You are on page 1of 8

Nama : Putu Elvira Yulianthi

NIM : 1608511050

SOAL

1. Apakah ada RNA lain diluar sn-RNA, t-RNA, m-RNA, r-RNA ?

2. Jelaskan percobaan yang membuktikan asam nukleat sebagai materi genetik !

3. Jelaskan perbedaan dan persamaan material genetik yang terkandung dalam virus,
bakteri prokariot, sel tumbuhan, dan sel hewan !

JAWABAN

1. RNA lain diluar sn-RNA, t-RNA, m-RNA, r-RNA yaitu :

a. RNA non-coding (nc-RNA)

RNA non-coding ini ("ncRNA") dapat dikodekan oleh gen mereka sendiri
(gen RNA), namun bisa juga berasal dari mRNA intron. Contoh yang paling
menonjol dari RNA non-coding adalah transfer RNA (tRNA) dan RNA ribosom
(rRNA), keduanya terlibat dalam proses penerjemahan. Ada juga RNA
non-coding yang terlibat dalam regulasi gen, pemrosesan RNA dan peran lainnya.
RNA tertentu mampu mengkatalisis reaksi kimia seperti memotong dan meligasi
molekul RNA lainnya, dan katalisis pembentukan ikatan peptida pada ribosom ini
dikenal sebagai ribozim.

b. RNA nukleolit kecil (sno-RNA)

RNA nukleolit kecil ( snoRNA ) adalah kelas molekul RNA kecil yang
terutama memandu modifikasi kimia dari RNA lainnya, terutama RNA ribosom ,
RNA transfer dan RNA nuklir kecil. Ada dua kelas utama snoRNA, snoRNA
kotak C/D, yang terkait dengan metilasi, dan kotak snoRNA H/ACA, yang terkait
dengan pseudouridilasi. SnoRNA sering disebut sebagai RNA panduan tapi
jangan bingung dengan RNA panduan yang mengarahkan pengeditan RNA di
trypanosom .
c. RNA yang berinteraksi dengan Piwi (Pi-RNA)

RNA yang berinteraksi dengan Piwi ( PiRNA ) adalah kelas molekul kecil
RNA non-coding terkecil yang dinyatakan dalam sel hewan. PiRNA membentuk
kompleks protein RNA melalui interaksi dengan protein piwi. Kompleks piRNA
ini telah dikaitkan dengan pembungkaman gen epigenetik dan post-transcriptional
dari retrotransposon dan elemen genetik lainnya pada sel kuman, terutama pada
spermatogenesis. Mereka berbeda dari ukuran mikroRNA (miRNA) (26-31 nt
daripada 21-24 nt), kurangnya konservasi urutan, dan kompleksitas meningkat.

d. Micro-RNA (mi-RNA)

Sebuah microRNA (singkatan miRNA ) adalah molekul RNA non-coding


kecil (mengandung sekitar 22 nukleotida ) yang ditemukan pada tanaman, hewan
dan beberapa virus, yang berfungsi dalam pembungkaman RNA dan pengaturan
ekspresi gen transkripsi post-transcriptional. Sementara sebagian besar miRNA
berada di dalam sel, beberapa miRNA, yang umumnya dikenal dengan sirkulasi
miRNA atau miRNA ekstraselular, juga ditemukan di lingkungan ekstraselular,
termasuk berbagai cairan biologis dan media kultur sel.

e. Interferensi RNA (RNA-i)

Interferensi RNA (RNAi) adalah proses biologis dimana molekul RNA


menghambat ekspresi gen atau translasi, dengan menetralkan molekul mRNA
yang ditargetkan. Secara historis, diketahui dengan nama lain, termasuk
co-suppression , post-transcriptional gene silencing (PTGS), dan quelling .

f. RNA beruntai ganda

RNA beruntai ganda (dsRNA) adalah RNA dengan dua untai komplementer,
mirip dengan DNA yang ditemukan di semua sel. dsRNA membentuk materi
genetik dari beberapa virus (virus RNA beruntai ganda). RNA beruntai ganda
seperti viral RNA atau siRNA dapat memicu interferensi RNA pada eukariota ,
serta respons interferon pada vertebrata.

g. Circular RNA

Baru-baru ini, ditunjukkan bahwa ada satu tertutup tertutup kovalen, yaitu
bentuk lingkaran RNA yang diekspresikan di seluruh kerajaan hewan dan
tumbuhan (sirkRNA). circRNA diperkirakan timbul melalui reaksi "back-splice"
dimana spliceosome bergabung dengan donor hilir ke situs sambatan akseptor
bagian hulu. Sejauh ini fungsi circRNA sebagian besar tidak diketahui, walaupun
untuk beberapa contoh aktivitas sponging microRNA telah ditunjukkan.

