You are on page 1of 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Psoriasis adalah penyakit peradangan kulit bersifat kronis-residif yang
diperantarai oleh sistem imun, melibatkan daerah kulit, kulit kepala, kuku dan
persendian dengan gejala klinis berupa plak eritematosa yang berbatas tegas
dalam berbagai ukuran yang ditutupi oleh skuama yang tebal berwarna
keperakan.Gejala fisik yang dapat dijumpai berupa kulit mudah teriritasi, lebih
sensitif, gatal, terbakar/menyengat, mudah berdarah dan nyeri yang frekuensi
gejalanya berbeda berdasarkan tipe psoriasisnya.1
Psoriasis umumnya tidak menular dan mengancam jiwa, namun penyakit
ini memiliki dampak pada penderitanya yang dapat dilihat melalui dampak
negatif yang signifikan terhadap kualitas hidup, dengan melibatkan berbagai
aspek dalam kehidupan mencakup efek fisik, psikologis, psikososial dan
emosional. Pada penderita Psoriasis yang mendapat tekanan, akan
menyebabkan stres psikologis, frustasi dan kecemasan. Penyakit Psoriasis dapat
mengganggu penderita Psoriasis dari segi penampilan fisik secara psikologis
yang dapat berdampak menurunkan hidup kualitas penderita. 1,2
Lesi pada psoriasis adalah sangat khas, sering disebut dengan plak karena
terdapat peninggian pada kulit yang berwarna merah dan berbatas tegas.
Psoriasis dapat mengenai kulit hampir seluruh bagian tubuh umumnya meliputi
lutut, siku, kulit kepala, badan, dan kuku. Diatas plak tersebut terdapat skuama
yang berlapis-lapis yang tersusun atas sel kulit yang mati. Kulit dengan
psoriasis biasanya sangat kering, bisa sakit dan juga gatal. 1,3

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Psoriasis Vulgaris merupakan penyakit autoimun, bersifat kronik dan residif,
ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama
kasar, berlapis-lapis dan transparan disertai dengan fenomena tetesan lilin,
Auspits dan Kobner. 1

2.2 Sinonim
Psoriasis juga disebut psoriasis vulgaris berarti psoriasis yang biasa, karena ada
psoriasis lain, misalnya psoriasis pustulosa.1,2

2.3 Epidemiologi

Prevalensi psoriasis bervariasi antara 0,1-11,8% di berbagai populasi dunia.


Insidens di Asia cenderung rendah (0,4%). Tidak ada perbedaan insidens pada
pria ataupun wanita. Beberapa variasi klinisnya antara lain psoriasis vulgaris (85-
90%) dan artritis psoriatika (10%). Seperti lazimnya penyakit kronis, mortalitas
psoriasis rendah namun morbiditas tinggi, dengan dampak luas pada kualitas
hidup pasien ataupun kondisi sosioekonominya. Penyakit ini terjadi pada segala
usia, tersering pada usia 15-30 tahun. Puncak usia kedua adalah 57-60 tahun. Bila
terjadi pada usia dini (15-35 tahun), terkait HLA (Human Leukocyte Antigen)
I antigen (terutama HLA Cw6), serta ada riwayat keluarga, lesi kulit akan lebih
luas dan persisten. 4

2.4 Etiologi

Psoriasis merupakan penyakit kulit kronis inflamatorik dengan faktor genetik


yang kuat, dengan ciri gangguan perkembangan dan diferensiasi epidermis,
abnormalitas pembuluh darah, faktor imunologis dan biokimiawi, serta fungsi

2
neurologis. Penyebab dasarnya belum diketahui pasti. Dahulu diduga berkaitan
dengan gangguan primer keratinosit, namun berbagai penelitian telah mengetahui
adanya peran imunologis. Beberapa pemicu yang sudah dikenal dapat
menyebabkan timbulnya psoriasis pada mereka yang rentan terkena, yaitu trauma
dan infeksi. Beberapa penulis juga menyebutkan bahwa stress dapat memicu atau
mengeksaserbasi kelainan tersebut. 2,4
Faktor Genetik 2,4

