosis Paru BTA Positif Sembuh, Pengobatan Lengkap,
dan Angka Keberhasilan Pengobatan (Succes Rate) Menurut Provinsi
Tahun 2016 .........................................................................................................................
Lampiran 6.8 Jumlah Kasus Baru dan Kasus Kumulatif Aids Menurut Provinsi Sampai
Dengan Desember Tahun 2016 ..................................................................................
Lampiran 6.9 Jumlah Kasus Baru HIV Menurut Provinsi Tahun 2014 2016 ......................
Lampiran 6.10 Jumlah dan Persentase Kasus Aids Pada Pengguna Napza Suntikan (IDU)
Menurut Provinsi Sampai Dengan Desember Tahun 2016 .............................
Lampiran 6.11 Jumlah Layanan dan Kunjungan Konseling dan Tes HIV Menurut Provinsi
Tahun 2016 .........................................................................................................................
Lampiran 6.12 Jumlah Kasus Pneumonia Pada Balita Menurut Provinsi dan Kelompok
Umur Tahun 2016 ............................................................................................................
Lampiran 6.13 Case Fatality Rate Pneumonia Pada Balita Menurut Provinsi dan
Kelompok Umur Tahun 2016 .......................................................................................
Lampiran 6.14 Penemuan Kasus Diare Ditangani Menurut Provinsi Tahun 2016 ................

xxv
Lampiran 6.15 Jumlah Kasus Baru Kusta dan Case Detection Rate (CDR) Per 100.000
Penduduk Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin Tahun 2016 .........................
Lampiran 6.16 Proporsi Kecacatan Kusta dan Kasus Kusta Pada Anak 0 14 Tahun
menurut Provinsi Tahun 2016 .....................................................................................
Lampiran 6.17 Jumlah Kasus Kusta Yang Tercatat dan Angka Prevalensi Per 10.000
Penduduk Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin Tahun 2016 .........................
Lampiran 6.18 Jumlah Kasus Tetanus Neonatorium dan Faktor Risiko Menurut Provinsi
Tahun 2016 .........................................................................................................................
Lampiran 6.19 Jumlah Kasus, Meninggal, dan Incidence Rate (IR) Campak menurut
Provinsi Tahun 2016 ........................................................................................................
Lampiran 6.20 Jumlah Kasus Campak dan Kasus Campak Yang Divaksinasi Menurut
Kelompok Umur Dan Provinsi Tahun 2016 ............................................................
Lampiran 6.21 Frekuensi KLB dan Jumlah Kasus Pada KLB Campak Menurut Provinsi
Tahun 2016 .........................................................................................................................
Lampiran 6.22 KLB Campak Berdasarkan Konfirmasi Laboratorium Menurut Provinsi
Tahun 2016 .........................................................................................................................
Lampiran 6.23 Jumlah Kasus Difteri Menurut Kelompok Umur dan Provinsi Tahun 2016
...................................................................................................................................................
Lampiran 6.24 Non Polio AFP Rate Per 100.000 Penduduk Usia < 15 Tahun dan
Persentase Spesimen Adekuat Menurut Provinsi Tahun 2016 ......................
Lampiran 6.25 Jumlah Kasus, Angka Kesakitan Malaria Per 1.000 Penduduk, Jumlah
Kab/Kota Yang Mencapai Eliminasi Malaria dan API <1 Menurut Provinsi
Tahun 2016 .........................................................................................................................
Lampiran 6.26 Annual Parasite Insidence (API) Malaria Menurut Provinsi Tahun 2013
2016 .......................................................................................................................................
Lampiran 6.27 Jumlah Penderita, Incidence Rate Per 100.000 Penduduk, Kasus
Meninggal, dan Case Fatality Rate (%) Demam Berdarah Dengue
(DBD/DHF) Menurut Provinsi Tahun 2016 .............................................................
Lampiran 6.28 Jumlah Kabupaten/Kota Yang Terjangkit Demam Berdarah Dengue
Menurut Provinsi Tahun 2014 2016 .....................................................................
Lampiran 6.29 Situasi Rabies Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2014 2016 ..............
Lampiran 6.30 Jumlah Kasus, Meninggal, dan Case Fatality Rate (CFR) Leptospirosis
Menurut Provinsi Tahun 2014 2016 .....................................................................
Lampiran 6.31 Jumlah Kabupaten/Kota Yang Melakukan Pengendalian Vektor Terpadu
Menurut Provinsi Tahun 2016 ....................................................................................
Lampiran 6.32 Jumlah Puskesmas Yang Melaksanakan Pengendalian Terpadu (PANDU)
PTM Menurut Provinsi Sampai Dengan Tahun 2016 .........................................
Lampiran 6.33 Jumlah Desa Yang Melaksanakan Pos Pembinaan Terpadu (POSBINDU)
Menurut Provinsi Sampai Dengan Tahun 2016 ...................................................

xxvi
Lampiran 6.34 Jumlah Kabupaten/Kota Yang Mempunyai Peraturan Kawasan Tanpa
Rokok (KTR) dan Melaksanakannya Menurut Provinsi Sampai Dengan
Tahun 2016 ..........................................................................................................................
Lampiran 6.35 Rekapitulasi Deteksi Dini Kanker Serviks dan Payudara Menurut Provinsi
Sampai Dengan Tahun 2016 ........................................................................................
Lampiran 6.36 Jumlah Kejadian Bencana Menurut Jenis Bencana dan Bulan Kejadian
Tahun 2016 .........................................................................................................................
Lampiran 6.37 Jumlah dan Korban Bencana Menurut Jenis Bencana Tahun 2016 .............
Lampiran 6.38 Jumlah dan Korban Bencana Menurut Provinsi Tahun 2016 .........................
Lampiran 6.39 Capaian Pemeriksaan Pertama Jamaah haji Menurut Provinsi Tempat
Pemeriksaan Tahun 2016 ..............................................................................................
Lampiran 6.40 Penyakit Terbanyak Rawat Jalan Kloter Haji Tahun 2016 ................................
Lampiran 6.41 Jumlah Jemaah Haji Wafat di Arab Saudi Berdasarkan Penyebab
Penyakit Tahun 2016 ......................................................................................................

BAB VII. KESEHATAN LINGKUNGAN


Lampiran 7.1 Jumlah Desa/Kelurahan yang Melaksanakan Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat Tahun 2014 2016 .................................................................................
Lampiran 7.2 Kabupaten/Kota yang Menyelenggarakan Tatanan Kawasan Sehat
Tahun 2016 .........................................................................................................................
Lampiran 7.3 Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum Layak Tahun
2014 2016 ........................................................................................................................
Lampiran 7.4 Persentase Sarana Air Minum yang Dilakukan Pengawasan Tahun 2016 ..
Lampiran 7.5 Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Akses Terhadap Sanitasi Layak
Menurut Provinsi Tahun 2014 2016 .....................................................................
Lampiran 7.6 Persentase Tempat-Tempat Umum (TTU) yang Memenuhi Syarat
Kesehatan Tahun 2016 ...................................................................................................
Lampiran 7.7 Persentase Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) yang Memenuhi Syarat
Kesehatan Tahun 2016 ...................................................................................................
Lampiran 7.8 Persentase Rumah Sakit yang Melakukan Pengelolaan Limbah Medis
Sesuai Standar Tahun 2016 ..........................................................................................
Lampiran 7.9 Persentase Rumah Tangga Yang Menempati Rumah Layak Huni
Menurut Provinsi Tahun 2015 2016 .....................................................................
Lampiran 7.10 Persentase Rumah Tangga Kumuh Menurut Provinsi Tahun 2015 2016
...................................................................................................................................................

***

xxvii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ......................................................................................................................................................... iv


Kata Sambutan .......................................................................................................................................................... v
Daftar Gambar .......................................................................................................................................................... vii
Daftar Tabel ................................................................................................................................................................ xviii
Daftar Lampiran ........................................................................................................................................................ xix
Daftar Isi ...................................................................................................................................................................... xxvi

BAB I DEMOGRAFI
A. KEADAAN PENDUDUK ................................................................................................................................... 1
B. KEADAAN EKONOMI ...................................................................................................................................... 7
C. KEADAAN PENDIDIKAN ................................................................................................................................ 13
D. INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) ............................................................................................ 18

BAB II SARANA KESEHATAN


A. PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT............................................................................................................ 25
1. Puskesmas dengan Upaya Kesehatan Kerja ............................................................................... 30
2. Puskesmas dengan Upaya Kesehatan olahraga ........................................................................ 32
3. Pelayanan Kesehatan Tradisional ................................................................................................... 33
B. RUMAH SAKIT.................................................................................................................................................... 35
1. Jenis Rumah Sakit ................................................................................................................................... 35
2. Kelas Rumah Sakit .................................................................................................................................. 36
3. Tempat Tidur Rumah Sakit ................................................................................................................. 37
4. Akreditasi Rumah Sakit ........................................................................................................................ 39
C. SARANA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN................................................................................. 40
1. Sarana Produksi dan Distribusi Bidang Kefarmasian dan Alat Kesehatan ...................... 40
2. Ketersediaan Obat dan Vaksin .......................................................................................................... 42
3. Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota yang Melakukan Manajemen Pengelolaan Obat
Dan Vaksin Sesuai Standar ................................................................................................................ 42
D. INSTITUSI PENDIDIKAN TENAGA KESEHATAN POLITEKNIK KESEHATAN .................................. 44
1. Jumlah Politeknik Kesehatan ............................................................................................................ 44
2. Peserta Didik ............................................................................................................................................ 45

BAB III SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN


A. JUMLAH TENAGA KESEHATAN ................................................................................................................... 49
1. Tenaga Kesehatan di Puskesmas .................................................................................................... 51
2. Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit ................................................................................................. 58
3. Tenaga Kesehatan di Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) ............................. 61
B. RASIO TENAGA KESEHATAN ........................................................................................................................ 62
C. REGISTRASI TENAGA KESEHATAN ............................................................................................................ 66

xxviii
D. JUMLAH LULUSAN POLITEKNIK KESEHATAN ....................................................................................... 69
E. PENDAYAGUNAAN TENAGA KESEHATAN ............................................................................................ 71
1. Tenaga Kesehatan dengan Status Pegawai Tidak Tetap (PTT) ............................................ 71
2. Tenaga Kesehatan dengan Status Penugasan Khusus ............................................................ 72
3. Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing (TK-WNA) ................................................................. 77

BAB IV PEMBIAYAAN KESEHATAN


A. ANGGARAN KEMENTERIAN KESEHATAN ............................................................................................... 81
B. DANA DEKONSENTRASI DAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG KESEHATAN TAHUN
ANGGARAN 2016 ............................................................................................................................................ 83
C. JAMINAN KESEHATAN NASIONAL ............................................................................................................. 86

BAB V KESEHATAN KELUARGA


A. KESEHATAN IBU................................................................................................................................................ 102
1. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil ....................................................................................................... 103
2. Pelayanan Imunisasi Tetanus Toksoid bagi Wanita Usia Subur dan Ibu Hamil ............ 107
3. Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin ................................................................................................. 109
4. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas ....................................................................................................... 112
5. Puskesmas Melaksanakan Kelas Ibu Hamil dan Program Perencanaan Persalinan
dan Pencegahan Komplikasi (P4K) ................................................................................................. 114
6. Pelayanan Kontrasepsi ........................................................................................................................ 117
7. Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia ................................................................................................... 121

B. KESEHATAN ANAK ........................................................................................................................................... 124


1. Pelayanan Kesehatan Neonatal ........................................................................................................ 125
2. Imunsasi .................................................................................................................................................... 126
3. Pelayanan Kesehatan Anak Usia Sekolah .................................................................................... 133
4. Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) ............................................................................. 136

C. GIZI ......................................................................................................................................................................... 138


1. Inisiasi Menyusui Dini dan Pemberian ASI Eksklusif .............................................................. 138
2. Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A Balita Usia 6-59 Bulan ........................................... 139
3. Penimbangan dan Status Gizi Balita ............................................................................................. 141
4. Gizi Ibu Hamil ......................................................................................................................................... 148

BAB VI PENGENDALIAN PENYAKIT


A. PENYAKIT MENULAR LANGSUNG ............................................................................................................. 153
1. Tuberkulosis ............................................................................................................................................ 153
2. HIV/AIDS ................................................................................................................................................... 158
3. Pneumonia ............................................................................................................................................... 163
4. Kusta ................................................................................................................................................... 166
5. Diare ........................................................................................................................................................... 169
B. PENYAKIT YANG DAPAT DICEGAH DENGAN IMUNISASI (PD3I) ................................................... 171
1. Tetanus Neonatorum .......................................................................................................................... 171

xxix
2. Campak ...................................................................................................................................................... 171
3. Difteri ......................................................................................................................................................... 174
4. Polio dan AFP (Acute Flaccid Paralysis/Lumpuh Layu Akut) ................................................ 176
C. PENYAKIT TULAR VEKTOR DAN ZOONOSIS .......................................................................................... 179
1. Demam Berdarah Dengue (DBD) .................................................................................................... 179
2. Chikungunya ............................................................................................................................................ 183
3. Filariasis ..................................................................................................................................................... 184
4. Malaria........................................................................................................................................................ 186
5. Rabies ......................................................................................................................................................... 190
6. Leptospirosis ........................................................................................................................................... 192
7. Antraks ...................................................................................................................................................... 193
8. Flu Burung ................................................................................................................................................. 194
9. Pengendalian Vektor Terpadu ......................................................................................................... 196
D. PENYAKIT TIDAK MENULAR ........................................................................................................................ 198
1. Meningkatkan Upaya Pengendalian PTM di Puskesmas ....................................................... 199
2. Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM) ................................. 200
3. Pengendaliam Konsumsi Hasil Tembakau ................................................................................... 202
4. Deteksi Dini Kanker Serviks dan Payudara .................................................................................. 204
E. DAMPAK KESEHATAN AKIBAT BENCANA .............................................................................................. 205
F. PELAYANAN KESEHATAN HAJI ................................................................................................................... 211
1. Pemeriksaan Kesehatan Jemaah Haji ........................................................................................... 212
2. Kondisi Jemaah Haji Indonesia ........................................................................................................ 213
3. Rawat Jalan, Rujukan, dan Jemaah Wafat .................................................................................. 215

BAB VII KESEHATAN LINGKUNGAN


A. SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT (STBM) ................................................................................ 220
B. TATANAN KAWASAN SEHAT ...................................................................................................................... 225
C. AIR MINUM ....................................................................................................................................................... 227
D. AKSES SANITASI LAYAK ................................................................................................................................. 230
E. TEMPAT-TEMPAT UMUM (TTU) YANG MEMENUHI SYARAT KESEHATAN .............................. 232
F. TEMPAT PENGELOLAAN MAKANAN (TPM) .......................................................................................... 234
G. PENGELOLAAN LIMBAH MEDIS ................................................................................................................. 236
H. PERUMAHAN .................................................................................................................................................... 238

Daftar Pustaka ............................................................................................................................................................ 243

xxx
BAB I DEMOGRAFI

Secara geografis Indonesia terletak di antara dua benua, Benua Asia dan Australia, di
antara dua samudera, Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Secara astronomis Indonesia
terletak antara 6o Lintang Utara sampai 11o Lintang Selatan dan 95o sampai 141o Bujur Timur
yang meliputi rangkaian pulau antara Sabang sampai Merauke. Data yang bersumber dari
Badan Informasi Geospasial, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia
dengan jumlah pulau sebanyak 13.466, luas daratan sebesar 1.922.570 km2 dan luas perairan
sebesar 3.257.483 km2.
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 56 Tahun 2015 tentang Kode
dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan, secara administratif wilayah Indonesia terbagi
atas 34 provinsi, 514 kabupaten/kota (416 kabupaten dan 98 kota), 7.160 kecamatan, 8.430
kelurahan dan 74.754 desa. Jumlah provinsi bertambah satu dari tahun 2013, yaitu Provinsi
Kalimantan Utara. Provinsi Kalimantan Utara merupakan pemekaran dari Provinsi
Kalimantan Timur, dengan 5 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Malinau, Bulungan, Tana
Tidung, Nunukan dan Kota Tarakan. Pembagian wilayah administrasi pemerintahan menurut
provinsi pada tahun 2016 dapat dilihat pada Lampiran 1.1.
Pada bab ini akan diulas mengenai keadaan penduduk, ekonomi, pendidikan dan
Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

A. KEADAAN PENDUDUK
Hasil estimasi jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2016 sebesar 258.704.986
jiwa, yang terdiri atas 129.988.690 jiwa penduduk laki-laki dan 128.716.296 jiwa penduduk
perempuan. Angka tersebut merupakan hasil perhitungan yang dilakukan oleh Pusat Data
dan Informasi Kementerian Kesehatan dengan bimbingan dari Badan Pusat Statistik (BPS)
dengan menggunakan metode geometrik. Metode ini menggunakan prinsip bahwa
parameter dasar demografi yaitu parameter fertilitas, mortalitas, dan migrasi per tahun
tumbuh konstan.
Gambar 1.1 memperlihatkan peningkatan jumlah penduduk di Indonesia tahun 2012
hingga 2016. Dari tahun 2012-2014 pertumbuhan penduduk per tahun terus meningkat, dari
3,59 juta per tahun menjadi 3,70 juta per tahun. Tahun 2016 pertumbuhan penduduk sedikit

Bab I DEMOGRAFI 1
menurun dari tahun 2015 menjadi 3,24 juta per tahun. Rasio jenis kelamin pada tahun 2016
adalah 101, yang artinya terdapat 101 laki-laki diantara 100 perempuan.

GAMBAR 1.1
JUMLAH PENDUDUK INDONESIA (DALAM JUTAAN) MENURUT JENIS KELAMIN
TAHUN 2012 2016

300,00 4,00
3,65 3,70
3,59
3,34 3,24 3,50
250,00

244,78 248,42 3,00


252,12 255,46 258,70

( Pertumbuhan Penduduk )
200,00
( Jumlah Penduduk )

2,50

150,00 2,00
125,06 126,92 128,37 129,99
123,22
1,50
100,00 121,55 123,36 125,20 127,09 128,72

1,00
50,00
0,50

- -
2012 2013 2014 2015 2016

Laki-laki Perempuan Total Pertumbuhan

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2010, Hasil Sensus Penduduk;


Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2016, Hasil Estimasi Data Penduduk Sasaran Program
Pembangunan Kesehatan Tahun 2015-2019

Pada Gambar 1.2, berdasarkan hasil estimasi, jumlah penduduk paling banyak di
Indonesia terdapat di Provinsi Jawa Barat dengan jumlah penduduk sebesar 47.379.389 jiwa,
sedangkan jumlah penduduk paling sedikit terdapat di Kalimantan Utara dengan jumlah
penduduk sebesar 666.333 jiwa.

2 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 1.2
JUMLAH PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

Jawa Barat 47.379.389


Jawa Timur 39.075.152
Jawa Tengah 34.019.095
Sumatera Utara 14.102.911
Banten 12.203.148
DKI Jakarta 10.277.628
Sulawesi Selatan 8.606.375
Lampung 8.205.141
Sumatera Selatan 8.160.901
Riau 6.500.971
Sumatera Barat 5.259.528
Nusa Tenggara Timur 5.203.514
Aceh 5.096.248
Nusa Tenggara Barat 4.896.162
Kalimantan Barat 4.861.738
Bali 4.200.069
Kalimantan Selatan 4.055.479
DI Yogyakarta 3.720.912
Kalimantan Timur 3.501.232
Jambi 3.458.926
Papua 3.207.444
Sulawesi Tengah 2.921.715
Sulawesi Tenggara 2.551.008
Kalimantan Tengah 2.550.192
Sulawesi Utara 2.436.921
Kepulauan Riau 2.028.169
Bengkulu 1.904.793
Maluku 1.715.548
Kepulauan Bangka Belitung 1.401.827
Sulawesi Barat 1.306.478
Maluku Utara 1.185.912
Gorontalo 1.150.765
Papua Barat 893.362
Kalimantan Utara 666.333
0 10.000.000 20.000.000 30.000.000 40.000.000 50.000.000

Sumber: Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2016, Hasil Estimasi Data Penduduk Sasaran Program
Pembangunan Kesehatan Tahun 2015-2019

Dari gambar berikut ini tampak pulau Jawa merupakan wilayah yang memiliki
populasi penduduk Indonesia paling banyak. Penduduk yang paling sedikit berada di wilayah
timur Indonesia yakni Maluku dan Papua.

GAMBAR 1.3
PERSENTASE PERSEBARAN PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2016
Lainnya 5,53
Papua 1,59
Maluku 1,12
Sulawesi 7,33 Jawa
Kalimantan
Sumatera
Sulawesi
Sumatera 21,69
Jawa 56,70 Maluku
Papua
Lainnya

Kalimantan 6,04

Sumber: Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2016, Hasil Estimasi Data Penduduk Sasaran
Program Pembangunan Kesehatan Tahun 2015-2019

Bab I DEMOGRAFI 3
Struktur umur penduduk menurut jenis kelamin dapat digambarkan dalam bentuk
piramida penduduk. Berdasarkan estimasi jumlah penduduk, dapat disusun sebuah piramida
penduduk tahun 2016. Dasar piramida menunjukkan jumlah penduduk, badan piramida
bagian kiri menunjukkan banyaknya penduduk laki-laki dan badan piramida bagian kanan
menunjukkan jumlah penduduk perempuan. Piramida tersebut merupakan gambaran
struktur penduduk yang terdiri dari struktur penduduk muda, dewasa, dan tua. Struktur
penduduk ini menjadi dasar bagi kebijakan kependudukan, sosial, budaya, dan ekonomi.

GAMBAR 1.4
PIRAMIDA PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2016

75+
70-74
65-69
60-64
55-59
50-54
45-49
40-44
35-39
30-34
25-29
20-24
15-19
10-14
5-9
0-4
15.000.000 10.000.000 5.000.000 0 5.000.000 10.000.000 15.000.000

Perempuan Laki-laki

Sumber: Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2016, Hasil Estimasi Data Penduduk Sasaran
Program Pembangunan Kesehatan Tahun 2015-2019

Pada Gambar 1.4 ditunjukkan bahwa struktur penduduk di Indonesia termasuk


struktur penduduk muda. Hal ini dapat diketahui dari usia 0-14 tahun (usia muda) lebih
banyak jumlahnya dibandingkan usia di atasnya. Lebih melebarnya grafik pada usia muda
membuktikan bahwa penduduk Indonesia memiliki struktur muda. Bagian atas yang lebih
pendek pada piramida tersebut menunjukkan angka kematian yang masih tinggi pada
penduduk usia tua. Kondisi ini menuntut kebijakan terhadap penduduk usia tua.
Konsentrasi penduduk di suatu wilayah dapat dipelajari dengan menggunakan ukuran
kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk menunjukkan rata-rata jumlah penduduk per 1
kilometer persegi. Semakin besar angka kepadatan penduduk menunjukkan bahwa semakin
banyak penduduk yang mendiami wilayah tersebut. Rata-rata kepadatan penduduk di
Indonesia tahun 2016 berdasarkan hasil estimasi sebesar 135,19 jiwa per km2, keadaan ini
meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar 133,5 jiwa per km2. Kepadatan penduduk
berguna sebagai acuan dalam rangka mewujudkan pemerataan dan persebaran penduduk.
Kepadatan penduduk menurut provinsi tahun 2016 dapat dilihat pada Lampiran 1.4.

4 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 1.5
PETA PERSEBARAN KEPADATAN PENDUDUK (JIWA/KM2) DI INDONESIA
TAHUN 2016

Sumber: Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2016, Hasil Estimasi Data Penduduk Sasaran
Program Pembangunan Kesehatan Tahun 2015-2019

Pada Gambar 1.5 terlihat bahwa kepadatan penduduk di Indonesia belum merata.
Kepadatan penduduk tertinggi terdapat di Pulau Jawa yaitu Provinsi DKI Jakarta sebesar
15.478,12 jiwa per km2. Kepadatan penduduk terendah terdapat di Provinsi Kalimantan
Utara sebesar 8,83 jiwa per km2. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi tahun
sebelumnya. Dalam rangka pemerataan penduduk pemerintah melaksanakan beberapa cara,
antara lain: (1) transmigrasi atau program memindahkan penduduk dari tempat yang padat
ke tempat yang jarang penduduknya; (2) pemerataan lapangan kerja dengan
mengembangkan industri, terutama untuk provinsi yang berada di luar Pulau Jawa; (3)
pengendalian jumlah penduduk dengan menurunkan jumlah kelahiran melalui program
keluarga berencana atau penundaan umur pernikahan pertama.
Indikator penting terkait distribusi penduduk menurut umur yang sering digunakan
untuk mengetahui produktivitas penduduk yaitu Angka Beban Tanggungan (ABT) atau
Dependency Ratio. Angka Beban Tanggungan (ABT) adalah angka yang menyatakan
perbandingan antara banyaknya orang berumur tidak produktif (belum produktif/umur di
bawah 15 tahun dan tidak produktif lagi/umur 65 tahun ke atas) dengan yang berumur
produktif (umur 1564 tahun). Angka ini dapat digunakan sebagai indikator yang secara
kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi suatu negara. Semakin tinggi persentase
dependency ratio menunjukkan semakin tinggi beban yang harus ditanggung penduduk yang
produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi.
Sedangkan persentase dependency ratio yang semakin rendah menunjukkan semakin
rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk
yang belum produktif dan tidak produktif lagi.

Bab I DEMOGRAFI 5
Angka Beban Tanggungan penduduk Indonesia pada tahun 2016 sebesar 48,36. Hal ini
berarti bahwa 100 penduduk Indonesia yang produktif, di samping menanggung dirinya
sendiri, juga menanggung 48 orang yang tidak produktif.
Penduduk sebagai determinan pembangunan perlu mendapat perhatian yang serius.
Program pembangunan, termasuk pembangunan di bidang kesehatan, harus didasarkan
pada dinamika kependudukan. Upaya pembangunan di bidang kesehatan tercermin dalam
program kesehatan melalui upaya promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif.
Pembangunan kesehatan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat. Pencapaian derajat kesehatan yang optimal bukan hanya menjadi
tanggung jawab dari sektor kesehatan saja, namun sektor terkait lainnya seperti sektor
pendidikan, ekonomi, sosial dan pemerintahan juga memiliki peranan yang cukup besar.
Kesehatan merupakan hak semua penduduk, sehingga ditetapkan target dan sasaran
pembangunan kesehatan. Tabel 1.1 memperlihatkan data penduduk sasaran program
pembangunan kesehatan tahun 2016 menurut jenis kelamin.
Data penduduk sasaran program pembangunan kesehatan diperlukan bagi pengelola
program terutama untuk menyusun perencanaan serta evaluasi hasil pencapaian upaya
kesehatan yang telah dilaksanakan. Data penduduk sasaran program pembangunan
kesehatan tahun 2016 menurut provinsi terdapat pada Lampiran 1.5, 1.6, 1.7 dan 1.8.

TABEL 1.1
PENDUDUK SASARAN PROGRAM PEMBANGUNAN KESEHATAN
DI INDONESIA TAHUN 2016
Kelompok Jenis Kelamin
No Sasaran Program Jumlah
Umur/Formula Laki-Laki Perempuan
1 Lahir Hidup - - - 4.867.813
2 Bayi 0 Tahun 2.435.848 2.334.596 4.770.444
3 Batita (di Bawah Tiga Tahun) 0 2 Tahun 7.314.055 7.019.460 14.333.515
4 Anak Balita 1 4 Tahun 9.785.782 9.404.084 19.189.866
5 Balita (di Bawah Lima Tahun) 0 4 Tahun 12.221.630 11.738.680 23.960.310
6 Pra Sekolah 5 6 Tahun 4.911.455 4.691.718 9.603.173
7 Anak Usia Kelas 1 SD/Setingkat 7 Tahun 2.397.183 2.279.486 4.676.669
8 Anak Usia SD/Setingkat 7 12 Tahun 14.141.268 13.433.460 27.574.728
9 Penduduk Usia Muda < 15 Tahun 35.863.014 34.233.847 70.096.861
10 Penduduk Usia Produktif 15 64 Tahun 87.650.697 86.724.311 174.375.008
11 Penduduk Usia Non Produktif 65 Tahun 6.474.979 7.758.138 14.233.117
12 Penduduk Usia Lanjut 60 Tahun 10.722.224 11.908.658 22.630.882
13 Penduduk Usia Lanjut Risiko Tinggi 70 Tahun 3.694.220 4.796.136 8.490.356
14 Wanita Usia Subur (WUS) 15 49 Tahun - 69.739.202 69.739.202
15 Wanita Usia Subur Imunisasi 15 39 Tahun - 52.172.843 52.172.843
16 Ibu Hamil 1,1 X lahir hidup - 5.354.594 5.354.594
17 Ibu Bersalin/Nifas 1,05 X lahir hidup - 5.111.204 5.111.204
Sumber: Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2016, Hasil Estimasi Data Penduduk Sasaran
Program Pembangunan Kesehatan Tahun 2015-2019

6 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


B. KEADAAN EKONOMI
Kondisi perekonomian merupakan salah satu aspek yang diukur dalam menentukan
keberhasilan pembangunan suatu negara. Berdasarkan data BPS, besaran pertumbuhan
Produk Domestik Bruto Indonesia pada tahun 2016 atas dasar harga berlaku sebesar
Rp 12.406,8 triliun. Produk Domestik Bruto per kapita pada tahun 2016 yang merupakan
Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku dibagi dengan jumlah penduduk
pertengahan tahun mencapai Rp 48,0 juta.
Gambar 1.6 menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 2016
sebesar 5,02%, sedikit meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2015
namun lebih rendah dibandingkan tahun 2013. Hal tersebut disebabkan masih terjadi krisis
pada perekonomian global, walaupun pemulihan terus berlangsung di berbagai ekonomi
utama dunia namun dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan harapan dan tidak merata,
dan diperberat dengan berbagai permasalahan struktural pada perekonomian domestik yang
telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir. Permasalahan struktural tersebut antara
lain ekspor yang masih didominasi produk berbasis sumber daya alam, ketahanan pangan
dan energi yang masih rendah, pasar keuangan yang masih dangkal serta ketergantungan
pada pembiayaan eksternal yang meningkat.

GAMBAR 1.6
PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TAHUN 2013 2016
(DALAM PERSEN)
6

5 5,56
5,01 4,88 5,02
4

0
2013 2014 2015 2016

Sumber: Produk Domestik Bruto Indonesia Menurut Pengeluaran Tahun 2012-2016,


Badan Pusat Statistik, 2017

BPS melakukan pengukuran kemiskinan menggunakan konsep pemenuhan


kebutuhan dasar (basic need approach). Kemiskinan didefinisikan sebagai kondisi dimana
seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hakhak dasarnya untuk
mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Kemiskinan juga

Bab I DEMOGRAFI 7
dipahami sebagai ketidakmampuan ekonomi penduduk untuk memenuhi kebutuhan dasar
makanan maupun non makanan yang diukur dari pengeluaran. Distribusi pendapatan
merupakan ukuran kemiskinan relatif. Namun karena data pendapatan sulit diperoleh,
pengukuran distribusi pendapatan menggunakan pendekatan data pengeluaran.
Pengukuran kemiskinan dilakukan dengan cara menetapkan nilai standar kebutuhan
minimum, baik untuk makanan maupun untuk non makanan yang harus dipenuhi seseorang
untuk hidup secara layak. Nilai standar kebutuhan minimum tersebut digunakan sebagai
garis pembatas untuk memisahkan antara penduduk miskin dan tidak miskin. Garis
pembatas tersebut yang sering disebut dengan garis kemiskinan. Penduduk dengan tingkat
pengeluaran per kapita per bulan kurang dari atau di bawah garis kemiskinan dikategorikan
miskin. Gambar 1.7 menunjukkan peningkatan garis kemiskinan di Indonesia tahun 2012-
2016. Batas kemiskinan atau tingkat pengeluaran per kapita per bulan tahun 2016 sebesar
Rp 361.990,-

GAMBAR 1.7
GARIS KEMISKINAN DI INDONESIA
TAHUN 2012 2016
400.000 361.990
344.809
350.000 312.328
292.951
300.000 259.520
Rp/kapita/bulan

250.000
200.000
150.000
100.000
50.000
-
2012 2013 2014 2015 2016

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2017

BPS mengukur kemiskinan pada bulan Maret dan September. Kondisi September
2016 jumlah penduduk miskin di Indonesia sebesar 27,76 juta orang (10,70%) berkurang 0,24
juta orang dibandingkan kondisi Maret 2016 yang sebesar 28 juta orang (10,86%). Beberapa
faktor yang mempengaruhi kondisi Maret-September 2016 yaitu laju inflasi umum
cenderung rendah, perbaikan penghasilan petani, dan harga eceran beberapa komoditas
bahan pokok mengalami penurunan.
Jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan mengalami peningkatan sedangkan
jumlah penduduk miskin di daerah perdesaan mengalami penurunan. Selama periode Maret
2016-September 2016, penduduk miskin di daerah perkotaan meningkat sekitar 0,15 juta
orang, sementara di daerah perdesaan menurun sekitar 0,39 juta orang.

8 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Sebagian besar penduduk miskin tinggal di daerah perdesaan. Pada September 2016,
penduduk miskin yang tinggal di perdesaan sebesar 62,23 % dari seluruh penduduk miskin,
sementara pada Maret 2016 sebesar 63,08 %.
Berdasarkan provinsi pada tahun 2016, persentase penduduk miskin terbesar yaitu
Papua (28,40%), Papua Barat (24,88%) dan Nusa Tenggara Timur (22,01%). Sedangkan
provinsi dengan persentase penduduk miskin terendah adalah DKI Jakarta (3,75%), Bali
(4,15%) dan Kalimantan Selatan (4,52%).

GAMBAR 1.8
PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

Indonesia 10,70

Papua 28,40
Papua Barat 24,88
Nusa Tenggara Timur 22,01
Maluku 19,26
Gorontalo 17,63
Bengkulu 17,03
Aceh 16,43
Nusa Tenggara Barat 16,02
Sulawesi Tengah 14,09
Lampung 13,86
Sumatera Selatan 13,39
Jawa Tengah 13,19
DI Yogyakarta 13,10
Sulawesi Tenggara 12,77
Jawa Timur 11,85
Sulawesi Barat 11,19
Sumatera Utara 10,27
Sulawesi Selatan 9,24
Jawa Barat 8,77
Jambi 8,37
Sulawesi Utara 8,20
Kalimantan Barat 8,00
Riau 7,67
Sumatera Barat 7,14
Kalimantan Utara 6,99
Maluku Utara 6,41
Kalimantan Timur 6,00
Kep. Riau 5,84
Kalimantan Tengah 5,36
Banten 5,36
Kep. Bangka Belitung 5,04
Kalimantan Selatan 4,52
Bali 4,15
DKI Jakarta 3,75

0 5 10 15 20 25 30

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2017

Persebaran jumlah dan proporsi penduduk miskin berdasarkan kelompok pulau tahun
2013-2016 pada tabel di bawah ini memperlihatkan persentase penduduk miskin terbesar di
Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Permasalahan kemiskinan merupakan permasalahan yang
kompleks dan bersifat multi dimensional, oleh karena itu, upaya pengentasan kemiskinan
harus dilakukan secara komprehensif, mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat, dan
dilaksanakan secara terpadu.

Bab I DEMOGRAFI 9
TABEL 1.2
PERSEBARAN JUMLAH DAN PROPORSI PENDUDUK MISKIN
MENURUT KELOMPOK BESAR PULAU DI INDONESIA TAHUN 2013 2016
2013 2014 2015 2016
No Kelompok Pulau Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah
% % % %
(ribu) (ribu) (ribu) (ribu)
1 Sumatera 6.190,1 21,7 6.070,4 21,9 6.309,1 22,1 6.214,9 22,4

2 Jawa 15.546,9 54,4 15.143,8 54,6 15.312,3 53,7 14.832,8 53,4

3 Kalimantan 978,7 3,4 972,9 3,5 994,0 3,5 970,2 3,5

Bali dan Nusa


4 1.998,1 7,0 2.004,5 7,2 2.181,6 7,7 2.111,6 7,6
Tenggara

5 Sulawesi 2.139,6 7,5 2.054,9 7,4 2.192,8 7,7 2.088,2 7,5

Maluku dan
6 1.700,5 6,0 1.481,4 5,3 1.524,2 5,3 1.546,7 5,6
Papua
Indonesia 28.553,9 100,0 27.727,8 100,0 28.513,6 100,0 27.764,3 100,0

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2017

Masalah kemiskinan juga perlu memperhatikan tingkat kedalaman dan keparahan


kemiskinan. Indeks Kedalaman Kemiskinan merupakan ukuran rata-rata kesenjangan
pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin besar nilai
indeks semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk miskin dari garis kemiskinan. Indeks
kedalaman kemiskinan secara nasional tahun 2016 sebesar 1,74. Indeks Keparahan
Kemiskinan memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran di antara penduduk
miskin. Semakin tinggi nilai indeks semakin tinggi ketimpangan pengeluaran di antara
penduduk miskin. Indeks keparahan kemiskinan secara nasional tahun 2016 sebesar 0,44.
Rincian mengenai indeks kedalaman kemiskinan dan indeks keparahan kemiskinan menurut
provinsi dapat dilihat pada Lampiran 1.11.
Ukuran yang dapat menggambarkan ketimpangan pendapatan yaitu Koefisien
Gini/Indeks Gini (Gini Ratio). Indeks Gini adalah suatu koefisien yang menunjukkan tingkat
ketimpangan atau kemerataan distribusi pendapatan secara menyeluruh. Nilai Indeks Gini
ada di antara 0 dan 1. Semakin tinggi nilai Indeks Gini menunjukkan ketidakmerataan
pendapatan yang semakin tinggi. Apabila nilai Indeks Gini 0 artinya terdapat kemerataan
sempurna pada distribusi pendapatan, sedangkan jika bernilai 1 berarti terjadi
ketidakmerataan pendapatan yang sempurna. Selama bertahun-tahun, Indonesia memiliki
Indeks Gini yang konstan yaitu sekitar 0,4 dari tahun 2012-2016. Rincian mengenai Indeks
Gini dapat dilihat pada Lampiran 1.12.
Pendapatan yang diterima rumah tangga dapat menggambarkan tingkat
kesejahteraan rumah tangga tersebut. Namun informasi mengenai pendapatan rumah
tangga yang akurat sulit diperoleh, sehingga dilakukan pendekatan melalui data pengeluaran
rumah tangga. Data pengeluaran rumah tangga dibedakan menurut kelompok makanan dan

10 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


bukan makanan, kedua kelompok tersebut dapat menggambarkan bagaimana rumah tangga
mengalokasikan kebutuhan rumah tangganya. Menurut hukum ekonomi (Ernest Engel, 1857)
bila selera tidak berbeda maka persentase pengeluaran untuk makanan akan menurun
seiring dengan meningkatnya pendapatan. Dengan demikian secara umum semakin
meningkat pendapatan (kesejahteraan), semakin berkurang persentase pengeluaran untuk
makanan.
Pada Gambar 1.9, berdasarkan hasil Susenas Maret 2016, persentase rata-rata
pengeluaran per kapita sebulan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan makanan
(48,68%) masih lebih kecil dibandingkan dengan pengeluaran untuk non makanan (51,32%).
Tiga pengeluaran terbesar yaitu untuk perumahan dan fasilitas rumah tangga (26,60%),
makanan dan minuman jadi (14,14%) dan pengeluaran untuk aneka barang dan jasa
(12,91%).

GAMBAR 1.9
PERSENTASE RATA-RATA PENGELUARAN PER KAPITA PER BULAN
MENURUT KELOMPOK BARANG
TAHUN 2016

Makanan
Makanan dan Minuman Jadi 14,14
Padi-padian 6,82
Rokok 6,72
Sayur-sayuran 3,65
Ikan/udang/cumi/kerang 3,55
Telur dan Susu 2,96
Daging 2,17
Buah-buahan 2,04
Bahan minuman 1,69
Minyak dan kelapa 1,34
Kacang-kacangan 1,09
Konsumsi lainnya 1,00
Bumbu-bumbuan 0,97
Umbi-umbian 0,53

Bukan Makanan
Perumahan dan fasilitas rumah tangga 26,60
Aneka Barang dan jasa 12,91
Barang tahan lama 4,75
Pakaian, alas kaki dan tutup kepala 3,05
Pajak, pungutan dan asuransi 2,28
Keperluan pesta dan upacara/kenduri 1,72
0 5 10 15 20 25 30

Sumber: Pengeluaran Untuk konsumsi Penduduk Indonesia, Badan Pusat Statistik, 2016
Susenas Maret, 2016

Pertumbuhan ekonomi berkaitan erat dengan kesempatan kerja di Indonesia.


Penduduk dilihat dari sisi ketenagakerjaan merupakan suplai bagi pasar tenaga kerja, namun
hanya penduduk usia kerja (usia 15 tahun ke atas) yang dapat menawarkan tenaganya di
pasar kerja. Penduduk usia kerja dibagi menjadi dua kelompok yaitu angkatan kerja dan
bukan angkatan kerja. Kelompok angkatan kerja terdiri dari penduduk yang bekerja (aktif
bekerja atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja) dan pengangguran
(penduduk yang sedang mencari pekerjaan, sedang mempersiapkan suatu usaha, sudah
memiliki pekerjaan tetapi belum mulai bekerja, merasa tidak mungkin mendapat

Bab I DEMOGRAFI 11
pekerjaan/putus asa). Sedangkan kelompok bukan angkatan kerja terdiri dari penduduk
sedang bersekolah, mengurus rumah tangga dan lainnya.
Pada Tabel 1.3 menunjukkan keadaan ketenagakerjaan di Indonesia pada tahun
2013-2016. Pada periode Agustus 2013 hingga Agustus 2016 terjadi peningkatan jumlah
angkatan kerja dan penduduk yang bekerja. Sedangkan jumlah pengangguran terbuka
berfluktuasi yang dapat dilihat pada Tabel 1.3. Jumlah angkatan kerja di Indonesia pada
Agustus 2013 sebesar 120,17 juta orang, meningkat menjadi 125,44 juta orang pada Agustus
2016. Namun terjadi penurunan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dari 66,77% pada
Agustus 2013 menjadi 66,34% pada Agustus 2016. TPAK merupakan persentase jumlah
angkatan kerja terhadap jumlah penduduk usia kerja. Indikator ini mengindikasikan besarnya
penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi di suatu wilayah dan menunjukkan besaran
relatif suplai tenaga kerja yang tersedia untuk produksi barang dan jasa dalam suatu
perekonomian.

TABEL 1.3
PENDUDUK USIA 15 TAHUN KE ATAS MENURUT JENIS KEGIATAN UTAMA 2013-2016
(JUTA ORANG)
2013 2014 2015 2016
Angkatan Kerja
Februari Agustus Februari Agustus Februari Agustus Februari Agustus

Jumlah Angkatan
123,17 120,17 125,32 121,87 128,30 122,38 127,67 125,44
Kerja

Tingkat
Partisipasi
69,15 66,77 69,17 66,6 69,50 65,76 68,06 66,34
Angkatan Kerja
(%)

Jumlah penduduk
115,93 112,76 118,17 114,63 120,85 114,82 120,65 118,41
yang bekerja

Jumlah
pengangguran 7,25 7,41 7,15 7,24 7,45 7,56 7,02 7,03
terbuka

Tingkat
Pengangguran 5,88 6,17 5,7 5,94 5,81 6,18 5,50 5,61
Terbuka (%)
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2016

Dalam kurun waktu setahun terakhir, jumlah pengangguran terbuka di Indonesia


berkurang sekitar 0,53 juta dari 7,56 juta pada Agustus 2015 turun menjadi 7,03 juta pada
Agustus 2016. Sehingga Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurun dari 6,18% pada
Agustus 2015 menjadi 5,61% pada Agustus 2016. TPT menggambarkan proporsi angkatan
kerja yang tidak memiliki pekerjaan dan secara aktif mencari dan bersedia untuk bekerja,
atau perbandingan antara jumlah pencari kerja dengan jumlah angkatan kerja.

12 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 1.10
TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA (TPT) TAHUN 2016

Indonesia 5,61

Banten 8,92
Jawa Barat 8,89
Kalimantan Timur 7,95
Kepulauan Riau 7,69
Aceh 7,57
Papua Barat 7,46
Riau 7,43
Maluku 7,05
Sulawesi Utara 6,18
DKI Jakarta 6,12
Sumatera Utara 5,84
Kalimantan Selatan 5,45
Kalimantan Utara 5,23
Sumatera Barat 5,09
Kalimantan Tengah 4,82
Sulawesi Selatan 4,80
Jawa Tengah 4,63
Lampung 4,62
Sumatera Selatan 4,31
Kalimantan Barat 4,23
Jawa Timur 4,21
Maluku Utara 4,01
Jambi 4,00
Nusa Tenggara Barat 3,94
Papua 3,35
Sulawesi Barat 3,33
Bengkulu 3,30
Sulawesi Tengah 3,29
Nusa Tenggara Timur 3,25
Gorontalo 2,76
Sulawesi Tenggara 2,72
DI Yogyakarta 2,72
Kepulauan Bangka Belitung 2,60
Bali 1,89
0 2 4 6 8 10

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2017

Dari gambar di atas tampak Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berdasarkan


provinsi tahun 2016 yang paling tinggi adalah Banten (8,92%), Jawa Barat (8,89%) dan
Kalimantan Timur (7,95%). Sedangkan TPT yang paling rendah adalah Bali (1,89%), Kepulauan
Bangka Belitung (2,60%) dan DI Yogyakarta (2,72%), Sulawesi Tenggara (2,72%). Tingginya
Tingkat Pengangguran Terbuka biasanya seiring dengan pertambahan jumlah penduduk
serta tidak didukung oleh tersedianya lapangan kerja baru atau keengganan untuk
menciptakan lapangan kerja (minimal) untuk dirinya sendiri atau memang tidak
memungkinkan untuk mendapatkan lapangan kerja atau tidak memungkinkan untuk
menciptakan lapangan kerja.

C. KEADAAN PENDIDIKAN
Komponen pengukuran tingkat pembangunan manusia suatu negara yang cukup
berpengaruh yaitu komponen pendidikan. Perubahan yang terjadi secara terus menerus

Bab I DEMOGRAFI 13
pada perilaku masyarakat disebabkan oleh semakin meningkatnya tingkat pendidikan.
Pendidikan juga merupakan salah satu syarat mutlak pencapaian tujuan pembangunan
manusia, dan merupakan target pembangunan sekaligus sarana pembangunan nasional.
Pendidikan masyarakat dapat diukur dengan berbagai indikator, salah satu indikator yang
secara sensitif dapat mengukur tingkat pendidikan masyarakat yaitu rata-rata lama sekolah.

GAMBAR 1.11
RATA-RATA LAMA SEKOLAH PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS (DALAM TAHUN)
TAHUN 2012 - 2016
9

8
8,25 8,32 8,42
8,03 8,09
7

0
2012 2013 2014 2015 2016

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2016

Rata-rata lama sekolah penduduk berumur 15 tahun ke atas cenderung meningkat,


yaitu 8,03 tahun pada tahun 2012 menjadi 8,42 tahun pada tahun 2016. Namun begitu angka
ini belum memenuhi tujuan program wajib belajar 9 tahun. Pada tahun 2016, terlihat
kecenderungan rata-rata lama sekolah di perkotaan (9,56 tahun) lebih besar dibandingkan di
perdesaan (7,18 tahun). Hal ini terkait dengan keberadaan fasilitas sekolah yang lebih banyak
di perkotaan dibandingkan di perdesaan. Menurut jenis kelamin, laki-laki (8,75 tahun)
cenderung lebih lama bersekolah dibandingkan perempuan (8,09 tahun). Sebanyak 10
(sepuluh) provinsi telah mencapai program wajib belajar 9 tahun, yaitu DKI Jakarta,
Kepulauan Riau, Maluku, DI Yogyakarta, Papua Barat, Kalimantan Timur, Sumatera Utara,
Aceh, Sulawesi Utara dan Kalimantan Utara. Rata-rata lama bersekolah yang paling rendah di
Provinsi Papua sebesar 6,48 tahun dan yang tertinggi di Provinsi DKI Jakarta sebesar 10,92
tahun. Rincian rata-rata lama sekolah penduduk berumur 15 tahun ke atas menurut provinsi
dan jenis kelamin dapat dilihat pada Lampiran 1.16.
Hal mendasar yang dibutuhkan oleh penduduk untuk menuju kehidupan yang lebih
sejahtera yaitu kemampuan membaca dan menulis. Penduduk yang bisa membaca dan
menulis secara umum memiliki akses ke berbagai hal yang jauh lebih besar dibandingkan
dengan penduduk yang tidak memiliki kemampuan tersebut, sehingga peluang untuk hidup
lebih sejahtera dimiliki oleh penduduk yang bisa membaca dan menulis. Kemampuan

14 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


membaca dan menulis tercermin dari Angka Melek Huruf (AMH) dan Angka Buta Huruf
(ABH).
ABH menjadi dasar pelaksanaan program pemberantasan buta huruf, dan diharapkan
ABH terus menurun. Tahun 2012-2016 ABH cenderung menurun dari 7,03% tahun 2012
menjadi 4,62% pada tahun 2016. Angka Melek Huruf merupakan kebalikan dari Angka Buta
Huruf. AMH merupakan persentase penduduk berumur 15 tahun ke atas yang dapat
membaca dan menulis serta mengerti sebuah kalimat sederhana dalam hidupnya sehari-hari.
AMH menunjukan kemampuan penduduk dalam menyerap informasi dari berbagai media
dan menunjukan kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tulisan. AMH yang
semakin besar diharapkan dapat mengurangi tingkat kemiskinan sehingga tingkat
kesejahteraan diharapkan dapat semakin meningkat.

GAMBAR 1.12
ANGKA MELEK HURUF (DALAM PERSEN) MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

Indonesia 95,38

Sulawesi Utara 99,79


DKI Jakarta 99,64
Riau 99,07
Kalimantan Tengah 98,97
Maluku 98,94
Sumatera Utara 98,88
Kepulauan Riau 98,84
Kalimantan Timur 98,82
Sumatera Barat 98,81
Maluku Utara 98,67
Sumatera Selatan 98,46
Gorontalo 98,44
Kalimantan Selatan 98,28
Jawa Barat 98,22
Jambi 98,01
Bengkulu 97,75
Aceh 97,74
Kepulauan Bangka Belitung 97,66
Banten 97,55
Sulawesi Tengah 97,51
Papua Barat 97,05
Lampung 96,78
Kalimantan Utara 95,05
DI Yogyakarta 94,59
Sulawesi Tenggara 94,25
Jawa Tengah 93,3
Bali 92,82
Sulawesi Barat 92,75
Kalimantan Barat 92,39
Jawa Timur 91,59
Sulawesi Selatan 91,52
Nusa Tenggara Timur 91,52
Nusa Tenggara Barat 87,06
Papua 71,02
0 20 40 60 80 100

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2016

Pada Gambar 1.12, AMH secara nasional tahun 2016 sebesar 95,38%. Provinsi
Sulawesi Utara memiliki AMH tertinggi (99,79%) dan terendah di Provinsi Papua (71,02%).
Secara umum di 34 provinsi, AMH laki-laki lebih tinggi dari perempuan. Disparitas AMH
antara laki-laki dan perempuan berkisar antara 0,10% sampai dengan 12,12%, terendah di

Bab I DEMOGRAFI 15
Provinsi Gorontalo dan tertinggi di Provinsi Papua. Rincian AMH (persentase penduduk
berumur 15 tahun ke atas yang melek huruf) menurut provinsi dan jenis kelamin dapat
dilihat pada Lampiran 1.17.
Indikator angka partisipasi merupakan indikator pendidikan yang mengukur tingkat
partisipasi sekolah penduduk menurut kelompok umur sekolah atau jenjang pendidikan
tertentu. Ada tiga jenis indikator yang memberikan gambaran mengenai partisipasi sekolah
yaitu Angka Partisipasi Sekolah (APS), Angka Partisipasi Kasar (APK), dan Angka Partisipasi
Murni (APM).
APS merupakan persentase jumlah murid kelompok usia sekolah tertentu yang
bersekolah pada berbagai jenjang pendidikan dibagi dengan penduduk kelompok usia
sekolah yang sesuai. Indikator ini digunakan untuk mengetahui banyaknya anak usia sekolah
yang masih bersekolah di semua jenjang pendidikan. APS secara umum dikategorikan
menjadi 3 kelompok umur, yaitu 7-12 tahun mewakili umur setingkat SD, 13-15 tahun
mewakili umur setingkat SMP/MTs, 16-18 tahun mewakili umur setingkat SMA/SMK dan 19-
24 tahun mewakili umur setingkat perguruan tinggi. Semakin tinggi APS berarti semakin
banyak anak usia sekolah yang bersekolah.

GAMBAR 1.13
PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH TAHUN 2013 2016
120

98,42 98,92 99,09 99,09


100 94,44 94,72 94,88
90,81

80
70,31 70,61 70,83 7-12 tahun
63,84
60 13-15 tahun
16-18 tahun
40 19-24 tahun
22,82 22,95 23,93
20,14
20

0
2013 2014 2015 2016

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2017

Gambar 1.13 memperlihatkan APS tahun 2013 sampai dengan tahun 2016 untuk tiap
kelompok umur sekolah cenderung meningkat. Semakin tinggi kelompok umur maka tingkat
partisipasi sekolahnya semakin kecil, hal ini dimungkinkan pada kelompok umur 16-18 tahun
dan 19-24 tahun telah masuk dalam angkatan kerja dan bekerja. Peningkatan terbesar
terjadi pada kelompok umur 16-18 tahun atau kelompok umur SMA/sederajat, hal ini sejalan
dengan program wajib belajar 12 tahun. Peningkatan APS pada kelompok umur 7-12 tahun
dan 13-15 tahun juga terjadi dan sejalan dengan program wajib belajar 9 tahun yang
mendahului program wajib belajar 12 tahun. Rincian APS menurut provinsi dan kelompok

16 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


umur tahun 2013-2016 dapat dilihat pada Lampiran 1.18, sedangkan rincian APS menurut
provinsi, jenis kelamin, dan kelompok umur tahun 2016 dapat dilihat pada Lampiran 1.19.
APK merupakan indikator yang dapat memberikan gambaran mengenai partisipasi
sekolah penduduk yang bersekolah pada jenjang pendidikan tertentu tanpa memperhatikan
umur. APK adalah rasio jumlah siswa, berapa pun usianya, yang sedang sekolah di tingkat
pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan
jenjang pendidikan tertentu, dinyatakan dalam persen. APK menunjukkan tingkat partisipasi
penduduk secara umum di suatu jenjang pendidikan. Hasil perhitungan APK ini digunakan
untuk mengetahui banyaknya anak yang bersekolah di suatu jenjang pendidikan tertentu
pada wilayah tertentu. Semakin tinggi APK menunjukkan semakin banyak anak usia sekolah
yang bersekolah di suatu jenjang pendidikan pada suatu wilayah.
Pada Gambar 1.14 diketahui nilai APK untuk SD/MI tahun 2013-2016 melebihi 100
persen yang menunjukkan masih adanya penduduk yang terlalu cepat sekolah (penduduk
usia dibawah 7 tahun yang sudah bersekolah) atau terlambat bersekolah (penduduk usia
lebih dari 12 tahun masih bersekolah di SD/sederajat). Dari tahun 2013-2016 APK cenderung
mengalami peningkatan, namun di tahun 2016 nilai APK untuk SD/MI dan SMP/Mts sedikit
menurun dibandingkan tahun 2015. Pada tahun 2016 nilai APK untuk SD/sederajat sebesar
109,31%, SMP/sederajat 90,12%, SMA/sederajat sebesar 80,89%. Rincian APK menurut
provinsi tahun 2013-2016 dapat dilihat pada Lampiran 1.20. Secara umum APK penduduk
perempuan lebih tinggi dibandingkan penduduk laki-laki di semua jenjang pendidikan,
kecuali SD/sederajat. Hal ini menunjukan lebih banyak penduduk perempuan yang
melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi dibandingkan penduduk laki-laki. Rincian
APK menurut provinsi dan jenis kelamin tahun 2016 terdapat pada Lampiran 1.21.

GAMBAR 1.14
PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI KASAR PENDIDIKAN TAHUN 2013 2016
120 108,87 110,50 109,31
107,71

100 88,63 91,17 90,12


85,96
78,02 80,89
80 74,26
66,61
60

40

20

0
2013 2014 2015 2016

SD/MI/Paket A SMP/Mts/ Paket B SM/SMK/MA/Paket C

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2017

Bab I DEMOGRAFI 17
Indikator pendidikan lainnya yaitu Angka Partisipasi Murni (APM). APM merupakan
perbandingan antara jumlah siswa kelompok usia sekolah pada jenjang pendidikan tertentu
dengan penduduk usia sekolah yang sesuai dengan usianya, dinyatakan dalam persen.
Berbeda dengan APK, APM menggunakan batasan kelompok umur. Indikator APM ini
digunakan untuk mengetahui banyaknya anak usia sekolah yang bersekolah pada suatu
jenjang pendidikan yang sesuai dengan usianya. Semakin tinggi APM menandakan semakin
banyak anak usia sekolah yang bersekolah di suatu daerah. Jika dibandingkan APK, APM
merupakan indikator pendidikan yang lebih baik karena memperhitungkan juga partisipasi
penduduk kelompok usia standar di jenjang pendidikan yang sesuai dengan standar tersebut.
Pada Gambar 1.15, tahun 2016 nilai APM untuk SD/sederajat sebesar 96,82%,
SMP/sederajat sebesar 77,95% dan SMA/sederajat sebesar 59,95%. Kondisi ini terus
meningkat pada semua jenjang pendidikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Nilai
APM lebih mencerminkan kondisi partisipasi sekolah dibandingkan nilai APK. Rincian APM
menurut provinsi tahun 2013-2016 terdapat pada Lampiran 1.22.

GAMBAR 1.15
PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI MURNI PENDIDIKAN TAHUN 2013 2016
120

95,59 96,45 96,70 96,82


100

77,53 77,82 77,95


80 73,88
59,35 59,71 59,95
60 54,25

40

20

0
2013 2014 2015 2016

SD/MI/Paket A SMP/Mts/ Paket B SM/SMK/MA/Paket C

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2017

D. INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM)


Menurut United Nations Development Programme (UNDP), Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen
dasar kualitas hidup. IPM dibangun melalui pendekatan tiga dimensi dasar, sebagai ukuran
kualitas hidup, yaitu umur panjang dan sehat, pengetahuan dan standar hidup layak.
Untuk mengukur dimensi umur panjang dan sehat (dimensi kesehatan) digunakan
Angka Harapan Hidup (AHH) waktu lahir. Untuk mengukur dimensi pengetahuan digunakan

18 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


gabungan indikator Angka Melek Huruf dan Rata-rata Lama Sekolah. Sedangkan untuk
mengukur dimensi kehidupan yang layak, digunakan indikator Kemampuan Daya Beli
(purchasing power parity) masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok yang dilihat dari
rata-rata besarnya pengeluaran per kapita (PDB).
Pada tahun 2014 terjadi perubahan metodologi IPM. Angka Melek Huruf pada
metode lama diganti dengan angka harapan lama sekolah. Produk Domestik Bruto (PDB) per
kapita diganti dengan Produk Nasional Bruto (PNB) per kapita. Metode agregasi dari rata-
rata aritmatik menjadi rata-rata geometrik.
Pembangunan manusia Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun
baik dengan metode lama (1996-2013) maupun dengan metode baru (2010-2016). Dengan
metode baru selama periode 2010-2016, nilai IPM Indonesia telah meningkat 3,65 poin,
yaitu dari 66,53 tahun 2010 menjadi 70,18 pada tahun 2016. Bila dilihat berdasarkan target
APBN, yang menargetkan IPM sebesar 70,1 sudah melampaui target (IPM 2016=70,18).
Akselerasi yang tinggi diduga merupakan salah satu penyebab terlampauinya target APBN
tersebut. Pada tahun 2016, IPM Indonesia tumbuh 0,91% atau bertambah 0,63 poin
dibandingkan IPM tahun 2015.

GAMBAR 1.16
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) INDONESIA TAHUN 1996 - 2016
80 73,81
71,17 71,76 72,27 72,77 73,29
67,7 68,69 69,57 70,08 70,59
70 64,3 65,8
68,9 69,55 70,18
60 66,53 67,09 67,7 68,31
Target
50 APBN: 70,1
69,40
40

30

20

10

0
1996 1999 2002 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Metode Lama Metode Baru

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2017

Pertumbuhan IPM yang tinggi pada tahun 2016 didorong oleh peningkatan semua
indeks komponen pembentuknya. Indeks pendidikan merupakan komponen IPM yang
mengalami akselerasi paling tinggi. Pada tahun 2016, indeks pendidikan mencapai 61,83 atau
meningkat 0,83 poin dari tahun sebelumnya. Demikian halnya dengan indeks standar hidup

Bab I DEMOGRAFI 19
layak yang mengalami peningkatan 0,80 poin. Sementara itu indeks kesehatan yang diwakili
oleh angka harapan hidup saat lahir peningkatannya yang tidak terlalu signifikan.

GAMBAR 1.17
KOMPONEN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA INDONESIA TAHUN 2015 - 2016
90
78,12 78,31
80
70,59 71,39
70
61,00 61,83
60
50
40
30
20
10
0
2015 2016 2015 2016 2015 2016
Indeks Kesehatan Indeks Pendidikan Indeks Standar Hidup Layak

Sumber: Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Juli 2017, Badan Pusat Statistik, 2017

Pada periode 2015-2016, tercatat tiga provinsi dengan kemajuan pembangunan


manusia paling cepat, yaitu Papua (1,40%), Sumatera selatan (1,16%) dan Jawa Timur
(1,15%). Sebaliknya pada periode yang sama, tercatat tiga provinsi dengan kemajuan
pembangunan manusia paling lambat, yaitu Kepulauan Riau (0,33%), Kalimantan Barat
(0,44%) dan Riau (0,51%).
Untuk melihat capaian IPM antar wilayah dapat dilihat melalui pengelompokan IPM
ke dalam beberapa kategori, yaitu:
o IPM < 60 : IPM rendah
o 60 IPM < 70 : IPM sedang
o 70 IPM <80 : IPM tinggi
o 80 : IPM sangat tinggi
Gambar 1.18 menunjukkan nilai IPM menurut provinsi tahun 2016. Berdasarkan
pembagian tersebut, belum ada provinsi di Indonesia yang mempunyai nilai IPM kategori
sangat tinggi. Ada 12 provinsi (35,29%) masuk dalam kategori IPM tinggi, 21 provinsi
(61,76%) masuk kategori IPM sedang. Sejak tahun 2015 hingga tahun 2016, masih terdapat
satu provinsi di Indonesia masuk dalam kategori IPM rendah yaitu Papua. Otonomi daerah
diharapkan dapat meningkatkan kemajuan pembangunan khususnya dalam rangka
meningkatkan kualitas kehidupan manusia.
Provinsi dengan peringkat IPM tertinggi adalah DKI Jakarta. Sejak pertama kali
dihitung hingga tahun 2016, capaian IPM Provinsi DKI Jakarta selalu paling tinggi di antara

20 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


provinsi lainnya. Ketersediaan sarana kesehatan, pendidikan dan perekonomian serta
kemudahan akses terhadap semua sarana tersebut membuat Provinsi DKI Jakarta lebih
unggul dibandingkan wilayah lain di Indonesia. Kondisi ini menjadi salah satu faktor
pendorong tingginya capaian pembangunan manusia di Provinsi DKI Jakarta.

GAMBAR 1.18
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

Indonesia 70,18

DKI Jakarta 79,60


DI Yogyakarta 78,38
Kalimantan Timur 74,59
Kepulauan Riau 73,99
Bali 73,65
Riau 71,20
Sulawesi Utara 71,05
Banten 70,96
Sumatera Barat 70,73
Jawa Barat 70,05
Sumatera Utara 70,00
Aceh 70,00
Jawa Tengah 69,98
Sulawesi Selatan 69,76
Jawa Timur 69,74
Jambi 69,62
Kepulauan Bangka Belitung 69,55
Bengkulu 69,33
Sulawesi Tenggara 69,31
Kalimantan Utara 69,20
Kalimantan Tengah 69,13
Kalimantan Selatan 69,05
Sumatera Selatan 68,24
Lampung 67,65
Maluku 67,60
Sulawesi Tengah 67,47
Maluku Utara 66,63
Gorontalo 66,29
Kalimantan Barat 65,88
Nusa Tenggara Barat 65,81
Sulawesi Barat 63,60
Nusa Tenggara Timur 63,13
Papua Barat 62,21
Papua 58,05

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2017

***

Bab I DEMOGRAFI 21
BAB II SARANA KESEHATAN

Derajat kesehatan masyarakat suatu negara dipengaruhi oleh keberadaan sarana


kesehatan. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menyatakan bahwa
fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk
menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif, maupun
rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.
Sarana kesehatan yang diulas pada pada bagian ini terdiri dari fasilitas pelayanan
kesehatan, sarana kefarmasian dan alat kesehatan, serta institusi pendidikan kesehatan milik
pemerintah yang menghasilkan tenaga kesehatan. Fasilitas pelayanan kesehatan yang
dibahas pada bagian ini terdiri dari Puskesmas dan rumah sakit.

A. PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT


Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas
menyebutkan bahwa Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat
pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.
Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai
tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya
Kecamatan Sehat. Selain melaksanakan tugas tersebut, Puskesmas memiliki fungsi sebagai
penyelenggara Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) tingkat pertama dan Upaya Kesehatan
Perseorangan (UKP) tingkat pertama serta sebagai wahana pendidikan tenaga kesehatan.
Upaya kesehatan masyarakat adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan
dengan sasaran keluarga, kelompok, dan masyarakat. Upaya kesehatan perseorangan adalah
suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk
peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit, pengurangan penderitaan akibat
penyakit, dan memulihkan kesehatan perseorangan.

Bab II SARANA KESEHATAN 25


Jumlah Puskesmas di Indonesia sampai dengan Desember 2016 adalah 9.767 unit,
yang terdiri dari 3.411 unit Puskesmas rawat inap dan 6.356 unit Puskesmas non rawat inap.
Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2015 yaitu sebanyak 9.754 unit, dengan jumlah
Puskesmas rawat inap sebanyak 3.396 unit dan Puskesmas non rawat inap sebanyak 6.358
unit. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, terjadi peningkatan jumlah Puskesmas yang dapat
dilihat pada gambar berikut.

