You are on page 1of 94

VOLUME V, NOMOR 1, MARET TAHUN 201 ISSN 2302-2124

JEms
Emasains
JURNAL EDUKASI
MATEMATIKA dan SAINS
Model Pembelajaran Think Pair Share pada Bentuk Penilaian Portofolio Berbasis
Kelas dan Jenis Sekolah terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika.
Persepsi Kualitas Pengajaran Mata Kuliah Metode Numerik.
Potensi Ekowisata Di Kelurahan Serangan dan Upaya-Upaya Pengembangannya.
Pengaruh Metode Pembelajaran Luar Kelas Berbantuan Kebun Sekolah Terhadap
Hasil Belajar Biologi.
Meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar matematika melalui pengajaran
dan pembelajaran contextual teaching learning (CTL).
Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Auditory, Intellectually, And Repetition
Terhadap Kompetensi Matematis Dengan Mengontrol Bakat Numerik.
Hubungan Motivasi Berprestasi, Kebiasaan Belajar dan Minat Belajar Terhadap
Hasil Belajar Matematika.
Pengaruh Disposisi Matematis dan Kecerdasan Logis Matematis Terhadap Hasil
Belajar Matematika.
Karakterisasi Morfologis Trichoderma sp. Isolat JB dan Daya Antagonisme
Terhadap Patogen Penyebab Penyakit Rebah Kecambah (Sclerotium rolfsii sacc.)
pada Tanaman Tomat.
Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry) Berbantuan Media
Kotak Kartu Misterius (KOKAMI) terhadap Minat dan Hasil Belajar Biologi.
Pengaruh Model Pembelajaran Multiple Intelligences Berbasis Naturalistik
terhadap Minat dan Hasil Belajar Biologi

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) PGRI BALI
Jln Akasia Desa Sumerta No.: 16 Denpasar Timur
Telp. (0361) 265693 Email: fpmipaikippgribali@yahoo.co.id

Bentuk Tes Dalam Pembelajaran Matematika


JEms
Emasains jurnal edukasi matematika dan sains

Emasains, Jurnal Edukasi Matematika dan Sains terbit dua kali dalam setahun (Maret dan September),
Berbahasa Indonesia maupun Inggris. Sebagai media komunikasi ilmiah dengan kajian masalah pendidikan,
pendidikan matematika, sains dan lingkungan hidup. Memuat tulisan yang berasal dari hasil penelitian,
kajian teoretis dan aplikasi teori.

Penasehat
Dr. I Made Suarta, SH., M. Hum

Penanggungjawab
Dra. Ni Nyoman Parmithi, MM

Ketua Redaksi
Drs. I Nengah Suka Widana, M.Si

Sekretaris Redaksi
Dra. I Gusti Ayu Rai, M.Si.; I Wayan Eka Mahendra, S.Pd., M.Pd

Redaksi Ahli
Prof.Dr. I Wayan Suparta, M.S (UNUD).
Prof. Dr. Putu Budiadnyana, M.Si (Undiksha Singaraja).
Dr. Bayu Aji (LIPI-Kebun Raya Eka Karya Bali).
Dr. Ir. I G.N. Alit Wirya Susanta, M.Agr. (UNUD).
Drs. I Wayan Budiyasa, M.Si. (IKIP PGRI Bali).
Drs. I Dewa Putu Juwana, M.Pd. (IKIP PGRI Bali).

Redaksi Pelaksana
Drs. Made Surat, M.Pd.; Drs I Wayan Sudiarsa, M.Si.;
Drs. I Made Subrata; M.Si; I Wayan Widana, S.Pd., M.Pd.
Drs. I Wayan Suanda, SP. , M.Si.; Edy Hermawan, S.Pd., S.Kom.,
I Gusti Agung Gede Wiadnyana, S.Pd., M.Pd.

Bendahara
N.Putri Sumaryani, SP., NM.MA.

Distribusi
I Putu Sukerteyasa, S.Pd., M.Pd; Gustut Ariana, S.Pd.

Pembantu Pelaksana Tata Usaha


Sri Utami, S.Pd, M.Pd; Ni G.A.Nyoman Sri Ernawati.

Alamat Redaksi
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IKIP PGRI Bali
Jln Akasia Desa Sumerta No.: 16 Denpasar Timur
Telp. (0361) 265693 Email: fpmipaikippgribali@yahoo.co.id
JEms
Emasains jurnal edukasi matematika dan sains

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
SUSUNAN ORGANISASI PENGELOLA JURNAL EMASAINS ii
DAFTAR ISI iii

Pengaruh Model Pembelajaran Think Pair Share pada Bentuk Penilaian Portofolio Berbasis
Kelas dan Jenis Sekolah terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa.
Sri Hartini 1-10
Persepsi Kualitas Pengajaran Mata Kuliah Metode Numerik.
Ni Kadek Rini Purwati dan Made Surat 11-17
Potensi Ekowisata Di Kelurahan Serangan dan Upaya-Upaya Pengembangannya.
I Ketut Saskara, Ni Nyoman Parmithi, dan I Made Subrata .... 18-28
Pengaruh Metode Pembelajaran Luar Kelas Berbantuan Kebun Sekolah terhadap Hasil Belajar
Biologi.
Ni Nyoman Trisna Widari, I Nengah Suka Widana, N. Putri Sumaryani .. 29-36
Meningkatkan Hasil Belajar dan Aktivitas Belajar Matematika Melalui Pengajaran Dan
Pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) Pada Siswa Kelas Xii IPA 3 SMA Negeri 1
Kuta Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2014/2015.
Luh Made Sri Yuniati, I Komang Sukendra I Wayan Edy Hermawan.................................................... 37-43
Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Auditory, Intellectually, And Repetition Terhadap
Kompetensi Matematis Dengan Mengontrol Bakat Numerik.
Ni Wayan Sunita, I Wayan Sudiarsa dan I Wayan Eka Mahendra. 44-51
Hubungan Motivasi Berprestasi, Kebiasaan Belajar dan Minat Belajar Terhadap Hasil Belajar
Matematika.
Dewa Gede Juliana Santika Putra, I Wayan Widana dan I Wayan Sumandya 52-63
Pengaruh Disposisi Matematis Dan Kecerdasan Logis Matematis Terhadap Hasil Belajar Matematika.
Ibnu Muthi 64-69
Karakterisasi Morfologis Trichoderma sp. Isolat JB dan Daya Antagonisme terhadap Patogen
Penyebab Penyakit Rebah Kecambah (Sclerotium rolfsii sacc.) pada Tanaman Tomat
I Wayan Suanda, dan Ni Wayan Ratnadi........ 70-75
Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry) Berbantuan
Media Kotak Kartu Misterius (KOKAMI) Terhadap Minat dan Hasil Belajar Biologi Peserta Didik
Kelas Xi MIA SMA Negeri 5 Denpasar Tahun Pelajaran 2016/2017 76-82
Made Maharani Dana, I Wayan Budiyasa, Anak Agung Istri Mirah Darmadewi.
Pengaruh Model Pembelajaran Multiple Intelligences Berbasis Naturalistik terhadap Minat dan
Hasil Belajar Biologi 83-89
Ni Kadek Prita Paradayang, dan I Gusti Ayu Rai.

PEDOMAN PENULISAN EMASAINS


PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE PADA BENTUK
PENILAIAN PORTOFOLIO BERBASIS KELAS DAN JENIS SEKOLAH
TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA

Sri Hartini
FKIP-Universitas Wiralodra Indramayu Jabar
Email: hartini5511@yahoo.co.id.

ABSTRACT
The Influence of Think Pair Share Learning Model on the Form of Portofolio Assessment
based on Class and Type of School on Students Math Problem Solving Abilities
The objective of the present research is to determine whether there is or not the effect of
think pair share learning model on class- and school type-based portfolio assessment model
and its interaction effect on the mathematical problem solving capability of students in both
elementary schools and madrasah ibtidaiyahs in Indramayu.The research method used was an
experimental method with a 2x2 factorial design. Learning method, assessment mode, and
school type were the treatment variables, and mathematical problem solving capability was
respond variable. The research sample was grade-V students of SDNs Margadadi V & VI and
grade-V students of Al-Irsyad of Indramayu selected by a cluster random sampling. The
analysis technique used was two-way ANAVA to test both main effect and interaction
effect.From the research result it was concluded that (1) the elementary school student group
treated with think pair share learning model and display portfolio assessment mode was more
effective in enhancing mathematical problem solving capability than madrasah ibtidaiyah
group, (2) madrasah ibtidaiyah students group treated with think pair share learning model
and document portfolio assessment mode was more effective in enhancing mathematical
problem solving capability than elementary school student group.
It was suggested that think pair share learning model with a display portfolio assessment
mode should be made as a learning strategy prioritized in elementary school while think pair
share learning model with a document portfolio assessment mode should be made as a
learning strategy prioritized in madrasah ibtidaiyah.

Keywords: Think Pair Share Learning, Portfolio Assessment, School Type, Students
Problem Solving Abilities

PENDAHULUAN adalah dengan mempelajari, memahami dan


Dalam konteks penyelenggaraan selanjutnya mempraktekkan Desain
pendidikan di sekolah diwujudkan dalam Pembelajaran Berorientasi Pencapaian
bentuk interaksi proses pembelajaran yang Kompetensi atau dikenal dengan Desain
melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa Sistem Instruksional Berorientasi Pencapaian
sebagai peserta didik, guru dengan sadar Kompetensi (DSI-PK). DSI-PK adalah
merencanakan kegiatan pengajarannya gambaran proses rancangan sistematis
secara sistematis dan berpedoman pada tentang pengembangan pembelajaran baik
seperangkat aturan dan rencana tentang mengenai proses maupun bahan
pendidikan yang dikemas dalam bentuk pembelajaran yang sesuai kebutuhan dalam
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) upaya pencapaian kompetensi. Untuk
berdasarkan pada kurikulum. Konsep ini implementasi kurikulum pada Sekolah
didukung oleh Husamah dan Setyaningrum Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI),
(2013: viii) yang mengungkapkan langkah dilakukan secara bertahap mulai tahun
tepat yang harus dilakukan oleh guru untuk pelajaran 2013/2014. Kemampuan
menyongsong implementasi Kurikulum 2013 pemecahan masalah merupakan suatu
kompetensi yang harus dikuasai siswa pada peyelesaian masalah, memilih dan
pembelajaran matematika, yang melaksanakan strategi untuk menyelesaikan
memungkinkan siswa memperoleh masalah, melaksanakan perhitungan, dan
pengalaman menggunakan pengetahuan serta menginterpretasi solusi terhadap masalah
ketrampilan yang bersifat tidak rutin. Hal semula serta memeriksa kebenaran solusi.
senada dikemukakan oleh Ormrod (2009: Selanjutnya masalah menurut Shadiq (2014:
393) bahwa pemecahan masalah adalah 104) merupakan pertanyaan yang menuntut
menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk dijawab atau direspon, akan tetapi
untuk menjawab pertanyaan yang belum tidak semua pertanyaan akan merupakan
terjawab dan situasi yang sulit. Selanjutnya suatu masalah. Suatu pertanyaan akan
Solso dkk. (2005: 437) menambahkan bahwa menjadi masalah hanya jika pertanyaan itu
pemecahan masalah diuraikan menjadi enam menunjukkan adanya tantangan (challenge)
tahapan yaitu: identification the problem, yang tidak dapat dipecahkan oleh suatu
representation of the problem, planning the prosedur rutin (routine procedure) yang
solution, execute the plan, evaluate the plan, sudah diketahui si pelaku. Seperti yang
and evaluate the solution. Sejalan dengan dinyatakan Cooney, et al. dalam Shadiq
pendapat tersebut menurut Hendriana dan (2014: 104), ..for a question to be a
Soemarmo (2014: 22) proses pemecahan problem, it must present a challenge that
masalah matematika berbeda dengan proses cannot be resolved by some routine
menyelesaikan soal matematika. Perbedaan prosedure known to the student.
tersebut terkandung dalam istilah masalah Peran matematika di dalam kehidupan
dan soal. Menyelesaikan soal atau tugas mulai dari aktifitas sehari-hari sampai
matematika belum tentu sama dengan dengan pengembangan ilmu pengetahuan
memecahkan masalah matematika. Apabila dan teknologi (IPTEK) sangatlah
suatu tugas matematika dapat segera penting.Perkembangan IPTEK yang pesat
ditemukan cara menyelesaikannya, maka menuntut peningkatan penguasaan
tugas tersebut termasuk pada tugas rutin dan kemampuan matematika bagi warga
bukan merupakan masalah. Suatu tugas masyarakat.Hadi (2005: 5) menyatakan
matematika digolongkan sebagai masalah bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi yang
matematika apabila tidak dapat segera dicapai saat ini banyak ditunjang oleh
diperoleh cara menyelesaikannya namun penemuan matematika. Selanjutnya Wijaya
harus melalui beberapa kegiatan lainnya (2012: 2) mengungkapkan pencapaian siswa
yang relevan. Pendapat tersebut hampir sama Indonesia dalam PISA (Programme for
seperti yang dikatakan Polya yang dikutip International Student Assessment)
Margono (2007: 45) juga mengemukakan Matematika sangatlah rendah dan dengan
bahwa, ada empat tahapan pada pemecahan menggunakan hasil PISA tersebut dapat
masalah matematika yaitu memahami dipakai untuk memperbaiki kualitas
masalah, merancang pemecahan masalah, pendidikan serta melakukan refleksi atas
menyelesaikan masalah, memeriksa kembali praktek pembelajaran matematika yang
hasil. Oleh karena itu pemecahan masalah selama ini kita lakukan. Seperti yang
merupakan suatu tingkat aktivitas intelektual dikatakan oleh Suriasumantri (2009: 203)
yang tinggi, dimana siswa didorong dan bagi dunia keilmuan matematika mempunyai
diberi kesempatan untuk berinisiatif dalam peran sebagai bahasa simbolik yang
menghadapi suatu masalah. Adapun salah memungkinkan terwujudnya komunikasi
satu tujuan belajar matematika adalah yang cermat dan tepat, sehingga dalam
mengembangkan kemampuan pemecahan hubungannya dengan komunikasi ilmiah
masalah. Beberapa kegiatan dalam proses mempunyai peran ganda, yaitu sebagai ratu
pemecahan masalah matematka menurut dan sebagai pelayan ilmu.
Hendriana dan Soemarmo (2014: 22) yaitu: Selanjutnya menurut Wittgenstein yang
mengidentifikasi kecukupan unsur untuk dikutip oleh Suriasumantri (2009: 199)
menyatakan bahwa matematika adalah Hamdayama (2014: 81) adalah salah satu
metode berpikir logis, sehingga dalam metode pembelajaran kooperatif terdiri atas
menghadapi masalah logika yang semakin tiga tahapan, yaitu thinking, pairing, dan
lama semakin rumit dan membutuhkan sharing.Dalam hal ini guru tidak lagi sebagai
struktur analisis yang lebih sempurna, maka satu-satunya sumber pembelajaran (teacher
logika berkembang menjadi matematika. oriented), tetapi justru siswa dituntut untuk
Mengingat pentingnya pemecahan masalah dapat menemukan dan memahami konsep-
dalam pembelajaran matematika tersebut konsep baru (student oriented).
maka masalah yang diberikan kepada siswa Selanjutnya dijelaskan oleh Suprijono (2010:
untuk diselesaikannya harus sesuai dengan 91), Think Pair Share diawali dari
tingkat perkembangan intelektual dan latar Thinking yaitu guru mengajukan
belakang pengetahuannya.Seperti yang pertanyaan atau isu yang terkait dengan
dikatakan Hudojo (1988: 84) bahwa berpikir pelajaran untuk dipikirkan oleh siswa,
matematika merupakan kegiatan mental yang kemudian memberikan kesempatan untuk
tinggi. Karena itu berpikir matematika akan memikirkan jawabannya. Selanjutnya
menyangkut struktur mental, yaitu dengan Pairing yaitu meminta siswa untuk
sasaran kepada hubungan, pola, bentuk dan berpasang-pasangan, kemudian memberi
struktur. Dan menurut Johnson dan Rising kesempatan untuk berdiskusi dengan
(1987: 126), matematika adalah pola pasangannya untuk memperdalam makna
berpikir, pola mengorganisasikan, dari jawaban yang telah dipikirkannya.
pembuktian yang logik, dan bahasa yang Berikutnya Sharing yaitu tanya jawab
digunakan dengan istilah yang didefinisikan yang mendorong pada pengonstruksian
dengan cermat, jelas dan akurat. Selanjutnya pengetahuan secara integratif.Dapat
menurut Soedjadi (2000: 13), matematika dikatakan bahwa model pembelajaran Think
ditinjau dari obyeknya jelas bukanlah Pair Share atau berpikir berpasangan
merupakan benda konkrit, tetapi berupa merupakan jenis pembelajaran kooperatif
benda pikiran yang abstrak yang yang dirancang untuk mempengaruhi pola
diklasifikasikan menjadi fakta, konsep, interaksi siswa. Selain itu, Think Pair Share
operasi ataupun relasi, dan prinsip. Menurut juga dapat memperbaiki rasa percaya diri
para ahli pendidikan matematika yang karena semua siswa diberi kesempatan untuk
dikutip oleh Shadiq (2014: xii), matematika berpartisipasi dalam kelas.
adalah ilmu yang membahas pola atau Kaitan antara proses pembelajaran
keteraturan (pattern) dan tingkatan (order). dan model pembelajaran sangatlah erat
Hal ini menunjukkan bahwa guru hubungannya, karena penggunaan model
matematika harus memfasilitasi siswanya pembelajaran yang tepat akan menghasilkan
untuk belajar berpikir melalui keteraturan proses pembelajaran yang tepat juga. Selain
(pattern) yang ada. Sejalan dengan pendapat penggunaan model pembelajaran yang tepat,
tersebut menurut Hendriana dan Soemarmo hal yang tak dapat dihindari adalah
(2014: 22) proses pemecahan masalah bagaimana proses belajar yang dialami oleh
matematika berbeda dengan proses para peserta didik itu ditunjang dengan
menyelesaikan soal matematika. Perbedaan bentuk penilaian yang tepat pula, karena
tersebut terkandung dalam istilah masalah walaupun proses pembelajarannya sudah
dan soal. Menyelesaikan soal atau tugas tepat tetapi jika tidak ditunjang dengan
matematika belum tentu sama dengan bentukpenilaian yang tepat dapat
memecahkan masalah matematika. mengakibatkan keseluruhan proses
Apabila suatu tugas matematika dapat segera pembelajaran tidak akan maksimal
ditemukan cara menyelesaikannya, maka menghasilkan hasil belajar peserta didik
tugas tersebut termasuk pada tugas rutin dan yang maksimal pula. Oleh karena itu, bagi
bukan merupakan masalah. Model setiap siswa yang telah memiliki kemampuan
pembelajaran Think Pair Share menurut pemecahan masalah yang berkaitan dengan
materi pembelajaran matematika akan sangat untuk ditampilkan di depan umum. Adapun
membantu proses pemahaman atau penilaian portofolio dokumentasi menurut
pembentukan pengetahuan baru bagi siswa. Surapranata (2006: 13) adalah koleksi hasil
Demikian pula jika pemakaian kerja siswa yang khusus digunakan untuk
bentuk penilaian dengan kurangnya penilaian, atau koleksi dari sekumpulan hasil
kemampuan pemecahan masalah matematika kerja siswa selama kurun waktu tertentu..
maka halini akan menjadi penghambat bagi Selanjutnya menurut Arifin (2009: 211) isi
pembentukan konsep atau pengetahuan yang portofolio harus menyajikan suatu bukti yang
baru.Dengan demikian dapat disimpulkan berkaitan dengan kompetensi dasar dan
bahwa model pembelajaran dan bentuk indikator pencapaian kemampuan
penilaian serta jenis sekolah mempengaruhi pemecahan masalah matematika yang telah
kemampuan pemecahan masalah matematika ditentukan.
siswa. Penilaian portofolio menurut Popham Model-model pembelajaran dan
(1995: 163) merupakan penilaian secara bentuk-bentuk penilaian portofolio tersebut
berkesinambungan dengan metode diatas diterapkan pada sekolah dasar dan
pengumpulan informasi atau data secara madrasah ibtidaiyah terhadap kemampuan
sistematik atas hasil pekerjaan siswa dalam pemecahan masalah matematika siswa.
kurun waktu tertentu. Selanjutnya menurut Setiap model pembelajaran dan bentuk
Fosters dan Masters yang dikutip oleh penilaian portofolio tersebut belum tentu
Surapranata (2006: 7) membedakan penilaian cocok dengan kemampuan pemecahan
portofolio kedalam tiga bentuk, yaitu: masalah matematika siswa sekolah dasar
portofolio kerja (working portfolio), ataupun madrasah ibtidaiyah. Oleh karena
portofolio penampilan (show portfolio), dan itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji
portofolio dokumentasi (documentary pengaruh penerapan model pembelajaran dan
portfolio), sedangkan Butler dan McMunn bentuk penilaian portofolio berbasis kelas
(2006: 66) menyatakan beberapa tipe terhadap kemampuan pemecahan masalah
portofolio yaitu: best work,memorabilia, matematika siswa.
growth, skill, dan assessment proficiency, or Berdasarkan uraian yang
promotion portfolio. Menurut Cole, Ryan, dikemukakan di atas, maka tujuan utama
dan Kick (1995: 177) mengelompokkan jenis peneltian ini adalah untuk mengetahui
portofolio ke dalam dua jenis, yaitu: pengaruh model pembelajaran think pair
portofolio proses dan portofolio produk. sharepada bentuk penilaian portofolio
Portofolio produk dibagi menjadi portofolio berbasis kelas dan jenis sekolah terhadap
tampilan dan portofolio dokumen. kemampuan pemecahan masalah matematika
Menurut Surapranata (2006): 15) siswa.
portofolio tampilan digunakan untuk tujuan
seperti seleksi, sertifikasi, maupun penilaian METODE PENELITIAN
kelas. Portofolio tampilan ini juga dijelaskan Metode yang digunakan dalam
oleh Cole, Ryan,dan Kick (1995: 179) penelitian ini adalah metode eksperimen
sebagai sekumpulan hasil kerja siswa atau dengan desain faktorial 2 x 2, dengan desain
dokumen yang terseleksi yang dipersiapkan berikut.

Tabel 1. Desain Eksperimen


Model PembelajaranThink Pair Share
Sekolah Dasar Madrasah Ibtidaiyah
A1 A2
Tampilan A1 B1 A2 B1
Bentuk
B1
Penilaian
Dokumen A1 B2 A2 B2
Portofolio
B2
Keterangan : Sampel penelitian ditentukan dengan
A1 B1: Kelompok siswa SD yang diberikan menggunakan teknik multistage random
model pembelajaranthink pair share dan sampling.Instrumen penelitian yang
bentuk penilaian portofolio tampilan. A2 B1: dikembangkan adalah instrumen kemampuan
Kelompok siswa MI yang diberikan model pemecahan masalah matematika dalam
Pembelajaranthink pair share dan bentuk bentuk soal esay .berjumlah 6 butir soal.
penilaian portofolio tampilan. A1 B2 : Proses validasi empirik adalah melalui
Kelompok siswa SD yang diberikan model ujicoba instrumenkemampuan pemecahan
pembelajaran think pair share dan bentuk masalah matematika di lapangan melibatkan
penilaian portofolio dokumen. A2B2 : 100 orang siswa kelas VI.Berdasarkan
Kelompok siswa MI yang diberikan model penghitungan uji validitas diperoleh hasil
pembelajaran think pair share dan bentuk dari jumlah 6 butir soal yang diujicobakan
penilaian portofolio dokumen. diperoleh 6 butir soal tersebut semuanya
Populasidalam penelitian ini adalah statusvalid dengan koefisien reliabilitas
seluruh siswa kelas V SDN Margadadi sebesar 0,72.
Indramayu dan MI Indramayu dengan
jumlah 8 kelas. Kedua sekolah tersebut HASIL DAN PEMBAHASAN
terdapat pada satu kota yaitu kota Kabupaten Teknik analisis data menggunakan ANAVA
Indramayu Propinsi Jawa Barat. dua jalan disajikan pada tabel 2 berikut.

Tabel 2. Rangkuman Deskripsi Data Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika

PembelajaranThink Pair Share


Sekolah Dasar Madrasah Ibtidaiyah Total
(A1) (A2)
n 10 10 20
Tampilan Mean 72,2 60,6 66,4
(B1) Min 67 50 50
Bentuk
Max 80 73 80
Penilaian
n 10 10 20
Portofolio
Dokumen Mean 61,7 73,3 67,5
(B2) Min 33 50 33
Max 90 100 100
n 20 20
Mean 66,95 66,95
Total
Min 33 50
Max 90 100

Keterangan: B. Pengujian hipotesis


A1 : kelompok siswa Sekolah Dasar 1. Pengujian Hipotesis Faktor Utama
A2 : kelompok siswa Madrasah (Main Effect)
Ibtidaiyah Hipotesis faktor utama (main effect)
B1 : kelompok siswa yang diberikan yang diuji adalah sebagai berikut:
penilaian portofolio tampilan a. Kemampuan pemecahan masalah
B2 : kelompok siswa yang diberikan matematika antara kelompok siswa
penilaian portofolio dokumen sekolah dasar lebih tinggi dari kelompok
n : banyaknya sampel siswa madrasah ibtidaiyah.
Min : skor minimum Hipotesis statistiknya: Ho :A1 <A2dan H1
Max : skor maksimum : A1 >A2. Hasil perhitungan diperoleh
Fhitung= 4,37>Ftabel = 3,97 pada = 0,05 maka
Ho ditolak dan menerima H1. Ini berarti
bahwa terdapat perbedaan kemampuan diberikan penilaian portofolio tampilan,
pemecahan masalah matematika antara kemampuan pemecahan masalah
kelompok siswa sekolah dasar dengan matematika kelompok siswa sekolah
kelompok siswa madrasah ibtidaiyah. dasar lebih tinggi dari kelompok siswa
Dengan demikian dapat disimpulkan madrasah ibtidaiyah.
bahwa kemampuan pemecahan masalah Hipotesis statistiknya: Ho :A1B1 <A2B1
matematika antara kelompok siswa sekolah dan H1 : A1B1>A2B1
dasar lebih tinggi dari kelompok siswa Hasil perhitungan diperolehthitung= 1,873
madrasah ibtidaiyah. >ttab(1,9)) = 1,694 pada = 0,05 maka Ho
b. Kemampuan pemecahan masalah ditolak dan menerima H1. Ini berarti
matematika antara kelompok siswa yang bahwapada kelompok siswa yang diberi
diberi penilaian portofolio tampilan lebih model pembelajaran think pair share dan
tinggi dari kelompok siswa yang diberi yang diberikan penilaian portofolio
penilaian portofolio dokumen. Hipotesis tampilan,terdapat perbedaan kemampuan
statistiknya: Ho :B1 <B2dan H1 : B1 pemecahan masalah matematika antara
>B2. Hasil perhitungan diperolehFhitung= kelompok siswa sekolah dasar (A1B1=72,2)
5,22>Ftabel = 3,97 pada = 0,05 maka Ho dengan kelompok siswa madrasah ibtidaiyah
ditolak dan menerima H1. (A2B1=60,6). Dengan demikian dapat
Ini berarti bahwa terdapat perbedaan disimpulkan bahwa untuk kelompok siswa
kemampuan pemecahan masalah matematika yang diberi model pembelajaran think pair
antara kelompok siswa yang diberi penilaian share dan yang diberikan penilaian
portofolio tampilandengan kelompok siswa portofolio tampilan, kemampuan pemecahan
yang diberi penilaian portofolio dokumen. masalah matematika kelompok siswa
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sekolah dasar lebih tinggi dari kelompok
kemampuan pemecahan masalah matematika siswa madrasah ibtidaiyah.
antara kelompok siswa yang diberi penilaian 2. Pada kelompok siswa yang diberi model
portofolio tampilan lebih tinggi dari pembelajaran think pair share dan yang
kelompok siswa yang diberi penilaian diberikan penilaian portofolio dokumen,
portofolio dokumen. kemampuan pemecahan masalah
matematika kelompok siswa sekolah
2. Pengujian Hipotesis Interaksi dasar lebih tinggi dari kelompok siswa
Pengaruh interaksi model pembelajaran madrasah ibtidaiyah.
think pair share antara bentuk penilaian Hipotesis statistiknya:Ho :A1B2 A2B2
portofolio dengan jenis sekolah terhadap dan H1 : A1B2 A2B2.
kemampuan pemecahan masalah matematika Hasil perhitungan diperolehthitung=
siswa. Hipotesis statistiknya: Ho : Interaksi 1,873>ttab(1,9)) = 1,694 pada = 0,05 maka Ho
A x B = 0 dan H1 : Interaksi A x B 0. Hasil
ditolak dan menerima H1. Ini berarti
analisis: Fhitung = 0,09 Ftabel(0,05) = 3,97 yang bahwapada kelompok siswa yang diberi
berarti Hoditerima dan menolak H1. Dengan model pembelajaran think pair share dan
demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada yang diberikan penilaian portofolio
pengaruh interaksi model pembelajaran think dokumen, terdapat perbedaan kemampuan
pair share antara bentuk penilaian pemecahan masalah matematika antara
portofolio dengan jenis sekolah terhadap kelompok siswa sekolah dasar(A1B2=61,7)
kemampuan pemecahan masalah matematika dengan kelompok siswa madrasah ibtidaiyah
siswa. (A2B1=73,3). Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa untuk kelompok siswa
3. Pengujian Lanjut Hipotesis efek yang diberi model pembelajaran think pair
Sederhana share dan yang diberikan penilaian
1. Pada kelompok siswayang diberi model portofolio dokumen, kemampuan pemecahan
pembelajaran dan think pair share yang
masalah matematika kelompok siswa tampilan (A1=60,6) dengan kelompok siswa
madrasah ibtidaiyah lebih tinggi dari yang diberi penilaian portofolio
kelompok siswa sekolah dasar. dokumen(A2=73,3).
3. Pada kelompok siswa sekolah dasar yang Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
diberi model pembelajaran think pair untuk kelompok siswa madrasah ibtidaiyah
share, kemampuan pemecahan masalah yang diberi model pembelajaran think pair
matematika kelompok siswa yang diberi share, kemampuan pemecahan masalah
penilaian portofolio tampilan lebih tinggi matematika kelompok siswa yang diberi
dari kelompok siswa yang diberi penilaian portofolio dokumenlebih tinggi
penilaian portofolio dokumen. dari kelompok siswa yang diberi penilaian
Hipotesis statistiknya:Ho :A1B1<A1B2 dan portofolio tampilan.
H1 : A1B1>A1B2
Hasil perhitungan diperolehthitung= 1,695 HASIL DAN PEMBAHASAN
>ttab(1,9)) = 1,694 pada = 0,05 maka Ho Hasil peneltian ini memperlihatkan
ditolak dan menerima H1. bahwakemampuan pemecahan masalah
Ini berarti bahwapada kelompok siswa matematika kelompok siswa yang diberi
sekolah dasar yang diberi model penilaian portofolio tampilan lebih tinggi
pembelajaranthink pair share, terdapat dari kemampuan pemecahan masalah
perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematika kelompok siswa yang diberi
matematika kelompok siswa yang diberi penilaian portofolio dokumen.Kelebihan
penilaian portofolio tampilan (A1=72,2) portofolio tampilan adalah siswa
dengan kelompok siswa yang diberi memperesentasikan hasil kerjanya di depan
penilaian portofolio dokumen(A2=61,7). guru dan siswa lainnya. Pada portofolio
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tampilan kemempuan-kemampuan tersebut
untuk kelompok siswa sekolah dasar yang dapat dikembangkan karena siswa pada
diberi model pembelajaran think pair share, portofolio ini diberi kesempatan untuk
kemampuan pemecahan masalah matematika mendemonstrasikan kemampuannya dalam
kelompok siswa yang diberi penilaian menyelesaikan masalah di depan guru dan
portofolio tampilanlebih tinggi dari siswa yang lainnya. Pada portofolio
kelompok siswa yang diberi penilaian dokumen siswa tidak memperoleh
portofolio dokumen. kesempatan tersebut. Sejalan dengan
4. Pada kelompok siswa madrasah penelitian yang dilakukan oleh Sukmawati
ibtidaiyah yang diberi model (2014: 219) bahwa kemampuan pemecahan
pembelajaranthink pair share, masalah matematika kelompok siswa yang
kemampuan pemecahan masalah diberi penilaian portofolio tampilan lebih
matematika kelompok siswa yang diberi tinggi dari kemampuan pemecahan masalah
penilaian portofolio tampilan lebih tinggi matematika kelompok siswa yang diberi
dari kelompok siswa yang diberi penilaian portofolio dokumen. Penelitian
penilaian portofolio dokumen. terkait dengan think pair share sebagai
Hipotesis statistiknya:Ho :A2B1 A2B2 dan model pembelajaran yang dilakukan oleh
H1 : A2B1 A2B2 Nataliasari (2014: 3) menunjukkan bahwa:
peningkatan kemampuan penalaran dan
Hasil perhitungan diperolehthitung=
pemecahan masalah matematis siswa yang
2,05>ttab(1,9)) = 1,694 pada = 0,05 maka Ho
memperoleh pembelajaran menggunakan
ditolak dan menerima H1. Ini berarti bahwa model pembelajaran kooperatif tipe think
pada kelompok siswa madrasah ibtidaiyah pair share lebih baik daripada siswa yang
yang diberi model pembelajaranthink pair memperoleh pembelajaran konvensional. Hal
share, terdapat perbedaan kemampuan ini senada dengan penelitian yang dilakukan
pemecahan masalah matematika kelompok Husna, dkk. (2013: 1) bahwa peningkatan
siswa yang diberi penilaian portofolio kemampuan pemecahan masalah matematis
siswa yang memperoleh model draf dan komentar siswa tentang hasil karya
pembelajaran kooperatif tipe think pair dari proses sampai di hasilkannya karya
share lebih baik daripada siswa yang tersebut.
memperoleh pembelajaran konvensional, Pada penilaian portopolio dokumen pada
ditinjau dari keseluruhan siswa dan peringkat dasarnya merupakan proses kerja siswa
siswa tinggi dan peningkatan kemampuan terhadap pekerjaan siswa secara individu
komunikasi matematis siswa yang untuk melihat perkembangan
memperoleh model pembelajaran kooperatif kemampuannya terhadap mata pelajaran
tipe think pair sharelebih baik daripada matematika pada setiap satu kompetensi
siswa yang memperoleh pembelajaran dasar. Pada penilaian portofolio dokumen
konvensional, ditinjau dari keseluruhan siswa mendokumenkan hasil kerjanya pada
siswa dan peringkat siswa tinggi dan sedang. suatu folder.Hasil kerja siswa tersebut berupa
Kemampuan pemecahan masalah hasil kerja yang berupa tugas-tugas yang
matematika kelompok siswa yang diberikan diberikan oleh guru.Pada penilaian portofolio
penilaian portofolio dokumenlebih tinggi dokumen ini siswa diberi kesempatan untuk
dari kelompok siswa yang diberikan melakukan refleksi terhadap hasil kerjanya.
penilaian portofolio tampilan pada kelompok Refleksi ini dimaksudkan untuk membuat
siswa madrasah ibtidaiyah yang diberi siswa dapat memikirkan tentang cara siswa
model pembelajaran think pair share. memecahkan masalahnya. Namun pada
Pada penilaian portofolio tampilan siswa penilaian portofolio dokumen ini siswa tidak
mempunyai motivasi untuk berbuat lebih dapat maksimal dalam melakukan refleksi
baik dan berusaha untuk mengerjakan secara terhadap pemecahan masalahnya, karena
maksimal karena hasil kerjanya akan pada portofolio dokumen ini hanya
ditampilkan dan akan ditanggapi oleh siswa mendokumenkan hasil kerjanya yang hanya
lain. Portofolio tampilan ini juga dijelaskan akan digunakan sebagai bukti untuk
oleh Cole, Ryan,dan Kick (1995: 179) penilaian.
sebagai sekumpulan hasil kerja siswa atau
dokumen yang terseleksi yang dipersiapkan SIMPULAN DAN SARAN
untukditampilkan di depan umum, seperti Temuan yang diperoleh pada penelitian
misalnya mempertanggungjawabkan suatu ini adalahkemampuan pemecahan masalah
proyek, menyelenggarakan pameran atau matematika antara kelompok siswa sekolah
mempertahankan suatu konsep. Berdasarkan dasar lebih tinggi dari kelompok siswa
hasil pengamatan, siswa sangat antusias pada madrasah ibtidaiyah.Kemampuan pemecahan
penilaian portofolio tampilan. Siswa masalah matematika antara kelompok siswa
mempersiapkan hasil kerjanya yang akan yang diberi penilaian portofolio tampilan
mereka tampilkan dengan sungguh-sungguh, lebih tinggi dari kelompok siswa yang diberi
mulai dari materi persoalannya, kesesuaian penilaian portofolio dokumen.
pemecahan masalah yang dibahas sampai Tidak adapengaruh interaksi model
pada saat presentasi mereka secara pembelajaranthink pair shareantara bentuk
bergantian ingin menampilkan penilaian portofolio dengan jenis sekolah
kemampuannya didepan kelas. Seperti yang terhadap kemampuan pemecahan masalah
dikemukakan Surapranata (2006: 13) matematika siswa.
portofolio dokumentasi adalah koleksi hasil Untuk kelompok siswa yang diberi
kerja siswa yang khusus digunakan untuk model pembelajaranthink pair share dan
penilaian, atau koleksi dari sekumpulan hasil yang diberikan penilaian portofolio tampilan,
kerja siswa selama kurun waktu tertentu. kemampuan pemecahan masalah matematika
Portofolio dokumen tidak hanya berisi hasil kelompok siswa sekolah dasar lebih tinggi
kerja siswa, tetapi semua proses yang dari kelompok siswa madrasah ibtidaiyah.
digunakan oleh siswa untuk menghasilkan Untuk kelompok siswa yang diberi model
karya tertentu, juga berisi berbagai macam pembelajaran think pair sharedan yang
diberikan penilaian portofolio dokumen, Merancang Pembelajaran
kemampuan pemecahan masalah matematika UntukMendukung Implementasi
kelompok siswa madrasah ibtidaiyah lebih Kurikulum 2013, Jakarta: Prestasi
tinggi dari kelompok siswasekolah dasar. Pustakarya.
Untuk kelompok siswa sekolah dasar yang Husna, dkk. (2013). Peningkatan
diberi model pembelajaranthink pair share, Kemampuan Pemecahan Masalah dan
kemampuan pemecahan masalah matematika Komunikasi Matematis Siswa Sekolah
kelompok siswa yang diberi penilaian Menengah Pertama Melalui Model
portofolio tampilanlebih tinggi dari Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair
kelompok siswa yang diberi penilaian Share (TPS), Jurnal Peluang, Volume 1,
portofolio dokumen. Untuk kelompok siswa Nomor 2, April 2013, ISSN: 2302-5150.
madrasah ibtidaiyah yang diberi model Jumanta Hamdayama. (2014). Model dan
pembelajaranthink pair share, kemampuan Metode Pembelajaran Kreatif dan
pemecahan masalah matematika kelompok Berkarakter ,Bogor: Ghalia Indonesia.
siswa yang diberi penilaian portofolio Margono, Gaguk. (2007). Keterkaitan
dokumenlebih tinggi dari kelompok siswa antara Problem Solving dengan
yang diberi penilaian portofolio tampilan. Kreativitas dalam Pembelajaran
Matematika.Algoritma Jurnal
DAFTAR RUJUKAN Matematika dan Pendidikan Matematika,
Agus Suprijono. (2010).Cooperative Vol. 2, No.1.
Learning Teori & Aplikasi Paikem, Nataliasari, Ike. (2014). Penggunaan Model
Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair
Arifin, Zainal. (2009). Evaluasi Share (TPS) Untuk Meningkatkan
Pembelajaran Prinsip dan Prosedur Kemampuan Penalaran dan Pemecahan
Bandung: PT.Remaja Rosdakarya. Masalah Matematis Siswa MTS,
Ariyadi Wijaya. (2012). Pendidikan Program Pascasarjana Univeritas
Matematika Realistik Suatu Alternatif Terbuka, Jurnal Pendidikan dan
Pendekatan Pembelajaran Matematika, Keguruan, Vol. 1 No. 1.
Yogyakarta: Graha Ilmu. Popham, W. James. (1995).Classroom
D.J. Cole, C.W. Ryan, dan F. Kick. Assessment: What Teacher Need to Know
(1995).Portfolios Across The Curriculum Boston: Allyn and Bacon.
and Beyond, Thousan Oaks, CA: Cormin Shadiq, Fadjar. (2014). Pembelajaran
Press. Matematika Cara Meningkatkan
Donovan Johnson dan Gerald Rising.(1987). Kemampuan Berpikir Siswa ,Yogyakarta:
Guide Lines for Teaching Graha Ilmu.
Mathematics,California :Wad Worth Solso, Robert L., dan M.Kimberly Maclin.
Publishing Co. (2005). Cognitive Psychology, Boston:
Ellis, Jeanne Ormrod. Educational Allyn and Bacon.
Psychology Developing Learners, Soedjadi,R. (2000). Kiat Pendidikan
terjemahan Wahyu Indianti. Jakarta: Matematika di Indonesia, Jakarta:
Erlangga, 2009. Departemen Pendidikan Nasional.
Heris Hendriana dan Utari Sumarmo. Sukmawati,(2014). Pengaruh Model
Penilaian Pembelajaran Matematika. Asesmen Portofolio dan Kreativitas
Bandung: Refika Aditama, 2014. terhadapKemampuan Pemecahan Masalah
Hudoyo, Herman. (1988). Mengajar Belajar Matematika Siswa SMA Negeri
Matematika ,Jakarta: Departemen Makasar, Disertasi, Program
Pendidikan Nasional. Pascasarjana UNJ.
Husamah dan Yanur Setyaningrum Sumarna Surapranata. (2006). Pedoman
(2013).Desain Pembelajaran Berbasis pengembangan Penilaian Portofolio
Pencapaian Kompetensi Panduan ,Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan
Badan Penelitian dan Pengembangan
Departemen Pendidikan Nasional.
Suriasumantri, Jujun S. (2009). Filsafat Ilmu
Sebuah Pengantar Populer, Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan.
Surtanto Hadi. (2005). Pendidikan
Matematika Realistik dan Implikasinya,
Banjarmasin: Tulip.
Susan M. Butler dan Nancy D. BcMunn.
(2006). A Teachers Guide to Classroom
Assessment: Understanding and Using
Assessment to Improve Student
Learning,San Francisco: Jossey-Bass.
PERSEPSI KUALITAS PENGAJARAN MATA KULIAH METODE NUMERIK

Ni Kadek Rini Purwati dan Made Surat


Dosen Jurusan/Prodi. Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali
e-mail: rinirie@gmail.com

ABSTRACT
Perception of Teaching Quality of Numerical Method
The teaching quality is the quality of a teacher's activities in transferring learning experiences
to learners for the achievement of learning performance. The good teaching quality demands
professionalism of teachers. Professionalism of teachers can be seen based on material mastery,
material instructions, and personality. This research is a descriptive research with quantitative
approach which is done on the students of Mathematics Education Department of IKIP PGRI
Bali semester VI. Sampling technique used is purposive sampling. Description is done based on
questionnaire data relating to the teaching quality.
The teaching of numerical method is carried out by applying collaborative learning models.
The perception of teaching quality of numerical method is excellent. Collaborative learning
model can be one of innovative learning alternative to improve teaching quality.

