You are on page 1of 5

Nama : Aan Romadon

Delegasi : PMII Cab. Sarolangun

Tanggal : 16 Oktober 2017

Topik : Pandangan PMII terhadap Terorisme dan Radikalisme

Subtopik : Definisi Terorisme Dan Radikalime

Metode : Tatap muka (F2F) dengan presentasi dan diskusi.

Substansi:

Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan


membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat.
Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara
peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target
korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil.

Istilah teroris oleh para ahli kontraterorisme dikatakan merujuk kepada


para pelaku yang tidak tergabung dalam angkatan bersenjata yang
dikenal atau tidak menuruti peraturan angkatan bersenjata tersebut.
Aksi terorisme juga mengandung makna bahwa serang-serangan teroris
yang dilakukan tidak berperikemanusiaan dan tidak memiliki justifikasi,
dan oleh karena itu para pelakunya ("teroris") layak mendapatkan
pembalasan yang kejam.

Akibat makna-makna negatif yang dikandung oleh perkataan "teroris"


dan "terorisme", para teroris umumnya menyebut diri mereka sebagai
separatis, pejuang pembebasan, militan, mujahidin, dan lain-lain.
Tetapi dalam pembenaran dimata terrorism : "Makna sebenarnya
dari jihad, mujahidin adalah jauh dari tindakan terorisme yang
menyerang penduduk sipil padahal tidak terlibat dalam perang". Padahal
Terorisme sendiri sering tampak dengan mengatasnamakan agama.

Radikalisme, sebuah kelompok atau gerakan politik yang kendur dengan


tujuan mencapai kemerdekaan atau pembaruan electoral yang mencakup
mereka yang berusaha mencapai republikanisme, penghapusan gelar,
redistribusi hak milik dan kebebasan pers, dan dihubungkan dengan
perkembangan liberalisme.

Radikalisme dalam artian bahasa berarti paham atau aliran yang


mengingikan perubahan atau pembaharuan social dan politik dengan
cara kekerasan atau drastis. Namun, dalam artian lain, esensi
radikalisme adalah konsep sikap jiwa dalam mengusung perubahan.
Sementara itu Radikalisme Menurut Wikipedia adalah suatu paham yang
dibuat-buat oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan atau
pembaharuan sosial dan politik secara drastis dengan menggunakan
cara-cara kekerasan.

Sikap Saya sebagai kader PMII khusus Cab. Sarolangun Terhadap Paham
Radikalisme,Ekstrim Dan Terorisme.,
Cara kita menghadapi aliran-aliran ini yaitu
Perlu diadakan pembinaan yang baik melalui pendidikan untuk
mengantisipasi masuknya pahan radikalisme. Banyak penduduk
Indonesia yang berusia muda dan bila tidak dilakukkan pembinaan yang
positf bisa membahayakan. Faktor yang bisa menimbulkan radikalisme
yaitu emosi keagamaan atau solidaritas keagamaan dan berbahaya bila
melekat pada orang yang pengetahuan agamanya minim. Radikalisme
bisa melibatkan semua agama, namun selama ini yang dikenal sebagai
radikal adalah umat Islam. Waspadai setiap ada ajaran dan ajakan yang
mencurigakan seperti umbroh gratis, berjihad, janji-janji kehidupaan
yang lebih baik, ajakan yang mengharuskan menggunakan cadar. Cara
merekrut anggota mendekati kelompok atau organisasi yang se-aliran
dan ekonomi pas-pasan, mencari orang dikampung yang militan dan
mengisahkan perjuangan dan mengiming imingi jihad. Untuk itu,
mengharapkan adanya kebersamaan semua elemen masyarakat
khususnya para tokoh agama untuk bersatu
Apabila ada organisasi mengganggu ketertiban umum, memecah
belah umat dan NKRI, bertentangan dengan ideologi Pancasila, maka
Pemerintah harus campur tangan. Pemerintah untuk tidak sekadar
berwacana dalam menangkal perkembangan ISIS di Indonesia, namun
harus berupa tindakan reaktif cepat dan tepat sasaran. Pemerintah agar
menegakan undang-undang terorisme secara maksimal sehingga
terorisme tidak berkembang di Indonesia. Ada 3 komponen yang
berperan penting terhadap situasi suatu negara, yaitu agama, ekonomi
dan politik. ISIS kegiatannya dapat dikategorikan sebagai terorisme
dimana terdapat suatu ancaman, kekerasan dan mengambil hak asasi
manusia. Untuk itu, bangsa Indonesia harus bekerjasama menentang
dan melawan untuk meminimalisir dampak dari ISIS serta mendorong
pemerintah untuk mencoba mengurai potret kemunculan ISIS dengan
mencoba membatasi potensi-potensi perkembangan ISIS dari luar, yakni
dengan cara membentengi rumah tangga dari paham-paham yang tidak
dibenarkan oleh agama. Salah satunya bentengi rumah tangga dengan
pemahaman sesuai ajaran Islam melalui pengajian, melalui pendekatan
anak dengan orangtua, dan melalui diskusi-diskusi.
Mahasiswa sebagai agen perubahan memiliki peran penting dalam
mencegah radikalisme. Yang tidak kurang kalah penting adalah
revitalisasi lembaga, badan, dan organisasi kemahasiswaan intra
maupun ekstra kampus. Organisasi-organisasi yang ada di kampus
memegang peranan penting untuk mencegah berkembangnya paham
radikalisme ini melalui pemahaman keagamaan dan kebangsaan yang
komprehensif dan kaya makna. Disini peran mahasiswa dalam mencegah
paham radikal berkembang.