GAMBAR 2.1
JUMLAH PUSKESMAS TAHUN 2012 2016

10.000

9.000 9.655 9.731 9.754 9.767


9.510
8.000
Jumlah Puskesmas

7.000

6.000

5.000

4.000

3.000

2.000

1.000

0
2012 2013 2014 2015 2016

Sumber: Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2017

Sejak tahun 2012 jumlah Puskesmas semakin meningkat, dari 9.510 unit menjadi
9.767 unit pada tahun 2016. Namun demikian, peningkatan jumlah Puskesmas tidak secara
langsung menggambarkan pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan primer di suatu
wilayah. Pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan primer dapat dilihat secara umum dari
rasio Puskesmas terhadap kecamatan. Rasio Puskesmas terhadap kecamatan pada tahun
2016 sebesar 1,36. Hal ini menggambarkan bahwa rasio ideal Puskesmas terhadap
kecamatan yaitu minimal 1 Puskesmas di 1 kecamatan, secara nasional sudah terpenuhi,
tetapi perlu diperhatikan distribusi dari Puskesmas tersebut di seluruh kecamatan.

26 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 2.2
RASIO PUSKESMAS PER KECAMATAN DI INDONESIA
TAHUN 20122016

Indonesia 1,36

DKI Jakarta 7,73


Bali 2,11
Kalimantan Timur 1,70
Maluku 1,69
Jawa Barat 1,68
DI Yogyakarta 1,55
Jawa Tengah 1,53
Kalimantan Selatan 1,51
Banten 1,50
Sumatera Barat 1,47
Sulawesi Selatan 1,46
Jawa Timur 1,45
Kalimantan Tengah 1,43
Bengkulu 1,41
Sumatera Selatan 1,39
Kalimantan Barat 1,37
Sulawesi Barat 1,36
Nusa Tenggara Barat 1,36
Kepulauan Bangka Belitung 1,32
Sumatera Utara 1,31
Riau 1,31
Jambi 1,30
Lampung 1,29
Sulawesi Tenggara 1,27
Nusa Tenggara Timur 1,21
Gorontalo 1,21
Aceh 1,18
Sulawesi Utara 1,13
Maluku Utara 1,11
Sulawesi Tengah 1,08
Kepulauan Riau 1,04
Kalimantan Utara 0,98
Papua 0,70
Papua Barat 0,69
0 1 2 3 4 5 6 7 8
Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2017

Provinsi dengan rasio Puskesmas terhadap kecamatan tertinggi adalah Provinsi DKI
Jakarta sebesar 7,73 Puskesmas per kecamatan, sedangkan Papua Barat memiliki rasio
terendah sebesar 0,69 Puskesmas per kecamatan. Rasio Puskesmas per kecamatan tersebut
dapat menggambarkan kondisi aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
primer. Aksesibilitas masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor di antaranya kondisi
geografis, luas wilayah, ketersediaan sarana dan prasarana dasar, dan kemajuan suatu
daerah. Sebagai contoh, dua provinsi dengan rasio terendah seluruhnya berada di wilayah
timur yaitu Papua Barat dan Papua. Hal ini dapat disebabkan karena wilayah kerja yang luas
dengan medan yang sulit serta keterbatasan sistem transportasi untuk menjangkau
pelayanan kesehatan.

Bab II SARANA KESEHATAN 27


Berdasarkan indikator RPJMN tahun 2015 - 2019 terkait pelayanan kesehatan primer,
yaitu jumlah Puskesmas non rawat Inap dan Puskesmas rawat inap yang memberikan
pelayanan sesuai standar, diharapkan 6.000 Puskesmas di tahun 2019 dapat memberikan
pelayanan sesuai standar di Permenkes Nomor 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas. Dari hasil
pengisian instrumen self assessment oleh Puskesmas, pada tahun 2016 terdapat 2.692
Puskesmas yang telah memberikan pelayanan sesuai standar, dari 3.392 Puskesmas yang
telah melaporkan ke pusat.

GAMBAR 2.3
JUMLAH PUSKESMAS YANG MEMBERIKAN PELAYANAN SESUAI STANDAR DI INDONESIA
TAHUN 2016

Indonesia 2692

Jawa Tengah 502


Jawa Barat 499
Jawa Timur 455
Kalimantan Selatan 117
Sulawesi Selatan 111
DI Yogyakarta 100
Sulawesi Utara 88
Aceh 82
Banten 80
Sumatera Selatan 69
Nusa Tenggara Barat 66
Bali 60
Sumatera Barat 59
Lampung 55
Kalimantan Barat 54
Sulawesi Tengah 49
Kalimantan Timur 47
Gorontalo 30
Riau 28
Nusa Tenggara Timur 22
DKI Jakarta 19
Sumatera Utara 18
Jambi 17
Maluku 13
Bangka Belitung 12
Maluku Utara 11
Papua Barat 8
Kalimantan Tengah 8
Kepulauan Riau 6
Kalimantan Utara 4
Sulawesi Barat 2
Bengkulu 1
0 500 1000 1500 2000 2500 3000

Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2017

Berikut disajikan perkembangan jumlah Puskesmas rawat inap dan non rawat inap
dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2016.

28 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 2.4
JUMLAH PUSKESMAS RAWAT INAP DAN NON RAWAT INAP
TAHUN 2012 2016

7000
6.358 6.338 6.353 6.358 6.356

6000

5000
Jumlah Puskesmas

4000
3.317 3.378 3.396 3.411
3.152
3000

2000

1000

0
2012 2013 2014 2015 2016
Puskesmas Rawat Inap Puskesmas Non Rawat Inap

Sumber: Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2017

Jumlah Puskesmas rawat inap selama lima tahun terakhir terus meningkat, yaitu
sebanyak 3.152 unit pada tahun 2012, lalu meningkat menjadi 3.411 unit pada tahun 2016.
Jumlah Puskesmas non rawat inap cenderung berfluktuasi. Hal ini dapat dilihat dari jumlah
Puskesmas non rawat inap pada tahun 2012 sebanyak 6.358 menurun menjadi 6.338 pada
tahun 2013 dan pada tahun 2016 meningkat menjadi 6.356. Gambaran lebih rinci tentang
jumlah dan jenis Puskesmas menurut provinsi terdapat pada Lampiran 2.1 dan Lampiran 2.4.
Dalam menjalankan fungsinya sebagai penyelenggara Upaya Kesehatan Masyarakat
(UKM), Puskesmas harus menyelenggarakan UKM esensial dalam rangka mendukung
pencapaian standar pelayanan minimal (SPM) kabupaten/kota bidang kesehatan. UKM
esensial meliputi pelayanan promosi kesehatan, pelayanan kesehatan lingkungan, pelayanan
kesehatan ibu, anak, keluarga berencana, pelayanan gizi, dan pelayanan pencegahan dan
pengendalian penyakit. Selain melaksanakan UKM esensial, Puskesmas juga melaksanakan
UKM pengembangan yang disesuaikan dengan prioritas masalah kesehatan, kekhususan
wilayah kerja dan potensi sumber daya yang tersedia di masing-masing Puskesmas. Sebagai
contoh UKM pengembangan yaitu Pelayanan Kesehatan Kerja, Pelayanan Kesehatan
Olahraga, dan Pelayanan Kesehatan Tradisional.

Bab II SARANA KESEHATAN 29


1. Puskesmas dengan Upaya Kesehatan Kerja
Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pada Bab XII Kesehatan
Kerja, Pasal 164-166 menyebutkan bahwa upaya kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi
pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang
diakibatkan oleh pekerjaan. Selain itu, pemerintah harus melakukan pembinaan dan
pengawasan terhadap masyarakat dan terhadap setiap penyelenggara kegiatan yang
berhubungan dengan sumber daya kesehatan di bidang kesehatan dan upaya kesehatan baik
pada sektor formal (usaha besar dan menengah) maupun sektor informal (usaha
mandiri/individu, rumah tangga, mikro dan kecil).
Puskesmas memiliki peran strategis dalam upaya kesehatan kerja kedua sektor
tersebut, utamanya pada sektor informal. Upaya kesehatan kerja di Puskesmas
diselenggarakan sesuai dengan keadaan dan permasalahan yang ada di wilayah Puskesmas
atau spesifik lokal. Dengan demikian sampai saat ini upaya kesehatan kerja di Puskesmas
lebih dititikberatkan pada wilayah industri.
Pembinaan upaya kesehatan kerja dilaksanakan melalui kegiatan penguatan
pelayanan kesehatan kerja, yaitu:
1. pelatihan peningkatan kapasitas petugas kesehatan dalam bidang kesehatan kerja,
2. penguatan Pos Upaya Kesehatan Kerja (UKK) melalui pembentukan Pos UKK di wilayah
(Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI)/ Tempat Pelelangan Ikan (TPI),
3. pelatihan diagnosis Penyakit Akibat Kerja (PAK),
4. peningkatan fasilitas pelayanan kesehatan bidang kesehatan kerja,
5. penyusunan Kesehatan Keselamatan Kerja Puskesmas,
6. surveilans kesehatan kerja,
7. gerakan pekerja perempuan sehat dan produktif termasuk kesehatan reproduksi di
tempat kerja dan pembinaan pelayanan kesehatan kerja di sektor informal dan formal
termasuk perkantoran,
8. pembinaan Calon Tenaga Kerja Indonesia (CTKI) dengan fokus kegiatan pembinaan
pelayanan kesehatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

30 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 2.5
JUMLAH PUSKESMAS YANG MELAKSANAKAN PELAYANAN KESEHATAN KERJA
DI INDONESIA TAHUN 2016

Jawa Timur 661


Jawa Tengah 454
Sulawesi Selatan 292
Sumatera Selatan 239
Lampung 172
Banten 146
Sulawesi Tenggara 133
Sumatera Utara 131
Nusa Tenggara Barat 127
Jawa Barat 127
Jambi 118
Riau 98
Gorontalo 88
Bali 76
Kalimantan Selatan 66
Kalimantan Timur 62
DKI Jakarta 61
Aceh 59
Bengkulu 46
Sulawesi Utara 45
DI Yogyakarta 45
Kalimantan Tengah 41
Sulawesi Tengah 40
Sulawesi Barat 36
Kepulauan Bangka Belitung 36
Kepulauan Riau 30
Sumatera Barat 21
Maluku 16
Maluku Utara 11
Papua 10
Papua Barat 6
Nusa Tenggara Timur 4
0 100 200 300 400 500 600 700
Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2017

Pada indikator Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2015 - 2019, kesehatan kerja
memiliki target persentase Puskesmas yang menyelenggarakan kesehatan kerja dasar yaitu
Puskesmas yang telah melaksanakan program pelayanan kesehatan kerja di Puskesmas baik
pelayanan promotif atau preventif atau kuratif bagi pekerja di wilayah kerjanya. Target
tersebut dihitung berdasarkan Laporan Bulanan Kesehatan Pekerja (LBKP) di Puskesmas.
Puskesmas yang telah melaksanakan kesehatan kerja dasar pada tahun 2016 mencapai 3.511
Puskesmas. Target Puskesmas yang menyelenggarakan kesehatan kerja tahun 2016
sebanyak 50% yaitu sebanyak 4.884 Puskesmas. Dari hasil Laporan Bulanan Kesehatan
Pekerja (LBKP) dapat dilihat bahwa Puskesmas yang menyelenggarakan kesehatan kerja
dasar pada tahun 2016 tidak dapat tercapai (35,95%). Provinsi dengan jumlah Puskesmas
terbanyak yang telah menyelenggarakan kesehatan kerja dasar yaitu provinsi Jawa Timur
dan Jawa Tengah dengan jumlah masing-masing 661 dan 454 Puskesmas.

Bab II SARANA KESEHATAN 31


2. Puskesmas dengan Upaya Kesehatan Olahraga
Upaya kesehatan olahraga diselenggarakan untuk meningkatkan kesehatan dan
kebugaran jasmani masyarakat. Kesehatan olahraga merupakan upaya dasar dalam
meningkatkan prestasi belajar, prestasi kerja dan prestasi olahraga melalui aktivitas fisik,
latihan fisik dan olahraga seperti tercantum dalam Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009.
Upaya kesehatan olahraga dapat dilaksanakan di pelayanan kesehatan dasar seperti
Puskesmas maupun pelayanan kesehatan rujukan.
Upaya kesehatan olahraga yang diselenggarakan di Puskesmas meliputi pendataan,
pembinaan, dan pelayanan kesehatan olahraga. Pendataan kelompok olahraga berupa
pendataan terhadap kelompok/kelas ibu hamil, kelompok sekolah melalui UKS, kelompok
jemaah haji, kelompok pekerja, kelompok lanjut usia, dan kelompok olahraga lainnya.
Pembinaan kesehatan olahraga berupa pemeriksaan kesehatan dan penyuluhan kesehatan
olahraga. Pembinaan tersebut ditujukan pada kelompok olahraga di sekolah, klub jantung
sehat, Posyandu lanjut usia, kelompok senam ibu hamil, kelompok senam diabetes,
kelompok senam pencegahan osteoporosis, pembinaan kebugaran jasmani jemaah calon
haji, fitness center, dan kelompok olahraga/latihan fisik lain. Pelayanan kesehatan olahraga
berupa konsultasi/konseling kesehatan olahraga, pengukuran kebugaran jasmani,
penanganan cedera olahraga akut, dan pelayanan kesehatan pada even olahraga.

GAMBAR 2.6
JUMLAH PUSKESMAS YANG MELAKSANAKAN PELAYANAN KESEHATAN OLAHRAGA
DI INDONESIA TAHUN 2016

Jawa Tengah 536


Jawa Timur 310
Banten 220
Riau 202
Kalimantan Selatan 153
Lampung 122
Sulawesi Selatan 111
Jambi 107
Gorontalo 93
Sumatera Selatan 88
Bali 83
Sumatera Utara 74
Sulawesi Tenggara 67
Kepulauan Bangka Belitung 62
Sumatera Barat 55
Kalimantan Timur 37
Sulawesi Barat 21
Aceh 21
Kepulauan Riau 20
Bengkulu 15
Kalimantan Tengah 10
Kalimantan Utara 7
Maluku 3
0 100 200 300 400 500 600

Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2017

32 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Gambar 2.6 menunjukkan bahwa pada tahun 2016, Provinsi Jawa Tengah memiliki
Puskesmas terbanyak yang melaksanakan kegiatan kesehatan olahraga pada kelompok
masyarakat di wilayah kerjanya yaitu sejumlah 536 Puskesmas. Sementara itu, Maluku dan
Kalimantan Utara memiliki Puskesmas dengan pelayanan kesehatan olahraga paling sedikit,
masing-masing 3 dan 7 Puskesmas. Berdasarkan Renstra Kementerian Kesehatan tahun
2015-2019 diharapkan pada tahun 2016 terdapat 30% Puskesmas yang melaksanakan
kegiatan kesehatan olahraga pada kelompok masyarakat di wilayah Puskesmas terdapat
2.434 Puskesmas atau sebesar 24,92% Puskesmas yang telah melaksanakan kegiatan
olahraga, sehingga belum mencapai target Renstra.

3. Pelayanan Kesehatan Tradisional


Pemerintah menjawab kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan tradisional
dengan meningkatkan kelembagaan struktur yang menangani bidang pelayanan kesehatan
tradisional melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64/Per/Menkes/2014, yaitu
Direktorat Pelayanan Kesehatan Tradisional, di bawah naungan Direktorat Jenderal
Pelayanan Kesehatan.
Pelayanan kesehatan tradisional berperan dalam siklus kehidupan atau continuum of
care sejak dalam masa kandungan sampai usia lanjut, diberikan baik dengan metode
keterampilan maupun ramuan. Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2014 tentang
Pelayanan Kesehatan Tradisional menyatakan bahwa pelayanan kesehatan tradisional dibagi
menjadi pelayanan kesehatan tradisional empiris, pelayanan kesehatan tradisional
komplementer, dan pelayanan kesehatan tradisional integrasi.
Seiring dengan adanya perubahan kebijakan pemerintah, Direktorat Pelayanan
Kesehatan Tradisional, target sasaran Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019,
dimana pada tahun 2016 diharapkan sebesar 25% Puskesmas telah menyelenggarakan
pelayanan kesehatan tradisional. Puskesmas telah menyelenggarakan pelayanan kesehatan
tradisional jika memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut.
1. Puskesmas memiliki tenaga kesehatan sudah dilatih pelayanan kesehatan tradisional.
2. Puskesmas melaksanakan asuhan mandiri kesehatan tradisional ramuan dan
ketrampilan.
3. Puskesmas melaksanakan kegiatan pembinaan meliputi pengumpulan data kesehatan
tradisional, fasilitas registrasi/perizinan dan bimbingan teknis, serta pemantauan
pelayanan kesehatan tradisional dan komplementer.

Untuk meningkatkan pengembangan pelayanan kesehatan tradisional perlu dilakukan


upaya yang komprehensif dan sistematis dalam rencana aksi sebagai penjabaran dari Renstra
Kementerian Kesehatan 2015-2019.
Pada tahun 2016 terdapat 3.724 Puskesmas yang telah menyelenggarakan kesehatan
tradisional, atau 38,13%. dari 9.767 Puskesmas di 34 provinsi di Indonesia. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa target Renstra pada tahun 2016 sudah terpenuhi.

Bab II SARANA KESEHATAN 33


GAMBAR 2.7
PUSKESMAS YANG MENYELENGGARAKAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL
TAHUN 2016

Pembinaan HATRA 415


Melaksanakan ASMAN Kestrad
1327
Ramuan dan Keterampilan

Nakes yang Sudah Dilatih 1982

0 500 1.000 1.500 2.000 2.500


Sumber: Ditjen Pelayanan Kesehatan, Kemenkes RI, 2017

Provinsi Lampung terdapat 351 Puskesmas yang telah menyelenggarakan pelayanan


kesehatan tradisional, diikuti oleh Sulawesi Selatan sebanyak 220 Puskesmas, dan Nusa
Tenggara Barat sebanyak 215 Puskesmas. Provinsi Nusa Tenggara Timur, Gorontalo dan
Papua Barat merupakan provinsi dengan jumlah Puskesmas yang telah menyelenggarakan
pelayanan kesehatan tradisional paling sedikit, yaitu sebanyak 17, 19 dan 20 Puskesmas.
Sedangkan di Provinsi Kalimantan Utara belum ada Puskesmas yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan tradisional.

GAMBAR 2.8
PUSKESMAS YANG MENYELENGGARAKAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL
DI INDONESIA TAHUN 2016
Lampung 351
Sulawesi Selatan 220
NTB 215
Aceh 198
DKI Jakarta 184
Jawa Tengah 176
Sumatera Selatan 173
Bali 168
Kalimantan Selatan 165
Maluku 159
Banten 147
Jawa Timur 135
Jawa Barat 132
Sulawesi Utara 117
Sumatera Utara 114
Bengkulu 100
Bangka Belitung 96
Kepri 96
Riau 90
Kalimantan Timur 89
Sulawesi Tenggara 87
Kalimantan Tengah 67
Sulawesi Tengah 64
Jambi 64
Sumatera Barat 64
Kalimantan Barat 61
DIY 54
Sulawesi Barat 32
Maluku Utara 28
Papua 22
Papua Barat 20
Gorontalo 19
NTT 17
Kalimantan Utara 0
0 100 200 300 400
Sumber: Ditjen Pelayanan Kesehatan, Kemenkes RI, 2017

34 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


A. RUMAH SAKIT
Dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat selain upaya promotif
dan preventif, diperlukan juga upaya kuratif dan rehabilitatif. Upaya kesehatan yang bersifat
kuratif dan rehabilitatif dapat diperoleh melalui rumah sakit yang juga berfungsi sebagai
penyedia pelayanan kesehatan rujukan.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 56/Menkes/PER/I/2014 tentang Klasifikasi dan
Perizinan Rumah Sakit mengelompokkan rumah sakit berdasarkan penyelenggaraan, yaitu
rumah sakit pemerintah, rumah sakit pemerintah daerah dan rumah sakit swasta. Rumah
sakit pemerintah adalah unit pelaksana teknis dari instansi pemerintah (Kementerian
Kesehatan, Kepolisian, Tentara Nasional Indonesia dan Kementerian Lainnya). Rumah sakit
daerah adalah pelaksana teknis dari daerah (pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten
dan pemerintah kota). Sedangkan rumah sakit swasta adalah badan hukum yang bersifat
nirlaba.

1. Jenis Rumah Sakit


Rumah sakit di Indonesia dari tahun 2013-2016 mengalami peningkatan. Pada tahun
2013 jumlah rumah sakit sebanyak 2228 meningkat menjadi 2.601 tahun 2016. Jumlah
rumah sakit di Indonesia sampai dengan tahun 2016 terdiri dari 2.046 Rumah Sakit Umum
(RSU) dan 555 Rumah Sakit Khusus (RSK).
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 56/Menkes/PER/I/2014 mengelompokkan
rumah sakit berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan menjadi rumah sakit umum dan
rumah sakit khusus. Rumah sakit umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan
kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit. Adapun rumah sakit khusus adalah rumah
sakit yang memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu
berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ, jenis penyakit, atau kekhususan lainnya.

TABEL 2.1
PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT BERDASARKAN PENYELENGGARAAN
DI INDONESIA TAHUN 2013 2016

No Penyelenggara 2013 2014 2015 2016

Pemerintah
1 Kementerian Kesehatan 33 33 33 33
2 Kepolisian 41 42 42 42
3 Tentara Nasional Indonesia 118 127 125 125
4 Kementerian Lain 3 7 8 13
Total 195 209 208 213

Bab II SARANA KESEHATAN 35


Pemerintah Daerah
1 Pemerintah Provinsi 96 98 113 120
2 Pemerintah Kabupaten 455 463 469 480
3 Pemerintah Kota 92 93 98 97
Total 643 654 680 697
Swasta 1390 1543 1600 1691
Total 2228 2406 2488 2601
Sumber: Ditjen Pelayanan Kesehatan, Kemenkes RI, 2017

Perkembangan jumlah rumah sakit umum dan rumah sakit khusus dalam lima tahun
terakhir dapat dilihat pada gambar berikut.

GAMBAR 2.9
PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DAN RUMAH SAKIT KHUSUS
DI INDONESIA TAHUN 2013 2016

3.000

2.500
555
Jumlah Rumah Sakit

551 539
2.000 503

1.500

1.000 1855 1949 2046


1725
500

0
2013 2014 2015 2016
Tahun
Sumber: Ditjen Pelayanan Kesehatan, Kemenkes RI, 2017

Terdapat 19 (sembilan belas) jenis rumah sakit khusus yang dapat dilihat pada
Lampiran 2.9. Rumah Sakit Ibu dan Anak merupakan RSK terbanyak di Indonesia, yaitu
sebesar 66,67% dari 556 RSK. Setelah itu, Rumah Sakit Jiwa yang memiliki proporsi yaitu
7,93%.

2. Kelas Rumah Sakit


Selain berdasarkan jenis pelayanannya, rumah sakit juga dikelompokkan berdasarkan
fasilitas dan kemampuan pelayanan menjadi Kelas A, Kelas B, Kelas C, dan Kelas D. Pada

36 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


tahun 2016, terdapat 2,42% RS Kelas A, 14,11% Kelas B, 41,25% RS Kelas C, 21,07% RS Kelas
D, dan 21,15% RS lainnya belum ditetapkan kelas.

GAMBAR 2.10
PERSENTASE RUMAH SAKIT MENURUT KELAS DI INDONESIA
TAHUN 2016
2,42

14,11
21,15

21,07
41,25

Kelas A Kelas B Kelas C Kelas D Belum ditetapkan kelas

Sumber: Ditjen Pelayanan Kesehatan, Kemenkes RI, 2017

3. Tempat Tidur Rumah Sakit


Terpenuhi atau tidaknya kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
rujukan dan perorangan di suatu wilayah dapat dilihat dari rasio tempat tidur terhadap 1.000
penduduk. Standar WHO adalah 1 tempat tidur untuk 1.000 penduduk. Rasio tempat tidur di
rumah sakit di Indonesia dari tahun 2012-2016 sekitar 1 per 1.000 penduduk. Jumlah tempat
tidur di Indonesia sudah tercukupi menurut WHO. Rasio tempat tidur di rumah sakit di
Indonesia sejak tahun 2012 sampai dengan tahun 2016 dapat dilihat pada Gambar 2.11.

GAMBAR 2.11
RASIO JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT PER 1.000 PENDUDUK
DI INDONESIA TAHUN 2012 2016
1,4
1,12 1,21
1,2 1,12
1,07
Rasio Tempat Tidur RS

0,95
1,0
0,8
0,6
0,4
0,2
0,0
2012 2013 2014 2015 2016
Tahun
Sumber: Ditjen Pelayanan Kesehatan, Kemenkes RI, 2017

Bab II SARANA KESEHATAN 37


Walaupun rasio tempat tidur terhadap jumlah penduduk di Indonesia pada tahun
2016 telah mencukupi, namun ketika dijabarkan per provinsi maka ditemukan masih ada
tujuh provinsi dengan rasio tempat tidur terhadap penduduknya kurang mencukupi, yaitu
Banten (0,82), Nusa Tenggara Timur (0,80), Jawa Barat (0,79), Lampung (0,77), Sulawesi
Barat (0,77), Kalimantan Tengah (0,77), dan Nusa Tenggara Barat (0,65). Rincian rasio tempat
tidur terhadap jumlah penduduk selengkapnya disajikan pada Gambar 2.12.

GAMBAR 2.12
RASIO TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT PER 1.000 PENDUDUK DI INDONESIA
TAHUN 2016

Indonesia 1,12

DKI Jakarta 2,23


Sulawesi Utara 2,05
DI Yogyakarta 1,80
Aceh 1,66
Kalimantan Timur 1,64
Papua Barat 1,52
Sumatera Utara 1,49
Bali 1,48
Kalimantan Utara 1,46
Kepulauan Riau 1,44
Sulawesi Selatan 1,43
Gorontalo 1,31
Sulawesi Tengah 1,30
Maluku 1,28
Sumatera Barat 1,23
Papua 1,19
Kalimantan Selatan 1,16
Kepulauan Bangka Belitung 1,16
Sumatera Selatan 1,13
Jawa Tengah 1,13
Maluku Utara 1,11
Bengkulu 1,10
Jambi 1,06
Kalimantan Barat 1,02
Jawa Timur 0,99
Riau 0,96
Sulawesi Tenggara 0,96
Banten 0,82
Nusa Tenggara Timur 0,80
Jawa Barat 0,79
Lampung 0,77
Sulawesi Barat 0,77
Kalimantan Tengah 0,77
Nusa Tenggara Barat 0,65
0 1 2 3 4
Sumber: Ditjen Pelayanan Kesehatan, Kemenkes RI, 2017

Rasio tempat tidur rumah sakit tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta sebesar 2,23,
Sulawesi Utara sebesar 2,05, dan DI Yogyakarta sebesar 1,80. Informasi lebih rinci tentang
rumah sakit menurut provinsi terdapat pada Lampiran 2.7, 2.8, 2.9, 2.10, 2.11 dan Lampiran
2.12.

38 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


4. Akreditasi Rumah Sakit
Akreditasi terhadap suatu produk atau layanan dianggap sangat penting sebagai
indikator dari jaminan mutu. Operasional di setiap rumah sakit pun sangat beragam,
tergantung dari metode kepemimpinan, infrastruktur dan dukungan teknologi informasi
yang dimiliki. Karena keberagaman sistem pelayanan tersebut, Menteri Kesehatan Republik
Indonesia membuat keputusan No.214/Menkes/SK/II/2007 mengenai standarisasi sistem
pelayanan berstandar internasional melalui program akreditasi. Definisi Akreditasi Rumah
Sakit dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 adalah
pengakuan terhadap rumah sakit yang diberikan oleh lembaga independen penyelenggara
akreditasi yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan, setelah dinilai bahwa rumah sakit itu
memenuhi Standar Pelayanan Rumah Sakit yang berlaku untuk meningkatkan mutu
pelayanan rumah sakit secara berkesinambungan.
Sampai tahun 2016, rumah sakit yang terakreditasi di Indonesia sebesar 33,12% dari
2.500 rumah sakit. Provinsi dengan rumah sakit terakreditas tertinggi dan di atas 50% adalah
Bali, DKI Jakarta dan Lampung masing masing 69,09%, 53,30% dan 52,94%. Provinsi
Kalimantan Utara dari 7 rumah sakit belum ada satupun rumah sakit yang terakreditasi.
GAMBAR 2.13
PERSENTASE AKREDITASI RUMAH SAKIT DI INDONESIA
TAHUN 2016

Indonesia 33,12
Bali 69,09
DKI Jakarta 53,30
Lampung 52,94
Banten 47,09
Jawa Timur 45,95
Sumatera Selatan 41,18
Nusa Tenggara Timur 38,64
Sulawesi Tenggara 37,65
Kalimantan Timur 35,00
Kepulauan Bangka Belitung 35,00
DI Yogyakarta 34,40
Jawa Tengah 33,71
Bengkulu 32,31
Kepulauan Riau 32,26
Kalimantan Tengah 31,91
Maluku 29,63
Jambi 26,92
Gorontalo 26,19
Kalimantan Selatan 25,71
Kalimantan Barat 25,00
Nusa Tenggara Barat 25,00
Jawa Barat 24,20
Sumatera Utara 21,74
Sulawesi Tengah 19,35
Aceh 18,18
Riau 17,65
Sumatera Barat 15,38
Sulawesi Selatan 13,79
Papua Barat 12,50
Maluku Utara 10,53
Sulawesi Utara 10,00
Sulawesi Barat 8,33
Papua 2,50
Kalimantan Utara 0,00
0 10 20 30 40 50 60 70
Sumber: Ditjen Pelayanan Kesehatan, Kemenkes RI, 2017

Bab II SARANA KESEHATAN 39


C. SARANA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
1. Sarana Produksi dan Distribusi Bidang Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Ketersediaan farmasi dan alat kesehatan memiliki peran yang signifikan dalam
pelayanan kesehatan. Akses masyarakat terhadap obat khususnya obat esensial merupakan
salah satu hak asasi manusia. Dengan demikian penyediaan obat esensial merupakan
kewajiban bagi pemerintah dan institusi pelayanan kesehatan baik publik maupun privat.
Sebagai komoditi khusus, semua obat yang beredar harus terjamin keamanan, khasiat dan
mutunya agar dapat memberikan manfaat bagi kesehatan. Oleh karena itu, selain
meningkatkan jumlah tenaga pengelola yang terlatih, salah satu upaya yang dilakukan untuk
menjamin mutu obat hingga diterima konsumen adalah menyediakan sarana penyimpanan
obat dan alat kesehatan yang dapat menjaga keamanan secara fisik serta dapat
mempertahankan kualitas obat.
Salah satu kebijakan dalam Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan adalah
meningkatkan akses dan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan, dan Perbekalan Kesehatan
Rumah Tangga (PKRT) sesuai tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Kefarmasian dan
Alat Kesehatan yaitu meningkatkan ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat dan
alat kesehatan serta menjamin keamanan/khasiat, kemanfaatan, dan mutu sediaan farmasi,
alat kesehatan, dan makanan. Hal ini bertujuan untuk melindungi masyarakat dari bahaya
yang disebabkan oleh penyalahgunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan atau penggunaan
yang salah/tidak tepat serta tidak memenuhi mutu keamanan dan pemanfaatan yang
dilakukan sejak proses produksi, distribusi hingga penggunaannya di masyarakat. Cakupan
sarana produksi bidang kefarmasian dan alat kesehatan menggambarkan tingkat
ketersediaan sarana pelayanan kesehatan yang melakukan upaya produksi di bidang
kefarmasian dan alat kesehatan. Sarana produksi di bidang kefarmasian dan alat kesehatan
antara lain Industri Farmasi, Industri Obat Tradisional (IOT), Usaha Kecil Obat
Tradisional/Usaha Mikro Obat Tradisional (UKOT/UMOT), Produksi Alat Kesehatan (Alkes)
dan Produksi Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT), dan Industri Kosmetika.
Sarana produksi dan distribusi di Indonesia masih menunjukkan adanya ketimpangan
dalam hal persebaran jumlah. Sebagian besar sarana produksi maupun distribusi berlokasi di
Pulau Sumatera dan Jawa sebesar 93,67% sarana produksi dan 77,40% sarana distribusi.
Ketersediaan ini terkait dengan sumber daya yang dimiliki dan kebutuhan pada wilayah
setempat. Kondisi ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan dalam kebijakan untuk
mengembangkan jumlah sarana produksi dan distribusi kefarmasian dan alat kesehatan di
wilayah Indonesia lainnya, sehingga terjadi pemerataan jumlah sarana tersebut di seluruh
Indonesia. Selain itu, hal ini bertujuan untuk membuka akses keterjangkauan masyarakat
terhadap sarana kesehatan di bidang kefarmasian dan alat kesehatan.
Jumlah sarana produksi pada tahun 2015 sebesar 1.927 sarana. Provinsi dengan
jumlah sarana produksi terbanyak adalah Jawa Barat, yaitu sebesar 538 sarana. Hal ini dapat
disebabkan karena Jawa Barat memiliki populasi yang besar dan wilayah yang luas. Jumlah

40 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


sarana produksi kefarmasian dan alat kesehatan pada tahun 2015 terdapat pada gambar
berikut.
GAMBAR 2.14
JUMLAH SARANA PRODUKSI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN DI INDONESIA
TAHUN 2015
900
800
828
700
600
Jumlah

500
400 454
300
200
210
100 165 158
112
0
UKOT Industri Industri PKRT Produksi IOT
Kosmetika Farmasi Alkes

Sarana Produksi
Sumber : Ditjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemenkes RI, 2017

Sarana distribusi kefarmasian dan alat kesehatan yang dipantau jumlahnya oleh
Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan antara lain Pedagang Besar Farmasi
(PBF), Apotek, Toko Obat, dan Penyalur Alat Kesehatan (PAK). Jumlah sarana distribusi
kefarmasian dan alat kesehatan pada tahun 2015 sebesar 38.727 sarana. Jumlah tersebut
meningkat dibandingkan tahun 2014 yaitu sebesar 35.566 sarana. Gambar berikut
menyajikan jumlah sarana distribusi kefarmasian pada tahun 2015.

GAMBAR 2.15
JUMLAH SARANA DISTRIBUSI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN DI INDONESIA
TAHUN 2015
30.000

25.000
25.339
20.000
Jumlah

15.000

10.000

5.000 8.599
2.742 2.047
0
Apotek Toko Obat Penyalur Alat Pedagang Besar
Kesehatan Farmasi
Sarana Produksi
Sumber : Ditjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemenkes RI, 2017

Bab II SARANA KESEHATAN 41


Data lebih rinci mengenai jumlah sarana produksi dan distribusi kefarmasian menurut
provinsi terdapat pada Lampiran 2.18 dan Lampiran 2.19.

2. Ketersediaan Obat dan Vaksin


Dalam upaya peningkatan ketersediaan obat publik dan perbekalan kesehatan
melalui tersedianya obat, vaksin dan perbekalan kesehatan yang bermutu, merata dan
terjangkau di pelayanan kesehatan pemerintah, Kementerian Kesehatan telah menetapkan
indikator rencana strategis tahun 2015-2019 terkait program kefarmasian dan alat
kesehatan, yaitu meningkatnya akses dan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan dan
Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT). Indikator tercapainya sasaran hasil tersebut
pada tahun 2016 yaitu persentase ketersediaan obat dan vaksin di Puskesmas sebesar 80%.
Pemantauan ketersediaan obat tahun 2016 digunakan untuk mengetahui kondisi
tingkat ketersediaan obat di Puskesmas. Kegiatan ini dilakukan untuk mendukung
pemerintah pusat dan daerah dalam rangka menentukan langkah-langkah kebijakan yang
akan diambil di masa yang akan datang. Di era otonomi daerah, pengelolaan obat
merupakan salah satu kewenangan yang diserahkan ke kabupaten/kota, kemudian
didistribusikan ke Puskesmas ditiap kabupaten/kota tersebut. Adanya data ketersediaan
obat di provinsi atau kabupaten/kota akan mempermudah penyusunan prioritas bantuan
maupun intervensi program di masa yang akan datang.
Untuk mendapatkan gambaran ketersediaan obat dan vaksin di Indonesia, dilakukan
pemantauan ketersediaan obat dan vaksin. Obat yang dipantau ketersediaannya merupakan
obat indikator yang digunakan untuk pelayanan kesehatan dasar dan obat yang mendukung
pelaksanaan program kesehatan. Jumlah item obat yang dipantau adalah 20 item obat dan
vaksin. Jumlah Puskesmas yang melapor sebanyak 1.013 dari 1.328 Puskesmas yang
dipantau. Pemilihan Puskesmas yang dipantau berdasarkan metode proportional random
sampling berbasis provinsi sesuai jumlah Puskesmas dan rasio Puskesmas perawatan dan
non perawatan.
Berdasarkan data dan perhitungan yang dilakukan oleh Ditjen Kefarmasian dan Alat
Kesehatan didapatkan bahwa 81,75% item obat dan vaksin esensial tersedia di Puskesmas.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan obat dan vaksin di Puskesmas telah
mencapai target Renstra tahun 2016. Data dan informasi lebih rinci mengenai Puskesmas
yang menyediakan 20 item obat dan vaksin terdapat pada Lampiran 2.20.

3. Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota yang Melakukan Manajemen


Pengelolaan Obat dan Vaksin Sesuai Standar
Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan juga memantau instalasi farmasi
kabupaten/kota yang melakukan manajemen pengelolaan obat dan vaksin sesuai standar.

42 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Pada tahun 2016 di Indonesia terdapat 63,88% instalasi farmasi kabupaten/kota yang telah
melakukan manajemen pengelolaan obat dan vaksin sesuai standar. Penggunaan tersebut
telah memenuhi target Renstra tahun 2016 yaitu sebesar 60%.

GAMBAR 2.16
PERSENTASE INSTALASI FARMASI KABUPATEN/KOTA YANG MELAKUKAN
MANAJEMEN PENGELOLAAN OBAT DAN VAKSIN SESUAI STANDAR DI INDONESIA
TAHUN 2016

Indonesia 63,88

Kalimantan Barat 100,00


Bali 100,00
Jawa Timur 100,00
DI Yogyakarta 100,00
Sumatera Barat 100,00
Sulawesi Tenggara 90,00
Kepulauan Bangka Belitung 88,24
Sumatera Selatan Target Renstra 85,71
Kalimantan Timur 84,62
Sulawesi Selatan 2016 : 60% 83,33
Nusa Tenggara Timur 80,00
Riau 80,00
Papua Barat 79,31
Jambi 78,95
Kalimantan Tengah 78,57
Aceh 78,26
Jawa Barat 75,00
Kepulauan Riau 73,33
Jawa Tengah 66,67
Bengkulu 66,67
Kalimantan Utara 64,71
Nusa Tenggara Barat 64,29
Maluku 60,00
Lampung 57,14
Banten 55,26
Gorontalo 45,45
Papua 40,00
Sulawesi Tengah 40,00
Sulawesi Utara 33,33
Sulawesi Barat 27,27
Kalimantan Selatan 16,67
Maluku Utara 14,29
Sumatera Utara 12,12
DKI Jakarta
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100

Sumber : Ditjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemenkes RI, 2017

Pada gambar di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar provinsi telah memenuhi
target 60% yaitu 24 provinsi (70,59%). Terdapat 10 provinsi yang belum mencapai target
Renstra 2016. Data dan informasi lebih rinci mengenai instalasi farmasi kabupaten/kota yang
telah melakukan manajemen pengelolaan obat dan vaksin sesuai standar menurut provinsi
terdapat pada Lampiran 2.21.

Bab II SARANA KESEHATAN 43


D. INSTITUSI PENDIDIKAN TENAGA KESEHATAN POLITEKNIK
KESEHATAN
1. Jumlah Politeknik Kesehatan
Pembangunan kesehatan berkelanjutan membutuhkan tenaga kesehatan yang
memadai baik dari segi jenis, jumlah maupun kualitas. Untuk menghasilkan tenaga
kesehatan yang berkualitas tentu saja dibutuhkan proses pendidikan yang berkualitas pula.
Kementerian Kesehatan RI merupakan institusi dari sektor pemerintah yang berperan di
dalam penyediaan tenaga kesehatan yang berkualitas tersebut.
Dalam rangka meningkatkan kualitas tenaga kesehatan melalui penjaminan mutu dan
kompetensi lulusan institusi pendidikan tenaga kesehatan, dikeluarkan Surat Keputusan
Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Menteri Kesehatan Nomor 355/E/O/2012
tentang Alih Bina Penyelenggaraan Program Studi pada Politeknik Kesehatan Kementerian
Kesehatan dari Kementerian Kesehatan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
dan diperbarui dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor
507/E/O/2013 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
Nomor 355/E/O/2012. Dengan demikian, pembinaan akademik Politeknik Kesehatan
menjadi tanggung jawab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, namun pengaturan di
luar akademik, yaitu pembinaan teknis tetap menjadi tanggung jawab Kementerian
Kesehatan.
Institusi pendidikan tenaga kesehatan selain tenaga medis terdiri dari Politeknik
Kesehatan (Poltekkes) dan Non Politeknik Kesehatan (Non Poltekkes). Kementerian
Kesehatan bertanggung jawab terhadap pembinaan teknis institusi Poltekkes. Sampai
dengan Desember 2016 terdapat 38 Poltekkes di Indonesia, yang terdiri dari program studi
strata Diploma IV sebanyak 135 jurusan/program studi, dan strata Diploma III terdiri dari 259
jurusan/program studi. Terdapat 6 kelompok jurusan/program studi di Poltekkes yaitu :
1. Keperawatan, yang terdiri dari keperawatan, kebidanan, dan keperawatan gigi,
2. Kefarmasian, yang terdiri dari farmasi,
3. Kesehatan masyarakat, yang terdiri dari kesehatan lingkungan,
4. Gizi,
5. Keterapian fisik, yang terdiri dari fisioterapi, okupasi terapi, terapi wicara, dan
akupunktur,
6. Keteknisan medis, yang terdiri dari analis kesehatan, teknik elektromedik, teknik
radiodiagnostik, dan ortotik prostetik.

44 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 2.17
JUMLAH PROGRAM STUDI POLTEKKES DIPLOMA III DAN IV DI INDONESIA
TAHUN 2016
160

140 149

120
Jumlah Program Studi

100

80
79 DIII
60
DIV
40

32 34
20
25
14 1 15 19 15
5 6
0
Keperawatan Kefarmasian Kesehatan Gizi Keterapian Keteknisian
Masyarakat Fisik Medis

Program Studi
Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes RI, 2017

Program studi keperawatan merupakan program studi terbanyak pada Poltekkes di


Indonesia, baik untuk jenjang Diploma III maupun Diploma IV, yaitu sebanyak 149 program
studi untuk jenjang Diploma III (57,53%) dan 78 program studi untuk jenjang Diploma IV
(57,78%). Keterapian fisik merupakan program studi dengan jumlah paling sedikit, yaitu 6
program studi untuk jenjang Diploma III. Sedangkan untuk jenjang Diploma IV yang paling
sedikit adalah Kefarmasian yaitu 1 program studi. Data dan informasi lebih rinci mengenai
jumlah program studi di institusi Poltekkes terdapat pada Lampiran 2.13 dan Lampiran 2.15.

2. Peserta Didik
Peserta didik jenjang Diploma III pada seluruh Poltekkes di Indonesia sampai dengan
Desember 2016 berjumlah 55.741 orang, sementara peserta didik jenjang Diploma IV
berjumlah 25.335 orang. Jumlah peserta didik terbesar berasal dari program studi
keperawatan, sebanyak 35.506 mahasiswa untuk jenjang Diploma III dan sebanyak 14.333
mahasiswa untuk jenjang Diploma IV.

Bab II SARANA KESEHATAN 45


GAMBAR 2.18
JUMLAH PESERTA DIDIK DIPLOMA III DAN DIPLOMA IV POLTEKKES DI INDONESIA
TAHUN 2016

40.000
35.506
35.000

30.000

25.000
Jumlah Peserta Didik

20.000
14.333
15.000

10.000 DIII
5.519 6.388
4.445 3.956 DIV
5.000 2.900 3.068
274 2.248 983 1.456
0

Program Studi
Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes RI, 2017

Data dan informasi lebih rinci mengenai jumlah peserta didik di institusi Poltekkes
terdapat pada Lampiran 2.14 dan Lampiran 2.16.

***

46 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


BAB III SUMBER DAYA MANUSIA
KESEHATAN

Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) merupakan salah satu subsistem dalam
Sistem Kesehatan Nasional yang mempunyai peranan penting dalam mencapai tujuan
pembangunan kesehatan sebagai pelaksana upaya dan pelayanan kesehatan. Berdasarkan
Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional, sumber daya
manusia kesehatan adalah tenaga kesehatan (termasuk tenaga kesehatan strategis) dan
tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang terlibat dan bekerja serta mengabdikan
dirinya dalam upaya dan manajemen kesehatan. Penyelenggaraan subsistem sumber daya
manusia kesehatan terdiri dari perencanaan, pengadaan, pendayagunaan, pembinaan, dan
pengawasan mutu sumber daya manusia kesehatan.
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/MENKES/52/2015 tentang
Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2015 2019, program kesehatan terdiri dari lima
program teknis dan empat program generik. Pengembangan dan pemberdayaan SDMK
merupakan salah satu program teknis sehingga memerlukan perhatian yang sama dengan
program program kesehatan lainnya.
Pada bab ini, akan dibahas mengenai SDMK terutama fokus kepada jumlah, rasio,
registrasi, jumlah lulusan, dan pendayagunaan tenaga kesehatan.

A. JUMLAH TENAGA KESEHATAN


Tenaga di bidang kesehatan terdiri dari tenaga kesehatan dan asisten tenaga
kesehatan. Menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan,
tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta
memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang
untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
Sedangkan asisten tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam
bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan
bidang kesehatan di bawah jenjang Diploma Tiga.
Tenaga kesehatan dikelompokkan menjadi beberapa rumpun dan subrumpun.
Rumpun tenaga kesehatan menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga

Bab III SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 49


Kesehatan Pasal 11 adalah tenaga medis, tenaga psikologi klinis, tenaga keperawatan,
tenaga kebidanan, tenaga kefarmasian, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan
lingkungan, tenaga gizi, tenaga keterapian fisik, tenaga keteknisian medis, tenaga teknik
biomedika, tenaga kesehatan tradisional, dan tenaga kesehatan lain.
Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan
(BPPSDMK) setiap tahunnya mengumpulkan data SDMK berdasarkan tugas dan fungsi
SDMK. Total SDMK di Indonesia pada tahun 2016 sebanyak 1.000.780 orang yang terdiri dari
736.077 orang tenaga kesehatan (73,6%) dan 264.703 orang tenaga penunjang kesehatan
(26,4%). Proporsi tenaga kesehatan terbanyak yaitu tenaga keperawatan sebanyak 29,66%
dari total tenaga kesehatan, sedangkan proporsi tenaga kesehatan yang paling sedikit yaitu
tenaga kesehatan tradisional 0,05% dari total tenaga kesehatan. Provinsi dengan SDMK
paling banyak terpusat di Pulau Jawa yaitu Jawa Barat (117.674 orang), Jawa Timur (116.303
orang), dan Jawa Tengah (113.872 orang). Provinsi dengan jumlah SDMK paling sedikit yaitu
Kalimantan Utara (3.148 orang), Papua Barat (4.693 orang), dan Sulawesi Barat (5.202
orang). Rincian lengkap mengenai rekapitulasi SDMK di Indonesia dapat dilihat di Lampiran
3.1.

GAMBAR 3.1
REKAPITULASI SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2016

Tenaga Psikologi
Tenaga Kesehatan
Klinis; 1.333
Tradisional; 513

Tenaga Keterapian
Fisik; 6.044 Tenaga Keperawatan;
Tenaga Kesehatan 296.876
lain; 14.126
Tenaga Kesehatan
Lingkungan; 14.509
Tenaga Gizi; 18.232
Tenaga Penunjang
Tenaga Kesehatan Kesehatan; 264.703
Masyarakat; 22.949
Tenaga Keteknisian
Medis; 22.978

Tenaga Teknik
Biomedika; 32.447 Tenaga Medis;
103.700 Tenaga Kebidanan;
Tenaga Kefarmasian;
38.829 163.541

Sumber: Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2017
(http://bppsdmk.kemkes.go.id)

50 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Tenaga medis berdasarkan fungsi yaitu tenaga medis yang memberikan pelayanan di
fasilitas pelayanan kesehatan sesuai fungsinya. Proporsi tenaga medis terbanyak yaitu
dokter spesialis sebanyak 46,6%. Jumlah dokter spesialis lebih banyak daripada dokter
umum dimungkinkan karena banyak dokter umum yang bekerja di luar fungsi pelayanan
medis, yaitu di bidang manajemen. Selain itu, data ini belum termasuk data dokter praktik
mandiri. Sebanyak 55% tenaga medis berada di Pulau Jawa dengan jumlah terbanyak berada
di Provinsi Jawa Barat (15.139 orang), Jawa Timur (12.061 orang), dan Jawa Tengah (11.247
orang). Provinsi dengan tenaga medis paling sedikit adalah Kalimantan Utara (301 orang),
Sulawesi Barat (316 orang), dan Papua Barat (340 orang).

GAMBAR 3.2
JUMLAH TENAGA MEDIS DI INDONESIA TAHUN 2016

Dokter Gigi Spesialis;


1.718
Dokter Gigi;
11.717

Dokter Umum;
41.898
Dokter Spesialis;
48.367

Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2017
(http://bppsdmk.kemkes.go.id)

1. Tenaga Kesehatan di Puskesmas


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat
Kesehatan Masyarakat, puskesmas adalah fasilitas kesehatan yang menyelenggarakan upaya
kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih
mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya. Untuk mendukung fungsi dan tujuan
Puskesmas diperlukan sumber daya manusia kesehatan baik tenaga kesehatan maupun
tenaga penunjang kesehatan.
Pada peraturan yang sama di Pasal 16 Ayat 3 disebutkan bahwa minimal tenaga
kesehatan di puskesmas terdiri dari dokter atau dokter layanan primer, dokter gigi, perawat,

Bab III SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 51


bidan, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan lingkungan, ahli teknologi
laboratorium medik, tenaga gizi dan tenaga kefarmasian. Sedangkan tenaga penunjang
kesehatan harus dapat mendukung kegiatan ketatausahaan, administrasi keuangan, sistem
informasi, dan kegiatan operasional lainnya.

GAMBAR 3.3
JUMLAH SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN DI PUSKESMAS DI INDONESIA
TAHUN 2016

Ahli Teknologi
Dokter Gigi; 6.618 Laboratorium Medik;
6.481
Tenaga Kesehatan
Lingkungan; 9.246

Tenaga Gizi; 9.331


Tenaga Kefarmasian; Bidan; 120.091
10.171
Tenaga Kesehatan
Masyarakat; 12.136

Dokter Umum; 16.527

Tenaga Penunjang
Kesehatan; 52.071
Perawat; 98.864

Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2017
(http://bppsdmk.kemkes.go.id)

Total SDMK di puskesmas di Indonesia tahun 2016 adalah 341.536 orang yang terdiri
dari 289.465 orang tenaga kesehatan (84,75%) dan 52.071 orang tenaga penunjang
kesehatan (15,25%). Proporsi tenaga kesehatan di puskesmas terbanyak yaitu bidan
sebanyak 35,2% (120.091 orang), sedangkan proporsi tenaga kesehatan di puskesmas yang
paling sedikit yaitu ahli teknologi laboratorium klinik sebesar 1,9% (6.481 orang).
Jumlah dan jenis tenaga kesehatan puskesmas dihitung berdasarkan analisis beban
kerja dengan mempertimbangkan beberapa hal, yaitu jumlah pelayanan yang
diselenggarakan, jumlah penduduk dan persebarannya, karakteristik wilayah kerja, luas
wilayah kerja, ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama lainnya di wilayah
kerjanya, dan pembagian waktu kerja.

52 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


a. Kecukupan Dokter di Puskesmas
Pada puskesmas non rawat inap, minimal jumlah dokter adalah satu orang,
sedangkan pada puskesmas rawat inap minimal jumlah dokter dua orang, baik pada wilayah
perkotaan, perdesaan, maupun kawasan terpencil dan sangat terpencil. Pada tahun 2016,
secara nasional terdapat 35,5% puskesmas yang memiliki dokter melebihi jumlah standar
yang ditetapkan, 33,6% puskesmas sudah cukup dokter, dan 26,4% puskesmas kekurangan
dokter. Berdasarkan regional, proporsi terbesar puskesmas yang cukup dan kelebihan
jumlah dokter terdapat di regional Jawa-Bali (82,2%) dan Sumatera (73,7%), sedangkan
proporsi terbesar puskesmas yang kekurangan dokter terdapat di regional Nusa Tenggara-
Maluku-Papua (50,86%).
GAMBAR 3.4
PERSENTASE PUSKESMAS DENGAN KECUKUPAN DOKTER MENURUT REGIONAL
DI INDONESIA TAHUN 2016

INDONESIA 35,49 33,57 26,35

JAWA-BALI 43,53 38,71 17,22

Lebih
SUMATERA 42,63 31,06 21,01
Cukup
Kurang
KALIMANTAN 35,25 32,88 26,01

SULAWESI 23,59 33,44 36,56

NUSA TENGGARA-MALUKU-PAPUA 12,57 25,00 50,86

0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00

Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2017
(http://bppsdmk.kemkes.go.id) dan diolah oleh Pusat Data dan Informasi

Jika dilihat berdasarkan provinsi, provinsi dengan persentase tertinggi puskesmas


yang cukup dan berlebih jumlah dokter yaitu Bali (96,7%), Kepulauan Bangka Belitung
(91,9%), dan Riau (89,6%). Provinsi dengan persentase tertinggi puskesmas dengan
kekurangan dokter adalah Maluku (77,4%), Papua Barat (53,6%), dan Sulawesi Barat
(53,2%). Rincian lengkap mengenai persentase puskesmas dengan kecukupan dokter dapat
dilihat di Lampiran 3.3.

Bab III SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 53


b. Kecukupan Dokter Gigi di Puskesmas
Jumlah dokter gigi di puskesmas minimal satu orang, baik di puskesmas rawat inap
dan non rawat inap dan di wilayah perkotaan, perdesaan, maupun di kawasan terpencil dan
sangat terpencil. Di Indonesia pada tahun 2016, terdapat 11% puskesmas melebihi jumlah
standar dokter gigi, 41,3% puskesmas dengan jumlah dokter gigi cukup, dan 43,2%
puskesmas tidak memiliki dokter gigi. Berdasarkan regional, proporsi terbesar puskesmas
dengan dokter gigi cukup dan lebih terdapat di regional Jawa-Bali (69,4%) dan Sumatera
(52,2%), sedangkan proporsi terbesar puskesmas yang kekurangan dokter gigi terdapat di
regional Nusa Tenggara-Maluku-Papua (68,5%).

GAMBAR 3.5
PERSENTASE PUSKESMAS DENGAN KECUKUPAN DOKTER GIGI DI INDONESIA
TAHUN 2016

INDONESIA 11,00 41,26 43,15

JAWA-BALI 15,60 53,83 30,04

Lebih
SUMATERA 11,09 41,14 42,47
Cukup
Kurang
KALIMANTAN 9,01 34,68 50,45

SULAWESI 8,52 35,47 49,61

NUSA TENGGARA-MALUKU-PAPUA 2,21 17,71 68,50

0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00

Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2017
(http://bppsdmk.kemkes.go.id) dan diolah oleh Pusat Data dan Informasi

Berdasarkan provinsi, provinsi dengan persentase tertinggi puskesmas yang cukup


dan berlebih jumlah dokter gigi yaitu Bali (98,35%), Kalimantan Timur (87,69%), dan DI
Yogyakarta (81,42%). Sedangkan persentase tertinggi puskesmas yang kekurangan dokter
gigi adalah Maluku Utara (87,4%), Maluku (82,9%), dan Sulawesi Utara (73,3%). Rincian
lengkap mengenai persentase puskesmas dengan kecukupan dokter gigi dapat dilihat di
Lampiran 3.3.

54 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


c. Kecukupan Perawat di Puskesmas
Perawat pada puskesmas non rawat inap minimal berjumlah lima orang sedangkan
pada Puskesmas rawat inap minimal berjumlah delapan orang. Kondisi ini merupakan
standar minimal di wilayah perkotaan, perdesaan, dan kawasan terpencil dan sangat
terpencil. Di Indonesia pada tahun 2016, terdapat 62,04% puskesmas memiliki jumlah
perawat lebih dari standar yang ditetapkan, 7,2% puskesmas dengan jumlah perawat cukup,
dan 26,2% puskesmas kekurangan perawat. Secara regional, proporsi terbesar puskesmas
dengan jumlah perawat cukup dan berlebih terdapat pada regional Sumatera (75,4%) dan
Kalimantan (72,1%). Proporsi terbesar puskesmas yang kekurangan jumlah perawat yaitu
regional Jawa Bali (30,6%).
GAMBAR 3.6
PERSENTASE PUSKESMAS DENGAN KECUKUPAN PERAWAT DI INDONESIA
TAHUN 2016

INDONESIA 62,04 7,20 26,17

SUMATERA 69,67 5,75 19,28

Lebih
KALIMANTAN 66,44 5,63 22,07
Cukup
Kurang
SULAWESI 59,61 7,27 26,72

JAWA-BALI 59,56 9,27 30,63

NUSA TENGGARA-MALUKU-PAPUA 54,50 5,21 28,71

0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00

Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2017
(http://bppsdmk.kemkes.go.id) dan diolah oleh Pusat Data dan Informasi

Jika dilihat persebarannya, provinsi dengan persentase tertinggi puskesmas yang


cukup dan berlebih jumlah perawat adalah Kepulauan Bangka Belitung (95,2%), Bali (95%),
dan Jambi (90,3%). Provinsi dengan persentase tertinggi puskesmas yang kekurangan jumlah
perawat adalah DKI Jakarta (82,9%), Papua Barat (37,8%), dan Kalimantan Utara (36%).
Rincian lengkap mengenai persentase puskesmas dengan kecukupan perawat dapat dilihat
di Lampiran 3.3.

Bab III SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 55


d. Kecukupan Bidan di Puskesmas
Jumlah bidan di puskesmas non rawat inap minimal empat orang dan di puskesmas
rawat inap minimal tujuh orang. Kondisi ini merupakan standar minimal di wilayah
perkotaan, perdesaan, dan kawasan terpencil dan sangat terpencil. Pada tahun 2016, secara
nasional terdapat 70,4% puskesmas memiliki bidan melebihi jumlah standar yang
ditetapkan, 4,5% puskesmas sudah cukup bidan, dan 20,5% puskesmas kekurangan bidan.
Berdasarkan regional, proporsi terbesar puskesmas yang cukup dan berlebih jumlah bidan
terdapat di regional Jawa-Bali (85,75%) dan Sumatera (85,7%), sedangkan proporsi terbesar
puskesmas yang kekurangan bidan terdapat di regional Nusa Tenggara-Maluku-Papua
(43,9%).
GAMBAR 3.7
PERSENTASE PUSKESMAS DENGAN KECUKUPAN BIDAN DI INDONESIA
TAHUN 2016

INDONESIA 70,40 4,48 20,53

JAWA-BALI 81,56 4,1913,71

Lebih
SUMATERA 83,17 2,53
9,00
Cukup
Kurang
KALIMANTAN 57,66 6,19 30,29

SULAWESI 55,63 7,66 30,31

NUSA TENGGARA-MALUKU-PAPUA 39,79 4,71 43,93

0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00

Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2017
(http://bppsdmk.kemkes.go.id) dan diolah oleh Pusat Data dan Informasi

Berdasarkan provinsi, provinsi dengan persentase tertinggi puskesmas dengan


jumlah bidan cukup dan berlebih yaitu Sumatera Barat (99,2%), Bali (98,3%), dan Jambi
(96,6%). Provinsi dengan persentase tertinggi puskesmas yang kekurangan bidan adalah DKI
Jakarta (74,7%), Papua Barat (52,9%), dan Kalimantan Utara (52%). Rincian lengkap
mengenai persentase puskesmas dengan kecukupan bidan dapat dilihat di Lampiran 3.3.
Analisis kecukupan tenaga kesehatan di puskesmas ini dilakukan berdasarkan
standar jumlah tenaga kesehatan di Puskesmas yang terlampir pada Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 75 Tahun 2015 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat. Hasil analisis ini

56 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


berdasarkan data yang terkumpul dari dinas kesehatan provinsi dan belum seluruhnya
dimutakhirkan.

e. Jumlah Puskesmas yang Memiliki Lima Jenis Tenaga Kesehatan Promotif dan Preventif
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat
Kesehatan Masyarakat, bahwa tenaga kesehatan di puskesmas tidak hanya tenaga medis
tetapi juga tenaga promotif dan preventif untuk mendukung tugas puskesmas dalam
melaksanakan upaya kesehatan masyarakat. Dalam Rencana Strategis (Renstra)
Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019, salah satu indikator dalam meningkatkan
ketersedian dan mutu SDMK sesuai dengan standar pelayanan kesehatan yaitu jumlah
puskesmas yang memiliki lima jenis tenaga kesehatan promotif dan preventif. Tenaga
kesehatan yang dimaksud adalah tenaga kesehatan lingkungan, tenaga kefarmasian, tenaga
gizi, tenaga kesehatan masyarakat, dan analis kesehatan.

GAMBAR 3.8
PERSENTASE PUSKESMAS YANG MEMILIKI LIMA JENIS TENAGA KESEHATAN PROMOTIF
DAN PREVENTIF MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

Kepulauan Bangka Belitung 53,23


Bali 30,83
Kalimantan Timur 30,46
DI Yogyakarta 29,75
Nusa Tenggara Timur 27,49
Jambi 27,27
Riau 26,89
Sumatera Barat 26,52
Sumatera Selatan 24,84
Nusa Tenggara Barat 24,05
Kalimantan Utara 24,00
Sulawesi Selatan 23,44
Aceh 22,71
Kalimantan Barat 21,76
Jawa Tengah 18,86
Jawa Timur 18,02
Kepulauan Riau 16,67
Sulawesi Barat 14,89
Bengkulu 14,44
Maluku Utara 14,17
Kalimantan Tengah 13,85
Sumatera Utara 12,26
Jawa Barat 10,67
Sulawesi Tengah 10,58
Kalimantan Selatan 10,43
Sulawesi Tenggara 10,41
Papua 9,14
DKI Jakarta 8,24
Lampung 6,87
Gorontalo 6,45
Banten 6,01
Sulawesi Utara 5,88
Papua Barat 4,64
Maluku 3,52
0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00

Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2017
(http://bppsdmk.kemkes.go.id)

Bab III SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 57


Pada tahun 2016 terdapat 1.618 puskesmas yang memiliki lima jenis tenaga
kesehatan promotif dan preventif dari 9.756 puskesmas yang melaporkan data. Hal ini
masih belum memenuhi target Renstra Kementerian Kesehatan tahun 2016 yaitu sebesar
2.000 Puskesmas. Provinsi dengan persentase tertinggi Puskesmas yang memiliki lima jenis
tenaga kesehatan promotif dan preventif adalah Kepulauan Bangka Belitung (53,23%).
Sedangkan provinsi dengan persentase terendah puskesmas yang memiliki lima jenis tenaga
kesehatan promotif dan preventif adalah Maluku (3,52%) dan Papua Barat (4,64%). Rincian
lengkap mengenai jumlah puskesmas yang memiliki lima jenis tenaga kesehatan promotif
dan preventif dapat dilihat di Lampiran 3.4.

2. Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 56 Tahun 2014 tentang Klasifikasi dan
Perizinan Rumah Sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan
pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Rumah sakit dapat didirikan dan
diselenggarakan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan swasta. Sedangkan
menurut pelayanan yang diberikan, rumah sakit terdiri dari rumah sakit umum dan rumah
sakit khusus.
GAMBAR 3.9
JUMLAH SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA
TAHUN 2016

Tenaga Kesehatan
Tradisional; 47
Psikologi Klinis; 1.256 Perawat; 195.503
Kesehatan
Lingkungan; 3.792
Kesehatan
Masyarakat; 5.117
Keterapian Fisik;
5.465
Gizi; 8.068
Keteknisian Medis; Tenaga Penunjang
13.947 Kesehatan; 179.964

Teknik Biomedika;
24.535
Bidan;
Farmasi; 27.196 42.217

Tanaga Medis;
79.415

Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2017
(http://bppsdmk.kemkes.go.id)

58 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Total SDMK di rumah sakit pada tahun 2016 adalah 586.522 orang yang terdiri dari
406.558 orang tenaga kesehatan (69,3%) dan 179.964 orang tenaga penunjang kesehatan
(30,7%). Proporsi tenaga kesehatan terbanyak yaitu perawat 33,3% sedangkan proporsi
tenaga kesehatan paling sedikit yaitu tenaga kesehatan tradisional sebanyak 0,008%.
Provinsi dengan jumlah SDMK di rumah sakit terbanyak adalah Jawa Barat (79.046 orang),
Jawa Tengah (76.518 orang), dan Jawa Timur (71.980 orang). Provinsi dengan jumlah SDMK
di rumah sakit paling sedikit adalah Kalimantan Utara (1.689 orang). Rincian lengkap
mengenai jumlah sumber daya manusia kesehatan di rumah sakit dapat dilihat di Lampiran
3.5.
Pelayanan spesialis yang ada di rumah sakit di antaranya pelayanan spesialis dasar,
spesialis penunjang, spesialis lain, subspesialis, dan spesialis gigi dan mulut. Pelayanan
spesialis dasar meliputi pelayanan penyakit dalam, kesehatan anak, bedah, dan obstetri dan
ginekologi. Pelayanan spesialis penunjang meliputi pelayanan anestesiologi, radiologi,
patologi klinik, patologi anatomi, dan rehabilitasi medik. Pelayanan spesialis lain meliputi
pelayanan mata, telinga hidung tenggorokan, syaraf, jantung dan pembuluh darah, kulit dan
kelamin, kedokteran jiwa, paru, orthopedi, urologi, bedah syaraf, bedah plastik, dan
kedokteran forensik.
GAMBAR 3.10
JUMLAH DOKTER SPESIALIS DAN DOKTER GIGI SPESIALIS DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA
TAHUN 2016

Dokter Gigi Spesialis;


1.675

Spesialis Dasar;
21.204
Spesialis Penunjang;
8.441

Spesialis lain; 18.422

Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2017
(http://bppsdmk.kemkes.go.id)

Bab III SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 59


Total dokter spesialis di rumah sakit di Indonesia pada tahun 2016 sebesar 49.742
orang dengan proporsi terbanyak yaitu dokter spesialis dasar (42,6%) dan proporsi paling
sedikit yaitu dokter gigi spesialis (3,4%). Menurut jenis spesialisasinya, dokter spesialis
terbanyak yaitu dokter spesialis obstetri dan ginekologi dengan jumlah 6.387 orang (12,8%).
Provinsi dengan jumlah dokter spesialis terbanyak adalah Jawa Barat (8.261 orang) dan DKI
Jakarta (6.465 orang), sedangkan provinsi dengan jumlah dokter spesialis paling sedikit
adalah Sulawesi Barat (76 orang) dan Kalimantan Utara (89 orang). Rincian lengkap
mengenai jumlah dokter spesialis dan dokter gigi spesialis di rumah sakit dapat dilihat di
Lampiran 3.6.
Untuk meningkatkan ketersediaan dan mutu SDMK sesuai dengan standar pelayanan
kesehatan, Kementerian Kesehatan menetapkan indikator Renstra Kementerian Kesehatan
tahun 2015-2019 yaitu persentase rumah sakit kabupaten/kota kelas C yang memiliki empat
dokter spesialis dasar dan tiga dokter spesialis penunjang. Empat dokter spesialis dasar yang
dimaksud yaitu dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dokter spesialis anak, dokter
spesialis penyakit dalam, dan dokter bedah, sedangkan tiga dokter spesialis penunjang yaitu
dokter spesialis radiologi, dokter spesialis anestesi, dan dokter spesialis patologi klinik.
GAMBAR 3.11
PERSENTASE RUMAH SAKIT KABUPATEN/KOTA KELAS C YANG MEMILIKI EMPAT DOKTER
SPESIALIS DASAR DAN TIGA DOKTER SPESIALIS PENUNJANG MENURUT PROVINSI
TAHUN 2016

Gorontalo 100,00
Kalimantan Utara 100,00
Bali 100,00
Kepulauan Bangka Belitung 100,00
Jawa Tengah 76,00
Kalimantan Timur 75,00
Papua 71,43
DI Yogyakarta 66,67
Jawa Timur 60,71
Banten 60,00
Jawa Barat 58,82
Sulawesi Barat 50,00
Sulawesi Selatan 50,00
Sulawesi Tengah 50,00
Lampung 50,00
Sumatera Utara 50,00
Nusa Tenggara Barat 44,44
Kalimantan Tengah 42,86
Riau 41,67
Papua Barat 40,00
Kepulauan Riau 40,00
Jambi 33,33
Kalimantan Barat 30,00
Aceh 28,57
Sulawesi Tenggara 25,00
Kalimantan Selatan 20,00
Sumatera Barat 20,00
Sumatera Selatan 18,18
Maluku Utara 0,00
Maluku 0,00
Sulawesi Utara 0,00
Nusa Tenggara Timur 0,00
Bengkulu 0,00
0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00

Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2017
(http://bppsdmk.kemkes.go.id)

60 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Pada tahun 2016 terdapat 45,22% dari rumah sakit kabupaten/kota kelas C di
Indonesia yang melaporkan data yang telah memiliki empat dokter spesialis dasar dan tiga
dokter spesialis penunjang. Hal ini telah memenuhi target Renstra Kementerian Kesehatan
Tahun 2016 yaitu 35%. Provinsi dengan persentase tertinggi rumah sakit kabupaten/kota
kelas C yang telah memiliki empat dokter spesialis dasar dan tiga dokter spesialis penunjang
yaitu Bali, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Utara, dan Gorontalo sebesar 100%.
Provinsi yang belum ada rumah sakit kabupaten/kota kelas C yang telah memiliki empat
dokter spesialis dasar dan tiga dokter spesialis penunjang adalah Bengkulu, Nusa Tenggara
Timur, Sulawesi Utara, Maluku, dan Maluku Utara. Provinsi DKI Jakarta tidak melaporkan
data. Rincian lengkap mengenai rumah sakit kabupaten/kota kelas C yang telah memiliki
empat dokter spesialis dasar dan tiga dokter spesialis penunjang dapat dilihat di Lampiran
3.7.