Keywords: Collaborative learning, Teaching Quality.

PENDAHULUAN pengalaman belajar kepada peserta didik demi


Pengajaran merupakan suatu proses, cara, tercapainya kinerja pembelajaran.
perbuatan mengajar atau mengajarkan yang Pembelajaran sendiri memiliki makna
melibatkan interaksi guru dengan peserta interaksi yang terjadi antara guru dan peserta
didik. Mengajar memiliki makna aktivitas didik dimana keduanya memiliki peran timbal
seorang guru dalam mentransfer pengalaman balik yang sama pentingnya.
belajar kepada peserta didik (Iskandar, 2012). Kualitas pengajaran yang baik nenuntut
Profesi mengajar tidak selalu diartikan sebagai adanya profesionalitas guru. Profesionalitas
kegiatan seorang guru menyajikan materi guru ini dapat terbentuk melalui peningkatan
pelajaran, namun juga bagaimana membuat kemampuan guru yang meliputi kemampuan
peserta didik agar melakukan aktivitas belajar. merumuskan materi pelajaran, kemampuan
Pengajaran yang berkualitas adalah pengajaran menggunakan metode pembelajaran,
yang mampu memfasilitasi peserta didik kemampuan memotivasi, kemampuan
dalam melakukan aktivitas belajar dan menjalin komunikasi timbal balik,
mengakses informasi terkait materi kewibawaan, kemampuan mengelola kelas,
pembelajaran. Hal ini dinyatakan oleh Lee dan kemampuan mengevaluasi hasil
(2013): Quality teaching is defined as pembelajaran. Menurut Iskandar (2012)
pedagogical practices that facilitate for terdapat tiga pilar utama yang menunjukkan
heterogeneous groups of students their access bahwa guru telah bekerja secara profesional,
to information, and ability to engage in yakni penguasaan materi, penyampaian
classroom activities and tasks in ways that materi, dan kepribadian matang. Penguasaan
facilitate learning related to curriculum materi pembelajaran merupakan kemampuan
goals. Oleh karena itu, kualitas pengajaran yang harus dimiliki dan dikuasai oleh seorang
dapat didefinisikan sebagai mutu dari suatu guru demi tercapainya tujuan pembelajaran.
aktivitas seorang guru dalam mentransfer Penguasaan materi ini tentunya perlu
didukung juga dengan kemampuan kelompok), sehingga kesuksesan seorang
penyampaian yang baik sehingga peserta didik peserta didik dapat membantu peserta didik
dapat belajar dalam suasana yang lain untuk ikut menjadi sukses. Oleh karena
menyenangkan dan aktif dalam kegiatan itu, pembelajaran kolaboratif tidak hanya
pembelajaran. Tercapainya tujuan menekankan pada kesatuan kelompok
pembelajaran dan terlaksananya proses melainkan juga kemampuan tiap individunya.
pembelajaran yang menyenangkan dan aktif Model pembelajaran yang diterapkan
ini ditunjang juga oleh kepribadian guru yang dengan baik oleh guru merupakan salah satu
matang dan kesadaran untuk mengelola proses indikator peningkatan kualitas pengajaran.
pembelajaran yang tepat. Ketiga pilar ini Pengajaran yang berkualitas memiliki peran
saling terkait untuk meningkatkan kinerja dalam tercapainya kinerja pembelajaran,
pembelajaran, yakni tingkat keberhasilan dan sehingga dapat mempengaruhi kualitas
kesesuaian hasil belajar dengan tujuan partisipasi, keterlibatan dan pencapaian
pembelajaran. peserta didik. Berdasarkan penjabaran
Suasana pembelajaran yang nyaman akan tersebut, berikut akan diteliti persepsi
dapat menciptakan hubungan yang harmonis mahasiswa terhadap kualitas pengajaran mata
antara peserta didik dan guru, sehingga dapat kuliah metode numerik yang menerapkan
mendorong tercapainya tujuan pembelajaran model pembelajaran kolaboratif.
yang optimal. Tentunya suasana pembelajaran
yang nyaman juga akan mendukung METODE PENELITIAN
terlaksananya pembelajaran aktif dan inovatif. Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif
Pembelajaran inovatif ini merupakan salah dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini
satu cara meningkatan kualitas pengajaran. bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi
Salah satu pembelajaran inovatif yang mahasiswa terhadap kualitas pengajaran mata
dapat diterapkan adalah model pembelajaran kuliah metode numerik yang menerapkan
kolaboratif (Collaborative Learning). Menurut model pembelajaran kolaboratif. Deskripsi
Goodsell (1992): Collaborative learning is dilakukan berdasarkan data kuisioner yang
an umbrella term for a variety of educational berkaitan tentang kualitas pengajaran. Data ini
approaches involving joint intellectual effort dianalisis untuk melihat sebaran data,
by students, or students and teachers together. misalnya jumlah yang menjawab setuju, tidak
In most collaborative learning situations setuju, netral, kurang setuju, atau tidak setuju.
students are working in groups of two or Penelitian ini dilaksanakan selama 5 bulan
more, mutually searching for understanding, yang dimulai dari bulan Maret 2016 dan
solutions, or meanings, or creating a berakhir pada bulan Juli 2016. Lokasi
product. Pada pembelajaran ini peserta didik penelitian adalah kampus Jurusan Pendidikan
dituntut untuk dapat bertanggungjawab Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali.
terhadap setiap tindakan yang diambil dalam Populasi penelitian berupa semua
pembelajaran, serta dilatih untuk dapat saling mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika
menghargai pendapat dan kemampuan rekan IKIP PGRI Bali. Teknik penarikan sampel
sejawatnya. Model pembelajaran ini dapat adalah purposive sampling, diperoleh sampel
melatih peserta didik untuk terbiasa bertanya mahasiswa semester VI Jurusan Pendidikan
kepada rekan sejawatnya saat mendapat Matematika IKIP PGRI Bali yang mengikuti
masalah yang harus diselesaikan dalam proses kuliah metode numerik.
pembelajaran dan dilatih untuk bertanggung
jawab terhadap pembelajaran peserta didik HASIL DAN PEMBAHASAN
lainnya (pertanggungjawaban individu dan Pembelajaran Kolaboratif
Menurut Panitz (1999): Collaborative jawab terhadap sesama anggota kelompok
learning (CL) is a personal philosophy, not dimana mereka berbagi peran, tugas, dan
just a classroom technique. The underlying tanggung jawab dalam menyelesaikan
premise of collaborative learning is based tugas atau masalah.
upon consensus building through cooperation 2. Interaksi (tatap muka): Pada pembelajaran
by group members, in contrast to competition kolaboratif, interaksi antaranggota
in which individuals best other group kelompok dicapai melalui berbagai
members. Pembelajaran kolaboratif aktivitas seperti mempresentasikan hasil
merupakan metode pembelajaran yang diskusi, berbagi pengetahuan dengan
menempatkan kerjasama sebagai kunci anggota kelompok lain, dan mengecek
keberhasilan suatu kelompok dalam mencapai pemahaman.
tujuan bersama. Setiap peserta didik dalam 3. Pertanggungjawaban individu dan
suatu kelompok bertanggung jawab terhadap kelompok: Pada pembelajaran kolaboratif,
sesama anggota kelompok dimana mereka peserta didik dilatih untuk bertanggung
berbagi peran, tugas, dan tanggung jawab jawab terhadap pembelajaran peserta didik
dalam menyelesaikan tugas atau masalah lainnya (pertanggungjawaban individu dan
sehingga lebih cepat dan lebih baik. Hal ini kelompok), sehingga kesuksesan seorang
seperti dinyatakan juga oleh Goodsell (1992): peserta didik dapat membantu peserta
Collaborative learning is an umbrella term didik lain untuk ikut menjadi sukses.
for a variety of educational approaches 4. Pengembangan kecakapan interpersonal:
involving joint intellectual effort by students, Pembelajaran kolaboratif melibatkan
or students and teachers together. In most peserta didik dengan kemampuan yang
collaborative learning situations students are heterogen, sehingga peserta didik harus
working in groups of two or more, mutually saling menghargai pendapat dan
searching for understanding, solutions, or kemampuan rekan sejawatnya. Untuk itu,
meanings, or creating a product. dalam pembelajaran ini kecakapan
Kegiatan belajar secara kolaboratif dapat interpersonal dapat terbentuk.
mendorong peserta didik untuk saling 5. Pembentukan kelompok heterogen:
berinteraksi dan belajar bersama untuk Pembentukan kelompok dilakukan dengan
meningkatkan pemahaman masing-masing, mempertimbangkan agar setiap anggota
serta dapat meningkatkan motivasi belajar dapat berdiskusi sehingga mencapai tujuan
peserta didik. Dalam pembelajaran ini peserta mereka dan membangun hubungan kerja
didik dituntut untuk dapat bertanggungjawab yang efektif.
terhadap setiap tindakan yang diambil dalam 6. Berbagi pengetahuan antara guru dan
pembelajaran, serta dilatih untuk dapat saling peserta didik: Pada pembelajaran
menghargai pendapat dan kemampuan rekan kolaboratif, guru mengembangkan
sejawatnya. Berdasarkan definisi pembelajaran berdasarkan pengetahuan
pembelajaran kolaboratif terdapat beberapa dan strategi yang dimiliki peserta didik.
karakteristik dari pembelajaran ini, yakni: 7. Berbagi otoritas antara guru dan peserta
1. Ketergantungan positif: Ketergantungan didik: Pada pembelajaran kolaboratif, guru
yang positif antar peserta didik dalam melibatkan peserta didik secara aktif
suatu kelompok menjadi prasyarat dalam mengembangkan materi
terjadinya kerjasama yang positif dalam pembelajaran.
pembelajaran kolaboratif. Ketergantungan 8. Guru sebagai mediator: Pada pembelajaran
positif dapat terjadi karena setiap peserta kolaboratif, guru membantu peserta didik
didik dalam suatu kelompok bertanggung untuk menghubungkan pengetahuan baru
dengan pengetahuan yang telah dimiliki 7. Simpulan yang telah disusun perkelompok
peserta didik, membantu peserta didik kolaboratif dikumpulkan kemudian
menggambarkan mengenai apa yang harus dikoreksi, dikomentari, dinilai,
dikerjakan ketika mereka mengalami dikembalikan pada pertemuan berikutnya,
masalah. dan didiskusikan.
Langkah-langkah pembelajaran Kemampuan peserta didik dapat diketahui
kolaboratif, yaitu: dengan melakukan evaluasi. Akan tetapi, tidak
1. Peserta didik dalam kelompok menetapkan mudah untuk mengevaluasi pembelajaran
tujuan belajar dan membagi tugas sendiri- kolaboratif. Evaluasi dapat dilakukan terhadap
sendiri banyak aspek, tidak hanya pada hasil belajar
2. Peserta didik dalam kelompok membaca, kognitif dan tidak hanya berdasar penilaian
berdiskusi, dan menulis guru. Evaluasi dapat dilakukan terhadap
3. Peserta didik dalam kelompok kemampuan peserta didik berdikusi melalui
mengerjakan tugas atau masalah dalam penilaian rekan sejawat, dimana setiap peserta
lembar kerja didik harus menilai teman sekelompoknya.
4. Setelah kelompok kolaboratif menyepakati Penilaian rekan sejawat juga dapat dilakukan
hasil pemecahan masalah, masing-masing untuk mengevaluasi kemampuan penyampaian
peserta didik menulis hasil pemecahan materi peserta didik, dimana setiap peserta
masalah tersebut sendiri-sendiri secara didik harus menilai teman sekelompoknya
lengkap maupun teman yang berbeda kelompok.
5. Dosen menunjuk salah satu peserta didik
dari salah satu kelompok secara acak Penerapan Pembelajaran Kolaboratif
(selanjutnya diupayakan agar semua Penerapan pembelajaran kolaboratif pada
peserta didik dalam setiap kelompok dapat mata kuliah metode numerik disertai dengan
giliran ke depan) untuk melakukan penggunaan lembar kerja yang dapat
presentasi hasil diskusi kelompok mendukung penerapan model. Penilaian
kolaboratifnya di depan kelas. Peserta mahasiswa diperoleh dari presentasi solusi
didik pada kelompok lain mengamati, permasalahan pada lembar kerja mahasiswa,
mencermati, membandingkan hasil presentasi solusi soal kuis, UTS, dan UAS.
presentasi tersebut, dan menanggapi. Selain itu disertai penilaian rekan sejawat
6. Masing-masing peserta didik dalam untuk mengevaluasi kemampuan peserta didik
kelompok kolaboratif melakukan revisi berdikusi dan mengevaluasi kemampuan
(bila diperlukan) terhadap hasil pemecahan penyampaian materi peserta didik. Penilaian
masalah yang telah ditulis dan menyusun rekan sejawat dilakukan dengan format
suatu simpulan perkelompok kolaboratif penilaian sebagai berikut.
Tabel 1. Format Penilaian Teman Sejawat
KELOMP Kriteria Penilaian
NAMA NIM Total
OK Pemaham Penalaran/ Pemecahan Nilai
an Konsep Komunikasi Masalah
A B C D E F G H
Penanggun
g jawab

Anggota
Keterangan: soal, maka paling sedikit dari masing-masing
A=Menunjukkan pemahaman terhadap konsep kelompok akan ada 1 orang anggota yang
matematika; B= Kebenaran materi matematika bertugas mempresentasikan jawaban hasil
yang disampaikan; C= Penyampaian/ jawaban diskusinya. Begitu seterusnya untuk setiap
pertanyaan jelas dan dapat dipahami; D= pokok bahasan hingga setiap mahasiswa
Mengharagai pendapat yang berbeda; E= mendapat giliaran untuk mempresentasikan
Penjelasan materi terorganisasi dengan baik; materi dalam perkuliahan metode numerik.
F= Penggunaan strategi benar dan tepat; G= Melalui presentasi individu ini akan dinilai
Memenuhi penyelesaian masalah yang kemampuan setiap individu dalam memahami
diinginkan; H=Kerapian/keindahan (sistematis materi perkuliahan metode numerik.
dalam penyelesaian).
Kriteria Penilaian: Kualitas Pengajaran
1= Sangat tidak baik; 2= Tidak baik; 3= Kualitas pengajaran adalah mutu dari
Cukup baik; 4= Baik; 5= Sangat baik. suatu aktivitas seorang guru dalam
Pada perkuliahan metode numerik, mentransfer pengalaman belajar kepada
pembelajaran kolaboratif dirancang sebagai peserta didik demi tercapainya kinerja
berikut: mahasiswa dikelompokkan menjadi 7 pembelajaran. Terdapat tiga hal yang dapat
kelompok yang masing-masing terdiri dari 4 menunjukkan kualitas pengajaran guru, yakni
orang. Setiap kelompok akan mendapatkan penguasaan materi, penyampaian materi, dan
lembar kerja mahasiswa. Setiap kelompok kepribadian matang.
akan mendiskusikan 1 pokok bahasan yang Persepsi mahasiswa terkait kualitas
sama, kemudian salah satu anggota dari setiap pengajaran dari model pembelajaran
kelompok akan mempresentasikan kolaboratif, maka mahasiswa diberikan
subpokokbahasan yang ada. Misalnya pada kuisioner yang berkaitan dengan kualitas
suatu pertemuan didiskusikan pokok bahasan pengajaran. Kuisioner kualitas pengajaran
solusi persamaan non-linier dimana pada disusun berdasarkan dimensi dan indikator
pokok bahasan ini terdapat 4 subpokok berikut:
bahasan dan 1 subpokok bahasan terdiri dari 2

Tabel 2. Kisi Kisi Persepsi Mahasiswa terhadap Pembelajaran Kolaboratif.


Dimensi Indikator
Penguasaan materi 1. Kesesuaian materi denga pokok bahasan
2. Kesesuaian materi dengan tujuan pengajaran
Penyampaian materi 1. Metode pembelajaran yang dipakai
2. Penggunaan media pengajaran
3. Pengelolaan kelas
4. Melakukan penilaian
Kepribadian dosen 1. Tingkat kehadiran dosen mengajar
2. Keterampilan memotivasi
3. Komunikasi timbal balik
4. Kewibawaan
5. Keterampilan

Berdasarkan analisis data kuisioner Ditinjau dari dimensi penguasaan materi


terhadap 59 orang mahasiswa diperoleh hasil terdapat 49,15% orang sangat setuju bahwa
sebagai berikut: dosen menyampaikan tujuan yang ingin
dicapai dari perkuliahan dan 53% orang sangat
setuju bahwa dosen menyampaikan materi orang sangat setuju bahwa dosen selalu
pokok yang akan dibahas. Dimensi mengklarifikasi kekeliruan yang terjadi dalam
penyampaian materi menunjukkan 35,59% proses perkuliahan, 52,54% orang setuju
orang setuju bahwa dosen merancang metode bahwa dosen mampu membangkitkan
pembelajaran yang menarik, 50,85% orang motivasi belajar mahasiswa, dan 64,41%
setuju bahwa dosen menggunakan beragam orang setuju bahwa dosen mampu menjaga
media pengajaran, 62,71% orang setuju bahwa ketertiban kelas.
dosen menyampaikan materi perkuliahan Berdasarkan hasil analisis data mengenai
dengan jelas dan mudah dimengerti, 42,37% kecenderungan mahasiswa terkait kualitas
orang setuju bahwa dosen mampu merangkul pengajaran mata kuliah metode numerik yang
seluruh mahasiswanya untuk berpartisipasi menerapkan model pembelajaran kolaboratif
dalam perkuliahan, 59,32% orang sangat diperoleh bahwa kualitas pengajaran dalam
setuju bahwa dosen memberikan soal-soal kriteria sangat baik, yakni sebesar 63,05.
yang menantang, dan 49,15% orang setuju Persepsi mengenai kualitas pengajaran ini
bahwa dosen memberikan penilaian secara ditinjau dari tiga pilar kualitas pengajaran
objektif. Dimensi kepribadian dosen yang meliputi penguasaan materi,
menunjukkan 42,37% orang setuju bahwa penyampaian materi, dan kepribadian dosen.
dosen hadir tepat waktu, 50,85% orang setuju Persepsi mahasiswa terkait ketiga pilar ini
bahwa dosen rutin menghadiri perkuliahan, berkisar pada sangat setuju dan setuju dengan
54,24% orang setuju bahwa dosen mau penguasaan dan penyampaian materi serta
menerima kritik dan saran dari mahasiswa, kepribadian dosen. Berikut ini adalah hasil
54,24% orang sangat setuju bahwa dosen analisis data mengenai kecenderungan
selalu menanggapi setiap pertanyaan dari mahasiswa terkait kualitas pengajaran.
mahasiswa terkait materi perkuliahan, 50,85%

Tabel 3. Persepsi Mahasiswa tentang Kualitas Pengajaran Ditinjau dari Penguasaan


Materi, Penyampaian Materi, dan Kepribadian Dosen.
Penguasaan Penyampaian Kepribadian
Aspek Materi Materi Matang TOTAL
Rata-rata 8,92 24,85 29,29 63,05
Kriteria SANGAT BAIK

Keterangan:
Kategori Kriteria Kecenderungan

Sangat Baik + 1.8 63


Baik + 0.6 < + 1.8 51 < 63
Cukup 0.6 < + 0.6 39 < 51
Kurang Baik 1.8 < 0.6 27 < 39

Sangat Kurang Baik < 1.8 < 27

SIMPULAN DAN SARAN pengajaran mata kuliah metode numerik yang


Simpulan menerapkan model pembelajaran kolaboratif
Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat termasuk dalam kriteria sangat baik.
disimpulkan bahwa persepsi kualitas
Penerapan model pembelajaran kolaboratif Postsecondary Teaching, Learning, and
mendapat respon yang baik dari mahasiswa. Assessment, University Park, PA.
Iskandar. 2012. Psikologi Pendidikan.
Saran Penerbit Referensi. Jakarta.
Berdasarkan hasil penelitian dari persepsi Lee, Adrienne Alton. 2003. Quality Teaching
kualitas pengajaran, maka penerapan model for Diverse Students in Schooling: Best
perlu dikembangkan untuk mempertahankan Evidence Synthesis. Ministry of Education,
maupun untuk meningkatkan kualitas Wellington.
pengajaran. Selain itu, model pembelajaran Mahmudi, Ali. 2006. Pembelajaran
kolaboratif dapat menjadi salah satu alternatif Kolaboratif. Makalah Seminar Penelitian,
pembelajaran inovatif yang dapat Pendidikan, dan Penerapan MIPA serta
meningkatkan kualitas pengajaran. Peranannya dalam Peningkatan
Keprofesionalan Pendidik dan Tenaga
DAFTAR RUJUKAN Kependidikan, Tanggal 1 Agustus 2006 di
Arya M, Hesty dan Daliman. 2010. Hubungan Fakultas MIPA UNY Yogyakarta.
antara Persepsi Kualitas Pengajaran Guru Panitz, Theodore. 1999. Collaborative versus
Matematika dengan Prestasi. Varia Cooperative Learning: A Comparison of
Pendidikan, Vol. 22, No. 1. the Two Concepts Which Will Help Us
Barkley, Elizabeth F. 2010. Student Understand the Underlying Nature of
EngagementTechniques a Handbook for Interactive Learning. Available From
College Faculty. John Wiley & Sons, Inc. http://www.capecod.net/-
Goodsell, Anne S. and Others. 1992. TPanitz/Tedspage.
Collaborative Learning: A Sourcebook for Pierre, Dillenbourg. 1999. What do Yuo Mean
Higher Education. National Center on by Collaborative Leraning?. University of
Geneva, Switzerland.
POTENSI EKOWISATA DI KELURAHAN SERANGAN DAN UPAYA-UPAYA
PENGEMBANGANNYA

I Ketut Saskara1), Ni Nyoman Parmithi2), dan I Made Subrata3)


1)
Dosen Akademi Pariwisata Denpasar, 2), dan 3) Dosen di Jur./Prodi. Pendidikan Biologi
FPMIPA IKIP PGRI Bali
datemgs@yahoo.com

ABSTRACT
Eco Tourism Potential in Serangan Island and Its Development Efeorts
The background of the research was negative impact which caused by mass tourism that
setrnative tourism. One of the alternative tourism was adventure tour which offered new
experience and life united which nature. The form of adventure tour was varied, those were
ecotourism. One of subdistrict which is situated in Denpasar regency, there was one village
which can be flourished as tourism tour it is supported by nature potential, geography
condition that suitable for ecotourism way. The research was aimed to know the potential and
obstacles that supported ecotourism development as an alternative tour in Serangan Village to
develove the tracking tour as an alternative tour attraction.The research result shows that
potential of Serangan Village can be flourished as an ecotourism tour because it is supported
by physical and non physical factors. The tour potentials are like; nature 's exquisiteness,
local culture, demography, accessibility, hospitality and strategic way.
The potential development of Serangan village as ecotourism tour had to pay attention to
nature preservation and capacity of area in order to create the continuous of tourism
development or sustainable tourism Thus, it to know the effort to develop ecotourism as an
alternative tour in Serangan Village.

