You are on page 1of 10

, 06 Desember 2010

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Hipoglikemia adalah kadar glukosa puasa yang lebih rendah dari 70 mg/dl.

Hipoglikemia merupakan salah satu kegawatan diabetic yang mengancam, sebagai akibat dari
menurunnya kadar glukosa darah < 60 mg/dl.

Hipoglikemia dapat terjadi karena ketidakseimbangan antara makanan yang dimakan dan latihan
jasmani serta obat yang digunakan. Pengobatan terbaik hipoglikemia adalah mencegah terjadinya
hipoglikemia.

2.2 Etiologi

Etiologi hipoglikemi pada diabetes melitus (DM)

1. Hipoglikemi pada DM stadium dini.

2. Hipoglikemi dalam rangka pengobatan.

a. Penggunaan insulin.

b. Penggunaan sulfonilurea.

c. Bayi yang lahir dari ibu berkaitan dengan DM

3. Hipoglikemi yang tidak berkaitan dengan DM.

a. Hiperinsulinisme alimenter pascagastrektoni.

b. Insulinoma

c. Tumor ekstrapankreatik : fibsosorkoma, karsinoma ginjal.

d. Hipopituitarisme.
2.3 Faktor Predisposisi

Faktor predisposisi terjadinya hipoglikemi pada pasien yang mendapat pengobatan insulin atau
sulfonilurea.

1. Faktor-faktor yang berkaitan dengan pasien.

- Pengurangan/keterlambatan makan.

- Kesalahan dosis akut.

- Perubahan tempat suntikan insulin.

- Penurunan kebutuhan insulin.

Penyembuhan dari penyakit.

Nefropati diabetik

Hipotiroidisma.

Penyakit addison.

Hipopiturtarisme.

- Hari-hari pertama persalinan.

- Penyakit hati berat.

- Gastroparesis diabetik.

2. Faktor- faktor yang berkaitan dengan dokter.

- Pengendalian glukosa darah yang ketat.

- Pemberian obat-obat yang mempunyai potensi hipoglikemik.

- Penggantian jenis insulin.

2.4 Patofisiologi

Ketergantungan otak setiap saat pada glukosa yang disuplai oleh sirkulasi diakibatkan oleh
ketidakmampuan otak untuk membakar asam lemak berantai panjang, kurangnya simpanan glukosa
sebagai glikogen di dalam otak orang dewasa, dan ketidaktersediaan keton dalam fase makan atau
kondisi posabsorptif.
Terdapat sedikit perdebatan tentang manakala gula darah turun dengan tiba-tiba, otak mengenali
defisiensi energinya setelah kadar serum turun jauh dibawah sekitar 45 mg/dl. Kadar dimana gejala-
gejala timbul akan berbeda dari satu pasien dengan pasien lain, dan bukanlah hal yang tidak lazim pada
kadar serendah 30 sampai 35 mg/dl untuk terjadi (spt, selama tes toleransi glukosa) tanpa gejala-gejala
yang telah disebutkan.

Yang lebih kontroversial adalah pertanyaan tentang apakah gejala-gejala dapat berkembang dalam
berespon terhadap turunnya kadar gula darah bahkan sebelum turun di bawah batasan kadar normal.
Karena suatu respon fisiologi tertentu, seperti pelepasan hormon pertumbuhan, terjadi dengan
penurunan gula darah namun tetap normal, tampaknya gejala-gejala terjadi pada kondisi ini, tetapi
stimulus penurunan kadar kemungkinan kurang kuat dan konsisten dibanding penurunan dibawah
ambang absolut. Bagaimanapun, otak tampak dapat beradaptasi sebagian terhadap penurunan kadar
gula darah, terutama jika penurunan terjadi lambat dan kronis. Bukanlah hal yang tidak lazim bagi
pasien dengan gula darah yang sangat rendah, seperti yang terjadi pada tumor pensekresi insulin, untuk
memperlihatkan fungsi serebral yang sangat normal dalam menghadapi gula darah yang rendah terus
menerus dibawah batasan normal.

2.5 Manifestasi Klinis

Gejala-gejala hipoglikemia disebabkan oleh pelepasan epinefrin (berkeringat, gemetar, sakit kepala, dan
palpitasi), juga akibat kekurangan glukosa dalam otak (tingkah laku yang aneh, sensorium yang tumpul,
dan koma).

