You are on page 1of 28

MODUL KETERAMPILAN KLINIK 1 BLOK 5.3 SKILL TEKNIK INJEKSI

Tujuan Umum:

Mahasiswa mampu melakukan prosedur klinis sesuai masalah dan kebutuhan pasien

Tujuan khusus:

1. Mahasiswa mampu menjelaskan regio penyuntikan intramuskular,

subkutan, intrakutan dan intravena

2. Mahasiswa mengetahui alat dan bahan yang digunakan

3. Mahasiswa mampu melakukan prosedur klinis tindakan injeksi intramuskular, subkutan, intrakutan dan intravena

TINJAUAN TEORI

Injeksi adalah mendorong obat ke dalam tubuh dengan menggunakan jarum suntik. Pemberian obat dengan cara injeksi disebut juga dengan cara parenteral. Terdapat banyak cara injeksi, namun pada skill lab ini hanya akan dibahas beberapa diantaranya yang sering dilakukan, yaitu:

1. Intramuscular (IM) yaitu muenyuntikkan obat ke dalam lapisan otot tubuh

2. Subcutaneous (SC) yaitu menyuntikkan obat ke dalam jaringan yang berada dibawah lapisan dermis.

3. Intradermal/intracutan (ID/IC) yaitu menyuntikkan obat ke dalam lapisan dermis, dibawah epidermis

4. Intravenous (IV) yaitu menyuntikkan obat ke dalam vena

Selain keempat cara diatas, pemebrian obat secara parenteral dapat juga sering dilakukan secara intrathecal.atau intraspinal, intracardial, intrapleural, intraarterial dan intraarticular. Untuk mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh, obat disiapkan dan diberikan dengan menggunakan prinsip steril. Larutan obat, jarum dan spuit yang telah terkontaminasi,akan menyebabkan terjadinya infeksi. Obat-obat yang diberikan melalui parenteral ini diabsorbsi lebih cepat dibandingkan obat yang diberikan melalui sistem gastrointestinal, karena obat tidak perlu melewati barier jaringan epitel pada organ gastrointestinal sebelum akhirnya masuk ke dalam sirkulasi darah. Obat intramuscular diabsorbsi lebih cepat daripada obat subcutaneous atau intradermal, karena otot memiliki jaringan pembuluh darah yang lebih banyak daripada kulit atau jaringan subkutan. Obat intracutan merupakan obat yang diabsorbsi paling lambat karena obat harus melalui beberapa jaringan epitel sebelum akhirnya masuk ke dalam pembuluh darah. Karena itu cara intracutan digunakan untuk menyuntikkan zat asing untuk mengetahui reaksi organ dan jaringan terhadap adanya alergi, yang biasa disebut skin test. Absorbsi melalui subcutaneos relatif lambat tetapi efektif untuk absobsi sejumlah obat yang tidak diabsorbsi melalui sistem gastointestinal. Keuntungan pemberian obat melalui parenteral adalah obat dapat diabsorbsi dengan cepat melalui pembuluh darah. Cara parenteral ini dapat dilakukan jika obat tidak dapat

diabsorbsi melalui sistem gastrointestinal atau malah akan dihancurkan olehnya. Obat juga diberikan pada pasien yang tidak sadar atau tidak kooperatif yang tidak dapat atau tidak mau menelan obat oral. Disamping keuntungan diatas, terdapat beberapa kerugian pada pemberian obat melalui parenteral ini. Pasien, terutama anak-anak akan merasa cemas jika akan disuntuk. Penyuntikan akan menyebabkan timbulnya rasa nyeri dan tidak nyaman. Iritasi atau reaksi lokal dapat terjadi akibat efek obat pada jaringan. Pemberian obat melalui parenteral juga dapat menyebabkan terjadinya infeksi, kerena itu diperlukan penggunaaan tehnik steril untuk menyiapkan dan memberikan obat ini. Pemberian obat perenteral ini merupakan kontraindikasi untuk pasien yang mengalami masalah perdarahan atau sedang mendapatkan terapi antikoagulan.