2. Percobaan yang membuktikan asam nukleat dalam hal ini DNA dan RNA sebagai
materi genetik :

Pada tahun 1930an para ahli mempelajari susunan kimia gen melalui pendekatan
biofisik dan biokimia, yang kemudian berkembang melahirkan cabang ilmu baru yang
disebut Biologi Molekular. Keterkaitan antara Genetika dan Biologi Molekular
memunculkan istilah Genetika Molekular, yaitu ilmu yang mempelajari tentang seluk
beluk gen. Gen terletak pada kromosom. Komponen kimiawi kromosom, DNA dan
protein, perlu pembuktian yang mana yang merupakan materi genetik. Seorang ahli
kesehatan dari Inggris, Frederick Griffith, mempelajari penyebab penyakit pneumonia
pada mamalia, yaitu bakteri Streptococcus pneumoniae. Dia mempunyai 2 strain
bakteri, yaitu yang dapat menyebabkan penyakit dan lainnya tidak. Bakteri penyebab
penyakit, ada 3 tipe, tipe I, II dan III, mempunyai ciri spesifik, yaitu adanya kapsul
yang menyelubungi seluruh sel. Selubung kapsul menyebabkan permukaan bakteri
tersebut halus (smooth). Bakteri ini disebut juga bakteri tipe S (singkatan dari smooth).
Bakteri yang tidak berbahaya, mempunyai permukaan sel yang kasar, karena tidak
diselubungi oleh kapsul. Bakteri ini disebut bakteri tipe R (singkatan dari rough).

Percobaan Griffith memberikan penjelasan awal tentang adanya sesuatu (gen?)


yang dapat berpindah dan menyebabkan terjadinya perubahan pada sel tersebut.
Empat percobaan yang dilakukan Griffith adalah sebagai berikut :

a. Tikus setelah disuntik dengan kultur bakteri tipe S (bakteri virulen) akan mati

b. Tikus lain disuntik dengan bakteri nonpatogen tipe R, tikus tetap sehat tidak mati

c. Percobaan lainnya, bakteri tipe S dimatikan dengan pemanasan 60oC selama 3


jam, kemudian disuntikkan pada tikus, ternyata tikus tersebut tetap sehat.
Kesimpulan dari percobaan ini adalah bakteri virulen S akan menyebabkan
penyakit pada tikus, apabila dalam keadaan hidup .
d. Percobaan terakhir, Griffith mencampur bakteri tipe S yang telah mati karena
pemanasan dengan bakteri tipe R, kemudian disuntikan pada tikus. Tikus
percobaan sakit, dan dari hasil otopsi, ditemui banyak bakteri tipe S pada tikus
tersebut. Ada substansi yang berasal dari bakteri tipe S yang sudah mati,
mengubah sel bakteri tipe R menjadi bentuk bakteri virulen (tipe S).

Sifat patogenitas yang dimiliki bakteri tipe R ini ternyata diwariskan ke semua
keturunannya. Griffith belum mengetahui substansi yang menyebabkan perubahan
yang diwariskan. Fenomena ini disebut transformasi, yaitu perubahan genotip dan
fenotip yang disebabkan oleh asimilasi DNA eksternal.

Percobaan Griffith dilanjutkan oleh Oswald Avery, Colin MacLeod dan McCarty,
14 tahun kemudian. Bersama-sama teman-temannya dia menggunakan kultur bakteri
tipe S yang telah mati karena pemanasan. Mereka memecah sel bakteri dengan
detergen dan menggunakan sentrifus memisahkan komponen sel (ekstrak sel) dengan
penyusun sel lainnya. Ekstrak sel bakteri tersebut kemudian diinkubasi bersama kultur
bakteri R yang hidup, kemudian ditumbuhkan pada media kultur di petridish. Adanya
pertumbuhan bakteri S pada media kultur menunjukkan bahwa ekstrak mengandung
prinsip transformasi, yaitu materi genetik dari bakteri S mengubah bakteri R menjadi
bakteri S. Avery dkk menduga bahwa satu diantara komponen makromolekul yang
terdapat di dalam ekstrak-- polisakarida, protein, RNA, dan DNA adalah penyebab
transformasi.