Bila kedua orang tua mengidap psoriasis, risiko seseorang mendapat psoriasis
adalah 41%, 14% bila hanya dialami oleh salah satunya, 4% bila 1 orang saudara
kandung terkena, dan turun menjadi 2% bila tidak ada riwayat keluarga.
Psoriasis Susceptibility 1 atau PSORS1 (6p21.3) adalah salah satu lokus genetik
pada kromosom yang berkontribusi dalam patogenesis psoriasis. Beberapa alel
HLA yang berkaitan adalah HLA B13 dan HLA DQ9. HLA Cw6 merupakan alel
yang terlibat dalam patogenesis artritis psoriatika serta munculnya lesi kulit yang
lebih dini. HLA Cw6 akan mempresentasikan antigen ke sel T CD 8+.
Berdasarkan awitan penyakit dikenal dua tipe yaitu:
Psoriasis tipe I dengan awitan dini dan bersifat familial
Psoriasis tipe II dengan awitan lambat dan bersufat nonfamilial
Hal lain yang menyokong adanya faktor genetik adalah bahwa psoriasis
berkaitan dengan HLA. Psoriasis tipe I berhubungan dengan HLA-B13, B17,
Bw57 dan Cw6. Psoriasis tipe II berkaitan dengan HLA-B27 dan Cw2, sedangkan
psoriasis pustulosa berkaitan dengan HLA-B27.
Faktor Imunologik 2,3,4
Psoriasis melibatkan interaksi kompleks diantara berbagai sel pada sistem
imun dan kulit, termasuk sel dendritik dermal, sel T, neutrofil dan keratinosit.
Pada psoriasis, sel T CD8+ terdapat di epidermis sedangkan makrofag, sel T
CD4+ dan sel-sel dendritik dermal dapat ditemukan di dermis superfisial.
Sejumlah sitokin dan reseptor permukaan sel terlibat dalam jalur molekuler yang
menyebabkan manifestasi klinis penyakit. Psoriasis dianggap sebagai suatu

3
penyakit yang diperantarai oleh sistem imun yang ditandai dengan adanya sel T
helper (Th)1 yang predominan pada lesi kulit dengan peningkatan kadar IFN-,
tumor necrosing factor- (TNF-), IL-2 dan IL-18. Baru-baru ini jalur Th17 telah
dibuktikan memiliki peranan penting dalam mengatur proses inflamasi kronik.
Sebagai pusat jalur ini terdapat sel T CD4+, yang pengaturannya diatur oleh IL-
23 yang disekresikan oleh sel penyaji antigen (sel dendritik dermal). Sel Th17
CD4+ mensekresikan IL-17 dan IL-22 yang berperan pada peningkatan dan
pengaturan proses inflamasi dan proliferasi epidermal.
Faktor provokatif yang dapat mencetuskan atau menyebabkan penyakit ini
tambah hebat, ialah.
a. Trauma Kulit
Garukan atau gesekan dan tekanan atau tahanan yang berulang-ulang pada
saat gatal digaruk terlalu berat atau penekanan anggota tubuh terlalu sering
pada saat beraktifitas. Bila psoriasis sudah muncul dan kemudian digaruk
dikorek maka akan menyebabkan kulit bertambah tebal.
b. Faktor infeksi
Infeksi saluran pernafasan atas, yang kelihatannya dapat berupa, demam,
nyeri menelan, batuk dan beberapa infeksi lainnya, makanan berkalori sangat
tinggi sehingga badan terasa panas dan kulit menjadi merah, misalnya
mengandung alkohol.
c. Obat-obatan
Obat kortikosteroid merupakan obat bermata dua. Pada permulaan,
kortikosteroid dapat menyebuhkan psoriasis, tetapi apabila obat dihentikan
penyakit ini akan kambuh kembali, bahkan lebih berat daripada sebelumnya
menjadi psoriasis putulosa atau generalisata.
d. Sinar Ultraviolet
Dapat menghambat pertumbuhan sel-sel epidermis, tetapi bila penderita
sensitive terhadap sinar matahari, malahan penyakit akan bertambah berat
karena reaksi isomorfik.

