You are on page 1of 13

CORPORATE GOVERNANCE

SAP 8
KOMITE AUDIT DAN KOMITE LAINNYA: PERAN, TANGGUNG JAWAB,
KOMPOSISI, KEEFEKTIFAN

OLEH :
KELOMPOK 7

NI PUTU DIAH LESTARI DEWI 1415381182


NI WAYAN AYU PUTRI 1415351186
NI MADE DEWI SUKMAWATI 1415351189

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2017

PEMBAHASAN

1. KOMITE AUDIT DAN KOMITE LAINNYA


1.1 Komite Audit
Komite audit di Indonesia masih merupakan hal yang relatif baru. Perkembangan
komite audit di negara kita, sangat terlambat dibandingkan dengan negara lain. Hal tersebut

0
antara lain disebabkan Pemerintah baru saja menetapkan kebijakan tentang pemberlakuan
komite audit pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tertentu pada tahun 1999. Selain itu
anjuran dari Bapepam kepada perusahaan yang telah go publik agar memiliki komite audit
baru ditetapkan pada tahun 2000. Mengingat pentingnya keberadaan Komite Audit dalam
meningkatkan kinerja perusahaan, terutama dari aspek pengendalian, maka Komite Audit
perlu mendapatkan perhatian dari manajemen dan Dewan Komisaris serta pihak-pihak terkait
yang bertindak sebagai regulator seperti Menteri keuangan, Menteri BUMN, Bapepam, Bursa
Efek Jakarta & Bursa Efek Surabaya.

1.1.1 Peraturan Kementerian Keuangan Republik Indonesia Badan Pengawas Pasar


Modal Dan Lembaga Keuangan Nomor IX.I.5 tentang Pembentukan Dan
Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit
1. Ketentuan Umum
a. Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:
1) Komite Audit adalah komite yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab
kepada Dewan Komisaris dalam membantu melaksanakan tugas dan fungsi
Dewan Komisaris.
2) Komisaris Independen adalah anggota Dewan Komisaris yang berasal dari
luar Emiten atau Perusahaan Publik dan memenuhi persyaratan
sebagaimana dimaksud dalam angka 2 huruf c.
b. Emiten atau Perusahaan Publik wajib memiliki Komite Audit.
c. Komite Audit bertindak secara independen dalam melaksanakan tugas dan
tanggung jawabnya.
d. Anggota Komite Audit diangkat dan diberhentikan oleh Dewan Komisaris.
e. Emiten atau Perusahaan Publik wajib memiliki piagam Komite Audit (audit
committee charter).
f. Piagam Komite Audit (audit committee charter) paling kurang memuat:
1) tugas dan tanggung jawab serta wewenang;
2) komposisi, struktur, dan persyaratan keanggotaan;
3) tata cara dan prosedur kerja;
4) kebijakan penyelenggaraan rapat;
5) sistem pelaporan kegiatan;
6) ketentuan mengenai penanganan pengaduan atau pelaporan
7) sehubungan dugaan pelanggaran terkait pelaporan keuangan; dan
8) masa tugas Komite Audit.
g. Piagam Komite Audit (audit committee charter) sebagaimana dimaksud dalam
huruf f wajib dimuat dalam laman (website) Emiten atau Perusahaan Publik.
2. Struktur dan Keanggotaan Komite Audit
a. Komite Audit paling kurang terdiri dari 3 (tiga) orang anggota yang berasal
dari Komisaris Independen dan Pihak dari luar Emiten atau Perusahaan Publik.
b. Komite Audit diketuai oleh Komisaris Independen.

