You are on page 1of 8

80 Dentofasial, Vol.8, No.

2, Oktober 2009:80-87

Kista odontogenik di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar

Freddy G. Kuhuwael, Nova Pieter, Nasrul


Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin
SMF THT-KL RS Dr. Wahidin Sudirohusodo
Makassar, Indonesia.

ABSTRACT
A retrospective study has been performed for odontogenic cyst at Ear, Nose and
Throat-Head and Neck Department, Faculty of Medicine, Hasanuddin University, Dr.
Wahidin Sudirohusodo Hospital during period of 1999-2008. Eighteen cases of
odontogenic cysts were found in age interval of 5-40 year and dentigerous cyst was
found in young age of 5 and 8. Predominantly affected female than male with ratio
2.6:1 shown in 16 cases of dentigerous cyst found in female than 2 cases in male and,
mostly found in maxilla 16 cases (88.8%) than mandible 2 cases. The most common
clinical features are alveolar bone swelling, pingpong ball phenomena slowly
enlarged without pain. Radiographic appearance of dentigerous cyst revealed
radiolucency shadow with radioopaq mass inside the capsula associated with
unerupted tooth in 16 cases (88.8%), while the radicular cyst showed radiolucency
around the periapical area nonvital tooth without radioopaq appearance inside the
capsula in 2 cases (11,2 %). CT scan examination revealed formation of dentigerous
and radicular cyst as similar. The managements of odontogenic cysts were
enucleation of the cyst in 17 cases and marsupialisation in 1 case, with good result.
Key word: Odontogenic cyst, pingpong ball phenomena, enucleation

ABSTRAK
Studi retrospektif terhadap kasus kista odontogenik dilakukan pada Bagian THT-KL
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, RS dr. Wahidin Sudirohusodo selama
periode 1999-2008. Ditemukan 18 kasus kista odontogenik dengan rentang umur 5-40
tahun, termuda terjadi pada umur 5 tahun dan 8 tahun dengan kista dentigerus. Tingkat
kejadian pada perempuan lebih sering daripada laki-laki dengan rasio 2,6:1. Kista
dentigerus ditemukan sebanyak 16 kasus (88,8%), sedangkan kista radikuler hanya 2
kasus (11,2%). Berdasarkan lokasinya, ditemukan pada maksila 16 kasus (88,8%) dan
mandibula 2 kasus (11,2%). Keluhan yang dirasakan adalah benjolan pada daerah pipi
rahang atas yang bertambah besar secara perlahan, pingpong ball phenomena, dan
tidak nyeri tekan. Radiografi panoramik kista dentigerus memperlihatkan gambaran
radio-opak dari gigi yang tidak erupsi yang dikelilingi oleh gambaran radiolusen
cairan yang menyelubunginya. Sedangkan pada kista radikuler tampak gambaran
radiolusen daerah sekitar apikal gigi nonvital, tanpa gambaran gigi di dalamnya. Hasil
CT Scan memberikan gambaran sesuai dengan kista dentigerus dan kista radikuler.
Kista odontogenik ditangani dengan enukleasi pada 17 kasus dan marsupialisasi 1
kasus, dengan hasil yang baik.
Kata kunci: Kista odontogenik, pingpong ball phenomena, enukleasi

Koresponden: Freddy G. Kuhuwael, Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL Fakultas


Kedokteran Universitas Hasanuddin SMF THT-KL RS Dr.Wahidin Sudirohusodo.
Jl.Perintis Kemerdekaan Km.10, Tamalanrea Makassar, Indonesia.
Freddy G. Kuhuwael: Kista odontogenik di rumah sakit 81