Beberapa istilah yang sering digunakan adalah :

1. Antisepsis : proses menurunkan jumlah mikroorganisme pada kulit dan selaput lendir atau duh tubuh lainnya dengan menggunakan bahan antimikrobial (antiseptik)

2. Asepsis dan teknik aseptik : upaya kombinasi untuk mencegah masuknya mikroorganisme kedalam area tubuh manapun yang sering menyebabkan infeksi. Tujuan asepsis adalah menurunkan sampai ketingkat aman atau membasmi jumlah mikroorganisme pada permukaan hidup (kulit dan jaringan) dan objek mati (alat-alat bedah dan barang-barang yang lain)

3. Dekontaminasi : proses yang membuat objek mati lebih aman ditangani staf sebelum dibersihkan {umpama : menginaktifasi HBV (Hepatits B Virus), HIV serta menurunkan tetapi tidak membasmi, jumlah mikroorganisme lain yang mengkontaminasi}

4. Disinfeksi tingkat tinggi (DDT) : proses menghilangkan semua mikroorganisme, kecuali beberapa endospora bakteri pada benda mati dengan merebus, mengukus atau penggunaan disinfektan kimia

5. Pembersihan : proses yang secara fisik menghilangkan semua debu, kotoran, darah atau duh tubuh lain yang tampak pada objek mati dan membuang sejumlah besar mikroorganisme untuk mengurangi risiko bagi mereka yang menyentuh kulit atau menangani benda tersebut.

6. Sterilisasi : proses menghilangkan semua mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit) termasuk endospora bakteri pada benda mati dengan uap panas tekanan tinggi (otoklaf), panas kering (oven) atau radiasi.

7. Aspirasi : menyedot cairan (darah) dengan jarum suntik

TEKNIK ASPIRASI Walaupun aspirasi tidak lagi dilakukan pada metode injeksi subkutan, pada penyuntikan intramuscular dan intravena prosedur ini harus dilakukan. Apabila pada injeksi intramuscular secara tidak sengaja ujung jarum menembus pembuluh darah, maka obat yang disuntikkan akhirnya masuk secara intravena. Hal ini dapat mengakibatkan terbentuknya emboli sebagai akibat reaksi komponen kimia dari obat tersebut. Aspirasi dilakukan dengan cara berikut: Setelah Anda menusukkan jarum ke lokasi suntikan, pegang bagian bawah syringe dengan tangan nondominan Anda, dan tarik bagian tongkat syringe ke atas dengan tangan dominan. Apabila jarum telah menembus pembuluh darah, darah akan masuk tertarik ke dalam syringe. Apabila ini terjadi, dan tehnik injeksi yang Anda lakukan adalah injeksi intravena, maka prosedur yang Anda lakukan sejauh ini benar. Jarum telah memasuki pembuluh darah, dan obat kini siap dimasukkan langsung ke pembuluh darah balik tersebut. Apabila darah masuk tertarik, dan teknik injeksi yang Anda lakukan adalah intramuscular, maka prosedur yang Anda lakukan salah. Jarum yang semestinya mencapai jaringan otot rupanya bersarang di pembuluh darah.Hal ini biasanya terjadi karena lokasi injeksi kurang tepat. Cabut jarum dan ulangi prosedur penyuntikan dari awal.

TEKNIK DESINFEKSI KULIT DI LOKASI SUNTIKAN Walaupun tehnik desinfeksi kulit dengan kapas alkohol sebelum prosedur penyuntikan sudah dikenal luas, pada kenyataannya ada perbedaan temuan. Misalnya menggunakan kapas alkohol sebelum menyuntikkan insulin secara subkutan seringkali membuat kulit menjadi mengeras karena efek alkohol.

Para ahli berpendapat bahwa apabila pasien tampak bersih secara fisik, dan tenaga medis juga mengikuti standar asepsis yang benar, desinfeksi kulit sebelum penyuntikan intramuscular adalah tidak perlu. Dan apabila memang dipandang perlu,maka kulit itu harus diswab dengan kapas alkohol selama 30 detik, dan kemudian tunggu 30 detik lagi agar kulit menjadi kering lagi. Jika injeksi dilakukan sebelum kulit kering, masih ada kemungkinan bakteri belum mati, dan malah bersama-sama dengan alkohol bisa saja ikut menginokulasi lokasi penyuntikan sehingga meningkatkan risiko infeksi.

INJEKSI INTRAMUSCULAR

Injeksi intramuscular adalah tindakan menyuntikkan obat ke dalam otot yang terperfusi baik, sehingga akan mampu memberikan efek sistemik dalam waktu yang singkat, dan juga biasanya mampu menyerap dalam dosis yang besar. Lokasi penyuntikan harus dipertimbangkan dengan mengingat kondisi fisik pasien, usia pasien, dan jumlah obat yang akan diberikan. Apabila pada lokasi suntikan yang diinginkan terdapat pembengkakan, peradangan, infeksi, ataupun terdapat lesi dalam bentuk apapun, penyuntikan di lokasi ini harus dihindari.