1
c. Komisaris Independen wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1) bukan merupakan orang yang bekerja atau mempunyai wewenang dan
tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin, mengendalikan, atau
mengawasi kegiatan Emiten atau Perusahaan Publik tersebut dalam waktu
6 (enam) bulan terakhir;
2) tidak mempunyai saham baik langsung maupun tidak langsung pada
Emiten atau Perusahaan Publik tersebut;
3) tidak mempunyai hubungan Afiliasi dengan Emiten atau Perusahaan
Publik, anggota Dewan Komisaris, anggota Direksi, atau Pemegang
Saham Utama Emiten atau Perusahaan Publik tersebut; dan
4) tidak mempunyai hubungan usaha baik langsung maupun tidak langsung
yang berkaitan dengan kegiatan usaha Emiten atau Perusahaan Publik
tersebut.
3. Persyaratan Keanggotaan Komite Audit
a. wajib memiliki integritas yang tinggi, kemampuan, pengetahuan, pengalaman
sesuai dengan bidang pekerjaannya, serta mampu berkomunikasi dengan
baik;
b. wajib memahami laporan keuangan, bisnis perusahaan khususnya yang terkait
dengan layanan jasa atau kegiatan usaha Emiten atau Perusahaan Publik,
proses audit, manajemen risiko, dan peraturan perundang-undangan di bidang
Pasar Modal serta peraturan perundang-undangan terkait lainnya;
c. wajib mematuhi kode etik Komite Audit yang ditetapkan oleh Emiten atau
Perusahaan Publik;
d. bersedia meningkatkan kompetensi secara terus menerus melalui pendidikan
dan pelatihan;
e. wajib memiliki paling kurang satu anggota yang berlatar belakang pendidikan
dan keahlian di bidang akuntansi dan/atau keuangan;
f. bukan merupakan orang dalam Kantor Akuntan Publik, Kantor Konsultan
Hukum, Kantor Jasa Penilai Publik atau pihak lain yang memberi jasa
assurance, jasa non-assurance, jasa penilai dan/atau jasa konsultasi lain kepada
Emiten atau Perusahaan Publik yang bersangkutan dalam waktu 6 (enam)
bulan terakhir;
g. bukan merupakan orang yang bekerja atau mempunyai wewenang dan
tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin, mengendalikan, atau
mengawasi kegiatan Emiten atau Perusahaan Publik tersebut dalam waktu 6
(enam) bulan terakhir kecuali Komisaris Independen;
h. tidak mempunyai saham langsung maupun tidak langsung pada Emiten atau
Perusahaan Publik;

2
i. Dalam hal anggota Komite Audit memperoleh saham Emiten atau Perusahaan
Publik baik langsung maupun tidak langsung akibat suatu peristiwa hukum,
maka saham tersebut wajib dialihkan kepada pihak lain dalam jangka waktu
paling lama 6 (enam) bulan setelah diperolehnya saham tersebut.
j. tidak mempunyai hubungan Afiliasi dengan anggota Dewan Komisaris,
anggota Direksi, atau Pemegang Saham Utama Emiten atau Perusahaan Publik
tersebut; dan
k. tidak mempunyai hubungan usaha baik langsung maupun tidak langsung yang
berkaitan dengan kegiatan usaha Emiten atau Perusahaan Publik tersebut.
4. Masa Tugas
Masa tugas anggota Komite Audit tidak boleh lebih lama dari masa jabatan
Dewan Komisaris sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan dapat dipilih
kembali hanya untuk satu periode berikutnya.
5. Tugas dan Tanggung Jawab Komite Audit
a. melakukan penelaahan atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan Emiten
atau Perusahaan Publik kepada publik dan/atau pihak otoritas antara lain
laporan keuangan, proyeksi, dan laporan lainnya terkait dengan informasi
keuangan Emiten atau Perusahaan Publik;
b. melakukan penelaahan atas ketaatan terhadap peraturan perundangundangan
yang berhubungan dengan kegiatan Emiten atau Perusahaan Publik;
c. memberikan pendapat independen dalam hal terjadi perbedaan pendapat antara
manajemen dan Akuntan atas jasa yang diberikannya;
d. memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris mengenai penunjukan
Akuntan yang didasarkan pada independensi, ruang lingkup penugasan, dan
fee;
e. melakukan penelaahan atas pelaksanaan pemeriksaan oleh auditor internal dan
mengawasi pelaksanaan tindak lanjut oleh Direksi atas temuan auditor
internal;
f. melakukan penelaahan terhadap aktivitas pelaksanaan manajemen risiko yang
dilakukan oleh Direksi, jika Emiten atau Perusahaan Publik tidak memiliki
fungsi pemantau risiko di bawah Dewan Komisaris;
g. menelaah pengaduan yang berkaitan dengan proses akuntansi dan pelaporan
keuangan Emiten atau Perusahaan Publik;
h. menelaah dan memberikan saran kepada Dewan Komisaris terkait dengan
adanya potensi benturan kepentingan Emiten atau Perusahaan Publik; dan
i. menjaga kerahasiaan dokumen, data dan informasi Emiten atau Perusahaan
Publik.
6. Wewenang Komite Audit