Untuk menentukan penyebab transformasi, komponen penyusun sel dirusak satu


per satu dengan menggunakan enzim yang spesifik untuk substansi tersebut. Contoh :
untuk merusak protein menggunakan enzim protease, untuk merusak RNA
menggunakan enzim ribonuklease. Hasil percobaan Avery dkk membuktikan bahwa
degradasi komponen komponen penyusun sel tidak menghalangi berlangsungnya
prinsip transformasi, kecuali ketika molekul DNA dirusak dengan menggunakan
enzim deoksiribonuklease.

Bukti lain bahwa DNA merupakan materi genetik dapat dipelajari dari
bakteriofag atau faga, yaitu virus yang menginfeksi bakteri. Komponen virus terdiri
dari DNA (atau RNA pada virus tertentu) dan protein yang menyelubunginya. Untuk
memperbanyak diri, virus harus menginfeksi sel dan mengambil alih perangkat
metabolisme sel tersebut. Bakteriofag artinya pemakan bakteri. Materi genetik dari
bakteriofag yang dikenal sebagai T2 itu adalah DNA. Alfred Hershey dan Martha
Chase menyebutkan T2 merupakan salah satu dari faga yang menginfeksi bakteri
Escherichia coli (E. coli) yang hidup di usus mamalia. Seperti virus lainnya T2, terdiri
dari DNA dan protein. Melalui E.coli, T2 bisa memperbanyak diri, sehingga
disebutkan bahwa E.coli sebagai pabrik penghasil T2 yang dilepas ketika sel itu pecah.
T2 dapat memprogram sel inang (E.coli) untuk memproduksi virus, tetapi belum
diketahui bagian mana dari virus tersebut yang berperan program tersebut, protein
atau DNA.

Hershey dan Chase melakukan percobaan untuk membuktikan bagian mana dari
dua komponen penyusun T2 yang masuk ke dalam sel bakteri. Dalam percobaan ini
mereka menggunakan isotop radio aktif yang berbeda untuk menandai DNA dan
protein. Pertama kali, T2 ditumbuhkan dengan E.coli dalam sulfur radio aktif (35S).
Karena protein mengandung sulfur, atom-atom radio aktif ini hanya masuk ke dalam
protein faga tersebut. Dengan cara yang serupa, kultur T2 yang berbeda ditumbuhkan
dalam fosfor radio aktif (32P).

Karena DNA mengandung fosfor, bukan protein, maka fosfor radio aktif akan
melekat pada DNA. Kedua macam kultur mengandung T2 yang sudah berlabel radio
aktif tersebut kemudian dibiakkan secara terpisah bersama kultur E. Coli yang non
radio aktif. Setelah terjadi infeksi, kultur diblender untuk melepaskan bagian faga
yang terdapat di luar sel bakteri. Hasil blender kemudian diputar dengan sentrifus,
sehingga ada bagian sel yang membentuk pelet di dasar tabung sentrifus. Bagian
lainnya yang lebih ringan berada di dalam cairan (supernatan).

Dari hasil pengamatan radioaktivitas di dalam pelet dan supernatan, dapat


dibuktikan bahwa bakteri yang terinfeksi faga T2 yang berlabel radioaktif pada
proteinnya, sebagian radioaktifnya ditemukan di dalam supernatan yang mengandung
partikel-partikel virus. Hasil ini membuktikan bahwa protein faga tidak memasuki sel
inang. Pada bakteri yang terinfeksi faga T2 yang DNA-nya ditandai dengan fosfor
radioaktif, hasil peletnya yang merupakan materi bakteri, sebagian besar mengandung
unsur radioaktif tersebut. Ketika bakteri tersebut dikembalikan ke dalam kultur,
infeksi terus berjalan, dan melepaskan faga-faga yang mengandung fosfor radioaktif.

Hershey dan Chase menyimpulkan bahwa DNA virus masuk ke dalam sel inang,
sementara sebagian besar protein tetap berada di luar. Masuknya molekul DNA ini
menyebabkan sel-sel memproduksi DNA dan protein virus baru. Peristiwa ini
membuktikan bahwa asam nukleat merupakan materi herediter, bukan protein.