3. Tenaga Kesehatan di Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T)


Dalam rangka percepatan pembangunan daerah, pemerintah menetapkan daerah
tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) sebagai sasaran utama pembangunan. Penetapan ini
berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 131 Tahun 2015 dan Surat Direktorat Kawasan
Khusus dan Daerah Tertinggal, Kementerian Perencanaan Pembangunan
Nasional/BAPPENAS no 2421/Dt.7.2/04/2015.

GAMBAR 3.12
KABUPATEN/KOTA DAERAH TERTINGGAL, TERDEPAN, DAN TERLUAR (3T)

Daerah 3T
Sumber: Peraturan Presiden Nomor 131 Tahun 2015 dan Surat Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah
Tertinggal, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS no 2421/Dt.7.2/04/2015

Daerah 3T meliputi 143 kabupaten/kota yang berada di 27 provinsi. Pemenuhan


SDMK di daerah 3T tidak hanya peran pusat tetapi juga peran dinas provinsi dan
kabupaten/kota dengan menganalisis kebutuhan wilayahnya dan mengajukannya ke pusat.

Bab III SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 61


GAMBAR 3.13
PERBANDINGAN JUMLAH TENAGA KESEHATAN (DOKTER UMUM, DOKTER GIGI,
PERAWAT, DAN BIDAN) DI DAERAH 3T DENGAN JUMLAH NASIONAL
TAHUN 2016
350.000

296.876
300.000

250.000

200.000
163.541 3T
150.000 Nasional

100.000

50.000 41.898 41.003


27.443
4.776 11.717
1.085
0
Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Bidan

Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2017
(http://bppsdmk.kemkes.go.id)

Jumlah kabupaten/kota daerah 3T yaitu 27,8% dari total kabupaten/kota. Jika


dibandingkan dengan jumlah total SDMK nasional, SDMK di daerah 3T sebesar 13,4%
dengan 11,4% dokter umum, 9,3% dokter gigi, 13,8% perawat, dan 16,8% bidan. Provinsi
dengan jumlah SDMK di daerah 3T terbanyak yaitu provinsi Nusa Tenggara Timur dengan 19
jumlah kabupaten/kota 3T. Rincian lengkap mengenai jumlah SDMK di daerah tertinggal,
terdepan, dan terluar tahun 2016 dapat dilihat di Lampiran 3.8.

B. RASIO TENAGA KESEHATAN


Rasio tenaga kesehatan terhadap jumlah penduduk merupakan indikator untuk
mengukur ketersediaan tenaga kesehatan untuk mencapai target pembangunan kesehatan
tertentu. Berdasarkan Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Nomor
54 Tahun 2013 tentang Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan Tahun 2011 2025,
target rasio tenaga kesehatan terhadap jumlah penduduk pada tahun 2019 di antaranya
rasio dokter umum 45 per 100.000 penduduk, rasio dokter gigi 13 per 100.000 penduduk,
rasio perawat 180 per 100.000 penduduk, dan rasio bidan 120 per 100.000 penduduk.

62 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 3.14
RASIO DOKTER TERHADAP 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA
TAHUN 2016

INDONESIA 16,20

DKI Jakarta 38,27


Sulawesi Utara 37,59
Aceh 31,43
Kepulauan Bangka Belitung 28,75
Kalimantan Timur 28,68
Bali 27,24
Kalimantan Utara 24,76
Gorontalo 23,12
Papua 22,95
DI Yogyakarta 22,76
Bengkulu 22,15
Maluku Utara 21,76 Target Tahun 2019:
Papua Barat 20,82 45 dokter per 100.000
Riau 20,61 penduduk
Sumatera Utara 20,36
Kepulauan Riau 20,07
Kalimantan Tengah 19,72
Sumatera Barat 19,72
Jambi 19,69
Kalimantan Selatan 17,70
Sulawesi Selatan 17,61
Sulawesi Tengah 16,29
Sulawesi Tenggara 15,48
Sumatera Selatan 14,80
Nusa Tenggara Barat 13,87
Kalimantan Barat 13,66
Jawa Tengah 13,08
Sulawesi Barat 12,63
Nusa Tenggara Timur 12,43
Banten 12,22
Maluku 12,01
Jawa Timur 11,62
Jawa Barat 10,90
Lampung 10,44

0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00 40,00 45,00

Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2017
(http://bppsdmk.kemkes.go.id) dan diolah oleh Pusat Data dan Informasi

Pada Gambar 3.16, diketahui bahwa rasio dokter terhadap 100.000 penduduk baik
secara nasional maupun provinsi masih jauh dari target rasio dokter pada tahun 2019 yaitu
45 per 100.000 penduduk. Secara nasional, rasio dokter di Indonesia sebesar 16,02 per
100.000 penduduk. Provinsi dengan rasio tertinggi yaitu DKI Jakarta (38,27 per 100.000
penduduk) dan provinsi dengan rasio terendah yaitu Lampung (10,44 per 100.000
penduduk).

Bab III SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 63


GAMBAR 3.15
RASIO DOKTER GIGI TERHADAP 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA
TAHUN 2016

INDONESIA 4,53

DKI Jakarta 10,11


Bali 9,26
Kalimantan Timur 8,08
Sulawesi Selatan 7,91
DI Yogyakarta 7,61
Sumatera Barat 7,36
Kalimantan Utara 7,05
Kepulauan Bangka Belitung 5,99
Sulawesi Tenggara 5,96
Aceh 5,91
Sumatera Utara 5,78
Sulawesi Barat 5,74 Target Tahun 2019:
Bengkulu 5,72 13 dokter gigi per 100.000
Jambi 5,70 penduduk
Riau 5,57
Kalimantan Selatan 4,73
Kepulauan Riau 4,59
Papua Barat 4,25
Sulawesi Tengah 4,21
Gorontalo 4,17
Sulawesi Utara 3,94
Banten 3,92
Kalimantan Tengah 3,88
Jawa Timur 3,77
Jawa Barat 3,58
Maluku Utara 3,29
Nusa Tenggara Timur 3,25
Jawa Tengah 3,24
Sumatera Selatan 3,10
Kalimantan Barat 2,92
Nusa Tenggara Barat 2,90
Papua 2,87
Lampung 2,52
Maluku 1,87
0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 14,00

Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2017
(http://bppsdmk.kemkes.go.id) dan diolah oleh Pusat Data dan Informasi

Rasio dokter gigi di Indonesia pada tahun 2016 adalah 4,53 per 100.000 penduduk.
Angka ini masih jauh dari target rasio dokter gigi tahun 2019 yaitu 13 per 100.000
penduduk. Provinsi dengan rasio tertinggi yaitu DKI Jakarta sebesar 10,11 per 100.000
penduduk dan provinsi dengan rasio terendah yaitu Maluku sebesar 1,87 per 100.000
penduduk.

64 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 3.16
RASIO PERAWAT TERHADAP 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA
TAHUN 2016

INDONESIA 114,75

DKI Jakarta 223,61


Kalimantan Timur 207,18
Kepulauan Bangka Belitung 206,59
Aceh 205,37
Maluku 202,56
Sulawesi Utara 197,05
Bengkulu 189,00
Jambi 186,53
Papua 178,74
Kalimantan Utara 177,69
Maluku Utara Target Tahun 2019: 172,78
DI Yogyakarta 180 perawat per 100.000 170,74
Sulawesi Tenggara penduduk 169,54
Kalimantan Tengah 167,79
Papua Barat 165,44
Bali 161,04
Sulawesi Tengah 155,05
Gorontalo 147,12
Sumatera Barat 144,82
Sulawesi Selatan 144,64
Sumatera Selatan 140,14
Kepulauan Riau 137,37
Sulawesi Barat 128,21
Nusa Tenggara Timur 126,51
Riau 124,70
Kalimantan Selatan 112,27
Kalimantan Barat 111,75
Nusa Tenggara Barat 110,11
Jawa Tengah 105,16
Sumatera Utara 105,11
Jawa Timur 85,42
Banten 73,53
Jawa Barat 70,76
Lampung 49,44

0,00 50,00 100,00 150,00 200,00 250,00


Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2017
(http://bppsdmk.kemkes.go.id) dan diolah oleh Pusat Data dan Informasi

Secara nasional, rasio perawat pada tahun 2016 adalah 114,75 per 100.000
penduduk. Hal ini masih jauh dari target tahun 2019 yaitu 180 per 100.000 penduduk.
Namun ada delapan provinsi dengan rasio perawat yang sudah memenuhi target tahun
2019 yaitu DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Kepulauan Bangka Belitung, Aceh, Maluku,
Sulawesi Utara, Bengkulu, dan Jambi. Provinsi dengan rasio perawat terendah yaitu
Lampung sebesar 49,44 per 100.000 penduduk.

Bab III SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 65


GAMBAR 3.17
RASIO BIDAN TERHADAP 100.00 PENDUDUK DI INDONESIA
TAHUN 2016

INDONESIA 63,22

Aceh 172,44
Bengkulu 162,27
Maluku Utara 144,02
Jambi 130,76
Sulawesi Tenggara 117,05
Sumatera Utara 108,76
Sumatera Barat 107,25
Sumatera Selatan 107,03
Sulawesi Barat 102,18
Riau 96,14
Gorontalo 90,20
Sulawesi Tengah 89,95
Bali 85,64
Kalimantan Timur 82,20
Kepulauan Bangka Belitung 81,68
Nusa Tenggara Timur 76,70
Kalimantan Tengah 73,13
Maluku 68,02
Sulawesi Selatan 67,10
Papua Barat 61,79
Nusa Tenggara Barat Target Tahun 2019:
60,58
Kepulauan Riau 57,64 120 bidan per 100.000
Papua 55,93 penduduk
Kalimantan Barat 55,58
Kalimantan Utara 54,63
Jawa Tengah 51,94
Kalimantan Selatan 51,46
Sulawesi Utara 48,59
Jawa Timur 46,39
Banten 44,28
DKI Jakarta 43,38
Lampung 42,03
DI Yogyakarta 40,53
Jawa Barat 37,21
0,00 40,00 80,00 120,00 160,00 200,00

Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2017
(http://bppsdmk.kemkes.go.id) dan diolah oleh Pusat Data dan Informasi

Rasio bidan di Indonesia pada tahun 2016 adalah sebesar 63,22 per 100.000
penduduk. Angka ini masih jauh dari target 2019 yaitu 120 per 100.000 penduduk. Ada
empat provinsi yang telah memenuhi target tahun 2019 yaitu Aceh, Bengkulu, Maluku
Utara, dan Jambi. Provinsi dengan rasio terendah yaitu Jawa Barat sebesar 37,21 per
100.000 penduduk.

C. REGISTRASI TENAGA KESEHATAN


Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan Pasal 44
menyebutkan bahwa setiap tenaga kesehatan yang menjalankan praktik wajib memiliki
Surat Tanda Registrasi (STR). STR berlaku selama lima tahun dan dapat diregistrasi ulang.
STR diberikan oleh masing-masing konsil tenaga kesehatan setelah memenuhi persyaratan.

66 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Registrasi tenaga dokter/dokter gigi dikelola oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI).
Registrasi dokter dan dokter gigi diatur dalam Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia
Nomor 6 Tahun 2011 tentang Registrasi Dokter dan Dokter Gigi. Registrasi dimaksudkan
untuk memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada masyarakat, dokter, dan
dokter gigi. Selain itu dengan adanya registrasi, KKI memiliki pencatatan resmi terhadap
dokter dan dokter gigi yang telah memiliki sertifikat kompetensi dan telah mempunyai
kualifikasi tertentu lainnya.
Dalam Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 21 Tahun 2014 tentang
Registrasi Dokter dan Dokter Gigi Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis dan Dokter
Gigi Spesialis Pasal 2 disebutkan bahwa setiap dokter dan dokter gigi yang telah menjadi
peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis dan Dokter Gigi Spesialis (PPDS/PPDGS) wajib
memiliki STR Peserta PPDS/PPDGS. PPDS/PPDGS adalah program pendidikan profesi fase
lanjutan dari program profesi dokter dan dokter gigi dengan metode pembelajaran secara
mandiri dan di bawah pengawasan untuk menjadi dokter spesialis dan dokter gigi spesialis.

GAMBAR 3.18
JUMLAH DOKTER UMUM, DOKTER GIGI, DOKTER SPESIALIS, DAN DOKTER GIGI SPESIALIS
YANG MEMILIKI STR PER 31 DESEMBER 2016
140.000
116.834
120.000

100.000

80.000

60.000

40.000 28.369 32.214

20.000
3.064
0
Dokter Umum Dokter Gigi Dokter Spesialis Dokter Gigi Spesialis

Sumber: Sekretariat Konsil Kedokteran Indonesia, 2017


Catatan:
- Data dokter umum dan dokter gigi merupakan data kumulatif dari awal tahun
pengumpulan data STR (tahun 2006)
- Data dokter spesialis dan dokter gigi spesialis merupakan data daftar ulang STR selama
lima tahun terakhir

Jumlah tenaga dokter/dokter gigi yang telah memiliki STR per 31 Desember 2016
adalah 180.481 orang dengan jumlah terbanyak yaitu dokter umum (116.834 orang) dan
jumlah paling sedikit dokter gigi spesialis (3.064 orang). Dari jumlah dokter umum yang
memiliki STR ini, tidak semua bekerja sesuai fungsinya, yaitu di pelayanan medis. Hal ini
merupakan salah satu penyebab persebaran dokter yang kurang merata dan adanya
kekurangan dokter di fasilitas pelayanan kesehatan di beberapa provinsi. Rincian lengkap

Bab III SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 67


mengenai jumlah dokter umum, dokter gigi, dokter spesialis, dan dokter gigi spesialis yang
memiliki STR dapat dilihat di Lampiran 3.9.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 889 Tahun 2011 tentang Registrasi,
Izin Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian, tenaga kefarmasian adalah tenaga yang
melakukan pekerjaan kefarmasian yang terdiri atas apoteker dan tenaga teknis kefarmasian.
Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah mengucapkan
sumpah jabatan apoteker. Sedangkan tenaga teknis kefarmasian adalah tenaga yang
membantu apoteker dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas sarjana
farmasi, ahli madya farmasi, analis farmasi dan tenaga menengah farmasi/asisten apoteker.
Pada Pasal 2 di peraturan yang sama disebutkan bahwa setiap tenaga kefarmasian
yang menjalankan pekerjaan kefarmasian wajib memiliki STR. STR bagi tenaga kefarmasian
berupa Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA) bagi apoteker dan Surat Tanda Registrasi
Tenaga Teknis Kefarmasian (STRTTK) bagi tenaga teknis kefarmasian. STRA dan STRTTK
dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan dan dalam hal pemberiannya didelegasikan kepada
Komite Farmasi Nasional (KFN) untuk STRA dan kepala dinas kesehatan provinsi untuk
STRTTK.
STR tenaga kesehatan selain tenaga dokter/dokter gigi dan tenaga kefarmasian
dikelola oleh Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) sesuai dengan Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 46 Tahun 2013 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan. Pada tahun 2016,
jumlah penerbitan STR oleh MTKI adalah 219.654 orang. Jumlah ini merupakan jumlah total
penerbitan STR baik STR baru maupun STR registrasi ulang. Proporsi terbanyak tenaga
kesehatan yang memiliki STR yaitu perawat sebanyak 41,8% dan bidan sebanyak 35,9%.
GAMBAR 3.19
JUMLAH PENERBITAN STR MENURUT RUMPUN TENAGA KESEHATAN TAHUN 2016
Tenaga Kesehatan
Tradisional; 0
Psikologi Klinis; 1.027
Keterapian Fisik;
2.459
Kesehatan
Lingkungan; 3.722
Perawat; 91.797
Gizi; 4.699
Keteknisian Medis;
7.674

Teknik Biomedika;
12.194

Kesehatan
Masyarakat; 17.294 Bidan; 78.788

Sumber: Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia, Kemenkes RI, 2016

68 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Khusus penerbitan STR dengan pengajuan baru, pada tahun 2016 terdapat 202.801 orang.
Proporsi terbanyak STR baru yang diterbitkan yaitu STR perawat (41,7%) dan bidan (36,7%).
Rincian lengkap mengenai jumlah tenaga kesehatan yang memiliki STR dapat dilihat di
Lampiran 3.10 dan 3.11.

GAMBAR 3.20
JUMLAH PENERBITAN STR BARU MENURUT RUMPUN TENAGA KESEHATAN TAHUN 2016

Tenaga Kesehatan
Tradisional; 0
Psikologi Klinis; 1.027
Keterapian Fisik;
2.017
Kesehatan
Lingkungan; 3.225
Gizi; 4.018 Perawat; 84.706
Keteknisian Medis;
6.953

Teknik Biomedika;
10.390

Kesehatan
Masyarakat; 16.139 Bidan; 74.326

Sumber: Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia, Kemenkes RI, 2016

Selain tenaga kesehatan di atas, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 46 Tahun 2013
tentang Registrasi Tenaga Kesehatan Pasal 8 menyatakan bahwa tenaga kesehatan warga
negara asing atau tenaga kesehatan warga negara indonesia lulusan luar negeri yang akan
melakukan profesi atau vokasinya di Indonesia harus memiliki Sertifikat Kompetensi atau
pengakuan kompetensi dari institusi pendidikannya yang dilegalisasi oleh pejabat yang
berwenang dari negara asal. Tenaga kesehatan ini harus mengikuti evaluasi kompetensi dan
memiliki STR sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

D. JUMLAH LULUSAN POLITEKNIK KESEHATAN


Menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan Pasal 9,
tenaga kesehatan harus memiliki kualifikasi minimal Diploma III kecuali tenaga medis. Lebih
lanjut pada Pasal 17 dijelaskan bahwa pengadaan tenaga kesehatan dilakukan melalui
pendidikan tinggi bidang kesehatan. Pendidikan tinggi bidang kesehatan bertujuan untuk
menghasilkan tenaga kesehatan yang bermutu, sesuai dengan standar profesi dan standar
pelayanan profesi. Penyelenggaraan pendidikan tinggi bidang kesehatan harus

Bab III SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 69


memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan penyelenggaraan upaya kesehatan dan
dinamika kesempatan kerja baik di dalam maupun di luar negeri, keseimbangan antara
kemampuan produksi tenaga kesehatan dan sumber daya yang tersedia, dan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pendidikan tinggi bidang kesehatan yang diselenggarakan oleh Kementerian
Kesehatan adalah Politeknik Kesehatan (Poltekkes) yang merupakan Unit Pelaksana Teknis
Kementerian Kesehatan di bawah Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya
Manusia Kesehatan (BPPSDMK). Di Indonesia, terdapat 38 Poltekkes yang tersebar di 33
provinsi. Total program studi Poltekkes terdiri dari 18 program studi Diploma III dan 14
program studi Diploma IV.
GAMBAR 3.21
JUMLAH LULUSAN DIPLOMA III DAN DIPLOMA IV POLITEKNIS KESEHATAN MENURUT
JENIS TENAGA KESEHATAN TAHUN 2016
14.000
12.172
12.000

10.000

8.000
Diploma III
6.000 Diploma IV

4.000
2.118
1.762
2.000 1.456
908
610 347 333 92
312 205
0
0
Keperawatan Kefarmasian Kesehatan Gizi Keterapian Keteknisian
Masyarakat Fisik Medis

Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2017

Pada tahun 2016, total jumlah lulusan Poltekkes sebanyak 20.315 orang yang terdiri
dari 18.749 orang lulusan Diploma III dan 1.566 orang lulusan Diploma IV. Proporsi lulusan
terbanyak adalah program studi keperawatan (62,9%) yang terdiri dari 12.172 orang lulusan
Diploma III dan 610 orang lulusan Diploma IV. Proporsi lulusan paling sedikit yaitu program
studi keterapian fisik (2,1%) dengan jumlah 333 orang lulusan Diploma III dan 92 orang
lulusan Diploma IV. Rincian lebih lengkap mengenai jumlah lulusan program Diploma III dan
Diploma IV Poltekkes dapat dilihat pada Lampiran 3.18 dan 3.19. Selain lulusan Poltekkes
yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan, kebutuhan tenaga kesehatan juga dipenuhi oleh
lulusan sekolah tinggi ilmu kesehatan swasta. Data tersebut tidak termasuk data yang
disajikan dalam profil ini.

70 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


E. PENDAYAGUNAAN TENAGA KESEHATAN
1. Tenaga Kesehatan dengan Status Pegawai Tidak Tetap (PTT)
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 7 Tahun 2013 tentang Pedoman
Pengangkatan Dokter dan Bidan sebagai Pegawai Tidak Tetap, PTT adalah pegawai yang
diangkat untuk jangka waktu tertentu guna melaksanakan tugas pemerintahan dan
pembangunan yang bersifat teknis operasional dan administrasi sesuai dengan kebutuhan
dan kemampuan organisasi. Pengangkatan dan penempatan dokter dan bidan sebagai PTT
dapat dilaksanakan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pada pemerintah pusat
dilaksanakan oleh Kepala Biro Kepegawaian Kementerian Kesehatan, sedangkan pada
pemerintah daerah dilaksanakan oleh gubernur dan bupati/walikota.
Dokter PTT dalam hal ini terdiri dari dokter, dokter gigi, dokter spesialis, dan dokter
gigi spesialis. Tujuan pengangkatan dokter PTT di antaranya untuk memenuhi kebutuhan
pelayanan kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan di daerah tertinggal, kawasan
perbatasan, daerah bermasalah kesehatan, daerah rawan konflik; rumah sakit provinsi
sebagai dokter brigade siaga bencana; dan kantor kesehatan pelabuhan pada wilayah
terpencil dan sangat terpencil. Masa penugasan dokter PTT adalah satu tahun untuk dokter
spesialis dan dokter gigi spesialis yang ditugaskan pada fasilitas pelayanan kesehatan
dengan kriteria terpencil dan sangat terpencil; dua tahun untuk dokter atau dokter gigi yang
ditugaskan pada fasilitas pelayanan kesehatan dengan kriteria terpencil dan sangat
terpencil; dan tiga tahun untuk dokter, dokter gigi, dokter spesialis dan dokter gigi spesialis
yang ditugaskan pada fasilitas pelayanan kesehatan dengan kriteria biasa.
Bidan PTT ditugaskan sebagai bidan di desa dengan kriteria biasa, terpencil, atau
sangat terpencil. Bidan PTT ditugaskan selama tiga tahun dan dapat diangkat kembali atau
diperpanjang paling banyak dua kali masa penugasan. Mulai dari tahun 2016, sesuai dengan
kebijakan Menteri Kesehatan, tidak ada lagi pengangkatan baru tenaga kesehatan dengan
status PTT. Untuk pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan di daerah akan dipenuhi melalui
program Nusantara Sehat berbasis tim dan selanjutnya akan dikembangkan program
Nusantara Sehat berbasis perorangan di bawah koordinasi Badan PPSDMK Kementerian
Kesehatan. Program Nusantara Sehat berbasis tim sudah bejalan sejak tahun 2015,
sementara program Nusantara Sehat berbasis perorangan masih dalam proses persiapan
regulasi di tingkat kementerian.

Bab III SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 71


GAMBAR 3.22
JUMLAH DOKTER SPESIALIS, DOKTER GIGI SPESIALIS, DOKTER UMUM, DOKTER GIGI, DAN
BIDAN SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP AKTIF MENURUT KRITERIA WILAYAH DI
INDONESIA PER 31 DESEMBER 2016
25.000

21.324

20.000

15.000
Biasa
11.362
9.443 Terpencil
10.000
Sangat Terpencil

5.000

730
6 17 0 54 564 20 370 304
0
Dokter Spesialis & Dokter Umum Dokter Gigi Bidan
Dokter Gigi Spesialis

Sumber: Biro Kepegawaian, Kemenkes RI, 2017

Total tenaga kesehatan dengan status PTT pada tahun 2016 adalah 42.129 orang
dengan proporsi terbanyak yaitu bidan (95,3%). Dokter spesialis dan dokter gigi spesialis PTT
ditempatkan di daerah biasa dan terpencil. Dokter umum PTT dan dokter gigi PTT lebih
banyak ditempatkan di daerah terpencil dan sangat terpencil. Sedangkan bidan PTT
mayoritas ditempatkan di daerah dengan kriteria biasa. Rincian lebih lengkap mengenai
jumlah tenaga kesehatan dengan status PTT dapat dilihat pada Lampiran 3.12, 3.13, 3.14,
dan 3.15.

2. Tenaga Kesehatan dengan Status Penugasan Khusus


a. Penugasan Khusus Tenaga Residen
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2013 tentang Penugasan Khusus
Tenaga Kesehatan menjelaskan bahwa penugasan khusus merupakan pendayagunaan
secara khusus tenaga kesehatan dalam kurun waktu tertentu guna meningkatkan akses dan
mutu pelayanan kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan di Daerah Tertinggal,
Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK), Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK), serta Rumah Sakit
kelas C dan Kelas D di kabupaten yang memerlukan pelayanan medik spesialistik. Jenis
tenaga kesehatan yang diangkat dalam penugasan khusus adalah residen dan tenaga
kesehatan dengan pendidikan Diploma III.

72 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Residen adalah dokter/dokter gigi yang sedang menempuh pendidikan dokter
spesialis/dokter gigi spesialis. Residen dalam penugasan khusus terdiri dari residen senior
dan residen pasca jenjang I. Residen senior ditugaskan antara tiga sampai dengan enam
bulan. Residen pasca jenjang I ditugaskan selama enam bulan.
Berdasarkan data dari BPPSDMK Kementerian Kesehatan, jumlah keberadaan aktif
residen dalam penugasan khusus di Indonesia tahun 2016 sebanyak 678 orang. Secara
regional, proporsi terbanyak peserta penugasan khusus residen dokter spesialis yaitu
regional Sumatera (32,9%). Provinsi dengan jumlah residen dokter spesialis terbanyak yaitu
Sumatera Utara (60 orang), sedangkan provinsi yang tidak ada residen dalam penugasan
khusus adalah DKI Jakarta dan DI Yogyakarta. Rincian lengkap mengenai jumlah peserta
penugasan khusus residen dokter spesialis dapat dilihat di Lampiran 3.16.

GAMBAR 3.23
JUMLAH RESIDEN DOKTER SPESIALIS BERDASARKAN REGIONAL WILAYAH
PADA TAHUN 2016

KALIMANTAN; 85

SUMATERA; 223
JAWA-BALI; 87

SULAWESI; 139

NUSA
TENGGARA-
MALUKU-PAPUA;
144

Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan,


Kemenkes RI, 2017

b. Penugasan Khusus Dokter Peserta Internsip


Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 299 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan
Program Internsip dan Penempatan Dokter Pasca Internsip menjelaskan bahwa internsip
adalah proses pemantapan mutu profesi dokter untuk menerapkan kompetensi yang
diperoleh selama pendidikan secara terintegrasi, komprehensif, mandiri, serta

Bab III SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 73


menggunakan pendekatan kedokteran keluarga, dalam rangka pemahiran dan penyelarasan
antara hasil pendidikan dengan praktik di lapangan. Penempatan dokter program internsip
di fasilitas pelayanan kesehatan perlu disinergikan dengan program pemerintah dalam
rangka pemerataan pelayanan kesehatan.
Peserta program internsip adalah dokter yang baru lulus program studi pendidikan
dokter berbasis kompetensi yang akan menjalankan praktik kedokteran dan/atau mengikuti
pendidikan dokter spesialis. Dokter peserta program internsip harus memiliki STR untuk
kewenangan internsip yang dikeluarkan oleh KKI dan Surat Izin Praktek (SIP) Internsip yang
dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota. STR untuk kewenangan internsip dan SIP
internsip hanya berlaku selama menjalani internsip.
Program internsip terdiri dari program internsip ikatan dinas dan program internsip
mandiri. Dokter peserta program internsip ikatan dinas ditempatkan selama satu tahun dan
wajib melaksanakan tugas pasca internsip di fasilitas pelayanan kesehatan yang ditunjuk
Kementerian Kesehatan.

GAMBAR 3.24
JUMLAH DOKTER PESERTA INTERNSIP TAHUN 2016
NUSA
TENGGARA-
MALUKU-PAPUA;
823

KALIMANTAN;
833

SULAWESI; 940 JAWA-BALI; 4241

SUMATERA; 2551

Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan,


Kemenkes RI, 2017

Pemberangkatan dokter peserta internsip dilakukan sebanyak empat kali dalam satu
tahun. Pada tahun 2016, jumlah dokter peserta internsip yang diberangkatkan pada bulan
Februari sebanyak 2.356 orang, bulan Mei sebanyak 2.289 orang, bulan September-Oktober
sebanyak 1.225 orang, dan bulan November sebanyak 3.518 orang. Secara regional,

74 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


proporsi terbesar dokter peserta internsip yaitu regional Jawa-Bali (45,2%) dengan jumlah
dokter peserta internsip terbanyak adalah Jawa Timur (1.340 orang). Sedangkan provinsi
dengan jumlah dokter peserta internsip paling sedikit adalah Maluku Utara (40 orang).
Rincian lengkap mengenai jumlah dokter peserta internsip tahun 2016 dapat dilihat di
Lampiran 3.20.

c. Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Berbasis Tim (Team Based)


Program penugasan khusus yang baru diluncurkan pada tahun 2015 adalah
penugasan khusus tenaga kesehatan berbasis tim (team based). Berdasarkan Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan
Berbasis Tim (Team Based) dalam Mendukung Program Nusantara Sehat, penugasan khusus
ini merupakan pendayagunaan secara khusus tenaga kesehatan berbasis tim dalam kurun
waktu tertentu dengan jumlah dan jenis tertentu guna meningkatkan akses dan mutu
pelayanan kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan di daerah tertinggal, perbatasan,
dan kepulauan, dan daerah bermasalah kesehatan.

Tujuan dari program penugasan khusus ini adalah:


1. memberikan pelayanan kesehatan untuk menjangkau remote area,
2. menjaga keberlangsungan pelayanan kesehatan,
3. menangani masalah kesehatan sesuai dengan kebutuhan daerah,
4. meningkatkan retensi tenaga kesehatan yang bertugas,
5. penggerakan pemberdayaan masyarakat,
6. pelayanan terintegrasi,
7. peningkatan dan pemerataan pelayanan.

Tenaga kesehatan dalam penugasan khusus berbasis tim dalam mendukung program
Nusantara Sehat minimal terdiri dari lima jenis tenaga kesehatan, yaitu dokter, perawat,
bidan, dan dua tenaga kesehatan lainnya (dokter gigi, tenaga gizi, tenaga kesehatan
lingkungan, ahli teknologi laboratorium medik, tenaga kefarmasian dan tenaga kesehatan
masyarakat). Masa penugasan khusus berbasis tim adalah dua tahun. Tim akan ditempatkan
di puskesmas terutama dengan kriteria sangat terpencil di wilayah DTPK dan/atau DBK.
Pemerintah daerah dapat memberdayakan tenaga kesehatan pasca penugasan khusus ini
berdasarkan kompetensi, standar ketenagaan, dan kebutuhan daerah sehingga tercapai
kemandirian pemenuhan tenaga kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Bab III SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 75


GAMBAR 3.25
KABUPATEN/KOTA PENEMPATAN NUSANTARA SEHAT TAHUN 2016

Nusantara Sehat

Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2017

Sampai dengan tahun 2016, telah dilaksanakan penugasan khusus berbasis tim
dengan lima periode keberangkatan. Periode pertama dan kedua dilaksanakan pada tahun
2015 dengan penempatan di 120 puskesmas. Periode ketiga sampai dengan kelima
dilaksanakan pada tahun 2016 dengan penempatan di 131 puskesmas. Total penempatan
sampai dengan tahun 2016 adalah 28 provinsi, 91 kabupaten/kota, dan 251 puskesmas.
Rincian lengkap mengenai penempatan Nusantara Sehat dapat dilihat di Lampiran 3.21 dan
3.22.
GAMBAR 3.26
JUMLAH PENEMPATAN TENAGA KESEHATAN PADA TIM NUSANTARA SEHAT TAHUN 2016

Dokter Umum; 44
Dokter Gigi; 45
Ahli Teknologi
Laboratorium
Medik; 139
Bidan; 252

Farmasi; 140
Perawat; 213
Kesehatan
Lingkungan; 191

Kesehatan Gizi; 205


Masyarakat; 192

Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2017

76 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Jenis tenaga yang paling banyak diberangkatkan yaitu bidan (17,7%) dan perawat
(15%). Provinsi dengan jumlah penempatan tenaga kesehatan penugasan khusus berbasis
tim terbanyak adalah NTT yaitu 212 orang. Provinsi dengan jumlah penempatan tenaga
kesehatan penugasan khusus berbasis tim paling sedikit adalah Kepulauan Bangka Belitung,
Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat yaitu 5 orang. Rincian lengkap mengenai jumlah
penempatan tenaga kesehatan pada tim Nusantara Sehat dapat dilihat di Lampiran 3.23.

3. Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing (TK-WNA)


Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing (TKWNA) secara khusus
diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 67 Tahun 2013 tentang Pendayagunaan
Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing. Regulasi tersebut mengatur persyaratan dan tata
cara mendayagunakan tenaga kesehatan warga negara asing dalam koridor alih ilmu
pengetahuan dan teknologi untuk 4 bidang kegiatan yaitu pelayanan kesehatan, pendidikan
dan pelatihan kesehatan, bakti sosial kesehatan dan penelitian kesehatan. Dalam hal
pendayagunaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Warga Negara Asing (SDMK WNA) bidang
manajerial di fasilitas pelayanan kesehatan diatur dalam Peraturan Kepala Badan PPSDM
Kesehatan tahun 2015, yang saat ini sedang dirancang untuk ditetapkan dalam peraturan
Menteri Kesehatan.
Semua tenaga kerja asing termasuk tenaga kesehatan warga negara asing harus
memiliki Rencana Pengunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) dan Izin Menggunakan Tenaga
Asing (IMTA) yang disahkan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk, dengan terlebih
dahulu mengajukan permohonan rekomendasi pengesahan RPTKA dan IMTA kepada
Kementerian Kesehatan melalui Kepala Badan PPSDM Kesehatan. Menteri melalui Kepala
Badan PPSDM Kesehatan menugaskan Tim Koordinasi Perizinan Pendayagunaan SDMK WNA
yang terdiri dari lintas kementerian dan lembaga, untuk melakukan penilaian terhadap
pemenuhan persyaratan rekomendasi yang diajukan.
TKWNA yang melakukan kegiatan pendayagunaan bersentuhan dengan pasien harus
mengikuti evaluasi kompetensi meliputi penilaian kelengkapan administratif dan penilaian
kemampuan. Setelah lulus evaluasi kompetensi maka diwajibkan memiliki Surat Tanda
Registrasi Sementara (STRS) dan Surat Ijin Praktik (SIP) yang berlaku selama satu tahun dan
dapat diperpanjang hanya untuk satu tahun berikutnya.

Bab III SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 77


GAMBAR 3.27
TREN PERMOHONAN REKOMENDASI PENGAJUAN/ PERPANJANGAN
RPTKA DAN IMTA BAGI SDMK WNA TAHUN 2014 2016

120
107

100
82
80
61
60

40

19
20 14
10 10
4 1 3
0 0 0 0 0
0
2014 2015 2016

PELAYANAN BIDANG KESEHATAN PENDIDIKAN & PELATIHAN BIDANG KESEHATAN


BAKTI SOSIAL BIDANG KESEHATAN PENELITIAN BIDANG KESEHATAN
MANAJERIAL

Sumber : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kemenkes RI, 2017

Tren permohonan rekomendasi pengajuan atau perpanjangan RPTKA dan IMTA bagi
SDMK WNA yang akan bekerja di Indonesia dalam lima jenis kegiatan mengalami penurunan
di tahun 2016. Pada tahun 2015 sejumlah 131 orang dengan rincian kegiatan
pendayagunaan meliputi bakti sosial kesehatan sebesar 10 orang dan manajerial sebesar
107 orang sedangkan di tahun 2016 sejumlah 86 orang dengan rincian kegiatan
pendayagunaan meliputi pelayanan kesehatan sebesar 1 orang dan manajerial sebesar 82
orang. Jika melihat rincian kegiatan tersebut dapat disimpulkan bahwa walaupun tren
pendayagunan SDMK WNA mengalami penurunan, akan tetapi permohonan
pendayagunaan SDMK WNA dalam kegiatan manajerial kesehatan masih dalam jumlah yang
besar.
Pendayagunaan SDMK WNA dalam kegiatan manajerial kesehatan banyak yang tidak
sesuai perijinannya yaitu dengan melakukan kegiatan pelayanan kesehatan. Sehubungan
dengan hal tersebut dipandang perlu dan penting sekali dilakukan kegiatan sosialisasi
peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pendayagunaan SDMK WNA serta sinergitas
sektor kesehatan dan lintas sektor lainnya dalam perijinan maupun
pemantauan/pengawasan SDMK WNA di Indonesia. Rincian lengkap mengenai jumlah
permohonan rekomendasi pengajuan atau perpanjangan RPTKA dan IMTA bagi SDMK WNA
dapat dilihat di Lampiran 3.24.

***

78 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


BAB IV PEMBIAYAAN KESEHATAN

Salah satu sub sistem dalam kesehatan nasional adalah sub sistem pembiayaan
kesehatan. Pembiayaan kesehatan sendiri merupakan besarnya dana yang harus disediakan
untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang
diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok, dan masyarakarat. Undang-Undang
Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 menyebutkan bahwa pembiayaan kesehatan bertujuan
untuk penyediaan pembiayaan kesehatan yang berkesinambungan dengan jumlah yang
mencukupi, teralokasi secara adil, dan termanfaatkan. Secara umum, sumber biaya
kesehatan dapat dibedakan menjadi pembiayaan yang bersumber dari anggaran pemerintah
dan pembiayaan yang bersumber dari anggaran masyarakat.
Di dalam bab ini akan dibahas mengenai alokasi dan realisasi anggaran kesehatan
baik di pusat maupun di daerah. Anggaran kesehatan adalah anggaran kesehatan yang
pembiayaannya bersumber dari anggaran pemerintah. Selain itu, juga dijelaskan lebih lanjut
mengenai Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

A. ANGGARAN KEMENTERIAN KESEHATAN


Alokasi anggaran kesehatan yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan pada tahun
2016 yaitu sebesar 65,66 trilyun rupiah dengan realisasi sebesar 57,01 trilyun rupiah. Besar
alokasi maupun realisasi anggaran tahun 2016 mengalami peningkatan dibandingkan tahun
2015, yaitu alokasi sebesar 54,33 trilyun rupiah dengan realisasi sebesar 48,85 trilyun rupiah.
Namun demikian, jika dilihat dari persentase realisasi tahun sebelumnya, angkanya
mengalami penurunan, dimana persentase realisasi anggaran Kementerian Kesehatan pada
tahun 2016 sebesar 86,82%, turun dari tahun 2015 yang sebesar 89,91%.

Bab IV PEMBIAYAAN KESEHATAN 81


GAMBAR 4.1
ALOKASI DAN REALISASI ANGGARAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI TAHUN 2010-2016
70.000.000 92,08 94,49 65.662.593,00 100
89,01 91,66 89,91
Anggaran (dalam jutaan rupiah)

87,20 90
86,82
60.000.000
54.337.519,43
57.011.203 80
50.355.789,26
50.000.000 48.852.631
47.583.671
70
38.636.738,59 60

Persentase
40.000.000
35.415.569
33.293.456,48 50
30.919.269,94 30.656.595
30.000.000 26.962.235
25.274.803,99 40
22.496.458
20.000.000 30

20
10.000.000
10

0 0
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
alokasi anggaran realisasi anggaran persentase realisasi

Sumber : Biro Keuangan dan BMN, Kemenkes RI, 2017

Gambar 4.1 menunjukkan bahwa terdapat peningkatan alokasi dan realisasi anggaran
Kementerian Kesehatan dalam tujuh tahun terakhir. Pada tahun 2010 Kementerian
Kesehatan RI memiliki alokasi anggaran sebesar 25,27 trilyun rupiah dengan realisasi 22,49
trilyun rupiah dan persentase realisasi sebesar 89,01%, jumlah tersebut meningkat dari
tahun ke tahun, dan pada pada tahun 2016 menjadi 65,66 trilyun rupiah dengan realisasi
sebesar 57,01 trilyun rupiah dan persentase realisasi sebesar 86,82%. Akan tetapi untuk
persentase realisasi terus menurun dari 94,49% pada tahun 2014 menjadi 86,62% pada
tahun 2016.
GAMBAR 4.2
ALOKASI DAN REALISASI ANGGARAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI
MENURUT UNIT ESELON I TAHUN 2016
96,20
35.000.000 100
90,62 85,40
29.614.670 90
83,73
30.000.000 28.489.864
Anggaran (dalam jutaan rupiah)

75,90
80
69,94
25.000.000 68,36
62,23 70
Persentase

18.511.935 60
20.000.000
15.809.750 50
15.000.000
40

10.000.000 30
5.911.059
4.580.563 4.041.080 20
3.251.823
5.000.000 105.000 3.476.545 1.048.692 2.638.851
2.722.837
1.642.252
10
95.148 733.493
0 0
Setjen Itjen Ditjen Dirjen Ditjen P2P Balitbangkes Badan Ditjen
Yankes Farmalkes PPSDMKes Kesmas

alokasi anggaran realisasi anggaran


Sumber : Biro Keuangan dan BMN, Kemenkes RI, 2017

82 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Distribusi anggaran Kementerian Kesehatan RI menurut unit kerja eselon I
menunjukkan bahwa alokasi terbesar terdapat pada Sekretariat Jenderal (Setjen) sebesar
29,6 trilyun rupiah, sedangkan alokasi terendah pada Inspektorat Jenderal sebesar 105 miliar
rupiah. Unit Eselon I dengan persentase realisasi anggaran tertinggi adalah Sekretariat
Jenderal (Setjen) sebesar 96,20%, sedangkan realisasi terendah adalah Direktorat Jenderal
Kesehatan Masyarakat (Ditjen Kesmas) dengan persentase realisasi sebesar 62,23%. Data
dan informasi mengenai alokasi dan realisasi anggaran Kementerian Kesehatan RI menurut
unit eselon I pada tahun 2016 terdapat pada Lampiran 4.3.
Dari keseluruhan alokasi anggaran Kementerian Kesehatan yang sebesar 65,66 trilyun
rupiah, sebanyak 25,50 trilyun rupiah atau sebesar 38,8% nya merupakan dana untuk
peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) pada Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dana
tersebut diwujudkan melalui anggaran belanja bantuan sosial (Bansos) Kementerian
Kesehatan. Selain itu, 41% anggaran Kementerian Kesehatan lainnya dialokasikan untuk
belanja barang, 11% lainnya merupakan belanja pegawai, dan sisanya sebesar 9% digunakan
untuk belanja modal.

GAMBAR 4.3
PERSENTASE ANGGARAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI
BERDASARKAN JENIS BELANJA
TAHUN 2016

BELANJA
BELANJA BARANG
BANSOS 41%
39%

BELANJA BELANJA
PEGAWAI MODAL
11% 9%

Sumber : Biro Keuangan dan BMN, Kemenkes RI, 2017

B. DANA DEKONSENTRASI DAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG


KESEHATAN TAHUN ANGGARAN 2016
Sesuai ketentuan yang diatur dalam PP Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi
dan Tugas Pembantuan dan PMK No. 156/PMK.07/2008 sebagaimana telah disempurnakan
dengan PMK No. 248/PMK.07 untuk mendukung pencapaian pembangunan yang menjadi
fokus/ prioritas nasional, serta meningkatkan peran provinsi dalam kerangka good

Bab IV PEMBIAYAAN KESEHATAN 83


governance dalam mengawal pelaksanaan program kementerian/lembaga (K/L) di daerah
dan untuk menjamin tersedianya dana bagi pelaksanaan pelimpahan wewenang tersebut,
pemerintah melalui K/L mengatur pemberian dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan
yang diberikan.
Dana dekonsentrasi adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan gubernur
sebagai wakil pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka
pelaksanaan dekonsentrasi, tidak termasuk dana yang dialokasikan untuk instansi vertikal
pusat di daerah. Prinsip pendanaan dekonsentrasi adalah untuk mendanai pelaksanaan tugas
dan kewenangan gubernur selaku wakil pemerintah di daerah. Sifat kegiatan yang didanai
ialah kegiatan non-fisik seperti sinkronisasi dan koordinasi perencanaan, fasilitasi, bimbingan
teknis, pelatihan, penyuluhan, supervisi, penelitian dan survei, pembinaan dan pengawasan,
serta pengendalian. Proses penganggaran dana dekonsentrasi ini melalui beberapa
tahap/mekanisme, diantaranya adalah : penetapan pagu alokasi dana dekonsentrasi pada
masing-masing pemerintah daerah (dalam hal ini dinas kesehatan provinsi) oleh satuan kerja
(satker) pengampu program di tingkat pusat; pengajuan usulan kegiatan oleh dinas
kesehatan provinsi dengan mengacu pada menu dekonsentrasi yang telah ditetapkan
sebelumnya; dan pemeriksaan terhadap usulan kegiatan yang dilakukan oleh beberapa unit
pusat terkait. Dana dekonsentrasi Kementerian Kesehatan hanya bisa dialokasikan kepada
dinas kesehatan provinsi, yang selanjutnya dikelola untuk membiayai kegiatan non fisik yang
dimungkinkan melibatkan dinas kesehatan kabupaten/kota. Data dan informasi lebih rinci
mengenai alokasi dan realisasi dana dekonsentrasi pada tahun 2016 disajikan pada Lampiran
4.4.
Pagu dan realisasi dana dekonsentrasi kesehatan menurut provinsi tahun 2016
disajikan pada Gambar 4.4. Berdasarkan grafik tersebut, dapat dilihat bahwa realisasi dana
dekonsentrasi paling rendah terdapat pada Provinsi Kalimantan Utara yaitu sebesar 39,25%,
realisasi terendah ke dua yaitu Provinsi Maluku (43,56%). Sedangkan provinsi yang
realisasinya paling tinggi yaitu Provinsi Sulawesi Utara sebesar 75,68%. Masih perlu
dilakukan pengkajian lebih lanjut terutama mengenai penyebab rendahnya penyerapan
anggaran dekonsentrasi pada beberapa provinsi, termasuk di dalamnya analisis mengenai
kecukupan alokasi anggaran dekonsentrasi pada setiap program di tiap provinsi itu sendiri.
Berdasarkan Permenkes Nomor 82 Tahun 2015, Dana Alokasi Khusus Bidang
Kesehatan serta Sarana dan Prasarana Penunjang Sub bidang Sarana Prasarana (Sarpras)
Kesehatan Tahun Anggaran 2016 diberikan kepada daerah untuk membantu mendanai
kegiatan bidang kesehatan yang merupakan urusan daerah sesuai dengan prioritas
pembangunan kesehatan nasional tahun 2016. Dana Alokasi Khusus Bidang Kesehatan, serta
Sarana dan Prasarana Penunjang Sub bidang Sarpras Kesehatan Tahun Anggaran 2O16 terdiri
atas:
a. dana alokasi khusus fisik reguler bidang kesehatan;
b. dana alokasi khusus fidik reguler sarana dan prasarana penunjang sub bidang
sarana dan prasarana kesehatan
c. dana alokasi khusus non fisik bidang kesehatan.

84 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Alur pelaporan DAK bidang kesehatan dilaporkan secara berjenjang mulai dari
puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten/kota, kemudian dilaporkan ke dinas kesehatan
provinsi, lalu terakhir dilaporkan ke Kementerian Kesehatan. Laporan dikirimkan secara
berjenjang, dengan batas waktu pengiriman sebagai berikut.
Kepala Puskesmas menyampaikan laporan rutin bulanan capaian program kepada
dinas kesehatan kabupaten/kota setiap tanggal 5 bulan berikutnya. Kepala dinas kesehatan
kabupaten/kota menyampaikan laporan rutin bulanan capaian program kepada dinas
kesehatan provinsi, setiap tanggal 10 bulan berikutnya. Kepala dinas kesehatan provinsi
menyampaikan laporan rutin bulanan capaian program kepada Kementerian Kesehatan,
setiap tanggal 15 bulan berikutnya. Selain itu Kepala SKPD (dinas kesehatan kabupaten/kota
dan RS kabupaten/kota) menyampaikan laporan triwulan kepada dinas kesehatan provinsi
lalu kemudian menyampaikan kompilasi laporan pelaksanaan DAK Bidang Kesehatan di
kabupaten/kota kepada Menteri Kesehatan.
Pada tahun 2016, alokasi DAK non fisik 2016 sebesar Rp 3.344.147.265.400 dengan
realisasi sebesar Rp 1.538.763.186.509. Sedangkan alokasi untuk DAK fisik bidang kesehatan
tahun 2016 sebesar Rp 6.755.304.980.692.

GAMBAR 4.4
REALISASI DANA DEKONSENTRASI KESEHATAN
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA
TAHUN 2016

140.000 100

90
120.000
80
100.000 70
(dalam jutaan rupiah)

60
80.000
50
60.000
Persentase

40

40.000 30

20
20.000
10

0 0

Pagu Anggaran Persentase Realisasi

Sumber: Biro Keuangan dan BMN, Kemenkes RI, 2017

Bab IV PEMBIAYAAN KESEHATAN 85


C. JAMINAN KESEHATAN NASIONAL
Untuk mewujudkan komitmen global sebagaimana amanat resolusi WHA ke-58 tahun
2005 di Jenewa yang menginginkan setiap negara mengembangkan Universal Health
Coverage (UHC) bagi seluruh penduduk, pemerintah bertanggung jawab atas pelaksanaan
jaminan kesehatan masyarakat melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Usaha ke arah itu sesungguhnya telah dirintis pemerintah dengan menyelenggarakan
beberapa bentuk jaminan sosial di bidang kesehatan, di antaranya adalah melalui PT Askes
(Persero) dan PT Jamsostek (Persero) yang melayani antara lain pegawai negeri sipil,
penerima pensiun, veteran, dan pegawai swasta. Untuk masyarakat miskin dan tidak
mampu, pemerintah pusat memberikan jaminan melalui skema Jaminan Kesehatan
Masyarakat (Jamkesmas) dan pemerintah daerah dengan Jaminan Kesehatan Daerah
(Jamkesda). Namun demikian, skema-skema tersebut masih terfragmentasi atau terbagi-
bagi, sehingga biaya kesehatan dan mutu pelayanan menjadi sulit terkendali.
Untuk mengatasi hal tersebut, pada tahun 2004 dikeluarkan Undang-Undang Nomor
40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Undang-Undang Nomor 40
Tahun 2004 ini mengamanatkan bahwa program jaminan sosial wajib bagi seluruh penduduk
termasuk program Jaminan Kesehatan melalui suatu badan penyelenggara jaminan sosial.
Badan penyelenggara jaminan sosial telah diatur dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun
2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang terdiri dari BPJS Kesehatan
dan BPJS Ketenagakerjaan. Untuk program Jaminan Kesehatan yang diselenggarakan oleh
BPJS Kesehatan, implementasinya telah dimulai sejak 1 Januari 2014. Program tersebut
selanjutnya disebut sebagai program JKN.
JKN diselenggarakan untuk memberikan perlindungan kesehatan dalam bentuk
manfaat pemeliharaan kesehatan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang
diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh
pemerintah. Manfaat JKN terdiri atas dua jenis, yaitu manfaat medis dan manfaat non-
medis. Manfaat medis berupa pelayanan kesehatan yang komprehensif (promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif) sesuai dengan indikasi medis yang tidak terikat dengan besaran
iuran yang dibayarkan. Manfaat non-medis meliputi akomodasi dan ambulans. Manfaat
akomodasi untuk layanan rawat inap sesuai hak kelas perawatan peserta. Manfaat ambulans
hanya diberikan untuk pasien rujukan antar fasilitas kesehatan dengan kondisi tertentu yang
ditetapkan oleh BPJS Kesehatan.
Manfaat JKN mencakup pelayanan pencegahan dan pengobatan termasuk pelayanan
obat dan bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis. Untuk pelayanan
pencegahan (promotif dan preventif), peserta JKN akan mendapatkan pelayanan penyuluhan
kesehatan perorangan yang meliputi paling sedikit penyuluhan mengenai pengelolaan faktor
risiko penyakit dan perilaku hidup bersih dan sehat; imunisasi dasar yang meliputi Baccile
Calmett Guerin (BCG), Difteri Pertusis Tetanus dan Hepatitis B (DPT-HB), Polio dan Campak;
keluarga berencana yang meliputi konseling, kontrasepsi dasar, vasektomi dan tubektomi;
skrining kesehatan diberikan secara selektif yang ditujukan untuk mendeteksi risiko penyakit

86 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


dan mencegah dampak lanjutan dari risiko penyakit tertentu, jenis penyakit kanker, bedah
jantung, hingga dialisis (gagal ginjal).
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 tentang Pedoman Pelaksanaan
Program JKN, peserta dalam program JKN meliputi setiap orang, termasuk orang asing yang
bekerja paling singkat enam bulan di Indonesia, yang telah membayar iuran atau yang
iurannya dibayar pemerintah. Peserta program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terdiri atas
dua kelompok yaitu Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) jaminan kesehatan dan peserta
bukan PBI jaminan kesehatan. Peserta PBI jaminan kesehatan adalah fakir miskin dan orang
tidak mampu. Peserta bukan PBI jaminan kesehatan adalah pekerja penerima upah dan
anggota keluarganya, pekerja bukan penerima upah dan anggota keluarganya, serta bukan
pekerja dan anggota keluarganya.
Kepersertaan program JKN yang dimulai pada 1 Januari 2014 terdiri dari peserta PBI
JKN (pengalihan dari program Jamkesmas), anggota TNI dan PNS di lingkungan Kementerian
Pertahanan dan anggota keluarganya, anggota POLRI dan PNS di lingkungan POLRI dan
anggota keluarganya, peserta asuransi kesehatan sosial dari PT. Askes (Persero) beserta
anggota keluarganya, peserta Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) dari PT. (Persero)
Jamsostek dan anggota keluarganya, peserta Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) yang
telah berintegrasi, dan peserta mandiri (pekerja bukan penerima upah dan pekerja penerima
upah).
Sampai dengan Desember 2016, cakupan kepesertaan program JKN berjumlah
171.939.254 peserta. Bila dibandingkan dengan tahun 2014, jumlah peserta BPJS Kesehatan
meningkat sebesar 22,40% yaitu dari 133.423.653 jiwa pada tahun 2014 menjadi
171.939.254 jiwa pada tahun 2016.

GAMBAR 4.5
PERKEMBANGAN JUMLAH PESERTA BPJS KESEHATAN
TAHUN 2014 -2016

200.000.000
171.939.254
156.790.287
160.000.000
133.423.653

120.000.000

80.000.000

40.000.000

0
Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016
Jumlah Peserta (Jiwa)
Sumber : BPJS Kesehatan, 2017

Bab IV PEMBIAYAAN KESEHATAN 87


Peserta BPJS Kesehatan pada tahun 2016 terdiri dari peserta PBI yang berjumlah
106.514.567 jiwa dan peserta non PBI yang berjumlah 65.424.687 jiwa. Peserta PBI terdiri
dari peserta dengan iuran bersumber dari APBN sebanyak 91.099.279 peserta dan yang
bersumber dari APBD berjumlah 15.415.288 peserta. Sedangkan peserta non PBI terdiri atas
pekerja penerima upah yang berjumlah 41.027.229 peserta, pekerja bukan penerima upah
yang berjumlah 19.336.531 peserta, dan bukan pekerja yang berjumlah 5.060.927 peserta.
Menurut proporsinya, jumlah peserta BPJS Kesehatan tertinggi pada tahun 2016 yaitu
segmen peserta PBI APBN sebesar 52,98%, disusul kemudian oleh segmen peserta Pekerja
Penerima Upah (PPU) sebesar 23,86%, dan segmen peserta Pekerja Bukan Penerima Upah
(PBPU) sebesar 11,25%. Proporsi jumlah peserta BPJS Kesehatan terendah yaitu dari segmen
peserta Bukan Pekerja (BP) sebesar 2.94%. Proporsi jumlah peserta BPJS Kesehatan per 31
Desember 2016 menurut segmen peserta dapat dilihat pada gambar berikut.

GAMBAR 4.6
PROPORSI JUMLAH PESERTA BPJS KESEHATAN
PER 31 DESEMBER 2016

Bukan Pekerja
2,94%
Pekerja Bukan
Penerima
Upah
11,25%

Pekerja
Penerima
PBI APBN
Upah
52,98%
23,86%

PBI APBD
8,97%

Sumber : BPJS Kesehatan, 2017

Namun jika dilihat dari persentase penambahan dari tahun sebelumnya, jumlah
peserta BPJS Kesehatan yang persentase penambahannya terbesar yaitu pada segmen PBI
APBD sebesar 38,00% dan kemudian segmen peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU)
sebesar 29,24%. Jumlah peserta BPJS Kesehatan dan persentase penambahannya tahun
2015 - 2016 menurut segmen peserta dapat dilihat pada Gambar 4.7.

88 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 4.7
GAMBARAN JUMLAH PESERTA BPJS KESEHATAN MENURUT JENIS
DAN PERSENTASE PENAMBAHANNYA TAHUN 2015 2016
100.000.000 50,00
Jumlah Peserta (jiwa)

87.828.613 91.099.279
38,00

% Penambahan
80.000.000 40,00
29,24
30,00
60.000.000
41.027.229 20,00
40.000.000 37.862.522
3,72 10,00
1,90 15.415.288 19.336.531
20.000.000 11.170.615 8,36 14.961.768 0,00
4.966.769 5.060.927
- -10,00
PBI APBN Bukan Pekerja PBI APBD Pekerja Pekerja Bukan
Penerima Upah Penerima Upah
2015 2016 % Penambahan

Sumber : BPJS Kesehatan, 2017

Jumlah peserta BPJS Kesehatan per 31 Desember 2016 adalah sebesar 66,46% dari
seluruh jumlah penduduk. Provinsi dengan jumlah kepesertaan tertinggi adalah Jawa Barat
sebanyak 28.842.790.000 orang. Sedangkan provinsi dengan jumlah kepesertaan terendah
adalah Kalimantan Utara sebanyak 47.154.000 orang. Data dan informasi lebih rinci
mengenai jumlah peserta BPJS Kesehatan menurut provinsi pada tahun 2016 disajikan pada
Lampiran 4.6.
GAMBAR 4.8
JUMLAH KEPESERTAAN BPJS KESEHATAN MENURUT PROVINSI
PER 31 DESEMBER 2016 (dalam ribuan)
Jawa Barat 28.842,79
Jawa Timur 23.101,49
Jawa Tengah 22.659,15
DKI Jakarta 13.305,33
Sumatera Utara 8.794,71
Banten 7.324,21
Sulawesi Selatan 6.617,88
Aceh 5.128,34
Lampung 5.084,49
Sumatera Selatan 4.220,22
Nusa Tenggara Timur 3.828,64
Sumatera Barat 3.622,56
Papua 3.449,78
Riau 3.395,63
Nusa Tenggara Barat 3.288,72
D I Yogyakarta 2.710,28
Kalimantan Barat 2.702,11
Kalimantan Timur 2.700,17
Bali 2.209,79
Sulawesi Tengah 1.892,61
Jambi 1.858,95
Kalimantan Selatan 1.757,25
Sulawesi Utara 1.726,93
Sulawesi Tenggara 1.582,28
Kalimantan Tengah 1.382,05
Bengkulu 1.277,29
Kepulauan Riau 1.277,10
Maluku 1.114,78
Gorontalo 1.101,90
Papua Barat 1.069,36
Sulawesi Barat 994,29
Kepulauan Bangka Belitung 815,03
Maluku Utara 631,62
Kalimantan Utara 471,54
0 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000 35.000

Sumber : BPJS Kesehatan, 2017

Bab IV PEMBIAYAAN KESEHATAN 89


Setiap peserta JKN mempunyai hak mendapatkan pelayanan kesehatan yang meliputi
pelayanan kesehatan Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) dan Rawat Inap Tingkat Pertama
(RITP), pelayanan kesehatan Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL), Rawat Inap Tingkat
Lanjutan (RITL), pelayanan gawat darurat, dan pelayanan kesehatan lain yang ditetapkan
oleh Menteri Kesehatan.
Pelayanan kesehatan dilaksanakan secara berjenjang dimulai dari pelayanan
kesehatan tingkat pertama yang diberikan oleh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP)
tempat peserta terdaftar, kecuali dalam keadaan tertentu yaitu bagi peserta yang berada di
luar wilayah FKTP tempat peserta terdaftar atau dalam keadaan kegawatdaruratan medis.
Dalam hal peserta memerlukan pelayanan kesehatan tingkat lanjutan, FKTP harus merujuk
ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) terdekat sesuai dengan sistem
rujukan.
Bila dibandingkan dengan tahun 2014, jumlah FKTP yang bekerja sama dengan BPJS
Kesehatan meningkat 10,97% yaitu dari 18.437 FKTP pada tahun 2014 menjadi 20.708 FKTP
pada tahun 2016.

GAMBAR 4.9
PERKEMBANGAN JUMLAH FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA (FKTP)
YANG BEKERJA SAMA DENGAN BPJS KESEHATAN
TAHUN 2014-2016

25.000
20.708
18.437 19.969
20.000

15.000

10.000

5.000

0
Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016

Jumlah FKTP (termasuk Dokter Gigi)


Sumber : BPJS Kesehatan, 2017

Proporsi jumlah FKTP tertinggi yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan pada tahun
2016 yaitu Puskesmas sebesar 47,39%, disusul kemudian oleh Dokter Praktik Perorangan
(DPP) sebesar 22,11 %, dan Klinik Pratama sebesar 18,74%. Sedangkan proporsi jumlah FKTP
terendah yaitu RS Tipe D Pratama sebesar 0,07%. Proporsi jumlah FKTP yang bekerjasama
dengan BPJS Kesehatan per 31 Desember 2016 menurut jenis FKTP dapat dilihat pada
Gambar 4.12.

90 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 4.10
PROPORSI JENIS FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA (FKTP)
YANG BEKERJA SAMA DENGAN BPJS KESEHATAN
PER 31 DESEMBER 2016
Klinik POLRI Klinik TNI Praktik Dokter
RS Tipe D 2,74% 3,40% Gigi
Pratama
5,55%
0,07%

Puskesmas Klinik Pratama


47,39% 18,74%

DPP
22,11%

Sumber : BPJS Kesehatan, 2017

Jenis FKTP yang paling banyak bekerja sama dengan BPJS Kesehatan per 31 Desember
2016 adalah Puskesmas sebanyak 9.813, kemudian diikuti oleh Dokter Praktik Perorangan
(DPP) sebanyak 4.578, Klinik Pratama sejumlah 3.880, dan yang terendah adalah RS Tipe D
Pratama sebanyak 15. Jumlah FKTP tersebut ditambah dengan jumlah FKTP Gigi yaitu Dokter
Gigi Praktek Perorangan sebanyak 1.150. Namun jika dilihat dari persentase penambahan
dari tahun sebelumnya, FKTP yang persentase penambahannya terbesar ialah RS Tipe D
Pratama sebesar 50,00% dan kemudian Klinik Pratama sebesar 18,29%.

GAMBAR 4.11
GAMBARAN JUMLAH FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA (FKTP)
YANG BEKERJA SAMA DENGAN BPJS KESEHATAN DAN PERSENTASE PENAMBAHANNYA
MENURUT JENIS TAHUN 2014 2016

12.000 50,00 60
9.813
9.799 50
10.000
40
8.000
Jumlah FKTP

% Penambahan

30
18,29
6.000 20
4.441 4.578 3.880
0,14 0,17 10
4.000 -0,53 3.280
-2,22 0
3,08
2.000 720 704 1.148 1.150
571 568 -10
10 15
- -20
KLINIK TNI KLINIK POLRI PUSKESMAS PRAKTIK DOKTER KLINIK RS TIPE D
DOKTER GIGI PRAKTIK PRATAMA Pratama
PERORANGAN

2.015 2016 % Penambahan


Sumber : BPJS Kesehatan, 2017

Bab IV PEMBIAYAAN KESEHATAN 91


Bila dilihat dari distribusi jumlah FKTP yang bekerja sama dengan BPJS kesehatan,
jumlah FKTP tertinggi ada pada Provinsi Jawa Tengah dengan jumlah 2.749. Sedangkan
jumlah FKTP yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan terendah berada di Provinsi
Kalimantan Utara dengan jumlah 104 FKTP. Data dan informasi mengenai FKTP yang bekerja
sama dengan BPJS pada tahun 2016 disajikan pada Lampiran 4.7.