3
a. Mengakses dokumen, data, dan informasi Emiten atau Perusahaan Publik
tentang karyawan, dana, aset, dan sumber daya perusahaan yang diperlukan;
b. Berkomunikasi langsung dengan karyawan, termasuk Direksi dan pihak yang
menjalankan fungsi audit internal, manajemen risiko, dan Akuntan terkait
tugas dan tanggung jawab Komite Audit;
c. Melibatkan pihak independen di luar anggota Komite Audit yang diperlukan
untuk membantu pelaksanaan tugasnya (jika diperlukan); dan
d. Melakukan kewenangan lain yang diberikan oleh Dewan Komisaris.
7. Rapat Komite Audit
a. Komite Audit mengadakan rapat secara berkala paling kurang satu kali dalam
3 (tiga) bulan.
b. Rapat Komite Audit hanya dapat dilaksanakan apabila dihadiri oleh lebih dari
1/2 (satu per dua) jumlah anggota.
c. Keputusan rapat Komite Audit diambil berdasarkan musyawarah
untukmufakat.
d. Setiap rapat Komite Audit dituangkan dalam risalah rapat, termasuk apabila
terdapat perbedaan pendapat (dissenting opinions), yang ditandatangani oleh
seluruh anggota Komite Audit yang hadir dan disampaikan kepada Dewan
Komisaris.
8. Pelaporan
a. Komite Audit wajib membuat laporan kepada Dewan Komisaris atas setiap
penugasan yang diberikan.
b. Komite Audit wajib membuat laporan tahunan pelaksanaan kegiatan Komite
Audit yang diungkapkan dalam Laporan Tahunan Emiten atau Perusahaan
Publik.
c. Emiten atau Perusahaan Publik wajib menyampaikan kepada Bapepam dan LK
informasi mengenai pengangkatan dan pemberhentian Komite Audit dalam
jangka waktu paling lama 2 (dua) hari kerja setelah pengangkatan atau
pemberhentian.
d. Informasi mengenai pengangkatan dan pemberhentian sebagaimana dimaksud
dalam huruf c wajib dimuat dalam laman (website) bursa dan/atau laman
(website) Emiten atau Perusahaan Publik.
9. Dengan tidak mengurangi ketentuan pidana di bidang Pasar Modal, Bapepam
dan LK berwenang mengenakan sanksi terhadap setiap pelanggaran
ketentuan peraturan ini, termasuk pihak-pihak yang menyebabkan
terjadinya pelanggaran tersebut. Komite audit menurut Pedoman Good
Corporate Governance antara lain bertugas untuk:
a. Mendorong terbentuknya struktur pengawasan internal yang memadai;
b. Meningkatkan kualitas keterbukaan dan pelaporan keuangan;

4
c. Mengkaji ruang lingkup dan ketepatan external audit, ketepatan biaya external
audit serta kemandirian dan obyektivitas external auditor;
d. Mempersiapkan surat (yang ditandatangani oleh ketua Komite Audit) yang
menguraikan tugas dan tanggung jawab Komite Audit selama tahun buku yang
sedang diperiksa oleh external auditor, surat tersebut harus disertakan dalam
laporan tahunan yang disampingkan kepada pemegang saham