Gejala-gejala hipoglikemia juga terdiri dari dua fase, yaitu :

1. Fase 1, gejala-gejala akibat aktivasi pusat autonom di hipotalamus sehingga hormon epinefrin
dilepaskan. Gejala awal ini merupakan peringatan karena saat itu pasien masih sadar sehingga dapat
diambil tindakan yang perlu untuk mengatasi hipoglikemia lanjut.

2. Fase 2, gejala-gejala yang terjadi akibat mulai terganggunya fungsi otak, karena itu dinamakan gejala
neurologis.

Hipoglikemi terjadi karena adanya kelebihan insulin dalam darah sehingga menyebabkan rendahnya
kadar gula dalam darah. Kadar gula darah yang dapat menimbulkan gejala-gejala hipoglikemi, bervariasi
antara satu dengan yang lain.

Pada awalnya tubuh memberikan respon terhadap rendahnya kadar gula darah dengan melepasakan
epinefrin (adrenalin) dari kelenjar adrenal dan beberapa ujung saraf. Epinefrin merangsang pelepasan
gula dari cadangan tubuh tetapi jugamenyebabkan gejala yang menyerupai serangan kecemasan
(berkeringat, kegelisahan, gemetaran, pingsan, jantung berdebar-debar dan kadang rasa lapar).
Hipoglikemia yang lebih berat menyebabkan berkurangnya glukosa ke otak dan menyebabkan pusing,
bingung, lelah, lemah, sakit kepala, perilaku yang tidak biasa, tidak mampu berkonsentrasi, gangguan
penglihatan, kejang dan koma. Hipoglikemia yang berlangsung lama bisa menyebabkan kerusakan otak
yang permanen. Gejala yang menyerupai kecemasan maupun gangguan fungsi otak bisa terjadi secara
perlahan maupun secara tiba-tiba. Hal ini paling sering terjadi pada orang yang memakai insulin atau
obat hipoglikemik per-oral. Pada penderita tumor pankreas penghasil insulin, gejalanya terjadi pada pagi
hari setelah puasa semalaman, terutama jika cadangan gula darah habis karena melakukan olah raga
sebelum sarapan pagi. Pada mulanya hanya terjadi serangan hipoglikemia sewaktu-waktu, tetapi lama-
lama serangan lebih sering terjadi dan lebih berat.

2.6 Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan glukosa darah sebelum dan sesudah suntikan dekstrosa.

2.7 Penatalaksanaan Kegawatdaruratan

Gejala hipoglikemia akan menghilang dalam beberapa menit setelah penderita mengkonsumsi gula
(dalam bentuk permen atau tablet glukosa) maupun minum jus buah, air gula atau segelas susu.
Seseorang yang sering mengalami hipoglikemia (terutama penderita diabetes), hendaknya selalu
membawa tablet glukosa karena efeknya cepat timbul dan memberikan sejumlah gula yang konsisten.
Baik penderita diabetes maupun bukan, sebaiknya sesudah makan gula diikuti dengan makanan yang
mengandung karbohidrat yang bertahan lama (misalnya roti atau biskuit). Jika hipoglikemianya berat
dan berlangsung lama serta tidak mungkin untuk memasukkan gula melalui mulut penderita, maka
diberikan glukosa intravena untuk mencegah kerusakan otak yang serius. Seseorang yang memiliki
resiko mengalami episode hipoglikemia berat sebaiknya selalu membawa glukagon. Glukagon adalah
hormon yang dihasilkan oleh sel pulau pankreas, yang merangsang pembentukan sejumlah besar
glukosa dari cadangan karbohidrat di dalam hati. Glukagon tersedia dalam bentuk suntikan dan biasanya
mengembalikan gula darah dalam waktu 5-15 menit. Tumor penghasil insulin harus diangkat melalui
pembedahan. Sebelum pembedahan, diberikan obat untuk menghambat pelepasan insulin oleh tumor
(misalnya diazoksid). Bukan penderita diabetes yang sering mengalami hipoglikemia dapat menghindari
serangan hipoglikemia dengan sering makan dalam porsi kecil.