Keywords: Ecotourism, Tour Alternative Attraction

PENDAHULUAN Masyarakat di Kelurahan Serangan tidak


Kelurahan Serangan terletak di memungkiri bahwa dengan adanya proyek
Kecamatan Denpasar Selatan Kota Denpasar, reklamasi pantai dan dibangunnya jembatan
merupakan salah satu daerah di Bali yang penghubung antara Pulau Bali dengan Pulau
terkena dampak pariwisata. Adanya Serangan, membuat mobilitas orang-orang
kebijakan pembangunan reklamasi pantai dari dan ke Serangan meningkat, baik untul
yang ide awalnya adalah pelestarian, tujuan bisnis, sosial, agama maupun
pengembangan selanjutnya berubah arah pariwisata. Namun proyek BTID yang
menjadi perencanaan industri pariwisata mengalami stagnasi sampai saat ini
(Mardika, 2000). Adanya proyek reklamasi menjadikan salah satu alasan bagi
tersebut, telah membawa harapan besar bagi masyarakat Serangan untuk mengembangkan
masyarakat, karena dengan adanya reklamasi potensi Kelurahan Serangan, menjadi objek
dan pengembangan sektor pariwisata oleh dan daya tarik wisata di luar pengelolaan
Bali Turtle Island Development (BTID) akan pihak BTID. Kesadaran akan potensi
mampu membuat pulau Serangan (Kelurahan daerahnya telah membangkitkan semangat
Serangan) menjadi objek dan daya tarik masyarakat di Kelurahan Serangan untuk
wisata yang layak untuk dikunjungi, mengembangkan potensi kepariwisataan
sehingga mampu menciptakan lapangan yang dimiliki. Pengembangan aktifitas
kerja. Namun fenomena yang terjadi di kepariwisataan yang dimaksud oleh
lapangan, setelah reklamasi banyak masyarakat Serangan adalah menjadikan
penduduk Serangan yang beralih bekerja di Pulau Serangan khususnya lingkungan
luar Kelurahan Serangan. Kelurahan Serangan sebagai kawasan wisata
yang mampu menyumbangkan potensi penyu laut). Pelestarian penyu laut mampu
budaya masyarakat yang multi etnik dengan memberikan dampak yang positif bagi
potensi alam dan lingkungan untuk menarik perkembangan pariwisata di Kelurahan
minat wisatawan berkunjung ke Kelurahan Serangan, serta mampu membawa berkah
Serangan. Keinginan masyarakat untuk bagi perkembangan pariwisata Bali secara
mampu mengoptimalkan pemanfaatan menyeluruh. Selain itu ada juga beberapa
potensi yang ada di daerahnya, diperlukan kelompok pendukung lainnya seperti
identifikasi potensi sumber daya alam (flora, Kelompok Nelayan Mina Cipta Karya dan
fauna, keindahan alam) serta potensi Kelompok Karya Segara, yang salah satu
masyarakat (kebudayaan, adat istiadat, bentuk kegiatannya adalah memelihara
kesenian, jenis makanan dan segala bentuk ekosistem terumbu karang melalui
aktifitasnnya). Beberapa potensi sumber proses trasplatasi karang yang
daya alam yang dimaksud seperti (1) fauna dilakukan masyarakat lokal. Kondisi sosial
berupa berupa burung kokokan dan habitat budaya masyarakat nelayan serta aktifitas
penyu, (2) jenis flora berupa rumput laut beberapa kelompok tersebut mampu dikemas
jenis catoni dan sangnc yang bisa dan dijadikan daya tarik pengembangan
dimanfaatkan untuk bahan kosmetika dan ekowisata, karena potensi ini merupakan aset
obat-obatan, (3) sungai buatan atau kanal utama untuk pemberdayaan masyarakat lokal
dapat digunakan sebagai aktifitas dan pembangunan wilayah berbasis
memancing, sepeda air, dan perahu boat, (4) pariwisata yang berwawasan lingkungan.
wilayah-wilayah terumbu karang dan pantai Ecotourism atau ekowisata baru muncul
dimanfaatkan untuk wisata Diving maupun pada akhir-akhir ini dan sampai sekarang
fishing. Potensi sumber daya budaya seperti: belum ada kesepakatan mengenai artinya.
(1) budaya masyarakat nelayan, (2) kegiatan Ekowisata telah berkembang dengan cepat
ritual keagamaan, (3) kesenian arsitektur di pertama-tama karena ekowisata mempunyai
tiga situs bangunan cagar budaya dan arti yang lain bagi orang-orang awarn dan
kesenian masyarakat lainnya. istilah tersebut sangat sering digunaka untuk
Potensi yang dimiliki kelurahan Serangan pemasaran, imbuhan eco (seperti ecotour,
didukung oleh sebutan Serangan sebagai ecotravel. ecosafari, ecovacation dan lain-
kawasan lindung, serta terkenal dengan lain) telah disamakan artinya dengan
sebutan pulau Penyu (Turtle Island) dan pemanfaatan yang bertanggungjawab (Carter
letaknya yang strategis dengan pusat industri dan Lowman, 1994). Boo (1992) membuat
pariwisata Bali menjadikan Serangan dikenal batasan ekowisata sebagai wisata alam yang
oleh wisatawan dan dilirik oleh investor mendorong usaha pelestarian dan
yang ingin menanamkan modalnya (Andiani, pembangunan berkelanjutan, memadukan
2007:3). Adanya dukungan masyarakat pelestarian dengan pembangunan ekonomi
Serangan dengan terbentuknya beberapa dan membuka lapangan kerja baru bagi
kelompok sosial yang ada di Kelurahan penduduk setempat serta memberikan
Serangan merupakan bukti kepedulian pendidikan lingkungan kepada pengunjung.
masyarakat terhadap potensi wilayahnya. Dalam pelaksanaan kegiatan ekowisata,
Bukti-bukti kepedulian masyarakat Yoeti (1997) merumuskan lima faktor
Serangan seperti terbentuknya kelompok batasan yang mendasar dalam penentuan
kerja yang mengawasi kegiatan TCEC prinsip utama ekowisata yaitu: (1)
(Turtle Conservation and Exhibition Center) Lingkungan, ekowosata harus bertumpu pada
yang telah berlangsung, dan masyarakat di lingkungan alam dan budaya yang relatif
Kelurahan Serangan telah terlibat langsung belum tercemar atau terganggu, (2)
di dalam pengembangan dan pengelolaan Masyarakat, ekowisata harus dapat
TCEC. Kegiatan tcrsebut telah berguna bagi memberikan manfaat ekologi, sosial dan
pendidikan prilaku stewardship masyarakat ekonomi langsung kepada masyarakat
terhadap sumber daya alamnya (utamanya setempat, (3) Pendidikan dan pengalaman,
ekowisata harus dapat meningkatkan Informasi dan promosi (information): calon
pemahaman akan lingkungan alam dan wisatawan periu memperoleh informasi
budaya yang terkait, sambil memperoleh tentang daerah tujuan wisata yang akan
pengalaman yang mengesankan, (4) dikunjunginya. Untuk itu perlu dipikirkan
Berkelanjutan, ekowisata harus dapat cara-cara publikasi atau promosi yang akan
memberikan sumbangan positif bagi dilakukan.
keberlanjutan ekologi dari lingkungan Pengelolaan pariwisata berbasis
tempat kegiatan dan tidak merusak serta masyarakat merupakan konsep pariwisata
menurunkan mutu, baik untuk jangka pendek Alternatif sebagai antisipasi terhadap
maupun jangka panjang, (5) Manajemen, pariwisata konvensional.Pariwisata alternatif
ekowisata harus dapat dikelola dengan cara mempunyai pengertian ganda, di suatii sisi
yang dapat menjamin keberlangsungan (daya dianggap sebagai salah satu bentuk
hidup) lingkungan alam dan budaya yang kepariwisataan yang ditimbulkan oleh reaksi
terkait di daerah tempat kegiatan ekowisata, terhadap dampak negatif dari pengembangan
sambil menerapkan cara mengelola yang dan perkembangan pariwisata konvensional.
terbaik untuk menjamin kelangsungan hidup Pada sisi lain dianggap sebagai bentuk
ekonominya. Menurut Gunn (1994), kepariwisataan yang berbeda dari pariwisata
perencanaan pengembangan pariwisata konvensional untuk menunjang kelestarian
ditentukan oleh keseimbangan potensi lingkungan (Myra, 1997:75), Pitana (1977:1)
sumber daya'dan jasa yang dimiliki (supply) menambahkan bahwa paradigma pariwisata
dan permmtaan atau minat wisatawan kerakyatan adalah berarti pembangunan yang
(demand). Komponen supply terdiri atas mempunyai keberpihakan kepada rakyat,
atraksi (potensi keindahan alam dan budaya atau mengutamakan kepentingan rakyat.
seita bentuk kegiatan wisata), transportasi, Sementara itu konsep pengelolaan
pelayanan, informasi dan promosi. menurut Soewamo dalam Tular (2005),
Komponen demand terdiri atas pasar wisata adalah proses pelaksanaan pencapaian tujuan
(keinginan atau tujuan wisatawan) dan tertentu yang diselenggarakan dengan
karakteristik wisatawan. pengendalian. Mengelola pengertiannya
Aspek-aspek yang perlu diketahui atau lebih dekat ke arah pengendalian atau
dikaji dalam perencanaan pariwisata sebagai menyelenggarakan. Pengelolaan pariwisata
berikut: (1) Wisatawan (tourist): berbasis masyarakat adalah industri
pengetahuan awal terhadap karakteristik kepariwisataan yang pelaku utamanya
wisatawan yang diharapkan datang. Dari adalah rakyat itu sendiri dengan
mana saja inereka datang, anak muda atau bermodalkan pada kesederhanaan dan
orang tua, pengusaha atau orang biasa, apa keunikan kehidupan keseharian dan adat
kesukaannya dan pada musim apa saja budaya, di mana rakyatakan mendapatkan
mereka melakukan perjalanan, (2) nilai tambah (value addeted) dalam
Pengangkutan (transportations): kehidupan ekonominya maupun sosial
Pengetahuan mengenai jadual, bagaimana (Dyana. 2004:7-10). Tolok ukur pengelolaan
fasilitas transportasi yang telah tersedia atau pariwisata berbasis kerakyatan adalah
yang akan dapat digunakan. Baik untuk terciptanya hubungan yang harmonis antara
membawa wisatawan dari negara ke daerah masyarakat lokal, sumber daya alam atau
tempat wisata yang akan ditutju dan budaya dan wisatawan (Natori, 2001: 1l-22).
bagaimana transportasi lokal yang melayani Hal ini dapat dilihat dari: (1) adanya
wisatawan di daerah tempat wisata yang peningkatan antusiasme pembangunan
dikunjungi, (3) Fasilitas pelayanan (services masyarakat melalui pcmbcntukan suatu
facilities): fasilitas apa yang tersedia di wadah organisasi untuk menunjang segala
daerah tujuan wisata tersebut, bagaimana inspirasi masyarakat, melalui sistem
Aomodasi perhotelan yang ada, restoran, kolaborasi antara pemerintah dengan
kantor pos, kantor telepon dan lain-lain, (4) masyarakat lokal. (2) Adanya keberlanjutan
lingkungan fisik yang ada di masyarakat, masyarakat Serangan, khususnya yang
caranya melalui konservasi, promosi, dan terkait dengan tanggapan terhadap
menciptakan tujuan hidup yang harmonis pengembangan kegiatan ekowisata di
antara sumber daya alam, dan sumber daya Kelurahan Serangan menggunakan teknik
budaya. (3) Adanya keberlanjutan ekonomi snowball sampling. Penelusuran informasi
melalui pemerataan dan keadilan dalam dimulai dengan mendatangi elit birokrasi
menikmati hasil-hasil pembangunan. (4) desa sebagai aktor yang bertanggung jawab
Membangun sistem yang menguntungkan secara formal terhadap pelaksanaan
masyarakat seperti sistem informasi yang pembangunan di Kelurahan Serangan yaitu
dapat digunakan bersama-sama. (5) Menjaga Lurah Serangan (I Made Poniman, SH). Dari
kepuasan wisatawan melalui pelayanan yang Lurah serangan diperoleh petunjuk tentang
baik, pengadaan informasi yang efektif, informasi lainnya yang dianggap mampu
efisien, tepat guna serta mcngutamakan untuk memberikan informasi tentang
kenyamanan bagi wisatawan. masalah yang akan diteliti.
Berdasarkan latar belakang tersebut, Selanjutnya dari informan pangkal yaitu
masalah yang akan dibahas adalah: (a) Lurah Serangan didapatkan beberapa
Potensi ekowisata apa saja yang ada di informasi kunci yaitu Bendesa Adat
Kelurahan Serangan, (b) Bagaimana upaya (Nyoman Astawa, SH), Ketua LPM
pengembangan kegiatan ekowisata di (Nyoman Wirata), Ketua Pokja
Kelurahan Serangan. Penelitian ini bertujuan Pembangunan TCKC (Wayan Geriya), pihak
untuk mengkaji potensi fisik dan non-fisik PT. BTID (Gusti Ngurah Saputra,), Tokoh
yang dimiliki Kelurahan Serangan dalam Pelopor Kegiatan Transplantasi Terumbu
pengembangannya sebagai daya tarik Karang (Wayan Patut) dan beberapa tokoh
kegiatan ekowisata yang berbasis pariwisata masyarakat lainnya. Selain informan kunci
berkelanjutan di Kelurahan Serangan. dalam penelitian ini juga dilengkapi dengan
informan pendamping scperti pemerintah,
METODE PENELITIAN dalam hal ini adalah Staf Dinas Pariwisata
Penelitian ini dilakukan mulai Pebruari Propinsi Bali, pihak LSM Bahtera Nusantara
samapi dengan April 2016. Pendekatan yang dan beberapa masyarakat Serangan.
dipakai dalam penelitian ini adalah Observasi langsung dalam penelitian ini
pendekatat deskriptif kualitatif, yaitu ditempuh melalui observasi secara sistematis
pengukuran yang cermat terhadap fenomena yaitu pengamatan dan pencatatan gejala-
sosial tertentu. Karena penelitian ini gejala yang tampak pada objek penelitian
ditujukan pada pemecahan masalah, maka untuk menentukan status dan posisi
metode ini tidak hanya terbatas pada permasalahan yang akan diteliti serta untuk
penghimpunan dan menyusun data dari menyusun instrumen penelitian dan
herbagai fakta yang ada, akan tetapi metihat menentukan informan dan responden yang
analisa dan interpretasi tentang arti data akan dihubungi selanjutnya.
tersebu melalui penelitian yang diiakukan
terhadap lingkungan alam dan lingkungan HASIL DAN PEMBAHASAN
sosial yang bersifat explanatoris Kondisi Kelurahan Serangan Setelah
(explanatory research) yaitu penelitian yang Proses Reklamasi
ingin memberikan informasi secara rinci dan Reklamasi pantai yang dilakukan di Pulau
mendalam mengenai upaya pengembangan Serangan (Kelurahan Serangan) dengan
ekowisata di daerah Serangan Bali. Hal ini tujuan untuk pembangunan industri
juga didukung oleh data kuantitatif yang pariwisata menunjukkan dampak yang
diperlukan untuk mendukung dan positif maupun dampak negatif bagi
melengkapi data kualitatif yang digunakan. lingkungan alam, sosial dan ekonomi
Data yang terkuumpul melalui proses masyarakat Kelurahan Serangan. Sampai
wawancara dengan informan utama dari saat ini masyarakat Serangan masih
menginginkan proyek BTID bisa dilanjutkan pembuatan jalan raya sudah menyatu dengan
pada pulaunya, dengan harapan proyek itu daratan Pulau Bali.
akan memberikan keuntungan dan Secara administrasi Kelurahan Serangan
kesejahtraan. Dampak positif reklamasi yang terletak di Kecarnatan Denpasar Selatan,
dirasakan masyarakat pada saat ini seperti: Kota Denpasar. Adapun pembagian wilayah
(1) adanya reklamasi bermanfaat untuk administrasi areal Kelurahan Serangan
menghindari abrasi pantai, (2) telah meliputi sebelah utara: Desa Sanur Kauh,
memperluas area pemukiman dan sebelah timur: Selat Badung, sebelah selatan:
memperluas areal pembangunan prasarana Tanjung Benoa dan Barat: Kelurahan
pemerintahan, (3) mampu menciptakan Pedungan. Kelurahan Serangan mencakup
jaringan transportasi sehingga masyarakat tujuh Banjar/Lingkungan yaitu: Banjar
bisa meningkatkan kualitas pendidikan untuk Ponjok, Banjar Kaja, Banjar Tengah, Banjar
belajar ke tingkat yang lebih tinggi di luar Kawan. Banjar Peken, Banjar Dukuh, dan
pulau Serangan, (4) meningkatkan Lingkungan Bugis. Ketujuh Banjar tersebut
pcrekonomian rakyat, dan (5) memudahkan merupakan wilayah perkampungan Serangan
interaksi sosial masyarakat Serangan dengan yang dihuni oleh masyarakat atau penduduk
masyarakat di luar Pulau Serangan. multi-etnik yang umumnya terdiri atas
Sedangkan beberapa dampak negatif yang masyarakat Bali yang beragama Hindu, dan
dirasakan masyarakat Serangan terhadap masyarakat Bugis yang beragama Islam.
dampak reklamasi tersebut di antaranya
seperti: (1) beberapa penduduk kehilangan Potensi Wisata di Kelurahan Serangan
pekerjaan sebagai nelayan sehingga beralih Potensi adalah daya tarik, kekuatan, dan
menekuni mata pencaharian lain di luar kesanggupan yang mempunyai kemungkinan
Kelurahan Serangan. (2) meningkatnya untuk dikembangkan. Selain itu potensi
kebisingan karena mobilitas penduduk yang wisata adalah modal yang dimiliki oleh suatu
ke luar dan masuk Kelurahan Serangan daerah atau aspek wisata yang dimanfaatkan
semakin meningkat. untuk kepentingan ekonomi dengan tidak
mengesampingkan aspek sosial budaya.
Kondisi Geografis dan Lingkungan Potensi kepariwisataan di Serangan dapat
Kelurahan Serangan dilihat dari 3 aspek yaitu: daya tarik wisata,
Pulau Serangan terbentuk dari pertemuan sarana dan prasarana, serta kunjungan
rumpun karang atol laut dengan pasir yang wisatawan.
dibawa deburan gelombang laut, kemudian Serangan merupakan daerah tujuan wisata
diikat oleh perekat lempung mortel yang karena memiliki potensi yang dapat
diendapkan pada muara aliran sungai-sungai. dikembangkan menjadi atraksi wisata.
Setelah proses jutaan tahun berjalan Atraksi wisata itulah yang disebut modal
terbentuklan delta pulau karang atol yang atau sumber kepariwisataan (tourism
sekarang dikenal sebagai Pulau Serangan. resources). Modal dan potensi alam yang
Luas Pulau Serangan secara keseluruhan dimiliki Serangan merupakan penyebab
mencapai 481 hektar, terdiri atas 337,5 datangnya wisatawan ke Serangan. Kegiatan
hektar lahan kritis dan 143,5 hektar lahan kepariwisataan di Kelurahan Serangan telah
dengan tingkat kesuburan sedang. Topografi dimulai sejak tahun 1984 dengan adanya
atau bentang lahan Kelurahan Serangan pcningkatan ragam aktifitas pariwisata yang
dikelilingi oleh pantai. Kelurahan Serangan ada di daerah tujuan wisata Bali berupa
memiliki tanah yang tergolong kering wisata bahari. Kelurahan Serangan memiliki
sehingga tidak mempunyai lahan basah beragam potensi untuk dikembangkan
untuk bertani, maka untuk bahan makanan sebagai daya tarik ekowisata. Karena
pokok didatangkan dari luar Kelurahan kegiatan wisata ini akan memanfaatkan
Serangan. Secara fisik daratan Kelurahan potensi fisik dan non-fisik
Serangan setelah reklamasi pantai dan
Potensi Fisik karang yang diberi nama Kelompok Karya
Potensi fisik Pulau Serangan adalah Segara. Beberapa bentuk kegiatan seperti
potensi alam berupa kondisi geografis, dan transplantasi terumbu karang yang dilakukan
keadaan alam Pulau Serangan (kelurahan oleh kelompok tersebut akan dapat
Serangan) sarana dan prasarana berupa dipergunakan untuk menarik wisatawan
akomodasi, restoran dan aksesibilitas. berkunjung melakukan kegiatan wisata
Beberapa potensi fisik tersebut dapat seperti diving, snorkeling dan sebagainya.
dijabarkan sebagai berikut: (1) Potensi Pengenalan vegetasi terumbu karang
Wisata Bahari. (2) Pulau Serangan merupakan salah satu kegiatan ekowisata
(Kelurahan Serangan) memiliki wisata bahari yang memberikan informasi ilmiah kepada
mengingat Serangan dikelilingi oleh pantai wisatawan, misalnya tentang habitat terumbu
yang dangkal terutama bagian selatan dan karang.
timurdengan garis pantai berpasir kelabu
hitam dan putih dan memiliki 3. Tingkat Aksesibilitas yang Tinggi
keanekaragaman komunitas dan ekosistem Salah satu syarat objek wisata adalah
yang tinggi seperti mangrove, terumbu aksesibilitas atau kemudahan untuk
karang, padang lamun, dan rumput laut serta mencapai daerah tersebut. Pulau Serangan
keanekaragaman biota laut. Kegiatan yang terletak di antara tiga tourist resort yang
bisa dilakukan terkait dengan potensi wisata paling terkenal di Bali yaitu Sanur, Kuta dan
bahari yaitu surfing, diving, snorkeling, Nusa Dua, yang masing-masing
parasailing, scuba diving, sailing, fishing, dihubungkan oleh Jalan By Pass melalui
sightseeing dan photo hunting. kawasan Hutan Taman Ngurah Rai. Apalagi
dibangunnya jembatan yang menghubungkan
1. Hutan mangrove. daratan Suwung dan Pulau Serangan,
Hutan mangrove di Kelurahan Serangan semakin memperlancar transportasi bagi
berdasarkan Surat Keputusan Mentri pengembangan wisata Pulau Serangan.
Kehutanan No. 554/Kpts-II/93 tanggal 2
September 1993 dinyatakan bahwa 4. Pulau Serangan sebagai Pulau Penyu
mangrove yang ada di Serangan termasuk Pulau Serangan sejak dahulu dikenal
wilayah hutan yang telah ditetapkan sebagai dengan sebutan Pulau Penyu karena
Taman Hutan Raya Ngurah Rai yang memiliki arus pantai yang landai dan minim
merupakan kawasan pelestarian alam predator yang menyebabkan penyu hijau
terutama yang dimanfaatkan untuk tujuan memilihnya sebagai habitat. Serangan dapat
koleksi tumbuh-tumbuhan dan satwa alami diandalkan sebagai tempat hidup penyu
atau buatan baik jenis asli dan atau bukan karena sejak semula memang pulau tersebu:
asli yang diperuntukkan bagi kepentingan merupakan salah satu diantara sedikit habitat
peneliti, ilmu pengetahuan, pendidikan, penyu yang masih bisa berkembang bila
penunjang budi daya, budaya, pariwisata dan dikelola dengan baik. Apalagi telah adanya
rekreasi. Selain itu mangrove mampu pembangunan Tuttle Conservation and
mendukung keberadaan spesies di luar Exhibition Centers (TCKC) yang bcrtujuan
kawasan mangrove terutama bagi perikanan untuk mengembalikan citra Pulau Serangan
yang ada di daerah pantai. Dengan menjadi daerah ramah penyu. Atraksi penyu
tumbuhnya mangrove menjadikan Serangan tersebut sebagai salah satu pendukung daya
sebagai green belt yang vital bagi Bali. tarik penyelenggaraan kegiatan ekowisata.

2. Terumbu Karang 5. Bangunan Cagar Budaya


Saat ini masyarakat kelurahan Serangan Di Kelurahan Serangan juga terdapat 3
sudah mulai aktif dan sadar betul terhadap situs yang termasuk benda cagar budaya
perlunya pelestarian terunbu karang, yaitu Pura Dalem Cemara, Pura susunan
sehingga telah terbentuk kelompok terumbu Wadon dan Pura Dalem Sakenen. Selain itu
terdapat beberapa pura kecil lainnya seperti
Pura Beji, Pura Tirta Arum dan Pura Pat Potensi Non Fisik
Payung serta ada satu tempat peribadatan Potensi non fisik seperti potensi budaya
umat Islam di Kampung Bugis yang diberi yaitu potensi yang tumbuh dan berkembang
nama Masjid Syuhada. Bangunan cagar di Masyarakat, Pulau Serangan berupa adat-
budaya tersebut memiliki nilai sejarah yang istiadat, agama, mata pencaharian, kesenian
bisa menarik minat wisatawan untuk dan kebiasaan serta cara hidup. Adapun yang
mengetahuinya. termasuk potensi non fisik yang dimiliki oleh
6. Keramba Lumba-Lumba Kelurahan Serangan antara lain:
Sejak bulan Maret 2007 telah diresmikan 1. Masyarakat Serangan yang Multi-etnik
keramba lumba-lumba yang dimiliki salah Masyarakat Serangan terdiri atas multi
satu investor dari Batam yang menanamkan etnik yaitu orang Bali yang beragama Hindu
modalnya untuk rnenekuni usaha ini, adanya dan orang Bugis yang beragama Islam yang
keramba lumba-lumba tersebut dapat hidup rukun berdampingan sejak
mendukung keragaman daya tarik yang dahulu.Toleransi beragama ini merupakan
dimiliki Kelurahan Serangan dalam menarik potensi wisata yang perlu dibina dan
wisatawan untuk mengunjungi daerah dilestarikan untuk sebuah niasa yang
tersebut. Saat ini telah ada 4 ekor lumba- sedangm bergolak karena adanya perbedaan
lumba yang siap beratraksi untuk menghibur suku dan agama. Kehidupan masyarakat
kedatangan wisatawan. Seluruh karyawan yang multi etnik ini akan menjadi daya tarik
yang dipekerjakan di usaha keramba lumba- tersendiri bagi wisatawan eko, karena cara
lumba ini sebagian besar adalah masyarakat hidup masyarakat Hindu dan Muslim di
Serangan yang berasal dari masing-masing Kelurahan Serangan bisa terjalin dengan
Banjar. Keberadaan Dolphin Lodge ini harmonis.
sebagai salah satu pendukung untuk menarik 2. Keramahtamahan Masyarakat
minat wisatawan berkunjung ke Kelurahan Masyarakat di Kelurahan Serangan dapat
Serangan. dikatakan memiliki sistem kekerabatan yang
sangat erat sikap ramah tamah warga desa
7. Kelancaran Sarana Komunikasi sangat tercermin dalam kesehariannya,
Sarana komunikasi di Kelurahan tentunya sifat yang dimiliki oleh masyarakat
Serangan sudah tergolong maju sejak adanya di Kelurahan Serangan ini mampu menarik
reklamasi. Saat ini di Kelurahan Serangan wisatawan ke kelurahan ini. Karena
telah ada jaringan telefon bahkan telah masyarakat Kelurahan Serangan sangat
banyak dibangun wartel. Masyarakat mudah berinteraksi, sehingga para wisatawan
Serangan telah banyak memiliki radio dan nantinya tidak akan merasa asing di tengah-
televisi. Walaupun di Serangan belum ada tengah masyarakat desa dengan budaya yang
hotel atau sarana akomodasi yang lain namun berbeda.
telah banyak wisatawan yang datang ke 3. Nilai Sejarah Bangunan Budaya
Pulau Serangan. Serangan juga memiliki potensi budaya
yang memiliki nilai lebih bahkan hanya satu-
8. Sarana dan Prasarana satunya yang ada di dunia. Pertama di pulau
Sarana dan prasarana yang ada di ini berdiri Pura Sakenan yang dikeramatkan
Serangan meskipun belum lengkap tetapi umat Hindu. Banyak wisatawan yang ingin
cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan menyaksikan prosesi jalannya upacara
wisatawan seperti: jalan, listrik, air bersih, persembahyangan yang berlangsung di pura
sarana transportasi dan komunikasi, kafe- ini. Kelurahan Serangan banyak memiliki
kafe, kios-kios" dan warung kecil. Bahkan peninggalan masa lalu yang sudah tergolong
saat ini telah terdapatnya SPBU dan Pos sebagai cagar budaya di antaranya Pura
Kepolisian yang berlokasi di sebelah Kantor Sakenan dan Masjid Assyuhada yang sudah
Lurah Serangan. berumur ratusan tahun.
4. Kesenian Tradisiohal daun pandan tersebut sulit dicari maka
Kesenian di Kelurahan Serangan juga produksi tikar dari daun pandan tersebut
perlu mendapat perhatian, kesenian terhenti. Para pengerajin pernak-pernik dari
tradisional ini tumbuh di tengah-tengah kerang ini harus terus dibina dan dikelola
masyarakat yang mayoritas bermata dengan manajemen yang lebih baik, sehingga
pencaharian nelayan. Adapun beberapa berkembang dan hasilnya akan bermanfaat
kelompok kesenian tradisional yang telah guna menambah pendapatan di Kelurahan
terbentuk tersebut di antaranya adalah: Serangan.
Kelompok kesenian tradisional gong, 6. Aktivitas Petani Rumput Laut
angklung, baleganjur, (alat-alat musik Aktifitas petani rumput laut di
tradisional Bali), pesantian (nyanyian Kelurahan Serangan dalam melakukan
keagamaan. Kelompok kesenian yang paling pembudidayaan rumput laut walaupun
aktif di Kelurahan Serangan adalah dengan peralatan yang masih tradisional.
kelompok baleganjur yang dimiliki oleh akan dapat menjadi daya tarik tcrsendiri bagi
masing-masing banjar kecuali lingkungan wisatawan. Di Kelurahan Serangan telah
Kampung Bugis, karena mayoritas terdapat kelompok petani rumput laut yang
penduduknya beragama Islam. Jenis terbagi menjadi 3 (tiga) kelompok. Proses
kesenian angklung hanya dimiliki oleh budidaya pengembangan rumput laut yang
Banjar Kaja. Kelurahan Serangan juga dilakukan oleh para petani rumput laut ini,
memiliki kelompok tari yang sampai saat ini sangat menarik untuk diamati prosesnya,
masih tetap eksis dan sering melakukan tradisi yang berkaitan dengan siklus
pertunjukan-pertunjukan ke luar desa. Selain pembudidayaan pumput laut, dapat
dikembangkan secara komersial, kelompok dikembangkan dan ditawarkan sebagai salah
tari ini sangat berpartisipasi di dalam satu produk atraksi wisata, yang mampu
mempertunjukan tarian-tarian sakral, pada menjadi daya tarik untuk wisatawan melihat
saat ada upacara keagamaan di Kelurahan proses pembudidayaan rumput laut tersebut.
Serangan. Kelompok kesenian lain hanya 7. Aktifitas Kehidupan Nelayan
aktif pada kegiatan adat semata, jika atraksi Aktifitas kehidupan nelayan di Kelurahan
kesenian tradisional ini mampu dikemas dan Serangan akan menjadi daya tarik tersendiri
dikelola sebagai pertunjukan, tentunya hanya dalam pengembangan ekowisata. Banyak
akan mampu menjadi atraksi kesenian yang kegiatan oleh para nelayan, bahkan telah
menarik dan bisa di komersialisasikan tanpa terbentuk kelompok nelayan yang diberi
bermaksud mengurangi nilai atraksi tersebut nama Kelompok Cipta Karya. Kegiatan
akan tetapi mampu melestarikannya. kelompok nelayan yang beranekaragam,
5. Kerajinan Tradisional seperti nelayan laut lepas, ataupun para
Kerajinan tradisional di Kelurahan nelayan yang melakukan pembudidayaan
Serangan sangat menarik untuk diketahui, udang lobster memiliki nilai keunikan
walaupun sebagian besar masyarakat tersendiri untuk mampu mendukung kegiatan
cenderung bermata pencaharian sebagai ekowisata yang dikembangkan. Selain
nelayan.namun ditemukan sekitar 10 kepala kelompok nelayan tersebut, terdapat juga
keluarga yang aktif menyalurkan rasa kelompok nelayan Sari Baruna yang
seninya, dengan membuat cendramata yang melakukan kegiatannya untuk
bahan dasarnya dari kerang. Bahan dasar membudidayakan ikan hias, sekaligus
kerang ini didatangkan dari Jogja. Dari 10 pembudidayaan ikan hias ini mampu
kepala keluarga tersebut telah menekuni memberikan penghasilan yang cukup, karena
kerajinan ini dan mendistribusikan dari tahun ikan bias tersebut memiliki banyak peminat.
1994 sebelum adanya reklamasi, masyarakat Hal ini akan menjadi pengalaman yang tidak
di Kelurahan Serangan juga mampu terlupakan bagi para wisatawan,
membuat tikar dari bahan daun pandan, akan 8. Kegiatan Ritual Tradisional
tetapi karena saat ini bahan pokok berupa
Upacara ritual yang dilakukan warga kelurahan. Jalan yang akan dilalui oleh
masyarakat di Kelurahan Serangan yang wisatawan yaitu di masing-masing banjar
umumnya beragama Hindu, dan perlu dijaga kebersihannya. Untuk
dilaksanakan hampir tiap hari dari tingkat memudahkan wisatawan perlu dibuatkan
terkecil hingga yang lebih besar.Kegiatan jalur kegiatan ekowisata atau petunjuk jalan
ritual yang paling menonjol adalah upacara menuju jalur ekowisata yang akan dilalui di
piodalan (peringatan hari suci) di Pura Kelurahan Serangan, sehingga daya tarik
Sakenan yang datang sctiap enam (6) bulan ekowisata bisa dikenal. Hal ini perlu
sekali. Selain itu tradisi yang tidak akan ditindaklanjuti dengan pemasangan papan
diketemukan di Kelurahan manapun di Bali tanda nama objek ekowisata di Kelurahan
adalah, adanya kegiatan masyarakat Serangan yang nantinya dapat memudahkan
Serangan setiap hari purnama, masyarakat wisatawan yang ingin berkunjung ke
Kelurahan Serangan khususnya para remaja Kelurahan Serangan.
putra dan putri akan menari di depan Pura
Khayangan Tiga dengan memakai topeng Upaya Pembangunan Sarana dan
dan uniknya para penari tersebut akan menari Prasarana Pendukung Kegiatan
di luar kesadaran mereka. Menurut tokoh Ekowisata
masyarakat di Kelurahan Serangan ritual Dalam menentukan jenis fasilitas yang
tari-tarian ini bertujuan untuk akan diperlukan pada kawasan objek sangat
menyeimbangkan antara kehidupan skala tergantung dari kebutuhan dalam
dan niskala, sehingga masyarakat Serangan menjalankan aktifitas wisata yang akan
bisa hidup tentram, harmonis dan dilakukan. Dengan demikian fasilitas wisata
berdampingan. yang akan dibangun dapat disusun
9. Sejarah Kelurahan Serangan dan berdasarkan fungsinya. Terdapat beberapa
Keberadaan Kampung Bugis. program pengadaan fasilitas untuk
Sejarah mengenai keberadaan Serangan menunjang kelancaran kegiatan ekowisata
bisa menjadi hal yang menarik untuk dan segera direalisasikan yaitu: (1)
diketahui. Begitu pula halnya sejarah tentang Pembangunan Toilet Umum dan Penanganan
keberadaan Kampung Bugis yang berdiri Sampah, (2) Pembangunan rumah makan
sendiri secara adat. Warganya adalah khas Serangan, (3) Gazebo (tempat
keturunan pelaut-pelaut Bugis. peristirahatan sejenak), (4) Pembuatan art
shop, (5) Penataan areal parkir, (5)
Upaya Peningkatan Aksesibilitas Pembangunan pusat informasi dan pelayanan
Pendukung Kegiatan Ekowisata pemandu wisata.
Kegiatan ekowisata merupakan salah satu
diversifikasi produk wisata yang dewasa ini Upaya Peningkatan keterlibatan
sangat diminati oleh wisatawan asing, Masyarakat Dalam Mendukung Kegiatan
karena produk wisata ini merupakan Ekowisata.
aiternatif untuk menghilangkan kejenuhan Pembentukan sekehe kesenian sebagai
terhadap aktifitas wisata konvensional yang suatu upaya melestarikan seni dan budaya
cenderung pasif. Kondisi jalan menuju objek dan untuk menghindarkan adanya
belum tertata dengan baik. Untuk komersialisasi budaya. Pembentukan sekaa-
keberlanjutannya perlu diadakan program sekaa kesenian yang khusus dipentaskan
pengembangan dan penataan jalur ekowisata. untuk keperluan pariwisata (hiburan), juga
Bentuk-bentuk peningkatan aksesibilitas merupakan salah satu upaya dalam
pendukung yang dibutuhkan terkait dalam meningkatkan pendapatan masyarakat lokal,
pengembangan kegiatan ekowisata ini adalah sekaligus pendukung kegiatan pariwisata.
penataan jalan untuk melakukan aktifitas Seluruh hasil kerajinan masyarakat
ekowisata di Kelurahan Serangan digunakan Kelurahan Serangan baik yang berupa
pola yang sesuai dengan karakter wilayah cendramata dari kerang, serta massage oil
yang dihasilkan oleh ibu rumah tangga, kepariwisataan yang memihak rakyat. Oleh
dalam bidang kegiatan organisasi, untuk karenanya masyarakat setempatlah yang
mendapatkan pembinaan dari lembaga- harus menjadi pelaku pariwisata di
lembaga yang ahli di bidangnya, sehingga daerahnya sendiri. Salah satu menjadi
permasalahan, hambatan yang dihadapi oleh penekanan dalam model kepariwisataan ini
masyarakat dari segi permodalan, pengadaan adalah skalanya kecil. Skala yang kecil
bahan baku, serta aspek pemasarannya. dianggap dapat lebih meguntungkan dan
Untuk menanggulangi hal tersebut perlu berkelanjutan bagi rakyat banyak.
pembinaan pada masing-masing kelompok Keterlibatan masyarakat lokal menjadi
tersebut, sehingga mampu meningkatkan prasyarat tercapainya pembangunan
produktifitas para pengerajin khususnya, kepariwisataan yang berkelanjutan. Dalam
baik dari segi bentuk, warna dan corak hal ini, beberapa upaya yang bisa dilakukan,
kerajinannya sehingga hasil kerajinannya agar melibatkan masyarakat lokal dalam
dapat dijadikan barang cenderamata bagi kegiatan ekowisata ini adalah: (1)
wisatawan yang berkunjung saat melakukan Penyediaan hasil olahan rumput laut ataupun
ekowisata serta dapat menambah penghasilan hasil kerajinan masyarakat untuk ditawarkan
penduduk. kepada wisatawan. (2) mengajak wisatawan
untuk belajar cara hidup masyarakat lokal.
Upaya Peningkatan Kualitas SDM Dengan mengikutsertakan wisatawan
Masyarakat Serangan untuk Mendukung dalam kegiatan berwisata, kegiatan ini
Penyelenggaraan Kegiatan Ekowisata. dilakukan dengan berjalan kaki sehingga
Kualitas SDM di Kelurahan Serangan, wisatawan dapat berinteraksi secara langsung
secara umum dalam bidang pariwisata belum di lingkungan desa tempat masyarakat desa,
memadai. Untuk mengantisipasi hal tersebut wisatawan juga dapat melihat dan
perlu dilakukan program pelatihan dalam mempelajari secara lebih dekat kegiatan
bidang kepariwisataan. Program masyarakat lokal tidak hanya menikmati
pelatihannya di antaranya: (1) Pelatihan keindahan alamnya saja.
dalam memberikan pelayanan kepada
wisatawan. (2) Program pelatihan bahasa SIMPULAN DAN SARAN
asing dan pelatihan terhadap pengelolaan Potensi-potensi sumber daya alam dan
kegiatan ekowisata, (3) Program budaya di lingkungan Kelurahan Serangan
pegembangan kemampuan manajerial yang dapal diidentifikasikan untuk dapat
kegiatan ekowisata, (4) Pendidikan dan dijadikan objek dan daya tarik
pelatihan khusus tentang ekowisata. penyelenggaraan kegiatan ekowisata adalah
meliputi potensi fisik yaitu: (1) keindahan
Kegiatan Ekowisata Berbasis Kerakyatan alam bawah laut dengan keanekaragaman
Pengembangan kegiatan ekowisata di terumbu karang (coral) dan fauna laut. (2)
Kelurahan Serangan adalah pengembangan Bangunan cagar budaya dan bangunan-
pariwisata yang menggunakan pendekatan bangunan bersejarah, (3) Hutan mangrove
pariwisata berkelanjutan. Pariwisata dipcruntukkan kepentingan peneliti dan
berkelanjutan (Suistainable Tourism penunjang budidaya pariwisata serta
Development) atau juga Kepariwisataan rekreasi. (4) Daya tarik wisata melihat
Berbasis Kerakyatan sering disamakan penyu, (5) Potensi fisik buatan, yang berupa
dengan pariwisata alternatif. Karena keramba lumba-lumba. (7) Tersedianya
pariwisata alternatif merupakan jenis sarana dan prasarana pendukung. Potensi
pariwisata kerakyatan. Oleh karenanya non fisik meliputi: (a) nilai sejarah serta seni
strategi yang akan digunakan dalam arsitektur pada masing-masing bangunan
pengembangan kegiatan ekowisata ini adalah cagarbudaya dan sejarah Kelurahan
strategi yang menggunakan prinsip-prinsip Serangan. (b) Kehidupan sosial di tengah-
yang ada dalam pembangunan tengah masyarakat Serangan yang
multietnik. (c) Kesenian tradisional dan Boo.E. (1992).The Ecoturisme in the Boom
kegiatan tradisional. (d) Aktifitas para petani WHN Technical Paper 2 Washington
rumput laut dan kehidupan para nelayan. DC:WWF.
Potensi yang mendukung merupakan modal Charter, E and G. Lowman, (1994).
yang kuat untuk mengembangkan kegiatan Ecotourism: A Sustaihable Option.
ekowisata di Kelurahan Serangan. London. John Wiley & Sons, New York.
Bagi Pemerintah Daerah diharapkan Dhyana. Tri Arya. (2004). Pemulihan
memberikan pelatihan serta pemahaman Ekonomi Ball Melaiui Penerapan
terhadap masyarakat tentang kegiatan Pariwisata Kerakyatan Sebagai
ekowisata karena masyarakat lokal yang Perwujudan Ekonomi Kerakyatan
nantinya terlibat langsung pada .Analiais Pariwisata No. 1 Vol. 6 Hal 7-
penyelenggaraan kegiatan wisata tersebut. 10.
Peningkatan kualitas SDM melalui Gunn, C.A. (1994). Tourism Planning. Basic
peningkatan penguasaan terhadap bahasa Concepts Cases.Washington: Tailor and
asing karena difokuskan peserta ekowisata Francis.
adalah wisatawan manca negara sebagai Mardika, Nyoman. (2000). Konflik
pangsa pasar potensial kegiatan ekowisata. Kepentingan Dalam Kebijakan
Promosi yang dilakukan hendaknya bukan Pembangunan Pariwisata di Pulau
bersifat untuk memasarkan saja, namun Serangan. Tesis Untuk Program
untuk menjaring investor agar menanamkan Pascasarjana Universitas Udayana
modalnya dalam membangun fasilitas wisata Denpasar.
serta dibuatkan kepastian hukum yang jelas Myra P, Gunawan (1977). Perencanaan
bagi investor luar dan suasana aman bagi Pariwisata Berkelanjutan.Pusat Penelitiar
investor untuk menanamkan modalnya. Bagi Kepariwisataan Lembaga Penelitian ITB.
masyarakat lokal hendaknya memanfaatkan Natori, Masahito (2001). A Guide Book For
alam bawah laut yang ada di Pantai Serangan Tourism Based Community Development.
sesuai dengan daya dukung lingkungan dan APTEC Osaka Japan.
mereka harus lebih aktif dalam Pitana, (2007). Materi Perkuliahan Dasar-
memperkenalkan produk lokal yang Dasar Filsa^at Pariwisata.Denpasar S2
dihasikan. Selain itu masyarakat Serangan Kajian Pariwisata Universitas Udayana.
harus memperhatikan keberadaan bangunan Tular, Leo, W.Y. (2005). "Strategi
cagar budaya yang ada di daerahnya karena Pengelolaan Pantai Base-G Sebagai Objek
bangunan cagar budaya tersebut akan dan Daya Tarik Wisata Desa' Kayu Batu
menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk di Kabupaten Jayapura, Papua" (Skripsi).
berkunjung ke Kelurahan Serangan. Yang Denpasar: P.S Pariwisata Universitas
paling penting kebersihan kawasan harus Udayana.
selalu dijaga di setiap areal penyelenggaraan Yoeti.A.Oka. (1997).Perencanaan dan
kegiatan ekowisata. Pengembangan Pariwisata.Bandung :
Angkasa
DAFTAR RUJUKAN
Andiani, Dini Nyoman (2007).
Pengembangan Ekowisata yang berbasis
Masyarakat Menuju Pariwisata
Berkelanjutan di Kelurahan Serangan
Bali". Tesis Program Pascasarjana
Universitas Udayana Denpasar.
Anonim (2006). Data Monografi Kelurahan
Serangan.
PENGARUH METODE PEMBELAJARAN LUAR KELAS BERBANTUAN KEBUN
SEKOLAH TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI
Ni Nyoman Trisna Widari, I Nengah Suka Widana, N. Putri Sumaryani
Jurusan/Prodi. Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP PGRI Bali
Telp. 0857-3911-8246, Email : widari_t@yahoo.co.id

ABSTRACT
The Impact of Outdoor Learning Method Supported by Schools Garden toward to
Biology Study Result in Student of MIPA X in SMA Negeri 5 Denpasar Academic Year
2016/2017.
These study aims to know the impact of outdoor learning method supported by schools
garden toward to biology study result in student of X MIPA in SMA Negeri 5 Denpasar. This
is study is quasi experiment. Population of this study was all the X-grade student, and for
sampling was using simple random sampling technique and the result are X MIPA 2 class as
experiment class with total of students are 34, X MIPA 7 as control class with total of
students are 34. Method which was used in experiment class is Outdoor Learning supported
by schools garden and for control class was used conventional method. Data collection was
used test instrument of biologycal learning result through a series of validity and reliability
test. And then, to know more about the impact of outdoor learning method supported by
schools garden, the researcher has to analyze the hypothesis which use inferential statistic is
t-test (two tailed).
The result of this analyzis shows the study result had thitung= 3,161 and ttabel = 1, 996 with
signification number 5%. It means thitung>ttabel, H0 is rejected and H1 is accepted which is
stated there some impact of outdoor learning class method supported by schools garden
toward to biology study result of X MIPA student in SMA Negeri 5 Denpasar academic year
2016/2017. Value of mean acquisition in experiment class 85,32 is higher than value of mean
acquisition in control class is 78,56. So the conclusion that outdoor learning method
supported by schools garden was giving significant impact toward to biology study result of
the students.