1.2 Komite Lainnya


1.2.1 Komite Lainnya Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG)
1. Komite Nominasi dan Remunerasi
a. Komite Nominasi dan Remunerasi bertugas membantu Dewan Komisaris
dalam menetapkan kriteria pemilihan calon anggota Dewan Komisaris dan
Direksi serta sistem remunerasinya;
b. Komite Nominasi dan Remunerasi bertugas membantu Dewan Komisaris
dalam mempersiapkan calon anggota Dewan Komisaris dan Direksi dan
mengusulkan besaran remunerasinya. Dewan Komisaris dapat mengajukan
calon tersebut dan remunerasinya untuk memperoleh keputusan RUPS dengan
cara sesuai ketentuan Anggaran Dasar. Bagi perusahaan yang sahamnya
tercatat di bursa efek, perusahaan negara, perusahaan daerah, perusahaan yang
menghimpun dan mengelola dana masyarakat, perusahaan yang produk atau
jasanya digunakan oleh masyarakat luas, serta perusahaan yang mempunyai
dampak luas terhadap kelestarian lingkungan;
c. Komite Nominasi dan Remunerasi diketuai oleh Komisaris Independen dan
anggotanya dapat terdiri dari Komisaris dan atau pelaku profesi dari luar
perusahaan.
d. Keberadaan Komite Nominasi dan Remunerasi serta tata kerjanya dilaporkan
dalam RUPS.
2. Komite Kebijakan Risiko
a. Komite Kebijakan Risiko bertugas membantu Dewan Komisaris dalam
mengkaji sistem manajemen risiko yang disusun oleh Direksi serta menilai
toleransi risiko yang dapat diambil oleh perusahaan;
b. Anggota Komite Kebijakan Risiko terdiri dari anggota Dewan Komisaris,
namun bilamana perlu dapat juga menunjuk pelaku profesi dari luar
perusahaan.
3. Komite Kebijakan Corporate Governance
a. Komite Kebijakan Corporate Governance bertugas membantu Dewan
Komisaris dalam mengkaji kebijakan GCG secara menyeluruh yang disusun
oleh Direksi serta menilai konsistensi penerapannya, termasuk yang bertalian

5
dengan etika bisnis dan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social
responsibility);
b. Anggota Komite Kebijakan Corporate Governance terdiri dari anggota Dewan
Komisaris, namun bilamana perlu dapat juga menunjuk pelaku profesi dari
luar perusahaan;
c. Bila dipandang perlu, Komite Kebijakan Corporate Governance dapat
digabung dengan Komite Nominasi dan Remunerasi

1.2.2 Komite-Komite Lainnya Di BUMN


Berdasarkan pasal 70 UU No. 17 tahun 2003 tentang BUMN antara lain disebutkan
bahwa komisaris dan dewan pengawas BUMN wajib membentuk komite audit yang bekerja
secara kolektif dan berfungsi membantu komisaris dan dewan pengawas dalam melaksanakan
tugasnya. Selain komite audit, komisaris atau dewan pengawas dapat membentuk komite lain
yang ditetapkan oleh menteri. Sesuai penjelasan pasal 70 UU BUMN, komite lain yang
dimaksud disini, yaitu komite remunerasi dan komite nominasi.

1.2.3 Komite-Komite Lainnya di Perbankan


Bank Indonesia melalui surat edaran kepada semua bank umum konvensional di
Indonesia No 15/15/DPNP tangal 29 april 2013 mengenai pelaksanaan Good Corporate
Governance bagi Bank Umum, pada bagian IV komite, menyebutkan bahwa dewan
komesaris wajib membentuk susunan organisasi setidaknya komite audit, komite pemantau
risiko, serta komite remunerasi dan nominasi, dalam rangka mendukung efektivitas tugas dan
tanggung jawab dewan komesaris.