4
e. Stress psikologis
Pada sebagian penderita factor stress dapat menjadi factor pencetus. Penyakit
ini sendiri dapat menyebabkan gangguan psikologis pada penderita, sehingga
menimbulkan satu lingkaran setan.

2.5 Patogenesis
Perubahan morfologik dan kerusakan sel epidermis pada penderita psorias
telah banyak diketahui. Lesi kulit psoriasis melibatkan epidermis dan dermis.
Terdapat penebalan epidermis disorganisasi stratum korneum akibat
hiperproliferasi epidermis dan peningkatan kecepatan mitosis, disertai
peningkatan ekspresi intercellular adhesion molecule 1 (ICAM 1) serta
abnormalitas diferensiasi sel epidermis. elongasi rete ridges, parakeratosis, serta
infi ltrasi berbagai sel radang. Sel T CD 3+ dan CD 8+ dapat ditemukan di sekitar
kapiler dermis dan epidermis. Sel dendritik CD 11c+ biasanya ditemukan di
dermis bagian atas. Invasi sel CD 8+ ke epidermis berkaitan dengan munculnya
lesi kulit. Aktivasi sel T terutama dipengaruhi oleh sel Langerhans. Sel T serta
keratinosit yang teraktivasi akan melepaskan sitokin dan kemokin, dan
menstimulasi infl amasi lebih lanjut. Selain itu, kedua komponen ini akan
memproduksi tumor necrosis factor (TNF ), yang mempertahankan proses infl
amasi. Oleh karena itu, psoriasis bukan hanya disebabkan oleh autoimunitas
terkait sel limfosit T seperti teori terdahulu, tetapi melibatkan proses yang lebih
kompleks termasuk abnormalitas mikrovaskuler dan keratinosit. Pada penderita
psoriasis terjadi turnover time (waktu paruh) yang memendek dari regenerasi
epidermis hingga 3-4 hari, sedangkan pada orang normal 27 hari. 2,3,4

2.6 Gambaran Klinis


Anamnesis.
Salah satu hal pertama kali penting ditanyakan adalah onset penyakit dan riwayat
keluarga, karena onset dini dan riwayat keluarga berkaitan dengan tingginya
ekstensi dan rekurensi penyakit. Selain itu, tentukan apakah lesi merupakan

5
bentuk akut atau kronis, serta keluhan pada persendian, karena kemungkinan
artritis psoriatika pada pasien dengan riwayat pembengkakan sendi sebelum usia
40 tahun. Lesi kronis cenderung stabil berbulan-bulan hingga bertahun-tahun,
sedangkan dalam bentuk akut, lesi dapat muncul mendadak dalam beberapa hari.
Kemungkinan relaps juga bervariasi antar individu. 4
Manifestasi Klinik
Psoriasis merupakan penyakit infl amatorik kronik dengan manifestasi klinis
pada kulit dan kuku.Lesi kulit biasanya merupakan plak eritematosa oval,
berbatas tegas, meninggi, dengan skuama berwarna keperakan, hasil proliferasi
epidermis maturasi prematur dan kornifi kasi inkomplet keratinosit dengan retensi
nuklei di stratum korneum (parakeratosis). Meskipun terdapat beberapa predileksi
khas seperti pada siku, lutut, serta sakrum, lesi dapat ditemukan di seluruh tubuh.
Lesi klasik psoriasis adalah plak eritematosa berbatas tegas, meninggi,
diselubungi oleh skuama putih. Lesi kulit cenderung simetris, meskipun dapat
unilateral. 2,4
Pada psoriasis terdapat fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner
(isomorfik).Pada fenomena tetesan lilin ialah skuama dikerok, maka akantimbul
garis-garis putih pada goresan seperti lilin yang digores, disebabkan oleh
berubahnya indeks bias. Sedangkan pada fenomena Auspitz tampak serum atau
darah berbintik-bintik yang disebabkan oleh papilomatosis yaitu dengan dikerok
terus secara hati-hati sampai ke dasar skuama. Truma pada kulit penderita
psoriasis misalnya garukan, dapat menyebabkan kelainan psoriasis dan disebut
fenomena Kobner yang timbul kira-kira setelah 3 minggu. 4

6
Gambar 1. Tanda Auspitz, yaitu adanya titik perdarahan pada kulit bila skuama
dilepaskan.

Gambar 2. Fenomena Koebner (isomorfi k): A. Lesi psoriasis pada kulit 4 minggu
pasca-biopsi; B. Flare psoriasis pada punggung setelah terpapar sinar matahari.