PENDAHULUAN Jaringan ini merupakan asal timbulnya kista


Kista odontogenik adalah suatu rongga dentigerous dan kista paradental. Ketiga, sisa sel
patologis yang berisi cairan, dilapisi epitel dan Malassez (gambar 2) yang timbul mengikuti
jaringan kolagen, yang berasal dari epitel pemisahan selubung akar dari Hertwigs, yang
1-3
odontogenik Epitel pada pembentukan kista di bertanggung jawab terhadap pembentukan akar
rahang berasal dari sisa jaringan lamina dentis dan gigi. Semua kista radikuler berasal dari sel-sel sisa
sisa sel dari Serres (cell rests of Serres) dan ini.4
penyusutan epitel email yang menyusun folikel Yang tergolong dalam kategori kista
dentin akibat pertumbuhan gigi dan sisa sel dari odontogenik adalah kista dentigerus, kista
3,4
Malassez (cell rests of Malassez). radikuler dan keratokista odontogenik.1
Jaringan epitel sisa (gambar 1) yang timbul Berdasarkan etiologinya kista tersebut dapat
mengikuti pembentukan masa perkembangan gigi dibagi atas kista dentigerus dan kista radikuler.
bisa berasal dari tiga sumber yang masing-masing Kista dentigerus (gambar 3), yang juga dikenal
4
bertanggung jawab terhadap kista tersebut. dengan kista folikuler, merupakan suatu kista yang
Pertama, sel-sel epitel yang masih menetap setelah menyelubungi sebagian atau seluruh mahkota gigi
disolusi dari lamina dental, yang disebut dengan yang tidak tumbuh dan melekat pada akar gigi
sisa sel dari Serres. Sel ini menimbulkan (amelocemental junction).2,4,6 Kista ini berasal dari
keratokista odontogenik dan juga bisa peyusutan enamel organ gigi yang tersisa yang
menimbulkan pertumbuhan kista periodontal merupakan hasil akumulasi cairan di antara
lateralis serta kista gingiva dewasa. Kedua, organ lapisan mahkota gigi dan dinding epitel email gigi
email yang mengalami reduksi, yang berasal dari yang telah menyusut yang melapisi folikel gigi
organ email pasca fungsional sesudah (gambar 2).2,7 Epitel yang melapisinya adalah
penyelesaian dari perkembangan mahkota gigi. jenis epitel skuamus bertingkat.3

Epitel rongga mulut Jaringan sisa Serres

Lamina dental
yang terintegrasi

Akan menjadi enamel


Enamel Retikulum stelata organ yang tereduksi
organ Lapisan ameloblast

Email

Jaringan sisa Malassez


Dentin

Gambar 1. Menunjukkan sumber potensial dari epitel odontogenik yang bertanggung jawab tehadap
timbulnya kista odontogenik dan tumor: (1) jaringan sisa Serres; (2) penyusutan enamel
organ; (3) Jaringan sisa Malassez (sumber: Cheesnan A, Jani P. Cyst, granuloma and
tumors of the jaws, nose and sinuses. In: Laryngology and head and neck surgery.
Hibbert J (editor). London: Reed Educational and Professional Publishing Ltd; 1997. p.
5/23/2.4
82 Dentofasial, Vol.8, No.2, Oktober 2009:80-87

folikel dental

Epitel email
yang tereduksi
Email Sisa folikel
dental berfusi
Pulpa Pulpa dengan gingiva
sementum
Ligamentum Tulang
periodontal alveolar

sementum
Dentin akar
Ligamentum
periodontal
Sisa sel
Gigi yang tidak Malassez
erupsi Foramen apikalis

Gambar 2. Menunjukkan lokasi jaringan sisa malassez yang bertanggung jawab terhadap
timbulnya kista radikuler. (Sumber: Dierks EJ, Berystein ML. Odontogenic cysts,
tumours and related jaws lesions. In: Head and neck surgery otolaryngology,
volume 2. Bailey BL (editor). 2nd ed. Philadelphia: Lippincott Raven Publisher;
1998. p. 1541-58.5