Regio penyuntikan intramuskular

1. Musculus Vastus Lateralis ( pada daerah paha) Sering dilakukan pada anak- anak terutama anak di bawah usia 3 tahun. Bagian ini merupakan bagian yang mudah dilihat, biasanya untuk menentukan lokasi penyuntikan ini, daerah paha dibagi menjadi 3 daerah sejajar sumbu panjang paha dan penyuntikan dilakukan pada bagian sepertiga tengah. Pada bayi atau orang tua, kadang-kadang kulit di atasnya perlu ditarik atau sedikit dicubit untuk membantu jarum mencapai kedalaman yang tepat. Volume injeksi ideal antara 1-5 ml (untuk bayi antara 1-3 ml).

2. Musculus Deltoideus (otot pada lengan atas) Bila kita akan melakukan penyuntikan pada lokasi ini,

2. Musculus Deltoideus (otot pada lengan atas) Bila kita akan melakukan penyuntikan pada lokasi ini, pasien boleh dalam posisi duduk, berdiri atau berbaring, namun lebih baik duduk. Penyuntikan dilakukan pada bagian tengah dari daerah segitiga terbalik yang telah kita tentukan yaitu : Tentukan daerah processus acromion, tepat di bawahnya merupakan dasar dari daerah segitiga tadi. Titik pucak dari segitiga ditentukan dengan menarik garis lurus dari bagian tegah segitiga, ke bawah sampai setinggi lipat axilla, lokasi penyuntikan adalah tepat di tengah dari segitiga tersebut, lebih kurang 1 sampai 2 inci di bawah dasar dari processus acromion (gambar 5 dan gambar 6). Hati-hati terhadap a.brachialis atau n.radialis yang dapat terkena apabila kita menyuntik lebih jauh ke bawah daripada yang seharusnya. Lokasi ini mudah dilakukan pada pasien dengan otot lengan yang terlatih atau pasien gemuk, lebih sulit dilakukan pada pasien kurus karena otot yang tipis. Minta pasien untuk meletakkan tangannya di pinggul (seperti gaya seorang peragawati), dengan demikian tonus ototnya akan berada kondisi yang mudah untuk disuntik dan dapat mengurangi nyeri. Volume obat yang ideal antara 0,5-1 ml.

-

3. Musculus dorsogluteal i. Daerah ini merupakan lokasi yang paling sering digunakan untuk melakukan penyuntikan

3. Musculus dorsogluteal

i. Daerah ini merupakan lokasi yang paling sering digunakan untuk melakukan penyuntikan intramuskuler. Lokasi penyuntikan dapat kita tentukan dengan membuat garis khayal yang menghubungkan SIAS dan os coccigis, bagi menjadi tiga bagian dan penyuntikan dilakukan

pada sepertiga lateral dari garis khayal tadi. Cara lain adalah dengan membagi glutea menjadi 4 kuadran ( lateral atas, medial atas, lateral bawah, medial bawah) dan lokasi penyuntikan adalah pada kuadran

Paling mudah dilakukan, namun angka terjadi komplikasi

lateral atas

paling tinggi.

ii. Hati-hati terhadap n.sciatus dan a.glutea superior

iii. Volume suntikan ideal antara 2-4 ml.Minta pasien berbaring ke samping dengan lutut sedikit fleksi

INJEKSI SUBKUTAN Teknik ini digunakan apabila kita ingin obat yang disuntikkan akan diabsorpsi oleh tubuh

INJEKSI SUBKUTAN

Teknik ini digunakan apabila kita ingin obat yang disuntikkan akan diabsorpsi oleh tubuh dengan pelan dan berdurasi panjang (slow and sustained absorption). Biasanya volume obat yang disuntikkan terbatas pada 1-2 ml per sekali suntik. Injeksi subkutan dilakukan dengan menyuntikkan jarum menyudut 45 derajat dari permukaan kulit. Kulit sebaiknya sedikit dicubit untuk menjauhkan jaringan subkutis dari jaringan otot, terutama bila dilakukan pada daerah abdomen atau paha. Hal ini berbahaya karena obat, misalnya insulin, yang disuntikkan ke otot akan diserap lebih cepat oleh tubuh. Menurut beberapa ahli, suntikan subkutan dipercaya tidak lagi memerlukan aspirasi. Dari gambaran CT scan ditemukan bahwa suntikan dengan tehnik subkutan hampir tidak pernah menembus pembuluh darah. Bahkan aspirasi pada penyuntikan subkutan dapat meningkatkan risiko terjadinya hematom di area subkutan. Regio penyuntikan subkutan :

Penyuntikan subkutan dapat dilakukan pada lengan atas daerah luar, kaki bagian atas, dan daerah sekitar pusat. Namun perlu dihindari penyuntikan pada radius 2 cm dari pusat.

perlu di hindari penyuntikan pada radius 2 cm dari pusat. INJEKSI INTRAVENA Injeksi IV ada 2,

INJEKSI INTRAVENA

Injeksi IV ada 2, yaitu : sentral dan perifer. IV perifer dibagi menjadi 2 lagi, yaitu IV kontinu (infus) dan IV intermitten. Penyuntikan dapat dilakukan dalam posisi duduk atau berbaring. Regio penyuntikan intravena Penyuntikan intravena dapat dilakukan pada vena manapun, namun terdapat beberapa vena yang sering dipakai karena lebih mudah didapatkan.