1.2.4 Komite Komite Lainnya di Perusahaan Publik


Berdasarkan peraturan OJK No.34/POJK.04/2014 tanggal 8 Desember 2014 tentang
Komite Nominasi dan remunerasi emiten atau perusahaan public, antara lain menyebutkan :
Pasal 1 ayat 1, yang dimaksud dengan komite nominasi dan remunerasi adalah
komite yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada dewan komesaris dalam
membantu melaksanakan fungsi dan tugas dewan komesaris dalam membantu
melaksanakan fungsi dan tugas dewan komesaris terkait nominasi dan remunerasi
terhadap anggota dewan komesaris.
Pasal 2, emiten atau perusahaan public wajib memiliki fungsi nominasi dan
remunerasi yang wajib dilaksanakan oleh dewan komesaris. Komite nominasi dadan
remunerasi dapat dibentuk secara terpisah.
Mengenai keanggotaan diatur dalam pasal 3,yaitu komite nominasi dan remunerasi
paling kurang terdiri dari 3 orang anggota dengan ketentuan :

6
a) Satu orang ketua merangkap anggota yang merupakan komesaris
independen,dan;
b) Anggota lainnya yang dapat berasal dari :
1) Anggota dewan komesaris
2) Pihak yang berasal dari luar emiten atau perusahan public yang
bersangkutan ;atau
3) Pihak yang menduduki jabatan manajerial di bawah direksi
yang membidangi sumber daya manusia.
Pasal 8, komite nominasi dan remunerasi mempunyai tugas dan tanggung jawab
paling kurang :
a) Terkait dengan fungsi nominasi :
1) Memberikan rekomendasi kepada dewan komesaris mengenai :
Komposisi jabatan anggota direksi dan atau anggota dewan
komesaris
Kebijakan dan kreteria yang dibutuhkan dalam proses
nominasi; dan
Kebijakan evaluasi kinerja bagi anggota direksi dan atau
anggota dewan komesaris
2) Membantu dewan komesaris melakuakn penilaian kinerja dewan
direksi dan atau anggota dewan komesaris berdasarkan tolok ukur
yang telah disusun sebagai bahan evaluasi.
3) Memberikan rekomendasi kepada dewan komesaris mengenai
program pembangunan kemampuan anggota direksi dan atau
anggota dewan komesaris; dan
4) Meberikan usulan calon yang memenuhi syarat sebagai anggota
direksi dan atau anggota dewan komesaris kepada dewan komesaris
untuk disampaikan kepada RUPS.
b) Terkait dengan fungsi remunerasi :
1) Memberikan rekomendasi kepada dewan komesaris mengenai :
-Struktur remunerasi
-Kebijakan atas remunerasi; dan
-Besaran atas remunerasi
2) Membantu dewan komesaris melakukanpenilaian kinerja dengan
kesesuaian remunerasi yang diterima masing masing anggota
direksi dan atau anggota dewan komesaris.

2 PERANAN KOMITE AUDIT


Menurut FCGI, peran komite audit adalah untuk mengawasi dan memberi masukan
kepada dewan komisaris dalam hal terciptanya mekanisme pengawasan. Komite audit
memberikan pendapat kepada dewan komisaris terhadap laporan atau hal-hal yang

7
disampaikan oleh direksi kepada dewan komisaris, mengidentifikasi hal-hal yang
memerlukan perhatian komisaris, dan melaksanakan tugas-tugas lain yang berkaitan dengan
tugas dewan komisaris.