7
4
2.7 Variasi Klinis
Pada psoriasis terdapat berbagai bentuk klinis :
a. Psoriasis Vulgaris
Merupakan bentuk tersering (90% pasien), dengan karakteristik klinis plakat
kemerahan, simetris, dan berskuama pada ekstensor ekstremitas.

b. Psoriasis gutata
Diameter kelainan biasanya tidak melebihi 1 cm timbulnya mendadak dan
diseminata, umumnya setelah infeksi Streptococcus di saluran napas bagian
atas sehabis influenza atau morbili, terutama pada anak dan dewasa muda.
Selain itu juga dapat timbul setelah infeksi yang lain, baik bacterial maupun
viral.

c. Psoriasis inverse
Pada tipe ini muncul di lipatan-lipatan kulit seperti aksila, genitokruris, serta
leher. Lesi biasanya berbentuk eritema mengkilat berbatas tegas dengan
sedikit skuama, disertai gangguan perspirasi pada area yang terkena.

8
d. Psoriasis eksudativa
Bentuk tersebut sangat jarang. Biasanya kelainan psoriasis kering, tetapi pada
bentuk ini kelainannya eksudatif seperti dermatitis akut.
e. Psorisis seboroik
Gambaran klinis psoriasis seboroik merupakan gabungan antara psoriasis dan
dermatitis seboroik, skuama yang biasanya kering menjadi agak berminyak
dan agak lunak. Selain berlokasi pada tempat yang lazim, juga terdapat pada
tempat seboroik.
f. Psoriasis pustulosa
Terdapat 2 bentuk psoriasis pustulosa, bentuk lokalisata dan bentuk
generalisata. Bentuk lokalisata, contohnya psoriasis pustulosa palmo-plantar
(Barber). Sedangkan bentuk generalisata, contohnya psoriasis pustulosa
generalisata akut (von Zumbusch). Eritroderma psoriatik: Disebabkan oleh
pengobatan topical yang terlalu kuat atau oleh penyakitnya sendiri yang
meluas. Biasanya lesi yang khas untuk psoriasis tidak tampak lagi karena
eritema dan skuama yang tebal dan universal. Ada kalanya lesi psoriasis
masih tampak amar-samar, yakni lebih erimatosa dan kulitnya lebih
meninggi.

Psoriasis Pustulosa Palmoplantar


(Barber)

Psoriasis pustulata generalisata akut


(von Zumbusch)

9
2.8 Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan histopatologi didapatkan gambaran hiperkeratosis,
parakeratosis, akantosis, papilomatosis dan hilangnya stratum granulosum. Pada
stratum spinosum terdapat kelompok leukosit yang disebut dengan abses Munro
dan ditemukan pula papilomatosis dan vasodilatasi subepidermis. Pemeriksaan
darah rutin juga kadang dilakukan untuk mencari penyakit infeksi, pemeriksaan
gula darah, kolesterol untuk penyakit diabetes mellitus. 3