1. Pada lengan (vena mediana cubiti / vena cephalica)

3.

Pada leher (vena jugularis) khusus pada anak

4. Pada kepala (vena frontalis, atau vena temporalis) khusus pada anak

Terdapat beberapa risiko injeksi iv :

Infeksi : terutama oleh Staphylococcus aureus dan Candida albicans

Phlebitis : iritasi vena bukan karena infeksi bakterial

Infiltrasi : zat yang disuntikkan masuk ke jaringan sekitar.

Embolism : gumpalan darah, massa padat atau udara menyumbat pembuluh darah, terutama pada pemberian central iv. Udara sebanyak 30 ml dapat mengancam sirkulasi darah. Jika sekaligus banyak, maka dapat merusak sirkulasi pulmonal dan mengancam jiwa. Udara yang sangat besar (3-8 ml/kgBB) dapat menghentikan jantung.

INJEKSI INTRAKUTAN

Injeksi intrakutan adalah memasukkan cairan obat langsung pada lapisan dermis atau dibawah epidermis atau permukaan kulit. Penyuntikan ini biasanya dilakukan

:

dengan

a. Test tuberkulin atau tes alergi terhadap obat-obatan tertentu

b. Pemberian vaksinasi

tujuan

Regio penyuntikan intrakutan

Penyuntikan intrakutan dapat dillakukan di mana saja, namuin beberapa daerah yang biasa digunakan adalah :

a.

Lengan bawah bagian dalam

b.

Dada bagian atas

c.

Punggung pada area scapula

I.

PERSIAPAN

a. Persiapan pasien 1. Perkenalkan diri

2.

Tanyakan identitas pasien dan cocokkan dengan catatan medis pasien

3. Periksa catatan medis pasien untuk mengidentifikasi pengobatan yang akan diberikan pada pasien, nama obat dan cara pemberian

4. Lakukan informed consent ( jelaskan terlebih dahulu mengnai tindakan yang akan dilakukan, nama obat, cara pemberian, dosis dan kemungkinan efek samping), bila pasien adalah anak- anak, lakukan informed consent pada orang tuanya.

5. Meminta pasien untuk duduk/ berbaring

6. Lakukan pemeriksaan tekanan darah (bila belum dilakukan)

b. Persiapan alat dan bahan

1. Kran air (jika memungkinkan)

2. Sabun (sabun cair/sabun antiseptik)

3. Handuk bersih dan kering

4. Sepasang sarung tangan (handscoen)

5. Baki instrument

6. Instrument basin dengan tutup

7. Jarum suntik (needle) steril (ukuran #23 G ½ #25 G ½ (semakin besar nomor jarum ukuran lubang jarum semakin kecil, Syringe : tergantung pada volume obat yang akan diberikan, tersedia mulai ukuran 50,20,10,5,3,2,5,1 cc.

8. Kapas kering

9. Kassa steril (ukuran 2 ×2 cm)

10. Alkohol (70-90%)

11. Obat injeksi (dalam bentuk vital, ampul, bubuk kering+pelarutnya)

12. Pinset sirurgis

13. Larutan dekointaminasi, isi lar. Chloride 0,5%

14. Cawan ginjal (Basin kidney/nierbecken)

15. Tempat jarum bekas

17. Siapkan antidotum : adrenalin (ingat komplikasi segera dan fatal proses penyuntikan reaksi anafilaktik, komplikasi lain a.1 : luka, kolaps vena, infeksi : abses, emboli)

c. Persiapan obat

Dari Vial

1. Lepaskan penutup metal pada bagian atas vial (dengan menggunakan pinset) dan letakkan pada cawan ginjal.

2. Bersihkan bagian atas vial dengan kapas dan alkohol, biarkan mengering.

3. Buang kapas alkohol kedalam instrumen basin.

4. Ambil jarum suntik dan lepaskan penutup jarum dengan teknik satu tangan. Letakkan penutup jarum pada instrumen basin.

5. Campur dengan rata obat yang terdapat pada vial.

6. Tusuk jarum pada vial.

7. Ambil vial dengan tangan kiri (tangan yang tidak dominan) dan ambil volume yang sesuai untuk pengobatan.

8. Periksa ada tidaknya gelembung udara pada jarum suntik dan dikeluarkan gelembung udara tersebut.

9. Periksa ulang volume yang sesuai yang diperlukan untuk pengobatan

10. Lepaskan jarum dari vial.

11. Masukkan jarum pada penutupnya dengan teknik satu tangan.

12. Ganti jarum dengan yang baru dan letakkan jarum yang telah dipergunakan sebelumnya (untuk mengambil obat dari vial) pada instrumen basin.