GAMBAR 4.12
JUMLAH FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA (FKTP)
YANG BEKERJA SAMA DENGAN BPJS KESEHATAN MENURUT PROVINSI
PER 31 DESEMBER 2016

Jawa Tengah 2.749


Jawa Barat 2.658
Jawa Timur 2.336
Sumatera Utara 1.125
Sulawesi Selatan 866
Sumatera Selatan 709
DKI Jakarta 632
Banten 598
Bali 590
Nusa Tenggara Timur 566
Lampung 548
Aceh 543
Papua 522
Riau 520
Sumatera Barat 508
Kalimantan Selatan 457
Kalimantan Timur 445
Sulawesi Utara 374
Kalimantan Barat 369
Sulawesi Tenggara 362
D I Yogyakarta 343
Jambi 317
Kalimantan Tengah 309
Bengkulu 299
Nusa Tenggara Barat 298
Sulawesi Tengah 283
Maluku 250
Kepulauan Riau 207
Papua Barat 203
Maluku Utara 197
Gorontalo 153
Sulawesi Barat 140
Kepulauan Bangka Belitung 128
Kalimantan Utara 104
0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000

Sumber : BPJS Kesehatan, 2017

Gambar 4.13 memberikan gambaran mengenai sebaran jumlah FKTP yang bekerja
sama dengan BPJS Kesehatan pada tahun 2016. Gambaran distribusi jumlah FKTP ini dibagi
menjadi tiga kelompok. Ketiga kelompok tersebut yaitu (1) yang berwarna kuning ialah
provinsi yang jumlah FKTP yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatannya berkisar di antara

92 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


104 986 FKTP, (2) yang berwarna hijau muda berjumlah antara 986-1.867 FKTP, dan (3)
yang berwarna hijau tua berjumlah 1.867 2.749 FKTP.

GAMBAR 4.13
SEBARAN JUMLAH FKTP YANG BEKERJA SAMA DENGAN BPJS KESEHATAN
TAHUN 2016

106-986
986,1-1.867
1.867,1-2.749

Sumber : BPJS Kesehatan, 2017

Jumlah Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) yang bekerja sama
dengan BPJS Kesehatan per 31 Desember 2016 yaitu sebanyak 2.069 FKRTL. Bila
dibandingkan dengan tahun 2014, jumlah FKRTL yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan
meningkat sebesar 18.75% yaitu dari 1.681 FKRTL pada tahun 2014 menjadi 2.068 FKRTL
pada tahun 2016. FKRTL penerima rujukan wajib merujuk kembali peserta JKN disertai
jawaban dan tindak lanjut yang harus dilakukan jika secara medis peserta sudah dapat
dilayani di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang merujuk.

GAMBAR 4.14
PERKEMBANGAN JUMLAH FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN TINGKAT LANJUTAN (FKRTL)
YANG BEKERJA SAMA DENGAN BPJS KESEHATAN
TAHUN 2014 -2016

2.500
2.068
2.000 1.847
1.681
1.500
Jumlah

1.000

500

0
Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016

Sumber : BPJS Kesehatan, 2017

Bab IV PEMBIAYAAN KESEHATAN 93


GAMBAR 4.15
PROPORSI JENIS FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN TINGKAT LANJUTAN (FKRTL)
YANG BEKERJA SAMA DENGAN BPJS KESEHATAN
PER 31 DESEMBER 2016

RS KHUSUS
RS TNI/POLRI; JIWA; 1,72%
KLINIK
7,15%
UTAMA;
7,39% RS SWASTA;
43,17%
RS KHUSUS;
9,47%

RS
PEMERINTAH;
32,87%

Sumber : BPJS Kesehatan, 2017

Jenis FKRTL yang paling banyak bekerja sama dengan BPJS Kesehatan per 31
Desember 2016 adalah RS Swasta yaitu sebanyak 876 (43,17%), kemudian diikuti oleh RS
Pemerintah sebanyak 667 (32,87%), RS Khusus sejumlah 196 (9,47%), dan yang terendah
adalah RS Khusus Jiwa sebanyak 35 (1,72%). Namun jika dilihat dari persentase penambahan
dari tahun sebelumnya, FKRTL yang persentase penambahannya terbesar ialah Klinik Utama
sebesar 39,71%, kemudian RS Swasta sebesar 16,26%. Penambahan jumlah rumah sakit
swasta terbanyak terdapat di Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur, masing-masing sebanyak
27 dan 16 rumah sakit. Sedangkan penambahan klinik utama terbanyak ada di Jawa Barat,
Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan.
GAMBAR 4.16
GAMBARAN JUMLAH FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN TINGKAT LANJUT (FKRTL)
YANG BEKERJA SAMA DENGAN BPJS KESEHATAN DAN PERSENTASE PENAMBAHANNYA
MENURUT JENIS TAHUN 2014 2016
1.000 45
39,71
900 876 40
800 758 35
667
700 649 30
% Penambahan
Jumlah FKRTL

600
25
500
16,26 20
400
15
300
150 196 10
200 166 3,84 145 145
95
100 4,40 1,40
5
34 35
- 0,00 0
KLINIK UTAMA RS SWASTA RS KHUSUS RS PEMERINTAH RS TNI/POLRI RS KHUSUS JIWA
2015 2016 % Penambahan
Sumber : BPJS Kesehatan, 2017

94 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Jumlah FKRTL yang bekerja sama dengan BPJS kesehatan menurut provinsi tertinggi
ada pada Provinsi Jawa Barat yaitu sebanyak 283 FKRTL. Sedangkan jumlah FKRTL terendah
yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan berada di Provinsi Kalimantan Utara yaitu
sebanyak 7 FKRTL. Data dan informasi lebih lengkap mengenai jumlah FKRTL yang bekerja
sama dengan BPJS Kesehatan per 31 Desember 2016 menurut jenis dan provinsi terdapat
pada Lampiran 4.8.

GAMBAR 4.17
JUMLAH FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN TINGKAT LANJUTAN (FKRTL)
YANG BEKERJA SAMA DENGAN BPJS KESEHATAN
PER 31 DESEMBER 2016

Jawa Barat 283


Jawa Tengah 257
Jawa Timur 253
Sumatera Utara 128
DKI Jakarta 127
Sulawesi Selatan 79
Banten 72
D I Yogyakarta 66
Aceh 64
Lampung 51
Sumatera Selatan 51
Sumatera Barat 51
Bali 47
Riau 47
Nusa Tenggara Timur 43
Kalimantan Barat 39
Sulawesi Utara 36
Kalimantan Timur 35
Kalimantan Selatan 32
Kepulauan Riau 29
Jambi 29
Maluku 28
Nusa Tenggara Barat 28
Papua 26
Sulawesi Tengah 26
Sulawesi Tenggara 22
Kepulauan Bangka Belitung 21
Bengkulu 21
Kalimantan Tengah 20
Papua Barat 14
Maluku Utara 14
Gorontalo 14
Sulawesi Barat 9
Kalimantan Utara 7

0 50 100 150 200 250 300

Sumber : BPJS Kesehatan, 2017

Secara umum, terjadi peningkatan jumlah FKRTL yang bekerja sama dengan BPJS
Kesehatan sejak tahun 2014 hingga tahun 2016, yaitu meningkat sebanyak 22,04%. Pada
tahun 2014, terdapat 1.613 FKRTL dan jumlah ini meningkat menjadi 2.069 FKRTL pada
tahun 2016. Jika dilihat dari jenisnya, peningkatan jumlah terbanyak terdapat pada klinik
utama. Selain itu, pada tahun 2014 tidak terdapat klinik utama yang bekerja sama dengan
BPJS Kesehatan, namun pada tahun 2015 telah terdapat 95 klinik utama yang bekerja sama

Bab IV PEMBIAYAAN KESEHATAN 95


dengan BPJS Kesehatan dan kemudian meningkat lagi menjadi 150 klinik utama pada tahun
2016.
Gambar 4.18 memberikan gambaran mengenai sebaran jumlah FKRTL yang bekerja
sama dengan BPJS Kesehatan pada tahun 2016. Gambaran distribusi jumlah FKRTL ini dibagi
menjadi tiga kategori. Ketiga kategori tersebut yakni (1) yang berwarna kuning ialah provinsi
yang jumlah FKRTL yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatannya berkisar di antara 0 99
fasilitas kesehatan, (2) yang berwarna hijau muda berjumlah antara 99-191 FKRTL, dan (3)
yang berwarna hijau tua berjumlah 191 283 FKRTL.

GAMBAR 4.18
SEBARAN JUMLAH FKRTL YANG BEKERJA SAMA DENGAN BPJS KESEHATAN
TAHUN 2016

Sumber : BPJS Kesehatan, 2017

GAMBAR 4.19
ALOKASI ANGGARAN DAN REALISASI PENERIMA BANTUAN IURAN (PBI) BPJS
TAHUN 2014-2016

30
25,5 24,81
25
19,93 19,93 20,35 19,88
20

15

10

0
2014 2015 2016
Alokasi Realisasi
Keterangan : dalam trilyun rupiah
Sumber : BPJS Kesehatan, 2017

96 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Gambar 4.19 menunjukan kondisi penyerapan anggaran Penerima Bantuan Iuran
(PBI) BPJS selama kurun waktu tahun 2014-2016. Untuk alokasi PBI mengalami kenaikan dari
tahun ke tahun, dari sekitar 19,93 trilyun rupiah pada tahun 2014 menjadi sekitar 25,5
trilyun rupiah pada tahun 2015, dan meningkat lagi di tahun 2016 menjadi 25,5 trilyun
rupiah.
Realisasi PBI sempat mengalami sedikit penurunan dari sebesar 19,93 trilyun rupiah
pada tahun 2014 menjadi 19,88 trilyun rupiah pada tahun 2015, namun kemudian
meningkat lagi di tahun 2016 menjadi sebesar 24,81 trilyun rupiah.

TABEL 4.1
SEPULUH KODE CBG'S TERBANYAK PADA TINGKAT LAYANAN RAWAT JALAN TINGKAT
LANJUT (RJTL) SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2016

Realisasi s.d. Desember 2016


No Kode CBGs Nama CBGs
Jumlah Kasus Biaya (Rp)
(1) (2) (3) (4) (5)

1 Q-5-44-0 Penyakit kronis kecil lain-lain 27.839.482 5.067.479.611.674

Prosedur terapi fisik dan prosedur kecil


2 M-3-16-0 3.202.708 531.371.659.900
muskulosketal

3 N-3-15-0 Prosedur dialisis 3.006.576 2.955.811.449.900

4 Q-5-42-0 Penyakit akut kecil lain-lain 2.103.208 309.025.512.600

5 Z-3-27-0 Perawatan luka 1.590.023 319.497.618.800

6 Z-3-12-0 Prosedur rehabilitasi 1.458.461 398.585.149.400

7 Q-5-18-0 Konsultasi atau pemeriksaan lain-lain 1.223.216 170.892.397.900

8 Z-3-25-0 Prosedur ultrasound ginekologik 1.109.940 362.676.646.900

9 U-3-15-0 Prosedur pada gigi 1.015.879 191.374.064.700

10 H-3-12-0 Prosedur lain-lain pada mata 673.829 137.674.948.500


Sumber : BPJS Kesehatan, 2017
Keterangan : CBGs : Case Base Groups, artinya cara pembayaran perawatan pasien berdasarkan diagnosis-
diagnosis atau kasus-kasus yang relatif sama.

Tabel 4.1 menampilkan bahwa prosedur terapi fisik dan prosedur kecil muskulosketal
jumlah kasusnya menduduki peringkat kedua tertinggi namun pembiayaannya hanya
mencapai 531 milyar rupiah, sedangkan jumlah kasus prosedur dialisis memiliki peringkat
ketiga namun mempunyai jumlah pembiayaan terbesar yaitu sebesar 2,955 trilyun rupiah. Di

Bab IV PEMBIAYAAN KESEHATAN 97


peringkat kesepuluh terdapat jumlah kasus prosedur lain-lain pada mata dengan 673.829
kasus dan pembiayaan sebesar 137,6 milyar rupiah.

TABEL 4.2
SEPULUH KODE CBG'S TERBANYAK PADA TINGKAT LAYANAN RAWAT INAP TINGKAT
LANJUT (RITL) SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2016

Kode Realisasi s.d. Desember 2016


No Nama CBGs
CBGs Jumlah Kasus Biaya (Rp)
(1) (2) (3) (4) (5)

1 O-6-10-I Operasi pembedahan caesar ringan 480.622 2.247.613.920.775

2 A-4-13-I Infeksi non bakteri ringan 440.068 1.019.446.528.900

Nyeri abdomen dan gastroenteritis lain-


3 K-4-17-I 380.744 946.214.050.445
lain (ringan)

Penyakit infeksi bakteri dan parasit lain-


4 A-4-14-I 333.227 1.089.019.205.476
lain ringan

5 O-6-13-I Persalinan vaginal ringan 309.223 703.538.103.100

Diagnosis sistem pencernaan lain-lain


6 K-4-18-I 190.396 615.000.825.800
(ringan)

Neonatal, bbl group-5 tanpa prosedur


7 P-8-17-I 149.626 303.749.973.000
mayor ringan

Prosedur dilatasi, kuret, intrauterin &


8 W-1-11-I 119.725 370.798.577.200
serviks ringan

Gangguan sel darah merah selain krisis


9 D-4-13-I 110.357 447.334.620.723
anemia sel sickle ringan

Prosedur pada kulit, jaringan bawah kulit


10 L-1-40-I 110.000 435.817.317.949
dan payudara ringan
Sumber : BPJS Kesehatan, 2017

Tabel 4.2 menampilkan bahwa pada tahun 2016 operasi pembedahan caesar ringan
jumlah kasusnya menduduki peringkat tertinggi dengan pembiayaan mencapai 2,247 trilyun
rupiah, kemudian infeksi bakteri ringan menduduki peringkat jumlah kasus kedua dengan
pembiayaan sebesar 1,019 trilyun rupiah. Pada peringkat kesepuluh terdapat prosedur pada
kulit, jaringan bawah kulit, dan payudara ringan dengan 110.000 kasus dan pembiayaan
sebesar 435,81 milyar rupiah.

***

98 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


BAB V KESEHATAN KELUARGA

Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan


dan Pembangunan Keluarga mendefinisikan keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat
yang terdiri dari suami istri, atau suami, istri, dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu
dan anaknya. Menurut Salvicion dan Cells (1998), di dalam keluarga terdapat dua atau lebih
dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau
pengangkatan di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain, dan di
dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.
Lebih jauh lagi, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2014
tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Keluarga Berencana,
dan Sistem Informasi Keluarga, menyebutkan bahwa pembangunan keluarga dilakukan
dalam upaya untuk mewujudkan keluarga berkualitas yang hidup dalam lingkungan yang
sehat. Selain lingkungan yang sehat, masih menurut peraturan pemerintah tersebut, kondisi
kesehatan dari tiap anggota keluarga sendiri juga merupakan salah satu syarat dari keluarga
yang berkualitas.
Sebagai komponen yang tidak terpisahkan dari masyarakat, keluarga memiliki peran
signifikan dalam status kesehatan. Keluarga berperan terhadap optimalisasi pertumbuhan,
perkembangan, dan produktivitas seluruh anggotanya melalui pemenuhan kebutuhan gizi
dan menjamin kesehatan anggota keluarga. Di dalam komponen keluarga, ibu dan anak
merupakan kelompok rentan. Hal ini terkait dengan fase kehamilan, persalinan dan nifas
pada ibu dan fase tumbuh kembang pada anak. Hal ini yang menjadi alasan pentingnya
upaya kesehatan ibu dan anak menjadi salah satu prioritas pembangunan kesehatan di
Indonesia.
Ibu dan anak merupakan anggota keluarga yang perlu mendapatkan prioritas dalam
penyelenggaraan upaya kesehatan, karena ibu dan anak merupakan kelompok rentan
terhadap keadaan keluarga dan sekitarnya secara umum. Sehingga penilaian terhadap status
kesehatan dan kinerja upaya kesehatan ibu dan anak penting untuk dilakukan.

Bab V KESEHATAN KELUARGA 101


A. KESEHATAN IBU
Keberhasilan upaya kesehatan ibu, di antaranya dapat dilihat dari indikator Angka
Kematian Ibu (AKI). AKI adalah jumlah kematian ibu selama masa kehamilan, persalinan dan
nifas yang disebabkan oleh kehamilan, persalinan, dan nifas atau pengelolaannya tetapi
bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan atau terjatuh di setiap 100.000 kelahiran
hidup.
Indikator ini tidak hanya mampu menilai program kesehatan ibu, terlebih lagi mampu
menilai derajat kesehatan masyarakat, karena sensitifitasnya terhadap perbaikan pelayanan
kesehatan, baik dari sisi aksesibilitas maupun kualitas. Penurunan AKI di Indonesia terjadi
sejak tahun 1991 sampai dengan 2007, yaitu dari 390 menjadi 228. Namun demikian, SDKI
tahun 2012 menunjukkan peningkatan AKI yang signifikan yaitu menjadi 359 kematian ibu
per 100.000 kelahiran hidup. AKI kembali menujukkan penurunan menjadi 305 kematian ibu
per 100.000 kelahiran hidup berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015.
Gambaran AKI di Indonesia dari tahun 1991 hingga tahun 2015 dapat dilihat pada Gambar
5.1 berikut ini.

GAMBAR 5.1
ANGKA KEMATIAN IBU DI INDONESIA
TAHUN 1991 2015

400

350 390
359
300 334 305
307
250

200 228

150

100

50

0
1991 1997 2002 2007 2012 2015

Tahun
Sumber: BPS, SDKI 1991-2012

Sebagai upaya penurunan AKI, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan sejak


tahun 1990 telah meluncurkan safe motherhood initiative, sebuah program yang
memastikan semua wanita mendapatkan perawatan yang dibutuhkan sehingga selamat dan
sehat selama kehamilan dan persalinannya. Upaya tersebut dilanjutkan dengan program

102 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Gerakan Sayang Ibu di tahun 1996 oleh Presiden Republik Indonesia. Program ini melibatkan
sektor lain di luar kesehatan. Salah satu program utama yang ditujukan untuk mengatasi
masalah kematian ibu yaitu penempatan bidan di tingkat desa secara besar-besaran yang
bertujuan untuk mendekatkan akses pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir ke
masyarakat. Upaya lain yang juga telah dilakukan yaitu strategi Making Pregnancy Safer yang
dicanangkan pada tahun 2000.
Pada tahun 2012 Kementerian Kesehatan meluncurkan program Expanding Maternal
and Neonatal Survival (EMAS) dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan neonatal
sebesar 25%. Program ini dilaksanakan di provinsi dan kabupaten dengan jumlah kematian
ibu dan neonatal yang besar, yaitu Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah,
Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Dasar pemilihan provinsi tersebut disebabkan 52,6% dari
jumlah total kejadian kematian ibu di Indonesia berasal dari enam provinsi tersebut.
Sehingga dengan menurunkan angka kematian ibu di enam provinsi tersebut diharapkan
akan dapat menurunkan angka kematian ibu di Indonesia secara signifikan.
Program EMAS berupaya menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian
neonatal dengan cara : 1) meningkatkan kualitas pelayanan emergensi obstetri dan bayi baru
lahir minimal di 150 Rumah Sakit PONEK dan 300 Puskesmas/Balkesmas PONED) dan 2)
memperkuat sistem rujukan yang efisien dan efektif antar puskesmas dan rumah sakit.
Upaya percepatan penurunan AKI dapat dilakukan dengan menjamin agar setiap ibu
mampu mengakses pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas, seperti pelayanan kesehatan
ibu hamil, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih di fasilitas pelayanan
kesehatan, perawatan pasca persalinan bagi ibu dan bayi, perawatan khusus dan rujukan jika
terjadi komplikasi, kemudahan mendapatkan cuti hamil dan melahirkan, dan pelayanan
keluarga berencana.
Pada bagian berikut, gambaran upaya kesehatan ibu yang disajikan terdiri dari :
(1) pelayanan kesehatan ibu hamil, (2) pelayanan imunisasi Tetanus Toksoid wanita usia
subur dan ibu hamil, (3) pelayanan kesehatan ibu bersalin, (4) pelayanan kesehatan ibu nifas,
(5) Puskesmas melaksanakan kelas ibu hamil dan Program Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi (P4K) dan (6) pelayanan kontrasepsi.

1. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil


Pelayanan kesehatan ibu hamil diberikan kepada ibu hamil yang dilakukan oleh
tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Proses ini dilakukan selama rentang usia
kehamilan ibu yang dikelompokkan sesuai usia kehamilan menjadi trimester pertama,
trimester kedua, dan trimester ketiga. Pelayanan kesehatan ibu hamil yang diberikan harus
memenuhi elemen pelayanan sebagai berikut.
1. Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan.
2. Pengukuran tekanan darah.

Bab V KESEHATAN KELUARGA 103


3. Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA).
4. Pengukuran tinggi puncak rahim (fundus uteri).
5. Penentuan status imunisasi tetanus dan pemberian imunisasi tetanus toksoid
sesuai status imunisasi.
6. Pemberian tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan.
7. Penentuan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ).
8. Pelaksanaan temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling,
termasuk keluarga berencana).
9. Pelayanan tes laboratorium sederhana, minimal tes hemoglobin darah (Hb),
pemeriksaan protein urin dan pemeriksaan golongan darah (bila belum pernah
dilakukan sebelumnya).
10. Tatalaksana kasus.

Selain elemen tindakan yang harus dipenuhi, pelayanan kesehatan ibu hamil juga
harus memenuhi frekuensi minimal di tiap trimester, yaitu satu kali pada trimester pertama
(usia kehamilan 0-12 minggu), satu kali pada trimester kedua (usia kehamilan 12-24 minggu),
dan dua kali pada trimester ketiga (usia kehamilan 24 minggu sampai persalinan). Standar
waktu pelayanan tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan terhadap ibu hamil dan
atau janin berupa deteksi dini faktor risiko, pencegahan, dan penanganan dini komplikasi
kehamilan.
Penilaian terhadap pelaksanaan pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dilakukan
dengan melihat cakupan K1 dan K4. Cakupan K1 adalah jumlah ibu hamil yang telah
memperoleh pelayanan antenatal pertama kali oleh tenaga kesehatan dibandingkan jumlah
sasaran ibu hamil di satu wilayah kerja pada kurun waktu satu tahun. Sedangkan cakupan K4
adalah jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai dengan standar
paling sedikit empat kali sesuai jadwal yang dianjurkan di tiap trimester dibandingkan jumlah
sasaran ibu hamil di satu wilayah kerja pada kurun waktu satu tahun. Indikator tersebut
memperlihatkan akses pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil dan tingkat kepatuhan ibu
hamil dalam memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan.
Capaian K4 dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2016 disajikan pada gambar
berikut ini.

104 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 5.2
CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL K4 DI INDONESIA
TAHUN 2006 2016
100

88,27 90,18
80 86,04
84,54 85,56 86,85 86,70 87,48 85,35
79,63 80,26

60
(%)

40

20

0
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2016

Gambar di atas menunjukkan terjadi penurunan cakupan K4, yaitu dari 86,85% pada
tahun 2013 menjadi 85,35%. Penurunan tersebut disebabkan karena beberapa faktor
sebagai berikut.
1. Pemeriksaan antenatal sudah berdasarkan kualitas pelayanan 10T.
2. Mobilitas di daerah perkotaan yang tinggi.
3. Penetapan sasaran ibu hamil yang terlalu tinggi di beberapa kab/kota.
4. Ada budaya masyarakat pada saat menjelang persalinan pulang ke kampung
halaman.
5. Pencatatan dan pelaporan masih belum optimal.

Meskipun terjadi penurunan pada tahun 2016, cakupan pelayanan kesehatan ibu
hamil K4 pada tahun 2016 telah memenuhi target Rencana Strategis (Renstra) Kementerian
Kesehatan sebesar 74%. Namun demikian, terdapat 9 provinsi yang belum mencapai target
tersebut yaitu Maluku Utara, Papua, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Jambi, Maluku,
Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan DI Yogyakarta.
Gambaran capaian kunjungan ibu hamil K4 pada tahun 2016 di 34 provinsi disajikan
pada gambar berikut ini.

Bab V KESEHATAN KELUARGA 105


GAMBAR 5.3
CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL K4
MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

Indonesia 85,35

Nusa Tenggara Barat


Sumatera Selatan 97,78
DKI Jakarta 97,01
Jawa Barat 95,39
Jawa Tengah 94,13
Lampung 91,37
Jawa Timur Target Renstra 2016 : 74% 89,51
Bali 88,68
Kep. Bangka Belitung 87,87
Kalimantan Timur 85,98
Bengkulu 85,70
Sumatera Utara 84,78
Banten 84,52
Kalimantan Barat 83,86
Sulawesi Utara 83,46
Kalimantan Utara 82,07
Sulawesi Selatan 79,81
Kalimantan Tengah 79,14
Sumatera Barat 78,94
Aceh 78,34
Kepulauan Riau 77,64
Riau 76,16
Sulawesi Tengah 75,42
Gorontalo 75,40
Kalimantan Selatan 74,62
DI Yogyakarta 73,13
Sulawesi Tenggara 67,33
Sulawesi Barat 60,57
Maluku 59,67
Jambi 58,06
Papua Barat 55,18
Nusa Tenggara Timur 51,46
Papua 38,07
Maluku Utara 21,00
0 20 40 60 80 100
(%)

Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2017

Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan ibu hamil tidak
hanya dari sisi akses. Kualitas pelayanan yang diberikan juga harus ditingkatkan, di antaranya
pemenuhan semua komponen pelayanan kesehatan ibu hamil harus diberikan saat
kunjungan. Dalam hal ketersediaan sarana kesehatan, hingga bulan Desember 2016,
terdapat 9.767 puskesmas. Keberadaan puskesmas secara ideal harus didukung dengan
aksesibilitas yang baik. Hal ini tentu saja sangat berkaitan dengan aspek geografis dan
kemudahan sarana dan prasarana transportasi. Dalam mendukung penjangkauan terhadap
masyarakat di wilayah kerjanya, puskesmas juga sudah menerapkan konsep satelit dengan
menyediakan puskesmas pembantu. Data dan informasi lebih rinci menurut provinsi
mengenai pelayanan kesehatan ibu hamil K1 dan K4 terdapat pada Lampiran 5.1.

106 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


2. Pelayanan Imunisasi Tetanus Toksoid bagi Wanita Usia Subur dan Ibu
Hamil
Salah satu penyebab kematian ibu dan kematian bayi yaitu infeksi tetanus yang
disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani sebagai akibat dari proses persalinan yang tidak
aman/steril atau berasal dari luka yang diperoleh ibu hamil sebelum melahirkan. Clostridium
Tetani masuk melalui luka terbuka dan menghasilkan racun yang menyerang sistem syaraf
pusat.
Sebagai upaya mengendalikan infeksi tetanus yang merupakan salah satu faktor risiko
kematian ibu dan kematian bayi, maka dilaksanakan program imunisasi Tetanus Toksoid (TT)
bagi Wanita Usia Subur (WUS) dan ibu hamil. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 42 Tahun
2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi mengamanatkan bahwa wanita usia subur dan ibu
hamil merupakan salah satu kelompok populasi yang menjadi sasaran imunisasi lanjutan.
Imunisasi lanjutan adalah kegiatan yang bertujuan untuk melengkapi imunisasi dasar pada
bayi yang diberikan kepada anak Batita, anak usia sekolah, dan wanita usia subur termasuk
ibu hamil.
Wanita usia subur yang menjadi sasaran imunisasi TT adalah wanita berusia antara
15-49 tahun yang terdiri dari WUS hamil (ibu hamil) dan tidak hamil. Imunisasi lanjutan pada
WUS salah satunya dilaksanakan pada waktu melakukan pelayanan antenatal. Imunisasi TT
pada WUS diberikan sebanyak 5 dosis dengan interval tertentu, dimulai sebelum dan
atau saat hamil yang berguna bagi kekebalan seumur hidup. Interval pemberian imunisasi TT
dan lama masa perlindungan yang diberikan sebagai berikut.
a. TT2 memiliki interval minimal 4 minggu setelah TT1 dengan masa perlindungan 3 tahun.
b. TT3 memiliki interval minimal 6 bulan setelah TT2 dengan masa perlindungan 5 tahun.
c. TT4 memiliki interval minimal 1 tahun setelah TT3 dengan masa perlindungan 10 tahun.
d. TT5 memiliki interval minimal 1 tahun setelah TT4 dengan masa perlindungan 25 tahun.
Screening status imunisasi TT harus dilakukan sebelum pemberian vaksin. Pemberian
imunisasi TT tidak perlu dilakukan bila hasil screening menunjukkan wanita usia subur telah
mendapatkan imunisasi TT5 yang harus dibuktikan dengan buku KIA, rekam medis, dan atau
kohort. Kelompok ibu hamil yang sudah mendapatkan TT2 sampai dengan TT5 dikatakan
mendapatkan imunisasi TT2+. Gambar berikut menampilkan cakupan imunisasi TT5 pada
wanita usia subur dan cakupan imunisasi TT2+ pada ibu hamil.

Bab V KESEHATAN KELUARGA 107


GAMBAR 5.4
CAKUPAN IMUNISASI TT5 PADA WANITA USIA SUBUR DI INDONESIA
TAHUN 2016

Indonesia 4,79

Jawa Timur 23,97


Kep. Bangka Belitung 4,23
Bali 3,69
Jawa Tengah 3,63
Maluku 3,08
Aceh 2,20
Lampung 1,96
Jambi 1,95
Sulawesi Tengah 1,95
Sulawesi Barat 1,92
DI Yogyakarta 1,91
Banten 1,81
Sumatera Barat 1,68
Kalimantan Barat 1,63
Riau 1,58
Papua Barat 1,57
Kepulauan Riau 1,40
Kalimantan Timur 1,26
Nusa Tenggara Barat 1,22
Sumatera Selatan 1,09
Sulawesi Tenggara 1,03
Jawa Barat 1,03
Maluku Utara 1,01
Bengkulu 0,97
Nusa Tenggara Timur 0,87
DKI Jakarta 0,80
Kalimantan Selatan 0,73
Sulawesi Selatan 0,68
Papua 0,64
Kalimantan Utara 0,49
Gorontalo 0,49
Kalimantan Tengah 0,44
Sumatera Utara 0,25
Sulawesi Utara 0,25
0 10 20 30
(%)

Sumber: Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes RI, 2016

Pada gambar di atas dapat diketahui bahwa Provinsi Jawa Timur, Kepulauan Bangka
Belitung, dan Bali, memiliki capaian imunisasi TT5 pada WUS tertinggi di Indonesia sebesar
23,97%, 4,23%, dan 3,69%. Sedangkan provinsi dengan capaian terendah yaitu Sulawesi
Utara dan Sumatera Utara sebesar 0,25%, dan Kalimantan Tengah sebesar 0,44%.

108 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 5.5
CAKUPAN IMUNISASI TT2+ PADA IBU HAMIL DI INDONESIA
TAHUN 2016

Indonesia 65,28

Jawa Barat 102,14


Jambi 94,44
Kep. Bangka Belitung 91,03
Sumatera Selatan 89,65
DI Yogyakarta 82,69
Banten 79,92
Gorontalo 73,80
Nusa Tenggara Barat 73,29
Jawa Timur 71,43
Jawa Tengah 64,53
Sulawesi Selatan 61,94
Maluku Utara 61,24
Maluku 61,07
Sulawesi Tengah 61,01
Lampung 58,40
Sulawesi Utara 58,28
Sumatera Barat 57,31
Bali 56,78
Kepulauan Riau 56,31
Sulawesi Barat 55,65
Kalimantan Barat 53,98
Sulawesi Tenggara 53,50
Aceh 51,71
Bengkulu 49,22
Kalimantan Selatan 45,58
DKI Jakarta 40,83
Kalimantan Tengah 39,82
Riau 38,95
Nusa Tenggara Timur 35,83
Papua Barat 27,23
Kalimantan Timur 25,21
Papua 19,55
Kalimantan Utara 15,03
Sumatera Utara 13,43
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110

(%)

Sumber: Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes RI, 2016

Pada gambar di atas dapat diketahui bahwa Provinsi Jawa Barat, Jambi, dan
Kepulauan Bangka Belitung memiliki capaian imunisasi TT2+ pada ibu hamil tertinggi di
Indonesia masing-masing sebesar 102,14%, 94,44%, dan 91,03%. Sedangkan provinsi dengan
capaian terendah yaitu Sumatera Utara sebesar 13,43%, Kalimantan Utara sebesar 15,03%
dan Papua sebesar 19,55%. Informasi lebih rinci mengenai imunisasi TT pada wanita usia
subur dan ibu hamil dapat dilihat pada Lampiran 5.12 dan Lampiran 5.13.

3. Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin


Upaya lain yang dilakukan untuk menurunkan kematian ibu dan kematian bayi yaitu
dengan mendorong agar setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih yaitu

Bab V KESEHATAN KELUARGA 109


dokter spesialis kebidanan dan kandungan (SpOG), dokter umum, dan bidan, serta
diupayakan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan. Pertolongan persalinan adalah proses
pelayanan persalinan yang dimulai pada kala I sampai dengan kala IV persalinan.
Keberhasilan program ini diukur melalui indikator persentase persalinan di fasilitas
pelayanan kesehatan (cakupan PF).
Sejak tahun 2015, penekanan persalinan yang aman adalah persalinan ditolong
tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, Rencana Strategis
Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 menetapkan persalinan di fasilitas pelayanan
kesehatan sebagai salah satu indikator upaya kesehatan ibu, menggantikan pertolongan
persalinan oleh tenaga kesehatan.
Berikut ini disajikan gambaran cakupan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan
di 34 provinsi di Indonesia tahun 2015.

GAMBAR 5.6
CAKUPAN PERSALINAN DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

Indonesia 80,61

Nusa Tenggara Barat 100,02


DKI Jakarta 97,29
Kepulauan Riau 96,04
Jawa Tengah 95,06
Jawa Timur Target Renstra 216 : 77% 94,18
Bali 92,69
Jawa Barat 88,71
Lampung 86,48
Kep. Bangka Belitung 86,32
Kalimantan Timur 81,19
Sumatera Selatan 81,06
Sumatera Barat 79,64
Gorontalo 79,64
Aceh 78,53
Sulawesi Utara 78,48
Kalimantan Utara 76,70
Sumatera Utara 75,73
DI Yogyakarta 75,58
Banten 73,22
Sulawesi Selatan 71,78
Bengkulu 71,35
Sulawesi Tengah 64,93
Sulawesi Barat 64,88
Jambi 63,03
Nusa Tenggara Timur 60,24
Kalimantan Barat 60,15
Riau 59,87
Kalimantan Selatan 59,30
Papua Barat 47,74
Sulawesi Tenggara 47,64
Kalimantan Tengah 42,08
Papua 39,18
Maluku 25,71
Maluku Utara 17,79
0 20 40 60 80 100
(%)
Sumber : Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2016

110 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Gambar di atas menunjukkan bahwa terdapat 80,61% ibu hamil yang menjalani
persalinan dengan ditolong oleh tenaga kesehatan dan dilakukan difasilitas pelayanan
kesehatan di Indonesia. Secara nasional, indikator tersebut telah memenuhi target Renstra
sebesar 77%. Namun demikian masih terdapat 19 provinsi (55,9%) yang belum memenuhi
target tersebut. Provinsi NTB memiliki capaian tertinggi sebesar 100,02%, diikuti oleh DKI
Jakarta sebesar 97,29%, dan Kepulauan Riau sebesar 96,04%.
Sedangkan Provinsi Maluku Utara memiliki capaian terendah sebesar 17,79%, diikuti
oleh Maluku sebesar 25,71%, dan Papua sebesar 39,18%. Informasi lebih rinci mengenai
persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan dapat dilihat
pada Lampiran 5.1.
Analisis kematian ibu yang dilakukan Direktorat Bina Kesehatan Ibu pada tahun 2010
membuktikan bahwa kematian ibu terkait erat dengan penolong persalinan dan tempat/
fasilitas persalinan. Persalinan yang ditolong tenaga kesehatan terbukti berkontribusi
terhadap turunnya risiko kematian ibu. Demikian pula dengan tempat/fasilitas,
jika persalinan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan, juga akan semakin menekan risiko
kematian ibu.
Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan tetap konsisten dalam menerapkan
kebijakan bahwa seluruh persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan dan didorong
untuk dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan. Kebijakan Dana Alokasi Khusus (DAK)
Bidang Kesehatan menggariskan bahwa pembangunan puskesmas harus satu paket dengan
rumah dinas tenaga kesehatan. Demikian pula dengan pembangunan poskesdes yang harus
bisa sekaligus menjadi rumah tinggal bagi bidan di desa. Dengan disediakan rumah tinggal,
tenaga kesehatan termasuk bidan akan siaga di tempat tugasnya dan dapat memberikan
pertolongan persalinan setiap saat.
Untuk daerah dengan akses sulit, kebijakan Kementerian Kesehatan yaitu
mengembangkan program Kemitraan Bidan dan Dukun serta Rumah Tunggu Kelahiran.
Para dukun diupayakan bermitra dengan bidan dengan hak dan kewajiban yang jelas.
Pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan tidak lagi dikerjakan oleh dukun, namun
dirujuk ke bidan.
Bagi ibu hamil yang di daerah tempat tinggalnya tidak ada bidan atau jauh dari
fasilitas pelayanan kesehatan, maka menjelang hari taksiran persalinan diupayakan sudah
berada di dekat fasilitas pelayanan kesehatan, yaitu di Rumah Tunggu Kelahiran. Rumah
Tunggu Kelahiran tersebut dapat berupa rumah tunggu khusus yang dikembangkan melalui
pemberdayaan masyarakat maupun di rumah sanak saudara yang letak rumahnya
berdekatan dengan fasilitas pelayanan kesehatan.

Bab V KESEHATAN KELUARGA 111


4. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas
Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan pada ibu nifas sesuai
standar, yang dilakukan sekurang-kurangnya tiga kali sesuai jadwal yang dianjurkan,
yaitu pada enam jam sampai dengan tiga hari pasca persalinan, pada hari ke empat sampai
dengan hari ke-28 pasca persalinan, dan pada hari ke-29 sampai dengan hari ke-42 pasca
persalinan. Masa nifas dimulai dari enam jam sampai dengan 42 hari pasca persalinan.
Jenis pelayanan kesehatan ibu nifas yang diberikan terdiri dari :
a) pemeriksaan tanda vital (tekanan darah, nadi, nafas, dan suhu);
b) pemeriksaan tinggi puncak rahim (fundus uteri);
c) pemeriksaan lokhia dan cairan per vaginam lain;
d) pemeriksaan payudara dan pemberian anjuran ASI eksklusif;
e) pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kesehatan ibu nifas dan bayi
baru lahir, termasuk keluarga berencana;
f) pelayanan keluarga berencana pasca persalinan.
Gambar berikut menyajikan cakupan kunjungan nifas di Indonesia sejak tahun 2008
sampai dengan tahun 2015.

GAMBAR 5.7
CAKUPAN KUNJUNGAN NIFAS (KF3) DI INDONESIA
TAHUN 2008 2016
100,00
85,16 86,64 86,41
90,00 87,06
84,41
80,00
76,96
70,00 73,61

60,00
55,58
(%)

50,00

40,00

30,00

20,00
17,90
10,00

0,00
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2016

112 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Cakupan kunjungan nifas (KF3) di Indonesia menunjukkan kecenderungan
peningkatan dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2016. Namun demikian nampak adanya
penurunan cakupan KF3 pada tahun 2016, yaitu lebih rendah dibandingkan tahun 2015.
Penurunan tersebut disebabkan karena banyaknya faktor, yaitu penetapan sasaran
kabupaten/kota terlalu tinggi, kondisi geografi yang sulit di beberapa wilayah, belum
optimalnya koordinasi dan pelaporan antar kabupaten/kota dan provinsi, dan kurangnya
kesadaran dan pengetahuan ibu dan keluarga tentang pentingnya pemeriksaan kesehatan
pada saat nifas.
Capaian kunjungan nifas menurut provinsi di Indonesia terdapat pada gambar berikut
ini.
GAMBAR 5.8
CAKUPAN KUNJUNGAN NIFAS (KF3) DI INDONESIA MENURUT PROVINSI
TAHUN 2016

Indonesia 84,41

DKI Jakarta 94,65


Jambi 94,38
Jawa Tengah 94,30
Sumatera Selatan 94,02
Jawa Timur 93,76
Kepulauan Riau 93,30
Nusa Tenggara Barat 91,57
Jawa Barat 90,67
Kep. Bangka Belitung 89,42
Lampung 88,47
Banten 86,46
Bali 84,32
Bengkulu 83,21
Sulawesi Utara 82,28
Kalimantan Utara 80,58
Sulawesi Selatan 80,20
Kalimantan Timur 79,19
Kalimantan Barat 78,86
Sumatera Utara 78,63
Sumatera Barat 78,48
Kalimantan Selatan 78,33
Kalimantan Tengah 75,96
Sulawesi Barat 75,90
Riau 74,63
Gorontalo 72,63
Sulawesi Tenggara 72,27
DI Yogyakarta 72,10
Sulawesi Tengah 71,67
Aceh 70,34
Maluku 60,41
Nusa Tenggara Timur 59,20
Papua Barat 48,11
Papua 30,46

0 20 40 60 80 100
(%)
Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2016

Bab V KESEHATAN KELUARGA 113


Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui bahwa Provinsi DKI Jakarta memiliki
capaian tertinggi sebesar 94,65%, yang diikuti oleh Jambi sebesar 94,38%, dan Jawa Tengah
sebesar 94,3%. Sedangkan provinsi dengan cakupan kunjungan nifas terendah yaitu Papua
sebesar 30,46%, diikuti oleh Papua Barat sebesar 48,11%, dan Nusa Tenggara Timur sebesar
59,2%. Data dan informasi lebih rinci mengenai pelayanan ibu nifas tahun 2016 dapat dilihat
pada Lampiran 5.1.

5. Puskesmas Melaksanakan Kelas Ibu Hamil dan Program Perencanaan


Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K)
Sebagai upaya menurunkan kematian ibu dan kematian anak, Kementerian
Kesehatan menetapkan indikator persentase puskesmas melaksanakan kelas ibu hami dan
persentase puskesmas melaksanakan orientasi Program Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi (P4K).
Kelas ibu hamil ini merupakan sarana untuk belajar bersama tentang kesehatan bagi
ibu hamil, dalam bentuk tatap muka dalam kelompok yang bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu mengenai kehamilan, persalinan, nifas, KB pasca
persalinan, pencegahan komplikasi, perawatan bayi baru lahir dan aktivitas fisik atau senam
ibu hamil.
Kelas ibu hamil adalah kelompok belajar ibu-ibu hamil dengan jumlah peserta
maksimal 10 orang. Di kelas ini ibu-ibu hamil akan belajar bersama, diskusi dan tukar
pengalaman tentang kesehatan ibu dan anak (KIA) secara menyeluruh dan sistematis serta
dapat dilaksanakan secara terjadwal dan berkesinambungan. Kelas ibu hamil difasilitasi oleh
bidan/tenaga kesehatan dengan menggunakan paket Kelas Ibu Hamil yaitu Buku KIA, Flip
Chart (lembar balik), Pedoman Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil, dan Pegangan Fasilitator Kelas
Ibu Hamil.
Cakupan ini didapatkan dengan menghitung puskesmas yang telah melaksanakan
dibandingkan dengan seluruh puskesmas di wilayah kabupaten/kota. Puskesmas dikatakan
telah melaksanakan apabila telah melakukan kelas ibu hamil sebanyak 4 kali.

114 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 5.9
PUSKESMAS MELAKSANAKAN KELAS IBU HAMIL MENURUT PROVINSI
TAHUN 2016

Indonesia 90,73

Gorontalo 100,00
Sulawesi Tenggara 100,00
Sulawesi Selatan 100,00
Kalimantan Utara 100,00
Kalimantan Timur 100,00
Kalimantan Selatan 100,00
Nusa Tenggara Barat 100,00
Bali 100,00
Banten 100,00
Jawa Timur 100,00
DI Yogyakarta 100,00
Jawa Tengah 100,00
Jawa Barat 100,00
DKI Jakarta 100,00
Kepulauan Riau 100,00
Kep. Bangka Belitung 100,00
Lampung 100,00
Jambi 100,00
Sumatera Barat 100,00
Sumatera Selatan 98,76
Sulawesi Tengah 98,41
Sulawesi Utara 96,79
Kalimantan Barat 96,22
Kalimantan Tengah 93,85
Bengkulu 93,33
Aceh 84,96
Sumatera Utara 82,31
Riau 79,84
Maluku 72,36
Nusa Tenggara Timur 60,65
Sulawesi Barat 51,06
Maluku Utara 48,03
Papua Barat 39,07
Papua 35,11
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110
(%)

Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2016

Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui bahwa 19 Provinsi sudah mencapai


capaian 100%. Sedangkan provinsi dengan cakupan terendah yaitu Papua sebesar 35,11%,
diikuti oleh Papua Barat sebesar 39,07%, dan Maluku Utara sebesar 48,03%. Data dan
informasi lebih rinci mengenai puskesmas melaksanakan kelas ibu hamil dapat dilihat pada
Lampiran 5.2.
Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) merupakan suatu
program yang dijalankan untuk mencapai target penurunan AKI yaitu menekan angka
kematian ibu melahirkan. Program ini menitiberatkan fokus totalitas monitoring terhadap
ibu hamil dan bersalin.

Bab V KESEHATAN KELUARGA 115


Dalam pelaksanaan P4K, bidan diharapkan berperan sebagai fasiitator dan dapat
membangun komunikasi persuasif dan setara di wilayah kerjanya agar dapat terwujud
kerjasama dengan ibu, keluarga dan masyarakat sehingga pada akhirnya dapat
meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap upaya peningkatan kesehatan ibu dan bayi
baru lahir.
Indikator Puskesmas melaksanakan orientasi P4K menghitung Persentase Puskesmas
yang melaksanakan Orientasi Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi
(P4K). Adapun yang dimaksud orientasi tersebut adalah Pertemuan yang diselenggarakan
oleh Puskesmas dengan mengundang kader dan/ atau bidan desa dari seluruh desa yang ada
di wilayahnya dalam rangka pembekalan untuk meningkatkan peran aktif suami, keluarga,
ibu hamil serta masyarakat dalam merencanakan persalinan yang aman dan persiapan
menghadapai komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas.

GAMBAR 5.10
PUSKESMAS MELAKSANAKAN PROGRAM PERENCANAAN PERSALINAN DAN PENCEGAHAN
KOMPLIKASI (P4K) MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

Indonesia 89,75

Sulawesi Barat 100,00


Gorontalo 100,00
Sulawesi Tenggara 100,00
Sulawesi Tengah 100,00
Sulawesi Utara 100,00
Kalimantan Timur 100,00
Nusa Tenggara Barat 100,00
Bali 100,00
Banten 100,00
DI Yogyakarta 100,00
Jawa Barat 100,00
DKI Jakarta 100,00
Kepulauan Riau 100,00
Kep. Bangka Belitung 100,00
Jambi 100,00
Sumatera Barat 100,00
Jawa Tengah 99,66
Jawa Timur 98,33
Sumatera Selatan 97,52
Lampung 96,92
Sulawesi Selatan 95,76
Bengkulu 94,44
Kalimantan Barat 87,82
Kalimantan Tengah 87,18
Aceh 84,96
Kalimantan Utara 83,67
Maluku Utara 82,68
Riau 81,89
Maluku 70,85
Nusa Tenggara Timur 69,81
Kalimantan Selatan 67,83
Sumatera Utara 64,27
Papua 56,74
Papua Barat 6,62
0 20 40 60 80 100 120
(%)
Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2016

116 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui bahwa 16 Provinsi sudah mencapai
capaian 100%. Sedangkan provinsi dengan cakupan terendah yaitu Papua Barat sebesar
6,62%, diikuti oleh Papua sebesar 56,74%, dan Sumatera Utara sebesar 64,27%. Data dan
informasi lebih rinci mengenai puskesmas melaksanakan kelas ibu hamil dapat dilihat pada
Lampiran 5.2.

6. Pelayanan Kontrasepsi
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2014 tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Keluarga Berencana,
dan Sistem Informasi Keluarga menyebutkan bahwa program keluarga berencana (KB)
adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur
kehamilan, melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk
mewujudkan keluarga yang berkualitas.
Dalam pelaksanaannya, sasaran pelaksanaan program KB yaitu Pasangan Usia Subur
(PUS). Pasangan Usia Subur (PUS) adalah pasangan suami-istri yang terikat dalam
perkawinan yang sah, yang istrinya berumur antara 15 sampai dengan 49 tahun.
KB merupakan salah satu strategi untuk mengurangi kematian ibu khususnya ibu
dengan kondisi 4T yaitu Terlalu muda melahirkan (di bawah usia 20 tahun), Terlalu sering
melahirkan, Terlalu dekat jarak melahirkan, dan Terlalu tua melahirkan (di atas usia 35
tahun). Selain itu, program KB juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas keluarga agar
dapat timbul rasa aman, tentram, dan harapan masa depan yang lebih baik dalam
mewujudkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin.
KB juga merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk meningkatkan
ketahanan keluarga, kesehatan, dan keselamatan ibu, anak, serta perempuan. Pelayanan KB
meliputi penyediaan informasi, pendidikan, dan cara-cara bagi keluarga untuk dapat
merencanakan kapan akan mempunyai anak, berapa jumlah anak, berapa tahun jarak usia
antara anak, serta kapan akan berhenti mempunyai anak.
Melalui tahapan konseling pelayanan KB, Pasangan Usia Subur (PUS) dapat
menentukan pilihan kontrasepsi sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya berdasarkan
informasi yang telah mereka pahami, termasuk keuntungan dan kerugian, serta risiko
metode kontrasepsi dari petugas kesehatan. Untuk selanjutnya, diharapkan Pasangan Usia
Subur (PUS) menggunakan alat kontrasepsi tersebut dengan benar.
Pengertian Pasangan Usia Subur (PUS) Peserta KB dibagi menjadi dua yaitu Peserta
KB Aktif dan Peserta KB Baru. Peserta KB Aktif adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang saat
ini menggunakan salah satu alat kontrasepsi tanpa diselingi kehamilan. Peserta KB Baru
adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang baru pertama kali menggunakan alat/cara
kontrasepsi dan atau pasangan usia subur yang kembali menggunakan metode kontrasepsi
setelah melahirkan/keguguran.

Bab V KESEHATAN KELUARGA 117


GAMBAR 5.11
CAKUPAN PESERTA KB BARU DAN KB AKTIF MENURUT JENIS KONTRASEPSI TAHUN 2016
60 51,53
47,96

40
(%) 23,17 22,81
20 11,37 11,20 10,61
7,23 4,78
1,73 0,18 3,23 3,54 0,64
0
KB Baru KB Aktif
Suntikan Pil Implan IUD Kondom MOW MOP
Sumber : Statistik Rutin Desember 2016, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2017

Peserta KB Baru dan KB Aktif menunjukkan pola yang sama dalam pemilihan jenis alat
kontrasepsi seperti yang disajikan pada gambar di atas. Sebagian besar Peserta KB Baru
maupun Peserta KB Aktif memilih suntikan dan pil sebagai alat kontrasepsi. Namun demikian
perlu diperhatikan tingkat efektifitas suntikan dan pil dalam pengendalian kehamilan
dibandingkan jenis kontrasepsi lainnya.
GAMBAR 5.12
CAKUPAN PESERTA KB AKTIF DI INDONESIA TAHUN 2016

Indonesia 74,80
Maluku Utara 87,03
Kep. Bangka Belitung 83,92
Sulawesi Utara 83,84
Papua Barat 81,01
Bali 80,98
Kepulauan Riau 79,83
Bengkulu 79,64
Gorontalo 79,28
Jawa Tengah 78,64
DI Yogyakarta 78,58
Sulawesi Tengah 78,24
Kalimantan Tengah 78,14
Jambi 78,09
Sumatera Selatan 77,65
Kalimantan Selatan 76,99
Jawa Timur 76,83
Aceh 76,26
Jawa Barat 74,88
Sulawesi Barat 74,77
Nusa Tenggara Barat 74,75
Banten 72,82
Sulawesi Selatan 72,30
Lampung 71,93
Sumatera Utara 71,63
Riau 71,62
Sulawesi Tenggara 71,55
Kalimantan Barat 70,86
Maluku 69,19
Kalimantan Timur 69,07
DKI Jakarta 67,46
Sumatera Barat 63,73
Nusa Tenggara Timur 63,24
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110
(%)
Sumber: Statistik Rutin Desember 2016, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2017

118 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Persentase peserta KB aktif terhadap pasangan usia subur di Indonesia pada tahun
2016 sebesar 74,8%. Tiga provinsi yang memiliki persentase tertinggi yaitu Maluku Utara
sebesar 87,03%, Kepulauan Bangka Belitung sebesar 83,92%, dan Sulawesi Utara sebesar
83,84%. Sedangkan capaian terendah terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar
63,24%, Sumatera Barat sebesar 63,73%, dan DKI Jakarta sebesar 67,46%.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan, pemerintah wajib menjamin ketersediaan sarana informasi dan sarana pelayanan
kesehatan reproduksi yang aman, bermutu, dan terjangkau masyarakat, termasuk keluarga
berencana. Pelayanan kesehatan dalam keluarga berencana dimaksudkan untuk pengaturan
kehamilan bagi pasangan usia subur untuk membentuk generasi penerus yang sehat dan
cerdas. Pasangan Usia Subur bisa mendapatkan pelayanan kontrasepsi di tempat-tempat
yang melayani program KB. Gambaran mengenai tempat pelayanan KB di Indonesia dapat
dilihat pada Gambar 5.16 berikut ini.

GAMBAR 5.13
PERSENTASE TEMPAT PELAYANAN KB DI INDONESIA
TAHUN 2016

Jejaring
Lainnya; 12,15
Faskes KB
Pemerintah;
Faskes KB
16,66
Swasta; 5,77

Praktek
Praktek Bidan Dokter; 12,99
Mandiri;
52,43

Sumber : Statistik Rutin Desember 2016, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional, 2017

Dari sisi ketersediaan jenis tempat pelayanan KB menunjukkan bahwa sebagian besar
adalah praktek bidan mandiri. Fasilitas KB ini memiliki proporsi yang sangat besar (52,43%).
Sedangkan fasilitas KB milik pemerintah memiliki persentase sebesar 16,66%. Pemerintah
melalui BKKBN dan Kementerian Kesehatan bertanggungjawab terhadap semua jenis fasilitas
KB tersebut, tidak hanya kepada fasilitas KB milik pemerintah saja. Hal ini merupakan salah
satu tantangan yang dihadapi dalam implementasi program KB.

Bab V KESEHATAN KELUARGA 119


Meskipun secara jumlah fasilitas milik pemerintah lebih sedikit dibandingkan praktek
bidan mandiri, namun sebagian besar peserta KB baru (58,93%) lebih memilih fasilitas milik
pemerintah sebagai tempat untuk mendapatkan layanan KB. Dengan tingginya tingkat
pemanfaatan masyarakat terhadap fasilitas milik pemerintah maka hal ini bisa menjadi
peluang bagi BKKBN dan Kementerian Kesehatan untuk lebih mengendalikan
penyelenggaraan program KB.
Dari seluruh pasangan usia subur yang menjadi sasaran program KB, terdapat
sebagian yang memutuskan untuk tidak memanfaatkan program tersebut dengan berbagai
alasan di antaranya ingin menunda memiliki anak atau tidak ingin memiliki anak lagi.
Kelompok PUS ini disebut sebagai unmet need. Persentase PUS yang merupakan kelompok
unmet need di Indonesia sebesar 12,77%. Dari seluruh PUS yang memutuskan tidak
memanfaatkan program KB, sebanyak 6,22% beralasan ingin menunda memiliki anak,
dan sebanyak 6,55% beralasan tidak ingin memiliki anak lagi.

GAMBAR 5.14
PERSENTASE PUS BUKAN PESERTA KB (UNMET NEED) DI INDONESIA TAHUN 2016

Indonesia 12,77

Papua 31,09
Nusa Tenggara Timur 20,16
Sumatera Barat 18,54
Maluku 18,45
Kalimantan Timur 18,43
Sulawesi Tenggara 18,39
Riau 17,86
DKI Jakarta 16,93
Lampung 15,54
Kalimantan Barat 15,17
Sumatera Utara 14,86
Banten 14,48
Aceh 14,08
Sulawesi Selatan 13,66
Kalimantan Selatan 13,17
Jawa Barat 12,93
Nusa Tenggara Barat 12,78
Sulawesi Barat 12,46
Sulawesi Tengah 12,41
Kalimantan Tengah 11,92
Sumatera Selatan 11,78
Kepulauan Riau 11,67
Jambi 11,67
Bengkulu 11,59
Jawa Tengah 9,96
Gorontalo 9,77
Papua Barat 9,69
Jawa Timur 9,60
Sulawesi Utara 9,02
Kep. Bangka Belitung 8,71
DI Yogyakarta 8,01
Maluku Utara 7,90
Bali 5,69
0 5 10 15 20 25 30 35
(%)

Sumber: Statistik Rutin Desember 2016, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2017

120 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Semakin rendah angka unmet need dapat mengindikasikan keberhasilan
penyelenggaraan program KB. Provinsi Bali memiliki persentase unmet need terendah
sebesar 5,69%, diikuti oleh Maluku Utara sebesar 7,9%, dan DI Yogyakarta sebesar 8,01%.
Sedangkan Provinsi Papua memiliki angka unmet need tertinggi sebesar 31,09%, diikuti oleh
Nusa Tenggara Timur sebesar 20,16%, dan Sumatera Barat sebesar 18,54%. Gambaran lebih
rinci mengenai pelaksanaan program KB menurut provinsi di Indonesia terdapat pada
Lampiran 5.5 sampai dengan Lampiran 5.11.

7. Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia


Indonesia termasuk negara berpenduduk struktur tua, karena persentase penduduk
lanjut usia yang telah mencapai di atas 7% dari total penduduk. Keadaan ini berkaitan
dengan adanya perbaikan kualitas kesehatan dan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Struktur penduduk yang menua tersebut, selain merupakan salah satu indikator keberhasilan
pencapaian pembangunan manusia secara nasional, sekaligus juga merupakan tantangan
dalam pembangunan.
Keberhasilan pembinaan kesehatan dengan pendekatan siklus hidup yang dimulai
sejak dari seorang ibu mempersiapkan kehamilannya, sampai bayi lahir, balita, anak usia
sekolah dan remaja, dewasa, dan pra lanjut usia, akan sangat menentukan kuantitas dan
kualitas kehidupan dan kesehatan lanjut usia. Bila pelayanan kesehatan di semua tahapan
siklus hidup dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan bahwa kualitas kehidupan di
masa lanjut usia akan menjadi lebih tinggi.
Dengan bertambahnya usia, fungsi fisiologis mengalami penurunan akibat proses
degeneratif (penuaan), sehingga penyakit tidak menular banyak muncul pada lanjut usia.
Selain itu proses degeneratif menurunkan daya tahan tubuh sehingga rentan terkena infeksi
penyakit menular.
Penyakit terbanyak pada lanjut usia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013
adalah hipertensi (57,6%), artritis (51,9%), stroke (46,1%), masalah gigi dan mulut (19,1%),
penyakit paru obstruktif menahun (8,6%) dan diabetes mellitus (4,8%). Sementara itu
dengan bertambahnya usia, gangguan fungsional akan meningkat dengan ditunjukkan
terjadinya disabilitas. Dilaporkan bahwa disabilitas ringan yang diukur berdasarkan
kemampuan melakukan aktivitas hidup sehari-hari atau Activity of Daily Living (ADL) dialami
sekitar 51% lanjut usia,dengan distribusi prevalensi sekitar 51% pada usia 55-64 tahun dan
62% pada usia 65 ke atas; disabilitas berat dialami sekitar 7 % pada usia 55-64 tahun, 10%
pada usia 6574 tahun, dan 22 % pada usia 75 tahun ke atas.
Pada dasarnya penyakit yang diderita lanjut usia jarang dengan diagnosis tunggal,
melainkan hampir selalu multidiagnosis (Sumber Riskesdas 2013). Sekitar 34,6% lanjut usia
menderita satu penyakit, sekitar 28% dengan 2 (dua) penyakit, sekitar 14,6% dengan 3 (tiga)

Bab V KESEHATAN KELUARGA 121


penyakit, sekitar 6,2% dengan 4 (empat) penyakit, sekitar 2,3% dengan 5 (lima) penyakit,
sekitar 0,8% dengan 6 (enam) penyakit, dan sisanya dengan tujuh penyakit atau lebih.
Lanjut usia sehat berkualitas, mengacu pada konsep Active Ageing WHO yaitu proses
penuaan yang tetap sehat secara fisik, sosial dan jiwa sehingga dapat tetap sejahtera
sepanjang hidup dan berpartisipasi dalam rangka meningkatkan kualitas hidup sebagai
anggota masyarakat. Sementara pemerintah juga harus memfasilitasi dengan menyediakan
fasilitas dan perlindungan yang memadai, keamanan, serta perawatan ketika dibutuhkan.
Pelaksanaannya di Indonesia diterjemahkan dalam bentuk pelayanan kesehatan
santun lanjut usia baik di fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun fasilitas kesehatan
rujukan tingkat lanjutan. Pemberian pelayanan kesehatan kepada lanjut usia dilakukan
mengacu kepada hasil penapisan dan pengelompokan berdasarkan status fungsional,
dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu :
1) lanjut usia mandiri/ketergantungan ringan;
2) lanjut usia dengan ketergantungan sedang; dan
3) lanjut usia dengan ketergantungan berat dan total.
Setiap kelompok mendapat intervensi program tertentu. Kelompok lanjut usia
mandiri dan lanjut usia dengan ketergantungan ringan, mengikuti kegiatan di kelompok
lanjut usia secara aktif. Untuk lanjut usia dengan ketergantungan sedang, dan lanjut usia
dengan ketergantungan berat dan total mendapatkan intervensi program layanan home care
atau dirujuk ke puskesmas/rumah sakit. Pelayanan kesehatan yang diberikan baik di fasilitas
pelayanan kesehatan tingkat pertama, maupun fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan
akan disesuaikan dengan kebutuhan kondisi kesehatan lanjut usia sesuai pengelompokan
tersebut di atas. Khusus untuk lanjut usia yang sehat harus diberdayakan agar dapat tetap
sehat dan mandiri selama mungkin.
Berdasarkan hasil Risfaskes 2011, diperoleh data bahwa jumlah Puskesmas yang
melaksanakan program pelayanan kesehatan komprehensif bervariasi antar provinsi, dengan
angka rata-rata nasional sekitar 42,3%, dan proporsi tertinggi ditemukan di Provinsi DIY yaitu
71,9%. Khusus untuk pelayanan kesehatan pada lanjut usia, yang dimaksud dengan
pelayanan kesehatan komprehensif adalah pelayanan kesehatan secara promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif yangdilaksanakan mulai dari tingkat keluarga dan masyarakat
(Poksila dan home care), sampai ke fasilitas kesehatan tingkat pertama dan fasilitas
kesehatan rujukan tingkat lanjutan.
Berdasarkan data Direktorat Bina Upaya Kesehatan Dasar tahun 2015, jumlah
puskesmas yang telah melaksanakan pelayanan kesehatan santun lanjut usia adalah 824
puskesmas atau sekitar 10% dari jumlah puskesmas seluruhnya. Pada tahun 2016, jumlah
puskesmas yang melaksanakan pelayanan kesehatan yang santun lansia sebesar 2.432
puskesmas atau sebesar 24,84 dari jumlah Puskesmas seluruhnya. Capaian ini sudah
memenuhi target Renstra Kemenkes sebesar 20%.

122 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Untuk pelayanan di masyarakat, Kelompok Lanjut Usia yang dibina oleh puskesmas,
mencapai 76.547 Kelompok dan tersebar di semua provinsi. Pada tingkat pelayanan
kesehatan rujukan, rumah sakit rujukan dengan Klinik Geriatri Terpadu terdapat di 10 rumah
sakit di 8 provinsi yaitu DKI Jakarta (RSCM), Jawa Barat (RS Hasan Sadikin-Bandung), Jawa
Tengah (RSUP Karyadi-Semarang dan RSUD Moewardi-Solo), Yogyakarta (RSUD Sardjito),
Jawa Timur (RSUD Soetomo-Surabaya dan RSU Syaiful Anwar-Malang), Bali (RSUP Sanglah-
Denpasar), Sulawesi Selatan (RSUP Wahidin-Makasar) dan Sumatera Utara (RSUP Adam
Malik-Medan). Beberapa rumah sakit lain telah mulai berproses untuk memiliki poliklinik
khusus geriatri.
Mengingat penanganan pasien geriatri sangat kompleks, maka dibutuhkan Pelayanan
Kesehatan Geriatri Komprehensif (preventif, promotif, kuratif, rehabilitatif dan paliatif)
dengan pendekatan holistik oleh tim terpadu. Pelayanan tersebut diselenggarakan secara
berjenjang (Geriatric Health Continuum Care), mulai dari pelayanan kesehatan berbasis
masyarakat, pelayanan kesehatan dasar dan rujukan. Untuk meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan lanjut usia di fasilitas kesehatan telah diterbitkan Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 79 tahun 2014 tentang Pelayanan Geriatri di Rumah Sakit dan Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 67 tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Kesehatan Lanjut Usia di
puskesmas.
Perencanaan pelayanan kesehatan harus dirancang berdasarkan kondisi lanjut usia
dan pola pelayanan yang dibutuhkan, mengacu pada pilihan sarana pelayanan kesehatan
yang diakses lanjut usia dalam mencari pengobatan. Data lanjut usia dengan tempat berobat
menunjukkan bahwa proporsi terbesar (33,71%) berobat ke tenaga kesehatan, diikuti
dengan yang berobat ke praktek dokter 31,70%, ke puskesmas/pustu 27,05%, ke rumah sakit
pemerintah 7,83% dan rumah sakit swasta 5,12% (Susenas 2014).
Sebagai sasaran pelayanan kesehatan, yang harus diperhatikan pada lanjut usia
adalah bahwa penyakit kronis dan kecacatan di usia tua mempengaruhi kualitas hidup secara
keseluruhan dan merupakan tantangan bagi keluarga, masyarakat dan pemerintah secara
nasional. Oleh karena itu, perlu dilakukan intervensi sejak dini sesuai dengan tahapan siklus
hidup, agar ketika memasuki masa lanjut usia, mereka tidak sakit-sakitan, lemah, dan kurang
mandiri.
Untuk mewujudkan lanjut usia sehat berkualitas, harus dilakukan pembinaan
kesehatan sedini mungkin dan selama siklus hidup manusia sampai memasuki masa lanjut
usia dengan meminimalkan faktor risiko yang harus dihindari dan memaksimalkan faktor
protektif yang dapat melindungi dan meningkatkan status kesehatan.
Salah satu upaya untuk memberdayakan lanjut usia di masyarakat adalah melalui
pembentukan dan pembinaan Kelompok Lanjut Usia yangdi beberapa daerah disebut
dengan Kelompok Usia Lanjut (Poksila), Pos Pelayanan Terpadu Lanjut Usia (Posyandu
Lansia) atau Pos Pembinaan Terpadu Lanjut Usia (Posbindu Lansia). Pelaksanaan Kelompok

Bab V KESEHATAN KELUARGA 123


Lanjut Usia ini, selain mendorong peran aktif masyarakat, dan Lembaga Swadaya
Masyarakat, juga harus melibatkan lintas sektor terkait.

