You are on page 1of 14

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR II

TERMOKIMIA

OLEH :
PUTU ELVIRA YULIANTHI
(1608511050)
KELOMPOK B
MEJA 21

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2017
TERMOKIMIA

I. Tujuan Percobaan
1. Mengenal alat kalorimeter tekanan tetap dan memahami cara kerja alat
tersebut.
2. Memahami perbedaan antara kapasitas kalor dan kalor jenis.
3. Mengetahui suhu campuran dari dua larutan yang berbeda
4. Menghitung kapasitas kalorimeter dan kalor reaksi dalam suaktu reaksi.
5. Menentukan kalor reaksi dan kalor pengenceran dari larutan.

II. Dasar Teori


Termokimia adalah ilmu yang memperlajari perubahan-perubahan energi
yang disertai suatu proses fisika dan kimia. Pelajaran ini mencakup dua sasaran
yaitu, penentuan kalor reaksi dalam termokimia dan penentuan arah suatu proses
serta sifat-sifat sistem dalam kesetimbangan. (Team Kimia Dasar, 2017)
Hampir dalam setiap reaksi kimia selalu terjadi penyerapan dan pelepasan
energi. Kita mengetahui bahwa salah satu bentuk energi yang dapat dipertukarkan
antara sistem dengan lingkungan adalah kalor atau panas. (Team Kimia Dasar,
2017).
Termokimia adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara energi panas dan
energi kimia. Sedangkan energi kimia didefinisikan sebagai energi yang
dikandung setiap unsur atau senyawa. Perubahan energi dapat terjadi dalam suatu
sistem maupun lingkungan. Sistem dapat berupa gas, uap air dan uap dalam
kontak dengan cairan (Atkins, 1990). Secara umum sistem dibagi 3 macam yaitu:
1. Sistem terbuka merupakan sistem yang memungkinkan terjadinya pertukaran
energi dan materi ke lingkungan. Contohnya suatu zat dalam gelas kimia.
2. Sistem tertutup merupakan sistem yang memungkinkan terjadinya pertukaran
energi tanpa pertukaran materi ke lingkungan. Contohnya sejumlah gas dalam
silinder yang dilengkapi penghisap.
3. Sistem terisolasi merupakan sistem yang tidak ada pertukaran energi maupun
materi ke lingkungan.
(Brady, 1999).
Kalor adalah perpindahan energi termal. Kalor mengalir dari satu bagian ke
bagian lain atau dari satu sistem ke sistem lain, karena adanya perbedaan
temperatur. Besarnya kalor reaksi bergantung pada ( Alberty dan Daniels, 1992 ) :
a. Jumlah zat yang bereaksi
b. Keadaan fisika
c. Temperatur
d. Tekanan
e. Jenis reaksi (tekanan tetap atau volume tetap)
Termokimia merupakan penerapan hukum pertama termodinamika terhadap
peristiwa kimia yang membahas tentang kalor yang menyertai reaksi
kimia.Termodinamika kimia dapat didefenisikan sebagai cabang kimia yang
menangani hubungan kalor, kerja dan bentuk lain energi, dengan kesetimbangan
dalam reaksi kimia dan dalam perubahan keadaan. Termokimia erat kaitannya
dengan termodinamika, karena termokimia menangani pengukuran dan penafsiran
perubahan kalor yang menyertai reaksi kimia, perubahan keadaan dan
pembentukan larutan (Anonim, 2012).
Termodinamika merupakan ilmu tentang energi, yang secara spesifik
membahas tentang hubungan antara energi panas dengan kerja. Seperti telah
diketahui bahwa energi di alam dapat terwujud dalam berbagai bentuk, selain
energi panas dan kerja, yaitu energi kimia, energi listrik, energi nuklir, energi
gelombang elektromagnetic, energi akibat gaya magnit, dan lain-lain. Energi
dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lain, baik secara alami maupun hasil
rekayasa tehnologi. Selain itu energi di alam semesta bersifat kekal, tidak dapat
dibangkitkan atau dihilangkan, yang terjadi adalah perubahan energi dari satu
bentuk menjadi bentuk lain tanpa ada pengurangan atau penambahan. Prinsip ini