Dari Ampul

1. Pastikan bahwa isi cairan obat dalam ampul terletak di bagian bawah dari leher ampul.

menggunakan pisau pemotong botol yang biasa dipergunakan oleh bagian farmasi.

3. Ambil jarum suntik dan lepaskan penutup jarum dengan teknik satu tangan. Letakkan penutup jarum pada instrumen basin.

4. Pegang ampul dengan tangan kiri (tangan yang tidak dominan) jika memungkinkan.

5. Masukkan jarum kedalam ampul dan ambil volume obat sesuai.

6. Tarik kembali jarum dari dalam ampul.

7. Arahkan jarum secara vertikal dan masukkan kedalam penutupnya.

8. Keluarkan gelembung udara dalam syringe.

9. Cek ulang secara tepat volume obat yang diberikan.

10. Lepaskan jarum dari syringe dengan teknik satu tangan.

11. Letakkan syringe dan jarumnya pada instrument basin

II. PROSEDUR KERJA

a. Injeksi Intramuskular

1. Periksa kembali vial atau ampul untuk mengecek label obat yang akan

diberikan dan lakukan penghitungan kembali dosis yang diperlukan.

2. Secara santun konfirmasi ulang kepada pasien/bantu pasien menyingkirkan tempat yang akan dilakukan penyuntikan.

3. Cuci tangan steril dan pakai sarung tangan

4. Tentukan daerah penyuntikan dengan tepat, identifikasi daerah penyuntikan secara anatomis dengan tangan kiri (tangan yang tidak dominan).

5. Lakukan peregangan pada area tersebut dengan gentle.

6. Bersihkan area tersebut dengan kapas dan alkohol, biarkan mengering.

7. Lepaskan penutup jarum, letakkan penutupnya pada instrument basin.

8. Tekan dan tarik sedikit kulit pada daerah penyuntikan, dengan menggunakan tangan kiri pertahankan sebentar.

tangan kanan sambil melepaskan secara perlahan pegangan pada tangan kiri tadi. Masukkan jarum dengan arah tegak lurus sampai ¾ bagian jarum masuk ke dalam otot. 10. Pastikan bahwa ujung jarum tidak mengenai pembuluh darah dengan melakukThe an aspirasi. 11. Dorong plunger secara perlahan untuk mengalirkan seluruh obat dalam syringe. 12. Tarik jarum suntik kembali keluar dengan cepat, usap dan lakukan massage (jika diperlukan) pada area penyuntikan dengan kapas alkohol. 13. Evaluasi keadaan pasien selama beberapa saat, untuk melihat tanda ada tidaknya efek samping yang ditimbulkan.

b. Injeksi Subcutan

1. Periksa kembali vial atau ampul untuk mengecek label obat yang akan diberikan (untuk ketiga kalinya) dan lakukan penghitungan kembali

dosis yang diperlukan.

2. Jelaskan sekali lagi bahwa kita akan melakukan penyuntikan.

3. Secara santun konfirmasi ulang kepada pasien/bantu pasien menyingkirkan tempat yang akan dilakukan penyuntikan.

4. Cuci tangan steril (cara biasa; baca pedoman tindakan asepsis antisepsis) dan pakai sarung tangan (baca kembali pedoman pemasangan sarung tangan steril)

5. Tentukan daerah penyuntikan dengan tepat, identifikasi daerah penyuntikan secara anatomis dengan tangan kiri (tangan yang tidak dominan).

6. Angkat sedikit kulit dengan cubitan ringan oleh tangan kiri

7. Bersihkan area tersebut dengan kapas dan alkohol, biarkan mengering.

9. Tekan dan tarik sedikit kulit pada daerah penyuntikan, dengan menggunakan tangan kiri pertahankan sebentar

10. Suntikkan jarum membentuk 45 O pada daerah yang telah diidentifikasi untuk dilakukan penyuntikan dengan menggunakan tangan kanan sambil melepaskan secara perlahan pegangan pada tangan kiri tadi.

11. Pastikan bahwa ujung jarum tidak mengenai pembuluh darah dengan melakukan prosedur sbb : Lakukan aspirasi dengan cara menarik pendorong jarum suntik (plunger), jika darah mengisi syringe, atur kembali kedalaman invasi jarum, kemudian lakukan aspirasi kembali (tarik kembali plunger), jika tidak terdapat darah pada syringe maka dapat dilanjutkan prosedur berikutnya.