BAB 3

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian

1. Riwayat
Sakit kepala

Gangguan penglihatan

Palpitasi

Mual dan mutah

Kelemahan

Peningkatan tekanan darah

Kejang

Koma

2. Hasil Pemeriksaan Diagnostik

Prosedur khusus: untuk hipoglikemia reaktif tes toleransi glukosa postpradial oral 5 jam menunjukkan
glukosa serum <50 mg/dl setelah 5 jam.

Pengawasan di tempat tidur: peningkatan tekanan darah.

Pemeriksaan laboratorium: glukosa serum <50 mg/dl, spesimen urin dua kali negatif terhadap glukosa.

EKG: Takikardia.

3. Pemeriksaan Fisik

Inspeksi: Pucat, diaforesis, Kulit lembab dan dingin, gemetar, peningkatan pernafasan dangkal.

Palpasi: Piloreksi, kelemahan motorik.

Auskultasi:

Gastrointestinal: peningkatan bising usus.

Kardiovaskuler: Takikardia.

3.2 Diagnosa Keperawatan

1. Resiko komplikasi b/d kadar glukosa plasma yang rendah seperti, gangguan mental, gangguan
perkembangan otak, gangguan fungsi saraf otonom, koma hipoglikemi

2. Perubahan sensori perseptual b/d ketidakseimbangan glukosa


3. Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d penurunan masukan oral

4. Kelelahan b/d penurunan energi metabolik

3.3 Intervensi

1. Resiko komplikasi b/d kadar glukosa plasma yang rendah seperti, gangguan mental, gangguan
perkembangan otak, gangguan fungsi saraf otonom, koma hipoglikemi.

Cek serum glukosa sebelum dan setelah makan

Monitor : kadar glukosa, pucat, keringat dingin, kulit yang lembab

Monitor vital sign

Monitor kesadaran

Monitor tanda gugup, irritabilitas

Lakukan pemberian susu manis peroral 20 cc X 12

Analisis kondisi lingkungan yang berpotensi menimbulkan hipoglikemi.

Cek BB setiap hari

Cek tanda-tanda infeksi

Hindari terjadinya hipotermi

Lakukan kolaborasi pemberian Dex 15 % IV

Lakukan kolaborasi pemberian O2 1 lt 2 lt /menit

2. Diagnosa keperawataan: Defisit volume cairan b/d kehilangan gastrik berlebihan.

Kriteria hasil:

Mendemonstrasikan hidrasi adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer dapat diraba,
turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urin tepat secara individu, dan kadar elektrolit dalam
batas normal.

Intervensi Rasional

Mandiri
Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan ortostatik. Hipoglikemia dapat dimanifestasikan oleh
takikardia

Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit, dan membran mukosa. Merupakan indikator dari tingkat
dehidrasi, atau volume sirkulasi yang adekuat.

Ukur berat badan setiap hari. Memberikan hasil pengkajian yang terbaik dari status cairan yang sedang
berlangsung dan selanjutnya dalam memberikan cairan pengganti

Catat hal-hal yang sering di laporkan seperti mual, nyeri abdomen, muntah dan distensi lambung.
Kekurangan cairan dan elektrolit mengubah motilitas lambung, yang seringkali akan menimbulkan
muntah dan secara potensial akan menimbulkan kekurangan cairan dan elektrolit.

Kolaborasi

Berikan terapi cairan sesuai dengan indikasi, normal salin atau setengah normal salin dengan atau tanpa
dekstrosa. Mengembalikan cairan yang adekuat.

3. Diagnosa Keperawatan : Perubahan sensori perseptual b/d ketidakseimbangan glukosa.

Kriteria Hasil :

Mempertahankan tingkat mental biasanya.

Mengenali dan mengkompensasi adanya kerusakan sensori.

Intervensi Rasional

Mandiri

Pantau tanda-tanda vital dan status mental. Sebagai dasar untuk membandingkan temuan abnormal,
seperti suhu yang meningkat dapat mempengaruhi mental.

Panggil pasien dengan nam, orientasikan kembali sesuai dengan kebutuhannya, misalnya terhadap
tempat, orang, dan waktu. Menurunkan kebingungan dan membantu untuk mempertahankan kontak
dengan realitas.

Lindungi pasien dari cedera (gunakan pengikat) ketika tingkat kesadaran pasien terganggu. Berikan
bantalan lunak pada pagar tempat tidur dan berikan jalan nafas buatan yang lunak jika pasien
kemungkinan mengalami kejang. Pasien mengalami disorientasi merupakan awal kemungkinan
timbulnya cedera, terutama amalam hari dan perlu pencegahan sesuai indikasi.

