You are on page 1of 7

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG PENGGUNAAN

ANTIBIOTIK TANPA RESEP TERHADAP MAHASISWA KESEHATAN

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh:

NURUL SAQINAH

1413206034

JURUSAN S1 FARMASI
STIKES KARYA PUTR BANGSA
TULUNGAGUNG
2017

1
2

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG PENELITIAN


Antibiotika adalah senyawa kimia khas yang dihasilkan oleh organisme
hidup, termasuk turunan senyawa dan struktur analognya yang dibuat secara
sintetik, dan dalam kadar rendah mampu menghambat proses penting dalam
kehidupan satu spesies atau lebih mikroorganisme (Siswandono, 2008). Beberapa Commented [D1]: SATU ATAU LEBIH SPESIES
MIKROORGANISME
faktor dapat meningkatkan penggunaan antibiotika yang tidak rasional, antara lain
pengetahuan dan pengalaman dokter yang benar (Cetinkaya et al., 2010),
ketidakpastian diagnosa, harapan pasien, kurangnya edukasi terhadap pasien dan
profesi tenaga kesehatan, pemasaran di bidang farmasi, penjualan antibiotika
tanpa resep serta alasan ekonomi dan politik (Orton, 2001; Oyetunde, et al.,
2010).
Di era globalisasi ini antibiotika tersebut, dapat menyebar dengan cepat
tanpa resep dokter. Pengetahuan mengenai resistensi antibiotika bukan hanya
tugas pemerintah (Dinas Kesehatan) tetapi juga tenaga medis untuk dapat Commented [D2]: TENAGA MEDIS DAN TENAGA KESEHATAN
(KARENA DEFINISINYA BERBEDA
memberikan pengobatan yang rasional,objek contohnya adalah pasien. Evaluasi
penggunaan obat khususnya antibiotika merupakan salah satu bentuk tanggung
jawab apoteker dalam rangka mempromosikan penggunaan antibiotika yang
rasional (Diaz Granados et al., 2008).
Salah satu strategi penting yang digunakan untuk mengontrol resistensi
antibiotika adalah memberikan edukasi kepada pasien (Finch et al., 2004; Arnold
and Straus, 2005). Mengubah keyakinan pasien terhadap penggunaan antibiotika
seharusnya ditujukan untuk mengontrol penggunaan antibiotika yang tidak
diperlukan (Wutzke et al., 2007).
3

Penggunaan antibiotika dalam pelayanan kesehatan sering kali tidak tepat


sehingga dapat menimbulkan pengobatan kurang efektif, peningkatan risiko
terhadap keamanan pasien, meluasnya resistensi dan tingginya biaya pengobatan.
Kebijakan penggunaan antibiotika ditandai dengan pembatasan penggunaan
antibiotika dan mengutamakan penggunaan antibiotik lini pertama. Pembatasan
penggunaan antibiotika dapat dilakukan dengan menerapkan pedoman
penggunaan antibiotika, penerapan penggunaan antibiotika secara terbatas dan
penerapan kewenangan dalam penggunaan antibiotika tertentu.

Penelitian Hasil % resistensi % resistensi


terdahulu penelitian Escherichia coli Antibiotik
2494 pasien (43%) ampisilin (34%)
Penelitian Anti komunitas
kotrimoksazol (29%)
Microbial
kloramfenikol (25%)
Resistant in
781 pasien (81%) Ampisilin (73%)
Indonesia
rumah sakit
(AMRIN-Study) kotrimoksazol (56%)
2005 kloramfenikol (43%),
siprofloksasin (22%)
(Permenkes,
Gentamisin (18%)
2011).

Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar 2013, 35,2% rumah tangga (RT) di
Indonesia menyimpan obat untuk swamedikasi, dengan proporsi tertinggi di DKI
Jakarta (56,4%) dan terendah di Nusa Tenggara Timur (17,2%). Dari 35,2% RT
yang menyimpan obat, 35,7% menyimpan obat keras dan 27,8% menyimpan
antibiotika. Adanya obat keras dan antibiotika untuk swamedikasi menunjukkan
penggunaan obat yang tidak rasional. Dari 35,7% RT yang menyimpan obat keras,
81,9% rumah tangga menyimpan obat keras yang diperoleh tanpa resep dokter.
Sebanyak 32,1% RT menyimpan obat yang sedang digunakan, 47,0% RT
4

menyimpan obat sisa dan 42,2 % RT yang menyimpan obat untuk persediaan.
Obat sisa dalam hal ini adalah obat sisa resep dokter atau obat sisa dari
penggunaan sebelumnya yang tidak dihabiskan. Seharusnya obat sisa resep secara
umum tidak boleh disimpan karena dapat menyebabkan penggunaan salah
(misused) atau disalah gunakan atau rusak/kadaluarsa. Commented [D3]: ADA DATA MENGENAI PENYIMPANAN
ANTIBIOTIK NDA?
Secara nasional diperoleh data bahwa sumber utama mendapatkan obat
tanpa resep dokter sebanyak 41,1% diperoleh di apotek dan 37,2% di toko
obat/warung. Berdasarkan tempat tinggal, proporsi RT yang memperoleh obat di
apotek lebih tinggi di perkotaan, sebaliknya proporsi RT yang memperoleh obat di
toko obat/warung lebih tinggi di perdesaan. Namun, 23,4% RT memperoleh obat
langsung dari tenaga kesehatan (nakes) dengan proporsi tertinggi di perdesaan
(31,5%) (Riskesdas, 2013). COBA CARI MENGENAI ANTIBIOTIK Fakta di
lapangan dari hasil Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa peran tenaga kesehatan
sangat diperlukan dalam penggunaan obat rasional serta memberikan edukasi
kepada masyarakat agar terbangun pengetahuan, sikap dan perilaku yang benar
dalam penggunaan obat melalui interaksi dengan tenaga kesehatan.
Penelitian yang berjudul A cross-sectional study on knowledge, attitude
and behavior related to antibiotic use and resistance, among medical and non-
medical university students in Jordan yang ditulis oleh (Ghadeer A.R.Y. et
al.2008), dipublikasikan di African Journal of Pharmacy and Pharmacology
dituliskan untuk memastikan bahwa tujuan yang dilakukan peneliti terdahulu
untuk mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak rasional telah terpenuhi. Commented [D4]: MAKSUDNYA BAGAIMANA INI??

Mahasiswa Mahasiswa kesehatan sebagai calon tenaga kesehatan (nakes)


diharapkan punya perilaku positif. Fakta di lapangan calon tenaga kesehatan
(nakes) masih memberikan antibiotik secara langsung kepada pasien memang
mahasiswa bisa memberikan antibiotik?? . Ditinjau dari sudut pandang
kefarmasian, mahasiswa farmasi memiliki pengetahuan pengetahuan tentang
apa?? yang lebih baik dibanding mahasiswa non farmasi. Dalam penelitian ini
ingin melihat mengenai pengetahuan tentang penggunaan antibiotika. Kemudahan
akses informasi obat seperti internet juga bisa mempengaruhi pengetahuan. Ilmu
yang didapat selama perkuliahan adalah bentuk stimulus lingkungan yang
5

diterima mahasiswa. Tiap mahasiswa memiliki kebebasan untuk menentukan


sikap terhadap stimulus tersebut, yang selanjutnya diwujudkan dalam perilakunya.
Berdasar latar belakang diatas peneliti sebagai mahasiswa Fakultas Farmasi ingin
menilai pengetahuan dan sikap penggunaan antibiotik tanpa resep oleh program
kesehatan di kabupaten Tulungagung pada mahasiswa kesehatan. Coba diperluas
lagi mengenai perilaku mahasiswa kesehatan jadi jangan Cuma farmasi karena
temamu mahasiswa kesehatan dan cari data atau penelitian lain mengenai sikap
dan pengetahuan mahasiswa Formatted: Indonesian