B. KESEHATAN ANAK
Upaya pemeliharaan kesehatan anak ditujukan untuk mempersiapkan generasi akan
datang yang sehat, cerdas, dan berkualitas serta untuk menurunkan angka kematian anak.
Upaya pemeliharaan kesehatan anak dilakukan sejak janin masih dalam kandungan,
dilahirkan, setelah dilahirkan, dan sampai berusia 18 tahun.
Dengan upaya kesehatan anak antara lain diharapkan mampu menurunkan angka
kematian anak. Indikator angka kematian yang berhubungan dengan anak yakni Angka
Kematian Neonatal (AKN), Angka Kematian Bayi (AKB), dan Angka Kematian Balita (AKABA).
Perhatian terhadap upaya penurunan angka kematian neonatal (0-28 hari) menjadi penting
karena kematian neonatal memberi kontribusi terhadap 59% kematian bayi. Berdasarkan
hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka Kematian
Neonatus (AKN) pada tahun 2012 sebesar 19 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini sama
dengan AKN berdasarkan SDKI tahun 2007 dan hanya menurun 1 poin dibanding SDKI tahun
2002-2003 yaitu 20 per 1.000 kelahiran hidup.

GAMBAR 5.15
TREN ANGKA KEMATIAN NEONATAL, BAYI, DAN BALITA
TAHUN 1991 2015

Sumber: SDKI tahun 1991-2012, SUPAS tahun 2015

124 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015 menunjukkan AKB sebesar 22,23
per 1.000 kelahiran hidup, yang artinya sudah mencapai target MDG 2015 sebesar 23 per
1.000 kelahiran hidup. Begitu pula dengan Angka Kematian Balita (AKABA) hasil SUPAS 2015
sebesar 26,29 per 1.000 kelahiran hidup, juga sudah memenuhi target MDG 2015 sebesar 32
per 1.000 kelahiran hidup.
Data dan informasi yang akan disajikan berikut ini menerangkan berbagai indikator
kesehatan anak yang meliputi: penanganan komplikasi neonatal, pelayanan kesehatan
neonatal, imunisasi dasar, pelayanan kesehatan pada siswa SD/setingkat, dan pelayanan
kesehatan peduli remaja.

1. Pelayanan Kesehatan Neonatal


Neonatus adalah bayi baru lahir sampai dengan usia 28 hari. Pada masa tersebut
terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan di dalam rahim dan terjadi pematangan
organ hampir pada semua sistem. Bayi hingga usia kurang satu bulan merupakan golongan
umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi dan berbagai masalah kesehatan
bisa muncul. Sehingga tanpa penanganan yang tepat, bisa berakibat fatal. Beberapa upaya
kesehatan dilakukan untuk mengendalikan risiko pada kelompok ini di antaranya dengan
mengupayakan agar persalinan dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan
serta menjamin tersedianya pelayanan kesehatan sesuai standar pada kunjungan bayi baru
lahir.
Cakupan Kunjungan Neonatal Pertama atau KN1 merupakan indikator yang
menggambarkan upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko kematian pada
periode neonatal yaitu 6-48 jam setelah lahir yang meliputi antara lain kunjungan
menggunakan pendekatan Manajemen Terpadu Balita Muda (MTBM) termasuk konseling
perawatan bayi baru lahir, ASI eksklusif, pemberian vitamin K1 injeksi dan Hepatitis B0 injeksi
bila belum diberikan.
Capaian KN1 Indonesia pada tahun 2016 sebesar 91,14% lebih tinggi dari tahun 2015
yaitu sebesar 83,67%. Capaian ini sudah memenuhi target Renstra tahun 2016 yang sebesar
78%. Sejumlah 26 provinsi (71%) yang telah memenuhi target tersebut. Cakupan indikator
kunjungan neonatal pertama menurut provinsi dapat dilihat pada Gambar 5.16.
Hasil capaian nasional per provinsi masih terdapat disparitas Cakupan KN1. Disparitas
terbesar terjadi di 4 provinsi dengan cakupan KN1 terkecil yaitu Papua, Papua Barat, Maluku,
Maluku Utara. Beberapa provinsi mendapatkan cakupan lebih dari 100% dikarenakan data
sasaran BPS lebih rendah dibandingkan dengan data sasaran riil yang didapatkan.

Bab V KESEHATAN KELUARGA 125


GAMBAR 5.16
CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL PERTAMA (KN1)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

INDONESIA 91,14

Kepulauan Riau 104,66


Jawa Tengah 100,29
Sumatera Selatan 100,24
DKI Jakarta 100,14
Jambi 100,02
Jawa Timur 99,20
Jawa Barat 98,80
Kalimantan Timur 97,30
Bali 97,26
Nusa Tenggara Barat 97,10
Lampung 95,52
Kepulauan Bangka Belitung 95,46
Banten 94,10
Bengkulu 92,40
Kalimantan Barat 87,41
Sumatera Utara 87,26
Sulawesi Selatan 86,50
Kalimantan Selatan 85,65
Kalimantan Utara 85,47
Aceh 85,28
Gorontalo 84,84
Sumatera Barat 84,51
Kalimantan Tengah 82,60
Sulawesi Tenggara 79,26
D I Yogyakarta 78,88
Sulawesi Utara 78,74
Riau 77,50
Sulawesi Barat 69,33
Target
Sulawesi Tengah Renstra 2016
67,92
: 78%
Nusa Tenggara Timur 65,63
Papua 49,49
Papua Barat 34,45
Maluku 26,69
Maluku Utara 19,15

0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00

Sumber : Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2017

2. Imunisasi
Dalam Undang - Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 dinyatakan bahwa setiap
anak berhak memperoleh imunisasi dasar sesuai dengan ketentuan untuk mencegah
terjadinya penyakit yang dapat dihindari melalui imunisasi dan pemerintah wajib
memberikan imunisasi lengkap kepada setiap bayi dan anak. Penyelenggaraan imunisasi
tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 42 Tahun 2013.

126 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan
seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit tertentu, sehingga bila suatu saat terpapar
dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan. Beberapa
penyakit menular yang termasuk ke dalam Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi
(PD3I) antara lain TBC, Difteri, Tetanus, Hepatitis B, Pertusis, Campak, Polio, radang selaput
otak, dan radang paru-paru. Anak yang telah diberi imunisasi akan terlindungi dari berbagai
penyakit berbahaya tersebut, yang dapat menimbulkan kecacatan atau kematian. Imunisasi
merupakan salah satu intervensi kesehatan yang terbukti paling cost-effective (murah),
karena dapat mencegah dan mengurangi kejadian kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat
PD3I yang diperkirakan 2 hingga 3 juta kematian tiap tahunnya.
Proses perjalanan penyakit diawali ketika virus/bakteri/protozoa/jamur, masuk ke
dalam tubuh. Setiap makhluk hidup yang masuk ke dalam tubuh manusia akan dianggap
benda asing oleh tubuh atau yang disebut dengan antigen. Secara alamiah sistem kekebalan
tubuh akan membentuk zat anti yang disebut antibodi untuk melumpuhkan antigen. Pada
saat pertama kali antibodi berinteraksi dengan antigen, respon yang diberikan tidak terlalu
kuat. Hal ini disebabkan antibodi belum mengenali antigen. Pada interaksi antibodi-antigen
yang kedua dan seterusnya, sistem kekebalan tubuh sudah mengenali antigen yang masuk ke
dalam tubuh, sehingga antibodi yang terbentuk lebih banyak dan dalam waktu yang lebih
cepat.
Proses pembentukan antibodi untuk melawan antigen secara alamiah disebut
imunisasi alamiah. Sedangkan program imunisasi melalui pemberian vaksin merupakan
upaya menstimulasi sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi dalam upaya
melawan penyakit tertentu dengan melumpuhkan antigen yang telah dilemahkan yang
berasal dari vaksin.
Program imunisasi merupakan salah satu upaya untuk memberikan perlindungan
kepada penduduk terhadap penyakit tertentu. Program imunisasi diberikan kepada populasi
yang dianggap rentan terjangkit penyakit menular, yaitu bayi, balita, anak-anak, wanita usia
subur, dan ibu hamil.

a. Imunisasi Dasar pada Bayi


Penentuan jenis imunisasi didasarkan atas kajian ahli dan analisis epidemiologi atas
penyakit-penyakit yang timbul. Di Indonesia, program imunisasi mewajibkan setiap bayi (usia
0-11 bulan) mendapatkan imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari 1 dosis Hepatitis B, 1
dosis BCG, 3 dosis DPT-HB-Hib, 4 dosis polio, dan 1 dosis campak. Dari imunisasi dasar
lengkap yang diwajibkan tersebut, campak menjadi salah satu jenis imunisasi yang mendapat
perhatian lebih, hal ini sesuai dengan komitmen Indonesia pada global untuk turut serta
dalam eliminasi campak pada tahun 2020 dengan mencapai cakupan campak minimal 95% di
semua wilayah secara merata. Hal ini terkait dengan realita bahwa campak menjadi salah
satu penyebab utama kematian pada balita. Dengan demikian pencegahan campak memiliki

Bab V KESEHATAN KELUARGA 127


peran signifikan dalam penurunan angka kematian balita. Tren Cakupan Campak di Indonesia
cenderung menurun meskipun tetap berusaha mencapai target sebesar 95% seperti yang
disajikan pada Gambar 5.17 berikut.

GAMBAR 5.17
PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI CAMPAK PADA BAYI DI INDONESIA
TAHUN 2007-2016

99,3
100 96,6 95,8 94,6
92,09 93,61 92,3 93,0
89,8 90,5

81,6 82,1
80
74,4

60
%

40

20

0
2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Cakupan Im. Campak Program Cakupan Im. campak Riskesdas Target WHO (90%)

Sumber : Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes RI, 2017

Indonesia memiliki cakupan imunisasi campak program di atas 90% sejak tahun 2008.
Tahun 2016 sedikit meningkat dari tahun 2015, yaitu sebesar 93,0%. Menurut provinsi,
terdapat sebelas provinsi yang telah berhasil mencapai target 95%. Pada gambar di bawah
dapat diketahui bahwa seluruh bayi di Provinsi Sumatera Selatan, Jambi, Nusa Tenggara
Barat, dan Jawa Tengah telah mendapatkan imunisasi campak. Sedangkan provinsi dengan
cakupan terendah yaitu Kalimantan Utara sebesar 57,8%, Papua 63,5% dan Aceh 73,5%.

128 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 5.18
PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI CAMPAK PADA BAYI MENURUT PROVINSI
TAHUN 2016

INDONESIA 93,0

Sumatera Selatan 106,1


Jambi 102,4
Nusa Tenggara Barat 102,2
Jawa Tengah 102,2
Lampung 99,8
Bali 99,1
DI Yogyakarta 96,7
Jawa Timur 96,5
DKI Jakarta 96,3
Kep. Bangka Belitung 95,3
Jawa Barat 95,0
Banten 93,3
Sulawesi Selatan 93,1
Sumatera Utara 92,0
Bengkulu 87,6
Kalimantan Timur 87,0
Kepulauan Riau 86,7
Kalimantan Barat 86,3
Sulawesi Tengah 86,0
Kalimantan Tengah 84,8
Papua Barat 83,4
Kalimantan Selatan 83,1
Sulawesi Barat 82,5
Sulawesi Tenggara 81,9
Sulawesi Utara 81,5
Riau 80,3
Sumatera Barat 79,7
Gorontalo 78,5
Maluku 78,4
Maluku Utara 77,3
Nusa Tenggara Timur 73,6
Aceh 73,5
Papua 63,5
Kalimantan Utara 57,8

0,0 20,0 40,0 60,0 80,0 100,0 120,0

Sumber : Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes RI, 2017

b. Imunisasi Lengkap pada Bayi


Program imunisasi pada bayi bertujuan agar setiap bayi mendapatkan imunisasi dasar
secara lengkap. Keberhasilan seorang bayi dalam mendapatkan imunisasi dasar tersebut
diukur melalui indikator imunisasi dasar lengkap. Capaian indikator ini di Indonesia pada
tahun 2016 sebesar 91,58%. Capaian ini lebih besar dari capaian tahun 2015 sebesar 86,54%.
Angka ini mencapai target Renstra tahun 2016 sebesar 91,5%. Sedangkan menurut provinsi,
terdapat dua belas provinsi yang mencapai target Renstra tahun 2016.

Bab V KESEHATAN KELUARGA 129


GAMBAR 5.19
CAKUPAN IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA BAYI
MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

INDONESIA 91,58

Sumatera Selatan 105,25


DKI Jakarta 102,82
Jawa Tengah 101,38
Jambi 100,83
Nusa Tenggara Barat 100,07
Bali 98,97
Lampung 98,61
Jawa Timur 98,12
DI Yogyakarta 96,39
Kep. Bangka Belitung 93,99
Jawa Barat 92,21
Sulawesi Selatan 91,88
Banten 90,29
Sumatera Utara 89,20
Kalimantan Timur 85,77
Kepulauan Riau 85,05
Kalimantan Selatan 84,23
Sulawesi Tengah 83,91
Papua Barat 83,88
Bengkulu 82,86
Kalimantan Barat 82,76
Riau 81,70
Sulawesi Barat 80,81 Target
Kalimantan Tengah 80,32 Renstra
Sulawesi Tenggara 79,00 2016: 91,5 %
Sulawesi Utara 78,41
Sumatera Barat 77,57
Maluku Utara 75,30
Gorontalo 74,55
Nusa Tenggara Timur 69,29
Aceh 69,11
Maluku 67,56
Papua 59,99
Kalimantan Utara 56,08

0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00

Sumber : Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes RI, 2017

Pada gambar di atas dapat diketahui bahwa seluruh bayi di Provinsi Sumatera
Selatan, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jambi, dan Nusa Tenggara Barat telah mendapatkan
imunisasi dasar lengkap. Sedangkan provinsi dengan capaian terendah yaitu Kalimantan
Utara (56,08%), Papua (59,99%), dan Maluku (67,56%). Data dan informasi terkait imunisasi
dasar pada bayi yang dirinci menurut provinsi tahun 2016 terdapat pada Lampiran 5.14.

130 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


c. Angka Drop Out Cakupan Imunisasi DPT/HB1-Campak
Imunisasi dasar pada bayi seharusnya diberikan pada anak sesuai dengan umurnya
sebelum anak berusia satu tahun. Pada kondisi ini, diharapkan sistem kekebalan tubuh dapat
bekerja secara optimal. Namun demikian, pada kondisi tertentu beberapa bayi tidak
mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap. Kelompok inilah yang disebut dengan drop out
(DO) imunisasi. Bayi yang mendapatkan imunisasi DPT/HB1 pada awal pemberian imunisasi,
namun tidak mendapatkan imunisasi campak, disebut angka drop out imunisasi DPT/HB1-
Campak. Indikator ini diperoleh dengan menghitung selisih penurunan cakupan imunisasi
Campak terhadap cakupan imunisasi DPT/HB1.
Angka drop out imunisasi DPT/HB1-Campak pada tahun 2016 sebesar 2,4%. Angka ini
lebih rendah dibandingkan tahun 2015 yang sebesar 2,9%. Angka drop out imunisasi
DPT/HB1-Campak menunjukkan kecenderungan penurunan sejak tahun 2007 sampai dengan
tahun 2016 yang asumsinya semakin banyak bayi yang mendapatkan imunisasi dasar secara
lengkap. Kecenderungan penurunan tersebut dijelaskan pada gambar berikut ini.

GAMBAR 5.20
ANGKA DROP OUT IMUNISASI DPT/HB1-CAMPAK PADA BAYI
TAHUN 2007-2016
10,0
9,0
8,0
7,0
6,0 6,0
5,3 5,2
5,0 4,6
4,4
4,0 3,6
3,3 2,9 2,9
3,0 2,4
2,0
1,0
0,0
2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Sumber : Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes RI, 2017

DO rate DPT/HB1-Campak diharapkan tidak melebihi 5%. Batas maksimal tersebut


telah berhasil dipenuhi sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2016. Data dan informasi
lebih rinci mengenai angka drop out cakupan imunisasi DPT/HB1-Campak dan DPT/HB(1)-
DPT/HB(3) pada tahun 2013-2015 terdapat pada Lampiran 5.15.

d. Desa/Kelurahan UCI (Universal Child Immunization)


Indikator lain yang diukur untuk menilai keberhasilan pelaksanaan imunisasi yaitu
Universal Child Immunization (UCI) desa/kelurahan. UCI desa/kelurahan adalah gambaran

Bab V KESEHATAN KELUARGA 131


suatu desa/kelurahan dimana 80% dari jumlah bayi (0-11 bulan) yang ada di
desa/kelurahan tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap. Cakupan desa/kelurahan
UCI menurut provinsi terdapat pada Gambar 5.20.
Pada tahun 2016 terdapat tiga provinsi memiliki capaian tertinggi yaitu Bali (100%), DI
Yogyakarta (100%), dan Jawa Tengah sebesar 99.93%. Sedangkan provinsi dengan capaian
terendah yaitu Kalimanatan Utara (30,69%), Papua Barat (56,77%) dan Papua (61.59%).
Informasi terkait Cakupan Desa UCI pada tahun 2014-2016 menurut provinsi terdapat pada
Lampiran 5.16.

GAMBAR 5.21
CAKUPAN DESA/KELURAHAN UCI MENURUT PROVINSI
TAHUN 2016

Indonesia 81,82

Bali 100,00
DI Yogyakarta 100,00
Jawa Tengah 99,93
DKI Jakarta 99,65
Lampung 96,49
Kepulauan Bangka Belitung 95,87
Sulawesi Selatan 94,26
Jambi 93,75
Kepulauan Riau 92,05
Jawa Barat 91,82
Nusa Tenggara Barat 90,68
Sumatera Selatan 90,45
Bengkulu 89,69
Gorontalo 89,48
Kalimantan Selatan 87,76
Jawa Timur 87,64
Sulawesi Tengah 83,26
Sulawesi Tenggara 82,74
Kalimantan Timur 80,62
Maluku Utara 80,18
Sulawesi Barat 79,08
Sumatera Utara 73,44
Sulawesi Utara 73,2
Sumatera Barat 72,28
Kalimantan Barat 69,89
Banten 68,41
Nusa Tenggara Timur 68,02
Kalimantan Tengah 65,59
Aceh 65,26
Riau 64,13
Maluku 61,83
Papua 61,59
Papua Barat 56,77
Kalimantan Utara 30,69

0 20 40 60 80 100 120

Sumber : Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes RI, 2017

132 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


3. Pelayanan Kesehatan Anak Usia Sekolah
Mulai masuk sekolah merupakan hal penting bagi tahap perkembangan anak. Banyak
masalah kesehatan terjadi pada anak usia sekolah, seperti misalnya karies gigi, kecacingan,
kelainan refraksi/ketajaman penglihatan, masalah gizi, dan pelaksanaan Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS) seperti menggosok gigi dengan baik dan benar, mencuci tangan
menggunakan sabun, dan lain - lain. Pelayanan kesehatan pada anak termasuk pula
intervensi pada anak usia sekolah.
Anak usia sekolah merupakan sasaran yang strategis untuk pelaksanaan program
kesehatan, karena selain jumlahnya yang besar, mereka juga merupakan sasaran yang
mudah dijangkau karena terorganisir dengan baik. Sasaran dari pelaksanaan kegiatan ini
diutamakan untuk siswa SD/sederajat kelas satu. Pemeriksaan kesehatan dilaksanakan oleh
tenaga kesehatan bersama tenaga lainnya yang terlatih (guru UKS/UKSG dan dokter kecil).
Tenaga kesehatan yang dimaksud yaitu tenaga medis, tenaga keperawatan atau petugas
puskesmas lainnya yang telah dilatih sebagai tenaga pelaksana UKS/UKGS. Guru UKS/UKGS
adalah guru kelas atau guru yang ditunjuk sebagai pembina UKS/UKGS di sekolah dan telah
dilatih tentang UKS/UKGS. Dokter kecil adalah kader kesehatan sekolah yang biasanya
berasal dari murid kelas 4 dan 5 SD dan setingkat yang telah mendapatkan pelatihan dokter
kecil.
Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran tentang kebersihan dan kesehatan gigi bisa
dilaksanakan sedini mungkin. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan siswa
tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut pada khususnya dan kesehatan tubuh
serta lingkungan pada umumnya.
Upaya kesehatan pada kelompok ini yang dilakukan melalui penjaringan kesehatan
terhadap murid SD/MI kelas satu juga menjadi salah satu indikator yang dievaluasi
keberhasilannya melalui Renstra Kementerian Kesehatan. Kegiatan penjaringan kesehatan
selain untuk mengetahui secara dini masalah-masalah kesehatan anak sekolah sehingga
dapat dilakukan tindakan secepatnya untuk mencegah keadaan yang lebih buruk, juga untuk
memperoleh data atau informasi dalam menilai perkembangan kesehatan anak sekolah,
maupun untuk dijadikan pertimbangan dalam menyusun perencanaan, pemantauan dan
evaluasi kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).

a. Puskesmas yang melaksanakan Penjaringan Kesehatan Peserta Didik Kelas I


Penjaringan kesehatan peserta didik merupakan serangkaian kegiatan pemeriksaan
kesehatan yang dilakukan terhadap peserta didik untuk memilah siswa yang mempunyai
masalah Kesehatan agar segera mendapatkan penanganan sedini mungkin. Kegiatan
penjaringan kesehatan ini terdiri dari pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan kebersihan
perorangan (rambut, kulit dan kuku) pemeriksaan status gizi melalui pengukuran
antropometri, pemeriksaan ketajaman indera (penglihatan dan pendengaran), pemeriksaan

Bab V KESEHATAN KELUARGA 133


gigi dan mulut, pemeriksaan laboratorium untuk anemia dan kecacingan, pengukuran
kebugaran jasmani dan deteksi dini masalah mental emosional.
Indikator Penjaringan pada Renstra 20152019 lebih difokuskan kepada Puskesmas.
Pada capaian tahun 2016, indikator Puskesmas melaksanakan penjaringan kesehatan peserta
didik kelas I mencapai target yang telah ditetapkan yaitu 55% sedangkan capaiannya adalah
73,54%. Hal ini berarti 7.199 puskesmas sudah melaksanakan penjaringan peserta didik kelas
I. Dari 34 provinsi terdapat 67,6% provinsi yang mencapai target indikator dan 29,4% provinsi
yang belum mencapai target. Gambaran pencapaian cakupan indikator Puskesmas
melaksanakan penjaringan kesehatan peserta didik kelas I seperti terlihat pada Gambar 5.22.
Terdapat satu provinsi yang belum mengirimkan data penjaringan kesehatan peserta didik
kelas I, yaitu Maluku Utara.
GAMBAR 5.22
CAKUPAN PUSKESMAS YANG MELAKSANAKAN PENJARINGAN KESEHATAN PESERTA DIDIK
KELAS I MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

INDONESIA 73,54

Gorontalo 100,00
Sulawesi Tenggara 100,00
Bali 100,00
Jawa Timur 100,00
DI Yogyakarta 100,00
Jawa Tengah 100,00
Kepulauan Bangka Belitung 100,00
Lampung 100,00
Sumatera Barat 96,97
Sumatera Selatan 96,89
Kalimantan Selatan 96,09
Kalimantan Timur 95,98
Jawa Barat 95,90
Kepulauan Riau 95,89
Jambi 89,94
Kalimantan Utara 89,80
Aceh 84,37
Bengkulu 82,78
Kalimantan Tengah 81,54
Sulawesi Barat 72,34
Nusa Tenggara Barat 72,15
Riau 63,37
Sulawesi Tengah 58,20
Sumatera Utara 53,59
Sulawesi Utara 53,48
Banten 52,36
Sulawesi Selatan 47,77
Maluku 44,72 Target
Papua Barat 40,40 Renstra 2016:
Papua 32,06
55%
Kalimantan Barat 21,01
DKI Jakarta 12,94
Nusa Tenggara Timur 4,58
Maluku Utara
0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00

Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2017

134 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


b. Penjaringan Kesehatan Peserta Didik Kelas VII dan X

GAMBAR 5.23
CAKUPAN PUSKESMAS YANG MELAKSANAKAN PENJARINGAN KESEHATAN PESERTA DIDIK
KELAS VII DAN X MENURUT PROVINSI TAHUN 2016
Indonesia 65,14

Gorontalo 100,00
Sulawesi Tenggara 100,00
Jawa Timur 100,00
DI Yogyakarta 100,00
Jawa Tengah 100,00
DKI Jakarta 100,00
100,00
Bali 95,83
Sumatera Selatan 91,61
Sumatera Barat 89,39
Kepulauan Riau 80,82
Kalimantan Utara 79,59
Kalimantan Timur 75,86
Jambi 75,42
Sulawesi Barat 74,47
Lampung 70,89
Jawa Barat 65,43
Nusa Tenggara Barat 63,29
Kalimantan Tengah 60,51
Riau 56,79
Aceh 49,85
Kalimantan Selatan 48,26
Banten 45,49
Maluku 44,22
Sulawesi Tengah 43,92
Bengkulu 42,78
Sulawesi Utara 42,25
Sulawesi Selatan 41,29
Sumatera Utara 40,46
Papua Barat 25,17
Papua 23,41 Target
Kalimantan Barat 21,01 Renstra 2016 :
Nusa Tenggara Timur 4,58 40%
Maluku Utara
0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00

Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2017

Dari Gambar 5.23 diketahui bahwa sebagian besar provinsi sudah memenuhi target
Renstra 2016 yang sebesar 40%, hanya empat provinsi yang belum mencapai target.
Terdapat tujuh provinsi dengan capaian 100%, yakni Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Jawa
Timur, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, DKI Jakarta dan Kepulauan Bangka Belitung. Capaian
terendah terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Papua dan Papua
Barat. Sedangkan Provinsi Maluku Utara belum mengirimkan data.
Sulitnya memenuhi target Puskesmas yang melakukan penjaringan kesehatan peserta
didik kelas I, VII, dan X dapat disebabkan oleh beberapa masalah. Masalah utama yang sering
ditemukan di daerah yaitu kurangnya tenaga di Puskesmas dibandingkan dengan jumlah

Bab V KESEHATAN KELUARGA 135


SD/MI dan SMP yang banyak, sehingga untuk melaksanakan penjaringan kesehatan
membutuhkan waktu lebih lama. Selain itu juga manajemen pelaporan belum terintegrasi
dengan baik. Walaupun kegiatan penjaringan kesehatan telah dilaksanakan di Puskesmas
namun di beberapa provinsi, pengelola program UKS di kabupaten/kota berada pada
struktur organisasi yang berbeda sehingga menjadi penyebab koordinasi pencatatan dan
pelaporan tidak berjalan dengan baik. Selain itu terjadi perubahan definisi operasional
indikator penjaringan kesehatan peserta didik oleh sekolah pada Renstra 2014 menjadi
penjaringan kesehatan peserta didik oleh Puskesmas pada Renstra 2015.
Data dan informasi tentang cakupan Puskesmas yang melakukan penjaringan peserta
didik kelas VII dan X menurut provinsi terdapat pada Lampiran 5.19.

4. Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR)


Salah satu upaya kesehatan anak yang ditetapkan melalui Instruksi Presiden yaitu
Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Puskesmas. Program ini mulai dikembangkan
pada tahun 2003 yang bertujuan khusus untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan remaja tentang kesehatan reproduksi dan perilaku hidup sehat serta
memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada remaja.
Puskesmas yang memiliki program PKPR memberikan layanan baik di dalam maupun
di luar gedung yang ditujukan bagi kelompok remaja berbasis sekolah ataupun masyarakat.
Hal ini dilakukan agar layanan yang diberikan dapat menjangkau semua kelompok remaja
(usia 10-18 tahun). Kriteria yang ditetapkan bagi Puskesmas yang mampu laksana PKPR yaitu:
1) Melakukan pembinaan pada minimal satu sekolah (sekolah umum, sekolah berbasis
agama) dengan melaksanakan kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) di
sekolah binaan minimal dua kali dalam setahun;
2) Melatih kader kesehatan remaja di sekolah minimal sebanyak 10% dari jumlah murid
di sekolah binaan; dan
3) Memberikan pelayanan konseling pada semua remaja yang memerlukan konseling
yang kontak dengan petugas PKPR.

Layanan PKPR merupakan pendekatan yang komprehensif dan menekankan pada


upaya promotif/preventif berupa pembekalan kesehatan dan peningkatan keterampilan
psikososial dengan Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS). Layanan konseling menjadi
ciri dari PKPR mengingat permasalahan remaja yang tidak hanya berhubungan dengan fisik
tetapi juga psikososial. Upaya penjangkauan terhadap kelompok remaja juga dilakukan
melalui kegiatan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE), Focus Group Discussion (FGD), dan
penyuluhan ke sekolah-sekolah dan kelompok remaja lainnya.
Fenomena peer groups (kelompok sebaya) juga menjadi perhatian pada program
PKPR. Oleh karena itu, program ini juga memberdayakan remaja sebagai konselor sebaya

136 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


yang diharapkan mampu menjadi agen pengubah (agent of change) di kelompoknya.
Konselor sebaya ini sangat potensial karena adanya kecenderungan pada remaja untuk
memilih teman sebaya sebagai tempat berdiskusi dan rujukan informasi.
Selain pemberian informasi, edukasi, dan kegiatan seperti disebutkan di atas,
pelayanan kesehatan sekolah ini meliputi pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan
perkembangan kecerdasan, pemberian imunisasi, penemuan kasus-kasus dini yang mungkin
terjadi, pengobatan sederhana, pertolongan pertama serta rujukan bila menemukan kasus
yang tidak dapat ditanggulangi di sekolah.
Persentase kabupaten/kota dengan minimal empat Puskesmas mampu tata laksana
PKPR menurut provinsi pada tahun 2016 terdapat pada Gambar 5.24.

GAMBAR 5.24
PERSENTASE PUSKESMAS MELAKSANAKAN KEGIATAN KESEHATAN REMAJA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

Indonesia 45,57

Bali 100,00
DI Yogyakarta 100,00
Jawa Tengah 100,00
DKI Jakarta 100,00
Kepulauan Bangka Belitung 88,71
Lampung 76,71
Kepulauan Riau 73,97
Kalimantan Barat 59,66
Kalimantan Selatan 57,83
Maluku 56,78
Kalimantan Timur 56,32
Nusa Tenggara Barat 52,53
Sumatera Selatan 49,07
Bengkulu 48,33
Aceh 45,13
Sumatera Barat 42,42
Jawa Barat 41,05
Jambi 40,78
Jawa Timur 39,69
Kalimantan Utara 38,78
Banten 36,91
Riau 31,28
Sulawesi Tengah 25,93
Gorontalo 25,81
Sumatera Utara 23,47
Sulawesi Selatan 22,54
Sulawesi Utara 19,25 Target
Sulawesi Tenggara 18,22 Renstra 2016 :
Sulawesi Barat 18,09
30%
Papua 13,49
Kalimantan Tengah 12,31
Nusa Tenggara Timur 9,16
Papua Barat 3,97
Maluku Utara

0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00

Sumber : Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kemenkes RI, 2017

Bab V KESEHATAN KELUARGA 137


Terdapat sebelas provinsi (32,4%) belum mencapai target Renstra tahun 2016 yang
sebesar 30%. Persentase kabupaten/kota dengan minimal empat puskesmas mampu tata
laksana PKPR di Indonesia tahun 2016 sebesar 45,57%.
Jumlah Puskesmas PKPR tahun 2016 sebanyak 4.461 Puskesmas yang tersebar di 34
provinsi di Indonesia. Data dan informasi lebih rinci menurut provinsi terkait persentase
kabupaten/kota dengan Puskesmas mampu laksana PKPR disajikan pada Lampiran 5.20.

C. Gizi
Pada subbab gizi ini akan dibahas upaya peningkatan gizi balita yaitu : pemberian ASI
eksklusif, cakupan pemberian kapsul vitamin A pada balita 6-59 bulan, penimbangan dan
status gizi balita serta gizi ibu hamil.

1. Inisiasi Menyusui Dini dan Pemberian ASI Eksklusif


Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah meletakan bayi secara tengkurap di dada atau
perut ibu sehingga kulit bayi melekat pada kulit ibu yang dilakukan sekurang-kurangnya satu
jam segera setelah lahir. Jika kontak tersebut terhalang oleh kain atau dilakukan kurang dari
satu jam dianggap belum sempurna dan dianggap tidak melakukan IMD.
Air Susu Ibu (ASI) eksklusif berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012
adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama enam bulan, tanpa
menambahkan dan/atau mengganti dengan makanan atau minuman lain (kecuali obat,
vitamin, dan mineral).
ASI mengandung kolostrum yang kaya akan antibodi karena mengandung protein
untuk daya tahan tubuh dan pembunuh kuman dalam jumlah tinggi sehingga pemberian ASI
eksklusif dapat mengurangi risiko kematian pada bayi. Kolostrum berwarna kekuningan
dihasilkan pada hari pertama sampai hari ketiga. Hari keempat sampai hari kesepuluh ASI
mengandung immunoglobulin, protein, dan laktosa lebih sedikit dibandingkan kolostrum
tetapi lemak dan kalori lebih tinggi dengan warna susu lebih putih. Selain mengandung zat-
zat makanan, ASI juga mengandung zat penyerap berupa enzim tersendiri yang tidak akan
menganggu enzim di usus. Susu formula tidak mengandung enzim sehingga penyerapan
makanan tergantung pada enzim yang terdapat di usus bayi.
Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2016, persentase bayi baru lahir yang
mendapat IMD pada tahun 2016 sebesar 51,9% yang terdiri dari 42,7% mendapatkan IMD
dalam <1 jam setelah lahir, dan 9,2% dalam satu jam atau lebih. Persentase tertinggi di
Provinsi DKI Jakarta (73%) dan terendah Bengkulu (16%).
Persentase bayi 0-5 bulan yang masih mendapat ASI eksklusif sebesar 54,0%,
sedangkan bayi yang telah mendapatkan ASI eksklusif sampai usia enam bulan adalah
sebesar 29,5%.

138 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 5.25
CAKUPAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI UMUR 0-5 BULAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

INDONESIA 54,0

Nusa Tenggara Timur 79,9


Papua 76,2
Nusa Tenggara Barat 72,8
DI Yogyakarta 70,9
Jambi 64,7
Sulawesi Barat 62,7
Maluku 61,3
Sumatera Selatan 60,4
Jawa Tengah 59,9
Aceh 59,0
Kalimantan Selatan 57,7
Sulawesi Selatan 55,0
Kalimantan Timur 53,4
Sulawesi Tenggara 53,1
Kalimantan Barat 52,9
Sumatera Barat 52,8
Papua Barat 51,9
Kalimantan Utara 51,9
Maluku Utara 49,5
Kepulauan Riau 48,7
Bali 48,4
Jawa Barat 48,4
Jawa Timur 48,1
DKI Jakarta 48,1
Sulawesi Utara 47,9
Sumatera Utara 46,8
Banten 44,1
Sulawesi Tengah 43,3
Lampung 43,1
Bengkulu 42,5
Kep. Bangka Belitung 42,1
Kalimantan Tengah 40,0
Riau 39,7
Gorontalo 32,3
0,0 20,0 40,0 60,0 80,0 100,0
%

Sumber: Pemantauan Status Gizi 2016, Kemenkes RI

Mengacu pada target renstra tahun 2016 yang sebesar 42%, maka secara nasional
cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia kurang dari enam bulan sebesar 54,0% telah
mencapai target. Menurut provinsi, cakupan ASI eksklusif pada bayi umur 0-5 bulan berkisar
antara 32,3% (Gorontalo) sampai 79,9% (Nusa Tenggara Timur). Dari 34 provinsi hanya tiga
provinsi yang belum mencapai target yaitu Gorontalo, Riau dan Kalimantan Tengah.

2. Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A Balita Usia 659 Bulan


Vitamin A adalah salah satu zat gizi penting yang larut dalam lemak, disimpan dalam
hati, dan tidak dapat diproduksi oleh tubuh sehingga harus dipenuhi dari luar tubuh.

Bab V KESEHATAN KELUARGA 139


Kekurangan Vitamin A (KVA) dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh balita serta
meningkatkan risiko kesakitan dan kematian. Kekurangan Vitamin A juga merupakan
penyebab utama kebutaan pada anak yang dapat dicegah.
Dalam lampiran Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 Tahun 2015, dinyatakan
bahwa untuk mengurangi risiko kesakitan dan kematian pada balita dengan kekurangan
Vitamin A, pemerintah menyelenggarakan kegiatan pemberian Vitamin A dalam bentuk
kapsul vitamin A biru 100.000 IU bagi bayi usia enam sampai dengan sebelas bulan, kapsul
vitamin A merah 200.000 IU untuk anak balita usia dua belas sampai dengan lima puluh
sembilan bulan, dan ibu nifas.
Menurut Panduan Manajemen Suplementasi Vitamin A, pemberian suplementasi
Vitamin A diberikan kepada seluruh balita umur 6-59 bulan secara serentak melalui
posyandu yaitu; bulan Februari atau Agustus pada bayi umur 6-11 bulan serta bulan Februari
dan Agustus pada anak balita 12-59 bulan.

GAMBAR 5.26
CAKUPAN PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A PADA BALITA (6-59 BULAN)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2016
INDONESIA 90,1

Gorontalo 95,0
DI Yogyakarta 94,5
Jawa Barat 94,4
Sumatera Barat 93,9
Aceh 93,5
Bengkulu 93,4
Kepulauan Riau 93,3
Kalimantan Utara 93,1
Jawa Tengah 92,9
Kalimantan Selatan 92,7
Sulawesi Tenggara 92,4
Bali 92,4
Sumatera Selatan 92,2
Nusa Tenggara Barat 91,9
Jawa Timur 91,9
Lampung 91,8
Kepulauan Bangka Belitung 91,6
Sulawesi Selatan 91,2
Riau 90,9
Kalimantan Timur 90,8
Jambi 90,3
Banten 90,2
DKI Jakarta 89,9
Nusa Tenggara Timur 89,7
Sulawesi Barat 89,4
Sumatera Utara 89,4
Sulawesi Tengah 89,0
Maluku Utara 88,9
Kalimantan Barat 88,6
Maluku 86,5
Sulawesi Utara 85,3
Kalimantan Tengah 84,5
Papua Barat 83,4
Papua 75,3

0 20 40 60 80 100
%
Sumber: Pemantauan Status Gizi 2016, Kemenkes RI

140 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Hasil PSG 2016, persentase balita 6-59 bulan di Indonesia yang mendapatkan vitamin
A sebesar 90,1% lebih tinggi dari target nasional sebesar 82%. Cakupan pemberian Vitamin A
pada balita 6-59 bulan tertinggi yaitu Provinsi Gorontalo sebesar 95,0% dan terendah di
Papua sebesar 75,3%. Persentase balita 6-11 bulan mendapat kapsul vitamin A sebesar
69,1% sedangkan pada balita 12-59 bulan sebesar 93,2%. Capaian pemberian Vitamin A pada
balita 6-59 bulan menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.22.

3. Penimbangan dan Status Gizi Balita


Penimbangan balita sangat penting untuk deteksi dini kasus gizi kurang dan gizi
buruk. Dengan rajin menimbang balita, maka pertumbuhan balita dapat dipantau secara
intensif sehingga bila berat badan anak tidak naik atau jika ditemukan penyakit akan dapat
segera dilakukan upaya pemulihan dan pencegahan supaya tidak menjadi gizi kurang atau
gizi buruk. Semakin cepat ditemukan, penanganan kasus gizi kurang atau gizi buruk akan
semakin baik. Penanganan yang cepat dan tepat sesuai tata laksana kasus anak gizi buruk
akan mengurangi risiko kematian sehingga angka kematian akibat gizi buruk dapat ditekan.
Tindak lanjut dari hasil penimbangan selain penyuluhan juga pemberian makanan
tambahan dan pemberian suplemen gizi.
Gizi buruk dapat terjadi pada semua kelompok umur, tetapi yang perlu lebih
diperhatikan pada kelompok bayi dan balita. Pada usia 0-2 tahun merupakan masa tumbuh
kembang yang optimal (golden period) terutama untuk pertumbuhan janin sehingga bila
terjadi gangguan pada masa ini tidak dapat dicukupi pada masa berikutnya dan akan
berpengaruh negatif pada kualitas generasi penerus.
Hasil PSG tahun 2016 mendapatkan persentase balita ditimbang 4 kali dalam enam
bulan terakhir sebesar 72,4%, persentase tertinggi adalah Provinsi Jawa Tengah (90,9%) dan
terendah provinsi Papua (50,0%). Selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 5.22.
Status gizi balita dapat diukur dengan indeks berat badan per umur (BB/U), tinggi
badan per umur (TB/U) dan berat badan per tinggi badan ( BB/TB). Hasil pengukuran status
gizi PSG tahun 2016 dengan indeks BB/U pada balita 0-59 bulan, mendapatkan persentase
gizi buruk sebesar 3,4%, gizi kurang sebesar 14,4% dan gizi lebih sebesar 1,5%. Angka
tersebut tidak jauh berbeda dengan hasil PSG 2015, yaitu gizi buruk sebesar 3,9%, gizi kurang
sebesar 14,9% dan gizi lebih sebesar 1,6%. Provinsi dengan gizi buruk dan kurang tertinggi
tahun 2016 adalah Nusa Tenggara Timur (28,2%) dan terendah Sulawesi Utara (7,2%).

Bab V KESEHATAN KELUARGA 141


GAMBAR 5.27
PERSENTASE GIZI BURUK DAN KURANG PADA BALITA 0-59 BULAN
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA
TAHUN 2016

INDONESIA 3,4 14,4

Sulawesi Utara 1,3 5,9


Bengkulu 1,3 7,4
Bali 1,0 8,1
Sumatera Selatan 1,9 9,3
Sumatera Utara 3,1 10,1
Kepulauan Bangka Belitung 2,0 11,2
Lampung 1,6 12,4
DKI Jakarta 3,0 11,3
Jawa Barat 2,4 12,1
Papua 3,2 11,9
Jambi 2,4 13,2
Sulawesi Tenggara 2,0 13,8
DI Yogyakarta 2,1 13,8
Sumatera Barat 2,1 13,9
Aceh 2,6 14,1
Jawa Tengah 3,0 13,9
Riau 2,0 15,0
Maluku Utara 1,8 15,2
Jawa Timur 3,4 13,9
Kepulauan Riau 3,7 14,0
Banten 4,2 13,9
Kalimantan Utara 4,1 15,4
Kalimantan Timur 3,8 16,0
Nusa Tenggara Barat 3,0 17,2
Kalimantan Selatan 4,1 17,7
Gorontalo 4,5 17,8
Papua Barat 5,6 17,7
Maluku 6,0 18,2
Sulawesi Tengah 5,0 19,2
Kalimantan Tengah 5,6 19,1
Sulawesi Barat 5,0 19,7
Sulawesi Selatan 5,0 20,1
Kalimantan Barat 6,7 20,8
Nusa Tenggara Timur 6,9 21,3

0,0 5,0 10,0 15,0 20,0 25,0 30,0


%
Gizi Buruk Gizi Kurang

Sumber: Pemantauan Status Gizi 2016, Kemenkes RI

Hasil pengukuran status gizi PSG 2016 dengan indeks BB/U pada balita 0-23 bulan
mendapatkan persentase gizi buruk sebesar 3,1%, gizi kurang sebesar 11,8% dan gizi lebih
sebesar 1,5%. Dibandingkah hasil PSG 2015 juga relatif sama yaitu gizi buruk sebesar 3,2%,
gizi kurang sebesar 11,9% dan gizi lebih sebesar 1,6%. Provinsi dengan gizi buruk dan kurang
tertinggi tahun 2016 adalah Kalimantan Barat (24,5%) dan terendah Sulawesi Utara (5,7%).

142 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 5.28
PERSENTASE GIZI BURUK DAN KURANG PADA BALITA 0-23 BULAN
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA
TAHUN 2016

INDONESIA 3,1 11,8

Bali 0,5 5,2


Sulawesi Utara 1,5 5,3
Bengkulu 0,9 5,9
Sumatera Selatan 1,6 8,1
Sumatera Utara 2,8 8,6
Sulawesi Tenggara 1,6 10,1
Jawa Barat 2,3 9,5
Lampung 1,8 10,1
DKI Jakarta 2,9 9,1
Aceh 2,1 10,6
Sumatera Barat 1,6 11,4
Jawa Tengah 2,7 10,5
Jambi 2,4 10,9
Banten 3,2 10,1
Jawa Timur 2,6 11,0
Kepulauan Bangka Belitung 2,0 12,3
DI Yogyakarta 2,3 12,3
Papua 3,7 11,0
Nusa Tenggara Barat 2,5 12,3
Riau 1,9 13,2
Maluku Utara 2,3 12,8
Kalimantan Selatan 3,6 13,3
Kepulauan Riau 4,1 13,3
Kalimantan Timur 3,4 14,6
Kalimantan Utara 4,6 14,7
Maluku 4,9 14,4
Sulawesi Barat 4,1 15,5
Papua Barat 5,6 14,0
Gorontalo 4,1 15,7
Kalimantan Tengah 4,6 15,3
Sulawesi Tengah 4,8 15,5
Sulawesi Selatan 4,4 16,5
Nusa Tenggara Timur 6,5 16,5
Kalimantan Barat 6,6 17,9
0,0 5,0 10,0 15,0 20,0 25,0 30,0
%

Gizi Buruk Gizi Kurang

Sumber: Pemantauan Status Gizi 2016, Kemenkes RI

Status gizi balita 0-59 bulan dengan indeks TB/U menunjukkan persentase balita
pendek dan sangat pendek. Hasil PSG 2016 mendapatkan persentase balita sangat pendek
sebesar 8,6% dan pendek sebesar 19,0%. Target persentase balita pendek dan sangat
pendek adalah kurang dari 20%. Provinsi dengan persentase balita pendek dan sangat
pendek terbesar adalah Sulawesi Barat (39,7%) dan terendah adalah Sumatera Selatan
(19,2%). Hanya Provinsi Sumatera Selatan dan Bali yang kurang dari 20%.

Bab V KESEHATAN KELUARGA 143


GAMBAR 5.29
PERSENTASE PENDEK PADA BALITA 0-59 BULAN
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA
TAHUN 2016

INDONESIA 8,6 19,0

Sumatera Selatan 4,7 14,6


Bali 5,2 14,5
DKI Jakarta 6,3 13,8
Sulawesi Utara 6,8 14,4
DI Yogyakarta 4,7 17,1
Kepulauan Bangka Belitung 6,2 15,7
Kepulauan Riau 7,2 15,6
Bengkulu 6,6 16,3
Jawa Tengah 6,1 17,8
Sumatera Utara 9,3 15,1
Maluku Utara 4,9 19,7
Lampung 6,6 18,2
Riau 7,3 17,8
Jawa Barat 6,1 19,0
Sumatera Barat 6,7 18,9
Jawa Timur 7,5 18,6
Aceh 7,6 18,8
Banten 8,1 18,9
Jambi 8,5 18,5
Kalimantan Timur 7,2 19,9
Papua 11,6 16,3
Maluku 12,3 16,6
Sulawesi Tenggara 8,9 20,6
Nusa Tenggara Barat 8,3 21,7
Papua Barat 11,4 18,8
Kalimantan Selatan 9,8 21,3
Kalimantan Utara 10,3 21,3
Sulawesi Tengah 10,2 21,8
Gorontalo 11,5 21,5
Kalimantan Tengah 11,2 22,9
Kalimantan Barat 11,9 23,0
Sulawesi Selatan 9,7 25,9
Nusa Tenggara Timur 15,0 23,7
Sulawesi Barat 14,7 25,0

0,0 10,0 20,0 30,0 40,0 50,0


%
Sangat Pendek Pendek
Sumber: Pemantauan Status Gizi 2016, Kemenkes RI

Sedangkan pada balita 0-23 bulan persentase sangat pendek sebesar 7,1% dan
pendek sebesar 14,6%. Provinsi dengan persentase balita pendek dan sangat pendek
terbesar adalah Kalimantan Barat (32,5%) dan terendah adalah Sumatera Selatan (14,2%).

144 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 5.30
PERSENTASE BALITA PENDEK DAN SANGAT PENDEK BERUMUR 0-23 BULAN
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA
TAHUN 2016

INDONESIA 7,1 14,6

Sumatera Selatan 3,2 11,0


Bali 4,4 10,9
DKI Jakarta 5,6 10,2
Bengkulu 5,3 10,7
Jawa Barat 4,8 12,7
Sumatera Barat 4,5 13,1
Jawa Tengah 4,8 13,3
Banten 5,4 13,2
DI Yogyakarta 4,4 14,4
Lampung 5,9 13,0
Kepulauan Bangka Belitung 6,6 12,5
Riau 5,4 13,7
Sumatera Utara 8,0 11,1
Maluku Utara 4,2 15,1
Jawa Timur 6,1 14,3
Aceh 5,7 14,9
Jambi 6,9 13,8
Nusa Tenggara Barat 6,1 14,6
Sulawesi Utara 7,0 13,9
Kepulauan Riau 7,8 13,8
Sulawesi Tenggara 7,0 15,6
Kalimantan Timur 6,5 17,1
Papua Barat 9,0 15,4
Maluku 11,3 13,2
Gorontalo 8,8 15,8
Papua 10,3 14,7
Kalimantan Selatan 7,8 17,8
Kalimantan Utara 9,0 16,8
Sulawesi Tengah 8,3 17,6
Kalimantan Tengah 8,2 18,3
Sulawesi Selatan 7,6 19,1
Sulawesi Barat 10,8 17,4
Nusa Tenggara Timur 13,3 18,8
Kalimantan Barat 12,5 20,1

0,0 5,0 10,0 15,0 20,0 25,0 30,0 35,0


%
Sangat Pendek Pendek

Sumber: Pemantauan Status Gizi 2016, Kemenkes RI

Status gizi balita 0-59 bulan dengan indeks TB/BB menunjukkan persentase kurus dan
sangat kurus. Hasil PSG 2016 mendapatkan persentase balita 0-23 bulan yang sangat kurus
sebesar 3,1%, kurus sebesar 8,0% dan gemuk sebesar 4,3%. Provinsi dengan persentase
balita kurus dan sangat kurus terbesar adalah Maluku (22,2%) dan terendah adalah Bali
(5,5%).

Bab V KESEHATAN KELUARGA 145


GAMBAR 5.31
PERSENTASE BALITA KURUS DAN SANGAT KURUS BERUMUR 0-59 BULAN
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA
TAHUN 2016

INDONESIA 3,1 8,0

Bali 1,2 4,3


Bengkulu 1,3 6,1
Jawa Barat 1,6 5,9
Kepulauan Bangka Belitung 1,7 6,1
Sumatera Selatan 1,6 6,5
DI Yogyakarta 1,7 6,7
Sumatera Barat 1,9 7,0
Lampung 2,6 6,4
Banten 2,2 7,0
Sulawesi Selatan 2,0 7,3
Sulawesi Utara 2,2 7,2
Kalimantan Utara 2,5 7,0
Jawa Tengah 2,2 7,4
Kalimantan Timur 2,0 7,6
Jawa Timur 2,5 7,2
Jambi 2,4 7,3
Nusa Tenggara Barat 2,0 7,7
Maluku Utara 2,2 7,8
Sulawesi Tenggara 2,9 7,8
Sulawesi Barat 3,2 7,7
Kalimantan Selatan 2,6 8,4
DKI Jakarta 3,5 7,8
Kalimantan Tengah 2,9 8,8
Riau 3,2 8,6
Sumatera Utara 4,3 7,7
Sulawesi Tengah 3,7 8,7
Kepulauan Riau 3,0 9,6
Aceh 3,5 9,8
Gorontalo 4,3 9,2
Kalimantan Barat 4,3 10,1
Papua 5,7 9,1
Papua Barat 4,9 10,8
Nusa Tenggara Timur 5,8 11,6
Maluku 9,0 13,2

0,0 5,0 10,0 15,0 20,0 25,0


%
Sangat Kurus Kurus

Sumber: Pemantauan Status Gizi 2016, Kemenkes RI

Sedangkan pada balita 0-23 bulan persentase sangat kurus sebesar 3,7%, kurus
sebesar 8,9% dan gemuk sebesar 4,3%. Provinsi dengan persentase balita kurus dan sangat
kurus terbesar adalah Papua (16,5%) dan terendah adalah Aceh (14,4%).

146 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 5.32
PERSENTASE BALITA KURUS DAN SANGAT KURUS BERUMUR 0-23 BULAN
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA
TAHUN 2016

INDONESIA 3,7 8,9

Bali 1,4 5,3


Bengkulu 1,6 6,9
Sumatera Selatan 2,2 7,3
Nusa Tenggara Barat 2,0 7,7
DI Yogyakarta 2,5 7,5
Sulawesi Utara 2,4 7,8
Kepulauan Bangka Belitung 2,3 7,9
Jawa Barat 2,4 8,0
Kalimantan Timur 2,0 8,6
Lampung 2,9 7,8
Jawa Timur 3,0 7,8
Jawa Tengah 2,7 8,1
Sulawesi Selatan 2,7 8,3
Kalimantan Utara 3,1 8,0
Sumatera Barat 2,3 8,8
Jambi 3,0 8,2
Sulawesi Barat 3,3 7,8
Kalimantan Selatan 3,2 8,0
Sulawesi Tenggara 3,1 8,5
Banten 3,0 8,7
Maluku Utara 2,8 9,0
Sulawesi Tengah 4,6 9,0
DKI Jakarta 4,6 9,0
Kalimantan Tengah 3,7 10,4
Riau 4,1 10,2
Aceh 4,2 10,3
Sumatera Utara 5,2 9,3
Kepulauan Riau 3,8 10,8
Kalimantan Barat 5,5 10,6
Papua 6,6 9,9
Gorontalo 5,7 10,8
Nusa Tenggara Timur 6,2 11,3
Papua Barat 6,1 11,4
Maluku 9,1 12,4

0,0 5,0 10,0 15,0 20,0 25,0


%
Sangat Kurus Kurus

Sumber: Pemantauan Status Gizi 2016, Kemenkes RI

Data mengenai status gizi balita dapat dilihat pada lampiran 5.23-5.28
Salah satu upaya untuk meningkatkan status gizi balita adalah kegiatan pemberian
makanan tambahan untuk balita kurus. Pemberian makanan tambahan diberikan pada balita
usia 6 bulan 0 hari sampai dengan 23 bulan 29 hari dengan status gizi kurus, diukur
berdasarkan indeks berat badan menurut tinggi badan sebesar minus 3 standar deviasi

Bab V KESEHATAN KELUARGA 147


(-3SD) sampai dengan kurang dari minus 2 standar deviasi (<-2SD), yang mendapat makanan
tambahan selama 90 hari berturut-turut. Pemberian makanan tambahan (PMT) pada balita
kurus dapat diberikan berupa PMT lokal maupun PMT pabrikan seperti biskuit MP-ASI. Bila
berat badan telah mencapai atau sesuai perhitungan berat badan sesuai tinggi badan, maka
pemberian makanan tambahan balita dihentikan. Selanjutnya dapat mengonsumsi makanan
keluarga gizi seimbang dan dilakukan monitoring berat badan terus menerus agar balita tidak
kembali jatuh dalam status gizi kurus.
Hasil PSG 2016, 36,8% balita kurus mendapatkan makanan tambahan, lebih rendah
dibandingkan target nasional Tahun 2016 sebesar 75%.

4. Gizi Ibu Hamil


Gizi ibu hamil perlu mendapat perhatian karena sangat berpengaruh pada
perkembangan janin yang dikandungnya. Sejak janin sampai anak berumur dua tahun atau
1000 hari pertama kehidupan kecukupan gizi sangat berpengaruh terhadap perkembangan
fisik dan kognitif. Kekurangan gizi pada masa ini juga dikaitkan dengan risiko terjadinya
penyakit kronis pada usia dewasa, yaitu kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah,
hipertensi, stroke dan diabetes. Pada masa kehamilan gizi ibu hamil harus memenuhi
kebutuhan gizi untuk dirinya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan janin karena gizi
janin tergantung pada gizi ibu dan kebutuhan gizi ibu juga harus tetap terpenuhi.
Hasil PSG 2016, persentase ibu hamil menurut konsumsi energi terhadap standar
kecukupan gizi sebesar 73,6%, artinya rata-rata tingkat konsumsi energi pada ibu hamil per
hari di Indonesia sebesar 73,6% Angka Kecukupan Energi (AKE). Persentase ibu hamil
menurut konsumsi protein terhadap standar kecukupan gizi sebesar 86,4%, karbohidrat
76,8% dan lemak 70,0%. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 5.31.
Berdasarkan kecukupan energi, 53,9% ibu hamil mengalami defisit energi (<70% AKE)
dan 13,1% mengalami defisit ringan (70-90% AKE). Untuk kecukupan protein, 51,9% ibu
hamil mengalami defisit protein (<80%AKP) dan 18,8% mengalami defisit ringan (80-99%
AKP). Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 5.32.
Asupan energi dan protein yang tidak mencukupi pada ibu hamil dapat menyebabkan
Kurang Energi Kronis (KEK). Ibu hamil dengan KEK berisiko melahirkan bayi berat lahir rendah
(BBLR) juga dapat menjadi penyebab tidak langsung kematian ibu. Untuk itu bagi ibu hamil
risiko KEK, yaitu yang memiliki Lingkar Lengan Atas (LILA) <23,5cm, diberikan makanan
tambahan. Hasil PSG 2016 didapatkan 79,3% ibu hamil risiko KEK mendapatkan makanan
tambahan lebih besar dari target nasional tahun 2016 sebesar 50%. Hasil selengkapnya
dapat dilihat pada Lampiran 5.29.
Anemia pada ibu hamil dihubungkan dengan meningkatnya kelahiran prematur,
kematian ibu dan anak dan penyakit infeksi. Anemia defisiensi besi pada ibu dapat
mempengaruhi pertumbuhan dan berkembangan janin/bayi saat kehamilan maupun

148 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


setelahnya. Riskesdas 2013 mendapatkan anemia terjadi pada 37,1% ibu hamil di Indonesia,
36,4% ibu hamil di perkotaan dan 37,8% ibu hamil di perdesaan. Untuk mencegah anemia
setiap ibu hamil diharapkan mendapatkan tablet tambah darah (TTD) minimal 90 tablet
selama kehamilan. Hasil PSG 2016 mendapatkan hanya 40,2% ibu hamil yang mendapatkan
TTD minimal 90 tablet lebih rendah dari target nasional tahun 2016 sebesar 85%. Hasil
selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 5.30.

***

Bab V KESEHATAN KELUARGA 149


BAB VI PENGENDALIAN PENYAKIT

Pengendalian penyakit adalah upaya penurunan insidens, prevalens, morbiditas atau


mortalitas dari suatu penyakit hingga level yang dapat diterima secara lokal. Angka kesakitan
dan kematian penyakit merupakan indikator dalam menilai derajat kesehatan suatu
masyarakat.
Pengendalian penyakit yang akan dibahas pada bab ini yaitu pengendalian penyakit
menular dan tidak menular. Penyakit menular meliputi penyakit menular langsung, penyakit
yang dapat dikendalikan dengan imunisasi dan penyakit yang ditularkan melalui binatang.
Sedangkan penyakit tidak menular meliputi upaya pencegahan dan deteksi dini penyakit
tidak menular tertentu.

A. PENYAKIT MENULAR LANGSUNG


1. Tuberkulosis
Tuberkulosis merupakan penyakit yang menjadi perhatian global. Sesuai dengan
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030, WHO menargetkan untuk menurunkan kematian
akibat tuberkulosis sebesar 90% dan menurunkan insidens sebesar 80% pada tahun 2030
dibandingkan dengan tahun 2014.
Pada tahun 2015 diperkirakan terdapat 10,4 juta kasus baru tuberkulosis atau 142
kasus/100.000 populasi, dengan 480.000 kasus multidrug-resistant. Indonesia merupakan
negara dengan jumlah kasus baru terbanyak kedua di dunia setelah India. Sebesar 60% kasus
baru terjadi di 6 negara yaitu India, Indonesia, China, Nigeria, Pakistan dan Afrika Selatan.
Kematian akibat tuberkulosis diperkirakan sebanyak 1,4 juta kematian ditambah 0,4 juta
kematian akibat tuberkulosis pada orang dengan HIV. Meskipun jumlah kematian akibat
tuberkulosis menurun 22% antara tahun 2000 dan 2015, tuberkulosis tetap menjadi 10
penyebab kematian tertinggi di dunia pada tahun 2015 (WHO, Global Tuberculosis Report,
2016).
Tuberkulosis disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Sumber
penularan adalah pasien tuberkulosis Basil Tahan Asam positif (BTA positif) melalui percik

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 153


renik dahak yang dikeluarkannya. Tuberkulosis dengan BTA negatif juga masih memiliki
kemungkinan menularkan penyakit TB meskipun dengan tingkat penularan yang kecil.
Beban penyakit yang disebabkan oleh tuberkulosis dapat diukur dengan insidens,
prevalensi, dan mortalitas/kematian.

a. Insidens dan Prevalens Tuberkulosis


Menurut Gobal Tuberculosis Report WHO (2016), diperkirakan insidens tuberkulosis
di Indonesia pada tahun 2015 sebesar 395 kasus/100.000 penduduk dan angka kematian
sebesar 40/100.000 penduduk (penderita HIV dengan tuberkulosis tidak dihitung) dan
10/100.000 penduduk pada penderita HIV dengan tuberkulosis. Menurut perhitungan model
prediction yang berdasarkan data hasil survei prevalensi tuberkulosis tahun 2013-2014,
estimasi prevalensi tuberkulosis tahun 2015 sebesar 643 per 100.000 penduduk dan estimasi
prevalensi tuberkulosis tahun 2016 sebesar 628 per 100.000 penduduk.
Pada RPJMN 2015-2019, indikator yang digunakan adalah prevalensi tuberkulosis
berbasis mikroskopis saja sehingga angkanya lebih rendah dari hasil survei prevalensi
tuberkulosis tahun 2013-2014 yang telah menggunakan metode yang lebih sensitif yaitu
konfirmasi bakteriologis yang mencakup pemeriksaan mikroskopis, molekuler dan kultur.
Target prevalensi tuberkulosis tahun 2015 dalam RPJMN sebesar 280 per 100.000 penduduk
dengan capaian sebesar 263 per 100.000 penduduk dan pada tahun 2016 target sebesar 271
per 100.000 penduduk dengan capaian sebesar 257 per 100.000 penduduk. Berdasarkan
capaian tahun 2015 dan 2016 tersebut, maka dapat diprediksi bahwa target tahun 2019
dengan metode lama sebesar 245 per 100.000 penduduk dapat tercapai.

b. Kasus Tuberkulosis Ditemukan


Pada tahun 2016 ditemukan jumlah kasus tuberkulosis sebanyak 351.893 kasus,
meningkat bila dibandingkan semua kasus tuberkulosis yang ditemukan pada tahun 2015
yang sebesar 330.729 kasus. Jumlah kasus tertinggi yang dilaporkan terdapat di provinsi
dengan jumlah penduduk yang besar yaitu Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kasus
tuberkulosis di tiga provinsi tersebut sebesar 44% dari jumlah seluruh kasus baru di
Indonesia.
Menurut jenis kelamin, jumlah kasus pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan
yaitu 1,4 kali dibandingkan pada perempuan. Pada masing-masing provinsi di seluruh
Indonesia kasus lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan.

154 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 6.1
PROPORSI KASUS TUBERKULOSIS MENURUT KELOMPOK UMUR
TAHUN 2012-2016
100%
6,92 6,89 7,79 8,54 8,85
90%
14,07 14,47 13,95 13,82 13,99
80%

70% 16,92 17,07 17,39 17,33 17,25

60%
65 tahun
17,22 17,30 17,36 17,18 16,81
50% 55-64 tahun

40% 45-54 tahun


20,25 19,94 19,61 18,65 18,07
30% 35-44 tahun

25-34 tahun
20%
15,80 15,80 16,19 15,89 15,99
15-24 tahun
10%
8,21 7,92 7,10 8,59 9,04 0-14 tahun
0%
2012 2013 2014 2015 2016

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Gambar 6.1. menunjukan proporsi kasus TB menurut kelompok umur. Pada Tahun
2016 kasus tuberkulosis terbanyak ditemukan pada kelompok umur 25-34 tahun yaitu
sebesar 18,07% diikuti kelompok umur 45-54 tahun sebesar 17,25% dan pada kelompok
umur 35-44 tahun sebesar 16,81%. Pada gambar diatas terlihat bahwa perbedaan proporsi
kasus tuberkulosis berdasarkan golongan umur dari tahun 2012 sampai dengan 2016 tidak
terjadi perubahan signifikan.

c. Angka Notifikasi Kasus atau Case Notification Rate (CNR)


Angka notifikasi kasus adalah jumlah semua kasus tuberkulosis yang diobati dan
dilaporkan di antara 100.000 penduduk yang ada di suatu wilayah tertentu. Angka ini apabila
dikumpulkan serial, akan menggambarkan kecenderungan (tren) meningkat atau
menurunnya penemuan kasus dari tahun ke tahun di suatu wilayah.
Gambar 6.2 menunjukkan angka notifikasi kasus tuberkulosis per 100.000 penduduk
dari tahun 2008-2016. Angka notifikasi kasus tuberkulosis pada tahun 2016 sebesar 136 per
100.000 penduduk meningkat dibandingkan dengan tahun 2015 sebesar 130 per 100.000
penduduk.