Berikan tempat tidur yang lembut. Pelihara kehangatan kaki/tangan, hindari terpajan terhadap air panas
atau dingin atau penggunaan bantalan atau pemanas. Meningkatkan rasa nyaman dan menurunkan
kemungkinan kerusakan kulit karena panas.
Kolaborasi

Pantau nilai laboratorium, glukosa darah. Keseimbangan nilai laboratorium ini dapat menurunkan fungsi
mental.

4. Diagnosa Keperawatan : Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d penurunan masukan oral

Kriteria Hasil :

Mencerna jumlah kalori/nutrien yang tepat.

Menunjukkan tingkat energi biasanya.

Mendemonstrasikan berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya/yang diinginkan
dengan nilai laboratorium normal.

Intervensi Rasional

Mandiri

Timbang berat badan setiap hari atau sesuai dengan indikasi. Mengkaji pemasukan makanan yang
adekuat (termasuk absorpsi dan utilitisnya).

Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan
pasien. Mengidentifikasi kekurangan dan penyimpangan dari kebutuhan terapeutik.

Berikan makanan cair yang mengandung zat makanan (nutrien) dan elektrolit dengan segera jika pasien
sudah dapat mentoleransinya melalui pemberian cairan melalui oral. Pemberian makanan melalui oral
lebih baik jika paien sdar dan fungsi gastrointestinalnya baik.

Libatkan keluarga pasien pada perencanaan makan ini sesuai dengan indikasi. Meningkatkan rasa
keterlibatannya, memberikan informasi pada keluarga untuk memahami kebutuhan nutrisi pasien.

Kolaborasi

Konsultasi dengan ahli diet. Sangat bermanfaat dalam perhitungan dan penyesuaian diet untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi pasien.

5. Diagnosa Keperawatan : Kelelahan b/d penurunan energi metabolik

Kriteria Hasil :

Mengungkapkan peningkatkan energi.

Menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan.


Intervensi Rasional

Mandiri

Diskusikan dengan pasien kebutuhan akan aktivitas. Pendidikan dapat memberikan motivasi untuk
meningkatkan tingkat aktifitas meskipun pasien mungkin sangat lemah.

Pantau nadi, frekuensi pernafasan dan tekanan darah sebelum/sesudah melakukan aktivitas.
Mengidentifikasi tingkat aktifitas yang dapat ditoleransi secara fisiologis.

Tingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan yang dapat
ditoleransi. Meningkatkan kepercayaan diri/harga diri yang positif sesuai tingkat aktivitas yang dapat
ditoleransi pasien.

3.4 Implementasi

Memperbaiki status cairan

Mempertahankan nutrisi yang adekuat

Mengurangi kelelahan

Mengurangi rasa cemas atau takut

Memberi pengetahuan

3.5 Evaluasi

Keseimbangan cairan membaik

Kelelahan berkurang dan tidak merasa lelah

Nutrisi yang adekuat dan dapat mempertahankan berat badan dan dapat memilih makanan, jumlah,
dan distribusi makanan yang cocok.

Rasa takut atau cemas berkurang

Memperoleh pengetahuan yang cukup

BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Hipoglikemia merupakan salah satu kegawatan diabetic yang mengancam, sebagai akibat dari
menurunnya kadar glukosa darah < 60 mg/dl. Tanda dan gejala hipoglikemia terdiri dari Fase I,gejala
gejala akibat aktivasi pusat autonom di hipotalamus sehingga hormon epinefrin di lepaskan. Gejala awal
ini merupakan peringatan karna saat itu pasien masih sadar sehingga dapat di ambil tindakan yang perlu
untuk mengatasi hipoglikemia lanjut.Fase II, gejala-gejala yang terjadi akibat mulai terganggunya fungsi
otak , karena itu dinamakan gejala neurologis.

DAFTAR PUSTAKA

Arif, M. Mansjoer. Kapita Selekta Kedokteran FKUI. Jakarta : Media Aesculapius.

Carpenito Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.

Doenges, E. Marilynn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakata : EGC.

Emedicine Journal, Emergency medicine.

http://doctorsjournals.wordpress.com/

Hudak, M. Carolyn. 1996. Keperawatan Kritis. Jakarta : EGC.