1,3,4
2.9 Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan gambaran klinis yang khas, yaitu
makulopapula eritema dengan batas tegas, ditutup skuama kasar, putih mengkilat
seperti perak, disertai adanya fenomena bercak lilin dan tanda Auspitz.Bila
gambaran klinis jelas, dilakukan pemeriksaan histopatologi. Derajat penyakit
ditentukan dengan menggunakan psoriasis area severity index (PASI). Pasi
dihitung dengan menilai area tubuh yang berisi lesi dan intensitas lesi (dengan
menilai warna, ketebalan, dan penglupasan) dimana psoriasis diklasifikasi
menjadi tiga yakni:
Psoriasis ringan: PASI < 8, luas lesi <5% dari permukaan kulit
Psoriasis sedang: PASI 8-12, luas lesi 5-20% dari permukaan kulit
Psoriasis berat: PASI >12, luas lesi >20%, komplikasi pustular
psoriasis, mengenai telapak tangan dan kaki, tidak responsif dengan
kortikosterid topikal
2.10 Diagnosis Banding 4
Dermatitis seroboi
Dermatitis numular atau neurodermatitis
Lupus eritematosa
Tinea Korporis
Ptiriasis rosea

10
2.11. Penatalaksanaan 1,2,3,4

Dalam kepustakaan terdapat banyak cara pengobatan. Pengobatan psoriasis ada


2 macam meliputi pengobatan topikal dan sistemik.
Pengobatan Topikal
1. Preparat tar
Preparat tar mempunyai efek sebagai antiradang serta dapat menghambat
proliferasi keratinosit Dibagi menjadi 3 yaitu : fosil, misalnya iktiol kayu,
misalnya olium cadini dan olium ruski batubara, misalnya liantral dan likuor
karbonis detergens. Pada Psoriasis yang telah menahun lebih baik digunakan
ter yang berasal dari batu bara dengan konsentrasi 2-5% dimulai dengan
konsentrasi rendah, jika tidak ada perbaikan konsentrasi dinaikkan. Supaya
lebih efektif, maka daya penetrasinya harus dipertinggi dengan cara
menambahkan asam salisilat dengan konsentrasi 3% atau lebih. Untuk
mengurangi daya iritasinya, dapat dibubuhi seng oksida 10% sebagai
vehikulum dalam bentuk salep.
2. Kortikosteroid topikal
Mempunyai efek ant inflamasi dan anti mitosis.Dipakai kortikosteroid potensi
sedang sampai kuat Jika telah terjadi perbaikan potensinya dan frekuensinya
dikurangi. Anthralin( Ditranol) konsentrasi yang digunakan biasanya 0,2%-
0,8% dalam pasta atau salap. Penyembuhan biasanya terjai dalam waktu 3
minggu. Mempunyai efek antiinflamasi dan menghambat proliferasi
keratinosit.Efek sampingnya adalah bersifat iritasi dan mewarnai kulit dan
pakaian.
3. Pengobatan dengan Penyinaran
Seperti diketahui sinar ultraviolet mempunyai efek menghambat mitosis,
sehingga dapat digunakan untuk pengobatan psoriasis. Cara yang terbaik ialah
penyinaran secara alamiah, tetapi sayang tidak dapat diukur dan jika
berlebihan akan memperberat psoriasis. Karena itu digunakan sinar ultraviolet
artifisial, diantaranya sinar A yang dikenal dengan PUVA. Sinar tersebut

11
dapat digunakan secara tersendiri atau berkombinasi dengan psoralen (8-
metoksipsoralen, metoksalen) dan disebut PUVA, atau bersama-sama dengan
preparat ter yang dikenal sebagai pengobatan cara Goeckerman.
Dapat juga digunakan UVB untuk pengobatan psoriasis tipe plak, gutata,
pustular, dan eritroderma.Pada yang tipe plak dan gutata dikombinasikan
dengan salep likuor karbonis detergens 5 -7% yang dioleskan sehari dua
kali.Sebelum disinar dicuci dahulu.Dosis UVB pertama 12 -23 m J menurut
tipe kulit, kemudian dinaikkan berangsur-angsur.Setiap kali dinaikkan sebagai
15% dari dosis sebelumnya.Diberikan seminggu tiga kali.Target pengobatan
ialah pengurangan 75% skor PASI (Psoriasis Area and Severity Index). Hasil
baik dicapai pada 73,3% kasus terutama tipe plak.