Keyword: Outdoor Learning, Schools Garden, Biologi Study Result

PENDAHULUAN untuk berkembangnya potensi peserta didik


Pendidikan merupakan hal utama dan agar menjadi manusia yang beriman dan
wajib diberikan pada seseorang untuk bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
pengembangan potensi-potensi yang berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
dimiliki. Pendidikan dilaksanakan untuk kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara
menjaga keberlangsungan hidup seseorang, yang demokratis serta bertanggungjawab.
sebab pendidikan menjamin adanya Tujuan yang ingin dicapai setelah
perpindahan ilmu pengetahuan, nilai-nilai memperoleh pendidikan yaitu adanya
dan norma sosial dari generasi ke generasi perubahan, yang sebelumnya belum tahu
berikutnya. Hal ini sesuai dengan Undang- menjadi tahu, yang sebelumnya tidak
Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun terampil menjadi terampil. Bidang studi
2003. Dalam pasal 3, dinyatakan bahwa biologi merupakan bidang yang mempelajari
pendidikan nasional berfungsi makhluk hidup beserta lingkungannya.
mengembangkan kemampuan dan Dalam pembelajaran ini peserta didik
membentuk watak serta peradaban bangsa diharapkan mampu memahami adanya
yang bermartabat dalam rangka hubungan timbal balik antara makhluk hidup
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan dan lingkungannya. Namun berdasarkan
pengamatan di SMA Negeri 5 Denpasar, nilanya masih tergolong rendah atau
bahwa ketertarikan dalam mempelajari dibawah KKM (kriteria ketuntasan minimal),
biologi sangat kurang. Hal tersebut terjadi hal ini dibuktikan dengan perolehan nilai
karena sebagian besar peserta didik rata-ratanya yaitu 70,0. Tentunya nilai
memandang bidang studi biologi lebih tersebut masih di bawah standar ketuntasan,
banyak menghafal istilah. Maka dari itu yang mana ketuntasan belajar klasikalnya
dituntut kepiawaian guru dalam harus mencapai nilai 75,0. Rendahnya nilai
meningkatkan minat peserta didik untuk rata-rata kelas tersebut disebabkan oleh
menggali ilmu secara mandiri ini sangat sulitnya peserta didik untuk memahami
penting, dibandingkan dengan transfer ilmu konsep pelajaran biologi yang diajarkan oleh
kepada peserta didik secara langsung. guru, karena guru lebih banyak mengajarkan
Berhasil-tidaknya penguasaan materi yang biologi dengan hafalan ditambah dengan
disampaikan di kelas, tergantung suasana belajar yang monoton sehingga
kemampuan guru dalam merancang sebuah membuat mereka kurang tertarik untuk
metode untuk proses pembelajaran. Seorang mengikuti pembelajaran.
guru harus kreatif dan inovatif dalam Permasalahan proses pembelajaran terjadi
merencanakan proses pembelajaran, agar hampir pada setiap jenjang pendidikan baik
kompetensi dasar dan indikator pembelajaran dari tingkat SD, SMP, maupun SMA/SMK.
dapat tersampaikan seluruhnya. Banyak guru Seperti halnya yang terjadi pada kelas X
yang masih menyampaikan materi pelajaran MIPA SMA Negeri 5 Denpasar. Berikut
hanya dengan metode ceramah, tanya jawab penyebab rendahnya hasil belajar biologi
dan pemberian tugas, padahal metode peserta didik adalah:
pembelajaran tersebut mempunyai banyak a. Pada saat pembelajaran berlangsung
kelemahan. Kelemahan metode ceramah peserta didik hanya duduk,
adalah guru berorientasi pada Teacher mendengarkan, mencatat sehingga
Center sehingga peserta didik menjadi pasif sebagian peserta didik kurang aktif
dalam pembelajaran. Kelemahan dari metode belajar.
tanya jawab salah satunya yaitu b. Mayoritas guru menggunakan metode
kemungkinan akan terjadi penyimpangan pembelajaran ceramah di kelas (indoor
perhatian peserta didik, terutama apabila study) dalam kegiatan pembelajaran dari
terdapat jawaban-jawaban yang kebetulan pada model yang lainnya. Kelemahan
yang menarik perhatiannya, tetapi bukan metode ceramah jika diterapkan secara
sasaran yang dituju. Kelemahan ini tentu saja murni adalah tidak melibatkan anak didik
akan membawa pengaruh pada hasil belajar secara aktif dalam proses pembelajaran.
khususnya pada hasil belajar biologi. c. Suasana belajar yang monoton akan
Menurut Bloom dalam Sudjana (2013) membuat peserta didik enggan dalam
bahwa kemampuan-kemampuan tersebut mengikuti pelajaran (jenuh/mengantuk).
mencakup 3 aspek yaitu aspek kognitif, Upaya-upaya untuk dapat meningkatkan
afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar dapat hasil belajar pada mata pelajaran biologi
dilihat melalui kegiatan evaluasi yang adalah dengan menerapkan metode
bertujuan untuk mendapatkan data pembelajaran yang inovatif dan partisipatif
pembuktian yang akan menunjukkan tingkat seperti metode belajar aktif (active learning)
kemampuan peserta didik dalam mencapai metode belajar melalui pendekatan
tujuan pembelajaran. Hasil belajar biologi (Contextual Teaching Learning), belajar
merupakan hasil akhir yang dicapai oleh bersama (cooperative learning) dan
peserta didik yang mengikuti pembelajaran pembelajaran luar kelas (outdoor learning).
biologi, biasanya dinyatakan dengan nilai- Outdoor Learning merupakan metode
nilai yang diperoleh melalui tes formatif. pembelajaran yang dilakukan di luar kelas
Dari hasil pengamatan di SMA Negeri 5 untuk mengembangkan ilmu pengetahuan
Denpasar, hasil belajar biologi peserta didik yang telah mereka pelajari dengan cara
berinteraksi secara langsung dengan membangun ketrampilan sosialdan personal
lingkungan sekitar. Untuk meningkatkan yang lebih baik.
pemahaman dan keaktifan peserta didik Berdasarkan latarbelakang tersebut, maka
outdoor learning akan lebih menarik jika sangat menarik untuk diteliti tentang
dibantu dengan pemanfaatan kebun sekolah Pengaruh Pembelajaran luar kelas
dalam proses pembelajaran. berbantuan Kebun Sekolah terhadap Hasil
Kebun Sekolah adalah sumber belajar Belajar Biologi Kelas X MIPA di SMA
yang cukup efektif bagi peserta didik dalam Negeri 5 Denpasar Tahun Pelajaran
proses pembelajaran langsung. Pembelajaran 2016/2017, dengan rumusan permasalahan
berbasis kebun sekolah dapat diterapkan sebagai berikut: Apakah ada pengaruh
pada mata pelajaran biologi karena peserta metode pembelajaran luar kelas (outdoor
didik dapat belajar secara lebih mendalam learing) berbantuan kebun sekolah terhadap
melalui objek-objek yang dihadapi daripada hasil belajar biologi peserta didik kelas X
jika belajar di dalam kelas yang memiliki MIPA SMA Negeri 5 Denpasar Tahun
banyak keterbatasan. Belajar di luar kelas Pelajaran 2016/2017?
dapat menolong peserta didik untuk
mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki METODE PENELITIAN
dan dapat melihat peristiwa langsung di Berdasarkan tujuan penelitian yaitu untuk
lapangan dengan tujuan untuk mengakrabkan mengetahui pengaruh metode pembelajaran
peserta didik dengan lingkungannya. luar kelas berbantuan kebun sekolah
Keunggulan dari metode outdoor learning terhadap hasil belajar biologi, maka
berbantuan kebun sekolah ini adalah penelitian ini termasuk jenis penelitian
kegiatan belajar peserta didik lebih aktif dan eksperimen semu (quasi experiment) karena
kreatif sebab dapat dilakukan dengan tidak semua variabel dapat dikontrol.
berbagai cara seperti mengamati, bertanya Adapun desain yang digunakan adalah non-
atau wawancara, membuktikan atau equivalent posttest only control group
mendemonsrasikan, dan menguji fakta. Vera design.
(2012) mengemukakan bahwa pembelajaran Populasi penelitian adalah seluruh
di lingkungan outdoor mampu mengaktifkan peserta didik kelas X MIPA SMA Negeri 5
seluruh potensi kecerdasan anak yaitu Denpasar yang terdiri atas 9 (sembilan) kelas
kecerdasan intelektual (intellectual dengan total keseluruhan 312 orang, namun
intellegent), kecerdasan emosional dalam populasi ini, kelas X MIPA3 tidak
(emotional intellegent), dan kecerdasan termasuk kelas yang dipergunakan karena
spiritual (spiritual intellegent). Selain itu, kelas X MIPA3 termasuk kategori kelas
pembelajaran di luar kelas lebih menantang unggulan. Berdasarkan hal tersebut diambil
bagi peserta didik dan menjembatani antara dua kelas secara acak untuk dijadikan sampel
teori di dalam buku dan kenyataan yangada dengan menggunakan teknik simple random
di lapangan. Kualitas pembelajaran dalam sampling sehingga didapat kelas X MIPA2
situasi yang nyata akan memberikan sebagai kelompok eksperimen dan kelas X
peningkatankapasitas pencapaian belajar MIPA7 sebagai kelompok kontrol.
melalui objek yang dipelajari serta dapat

Tabel 1 Distribusi Banyaknya Anggota Sampel


Eksperimen (X MIPA 2) Kontrol (X MIPA 7)
Laki-laki Perempuan Total Laki-laki Perempuan Total
16 18 34 13 21 34

Variabel yang digunakan dalam penelitian


ini adalah 1) variabel bebas berupa metode
pembelajaran luar kelas berbantuan kebun H 0 :Tidak ada pengaruh metode
sekolah. 2) variabel terikat berupa hasil pembelajaran luar kelas berbantuan kebun
belajar biologi. sekolah terhadap hasil belajar biologi peserta
Data yang dikumpulkan adalah data hasil didik kelas X MIPA SMA Negeri 5
belajar biologi peserta didik kelas X MIPA Denpasar Tahun Pelajaran 2016/2017.
SMA Negeri 5 Denpasar. Ditinjau dari
H 1 : Ada pengaruh metode pembelajaran luar
sifatnya data tersebut merupakan data
kuantitatif sebab berupa angka, sedangkan kelas berbantuan kebun sekolah terhadap
ditinjau dari sumbernya data tersebut hasil belajar biologi peserta didik kelas
merupakan data primer karena diperoleh XMIPA SMA Negeri 5 Denpasar Tahun
secara langsung. Pelajaran 2016/2017.
Instrumen yang digunakan adalah tes Pengujian hipotesis nol (H0) pada
dalam bentuk essay yang menyangkut pokok penelitian ini digunakan uji-t, taraf
bahasan ekosistem. Tes yang diberikan signifikansi 5% dan derajat kebebasan dk =
berjumlah 10 soal uraian dengan skor (n1 + n2) - 2. t-test yang digunakan dengan
tertinggi yaitu 10 untuk jawaban benar rumus sebagai berikut.
dengan cara yang lengkap dan skor 0 untuk X1 X 2
t
yang tidak menjawab. Instrumen tersebut 2 2
telah diuji validitasnya dengan menggunakan s 1
s 2
rumus korelasi product moment dan n1 n2
instrumen yang valid digunakan dalam
penelitian ini. Selanjutnya, instrumen Keterangan :
tersebut diuji reliabilitasnya dengan rumus X 1 : mean pada distribusi sampel kelompok
alfa cronbach dan diperoleh hasil reliabilitas eksperimen.
instrumen sangat tinggi.
X 2 : mean pada distribusi sampel kelompok
Metode analisis data yang digunakan
kontrol.
untuk uji hipotesis adalah t-test. Sebelum 2
dilakukan uji hipotesis maka dilakukan uji S1 : varian kelompok eksperimen.
2
prasyarat. Uji prasyarat yang digunakan yaitu S1 : varian kelompok kontrol.
uji normalitas yang menggunakan chi-square n1 : jumlah sampel kelompok eksperimen.
dan homogenitas varian yang menggunakan n2 : jumlah sampel kelompok kontrol.
uji F. Setelah dilakukan uji prasyarat, Sumber: Sugiyono (2013)
didapatkan sampel terdistribusi normal dan
berasal dari varian homogen, sehingga Kriteria pengujian hipotesis digunakan
analisis t-test dapat dilanjutkan. taraf signifikansi 5% dan dk = (n1 + n2) - 2.
Jika dalam perhitungan harga t hitung > t tabel
Uji Hipotesis
maka nilai t tersebut signifikan. Hal ini
Setelah dilakukan uji prasyarat, diperoleh
sampel terdistribusi normal dan berasal dari berarti bahwa hipotesis H 0 ditolak dan H 1
populasi yang homogen, maka dilanjutkan diterima, dan bila t hitung t tabel maka nilai t
uji hipotesis dengan menggunakan analisis t- tersebut tidak signifikan. Hal ini berarti
test (two tailed), taraf signifikansi 5% bahwa hipotesis H 0 diterima dan H1 ditolak.
sebagai berikut, rumusan hipotesis statistik
yaitu,
HASIL DAN PEMBAHASAN
H 0 : 1 2 Hasil perhitungan deskripsi data yang
H1 : 1 2 diperoleh dalam penelitian ini ditunjukkan
pada Tabel 2 berikut :
Tabel 2. Nilai Sentral Hasil Belajar Biologi
Hasil Belajar
Data Statistik
Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol
Mean 85,32 78,56
Modus 85,8 82,1
Median 87,3 78,77
Standar Deviasi 9,04 8,86
Varian 79,380 76,173
Nilai Maksimum 98 95
Nilai Minimum 65 60
Rentangan 33 30

Uji hipotesis dalam penelitian ini Rekapitulasi hasil analisis uji-t


dilakukan melalui metode stastistik, yaitu: disajikan pada tabel 3.
uji-t (two tailed).

Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Analisis Uji t Kelompok Eksperimen dan kelompok Kontrol
Kelompok Rata-rata Varians thitung ttabel
Eksperimen 85,32 79,380
3,161 1,996
Kontrol 78,56 76,173

Berdasarkan tabel 3 tersebut, interpretasi berdasarkan uji statistik dengan t-test tipe
hasil pengujian hipotesis menggunakan uji-t, (two tailed) adalah berbeda secara signifikan.
yang menunjukan bahwa nilai thitungsebesar Jadi, hasil analisis data uji-t menunjukan
3,161 sedangkan hargattabel untuk dk (34 + bahwa hasil belajar peserta didik yang
34) - 2 = 66 pada taraf signifikansi 5% mengikuti metode pembelajaran luar
sebesar 1,996. Ternyata thitung lebih besar dari kelasberbantuan kebun sekolah lebih baik
pada ttabel. Ini berarti H 0 yang menyatakan dari pada hasil belajar peserta didik yang
bahwa tidak ada pengaruh metode mengikuti metode pembelajaran
pembelajaran luar kelas berbantuan kebun konvesional.
sekolah terhadap hasil belajarbiologi peserta Berdasarkan uraian tentang hasil uji
didik kelas X MIPA SMA Negeri 5 hipotesis dan hasil belajar biologi peserta
Denpasar ditolak. didik tersebut dapat dikatakan bahwa hasil
belajar biologi peserta didik dapat
Sebaliknya H 1 yang menyatakan bahwa
dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang
ada pengaruhmetode pembelajaran luar kelas diterapkan didalam kelas. Hasil perhitungan
berbantuan kebun sekolah terhadap hasil tersebut didukung dengan keunggulan dari
belajar biologi peserta didik kelas X MIPA penerapan metode pembelajaran luar kelas
SMA Negeri 5 Denpasar diterima. Hasil berbantuan kebun sekolah. Metode
analisis data menunjukan bahwa kelompok pembelajaran luar kelas memiliki
peserta didik yang mengikuti metode keunggulan dalam meningkatkan hasil
pembelajaran luar kelas berbantuan kebun belajar biologi peserta didik. Berbeda
sekolah memiliki nilai hasil belajar dengan dengan metode pembelajaran konvesional
rata-rata 85,32, sedangkan kelompok peserta yang didominasi dengan metode ceramah,
didik yang mengikuti metode pembelajaran secara teori metode pembelajaran luar
konvesional memiliki nilai hasil belajar kelas(outdoor learning) merupakan suatu
dengan rata-rata sebesar 78,56. Perbedaan kegiatan pembelajran di luar kelas yang
rata-rata nilai hasil belajar tersebut antara dapat menambah aspek kegembiraan dan
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
dapat mempermudah bagi peserta didik di peneliti melakukan analisis data hasil
dalam melakukan pembelajaran serta penelitian yaitu uji normalitas, uji
mendorong peserta didik lebih aktif dalam homogenitas dan uji hipotesis. Perbedaan
proses pembelajaran. dapat dilihat dari rata-rata hasil kelompok
Menurut Paul Suparno dalam Sadirman eksperimen yaitu 85,32 dengan kelompok
A.M (2011) menyatakan bahwa hasil belajar kontrol yaitu 78,56. Ini berarti ada perbedaan
dipengaruhi oleh pengalaman subjek belajar signifikansi antara rata-rata kelompok
dengan dunia fisik dan lingkungannya. eksperimen yang menggunakan metode
Dalam hal ini terbukti bahwa hasil belajar pembelajaran luar kelas berbantuan kebun
biologi yang diterapkan pada peserta didik sekolah dengan rata-rata kelompok kontrol
yang mengikuti metode pembelajaran luar yang menggunakan pembelajaran
kelas berbantuan kebun sekolah lebih baik konvensional. Hasil uji-t menunjukkan
dan efektif dibandingkan dengan metode bahwa nilai thitungsebesar 3,161 sedangkan
konvensional. Outdoor learning adalah ttabel dk = (n1 + n2) 2 dengan taraf
kegiatan di alam bebas atau kegiatan di luar signifikansi 5% sebesar 1,996. Ternyata
kelas dan mempunyai sifat menyenangkan, thitunglebih dari ttabel dengan kata lain 3,161 >
karena bisa melihat, menikmati, mengagumi 1,996.
dan belajar mengenai ciptaan Tuhan Yang Selanjutnya terbukti bahwa hasil belajar
Maha Kuasa yang terbentang di alam, yang biologi peserta didik yang diperoleh thitung>
dapat disajikan dalam bentuk permainan, ttabel yaitu 3,161 > 1,996 maka H0 ditolak dan
pengamatan, simulasi, diskusi, dan H1 di terima. Ini berarti bahwa ada pengaruh
petualangan sebagai media penyampaian metode pembelajaran luar kelas berbantuan
materi. Kemampuan atau kompetensi ini kebun sekolah terhadap hasil belajar biologi
diharapkan dapat dicapai melalui berbagai peserta didik kelas X MIPA SMA Negeri 5
proses pembelajaran di sekolah (Prihantoro, Denpasar tahun ajaran 2016/2017, dimana
2010). Metode pembelajaran luar kelas rata-rata hasil belajar peserta didik yang
berbantuan kebun sekolah adalah mengikuti metode pembelajran luar kelas
pembelajaran yang dikaitkan dengan situasi (outdoor learning) berbantuan kebun sekolah
nyata, serta dapat membuka wawasan lebih baik dari pada peserta didik yang
berpikir yang beragam dari peserta didik. mengikuti metode pembelajaran
Metode pembelajaran luar kelas berbantuan konvensional.
kebun sekolah mengajak peserta didik untuk
mengamati objek biologi secara langsung SIMPULAN DAN SARAN
yang berada di sekitar lingkungan sekolah Simpulan
dan memberikan pengalaman juga tantangan Berdasarkan hasil pengolahan data
tersendiri bagi peserta didik untuk menggunakan analisis statistik dengan uji-t
mengaplikasikan dan mengembangkan (two tailed), maka dapat disimpulkan bahwa
pengetahuan yang mereka miliki serta ada pengaruh metode pembelajaran luar
memberikan peningkatan dalam pencapaian kelas berbantuan kebun sekolah terhadap
hasil belajar bologi peserta didik. hasil belajar peserta didik biologi kelas X
Untuk mengetahui bahwa adanya MIPA SMA Negeri 5 Denpasar tahun
pengaruh metode pembelajaran luar kelas pelajaran 2016/2017.
berbantuan kebun sekolah terhadap hasil Hasil analisis data menujukan bahwa
belajar biologi peserta didik kelas X MIPA kelompok peserta didik yang mengikuti
SMA Negeri 5 Denpasar, peneliti metode pembelajaran luar kelas berbantuan
memberikan post-test pada tahap kebun sekolah memiliki nilai rata-rata
pengakhiran eksperimen dan kontrol. Post- sebesar 85,32 sedangkan kelompok
test yang diberikan adalah berupa tes uraian konvensional memiliki nilai hasil belajar
dimana post-test ini telah diuji validitas dan rata-rata sebesar 78,56. Jadi, hasil analisis
reliabilitasnya. Setelah diberikan post-test data dan uji-t (two tailed) menunjukan
bahwa hasil belajar peserta didik yang Rudi Susilana Dan Cepi Riyana. 2012.
mengikuti metode pembelajaran luar kelas Media Pembelajaran. Bandung: FIP UPI.
berbantuan kebun sekolah lebih baik dari Sudjana. Nana. 2013. Penilaian Hasil
pada hasil belajar peserta didik yang Belajar mengajar. Remaja Rodakarya.
mengikuti metode pembelajaran Bandung.
konvesional. Sugiyono. 2013. Statistik Untuk
Penelitian.Bandung: Alfabeta.
Saran _______. 2014. Statistika Untuk Penelitian.
Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh, Bandung: Alfabeta.
maka disarankan, 1) Bagi Guru biologi di _______. 2015. Metode Penelitian
Sekolah Menengah Atas, pada proses belajar Pendidikan. Bandung : Alfabeta .
mengajar terutama dalam pembelajaran _______. 2015. Statistik Untuk Penelitian.
biologi agar menggunakan metode Bandung: Alfabeta.
pembelajaran luar kelas berbantuan kebun
sekolah sebagai salah satu upaya
meningkatkan hasil belajar peserta didik,
karena metode pembelajaran tersebut peserta
didik mampu mengaplikasikan
pengetahuannya. 2) Penelitian dilakukan
terbatas pada peserta didik kelas X semester
genap SMA Negeri 5 Denpasar, maka
disarankan kepada peneliti yang menaruh
perhatian terhadap pendidikan untuk
mengadakan penelitian pengembangan
dalam ruang lingkup yang lebih luas,
sehingga diperoleh hasil lebih meyakinkan.

DAFTAR RUJUKAN
Adelia. Vera. 2012. Metode Mengajar anak
di Luar Kelas (Outdoor study). Divapress:
Yogyakarta.
Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-
dasarEvaluasiPendidikan. Jakarta:
BumiAksara.
Husamah. 2013. Pembelajaran Luar Kelas
Outdoor Learning.Jakarta: Prestasi
Pustakaraya.
Isnaeni. Wiwin. 2007. Bentuk-Bentuk
Pembelajaran Outdoor. JurnalPendidikan
Jurusan Biologi FPMIPA UNY.
Karjawati dalam Husamah. 2013.
Pembelajaran luar kelas. Jakarta. Pretasi
Pustaka.
Mulyasa, E. 2007. Menjadi Guru
Profesional Menciptakan Pembelajaran
Kreatif dan Menyenangkan. Rosda.
Bandung.
Purwanto. 2009. Evaluasi Hasil Belajar.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN AKTIVITAS BELAJAR MATEMATIKA
MELALUI PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING
LEARNING (CTL) PADA SISWA KELAS XII IPA 3 SMA NEGERI 1 KUTA
SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2014/2015

Luh Made Sri Yuniati1), I Komang Sukendra2) Edy Hermawan3)


1)
Guru SMA Negeri 1 Kuta, 2) dan 3)Dosen Jur./Prodi. Pend. Matematika
FPMIPA IKIP PGRI Bali
Email: lmdsriyuniati@gmail.com

ABSTRACT
Icrease the Learning Activity and Result of Learning Mathematics through Contextual
Teaching and Learning in Class XII IPA3 SMA Negeri 1 Kuta the first semester of
School Year 2014/2015
This classroom action research aims to find out if Contextual Teaching and learning
(CTL) can inprove learning outcomes and student learning activities in Math of class XII IPA
3 SMA N 1 Kuta in the odd semester of academic year 2014/2015. The subjects were 38
students, which are further divided into 10 groups. Data were collected through observation,
documentation, and evaluation test after learning. The data were analyzed using quantitative
descriptive, by calculating the percentage of learning activities, class average score and the
percentage of classical learning completeness. Hypothesis testing using trend analysis with
graphical mapping. Research result shows that after the process of Contextual Teaching and
Learning (CTL), there is an increase on student learning outcomes, seen from the average
score from 74,18 increased to 83,34 an increase of 9,16 from cycle I to II. Mastery learning
student in cycle I was 42,11% increased to 89,47% in cycle II. While the percentage of
learning activities at the end of cycle I reached 54,11% in the catagory of active, increase in
cycle II reached 77,96% in the very active catagory. There was also an increase in the number
of students active participation in the learning process, especially in asking, proposing and
completing the task. So it can be concluded that the teaching and learning models CTL may
improve learning outcomes and mathematic learning activities in class XII IPA 3 SMAN 1
Kuta, in the odd semester of academic year 2014/2015. It is supposed that teachers should
implement CTL model of teaching and learning to improve learning outcomes and learning
activities in SMAN 1 Kuta.

Keywords: Learning Outcomes, Learning Activities, Teaching and Learning CTL

PENDAHULUAN jabatan, tetapi untuk menyelesaikan


Kegiatan belajar mengajar di kelas masalahmasalah yang dihadapinya dalam
merupakan proses penting yang berlangsung kehidupan seharihari.
sebagai upaya untuk mengkonstruksi Sejak tahun 2013/2014 Kurikulum di
pengetahuan siswa, dan melibatkan interaksi SMA Negeri 1 Kuta mencakup dua
tiga komponen yakni, guru, siswa dan materi kurikulum yaitu Kurikulum 2006 serta
ajar. Interaksi ini meliputi interaksi sosial Kurikulum 2013, sehingga pada Tahun
maupun interaksi psikologis. Pada interaksi Pelajaran 2014/2015 kelas X dan XI
ini guru menyampaikan/mempresentasikan menerapkan Kurikulum 2013 sedangkan
materi ajar kepada siswa dan siswa kelas XII menerapkan KTSP 2006.
mengkontruksi pengetahuan dari materi ajar. Menerapkan dua kurikulum berbeda di
Pendidikan yang baik adalah sekolah, peneliti sangat merasakan
pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan perbedaan saat mengajar di kelas XI dan
para siswanya untuk sesuatu profesi atau kelas XII terutama di kelas XII IPA 3.
Sebagai refleksi awal, di kelas XII IPA 3, (modeling), refleksi (reflection) dan
peneliti sangat kesulitan menerapkan konsep penilaian autentik (authentic assessment).
matematika, rendahnya aktivitas siswa di Salah satu landasan teoritik pendidikan
kelas, rendahnya rasa ingin tahu siswa, ini modern termasuk CTL adalah teori
terlihat dari persentase keaktivan siswa yang pembelajaran kontruktivis. Pendekatan ini
hanya mencapai 54,11% sedangkan rata-rata pada dasarnya menekankan pentingnya
hasil belajar siswa pada pengetahuan membangun sendiri pengetahuan mereka
prasyarat hanya mencapai 57,76 dan belum lewat keterlibatan aktif proses belajar
ada siswa yang mencapai ketuntasan mengajar. Proses belajar mengajar lebih
minimal. Kondisi itu, diperkuat oleh hasil diwarnai student centered daripada teacher
diskusi peneliti dengan guru-guru bidang centered. Sebagian besar waktu proses
studi matematika yang mengajar kelas belajar mengajar berlangsung dengan
tersebut di tingkat sebelumnya, dimana berbasis aktivitas siswa. Siswa perlu
dinyatakan bahwa siswa hadir di kelas tidak dibiasakan untuk memecahkan masalah,
dengan persiapan belajar yang memadai, menemukan suatu yang berguna bagi
siswa yang aktif didominasi oleh beberapa dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru
siswa saja, siswa yang lain hanya menjadi tidak akan mampu memberikan semua
pendengar dan penonton yang bersifat pasif pengalaman kepada siswa. Siswa harus
menunggu perintah dan penjelasan guru. mengkontuksikan pengetahuan di benak
Siswa belum mampu memecahkan suatu mereka sendiri, sehingga pembelajaran perlu
permasalahan yang dihadapi, terutama dikemas menjadi proses mengkonstruksi
mengubah soal bentuk verbal menjadi model bukan menerima pengetahuan, dimana siswa
matematika dan hubungannya serta membangun sendiri pengetahuan mereka
menghayati apa yang diceritakan/dimaksud melalui keterlibatan aktif dalam proses
dalam soal. belajar dan mengajar.
Mencermati hal tersebut, peneliti Inkuiri merupakan bagian inti dari
menerapkan suatu pembelajaran yang kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual.
mampu mengkondisikan siswa sedemikian Pengetahuan dan keterampilan yang
rupa sehingga siswa dapat terlibat secara diperoleh siswa diharapkan bukan hasil
aktif dalam pembelajaran, memupuk mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi
kerjasama diantara siswa, dan siswa dengan hasil dari menemukan sendiri. Guru
guru yaitu dengan menerapkan pengajaran merancang kegiatan yang merujuk pada
dan pembelajaran kontekstual atau kegiatan menemukan, dengan langkah-
Contextual Teaching and Learning (CTL). langkah: 1) merumuskan masalah, 2)
Pengajaran dan pembelajaran mengamati atau melakukan observasi, 3)
kontekstual merupakan suatu konsepsi yang menganalisis dan menyajikan hasil dalam
membantu guru mengkaitkan konten mata tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan
pelajaran dengan situasi dunia nyata dan karya lainnya, dan 4) mengkomunikasikan
memotivasi siswa membuat hubungan antara atau menyajikan hasil karya pada pembaca,
pengetahuan dan penerapannya dalam teman sekelas, guru, atau audien yang lain.
kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, Pengetahuan yang dimiliki seseorang,
warga negara dan tenaga kerja (U.S selalu bermula dari bertanya. Questioning
Departement of Education the National (bertanya) merupakan strategi utama yang
School-to-Work yang dikutif oleh Blanchard, berbasis kontekstual. Bertanya dalam
2001 dalam Trianto, 2007). Pendekatan CTL pembelajaran dipandang sebagai kegiatan
memiliki tujuh komponen utama yaitu guru untuk mendorong, membimbing, dan
kontruktivisme (contrukctivism), bertanya menilai kemampuan berpikir siswa.
(questioning), inkuiri (inquiry), masyarakat Sedangkan bagi siswa, kegiatan bertanya
belajar (learning community), pemodelan merupakan bagian penting dalam
melaksanakan pembelajaran yaitu untuk
menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang dimiliki siswa diperluas melalui
yang sudah diketahui, dan mengarahkan konteks pembelajaran, yang kemudian
perhatian pada aspek yang belum diperluas sedikit demi sedikit. Guru
diketahuinya. Hampir pada semua aktivitas membantu siswa membuat hubungan-
belajar dapat menerapkan questioning hubungan antara pengetahuan yang dimiliki
(bertanya) antara siswa dengan siswa, antara sebelumnya dengan pengetahuan-
guru dengan siswa, antara siswa dengan pengetahuan yang baru. Pada akhir
orang lain yang didatangkan ke kelas, dan pembelajaran, guru menyisakan waktu
sebagainya. Aktivitas bertanya juga sejenak agar siswa melakukan refleksi, yang
ditemukan ketika siswa berdiskusi, bekerja berupa: 1) pernyataan langsung tentang apa
kelompok, ketika menemui kesulitan, ketika yang diperolehnya hari itu, 2) catatan atau
mengamati, dan sebagainya. Kegiatan- jurnal di buku siswa, 3) kesan dan saran
kegiatan ini menumbuhkan dorongan untuk siswa mengenai pembelajaran hari itu, 4)
bertanya. diskusi, dan 5) hasil karya.
Konsep Learning Community Gambaran perkembangan belajar siswa
menyatakan agar hasil pembelajaran perlu diketahui oleh guru agar bisa
diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. memastikan bahwa siswa mengalami proses
Dalam kelas CTL, guru melaksanakan pembelajaran dengan benar. Apabila data
pembelajaran dalam kelompok-kelompok yang dikumpulkan guru mengidentifikasi
belajar. Siswa dibagi dalam kelompok- siswa mengalami kemacetan dalam belajar,
kelompok yang anggotanya heterogen. Yang maka guru segera bisa mengambil tindakan
pandai mengajari yang lemah, yang tahu yang tepat agar siswa terbebas dari
memberitahu yang belum tahu, yang cepat kemacetan belajar. Karena gambaran tentang
menangkap mendorong temannya yang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang
lambat, yang mempunyai gagasan segera proses pembelajaran, maka assesmen tidak
memberi usul, dan seterusnya. Masyarakat dilakukan di akhir periode pembelajaran,
belajar bisa terjadi apabila ada proses tetapi dilakukan bersama-sama secara
komunikasi dua arah. Kegiatan saling belajar terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan
ini bisa terjadi apabila tidak ada pihak yang pembelajaran. Karena assesmen menekankan
dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak proses pembelajaran, maka data yang
yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan
pihak yang menganggap paling tahu, semua nyata yang dikerjakan siswa pada saat
pihak mau saling mendengarkan. Setiap melakukan proses pembelajaran.
pihak harus merasa bahwa setiap orang lain Pengumpulan data yang demikian
memiliki pengetahuan, pengalaman, atau merupakan data autentik. Penilaian autentik
keterampilan yang berbeda yang perlu menilai pengetahuan dan keterampilan
dipelajari. Teknik learning community ini (performance) yang diperoleh siswa. Penilai
sangat membantu proses pembelajaran di tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman lain
kelas. atau orang lain. Karakteristik penilaian
Dalam pembelajaran kontekstual, guru autentik diantaranya: 1) dilaksanakan selama
bukan satu-satunya model. Pemodelan dapat dan sesudah proses pembelajaran
dirancang dengan melibatkan siswa, dapat berlangsung, 2) bisa digunakan untuk
juga didatangkan dari luar yang ahli di formatif maupun sumatif, 3) yang diukur
bidangnya, atau dapat menggunakan video keterampilan dan performansi, bukan
pembelajaran dan media lainnya. mengingat fakta, 4) berkesinambungan, 5)
Refleksi adalah cara berpikir tentang terintegrasi, dan 6) dapat digunakan sebagai
apa yang baru dipelajari atau berpikir ke feed back.
belakang tentang apa-apa yang sudah kita Dengan menerapkan ke tujuh
lakukan di masa lalu. Pengetahuan yang komponen pada pendekatan CTL dalam
bermakna diperoleh dari proses.Pengetahuan proses pengajaran dan pembelajaran di kelas
pada pokok bahasan Program linier, linier. Penelitian dilaksanakan sebanyak dua
menyebabkan proses pembelajaran menjadi siklus, dan masing-masing siklus mengikuti
lebih menarik dan menyenangkan, serta empat langkah yaitu plan (perencanaan), act
menjadikan pembelajaran bermakna. (tindakan), observe (pengamatan), dan reflect
Program linier merupakan salah satu (perenungan).
aplikasi matematika yang sering digunakan Pada refleksi awal didapat permasalahan
dalam belajar matematika dan belajar bahwa keaktivan belajar siswa sangat rendah,
pemecahan masalah yang berkaitan dengan sehingga guru sangat sulit menanamkan
proses optimalisasi dari fungsi linier yang konsep, disamping itu dalam tes prasyarat
memenuhi batasan-batasan tertentu yang materi program linier belum ada siswa yang
dinyatakan dalam bentuk persamaan dan mencapai ketuntasan. Tahap perencanaan,
pertidaksamaan linier. peneliti melakukan studi dokumen hasil
Hasil penelitian yang pernah dilakukan belajar siswa, identifikasi kesulitan,
Yuniati(2010) disimpulkan bahwa penerapan menyusun program pengajaran dengan CTL,
pendekatan kontekstual dengan tutor sebaya menyiapkan instrument, lembar pengamatan
dapat meningkatkan aktivitas belajar dan alat-alat yang dibutuhkan dalam proses
matematika dari kategori cukup menjadi pembelajaran. Pelaksanaan Tindakan pada
kategori sangat baik, selain itu dapat pula siklus I dilaksanakan sebanyak empat kali
meningkatkan prestasi siswa dengan pertemuan termasuk tes evaluasi, selama
meningkatnya nilai rata-rata dan ketuntasan pelaksanaan peneliti mengisi lembar
belajar siswa. observasi keaktivan siswa, dan melakukan
Rendahnya kemampuan awal yang penilaian autentik, dan pengambilan data
dimiliki siswa, mengakibatkan minat belajar yang diperlukan dan analisis data. Tahap
kelas XII IPA 3 sangat rendah. Hal ini jika berikutnya dilakukan refleksi hasil siklus I,
dibiarkan, akan mengakibatkan siswa yang dijadikan acuan untuk perbaikan, dan
semakin sulit dalam menerima pembelajaran perencanaan pada siklus II.
/materi selanjutnya. Dengan menggunakan Data aktivitas belajar siswa bersumber
pengajaran dan pembelajaran kontekstual dari obsertvasi kegiatan siswa saat
(CTL) , proses pembelajaran menjadi lebih pembelajaran yang dikumpulkan melalui
menarik dan menyenangkan, sehingga siswa lembar observasi, sedangkan data hasil
membuat pembelajaran jadi bermakna. belajar bersumber dari nilai tes hasil belajar
Dengan demikian hasil belajar dan aktivitas siswa yang dikumpulkan dari tes tulis di
siswa belajar matematika di kelas XII IPA 3 akhir siklus I dan siklus II. Selanjutnya data
SMA Negeri 1 Kuta semester ganjil tahun aktivitas dianalisis dengan pedoman
pelajaran 2014/2015 dalam pembelajaran observasi dan ditentukan persentase
dapat ditingkatkan pula. keaktivan siswa dalam kategori kurang aktif
(jika aktifitas kurang dari 25%), cukup aktif
Metode Penelitian (jika aktifitas 26% - 50%), aktif (jika
Penelitian Tindakan Kelas ini aktifitas 51%-75%) dan sangat aktif (jika
dilaksanakan di Kelas XII IPA 3 SMA aktifitas 76%-100%). Untuk Tes Hasil
Negeri 1 Kuta pada semester ganjil tahun belajar dianalisis dengan menentukan rerata
pelajaran 2014/2015 dengan jumlah subyek hasil belajar pada siklus I dan pada siklus II
penelitian sebanyak 38 orang siswa. Waktu dan ketuntasan individu (KKM yaitu
penelitian dilaksanakan bulan Agustus- 78).Penelitian ini dinyatakan berhasil jika
Nopember 2014. Obyek penelitian adalah aktivitas belajar siswa minimal mencapai
kualitas pembelajaran meliputi aktifitas kategori aktif (51% - 75%) dan hasil belajar
belajar dan hasil belajar siswa pada siswa minimal mencapai rata-rata 78 dan
kompetensi pengetahuan dengan pengajaran minimal 85% siswa mencapai KKM.
dan pembelajaran CTL pada standar
kompetensi menyelesaikan masalah program HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilaksanakan dalam dua yang belum dicapai pada siklus I
siklus, yaitu sebanyak 4 kali pertemuan pada diantaranya: 1) kerjasama dalam kelompok
siklus 1 dan 5 kali pertemuan pada siklus 2. dalam menyelesaikan tugas yang diberikan
Kompetensi dasar yang dibahas tentang guru masih kurang, 2) sebagian siswa belum
menyelesaikan system pertidaksamaan linier serius melakukan pengamatan dan
dan merancang model matematika dari mengerjakan LKS yang diberikan guru, ini
masalah program linier. terlihat dengan masih adanya siswa yang
Langkah-langkah yang dilaksanakan melakukan kegiatan yang tidak relevan
dalam proses pembelajaran dengan dengan kegiatan pembelajaran, 3)
pendekatan kontekstual diantaranya:1) penguasaan materi dan pengalaman belajar
membagi siswa menjadi 10 kelompok yang siswa masih kurang, ini terlihat dengan
masing-masing kelompok terdiri dari 3-4 masih banyaknya siswa yang menanyakan
orang untuk membentuk masyarakat belajar materi pada guru saat
(learning community), 2) menggali informasi mendiskusikan/memecahkan permasalahan
tentang pengalaman belajar yang dimiliki yang dihadapi dalam mengerjakan tugas
siswa sebelumnya, serta mengaitkan dan yang diberikan, 4) sebagian siswa belum
mengembangkan dengan pengetahuan yang aktif, masih ada anggota tidak mau
akan dipelajari (kontukstivisme), 3) menjelaskan kepada anggota kelompok yang
melaksanakan pengamatan dengan anggota bertanya dan masih ada anggota kelompok
kelompoknya dengan mengamati pemutaran yang belum memahami tugas tetapi tidak
video pembelajaran tentang program linier mau bertanya kepada temannya, akibatnya
terkait permasalahan sehari-hari diskusi tidak berjalan dengan baik, 5) masih
(pemodelan), 4) siswa melakukan ada siswa yang belum maksimal dalam
penyelidikan dan mengumpulkan data di mengerjakan tugas mandiri, dan 6) Nilai
sekitar lingkungan sekolah serta menemukan rata-rata evaluasi akhir 74,18 belum sesuai
permasalahan yang dapat dikaitkan dengan dengan target yang diinginkan, dan masih
program linier (inquiry), 5) siswa berdiskusi ada 22 orang siswa belum mencapai
dengan kelompoknya untuk memecahkan ketuntasan belajar. .
masalah yang dihadapi serta menyusun Proses yang dilaksanakan pada siklus I,
laporannya menjadi sebuah fortofolio. dilaksanakan kembali pada siklus II, namun
Selama proses pembelajaran berlangsung dilakukan penyempurnaan dalam
guru melakukan penilaian autentik, baik perencanaan dan pelaksanaan tindakan
dalam aktivitas siswa dalam mengerjakan berdasarkan hasil refleksi pada siklus I.
tugas, terlibat aktif, kemampuan bertanya, Beberapa penyempurnaan yang dilakukan di
mengajukan pendapat, serta tanggung jawab siklus II diantaranya: 1) guru melakukan
dalam menyelesaikan tugas. pembimbingan yang lebih intensif kepada
Selama pelaksanaan siklus I, hal-hal yang masing-masing kelompok dan kepada siswa
sudah dicapai diantaranya: 1) siswa sudah yang belum meaksimal dalam mengerjakan
cukup memperhatikan penjelasan guru, tugasnya, 2) penilaian tidak hanya dilakukan
berdiskusi, menyelesaikan tugas oleh guru, tetapi juga melibatkan penilaian
berkelompok, melakukan kegiatan oleh kelompok lainnya dalam presentasi
menemukan, dan membuat model hasil kerja, 3) jumlah pertemuan
matematika dari permasalahan yang ditingkatkan.
diberikan melalui pemutaran video Dalam pelaksanaan siklus II, hal-hal yang
pembelajaran, 2) siswa cukup antusias dalam sudah dicapai diantaranya: 1) kerjasama
memberikan tanggapan terhadap pendapat siswa dalam satu kelompok dalam
kelompok lain dan menjawab pertanyaan menyelesaikan tugas yang diberikan sudah
anggota kelompok lain, dan 3) siswa mulai baik, 2) keaktifan siswa meningkat, semakin
menyenangi pembelajaran matematika yang banyaknya siswa terlibat aktif dalam proses,
menerapkan pendekatan kontekstual. Hal-hal mau bertanya, mengajukan pendapat,
menyelesaikan tugas yang diberikan, rata-rata sudah lebih dari 78 dan persentase
persentase keaktifan 77,96% dengan kategori yang tuntas sudah lebih dari 85% di akhir
sangat aktif 3) siswa sudah mempersiapkan siklus II, maka penelitian dihentikan dan
diri membahas materi pada kegiatan siswa yang belum tuntas diberikan
pembelajaran, 4) siswa sudah baik dalam bimbingan tambahan melalui pelayanan
memberi tanggapan dan bertanya dari akadermik di luar jam tatap muka,
kelompok lain dan menjawab pertanyaan Perkembangan hasil belajar siswa kelas XII
guru, 5) hasil belajar siswa sudah mencapai IPA 3 diperjelas pada gambar grafik berikut.
ketuntasan 89,47%, rata-rata nilai siswa
mencapai 83,34, dan 6) siswa sudah dapat
menggunakan konsep yang dipelajari dalam
menyelesaikan masalah sehari-hari atau
menggunakan pada mata pelajaran lainnya.
Meskipun di akhir siklus II masih ada 4
orang siswa belum mencapai ketuntasan,
kegiatan penelitain ini dikahiri pada siklus II
karena indikator ketercapaian sudah tercapai,
dan bagi siswa tersebut tetap diberikan
bimbingan individual dalam layanan
akademik di luar jam tatap muka.
Data hasil belajar siswa dikumpulkan Gambar 1: Grafik Hasil Belajar Siswa
melalui tes hasil belajar yang dilaksanakan di Data keaktifan belajar matematika
akhir siklus digabung dengan hasil penilaian dikumpulkan melalui pedoman observasi
tugas dan fortofolio. Data selanjutnya yang terdiri dari empat komponen yaitu
dianalisis dengan menghitung rata-rata dan terlibat aktif, bertanya, mengajukan
ketuntasan belajar siswa. Rekapitulasi data pendapat, dan menyelesaikan tugas. Masing-
hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel masing komponen diberi skor dengan
berikut. rentang 14, selanjutnya diolah untuk dicari
persentase keaktifan kemudian dikonversi
Tabel 1. Hasil Belajar Matematika Siswa dalam kategori kurang aktif, cukup aktif,
Kelas XII IPA 3 Tahun Pelajaran aktif dan sangat aktif. Hasil analisis data
2014/2015 keaktifan belajar siswa dengan menggunakan
No Komponen Awal Siklus Siklus Penin
I II gkatan pengajaran dan pendekatan CTL dapat
1 Jumlah Nilai 2.195 2.819 3.167 348 disajikan pada tabel berikut:
2 Rata-rata 57,76 74,18 83,34 9,16
3 Jumlah Siswa 0 16 34 18
Tabel 2. Keaktifan Belajar Matematika
Tuntas Siswa Kelas XII IPA 3 Tahun Pelajaran
4 Jumlah Siswa 38 22 4 -18
Tidak Tuntas (turun)
2014/2015
5 Ketuntasan 0% 42,11 89,47 47,36 No Komponen Siklus I Siklus II Peningkat
(%) % % % an