Kista ini merupakan kista odontogenik kedua rendah pada gigi kaninus rahang atas, premolar
5
terbanyak setelah kista radikuler. Shear seperti rahang bawah dan gigi molar ketiga rahang atas.4
yang dikutip Cheesnan dan Jani melaporkan Kista radikuler (gambar 4). Terbentuknya kista
bahwa 433 dari 2.616 kista pada rahang adalah ini diawali dengan peradangan yang berasal dari
4
kista dentigerus selama periode 32 tahun. Terjadi pulpa, gingiva atau periodontal yang dapat
pada hampir tiap tingkatan umur tetapi memicu proliferasi epitel untuk membentuk
kejadiannya tertinggi ditemukan pada dekade 30- rongga kista. Secara histologis semua dinding
an dan 40-an, lebih sering terjadi pada laki-laki kista tersebut sama, terdiri dari epitel skuamus
daripada wanita, dan 5 kali lebih sering terjadi bertingkat tidak berkeratin yang melapisi dinding
pada orang kulit putih daripada orang kulit hitam. kista yang mengandung kolagen. Peradangan
Populasi kulit putih di Afrika Selatan mempunyai tersebut sering menyebabkan perubahan reaktif
angka kejadian impaksi gigi yang lebih tinggi epitel seperti ulserasi, degenerasi atau hiperplasia.
secara bermakna dibanding populasi kulit hitam Kista periapikal merupakan jenis terbanyak, yaitu
dan sepertinya ini alasan insidensi kista dentigerus berkisar 65%. Semua kista radikuler yang tumbuh
lebih tinggi pada orang kulit putih daripada orang didahului dengan adanya granuloma apikal. Kista
kulit hitam. Kista ini dua kali lebih sering di ini timbul sebagai respon terhadap iritan yang
rahang bawah daripada di rahang atas, dan paling melewati pulpa yang sudah nekrosis melalui
sering mengenai gigi yang impaksi atau terlambat foramen apikal. Inflamasi yang terus-menerus
erupsi. Umumnya berkaitan dengan gigi molar akan memicu jaringan sisa Malassez yang terdapat
ketiga rahang bawah dan frekuensinya lebih pada granuloma dan mulai membentuk kista.5
Freddy G. Kuhuwael: Kista odontogenik di rumah sakit 83

Gambaran klinis
Kista dentigerus yang kecil jarang
Lamina dental
menimbulkan gejala klinis, tetapi kista-kista yang
Organ email besar akan berekspansi ke tulang dan
menimbulkan pembengkakan intra oral,
pembengkakan ekstra oral atau keduanya. Kista
Kista ini juga dapat menyebabkan wajah menjadi tidak
simetris, atau secara sekunder mengalami infeksi,
dan menimbulkan rasa nyeri.7
Kista radikuler awalnya timbul dengan
Tulang adanya granulasi apikal. Inflamasi yang terus-
menerus akan memicu jaringan sisa Malassez
yang terdapat pada granuloma membentuk kista.
Gambar 3. Dari penampang kista dentigerus,
Kista radikuler yang kecil biasanya tidak langsung
Tampak gambaran radio-opak yang
dikelilingi gambaran radiolusen mengalami infeksi akut, kebanyakan bersifat
dengan batas yang tegas, lumen kista asimptomatik dan dapat diidentifikasi melalui
mengelilingi seluruh mahkota gigi pemeriksaan radiologis rutin. Kista yang besar
yang tidak erupsi (Sumber: Smith
dapat berekspansi ke tulang, menggeser akar gigi
RA. Spesific atypes of jaw cyst in jaw
cysts. In: A Lange Medical Book: dan krepitasi pada saat daerah alveolar dipalpasi.
Current diagnostic and treatment in Perubahan warna gigi yang nonvital dan respon
otolaryngology-head and neck negatif dari gigi yang terkena terhadap tes elektrik
surgery. Lalwani AK. Boston: Mc. pulpa atau air es merupakan gejala yang khas.
Grew Hill Company; 2004.p.390-403)
Pada kista yang terinfeksi timbul gejala nyeri yang
berat, sensitif terhadap perkusi dan pembengkakan
pada jaringan di atasnya serta limpadenopati.7
Karies
Karies
Penderita kista odontogenik yang datang di
RS Wahidin Sudirohusodo umumnya telah
mengalami deformitas pada wajah.