Pengobatan sistemik
1. Kortikosteroid Hanya dipakai bila sudah terjadi eritroderma atau psoriasis
pustulosa generalisata. Dosis setara dengan 40-60 mg prednison perhari.
Penghentian obat secara mendadak akan menyebabkan kekambuhan dan
dapat terjadi psoriasis pustulosa generalisata.
2. Metotreksat (MTX)
Biasanya digunakan Metotreksat pemberian per 2 hari berturut-turut dalam
seminggu dengan dosis sehari peroral 12,5 mg. Dapat pula di berikan secara
intramuskuler dengan dosis 15-25 mg/minggu. Efek samping pada hati ginjal
dan sumsum tulang belakang.
3. Asitretin ( Derivat Vitamin A)
Dengan dosis 0,5-1mg/kg berat badan, obat ini dapat menyembuhlan
psoriasis, terutama pustulosa dan psoriasis gutata permulaan.
4. Siklosporin4
Obat ini dapat menghambat aktivitas dan proliferasi sel T. siklosporin dapat
menghambat pertumbuhan sel kertinosit.Dengan dosis 2,5 mg/kgBB obat ini
cukup untuk menyembuhkan beberapa jenis psoriasis.

12
2.12 Prognosis 3
Psoriasis tidak menyebabkan kematian tetapi bersifat kronik dan
residif.Penyakit psoriasi tidak sembuh sama sekali sehingga seolah-olah penyakit
ini dapat timbul kembali sepanjang hidup. Memperhatikan tanda dan gejala
biasanya membutuhkan terapi seumur hidup. Penyakit psoriasis biasanya menjadi
lebih berat dari waktu ke waktu tetapi tidak mungkin untuk muncul dan
menghilang.

13
BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien


Nama : Tn. EW
Usia : 48th
Alamat : Dok 8
Agama : Kristen Protestan
Suku : Biak
Pekerjaan : Swasta
No. DM : 101167
Tanggal Kontrol Poli: 30 Agustus 2017
3.2 Anamnesa
a. Keluhan Utama : bercak kemerahan dengan bentukan putih menebal
diatasnya yang gatal di bagian tangan ,kepala dan badan belakang
b. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Dok II dengan keluhan
utama bercak kemerahan dengan bentukan putih menebal diatasnya yang
gatal. Pasien mengaku merasakan keluhan seperti ini sejak 8 tahun yang
lalu. Bercak pertama kali muncul berwarna merah dan berukuran kecil
kemudian tanpa disadari bercak bertambah besar dan ditutupi sisik berwarna
putih terasa gatal di bagian tangan ,kepala dan badan bagian belakang
mengakibatkan pasien terus menggaruk. Bercak kemerahan dengan bentukan
putih yang meninggi itu diakui semakin meluas setelah pasien terus
menggaruk daerah tersebut. Gatal tersebut menyebabkan pasien menjadi stress
dan terus berpikir keras untuk dapat mencari cara agar gejala yang dialami
pasien hilang, sehingga pasien mengaku rasa gatal semakin bertambah ketika
pasien stress. Pasien juga mengaku gatal bertambah saat pasien memakan
udang dan ikan. Pasien mengaku sebelumnya sudah berobat namun bercak
tersebut tetap semakin melebar. Sebelum berobat pasien memiliki kebiasaan

14
mandi 2x sehari, mengganti handuk 1 minggu sekali, dan pasien juga suka
mandi di laut.

c. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat sakit seperti ini : diakui
Riwayat alergi obat : disangkal
Riwyat alegi Makanan : diakui
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat sakit seperti ini : diakui
e. Riwayat Habituasi
Pasien mandi 2x sehari dan menggunakan sabun, selalu mengganti
pakaian setelah mandi. tidak menggunakan handuk bergantian.
f. Riwayat pengobatan:
Pasien sudah pernah berobat sebelumnya.

