You are on page 1of 5

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian

Proses keperawatan adalah suatu proses pemberian asuhan keperawatan yang


sistematis dan rasional. (Barabara Koezier).

Proses keperawatan adalah suatu metode pemberian asuhan keperawatan


terorganisir dan sistematis, berfokus pada respon yang unik dari individu atau
kelompok terhadap masalah kesehatan yang aktualdan potensial. (Rosalinda
Alfiro).

Proses keperawatan merupakan metode pemberian asuhan keperawatan yang


logis, sistematis, dinamis dan teratur. (Tim Depkes RI).

Dari ketiga pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa proses keperawatan


adalah suatu metode pendekatan pemecahan masalah yang sistematis dan
terorganisir dalam memberikan asuhan keperawatan kepada individu, keluarga
dan masyarakat dalam rangka membantu mengatasi masalah melalui serangkaian
tindakan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan.

B. Tahap-Tahap

1. Pengkajian

Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan yang sistematis


dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi
dan mengidentifikasi status kesehatan klien. Tahap pengkajian merupakan
dasar utama dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan
kebutuhan individu individu. Oleh karena itu pengkajian harus akurat,
lengkap dan sesuai dengan kenyataan karena kebenaran dan sangat
penting dalam merumuskan diagnosa keperawatan. Persiapan yang
dilakukan dalam pengumpulan data adalah membina hubungan saling
percaya dengan cara memperkenalkan diri terhadap anak dan orang tua,
memanggil anak sesuai dengan namanya, bukan dengan sebutan yang lain
(mis: dik, mas, mbak ), menjelaskan kepada orang tua tujuan dari
wawancara dan pemeriksaan fisik pada anak, mendengarkan dengan aktif,
jangan menginterupasi orang tua atau anak, bersikap empati, pertahankan
kontak mata sejajar, libatkan anak bila sudah bisa berkomunukasi, ajak
anak bermain peran jika menolak diperiksa, tulis data dengan singkat dan
jelas, bukan kalimat lengkap.
a. Wawancara
Wawancara adalah pola komunikasi dengan cara menanyakan atau Tanya
jawab yang berhubungan dengan masalah klien yang dilkukan untuk
mengumpulkan data, hal ini bisa juga disebut anamnesa. Pada pasien anak,
wawancara dilkukan terhadap anak itu sendiri (bila sudah dapat berkomunikasi),
orang tua dan orang terdekat lainnya. Pada pasien anak sebagian besar data yang
diperlukan untuk menegakkan diagnosis diperoleh dari wawancara. Dengan
wawancara, didapatkan data subjektif : pihak pasien diberi kesempatan mengingat
kembali dan menceritakan secara rinci masalah kesehatan yang sedang dihadapi
anak, termasuk keluhan utama dan tambahan, tanda-tanda yang ada, riwayat
terjadinya keluhan dan tanda sdampai anak tersebut dibawa berobat.

Berikut adalah pedoman khusus berkomunikasi dengan anak, diantaranya :


1) Berikan waktu pada anak untuk merasa nyaman pada perawatan.
2) Hindari perluasan yang tiba-tiba atau cepat, senyum melebar, kontak mata
yang berlebihan, atau sikap tubuh lain yang terlihat mengancam.
3) Berkomunikasi pada orang tua bila malu
4) Berkomunikasi melalui objek seperti boneka sebelum menagajukan
pertanyaan pada anak kecil secara langsung
5) Berikan kesempatan pada anak yang lebih besar untuk berbicara tanpa
kehadiran orang tua
6) Pilih posisi setinggi mata anak
7) Berbicara dengan tenang, tidak terlalu cepat, dan suara mantap
8) Bicara dengan jelas, spesifik, menggunakan kata-kata sederhana, dan kalimat
pendek
9) Bersikap jujur pada anak, nyatakan arah secara positive
10) Gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti
11) Berikan sentuhan bila perlu
12) Mendengarkan secara aktif

Teknik-teknik komunikasi kreatif pada anak :