Menetralisir Paham RADIKAL menurut Saya sebagai kader PMII Kita


lakukan kaderisasi di kampus secara lebih masif dengan membumikan
Islam yang damai di kampus dalam menangkal radikalisme dan terorisme
atas nama agama. Dan Kita harus memperlihatkan sisi lain dari Islam
yang ramah dan damai kepada dunia internasional. Islam yang ramah
dengan nilai Rahmatan Lil Alamin dapat direalisasikan di tengah
masyarakat dengan menjaga tali persaudaraan dan tidak mudah tersulut
provokasi dari pihak yang ingin membuat negara terpecah belah,. Aan
Romadon

Indonesia dari akar sejarah sudah ada prinsip hidup berdampingan


antar suku, agama, etnis, dan antar golongan. Organisasi Islam radikal
ini sangat berlawanan dan kita menentang itu dengan mengcounter
menggunakan pemahaman yang benar. Banyak kajian Islam yang harus
kita kembangkan terutama di lingkungan masjid kampus. Jika seluruh
anggota diajak untuk mengkampanyekan islam yang ramah itu bisa
melawan gerakan khilafah yang disebabkan pemahaman Islam yang
belum cukup atau dangkal.

Untuk itu, ia melihat seluruh kader mahasiswa harus bisa menggerakkan


ekonomi umat sebagai salah satu upaya mencegah berkembangnya
pemahaman radikalisme. Khususnya Kreatifitas kader di daerah bisa
ditingkatkan. Mendorong dan memperbanyak tenaga kerja. Kita juga
bekerja sama dengan pemerintah untuk mendeteksi organisasi
radikalisme yang ada.

Refleksi:

Secara substantif, dapat disampaikan pandangan pribadi saya bahwa


pengertian Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang
bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok
masyarakat. Berbeda denganperang, aksi terorisme tidak tunduk pada
tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan
target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakanwarga sipil.
Radikalisme ; paham atau aliran yang mengingikan perubahan atau
pembaharuan social dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.
Namun, dalam artian lain, esensi radikalisme adalah konsep sikap jiwa
dalam mengusung perubahan.

Jika diperhatikan lebih cermat, saya berpendapat bahwa motif semua ini
adalah kurangnya pendidikan moral/agama, terlebih lagi dengan
kebutuhan yang semakin meningkat ditambah krisis nya lowongan
pekerjaan. Atau; bias jadi dunia ini butuh keseimbangan dan terjadilah
konspirasi yang pada akhirnya menguntungkan negara2 super power
seperti amerika imbasnya ke Negara-negara kecil terkhusus masyarakat
sipil dan semua gejala yg saya sebutkan dimanfaatkan dan dikemas
begitu rapi. Hanya menurut saya.

Referensi:

1. Google (Link ?Rahasia)


2. Pandangan saya sebagai kader PMII

Diskusi:

(MARI KITA DISKUSIKAN)