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan radiologis
Tulang Kista
Gambaran radiologis kista dentigerus yang
paling sering ditemukan adalah gambaran
Gambar 4. Pembentukan kista radikuler di apeks radiolusen yang berbatas tegas yang mengelilingi
gigi yang nonvital (Sumber: Smith suatu massa oval yang terkait dengan gigi yang
RA. Spesific atypes of jaw cyst in jaw tidak erupsi, yang mungkin mengalami pergeseran
cysts. In: A Lange Medical Book: dari posisinya. Foto panoramik dan periapikal
Current diagnostic and treatment in
(gambar 5) dapat membantu menggambarkan
otolaryngology-head and neck
surgery. Lalwani AK (editor). Boston: perluasan kista dan struktur anatomi di sekitarnya.
Mc. Grew Hill Company; 2004. Gambaran CT scan (gambar 6) sangat membantu
p.390-403)7
84 Dentofasial, Vol.8, No.2, Oktober 2009:80-87

a b
Gambar 5. Foto panoramik (a) kista dentigerus, tampak kista menyelubungi mahkota gigi, (b) kista
radikuler; tampak kista yang merupakan suatu bayangan radiolusen pada apeks gigi yang
nonvital.

a b
Gambar 6. Gambaran CT scan (a) kista dentigerus pada mandibula, (b) kista radikuler pada
maksila.
dalam menilai tingkat ekspansi pada struktur- dentigerus maupun kista radikuler biasanya
struktur sekitar yang terlibat. Sedangkan pada memberikan gambaran suatu kista yang dilapisi
kista radikuler, pemeriksaan foto gigi (periapikal, oleh epitel non-keratinized yang tipis. Peradangan
oklusal, dan panoramik) memperlihatkan kista bisa merubah lapisan epitel menjadi jaringan
yang mengelilingi ujung akar gigi yang dapat epitel yang mengalami hiperplasia.7
melebar ke struktur di sekitar yang berbatasan
dengannya.7 Penanganan dan prognosis
Terapi pilihan kista dentigerus adalah
Pemeriksaan histopatologis enukleasi kista dan pengangkatan gigi yang
Tes khusus yang lain adalah biopsi jarum terlibat.7 Pada anak-anak yang masih bertumbuh,
aspirasi dari lesi yang dicurigai suatu kista, dapat intervensi yang lebih dini perlu dilakukan karena
memberi konfirmasi suatu kista atau suatu lesi kista akan tumbuh dengan cepat dan juga memberi
vaskuler. Pemeriksaan histopatologis baik kista kesempatan pada gigi yang normal untuk tumbuh.
Freddy G. Kuhuwael: Kista odontogenik di rumah sakit 85

lagi, dilakukan ekstraksi gigi dikombinasi dengan


perawatan enukleasi kista. Marsupialisasi
dilakukan pada kista-kista yang besar.
Prognosisnya baik bila ditangani dengan memadai
sehingga angka rekurensi sangat jarang kecuali
terdapat sisa kista.

BAHAN DAN METODE


Penelitian dilakukan secara retrospektif
Gambar 7. Menunjukan teknik pengangkatan terhadap kasus-kasus kista odontogenik dari
kista dentigerus mandibula
dengan secara marsupialisasi penderita yang datang ke Bagian Ilmu Kesehatan
THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas
Sedangkan pada orang dewasa kemungkinan gigi Hasanuddin/RS Wahidin Sudirohusodo selama
yang terlibat untuk tumbuh sudah tidak terjadi lagi periode tahun 1999-2008. Dicatat identitas pasien
sehingga cara enukleasi disertai pengangkatan gigi termasuk usia dan jenis kelamin, jenis kista
yang terlibat bisa menjadi terapi pilihan. Pada dentigerusnya dan lokasi terjadinya kista
kista yang besar, penanganannya dapat dilakukan Data yang diperoleh selanjutnya
4
dengan cara marsupialisasi (gambar 7). Prognosis didistribusikan ke dalam tabel untuk mengetahui
dari kista tersebut setelah pengobatan sangat baik, jumlah dari tiap jenis distribusi.
dengan perkiraan bahwa defek yang timbul akibat
pembedahan akan sembuh dengan baik. Angka HASIL PENELITIAN
7
rekurensi untuk kista ini sangat rendah. Ditemukan 18 kasus kista odontogenik yang
Penanganan kista radikuler berupa terapi terdiri dari 16 kista dentigerus (88,8 %) dan 2
endodontik untuk kista yang masih kecil (<5 mm). kista radikuler (11,2 %). Berdasarkan usianya,
Sedangkan untuk lesi yang besar dilakukan terapi umur termuda ditemukan pada anak laki-laki
endodontik disertai bedah periapikal dan enukleasi berumur 5 tahun, dan anak perempuan berumur 8
kista, atau jika gigi sudah tidak bisa diperbaiki tahun, keduanya dengan kista dentigerus.