Perilaku adalah suatu keadaan jiwa (berpikir, bersikap, bertindak, dan


sebagainya) untuk memberikan suatu respons terhadap situasi di luar dirinya.
Konsep perilaku dikelompokkan menjadi :

(a) (a) pengetahuan sebagai suatu hasil dari proses belajar atau pengalaman, Formatted: Font: (Default) Times New Roman, 12 pt
Formatted: List Paragraph, Numbered + Level: 1 +
(b) (b) sikap sebagai kecenderungan jiwa atau perasaan yang relatif tetap Numbering Style: a, b, c, + Start at: 1 + Alignment: Left +
Aligned at: 0.25" + Indent at: 0.5"
terhadap kategori tertentu dari objek atau situasi, dan tindakan sebagai
perbuatan yang dilakukan terhadap rangsangan dari luar dirinya ( Nur
Alam Abdullah, et al 2010).
Pengetahuan dan sikap terhadap informasi obat merupakan salah satu
perilaku kesehatan. Menurut Green (l980), setiap perilaku kesehatan dapat dilihat
sebagai fungsi pengaruh kolektif dari faktor utamanya antara lain pengetahuan
dan sikap faktor yang lainya yaitu dukungan sosial dan peraturan perundangan

Berdasarkan pengertian tersebut, maka peneliti ingin melakukan penelitian


terhadap Sikap sikap saja apa sikap dan pengetahuan??? Mahasiswa Kesehatan
terhadap Pengetahuan Kesehatan yang dimiliki selama ini.
Salah satu strategi penting yang digunakan untuk mengontrol resistensi
antibiotika adalah memberikan edukasi kepada pasien (Finch et al., 2004; Arnold
and Straus, 2005). Mengubah keyakinan pasien terhadap penggunaan antibiotika
seharusnya ditujukan untuk mengontrol penggunaan antibiotika yang tidak
diperlukan (Wutzke et al., 2007)

Formatted: Outline numbered + Level: 2 + Numbering Style:


1.2 rumusan masalah 1, 2, 3, + Start at: 1 + Alignment: Left + Aligned at: 0" +
Indent at: 0.25"
6

1.3 tujuan penelitian


1.4 Hipotesis
1.5 Manfaat penelitian
1.2 HIPOTESIS tidak usah pake hipotesis saja
1. Adanya perbedaan antara pengetahuan terkait penggunaan antibiotik tanpa
resep pada mahasiswa kesehatan
2. Adanya perbedaan antara sikap terkait penggunaan antibiotik tanpa resep
pada mahasiswa kesehatan
3. Adanya perbedaan antara pengetahuan dan sikap terkait penggunaan
antibiotik tanpa resep pada mahasiswa kesehatan.
1.31.6 PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat disusun beberapa
perumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaiaman korelasi antara pengetahuan dan sikap penggunaan antibiotik
pada mahasiswa kesehatan ? dipisah sikap pengetahuan sendiri sikap sendiri

1.41.7 TUJUAN PENELITIAN


1. Mengetahui korelasi antara pengetahuan dan sikap pengunaan antibiotik pada
mahasiswa kesehatan

1.51.8 MANFAAT PENELITIAN


Penelitian ini memiliki memiliki manfaat sebagai berikut:
1. Umum
Menambahkan Pengetahuan Korelasi antara Pengetahuan Antibiotik terhadap
Sikap Kefarmasian pada mahasiswa kesehatan. Manfaat setelah dilakukan
penelitian secara umum itu apa?? Formatted: Indonesian

2. Khusus
2.1. Insititusi Pendidikan
Pentingnya Kampus Kesehatan memberikan Pengetahuan Penggunaan
Antibiotik terhadap mahasiswanya, agar menumbuhkan sikap yang sesuai
dengan pembelajaran.
7

2.2 Institusi Farmasi


Pengawasan terhadap peredaran obat antibiotik sesuai dengan petunjuk teknis
kesehatan yang telah ditetapkan.
2.3 Pemerintah
Memberlakukan peraturan tentang peredaran obat antibiotik di fasilitas
kesehatan seperti Apotek, Klinik Kesehatan, Rumah Sakit, dsb.