3 TANGGUNG JAWAB KOMITE AUDIT


Jenis tugas dan tanggung jawab Komite Audit yang diangkat sebuah perusahaan yang
satu tidak pernah sama persis dengan perusahaan yang lain. Hal itu disebabkan karena adanya
perbedaan skala, jenis usaha, kebutuhan dan domisili masing-masing perusahaan. Walaupun
demikian tugas dan tanggung jawab Komite Audit tidak boleh menyimpang dari tugas dan
tanggung jawab Board of Directors.
Dalam kaitannya dengan penugasan external auditor oleh perusahaan, The ASX
Corporate Governance Council menyatakan komite audit mempunyai tugas khusus, sebagai
berikut :
a. Mengungkapkan dalam laporan tahunan perusahaan, apakah jasa non-audit yang
diberikan perusahan akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan perusahaan
telah mempengaruhi independensi mereka
b. Memberikan rekomendasi kepada Boards of Directors dalam pengangkatan,
penggantian, remunerasi dan memonitor efektifitas dan independensi auditor
c. Menentukan ruang lingkup eksternal auditor dan meninjau jangka waktu kontrak
dengan mereka
d. Mempelajari ketidaksamaan pendapat yang substansial antara manajemen perusahaan
dan auditor
e. Memonitor independensi karyawan dalam perusahaan
f. Meneliti apakah berbagai macam hubungan bisnis antara perusahaan dengan eksternal
auditor dapat mempengaruhi independensi auditor dalam mengemukakan pendapat
mereka
g. Paling sedikit sekali setahun menyelenggarakan rapat dengan eksternal auditor, tanpa
dihadiri manajemen perusahaan
Dewan Audit diatur berdasarkan Surat Keputusan Bank Indonesia No.
27/163/KEP/DIR/1995 tanggal 31 Maret 1995 dan Surat Edaran Bank Indonesia No.
27/8/UPPB/1995 tanggal 31 Maret 1995. Menurut ketentuan tersebut Dewan Audit dalam
perbankan memiliki 6 (enam) tanggung jawab sebagai berikut :
Menyetujui Internal Audit Charter, menanggapi rencana audit intern dan masalah-
masalah yang ditemukan oleh Auditor Intern serta menentukan pemeriksaan khusus
8
oleh Satuan Kerja Audit Intern (SKAI) apabila terdapat dugaan terjadinya
kecurangan, penyimpangan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
Mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam hal audit tidak menindaklanjuti
laporan Kepala SKAI.
Memastikan bahwa laporan-laporan yang disampaikan kepada Bank Indonesia serta
Instansi lain yang berkepentingan telah dilakukan dengan benar dan tepat waktu.
Selain itu, Bank juga mematuhi ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku.
Memastikan bahwa manajemen menjamin baik auditor ekstern maupun intern dapat
bekerja sama dengan standar auditing yang berlaku.
Memastikan bahwa manajemen telah menjalankan usahanya sesuai prinsip
pengelolaan bank secara sehat.
Efektivitas pelaksanaan fungsi SKAI. Seperti halnya komite audit di perusahaan.

4 KOMPOSISI KEANGGOTAAN KOMITE AUDIT


Komite Audit biasanya terdiri dari dua hingga tiga orang anggota. Dipimpin oleh
seorang Komisaris Independen. Seperti komite pada umumnya, Komite audit yang
beranggotakan sedikit cenderung dapat bertindak lebih efisien. Akan tetapi, Komite Audit
beranggota terlalu sedikit juga menyimpan kelemahan yakni minimnya ragam pengalaman
anggota. Sedapat mungkin anggota Komite Audit memiliki pemahaman memadai tentang
pembuatan laporan keuangan dan prinsip-prinsip pengawasan internal.
Agar mampu bekerja efektif, Komite Audit dibantu staff perusahaan dan auditor
eksternal. Komite juga harus memiliki akses langsung kepada stand dan penasehat
perusahaan seperti keuangan dan penasehat hukum. Keberadaan Komite Audit diatur melalui
Surat Edaran Bapepam Nomor: SE/03 PM/2002 (bagi perusahaan publik) dan keputusan
Menteri BUMN Nomor: Kep-103/MBU/2002 (Bagi BUMN) Komite Audit sedikitnya terdiri
dari tiga orang, diketuai oleh seorang Komisaris Independen perusahaan dengan dua orang
eksternal yang independen serta menguasai dan memiliki latar belakang akuntansi dan
keuangan.