Tabel 1. Distribusi kista odontogenik menurut kelompok umur, insidens dan jenis kista
Kelompok umur (tahun) Kista dentigerus Kista radikuler Total
0 - 10 2 - 2
11 - 20 4 - 4
21 - 30 7 1 8
31 - 40 3 1 4
Total 16 2 18

Tabel 2. Distribusi kista odontogenik menurut lokasinya


Lokasi kista
Kista odontogenik Total
Maksila Mandibula
Kista dentigerus 14 2 16
Kista radikuler 2 - 2
Total 16 2 18
86 Dentofasial, Vol.8, No.2, Oktober 2009:80-87

Tabel 3. Perbandingan kista odontogenik antara kelompok pria dan wanita


Kista odontogenik n Perempuan Laki-laki Rasio
Dentigerus 16 11 5 2,2 : 1
Radikuler 2 2 -
Total 18 13 5 2.6 : 1

Menurut lokasi ditemukannya kista, pada lebih banyak ditemukan pada mandibula daripada
maksila sebanyak 16 kasus (88,8%) yang terdiri maksila seperti yang dilaporkan oleh Murad10
dari 14 kasus (77,7%) kista dentigerous dan 2 yang mengutip Main dkk. Akan tetapi pada
kasus (22,3%) kista radikuler. Sedangkan 2 kasus penelitian ini kista dentigerus umumnya terdapat
(11.2%) pada mandibula yang merupakan kista pada maksila yaitu 14 kasus dan mandibula 2
dentigerus. kasus. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian
Dari tabel 3 tampak, kista odontogenik lebih Murad yang juga menemukan kista dentigerus
sering terjadi pada perempuan daripada laki-laki lebih banyak ditemukan pada maksila.10
yaitu 2,6:1. Sedangkan khusus kista dentigerus Gambaran klinis dari kista odontogenik yang
rasio antara perempuan dan laki-laki adalah 2,2:1. khas adalah adanya benjolan pada daerah maksila
atau mandibula, yang umumnya tidak
PEMBAHASAN menimbulkan gejala dan tidak menimbulkan nyeri
Pada penelitian ini didapati usia termuda sehingga penderita biasanya tidak memperdulikan
pada anak perempuan berumur 5 tahun dengan bila benjolan tersebut masih kecil. Penderita
kista dentigerus, dan anak laki-laki berumur 8 biasanya mulai memberikan perhatian bila
tahun juga dengan kista dentigerus. Isser dan Dos benjolan bertambah besar dan menyebabkan
yang mengutip beberapa sumber melaporkan ketidaksimetrisan pada wajah. Pada kista yang
adanya kista dentigerus pada anak perempuan besar akan ditemukan tanda pingpong ball
berumur 13 tahun dan pada anak laki-laki berusia phenomena, baik pada kista dentigerus maupun
9
10 tahun. kista radikuler. Pasien yang datang umumnya
Meskipun beberapa kepustakaan melaporkan sudah pada stadium lanjut sehingga semua gejala-
bahwa kista radikuler merupakan kista yang gejala di atas dapat ditemukan pada kedelapan
paling banyak ditemukan diantara kista-kista di belas kasus tersebut.
2,5
rahang, yaitu berkisar 65-70%. Smith yang Berdasarkan gambaran radiologisnya, kista
mengutip Kay dan Laskin bahkan ada dentigerus sangat mudah dibedakan dengan kista
menyebutkan sekitar 85% dari kista-kista pada radikuler. Pada kista dentigerus tampak suatu
7
rahang. Kista dentigerus menduduki peringkat gambaran radio-opak dari gigi yang tidak erupsi
kedua terbanyak yaitu berkisar 24% dari semua atau gigi impaksi dan dikelilingi oleh cairan yang
2,5
kista pada rahang. Pada penelitian ini, kista tampak sebagai bayangan radiolusen. Kedua jenis
dentigerus merupakan kasus yang terbanyak yaitu kista tersebut menunjukkan batas yang tegas,
16 kasus dari 18 kasus odontogenik, sedangkan sebagai gambaran dari adanya kapsul yang
kista radikuler hanya 2 kasus. dibentuk oleh selapis sel dan jaringan kolagen.
Menurut lokasi tempat timbulnya kista, untuk Pemeriksaan histopatologis hanya dilakukan
kista dentigerus, beberapa peneliti mendapatkan pada 5 kasus. Tiga kasus menunjukan gambaran
Freddy G. Kuhuwael: Kista odontogenik di rumah sakit 87