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 155


156
(per 100.000 penduduk)

(per 100.000 penduduk)

0
50
100
150
200
250
300
Bali 73

20
40
60
80

0
100
120
140
DI Yogyakarta 83
Riau 95
Jambi 96
Bengkulu 98
131

2008
Jawa Tengah 105
Kalimantan Barat 107
Lampung 110
127

2009
Kep. Bangka Belitung 110
Sumatera Selatan 114

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Aceh 114
129

Kalimantan Tengah

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017


2010
115
Nusa Tenggara Timur 119
Banten 121
Nusa Tenggara Barat 122
136

2011
Jawa Timur

CNR 2015
125
Sulawesi Barat 128
Kalimantan Timur 134 Tahun
138

Sulawesi Tengah
2012

137

GAMBAR 6.3
GAMBAR 6.2

Kalimantan Selatan 139

CNR 2016
Sumatera Barat 140
Gorontalo
135

145
2013

Sulawesi Tenggara 148


Jawa Barat

MENURUT PROVINSI TAHUN 2016


149
Maluku Utara 150
Rate (CNR) semua kasus tuberkulosis menurut provinsi tahun 2016.
129

2014
ANGKA NOTIFIKASI KASUS TUBERKULOSIS

Sulawesi Selatan
PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2008-2016

154
Sumatera Utara 161
Kepulauan Riau 175
Kalimantan Utara
129

183
2015

Papua Barat 210


Sulawesi Utara 219
Maluku 223
136

2016

Papua 260
ANGKA NOTIFIKASI SEMUA KASUS TUBERKULOSIS PER 100.000 PENDUDUK

DKI Jakarta 269

INDONESIA 136
Gambar 6.5 berikut memperlihatkan besarnya angka notifikasi atau Case Notification
Provinsi dengan CNR semua kasus tuberkulosis tertinggi yaitu DKI Jakarta (269),
Papua (260) dan Maluku (209), dan Papua (223). Sedangkan CNR semua kasus tuberkulosis
terendah yaitu Provinsi Bali (73), DI Yogyakarta (83) dan Riau (95). Bila dibandingkan dengan
CNR semua kasus TB tahun 2015 terdapat 24 provinsi (71%) yang mengalami kenaikan CNR
dan 10 provinsi (29%) yang mengalami penurunan CNR.

d. Angka Keberhasilan Pengobatan


Salah satu upaya untuk mengendalikan tuberkulosis yaitu dengan pengobatan.
Indikator yang digunakan untuk mengevaluasi pengobatan tuberkulosis melalui angka
keberhasilan pengobatan (Success Rate). Angka keberhasilan pengobatan merupakan
jumlah semua kasus tuberkulosis yang sembuh (cure) dan pengobatan lengkap di antara
semua kasus tuberkulosis yang diobati dan dilaporkan. Dengan demikian angka ini
merupakan penjumlahan dari angka kesembuhan semua kasus dan angka pengobatan
lengkap semua kasus. Berikut ini digambarkan angka keberhasilan pengobatan tahun 2008-
2016.

GAMBAR 6.4
ANGKA KEBERHASILAN PENGOBATAN PASIEN TUBERKULOSIS
DI INDONESIA TAHUN 2008-2016

100
90
80 90 90 89 88 88 87 85
83 84
70
60

% 50
40
30
20
10
0
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Pada Gambar 6.4 terlihat penurunan angka keberhasilan pengobatan semua kasus
tuberkulosis pada tahun 2013 dan 2015 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun
2016 angka keberhasilan pengobatan semua kasus tuberkulosis sebesar 85%. Angka
kesembuhan semua kasus yang harus dicapai minimal 85% sedangkan angka keberhasilan
pengobatan semua kasus minimal 90%.

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 157


GAMBAR 6.5
ANGKA KEBERHASILAN PENGOBATAN PASIEN TUBERKULOSIS
MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

INDONESIA 85,1

Kalimantan Selatan 94,2


Sumatera Selatan 91,5
Sulawesi Barat 91,5
Jambi 91,3
Nusa Tenggara Barat 90,5
Nusa Tenggara Timur 90,4
Banten 90,4
Kalimantan Barat 89,7
Sumatera Utara 89,6
Sulawesi Utara 89,3
Jawa Barat 88,8
Jawa Timur 88,0
Sulawesi Tengah 87,1
Bengkulu 87,0
Sulawesi Selatan 87,0
Lampung 86,9
Riau 86,0
Kalimantan Timur 85,2
Kep. Bangka Belitung 84,0
Sumatera Barat 83,6
Sulawesi Tenggara 83,2
DI Yogyakarta 82,3
Kalimantan Tengah 82,1
DKI Jakarta 79,7
Aceh 79,3
Kepulauan Riau 79,2
Jawa Tengah 76,9
Gorontalo 76,7
Bali 76,6
Maluku Utara 72,0
Kalimantan Utara 66,8
Maluku 64,5
Papua 64,4
Target: 90%
Papua Barat 56,9
0 20 40 60 80 100
%
Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Berdasarkan grafik di atas, menunjukan angka keberhasilan pengobatan kasus


tuberkulosis semua tipe per provinsi tertinggi Kalimantan Selatan (94,2%) dan terendah
Papua Barat (56,9%). Ada 7 provinsi atau 20,6% provinsi yang sudah mencapai angka
keberhasilan pengobatan kasus tuberkulosis semua tuberkulosis diatas 90% yaitu Provinsi
Kalimantan Selatan, Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Sulawesi Barat, Provinsi Nusa
Tenggaran Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Provinsi Banten.
Informasi mengenai tuberkulosis menurut indikator, jenis kelamin, dan provinsi
secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 6.1-6.7.

2. HIV/AIDS
HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human
Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Infeksi tersebut

158 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah
untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain.
Estimasi dan proyeksi jumlah orang dengan HIV/AIDS pada umur 15 tahun di
Indonesia pada tahun 2016 adalah sebanyak 785.821 orang dengan jumlah infeksi baru
sebanyak 90.915 orang dan kematian sebanyak 40.349 orang (Estimasi dan Proyeksi
HIV/AIDS di Indonesia Tahun 2011-2016, Kemenkes RI).

a. Jumlah Kasus HIV Positif dan AIDS


Sebelum memasuki fase AIDS, penderita terlebih dulu dinyatakan sebagai HIV positif.
Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui layanan konseling dan tes
HIV baik secara sukarela (Konseling dan Tes Sukarela/KTS) maupun atas dasar Tes atas
Inisiatif Pemberi layanan kesehatan dan Konseling (TIPK). Sedangkan prevalensi HIV pada
suatu populasi tertentu dapat diketahui melalui metode sero survey, dan Survei Terpadu
Biologis dan Perilaku (STBP).
Jumlah kasus baru HIV positif dan AIDS yang dilaporkan sampai dengan tahun 2016
disajikan pada Gambar 6.8.

GAMBAR 6.6
JUMLAH KASUS HIV POSITIF DAN AIDS YANG DILAPORKAN DI INDONESIA
SAMPAI TAHUN 2016

45.000
41.250
40.000

35.000 32.711
30.935
29.037
30.000
(Jumlah kasus)

25.000 21.591 21.031


20.000 21.511

15.000 10.362 9.793


7.195
10.000 6.048
5.239 10.862 11.741
5.000 7.470 8.279 7.963 7.185 7.491
6.744
859 3.680 4.828 5.298
0
s.d. 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
2005
HIV AIDS

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Jumlah kasus baru HIV positif yang dilaporkan dari tahun ke tahun cenderung
meningkat dan pada tahun 2016 dilaporkan sebanyak 41.250 kasus.

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 159


Sedangkan jumlah kasus AIDS terlihat adanya kecenderungan peningkatan penemuan
kasus baru sampai tahun 2013 yang kemudian cenderung menurun pada tahun-tahun
berikutnya. Penurunan tersebut diperkirakan terjadi karena jumlah pelaporan kasus AIDS
dari daerah masih rendah. Pada tahun 2016 kasus AIDS yang dilaporkan sedikit meningkat
dibandingkan tahun 2015 yaitu sebanyak 7.491. Secara kumulatif, kasus AIDS sampai dengan
tahun 2016 sebesar 86.780 kasus.
Menurut jenis kelamin, persentase kasus baru HIV positif dan AIDS tahun 2016 pada
laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan seperti digambarkan di bawah ini.

GAMBAR 6.7
PROPORSI KASUS BARU HIV POSITIF DAN AIDS MENURUT JENIS KELAMIN
DI INDONESIA TAHUN 2016

HIV POSITIF Tidak


AIDS
melapork
an jenis
kelamin
0,6%
Perempua
Perempu
n
an 31,5%
36,7%

Laki-laki
63,3% Laki-laki
67,9%

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Penderita HIV positif pada laki-laki sebesar 63,3% dan pada perempuan sebesar
36,7%. Sedangkan penderita AIDS pada laki-laki sebesar 67,9% dan pada perempuan sebesar
31,5%.
Menurut kelompok umur, persentase kasus baru HIV positif dan AIDS tahun 2016
seperti digambarkan di bawah ini.

160 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 6.8
PERSENTASE KASUS BARU HIV POSITIF DAN AIDS MENURUT KELOMPOK UMUR
TAHUN 2016
4 5-14 tidak <1 tahun 1- 4 5-14
50 15-19 0,6% tahun tahun
tahun tahun lapor
tahun tahun 60
2,2% 1,0% 1,3% 2,0% 1,5%
6,5% 3,7% tahun
2,5% 15-19
tahun
20-24 50-59 1,5%
tahun tahun 40-49 20-29
17,3% 8,1% tahun tahun
25-49 17,9% 28,6%
tahun
69,3% 30-39
tahun
36,0%

HIV POSITIF AIDS


Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Penemuan Kasus HIV dan AIDS pada usia di bawah 4 tahun menandakan masih ada
penularan HIV dari ibu ke anak yang diharapkan akan terus menurun di tahun selanjutnya
sebagai upaya mencapai tujuan nasional dan global dalam rangka triple elimination (eliminasi
HIV, hepatitis B, dan sifilis) pada bayi. Proporsi terbesar kasus HIV dan AIDS masih pada
penduduk usia produktif (15-49 tahun), dimana kemungkinan penularan terjadi pada usia
remaja.
HIV dapat ditularkan melalui hubungan seks, tranfusi darah, penggunaan jarum
suntik bergantian dan penularan dari ibu ke anak (perinatal). Berikut ini disajikan persentase
kasus HIV positif dan AIDS menurut faktor risiko penularan yang dilaporkan pada tahun 2016.
GAMBAR 6.9
PERSENTASE KASUS HIV POSITIF DAN AIDS MENURUT FAKTOR RISIKO DI INDONESIA
TAHUN 2016
IDU Lain-lain Tak
Transfusi
Penasun Perinatal 2,6% 0,5%
0,2% diketahui
1,9% 3,8% 2,0%

Biseksual Homosek
Tak sual
Hetero 1,1%
diketahui 15,8%
25,6% seksual
35,5%
Hetero
Lain-lain
seksual
11,0%
74,0%
LSL
26,1%

HIV POSITIF AIDS


Keterangan: LSL: Laki-laki Seks Laki-laki Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 161


Pada gambar di atas terlihat bahwa pada kasus yang dilaporkan tahun 2016, proporsi
kasus HIV AIDS terbesar terjadi pada heteroseksual diikuti oleh homoseksual. Sedangkan
kasus AIDS pada perinatal sebesar 3,8%. Sedangkan proporsi pengguna narkoba suntikan
(penasun) sebesar 1,9% kasus HIV positif dan 2,6% kasus AIDS.
Distribusi kasus AIDS menurut jenis pekerjaan terbanyak pada tenaga non profesional
(karyawan) (22,9%), wiraswasta (15,5%) dan ibu rumah tangga (14,8%).

GAMBAR 6.10
JUMLAH KASUS AIDS MENURUT PEKERJAAN
DI INDONESIA TAHUN 2016

Tenaga non profesional (karyawan) 1.719


Wiraswasta 1.159
Ibu rumah tangga 1.112
Buruh kasar 421
Pegawai Negeri Sipil 347
Seniman/artis/aktor/pengrajin 310
Petanai/peternak/nelayan 229
Anak sekolah/mahasiswa 221
Penjaja seks 217
Anggota TNI/POLRI 199
Supir 92
Tenaga profesional medis 80
Tenaga profesional non medis 52
Pramugara/i/pilot 27
Narapidana 25
Pelaut 22
Manajer/eksekutif 4
Turis 0
Lain-lain 742
Tidak diketahui 513

0 500 1000 1500 2000


Jumlah

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Pada tahun 2016 AIDS dilaporkan bersamaan dengan penyakit penyerta terbanyak
adalah kandidiasis (280 kasus), tuberkulosis (194 kasus) dan diare (173 kasus).

b. Angka Kematian Akibat AIDS


Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) akibat AIDS dari tahun ke tahun
cenderung menurun seperti terlihat pada Gambar 6.13 berikut ini. Pada tahun 2016 CFR
AIDS di Indonesia sebesar 1,1%.

162 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 6.11
ANGKA KEMATIAN AKIBAT AIDS YANG DILAPORKAN
TAHUN 2004-2015

10
9 8,22
8
7 6,13
6 6,78
(%) 5 4,12
5,20
4 4,86
2,95
3
2 1,16 1,11
1 1,66
0
2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

c. Layanan Konseling dan Tes HIV Sukarela


Layanan Tes dan Konseling HIV (TKHIV), adalah suatu layanan untuk mengetahui
adanya infeksi HIV di tubuh seseorang. Konseling dan tes HIV merupakan pintu masuk
utama pada layanan perawatan, dukungan dan pengobatan HIV.
Proses TKHIV dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu:
1. Tes HIV atas inisiatif pemberi layanan kesehatan dan konseling (TIPK) yaitu tes HIV
yang dianjurkan atau ditawarkan oleh petugas kesehatan kepada pasien pengguna
layanan kesehatan sebagai komponen standar layanan kesehatan di fasilitas
tersebut.
2. Konseling dan tes HIV Sukarela (KTS) yaitu layanan tes HIV secara pasif. Pada layanan
tersebut klien datang sendiri untuk meminta dilakukan tes HIV atas berbagai alasan
baik ke fasilitas kesehatan atau layanan tes HIV berbasis komunitas.
Selama tahun 2016 terdapat 3.771 layanan tes dan konseling HIV yang aktif
melaporkan data layanannya. Dari layanan tersebut didapatkan jumlah klien berkunjung
sebanyak 1.545.285 orang. Sebanyak 98,1 % atau 1.515.725 orang menjalani tes HIV dan
2,7% (41.250 orang) mendapatkan hasil positif HIV. Data selengkapnya dapat dilihat pada
Lampiran 6.11.

3. Pneumonia
Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli) yang dapat
disebabkan oleh berbagai mikroorganisme seperti virus, jamur dan bakteri. Gejala penyakit

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 163


pneumonia yaitu menggigil, demam, sakit kepala, batuk, mengeluarkan dahak, dan sesak
napas.
Pneumonia merupakan penyebab dari 16% kematian balita, yaitu diperkirakan
sebanyak 920.136 balita di tahun 2015. Pneumonia menyerang semua umur di semua
wilayah, namun terbanyak adalah di Asia Selatan dan Afrika sub-Sahara (www.who.int, fact
sheet, pneumonia, updated September 2016). Populasi yang rentan terserang pneumonia
adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun dan orang yang
memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi).
Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengendalikan penyakit ini yaitu dengan
meningkatkan penemuan pneumonia pada balita. Tahun 2016 perkiraan kasus pneumonia
secara nasional sebesar 3,55% namun angka perkiraan kasus di masing-masing provinsi
menggunakan angka yang berbeda-beda sesuai angka yang telah ditetapkan.

TABEL 6.1
PERKIRAAN PERSENTASE KASUS PNEUMONIA PADA BALITA MENURUT PROVINSI
DI INDONESIA TAHUN 2016

Perkiraan Perkiraan
No Provinsi No Provinsi
Kasus (%) Kasus (%)
1 Aceh 4,46 18 Nusa Tenggara Barat 6,38
2 Sumatera Utara 2,99 19 Nusa Tenggara Timur 4,28
3 Sumatera Barat 3,91 20 Kalimantan Barat 2,12
4 Riau 2,67 21 Kalimantan Tengah 4,37
5 Jambi 3,15 22 Kalimantan Selatan 5,53
6 Sumatera Selatan 3,61 23 Kalimantan Timur 2,86
7 Bengkulu 2,00 24 Sulawesi Utara 2,68
8 Lampung 2,23 25 Sulawesi Tengah 5,19
9 Kep. Bangka Belitung 6,05 26 Sulawesi Selatan 3,79
10 Kepulauan Riau 3,98 27 Sulawesi Tenggara 3,84
11 DKI Jakarta 4,24 28 Gorontalo 4,84
12 Jawa Barat 4,62 29 Sulawesi Barat 4,88
13 Jawa Tengah 3,61 30 Maluku 3,74
14 DI Yogyakarta 4,32 31 Maluku Utara 2,29
15 Jawa Timur 4,45 32 Papua Barat 2,88
16 Banten 4,12 33 Papua 2,80
17 Bali 2,05 INDONESIA 3,55
Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI

Cakupan penemuan kasus pneumonia pada balita di Indonesia dapat dilihat pada
gambar di bawah ini.

164 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 6.12
CAKUPAN PENEMUAN PNEUMONIA PADA BALITA
DI INDONESIA TAHUN 2008-2016

100

90

80

70 63,45 65,27

60
(%) 50

40
29,47
26,26 25,91 23,98 24,46
30 23,00 23,42

20

10

0
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Sampai dengan tahun 2014, angka cakupan penemuan pneumonia balita tidak
mengalami perkembangan berarti yaitu berkisar antara 20%-30%. Pada tahun 2015 terjadi
peningkatan menjadi 63,45% dan menjadi 65,27% pada tahun 2016. Peningkatan cakupan
pada tahun 2015 karena perubahan angka perkiraan kasus dari 10% menjadi 3,55%, selain
itu ada peningkatan dalam kelengkapan pelaporan dari 83,08% pada tahun 2014 menjadi
91,91% pada tahun 2015 dan 94,12% pada tahun 2016.
Sejak tahun 2015 indikator Renstra yang digunakan adalah persentase
kabupaten/kota yang 50% puskesmasnya melakukan pemeriksaan dan tatalaksana
pneumonia melalui program MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit). Pada tahun 2015
tercapai 14,62% dari 513 kab/kota yang dilaporkan, sedangkan target sebesar 20%. Pada
tahun 2016 tercapai 28,07% dari target 30%. Belum tercapainya target disebabkan antara
lain belum tersosialisasinya penambahan variabel untuk mengukur indikator Renstra sampai
di tingkat puskesmas, sehingga banyak puskesmas tidakmelaporkan variabel tersebut. Selain
itu sosialisasi tata laksana standar juga belum merata ke seluruh puskesmas.
Angka kematian akibat pneumonia pada balita tahun 2016 sebesar 0,11% sedangkan
tahun 2015 sebesar 0,16%. Pada tahun 2016 Angka kematian akibat pneumonia pada
kelompok umur 1-4 sedikit lebih tinggi yaitu sebesar 0,13% dibandingkan pada kelompok
bayi yang sebesar 0,06%. Cakupan penemuan pneumonia dan kematiannya menurut provinsi
dan kelompok umur pada tahun 2016 dapat dilihat pada Lampiran 6.12 dan 6.13.

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 165


4. Kusta
Penyakit kusta atau lepra atau penyakit Hansen merupakan penyakit infeksi kronis
yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae dan utamanya mempengaruhi kulit,
saraf tepi, mukosa saluran pernafasan atas dan mata. Bakteri lepra mengalami proses
pembelahan cukup lama antara 23 minggu, daya tahan hidup di luar tubuh manusia
mencapai 9 hari, dan memiliki masa inkubasi 25 tahun bahkan bisa lebih dari 5 tahun.
Penatalaksanaan kasus kusta yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progresif,
menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak, dan mata.
Jumlah penderita kusta yang dilaporkan dari 38 negara di semua regional WHO
adalah sebanyak 176.176 kasus di akhir tahun 2015 atau 0,18 kasus per 10.000 penduduk
dengan 211.973 kasus baru atau 0,21 kasus per 10.000 penduduk (www.who.int, Leprosy
Fact Sheet, Updated Februari 2017).

a. Angka Prevalensi dan Angka Penemuan Kasus Baru


Indonesia telah mencapai status eliminasi kusta, yaitu prevalensi kusta <1 per 10.000
penduduk (<10 per 100.000 penduduk), pada tahun 2000. Setelah itu Indonesia masih bisa
menurunkan angka kejadian kusta meskipun relatif lambat. Angka prevalensi kusta di
Indonesia pada tahun 2016 sebesar 0,71 kasus/10.00 penduduk dan angka penemuan kasus
baru sebesar 6,50 kasus per 100.000 penduduk. Angka kejadian dalam 5 tahun terakhir
dapat dilihat pada Gambar 6.16
Pada tahun 2016 dilaporkan 16.826 kasus baru kusta (6,5/100.000 penduduk) dengan
84,19% kasus di antaranya merupakan tipe Multi Basiler (MB). Sedangkan menurut jenis
kelamin, 62,47% penderita baru kusta berjenis kelamin laki-laki dan sebesar 37,53% lainnya
berjenis kelamin perempuan.
GAMBAR 6.13
ANGKA PREVALENSI DAN ANGKA PENEMUAN KASUS BARU KUSTA (NCDR)
TAHUN 2011-2016
10

8
8,30
7,76
6 6,79 6,75 6,73 6,50
4

2 0,96 0,91 0,79 0,79 0,79 0,71

0
2011 2012 2013 2014 2015 2016
Angka prevalensi kusta per 10.000 penduduk
Angka penemuan kasus baru kusta per 100.000 penduduk
Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

166 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Berdasarkan status eliminasi, kusta dibagi menjadi 2 kelompok yaitu provinsi yang
belum eliminasi dan provinsi yang sudah mencapai eliminasi. Provinsi yang sudah mencapai
eliminasi jika angka prevalensi <1 per 10.000 penduduk. Pada Gambar 6.17 terlihat bahwa
dari 34 provinsi, sebanyak 11 provinsi (32,35%) termasuk dalam provinsi yang belum
eliminasi. Sedangkan 23 provinsi lainnya (67,65%) termasuk dalam provinsi yang sudah
eliminasi.

GAMBAR 6.14
PETA ELIMINASI KUSTA PROVINSI DI INDONESIA
TAHUN 2015 DAN 2016

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Di tahun 2016, terdapat penambahan provinsi yang mencapai eliminasi yaitu Provinsi
Aceh dan Provinsi Kalimantan Utara. Adapun 11 provinsi yang belum mencapai eliminasi
adalah Jawa Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi
Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, Papua, serta Papua Barat.

b. Angka Cacat Tingkat 2


Pengendalian kasus kusta antara lain dengan meningkatkan deteksi kasus sejak dini.
Indikator yang digunakan untuk menunjukkan keberhasilan dalam mendeteksi kasus baru
kusta salah satunya adalah angka cacat tingkat 2. Angka cacat tingkat 2 pada tahun 2016
adalah sebesar 5,27 per 1.000.000 penduduk, menurun dibanding tahun sebelumnya yang
sebesar 6,60 per 1.000.000 penduduk. Berikut ini grafik angka cacat tingkat 2 tahun 2011-
2016.

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 167


GAMBAR 6.15
ANGKA CACAT TINGKAT 2 PENDERITA KUSTA BARU PER 1.000.000 PENDUDUK
TAHUN 2012-2016
10

8
8,40 8,71
6
6,82 6,60
6,33
5,27
%

0
2011 2012 2013 2014 2015 2016
Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Provinsi dengan angka cacat tingkat 2 tertinggi pada tahun 2016 adalah Maluku Utara
(13,49 per 1.000.000 penduduk), Sulawesi Selatan (13,25 per 1.000.000 penduduk) dan
Papua (11,85 per 1.000.000 penduduk). Tingginya angka cacat tingkat 2 menunjukkan
keterlambatan dalam penemuan kasus di lapangan.

GAMBAR 6.16
ANGKA CACAT TINGKAT 2 KUSTA PER 1.000.000 PENDUDUK
PER PROVINSI TAHUN 2016
INDONESIA 5,27

DI YOGYA 0,00
LAMPUNG 0,00
NUSA TENGGARA TIMUR 0,38
KEPULAUAN RIAU 0,49
KALIMANTAN TIMUR 0,57
BALI 0,71
SUMATERA BARAT 0,76
KALIMANTAN TENGAH 0,78
RIAU 1,08
BANGKA BELITUNG 1,43
DKI JAKARTA 1,46
KALIMANTAN BARAT 1,65
SUMATERA UTARA 2,20
NUSA TENGGARA BARAT 2,25
JAMBI 2,31
BENGKULU 2,62
KALIMANTAN UTARA 3,00
SUMATERA SELATAN 3,19
KALIMANTAN SELATAN 4,44
JAWA BARAT 4,50
SULAWESI BARAT 4,59
JAWA TENGAH 4,64
SULAWESI TENGAH 4,79
PAPUA BARAT 5,60
SULAWESI UTARA 6,16
SULAWESI TENGGARA 6,27
ACEH 7,26
BANTEN 9,01
GORONTALO 9,56
MALUKU 10,49
JAWA TIMUR 11,39
PAPUA 11,85
SULAWESI SELATAN 13,25
MALUKU UTARA 13,49
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Angka cacat tingkat II kusta per 1.000.000 penduduk

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

168 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


c. Proporsi Kusta Multibasiler (MB) dan Proporsi Penderita Kusta pada Anak
Indikator lain yang digunakan pada penyakit kusta yaitu proporsi kusta MB dan
proporsi penderita kusta pada anak (0-14 tahun) di antara penderita baru yang
memperlihatkan sumber utama dan tingkat penularan di masyarakat. Proporsi kusta MB dan
proporsi pada anak periode 2011-2016 ditunjukkan pada grafik berikut ini.

GAMBAR 6.17
PROPORSI KUSTA MB DAN PROPORSI KUSTA PADA ANAK
TAHUN 2012-2016
100
90
80
82,69 83,44 83,48 84,55 84,19
70
60
(%) 50
40
30
20 10,78 11,88 11,12 11,22 11,43
10
0
2012 2013 2014 2015 2016

Proporsi kusta MB Proporsi kusta pada anak

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Proporsi kusta MB periode 2012-2016 tidak banyak berubah berkisar 82-85%.


Provinsi dengan proporsi kusta MB tertinggi pada tahun 2016 yaitu Kalimantan Tengah
(100%), Jambi (96,72), Gorontalo (94,35%).
Sedangkan proporsi kusta anak pada periode yang sama yaitu sekitar 10%-12%.
Provinsi dengan proporsi kusta pada anak tertinggi yaitu Papua Barat (28,73%), Nusa
Tenggara Timur (27,96%), dan Maluku Utara (23,27%).
Data/informasi terkait penyakit kusta menurut provinsi terdapat pada Lampiran 6.12
sampai Lampiran 6.14.

5. Diare
Penyakit diare merupakan penyakit endemis di Indonesia dan juga merupakan
penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB) yang sering disertai dengan kematian. Pada
tahun 2016 terjadi 3 kali KLB diare yang tersebar di 3 provinsi, 3 kabupaten, dengan jumlah
penderita 198 orang dan kematian 6 orang (CFR 3,04%).

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 169


TABEL 6.2
REKAPITULASI KLB DIARE TAHUN 2016

No Provinsi Kabupaten/Kota Kasus Kematian CFR (%)

1 NTT KAB. KUPANG 107 3 2,80

2 JAWA TENGAH KAB. PORWOREJO 56 3 5,36

3 SUMATERA UTARA KAB. BINJAI 35 0 0,00

Total 198 6 3,04

Angka kematian (CFR) saat KLB diare diharapkan <1%. Pada tabel berikut dapat dilihat
rekapitulasi KLB diare dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2016. Terlihat bahwa CFR saat
KLB masih cukup tinggi (>1%) kecuali pada tahun 2011 CFR pada saat KLB sebesar 0,40%,
sedangkan tahun 2016 CFR diare saat KLB meningkat menjadi 3,04%.

TABEL 6.3
REKAPITULASI KLB DIARE DI INDONESIA
TAHUN 2008 2016

Tahun Jumlah Provinsi Jumlah Kejadian Kasus Kematian CFR


2008 15 47 8.133 239 2,94
2009 14 24 5.756 100 1,74
2010 11 33 4.204 73 1,74
2011 15 19 3.003 12 0,40
2012 17 34 1.625 25 1,53
2013 6 8 633 7 1,11
2014 5 6 2.549 29 1,14
2015 13 21 1.213 30 2,47
2016 3 3 198 6 3,04

Target cakupan pelayanan penderita diare yang datang ke sarana kesehatan dan
kader kesehatan adalah 10% dari perkiraan jumlah penderita diare (insidens diare dikali
jumlah penduduk di satu wilayah kerja dalam waktu satu tahun). Insidensi diare nasional
hasil Survei Morbiditas Diare tahun 2014 yaitu sebesar 270/1.000 penduduk, maka
diperkirakan jumlah penderita diare di fasilitas kesehatan pada tahun 2016 sebanyak
6.897.463 orang, sedangkan jumlah penderita diare yang dilaporkan ditangani di fasilitas
kesehatan adalah sebanyak 3.198.411 orang atau 46,4% dari target. Rincian menurut
provinsi dapat dilihat pada Lampiran 6.11.

170 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


B. PENYAKIT YANG DAPAT DICEGAH DENGAN IMUNISASI (PD3I)
1. Tetanus Neonatorum
Tetanus Neonatorum (TN) disebabkan oleh basil Clostridium tetani, yang masuk ke
tubuh melalui luka. Penyakit ini menginfeksi bayi baru lahir yang salah satunya disebabkan
oleh pemotongan tali pusat dengan alat yang tidak steril. Kasus tetanus neonatorum banyak
ditemukan di negara berkembang khususnya negara dengan cakupan persalinan oleh tenaga
kesehatan yang rendah.
Pada tahun 2016, dilaporkan terdapat 33 kasus dari 7 provinsi dengan jumlah
meninggal 14 kasus atau CFR 42,4%. Kasus TN paling banyak terjadi di provinsi Jawa Timur
(19 kasus). Dibandingkan tahun 2015, terjadi penurunan baik jumlah kasus maupun CFR-nya,
yaitu 53 kasus dari 13 provinsi dengan CFR sebesar 50,9%.

GAMBAR 6.18
DISTRIBUSI KASUS TETANUS NEONATORUM PER PROVINSI
TAHUN 2016

Sumber : Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Gambaran kasus menurut faktor risiko penolong persalinan, 25 atau 75,8% kasus
ditolong oleh penolong persalinan tradisional, misalnya dukun. Menurut cara perawatan tali
pusat terdapat 3 bayi yang dirawat menggunakan alkohol/iodium yang terkena penyakit ini.
Menurut alat yang digunakan untuk pemotongan tali pusat, terdapat 11 kasus (33,3%)
menggunakan gunting, 16 kasus (48,5%) menggunakan bambu, dan sisanya menggunakan
alat lain atau tidak diketahui. Menurut status imunisasi sebanyak 23 kasus (69,7%) terjadi
pada kelompok yang tidak diimunisasi. Rincian kasus tetanus neonatorum beserta
persentase kasus menurut faktor risiko dan provinsi dapat dilihat pada Lampiran 6.18.

2. Campak
Penyakit campak disebabkan oleh virus campak golongan Paramyxovirus. Penularan
dapat terjadi melalui udara yang telah terkontaminasi oleh droplet (ludah) orang yang telah

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 171


terinfeksi. Sebagian besar kasus campak menyerang anak-anak usia pra sekolah dan usia SD.
Jika seseorang pernah menderita campak, maka dia akan mendapatkan kekebalan terhadap
penyakit tersebut seumur hidupnya.
Pada tahun 2016, dilaporkan terdapat 12.681 kasus campak, lebih rendah
dibandingkan tahun 2015 yang sebesar 10.655 kasus. Kasus campak rutin terbanyak (lebih
dari 1.000 kasus) dilaporkan dari Provinsi Jawa Timur (2.937 kasus), Provinsi Jawa Tengah
(2.043 kasus), dan Provinsi Aceh (1.452 kasus). Dari seluruh kasus campak rutin tersebut,
terdapat 1 kasus meninggal yang dilaporkan berasal dari Provinsi Jawa Barat.

GAMBAR 6.19
DISTRIBUSI KASUS CAMPAK RUTIN DI INDONESIA
TAHUN 2016

Sumber : Ditjen P2P, Kemenkes RI,2017

Incidence Rate (IR) campak pada tahun 2016 sebesar 5,0 per 100.000 penduduk,
meningkat dibandingkan tahun 2015 yang sebesar 3,20 per 100.000 penduduk. Gambar 6.20
menyajikan IR campak menurut provinsi. Sebanyak 12 provinsi melaporkan tidak terjadi
kasus campak di daerahnya. Adapun Nusa Tenggara Barat, Bali, dan dan Sulawesi Selatan
merupakan provinsi dengan IR campak terendah. Sedangkan Jambi, Kepulauan Riau dan
Aceh merupakan provinsi dengan IR campak tertinggi.

172 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 6.20
INCIDENCE RATE (IR) CAMPAK PER 100.000 PENDUDUK
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2016

Indonesia 5,0
Papua Barat 0,0
Maluku Utara 0,0
Maluku 0,0
Sulawesi Barat 0,0
Kalimantan Utara 0,0
Kalimantan Timur 0,0
Kalimantan Selatan 0,0
Nusa Tenggara Timur 0,0
Banten 0,0
DI Yogyakarta 0,0
Kep. Bangka Belitung 0,0
Riau 0,0
Nusa Tenggara Barat 0,1
Bali 0,1
Sulawesi Selatan 0,8
Jawa Barat 1,3
Sumatera Utara 1,3
Kalimantan Barat 1,4
Papua 2,1
DKI Jakarta 2,7
Sulawesi Tenggara 3,8
Bengkulu 5,1
Lampung 5,4
Jawa Tengah 6,0
Gorontalo 7,5
Jawa Timur 7,6
Sumatera Barat 9,1
Sumatera Selatan 9,8
Sulawesi Utara 9,9
Kalimantan Tengah 12,2
Sulawesi Tengah 23,8
Aceh 29,0
Kepulauan Riau 31,7
Jambi 34,0

0 5 10 15 20 25 30 35 40

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Menurut kelompok umur, proporsi kasus campak terbesar terdapat pada kelompok
umur 5-9 tahun dan kelompok umur 1-4 tahun dengan proporsi masing-masing sebesar
31,6% dan 25,4%. Adapun dari 12.681 kasus campak ternyata hanya 4.466 (35,2%) yang
divaksinasi. Gambar 6.21 berikut memperlihatkan proporsi kasus campak per kelompok
umur. Rincian kasus campak per provinsi dapat dilihat pada Lampiran 6.19 dan 6.20.

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 173


GAMBAR 6.21
PROPORSI KASUS CAMPAK PER 100.000 PENDUDUK MENURUT KELOMPOK UMUR
DI INDONESIA TAHUN 2016

<1 Tahun
7%
15 Tahun
19%

1-4 Tahun
25%
10-14 Tahun
17%

5-9 Tahun
32%

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Campak dinyatakan sebagai KLB apabila terdapat 5 atau lebih kasus klinis dalam
waktu 4 minggu berturut-turut yang terjadi secara mengelompok dan dibuktikan adanya
hubungan epidemiologis. Pada tahun 2016, jumlah KLB campak yang terjadi sebanyak 129
KLB dengan jumlah kasus sebanyak 1.511 kasus. Angka tersebut lebih tinggi bila
dibandingkan dengan tahun 2015 dengan 68 KLB dan jumlah kasus sebanyak 831 kasus.
Frekuensi KLB campak tertinggi terjadi di Sumatera Barat sebanyak 33 kejadian KLB
dengan 495 kasus dan 1 orang meninggal. Frekuensi KLB campak tertinggi selanjutnya terjadi
di Provinsi Jambi sebanyak 27 KLB dengan jumlah 256 kasus campak dan Sumatera Selatan
14 KLB dengan 125 kasus campak. Tidak ada penderita yang meninggal dari kejadian KLB di
dua provinsi tersebut. Frekuensi dan jumlah kasus pada KLB campak menurut provinsi dapat
dilihat pada Lampiran 6.21.

3. Difteri
Penyakit difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae yang
menyerang sistem pernapasan bagian atas. Penyakit difteri pada umumnya menyerang anak-
anak usia 1-10 tahun.
Jumlah kasus difteri pada tahun 2016 sebanyak 415 kasus dengan jumlah kasus
meninggal sebanyak 24 kasus sehingga CFR difteri yaitu sebesar 5,8%. Dari jumlah tersebut,
kasus tertinggi terjadi di Jawa Timur dengan 209 kasus dan Jawa Barat yaitu sebanyak 133
kasus. Dari seluruh kasus difteri, sebesar 51 % diantaranya tidak mendapatkan vaksinasi.

174 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 6.22
SEBARAN KASUS DIFTERI MENURUT PROVINSI
TAHUN 2016

Sumber : Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Gambaran kasus menurut kelompok umur pada tahun 2016 menunjukkan bahwa
59% kasus difteri terjadi pada kelompok umur 5-9 tahun dan 1-4 Tahun. Kelompok umur 15
tahun memiliki rentang usia yang lebih panjang dibanding kelompok umur lainnya sehingga
meskipun proporsinya besar, jika dihitung per umur tunggal, kelompok ini memiliki jumlah
kasus yang rendah. Rincian kasus difteri per provinsi dapat dilihat pada Lampiran 6. 23.

GAMBAR 6.23
PROPORSI KASUS DIFTERI MENURUT KELOMPOK UMUR
DI INDONESIA TAHUN 2016

<1 Tahun
2%

15 Tahun1-4 Tahun
28% 23%

10-14 Tahun
11%
5-9 Tahun
36%

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 175


4. Polio dan AFP (Acute Flaccid Paralysis/Lumpuh Layu Akut)
Polio disebabkan oleh infeksi virus yang menyerang sistem syaraf, utamanya
menyerang anak balita dan menular terutama melalui fekal-oral. Polio ditandai dengan
gejala awal demam, lelah, sakit kepala, mual, kaku di leher, serta sakit di tungkai dan lengan.
Pada 1 dari 200 infeksi menyebabkan kelumpuhan permanen (biasanya pada tungkai), dan 5-
10% dari yang menderita kelumpuhan meninggal karena kelumpuhan pada otot-otot
pernafasan.
Indonesia telah berhasil mendapatkan sertifikasi bebas polio bersama negara-negara
South East Asia Region (SEARO) pada tanggal 27 Maret 2014. Saat ini tinggal 2 negara, yaitu
Afghanistan dan Pakistan yang masih endemik polio. Setelah Indonesia dinyatakan bebas
polio, bukan berarti Indonesia menurunkan upaya imunisasi dan surveilens AFP, upaya
pencegahan harus terus ditingkatkan hingga seluruh dunia benar-benar terbebas dari polio.
Surveilans AFP adalah pengamatan yang dilakukan terhadap semua kasus lumpuh
layuh akut (AFP) pada anak usia <15 tahun, yang merupakan kelompok yang rentan terhadap
penyakit polio, dalam upaya untuk menemukan adanya transmisi virus polio liar. Surveilans
AFP merupakan indikator sensitivitas deteksi virus polio liar. Surveilans AFP juga penting
untuk dokumentasi tidak adanya virus polio liar untuk sertifikasi bebas polio.
Non polio AFP adalah kasus lumpuh layuh akut yang diduga kasus polio sampai
dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium bukan kasus polio. Kementerian Kesehatan
menetapkan non polio AFP rate minimal 2/100.000 populasi anak usia <15 tahun. Pada tahun
2016, secara nasional non polio AFP rate sebesar 1,96/100.000 populasi anak <15 tahun yang
berarti belum mencapai standar minimal penemuan.

GAMBAR 6.24
PENCAPAIAN NON POLIO AFP RATE PER 100.000 ANAK USIA < 15 TAHUN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

No case/report
NP AFP rate < 1
NP AFP rate 1-1,99
NP AFP rate >=2

Sumber : Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

176 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Dari 34 provinsi, 18 di antaranya (52,94%) telah mencapai target non polio AFP rate
2 per 100.000 penduduk kurang dari 15 tahun pada tahun 2016, 15 provinsi masih <2 dan 1
provinsi yaitu Papua Barat belum menyampaikan laporannya.

GAMBAR 6.25
NON POLIO AFP RATE PER 100.000 ANAK < 15 TAHUN
DI INDONESIA TAHUN 2016

Indonesia 1,96
Papua Barat
Gorontalo 5,43
Bali 3,24
DKI Jakarta 2,88
Lampung 2,74
Sulawesi Tengah 2,35
Sulawesi Utara 2,31
Jambi 2,20
Nusa Tenggara Timur 2,16
Kalimantan Tengah 2,13
Nusa Tenggara Barat 2,13
DI Yogyakarta 2,12
Banten 2,11
Sumatera Utara 2,11
Jawa Tengah 2,08
Jawa Timur 2,03
Jawa Barat 2,02
Sumatera Barat 2,00
Aceh 2,00
Kalimantan Barat 1,93
Sulawesi Tenggara 1,89
Sumatera Selatan 1,70
Kalimantan Selatan 1,67
Sulawesi Selatan 1,60
Kalimantan Timur 1,40
Bengkulu 1,27
Papua 0,90
Kepulauan Riau 0,77
Kep. Bangka Belitung 0,50
Kalimantan Utara 0,40
Riau 0,39
Maluku Utara 0,25
Sulawesi Barat 0,22
Maluku 0,17

- 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00

Sumber: Ditjen P2P Kemenkes RI, 2017

Setiap kasus AFP yang ditemukan dalam kegiatan intensifikasi surveilans, akan
dilakukan pemeriksaan spesimen tinja untuk mengetahui ada tidaknya virus polio liar. Untuk
itu diperlukan spesimen adekuat yang sesuai dengan persyaratan yaitu diambil 14 hari
setelah kelumpuhan dan suhu spesimen 0C - 8C sampai di laboratorium.

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 177


GAMBAR 6.26
PENCAPAIAN SPESIMEN ADEKUAT MENURUT PROVINSI
TAHUN 2016

No case/report
Adeq. Spec <60%

Adeq . Spec 60-79%


Adeq. Spec >=80%

Sumber : Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

GAMBAR 6.27
PERSENTASE SPESIMEN ADEKUAT AFP
MENURUT PROVINSI TAHUN 2016
Indonesia 83,1
Papua Barat
Sumatera Utara 100,0
Kep. Bangka Belitung 100,0
Kalimantan Utara 100,0
Riau 100,0
Sulawesi Barat 100,0
Kalimantan Barat 96,4
Jawa Tengah 94,7
Sumatera Barat 93,7
Sulawesi Selatan 92,5
Banten 89,4
Jawa Barat 86,8
Kalimantan Timur 86,6
Lampung 85,7
Bengkulu 85,7
Jawa Timur 84,6
DI Yogyakarta 83,3
Sumatera Selatan 80,9
Sulawesi Utara 80,0
Kepulauan Riau 80,0
Gorontalo 78,9
Jambi 77,2
Sulawesi Tengah 75,0
Nusa Tenggara Timur 75,0
Kalimantan Tengah 75,0
Bali 74,2
Aceh 71,8
Sulawesi Tenggara 70,5
Kalimantan Selatan 65,0 Standar Spesimen Adekuat
Nusa Tenggara Barat 59,3
80%
Maluku 50,0
DKI Jakarta 40,0
Papua 33,3
Maluku Utara
- 20,0 40,0 60,0 80,0 100,0 120,0

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

178 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Standar spesimen adekuat yaitu 80%. Pada tahun 2016 spesimen adekuat di
Indonesia sebesar 83,1%. Dengan demikian spesimen adekuat secara nasional telah sesuai
standar.
Sebanyak 19 provinsi (55,8%) telah mencapai standar spesimen adekuat pada tahun
2016, 14 provinsi belum mencapai standar dan 1 provinsi yaitu Papua Barat belum
menyampaikan laporan.
Informasi lebih rinci mengenai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
menurut provinsi dan kelompok umur dapat dilihat pada Lampiran 6.18 - 6.24.

C. PENYAKIT TULAR VEKTOR DAN ZOONOSIS


1. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus
Dengue yang tergolong Arthropod-Borne Virus, genus Flavivirus, dan famili Flaviviridae. DBD
ditularkan melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, terutama Aedes aegypti atau Aedes
albopictus. Penyakit DBD dapat muncul sepanjang tahun dan dapat menyerang seluruh
kelompok umur. Penyakit ini berkaitan dengan kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat.

a. Incidence Rate (IR) dan Case Fatality Rate (CFR)


Tahun 2016 terdapat jumlah kasus DBD sebanyak 204.171 kasus dengan jumlah
kematian sebanyak 1.598 orang. Jumlah kasus DBD tahun 2016 meningkat dibandingkan
jumlah kasus tahun 2015 (129.650 kasus). Jumlah kematian akibat DBD tahun 2016 juga
meningkat dari tahun 2015 (1.071 kematian). IR atau angka kesakitan DBD tahun 2016 juga
meningkat dari tahun 2015, yaitu 50,75 menjadi 78,85 per 100.000 penduduk. Namun, Case
Fatality Rate (CFR) mengalami penurunan dari 0,83% pada tahun 2015 menjadi 0,78% pada
tahun 2016. Berikut tren angka kesakitan DBD selama kurun waktu 2010-2016.

GAMBAR 6.28
ANGKA KESAKITAN DEMAM BERDARAH DENGUE
PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2010-2016
100
90 78,85
80
65,70
70
60 50,75
45,85
IR DBD

50 37,27 39,80
40 27,67
30
20
10
0
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Tahun
Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 179


Gambaran angka kesakitan DBD menurut provinsi tahun 2016 dapat dilihat pada
Gambar 6.29. Pada tahun 2016 terdapat 10 provinsi dengan angka kesakitan kurang dari 49
per 100.000 penduduk. Provinsi dengan angka kesakitan DBD tertinggi yaitu Bali sebesar
515,90 per 100.000 penduduk, Kalimantan Timur sebesar 305,95 per 100.000 penduduk, dan
DKI Jakarta sebesar 198,71 per 100.000 penduduk. Angka kesakitan pada provinsi Bali dan
Kalimantan Timur meningkat hampir dua kali lipat jika dibandingkan dengan angka kesakitan
tahun 2015, dimana Bali sebesar 257,75 per 100.000 penduduk dan Kalimantan Timur
sebesar 188,46 per 100.000 penduduk. Kenaikan drastis juga terjadi di DKI Jakarta yaitu pada
tahun 2015 angka kesakitan DBD hanya 48,55 per 100.000 penduduk menjadi 198,71 per
100.000 pada tahun 2016. Kenaikan angka kesakitan tersebut perlu mendapat perhatian
khusus.
GAMBAR 6.29
ANGKA KESAKITAN DEMAM BERDARAH DENGUE PER 100.000 PENDUDUK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

INDONESIA 78,85

Bali 515,90
Kalimantan Timur 305,95
DKI Jakarta 198,71
DI Yogyakarta 167,89
Kalimantan Utara 158,33
Sulawesi Tenggara 123,34
Kalimantan Selatan 101,05
Kepulauan Riau 97,77
Bengkulu 91,66
Sulawesi Selatan 89,29
Sulawesi Utara 81,04
Sulawesi Tengah 79,20
Jawa Barat 77,31
Sumatera Barat 75,75
Sulawesi Barat 66,82
Kalimantan Tengah 65,05
Gorontalo 64,83
Riau 64,14
Jawa Timur 62,65
Sumatera Utara 61,11
Lampung 55,04
Nusa Tenggara Barat 52,80
Aceh 52,02
Banten 50,31
Sumatera Selatan 47,19
Jambi 44,90
Jawa Tengah 42,26
Papua 35,23
Kepulauan Bangka Belitung 34,95
Maluku Utara 25,04
Maluku 21,16
Nusa Tenggara Timur 19,51
Kalimantan Barat 12,09
Papua Barat 11,75
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 550
IR DBD
Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

180 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Kematian CFR akibat DBD lebih dari 1% dikategorikan tinggi. Pada tahun 2016
terdapat 11 provinsi yang memiliki CFR tinggi dimana 3 provinsi dengan CFR tertinggi adalah
Maluku (5,79%), Maluku Utara (2,69%), dan Gorontalo (2,68%). Pada provinsi-provinsi
dengan CFR tinggi masih diperlukan upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan
peningkatan pengetahuan masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke sarana kesehatan
jika ada gejala DBD sehingga tidak terlambat ditangani dan bahkan menyebabkan kematian.
CFR menurut provinsi dapat dilihat pada Gambar 6.30.
GAMBAR 6.30
CASE FATALITY RATE DEMAM BERDARAH DENGUE
MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

INDONESIA 0,78

Maluku 5,79
Maluku Utara 2,69
Gorontalo 2,68
Jawa Tengah 1,48
Kalimantan Tengah 1,45
Jawa Timur 1,40
Kalimantan Barat 1,36
Bengkulu 1,26
Banten 1,16
Kalimantan Utara 1,04
Kepulauan Riau 1,01
Kalimantan Timur 0,96
Sulawesi Tenggara 0,96
Sulawesi Tengah 0,95
Riau 0,94
Nusa Tenggara Barat 0,93
Sulawesi Barat 0,92
Jambi 0,90
Sulawesi Utara 0,86
Aceh 0,79
Jawa Barat 0,74
Kalimantan Selatan 0,68
Sumatera Selatan 0,65
Kepulauan Bangka Belitung 0,61
Sumatera Utara 0,53
Sulawesi Selatan 0,53
Papua 0,53
Sumatera Barat 0,45
DI Yogyakarta 0,42
Lampung 0,33
Bali 0,29
Nusa Tenggara Timur 0,20
DKI Jakarta 0,07
Papua Barat 0,00
0 1 2 3 4 5 6
% CFR
Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

b. Kabupaten/kota Terjangkit DBD


Kenaikan angka kesakitan DBD pada tahun 2016 juga diiringi oleh peningkatan jumlah
kabupaten/kota terjangkit DBD. Pada tahun 2015 terdapat 446 (86,77%) menjadi 463
Kabupaten/Kota (90,07%) pada tahun 2016. Gambar 6.31 menunjukkan tren jumlah

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 181


kabupaten/kota terjangkit pada tahun 2010-2016. Selama periode tahun 2010 sampai tahun
2016 terlihat jumlah kabupaten/kota terjangkit DBD mengalami kenaikan.

GAMBAR 6.31
JUMLAH KABUPATEN/KOTA TERJANGKIT DBD
DI INDONESIA TAHUN 2010-2016
600

500 446 463


417 433
400 412
374
400
Jumlah Kab/Kota

300

200

100

0
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Tahun
Sumber: Ditjen P2P Kemenkes RI, 2017

c. Angka Bebas Jentik


Salah satu indikator yang digunakan untuk upaya pengendalian penyakit DBD yaitu
angka bebas jentik (ABJ). Sampai dengan tahun 2016, ABJ secara nasional belum mencapai
target program yang sebesar 95%.

GAMBAR 6.32
ANGKA BEBAS JENTIK
DI INDONESIA TAHUN 2010-2015
100
90 80,2 80,1
79,3
76,2
80
67,6
70
60 54,2
% ABJ

50
40
24,1
30
20
10
0
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Tahun
Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

182 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Walaupun belum memenuhi target program, ABJ tahun 2016, yaitu sebesar 67,6%
meningkat dibandingkan tahun 2015 sebesar 54,2%. Hal ini dapat disebabkan Puskesmas
sudah mulai menggalakkan kembali kegiatan Pemantauan Jentik Berkala (PJB) secara rutin
sehingga kegiatan kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) sudah mulai digalakkan kembali.
Selain itu, pelaporan data ABJ sudah mulai mencakup sebagian wilayah kabupaten/kota di
Indonesia sehingga cakupan ABJ juga semakin meningkat.
Data penyakit DBD lebih rinci menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 6.27 dan
Lampiran 6.28.

2. Chikungunya
Demam chikungunya (demam chik) adalah suatu penyakit menular dengan gejala
utama demam mendadak, nyeri pada persendian, terutama pada sendi lutut, pergelangan,
jari kaki dan tangan serta tulang belakang, serta ruam pada kulit. Demam chik ditularkan
oleh nyamuk Aedes albopictus dan Aedes aegypty yang juga merupakan nyamuk penular
penyakit DBD.
Demam chik dijumpai terutama di daerah tropis/subtropis dan sering menimbulkan
epidemi. Beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya demam chik yaitu rendahnya
status kekebalan kelompok masyarakat dan kepadatan populasi nyamuk penular karena
banyaknya tempat perindukan nyamuk yang biasanya terjadi pada musim penghujan.
Selama tahun 2016 terjadi demam chikungunya sebanyak 1.702 kasus di 20
kabupaten/kota dari 4 provinsi yaitu Jawa Barat (1 kabupaten/kota), Jawa Timur (13
kabupaten/kota), Sulawesi Tengah (5 kabupaten/kota), dan Bali (1 kabupaten/kota). Jumlah
kasus demam chikungunya terbanyak terjadi di Jawa Timur sebanyak 1.489 kasus.

GAMBAR 6.33
JUMLAH KASUS CHIKUNGUNYA DI INDONESIA
TAHUN 2010-2016
60.000
52.703

50.000

40.000
Jumlah Kasus

30.000

20.000 15.324

7.341
10.000
2.998 1.831 2.282 1.702
0
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Tahun
Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 183


Kejadian demam chikungunya mengalami penurunan kasus yang sangat signifikan
pada tahun 2010-2012, namun kembali meningkat cukup signifikan pada tahun 2013 dan
turun kembali sampai tahun 2016. Hingga saat ini belum pernah dilaporkan adanya kematian
akibat chikungunya. Faktor penyebab turunnya kasus antara lain kondisi cuaca yang relatif
kering dengan curah hujan yang rendah, adanya imunitas pada daerah yang pernah
terjangkit, sebagian daerah tidak melaporkan kasus chikungunya dan lain-lain.

3. Filariasis
Filariasis adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh parasit berupa
cacing filaria, yang terdiri dari tiga spesies yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan
Brugia timori. Penyakit ini menginfeksi jaringan limfe (getah bening). Filariasis menular
melalui gigitan nyamuk yang mengandung cacing filaria dalam tubuhnya. Dalam tubuh
manusia, cacing tersebut tumbuh menjadi cacing dewasa dan menetap di jaringan limfe
sehingga menyebabkan pembengkakan di kaki, tungkai, payudara, lengan dan organ genital.
Sebagai upaya untuk mengeliminasi filariasis pada tahun 2020 WHO menetapkan
kesepakatan global (The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health
problem by The Year 2020). Di dunia terdapat 1,3 miliar penduduk yang berisiko tertular
penyakit filariasis atau yang dikenal juga dengan penyakit kaki gajah yang berada pada lebih
dari 83 negara dan 60% kasus berada di Asia Tenggara. Di Indonesia, pada tahun 2016
terdapat 13.009 kasus filariasis. Grafik berikut menggambarkan peningkatan kasus filariasis
di Indonesia sejak tahun 2010.

GAMBAR 6.34
JUMLAH KASUS KRONIS FILARIASIS
DI INDONESIA TAHUN 2010 2016
16.000

14.000
14.932

12.000 12.917 13.032 13.009


12.156 12.242 12.106
10.000
Jumlah Kasus

8.000

6.000

4.000

2.000

0
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Tahun
Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

184 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Lima Provinsi dengan kasus kronis filariasis tertinggi pada tahun 2016 yaitu Nusa
Tenggara Timur (2.864), Aceh (2.372), dan Papua Barat (1.244), Papua (1.184), dan Jawa
Barat (955). Jumlah kasus kronis filariasis di Sumatera Barat dan Sumatera Selatan pada
tahun 2016 menurun menjadi 249 dan 178 kasus dari 270 dan 232 kasus pada tahun 2015.
Sedangkan terdapat pula provinsi dengan jumlah kasus kronis filariasis meningkat, yaitu Jawa
Barat dan Jawa Tengah sebesar 904 dan 504 kasus pada tahun 2015 menjadi 955 dan 505
kasus pada tahun 2016.
Pemberantasan filariasis diwujudkan dengan melaksanakan program eliminasi
filariasis agar filariasis tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia pada tahun
2020. Tujuan khusus program eliminasi adalah menurunkan angka mikrofilaria menjadi
kurang dari 1% di setiap kabupaten/kota dan mencegah serta membatasi kecacatan karena
filariasis. Sampai dengan tahun 2016, terdapat 22 kabupaten/kota yang melaksanakan
eliminasi filariasis. Sebanyak 46 kabupaten/kota berhasil menurunkan angka mikrofilaria
menjadi kurang dari 1%. Jumlah kabupaten/kota tersebut mencapai target Rencana Strategis
Kementerian Kesehatan tahun 2016 sebanyak 45 kabupaten/kota.
Indonesia memberantas filariasis sebagai bagian dari eliminas filariasis global melalui
dua pilar kegiatan yaitu: 1. memutuskan mata rantai penularan filariasis dengan Pemberian
Obat Pencegahan Massal (POPM) filariasis di daerah endemis sekali setahun selama lima
tahun berturut-turut (obat yang dipakai adalah DEC (Diethylcarbamazine Citrate) 6 mg/kg BB
dikombinasikan dengan Albendazole 400 mg); 2. mencegah dan membatasi kecacatan
dengan penatalaksanaan kasus filariasis mandiri.
Pada tahun 2016, berdasarkan hasil pemetaan daerah endemis di Indonesia
diperoleh sebanyak 236 kabupaten/kota merupakan daerah endemis filariasis sedangkan
daerah non endemis sebanyak 278 kabupaten/kota dari total 514 kabupaten/kota se-
Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk Indonesia yang berisiko tertular filariasis
tinggal di daerah endemis sehingga. Sebanyak 181 kabupaten/kota atau sebesar 76,7% dari
kabupaten/kota endemis melaksanakan POPM filariasis. Dengan demikian jumlah
kabupaten/kota yang melaksanakan POPM filariasis mencapai target program POPM
filariasis tahun 2016 sebesar 170 kabupaten/kota.
Cakupan POPM filariasis selama tujuh tahun terakhir cenderung meningkat, dari
39,4% pada tahun 2010 menjadi 75,1% pada tahun 2016 seperti terlihat pada Gambar 6.35
berikut ini.

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 185


GAMBAR 6.35
CAKUPAN POPM FILARIASIS TAHUN 2010 2016
100
90
76,7
80 73,9
69,5
66,9
70
56,5
60
% POPM Filariasis

50
39,4 37,7
40
30
20
10
0
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Tahun
Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

4. Malaria
Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hidup
dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia, ditularkan oleh nyamuk malaria
(Anopheles) betina, dapat menyerang semua orang baik laki-laki ataupun perempuan pada
semua golongan umur dari bayi, anak-anak dan orang dewasa.
Gambar 6.36 menunjukkan bahwa menurut tingkat endemisitas malaria tahun 2016,
sebanyak 48,1% kabupaten/kota sudah tersertifikasi bebas malaria, 32,2% kabupaten/kota
memiliki status endemis rendah (API<1), 11,7% kabupaten/kota memiliki status endemis
sedang (API 1-5), dan 8,0% kabupaten/kota memiliki status endemis tinggi (API>5).

GAMBAR 6.36
PROPORSI KABUPATEN/KOTA MENURUT TINGKAT ENDEMISITAS MALARIA TAHUN 2016

Endemis
Tinggi; 8,0
Endemis
Sedang; 11,7

Eliminasi;
48,1

Endemis
Rendah; 32,3

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

186 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


a. Angka Kesakitan Malaria
Secara nasional angka kesakitan malaria selama tahun 20092016 cenderung
menurun yaitu dari 1,8 per 1.000 penduduk berisiko pada tahun 2009 menjadi 0,84 per
1.000 penduduk berisiko pada tahun 2016. Penurunan API tersebut dapat dilihat pada
Gambar 6.37.

GAMBAR 6.37
ANGKA KESAKITAN MALARIA (ANNUAL PARACITE INCIDENCE /API)
PER 1.000 PENDUDUK BERISIKO TAHUN 2009-2016

3,0

2,5

1,96
2,0 1,8
API per 1.000 penduduk

1,75 1,69

1,38
1,5

0,99
1,0 0,85
0.84

0,5

0,0
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Tahun

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Papua merupakan provinsi dengan API tertinggi, yaitu 45,85 per 1.000 penduduk.
Angka ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan provinsi lainnya. Empat provinsi dengan API
per 1.000 penduduk tertinggi lainnya, yaitu Papua Barat (10,20), Nusa Tenggara Timur (5,17),
Maluku (3,83), dan Maluku Utara (2,44). Sebanyak 83% kasus berasal dari Papua, Papua
Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Angka kesakitan malaria menurut provinsi dapat dilihat
pada Gambar 6.38.
Secara nasional, sebesar 95% suspek malaria diperiksa secara laboratorium (Rapid
Diagnostic Test dan Mikroskop). Informasi lengkap mengenai jumlah kasus malaria dan jenis
tes sediaan darah menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 6.25.

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 187


GAMBAR 6.38
ANGKA KESAKITAN MALARIA (ANNUAL PARACITE INCIDENCE/API)
PER 1.000 PENDUDUK BERISIKO MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

INDONESIA 0,84

Papua 45,85
Papua Barat 6,79
Nusa Tenggara Timur 5,41
Maluku 3,95
Maluku Utara 2,44
Bengkulu 1,45
Sulawesi Utara 0,72
Kalimantan Selatan 0,52
Sulawesi Tengah 0,49
Sulawesi Tenggara 0,44
Lampung 0,40
Kepulauan Riau 0,36
Kalimantan Timur 0,35
Sumatera Selatan 0,28
Sumatera Utara 0,27
Nusa Tenggara Barat 0,24
Kalimantan Tengah 0,19
Gorontalo 0,15
Jambi 0,14
Sumatera Barat 0,12
Sulawesi Selatan 0,12
Kep. Bangka Belitung 0,11
Sulawesi Barat 0,09
Kalimantan Barat 0,06
Aceh 0,05
Kalimantan Utara 0,03
Jawa Tengah 0,03
Riau 0,03
DI Yogyakarta 0,03
Jawa Timur 0,01
Jawa Barat 0,01
DKI Jakarta 0,01
Banten
Bali
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50

API per 1.000 Penduduk

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Pada tahun 2016 terdapat 413 kabupaten/kota dengan API<1 per 1.000 penduduk,
sementara target Rencana Strategi Kementerian Kesehatan untuk angka kesakitan malaria
atau Annual Parasite Incidence (API) tahun 2016 adalah jumlah kabupaten/kota dengan
API<1 per 1.000 penduduk sebanyak 360 kabupaten/kota. Dengan demikian cakupan API
2016 mencapai target Renstra. Jumlah kabupaten/kota dengan API<1 per 1.000 penduduk
menurut provinsi dapat dilihat pada Gambar 6.39.

188 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 6.39
JUMLAH KABUPATEN/KOTA DENGAN API<1 PER 1.000 PENDUDUK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

Jawa Timur 38
Jawa Tengah 35
Sumatera Utara 29
Jawa Barat 27
Sulawesi Selatan 24
Aceh 23
Sumatera Barat 18
Sulawesi Tenggara 16
Kalimantan Tengah 14
Kalimantan Barat 14
Sumatera Selatan 14
Sulawesi Utara 12
Lampung 12
Riau 12
Kalimantan Selatan 11
Jambi 11
Nusa Tenggara Barat 10
Sulawesi Tengah 9
Bali 9
Kalimantan Timur 8
Banten 8
Kep. Bangka Belitung 7
Sulawesi Barat 6
Gorontalo 6
Nusa Tenggara Timur 6
DKI Jakarta 6
Kepulauan Riau 6
Kalimantan Utara 5
DI Yogyakarta 5
Bengkulu 5
Maluku 3
Maluku Utara 2
Papua 1
Papua Barat 1
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
Jumlah Kab/kota dengan API<1

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

b. Pengobatan Malaria
Pengobatan malaria harus dilakukan secara efektif. Pemberian jenis obat harus benar
dan cara meminumnya harus tepat waktu yang sesuai dengan acuan program pengendalian
malaria. Pengobatan efektif adalah pemberian ACT (Artemicin-based Combination Therapy)
pada 24 jam pertama pasien panas dan obat harus diminum habis. Persentase ACT menurut
provinsi tahun 2016 dapat dilihat pada Gambar 6.40.

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 189


GAMBAR 6.40
PERSENTASE PEMBERIAN ARTEMICIN-BASED COMBINATION THERAPY (ACT)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

Sulawesi Utara 100%


Bali 100%
Banten 100%
DI Yogyakarta 100%
DKI Jakarta 100%
Kep. Bangka Belitung 100%
Sumatera Barat 100%
Sulawesi Barat 99%
Gorontalo 98%
Maluku 97%
Lampung 97%
Sulawesi Tenggara 97%
Nusa Tenggara Timur Target Indikator 97%
Kalimantan Tengah Program Janji 96%
Sulawesi Selatan Presiden/Wakil 94%
Sumatera Utara Presiden 2016: 85% 94%
Jambi 93%
Kalimantan Selatan 93%
Papua 92%
Bengkulu 89%
Nusa Tenggara Barat 89%
Kalimantan Timur 88%
Jawa Timur 86%
Aceh 86%
Sumatera Selatan 84%
Jawa Tengah 83%
Maluku Utara 80%
Papua Barat 79%
Kalimantan Barat 78%
Riau 77%
Jawa Barat 71%
Kalimantan Utara 64%
Sulawesi Tengah 60%
Kepulauan Riau 57%
0% 20% 40% 60% 80% 100%

% ACT
Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

5. Rabies
Rabies merupakan penyakit mematikan baik pada manusia maupun hewan yang
disebabkan oleh infeksi virus (golongan Rhabdovirus) yang ditularkan melalui gigitan hewan
seperti anjing, kucing, kelelawar, kera, musang dan serigala yang di dalam tubuhnya
mengandung virus.
Tahun 2016 terdapat 24 provinsi tertular rabies dari 34 provinsi di Indonesia.
Sebanyak sepuluh provinsi lainnya dinyatakan bebas Rabies, lima diantaranya provinsi bebas

190 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


historis (Papua, Papua Barat, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, dan NTB), dan lima provinsi
dibebaskan (Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Sulawesi Barat).
Kasus kematian karena rabies (Lyssa) sejak tahun 2009 sampai dengan tahun 2014
cenderung menurun, namun meningkat kembali pada tahun 2015 menjadi 118 kematian,
lalu mengalami penurunan pada tahun 2016, yaitu menjadi 76 kematian. Demikian pula
dengan kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) dan kasus digigit yang diberi Vaksin Anti
Rabies (VAR) mengalami penurunan pada tahun 2016 yaitu sebesar 56.971 kasus dan 37.102
kasus. Gambar 6.41 memperlihatkan bahwa terjadi penurunan GHPR, VAR dan kematian
akibat rabies (Lyssa).
GAMBAR 6.41
SITUASI RABIES DI INDONESIA
TAHUN 2009 2016

90.000 250
84.010 84.750
78.574 80.433
80.000
206 74.331
69.136 200
70.000
(Jumlah GHPR dan PET)

195 63.658 64.774

(kematian/Lyssa)
60.000 184 57.929
54.059 54.059
150
50.000
45.466
137 42.958 42.533
40.000
35.316 119 34.095 118 100
30.000
86
81
20.000
50

10.000

0 0
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

GHPR PET Lyssa


Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Kasus GHPR tahun 2016 paling banyak terjadi di Bali yaitu sebanyak 33.103 kasus,
diikuti oleh Sulawesi Utara sebanyak 4.135 kasus, dan NTT sebanyak 4.003 kasus. Jumlah
kasus tersebut menurun cukup jauh dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan untuk
kematian akibat rabies (Lyssa) paling banyak terjadi di Sulawesi Utara sebanyak 21 kasus,
diikuti oleh Kalimantan Barat sebanyak 12 kasus, dan Sumatera Utara sebanyak 9 kasus.
Provinsi Sulawesi Utara merupakan provinsi dengan kematian akibat rabies tertinggi selama
tiga tahun terakhir, sedangkan provinsi Bali dengan kematian tertinggi kedua tahun 2015
dengan 15 kematian menurun drastis menjadi 5 kematian tahun 2016. Jumlah kasus GHPR,
kasus digigit yang diberi Vaksin Anti Rabies (VAR) dan kematian akibat rabies lebih lanjut
dapat dilihat pada tabel Lampiran 6.29.