1 Terlibat Aktiv 59,21% 80,26% 21,05%


Dari tabel 1 dapat dipaparkan bahwa 2 Bertanya 50,00% 68,42% 18,42%
terjadi peningkatan nilai rata-rata siswa yang 3 Mengajukan 46,71% 63,16% 16,45%
Pendapat
pada tahap awal sebesar 57,76 menjadi 74,18 4 Menyelesaian 60,53% 100% 50,53%
di akhir sikuls I dan meningkat lagi menjadi Tugas
5 Persentase 54,11% 77,96% 23,85%
83,34 di akhir siklus II. Terjadi peningkatan Keaktivan
rata-rata sebesar 9,16 dari siklus I ke siklus 6 Kategori Aktif Sangat Sangat
Aktif Aktif
II, juga terjadi peningkatan persentase
ketuntasan belajar sebesar 47,36%. Masih
Berdasarkan tabel 2 di atas terlihat bahwa
ada 4 orang siswa yang belum tuntas di akhir
terjadi peningkatan persentase keaktifan
sijklus II, karena indicator ketercapaian yaitu
siswa yang pada siklus I sebesar 54,11 %
dengan kategori aktif menjadi 77,96% pada Dengan berhasilnya pengajaran dan
siklus II dengan kategori sangat aktif. Terjadi pembelajaran kontekstual (CTL) dalam
peningkatan sebesar 23,85%. Peningkatan meningkatkan hasil belajar dan aktifitas
tertinggi terjadi pada komponen belajar matematika disarankan guru dan
menyelesaikan tugas sebesar 50,53% dan siswa dapat menggunakan konsep yang
peningkatan terendah pada komponen dipelajari untuk menyelesaikan masalah
mengajukan pendapat, meningkat sebesar dalam kehidupan sehari-hari sehingga
16,45%. Keaktifan siswa secara keseluruhan pembelajaran menjadi lebih bermakna.
sudah sangat baik, dan ini tetap perlu dilatih
dalam pertemuan-pertemuan berikutnya. DAFTAR RUJUKAN
Data tersbut dapat diperjelas pada gambar A.Chaedar Alwasilah. (2007). Contextual
grafik berikut: Teaching & Learning. Bandung: MLC.
H. Abu Ahmadi. (2003). Psikologi Umum,
Jakarta: PT.Rineka Cipta.
Hamzah B. Uno.dan Masri Kuadrat (2009).
Mengelola Kecerdasan Dalam
Pembelajaran, Sebuah Konsep
Pembelajaran Berbasis Kecerdasan,
Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Hamzah B. Uno. (2008). Orientasi Baru
Dalam Psikologi Pembelajaran, Jakarta:
PT. Bumi Aksara.
Gambar 2. Grafik keaktifan Belajar Siswa Harun Rasyid & Mansur. (2008). Penilaian
Hasil Belajar, Bandung: CV.
SIMPULAN DAN SARAN Kunandar. (2008). Langkah Mudah
Berdasarkan hasil analisis data dan Penelitian Tindakan Kelas Sebagai
pembahasan yang telah disampaikan, dapat Pengembangan Profesi Guru, Jakarta: PT.
disimpulkan bahwa pengajaran dan Raja Grafindo Persada.
pembelajaran kontekstual (CTL) dapat Martinis Yamin. (2008). Paradigma
meningkatkan hasil belajar matematika pada Pendidikan Kontruktivistik Implementasi
siswa kelas XII IPA 3 SMA Negeri 1 Kuta KTSP & UU. No 14 Tahun 2005 tentang
semester ganjil Tahun Pelajaran 2014/2015. Guru dan Dosen, Jakarta: GP Press.
Hal ini terlihat dari peningkatan nilai rata- Oemar Hamalik. (2008). Proses Belajar
rata pada tes awal sebesar 57,75 menjadi Mengajar, Jakarta: PT. Bumi Aksara.
74,18 pada siklus I dan meningkat lagi Rooijakers, Ad. (1990) Mengajar dengan
menjadi 83,34 pada siklus II. Terjadi Sukses, Jakarta: Gramedia
peningkatan sebesar 9,16 dari siklus I ke Trianto. (2007). Model-Model Pembelajaran
siklus II. Persentase ketuntasan belajar siswa Inovatif Berorientasi Kontruktivistik,
juga meningkat dari 42,11% pada siklus I Jakarta: Prestasi Pustaka
menjadi 89,47% pada akhir siklus II Trianto, (2008). Mendesain Pembelajaran
Pengajaran dan pembelajaran kontekstual Kontekstual di Kelas, Jakarta: Cerdas
(CTL) dapat meningkatkan aktifitas belajar Pustaka Publisher.
matematika pada siswa kelas XII IPA 3
SMA Negeri 1 Kuta semester ganjil tahun
pelajaran 2014/2015. Hal ini terlihat dari
peningkatan persentase keaktifan dari
54,11% dengan kategori aktif pada siklus I,
menjadi 77,96% dengan kategori sangat aktif
pada siklus II.
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN AUDITORY,
INTELLECTUALLY, AND REPETITION TERHADAP KOMPETENSI MATEMATIS
DENGAN MENGONTROL BAKAT NUMERIK

Ni Wayan Sunita, I Wayan Sudiarsa dan I Wayan Eka Mahendra


Jurusan/Prodi. Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali
e-mail: (wayan_sunita@yahoo.com)

ABSTRACT
The Influence of Applying Auditory, Intellectual, and Repetition Learning Model to
Mathematical Competence by Controlling Numerical Telent
This report aims to review the influence application of learning model Auditory ,
Intellectually , and Repetition (AIR) against mathematical competence with to control numerical
talent class students I mathematics major FPMIPA IKIP PGRI Bali. This research is in research
quasi experiment with design research non equivalen posttest only control group design .The
population of the research is all students class I which amount to 3 class, to technique random
sample of sampling obtained class I B as a class experiment and class I A as a class control. The
analysis used the research is uji-t and analysis kovarian-1 peth ( anakova ).The analysis obtained:
(1) there is a difference competence mathematical students follow learning model Auditory,
Intellectually and Repetition (AIR) with students follow conventional learning model in class I
mathematics major FPMIPA IKIP PGRI Bali. (2) there is a difference competence mathematical
students follow learning model Auditory, Intellectually and Repetition (AIR) with students
follow conventional learning model after control numerical talent students in class I mathematics
major FPMIPA IKIP PGRI Bali, so concluded there is influence learning model Auditory,
Intellectually and Repetition (AIR) against mathematical competence mathematics with the
control numerical talent students.

Keywords: learning model Auditory, Intellectually and Repetition (AIR), mathematical


competence math, numerical talent.

PENDAHULUAN pembelajaran yang efektif akan memberikan


Pendidikan merupakan suatu aspek yang konsep bagi mahasiswa. Melalui pendidikan
sangat penting dalam kehidupan manusia.Oleh mahasiswa diharapkan mampu memperoleh
karena itu, setiap orang harus berusaha untuk ilmu pengetahuan yang nantinya dapat
meningkatkan kualitas pendidikan demi menjadi bekal untuk ikut mendukung
terwujudnya kehidupan yang lebih kemajuan bangsa.
baik.Namun, kualitas pendidikan di Indonesia Setiap mata kuliah memiliki fungsi dan
sampai saat ini masih belum menggembirakan, tujuan pembelajaran demikian pula dalam
khususnya dalam matematika. Dalam hal ini pembelajaran matematika tingkat perguruan
salah satu pembenahan yang dapat dilakukan tinggi. Matematika berfungsi mengembangkan
adalah terhadap proses pembelajaran di kemampuan menghitung, mengukur dan
perguruan tinggi. menggunakan rumus sehingga diharapkan
Perguruan tinggi sebagai ujung tombak mampu melatih mahasiswa untuk berpikir
dari pendidikan harus mendapatkan perhatian kritis dan kreatif. Selain itu, mata kuliah
khusus sehingga proses pembelajaran di matematika juga bertujuan agar mahasiswa
perguruan tinggi dapat berjalan efektif. Proses memiliki kemampuan penalaran pada pola dan
sifat, menyelesaikan model dan menafsirkan mengkomunikasikan gagasan dengan bahasa
solusi yang diperoleh serta memiliki sikap yang dapat berupa model matematika serta
menghargai kegunaan matematika dalam dapat mengembangkan kreasi melaui
kehidupan sehari-hari. pembuatan grafik maupun diagram. Selain itu
Begitu pentingnya peranan matematika pembelajaran di jurusan pendidikan
seperti yang diuraikan tersebut, seharusnya matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali
membuat matematika menjadi salah satu mata khususnya di semester I selama ini masih
kuliah yang menyenangkan dan digemari oleh menggunakan pembelajaran konvensional di
mahasiswa.Namun demikian, tidak dapat mana dosen menerangkan dan mahasiswa
dipungkiri bahwa mata kuliah matematika mendengarkan, mencatat dan menghafal
masih merupakan pelajaran yang sulit, dengan tujuan agar materi cepat selesai.
membosankan, dan sering menimbulkan Selama ini belum pernah dicoba oleh dosen
masalah belajar.Kondisi ini mengakibatkan untuk menggunakan model pembelajaran lain
mata kuliah matematika tidak disenangi, tidak selain model konvensional yang diharapkan
diperdulikan bahkan diabaikan. Ini bertolak dapat membuat pembelajaran menjadi lebih
belakang dengan apa yang diharapkan dari bermakna, lebih aktif dan tidak membosankan
belajar matematika dengan kenyataan yang bagi mahasiswa. Salah satunya adalah model
terjadi di lapangan. pembelajaran Auditory, Intellectually and
Salah satu patokan yang sering digunakan Repetition (AIR).
menggambarkan kurang berhasilnya Model pembelajaran Auditory,
pendidikan khususnya mata kuliah matematika Intellectually and Repetition (AIR) adalah
adalah kemampuan atau kompetensi model yang mengutamakan keaktifan
matematis mahasiswa yang masih di bawah mahasiswa dalam mendengarkan, melatih
rata-rata. Di mana kurangnya minat kemampuan pemecahan masalah serta
mahasiswa untuk belajar matematika karena pengulangan (evaluasi) untuk memantapkan
kurang menarik dan masih bersifat pasif.Ini kemampuan mahasiswa terkait dengan materi
bisa ditinjau dari kompetensi matematis yang dipelajari.
maupun faktor-faktor lain yang Berdasarkan uraian di atas, peneliti
mempengaruhinya. termotivasi untuk mengkaji lebih jauh
Selain mengadakan tes untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Auditory,
kompetensi matematis matematika mahasiswa, Intellectually and Repetitin (AIR) yang
ada faktor lain yang mempengaruhi berhasil kemudian peneliti tuangkan dalam penelitian
atau tidaknya suatu pembelajaran yaitu bakat yang berjudul Pengaruh Penerapan model
numerik. Bakat adalah kemampuan pada pembelajaran Auditory, Intellectually, and
bidang khusus, misalnya bakat tentang Repetition (AIR) Terhadap Kompetensi
berhitung serta mengolah angka atau disebut Matematis Dengan Mengontrol Bakat
dengan bakat numerik.Bakat numerik adalah Numerik mahasiswa Semester I Jurusan
kemampuan dasar atau bawaan yang berkaitan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI
dengan angka-angka.Bakat numerik akan Bali Tahun Pelajaran 2015/ 2016.
berkembang apabila mau dilatih dan Berdasarkan latar belakang di atas maka
dikembangkan. dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.1)
Seperti halnya di jurusan pendidikan Apakah terdapat perbedaan kompetensi
matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali, mata matematis antara mahasiswa yang mengikuti
kuliah matematika merupakan mata kuliah model pembelajaran Auditory, Intellectually
wajib karena dapat mengembangkan and Repetition (AIR) dengan mahasiswa yang
kemampuan berhitung, kemampuan mengikuti model pembelajaran konvensional
di semester I jurusan pendidikan matematika perguruan tinggi, hasil penelitian ini dapat
FPMIPA IKIP PGRI Bali? 2) Apakah terdapat dijadikan bahan pertimbangan dalam
perbedaan kompetensi matematis antara pengembangan model pembelajaran, serta
mahasiswa yang mengikuti model dapat memperbaiki proses pembelajaran
pembelajaran Auditory, Intellectually and sehingga hasil belajar mahasiswa yang
Repetition (AIR) dengan mahasiswa yang diharapkan akan tercapai. d) Bagi Peneliti,
mengikuti model pembelajaran konvensional diharapkan dapat bermanfaat untuk
setelah mengontrol bakat numerik mahasiswa mengembangkan model pembelajaran.
di semester I jurusan pendidikan matematika
FPMIPA IKIP PGRI Bali? METODE PENELITIAN
Berdasarkan pada rumusan masalah yang Penelitian ini merupakan penelitian
telah disebutkan, adapun tujuan yang ingin eksperimen semu (quasy exsperiment) dengan
dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai menggunakan desain Non Equivalen Posttest-
berikut.1) Untuk mengetahui perbedaan Only Control Group Design.Populasi di dalam
kompetensi matematis antara mahasiswa yang penelitian ini adalah seluruh mahasiswa
mengikuti model pembelajaran Auditory, semester I jurusan pendidikan matematika
Intellectually and Repetition (AIR) dengan FPMIPA IKIP PGRI Bali yang terdiri dari 3
mahasiswa yang mengikuti pembelajaran kelas. Jumlah kelas yang dipakai sampel
konvensional di semester I jurusan pendidikan dalam penelitian ini adalah sebanyak dua kelas
matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali. 2) .Penetapan kelompok sampel menggunakan
Untuk mengetahui perbedaan kompetensi teknik random sampling (Sugiyono, 2013).
matematis antara mahasiswa yang mengikuti Dari hasil random tersebut dapat ditentukan
model pembelajaran Auditory, Intellectually bahwa semester I B ditetapkan sebagai
and Repetition(AIR) dengan mahasiswa yang kelompok eksperimen, sedangkan semester IA
mengikuti model pembelajaran konvensional ditetapkan sebagai kelompok kontrol.
setelah mengontrol bakat numerik mahasiswa Data yang dikumpulkan dalam penelitian
di semester I jurusan pendidikan matematika ini adalah data tentang kompetensi matematis
FPMIPA IKIP PGRI Bali. dan data tentang hasil bakat numerik
Hasil penelitian ini diharapkan mahasiswa.Instrumen yang digunakan dalam
bermanfaat bagi pengembangan pembelajaran mengumpulkan data kompetensi matematis
Matematika, baik secara teoretis maupun matematika adalah tes hasil belajar
secara praktis. Secara teoretis, Hasil penelitian matematika yang bertujuan mengukur hasil
ini diharapkan dapat bermanfaat bagi belajar mahasiswa dalam bidang matematika
pengembangan teori pendidikan khususnya dan tes bakat numerik yang betujuan untuk
dalam mengembangkan model pembelajaran mengetahui bakat numerik yang dimiliki oleh
matematika. Secara praktis, a) Bagi Dosen, mahasiswa.
dengan model pembelajaran Auditory, Dalam penelitian ini dikaji 2 hipotesis,
Intellectually and Repetition (AIR), dosen yaitu (1) Ada perbedaan kompetensi
memperoleh pengalaman baru terutama yang matematis antara mahasiswa yang mengikuti
berkaitan dengan meningkatkan hasil belajar. model pembelajaran Auditory, Intellectually
b) Bagi mahasiswa, dengan model and Repetition (AIR) dengan mahasiswa yang
pembelajaran Auditory, Intellectually and mengikuti model pembelajaran konvensional
Repetition (AIR) dapat menjadi pembelajaran mahasiswa di semester I jurusan pendidikan
yang baru bagi mahasiswa dan berpikir matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali. (2) Ada
inovatif khususya di dalam meningkatkan perbedaan kompetensi matematis antara
hasil belajar matematika mahasiswa. c) Bagi mahasiswa yang mengikuti model
pembelajaran Auditory, Intellectually and Dari penelitian yang dilaksanakan di
Repetition (AIR) dengan mahasiswa yang jurusan pendidikan matematika FPMIPA IKIP
mengikuti model pembelajaran konvensional PGRI Bali khususnya di semester I pada
setelah mengontrol bakat numerik mahasiswa awalnya kurang bersemangat untuk
di semester I jurusan pendidikan matematika belajar.Setelah diberikan model pembelajaran
FPMIPA IKIP PGRI Bali. yang menyenangkan yaitu model
pembelajaran Auditory, Intellectually, and
HASIL DAN PEMBAHASAN Repetition (AIR) mahasiswa lebih
Berdasarkan hasil analisis data bersemangat untuk belajar, aktif bertanya,
menunjukkan bahwa rata-rata kompetensi termotivasi untuk belajar, selalu berlomba-
matematis matematika mahasiswa yang lomba ingin menyelesaika soal-soal
mengikuti model pembelajaran Auditory, matematika serta ingin meningkatkan hasil
Intellectually, and Repetition (AIR) yaitu dan prestasi belajar khususnya pembelajaran
sebesar 79,12 lebih tinggi dibandingkan matematika.Dengan model pembelajaran
dengan rata-rata kompetensi matematis Auditory, Intellectually, and Repetition (AIR)
matematika mahasiswa yang mengikuti model mahasiswa lebih percaya diri dalam
pembelajaran konvensional yaitu sebesar mengerjakan suatu permasalahan dan suasana
74,08. belajar lebih aktif, sehingga permasalahan
Hasil perhitungan uji-t juga menunjukkan yang mereka selesaikan selalu dapat mereka
bahwa thitung sebesar 2,836, sedangkan harga selesaikan dengan baik.
ttabel untuk dk = N1 + N2 2 = 31 + 31 2 = 60 Berdasarkan hasil analisis data yang
pada taraf signifikansi 5% sebesar 2,000. menunjukkan bahwa kompetensi matematis
Ternyata thitung lebih besar daripada ttabel (2,836 matematika mahasiswa yang mengikuti model
> 2,000), sehingga H0 ditolak dan Ha pembelajaran Auditory, Intellectually, and
diterima.Dengan demikian diketahui bahwa Repetition (AIR) ada peningkatan dari
ada pengaruh model pembelajaran Auditory, kompetensi matematis matematika mahasiswa
Intellectually, and Repetition (AIR) terhadap yang mengikuti model pembelajaran
kompetensi matematis mahasiswa semester I konvensional. Adanya perbedaan kompetensi
jurusan pendidikan matematika FPMIPA IKIP matematis matematika mahasiswa,
PGRI Bali. membuktikan bahwa model pembelajaran
Penerapan model pembelajaran Auditory, Auditory, Intellectually, and Repetition (AIR)
Intellectually, and Repetition (AIR) membuat sangat cocok diterapkan di jurusan pendidikan
mahasiswa menjadi lebih aktif, membiasakan matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali
diri untuk belajar menemukan atau khususnya pada mahasiswa semester I.
menyelidiki dan menumbuhkan tanggung Berdasarkan pengujian hipotesis kedua,
jawab serta kerjasama dalam kegiatan hasil perhitungan analisis kovarian satu jalur
kelompok. Melalui belajar menemukan dan menunjukkan nilai Fhitung sebesar 50,4
menyelidiki, maka mahasiswa akan lebih sedangkan nilai Ftabel dengan db penyebut 59
mudah dalam menerima pelajaran. dan db pembilang 1 pada taraf signifikansi 5%
Bagi mahasiswa, dukungan itu sangat adalah 4,00. Ternyata Fhitung > Ftabel (50,4>
penting karena dapat menggerakkan perilaku 4,00), sehingga H0 ditolak dan Ha diterima.
mahasiswa ke arah positif sehingga mampu Dengan demikian dapat diketahui ada
menghadapi segala tuntutan, kesulitan serta perbedaan kompetensi matematis matematika
mampu menanggung resiko dalam belajarnya antara mahasiswa yang mengikuti model
sehingga mahasiswa dapat memperoleh ilmu pembelajaran Auditory, Intellectually, and
pengetahuan yang baik. Repetition (AIR) dengan mahasiswa yang
mengikuti model pembelajaran konvensional menyimpulkan dan menemukan konsep-
setelah mengontrol bakat numerik mahasiswa konsep dalam materi yang dipelajari.
semester I jurusan pendidikan matematika
FPMIPA IKIP PGRI Bali.Walaupun bakat SIMPULAN DAN SARAN
numerik dikontrol (dikendalikan), penerapan Berdasarkan hasil pengujian hipotesis
model pembelajaran Auditory, Intellectually, tersebut, maka (1) Ada perbedaan kompetensi
and Repetition (AIR) tetap memberikan matematis antara mahasiswa yang mengikuti
pengaruh kepada kompetensi matematis model pembelajaranAuditory, Intellectually
matematika. and Repetition (AIR) dengan mahasiswa yang
Keberhasilan yang diperoleh seseorang mengikuti model pembelajarankonvensional di
dalam pembelajaran tidak terlepas dari faktor semester I jurusan pendidikan matematika
diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Faktor FPMIPA IKIP PGRI Bali. Diperoleh
yang berasal dari luar diri mahasiswa dapat thitung ttabel (2,836 2,000) , sehingga ada
berupa: model pembelajaran, sarana dan perbedaan antara model pembelajaran
prasarana, dosen, status ekonomi, lingkungan Auditory, Intellectually and Repetition (AIR)
keluarga, perguruan tinggi, dan lingkungan dengan model pembelajaran konvensional. (2)
masyarakat. Sementara itu, faktor yang berasal Ada perbedaan kompetensi matematis antara
dari dalam diri mahasiswa antara lain: mahasiswa yang mengikuti model
kecerdasan, minat, motivasi, dan bakat. pembelajaran Auditory, Intellectually and
Faktor-faktor dalam diri mahasiswa khususnya Repetition (AIR) dengan mahasiswa yang
telah banyak mendapat perhatian para ahli mengikuti model pembelajaran konvensional
pendidikan untuk diteliti, seberapa jauh setelah mengontrol bakat numerik mahasiswa
kontribusi atau sumbangan yang diberikan di semester I jurusan pendidikan matematika
oleh masing-masing faktor tersebut terhadap FPMIPA IKIP PGRI Bali. Diperoleh
hasil belajar (kompetensi matematis)
Fhitung Ftabel (50,4 4,00) , sehingga bakat
mahasiswa. Jadi selain model pembelajaran
yang merupakan faktor lain dari luar diri numerik mempengaruhi kompetensi matematis
mahasiswa, ada faktor lain yang berpengaruh matematika mahasiswa.
terhadap kompetensi matematis matematika Berdasarkan dengan hasil penelitian yang
yaitu bakat numerik. diperoleh maka beberapa saran yang dapat
Bakat numerik merupakan prasyarat diajukan adalah sebagai berikut. (1) Bagi
untuk mengikuti pembelajaran sehingga dapat Dosen matematika khususnya di jurusan
melaksanakan proses pembelajaran dengan pendidikan matematika FPMIPA IKIP PGRI
baik khususnya pembelajaran matematika. Bali, dalam proses belajar mengajar terutama
Mahasiswa yang mempunyai bakat numerik pembelajaran matematika diharapkan
akan lebih cepat dan cakap dibandingkan menjadikan model pembelajaran Auditory,
dengan mahasiswa yang tidak mempunyai Intellectually and Repetition (AIR) sebagai
bakat numerik dalam proses pembelajaran salah satu alternatif dalam upaya
matematika. Dengan dikendalikannya bakat meningkatkan hasil belajar khususnya mata
numerik dalam model pembelajaran Auditory, kuliah matematika. (2) Bagi Perguruan tinggi
Intellectually and Repetition (AIR) mahasiswa yang sarananya mendukung, diharapkan dalam
dipacu dengan pertanyaan-pertanyaan yang pembelajaran matematika menyarankan
mengarah pada jawaban dari permasalahan kepada dosen untuk lebih kreatif memilih dan
yang dihadapi sehingga mahasiswa dapat menggunakan model pembelajaran yang
dianggap paling sesuai dengan kondisi dan
materi pembelajaran.
DAFTAR RUJUKAN
Ayu Fitria, Dea. 2015. Pengaruh Penerapan Munandar, Utami. 1992. Mengembangkan
Model Pembelajaran Gerlach dan Ely Bakat dan Kreativitas Anak Perguruan
Terhadap Hasil Belajar Dengan tinggi. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana.
Mengontrol Bakat Numerik Mahasiswa Runtukahu, Tombokan & Selpius Kandou.
SMP: Denpasar. Tidak diterbitkan. 2014. Pembelajaran Matematika Dasar
Arikunto, Suharsimi. 2012. Dasar-Dasar Bagi Anak Berkesulitan Belajar.
Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Aksara. Sugiyono. 2013. Metode Penelitian
Candiasa, Made. 2010. Statistik Multivariat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Disertai Aplikasi SPSS. Singaraja: _____, 2014. Statistik untuk Penelitian.
Universitas Pendidikan Ganesa. Bandung: Alfabeta.
Huda, Miftahul. 2013. Model-model Sukmadinata.2009. Landasan Psikologi
Pengajaran dan Pembelajaran. Proses Pendidikan. Bandung: PT Remaja
Yogyakarta: Pustaka Belajar. Rosdakarya.
Kadir. 2015. Statistika Terapan. Jakarta:
Rajawali Pers.
HUBUNGAN MOTIVASI BERPRESTASI, KEBIASAAN BELAJAR DAN MINAT
BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA

Dewa Gede Juliana Santika Putra, I Wayan Widana dan I Wayan Sumandya
Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali
email: i.wayan.widana.bali@gmail.com

ABSTRACT
The Reletionship Between Achievement Motivation, Learning Habits and Interest in
Learning on Mathematics Learning Outcome
Learning outcomes achieved learner is influenced by internal and external factors, both
of the individual learners themselves, as well as from the surrounding environment. Similarly,
achievement motivation, study habits and interest in learning mathematics that contributes to
the achievement of the expected learning outcomes. This study has the main objective is to
determine the relationship between motivation of achievement, learning habit and interest in
learning mathematics with mathematics learning outcomes.
This type of research is correlational and is part of the ex-post facto research. This research
was conducted in SMA Negeri 1 Gianyar 2015/2016 school year involving the entire
population that class X as many as nine classes and two classes of samples taken by random
sampling technique. Data motivation of achievement, learning habit and interest in learning
mathematics are taken by using questionnaires and Likert scale. While the mathematics
learning outcomes data taken with mathematics achievement test. The data were analyzed with
statistical parametric of simple regression and multiple regression.
The results of this research show that: (1) there is a relationship between achievement
motivation and learning outcomes of mathematics, (2) there is a relationship between study
habits to learning outcomes mathematics, (3) there is a relationship interest in learning
mathematics with the results of mathematics learning, (4) there is a relationship between
motivation of achievement, learning habit and interest in learning math simultaneously with
mathematics learning outcomes of students.

Keywords: achievement motivation, study habits, interest in learning mathematics,


mathematics learning outcomes.

PENDAHULUAN pelajar yang baik, fasilitas dan lingkungan


Pembelajaran adalah serangkaian yang mendukung, serta proses belajar yang
kegiatan yang melibatkan informasi dan tepat.
lingkungan yang disusun secara terencana Motivasi merupakan faktor yang sangat
untuk memudahkan peserta didik dalam penting dalam proses pembelajaran guna
belajar. Lingkungan yang dimaksud tidak mencapai hasil dan prestasi yang
hanya berupa tempat ketika pembelajaran itu diharapkan. Motivasi dapat menjadi
berlangsung, tetapi juga metode, media, dan pendorong dan penggerak individu yang
peralatan yang diperlukan untuk dapat menimbulkan dan memberikan arah
menyampaikan informasi. Pembelajaran bagi individu yang melakukan aktivitas-
merupakan upaya yang dilakukan pendidik aktivitas tertentu untuk mencapai tujuannya.
untuk membantu peserta didik agar dapat Standar belajar baik ketuntasan belajar
menerima pengetahuan yang diberikan dan maupun kelulusan yang ditetapkan secara
membantu memudahkan pencapaian tujuan nasional yang harus dicapai oleh peserta
pembelajaran. Agar kegiatan pembelajaran didik dapat menimbulkan motivasi peserta
mencapai hasil yang optimal perlu didik dalam belajar dan berprestasi. Serta
diusahakan faktor penunjang seperti kondisi membuat peserta didik tertuntut untuk
mengubah kebiasaan belajarnya ke arah pendukungnya. Suatu tuntutan atau tekad
yang lebih baik. serta cita-cita yang ingin dicapai dapat
Mc. Donald dalam Mulyani (2006), mendorong seseorang untuk membiasakan
mengemukakan motivasi adalah perubahan dirinya melakukan sesuatu agar apa yang
energi dalam diri seseorang ditandai dengan diinginkan tercapai dengan baik. Kebiasaan
munculnya feeling dan didahului dengan belajar yang baik akan dapat meningkatkan
tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari hasil dan prestasi belajar peserta didik,
pengertian tersebut terdapat tiga elemen sebaliknya kebiasaan belajar yang tidak baik
penting tentang motivasi yaitu: a) motivasi cenderung menyebabkan hasil dan prestasi
mengawali terjadinya suatu perubahan belajar peserta didik menjadi rendah (Auron,
energi pada diri setiap individu manusia. b) 2006).
motivasi ditandai dengan munculnya rasa Kebiasaan belajar bukanlah bakat
atau feeling, afeksi seseorang. c) motivasi alamiah atau bawaan sejak lahir dari peserta
akan dirangsang karena adanya tujuan. didik. Kebiasaan individu tergantung pada
Motivasi dibedakan menjadi dua macam tujuan dan cita-citanya. Peserta didik dapat
yaitu: (1) motivasi ekstrinsik, yaitu motif- membentuk sendiri kebiasaan belajarnya.
motif yang berfungsi karena adanya Sesuai dengan tujuan dan cita-cita yang
perangsang dari luar, misalnya karena akan ingin dicapainya termasuk dalam belajar
diadakan ujian, syarat untuk melamar matematika. Jika peserta didik memiliki
pekerjaan dan sebagainya, sehingga tujuan untuk memahami matematika maka
seseorang berusaha dengan giat melakukan peserta didik akan menggunakan cara belajar
sesuatu; (2) motivasi intrinsik, yaitu motif- yang akhirnya membentuk pola belajarnya
motif yang berfungsi dengan tanpa (kebiasaan belajar) untuk dapat memahami
dirangsang dari luar. Dengan kata lain, matematika dengan baik.
dorongan sudah ada dalam diri individu, Secara umum ada dua kebiasaan belajar
misalnya kegemaran, dan sifat diri akan yaitu kebiasaan belajar yang baik dan
mempengaruhi apa-apa yang akan kebiasaan belajar yang kurang baik.
dikerjakannya. Kebiasaan belajar yang baik adalah
Dengan demikian, motivasi merupakan kebiasaan belajar yang mengandung unsur
respons dari suatu aksi yakni tujuan, dimana positif serta sesuai norma yang berlaku.
tujuan tersebut menyangkut kebutuhan dan Sedangkan kebiasaan belajar yang kurang
motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor baik adalah kebiasaan yang mengandung
luar juga tumbuh di dalam diri seseorang. unsur negatif, serta tidak sesuai dengan
Disamping itu motivasi juga merupakan norma yang berlaku (Mulyani, 2006).
penggerak dari dalam hati seseorang untuk Kebiasaan tersebut diantaranya dapat
melakukan hal yang diinginkan untuk berupa: (1) pembuatan jadwal dan
mencapai suatu tujuan. Motivasi dapat pelaksanaannya, (2) membaca dan membuat
dikatakan sebagai rancangan atau kehendak catatan, (3) mengulangi bahan pelajaran, (4)
untuk menuju keberhasilan dan konsentrasi, (5) mengerjakan tugas.
mengelakkan/menghindari kegagalan hidup. Komponen-komponen yang membentuk
Dengan kata lain, motivasi adalah proses kebiasaan belajar yang baik sebagai berikut:
menghasilkan tenaga oleh suatu keperluan (1) kesadaran untuk belajar, dalam hal
yang diarahkan untuk mencapai suatu pengaturan waktu belajar, memahami
tujuan. pelajaran, menggunakan perpustakaan,
Kebiasaan belajar merupakan pola belajar mengulang bahan pelajaran, membaca,
yang ada pada diri peserta didik yang membuat catatan, belajar dengan metode
bersifat teratur dan otomatis. Kebiasaan yang praktis dan menyelesaikan tugas
bukanlah bawaan sejak lahir melainkan dengan tepat waktu; (2) disiplin, dalam
kebiasaan itu dapat dibentuk oleh peserta hal melaksanakan jadwal dan ketepatan
didik sendiri serta lingkungan waktu dalam segala hal yang berkaitan
dengan belajar; (3) peserta didik melibatkan matematika akan memusatkan perhatiannya
diri dalam belajar dengan maksimal, dimana lebih banyak daripada peserta didik lainnya.
keterlibatan dirinya ini mencakup Kemudian, karena pemusatan perhatian yang
konsentrasi belajar dan aktif dalam belajar; intensif terhadap materi itulah yang
dan (4) memanfaatkan waktu jeda belajar memungkinkan peserta didik tadi untuk
untuk istirahat sebaik-baiknya dengan tujuan belajar lebih giat, dan akhirnya mencapai
merilekskan otak. prestasi yang diinginkan (Syah, 2010).
Minat merupakan faktor psikologis yang Keadaan tersebut menjadi kebiasaan yang
akan mempengaruhi belajar. Minat yang kurang baik pada diri peserta didik dalam
dapat menunjang belajar adalah minat belajar. Pada kegiatan proses belajar
kepada bahan/mata pelajaran dan kepada mengajar motivasi peserta didik cenderung
guru yang mengajarnya. Apabila peserta meningkat apabila mereka disuruh
didik tidak berminat kepada bahan/mata mengerjakan tugas yang yang mereka bisa,
pelajaran juga kepada gurunya, maka peserta namun akan terjadi hal sebaliknya bila tugas
didik tidak akan mau belajar. Oleh karena yang diberikan terasa sulit. Sehingga,
itu, guru harus memberi motivasi agar diharapkan peserta didik memiliki motivasi
peserta didik mau belajar dan berprestasi, kebiasaan belajar, dan minat
memperhatikan pelajaran. Guru perlu sekali belajar matematika yang baik, agar hasil
mengenal minat-minat muridnya, karena ini belajar matematika yang diperoleh peserta
penting bagi guru untuk memilih bahan didik semakin meningkat dan lebih baik dari
pelajaran, merencanakan pengalaman- sebelumnya atau dapat mempertahankan
pengalaman belajar, menuntun mereka ke hasil belajar matematika yang sudah baik.
arah pengetahuan, dan untuk mendorong Hasil belajar adalah hasil dari usaha yang
motivasi murid-murid lainnya (Hamalik, diperoleh peserta didik melalui proses
2008). pembelajaran. Hasil belajar peserta didik
Minat juga sebagai salah satu faktor dapat diketahui melalui proses evaluasi hasil
internal mempunyai peranan dalam belajar, dengan materi pembelajaran yang
menunjang hasil dan prestasi belajar peserta telah didapatkan pada saat proses
didik. Peserta didik yang tidak berminat pembelajaran, baik berupa soal objektif atau
terhadap bahan pelajaran akan menunjukkan soal uraian (esai) agar mengetahui seberapa
sikap yang kurang simpatik, malas dan tidak jauh peserta didik memahami materi yang
bergairah mengikuti proses belajar telah dipelajarinya.
mengajar. Untuk merangsang perhatian Bloom dalam Rifai (2009), menyebutkan
peserta didik setiap guru dituntut harus tiga taksonomi yang disebut dengan ranah
mampu menciptakan suasana proses belajar belajar, yaitu: (1) ranah kognitif, yang
mengajar sedemikian rupa sehingga mampu berkaitan dengan hasil belajar berupa
menarik perhatian peserta didik terhadap apa pengetahuan, kemampuan dan kemahiran
yang diberikan. Suatu keadaan yang menarik intelektual. Ranah kognitif mencakup
perhatian peserta didik diharapkan dapat kategori mengetahui (C1), memahami (C2),
menimbulkan minat dan motivasi belajar menerapkan (C3), menganalisis (C4),
peserta didik (Sriyanti, 2009). Minat mengevaluasi (C5), dan mengkreasi (C6);
merupakan kecenderungan untuk (2) ranah afektif, yang berkaitan dengan
memperhatikan dan berbuat sesuatu. perasaan, sikap, mental dan nilai. Kategori
Minat itu kecenderungan dan kegairahan tujuan peserta didikan afektif adalah
yang tinggi atau keinginan yang besar penerimaan, penanggapan, penilaian,
terhadap sesuatu (Syah, 2010). Minat dapat pengorganisasian dan pembentukan pola
mempengaruhi kualitas pencapaian hasil hidup; (c) ranah psikomotorik yang
belajar peserta didik dalam bidang-bidang berkaitan dengan kemampuan fisik seperti
studi tertentu. Misalkan seorang peserta keterampilan motorik dan saraf, manipulasi
didik yang menaruh minat besar terhadap objek dan koordinasi saraf.
Ketiga ranah tersebut akan didapat oleh matematika sulit. Di samping itu
peserta didik selama mengikuti proses kemungkinan mereka tidak bisa fokus
pembelajaran dengan baik. Sehingga, dengan belajar matematika saja, karena
peserta didik dituntut mendapatkan banyak mata pelajaran lain selain
pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang matematika yang penting untuk ditempuh.
berlaku, agar terbentuk pengetahuan yang Di samping itu sikap peserta didik yang
matang, emosi stabil, dan keterampilan yang cenderung acuh, mengobrol dengan teman,
berguna untuk diri sendiri, masyarakat, ada juga beberapa peserta didik yang
bangsa dan negara. Dengan memiliki ketiga mengerjakan PR pelajaran lain dan kurang
ranah tersebut maka peserta didik akan memperhatikan pembelajaran yang sedang
mampu bersaing di dunia internasional. berlangsung. Bila peserta didik diberi latihan
Sugihartono dalam Auron (2006), soal yang agak sulit, peserta didik tidak
menyebutkan faktor faktor yang mengerjakan soal tersebut dan tidak
mempengaruhi hasil belajar, sebagai berikut: termotivasi untuk mencari penyelesaian dari
(1) faktor internal adalah faktor yang ada soal tersebut. Peserta didik lebih senang
dalam diri individu yang sedang belajar. menunggu guru menyelesaikan soal tersebut.
faktor internal meliputi faktor jasmaniah dan Hal ini disebabkan peserta didik kurang
faktor psikologis; (2) faktor eksternal diberikan kesempatan untuk bertanya dan
adalah faktor yang ada di luar individu. menyampaikan pendapat.
Faktor eksternal meliputi faktor keluarga, Berdasarkan uraian di atas, dapat
faktor sekolah dan faktor masyarakat. dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
Faktor eksternal dan internal sangat (1) apakah ada hubungan antara motivasi
berpengaruh terhadap hasil belajar peserta berprestasi terhadap hasil belajar
didik dan saling berkaitan antara satu dengan matematika?; (2) apakah ada hubungan
yang lainnya. Jika faktor internal saja yang antara kebiasaan belajar terhadap hasil
lebih dominan ada dalam diri individu yang belajar matematika?; (3) apakah ada
sedang belajar, maka hasil belajar tidak akan hubungan antara minat belajar matematika
optimal dan kemungkinan peserta didik akan terhadap hasil belajar matematika?; dan (4)
menjadi salah pergaulan. Sebaliknya, jika apakah ada hubungan antara motivasi
faktor eksternal yang lebih dominan, maka berprestasi, kebiasaan belajar dan minat
peserta didik akan tidak dapat belajar matematika secara simultan terhadap
mengendalikan rasa egonya dalam hasil belajar matematika?
mengikuti proses pembelajaran sehingga
hasil belajarnya tidak akan maksimal. METODE PENELITIAN
Disinilah, perlu adanya keseimbangan antara Penelitian ini merupakan jenis penelitian
faktor internal dan faktor eksternal yang Ex-Post Facto yang bersifat korelasional.
mendukung pada diri individu yang belajar Pendekatan penelitian adalah kausal-
agar memperoleh hasil belajar yang komparatif yang ditandai dengan adanya
maksimal. penyebab dan mengungkap pengaruhnya
Berdasarkan hasil wawancara dan terhadap variabel tertentu. Pendekatan
observasi terhadap siswa kelas X di SMA kausal-komparatif ditunjukkan dengan
Negeri 1 Gianyar tahun pelajaran 2015/2016 adanya hubungan antara variabel motivasi
menunjukkan bahwa motivasi dan minat belajar, kebiasaan belajar, minat belajar dan
siswa belajar matematika relatif rendah. Hal hasil belajar matematika. Populasi penelitian
ini terlihat dari beberapa peserta didik yang ini adalah seluruh siswa kelas X SMA
kurang bersemangat mengikuti pelajaran Negeri 1 Gianyar tahun pelajaran
matematika. Minat belajar matematika yang 2015/2016. Sampel ditentukan
relatif rendah dan menjadi momok bagi menggunakan teknik random sampling di
peserta didik, karena mereka cenderung mana pengambilan anggota sampel dari
menganggap bahwa mata pelajaran populasi dilakukan secara acak tanpa
memperhatikan strata yang ada dalam Pengujian persayaratan analisis dilakukan
populasi dan yang dirandom adalah kelas. menggunakan program SPSS 16.0 for
Sampel dalam penelitian ada dua kelas yaitu windows. Uji hipotesis dilakukan
kelas X-MIPA2 dan X-MIPA3. menggunakan teknik analisis regresi
Data motivasi berprestasi, kebiasaan sederhana dan analisis regresi ganda.
belajar matematika, dan minat belajar
matematika dikumpulkan dengan kuesioner. HASIL DAN PEMBAHASAN
Sedangkan data hasil belajar matematika Data hasil penelitian dengan jumlah
dikumpulkan dengan metode dokumentasi. sampel sebanyak 72 orang dikelompokkan
Data hasil penelitian dianalisis secara menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok skor
bertahap sesuai dengan variabel masing- motivasi berprestasi (X1), kelompok skor
masing untuk menjawab permasalahan kebiasaan belajar (X2), kelompok skor minat
penelitian. Sebelum analisis data dilakukan, belajar matematika (X3) dan kelompok skor
terlebih dahulu diuji persyaratan analisis hasil belajar matematika peserta didik (Y).
meliputi: uji normalitas, uji linieritas dan Secara deskriptif dapat disajikan sebagai
keberartian arah regresi, uji berikut.
multikolinieritas, dan uji heterokedastisitas.