12. Dorong plunger secara perlahan untuk mengalirkan seluruh obat dalam syringe.

13. Tarik jarum suntik kembali keluar dengan cepat, usap dan lakukan massage (jika diperlukan) pada area penyuntikan dengan kapas alkohol.

14. Jika darah keluar dari tempat penyuntikan, bersihkan dan lakukan penekanan dengan gentle daerah penyuntikan dengan kapas steril.

15. Katakan pada pasien bahwa prosedur penyuntikan telah selesai, dampingi dan bantu pasien untuk mengenakan kembali pakaiannya, evaluasi keadaan pasien selama beberapa saat, untuk melihat tanda ada tidaknya efek samping yang ditimbulkan.

c. Injeksi Intracutan

1. Siapkan peralatan ke dekat pasien

2. Mencuci tangan dengan baik dan benar

3. Memakai sarung tangan dengan baik

4. Posisikan

pasien

dan

bebaskan

daerah

pakaian pasien

yang

akan

disuntik

dari

5. Memasukkan obat kedalam spuit sesuai dosis dengan teknik septik dan aseptic

6. Menentukan daerah yang akan disuntik (misalnya di lengan bawah volar, lengan atas (M. Deltoideus), punggung, dll)

7. Melakukan desinfeksi menggunakan kapas alkohol pada daerah yang akan disuntik dan biarkan kering sendiri

8. Memasukkan jarum dengan posisi tepat yaitu lubang jarum menghadap keatas, jarum dan kulit membentuk sudut 10-15 ̊.

9. Masukkan obat secara perlahan hingga muncul gelembung

10. Tarik jarum dan tidak menekan bekas suntikan

gelembung 10. Tarik jarum dan tidak menekan bekas suntikan d. Injeksi Intravena 1. Siapkan peralatan ke

d. Injeksi Intravena

1. Siapkan peralatan ke dekat pasien

2. Mencuci tangan dengan baik dan benar

3. Memakai sarung tangan dengan baik

4. Posisikan pasien dan bebaskan daerah yang akan disuntik dari pakaian pasien of the

5. Memasukkan obat kedalam spuit sesuai dosis dengan teknik septik dan aseptic

6. Menentukan daerah yang akan disuntik

7. Memasang tourniquet ±10 cm diatas vena yang akan disuntik sampai vena terlihat jelas

9.

Memasukkan jarum dengan posisi tepat yaitu lubang jarum menghadap keatas, jarum dan kulit membentuk sudut 20 ̊.

10.

Lakukan aspirasi yaitu tarik penghisap sedikit untuk memeriksa apakah jarum sudah masuk kedalam vena yang ditandai dengan darah masuk kedalam tabung spuit (saat aspirasi jika ada darah berarti jarum telah masuk kedalam vena, jika tidak ada darah masukkan sedikit lagi jarum sampai terasa masuk di vena)

12.

Buka tourniquet dan anjurkan pasien membuka kepalan tangannya, masukkan obat secara perlahan jangan terlalu cepat

13. Tarik jarum keluar setelah obat masuk (pada saat menarik jarum keluar tekan lokasi suntikan dengan kapas alkohol agar darah tidak keluar )

suntikan dengan kapas alkohol agar darah tidak keluar ) III. SETELAH PENYUNTIKAN 1. Isi jarum suntik

III. SETELAH PENYUNTIKAN

1. Isi jarum suntik bekas pakai dengan lar. Chloride 0,5% dan potong jarum, masukkan kedalam tempat jarum bekas.

2. Masukkan peralatan lainnya (termasuk kapas, kassa steril) kedalam lar. Chloride 0,5%.

3. Rendam kedua tangan kedalam lar. Chloride 0,5% selama beberapa menit, kemudian lepaskan kedua sarung tangan dengan cara skin to skin, glove to glove.

4. Cuci tangan.

5. Keringkan dengan handuk.

SKENARIO KLINIS

Ibu Rina, 37 tahun, datang ke poliklinik KB untuk berkonsultasi tentang kontrasepsi, anda seorang dokter umum yang sedang bertugas di poli tersebut. Setelah berdiskusi, Ibu Ani memutuskan untuk memakai alat kontrasepsi suntik KB 3 bulan (Depoprogestin). Lakukan informed consent dan injeksi Depoprogestin secara lege artis (kasus 1)

Bayi Satria, 1 bulan, dibawa ibunya ke Puskesmas untuk imunisasi BCG. Anda sebagai dokter umum di Puskesmas tersebut. Ibu Bintang bertanya apakah anaknya bisa mendapat imunisasi BCG hari ini. Lakukan informed consent dan injeksi imunisasi BCG secara lege artis (kasus 2)