kista odontogenik sedangkan 2 kasus menunjukan 2. Dunlap C. Cysts of the jaws. Kansas: School
of Dentistry University of Missouri; 2000.
kista yang jinak.
p.1-8.
Penanganan kista jenis ini berupa 3. Ko KSC, Dover DG, Jordan RCK. Bilateral
pembedahan pengangkatan kista secara enukleasi dentigerous cystc - report of an unusual case
pada 17 kasus, dan 1 kasus dilakukan and review of the literature. Canadian Dental
marsupialisasi pada kista dentigerus rahang association, available at
http:/www.usc.edu/hsc/dental/opfs/OC/01tn.ht
bawah. Hasil pemantauan setelah beberapa bulan
ml was accessed on May 12th, 2007. J Can
seluruhnya memberikan hasil yang baik. Dent Assoc.
4. Cheesnan A, Jani P. Cyst, granuloma and
SIMPULAN tumors of the jaws, nose and sinuses. In:
Ditemukan 18 kasus kista odontogenik Laryngology and head and neck surgery.
Hibbert J (editor). London: Reed Educational
selama kurun waktu 1999-2008 di Bagian Ilmu
and Professional Publishing Ltd; 1997. p.
Kesehatan THT-KL RS Wahidin Sudirohusodo 5/23/1-7.
Makassar. Enam belas kasus kista dentigerus dan 5. Dierks EJ, Berystein ML. Odontogenic cysts,
2 kasus kista radikuler. Gejala yang tampak tumours and related jaws lesions. In: Head and
neck surgery otolaryngology, volume 2.
berupa benjolan pada pipi, tidak disertai ping pong
Bailey BL (editor). 2nd ed. Philadelphia:
ball phenomena dan gambaran radiologis yang Lippincott Raven Publisher; 1998. p. 1541-
khas untuk kista dentigerus dan kista radikuler. 58.
Menurut lokasinya dari 16 kasus kista dentigerus, 6. Nevile BW, Damm DD. Odontogenic cysts
14 kasus terdapat pada maksila, dan 2 kasus pada and tumors. In: Oral & maxillofacial
pathology, 2nd ed. Philadelphia: W.B.
mandibula. Sedangkan 2 kasus kista radikuler
Saunders Company; 1995. p. 589-93.
terdapat pada maksila. Tingkat jadian pada 7. Smith RA. Spesific atypes of jaw cyst in jaw
perempuan lebih sering dari pada laki-laki dengan cysts. In: A Lange Medical Book: Current
rasio 2,6:1. Umur termuda kista dentigerus diagnostic and treatment in otolaryngology-
ditemukan pada anak berusia 5 dan 8 tahun. head and neck surgery. Lalwani AK, editor.
Boston: Mc. Grew Hill Companies; 2004.
Penanganan kasus kista odontogenik dilakukan
p.390-403.
secara enukleasi pada 17 kasus dan marsupialisasi 8. Larsen PE, Hegvedt AK. Odontogenesis and
pada 1 kasus. odontogenic cyst and tumors in
otolaryngology - head and neck surgery, 2nd
DAFTAR PUSTAKA ed. New York; 1999. P.1414-32.
9. Isser DK, Dos S. Dentigerous cyst in a young
1. Liston SL. Kista rahang dan dasar mulut boy. Indian J Otolaryngol Head Neck Surg
dalam embriologi, anatomi dan fisiologi 2002; 54 (1): 1-2.
rongga mulut, faring, esofagus dan leher: 10. Murad AH. Dentigerous cyst. Available at
Buku Ajar Penyakit THT. Edisi ke-6. Jakarta: http://www.priory.com. Accessed on June
Penerbit Buku Kedokteran EGC;2000.p.263- 11th, 2007.
82.