You are on page 1of 2

Oleh : Jusmawandi _ Ketua Despro 2013/2014

Kampus merupakan wadah utama bagi mahasiswa dalam menimbah ilmu. Berbagai
organisasi dapat kita jumpai didalamnya serta berbagai perkumpulan mahasiswa yang
digunakan sebagai tools dalam berbagi ilmu baik antar sesama mahasiswa ataupun
dengan dosen. Berbagai permasalahan teoritis dibahas secara tuntas hingga waktu
berlarut-larut dalam perdebatan karena idealisme individu yang selalu merasa benar.
Namun bukan hal seperti itu yang mesti dipikirkan oleh agent of change, hal yang perlu
kita lakukan adalah berbuat nyata atas apa yang selalu menjadi teori dalam dunia
kampus. Tidak perlu mengubah dunia agar dikatakan sebagai agen perubah, tapi cukup
dengan mengabdi pada masyarakat dengan membagi ilmu yang selama ini kita
dapatkan kepada masyarakat.
Hal tersebut baru disadari oleh penulis ketika merasa sudah diterima oleh masyarakat
tambasa yang merupakan lokasi penerapan Despro (Desa Produktif). Penulis terpilih
sebagai ketua dari komunitas ketika masih berstatus mahasiswa baru di Unhas, hal
tersebut sangat berat diterimanya karena berbagai pengkaderan dikampus satupun
belum tuntas. Meskipun merasa terpaksa awalnya, tapi dengan niat dan bimbingan dari
senior di Etos, amanah tersebut dapat dijalankan secara efektif meskipun harus
menunggu waktu hingga berbulan-bulan. Tak peduli kritikan dari pendamping, senior
tentang program yang tidak berjalan. Baginya inilah usaha yang bisa dilakukan oleh
seorang pemula. Berselang beberapa hari jabatan ketua dipundaknya, ia pun harus
banting tulang mencari lokasi Despro yang strategis. Perasaan khawatir dan takut
karena mendatangi daerah yang betul-betul jauh berbeda dengan tempat tinggal
adalah hal yang selalu dirasakannya. Bagaimana tidak, dengan kepala yang botak dan
berpakaian rapi seolah terlihat berbeda jauh dari penampilan masyarakat yang
didatanginya. Sehingga harus menguras pikiran dan strategi, bagaimana kemudian dia
bisa mendapatkan deskripsi masyarakat. Hati menjadi bertanya-tanya tentang
pelimpahan ketua kepadanya yang begitu cepat. Pernahkah kita berpikir suatu
organisasi dipimpin oleh orang yang tidak berpengalaman? Pernahkah anda
mendapatkan organisasi yang dipimpin oleh orang yang tidak melalui proses
pengkaderan atau pembekalan?. Sepertinya itu yang selalu terbayang dan menjadi
pertanyaan dalam hati penulis.
Sebelum tanggung jawab ketua berada ditangan penulis, Despro yang dulunya Sekolah
Desa Produktif sudah fakum selama satu tahun. Hal tersebut diakibatkan oleh berbagai
kesibukan pengurus sehingga organisasi harus berhenti beberapa saat. Lokasi
sebelumnya berada didaerah pesisir pantai, yang notabene aktivitas masyarakatnya
sebagai kuli bangunan. Jarak juga menjadi alasan dari para etoser sehingga SDP
sebelumnya tidak berjalan. Maka dari itu, sebagai ketua yang baru harus aktif dan
solutif dalam mencari lokasi yang strategis. Hasilnya begitu memuaskan dan sesuai
dengan apa yang diharapkan. Tambasa merupakan daerah yang tidak jauh dari asrama
putra etos, sehingga hal tersebut merupakan bagian dari kemudahan akses dalam
mengunjungi desa binaan.
Apa yang akan terjadi jika anda hanya aktif dalam organisasi esternal kampus? Tentu
sangat berbeda dengan teman-teman anda. Itulah yang dirasakan oleh penulis sebagai
konsekuensi dari keputusan yang dikeluarkan pihak organisasi kampus yang melarang
Maba absen dalam proses pengkaderan, dan itu dilakukan oleh penulis hingga akhirnya
memang penulis harus memilih jalan pengabdian masyarakat dari pada berada dalam
kampus pasca perkuliahan. Banyak kemudian rekan jurusan yang sangat peka terhadap
keputusan yang dikeluarkan himpunan yang tidak menerimah Maba yang banyak
Alpanya ikut dalam pengkaderan tahap akhir pengkaderan. Hingga akhirnya penulis
pasrah dan betul-betul serius menjalani apa yang ada didepannya. Berat memang
menerima kepetusan demikian namun sekali lagi itulah konsekuensi dari keputusan
yang tela dibuatnya.
Awal dari perbedaan itulah yang membuat jurusan Antropologi Sosial 2012 begitu
berwarna dikelas, karena banyak teman-teman yang memilih aktif di Unit Kegiatan
Mahasiswa dibandingkan dengan Himpunan, sehingga bagi penulis, mengabdi kepada
masyarakat adalah merupakan bagian dari keanekaragaman. Diskusi kelas menjadi
berbeda, ada yang berpendapat sesuai dengan bacaan da nada yang berbicara sesuai
dengan fakta dilapangan.

Bagi penulis mengabdi pada masyarakat merupakan hal yang wajib dilakukan oleh
mahasiswa sebelum tiba masanya ia harus melakukan secara mandiri. Program yang
dilaksanakan tidak mesti skala berat, kita dapat memulainya dengan berbagi
pengetahuan (mengajar) kepada anak-anak, tak perlu membuat program yang besar
hingga akhirnya tidak terealisasi. Banyak mahasiswa yang saat ini sibuk dengan
organisasi dikampus dengan disibukkan oleh diskusi yang berlarut-larut dan tak jelas.
Mereka merasa punya banyak pengetahuan namun keras kepala dalam menerangkan
hal-hal yang mereka pahami, sehingga
akhir dari diskusinya adanya pemaksaan makna. Berbeda jauh dengan
organisasi/komunitas yang secara nyata memberikan bukti nyata atas dasar yang
mereka tahu.
Itulah yang membuat selama ini penulis tetap bertahan dan optimis bisa melakukan
perubahan dalam masyarakat meskipun merupakan hal yang kecil.