Tabel 1. Rangkuman Hasil Penelitian


Variabel
Statistik
X1 X2 X3 Y
Mean 101.65 94.32 87.71 74.48
Median 102 95 87 76
Modus 92 89 87 65
Simpangan Baku 10.44 9.22 9.80 11.49
Varians 108.93 85.09 96.07 132.19
Rentangan 54 43 60 53
Skor Maksimum 128 114 122 100
Skor Minimum 74 71 62 47

Uji Prasyarat Analisis dalam program SPSS 16.0 for windows,


a. Uji Normalitas dengan ketentuan jika sig.>0.05 maka data
Uji normalitas ini dimaksudkan untuk dikatakan berdistribusi normal dan jika
menguji apakah penyimpangan yang terjadi sig.<0.05 maka data dikatakan tidak
di dalam pengukuran sampel masih dalam berdistribusi normal. Adapun rekapitulasi
batas-batas kewajaran. Teknik yang hasil perhitungannya disajikan pada tabel
digunakan dalam analsis normalitas adalah sebagai berikut.
teknik Kolmogorov Smirnov yang terdapat

Tabel 2. Tests of Normality


Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic Df Sig.
*
X1 .060 72 .200 .994 72 .989
*
X2 .056 72 .200 .990 72 .856
*
X3 .074 72 .200 .973 72 .123

Berdasarkan tabel 4.6 ternyata Sig. > 0.05 Motivasi Berprestasi (X1), data Kebiasaan
untuk ketiga kelompok data. Dengan Belajar Matematika (X2), data Minat Belajar
demikian keempat kelompok data, yaitu data Matematika (X3) berdistribusi normal.
Berdasarkan tabel 2. di atas, ternyata independen. Hasil uji linieritas menunjukkan
nilai signifikansi Kolmogorov-Smirnova bahwa semua variabel dalam penelitian ini
lebih besar dari 0.05 (sig. > 0.05) untuk memiliki hubungan yang linier. Sedangkan
ketiga kelompok data. Dengan demikian hasil uji keberartian arah regresi
keempat kelompok data, yaitu data Motivasi menunjukkan bahwa semua variabel dalam
Berprestasi (X1), data Kebiasaan Belajar penelitian ini memiliki koefisien arah regresi
Matematika (X2), data Minat Belajar berarti atau signifikan. Uji linieritas dan
Matematika (X3) berdistribusi normal. keberartian arah dalam penelitian ini
b. Uji Linieritas dan Keberartian Arah menggunakan bantuan program SPSS 16.0
Regresi for windows. Rekapitulasi hasil perhitungan
Uji linieritas dan keberartian arah regresi uji linieritas dan keberartian arah disajikan
dilakukan untuk mengetahui hubungan pada tabel berikut.
antara variabel dependen dengan variabel

Tabel 3. Rangkuman Hasil Analisis Uji Linieritas dan Keberartian Arah Regresi
ANOVA Table
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Y * X1 Between Groups (Combined) 4204.300 35 120.123 1.027 .468
Linearity 117.015 1 117.015 1.000 .324
Deviation
4087.285 34 120.214 1.028 .467
from Linearity
Within Groups 4211.700 36 116.992
Total 8416.000 71

ANOVA Table
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Y * X2 Between Groups (Combined) 3716.800 31 119.897 1.021 .470
Linearity 85.012 1 85.012 .724 .400
Deviation
3631.788 30 121.060 1.030 .459
from Linearity
Within Groups 4699.200 40 117.480
Total 8416.000 71
ANOVA Table
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Y * X3 Between Groups (Combined) 4626.667 35 132.190 1.256 .250
Linearity 84.014 1 84.014 .798 .378
Deviation
from 4542.653 34 133.607 1.269 .241
Linearity
Within Groups 3789.333 36 105.259
Total 8416.000 71

Hasil analisis menunjukkan bahwa harga sebesar 1.028 dengan signifikansi 0.467
F tuna cocok untuk variabel Y atas X1 (>0.05), sehingga harga F tuna cocok tidak
signifikan. Untuk variabel Y atas X2 harga F Uji multikolinieritas digunakan untuk
tuna cocok sebesar 1.030 dengan mengetahui apakah terjadi korelasi yang
signifikansi 0.459 (>0.05). Dan harga F tuna kuat di antara variabel-variabel bebas. Untuk
cocok untuk variabel Y atas X3 sebesar mendeteksi apakah terjadi multikolinieritas
1.269 dengan signifikansi 0.241 (>0.05). dapat diperiksa menggunakan Variance
Jadi dapat disimpulkan bahwa hubungan Inflation Factor (VIF) menggunakan
antara variabel Motivasi Berprestasi (X1), program SPSS 16.0 for windows. Kriteria
Kebiasaan Belajar Matematika (X2) dan pengujian untuk masing-masing variabel
Minat Belajar Matematika (X3) terhadap bebas adalah jika suatu variabel bebas
Hasil Belajar Matematika (Y) berbentuk mempunyai nilai VIF<10 maka tidak terjadi
linier, sehingga telah memenuhi syarat untuk multikolinieritas dan jika nilai VIF>10
dilanjutkan dengan uji regresi sederhana dan berarti telah terjadi multikolinieritas antar
ganda. variabel bebas. Hasil perhitungan uji
c. Uji Multikolinieritas multikolinieritas disajikan pada tabel
berikut.
Tabel 4. Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Model Coefficients Coefficients Collinearity Statistics
B Std. Error Beta t Sig. Tolerance VIF
1 (Constant) 75.064 15.746 4.767 .000
X1 .214 .138 .205 1.554 .125 .802 1.246
X2 -.172 .187 -.146 -.921 .360 .559 1.789
X3 -.083 .166 -.075 -.500 .619 .628 1.591
a. Dependent Variable: Y
Pada tabel 4. di atas, diketahui bahwa nilai matematika peserta didik kelas X SMA
VIF dari masing-masing variabel bebas lebih Negeri 1 Gianyar tahun pelajaran
kecil dari 10, yaitu nilai VIF Motivasi 2015/2016.
Berprestasi (X1) sebesar 1.246; nilai VIF Ho: Tidak terdapat hubungan antara
Kebiasaan Belajar Matematika (X2) sebesar motivasi berprestasi dengan hasil belajar
1.789; nilai VIF Minat Belajar Matematika matematika peserta didik kelas X SMA
(X3) sebesar 1.591. Dengan demikian dapat Negeri 1 Gianyar tahun pelajaran
disimpulkan bahwa diantara variabel bebas 2015/2016.
tersebut tidak ada korelasi atau tidak terjadi Uji hipotesis dilakukan dengan
multikolinieritas. menggunakan analisis regresi sederhana
Uji Hipotesis dengan bantuan program SPSS 16.0 for
a. Uji Hipotesis 1 windows.Hasil uji hipotesis 1 disajikan
Ha: Terdapat hubungan antara motivasi dalam tabel berikut.
berprestasi dengan hasil belajar
Tabel 5. Model Summaryb
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square
Square Estimate
1 .237a .056 -.010 14.62318
a. Predictors: (Constant), X1
b. Dependent Variable: Y
Dari data perhitungan tersebut menunjukkan rhitung = 0.237 berada pada interval 0.20
bahwa harga rhitung > rtabel (0.227) maka 0.399, maka dapat dinyatakan bahwa
diinterpretasikan menolak Ho dan menerima terdapat hubungan yang rendah antara
Ha. Menurut interpretasi koefisien nilai r, motivasi berprestasi dengan hasil belajar
matematika peserta didik kelas X SMA dinyatakan dengan
Negeri 1 Gianyar tahun pelajaran Y 67.723 0.091X 1 Persamaan
2015/2016. Koefisien determinasi rsquare = tersebut menunjukkan bahwa nilai
0.056, hal ini menunjukkan kontribusi koefisien X1 sebesar 0.091 yang berarti
motivasi berprestasi (X1) dengan hasil apabila motivasi berprestasi peserta didik
belajar matematika peserta didik (Y) sebesar (X1) meningkat 1 poin maka hasil
5.6%. belajar matematika peserta didik (Y)
Persamaan garis regresi hubungan akan meningkat 0.091 poin.
motivasi berprestasi dengan hasil belajar
matematika peserta didik dapat
Tabel 6. ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 850.705 1 850.705 3.978 .573a
Residual 14968.615 70 213.837
Total 15819.32 71
a. Predictors: (Constant), X1
b. Dependent Variable: Y
Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 67.723 16.724 4.049 .000
X1 .091 .160 .068 .567 .573
a. Dependent Variable: Y
Berdasarkan hasil uji F diperoleh Fhitung Negeri 1 Gianyar tahun pelajaran
sebesar 3.978. Jika dibandingkan dengan 2015/2016.
Ftabel dengan df 1:71 sebesar 3.96 pada Ho: Tidak terdapat hubungan antara
taraf signifikansi 5% maka Fhitung > Ftabel. kebiasaan belajar matematika dengan
Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hasil belajar matematika peserta didik
hubungan antara motivasi berprestasi kelas X SMA Negeri 1 Gianyar tahun
(X1) dengan hasil belajar matematika pelajaran 2015/2016.
peserta didik (Y). Uji hipotesis yang kedua dilakukan
b. Uji Hipotesis 2 dengan menggunakan analisis regresi
Ha: Terdapat hubungan antara kebiasaan sederhana dengan bantuan program
belajar matematika dengan hasil belajar SPSS 16.0 for windows.
matematika peserta didik kelas X SMA
Tabel 7. Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Std. Error of the
Square Estimate
1 .247a .061 -.010 14.62651
a. Predictors: (Constant), X2
b. Dependent Variable: Y
Dari data perhitungan tersebut terdapat hubungan yang rendah antara
menunjukkan bahwa harga rhitung > rtabel, kebiasaan belajar matematika dengan hasil
maka diinterpretasikan menolak Ho dan belajar matematika peserta didik kelas X
menerima Ha. Menurut interpretasi koefisien SMA Negeri 1 Gianyar tahun pelajaran
nilai r, rhitung = 0.247 berada pada interval 2015/2016. Koefisien determinasi rsquare =
0.20 0.399, maka dapat dinyatakan bahwa 0.061, hal ini menunjukkan kontribusi
kebiasaan belajar matematika (X2) dengan Persamaan tersebut menunjukkan bahwa
hasil belajar matematika peserta didik (Y) nilai koefisien X2 sebesar 0.101 yang berarti
sebesar 6.1%. apabila kebiasaan belajar matematika peserta
Persamaan garis regresi hubungan didik (X2) meningkat 1 poin maka hasil
kebiasaan belajar matematika dengan hasil belajar matematika peserta didik (Y) akan
belajar matematika peserta didik dapat meningkat 0.101 poin. Untuk uji signifikansi
dinyatakan dengan Y 67.607 0.101X 2 garis regresi Y 67.607 0.101X 2 .
Tabel 8. ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 849.890 1 849.890 3.972 .592a
Residual 14975.430 70 213.935
Total 15825.32 71
a. Predictors: (Constant), X2
b. Dependent Variable: Y

Tabel 8. Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 67.607 17.832 3.791 .000
X2 .101 .188 .064 .538 .592
a. Dependent Variable: Y
Berdasarkan hasil uji F diperoleh Fhitung Ha: Terdapat hubungan antara minat
sebesar 3.972. Jika dibandingkan dengan belajar matematika dengan hasil belajar
Ftabel dengan df 1:71 sebesar 3.96 pada taraf matematika peserta didik kelas X SMA
signifikansi 5% maka Fhitung > Ftabel. Hal ini Negeri 1 Gianyar tahun pelajaran
menunjukkan bahwa terdapat hubungan 2015/2016.
antara kebiasaan belajar matematika (X2) Ho: Tidak terdapat hubungan antara
dengan hasil belajar matematika peserta minat belajar matematika dengan hasil
didik (Y). belajar matematika peserta didik kelas X
c. Uji Hipotesis 3 SMA Negeri 1 Gianyar tahun pelajaran
2015/2016.
Tabel 9. Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Std. Error of the
Square Estimate
1 .230a .053 -.014 14.65275
a. Predictors: (Constant), X3
b. Dependent Variable: Y
Negeri 1 Gianyar tahun pelajaran
Dari data perhitungan tersebut 2015/2016. Koefisien determinasi rsquare =
menunjukkan bahwa harga rhitung > rtabel, 0.053, hal ini menunjukkan kontribusi minat
maka diinterpretasikan menolak Ho dan belajar matematika (X3) dengan hasil belajar
menerima Ha. Menurut interpretasi koefisien matematika peserta didik (Y) sebesar 5.3%.
nilai r, rhitung = 0.230 berada pada interval Persamaan garis regresi hubungan minat
0.20 0.399, maka dapat dinyatakan bahwa belajar matematika dengan hasil belajar
terdapat hubungan yang rendah antara minat matematika peserta didik dapat dinyatakan
belajar matematika dengan hasil belajar dengan Y 73.128 0.034 X 3 Persamaan
matematika peserta didik kelas X SMA
tersebut menunjukkan bahwa nilai koefisien matematika peserta didik (Y) akan
X3 sebesar 0.034 yang berarti apabila meningkat 0.034 poin. Untuk uji signifikansi
kebiasaan belajar matematika peserta didik garis regresi Y 73.128 0.034 X 3
(X3) meningkat 1 poin maka hasil belajar

Tabel 10. ANOVAb


Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 858.111 1 858.111 3.996 .846a
Residual 15029.209 70 214.703
Total 15887.32 71
a. Predictors: (Constant), X3
b. Dependent Variable: Y

Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 74.128 15.657 4.735 .000
X3 .034 .177 .023 .194 .846
a. Dependent Variable: Y
Berdasarkan hasil uji F diperoleh Fhitung belajar matematika dengan hasil belajar
sebesar 3.996. Jika dibandingkan dengan matematika peserta didik kelas X SMA
Ftabel dengan df 1:71 sebesar 3.96 pada taraf Negeri 1 Gianyar tahun pelajaran
signifikansi 5% maka Fhitung > Ftabel. Hal ini 2015/2016.
menunjukkan bahwa terdapat hubungan Ho: Tidak terdapat hubungan antara
antara minat belajar matematika (X3) dengan motivasi berprestasi, kebiasaan belajar
hasil belajar matematika peserta didik (Y). dan minat belajar matematika dengan
d. Uji Hipotesis 4 hasil belajar matematika peserta didik
Ha: Terdapat hubungan antara motivasi kelas X SMA Negeri 1 Gianyar tahun
berprestasi, kebiasaan belajar dan minat pelajaran 2015/2016.
Tabel 11. Model Summaryb
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square
Square Estimate
1 .245a .060 -.038 14.82575
a. Predictors: (Constant), X3, X1, X2
b. Dependent Variable: Y
2015/2016. Koefisien determinasi rsquare =
Dari data perhitungan tersebut 0.060, hal ini menunjukkan kontribusi
menunjukkan bahwa harga Ry(1.2.3)> rtabel, motivasi berprestasi (X1), kebiasaan belajar
maka diinterpretasikan menolak Ho dan (X2) dan minat belajar matematika (X3)
menerima Ha. Menurut interpretasi koefisien dengan hasil belajar matematika peserta
nilai r, Ry(1.2.3) = 0.245 berada pada interval didik (Y) sebesar 6.0%.
0.20 0.399, maka dapat dinyatakan bahwa Persamaan garis regresi hubungan
terdapat hubungan yang rendah antara motivasi berprestasi, kebiasaan belajar dan
motivasi berprestasi, kebiasaan belajar dan minat belajar matematika dengan hasil
minat belajar matematika dengan hasil belajar matematika peserta didik dapat
belajar matematika peserta didik kelas X dinyatakan dengan
SMA Negeri 1 Gianyar tahun pelajaran Y 66.437 0.67 X 1 0.84 X 2 0.47 X 3
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa belajar matematika (X3) terhadap hasil
kenaikan 1 poin X1 akan mengakibatkan belajar matematika peserta didik (Y).
kenaikan Y sebesar 0.67, kenaikan 1 poin X2
akan mengakibatkan kenaikan Y sebesar Uji Signifikansi dan Linieritas Garis
0.84 dan kenaikan 1 poin X3 akan Regresi
mengakibatkan kenaikan Y sebesar 0.47.
Y 66.437 0.67 X 1 0.84 X 2 0.47 X 3
Pengujian signifikansi bertujuan untuk
mengetahui hubungan motivasi berprestasi
(X1), kebiasaan belajar (X2) dan minat
Tabel 12. ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 1800.72 3 600.240 2.731 .937a
Residual 14946.600 68 219.803
Total 16747.32 71
a. Predictors: (Constant), X3, X1, X2
b. Dependent Variable: Y

Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 66.437 20.208 3.288 .002
X1 .067 .206 .050 .323 .748
X2 .084 .272 .053 .309 .758
X3 .047 .228 -.032 -.206 .837
a. Dependent Variable: Y
ada bahwa motivasi berprestasi yang
Berdasarkan hasil uji F diperoleh Fhitung merupakan faktor internal dapat
sebesar 2.731. Jika dibandingkan dengan mempengaruhi hasil belajar matematika
Ftabel dengan df 3:71 sebesar 2.72 pada taraf peserta didik.
signifikansi 5% maka Fhitung>Ftabel. Hal ini 2. Terdapat hubungan antara variabel
menunjukkan bahwa terdapat hubungan kebiasaan belajar matematika dengan hasil
motivasi berprestasi (X1), kebiasaan belajar belajar matematika peserta didik kelas X
(X2) dan minat belajar matematika (X3) SMA Negeri 1 Gianyar tahun pelajaran
secara bersama-sama terhadap hasil belajar 2015/2016. Dengan demikian hasil
matematika peserta didik (Y). penelitian ini sesuai teori yang ada bahwa
kebiasaan belajar matematika yang
SIMPULAN DAN SARAN merupakan faktor internal dapat
Berdasarkan hasil analisis dan mempengaruhi hasil belajar matematika
pembahasan maka kesimpulan yang dapat peserta didik.
dikemukakan dalam penelitian ini adalah 3. Terdapat hubungan antara variabel minat
sebagai berikut. belajar matematika dengan hasil belajar
1. Terdapat hubungan antara variabel matematika peserta didik kelas X SMA
motivasi berprestasi dengan hasil belajar Negeri 1 Gianyar tahun pelajaran
matematika peserta didik kelas X SMA 2015/2016. Dengan demikian hasil
Negeri 1 Gianyar tahun pelajaran penelitian ini sesuai teori yang ada bahwa
2015/2016. Dengan demikian hasil minat belajar matematika yang merupakan
penelitian ini sudah mendukung teori yang
faktor internal dapat mempengaruhi hasil Sugiyono. (2011). Metode Penelitian
belajar matematika peserta didik. Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
4. Terdapat hubungan antara variabel Bandung: Alfabeta.
motivasi berprestasi, kebiasaan belajar dan ________. (2012). Statistik Untuk
minat belajar matematika secara bersama- Penelitian. Bandung : Alfabeta.
sama dengan hasil belajar matematika Sukardi. (2013). Metodologi Penelitian
peserta didik kelas X SMA Negeri 1 Gianyar Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
tahun pelajaran 2015/2016. Dengan
demikian hasil penelitian ini sesuai teori
yang ada bahwa motivasi berprestasi,
kebiasaan belajar matematika dan minat
belajar matematika yang merupakan faktor
internal dapat mempengaruhi hasil belajar
matematika peserta didik.

DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi. (2013). Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta : PT Rineka Cipta.
Candiasa, I Made. (2010). Statistik Univariat
dan Bivariat disertai Aplikasi SPSS.
Singaraja: Undiksha Press.
Dwi, Santosa. (2013). Pengertian Motivasi
Berprestasi.
http://galeripustaka.com/2013/03/pengert
ian-motivasi-berprestasi.html.
Haryanto. (2010). Teori Heirarki Kebutuhan
Maslow.
http://belajarpsikologi.com/teori-
heirarki-kebutuhan-maslow.html.
Koyan, I Wayan. (2012). Statistik
Pendidikan Teknik Analisis Data
Kuantitatif. Singaraja: Undiksha Press.
Mahendra, Eka dkk. (2015). Statistik Dasar
dalam Penelitian Pendidikan. Surabaya:
Paramita
Mulyani. (2006). Hubungan Tingkat
Kecerdasan, Motivasi Berprestasi, dan
Kebiasaan Belajar Mateamatika Dengan
Prestasi Belajar Matematika Siswa
Semester 1 Kelas XI IPA A SMA Negeri
6 Kota Bengkulu. Jurnal. FKIP UNIB.
Sudjana, Nana. (1994). Dasar-dasar
Penelitian Pendidikan. Bandung: Sinar
Baru.
Suprihatiningrum, Jamil. (2014). Strategi
Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-Ruzz
Media
PENGARUH DISPOSISI MATEMATIS DAN KECERDASAN LOGIS MATEMATIS
TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA

Ibnu Muthi
Universitas Islam 45 Bekasi
ibnumuthi@gmail.com

ABSTRACT
Effect of Mathematic Disposition and Mathematical Logical Intelligence on Math
Learning Result.
The purpose of this study was to determine the effect of mathematical disposition and
mathematical logical intelligence on mathematics learning outcomes. This research is an
associative quantitative research at high school level in Tambun Selatan, Bekasi. Sampling
using multistage random sampling. Data were analyzed using multiple regression analysis.
The results of this research are: 1) there is influence between mathematical disposition and
mathematics learning result, 2) there is influence between mathematical logical intelligence
to learning result Mathematics, 3) there is no significant effect of mathematical disposition
and mathematical logical intelligence simultaneously to result of learning mathematics.

Keywords: mathematical disposition, mathematical logical intelligence, mathematics


learning outcomes.

PENDAHULUAN Persemakmuran Eropa (OECD) dengan skor


Matematika memegang peranan penting 494.
dalam kehidupan sehari-hari misalnya dapat Banyak faktor yang menyebabkan
berhitung, dapat menghitung isi dan berat, rendahnya hasil belajar Matematika, baik
dapat mengumpulkan, mengolah, yang berasal dari dalam diri sendiri (faktor
menyajikan dan menafsirkan data, dapat internal) maupun yang berasal dari luar
menggunakan kalkulator dan komputer. (faktor eksternal). Pada umumnya faktor
Berbagai upaya untuk meningkatkan hasil internal yang mempengaruhi hasil belajar
belajar Matematika telah banyak dilakukan, antara lain: bakat, motivasi, kecerdasan,
namun hasilnya masih belum maksimal, minat serta kondisi fisik dan psikis siswa,
hasil TIMSS (Trend in Methematics and sedangkan faktor eksternal antara lain:
Science Study) tahun 2011 menyatakan kualitas proses belajar mengajar, kompetensi
bahwa peringkat Indonesia berada pada guru, sarana dan prasarana, lingkungan,
posisi ke 38 dari 42 negara dengan skor 386. kurikulum dan lain-lain. Salah satu faktor
Jauh tertinggal dari peringkat pertama yang internal yang dapat mempengaruhi hasil
diduduki oleh Korea Selatan dengan skor belajar Matematika dan sering dilupakan
613. Posisi Indonesia masih di bawah negara oleh guru dalam mengajarkan Matematika
tetangga seperti Malaysia, Thailand dan adalah disposisi matematis.Wardani
Singapura. Begitu juga dengan hasil dari mendefinisikan disposisi matematis adalah
PISA pada tahun 2012 yang menunjukkan ketertarikan dan apresiasi terhadap
hasil tes kemampuan kognisi siswa Matematika yaitu kecenderungan untuk
Indionesia secara internasional dibidang berpikir dan bertindak dengan positif,
Matematika hanya memperoleh skor 375 dan termasuk kepercayaan diri, keingintahuan,
menempati posisi ke 64 dari 65 negara yang ketekunan, antusias dalam belajar, gigih
dinilai. Jauh tertinggal dari skor yang menghadapi permasalahan, fleksibel, mau
diperoleh Shanghai China di posisi pertama berbagi dengan orang lain, reflektif dalam
yang memperoleh skor 613 bahkan masih kegiatan matematik (2009:15). Stewart dan
jauh pula dari skor rata-rata di negara-negara Davis (2005) mengemukakan bahwa
disposisi merupakan karakter atau signifikan kecerdasan matematis logis
kepribadian yang diperlukan seorang terhadap hasil belajar Matematika. Penelitian
individu untuk sukses. Siswa memerlukan lainnya dilkukan oleh Trisna Jayantika
disposisi matematis untuk bertahan dalam (2013) yang dalam hasil temuannya
menghadapi masalah, mengambil tanggung mengatakan bahwa kecerdasan logis
jawab dalam belajar mereka, dan matematis merupakan faktor internal yang
mengembangkan kebiasaan kerja yang baik mempengaruhi prestasi belajar Matematika
dalam matematika. siswa, sehingga untuk meningkatkan prestasi
Wijayanto, Budiyono dan Sujadi (2014) belajar Matematika siswa dapat dilakukan
melalui hasil penelitiannya menyimpulkan dengan meningkatkan kecerdasan logis
bahwa siswa dengan disposisi matematis matematis siswa.
tinggi mempunyai prestasi belajar lebih baik Berdasarkan uraian di atas, tujuan dalam
dibandingkan siswa dengan disposisi penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1)
matematis sedang dan rendah, dan siswa apakah terdapat pengaruh antara disposisi
dengan disposisi matematis sedang matematis dengan hasil belajar Matematika?,
mempunyai prestasi belajar lebih baik 2) apakah terdapat pengaruh antara
dibandingkan siswa dengan disposisi kecerdasan logis matematis dengan hasil
matematis rendah. belajar Matematika?, 3) apakah terdapat
Sedangkan faktor internal yang lain yang pengaruh antara disposisi matematis dan
dapat mempengaruhi hasil belajar kecerdasan logis matematis secara bersama-
matematika adalah faktor kecerdasan. Untuk sama dengan hasil belajar matematika?.
belajar matematika maka kecerdasan yang
paling mempengaruhi adalah kecerdasan METODE PENELITIAN
logis matematis. Menurut Lwin (2008:43) Penelitian ini menggunakan metode
kecerdasan logis matematis adalah kuantitatif asosiatif. Variabel dalam
kemampuan untuk menangani bilangan dan penelitian ini terdiri dari: 1) variabel bebas
perhitungan, pola dan pemikiran logis dan meliputi: (a) disposisi matematis dan (b)
ilmiah Kecerdasan logis matematis bukan kecerdasan logis matematis dan 2) variabel
saja berfungsi untuk meningkatkan hasil terikat yaitu hasil belajar Matematika.
belajar matematika, tetapi kecerdasan logis Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 3
matematis juga sangat bermanfaat bagi Tambun Selatan dan SMA Negeri 4 Tambun
kehidupan manusia sehari-hari. Lwin Selatan. Waktu pelaksanaan penelitian
(2008:45-48) mengungkapkan bahwa ada dilakukan pada semester ganjil kelas X tahun
beberapa alasan mengapa kecerdasan penting pelajaran 2016/2017 selama dua bulan,
bagi kehidupan kita sehari-hari, antara lain: dimulai pada bulan September sampai
(1) meningkatkan logika dan memperkuat dengan Oktober 2016.Pengambilan sampel
keterampilan berpikir, (2) menemukan cara penelitian dilakukan dengan teknikmultistage
kerja pola dan hubungan, (3) meningkatkan random sampling.
pengertian bilangan, (4) mengembangkan Teknik pengumpulan data dalam
keterampilan memecahkan masalah, (5) penelitian ini menggunakan instrumen
memperbaiki kemampuan untuk penelitian. Instrumen yang dipakai dalam
mengklasifikasikan dan mengelompokkan, penelitian ini terdiri dari: 1) hasil belajar
(6) meningkatkan daya ingat. matematika, 2) disposisi matematis, 3)
Banyak penelitian mengenai kecerdasan kecerdasan logis matematis. Pengujian
logis matematis. Salah satunya adalah yang hipotesis dilakukan dengan teknik analisis
dilakukan oleh Suhendri (2012) dalam regresi, berdasarkan analisis diperoleh hasil
penelitiannya memberikan kesimpulan pengujian hipotesis di bawah ini:
bahwa terdapat pengaruh positif dan
1. Signifikansi dan Linearitas Disposisi Matematis (X1) terhadap Hasil Belajar Matematika
(Y)
Tabel 1. Persamaan Regresi Linear
Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 14.013 3.067 4.570 .000
X1 .036 .020 .230 1.801 .077
a. Dependent Variable: Y

Berdasarkan output di atas diperoleh persamaan regresi Y = 14,013 + 0,036 X1. Selanjutnya
dilakukan pengujian signifikansi regresi dan linearitas regresi dengan hasil sebagai berikut:

Tabel 2.Signifikasi Persamaan Regresi Linear


ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 24.318 1 24.318 3.245 .007b
Residual 434.682 58 7.495
Total 459.000 59
a. Dependent Variable: Y
b. Predictors: (Constant), X1

Berdasarkan output di atas diperoleh nilai sig. = 0,007 < 0,05 dengan demikian regresi Y atas
X1 adalah signifikan.
Tabel 3. Uji Linearitas Persamaan Regresi Linear
ANOVA Table
Sum of Mean
Squares df Square F Sig.
Y* Between (Combined) 342.633 41 8.357 1.293 .283
X1 Groups
Linearity 24.318 1 24.318 3.762 .068
Deviation from
318.316 40 7.958 1.231 .325
Linearity
Within Groups 116.367 18 6.465
Total 459.000 59

Berdasarkan output di atas diperoleh nilai sig. = 0,325 > 0,05 hal ini berarti persamaan
regresi Y atas X1 adalah linear.

2. Signifikansi dan Linearitas Kecerdasan Logis Matematis (X2) terhadap Hasil Belajar
Matematika (Y)
Tabel 4. Persamaan Regresi Linear
Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 15.861 1.716 9.245 .000
X2 .276 .127 .274 2.167 .034
a. Dependent Variable: Y
Berdasarkan output SPSS di atas diperoleh persamaan regresi Y = 15,861 + 0,276 X2.
Selanjutnya dilakukan pengujian signifikansi regresi dan linearitas regresi dengan hasil
sebagai berikut:
Tabel 5. Signifikansi Persamaan Regresi Linear
ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 34.370 1 34.370 4.695 .034b
Residual 424.630 58 7.321
Total 459.000 59
a. Dependent Variable: Y
b. Predictors: (Constant), X2
Berdasarkan output di atas diperoleh nilai sig. = 0,034 < 0,05 dengan demikian regresi Y atas
X2 adalah signifikan.
Tabel 6. Uji Linearitas Persamaan Regresi Linear
ANOVA Table
Sum of Mean
Squares df Square F Sig.
Y* Between (Combined) 342.633 41 8.357 1.293 .283
X1 Groups
Linearity 24.318 1 24.318 3.762 .068
Deviation from
318.316 40 7.958 1.231 .325
Linearity
Within Groups 116.367 18 6.465
Total 459.000 59

Berdasarkan output di atas diperoleh nilai sig. = 0,325 > 0,05 hal ini berarti persamaan
regresi Y atas X2 adalah linear.

3. Signifikansi Disposisi Matematis (X1) dan Kecerdasan Logis Matematis (X2)secara


bersama-sama terhadap Hasil Belajar Matematika (Y)
Tabel 7. Persamaan Regresi Linear
Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 12.688 3.118 4.069 .000
X2 .226 .133 .224 1.692 .096
X1 .025 .021 .161 1.216 .229
a. Dependent Variable: Y

Berdasarkan output SPSS di atas diperoleh persamaan regresi Y = 12,688 + 0,226X1 + 0,025
X2. Selanjutnya dilakukan pengujian signifikansi regresi dan linearitas regresi dengan hasil
sebagai berikut:
Tabel 8. Signifikansi Persamaan Regresi Linear
ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 45.108 2 22.554 3.106 .052b
Residual 413.892 57 7.261
Total 459.000 59
a. Dependent Variable: Y
b. Predictors: (Constant), X1, X2
Berdasarkan output di atas diperoleh nilai sig. = 0,052> 0,05 dengan demikian regresi Y atas
X2 adalah tidak signifikan.