An. Putri, 6 tahun, siswa kelas 1 SD sedang dirawat inap karena menderita bronkopneumonia. Anda sebagai dokter jaga ditugaskan untukmelakukan skin test sebelum memasukkan obat berupa antibiotik. Lakukan informed consent dan injeksi skin test antibiotik secara lege artis (kasus 3)

Tn Ali, 45 tahun, menderita DM tipe II sejak 10 tahun yang lalu. Saat ini Tn Ali dirawat di RS dan mendapat terapi insulin 3x8 IU (0,8cc). Lakukan informed consent dan injeksi insulin secara lege artis (kasus 4)

REFERENSI

1. http://medicomedisch.wordpress.com/2010/11/19/cara-pemberian-injeksi/

2. http://nursingstandard.rcnpublishing.co.uk/archive/article-intramuscular- injection-techniques

3. http://nursingstandard.rcnpublishing.co.uk/archive/article-safe-injection-

techniques-2623

4. http://yunitapuspitasari.files.wordpress.com/2010/05/tehnik_injeksi.pdf

CHECKLIST

I. PENYUNTIKAN INTRAMUSKULAR

No.

KRITERIA

SKOR

 

0

1

2

1.

Mengucapkan salam & memperkenalkan diri

       

2.

Melakukan informed consent

       

- Menerangkan cara dan tujuan pemeriksaan.

 

- Menanyakan riwayat alergi dan penyakit sekarang

 

- Melihat apakah ada luka atau infeksi di lokasi penyuntikan

3.

Menentukan posisi pasien

       

4.

Mempersiapkan alat dan bahan sesuai skenario

       

5.

Mempersiapkan obat (vial/ ampul), menarik cairan obat dari dalam ampul ke dalam spuit yang sesuai

     

6.

Mengganti needle yang telah digunakan untuk mengambil obat dengan needle baru

     

7.

Mempersilahkan pasien utnuk membuka pakaian seperlunya agar lokasi penyuntikan terlihat dengan jelas.

     

8.

Cuci tangan (cara biasa) dan memakai handscoen

       

9.

Melakukan tindakan asepsis antisepsis pada lokasi penyuntikan

     

10.

Regangkan sedikit kulit pada daerah penyuntikan,dengan menggunakan tangan kiri

     

11.

Suntikkan jarum membentuk 90 O dengan tangan kanan sambil melepaskan secara perlahan pegangan pada tangan kiri. Arah tegak lurus sampai ¾ bagian jarum masuk ke dalam otot

     

12.

Melakukan

aspirasi

untuk

memastikan

jaru.m

tidak

mengenai

     

pembuluh darah

 

13.

Dorong plunger secara perlahan untuk mengalirkan obat dalam syringe (sesuai dosis) dan tarik jarum suntik kembali keluar dengan

     
 

cepat

14.

Usap area penyuntikan dengan kapas alkohol

15.

Tutup kembali pakaian pasien

16.

Membuang jarum dan spuit pada disposal container

17.

Melepaskan sarung tangan dan cuci tangan

 

Total skor

Keterangan :

0

: tidak melakukan

1

: melakukan dengan tidak sempurna

 

2

:

melakukan

dengan

sempurna

II. PENYUNTIKAN SUBKUTAN

No.

KRITERIA

SKOR

 

0

1

2

1.

Mengucapkan salam & memperkenalkan diri

       

2.

Melakukan informed consent

       

- Menerangkan cara dan tujuan pemeriksaan.

 

- Menanyakan riwayat alergi dan penyakit sekarang

 

- Melihat apakah ada luka atau infeksi di lokasi penyuntikan

3.

Menentukan posisi pasien

       

4.

Mempersiapkan alat dan bahan sesuai skenario

       

5.

Mempersiapkan obat (vial/ ampul), menarik cairan obat dari dalam ampul ke dalam spuit yang sesuai

     

6.

Mengganti needle yang telah digunakan untuk mengambil obat dengan needle baru

     

7.

Mempersilahkan pasien utnuk membuka pakaian seperlunya agar lokasi penyuntikan terlihat dengan jelas.

     

8.

Cuci tangan (cara biasa) dan memakai handscoen

       

9.

Melakukan tindakan asepsis antisepsis pada lokasi penyuntikan

     

10.

Cubit sedikit kulit pada daerah penyuntikan,dengan menggunakan tangan kiri

     

11.

Suntikkan jarum membentuk 45 O dengan tangan kanan sambil melepaskan secara perlahan pegangan pada tangan kiri.

     

12.

Melakukan

aspirasi

untuk

memastikan

jarum

tidak

mengenai

     

pembuluh darah

 

13.