disebut sebagai prinsip konservasi atau kekekalan energi (Anonim, 2012).
Suatu sistem termodinamika adalah suatu masa atau daerah yang dipilih
untuk dijadikan obyek analisis. Daerah sekitar sistem tersebut disebut sebagai
lingkungan. Batas antara sistem dengan lingkungannya disebut batas sistem
(boundary), aplikasinya batas sistem merupakan bagian dari sistem maupu
lingkungannya, dan dapat tetap atau dapat berubah posisi atau bergerak.Penerapan
hukum termodinamika pertama dalam bidang kimia merupakan bahan kajian dari
termokimia. Hukum I Termodinamika menyatakan:Energi tidak dapat diciptakan
atau dimusnahkan, tetapi dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, atau
energi alam semesta adalah konstan. (Anonim,2012).
Perubahan entalpi untuk reaksi kimia bergantung pada keadaan zat-zat yang
terlibat dalam pembentukan karbondioksida dengan pembakaran karbon. Harga
H yang diberikan untuk karbon padat itu adalah dalam bentuk grafik. Harga lain
dari H akan diperoleh jika karbon padat itu dalam bentuk intan. Untuk suatu
cairan atau padatan keadaan standar ialah zat murni 1 atm, sedangkan untuk suatu
gas ialah gas ideal (Keenan, dkk., 1984).
Definisi perubahan entalpi atau yang biasa disebut entalpi reaksi (enthalpy of
reaction) adalah selisih antara entalpi produk dan entalpi reaktan.
H= H produk H reaktan (1)
Entalpi reaksi dapat bernilai positif atau negatif, bergantung pada prosesnya.
Untuk proses endotermik ( kalor diserap oleh sistem dari lingkungan), H bernilai
positif yaitu H>0. Untuk proses eksotermik ( kalor dilepaskan oleh sistem
kelingkungan ), H bernilai negatif yaitu H<0 ( Chang, 2004).
Reaksi kimia yang menyangkut pemecahan atau pembentukan ikatan kimia
selalu berhubungan dengan penyerapan atau pelepasan panas. Reaksi eksotermik
adalah suatu reaksi yang melepaskan energi. Jika reaksi berlangsung pada suhu
tetap berdasarkan perjanjian H akan bernilai negatif karena kandungan panas
dari sistem menurun. Sebaliknya pada reaksi endotermik yaitu reaksi yang
membutuhkan panas berdasarkan perjanjian H akan bernilai positif. Namun
kadang-kadang beberapa buku menggunakan tanda sebaliknya dari yang telah di
uraikan di atas. Karena itu dalam penulisan di bidang termodinamika dianjurkan
untuk selalu mencantumkan penggunaan tanda yang akan di gunakan (Bird,
1993).
Dalam laboratorium pertukaran kalor dalam proses fisika dan kimia diukur
dengan kalorimeter yaitu suatu wadah tertutup yang dirancang secara khusus
untuk tujuan ini. Pembahasan tentang kalorimetri pengukuran perubahan kalor
akan bergantung pada pemahaman tentang kalor jenis dan kapasitas kalor. Kalor
jenis suatu zat adalah jumlah kalor yang dibutuhkan untuk menaiikan suhu satu
gram zat sebesar satu derajat celcius. Kapasitas kalor suatu zat adalah jumlah
kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu sejumlah zat sebesar satu derajat
celcius (Chang, 2004).
Banyaknya kalor yang keluar maupun masuk dari zat adalah :
q = C . t (2)
dimana t adalah perubahan suhu yang diperoleh dari tf ti dimana tf
merupakan temperatur final dan ti adalah temperatur initial.
q = C (tf ti) .(3)
Sehingga persamaan kalor spesifik :
q = m . . t .(4)
dimana m merupakan massa dalam gram dari zat yang menyerap kalor dan c
= m. (Chang, 1995).
Panas reaksi diukur dengan menggunakan kalorimeter. Dalam rangka untuk
melindungi perubahan suhu dari proses, transfer panas ke kalorimeter atau
penyerapan panas dari kalorimeter harus terjadi secepat mungkin. Perubahan
panas ditunjukkan oleh perubahan suhu kalorimeter.
Qv = - Cv kal x T kal ..(5)
dimana (kal adalah kapasitas panas kalorimeter) (Aleksishvli dan
Sidamonidze, 2002).