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 191


6. Leptospirosis
Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan bakteri Leptospira sp. Sumber
infeksi pada manusia biasanya akibat kontak secara langsung atau tidak langsung dengan
urine hewan yang terinfeksi. Namun, dikarenakan sulitnya diagnosa klinis dan mahalnya
biaya pemeriksaan laboratorium, banyak kasus leptospirosis yang tidak terlaporkan.
Terdapat 7 provinsi yang melaporkan adanya kasus leptopirosis tahun 2016 yaitu DKI
Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten dan Kalimantan
Selatan.
Kasus leptospirosis menurun pada tahun 2014-2015, yaitu sebanyak 550 kasus pada
tahun 2014 menjadi 366 kasus pada tahun 2015, namun meningkat drastis pada tahun 2016
sebanyak 833 kasus. Penurunan kasus leptospirosis secara signifikan terjadi di DKI Jakarta
(106 kasus pada tahun 2014 menjadi 37 kasus pada tahun 2015), namun meningkat sedikit
pada tahun 2016 (39 kasus). Sedangkan peningkatan signifikan terjadi di Jawa Timur, yaitu 3
kasus pada tahun 2015, menjadi 468 kasus pada tahun 2016.

TABEL 6.4
DISTRIBUSI KASUS LEPTOSPIROSIS DI 7 PROVINSI
DI INDONESIA TAHUN 2014 2016
Tahun
Provinsi
2014 2015 2016
DKI Jakarta 106 37 39
Jawa Barat 26 2 16
Jawa Tengah 198 149 164
DI Yogyakarta 154 144 114
Jawa Timur 61 3 468
Banten 0 31 32
Kalimantan Selatan 5 0 0
Total 550 366 833
Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Angka kematian akibat leptospirosis tertinggi tahun 2016 terjadi di Banten dengan
CFR sebesar 21,88%. Walaupun jumlah kasus leptospirosis di Banten berjumlah 32 kasus,
namun 7 kasus diantaranya meninggal dunia. Sebaliknya, walaupun kasus leptospirosis di
Jawa Timur sangat tinggi (468 kasus), namun angka kematian akibat leptospirosis pada
provinsi tersebut rendah yaitu 2,56%. Gambaran jumlah kasus dan jumlah kematian akibat
leptospirosis selama delapan tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 6.42.

192 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 6.42
SITUASI LEPTOSPIROSIS DI INDONESIA
TAHUN 2009 2016

900 857 20
833
800 18

700 16
17,76
640
14
600
(Jumlah Kasus)

550
12
500 12,13

(CFR)
11,27 10
400 366
335 9,57 9,38 8
300 7,44
6,87 239 6
200 4
100 2

0 0
2009 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Sejak tahun 2009 sampai dengan tahun 2016 terjadi fluktuasi jumlah kasus
leptospirosis. Jumlah kasus tertinggi terjadi pada tahun tahun 2011 lalu menurun sampai
dengan tahun 2015, kemudian meningkat drastis pada tahun 2016. Sementara itu, jumlah
kematian akibat leptospirosis bervariasi, namun cenderung tetap pada tahun 2013-2016.
Upaya yang telah dilaksanakan dalam pengendalian leptospirosis antara lain surat
edaran kewaspadaan leptospirosis setiap tahunnya; pengadaan Rapid Test Diagnostic (RDT)
sebagai buffer stock; mendistribusikan media KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi) seperti
buku petunjuk teknis, leaflet, poster, roll banner, dan lain-lain.

7. Antraks
Penyakit antraks disebabkan oleh kuman antraks (Bacillus anthracis). Kuman ini dapat
membentuk spora yang tahan terhadap perubahan lingkungan dan dapat bertahan hidup
dalam waktu yang lama didalam tanah, sehingga sulit dimusnahkan. Sumber penularan
antraks yaitu hewan peliharaan seperti sapi, kerbau, kambing dan domba yang terinfeksi
Bacillus anthracis.
Pada tahun 2016 dilaporkan terjadi sebanyak 52 kasus antraks dari 4 provinsi di
Indonesia dengan tidak ada kasus kematian (CFR=0%). Jumlah kasus ini melonjak drastis dari
kasus tahun 2015 yang berjumlah 3 kasus. Gambar 6.43 memperlihatkan kasus antraks
selama delapan tahun terakhir.

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 193


GAMBAR 6.43
JUMLAH KASUS DAN KEMATIAN ANTRAKS
DI INDONESIA TAHUN 2009-2015

70

60

52
50 48
Jumlah Kasus

41
40

31
30

22
20 17

11
10
2 3 3
1 0 0 1 0
0 0
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

kasus meninggal

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Pengendalian kasus antraks dapat dilakukan dengan peningkatan kegiatan surveilans


yang intensif terhadap kasus antraks dengan fokus daerah endemis atau daerah rawan
lainnya. Kegiatan surveilans diintensifkan pada hari-hari perayaan agama seperti Hari Raya
Idul Fitri, Idul Adha, Natal ataupun perayaan hari besar lainnya dan juga saat dimungkinkan
konsumsi daging meningkat.

8. Flu Burung
Pengendalian flu burung (H5N1) yang dilakukan secara terpadu secara signifikan telah
berhasil menurunkan jumlah kasus konfirmasi flu burung di Indonesia pada tahun 2016.
Sejak munculnya penyakit flu burung pertama kali pada tahun 2005, jumlah kasus terus
menurun pada periode tahun 2006-2015 dari 55 kasus pada tahun 2006 menjadi 2 kasus
pada tahun 2015 dan tidak ditemukan kasus pada tahun 2016. Gambaran penurunan jumlah
kasus konfirmasi flu burung dapat dilihat pada Gambar 6.44 berikut ini.

194 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 6.44
JUMLAH KASUS, KEMATIAN, DAN CASE FATALITY RATE (CFR) FLU BURUNG
DI INDONESIA TAHUN 2005-2016

60 100
100,00
55 100,00 100,00 100,00 100,00
90
81,82
50 88,10
45 80
83,33 83,33
65,00 42 77,78
70
40
37
Jumlah Kasus

60

%CFR
30 50
24
40
20 20
20
30
13 12
10 20
10 9 9 9
7
3 3 3 3 10
2 2 2 2
0 - 0
2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Kasus Meninggal CFR (%)

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Sejak dilaporkan kasus pertama pada tahun 2005, penyebaran kasus flu burung
(H5N1) pada manusia telah terjadi secara sporadis di 15 provinsi di Indonesia, yaitu
Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, DKI Jakarta,
Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Banten, Bali, NTB, dan Sulawesi Selatan. Secara
kumulatif, jumlah kasus tertinggi ditemukan di Provinsi DKI Jakarta sebesar 53 kasus, Jawa
Barat sebesar 51 kasus, dan Banten sebesar 34 kasus.
Berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi yang dilakukan oleh tim terpadu (Ditjen
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan serta Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan) terdapat beberapa hal yang mempengaruhi tingginya CFR pada
tahun 2014 yaitu:
1. Keterlambatan deteksi dini ;
2. Keterlambatan pemberian Oseltamivir;
3. Sifat virus yang mudah bermutasi;
4. Kurangnya kewaspadaan di masyarakat terhadap bahaya flu burung.

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 195


9. Pengendalian Vektor Terpadu
Penyakit yang ditularkan melalui vektor masih menjadi penyakit endemis yang dapat
menimbulkan wabah atau kejadian luar biasa serta menimbulkan gangguan kesehatan
masyarakat, oleh karena itu perlu dilakukan upaya pengendalian penyebaran vektor.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 374/MENKES/PER/III/2010 tentang
Pengendalian Vektor, yang disebut dengan pengendalian vektor adalah semua kegiatan atau
tindakan yang ditujukan untuk menurunkan populasi vektor serendah mungkin sehingga
keberadaannya tidak lagi berisiko untuk terjadinya penularan penyakit tular vektor di suatu
wilayah atau menghindari kontak masyarakat dengan vektor sehingga penularan vektor
dapat dicegah.

Sementara itu, Pengendalian Vektor Terpadu (PVT) merupakan pendekatan yang


menggunakan kombinasi beberapa metode pengendalian vektor yang dilakukan berdasarkan
azas keamanan, rasionalitas dan efektivitas pelaksanaannya, serta dengan
mempertimbangkan kelestarian keberhasilannya. Pengendalian vektor terpadu dirumuskan
melalui proses pengambilan keputusan yang rasional agar sumber daya yang ada digunakan
secara optimal dan kelestarian lingkungan terjaga. Beberapa metode pengendalian vektor
yang dapat dilakukan diantaranya adalah: a) metode pengendalian fisik dan mekanis,
misalnya modifikasi dan manipulasi lingkungan tempat perindukan, pemberantasan sarang
nyamuk, pemasangan kelambu; b) metode pengendalian dengan menggunakan agen biotik ,
misalnya predator pemakan jentik (ikan, dan lain-lain), bakteri, manipulasi gen (penggunaan
jantan mandul, dan lain-lain); c) metode pengendalian secara kimia, misalnya surface spray
(IRS) dan space spray (fogging), serta larvasida.

Kabupaten/kota yang melaksanakan pengendalian vektor terpadu pada tahun 2016


sebanyak 257 kabupaten/kota atau sebesar 50% dari seluruh kabupaten/kota. Target
Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2016 adalah 50% kabupaten/kota
melaksanakan pengendalian vektor terpadu. Dengan demikian target pelaksanaan
pengendalian vektor terpadu tahun 2016 tercapai. Jumlah kabupaten/kota yang melakukan
pengendalian vektor terpadu menurut provinsi tahun 2016 dapat dilihat pada Gambar 6.45.

196 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 6.45
KABUPATEN/KOTA YANG MELAKUKAN PENGENDALIAN VEKTOR TERPADU
MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

Sulawesi Selatan 22
Aceh 22
Jawa Tengah 21
Sumatera Utara 18
Sulawesi Tengah 10
Kalimantan Selatan 10
Kalimantan Tengah 10
Nusa Tenggara Timur 10
Lampung 9
Bengkulu 9
Sulawesi Tenggara 8
Kalimantan Timur 8
Nusa Tenggara Barat 8
Bali 8
Jawa Barat 8
Maluku Utara 7
Sumatera Selatan 7
Sulawesi Utara 6
Jawa Timur 6
DKI Jakarta 6
Kepulauan Bangka Belitung 6
Jambi 5
Gorontalo 4
Kepulauan Riau 4
Papua 3
Papua Barat 3
Sulawesi Barat 3
Kalimantan Barat 3
Banten 3
DI Yogyakarta 3
Sumatera Barat 3
Maluku 2
Kalimantan Utara 1
Riau 1
0 5 10 15 20 25

Jumlah Kab/kota yang Melakukan PVT

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Berdasarkan Gambar 6.45 dapat dilihat bahwa provinsi dengan jumlah


kabupaten/kota terbanyak yang melakukan pengendalian vektor terpadu tahun 2016 adalah
Sulawesi Selatan dan Aceh dengan 22 kabupaten/kota, diikuti oleh Jawa Tengah dengan 21
kabupaten/kota, dan Sumatera Utara dengan 18 kabupaten/kota.

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 197


D. PENYAKIT TIDAK MENULAR
Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyakit kronis yang tidak ditularkan dari
orang ke orang. PTM diantaranya adalah penyakit jantung, stroke, kanker, diabetes, dan
Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). PTM merupakan hampir 70% penyebab kematian di
dunia.
Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir menghadapi masalah triple burden
diseases. Di satu sisi, penyakit menular masih menjadi masalah ditandai dengan masih sering
terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) beberapa penyakit menular tertentu, di sisi lain muncul
kembali beberapa penyakit menular lama (re-emerging diseases), serta muncul penyakit-
penyakit menular baru (new-emerging diseases) seperti SARS, avian influenza (flu burung),
dan swine influenza (flu babi).
Sementara itu, PTM menunjukkan adanya kecenderungan semakin meningkat dari
waktu ke waktu. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dan 2013,
tampak kecenderungan peningkatan prevalensi PTM seperti diabetes, hipertensi, stroke, dan
penyakit sendi/rematik/encok. Fenomena ini diprediksi akan terus berlanjut.
Berbagai faktor risiko PTM diantaranya adalah merokok dan keterpaparan terhadap
asap rokok, diet/pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, konsumsi minuman
beralkohol, dan riwayat keluarga (keturunan). Adapun faktor risiko antara terjadinya PTM
adalah obesitas, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, dan kolesterol tinggi. Prinsip upaya
pencegahan tetap lebih baik dari pengobatan. Upaya pencegahan penyakit tidak menular
lebih ditujukan kepada faktor risiko yang telah diidentifikasi. Sehubungan dengan hal
tersebut, Kementerian Kesehatan telah mengembangkan program pengendalian PTM sejak
tahun 2006.
Berdasarkan data Survei Indikator Kesehatan Nasional (SIRKESNAS) tahun 2016,
prevalensi merokok secara nasional adalah 28,5%. Prevalensi merokok menurut jenis
kelamin prevalensi pada laki-laki 59% dan perempuan 1,6%. Menurut tempat tinggal,
prevalensi merokok di pedesaan dan perkotaan tidak terlalu jauh berbeda namun demikian
di perdesaan sedikit lebih tinggi (29,1%) dibandingkan dengan perkotaan (27,9%). Menurut
kelompok umur, prevalensi tertinggi pada usia 40-49 tahun sebesar 39,5%, sedangkan pada
usia muda (<20 tahun) sebesar 11,1%.
Prevalensi penduduk dengan tekanan darah tinggi secara nasional sebesar 30,9%.
Prevalensi tekanan darah tinggi pada perempuan (32,9%) lebih tinggi dibanding dengan laki-
laki (28,7%). Prevalensi di perkotaan sedikit lebih tinggi (31,7%) dibandingkan dengan
perdesaan (30,2%). Prevalensi semakin meningkat seiring dengan pertambahan umur.
Prevalensi obesitas (Indeks Massa Tubuh atau IMT 25 27 dan IMT 27) sebesar
33,5%, sedangkan penduduk obese dengan IMT 27 saja sebesar 20,6%. Pada penduduk
yang obesitas, prevalensi lebih tinggi pada perempuan (41,4%) dibandingkan pada laki-laki
(24,0%). Prevelansi lebih tinggi di perkotaan (38,3%) daripada perdesaan (28,2%). Sedangkan
menurut kelompok umur, obesitas tertinggi pada kelompok umur 40-49 tahun (38,8%).

198 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Upaya pengendalian faktor risiko PTM yang telah dilakukan berupa promosi Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat melalui perilaku CERDIK, yaitu Cek kesehatan secara berkala,
Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat seimbang, Istirahat yang cukup, dan
Kelola stres. Cek kesehatan secara berkala yaitu pemeriksaan faktor risiko PTM dapat
dilakukan melalui Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM, dan mengikuti deteksi dini
kanker serviks dan kanker payudara di Puskesmas.
Selain itu, upaya pengendalian PTM melalui pengendalian masalah tembakau
dilakukan dengan penerbitan peraturan terkait Kawasan Tanpa Rokok (KTR) oleh Pemerintah
Daerah dan membentuk Aliansi Walikota/Bupati dalam Pengendalian Tembakau dan
Penyakit Tidak Menular. Sedangkan untuk pengaturan makanan berisiko, diterbitkan
Peraturan Menteri Kesehatan tentang gula, garam dan lemak dalam makanan yang dijual
bebas. Upaya pengendalian PTM tidak akan berhasil jika hanya dilakukan oleh Kementerian
Kesehatan tanpa dukungan seluruh jajaran lintas sektor, baik pemerintah, swasta, organisasi
profesi, organisasi kemasyarakatan, bahkan seluruh lapisan masyarakat.
Indikator program pengendalian penyakit tidak menular pada Rencana Strategis
Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 adalah sebagai berikut.
1. Persentase Puskesmas yang melaksanakan pengendalian PTM secara terpadu
(Puskesmas Pandu PTM).
2. Persentase desa/kelurahan yang melaksanakan kegiatan Pos Pembinaan Terpadu
(Posbindu) PTM.
3. Persentase perempuan usia 30-50 tahun yang dideteksi dini kanker leher rahim dan
kanker payudara.
4. Persentase kabupaten/kota yang melaksanakan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok
(KTR) minimal pada 50% sekolah.

Beberapa kegiatan yang telah dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan dalam


upaya untuk mengendalikan penyakit tidak menular sampai dengan tahun 2016 adalah
sebagai berikut.

1. Meningkatkan Upaya Pengendalian PTM di Puskemas


Pengendalian PTM di Puskesmas diwujudkan dengan adanya Puskesmas Pandu PTM.
Puskesmas Pandu PTM adalah Puskesmas yang melaksanakan pencegahan dan pengendalian
PTM secara komprehensif dan terintegrasi melalui Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan
Upaya Kesehatan Perorangan (UKP). Peningkatan peran serta masyarakat dalam pencegahan
dan pengendalian PTM, baik secara perorangan maupun kelompok dilakukan melalui
kegiatan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) dengan membentuk dan
mengembangkan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM.
Secara nasional terdapat 48,87% Puskesmas yang melaksanakan pengendalian PTM
secara terpadu (Puskesmas Pandu PTM). Kepulauan Bangka Belitung merupakan provinsi

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 199


dengan Puskesmas Pandu PTM terbanyak dimana hampir seluruh Puskesmas atau 98,39%
Puskesmas telah melaksanakan pengendalian PTM secara terpadu. Sebagian besar
Puskesmas di DI Yogyakarta dan Jawa Timur juga telah melaksanakan pengendalian PTM
secara terpadu, yaitu sebesar 90,08% dan 87,71%. Namun, proporsi Puskesmas Pandu PTM
di Papua masih rendah, yaitu hanya 1,83% dari Puskesmas yang ada. Puskesmas yang
melaksanakan pengendalian PTM secara terpadu menurut provinsi dapat dilihat pada
Gambar 6.46.
GAMBAR 6.46
PERSENTASE PUSKESMAS YANG MELAKSANAKAN PENGENDALIAN
TERPADU (PANDU) PTM MENURUT PROVINSI S.D. TAHUN 2016

INDONESIA 48,87

Kep. Bangka Belitung 98,39


DI Yogyakarta 90,08
Jawa Timur 87,71
Lampung 72,60
Banten 71,67
Jambi 71,04
DKI Jakarta 68,24
Kalimantan Barat 66,81
Nusa Tenggara Barat 61,39
Sumatera Selatan 58,07
Jawa Tengah 57,60
Sumatera Barat 56,44
Kalimantan Tengah 52,31
Kepulauan Riau 52,05
Sulawesi Selatan 46,65
Sumatera Utara 43,26
Sulawesi Tengah 40,74
Sulawesi Utara 39,89
Kalimantan Selatan 39,57
Aceh 39,12
Jawa Barat 38,67
Bengkulu 35,56
Bali 35,00
Kalimantan Timur 34,86
Sulawesi Tenggara 31,23
Gorontalo 31,18
Kalimantan Utara 26,53
Riau 25,35
Nusa Tenggara Timur 24,26
Maluku 21,61
Papua Barat 19,87
Maluku Utara 13,28
Sulawesi Barat 12,77
Papua 1,78
0 20 40 60 80 100
% Puskesmas yang Melaksanakan Pengendalian Terpadu PTM
Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

2. Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM)


Posbindu PTM yang mulai dikembangkan pada tahun 2011 merupakan wujud peran
serta masyarakat dalam melakukan kegiatan deteksi dini dan pemantauan faktor risiko PTM
utama yang dilaksanakan secara terpadu, rutin, dan periodik. Kegiatan Posbindu PTM juga

200 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


terintegrasi dengan rutin di masyarakat, seperti di lingkungan tempat tinggal dalam wadah
desa/kelurahan siaga aktif. Tujuan Posbindu PTM adalah meningkatkan peran serta
masyarakat dalam pencegahan dan penemuan dini faktor risiko PTM. Sasaran utama
kegiatan adalah kelompok masyarakat sehat, berisiko dan penyandang PTM berusia 15 tahun
ke atas.
Desa/kelurahan yang melaksanakan Posbindu PTM dapat dilihat pada Gambar 6.47
berikut. Secara nasional desa/kelurahan yang melaksanakan kegiatan Posbindu PTM sebesar
14,85%. Persentase ini masih di bawah target Rencana Strategis Kementerian Kesehatan
tahun 2016 yaitu sebesar 20%. Jika dilihat menurut provinsi, DKI Jakarta merupakan provinsi
dengan desa/kelurahan terbanyak yang melaksanakan Posbindu PTM, yaitu sebesar 87,27%.
Provinsi dengan desa/kelurahan yang melaksanakan Posbindu PTM terbanyak lainnya yaitu
Kep. Bangka Belitung dan DI Yogyakarta sebesar 74,42% dan 53,65%. Sementara itu, hanya
0,9% desa di Papua yang melaksanakan Posbindu PTM.
GAMBAR 6.47
PERSENTASE DESA/KELURAHAN YANG MELAKSANAKAN POSBINDU PTM
MENURUT PROVINSI S.D. TAHUN 2016

INDONESIA 14,85

DKI Jakarta 87,27


Kep. Bangka Belitung 74,42
DI Yogyakarta 53,65
Sumatera Barat 41,60
Nusa Tenggara Barat 32,01
Jawa Timur 29,08
Banten 27,14
Sulawesi Selatan 26,99
Kepulauan Riau 25,96
Lampung 25,42
Jambi 23,05
Kalimantan Barat 15,80
Jawa Barat 15,60
Bengkulu 15,14
Gorontalo 15,09
Sumatera Selatan 15,02
Sulawesi Utara 14,59
Jawa Tengah 13,48
Sulawesi Tenggara 11,92
Kalimantan Tengah 11,83
Bali 11,31
Kalimantan Timur 10,76
Aceh 10,46
Sulawesi Tengah 10,16
Kalimantan Selatan 8,91
Sumatera Utara 7,46
Riau 7,03
Kalimantan Utara 6,85
Nusa Tenggara Timur 6,13
Maluku 6,01
Sulawesi Barat 5,87
Papua Barat 4,08
Maluku Utara 3,81
Papua 0,90
0 20 40 60 80 100
% Desa/Kelurahan yang Melaksanakan Posbindu
Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 201


3. Pengendalian Konsumsi Hasil Tembakau
Pengendalian tembakau di Indonesia merupakan salah satu upaya pengendalian
faktor risiko PTM, dalam rangka menurunkan prevalensi penyakit tidak menular. Beberapa
upaya yang telah dikembangkan adalah sebagai berikut.
a. Perlindungan masyarakat terhadap paparan asap rokok melalui pengembangan
kawasan tanpa rokok dengan mendorong terbentuknya peraturan dan kebijakan
daerah serta implementasinya.
b. Menyediakan layanan upaya berhenti rokok di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
(Fasyankes) baik primer dan sekunder maupun tersier. Selain itu juga, bagi masyarakat
yang tidak sempat dan tidak dapat datang ke Fasyankes, disiapkan layanan konseling
upaya berhenti merokok melalui telepon tanpa bayar.
c. Memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat untuk hidup sehat tanpa rokok
termasuk akibat merokok melalui iklan layanan masyarakat serta promosi kesehatan.
d. Melakukan monitoring dan implementasi kebijakan pengendalian konsumsi hasil
tembakau.
GAMBAR 6.48
PERSENTASE KABUPATEN/KOTA YANG MEMPUNYAI PERATURAN KTR
MENURUT PROVINSI S.D. TAHUN 2016
INDONESIA 44,0

Bali 100,0
DKI Jakarta 100,0
Kep. Bangka Belitung 100,0
Kalimantan Timur 90,0
Lampung 86,7
DI Yogyakarta 80,0
Sulawesi Selatan 79,2
Sulawesi Utara 66,7
Nusa Tenggara Barat 60,0
Jawa Barat 59,3
Kalimantan Tengah 57,1
Kepulauan Riau 57,1
Aceh 52,2
Maluku Utara 50,0
Gorontalo 50,0
Banten 50,0
Bengkulu 50,0
Riau 50,0
Sulawesi Tengah 46,2
Kalimantan Selatan 46,2
Jambi 45,5
Sumatera Barat 42,1
Sumatera Selatan 41,2
Kalimantan Utara 40,0
Jawa Tengah 37,1
Sulawesi Barat 33,3
Papua Barat 30,8
Nusa Tenggara Timur 27,3
Sumatera Utara 21,2
Jawa Timur 18,4
Maluku 18,2
Kalimantan Barat 14,3
Sulawesi Tenggara 11,8
Papua 3,4
0 20 40 60 80 100
% Kab/Kota yang Mempunyai Peraturan KTR
Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

202 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Sampai dengan tahun 2016 terdapat 226 atau 44,0% kabupaten/kota yang sudah
mempunyai peraturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Jika dilihat menurut provinsi, semua
kabupaten/kota di Bali, DKI Jakarta, dan Kep. Bangka Belitung sudah mempunyai peraturan
KTR, diikuti oleh Kalimantan Timur sebesar 90,0%, dan Lampung sebesar 86,7%. Sementara
itu, di Papua hanya terdapat 3,4% kabupaten/kota yang mempunyai peraturan KTR. Target
Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2016 adalah secara nasional, sebesar 20,2%
kabupaten/kota sudah melaksanakan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) minimal pada
50% sekolah. Berdasarkan implementasi KTR, diketahui bahwa sampai dengan tahun 2016,
sebesar 21,2% kabupaten/kota sudah melaksanakan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
minimal pada 50% sekolah. Dengan demikian, target Rencana Strategis Kementerian
Kesehatan tahun 2016 sudah tercapai. Kabupaten/kota yang sudah mempunyai peraturan
KTR dan sudah melaksanakan kebijakan KTR minimal pada 50% sekolah dapat dilihat pada
Gambar 6.48 dan 6.49.

GAMBAR 6.49
PERSENTASE KABUPATEN/KOTA YANG MELAKSANAKAN KEBIJAKAN KTR
MINIMAL PADA 50% SEKOLAH
MENURUT PROVINSI S.D. TAHUN 2016

INDONESIA 21,2

Bali 100,0
DI Yogyakarta 100,0
DKI Jakarta 100,0
Sumatera Barat 42,1
Kalimantan Utara 40,0
Jambi 36,4
Sulawesi Barat 33,3
Gorontalo 33,3
Kalimantan Timur 30,0
Nusa Tenggara Barat 30,0
Jawa Barat 29,6
Kepulauan Riau 28,6
Kep. Bangka Belitung 28,6
Lampung 26,7
Banten 25,0
Sumatera Selatan 23,5
Kalimantan Selatan 23,1
Kalimantan Tengah 21,4
Kalimantan Barat 21,4
Maluku Utara 20,0
Sulawesi Utara 20,0
Bengkulu 20,0
Maluku 18,2
Sulawesi Selatan 16,7
Riau 16,7
Papua Barat 15,4
Sulawesi Tengah 15,4
Sulawesi Tenggara 11,8
Nusa Tenggara Timur 9,1
Aceh 8,7
Jawa Tengah 8,6
Papua 6,9
Sumatera Utara 6,1
Jawa Timur 5,3
0 20 40 60 80 100
% Kab/Kota Implementasi KTR min. pada 50% Sekolah

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 203


4. Deteksi Dini Kanker Serviks dan Payudara
Deteksi dini dilakukan untuk menemukan faktor risiko PTM sedini mungkin terhadap
individu dan/atau kelompok yang berisiko atau tidak berisiko secara rutin. Kegiatan deteksi
dini faktor risiko ini dapat dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan atau pada kelompok
masyarakat khusus melalui Posbindu. Sejak tahun 2007 sampai dengan 2016 sudah dilakukan
deteksi dini kanker serviks dan payudara terhadap 1.925.943 perempuan usia 30-50 tahun.
Pemeriksaan dilakukan menggunakan metode Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) dan
pemeriksaan Inspeksi Vistual Asam Asetat (IVA) atau Pap Smear.

GAMBAR 6.50
PERSENTASE PEMERIKSAAN IVA
MENURUT PROVINSI S.D. TAHUN 2016

INDONESIA 5,15

Bali 19,57
DKI Jakarta 12,09
Nusa Tenggara Barat 11,42
DI Yogyakarta 7,71
Kalimantan Selatan 7,68
Sumatera Utara 7,58
Sulawesi Utara 7,54
Sumatera Barat 7,16
Jawa Timur 6,75
Kep. Bangka Belitung 6,65
Jawa Tengah 5,66
Kalimantan Timur 5,02
Lampung 4,68
Sulawesi Tengah 4,56
Kalimantan Utara 4,13
Jawa Barat 3,49
Kalimantan Barat 3,14
Kepulauan Riau 2,91
Kalimantan Tengah 2,84
Papua Barat 2,64
Sulawesi Selatan 2,60
Bengkulu 2,24
Riau 2,21
Aceh 1,78
Sulawesi Barat 1,49
Jambi 1,46
Maluku Utara 1,39
Sulawesi Tenggara 1,25
Maluku 1,22
Nusa Tenggara Timur 1,16
Sumatera Selatan 0,98
Banten 0,89
Gorontalo 0,68
Papua 0,68
0 5 10 15 20 25
% Pemeriksaan IVA
Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2017

Sejak tahun 2007-2016 sudah dilakukan 5,15% pemeriksaan IVA pada perempuan di
Indonesia. Cakupan pemeriksaan IVA tertinggi terdapat di Bali yaitu sebesar 19,57%, diikuti
oleh DKI Jakarta sebesar 12,09%, dan Nusa Tenggara Barat sebesar 11,42%. Pemeriksaan IVA
menurut provinsi sampai dengan tahun 2016 lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6.50.

204 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


E. DAMPAK KESEHATAN AKIBAT BENCANA
Menurut UU no 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, bencana
dikategorikan menjadi bencana alam, bencana non alam, dan bencana sosial. Bencana alam
adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan
oleh alam antara lain berupa banjir, letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami,
kekeringan, angin puting beliung, dan tanah langsor. Bencana non alam antara lain
kebakaran hutan dan lahan yang disebabkan oleh manusia, kecelakan transportasi,
kecelakaan industri, kegagalan teknologi, dan wabah penyakit. Bencana sosial yang dimaksud
yaitu diantaranya berupa konflik sosial atau kerusuhan sosial dalam masyarakat yang terjadi.
Selama tahun 2016 di Indonesia tercatat 661 kejadian bencana yang menimbulkan
krisis kesehatan. Bencana yang terjadi tersebut terdiri dari 17 jenis bencana. Pada tahun
2016, banjir merupakan bencana yang paling sering terjadi dan bencana dengan jumlah
provinsi yang paling banyak terkena. Frekuensi banjir sebanyak 145 kejadian (22%) dan
meliputi 26 provinsi. Jumlah total korban meninggal akibat banjir sebanyak 42 orang, luka
berat/rawat inap sebanyak 566 orang, luka ringan/rawat jalan sebanyak 4.435 orang, hilang
sebanyak 3 orang, dan menyebabkan 143.805 orang mengungsi. Berikut gambaran kejadian
bencana di Indonesia selama tahun 2016.

GAMBAR 6.51
JUMLAH KEJADIAN BENCANA MENURUT JENIS PER BULAN DI INDONESIA
TAHUN 2016
80
75
70 67
65
62 62
60 57
56
53 54
50 46
45 46
43 41
40
36 34 37 36 34
33
30 27 30 30
30
27 21 19
20 17 21 20
11 14 15
9 13 12
10
3 2 3 3 2 4 3
0 0 1 1 1 1
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des

Bencana Alam Bencana Non Alam Bencana Sosial Total Bencana

Sumber: Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes 2017

Pada grafik di atas dapat dilihat bahwa jumlah bencana alam terendah terjadi pada
bulan Agustus dan tertinggi di bulan Februari. Sedangkan jumlah bencana non alam terendah

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 205


terjadi di bulan April dan tertinggi di bulan Agustus. Selain itu, tidak terjadi bencana sosial
pada bulan April dan tercatat jumlah kejadiannya tertinggi di bulan Juli. Secara total, jumlah
bencana paling sedikit terjadi di bulan Juli dan tertinggi di bulan Februari.
GAMBAR 6.52
PERSENTASE KEJADIAN BENCANA MENURUT JENIS DI INDONESIA
TAHUN 2016
Bencana
Sosial
4%

Bencana
Non Alam Bencana
36% Alam
60%

Sumber: Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes 2017

Bencana alam merupakan bencana yang paling sering terjadi di Indonesia pada tahun
2016 dengan persentase 60%. Sisanya, sebanyak 36% merupakan bencana non alam, dan 4%
dari kejadian bencana termasuk kedalam bencana sosial.

GAMBAR 6.53
PERSENTASE KEJADIAN BENCANA ALAM DI INDONESIA
TAHUN 2016
Banjir dan
Gelombang Tanah
Pasang/ Longsor
Badai 3,5%
2,5%

Angin Puting
Beliung
15,0% Banjir
36,3%
Banjir
Bandang
9,5%
Tanah
Longsor Letusan
29,8% Gunung Api
0,5%
Gempa Bumi
3,0%

Sumber: Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes 2017

Bencana alam yang paling sering terjadi di Indonesia yaitu bencana banjir (36,3%),
diikuti oleh tanah longsor (29,8%), dan angin puting beliung (15%). Sedangkan bencana
gempa bumi dan tsunami, dan kekeringan, tidak terjadi pada tahun 2016.

206 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 6.54
PERSENTASE KEJADIAN BENCANA NON ALAM DI INDONESIA
TAHUN 2016

Gagal Teknologi
9%
Kebakaran
20% Kebakaran
Hutan dan
Lahan
1%
KLB Keracunan
41% Kecelakaan
Transpor tasi
26%

Kecelakaan
KLB Penyakit Industri
1% 2%

Sumber: Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes 2017

Bencana non alam yang paling sering terjadi di Indonesia yaitu bencana KLB-
Keracunan (41%), diikuti oleh kecelakaan transportasi (26%), dan kebakaran (20%). Bencana
wabah penyakit (epidemi - pandemi) tidak terjadi pada tahun 2016.

GAMBAR 6.55
PERSENTASE KEJADIAN BENCANA SOSIAL DI INDONESIA
TAHUN 2016

Aksi Teror
dan Sabotase
33%
Konflik Sosial
atau
Kerusuhan
Sosial
67%

Sumber: Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes 2017

Konflik sosial atau kerusuhan sosial merupakan bencana sosial yang paling sering
terjadi di Indonesia tahun 2016, yaitu sebesar 67%. Sedangkan 33% bencana sosial terjadi
akibat aksi teror dan sabotase di masyarakat.

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 207


GAMBAR 6.56
JUMLAH KEJADIAN BENCANA MENURUT PROVINSI
TAHUN 2016

Jawa Barat 130


Jawa Timur 95
Jawa Tengah 85
DKI Jakarta 44
Sumatera Barat 40
Sumatera Utara 28
Aceh 28
Sulawesi Selatan 24
Sumatera Selatan 17
Banten 13
Kalimantan Timur 11
Riau 11
Papua 10
Kalimantan Barat 10
Nusa Tenggara Barat 10
Sulawesi Tengah 9
Bali 9
Jambi 9
Sulawesi Utara 8
Nusa Tenggara Timur 8
DI Yogyakarta 8
Kep. Bangka Belitung 8
Lampung 7
Bengkulu 7
Kepulauan Riau 6
Papua Barat 4
Maluku Utara 4
Maluku 4
Gorontalo 4
Sulawesi Tenggara 3
Kalimantan Utara 3
Kalimantan Selatan 2
Sulawesi Barat 1
Kalimantan Tengah 1

0 20 40 60 80 100 120 140

Sumber: Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes 2017

Jawa Barat merupakan provinsi yang terbanyak mengalami kejadian bencana di tahun
2016, yakni sebanyak 130 kejadian. Provinsi berikutnya yang mengalami kejadian bencana
terbanyak yaitu Provinsi Jawa Timur dengan 95 kejadian dan Provinsi Jawa Tengah dengan
85 kejadian bencana. Sedangkan provinsi yang paling sedikit mengalami bencana yaitu
Provinsi Kalimantan Tengah dan Sulawesi Barat (1 bencana) dan Kalimantan Selatan (2
bencana).

208 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 6.57
JUMLAH PROVINSI TERKENA BENCANA MENURUT JENIS BENCANA
TAHUN 2016

Banjir 26
Tanah Longsor 21
Banjir Bandang 18
Angin Puting Beliung 14
Banjir dan Tanah Longsor 11
Gelombang Pasang/Badai 8
Gempa Bumi 8
Letusan Gunung Api 2
Kecelakaan Transportasi 24
KLB - Keracunan 17
Kebakaran 11
Gagal Teknologi 9
Kecelakaan Industri 3 Bencana Alam
KLB - Penyakit 1 Bencana Non Alam
Kebakaran Hutan dan Lahan 1
Konflik Sosial/Kerusuhan Sosial 10 Bencana Sosial
Aksi Teror dan Sabotase 5

0 5 10 15 20 25 30

Sumber: Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes 2017

Bencana alam dengan jumlah provinsi terkena terbanyak yaitu bencana banjir,
dengan 26 provinsi terkena, kemudian bencana non alam kecelakaan transportasi dengan 24
provinsi, dan bencana alam tanah longsor dengan 21 provinsi.
TABEL 6.5
JUMLAH KEJADIAN BENCANA ALAM DAN JUMLAH KORBAN YANG DITIMBULKAN
TAHUN 2016

Jumlah
Jumlah
Jumlah Jumlah Korban Jumlah
Korban Jumlah
Bencana Alam Kejadian Korban Luka Korban
Luka Berat/ Pengungsi
Bencana Meninggal Ringan/ Hilang
Rawat Inap
Rawat Jalan
Banjir 145 42 566 4.435 3 143.805
Letusan Gunung Api 2 9 2 0 0 1.840
Gempa Bumi 12 107 456 755 0 92.699
Gempa Bumi dan Tsunami 0 0 0 0 0 0
Tanah Longsor 119 168 76 1.356 24 11.906
Banjir Bandang 38 81 480 44.854 27 16.704
Kekeringan 0 0 0 0 0 0
Angin Puting Beliung 60 20 50 97 0 1.150
Gelombang Pasang/Badai 10 4 6 3.230 2 1.737
Banjir dan Tanah Longsor 14 11 28 851 1 7.541
Jumlah 400 442 1.664 55.578 57 277.382
Sumber: Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes 2017

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 209


Jumlah korban meninggal terbanyak diakibatkan oleh bencana tanah longsor, yakni
sebanyak 168 orang (38%), diikuti oleh gempa bumi sebanyak 107 orang (16%), dan banjir
bandang sebanyak 81 orang (12%). Sedangkan bencana yang paling banyak menimbulkan
korban luka berat/rawat inap yaitu bencana banjir dengan 566 orang (34%), kemudian banjir
bandang sebanyak 480 orang (29%), dan gempa bumi dengan 456 orang (27%). Bencana
dengan korban luka ringan/rawat jalan terbanyak yakni bencana banjir bandang dengan
44.854 orang (81%), kemudian banjir dengan 4.435 orang (8%) dan gelombang pasang/badai
dengan 3.230 orang (6%). Untuk korban hilang, bencana banjir bandang yang terjadi pada
tahun 2016 merupakan bencana alam dengan korban hilang terbanyak, yakni menyebabkan
27 orang hilang (47%). Bencana banjir merupakan bencana dengan korban pengungsi
terbanyak, yakni sebanyak 143.805 orang (52%). Bencana dengan korban pengungsi
terbanyak ke dua yaitu bencana gempa bumi dengan 92.699 orang (33%) dan banjir bandang
dengan 16.704 orang (6%).

TABEL 6.6
JUMLAH KEJADIAN BENCANA NON ALAM DAN JUMLAH KORBAN YANG DITIMBULKAN
TAHUN 2016

Jumlah Jumlah
Korban Korban
Jumlah Jumlah Jumlah
Luka Luka Jumlah
Bencana Non Alam Kejadian Korban Korban
Berat/ Ringan/ Pengungsi
Bencana Meninggal Hilang
Rawat Rawat
Inap Jalan

Kebakaran 48 42 34 112 0 3.104

Kebakaran Hutan dan Lahan 2 0 0 103 0 500

Kecelakaan Transportasi 62 252 193 391 45 0

Kecelakaan Industri 4 1 10 5 0 0

KLB - Penyakit 2 0 4 77 0 0

KLB - Keracunan 98 34 1.945 2.566 0 0

Gagal Teknologi 21 20 67 55 0 0

Wabah Penyakit (Epidemi) 0 0 0 0 0 0

Jumlah 237 349 2.253 3.309 45 3.604

Sumber: Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes 2017

Jumlah korban meninggal terbanyak diakibatkan oleh kecelakaan transportasi, yakni


sebanyak 252 orang, diikuti oleh kebakaran sebanyak 42 orang, dan KLB keracunan sebanyak
34 orang. Tidak hanya merupakan bencana non alam dengan jumlah korban meninggal
terbanyak, kecelakaan transportasi juga merupakan bencana dengan persentase korban
meninggal terbanyak bila dibandingkan dengan jumlah kejadiannya, yakni sebesar 406%,

210 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


lebih banyak dari seluruh bencana lainnya yang terjadi. Sedangkan bencana non alam yang
paling banyak menimbulkan korban luka berat/rawat inap yaitu KLB keracunan dengan 1.945
orang, kemudian kecelakaan transportasi sebanyak 193 orang, dan gagal teknologi dengan
67 orang. Bencana dengan korban luka ringan/rawat jalan terbanyak yakni bencana KLB
keracunan dengan 2.566 orang, kemudian kecelakaan transportasi dengan 391 orang dan
kebakaran dengan 112 orang. Untuk korban hilang, hanya kecelakaan transportasi yang
menimbulkan korban, yaitu sebanyak 45 orang. Hanya terdapat dua bencana non alam yang
menimbulkan korban pengungsi, yaitu kebakaran dan kebakaran hutan dan lahan, yaitu
sebanyak 3.104 dan 500 orang.

TABEL 6.7
JUMLAH KEJADIAN BENCANA SOSIAL DAN JUMLAH KORBAN YANG DITIMBULKAN
TAHUN 2016

Jumlah Jumlah
Korban Korban
Jumlah Jumlah Jumlah
Luka Luka Jumlah
Bencana Sosial Kejadian Korban Korban
Berat/ Ringan/ Pengungsi
Bencana Meninggal Hilang
Rawat Rawat
Inap Jalan

Konflik Sosial/Kerusuhan
16 13 91 1.808 0 5.391
Sosial

Aksi Teror dan Sabotase 8 13 37 23 0 0

Jumlah 24 26 128 1.831 0 5.391

Sumber: Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes 2017

Jenis bencana sosial yang menimbulkan paling banyak korban luka berat/rawat inap,
korban luka ringan/rawat jalan, dan korban pengungsi, yaitu konflik sosial/kerusuhan sosial,
yakni sebanyak 91, 1.808, dan 5.391 orang. Sedangkan kedua jenis bencana sosial
mengakibatkan jumlah korban meninggal yang sama banyak, yaitu 13 orang. Selain itu,
kedua jenis bencana sosial baik konflik sosial/kerusuhan sosial maupun aksi teror dan
sabotase tidak menimbulkan korban hilang.

F. PELAYANAN KESEHATAN HAJI


Indonesia merupakan negara dengan jamaah haji terbesar di dunia. Jumlah jamaah
haji Indonesia pada tahun 2016 sebanyak 168.800 orang.
Tahun 2016, penyelenggaraan kesehatan haji memasuki era baru dengan terbitnya
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2016 tentang Istithaah Kesehatan Jemaah
Haji. Permenkes ini membawa konsekuensi bahwa penyelenggaraan kesehatan haji
mengedepankan pembinaan kesehatan untuk memperkuat pelayanan dan perlindungan

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 211


kesehatan haji. Untuk itu upaya pembinaan sudah harus dilakukan sedini mungkin yang
diawali dengan pemeriksaan kesehatan awal. Berbagai faktor risiko kesehatan dikendalikan
melalui pembinaan kesehatan yang berjenjang sampai pada tahap penetapan istithaah
kesehata jemaah haji di tingkat kabupaten.
Konsekuensi dari pelaksanaan Permenkes tersebut juga mengubah orientasi
penyelenggaraan kesehatan haji dengan penguatan upaya promotif dan preventif pada
setiap tahap kegiatan penyelenggaraan kesehatan haji. Kegiatan promosi kesehatan dan
pencegahan penyakit pada jemaah haji yang dilaksanakan di Indonesia sampai Arab Saudi
diapresiasi oleh Kementerian Kesehatan Arab Saudi dengan memberikan penghargaan The
Ambasador of Health Awareness in Hajj season 2016 kepada Misi Kesehatan Haji Indonesia.
Jemaah Haji selama menjalankan ibadah haji mendapat pendampingan petugas
kesehatan yang menyertai di kelompok terbang (kloter) terdiri dari petugas 1 dokter dan 2
para medis serta petugas non kloter kesehatan atau Panitia Penyelenggara Ibadah Haji
(PPIH) Arab Saudi. Pada tahun 2016, petugas kesehatan haji Indonesia di Arab Saudi terdiri
dari Tim Promotif dan Preventif (TPP), Tim Gerak Cepat (TGC), Tim Kuratif dan Rehabilitatif
(TKR) dan Tenaga Pendamping Kesehatan (TPK).

1. Pemeriksaan Kesehatan Jemaah Haji


Pemeriksaan dan pembinaan kesehatan jemaah haji sudah dimulai pada awal tahun
2016. Data hasil kegiatan tersebut kemudian diinput ke aplikasi Sistem Komputerisasi Haji
Terpadu Bidang Kesehatan (Siskohatkes). Indikator penyelenggaraan kesehatan haji adalah
cakupan hasil pemeriksaan dan pembinaan kesehatan jemaah haji yang diinput kedalam
Siskohatkes 3 (tiga) bulan sebelum operasional haji. Karena pemberangkatan kloter pertama
musim haji tahun 2016 jatuh pada tanggal 8 Agustus 2016, maka Indikator tersebut harus
sudah tercapai pada tanggal 8 Mei 2016, dengan target sebesar 65%. Sedangkan hasil
cakupan yang dicapai pada tahun 2016 secara nasional adalah 65,68% atau 109.720
pemeriksaan, dan telah mencapai target yang ditentukan. Provinsi dengan capaian tertinggi
adalah DKI Jakarta (102,55%) dan terendah Maluku (6,04%). Capaian hasil pemeriksaan
pertama jemaah haji berdasarkan tempat pemeriksaan adalah sebagai berikut.

212 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 6.58
CAPAIAN PEMERIKSAAN PERTAMA JAMAAH HAJI
MENURUT PROVINSI TEMPAT PEMERIKSAAN TAHUN 2016

INDONESIA 65,68

DKI Jakarta 102,55


Riau 97,61
Kep. Bangka Belitung 95,69
DI Yogyakarta 81,13
Gorontalo 80,61
Jawa Barat 78,51
Banten 77,75
Maluku Utara 76,26
Sumatera Selatan 75,24
Sumatera Barat 74,06
Kepulauan Riau 73,10
Sulawesi Barat 71,86
Papua Barat 67,91
Jawa Timur 67,78
Sulawesi Utara 66,97
Sulawesi Selatan 63,53
Jambi 63,53
Sulawesi Tenggara 62,26
Sulawesi Tengah 59,97
Jawa Tengah 58,83
Bali 55,69
Aceh 53,23
Kalimantan Selatan 48,79
Sumatera Utara 43,52 Target 65%
Kalimantan Timur 37,13
Lampung 35,45
Nusa Tenggara Barat 34,30
Nusa Tenggara Timur 31,41
Kalimantan Tengah 30,29
Bengkulu 28,79
Kalimantan Barat 13,45
Papua 11,60
Maluku 6,04

0 20 40 60 80 100 120
%

Sumber: Pusat Kesehatan Haji, Kemenkes RI, 2017

Dibandingkan tahun 2015, terjadi peningkatan sebesar 5% yang dapat dilaksanakan


dengan membangun kemitraan dan kerja sama dengan lintas sektor terkait serta
dilaksanakan sejak awal Januari 2016.

2. Kondisi Jemaah Haji Indonesia


Jemaah haji Indonesia tahun 2016 terdiri dari 84.244 orang (55%) perempuan dan
68.853 orang laki-laki (45%). Jumlah ini adalah jumlah di luar petugas haji.

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 213


Menurut kelompok umur, proporsi kelompok umur 61 tahun sebesar 28%,
sedangkan proporsi terbesar adalah kelompok umur 51-60 tahun, yaitu sebesar 34%.

GAMBAR 6.59
JEMAAH HAJI INDONESIA MENURUT KELOMPOK UMUR
TAHUN 2016

40 tahun
12%
61 tahun
28%

41-50 tahun
26%

51-60 tahun
34%

Sumber: Pusat Kesehatan Haji, Kemenkes RI, 2017

Hasil pemeriksaan kesehatan didapatkan jemaah haji dengan risiko tinggi cukup besar
yaitu sebanyak 104.030 orang (67,9%), terdiri dari umur >60 tahun sebanyak 8.530 orang
(8,2%), umur <60 tahun dengan penyakit sebanyak 50.231 orang (48,3%) dan usia >60 tahun
dengan penyakit sebanyak 45.269 orang (43,5%).
Hasil pemeriksaan kesehatan haji, selain menghasilkan informasi status kesehatan
(risiko tinggi/ non risiko tinggi) juga menghasilkan informasi status istithaah (kemampuan)
kesehatan haji. Status istithaah kesehatan haji dikelompokkan menjadi 4 kategori. Jemaah
haji tahun 2016 yang memenuhi syarat istithaah kesehatan jemaah haji sebesar 71,45%,
memenuhi syarat dengan pendampingan sebesar 28,5%, tidak memenuhi syarat sementara
sebesar 0,03%, dan tidak memenuhi syarat sebesar 0,006%. Status tersebut membantu
untuk menyusun pendekatan pembinaan dan kebutuhan sumber daya yang tepat.
Penetapan status istithaah kesehatan jemaah haji merupakan tahap penting sebagai dasar
pemberian/pengawasan intervensi yang diberikan mulai masa tunggu sampai dengan
pelaksanaan ibadah haji.

214 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 6.60
PROPORSI STATUS ISTITHAAH KESEHATAN JEMAAH HAJI INDONESIA
TAHUN 2016
Tidak Tidak
memenuhi memenuhi
syarat syarat
0,006% sementara
0,03%

Memenuhi
syarat dengan
pendampingan
28,50%

Memenuhi
syarat
71,46%

Sumber: Pusat Kesehatan Haji, Kemenkes RI, 2017

3. Rawat Jalan, Rujukan, dan Jemaah Wafat


Jemaah haji yang mendapatkan rawat jalan kloter sejumlah 348.785 kunjungan
Dengan penyakit terbanyak adalah acute nasopharyngitis (common cold) sebesar 20%. Data
penyakit terbanyak rawat jalan dapat dilihat pada lampiran 6.41.
Sedangkan pelayanan kesehatan rujukan adalah sebagai berikut.

TABEL 6.8
PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN JEMAAH HAJI INDONESIA DI ARAB SAUDI
TAHUN 2016

Daerah Kerja
Tempat Rujukan Total
Madinah Makkah Airport

Sektor/Oktagon - 2.198 52 2.250

Klinik Kesehatan Jemaah Haji


1.243 1.300 401
Indonesia (KKHI) 2.944

Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) 120 326 32 478

Total 1.363 3.824 485 5.672


Sumber: Pusat Kesehatan Haji, Kemenkes RI, 2017

Bab VI PENGENDALIAN PENYAKIT 215


Jumlah jemaah haji reguler yang wafat di Arab Saudi sebanyak 318 orang dan jemaah
dari PIHK (Penyelenggara Ibadah Haji Khusus) sebanyak 24 orang. Angka ini menurun
signifikan dibandingkan tahun 2015 dengan jumlah jemaah wafat sebanyak 629 orang.
Penyebab terbanyak adalah cardiovascular diseases (53%) diikuti respiratory diseases (27%).
Jumlah jemaah wafat akibat sengatan panas (heat stroke) menurun dari 125 orang pada
tahun 2015 menjadi 2 orang pada tahun 2016. Walaupun gangguan kesehatan akibat cuaca
ekstrim panas tetap tinggi, tapi terbatas pada heat exhaustion atau kondisi yang lebih ringan
seperti dehidrasi dan heat cramps. Jumlah jemaah haji yang wafat terbanyak berdasarkan
waktu pelaksanaan haji adalah pada fase Pasca Armina yaitu 196 jemaah (57,3%) sedangkan
jumlah jemaah haji yang wafat pada saat Armina berjumlah 56 jemaah (16,4%). Data jemaah
haji wafat dapat dilihat pada Lampiran 6.42.

***

216 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


BAB VII KESEHATAN LINGKUNGAN

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-


2019, kebijakan dalam pembangunan kesehatan lingkungan telah mendapat perhatian
khusus. Hal ini tertuang dalam dokumen resmi RPJMN tahun 2015-2019, dimana Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional harus berwawasan lingkungan, sesuai dengan
tujuan pembangunan berkelanjutan dunia atau Suistanable Development Goals (SDGs).
Beberapa target/tujuan SDGs yang terkait dengan lingkungan diantaranya tujuan 6 yaitu
menjamin ketersediaan dan manajemen air dan sanitasi secara berkelanjutan dan tujuan 13
yaitu mengambil tindakan segera untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya. Di
dalam RPJMN ditekankan strategi peningkatan mutu kesehatan lingkungan dan strategi
peningkatan kesehatan lingkungan serta akses terhadap air minum dan sanitasi yang layak
dan perilaku hidup bersih dan sehat (higiene) untuk mewujudkan kebijakan meningkatkan
pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan. Program Lingkungan Sehat bertujuan
untuk mewujudkan mutu lingkungan hidup yang lebih sehat melalui pengembangan sistem
kesehatan kewilayahan untuk menggerakkan pembangunan lintas sektor berwawasan
kesehatan.
Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan
menyatakan bahwa kesehatan lingkungan adalah upaya pencegahan penyakit dan/atau
gangguan kesehatan dari faktor risiko lingkungan untuk mewujudkan kualitas lingkungan
yang sehat baik dari aspek fisik, kimia, biologi, maupun sosial. Sedangkan menurut WHO,
kesehatan lingkungan meliputi seluruh faktor fisik, kimia, dan biologi dari luar tubuh
manusia dan segala faktor yang dapat mempengaruhi perilaku manusia. Kondisi dan kontrol
dari kesehatan lingkungan berpotensial untuk mempengaruhi kesehatan.
Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menegaskan bahwa
upaya kesehatan lingkungan ditujukan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat,
baik fisik, kimia, biologi, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang mencapai derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya. Lingkungan sehat mencakup lingkungan permukiman,
tempat kerja, tempat rekreasi, serta tempat dan fasilitas umum, harus bebas dari unsur-
unsur yang menimbulkan gangguan, di antaranya limbah (cair, padat, dan gas), sampah yang
tidak diproses sesuai dengan persyaratan, vektor penyakit, zat kimia berbahaya, kebisingan

Bab VII KESEHATAN LINGKUNGAN 219


yang melebihi ambang batas, radiasi, air yang tercemar, udara yang tercemar, dan makanan
yang terkontaminasi.
Lingkungan menjadi salah satu faktor yang berperan dalam menentukan derajat
kesehatan masyarakat yang optimal di samping faktor kualitas pelayanan kesehatan, dan
perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat. Program Lingkungan Sehat bertujuan untuk
mewujudkan mutu lingkungan hidup yang lebih sehat melalui pengembangan sistem
kesehatan kewilayahan dalam menggerakkan pembangunan lintas sektor berwawasan
kesehatan. Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan
ditetapkan pada media lingkungan yang meliputi: air, udara, tanah, pangan, sarana dan
bangunan, serta vektor dan binatang pembawa penyakit.
Pencapaian tujuan penyehatan lingkungan merupakan akumulasi berbagai
pelaksanaan kegiatan dari berbagai lintas sektor, peran swasta dan masyarakat dimana
pengelolaan kesehatan lingkungan merupakan penanganan yang paling kompleks, kegiatan
tersebut sangat berkaitan antara satu dengan yang lainnya yaitu dari hulu berbagai lintas
sektor ikut serta berperan (Perindustrian, Lingkungan Hidup, Pertanian, Pekerjaan Umum-
Perumahan Rakyat, dll) baik kebijakan dan pembangunan fisik. Kementerian Kesehatan
sendiri terfokus kepada hilirnya yaitu pengelolaan dampak kesehatan.

A. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi Total
Berbasis Masyarakat (STBM), yang dimaksud dengan STBM adalah pendekatan untuk
mengubah perilaku higienis dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara
pemicuan. Penyelenggaraan STBM bertujuan untuk mewujudkan perilaku yang higienis dan
saniter secara mandiri dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya.
Pemerintah Indonesia melakukan upaya-upaya peningkatan akses sanitasi sejak
tahun 2006. Salah satu upaya melalui Kementerian Kesehatan adalah melakukan perubahan
arah kebijakan pendekatan sanitasi dari yang sebelumnya memberikan subsidi (project
driven) menjadi pemberdayaan masyarakat dengan fokus pada perubahan perilaku Stop
Buang Air Besar Sembarangan menggunakan metode CLTS (Community Led Total
Sanitation). Belajar dari pengalaman implementasi CLTS melalui berbagai program yang
dilakukan oleh pemerintah bersama NGO (Non-Governmental Organization), maka
pendekatan CLTS selanjutnya dikembangkan dengan menambahkan 4 (empat) pilar
perubahan perilaku lainnya yang dinamakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
Selanjutnya Pemerintah menetapkan STBM menjadi kebijakan nasional pada tahun 2008.
Pendekatan STBM terbukti telah mampu mempercepat akses sanitasi di Indonesia.
Berdasarkan data BPS tahun 2013, peningkatan rata-rata akses sanitasi dari tahun 1993-
2006 mencapai 0,78% per tahun. Sejak penerapan CLTS (Community Lead Total Sanitation)
pada tahun 2006 yang kemudian menjadi kebijakan nasional STBM pada tahun 2008 rata-

220 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


rata peningkatan akses sanitasi per tahun mencapai 3,53%. Dalam pelaksanaan STBM
berpedoman pada lima pilar sebagai berikut.
1. Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBABS).
2. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS).
3. Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMMRT).
4. Pengamanan Sampah Rumah Tangga (PSRT).
5. Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga (PLCRT).

Pelaku utama STBM adalah masyarakat yang didukung oleh pemerintah dan
berbagai pihak seperti LSM, swasta, perguruan tinggi, media dan organisasi sosial lainnya.
Dukungan yang diberikan meliputi pengembangan kapasitas, pengembangan pilihan
teknologi, memfasilitasi pengembangan mekanisme jejaring pemasaran, pengembangan
media, fasilitasi pemicuan, dan pertemuan-pertemuan pembelajaran antar pihak. Berbagai
dukungan tersebut telah terbukti mampu meningkatkan kemandirian masyarakat dalam
membangun sarana sanitasi sesuai kemampuan. STBM digunakan sebagai sarana
pemerintah dalam pencapaian akses sanitasi menuju universal access pada akhir tahun
2019.
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2014, strategi penyelenggaraan
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) meliputi 3 (tiga) komponen yang saling
mendukung satu dengan yang lain yang disebut dengan 3 Komponen Sanitasi Total yaitu:
1. penciptaan lingkungan yang kondusif (enabling environment);
2. peningkatan kebutuhan sanitasi (demand creation);
3. peningkatan penyediaan akses sanitasi (supply improvement);

Jumlah desa/kelurahan yang melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat


adalah jumlah kumulatif desa/kelurahan yang terverifikasi melaksanakan STBM. Jumlah
kumulatif desa/kelurahan yang terverifikasi sebagai desa melaksanakan STBM adalah
dengan memenuhi kriteria sebagai berikut.
1. Telah dilakukan pemicuan STBM (upaya untuk menuju perubahan perilaku
masyarakat yang higiene dan saniter melalui pemberdayaan masyarakat dengan
metode partisipatori berprinsip pada pendekatan CLTS (Community-Led Total
Sanitation).
2. Telah memiliki natural leader (anggota masyarakat baik individu maupun kelompok
masyarakat yang memotori gerakan STBM di masyarakat tersebut).
3. Telah memiliki Rencana Kerja Masyarakat (RKM).

Data dari Profil Nasional STBM sampai dengan awal tahun 2017, dari seluruh total
9.767 puskesmas di Indonesia tahun 2016, sebanyak 8.669 desa/kelurahan (88%) sudah
menjalankan program STBM, dan memiliki sumber daya manusia kesehatan khususnya
sanitarian sebanyak 8.594 orang, 1.621 orang (18,86%) diantaranya merupakan sanitarian
terlatih, dengan 69,20% fasilitator STBM aktif.

Bab VII KESEHATAN LINGKUNGAN 221


GAMBAR 7.1
CAPAIAN DESA/KELURAHAN YANG MELAKSANAKAN SANITASI TOTAL BERBASIS
MASYARAKAT TAHUN 2012-2016

40000

35000

30000

25000

20000

15000

10000

5000

0
2012 2013 2014 2015 2016
Target Renstra 11000 16000 20000 25000 30000
Realisasi 11339 16228 20420 25262 33927

Sumber: Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2017

Pada tahun 2016 dari seluruh desa/kelurahan 80.314 yang ada di Indonesia,
sebanyak 76.073 desa/kelurahan yang telah mengentri datanya, jumlah desa/kelurahan
yang telah melaksanakan STBM adalah 42% atau mencapai 33.927 desa/kelurahan, angka
ini telah melebihi target Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan tahun 2016
yaitu 30.000 desa/kelurahan. Tren capaian total desa/kelurahan yang melaksanakan STBM
periode tahun 2012 sampai dengan tahun 2016 selalu melebih target Renstra yang
ditetapkan setiap tahunnya, secara rinci dapat dilihat pada Gambar 7.1.
Sedangkan untuk desa dengan SBS (Stop Buang Air Besar Sembarangan) atau ODF
(Open Defecation Free) yang sudah terverifikasi, mencapai 8.814 desa/kelurahan atau 26%
dari 33.927 desa/kelurahan dengan STBM. Dalam rangka mendukung pencapaian target
RPJMN termasuk Universal Access 2019, pada akhir tahun 2019 harus tercapai 100%
desa/kelurahan melaksanakan STBM, dan 50% desa/kelurahan STBM harus mencapai SBS/
ODF yang terverifikasi. SBS Terverifikasi adalah kondisi ketika setiap individu dalam suatu
komunitas tidak lagi melakukan perilaku buang air besar sembarangan yang berpotensi
menyebarkan penyakit dan sudah dipastikan melalui proses verifikasi.

222 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 7.2
PERSENTASE DESA/KELURAHAN YANG MELAKSANAKAN SANITASI TOTAL BERBASIS
MASYARAKAT TAHUN 2016

Indonesia 42,24

DI Yogyakarta 96,35
Nusa Tenggara Barat 95,07
Kep. Bangka Belitung 80,62
Nusa Tenggara Timur 68,28
Jawa Timur 68,21
Sulawesi Barat 65,02
Riau 61,36
Jawa Tengah 60,88
Bali 55,59
Banten 54,22
Kalimantan Selatan 52,04
Sulawesi Selatan 51,94
Kalimantan Tengah 47,16
Sumatera Barat 45,65
Gorontalo 45,07
Sumatera Selatan 42,81
Lampung 41,17
Jawa Barat 40,45
Kepulauan Riau 36,23
Jambi 35,10
Bengkulu 35,00
Sulawesi Tengah 34,81
Sulawesi Tenggara 29,24
Kalimantan Barat 27,13
Aceh 22,62
Papua Barat 20,80
Kalimantan Timur 20,29
Maluku Utara 19,68
Sumatera Utara 18,45
Maluku 13,38
Kalimantan Utara * 13,36
DKI Jakarta 9,74
Sulawesi Utara 7,88
Papua 7,05
0 20 40 60 80 100
Sumber: Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2017

Gambar 7.2 menjelaskan rata-rata capaian nasional tahun 2016 adalah 42,24%
meningkat dari rata-rata capaian tahun 2015 yaitu 32,91%. Provinsi dengan persentase
desa/kelurahan yang melaksanakan STBM tertinggi adalah DI Yogyakarta (96,35%), Nusa
Tenggara Barat (95,07%), dan Kep. Bangka Belitung (80,62%). Sedangkan provinsi dengan
persentase desa/kelurahan yang melaksanakan STBM terendah adalah Papua (7,05%),
Sulawesi Utara (7,88%) dan DKI Jakarta (9,74%). Dilihat dari jumlah, 5 (lima) provinsi dengan
realisasi desa/kelurahan yang melaksanakan STBM tertinggi yaitu Jawa Timur (5.797
desa/kelurahan), Jawa Tengah (5.222 desa/kelurahan), Jawa Barat (2.401 desa/kelurahan),
Nusa Tenggara Timur (2.230 desa/kelurahan), dan Sulawesi Selatan (1.570 desa/kelurahan).
Rincian lengkap tentang jumlah persentase desa yang melaksanakan STBM tahun 2014-2016
dapat dilihat pada Lampiran 7.1.

