You are on page 1of 2

Meskipun angka kejadian tidak dibedakan menurut jenis kelamin, kami mengamati angka kejadian sedikit

lebih tinggi pada pasien usia 1-10 tahun dan pada pasien usia 80 tahun atau lebih, yang juga dilaporkan
pada penelitian di Korea (Yang et al., 2016). Kejadian yang lebih tinggi pada epilepsy dan diikuti
penggunaan obat antiepilepsi yang baru pada anak dan pada pasien yang lebih tua dapat menjelaskan
sebagian penelitian ini. (Annegers et al., 1995; The Joint Epilepsy Council of the UK and Ireland, 2011).
Selain itu, penggunaan antibiotic pertama kali atau beberapa antivirus lebih sering pada awl kehidupan,
sedangkan polifarmasi dapat meningkatkan kerentanan terhadap terjadinya SJS/TEN pada orang tua
(Mannesse et al., 2000). Angka kejadian pada anak dibawah satu tahun telah diinterpretasikan dengan
hati-hati, karena pada sebagian orang telah diperkirakan dari pasien yang berusia 1 tahun

Serupa dengan penelitian sebelumnya, kami tidak mengamati hubungan antara SJS/TEN dengan
konsumsi alkohol, status merokok, dan massa index tubuh. Kami mengamati peningkatan ORs untuk
SJS/TEN pada pasien yang telah memiliki epilepsy dan gout yang mendapatkan pengobatan baru
menggunakan allopurinol atau antiepilepsi (carbamazepine, phenobarbital, phenytoin, lamotrigine,
valproate), tapi tidak dengan tidak adanya pengobatan obat baru tersebut. Hasil ini tidak bertentengan
dengan temuan yang lebih dulu (Roujeau et al., 1995; Mockenhaupt et al., 2008) dan menunjukkan sebuah
dokumentasi yang agak lengkap dengan resep obat diantara pasien dengan epilepsi dan gout dalam CPRD.
Pengamatan kecil peningkatan risiko SJS/TEN pada pasien dengan catatan diagnosis depresi atau
gangguan afektif tidak ditunjukkan pada bagian pasien yang baru-baru ini memulai pengobatan SSRI.
Sertraline sebelumnya dihubungkan dengan SJS/TEN (Mockenhaupt et al., 2008), tetapi itu digunakan
oleh satu dari empat pasien yang baru-baru ini terpapar oleh SSRIs 84 hari atau lebih sedikit sebelum
tanggal index diantara pasien SJS/TEN dalam studi populasi kami. Sertraline merupakan SSRI urutan
keempat yang paling sering digunakan di UK pada 2003 setelah fluoxetine, citalopram, dan paroxetine (UK
MHRA, 2004), dan penelitian ini mungkin kurang mampu untuk mendeteksi sebuah hubungan potensial
SJS/TEN dengan sertraline. Hubungan yang diamati antara SJS/TEN dan depresi atau gangguan afektif
dengan tidak adanya onset baru pengobatan SSRI menjadi rancu oleh polimorbiditas atau peningkatan
penggunaan obat-obatan tertentu yang sebelumnya tidak terlalu kuat berhubungan dengan SJS/TEN.

Pasien dengan diagnosis pneumonia dalam 120 hari sebelum tanggal index mempunyai
peningkatan risiko terjadi SJS/TEN yang kemungkinan besar menunjukkan paparan terhadap antibiotic
(Mockenhaupt et al., 2008; Roujeau et al., 1995). Semua pasien dengan pneumonia baru-baru ini tercatat
pada pasien rawat jalan yang mendapatkan resep antibiotic atau tercatat pada pasien rawat inap, yang
mendapatkan pengobatan antibiotic intravena. Bagaimanapun, pneumonia dapat dihubungkan dengan
SJS/TEN melalui infeksi virus (Hsu et al., 2016). Selain itu, pada tinjauan sistematis sebelumnya pada 202
pasien SJS/TEN dengan pneumonia menunjukkan bahwa Mycoplasma pneumoniae berhubungan dengan
penyakit mukokutaneus dapat salah diagnosis sebagai SJS/TEN pada beberapa pasien (Canavan et al.,
2015).