1) Teknik verbal
a) Menyatakan perilaku dalam istilah saya bukan Anda karena kesan
anda adalah perlawanan yang meyakini dan menghasut
b) Teknik orang ketiga : libatkan ungkapkan perasaan dalam istilah orang
ketiga
c) Bercerita
d) Saling bercerita dengan meminta anak menceritakan sebuah cerita tentang
sesuatu, ikuti dengan cerita lain yang diceritakan perawat yang hamper
sama dengan cerita anak, tetapi dengan perbedaan yang membantu anak
dalam area masalah.
e) Biblioterapi : Menggunakan buku-buku dalam proses terapeutik dan
suportiv
f) Mimpi : minta anak untuk menceritakan tentang mimpi
g) Tiga harapan : Libatkan pertanyaan bila kamu memiliki tiga hal di dunia
ini, apa sajakah itu?
h) Permainan peringkat : gunakan beberapa skala peringkat untuk rentang
kejadian atau perasaan
i) Permainan asosiasi kata dan melengkapi kalimat

2) Teknik Nonverbal
a) Menulis
b) Menggambar
c) Magis
d) Bermain

b. Observasi

Tahap kedua dalam pengumpulan data adalah melalui observasi, yaitu tahap
mengamati keadaan dan perilaku klien. Kegiatan observasi meliputi sight (kelainan
fisik, meringis terbakar dsb), smell (darah, obat, urin, feses) dan hearing (bunyi
jantung, suara nafas, bising usus dll)
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam observasi diantaranya :
a) Sebaiknya tidak diketahui oleh klien, sehingga data yang murni dapat diperoleh
b) Kegiatan observasi menyangkut aspek fisik, mental, sosial dan spiritual.

c. Pemeriksaan Fisik
Berbeda dengan pendekatan orang dewasa, agar pemerikisa dapa
berkomunikasi dengan baik pada anak, maka perlu diketahui cara pendekatan
tertentu. Hal ini dimaksudkan agar anak tida merasa takut., tidak menangis, tidak
menolakuntuk diperiksa.
Cara-cara pendekatan ini tentu bergantung pada umur dan keadaan anak.
Kehadiran orangtua sangat membantu untuk menghilangkan rasa takut pada anak.
Pada bayi yang lebih besar yang sudah mulai takut pada orang yang belum
dikenalnya, pendekatannya menjadi lebih sulit. Dalam hal ini sebaiknya pemeriksa
bersifat informal, pemeriksaan sudah dapat dilakukan pada sewaktu bayi masih dalam
pangkuan ibu, lambat laun anak dipindahkan ke meje periksa. Pada anak yang lebih
besar lag, pendekatan dapat dimulai dengan memberi salam kepada anak,
menanyakan umur, nama, sekolah, dan sebagainya dengan memuji penampilannya.
Pada waktu pemeriksaan, deapat diceritakan sesuatu agar anak tidak merasa tegang.
Pada anak yang sakit berat, hal-hal tersebut tidak perlu dilakukan, anak dapat
langsumg diperiksa.

Pedoman umum pemeriksaan fisik pada anak diantaranya yaitu :


1. Lakukan pemeriksaan dalam ruang yang menyenangkan dan tidak mengancam
a) Berikann penerangan yang baik dalam ruangan
b) Berikan suhu ruangan yang hangat dan nyaman
c) Tempatkan semua alat yang asing dan potensial menakutkan
d) Beri beberapa mainan, boneka, binatang untuk anak
e) Bila mungkin minta ruangan untuk didekorasi dengan usia yang berbeda
f) Beri privasi, khususnya anak usia sekolah remaja
2. Beri waktu untuk bermain dan saling mengenal
3. Jika anak tidak siap, gunakan teknik tersebut
a) Buat ucapan pujian tentang anak, seperti penampilannya
b) Ceritakan cerita lucu atau bermain sulap sederhana
c) Berikan teman yang tidak mengancam, seperti boneka
4. Bila anak menolak untuk bekerjasama, gunakan teknik berikut :
a) Kaji alas an perilaku tidak mau diajak bekerjasama
b) Coba libatkan anak dan orangtua dalam prose, bila tepat minta orangtua untuk
pergi
c) Hindari penjelasan yang panjang tentang prosedur pemeriksaan
d) Melakukan pemeriksaan secepat mungkin
e) Minimalkan adanya gangguan
5. Mulailah pemeriksaan dengan cara yang tidak mengancam untuk anakkecil yang
takut
6. Periksa anak dalam posisi aman dan nyaman
7. Tenangkan anak sepanjang pemeriksaan
8. Puji anak kerjasamanya selama pemeriksaan
9. Diskusikan temuan pada keluarga pada akhir pemeriksaan