Kalorimeter Tekanan Tetap


Alat ini sangat sederhana, terdiri dar dua cangkir styrofoam, termometer, dan
pengaduk. Alat ini dapat digunakan untuk mengukur kalor reaksi netralisasi dan
kalor reaksi pengenceran. Karena pengukuran dilangsungkan di bawah kondisi
tekanan atmosfir, maka kalor reaksinya dinamakan entalpi. Dalam pengukuran
kalor reaksi dengan alat ini, tidak ada kalor yang dilepaskan ke lingkungan, maka
dapat ditulis persamaan (Team Kimia Dasar, 2017) :
qsis = qlar + qkal + qrks = 0 (6)
Sehingga :
qrks = - (qlar + qkal) .(7)
III. Alat dan Bahan
3.1 Alat
Gelas plastik tertutup
Gelas ukur
Gelas kimia
Labu ukur
Termometer
Batang pengaduk
3.2 Bahan
CaCl2
HCl
NaOH
Aquades

IV. Prosedur Kerja


4.1 Percobaan 1
Percobaan pertama adalah penentuan kapasitas kalor dari suatu
kalorimeter. Sebuah gelas plastik bertutup disiapkan dengan gelas becker
kecil yang diletakan dalam gelas plastik tersebut. Suhu dari 50 ml larutan
HCl 1 M diukur suhunya dengan menggunakan termometer. Dalam gelas
kimia yang lain 50 ml larutan NaOH 1 M diukur suhunya dengan
menggunakan termometer. Kedua larutan tersebut, HCl dan NaOH
dimasukkan ke kalorimeter secara bersamaan dan diaduk dengan
menggunakan batang pengaduk. Pada saat yang sama, diukur temperatur
campuran kedua larutan dengan termometer. Percobaan diatas diulang
sebanyak 3 kali dan dicatat dalam lembar pengamatan.
4.2 Percobaan 2
Percobaan kedua adalah penentuan kalor reaksi larutan. Kalorimeter
(gelas plastik) pada percobaan pertma kembali digunakan. Sebanyak 5
gram serbuk CaCl2 dimasukkan ke kalorimeter. Ke dalam kalorimeter
ditambahkan 50 ml air, namun sebelum penambahan temperatur air diukur
dan dicatat. Larutan diaduk dengan menggunakan batang pengaduk pada
saat air dimasukan dalam kalorimeter berisi serbuk CaCl2 dan dicatat
temperatur maksimal yang dicapai oleh larutan CaCl2. Setelah diperoleh
temperatur yang stabil dari larutan CaCl2, 50 ml air ditambahkan kembali
sabil diaduk. Kemudian temperatur larutan diukur dan dicatat kembali.

V. Data Pengamatan
5.1 Percobaan 1
No. Uraian Temperatur Pengamatan (oC)
1 50 ml larutan HCl 1 M 29
50 ml larutan NaOH 1 M 29
Campuran kedua larutan 35
2 50 ml larutan HCl 1 M 29
50 ml larutan NaOH 1 M 29
Campuran kedua larutan 35
3 50 ml larutan HCl 1 M 29
50 ml larutan NaOH 1 M 29
Campuran kedua larutan 35