Kami mengamati peningkatan risiko 16 kali lipat diantara pasien dengan lupus erythematosus,
merupakan hubungan yang telah dilaporkan berulang kali (Ziemer et al., 2012). Bagaimanapun, lupus
erythematosus dapat bermanifestasi dengan bullous exanthema dan nekrosis epidermal, dan kami tidak
dapat mengesampingkan kesalahan klasifikasi SJS/TEN pada beberapa pasien (Torchia et al., 2012). Semua
pasien SJS/TEN dengan lupus erythematosus adalah wanita, dan 50% dari pasien mendapatkan terapi
awal dengan obat-obatan yang dikenal meningkatkan risiko SJS/TEN dalam 3 bulan sebelum tanggal index
(carbamazepine, antibiotic sulfonamide). Selain itu, semua pasien dengan diagnosis lupus pertama kali
minimal 1 tahun sebelum tanggal index dan sedang mendapatkan terapi prednisolone oral, yang telah
dimulai antara 5 bulan dan 37 tahun sebelum tanggal index. Kortikosteroid sebelumnya telah dianggap
sebagai pemicu potensial SJS/TEN, namun mengingat lamanya pengobatan prednisolone sebelumnya,
kemungkinan besar hal itu bukan penyebab dari SJS/TEN dalam sub kelompok pasien lupus (Mockenhaupt
et al., 2008; Roujeau et al., 1995). Tidak ada hubungan antara penyakit kolagen vascular lainnya dan
SJS/TEN.

Peningkatan risiko SJS/TEN pada pasien CKD juga dilaporkan pada penelitian berbasis di UK (Hsu
et al., 2016). Sebuah review catatan pasien dalam populasi studi kami menunjukkan bahwa 11 dari 17
pasien SJS/TEN dengan CKD juga tercatat resep pertama kali untuk obat-obatan risiko tinggi dalam 3 bulan
sebelum diagnosis SJS/TEN (allopurinol, COX-2 inhibitor, SSRI, penicillin, antibiotic sulfonamide) yang
menunjukkan bahwa CKD adalah wakil untuk polimorbiditas dan polifarmasi dibandingkan dengan factor
risiko independen dari SJS/TEN.

Peningkatan risiko SJS/TEN yang signifikan diantara penderita kanker aktif konsisten dengan hasil
studi berbasis di US dan terutama didorong oleh pasien dengan keganasan hematologis dalam kedua studi
(Hsu et al., 2016). Banyak laporan kasus telah menyarankan agen kemoterapi yang berbeda sebagai
penyebab dari SJS/TEN (Boruah et al., 2011; Doesch et al., 2016; Honda et al., 2015; Ikeda et al., 2013;
Lambertini et al., 2012; Urosevic-Maiwald et al., 2012), namun penyebab yang sebenarnya belum
diketahui. Seperti pasien CKD, pasien dengan kanker biasanya terpapar berbagai macam obat, sering
termasuk pengguan antiepilepsi sebagai penanganan nyeri (Eisenberg et al., 2007) dan allopurinol sebagai
pencegahan sindrom lisis tumor setelah menjalani kemoterapi (Burns et al., 2014). Bagaimanapun,
berbeda dengan pasien CKD, pasien kanker biasanya diterapi di klinik spesialis onkologi dan jarang dengan
dokter umum. Pencatatan elektronik menunjukkan sedikit informasi klinis, kecuali apabila hampir setiap
pasien tercatat sebagai rujukan ke klinik onkologi atau dirawat di rumah sakit.

Meski ada beberapa kelebihan dalam studi observasional berbasis populasi yang besar, beberapa
kekurangan harus diperhatikan. Pertama, meskipun kami telah memvalidasi populasi kasus kami secara
ekstensif dan menyesuaikan insiden rate untuk kesalahan tipe 1, beberapa kesalahan klasifikasi diantara
pasien SJS/TEN lebih mungkin muncul diantara populasi penelitian kami daripada studi sebelumnya
berbasis rumah sakit dengan peniliti yang memiliki akses lebih terhadap pencatatan klinis pasien, seperti
EuroSCAR studi (Mockenhaupt et al., 2008).