Pada umumnya organisme memiliki DNA sebagai materi genetiknya, tetapi


sebagian virus yang menginfeksi bakteri, hewan maupun tumbuhan bukan DNA
melainkan RNA yang merupakan pembawa informasi genetik. TMV (Tobacco
Mosaic Virus) adalah virus penyebab penyakit pada tanaman tembakau yang memiliki
RNA, bukan DNA, sebagai materi genetiknya. Komponen lain yang menyusun TMV
adalah protein yang bersama RNA membentuk konfigurasi spiral (helikal).

Pada tahun 1956, A Gierer dan G. Schramm melakukan percobaan menginokulasi


RNA murni (tanpa protein) dari TMV pada tanaman tembakau, penyebab penyakit
pada daun yang sangat spesifik disebabkan oleh virus tersebut. Percobaan ini
kemudian dilanjutkan oleh H. Fraenkel-Conrat dan B. Singer pada tahun 1957.
Mereka memisahkan RNA dan protein dari strain TMV yang berbeda. RNA dan
protein tersebut kemudian di rekonstruksi dengan pasangan yang RNA dan protein
dari strain yang berlainan. Kedua hasil hibrida virus ini kemudian diinfeksikan pada
daun tanaman tembakau. Isolasi virus dari daun yang terinfeksi menunjukkan bahwa
gejala penyakit yang disebabkan hibrida virus tersebut sangat spesifik dengan RNA
dari strain TMVnya, bukan proteinnya. Dari percobaan ini dapat ditarik kesimpulan
bahwa pada TMV, RNA adalah materi genetik.

3. Perbedaan dan persamaan material genetik yang terkandung dalam virus, bakteri
prokariot, sel tumbuhan, dan sel hewan :

a. Bakteri adalah organisme hidup dengan hanya satu sel dan termasuk asam
ribonukleat (RNA) dan asam deoksiribonukleat (DNA) yang didefinisikan
sebagai kode genetik, mengambang bebas di sitoplasma.

b. Materi gentik virus tertutup di dalam selubung protein.

c. Virus hanya mempunyai material genetik berupa DNA atau RNA, tidak pernah
mempunyai keduanya, virus juga hanya mempunyai selubung material genetik
yang disebut selubung pertama yaitu kapsid, beberapa mempunyai selubung
kedua atau envelope dan beberapa mempunyai selubung ketiga yaitu polyhedra.
Selubung virus tersebut terdiri atas protein yang berguna untuk mengenali sel
inang dan sebagai pelindung material genetik virus dari kondisi lingkungan yang
tidak menguntungkan serta dari sistem pertahanan inang (fagositosis).

d. RNA terdapat di dalam ribosom yang berfungsi sebagai tempat sintesis protein.

e. Replikasi merupakan proses pelipatgandaan DNA. Proses replikasi ini diperlukan


ketika sel akan membelah diri. Pada setiap sel, kecuali sel gamet, pembelahan diri
harus disertai dengan replikasi DNA supaya semua sel turunan memiliki
informasi genetik yang sama. Pada dasarnya, proses replikasi memanfaatkan
fakta bahwa DNA terdiri dari dua rantai dan rantai yang satu merupakan
"konjugat" dari rantai pasangannya. Dengan kata lain, dengan mengetahui
susunan satu rantai, maka susunan rantai pasangan dapat dengan mudah dibentuk.

f. Kromatin mengandung materi genetik berupa DNA serta protein.

g. Nukleus mengatur sintesis protein dalam sitoplasma dengan mengirimkan pesan


atau materi genetik dalam bentuk ribonucleic acid (RNA). RNA ini disebut
messengerRNA (mRNA). Pembentukan mRNA terjadi di nukleus berdasarkan
instruksi yang diberikan DNA. Setelah itu, mRNA membawa pesan genetik ke
sitoplasma melalui pori membran inti untuk diterjemahkan di ribosom menjadi
protein.

h. Eukariotik memiliki kompartemen sitoplasma yang dikelilingi membran yang


jelas, nukleus berisikan DNA (pada sel hewan dan sel tumbuhan).

i. Inti sel adalah pusat kontrol aktivitas sel dan juga tempat mengelola gen-gen. Di
dalam sel terdapat DNA dan kromosom. Inti sel terdapat pada sel hewan dan sel
tumbuhan.

j. Pada sel hewan dan sel tumbuhan mempunyai dua jenis asam nukleat yaitu DNA
dan RNA.

k. Pada sel bakteri prokariotik tidak memiliki membran nukleus yang jelas untuk
melindungi DNA.