Dorong plunger secara perlahan untuk mengalirkan obat dalam syringe (sesuai dosis) dan tarik jarum suntik kembali keluar dengan cepat

     

14.

Usap area penyuntikan dengan kapas alkohol

       

15.

Tutup kembali pakaian pasien

       

16.

Membuang jarum dan spuit pada disposal container

17.

Melepaskan sarung tangan dan cuci tangan

Total skor

Keterangan :

0

: tidak melakukan

1

: melakukan dengan tidak sempurna

 

2

:

melakukan

dengan

sempurna

III. PENYUNTIKAN INTRADERMAL

No.

KRITERIA

SKOR

 

0

1

2

1.

Mengucapkan salam & memperkenalkan diri

     

2.

Melakukan informed consent

     

- Menerangkan cara dan tujuan pemeriksaan.

- Menanyakan riwayat alergi dan penyakit sekarang

- Melihat apakah ada luka atau infeksi di lokasi penyuntikan

3.

Menentukan posisi pasien

     

4.

Mempersiapkan alat dan bahan sesuai scenario

     

5.

Mempersiapkan obat (vial/ ampul), menarik cairan obat dari dalam ampul ke dalam spuit yang sesuai

     

6.

Mengganti needle yang telah digunakan untuk mengambil obat dengan needle baru

     

7.

Mempersilahkan pasien utnuk membuka pakaian seperlunya agar lokasi penyuntikan terlihat dengan jelas.

     

8.

Cuci tangan (cara biasa) dan memakai handscoen

     

9.

Melakukan tindakan asepsis antisepsis pada lokasi penyuntikan

     

10.

Regangkan sedikit kulit pada daerah penyuntikan,dengan menggunakan tangan kiri

     

11.

Suntikkan jarum membentuk 10-15 O dengan tangan kanan sambil melepaskan secara perlahan pegangan pada tangan kiri.

     

12.

Dorong plunger secara perlahan untuk mengalirkan obat dalam syringe (sesuai dosis) hingga muncul gelembung dan tarik jarum suntik kembali keluar dengan cepat

     

13.

Usap area penyuntikan dengan kapas alkohol dengan tidak menekan bekas suntikan

     

14.

Tutup kembali pakaian pasien

     

15.

Membuang jarum dan spuit pada disposal container

     

16.

Melepaskan sarung tangan dan cuci tangan

Total skor

Keterangan :

0

: tidak melakukan

1

: melakukan dengan tidak sempurna

 

2

:

melakukan

dengan

sempurna

IV. PENYUNTIKAN INTRAVENA

No.

KRITERIA

SKOR

 

0

1

2

1.

Mengucapkan salam & memperkenalkan diri

     

2.

Melakukan informed consent

     

- Menerangkan cara dan tujuan pemeriksaan.

- Menanyakan riwayat alergi dan penyakit sekarang

- Melihat apakah ada luka atau infeksi di lokasi penyuntikan

3.

Menentukan posisi pasien

     

4.

Mempersiapkan alat dan bahan sesuai scenario

     

5.

Mempersiapkan obat (vial/ ampul), menarik cairan obat dari dalam ampul ke dalam spuit yang sesuai

     

6.

Mengganti needle yang telah digunakan untuk mengambil obat dengan needle baru

     

7.

Mempersilahkan pasien utnuk membuka pakaian seperlunya agar lokasi penyuntikan terlihat dengan jelas. Pasang torniquet (IV).

     

8.

Cuci tangan (cara biasa) dan memakai handscoen

     

9.

Melakukan tindakan asepsis antisepsis pada lokasi penyuntikan

     

10.

Regangkan (IC, IM, IV) atau cubit (SC) sedikit kulit pada daerah penyuntikan,dengan menggunakan tangan kiri

     

11.

Suntikkan jarum membentuk 20 O dengan tangan kanan sambil melepaskan secara perlahan pegangan pada tangan kiri.

     

12.

Melakukan aspirasi untuk memastikan jarum telah masuk pembuluh darah

     

13.

Buka tourniquet dan anjurkan pasien membuka kepalan tangannya

     

14.

Dorong plunger secara perlahan untuk mengalirkan obat dalam syringe (sesuai dosis) dan tarik jarum suntik kembali keluar dengan cepat

     

15.

Usap area penyuntikan dan tekan dengan kapas alkohol

     

16.

Tutup kembali pakaian pasien

16. Tutup kembali pakaian pasien 17. Membuang jarum dan spuit pada disposal container 18. Melepaskan sarung

17.

Membuang jarum dan spuit pada disposal container

18.

Melepaskan sarung tangan dan cuci tangan

Total skor

Keterangan :

0 : tidak melakukan

1 : melakukan dengan tidak sempurna

2 : melakukan dengan sempurna