Bab VII KESEHATAN LINGKUNGAN 223


Provinsi D.I Yogyakarta tahun 2016 menempati peringkat pertama secara nasional
menurut persentase desa/kelurahan yang melaksanakan STBM, capaian kemajuan tersebut
diperoleh karena adanya upaya dan semangat warga DI Yogyakarta ingin terlepas dari BABS,
hal ini dibuktikan dengan adanya Deklarasi Program Kecamatan Stop Buang Air Besar
Sembarangan (SBS) di 24 Kecamatan yang tersebar di Kota Yogyakarta (12 kecamatan),
Kabupaten Gunungkidul (5 kecamatan), Kabupaten Sleman (1 kecamatan) dan Kabupaten
Bantul (6 kecamatan). Deklarasi ini yang diselenggarakan bertepatan dengan peringatan
Hari Kesehatan Nasional (HKN) pada 19 November 2015. Provinsi NTB menempati peringkat
kedua secara nasional menurut persentase desa/kelurahan yang melaksanakan STBM,
capaian itu diperoleh karena adanya dukungan dari pemerintah daerah salah satunya adalah
ditebitkan Peraturan Gubernur NTB tentang gerakan tidak buang air besar sembarangan/
Buang Air Besar Sembarangan NO (BASNO) yang dilengkapi dengan adanya sanksi bagi siapa
yang melanggarnya. Adanya bantuan kemudahan dari lintas sektor seperti perbankan dalam
hal pemberian pinjaman untuk wirausahawan sanitasi, sehingga masyarakat mudah
mendapatkan kebutuhan sanitasinya.
Sejak ditetapkan sebagai kebijakan nasional pada tahun 2008, pendekatan STBM
dirasakan cukup efektif dari sisi anggaran. Provinsi Jawa Timur adalah provinsi dengan
desa/kelurahan STBM paling banyak mencapai 5.797 puskemas, hal ini terjadi karena
berbagai dukungan pemerintah daerah seperti diterbitkannya Surat Edaran Gubernur Jawa
Timur No. 440/11841/031/2013 tanggal 21 Juni 2013 tentang Pelaksanaan Program STBM
yang ditindaklanjuti dengan instruksi Bupati se-provinsi Jawa Timur, adanya kecukupan
alokasi anggaran, bersinergi dengan lintas sektor, lintas program serta mitra terkait
termasuk lembaga swadaya masyarakat serta perguruan tinggi, terbangunnya komitmen di
tingkat kabupaten/kota untuk menindaklanjuti kebijakan dan komitmen di tingkat provinsi,
sosialisasi yang intensif tentang STBM termasuk jamban murah melalui kegiatan wirausaha
sanitasi, melakukan monitoring dan evaluasi secara ketat dan terus menerus, serta
melaksanakan kegiatan yang memiliki daya ungkit besar misalnya gotong royong.
Dalam upaya pencapaian target Universal Access 2019 ini masih ada beberapa
kendala yang dihadapi diantaranya adalah proses peningkatan perubahan perilaku
cenderung membutuhkan waktu yang relatif lama dan masalah kecukupan pendampingan
petugas kepada masyarakat untuk menerapkan perilaku yang lebih sehat dalam kehidupan
sehari-hari secara berkesinambungan. Adanya disparitas capaian desa/kelurahan
melaksanakan STBM sebagai akibat dari belum semua puskesmas dan petugas yang terkait
melaporkan hasil kegiatannya. Untuk mengatasi kendala ini, ada beberapa langkah yang
dapat dilakukan seperti melakukan advokasi dan sosialisasi secara terpadu bersama lintas
program/sektor serta mitra terkait (Promkes, Poltekkes, Bappenas, Kemendagri, Kemen PU)
dalam rangka internalisasi program di provinsi/kabupaten/kota, meningkatkan dan
memperkuat strategi Kemitraan Pemerintah - Swasta (KPS) dalam rangka efektivitas
intervensi kegiatan serta peningkatan dan penguatan sistem monitoring dan evaluasi STBM
menggunakan sistem monev berbasis website dan SMS gateway dalam skala nasional.

224 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Kemajuan akses sanitasi dapat dipantau secara online dan real time melalui sistem monev
STBM berbasis website (www.stbm-indonesia.org/monev/).

B. Tatanan Kawasan Sehat


Kawasan Sehat adalah suatu kondisi wilayah yang bersih, nyaman, aman dan sehat
bagi pekerja dan masyarakat, melalui peningkatan suatu kawasan potensial dengan kegiatan
yang terintegrasi dan disepakati masyarakat, kelompok usaha dan pemerintah daerah.
Tatanan Kawasan Sehat (TKS) merupakan salah satu indikator pelaksanaan kegiatan
penyehatan lingkungan dalam Renstra 2015-2019. Dalam Peraturan Bersama Menteri
Dalam Negeri dan Menteri Kesehatan Nomor 34 Tahun 2005 dan Nomor
1138/Menkes/PB/VIII/2005 tentang Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat.
Kabupaten/Kota Sehat (KKS) adalah suatu kondisi kabupaten/kota yang bersih, nyaman,
aman dan sehat untuk dihuni penduduk, yang dicapai melalui terselenggaranya penerapan
beberapa tatanan dengan kegiatan yang terintegrasi yang disepakati masyarakat dan
pemerintah daerah.
Tatanan Kabupaten/kota sehat dikelompokkan berdasarkan kawasan dan
permasalahan khusus, terdiri dari:
1. kawasan permukiman, sarana, dan prasarana umum,
2. kawasan sarana lalu lintas tertib dan pelayanan transportasi,
3. kawasan pertambangan sehat,
4. kawasan hutan sehat,
5. kawasan industri dan perkantoran sehat,
6. kawasan pariwisata sehat,
7. ketahanan pangan dan gizi,
8. kehidupan masyarakat yang mandiri,
9. kehidupan sosial yang sehat.

Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat adalah juga merupakan pelaksanaan


berbagai kegiatan dalam mewujudkan kabupaten/kota sehat berbasis masyarakat yang
berkesinambungan, melalui forum yang difasilitasi oleh pemerintah kabupaten/kota.
Kabupaten/kota yang menyelenggarakan kawasan sehat adalah kabupaten/kota yang
menyelenggarakan pendekatan Kabupaten/Kota Sehat dengan membentuk Tim Pembina
dan Forum Kabupaten/Kota Sehat yang menerapkan minimal 2 Tatanan dari 9
Pengelompokan Tatanan Kawasan Sehat.
Dalam periode dua tahun sekali Kabupaten/kota sehat yang memenuhi kriteria akan
diberikan Penghargaan Kabupaten/Kota Sehat (Swasti Saba). Seleksi penghargaan ini
dilakukan oleh Gubernur yang pelaksanaannya dilakukan oleh Tim Pembina Provinsi yang
anggotanya terdiri dari unsur pemerintah daerah provinsi, dan instansi terkait. Tim Pembina
sebagaimana dimaksud ditetapkan dengan Keputusan Gubernur, secara teknis penilaian

Bab VII KESEHATAN LINGKUNGAN 225


Kabupaten/kota sehat dapat dievaluasi oleh Tim Pembina pusat, sesuai dengan
perkembangan penyelenggaraan Kabupaten/kota sehat. Penghargaan ini terdiri dari 3
kategori, yaitu penghargaan Padapa diberikan kepada kabupaten/kota pada taraf
pemantapan, Wiwerda untuk taraf pembinaan, dan Wistara untuk taraf pengembangan.

GAMBAR 7.3
PERSENTASE KABUPATEN/KOTA PENYELENGGARA TATANAN KAWASAN SEHAT
TAHUN 2016

Indonesia 68,09

Gorontalo 100,00
Sulawesi Selatan 100,00
Nusa Tenggara Barat 100,00
Bali 100,00
Jawa Timur 100,00
DI Yogyakarta 100,00
Jawa Tengah 100,00
Jawa Barat 100,00
DKI Jakarta 100,00
Kep. Bangka Belitung 100,00
Jambi 100,00
Sumatera Barat 100,00
Riau 91,67
Kalimantan Timur 90,00
Sumatera Selatan 82,35
Sulawesi Utara 80,00
Kalimantan Utara 80,00
Bengkulu 80,00
Kalimantan Selatan 76,92
Banten 75,00
Kepulauan Riau 71,43
Sulawesi Barat 66,67
Lampung 60,00
Kalimantan Barat 57,14
Sulawesi Tenggara 52,94
Sumatera Utara 51,52
Sulawesi Tengah 46,15
Nusa Tenggara Timur 31,82
Maluku 27,27
Aceh 26,09
Maluku Utara 20,00
Kalimantan Tengah 14,29
Papua 3,45
Papua Barat 0,00
0 20 40 60 80 100

Sumber: Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2017

Pada tahun 2016, dari total 514 jumlah kabupaten/kota yang menyelenggarakan
program TKS sebanyak 350 kabupaten/kota, angka ini belum mencapai target Rentra tahun
2016 sebanyak 356 kabupaten/kota. Gambar 7.3 menunjukkan provinsi yang seluruh
kabupaten/kotanya telah mencapai TKS 100% sebanyak 12 (dua belas) provinsi. Terdapat
satu provinsi yang kabupaten/kotanya belum menyelenggarakan Tatanan Kawasan Sehat
yaitu Papua Barat. Rincian lengkap tentang jumlah kabupaten/kota penyelenggara Tatanan
Kawasan Sehat tahun 2016 dapat dilihat pada Lampiran 7.2.

226 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Dalam pelaksanaan kegiatan TKS ini, masih terdapat masalah yang dihadapi, di
antaranya masih belum sempurnanya standar indikator pelaksanaan kegiatan per-Tatanan
(9 Tatanan) dalam Kabupaten/Kota Sehat, masih sulitnya koordinasi Lintas Sektor
Kementerian/Lembaga terkait dalam merespon kerja sama dengan Kemenkes untuk
mewujudkan Kabupaten/Kota Sehat, kurangnya sosialisasi dan komitmen pemerintah
daerah dalam pengambilan keputusan akibat seringnya mutasi kepegawaian di daerah,
kurang optimalnya fungsi tim pembina, baik di pusat, provinsi maupun kabupaten/kota,
serta kurangnya advokasi dan sosialisasi kegiatan penyehatan kawasan yang terdiri dari
Kabupaten/Kota Sehat, pasar sehat, pelabuhan sehat, dan DTPK di setiap provinsi. Untuk
mengatasi masalah tersebut, upaya yang dapat dilakukan adalah mengembangkan jejaring
dengan lintas sektor dan lintas program yang terkait dengan penyelenggaraan
Kabupaten/Kota Sehat dan menyusun rancangan Peraturan Presiden tentang
Kabupaten/Kota Sehat.

C. Air Minum
Salah satu target dalam tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable
Development Goals/SDGs) pada sektor lingkungan hidup adalah memastikan masyarakat
mencapai akses universal air bersih dan sanitasi yang layak. Universal akses dalam sektor air
minum dan sanitasi diharapkan dapat tercapai pada tahun 2030. Air bersih adalah salah satu
jenis sumber daya berbasis air yang bermutu baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia
untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Air minum merupakan air
yang dikonsumsi manusia dalam memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Menurut Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air
Minum, air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses
pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Pada
Permenkes tersebut juga disebutkan bahwa penyelenggara air minum wajib menjamin air
minum yang diproduksinya aman bagi kesehatan. Dalam hal ini penyelenggara air minum
diantaranya adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN)/Badan Usaha Milik Daerah (BUMD),
koperasi, badan usaha swasta, usaha perorangan, kelompok masyarakat, dan/atau
individual yang menyelenggarakan penyediaan air minum.
Air minum yang aman (layak) bagi kesehatan adalah air minum yang memenuhi
persyaratan secara fisik, mikrobiologis, kimia, dan radioaktif. Secara fisik, air minum yang
sehat adalah tidak berbau, tidak berasa, tidak berwarna serta memiliki total zat padat
terlarut, kekeruhan, dan suhu sesuai ambang batas yang ditetapkan. Secara mikrobiologis,
air minum yang sehat harus bebas dari bakteri E.Coli dan total bakteri koliform. Secara
kimiawi, zat kimia yang terkandung dalam air minum seperti besi, aluminium, klor, arsen,
dan lainnya harus di bawah ambang batas yang ditentukan. Secara radioaktif, kadar gross
alpha activity tidak boleh melebihi 0,1 becquerel per liter (Bq/l) dan kadar gross beta
activity tidak boleh melebihi 1 Bq/l.

Bab VII KESEHATAN LINGKUNGAN 227


GAMBAR 7.4
PERSENTASE RUMAH TANGGA DENGAN AKSES AIR MINUM LAYAK TAHUN 2016
INDONESIA 71,14

DKI Jakarta 92,44


Bali 88,71
Kepulauan Riau 85,31
Kalimantan Utara 82,69
DI Yogyakarta 81,04
Kalimantan Timur 78,93
Jawa Tengah 76,30
Jawa Timur 75,83
Sulawesi Tenggara 75,82
Riau 75,49
Nusa Tenggara Barat 73,98
Sulawesi Selatan 73,42
Gorontalo 71,59
Sumatera Utara 70,61
Sulawesi Utara 70,22
Papua Barat 68,76
Jawa Barat 67,62
Banten 67,47
Sumatera Barat 67,33
Maluku 67,20
Kalimantan Barat 66,19
Kep. Bangka Belitung 63,95
Sumatera Selatan 63,77
Aceh 63,31
Jambi 63,23
Maluku Utara 62,99
Sulawesi Tengah 62,15
Kalimantan Tengah 61,26
Nusa Tenggara Timur 60,04
Sulawesi Barat 58,99
Kalimantan Selatan 58,63
Papua 52,69
Lampung 52,41
Bengkulu 37,35
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Sumber: Badan Pusat Statistik, Susenas Kor 2016

Kebutuhan air minum, tidak hanya dilihat dari kuantitasnya tetapi juga dari kualitas
air minum. Pemenuhan kebutuhan air minum di rumah tangga dapat diukur dari akses air
minum layak, beberapa faktor yang berpengaruh terhadap akses air minum layak
diantaranya adalah:
1. jenis sumber air utama yang digunakan untuk diminum;
2. jenis sumber air utama yang digunakan untuk memasak, mandi, dan mencuci;
3. jarak sumber air ke penampungan limbah/kotoran/tinja terdekat 10 meter.
Data dari Statistik Kesejahteraan Rakyat tahun 2016, Badan Pusat Statistik secara
nasional menunjukkan sumber air utama yang paling banyak digunakan rumah tangga untuk
minum adalah air kemasan (31,30%) dan sumur terlindung (21%), untuk memasak sumber
air utama yang digunakan yaitu sumur terlindung/tak terlindung (32,50%) dan sumur
bor/pompa (23,74%), sedangkan sumber air utama yang digunakan rumah tangga untuk
mandi, mencuci, dll, adalah air dari sumur terlindung/tak terlindung dan sumur bor/pompa
sebesar (28,85%).

228 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


Gambar 7.4 menunjukkan bahwa secara nasional persentase rumah tangga dengan
akses air minum layak sebesar 71,14%. Provinsi dengan persentase rumah tangga dengan
akses air minum layak tertinggi yaitu DKI Jakarta (92,44%), Bali (88,71%) dan Kepulauan Riau
(85,31%). Sedangkan provinsi dengan persentase rumah tangga menurut akses air minum
layak terendah adalah Bengkulu (37,35%), Lampung (52,41%), dan Papua (52,69%). Rincian
lengkap tentang persentase rumah tangga menurut akses air minum layak tahun 2016 dapat
dilihat pada Lampiran 7.3.
GAMBAR 7.5
PERSENTASE SARANA AIR MINUM YANG DILAKUKAN PENGAWASAN TAHUN 2016

Indonesia 16,02

Gorontalo 42,38
Sumatera Barat 41,00
Sulawesi Barat 39,33
Bengkulu 35,86
Maluku Utara 33,03
DI Yogyakarta 31,54
Kep. Bangka Belitung 30,79
Kalimantan Utara * 25,93
Sulawesi Utara 24,52
Jambi 21,64
Riau 20,74
Sulawesi Tengah 20,04
Kalimantan Tengah 18,37
Nusa Tenggara Barat 18,07
Kalimantan Selatan 17,39
Jawa Tengah 15,05
Kalimantan Timur 14,21
Sulawesi Tenggara 13,67
Jawa Barat 13,48
Kalimantan Barat 13,22
Nusa Tenggara Timur 12,81
Sulawesi Selatan 11,46
Kepulauan Riau 10,71
Banten 10,09
Jawa Timur 8,59 Target Renstra
Papua Barat 7,79 2016: 35%
Lampung 6,96
Sumatera Utara 6,14
Sumatera Selatan 6,04
DKI Jakarta 6,00
Aceh 5,83
Bali 2,79
0 20 40 60 80 100
Sumber: Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2017

Pengawasan kualitas air minum diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
736/MENKES/PER/VI/2010 tentang Tata Laksana dan Pengawasan Kualitas Air Minum,
dalam peraturan tersebut dijelaskan bahwa pengawasan internal dilakukan oleh
penyelenggara air minum komersial dan pengawasan eksternal dilakukan oleh Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota. Pengawas kualitas air minum internal adalah penyelenggara air
minum yang diawasi kualitas hasil produksinya secara eksternal oleh Dinas Kesehatan
Provinsi/Kabupaten/Kota dan KKP yang dibuktikan dengan jumlah sampel pengujian kualitas

Bab VII KESEHATAN LINGKUNGAN 229


air. Penyelenggara air minum adalah PDAM/BPAM/PT yang terdaftar di Persatuan
Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi); Sarana air minum perpipaan non
PDAM; dan Sarana air minum bukan jaringan perpipaan komunal.
Data yang diperoleh oleh Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat sampai Maret
2017, secara nasional pada tahun 2016 dari 32.578 sarana air minum terdapat 16,02%
(5.218) sarana air minum yang diawasi (Gambar 7.5), hasil ini belum mencapai target
Renstra Kementerian Kesehatan tahun 2016 yaitu 35% sarana air minum yang dilakukan
pengawasan. Terdapat 4 (empat) provinsi sudah memenuhi target Renstra Kemenkes tahun
2016 dengan memperoleh hasil lebih dari 35% persentase sarana air minum yang diawasi,
yaitu Gorontalo (42,38%), Sumatera Barat (41%), Sulawesi Barat (39,33%), dan Bengkulu
(35,86%). Sedangkan provinsi dengan persentase terendah diantaranya Bali (2,79%), Aceh
(5,83%), dan DKI Jakarta (6%).
Gambaran persentase sarana air minum yang dilakukan pengawasan tahun 2016
sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2015, secara nasional dari 234.002
sarana air minum terdapat 43,58% (101.972) sarana air minum yang diawasi, angka ini telah
mencapai target Renstra Kementerian Kesehatan tahun 2015 yaitu 30% sarana air minum
yang dilakukan pengawasan. Gambaran sarana air minum yang dilakukan pengawasan
tahun 2015 dan tahun 2016 belum dapat dibandingkan karena pada tahun 2015 jumlah
sarana air minum mencapai 234.002, merupakan jumlah seluruh jenis air minum yaitu
PDAM, perpipaan non PDAM, sarana kumonal non perpipaan (DAM = Depot Air Minum,
sumur gali, dll), sedangkan pada tahun 2016 jumlah 32.578 sarana air minum yang telah
terdata hanyalah DAM saja. Rincian lengkap tentang persentase sarana air minum yang
dilakukan pengawasan tahun 2017 dapat dilihat pada Lampiran 7.4.

D. Akses Sanitasi Layak


Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud
mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya
lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia.
Sanitasi yang baik merupakan elemen penting yang menunjang kesehatan manusia. Definisi
sanitasi dari WHO merujuk kepada penyediaan sarana dan pelayanan pembuangan limbah
kotoran manusia seperti urine dan faeces. Istilah sanitasi juga mengacu kepada
pemeliharaan kondisi higienis melalui upaya pengelolaan sampah dan pengolahan limbah
cair. Sanitasi berhubungan dengan kesehatan lingkungan yang mempengaruhi derajat
kesehatan masyarakat. Buruknya kondisi sanitasi akan berdampak negatif di banyak aspek
kehidupan, mulai dari turunnya kualitas lingkungan hidup masyarakat, tercemarnya sumber
air minum bagi masyarakat, meningkatnya jumlah kejadian diare dan munculnya beberapa
penyakit.
Mulai tahun 2015 definisi rumah tangga yang memiliki akses sanitasi layak adalah
apabila fasilitas sanitasi yang digunakan memenuhi syarat kesehatan, antara lain dilengkapi

230 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


dengan jenis kloset leher angsa atau plengsengan dengan tutup dan memiliki tempat
pembuangan akhir tinja tangki (septic tank) atau Sistem Pengolahan Air Limbah (SPAL), dan
merupakan fasilitas buang air besar yang digunakan sendiri atau bersama. Metode
pembuangan tinja yang baik yaitu menggunakan jamban dengan syarat sebagai berikut:
1. Tanah permukaan tidak boleh terjadi kontaminasi.
2. Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki mata air
atau sumur.
3. Tidak boleh terkontaminasi air permukaan.
4. Tinja tidak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain.
5. Tidak boleh terjadi penanganan tinja segar, atau bila memang benar-benar
diperlukan, harus dibatasi seminimal mungkin.
6. Jamban harus bebas dari bau atau kondisi yang tidak sedap dipandang.
7. Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak mahal.

GAMBAR 7.6
PERSENTASE RUMAH TANGGA YANG MEMILIKI AKSES TERHADAP SANITASI LAYAK
TAHUN 2016
INDONESIA 67,80
DKI Jakarta 91,13
Bali 89,33
DI Yogyakarta 85,78
Kep. Bangka Belitung 83,16
Kepulauan Riau 79,55
Kalimantan Timur 76,76
Sulawesi Selatan 76,51
Sulawesi Utara 75,27
Banten 73,42
Sumatera Utara 72,86
Riau 71,36
Jawa Tengah 70,66
Nusa Tenggara Barat 70,31
Sulawesi Tenggara 68,26
Jawa Timur 68,15
Maluku 66,81
Jambi 65,65
Sumatera Selatan 65,05
Maluku Utara 64,71
Kalimantan Utara 64,68
Papua Barat 64,55
Jawa Barat 63,79
Aceh 62,68
Kalimantan Selatan 60,89
Sulawesi Tengah 59,94
Gorontalo 59,85
Sulawesi Barat 59,81
Lampung 58,58
Sumatera Barat 53,24
Kalimantan Barat 52,06
Kalimantan Tengah 50,97
Bengkulu 49,75
Nusa Tenggara Timur 40,46
Papua 31,43
0 20 40 60 80 100
Sumber: Badan Pusat Statistik, Susenas Kor 2016

Bab VII KESEHATAN LINGKUNGAN 231


Gambar 7.6 menunjukkan hasil Susenas Kor 2016 mengenai persentase rumah
tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak. Secara nasional, terdapat 67,80% rumah
tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak. Provinsi dengan persentase rumah
tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak tertinggi yaitu DKI Jakarta (91,13%), Bali
(89,33%), dan DI Yogyakarta sebesar (85,78%). Sedangkan provinsi dengan persentase
rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak terendah adalah Papua (31,43%)
Nusa Tenggara Timur (40,46%), dan Bengkulu (49,75%). Rincian lengkap tentang persentase
rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak tahun 2014-2016 dapat dilihat
pada Lampiran 7.5.

E. Tempat-Tempat Umum (TTU) Yang Memenuhi Syarat Kesehatan


Tempat-Tempat Umum (TTU) adalah tempat atau sarana umum yang digunakan
untuk kegiatan masyarakat dan diselenggarakan oleh pemerintah/swasta atau perorangan,
antara lain pasar rakyat, sekolah, fasyankes, terminal, bandara, stasiun, pelabuhan, bioskop,
hotel dan tempat umum lainnya. TTU yang memenuhi syarat kesehatan adalah tempat dan
fasilitas umum minimal sarana pendidikan dan pasar rakyat yang memenuhi syarat
kesehatan. TTU dinyatakan sehat apabila memenuhi persyaratan fisiologis, psikologis, dan
dapat mencegah penularan penyakit antar pengguna, penghuni, dan masyarakat sekitarnya
serta memenuhi persyaratan dalam pencegahan terjadinya masalah kesehatan. Pemerintah
Daerah minimal wajib mengelola 2 tempat-tempat umum, yaitu:
1. Sarana pendidikan dasar yang dimaksud adalah Sekolah Dasar (SD/MI), Sekolah
Menengah Pertama (SMP/MTs) dan yang sederajat milik pemerintah dan swasta
yang terintegrasi.
2. Pasar rakyat yang dimaksud adalah pasar yang berlokasi permanen, ada pengelola,
sebagian besar barang yang diperjual belikan yaitu kebutuhan dasar sehari-hari
dengan fasilitas infrastruktur sederhana, dan dikelola oleh Pemerintah Daerah dan
Badan Usaha Milik Daerah.

Pada Gambar 7.7 menunjukkan secara nasional persentase TTU yang telah
memenuhi syarat kesehatan pada tahun 2016 adalah mencapai 52,64%, pencapaian ini
telah melebihi target Renstra Kementerian Kesehatan 2016 yaitu 52%. Namun capaian
tersebut cenderung menurun dibandingkan capaian tahun 2015 (61,44%). Provinsi dengan
persentase tertinggi adalah Kalimantan Utara (89,47%), Kep. Bangka Belitung (88,53%), dan
Bengkulu (86,76%). Terdapat 8 (delapan) provinsi yang belum mencapai target 2016
diantaranya Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Sulawesi Barat, Papua Barat, Jawa Timur,
Maluku Utara, Jawa Tengah, dan provinsi dengan persentase terendah adalah Lampung
(1,41%). Rincian lengkap tentang persentase TTU yang memenuhi syarat kesehatan tahun
2016 dapat dilihat pada Lampiran 7.6.

232 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 7.7
PERSENTASE TEMPAT-TEMPAT UMUM YANG MEMENUHI SYARAT KESEHATAN
TAHUN 2016

Indonesia 52,64
0,00
Kalimantan Utara 89,47
Kep. Bangka Belitung 88,53
Bengkulu 86,76
Sumatera Selatan 84,46
Nusa Tenggara Barat 83,68
Sulawesi Tengah 83,03
Sulawesi Selatan 82,65
DKI Jakarta 82,62
Sulawesi Tenggara 81,17
Banten 80,01
Kalimantan Timur 77,33
Sulawesi Utara 75,97
Bali 75,79
Kalimantan Tengah 75,47
DI. Yogyakarta 74,25
Jawa Barat 71,81
Riau 69,70
Kalimantan Selatan 69,14
Nusa Tenggara Timur 67,79
Gorontalo 67,39
Aceh 66,67
Papua 66,23
Jambi 64,46
Kalimantan Barat 62,50
Sumatera Barat 61,09
Maluku 58,93
Sumatera Utara 49,65 Target Renstra 2016
Kepulauan Riau 45,85 52%
Sulawesi Barat 41,79
Papua Barat 32,56
Jawa Timur 21,47
Maluku Utara 7,90
Jawa Tengah 2,98
Lampung 1,41
0 20 40 60 80 100

Sumber: Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2017

Masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan upaya peningkatan jumlah TTU yang
memenuhi syarat diantaranya adalah anggaran daerah untuk program kesehatan lingkungan
masih rendah, belum semua daerah (kabupaten/kota termasuk puskesmas) memiliki
peralatan pengukuran parameter kualitas lingkungan yang sesuai, pendataan ulang di
daerah untuk akurasi data yang tercatat, tumpang tindih regulasi antar
kementerian/lembaga yang belum bersinergi, dan masih belum optimalnya koordinasi baik

Bab VII KESEHATAN LINGKUNGAN 233


lintas program maupun lintas sektor, serta institusi terkait baik di tingkat pusat maupun
daerah.
Upaya yang telah dilakukan dalam peningkatan TTU diantaranya melakukan advokasi
dan sosialisasi secara terpadu bersama lintas program di lingkungan Kemenkes), dan lintas
sektor (Kemendagri, Kemenparekraf, Kemendikbud, dan Satuan Kerja Pemerintah
Daerah/SKPD terkait, serta institusi (Perguruan Tinggi, HAKLI, Persatuan Hotel dan
Restauran Indonesia/PHRI, dan lainnya), serta mitra yang terkait lainnya baik di pusat dan
daerah, melengkapi daerah dengan peralatan pengukuran parameter kualitas lingkungan,
meningkatkan dan memperkuat strategi kemitraan, serta meningkatkan kapasitas
pemilik/penyelenggara TTU agar ikut berpartisipasi dalam peningkatan kualitas kesehatan
lingkungan.

F. Tempat Pengelolaan Makanan (TPM)


Sebagai salah satu jenis tempat pelayanan umum yang mengolah dan menyediakan
makanan bagi masyarakat banyak, maka Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) memiliki
potensi yang cukup besar untuk menimbulkan gangguan kesehatan atau penyakit bahkan
keracunan akibat dari makanan yang dihasilkannya. TPM adalah usaha pengelolaan
makanan yang meliputi jasaboga atau katering, rumah makan dan restoran, depot air
minum, kantin, dan makanan jajanan. Berdasarkan Kepmenkes Nomor
1098/Menkes/SK/VII/2003 tentang Persyaratan Higiene Sanitasi Rumah Makan dan
Restoran, persyaratan higiene sanitasi yang harus dipenuhi meliputi:
1. persyaratan lokasi dan bangunan,
2. persyaratan fasilitas sanitasi,
3. persyaratan dapur, rumah makan, dan gudang makanan,
4. persyaratan bahan makanan dan makanan jadi,
5. persyaratan pengolahan makanan,
6. persyaratan penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi,
7. persyaratan penyajian makanan jadi,
8. persyaratan peralatan yang digunakan.

Pelaksanaan kegiatan higiene sanitasi pangan merupakan salah satu aspek dalam
menjaga keamanan pangan yang harus dilaksanakan secara terstruktur dan terukur dengan
kegiatan, sasaran dan ukuran kinerja yang jelas, salah satunya dengan mewujudkan Tempat
Pengelolaan Makanan yang memenuhi syarat kesehatan. TPM siap saji yang terdiri dari
Rumah Makan/Restoran, Jasa Boga, Depot Air Minum, Sentra Makanan Jajanan, Kantin
Sekolah yang memenuhi syarat kesehatan adalah TPM yang memenuhi persyaratan higiene
sanitasi yang dibuktikan dengan sertifikat layak higiene sanitasi.

234 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 7.8
PERSENTASE TEMPAT PENGOLAHAN MAKANAN YANG MEMENUHI
SYARAT KESEHATAN TAHUN 2016

Indonesia 13,66

Kalimantan Utara 33,68


Sumatera Barat 33,05
Maluku Utara 27,73
Nusa Tenggara Timur 24,16
Bengkulu 23,49
Sulawesi Barat 23,00
Nusa Tenggara Barat 19,52
Jambi 19,27
Jawa Timur 19,14
Gorontalo 19,05
Kalimantan Tengah 18,39
Sulawesi Tengah 17,29
Kep. Bangka Belitung 16,80
Sulawesi Utara 16,49
Riau 15,89
DI Yogyakarta 14,85
Papua Barat 14,83
Jawa Barat 14,71
Sumatera Utara 14,51
Sulawesi Selatan 12,08
Kalimantan Selatan 11,77
Kalimantan Barat 11,42
Kalimantan Timur 10,44
Kepulauan Riau 9,02
Banten 8,48
Jawa Tengah 8,27 Target Renstra
Sulawesi Tenggara 7,53 2016: 14%
Papua 6,67
Aceh 6,21
Bali 5,72
DKI Jakarta 5,44
Sumatera Selatan 5,01
Lampung 3,79
Maluku 3,75
0 5 10 15 20 25 30 35 40

Sumber: Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2017

Gambar 7.8 menunjukkan bahwa persentase TPM yang memenuhi syarat kesehatan
secara nasional pada tahun 2016 adalah 13,66%, capaian ini meningkat dari sebelumnya
tahun 2015 (10,39%). Persentase ini belum memenuhi target Renstra Kementerian
Kesehatan 2016 untuk TPM memenuhi syarat kesehatan yaitu sebesar 14%. Provinsi dengan
persentase TPM yang memenuhi syarat kesehatan tertinggi adalah Kalimantan Utara
(33,68%), Sumatera Barat (33,05%), dan Maluku Utara (27,73%). Sedangkan provinsi dengan

Bab VII KESEHATAN LINGKUNGAN 235


persentase TPM yang memenuhi syarat kesehatan terendah adalah Maluku (3,75%),
Lampung (3,79%) dan Sumatera Selatan (5,01%). Rincian lengkap tentang persentase TPM
yang memenuhi syarat kesehatan tahun 2016 dapat dilihat pada Lampiran 7.7.
Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan jumlah TPM yang memenuhi syarat di
antaranya dengan memberikan dukungan aspek legal untuk operasionalisasi pembinaan dan
pengawasan TPM dan Tempat Pengolahan Pangan (TPP), meningkatkan jejaring kemitraan,
meningkatkan kapasitas SDM, menyediakan sarana dan prasarana seperti media Komunikasi
Edukasi dan Informasi (KIE) tentang higiene sanitasi pangan dan alat deteksi cepat sistem
kewaspadaan dini KLB keracunan pangan, menyediakan pengelolaan data dan informasi
yang up to date dan real time dengan e-monev Higiene Sanitasi Pangan (HSP),
mengembangkan daerah intervensi kabupaten/kota yang berkomitmen untuk pelaksanaan
pembinaan dan pengendalian TPM terstandar, dan memfasilitasi tugas perbantuan sentra
pangan jajanan di kabupaten/kota.

G. Pengelolaan Limbah Medis


Berdasarkan lampiran dari Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1204 Tahun 2004
tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, definisi limbah medis adalah
semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan medis dalam bentuk padat, cair, dan gas.
Limbah medis padat adalah limbah padat yang terdiri dari limbah infeksius, limbah patologi,
limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah sitoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif,
limbah kontainer bertekanan, dan limbah dengan kandungan logam berat tinggi. Limbah
cair adalah semua buangan air termasuk tinja yang kemungkinan mengandung
mikroorganisme, bahan kimia beracun, dan radiaktif yang berbahaya bagi kesehatan.
Limbah gas adalah semua limbah yang berbentuk gas yang berasal dari kegiatan
pembakaran seperti insinerator, dapur, perlengkapan generator, anestesi, dan pembuatan
obat sitotoksik.
Pengelolaan limbah medis tentunya berbeda dengan limbah domestik atau limbah
rumah tangga. Penempatan limbah medis dilakukan pada wadah yang sesuai dengan
karakteristik bahan kimia, radioaktif, dan volumenya. Limbah medis yang telah terkumpul
tidak diperbolehkan untuk langsung dibuang ke tempat pembuangan limbah domestik
tetapi harus melalui proses pengolahan terlebih dahulu. Untuk limbah medis yang
berbentuk gas dilengkapi alat pereduksi emisi gas dan debu pada proses pembuangannya.
Selain itu perlu dilakukan pula upaya minimalisasi limbah yaitu dengan mengurangi jumlah
limbah yang dihasilkan dengan cara mengurangi bahan (reduce), menggunakan kembali
(reuse), dan daur ulang (recycle). Penghijauan juga baik dilakukan untuk mengurangi polusi
dari limbah yang berbentuk gas dan untuk menyerap debu.

236 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


GAMBAR 7.9
PERSENTASE RUMAH SAKIT YANG MELAKUKAN PENGELOLAAN LIMBAH
MEDIS SESUAI STANDAR TAHUN 2016

Indonesia 17,36

Lampung 74,67
DI Yogyakarta 62,67
Kalimantan Utara 57,14
Bali 50,88
Sumatera Barat 50,00
Banten 47,42
Gorontalo 46,15
Kalimantan Timur 28,26
Riau 27,78
Kalimantan Tengah 23,81
Jambi 23,68
DKI Jakarta 21,47
Nusa Tenggara Barat 20,69
Sulawesi Selatan 19,28
Jawa Barat 16,62
Kalimantan Selatan 16,22
Kep. Bangka Belitung 15,38
Maluku Utara 15,00
Sulawesi Tenggara 12,90
Kepulauan Riau 10,71
Aceh 9,09
Maluku 7,41
Jawa Tengah 6,83
Sumatera Utara 4,84
Sumatera Selatan Target Renstra
2,99
2016: 15%
Sulawesi Utara 2,70
Kalimantan Barat 2,22
Jawa Timur 1,34
0 20 40 60 80 100

Sumber: Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2017

Cakupan Rumah Sakit yang melakukan pengelolaan limbah sesuai standar pada
tahun 2015 adalah sebesar 15,29%, pada Gambar 7.9 menunjukkan persentase rumah sakit
yang melakukan pengelolaan limbah medis sesuai standar pada tahun 2016 meningkat
menjadi 17,36% pada tahun 2016. Capaian ini telah melampaui Renstra 2016 yaitu sebesar
15%. Provinsi dengan presentase tertinggi adalah Provinsi Lampung (74,67%), DI Yogyakarta
(62,67%), dan Kalimantan Utara (57,14%). Sedangkan Provinsi dengan persentase terendah
adalah Jawa timur (1,34%), Kalimantan Barat (2,22%), dan Sulawesi Utara (2,70%). Ada 6
(enam) provinsi yaitu Papua, Papua Barat, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, NTT, dan
Bengkulu yang belum melakukan pengelolaan limbah medis rumah sakit sesuai standar.

Bab VII KESEHATAN LINGKUNGAN 237


Rincian lengkap tentang persentase rumah sakit yang melakukan pengelolaan limbah medis
sesuai standar tahun 2016 dapat d lihat pada Lampiran 7.8.
Kendala yang dihadapi dalam pengelolaan limbah medis, seperti masih sedikitnya
fasilitas pelayanan kesehatan yang melakukan pengelolaan limbah medis sesuai standar,
masih banyak fasilitas pelayanan kesehatan yang menggunakan alat kesehatan yang
bermerkuri, serta hambatan teknis dan perizinan dalam pengolahan limbah medis. Oleh
karena itu, langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah di atas, di
antaranya dengan:
1. mempermudah proses perizinan pengolah limbah terutama dengan metode non
insinerasi,
2. mengadakan pelatihan tingkat internasional bagi Kementerian Kesehatan dan RSUP,
3. menyusun peraturan teknis pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3)
fasilitas pelayanan kesehatan bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup
dan Kehutanan (KLHK),
4. mengembangkan sistem pengumpulan data dan informasi elektronik serta
manajemen data sebagai bahan penentu kebijakan,
5. mencetak media poster pengamanan limbah medis.

H. Perumahan
Rumah merupakan sebuah bangunan, tempat manusia tinggal dan melangsungkan
kehidupannya. Berdasarkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan
Pemukiman, perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat
tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana lingkungan.
Dalam pengertian yang luas, rumah bukan hanya sebuah bangunan (struktural), melainkan
juga tempat kediaman yang memenuhi syarat-syarat kehidupan yang layak dan sehat,
dipandang dari berbagai segi kehidupan masyarakat. Rumah dapat dimengerti sebagai
tempat perlindungan, untuk menikmati kehidupan, beristirahat bersama keluarga. Rumah
yang layak harus menjamin kepentingan keluarga salah satunya menjamin kesehatan
keluarga.
Definisi perumahan (housing) menurut WHO (World Health Organitation) adalah
suatu struktur fisik di mana orang menggunakannya untuk tempat berlindung, di mana
lingkungan dari struktur tersebut termasuk juga semua fasilitas dan pelayanan yang
diperlukan, perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani, rohani, dan keadaan
sosial yang baik untuk keluarga dan individu. Rumah sehat merupakan salah satu sarana
untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.
Persyaratan rumah sehat yang tercantum dalam Residential Environment dari WHO
(1974) antara lain:

238 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


1. Harus dapat berlindung dari hujan, panas, dingin, dan berfungsi sebagai tempat
istrahat.
2. Mempunyai tenpat-tempat untuk tidur, memasak, mandi, mencuci, kakus dan kamar
mandi.
3. Dapat melindungi bahaya kebisingan dan bebas dari pencemaran.
4. Bebas dari bahan bangunan berbahaya.
5. Terbuat dari bahan bangunan yang kokoh dan dapat melindungi penghuninya dari
gempa, keruntuhan, dan penyakit menular.
6. MemberI rasa aman dan lingkungan tetangga yang serasi.

Salah satu Instrumen Penilaian Rumah Sehat mengacu pada Pedoman Teknis
Penilaian Rumah Sehat Departemen Kesehatan RI Tahun 2007, dengan pembagian bobot
penilaian meliputi bobot komponen rumah, bobot sarana sanitasi, serta bobot pada perilaku
penghuni. Sesuai dengan pedoman ini, secara umum rumah dikatakan sehat apabila
memenuhi kriteria sebagai berikut (1) memenuhi kebutuhan psikologis antara lain privasi
yang cukup, komunikasi yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah, adanya
ruangan khusus untuk istirahat (ruang tidur), bagi masing-masing penghuni, (2) memenuhi
persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni rumah dengan penyediaan air
bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga, bebas vektor penyakit dan tikus,
kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar matahari pagi, terlindungnya
makanan dan minuman dari pencemaran, disamping pencahayaan dan penghawaan yang
cukup, dan (3) memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul
karena pengaruh luar dan dalam rumah, antara lain persyaratan garis sempadan jalan,
konstruksi bangunan rumah, bahaya kebakaran dan kecelakaan di dalam rumah.
Rumah layak huni mendukung terciptanya rumah yang sehat. Definisi rumah layak
huni menurut Badan Pusat Statistik 2015, adalah rumah yang memenuhi persyaratan
keselamatan, bangunan dan kecukupan minimum luas bangunan serta kesehatan
penghuninya. Penilaian rumah layak huni diperoleh melalui indikator komposit dari tujuh
indikator terkait yaitu;
1. Akses Air Layak.
2. Akses Sanitasi Layak.
3. Sufficient Living Area (Luas lantai per kapita > 7,2 m2).
4. Jenis Lantai.
5. Jenis Dinding.
6. Jenis Atap.
7. Penerangan Listrik.

Rumah yang dikategorikan layak huni, adalah rumah yang maksimum hanya
memiliki dua indikator pembentuk yang kurang baik dari tujuh indikator rumah layak huni.
Indikator rumah layak huni dapat mengetahui tingkat kesejahteraan masyarakat. Semakin

Bab VII KESEHATAN LINGKUNGAN 239


tinggi tingkat kesejahteraan masyarakat mengindikasikan semakin terpenuhi kebutuhan
dasar akan perumahan sehat.

GAMBAR 7.10
PERSENTASE RUMAH TANGGA YANG MENEMPATI RUMAH LAYAK HUNI
MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

Indonesia 93,93
0,00
DKI Jakarta 99,51
Bali 98,99
DI Yogyakarta 98,42
Kepulauan Riau 98,18
Kalimantan Utara 97,41
Kalimantan Timur 97,36
Kep. Bangka Belitung 97,31
Nusa Tenggara Barat 96,52
Jawa Barat 96,37
Riau 96,27
Jawa Timur 95,97
Jawa Tengah 95,94
Banten 95,33
Sulawesi Utara 94,81
Jambi 94,68
Kalimantan Selatan 94,33
Sulawesi Selatan 94,02
Sumatera Barat 93,10
Lampung 93,07
Sumatera Utara 92,87
Sumatera Selatan 92,23
Sulawesi Tenggara 91,90
Kalimantan Tengah 91,31
Gorontalo 91,16
Aceh 90,84
Bengkulu 90,65
Papua Barat 88,40
Kalimantan Barat 87,83
Maluku Utara 87,15
Sulawesi Tengah 86,67
Maluku 86,51

0 20 40 60 80 100

Sumber: Badan Pusat Statistik, Susenas Kor 2016

Gambar 7.10 menunjukan bahwa pada tahun 2016 capaian rumah tangga di
Indonesia yang telah menempati rumah layak huni 93,93%, meningkat dari tahun
sebelumnya tahun 2015 sebesar 92,80% rumah tangga. Provinsi dengan rumah layak huni

240 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


terbesar yaitu DKI Jakarta (99,51%), Bali (98,99%), dan DI Yogyakarta (98,42%). Provinsi
dengan persentase rumah layak huni terendah yaitu Maluku (86,51%), Sulawesi Tengah
(86,67%), dan Maluku Utara (87,15%). Data dari BPS 2015, jika dikategorikan menurut tipe
daerah, persentase rumah tangga di daerah perkotaan relatif lebih besar dibanding dengan
daerah perdesaan, yaitu (97,65% berbanding 87,92%). Hal ini menunjukkan bahwa
kebutuhan dalam upaya peningkatan penyediaan rumah layak huni di daerah perdesaan
lebih besar dari daerah perkotaan. Rincian lengkap mengenai rumah layak huni menurut
provinsi dapat dilihat pada Lampiran 7.9.
Rumah tangga kumuh adalah masuk dalam kategori rumah tidak layak huni,
merupakan rumah yang tidak memenuhi persyaratan keselamatan, bangunan dan
kecukupan minimum luas bangunan serta memenuhi syarat bagi kesehatan penghuninya.
Seperti halnya indikator rumah layak huni, indikator penilaian rumah kumuh merupakan
indikator komposit. Indikator pembentuk rumah tangga kumuh sama dengan indikator
pembentukan rumah layak huni/rumah tidak layak huni. Perbedaanya ada pada
pembobotan penghitungan rumah tangga kumuh. Komponen yang digunakan dalam
penghitungan indikator Rumah Tangga Kumuh adalah :
1. Akses Air Layak.
2. Akses Sanitasi Layak.
3. Sufficient Living Area (Luas lantai per kapita > 7,2 m2).
4. Jenis Lantai, Dinding dan Atap.

Gambar 7.11 menunjukkan persentase rumah tangga kumuh menurut provinsi


secara nasional pada tahun 2016 sebesar 6,07%, menurun dari tahun sebelumnya tahun
2015 persentase rumah tangga kumuh 7,07%. Angka nasional rumah tangga kumuh
menunujukkan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia sudah cukup baik.
Terdapat 20 provinsi yang persentase rumah tangga kumuh lebih tinggi dari angka nasional,
provinsi dengan persentase rumah tangga kumuh terendah yaitu DI Yogyakarta (1,67%),
Jawa Tengah (1,86%), dan Bali (1,90%). Sedangkan provinsi dengan rumah tangga kumuh
terbesar yaitu Papua (44,87%), NTT (29,37%), dan Maluku (12,62%). Data dari BPS tahun
2015, persentase rumah tangga kumuh di daerah perdesaan lebih besar dari daerah
perkotaan (9,20 persen berbanding 4.96%). Sehingga memperlihatkan kebutuhan akan
penurunan angka rumah tangga kumuh di perdesaan lebih besar dari daerah perkotaan.
Rincian lengkap rumah tangga kumuh menurut provinsi pada tahun 2015-2016 dapat dilihat
pada Lampiran 7.10.

Bab VII KESEHATAN LINGKUNGAN 241


GAMBAR 7.11
PERSENTASE RUMAH TANGGA KUMUH MENURUT PROVINSI
TAHUN 2016

Indonesia 6,07
0,00
DI Yogyakarta 1,67
Jawa Tengah 1,86
Bali 1,90
Kepulauan Riau 2,02
Kep. Bangka Belitung 2,72
Jawa Timur 2,76
Lampung 3,07
Kalimantan Timur 4,21
Banten 4,44
Sulawesi Selatan 4,57
Riau 4,70
Jambi 5,36
Kalimantan Selatan 5,54
DKI Jakarta 5,74
Jawa Barat 6,36
Kalimantan Tengah 7,12
Sulawesi Tenggara 7,34
Kalimantan Barat 7,55
Kalimantan Utara 7,74
Nusa Tenggara Barat 7,83
Sulawesi Utara 8,34
Bengkulu 8,78
Sumatera Barat 8,84
Sumatera Utara 8,90
Maluku Utara 9,45
Sumatera Selatan 9,99
Aceh 10,25
Sulawesi Tengah 10,42
Gorontalo 11,69
Papua Barat 12,03
Sulawesi Barat 12,21
Maluku 12,62
Nusa Tenggara Timur 29,37
Papua 44,87
0 20 40 60 80 100

Sumber: Badan Pusat Statistik, Susenas Kor 2016

***

242 PROFIL KESEHATAN INDONESIA Tahun 2016


DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2015. Indikator Perumahan dan Kesehatan Lingkungan Tahun 2015.
Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Badan Pusat Statistik.2016. Buku 1 Pengeluaran Untuk Konsumsi Penduduk Indonesia,
Susenas Maret 2016, Jakarta: Badan Pusat Statistik RI.
Badan Pusat Statistik. 2016. Indikator Kesejahteraan Rakyat Tahun 2016. Jakarta: Badan
Pusat Statistik.
Badan Pusat Statistik. 2017. Produk Domestik Bruto Indonesia Menurut Pengeluaran 2012-
2017, Jakarta: Badan Pusat Statistik RI
Badan Pusat Statistik.2017. Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi, Juli 2017, Jakarta: Badan
Pusat Statistik RI
Direktorat Kesehatan Lingkungan, 2016. Roadmap STBM 2015-2019. Jakarta: Direktorat
Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Dalam Negeri RI. 2015. Peraturan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 56 Tahun
2015 Tentang Kode Dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan. Jakarta: Kementerian
Dalam Negeri RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2003. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
1098/MENKES/SK/VII/2003 tentang Persyaratan Higiene Sanitasi Rumah Makan dan
Restoran. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2004. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
1204/MENKES/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2006. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
1429/MENKES/SK/XII/2006 tentang Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Sekolah.
Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2010. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 374 Tahun 2010
tentang Pengendalian Vektor. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2010. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 299 Tahun 2010
tentang Penyelenggaraan Program Internsip dan Penempatan Dokter Pasca Internsip.
Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2010. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
736/MENKES/PER/VI/2010 tentang Tata Laksana dan Pengawasan Kualitas Air Minum.
Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

243
Kementerian Kesehatan RI. 2010. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 Tahun 2010
tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2011. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
889/MENKES/PER/V/2011 tentang Registrasi, Izin Praktik Dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian.
Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2012. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
33/MENKES/PER/2012 tentang ASI. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2013. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 7 Tahun 2013
tentang Pedoman Pengangkatan dan Penempatan Dokter dan Bidan Sebagai Pegawai Tidak
Tetap. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2013. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2013
tentang Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2013. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 46 Tahun 2013
tentang Registrasi Tenaga Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2013. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 67 Tahun 2013
tentang Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 56 Tahun 2014
tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014
tentang Puskesmas. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2014. Estimasi dan Proyeksi HIV/AIDS di Indonesia Tahun 2011-
2016. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2014. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2014
tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2015. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-
2019. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2015. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
HK.02.02/MENKES/52/2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2015 2019.
Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2015. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 2015
tentang Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Berbasis Tim (Team Based) dalam Mendukung
Program Nusantara Sehat. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

244
Kementerian Kesehatan RI. 2015. Survei Prevalensi Tuberkulosis 2013-2014. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2015. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 Tahun 2015
tentang Standar Kapsul Vitamin A bagi Bayi, Anak Balita dan Ibu Nifas. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2016. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2016
tentang Istithaah Kesehatan Jemaah Haji. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2017. Buku Saku Pemantauan Status Gizi Tahun 2016. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. 2013. Keputusan Menteri
Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Nomor 54 Tahun 2013 tentang Rencana
Pengembangan Tenaga Kesehatan Tahun 2011 2025. Jakarta: Kementerian Koordinator
Bidang Kesejahteraan Rakyat.
Konsil Kedokteran Indonesia. 2011. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 6 tahun
2011 tentang Registrasi Dokter dan Dokter Gigi. Jakarta: Konsil Kedokteran Indonesia.
Konsil Kedokteran Indonesia. 2014. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 21 Tahun
2014 Tentang Registrasi Dokter dan Dokter Gigi Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis
dan Dokter Gigi Spesialis. Jakarta: Konsil Kedokteran Indonesia.
Republik Indonesia. 2009. Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009, Nomor 144. Jakarta: Sekretariat Negara.
Republik Indonesia. 2012. Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem
Kesehatan Nasional. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012, Nomor 193. Jakarta:
Sekretariat Negara.
Republik Indonesia. 2014. Undang Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga
Kesehatan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014, Nomor 298. Jakarta:
Sekretariat Negara.
Republik Indonesia. 2014. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan
Lingkungan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014, Nomor 184. Jakarta:
Sekretariat Negara.
Republik Indonesia. 2015. Peraturan Presiden Nomor 131 Tahun 2015 tentang Penetapan
Daerah Tertinggal Tahun 2015 2019. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015,
Nomor 259. Jakarta: Sekretariat Negara.
Republik Indonesia. 2015. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015
tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019. Jakarta:
Sekretariat Negara.
World Health Organization. 2016. Global Tuberculosis Report 2016. Jenewa: WHO.

***

245
Lampiran 1.1
PEMBAGIAN WILAYAH ADMINISTRASI PEMERINTAHAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2015

Pembagian Wilayah
No Provinsi
Kabupaten Kota Kabupaten + Kota Kecamatan Kelurahan Desa
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Aceh 18 5 23 289 0 6.474
2 Sumatera Utara 25 8 33 436 692 5.418
3 Sumatera Barat 12 7 19 179 245 880
4 Riau 10 2 12 163 243 1.592
5 Jambi 9 2 11 141 163 1.399
6 Sumatera Selatan 13 4 17 231 377 2.859
7 Bengkulu 9 1 10 128 172 1.341
8 Lampung 13 2 15 227 205 2.435
9 Kepulauan Bangka Belitung 6 1 7 47 78 309
10 Kepulauan Riau 5 2 7 70 141 275
11 DKI Jakarta 1 5 6 44 267 0
12 Jawa Barat 18 9 27 626 643 5.319
13 Jawa Tengah 29 6 35 573 750 7.809
14 DI Yogyakarta 4 1 5 78 46 392
15 Jawa Timur 29 9 38 664 777 7.724
16 Banten 4 4 8 155 313 1.238
17 Bali 8 1 9 57 80 636
18 Nusa Tenggara Barat 8 2 10 116 142 995
19 Nusa Tenggara Timur 21 1 22 306 318 2.995
20 Kalimantan Barat 12 2 14 174 99 1.977
21 Kalimantan Tengah 13 1 14 136 138 1.434
22 Kalimantan Selatan 11 2 13 152 143 1.866
23 Kalimantan Timur 7 3 10 103 196 836
24 Kalimantan Utara 4 1 5 50 35 447
25 Sulawesi Utara 11 4 15 167 332 1.505
26 Sulawesi Tengah 12 1 13 175 175 1.842
27 Sulawesi Selatan 21 3 24 306 785 2.253
28 Sulawesi Tenggara 15 2 17 212 377 1.846
29 Gorontalo 5 1 6 77 72 657
30 Sulawesi Barat 6 0 6 69 71 576
31 Maluku 9 2 11 118 33 1.198
32 Maluku Utara 8 2 10 115 117 1.064
33 Papua Barat 12 1 13 218 95 1.744
34 Papua 28 1 29 558 110 5.419
Indonesia 416 98 514 7.160 8.430 74.754
Sumber: Kementerian Dalam Negeri, 2015
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 56 Tahun 2015
Lampiran 1.2
ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN DAN RASIO JENIS KELAMIN MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

No Provinsi Laki-Laki Perempuan Total Rasio Jenis Kelamin


(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 2.545.113 2.551.135 5.096.248 100
2 Sumatera Utara 7.037.326 7.065.585 14.102.911 100
3 Sumatera Barat 2.617.273 2.642.255 5.259.528 99
4 Riau 3.336.874 3.164.097 6.500.971 105
5 Jambi 1.764.935 1.693.991 3.458.926 104
6 Sumatera Selatan 4.147.140 4.013.761 8.160.901 103
7 Bengkulu 971.286 933.507 1.904.793 104
8 Lampung 4.205.694 3.999.447 8.205.141 105
9 Kepulauan Bangka Belitung 728.580 673.247 1.401.827 108
10 Kepulauan Riau 1.035.511 992.658 2.028.169 104
11 DKI Jakarta 5.159.683 5.117.945 10.277.628 101
12 Jawa Barat 24.011.261 23.368.128 47.379.389 103
13 Jawa Tengah 16.871.194 17.147.901 34.019.095 98
14 DI Yogyakarta 1.839.951 1.880.961 3.720.912 98
15 Jawa Timur 19.288.006 19.787.146 39.075.152 97
16 Banten 6.221.640 5.981.508 12.203.148 104
17 Bali 2.114.942 2.085.127 4.200.069 101
18 Nusa Tenggara Barat 2.375.750 2.520.412 4.896.162 94
19 Nusa Tenggara Timur 2.577.953 2.625.561 5.203.514 98
20 Kalimantan Barat 2.475.666 2.386.072 4.861.738 104
21 Kalimantan Tengah 1.332.274 1.217.918 2.550.192 109
22 Kalimantan Selatan 2.056.078 1.999.401 4.055.479 103
23 Kalimantan Timur 1.836.293 1.664.939 3.501.232 110
24 Kalimantan Utara 353.529 312.804 666.333 113
25 Sulawesi Utara 1.243.443 1.193.478 2.436.921 104
26 Sulawesi Tengah 1.492.152 1.429.563 2.921.715 104
27 Sulawesi Selatan 4.204.110 4.402.265 8.606.375 95
28 Sulawesi Tenggara 1.282.324 1.268.684 2.551.008 101
29 Gorontalo 576.482 574.283 1.150.765 100
30 Sulawesi Barat 655.452 651.026 1.306.478 101
31 Maluku 865.168 850.380 1.715.548 102
32 Maluku Utara 605.068 580.844 1.185.912 104
33 Papua Barat 470.568 422.794 893.362 111
34 Papua 1.689.971 1.517.473 3.207.444 111
Indonesia 129.988.690 128.716.296 258.704.986 101
Sumber: Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2016
Lampiran 1.3
ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA MENURUT KELOMPOK UMUR DAN JENIS KELAMIN TAHUN 2016

No Kelompok Umur Laki-Laki Perempuan Total


(1) (2) (3) (4) (5)
1 0-4 12.221.630 11.738.680 23.960.310
2 5-9 12.069.463 11.489.994 23.559.457
3 10-14 11.571.921 11.005.173 22.577.094
4 15-19 11.335.656 10.825.295 22.160.951
5 20-24 10.911.703 10.657.300 21.569.003
6 25-29 10.513.270 10.398.108 20.911.378
7 30-34 10.210.285 10.286.726 20.497.011
8 35-39 9.931.103 10.005.414 19.936.517
9 40-44 9.346.994 9.262.338 18.609.332
10 45-49 8.352.946 8.304.021 16.656.967
11 50-54 7.064.237 7.114.776 14.179.013
12 55-59 5.737.258 5.719.813 11.457.071
13 60-64 4.247.245 4.150.520 8.397.765
14 65-69 2.780.759 2.962.002 5.742.761
15 70-74 1.817.892 2.145.584 3.963.476
16 75+ 1.876.328 2.650.552 4.526.880

Jumlah 129.988.690 128.716.296 258.704.986


Sumber: Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, 2016
Lampiran 1.4
ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN, LUAS WILAYAH DAN KEPADATAN PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

Kepadatan Penduduk
No Provinsi Laki-Laki Perempuan Total Luas Wilayah (Km2)*
(Jiwa per Km2)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

1 Aceh 2.545.113 2.551.135 5.096.248 57.956,00 87,93


2 Sumatera Utara 7.037.326 7.065.585 14.102.911 72.981,23 193,24
3 Sumatera Barat 2.617.273 2.642.255 5.259.528 42.012,89 125,19
4 Riau 3.336.874 3.164.097 6.500.971 87.023,66 74,70
5 Jambi 1.764.935 1.693.991 3.458.926 50.058,16 69,10
6 Sumatera Selatan 4.147.140 4.013.761 8.160.901 91.592,43 89,10
7 Bengkulu 971.286 933.507 1.904.793 19.919,33 95,63
8 Lampung 4.205.694 3.999.447 8.205.141 34.623,80 236,98
9 Kepulauan Bangka Belitung 728.580 673.247 1.401.827 16.424,06 85,35
10 Kepulauan Riau 1.035.511 992.658 2.028.169 8.201,72 247,29
11 DKI Jakarta 5.159.683 5.117.945 10.277.628 664,01 15.478,12
12 Jawa Barat 24.011.261 23.368.128 47.379.389 35.377,76 1.339,24
13 Jawa Tengah 16.871.194 17.147.901 34.019.095 32.800,69 1.037,15
14 DI Yogyakarta 1.839.951 1.880.961 3.720.912 3.133,15 1.187,59
15 Jawa Timur 19.288.006 19.787.146 39.075.152 47.799,75 817,48
16 Banten 6.221.640 5.981.508 12.203.148 9.662,92 1.262,88
17 Bali 2.114.942 2.085.127 4.200.069 5.780,06 726,65
18 Nusa Tenggara Barat 2.375.750 2.520.412 4.896.162 18.572,32 263,63
19 Nusa Tenggara Timur 2.577.953 2.625.561 5.203.514 48.718,10 106,81
20 Kalimantan Barat 2.475.666 2.386.072 4.861.738 147.307,00 33,00
21 Kalimantan Tengah 1.332.274 1.217.918 2.550.192 153.564,50 16,61
22 Kalimantan Selatan 2.056.078 1.999.401 4.055.479 38.744,23 104,67
23 Kalimantan Timur 1.836.293 1.664.939 3.501.232 129.066,64 27,13
24 Kalimantan Utara 353.529 312.804 666.333 75.467,70 8,83
25 Sulawesi Utara 1.243.443 1.193.478 2.436.921 13.851,64 175,93
26 Sulawesi Tengah 1.492.152 1.429.563 2.921.715 61.841,29 47,25
27 Sulawesi Selatan 4.204.110 4.402.265 8.606.375 46.717,48 184,22
28 Sulawesi Tenggara 1.282.324 1.268.684 2.551.008 38.067,70 67,01
29 Gorontalo 576.482 574.283 1.150.765 11.257,07 102,23
30 Sulawesi Barat 655.452 651.026 1.306.478 16.787,18 77,83
31 Maluku 865.168 850.380 1.715.548 46.914,03 36,57
32 Maluku Utara 605.068 580.844 1.185.912 31.982,50 37,08
33 Papua Barat 470.568 422.794 893.362 99.671,63 8,96
34 Papua 1.689.971 1.517.473 3.207.444 319.036,05 10,05
Indonesia 129.988.690 128.716.296 258.704.986 1.913.578,68 135,19
Sumber: Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI, 2016
* Kemendagri, 2015
Lampiran 1.5
ESTIMASI JUMLAH LAHIR HIDUP, JUMLAH BAYI (0 TAHUN), JUMLAH BATITA (0-2 TAHUN), JUMLAH ANAK BALITA (1 - 4 TAHUN), DAN JUMLAH BALITA (0 - 4 TAHUN)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2016

Jumlah Lahir Jumlah Bayi (0 tahun) Jumlah Batita (0-2 tahun) Jumlah Anak Balita (1 - 4 tahun) Jumlah Balita (0 - 4 tahun)
No Provinsi
Hidup Laki-laki Perempuan Total Laki-laki Perempuan Total Laki-laki Perempuan Total Laki-laki Perempuan Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15)
1 Aceh 116.816 58.715 56.342 115.057 174.918 168.115 343.033 230.697 222.026 452.723 289.412 278.368 567.780
2 Sumatera Utara 312.707 155.852 149.925 305.777 469.829 452.959 922.788 632.869 611.387 1.244.256 788.721 761.312 1.550.033
3 Sumatera Barat 111.511 55.696 53.492 109.188 166.712 160.447 327.159 222.054 214.117 436.171 277.750 267.609 545.359
4 Riau 153.055 76.077 72.957 149.034 225.333 216.392 441.725 294.698 283.397 578.095 370.775 356.354 727.129
5 Jambi 66.758 33.104 31.716 64.820 99.117 95.085 194.202 131.962 126.753 258.715 165.066 158.469 323.535
6 Sumatera Selatan 164.623 81.749 78.555 160.304 245.676 236.535 482.211 328.672 317.025 645.697 410.421 395.580 806.001
7 Bengkulu 37.544 18.614 17.886 36.500 55.790 53.717 109.507 74.402 71.773 146.175 93.016 89.659 182.675
8 Lampung 157.908 78.529 75.429 153.958 238.127 229.137 467.264 322.961 311.336 634.297 401.490 386.765 788.255
9 Kep. Bangka Belitung 27.153 13.553 13.000 26.553 40.449 38.864 79.313 53.527 51.515 105.042 67.080 64.515 131.595
10 Kep. Riau 42.660 21.790 20.965 42.755 66.225 63.857 130.082 89.674 86.667 176.341 111.464 107.632 219.096
11 DKI Jakarta 176.609 91.252 87.622 178.874 279.717 268.960 548.677 384.881 370.667 755.548 476.133 458.289 934.422
12 Jawa Barat 887.073 447.014 427.526 874.540 1.340.096 1.282.910 2.623.006 1.785.777 1.711.490 3.497.267 2.232.791 2.139.016 4.371.807
13 Jawa Tengah 542.475 273.998 260.525 534.523 827.332 785.616 1.612.948 1.117.556 1.060.174 2.177.730 1.391.554 1.320.699 2.712.253
14 DI Yogyakarta 54.113 27.816 26.593 54.409 83.976 80.337 164.313 112.903 108.098 221.001 140.719 134.691 275.410
15 Jawa Timur 580.153 292.305 280.329 572.634 880.957 846.073 1.727.030 1.186.078 1.140.708 2.326.786 1.478.383 1.421.037 2.899.420
16 Banten 245.678 123.256 118.448 241.704 372.169 358.350 730.519 501.449 483.756 985.205 624.705 602.204 1.226.909
17 Bali 65.200 32.852 31.516 64.368 98.943 95.056 193.999 132.898 127.885 260.783 165.750 159.401 325.151
18 Nusa Tenggara Barat 105.728 51.647 49.620 101.267 153.952 148.378 302.330 204.748 197.845 402.593 256.395 247.465 503.860
19 Nusa Tenggara Timur 135.048 65.866 63.338 129.204 193.950 187.058 381.008 253.333 244.934 498.267 319.199 308.272 627.471
20 Kalimantan Barat 102.436 50.753 48.674 99.427 152.182 146.183 298.365 203.016 195.327 398.343 253.769 244.001 497.770
21 Kalimantan Tengah 53.595 26.181 25.234 51.415 77.637 75.008 152.645 101.934 98.686 200.620 128.115 123.920 252.035
22 Kalimantan Selatan 83.009 40.888 39.271 80.159 123.257 118.663 241.920 166.194 160.342 326.536 207.082 199.613 406.695
23 Kalimantan Timur 74.749 36.159 34.590 70.749 107.734 103.128 210.862 142.123 136.166 278.289 178.282 170.756 349.038
24 Kalimantan Utara 12.125 7.469 7.112 14.581 22.251 21.202 43.453 29.353 27.993 57.346 36.822 35.105 71.927
25 Sulawesi Utara 41.765 20.941 20.073 41.014 63.282 60.744 124.026 85.502 82.185 167.687 106.443 102.258 208.701
26 Sulawesi Tengah 63.226 30.992 29.726 60.718 92.098 88.545 180.643 121.707 117.253 238.960 152.699 146.979 299.678
27 Sulawesi Selatan 170.951 84.911 81.405 166.316 254.760 244.642 499.402 340.675 327.655 668.330 425.586 409.060 834.646
28 Sulawesi Tenggara 61.945 30.577 29.262 59.839 90.938 87.146 178.084 119.916 115.065 234.981 150.493 144.327 294.820
29 Gorontalo 23.644 11.586 11.101 22.687 34.270 32.911 67.181 44.993 43.285 88.278 56.579 54.386 110.965
30 Sulawesi Barat 32.215 15.520 14.936 30.456 45.493 43.952 89.445 59.051 57.230 116.281 74.571 72.166 146.737
31 Maluku 43.933 21.214