3.3 PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 30 Mei 2017 pukul 11.30 WIB di Poli
Penyakit Kulit dan Kelamin
a. Status Generalis
Keadaan umum : Kooperatif, Tampak sakit ringan
Kesadaran : Compos mentis
Nadi :80 kali/menit regular
Nafas :22 kali/menit, regular.
Suhu : 36,5C
Status gizi : Kesan gizi cukup

b. Status Internus
Kepala : Normocephali, rambut hitam
Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening

15
Thoraks : Dalam batas normal
Abdomen : Dalam batas normal
Ekstremitas atas : akral hangat, (status dermatologis)
Ekstremitas bawah : akral hangat, tidak ada edema, tidak sianosis, terdapat
kelainan pada (status dermatologis)
c. Status dermatologis
Distribusi : Mengenai daerah tertentu tubuh (Regional)

Ad region : Regio lumbosakral , Cranium regio antebrachi Sinistra et


Dextra.
Efloresensi : Plak eritema berbatas tegas, ukuran numular sampai plakat
dengan skuama putih tebal diatasnya dengan distribusi
regional.
RESUME
Pasien laki-laki berumur 48 tahun datang ke Poli Kuit dan kelamin pada
tanggal 30 Agustus 2017 dengan keluhan ada bercak merah dengan bentukan
putih meninggi diatasnya disertai gatal pada yang dirasakan saat malam hari, saat
tidak sedang beraktifitas dan ketika pasien stress. Pasien mengaku sudah
merasakan keuahn seperti ini sejak 8 tahun yang lalu dan sudah menjalani
pengobatan namun belum membaik. Status dermatologi Regio lumbosakral ,
Cranium regio antebrachi Sinistra et Dextra. Efloresensi : Plak eritema berbatas
tegas, ukuran numular sampai plakat dengan skuama putih tebal diatasnya
dengan distribusi regional

3.4 DIAGNOSA KERJA


Psoriasis Vulgaris
3.5 DIAGNOSA BANDING
Dermatitis seroboik
Dermatitis numular atau neurodermatitis
Lupus eritematosa

16
Tinea Korporis
Ptiriasis rosea
3.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan
3.6 PENATALAKSANAAN
a. Medikamentosa
Sistemik
Cetirizine 1x10mg
Cefixime 2x 200mg
As.Folat 2x1 tab
Topikal
Desoximethasone cream 2x1 perhari (kortikosteroid)
b. Non Medikamentosa
Menghindari penggunaan sabun antiseptic
Mengganti handuk 2x seminggu
Mandi 2x sehari
c. Edukasin
Memberi penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang penyakitnya,
dari jenis penyakit, penyebab, perjalanan penyakit sampai
prognosisnya
Cara penggunaan obat, kontrol kembali jika obat habis untuk
mengevaluasi pengobatan.
3.7 PROGNOSIS
Ad vitam : ad bonam
Ad fungsionam : ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad kosmetikum : dubia ad bonam

17
BAB IV

PEMBAHASAN

1. Bagaiman cara mendiagnosis dengan Psoriasis Vulgaris ?


Pasien didiagnosis dengan psoriasis vulgaris berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik .Pada kasus ini, pasien datang dengan keluhan keluhan utama
bercak kemerahan dengan bentukan putih menebal diatasnya yang gatal. Pasien
mengaku sudah merasakan keuahn seperti ini sejak 8 tahun yang lalu dan sudah
menjalani pengobatan namun belum membaik. Status dermatologi regio
lumbosakral , Cranium, regio antebrachi sinistra et dextra. Efloresensi : Plak
eritema berbatas tegas, ukuran numular sampai plakat dengan skuama putih tebal
diatasnya dengan distribusi regional.Dari keluhan dan gejala kinis pasien ini
sesuai dengan manifertasi klinis pada Psoriasis Vulgaris dengan diagnosa banding
Dermatitis seroboik, Dermatitis numular atau neurodermatitis, Lupus eritematosa,
Tinea Korporis, Pitriasis Rosea.
Dari gejala yang dialami oleh pasien diagnosis mengarah pada psoriasis
vulgaris yang secara definisi merupakan penyakit autoimun, bersifat kronik dan
residif, ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan
skuama kasar, berlapis-lapis dan transparan. Kondisi yang residif dan kronik
ditunjukan dari pengakuan pasien yang sudah pernah mengalami keluhan yang
sama sebelumnya 8 tahun yang lalu.
Diagnosis juga ditegakkan melalui pemeriksaan fisik dimana didapatkan lesi
plak eritema berbatas tegas disertai rasa gatal yang berskuama tebal dan kasar
berwarna putih keperakan berukuran numular sampai plakat . Bila pada lesi
tersebut digores dengan benda berujung agak tajam , maka bagian yang tergores
akan menjadidi lebih putih ( Fenomena tetesan lilin ). Bila skuama dikerok
lembar demi lembar maka akan tampak titik titk pendarahan pada daerah yang
dikerok ( Auspitz sign). Bila daerah kulit yang sehat dilakukan garukan berulang
ulang maka bisa saja timbul lesi serupa pada daerah kulit yang sehat (
Fenomena Kobner).