5 EFEKTIVITAS KERJA KOMITE AUDIT


Meskipun komite audit pada saat ini telah diakui keberadaannya hampir disemua
perusahaan di negara maju, terutama di Amerika Serikat, Inggris dan Kanada. Sampai saat ini
belum ada kesepakatan mengenai tolak ukur dari keberhasilan atau keefektiviitasan komite
audit.
Komite audit dapat melakukan sinergi dengan audit internal untuk lebih meningkatkan
system pengendalian internal perusahaan. Apabila terdapat dugaan penyimpangan atau
kecurangan di perusahaan yang melibatkan direksi perusahaan, maka komisaris dapat

9
menugaskan komite audit untuk melakukan audit khusus (fraud audit). Dalam hal ini, komite
audit dapat meminta bantuan pihak eksternal (outsourcing) untuk melakukan audit investiatif
(investigative audit) atau audit forensic (forensic audit) guna mengungkap terjadinya praktik
kecurangan yang signifikan di perusahaan.
Kalbers dan Fogarty (1993) telah melakukan penelitian mengenai factor-faktor yang
mempengaruhi efektivitas kerja komite audit. Hasil penelitian mereka yang dimuat dalam
Auditing a journal of practice & theory berjudul Audit Committee Effectiveness : An
Empirical Investigation Of The Contribution Of Power antara lain mengungkapkan bahwa
terdapat tiga factor dominan yang berpengaruh terhadap keberhasilan komite audit dalam
mengemban tugasnya. Ketiga faktor itu adalah kewenangan formal dan tertulis dari komite
audit, kerjasama mnajemen, dan kualitas (kompetensi) anggota komite audit. Selain itu,
efektivitas kerja komite audit juga sangat dipengaruhi oleh pola hubungan (relationship) dan
tingkat intensitas komunikasi antara komite audiot dengan berbagai pihak.

KESIMPULAN

Di masa sekarang ini, keberadaan komite telah diterima sebagai suatu bagian dari tata kelola
organisasi perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Selain itu kehadiran komite
audit akhir-akhir ini telah mendapat respon yang positif dari berbagai pihak. Selain itu,
perusahaan yang telah go publik diharapkan agar memiliki komite audit untuk membantu
kegiatan perusahaan dalam mencapai tujuannya. Perusahaan dan Komite Audit diharapkan
telah melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi
dan standar audit yang ada demi kestabilan dan keefektifan kinerja perusahaan.

10
DAFTAR PUSTAKA

Baridwan, Zaki. 2000. Peran dan Fungsi Komisaris Independen dan Komite Audit. Makalah
Seminar Konvensi Nasional Akuntansi IV, Jakarta.

Eddie M. Gunadi & Toto J. Alamsyah. 2000. Direktur Kepatuhan : Gantikan Fungsi Dewan
Audit, Media Akuntansi, No.5 Tahun I.

Effendi, M. Arief. 2001. Persepsi Dewan Komisaris & Direksi Badan Usaha Milik Negara
terhadap pembentukan Komite Audit. Thesis, Program Magister Akuntansi (MAKSI),
Universitas Indonesia.

Herwidayatmo. 2000. Peran dan Fungsi Komisaris Independen dan Komite Audit.
Simposium Nasional Akuntansi II dan Konvensi Nasional Akuntansi IV, Jakarta.

Kalbers, Lawrence P. & Forgathy, Timothy J. 1993. Audit Committee Effectiveness : An


Empirical Investigation of the Contribution of Power, Auditing A Journal of Practice
& Theory.Vol. 12, No. 1, Spring.

Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan BUMN Nomor : KEP-102/M-PBUMN/2002


tanggal 31 Juli 2002 tentang pembentukan komite audit bagi BUMN.

Sutojo, Siswanto dan Aldridge, E John. 2008. Good Corporate governance. Jakarta : PT.
Damar Mulia Pustaka

11
The Institute of Internal Auditors Research Foundation : Improving Audit Committee
Performance : What Works Best, A Research Report prepared by Price Waterhouse,
First printing, 1993.

Utama, Marta. 2004. Komite Audit, Good Corporate Governance Dan Pengungkapan
Informasi. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia Vol. 1 pp. 61 79.

12