HASIL DAN PEMBAHASAN belajar Matematika, 3) tidak terdapat


Berdasarkan analisis dapat dibahas pengaruh disposisi matematis dan
beberapa hasil, yaitu: 1) terdapat pengaruh kecerdasan logis matematis secara bersama-
disposisi matematis terhadap hasil belajar sama terhadap hasil belajar Matematika.
Matematika, sesuai dengan penelitian yang Berdasarkan kesimpulan, dikemukakan
dilakukan oleh Wijayanto, Budiyono dan beberapa saran, yaitu: 1) guru Matematika
Sujadi menyimpulkan bahwa siswa dengan khususnya di Tambun Selatan, diharapkan
disposisi matematis tinggi mempunyai mampu menemukan cara yang tepat dalam
prestasi belajar lebih baik dibandingkan meningkatkan disposisi matematis dan
siswa dengan disposisi matematis sedang dan kecerdasan logis matematis siswa agar hasil
rendah, dan siswa dengan disposisi belajar Matematika siswa juga turut
matematis sedang mempunyai prestasi meningkat, 2) kepada Kepala Sekolah,
belajar lebih baik dibandingkan siswa diharapkan dapat mengadakan pelatihan
dengan disposisi matematis rendah (2014). yang berkaitan dengandisposisi matematis
Hal ini dapat terjadi karena siswa dengan dan kecerdasan logis matematis. Hal ini
disposisi matematis yang tinggi mempunyai berguna agar guru memiliki keterampilan
kecenderungan dan ketekunan yang lebih mengajar dan pengetahuan yang lebih baik,
bila dibanding dengan siswa yang memiliki 3) kepada Dinas Pendidikan, diharapkan
disposisi matematis rendah, siswa dengan dapat bersinergi dengan sekolah-sekolah
disposisi tinggi akan lebih baik hasil belajar untuk mengembangkan kemampuan guru
matematikanya dibandingkan dengan siswa dalam mengajar melalui program-program
yang memiliki disposisi matematis rendah, pelatihan atau seminar sebagai upaya
2) terdapat pengaruh kecerdasan logis meningkatkan kualitas pendidikan khususnya
matematis terhadap hasil belajar Matematika, di Tambun Selatan, Bekasi, 4) kepada LPTK
sesuai dengan hasil penelitian yang sebagai lembaga yang menghasilkan guru,
dilakukan oleh Trisna Jayantika yang dalam khususnya pada jurusan Matematika agar
hasil temuannya mengatakan bahwa terus berupaya mengembangkan inovasi
kecerdasan logis matematis merupakan pembelajaran Matematika yang dapat
faktor internal yang mempengaruhi prestasi mengatasi permasalahan yang dihadapi guru
belajar Matematika siswa, sehingga untuk Matematika di sekolah, dan 5) penelitian ini
meningkatkan prestasi belajar Matematika jauh dari kata sempurna, oleh karena itu
siswa dapat dilakukan dengan meningkatkan diharapkan ada peneliti lain yang dapat
kecerdasan logis matematis siswa (2013), 3) menyesmpurnakan penelitian ini.
tidak terdapat pengaruh yang signifikan
antara disposisi matematis dan kecerdasan DAFTAR RUJUKAN
logis matematis secara bersama-sama Arends,Richard, 2008. Learning to Teach.
terhadap hasil belajar Matematika, hipotesis Belajar Untuk Mengajar, terjemahan
tidak didukung oleh data dapat disebabkan Helly Prajitno Soetjipto. Yogyakarta:
oleh bias responden dalam menjawab Pustaka Pelajar.
instrumen. Jayantika, I G A N Trisna, I Made Ardana
dan I Gusti Putu Sudiarta, 2016.
SIMPULAN DAN SARAN Kontribusi Bakat Numerik, Kecerdasan
Berdasarkan hasil penelitian dapat Spasial, Kecerdasan Logis Matematis
disimpulkan sebagai berikut: 1) terdapat Terhadap Prestasi Belajar Matematika
pengaruh disposisi matematis terhadap hasil Siswa SD Negeri Di Kabupaten
belajar Matematika, 2) terdapat pengaruh Buleleng. E-Journal Program
kecerdasan logis matematis terhadap hasil Pascasarjana Universitas Pendidikan
Ganesha; http://pasca.undiksha.ac.id/e- Prabawanto, Nurjanah, dan Ade Rohayati
journal/index.php/JPM/article/ 2003. Strategi Pembelajaran Matematika
%20download/981/732 (diakses 3 Mei Kontemporer. Bandung:JICA UPI.
2016). TIMSS, 2015. TIMSS 2011 International
Lwin, May, Adam Khoo, Kenneth Lyen, dan Results In Mathematic. TIMSS Online;
Caroline Sim, 2015. How to Multiply http://timssandpirls.bc.edu/timss2011/dow
Your Childs Intelligence, terjemahan nloads/T11_IR_Mathematics_FullBook.p
Christine Sujana. Yogyakarta: PT Indeks, df (diakses 2 Maret 2015).
2008. Wardani, 2009. Pembelajaran Inkuiri Model
PISA, 2015.PISA 2012 Results In Focus. Silver Untuk Mengembangkan Kreativitas
PISA Online; dan Kemampuan Pemecahan Masalah
http://www.oecd.org/pisa/keyfindings/pis Matematik Siswa Sekolah Menengah
a-2012-results-overview.pdf(diakses 2 Atas.Disertasi, Sekolah Pascasarjana
Maret 2015). Universitas Pendidikan Indonesia.
Slameto , 1998Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Wijayanto, Budiyono dan Imam Sujadi,
Bina Aksara. 2015.Eksperimentasi Model
Stewart, Paula dan Susan Davis, 2015. Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair
Developing Dispositions of Preservice Share (TPS) Dengan Pendekatan Open-
Teachers Through Membership In Ended Pada Materi Bangun Ruang Sisi
Professional Organizations. dspace Datar Ditinjau Dari Disposisi Matematis
online; Siswa Kelas VIII SMP Negeri Di
https://dspace.sunyconnect.suny.edu/bitstr Kabupaten Purworejo. Jurnal Elektronik
eam/handle/1951/6597/stewart.pdf?seque Pembelajaran Matematika FKIP UNS,
nce=1 (diakses 18 April 2015). Vol. 2, No.
Suhendri, Heri, 2015.Pengaruh Kecerdasan 10,http://jurnal.fkip.uns.ac.id%2Findex.ph
Matematis Logis, Rasa Percaya Diri, dan p%2Fs2math%2Farticle%2Fdownload
Kemandirian Belajar Terhadap Hasil (diakses 18 April 2015).
Belajar Matematika. Williams, R. Bruce, dan Steven E. Dunn,
http://eprints.uny.ac.id/8082/1/P%20- 2000. Brain Compatible Learning for the
%2043.pdf(diakses 18 April 2015). Block.Illinois: Skylight Training and
Suherman,Erman,Turmudi, Didi Suryadi, Publishing Inc.
Tatang Herman, Suhendra, Sufyani
KARAKTERISASI MORFOLOGIS Trichoderma sp. isolat JB DAN DAYA
ANTAGONISME TERHADAP PATOGEN PENYEBAB PENYAKIT REBAH
KECAMBAH (Sclerotium rolfsii Sacc.) PADA TANAMAN TOMAT

I Wayan Suanda (1), Ni Wayan Ratnadi(2)


(1)
Prodi Pend. Biologi, FPMIPA IKIP PGRI Bali (2)SMP Negeri 11 Denpasar
Email: suanda_wayan65@yahoo.co.id

ABSTRACT
Morphological Characterization of Trichoderma sp., JB isolates and Antagonism Power
Against Damping-Off Disease-Causing Pathogens (Sclerotium rolfsii Sacc.) on Tomato
Plants
This study aims to determine the morphological characterization of Trichoderma sp., JB
isolates and antagonism power against damping-off disease-causing pathogens (Sclerotium
rolfsii Sacc.). The study was conducted at the Laboratory of Pests and Plant Diseases, Faculty of
Agriculture, Udayana University. The observations variable with macroscopic characteristics,
including color and form colonies, and microscopic characteristics, including the shape of
conidiophores, conidia and fialid.
The results showed that Trichoderma sp., JB isolates, in the in-vitro way, are able to inhibit
Sclerotium rolfsii damping-off disease-causing on tomato plants amounted to 95.45%.

Keywords: characterization, isolates Trichoderma asperellum JB, inhibition, Sclerotium rolfsii.

PENDAHULUAN Patogen tanaman menjadi masalah penting


Tanaman tomat yang dibudidayakan di di dalam budidaya tanaman, karena dapat
lapangan sering terserang penyakit rebah menurunkan produksi tanaman. Banyak usaha
kecambah (damping off) yang disebabkan telah dilakukan untuk mengendalikan patogen
patogen jamur Sclerotium rolfsii saat tanaman, baik dengan penggunaan tanaman
pembibitan (Helena, 2012). S. rolfsii tahan maupun pestisida kimia sintetis.
menyebabakan busuk pada batang tanaman Tanaman tahan terhadap serangan jamur
tomat, sehingga proses pengangkutan air dan patogen jarang tersedia, sedangkan pestisida
hara dari akar ke seluruh bagian tanaman kimia sintetis jika digunakan dengan tidak
menjadi terganggu. Batang yang terinfeksi bijaksana akan banyak menimbulkan masalah
akan terlihat ditumbuhi dengan benang-benang baik terhadap lingkungan, produk tanaman
jamur yang berwarna putih (miselia). Tanaman maupun kesehatan manusia (Walker dan
tomat yang terinfeksi patogen S. Stachecki, 2002). Oleh karena itu agensia
Rolfsiimenimbulkan gejala busuk pada batang, pengendali hayati merupakan salah satu
daun tanaman layu dan akhirnya tamaman alternatif pengendalian patogen tanaman yang
mati (Ferreira dan Boley, 2006).S. rolfsii menjanjikan karena murah, mudah didapat dan
menyebabkan penyakit busuk akar, busuk aman terhadap lingkungan.
batang, layu, dan busuk pangkal batang pada Jamur Trichoderma sp. merupakan salah
lebih dari 500 spesies tanaman dalam 100 satu jenis yang banyak dijumpai pada semua
famili (Cilliers dkk., 2000; Davis dan Nunez, jenis tanah dan pada berbagai habitat yang
2007). S. rolfsii merupakan patogen tular tanah merupakan salah satu jenis jamur yang dapat
yang bersifat polifag dan menyerang tanaman dimanfaatkan sebagai agensia hayati
tomat pada masa vegetatif (Hardiningsih,1993 pengendali patogen dalam tanah dan telah
dalam Sulistyowatiet al., 1997). menjadi perhatian penting sejak beberapa
dekade terakhir ini karena kemampuannya antagonisme terhadap S.rolfsii penyebab
sebagai pengendali biologis terhadap beberapa penyakit rebah kecambah pada tanaman tomat
patogen tanaman (Harman et al., 2004). dilaksanakan dari bulan Januari sampai
Mekanisme pengendalian yang bersifat Februari 2015 di Laboratorium Penyakit
spesifik target dan mampu meningkatkan hasil Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas
produksi tanaman, menjadi keunggulan Udayana.
tersendiri bagi Trichoderma sp. sebagai
agensia pengendali hayati (Suanda dan 2. Penyediaan Jamur Sclerotium rolfsii
Ratnadi, 2015). Trichoderma asperellum Sacc.
sering diisolasi dariakar tanaman, serasah S. rolfsii diisolasi dari perakaran dan
tanah, rizosfer berbagai tanaman, jaringan pangkal batang tanaman tomat yang terinfeksi
tanaman yang sehat, biomassa jamur dan kayu S. rolfsii. Bagian tanaman tomat tersebut
mati dan banyak digunakan sebagai dipotong dengan gunting steril berukuran
biofungisida pada beberapa komoditi seperti kecil-kecil (1 cm) di dalam laminar air flow,
Tebu, Jagung, Kubis, Lada dan Kakao didisinfeksi dengan cara mencelupkan ke
(Papavizas et al., 1985). Trichoderma sp. dalam larutan natrium hipoklorit 1 % selama 5
merupakan mikroorganisme tanah sebagai detik, kemudian dicuci dengan air steril dan
agensia biokontrol bersifat saprofit yang dikeringkan di atas tisu. Isolasi dilakukan
secara alami menyerang jamur patogen karena dengan menggunakan teknik direct plating
mempunyai sifat antagonis yang tinggi (Malloch, 1997) yaitu, meletakkan potongan
terhadap jamur patogen dan bersifat pangkal batang tanaman tomat dengan
menguntungkan tanaman budidaya termasuk menggunakan pinset ke dalam cawan Petri
tanaman tomat. yang telah berisi media Potato Dextrose Agar
Beberapa strain Trichoderma seperti (PDA) ditambahkan Levofloxacin 250 mg,
Trichoderma harzianum, T. atroviride, T. kemudian diberi label, selanjutnya diinkubasi
viride, T. virens dan T. koningii telah diketahui pada suhu ruang (28oC) selama 3 hari setelah
sebagi agensia biokontrol yang memiliki isolasi (HSI). Penentuan jenis miselium dan
kemampuan untuk menghambat pertumbuhan hifa yang terbentuk ini sesuai Fichtner (2006)
patogen dalam tanah, sehingga meningkatkan yang menyebutkan pada dasarnya ada dua
pertumbuhan tanaman inang (Anuradhaet al., jenis hifa yang dihasilkan S. rolfsii yaitu kasar
2014). Namun karakteristik morfologi dan dan lurus. Hal ini juga didukung oleh
daya antagonisme Trichoderma sp. isolat JB Semangun (2004) yang menyatakan bahwa S.
terhadap patogen penyebab penyakit rebah rolfsii mempunyai miselium yang terdiri dari
kecambah (Sclerotium rolfsii Sacc.) pada benang-benang berwarna putih, tersusun
tanaman tomat belum pernah dilaporkan.Oleh seperti bulu dan kapas.
karena itu, perlu dilakukan penelitian tentang Koloni S. rolfsii yang tumbuh pada media
karakterisasi morfologis Trichoderma sp. PDA selanjutnya diencerkan sampai tingkat
isolat JB dan daya antagonisme terhadap pengenceran 10-5. Suspensi diambil
S.rolfsii penyebab penyakit rebah kecambah menggunakan mikropipet dengan volume 1 ml
pada tanaman tomat. disebar pada media PDA dengan tujuan untuk
mendapatkan koloni tunggal S. rolfsii.
METODE PENELITIAN Menurut Kartika (2012),bahwakarakterisasi
1. Waktu dan Tempat (identifikasi) morfologi jamur dilakukan atas
Penelitian yang meliputi penyediaan isolat dasar karakteristik pemurnianmelalui kultur
jamur Sclerotium rolfsii Sacc dan jamur kolonitunggal. Pembuatan kultur spora
Trichoderma sp. isolat JB serta pengujian daya tunggalmenurutTamin et al.,
(2012),bertujuanuntuk mendapatkan spora dan konidia sertabentuk dan ornamentasi
yang berasal darisatu jenis yang sama. Koloni tangkai spora.
jamur yang tumbuh diperbanyak dengan cara
mengmbil 1 cork borer ( 5 mm) dibiakan 5 Uji Daya Antagonisme Trichoderma sp.
pada media PDA diinkubasi pada suhu kamar isolat JB terhadap S. rolfsii Sacc.
(28oC) selama 7 HSI untuk penelitian Uji antagonisme jamur dilakukan untuk
selanjutnya melalui pengamatan secara mengetahui bentuk interaksi Trichoderma
makroskopis dan mikroskopis. Hasil sp.isolat JB terhadap S. rolfsii. Uji
pengamatan diidentifikasi berdasarkan antagonisme ini dilakukan di dalam laminar
deskripsi kunci identifikasi dari Pit dan air flow agar kondisi aseptiknya tetap terjaga.
Hocking. (1997) Uji daya antagonisme dilakukan dengan
metode dual culture secara in vitro
3. Perbanyakan Trichoderma sp. isolat JB (Coskuntuna dan Ozer, 2008). Koloni
Perbanyakan isolat jamur Trichoderma jamurTrichoderma sp.isolat JB umur 5 HSI
sp.isolat JB yang digunakan dalam penelitian dan jamur patogen S. rolfsii umur 10 HSI di
ini merupakan koleksi dari I Wayan Suanda, media PDA dipotong dengan bor gabus (cork
yang kemudian diremajakan dengan diisolasi borer) menjadi lempeng biakan seperti cakram
kembali pada medium potato dextrose agar berdiameter 0,5 mm diambil dengan jarum ose
(PDA) berisi Levofloxacin 250 mg dan steril diletakkan pada media PDA dalam
diinkubasi pada suhu kamar (28oC) selama 7 cawan Petri pada jarak 3 cm berlawanan
hari.Trichoderma sp.isolat JB selanjutnya dengan jamur antagonis.Perlakuan kontrol
diperbanyak untuk memenuhi kebutuhan sebagai pembanding dilakukan dengan
penelitian. mengisolasikan jamur patogen pada media
PDA tanpa perlakuan jamur antagonis. Semua
4 Karakterisasi Morfologi Trichoderma sp. pengujian dilakukan dengan pengulangan
isolat JB sebanyak 5 kali dan diinkubasi pada suhu
Pengamatan karakterisasimorfologi kamar (28oC) selama 5 hari. Menurut
Trichoderma sp. isolat JB dilakukan secara Khattabi, et al. (2004) bahwa persentase daya
makroskopis dan mikroskopis mengacu pada antagonisme ditentukan berdasarkan rumus:
buku identifikasiberdasarkan deskripsi yang
dikemukakan oleh Barnett dan Hunter (1998) HASIL DAN PEMBAHASAN
dan Watanabe (2002). Pengamatan Pengamatan makroskopis Trichoderma sp.
Trichoderma sp. isolat JB secara makroskopis isolat JB yaitu koloni permukaannya datar
meliputi bentuk koloni, warna koloni berbentuk bulat tetapi kasar seperti berserat
dandiameter pertumbuhan koloni, dilakukan dengan bagian tepi halus, mula-mula koloni
setiap harisampai berumur 10 HSI. berwarna putih kemudian bagian tengah
Pertumbuhan diameter koloniTrichodermasp. berwarna hijau muda lalu menjadi hijau tua
isolat JB dilakukan dengan membuat gambar berbentuk lingkaran dengan batas jelas,
dengan spidol yang dipolakan pada kertas sedangkan bagian pinggir berwarna putih
plastik karkir transparan merek diament, seperti kapas dan warna koloni berubah
setelah itu diterakan pada kertas milimeter menjadi hijau tua pada seluruh permukaan atas
blok dan dihitung luasnya (Suanda dan (Gambar 1). Stamets (2000) bahwa sebagian
Ratnadi, 2015). Pengamatan secara besar jamur saprofit pada mulanya memiliki
mikroskopis dilakukan dengan miselium berwarna putih, kemudian warna
metodemikrokultur (slide culture), bagian dapat berubah ketika miselium tersebut
yang diamati meliputibentuk konidiofor, fialid dewasa.Pertumbuhan diameter koloni
Trichodermasp. isolat JB disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1: Rerata pertumbuhan diameter koloni Trichodermasp. isolat JB (cm2)


No. Pengamatan Rerata Pertumbuhan Diamater Koloni (cm2)
(HSI)
1. 0 0,5
2. 1 2,0
3. 2 17,0
4. 3 38,0
5. 4 55,0
6. 5 78,5
7. 6 81,0 (cawan Petri penuh)

A B C D

Gambar 1. Morfologi bentuk dan warna Trichoderma sp. isolat JB1


A. umur 3 HSI B. umur 5 HSI C. permukaan bawah umur 5 HSI D. umur 10 HSI

Penampakan secara mikroskopis disebabkan oleh pertumbuhan koloni


Trichoderma sp. isolat JB yaitu hifa bewarna Trichoderma sp. isolat JB lebih cepat dan
hijau, tangkai fialid pendek, konidia berwarna kemampuan kompetisi lebih tinggi dibanding
kehijauan, berbentuk globuse (bulat) tumbuh dengan pertumbuhan koloni S. rolfsii.
pada ujung dan ada juga konidium terbentuk Menurut Cook dan Baker (1983) salah satu
secara bergerombol berwarna hijau muda pada syarat suatu organisme dapat dikatakan
permukaan sel konidiofornya. Fialid memiliki sebagai agensia hayati adalah mempunyai
ukuran panjang 11,1 dan cabang konidiofor kemampuan antagonisme yaitu kemampuan
panjangnya 13,4. Adanya banyak menghambat perkembangan atau pertumbuhan
percabangan konidiofor yang menyerupai organisme lainnya. Semakin besar daya
piramid yaitu cabang yang lebih panjang hambat yang terjadi, maka semakin tinggi
dibawahnya, fialid tersusun pada kelompok- daya antagonis isolat tersebut. Perbedaan daya
kelompok yang berbeda, terdapat 2-3 fialid per hambat menggambarkan perbedaan
kelompok (Gb. 2). kemampuan dari masing-masing isolat untuk
Berdasarkan uji secara in vitro ada pengaruh menghambat pertumbuhan mikrooganisme
penggunaan Trichoderma sp. isolat JB pesaing (Suanda dan Ratnadi, 2015).
terhadap penyakit rebah kecambah S. Perbedaan ini diduga dipengaruhi oleh jenis,
rolfsiiditinjau dari aspek daya antagonis jumlah, dan kualitas dari antibiotik atau zat
mencapai 95,45% (Gambar 3). Penghambatan lain yang dihasilkan.
pertumbuhan diameter koloni S. rolfsii
3
1

2
4

Gambar 2. Morfologi mikroskopis Trichodermasp. isolat JB


1. konidiofor 2. cabang konidiofor 3. fialid 4. Konidia/phialospore
Sumber: dokumenpribadi, 2015

11 2 2

A B

Gambar 3. Uji antagonis Trichoderma sp. isolat JB terhadap S. rolfsii (umur 7 HSI)
A. Uji antagonis B. kontrol1. koloni Trichoderma sp. isolat JB 2. koloni S. rolfsii

SIMPULAN DAN SARAN Tumbuhan Universitas Udayana yang telah memberikan


Berdasarkan hasil penelitian ini karakterisisasi fasilitas dan kesempatan untuk menlakukan penelitian.
morfologi Trichoderma sp. isolat JB bisa dijadikan
dasar untuk menenentukan spesies Trichoderma DAFTAR RUJUKAN
sp. dan isolat ini lebih dekat dengan T. asperellum, Atanasova, L., Le Crom, S., Gruber, S., Coulpier,
yang perlu dilanjutkan dengan identifikasi sampai F., Seidl-Seiboth, V., Kubicek, C.P. and
tingkat molekuler. Trichoderma sp. isolat JB Druzhinina, I.S. 2013. Comparative
memiliki kemampuan antagonisme 95,45% transcriptomics reveals different strategies of
terhadap pertumbuhan koloni S. rolfsii secara in Trichodermamycoparasitism. Journal BMC
vitrodan karakterisisasi morfologi Trichoderma sp. Genomics 14:121.
isolat JB Barnett, H.L., Hunter, B. 1998. Ilustrated genera
Of Imperfect Fungi. The American
UCAPAN TERIMAKASIH Phyropathological Society St. Paul. Columbia.
Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada Rektor Bae, H., Roberts, D.P., Lim, H.S., Strem, M.D.,
IKIP PGRI Bali dan ketua laboratorium Penyakit Park, S.C., Ryu, C.M., Melnick, R.L. and
Bailey, B.A. 2011. Endophytic Trichoderma Arbuskular (CMA) dari tanah bekas tambang
isolates from tropical environments delay batubara. Program Studi Agroekoteknologi.
disease onset and induce resistance against Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Vol. 1:4
Phytophthora capsici in hot pepper using Khattabi, N., Ezzahiri, B., Lauali, L., and Oihabi,
multiple mechanisms. Journal Mol Plant A. 2004. Antagonistic activity of Trichoderma
Microb In 24:336-351. isolates against Sclerotium rolfsii: Screening of
Cook, R.J. and Baker, K.F. 1983. The nature and isolates from Morocco soils for biological
practice of biological control of plant control. Phytopathol. Mediterr 43:332-340.
pathogens. American Phytopathol. Soc. St. Lewis, J.A., R.P. Larkin and D.L. Rogers. 1998. A
Paul, MN. formulation of Trichoderma and Gliocladium
Chet, I. 1987. Innovative Approaches to Plant to reduce damping-off by Rhizoctonia solani
Diseases Control. John Wiley and Sons, A and saprophytic growth of the pathogen in soil
Wiley-Interscience Publication, USA. pp. 11- less mix. Pl. Dis 82:501-506.
210. Malloch, D. 1997. Moulds Isolation, Cultivation,
Coskuntuna, A. and Ozer, N. 2008. Biological Identification, Mycology. Departement of
Control of Union Basal Root Disease Using Botany University of Toronto.
Trichoderma harzianum and Induction of Pitt, J. I., and A. D. Hocking. 1997. Fungi and
Antifungal Compounds in Onion Set Following Food Spoilage. Second Edition. Printed in
Seed Treatment. JournalCrop Protection Great Britain at the University Press,
27:330-336. Cambridge.
Cilliers, AJ., Herselman L.& Pretorius Z.A. 2000. Papavizas, C.G. 1985. Trichoderma and
Genetic variability within and among mycelial Gliocladium: Biology Ekology and Potential
compatibility groups of Sclerotium rolfsii in for Biological Control. Ann. Rev.
South Africa. Phytopathology 90(9): 1026- Phytophatology 23:23-54.
1031. Suanda, I W. dan Ratnadi, Ni W. 2015. Daya
Davis, M.R. and Nunez, J. 2007. Integrated Antagonism Trichoderma sp. Isolat Local
approaches for carrot pests and diseases terhadap Jamur Patogen penyebab Penyakit
management. In: Ciancio A & Mukerji KG. Rebah Kecambah (Schlerotium rolfsii Sacc.)
(Eds.). General. pada Tanaman Tomat (Lycopersicum
Concepts in Integrated Pest and Disease esculentum Mill.). Prodi Pendidikan Biologi
Management. pp.149-190. FPMIPA IKIP PGRI Bali. Jurnal
Ferreira, S.A., and Boley, R.A. 2006. EmaSainsIV(2):155-162.
Sclerotiumrolfsii. http://www. Extent.edu Semangun, H. 2004. Penyakit-Penyakit Tanaman
Fichtner, E.J. 2006. Sclerotium rolfsii. Kudzu of Hortikultura di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah
the Fungal World. Mada University Press
Harman, G.E., Charles, R.H., Viterbo, A., Chet, I. Stamets, P. 2000. Growing Gourmet and
and Lorito, M. 2004. Trichoderma species Medicinal Mushrooms. Ed ke-3. California:
opportunistic, avirulent plant symbionts. Ten Speed Press.
JournalNature Rev 2:43-54. Walker, E.D., and J.A. Stachecki. 2002. Pest
Herliyana E.N., Jamilah, R., Taniwiryono, D. dan Management for Small Animals a Training
Firmansyah, M.A. 2013. Uji In-vitro Manual for Commercial Pesticide Applicatorrs
Pengendalian Hayati oleh Trichoderma spp. and Registered Technicians. Michigan State
terhadap Ganoderma yang Menyerang Sengon. University Extension. Michigan. p.140.
Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan, Watanabe T. 2002. Pictorial atlas of soil and seed
IPB. Jurnal Silvikultur Tropika 4(3):190-193. fungi morphologies of cultured fungi and key
Kartika, E., Lizawati dan Hamzah. 2012. Isolasi, to species. CRC Press LLC. U.S.A.
Identifikasi dan pemurnian Cendawan Mikoriza
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING
(GUIDED INQUIRY) BERBANTUAN MEDIA KOTAK KARTU MISTERIUS
(KOKAMI) TERHADAP MINAT DAN HASIL BELAJAR BIOLOGI
PESERTA DIDIK KELAS XI MIA SMA NEGERI 5 DENPASAR
TAHUN PELAJARAN 2016/2017

Made Maharani Dana, I Wayan Budiyasa, Anak Agung Istri Mirah Darmadewi
Jurusan/Prodi. Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP PGRI Bali
Email: maharanimade2@gmail.com

ABSTRACT
The Impact of Using Guided Inquiry Learning Model by KOKAMIs Media toward to
Studied Interest and Biology Study Result of Student XI MIA in SMA Negeri 5
Denpasar Academic Year 2016/2017
In this study, there a lot of problem which is seem in many study activity. One of them is
low intensity of studied interest to join learning activity and therefore the students are not
able to know well the lesson which is the teacher explained, so the study result are not
appropriate as we wish. Method of this study is quasi experiment with study design is non-
equvalent control group design which use to know the impact of some treatment to studys
subject. Population of this study is all the student of XI MIA SMA Negeri 5 Denpasar. For
sampling the researcher used multo-stage random sampling technique and the result are XI
MIA 2 as experiment class and XI MIA 6 as control class. Data of this study was using test
essay with total question are 5 and then analyze by MANOVA test.
The result of first hypotesis analysis, using t-test and the result of thitung = 3,214 with
signification number 5% and degree of freedom is 74, so ttabel = 1,684. It means thitung > ttabel
or 3,214>1,684, there are the impact of using guided inquiry learning model by KOKAMIs
Media and conventional toward to biology studied interest. The result of analysis of second
hypothesis, using t-test is thitung = 4,887 with signification number 5% and degree of freedom
74, so ttabel = 1,684. It means thitung > ttabel or 4,887>1,684, there is impact of using guided
inquiry learning model by KOKAMIs Media and conventional toward to biology study
result. The result of third hypothesis using MANOVA Test for two dependent variables in
varian kovarian matrix with the result is 0.911> 0.05 that show there is impact of studied
interest and biology study result between the student of using guided inquiry learning model
by KOKAMIs Media and conventional.

Keywords: Inquiry Learning Model, KOKAMIs Media, Studied Interest, Biology Outcome

PENDAHULUAN perubahan keterampilan diri atau aspek


Pendidikan merupakan pondasi awal psikomotor (Robbins, 2007).
dalam membangun kehidupan. Pembelajaran Biologi merupakan mata pelajaran yang
merupakan proses interaksi anatara guru termasuk ke dalam rumpun ilmu
dengan peserta didik, dengan adanya pengetahuan alam (IPA atau Sains).
interaksi yang baik maka proses Pembelajaran biologi menekankan pada
pembelajaran akan berjalan dengan lancer. pemberian pengalaman langsung untuk
Peserta didik dapat menguasai materi mengembangkan kompetensi dasar peserta
pembelajaran yang dapat mempengaruhi didik oleh karena itu pembelajaran biologi
perubahan pengetahuan (aspek kognitif), disekolah dituntut agar peserta didik mampu
perubahan sikap (aspek afektif), serta
menguasai materi pembelajaran biologi proses perubahan tingkah laku berkat adanya
dengan optimal. pengalaman.
Berdasarkan hasil observasi yang Dengan demikian, setelah diterapkannya
diperoleh pada kelas XI MIA SMA Negeri 5 model pembelajaran inkuir terbimbing
Denpasar, bahwa sebagian peserta didik berbantuan media KOKAMI diharapkan
cenderung kurang aktif dalam pembelajaran dapat meningkatkan minat dan hasil belajar
dan jarang memberikan respom serta biologi peserta didik. Maka peneliti tertarik
mengajukan pertanyaan apapun ketika untuk melakukan penelitian yang berjudul
kegiatan pembelajaran sedang berlangsung. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran
Hal ini disebabkan karena kurangnya variasi Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry)
dan inovasi pada model pembelajaran yang berbantuan Media Kotak Kartu Misterius
digunakan oleh pendidik yaitu model (KOKAMI) Terhadap Minat dan Hasil
pembelajaran konvensional dimana kegiatan Belajar Biologi Siswa Kelas XI MIA SMA
pembelajaran bersifat mononton sehingga Negeri 5 Denpasar Tahun Pelajaran
membuat para peserta didik cenderung 2016/2017.
kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran Berdasarkan uraian tersebut maka tujuan
dan guru juga hanya mengandalkan sarana- yang ingin dicapai dalam peneltian ini yaitu :
sarana seperti buku-buku dan karang 1) untuk mengetahui perbedaan penerapan
menggunakan media pembelajaran yang lain. model inkuiri terbimbing berbantuan media
Dalam upaya untuk mengatasi KOKAMI terhadap minat belajar pada
permasalahan tersebut, diperlukan model peserta didik kelas XI MIA SMA Negeri 5
pembelajaran yang dapat membuat peserta Denpasar, 2) untuk mengetahui perbedaan
didik menjadi lebih aktif dan bisa belajar penerapan model inkuiri terbimbing
secara mandiri. Salah satunya adalah model berbantuan media KOKAMI terhadap hasil
pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan belajar biologi pada peserta didik kelas XI
media KOKAMI . model pembelajaran MIA SMA Negeri 5 Denpasar, 3)untuk
inkuiri terbimbing adalah model mengetahui perbedaan secara simultan
pembelajaran yang dalam pelaksanaannya penerapan model inkuiri terbimbing
pad atahp awal guru banyak memberikan berbantuan media KOKAMI terhadap minat
bimbingan dan tahap berikutnya bimbingan dan hasil belajar biologi pada peserta didik
tersebut dikurangi , sehingga peserta didik kelas XI MIA SMA Negeri 5 Denpasar.
mampu melakukan kegiatan pembelajaran
secara mandiri namun tetap diawasi oleh METODE PENELITIAN
guru. Media KOKAMI merupakan media Penelitian ini merupakan jenis penelitian
visual yang dikombinasikan dengan eksperimen semu (quasi eksperimen) yang
permainan bahasa sehingga dapat lebih mempunyai kelompok kontrol tetapi tidak
mudah dalam memahami materi pelajaran sepenuhnya untuk mengontrol variabel-
(Kadir, 2004). variabel luar yang mepengaruhi pelaksanaan
Beberapa kelebihan model pembelajaran eksperimen (Sugiyono, 2015). Penelitian ini
inkuri terbimbing menurut Wina Sanjaya menggunakan Non Equivalent Control
(2013) yaitu : 1) model pembelajaran inkuiri Group Design yang ditunjukan pada gambar
yang menekankan kepada pengembangan berikut.
aspek kognitif, afektif dan psikomotor
secara seimbang; 2) model inkuiri E X1 O1
terbimbing dapat memberikan ruang kepada
peserta didik untuk belajar sesuai gaya K X2 O2
belajar mereka. 3) modelpembelajaran inkuri
terbimbing model yang dianggap sesuai
dengan perkembangan pskilogi belajar
modern yang menganggap belajar adalah
Gambar 1 Rancangan Penelitian Non cronbach , diperoleh hasil dengan nilai r11
Equivalent control group design untuk angket minat belajar sebesar 0,87 dan
Penelitian ini dilaksanakan di SMA nilai r11 untuk tes hasil belajar sebesar 0,72.
Negeri 5 Denpasar tahun pelajaran Hasil tersebut menunjukkan bahwa angket
2016/2017 pada tanggal 18 maret 2017 minat belajar dan tes hasil belajar biologi
sampai dengan 3 mei 2017. Populasi dalam memiliki interpretasi koefisien reliabilitas
penelitian ini adalah peserta didik kelas XI tinggi instrument yang telah diuji validitas
MIA SMA Negeri 5 Denpasar tahun dan reliabilitasnya pada akhir penelitian pada
pelajaran 2016/2017 yang terbagi menjadi 9 kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
kelas terdiri dari 333 peserta didik . teknik sebagai posstest. Data yang terkumpul
yang digunakan untuk menentukan sampel kemudian dianalisi menggunakan uji
penelitian adalah random sampling dari 9 prsayarat dan uji hipotesis.
kelas yang ada diambil dua kelas sebagai
sampel, yaitu kelas XI MIA 2 dengan jumlah HASIL DAN PEMBAHASAN
38 peserta didik sebagai kelas eksperimen Data yang terkumpul dalam penelitian ini
dan XI MIA 6 dengan jumlah 38 peserta berupa data minat dan hasil belajar biologi
didik sebagai kelas kontrol. peserta didik setelah diberikan perlakuan
Terdapat dua jenis pengumpulan data, model pembelajaran inkuiri terbimbing
yaitu metode angket untuk mengumpulkan berbantuan media KOKAMI pada kelompok
data minat belajar dan metode tes dalam eksperimen dan model pembelajaran
bentuk tes yaitu essay untuk mengumpukan konvensional pada kelompok kontrol.
data hasil belajar biologi. sebelum dilakukan Berikut ini rekapitulasi hasil perhitungan
pengambilan data, dilakukan uji coba statistik deksriptif data minat dan hasil
instrumen yaitu uji validitas dengan rumus belajar biologi yang ditunjukkan pada tabel 1
korelasi product moment, dan perhitungan berikut.
koefisien reliabilitas dengan rumus alpha

Tabel 1 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Skor Minat dan Hasil Belajar Peserta Didik
Data Minat Belajar Hasil Belajar
Statistik Kelompok Kelompok Kelompok Kelompok
Eksperimen Kontrol Ekperimen Kontrol
(1) (2) (3) (4) (5)
Mean 77, 60 71,39 74 60
Modus 80 70 80 55
Median 78 70 75 58
Standar 8,611 7,904 12,380 12,379
deviasi
Varians 74,149 62,475 153,264 153,24
Skor 92 90 96 90
Tertinggi
Skor 59 55 43 38
Terendah
Sumber : Data Primer Diolah, 2017

Uji prasyarat terhadap sebaran data meliputi, biologi peserta didik kelompok eksperimen
uji normalitas, uji homogenitas varian dan uji dan kontrol berdistribusi normal. Selanjutnya
homogenitas matriks varian- kovarian . untuk uji homogenitas varians menggunakan
Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas uji F diperoleh bahwa data minat dan hasil
data menggunakan rumus chi kuadrat belajar biologi peserta didik kelompok
diperoleh bahwa data minat dan hasil belajar
eksperimen maupun kontrol memiliki belajar biologi pada kelompok eksperimen
varians homogen. dan kontrol memiliki matriks varian-
Untuk uji homogenitas matriks varian- kovarian yang homogen.
kovarian dengan SPSS 23.0 for windows , Karena semua uji prasyarat data telah
diperoleh angka signifikan (Sig.) > 0,05 terpenuhi, maka dilanjutkan untuk oengujian
yaitu 1,187 > 0,05. hal tesebut menujukkan hipotesis.
data minat belajar pada kelompok 1. Uji Hipotesis I
eksperimen dan kontrol memiliki matriks Pengujian hipotesis pertama menggunakan
varian- kovarian yang homogen. ,diperoleh uji-t dengan hasil perhitungan yang dapat
angka signifikan (Sig.) > 0,05 yaitu 1,000> dilihat di tabel 2 berikut.
0,05. hal tesebut menujukkan data hasil

Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Analisis uji-t untuk Hipotesis I


Kelompok Rata-rata Varians thitung ttabel
(1) (2) (3) (4) (5)
Eksperimen 77,60 74,149 3,23 1,684
Kontrol 71,39 62,475
Sumber : Data Primer Diolah, 2017

Berdasarkan tabel 2 tersebut diperoleh peserta didik kelas XI MIA SMA Negeri 5
bahwa thitung sebesar 3,23. Dengan taraf Denpasar tahun pelajaran 2016/2017.
signifikansi 5% dan dk= 38+38 -2 = 74 ,
diperoleh thitungsebesar 1,684 . oleh karena itu 2. Uji Hipotesis II
thitung> ttabel yaitu 3,23 > 1,684 , maka H0 Pengujian hipotesis pertama
ditolak dan H1 diterima . hal tersebut berarti menggunakan uji-t dengan hasil perhitungan
ada perbedaan penerapan model yang dapat dilihat di tabel 3 berikut.
pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan
media KOKAMI terhadap minat pada

Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Analisis uji-t untuk Hipotesis II