18
Diagnosis banding dermatitis numular dan dermatitis seroboik dapat
disingkirkan dengan melihat morfologi dari lesi diman psoriasis memiliki
skuama tebal dan kasar berwarnah putih keperakan , sedangkan dermatitis
numularis hanya ditemukan plak eritematosa berbentuk koin dan terbentuk dari
papulavesikel yang berkonfluens dan dermatoitis seroboik memiliki morfologi
berupa papulaskuamosa atau skuama yang berwarna kekuningan dan berminyak
muncul didaerah berambut yang kaya akan kelenjar sebasae. Untuk diagnosis
tinea korporis dapat disingkirkan dengan melihat morfologi tinea korporis yang
khas yaitu lesi makula eritema berbatas tegas , memiliki vesikel dan papul
dibagian tepi. Lupus eritematosa biasanya memberikan gambaran lesi berupa
butterfly rash pada wajah. Pitriasis rosea memliki tanda khas aitu adanya Herald
patch dengan skuama halus.

2. Apakah terapi yang diberikan sudah tepat ?


Pada pasien in iterapi yang diberkan :
Ceterizine 1x10mg/hari
Desoximethasone cream 2x1 perhari (kortikosteroid)
As.Folat 2x 1 tab
Cefixime 2 x 200mg
Terapi pada pasien ini sudah seusai, menurut pengobatan psoriasis dengan
pemberian Desoximethasone cream sebagai antiradang, antimitosis dan sebagai
vasokonstriktor. Desoximetasone merupakan salah satu golongan obat oles
(topikal) kortikosteroid kuat, yang bekerja dengan merangsang zat alami pada
kulit untuk mengurangi pembengkakan, kemerahan dan rasa gatal.
Cetirizine merupakan salah satu jenis obat-obatan antihistamin.Obat ini dapat
digunakan untuk mengatasi gejala-gejala alergi, seperti hidung beringus atau
mampet, mata berair, bersin-bersin, mata atau hidung yang gatal, serta ruam pada
kulit.Cetirizine bekerja dengan cara menghalangi kinerja senyawa histamin yang
diproduksi tubuh yang menyebabkan gejala-gejala alergi. Tetapi obat ini tidak
dapat mencegah atau mengatasi gatal-gatal di seluruh tubuh atau reaksi alergi.

19
Cefixime adalah obat antibiotik golongan Cephalosporin generasi ke 3 yang
aktif terhadap bakteri garam negatif maupun gram positif. Antibiotik ini
digunakan untuk mengoati infeksi saluran pernafasan, infeksi kulit dan jaringan
lunak serta infeksi saluran kemih dan kelamin.
Prognosis pada pasien psoriasis umumnya baik namun memerlukan
pengobatan yang dilakukan terus menerus dan juga menjauhi faktor pencetus
seperti trauma dan stress. Remisi spontan dapat terjadi pada 50% pasien dalam
waktu yang bervariasi.

20
FOTO KLINIS

21
Daftar Pustaka

1. Maulida, Mimi. Dkk : Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya (2010).
2. Menaldi, Sri. Dkk.: Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta (2015).
3. Sinaga, Dameria: Jurnal Ilmiah Pengaruh Stress Psikologis terhadap pasien
Psoriasis. Fakultas Kedokteran UKI, Jakarta (2013).
4. Yuliastuti : Psoriasis. CDK 235 Vol. 42. RS Meilia,Depok (2015).

22