2. Diagnosa Keperawatan
Adalah penilaian tentang respon individu, keluarga atau komunitas terhadap
masalah kesehatan yang actual atau potensial. Diagnosa keperawatan memberikan dasar
untuk memilih intervensi keperawatan untuk mencapai hasil yang merupakan tanggung
jawab perawat.

Komponen diagnosa keperawatan :

1. Masalah (Problem,P)
Problem atau masalah keperawata dapat ditentukan dari data yang terkumpul
dan identifikasi. Masalah adalah pernyataan tentang status kesehatan atau masalah
kesehatan klien yang tertulis secara jelas dan singkat.

2. Etiologi (Penyebab,E)
Adalah factor penyebabmasalah klien yang dapat merubah status kesehatan
atau mempengaruhi perkembangan masalah. Penyebab tersebut dapat berhubungan
dengan tingkah laku klien, patofisiologi, psikososial, perubahan situasional pada gaya
hidup, usia perkembangan, factor budaya dan lingkungan.

3. Batasan Karakteristik (Symptom,S)


Batasan karakteristik(tanda dan gejala) adalah data-dat subjektif dan
objektif yang ditemukan sebagi komponen pendukung yang ditemukan pada saat
pengkajian yang memberikan buktu bahwa ada masalah kesehatan.
Kategori Diagnosa Keperawatan

Menurut Carpenito (2000) diagnosa keperawaran dapat dibedakan menjadi 5


kategori, yaitu:

1. Diagnosa Keperawatan Aktual


Yaitu diagnosa keperawatn yang menyatakan bahwa masalah kesehatan
sedang terjadi saat ini karena sesuai dengan data klinikyang ditemukan. Menegakkan
diagnosda actual harus ada unsure Problem, Etiologi, Symptom.

2. Diagnosa Keperawatan Resiko Tinggi (Potensial)


Yaitu ddiagnosa keperawatan yang menyatakan bahwa masalah kesehatan
akan terjadi jika tidak dilakukan intervensi. Pada pengkajian awal belum ditemukan
adanya tanda dan gejala yang mendukung adanya masalah, tetapi factor yang dapat
menyebabkan masalah/etiologi sudah teridentifikasi. Penentuan factor resiko tinggi
tergantung dari tingkat keperahan terhadap masalah dan penyebab.

3. Diagnosa Keperawatan Kemungkinan


Yaitu diagnosa keperawatan yang masih memerlukan data tambahan untuk
memastikan masalah keperawatan kemungkinan. Contoh : Kasus seperti diatas.

4. Diagnosa Keperawatan Kesejahteraan (Wellnes)


Menurut NANDA (North American Nursing Diagnosis Association), diagnosa
keperawatan sejahtera adalah ketentuan klinis mengenai individu, kelompok atau
masyarakat dalam transisi dari tingkat kesehatan khusus ke tingkat kesehatan yang
lebih baik.

5. Diagnosa Keperawatan Sindrom


Menurut NANDA diagnosa keperawatan sindrom adalah diagnosa keperawatn
yang terdiri dari sekelompok diagnosa keperawatan actual atau resiko tinggi yang
kemungkinan akan munculn karena suatu kejadian atau situasi tertentu.

3. Perencanaan

Adalah suatu proses penyusun sebagai intervensi keperawatn dibutuhkan untuk


mengatasi masalah klien. Rencana keperawatan merupakan mata rantai antara penetapan
kebutuhan klien dan pelaksanaan tindakan keperawatan. Dengan demikian rencana
keperawatan adalah petunjuk tertulis yang menggambarkan secara tepat mengenai
rencana tindakan yang dilakukan terhadap klien sesuai dengan kebutuhan dasar diagnosa
keperawatan.