Kelompok Rata-rata Varians thitung ttabel
(1) (2) (3) (4) (5)
Eksperimen 74 153,264 4,86 1,684
Kontrol 60 153,24
Sumber : Data Primer Diolah, 2017

Berdasarkan tabel 3 tersebut diperoleh 3. Uji Hipotesis III


bahwa thitung sebesar 4,86. Dengan taraf Pengujian hipotesis ketiga menggunakan
signifikansi 5% dan dk= 38+38 -2 = 74 , uji MANOVA dengan bantuan SPSS 23.00
diperoleh thitung sebesar 1,684 . oleh karena for windows yang menujukkan bahwa ada
itu thitung> ttabel yaiTU 4,86 > 1,684 , maka H0 perbedaan secara simultan penerapan model
ditolak dan H1 diterima . hal tersebut berarti pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan
ada perbedaan penerapan model media KOKAMI terhadap miant dan hasil
pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan belajar biologi pada peserta didik kelas XI
media KOKAMI terhadap hasil belajar MIA SMA Negeri 5 Denpasar tahun
biologi pada peserta didik kelas XI MIA pelajaran 2016/2017. Hasil analisis uji
SMA Negeri 5 Denpasar tahun pelajaran MANOVA dapat ditunjukkan pada tabel 4
2016/2017. berikut.
Tabel 4 Multivariate Testsa
Hypothesis
Effect Value F df Error df Sig.
b
Intercept Pillai's Trace .991 3984.217 2.000 73.000 .000
b
Wilks' Lambda .009 3984.217 2.000 73.000 .000
b
Hotelling's Trace 109.157 3984.217 2.000 73.000 .000
Roy's Largest
109.157 3984.217b 2.000 73.000 .000
Root
X Pillai's Trace .326 17.679b 2.000 73.000 .000
b
Wilks' Lambda .674 17.679 2.000 73.000 .000
b
Hotelling's Trace .484 17.679 2.000 73.000 .000
Roy's Largest
.484 17.679b 2.000 73.000 .000
Root
a. Design: Intercept + X
b. Exact statistic

Sumber :Data Primer Diolah Berbantuan SPSS 23.00,2017

Berdasarkan tabel 4, pada baris dimana Negeri 5 Denpasar tahun pelajaran 2016-
terdapat variabel bebas yaitu diberikan 2017 dan menerima H1 yang menyatakan
keterangan X , angka-angka signifikan ada perbedaan penerapan model
hasil pengujian yang berdasarkan pada pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan
Pillai's Trace, Wilks Lambda, Hotellinings media KOKAMI terhadap minat belajar
Trace dan Roys Largest Root menunjukkan pada peserta didik kelas XI MIA SMA
angka signifikan (Sig.) sebesar 0,000. Negeri 5 Denpasar tahun pelajaran
Karena angka Sig. < 0.05 yaitu 0,000 < 2016/2017.
0.005 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Proses pengujian hipotesis I dilakukan
dengan model pembelajaran inkuiri
Pembahasan terbimbing berbantuan KOKAMI pada kelas
Berdasarkan hasil analisis hipotesis I eksperimen dan memberikan model
tentang pengaruh model pembelajaran pembelajaran konvensional pada kelas
inkuiri terbimbing berbantuan media kontrol. Untuk pemilihan kelas eksperimen
KOKAMI terhadap minat peserta didik dan kelas kontrol dilakukan dengan teknik
menunjukkan adanya pengaruh dari undian. Kegiatan belajar pada kelas
perlakuan yang diberikan. Hal ini dapat eksperimen dilakukan oleh guru biologi
dilihat dari perbandingan rata-rata minat yang memegang kelas tersebut dimana
belajar kelompok eksperimen sebesar 77,60 dalam proses pembelajarannya
lebih tinggi daripada rata-rata nilai minat menggunakan model inkuiri terbimbing
belajar peserta didik kelompok kontrol berbantuan KOKAMI. Pada kelas kontrol
sebesar 71,39. Demikian juga dari hasil uji-t seluruh kegitan pembelajaran dipimpin oleh
dengan taraf signifikansi 5% dan dk = 74 guru biologi yang memegang kelas tersebut
diperoleh nilai thitung > ttabel , yaitu 3,23 > namun dalam proses pembelajaran
1,684 Hipotesis pertama, hasil uji hipotesis menggunakan model konvensional. Pada
pertama telah menolak H0 yang menyatakan pengujian hipotesis ini, peneliti bertugas
tidak ada perbedaan penerapan model untuk menilai minat belajar peserta didik.
pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan Hasil analisis untuk minat belajar dan
media KOKAMI terhadap minat belajar hasil belajar biologi peserta didik secara
pada peserta didik kelas XI MIA SMA simultan dengan uji Manova berbantuan
SPSS 23.00 for windows diperoleh angka- belajar biologi peserta didik yang mengikuti
angka signifikansi hasil pengujian model pembelajaran inkuiri terbimbing
berdasarkan pada : Pillais Trace, Wilks berbantuan KOKAMI dengan peserta didik
Lambda, Hotellinings Trace dan Roys yang mengikuti model pembelajaran
Largest Rootdengan menggunakan konvensional tahun pelajaran 2016/2017.
signifikansi 0,05 menunjukkan angka Berdasarkan simpulan yang diperoleh
sebesar 0,000 < 0,05, sehingga hipotesis dalam penelitian ini, maka dapat disarankan
alternatif (H1) yang menyatakan bahwa hal sebagai berikut: 1) bagi guru biologi
terdapat perbedaan penerapan model diharapkan dapat menerapkam model
pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan pembelajaran dan media pembelajaran
KOKAMI terhadap minat belajar dan hasil inkuiri terbimbing berbantuan media
belajar biologi pada peserta didik kelas XI KOKAMI sebagai salah satu alternatif dalam
MIA SMA Negeri 5 Denpasar tahun upaya meningkatkan minat dan hasil belajar
pelajaran 2016/2017, diterima dan hipotesis peserta didik, 2) diharapkan ada penelitian
nol (H0) yang menyatakan tidak terdapat lanjutan yang berkaitan dengan penerapan
perbedaan penerapan model pembelajaran model pembelajaran inkuiri terbimbing
inkuiri terbimbing berbantuan KOKAMI berbantuan media KOKAMI, sehingga hasil
terhadap minat belajar dan hasil belajar penelitian ini dapat dimaksimalkan.
biologi pada peserta didik kelas XI MIA
SMA Negeri 5 Denpasar tahun pelajaran DAFTAR RUJUKAN
2016/2017, ditolak. Dengan demikian Arikunto,Suharsimi.2009.Dasar-Dasar
memang benar model pembelajaran inkuiri Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rhineka
terbimbing berbantuan media KOKAMI Cipta.
terdapat perbedaan secara simultan terhadap Candiasa, I Made.2010. Statistik Univariant
minat belajar dan hasil belajar biologi dan Bivariant Disertai Aplikasi SPSS 17.
peserta didik dibandingkan model Singaraja: Undiksha Press.
pembelajaran konvensional. Depdiknas. 2003. Standar Kompetensi
Biologi Untuk Sekolah Menengah Atas
SIMPULAN DAN SARAN dan Madrasah Aliyah. Jakarta: Balitbang
Adapun simpulan bedasarkan hasil Depdiknas.
penelitian dan analisis data adalah sebagai Kadir, A.2004.Menguasai Bahasa Inggris
berikut: 1) Ada perbedaan minat belajar Melalui KOKAMI. Tersedia pada
biologi pada peserta didik yang mengikuti http://www.republika.co.id/suplemen/ceta
model pembelajaran inkuiri terbimbing k.agp?mid=1&id-171407&katid=151).
berbantuan KOKAMI dengan peserta didik Diakses pada tanggal 8 November 2016 .
yang mengikuti model pembelajaran Robbins,S.P. 2007. Perilaku organisasi buku
konvensional tahun pelajaran 2016/2017., 2) I. Jakarta: Salemba Empat.
Ada perbedaan hasil belajar biologi pada Sanjaya,Wina. 2013. Strategi Pembelajaran
peserta didik yang mengikuti model Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan Jakarta : kencana prenada media group.
KOKAMI dengan peserta didik yang Sugiyono. 2015. Metode Penelitian
mengikuti model pembelajaran konvensional Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
tahun pelajaran 2016/2017., 3)Ada Kualitatif ,dan R&D. Bandung:Alfabeta
perbedaan secara simultan minat dan hasil
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN MULTIPLE INTELLIGENCES BERBASIS
NATURALISTIK TERHADAP MINAT DAN HASIL BELAJAR BIOLOGI

Ni Kadek Prita Paradayang, dan I Gusti Ayu Rai


Jurusan/Prodi. Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP PGRI Bali
gustiayurai64@gmail.com

ABSTRACT
The Influence Of The Multiple Intelligences That Based On Naturalistic Learning
Model Towards Interest And Biologys Learning
Education is a conscious effort made by the family, community and government through
guidance activities, teaching, or training which is taking place at school or outside
school.That conscious effort is done by the form of learning. One of the proper learning steps
in improvinginterest and learning outcomes is to apply the Multiple Intelligences that Based
on Naturalistic learning model. This research aim to determine the influence of the Multiple
Intelligences that Based on Naturalistic learning model towards interest and biologys
learning result of the class X IPA SMA Negeri 8 Denpasar students. This researchs type is
quasi experiment research. The population in this research are all students of class X IPA
SMA Negeri 8 Denpasar, which consists of eight classes (292 people). The samples were
taken randomly by random sampling technique. The result data of biologicals learning is
collected by biologys test result, learning interest data was collected by the learning interest
questionnaire. Data analysis is using statistical methods t-test and MANOVA with the help of
SPSS 23.0 for windows.
Based on the results of data analysis, obtained conclusion : (1) There is a significant
influence by multiple intelligences that based on the naturalistic learning model towards
learning interest of the students with significance (0,000 < 0,05), (2) there is a significant
influence by multiple intelligences that based on the naturalistic learning model towards
biologys test result of the students with significance (0,000 < 0,05), and (3) There is a
significant influence by multiple intelligences that based on the naturalistic learning model
towards interest and biologys test result of the students simultaneously with significance
(0,000 < 0,05).

Keyword: Multiple Intelligences That Based on Naturalistic Learning Model, Learning


Interest, Learnings Result.

PENDAHULUAN peserta didik yang rendah. Peserta didik


Pembelajaran biologi bertujuan untuk merasa sulit mempelajari dan memahami
mengubah tingkah laku anak didik agar materi biologi, dan terkesan bahwa biologi
menjadi manusia dewasa yang mampu hidup merupakan mata pelajaran hafalan yang
mandiri dan sebagai anggota masyarakat cepat membosankan.
dalam lingkungan alam sekitar dimana Permasalahan pembelajaran yang
individu itu berada. Dalam prosesnya tidak dihadapi saat ini adalah bagaimana para guru
hanya mencakup pengembangan mampu dan kreatif dalam memilih dan
intelektualitas tentang gejala alam saja, akan menggunakan metode yang tepat. Demikian
tetapi juga ditekankan pada proses halnya dalam menyelenggarakan
pembinaan kepribadian anak didik secara pembelajaran pada jenjang sekolah
menyeluruh terhadap alam sekitar. menengah yang masih dihadapkan pada
Pembelajaran biologi tidaklah mudah, persoalan mengenai peningkatan mutu, baik
karena fakta menunjukkan bahwa masih minat maupun hasil belajar peserta didik.
banyak minat dan hasil belajar biologi Berbagai usaha telah diupayakan para guru
untuk meningkatkan mutu pembelajaran meningkatkan minat belajar peserta didik
diantaranya dengan metode pembelajaran dalam mengikuti pembelajaran di kelas
yang bervariasi, dan penggunaan media yang maupun di luar kelas.
dianggapnya menarik yang diharapkan dapat Keunggulan Model Pembelajaran
meningkatkan partisipasi aktif antara peserta Multiple Intelligences Berbasis Naturalistik
didik dengan guru. Model pembelajaran adalah membangun kesadaran peserta didik
mempunyai peranan yang penting untuk untuk dapat menjadikan alam sebagai ruang
meningkatkan minat dan hasil belajar biologi dan media pembelajaran, memberikan
peserta didik. Memilih model pembelajaran kesempatan kepada peserta didik untuk
yang tepat, serta menerapkannya dengan baik memperoleh inspirasi, ide-ide, dan
dan benar merupakan salah satu alternatif pengamatan langsung sehingga dapat
mengatasi masalah dalam proses menciptakan dan mengembangkan
pembelajaran terutama membentuk rasa pandangan serta kreativitas baru dalam
keingintahuan yang besar terhadap pelajaran pembelajaran.
biologi. Dengan diterapkannya model
Dari hasil observasi yang dilakukan di pembelajaran Multiple Intelligences Berbasis
SMA Negeri 8 Denpasar, diketahui bahwa Naturalistik diharapkan mampu
minat dan hasil belajar biologi peserta didik meningkatkan minat dan hasil belajar peserta
masih tergolong rendah. Komunikasi dalam didik yang tentunya akan berdampak pada
pembelajaran masih bersifat satu arah nilai mata pelajaran khususnya mata
karena metode pembelajaran di kelas masih pelajaran biologi.
didominasi dengan ceramah. Hal ini Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti
menyebabkan peserta didik menjadi pasif tertarik untuk menerapkan model
dan kurang bersemangat mengikuti pembelajaran Multiple Intelligences Berbasis
pelajaran. Naturalistik dalam pembelajaran biologi
Upaya untuk mengatasi permasalahan melalui penelitian yang berjudul Pengaruh
tersebut, dapat dilakukan dengan Model Pembelajaran Multiple Intelligences
menerapkan Model Pembelajaran Multiple Berbasis Naturalistik Terhadap Minat dan
Intelligences Berbasis Naturalistik. Model Hasil Belajar Biologi Peserta Didik Kelas X
Pembelajaran Multiple Intelligences Berbasis IPA SMA Negeri 8 Denpasar.
Naturalistik merupakan pembelajaran yang
mampu menggali kemampuan atau METODE PENELITIAN
kecerdasan seseorang untuk mengidentifikasi Penelitian ini tergolong penelitian
dan mengklasifikasi pola-pola alam (nature), eksperimen semu (quasi eksperimen) yang
yang tujuannya untuk mengenal flora dan mempunyai kelompok kontrol tetapi tidak
fauna, melakukan pemilihan-pemilihan utuh dapat sepenuhnya mengontrol variabel-
dalam dunia kealaman dan menggunakan variabel luar yang mempengaruhi
kemampuan ini secara produktif misalnya pelaksanaan eksperimen (Sugiyono, 2015).
untuk berburu, bertani, atau melakukan Penelitian ini menggunakan desain penelitian
penelitian biologi (Gardner,1983). Model Non-Equivalent Control Group Design,
pembelajaran ini juga dapat menarik seperti pada gambar 01 berikutt.
perhatian peserta didik sehingga dapat

Design Non-Equivalent Control Group Design

E X1 O1
K X2 O2
Popu
lasi penelitian ini terdiri dari 8 kelas dengan
total 292 orang. Dari seluruh populasi Instrument yang telah diuji validitas dan
ditetapkan sebanyak 2 kelas sebagai sampel reliabilitasnya, pada akhir penelitian
dengan teknik random sampling yaitu diberikan pada kelompok eksperimen dan
dengan cara undian, dan diperoleh kelas X kelompok kontrol sebagai post test. Data
IPA3 sebagai kelompok kontrol dan kelas X yang terkumpul kemudian dianalisis
IPA4 sebagai kelompok eksperimen dengan menggunakan uji statistik.
total 72 orang.
Pengumpulan data menggunakan metode HASIL DAN PEMBAHASAN
angket untuk mendapatkan data tentang Data yang dikumpulkan dalam penelitian
minat belajar dan metode tes bentuk essay ini adalah data skor minat dan hasil belajar
untuk mendapatkan data tentang hasil peserta didik. Data minat belajar diperoleh
belajar biologi peserta didik. sebelum dengan menyebarkan angket dan data hasil
dilakukan pengambilan data, dilakukan uji belajar diperoleh melalui post test yang
validitas instrumen dengan rumus korelasi dilaksanakan sesuai dengan rencana
product moment dengan angka kasar, dan pembelajaran yang telah disusun sesuai
perhitungan koefisien reliabilitas dengan dengan variasi model pembelajaran Multiple
rumus alpha Cronbach, dan diperoleh hasil Intelligences Berbasis Naturalistik yang
dengan nilai r11untuk angket minat belajar diterapkan pada kelompok eksperimen dan
sebesar 0,79. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran konvensional pada
angket minat belajar memiliki interpretasi kelompok kontrol. Hasil rekapitulasi statistik
koefisien reliabilitas tinggi. Sedangkan hasil minat dan hasil belajar biologi peserta didik
analisis uji reliabilitas tes hasil belajar pada kelompok eksperimen maupun pada
biologi, diperoleh r11 sebesar 0,52. Hal ini kelompok kontrol disajikan pada Tabel 01
menunjukkan bahwa tes hasil belajar biologi berikut.
memiliki interpretasi koefisien reliabilitas
sedang.

Tabel 01
Rekapitulasi Statistik Minat dan Hasil Belajar Biologi
Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Data Minat Belajar Hasil Belajar
Statistik Kelompok Kelompok Kelompok Kelompok
Eksperimen Kontrol Eksperimen Kontrol
Mean 109,36 101,58 74,78 64,81
Modus 112 98 75 60
Median 111 102 75 65
Standar Deviasi 9,40 9,25 8,59 7,85
Varians 88,54 85,62 73,88 61,68
Skor Tertinggi 125 120 90 78
Skor Terendah 90 86 55 50

Uji prasyarat terhadap sebaran data eksperimen dan kelompok kontrol


meliputi uji normalitas, uji homogenitas berdistribusi normal. Selanjutnya untuk uji
varian, uji multikolinearitas, dan uji homogenitas varians menggunakan aplikasi
homogenitas matriks varian-kovarian. SPSS 23.0 for windows diperoleh bahwa data
Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas minat dan hasil belajar biologi peserta didik
data dengan bantuan aplikasi SPSS 23.0 for pada kelompok eksperimen maupun
windows diperoleh bahwa data minat dan kelompok kontrol memiliki varians yang
hasil belajar biologi peserta didik kelompok homogen.
Untuk uji multikolinearitas, teknik yang dan hasil belajar biologi pada kelompok
digunakan adalah dengan menggunakan eksperimen maupun kelompok kontrol
model regresi linear pada program SPSS, memiliki matriks varian-kovarian yang
diperoleh nilai Tolerance variabel minat homogen.
belajar (X1) dan hasil belajar biologi (X2) Karena semua uji prasyarat data telah
yaitu 0,833 lebih besar dari 0,10. Sementara terpenuhi, maka dilanjutkan untuk pengujian
itu, Nilai VIF variabel minat belajar (X1) dan hipotesis.
hasil belajar biologi (X2) yaitu 1,025 lebih 1. Hasil Pengujian Hipotesis I
kecil dari 10. Sehingga dapat disimpulkan Untuk melakukan pengujian terhadap
tidak terjadi multikolinearitas. Untuk uji hipotesis nol (H0) tentang minat belajar ,
homogenitas matriks varian-kovarian dengan digunakan uji-t (statistik parametrik)dengan
SPSS 23.0 for windows, diperoleh angka aplikasi SPSS 23.0 for windows. Dengan
signifikan (Sig.) 0,05 yaitu 0,276 0,05. hasil perhitungan yang dapat dilihat pada
Hal tersebut menunjukkan bahwa data minat Tabel 02 berikut.

Tabel 02
Hasil Analisis t-test dengan SPSS 23.0 for Windows
Uji Hipotesis I
Hipotesis
Nilai Sig. Nilai
0,000 0,05

Berdasarkan Tabel 3 tersebut, hasil didik kelas X IPA SMA Negeri 8


analisis t-test diperoleh nilai Sig. yaitu Denpasar.
0,000 0,05, maka H0 ditolak dan H1 2. Hasil Pengujian Hipotesis II
diterima. Hal tersebut berarti bahwa Untuk melakukan pengujian terhadap
terdapat pengaruh model pembelajaran hipotesis nol (H0) digunakan uji-t (statistik
Multiple Intelligences Berbasis parametrik) dengan aplikasi SPSS 23.0 for
Naturalistik terhadap minat belajar peserta windows. Hasil perhitungan dapat dilihat
pada tabel 03 berikut.

Tabel 03
Hasil Analisis t-test dengan SPSS 23.0 for Windows
Uji Hipotesis Hipotesis II
Nilai Sig. Nilai
0,000 0,05

Berdasarkan Tabel 03 tersebut, hasil menggunakan uji MANOVA dengan


analisis t-test diperoleh nilai Sig. yaitu bantuan SPSS 23.0 for windows yang
0,000 0,05, maka H0 ditolak dan H1 menunjukkan bahwa terdapat pengaruh
diterima. Hal tersebut berarti bahwa secara simultan model pembelajaran
terdapat pengaruh model pembelajaran Multiple Intelligences Berbasis
Multiple Intelligences Berbasis Naturalistik terhadap minat dan hasil
Naturalistik terhadap hasil belajar biologi belajar biologi peserta didik kelas X IPA
peserta didik kelas X IPA SMA Negeri 8 SMA Negeri 8 Denpasar. Hasil analisis uji
Denpasar. MANOVA dapat ditunjukkan pada Tabel
3. Hasil Pengujian Hipotesis III 04 berikut.
Tabel 04
Multivariate Tests

Hypothesis
Effect Value F df Error df Sig.
Inter Pillai's Trace ,998 14023,771b 2,000 69,000 ,000
cept Wilks' Lambda ,002 14023,771b 2,000 69,000 ,000
Hotelling's Trace 406,486 14023,771b 2,000 69,000 ,000
Roy's Largest
Root 406,486 14023,771b 2,000 69,000 ,000

X Pillai's Trace ,619 56,053b 2,000 69,000 ,000


Wilks' Lambda ,381 56,053b 2,000 69,000 ,000
Hotelling's Trace b
1,625 56,053 2,000 69,000 ,000
Roy's Largest
1,625 56,053b 2,000 69,000 ,000
Root
a. Design: Intercept + X
b. Exact statistic

Berdasarkan tabel 04, pada baris dimana Naturalistik memberikan pengaruh positif
terdapat variabel bebas yaitu diberikan terhadap minat belajar daripada peserta didik
keterangan X, angka-angka signifikan hasil kelompok kontrol yang mengikuti model
pengujian yang berdasarkan pada Pillais pembelajaran konvesional.
Trace, Wilks Lambda, Hotellinings Trace Dengan diterapkannya model
dan Roys Largest Rootmenunjukkan angka pembelajaran Multiple Intelligences Berbasis
signifikansi sebesar 0,000 < 0,05, maka H0 Naturalistik ini dapat mengaktifkan peserta
ditolak dan H1 diterima. didik dan juga menggali kemampuan atau
kecerdasan alam yang dimiliki peserta didik
Pembahasan pada saat belajar biologi dan dapat memacu
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis I minat peserta didik dan menimbulkan
diperoleh bahwa hasil uji t menunjukan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan
bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga materi yang disampaikan, sehingga adanya
terdapat pengaruh secara signifikan dari keaktifan dari peserta didik dalam kegiatan
model pembelajaran Multiple Intelligences pembelajaran dan minat belajar peserta didik
Berbasis Naturalistik terhadap minat belajar meningkat. Berbeda dengan kelompok
peserta didik kelas X IPA SMA Negeri 8 kontrol yang menerapkan model
Denpasar. pembelajaran konvensional, pelaksanaan
Hasil analisis data juga menunjukan pembelajaran mengutamakan penyampaian
bahwa rata-rata minat belajar peserta didik konsep-konsep yang diperoleh pendidik,
yang mengikuti model pembelajaran peserta didik kurang berinteraksi baik
Multiple Intelligences Berbasis Naturalistik dengan pendidik maupun dengan peserta
sebesar 109,36 lebih tinggi dibandingkan didik lainnya.
dengan rata-rata minat belajar peserta didik Minat belajar peserta didik yang
yang mengikuti model pembelajaran mengikuti model pembelajaran Multiple
konvensional sebesar101,58. Hasil analisis Intelligences Berbasis Naturalistik lebih baik
tersebut menunjukan bahwa peserta didik daripada minat belajar peserta didik yang
kelompok eksperimen yang mengikuti model mengikuti model pembelajaran
pembelajaran Multiple Intelligences Berbasis konvensional.
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis II kurang dari taraf signifikansi 5% yaitu 0,05,
diperoleh bahwa hasil uji t menunjukan sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan
bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga demikian model pembelajaran Multiple
terdapat pengaruh secara signifikan dari Intelligences Berbasis Naturalistik
model pembelajaran Multiple Intelligences memberikan pengaruh secara simultan
Berbasis Naturalistik terhadap hasil belajar terhadap minat dan hasil belajar biologi
biologi peserta didik kelas X IPA SMA peserta didik dibandingkan dengan model
Negeri 8 Denpasar. pembelajaran konvensional.
Hasil analisis deskripsi juga menunjukan Penggunaan model Multiple Intelligences
bahwa rata-rata nilai hasil belajar biologi Berbasis Naturalistikmemberikan pengaruh
peserta didik yang mengikuti model yang positif dalam meningkatkan minat dan
pembelajaran Multiple Intelligences Berbasis hasil belajar biologi peserta didik. Hal ini
Naturalistik sebesar 74,78 lebih tinggi disebabkan karena model pembelajaran
dibandingkan dengan rata-rata nilai hasil Multiple Intelligences Berbasis
belajar biologi peserta didik yang mengikuti Naturalistikpeserta didik dituntut untuk lebih
model pembelajaran konvensional sebesar aktif dan kreatif dalam kegiatan
64,81. Hasil analisis tersebut menunjukan pembelajaran dan rasa ingin tahu yang tinggi
bahwa peserta didik kelompok eksperimen dan mampu mengaitkannya pada kehidupan
yang mengikuti model pembelajaran sehari-hari dengan contoh dan objek-objek
Multiple Intelligences Berbasis Naturalistik nyata. Dengan model pembelajaran ini dapat
memberikan pengaruh positif terhadap hasil dijadikan suatu alternatif pembelajaran yang
belajar biologi daripada peserta didik tidak membosankan serta dapat
kelompok kontrol yang mengikuti model meningkatkan minat peserta didik. Karena
pembelajaran konvesional. Dengan dalam penerapannya model ini bersifat
diterapkannya model pembelajaran Multiple mengajak peserta didik untuk berintekasi
Intelligences Berbasis Naturalistik ini dapat secara langsung dengan objek nyata yang
menarik perhatian, minat, dan berpengaruh ditemui dilingkungan sekitar yang terkait
terhadap peningkatan hasil belajar peserta dengan materi yang tengah dipelajari.
didik, secara umum disebabkan karena pada Sehingga kegiatan pembelajaran menjadi
penerapannya peserta didik dihadapkan interaktif dan komunikatif serta dapat
dengan objek nyata yang ditemukan pada meningkatkan hasil belajar biologi peserta
lingkungan sekitar dan dapat mengaitkannya didik secara optimal.
dengan materi yang disampaikan secara
singkat. Sehingga terkesan tidak monoton SIMPULAN DAN SARAN
serta peserta didik dapat mengasah ilmu Berdasarkan hasil analisis data maka
kognitif dan psikomotoriknya secara optimal dapat disimpulkan bahwa : 1) Model
guna meningkatkan hasil belajar.Hasil data pembelajaran Multiple Intelligences Berbasis
juga menunjukkan bahwa hasil belajar Naturalistik berpengaruh terhadap minat
biologi peserta didik yang mengikuti model belajar peserta didik kelas X IPA SMA
pembelajaran Multiple Intelligences Berbasis Negeri 8 Denpasar. 2) Model pembelajaran
Naturalistik lebih baik daripada hasil belajar Multiple Intelligences Berbasis Naturalistik
biologi peserta didik yang mengikuti model berpengaruh terhadap hasil belajar biologi
pembelajaran konvensional. peserta didik kelas X IPA SMA Negeri 8
Hasil analisis untuk minat dan hasil Denpasar. 3) Model pembelajaran Multiple
belajar biologi peserta didik secara simultan Intelligences Berbasis Naturalistik
dengan uji Manova berbantuan SPSS 23.0for berpengaruh terhadap minat dan hasil belajar
windows diperoleh angka-angka signifikansi biologi pada peserta didik kelas X IPA SMA
hasil pengujian berdasarkan pada: Pillais Negeri 8 Denpasar.
Trace, Wilks Lamda, Hotellings Trace and Berdasarkan simpulan yang diperoleh,
Roys, Largest Root menunjukan angka0,000 maka dapat disarankan hal sebagai berikut:
Dalam proses pembelajaran pendidik Hambali. , 2017. Eksplorasi Pembelajaran
hendaknya mampu menerapkan model Tadabbur Alam Dalam Meningkatkan
pembelajaran secara baik dan benar agar Kecerdasan Naturalis (Naturalistik
pembelajaran menjadi lebih inovatif serta Intellegence) Dan Kecerdasan Spiritual
mampu meningkatkan minat dan hasil (Spiritual Intellegence) Siswa SMP
belajar biologi secara optimal. Unismuh Makassar. Makassar: Jurnal
Pendidikan Fisika. Vol. 5, No.1.
DAFTAR RUJUKAN Riandari, H., 2009. Theory and Application
of Biology for Grade X of Senior High
Arikunto, S., 2013. Dasar-Dasar Evaluasi School and Islamic Senior High School,
Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Solo.
Djamarah, Syaiful Bahri., dan Zain, Aswan. Sagala, Syaiful., 2013. Konsep dan makna
(2006). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta pembelajaran untuk membantu
: Rineka Cipta. memecahkan problematika belajar dan
Fleetham, Mike., 2006. Multiple mengajar. Penerbit Alfabeta, Bandung.
Intelligences in Practice Enhancing Self- Slameto, 2010. Belajar dan Faktor-faktor
Esteem and Learning in the Classroom. yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka
Stafford. Network Continum Education. Cipta.
Gardner, H.,1983. Frames of mind: The Sugiyono. 2014. Metode Penelitian
theory of multiple intelligences. New Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif, dan
York: Basic Books. R&D. Bandung : Alfabeta.
_____.1993. Multiple Intelligences: The Wardani, I.G.A.K, Wihardit, K dan
theory in practice. New York: Basic Nasution, N (2002). Penelitian Tindakan
Books. Kelas, Jakarta, Universitas Terbuka.
_____. 1999. Intelligence reframed: Multiple Yaumi Muhammad., 2012. Pembelajaran
intelligences for the 21st century. New Berbasis Multiple Intelligences. PT Dian
York: Basic Books. Rakyat: Jakarta.
PEDOMAN BAGI PENULIS JURNAL EMASAINS

1. Memuat naskah ilmiah bidang Edukasi Matematika dan Sains dengan kajian masalah pendidikan matematika, sains
dan lingkungan hidup.
2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia baku sesuai ejaan yang disempurnakan dan atau bahasa inggris baku.
3. Tulisan dari hasil penelitian, kajian teoretis dan aplikasi teori. Naskah harus asli (belum pernah dipublikasikan) dan
ditulis oleh peneliti maupun tim peneliti menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Naskah ilmiah yang
telah diseminarkan dalam pertemuan ilmiah nasional dan internasional, hendaknya disertai dengan catatan kaki.
4. Naskah dicetak pada kertas ukuran A4, diketik dengan spasi ganda menggunakan program olah kata word for
windows, huruf times new roman ukuran 12.
5. Tatacara penulisan hasil penelitian hendaknya disusun menurut urutan berikut: Judul, Identitas penulis, Abstrak,
Pendahuluan, Metode Penelitian, Hasil dan Pembahasan, Simpulan dan saran, Ucapan Terimakasih, dan Daftar
Rujukan. Upayakan naskah dicetak hitam-putih, dan keseluruhan naskah tidak lebih dari 15-20 halaman.
6. Judul : Singkat dan jelas (tidak lebih dari 14 kata), ditulis dengan huruf Kapital.
7. Identitas Penulis: Nama ditulis lengkap (tidak disingkat) tanpa gelar. Bila alamat instansi penulis berbeda, maka di
belakang setiap nama diberi indeks atas angka arab. Alamat penulis ditulis di bawah nama penulis, mencakup
laboratorium, lembaga, dan alamat lengkap dengan nomor telpon/faksimili dan e-mail. Indeks tambahan diberikan
pada penulis yang dapat diajak berkorespondensi (corresponding author).
8. Abstrak: Ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, bila naskah berbahasa Indonesia, begitu pula
sebaliknya. Abstrak dilengkapi kata kunci (key words) yang diurut berdasarkan kepentingannya. Abstrak memuat
ringkasan naskah, mencakup seluruh tulisan tanpa mencoba merinci setiap bagiannya. Hindari menggunakan
singkatan. Hanya abstrak berbahasa Inggris yang akan dimuat.
9. Pendahuluan: Memuat tentang ruang lingkup, latar belakang tujuan dan manfaat penelitian. Bagian ini hendaknya
memaparkan latar belakang agar pembaca dapat memahami dan menilai hasil penelitian tanpa membaca laporan-
laporan sebelumnya yang berkaitan dengan topik. Manfaatkanlah pustaka yang dapat mendukung pembahasan.
10. Metode Penelitian: Hendaknya diuraikan secara rinci dan jelas mengenai bahan yang digunakan dan cara kerja
yang dilaksanakan, termasuk metode statistika. Cara kerja yang disampaikan hendaknya memuat informasi yang
memadai sehingga memungkinkan penelititan tersebut dapat diulang dengan berhasil.
11. Hasil dan Pembahasan: Disajikan secara bersama dan membahas dengan jelas hasil-hasil penelitian. Dapat
disajikan dalam bentuk tertulis di dalam naskah, tabel, atau gambar. Kurangi penggunaan grafik jika hal tersebut
dapat dijelaskan dalam naskah. Batasi pemakaian foto, sajikan foto yang jelas menggambarkan hasil yang
diperoleh. Gambar dan tabel harus diberi nomor dan dikutip dalam naskah. Foto dapat dikirim dengan ukuran 4R.
Biaya pemuatan foto berwarna akan dibebankan kepada penulis. Grafik hasil pengolahan data dikirim dalam file
yang terpisah dari file naskah ilmiah dan disertai nama program dan data dasar penyusunan grafik. Pembahasan
yang disajikan hendaknya memuat tafsir atas hasil yang diperoleh dan bahasan yang berkaitan dengan laporan-
laporan penelitian sebelumnya. Akan lebih baik jika rujukan yang digunakan berasal dari Jurnal. Hindari mengulang
pernyataan yang telah disampaikan pada metode, hasil dan informasi lain yang telah disajikan pada pendahuluan.
12. Simpulan dan Saran : Disajikan secara terpisah dari hasil dan pembahasan.
13. Ucapan terima kasih : Dapat disajikan bila dipandang perlu. Ditujukan kepada yang mendanai penelitian dan untuk
memberikan penghargaan kepada lembaga maupun perseorangan yang telah membantu penelitian atau proses
penulisan ilmiah.
14. Daftar Rujukan: Disusun secara alfabetis menurut nama dan tahun terbit. Singkatan majalah/jurnal bedasarkan
tata cara yang dipakai oleh masing-masing jurnal, daftar rujukan jurnal/majalah ilmiah (10 tahun terkahir)
sedikitnya 60% dan text books 40%. Contoh penulisan daftar rujukan:
Jurnal/Majalah : Nama, tahun, judul artikel, nama jurnal, Vol. Nomor, halaman, Tahun.
Contoh: Yoger, R.E., Tamir, Pinchas, 1993 STS Aproach: Reasons, Intention, Accomplisment, and Outcomes. Journal
Science Education Vol. 77(6), 11-17
Buku: nama pengarang, tahun terbit,judul, edisi, nama dan tempat penerbit.
Contoh: Holman, J. 1986, Science-Technology In Society, General Guide, The Associationfor Science Education.
Makalah Seminar: Nama, Tahun, Judul Makalah, Thema Seminar, Tanggal Pelaksanaan, Tempat.
Contoh: Arinasa, I.B.K. 1998. Kontribusi Kebun Raya Eka Karya Bali dalam Melestarikan Flora Langka yang ada di Bali
Beserta Permaslahannya. Makalah Seminar Hari Puspa dan Satwa Nasional, Tanggal 5 Nopember 1998 di STKIP
Singaraja.
Prosiding: Nama pengarang, tahun, judul, nama Prosiding, tanggal, halaman
Contoh: Muzzarelli R. 1990. Chitin and chitoson : Unique cationic polysaccharides, In: Procceding Symposium Toward
Carbohydrate Based Chemistry. Amies,France,23-26 Oct 1989. Pp 199-231

Jurnal EMASAINS Volume VI, Nomor 1, Maret Tahun 2017 ISSN 2302-2124
Tesis/disertasi: nama pengarang, tahun, judul thesis/desertasi, nama universitas/Perguruan Tinggi.
Contoh: Said S. 2003. Studies on fertilization of rat oocytes by intracytoplasmic sperm injection. (Disertation). Okayama:
Okayama University.
Internet: Nama Pengarang, tahun, judul artikel, sumber, tanggal diunduh.
Contoh: Okezone, 2008. Dampak Buruk Emisi Kendaraan. Diperoleh dari URL: http;//antos.okezone.com/index/Read
story/2008/01/25/87/78078/dampak;buruk;e-. Diunduh tanggal 15 Pebruari 2008.
15. Naskah dari artikel ulas balik (review), dan laporan kasus sesuai dengan aturan yang lazim.
16. Pengiriman naskah dapat dilakukan setiap saat dalam bentuk cetakan (print out) sebanyak 2 eksemplar dan 1 soft
copy kepada Redaksi Jurnal Emasains Jln Akasia Desa Sumerta No 16 Denpasar Timur
17. Naskah yang dikirim harus disertai surat dari penulis. Surat harus dengan jelas menyatakan, alamat lengkap,
nomor telpon dan faksimili, dan alamat email. Penulis korespondensi bertanggungjawab terhadap keaslian
penelitian dan isi naskah. Untuk mempercepat proses penelaahan tulisan tersebut, penulis sebaiknya
menyodorkan sedikitnya tiga penelaah (reviewer) yang tidak bekerja dalam satu lembaga atau satu lab. Sertakan
pula alamat penelaah yang direkomendasikan.
18. Terhadap naskah/makalah yang dikirim, redaksi berhak untuk: memuat naskah/makalah tanpa perbaikan,
memuat naskah/makalah dengan perbaikan, dan menolak naskah/makalah. Semua keputusan redaksi tidak
dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat untuk keperluan itu.
19. Biaya cetak: Makalah yang telah dimuat dikenai biaya penerbitan dan pengiriman. Biaya cetak dibebankan
kepada penulis pertama (coreponding author), sebesar 150.000 rupiah bagi anggota dan 200.000 rupiah bagi
bukan anggota.
20. Penulis/pelanggan dapat mengirimkan biaya pemuatan-naskah atau langganan lewat transfer bank BNI Cabang
Denpasar atas nama Dra Ni Nyoman Parmithi, MM, rekening No. 0557-01-000051-53-9.

Jurnal EMASAINS Volume VI, Nomor 1, Maret Tahun 2017 ISSN 2302-2124