5.2 Percobaan 2
No. Uraian Temperatur Pengamatan (oC)
1 Air 28,8
Larutan CaCl2 * 35
Larutan CaCl2 ** 34
Larutan CaCl2 + 50 ml air 32
2 Air 28,8
Larutan CaCl2 * 35
Larutan CaCl2 ** 33
Larutan CaCl2 + 50 ml air 32
*temperatur maksimal yang dicapai
**temperatur stabil dari larutan
VI. Pembahasan
6.1 Perhitungan
Percobaan 1 : Penentuan Kapasitas Kalor Kalorimeter
Diketahui :
V HCl 1 M = 50 mL = 0,05 L
V NaOH 1 M = 50 mL = 0,05 L
Volume total = VHCl + VNaOH = 0,05L + 0,05L = 0,1 L
t1 = takhir - tawal = 35oC - 29oC = 6oC
t2 = takhir - tawal = 35oC - 29oC = 6oC
t3 = takhir - tawal = 35oC - 29oC = 6oC
qreaksi = -56,2 kJ/mol
air = 1 gr/ml
c = 4,184 J/goC
Ditanya : Ckal = . ?
Crata-rata = .?
Jawab :
V1 . M1 + V2 . M2 = V3 . M3
0,05 L . 1M + 0,05 L . 1M = 0,1 L . M3
M3 = 1 M
n=M.V
= 1 x 0,1 = 0,1 mol
qreaksi = -56,2 kJ/mol x 0,1 mol
= -5,62 kJ/mol = -5620 joule
qlarutan = m.c. t1
= 100gr x 4,184 J/gC x 6C
= 2510,4 J = 2,5104 kJ
qreaksi = -( qlar + qkal )
-56,2 = -(2,5104 + qkal )
qkal = 56,2 + 2,5104 = 58,7104 kJ
qkal 58,7104
Ckal = = = 9,7851 kJ/oC
t 6
Karena pengamatan 1, 2 dan 3 memiliki perubahan suhu yang sama ,
maka kapasitas kalorimeter untuk ketiga pengamatan sebesar 9,7851 kJ/oC.
9,7851 9,7851 9,7851
Sehingga Crata-rata = = 9,7851 kJ/oC.
3
Percobaan 2 : Penentuan kalor reaksi larutan
Diketahui :
m CaCl2 = 5 gram
m air = 1 gr/ml x 50 ml = 50 gram
mtotal = 55 gram
Total volume air = 100 ml
Ckal = 0,5182 kJ/C
Ditanya :
qreaksi dan qpengenceran =?
Jawab :
Pengamatan 1 :
qlarutan = m . c. (takhir tawal)
= 55 gram x 4,184 J/gC x (35C -28,8C)
= 55 gram x 4,184 J/gC x 6,2C
= 1426,74 J = 1,4267 kJ
qkal = Ckal . (takhir tawal)
= 0,5182 kJ/C x (35C -28,8C)
= 0,5182 kJ/C x 6,2C
= 3,21284 kJ
qreaksi = - (qlarutan + qkal)
= - (1,4267 kJ + 3,21284 kJ)
= - 4,63954 kJ
qlarutan = m . c. (takhir tawal)
= 55 gr x 4,184 J/gC x (32C 34C)
= 55 gr x 4,184 J/gC x (-2)C
= -460,24 J
= -0,46024 kJ
qkal = Ckal . (takhir tawal)
= 0,5182 kJ/C x (32C 34C)
= 0,5182 kJ/C x (-2)C
= - 1,0364 kJ
qpengenceran = - (qlarutan + qkal)
= - (-0,46024 kJ + (- 1,0364) kJ)
= 1,49664 kJ

Pengamatan 2 :
qlarutan = m . c. (takhir tawal)
= 55 gram x 4,184 J/gC x (35C -28,8C)
= 55 gram x 4,184 J/gC x 6,2C
= 1426,74 J = 1,4267 kJ
qkal = Ckal . (takhir tawal)
= 0,5182 kJ/C x (35C -28,8C)
= 0,5182 kJ/C x 6,2C
= 3,21284 kJ
qreaksi = - (qlarutan + qkal)
= - (1,4267 kJ + 3,21284 kJ)
= - 4,63954 kJ
qlarutan = m . c. (takhir tawal)
= 55 gr x 4,184 J/gC x (32C 33C)
= 55 gr x 4,184 J/gC x (-1)C
= -230,12 J
= -0,23012 kJ
qkal = Ckal . (takhir tawal)
= 0,5182 kJ/C x (32C 33C)
= 0,5182 kJ/C x (-1)C
= - 0,5182 kJ
qpengenceran = - (qlarutan + qkal)
= - (-0,23012 kJ + (- 0,5182 kJ) )
= 0,74832 kJ
Pada praktikum kali ini membahas tentang Termokimia dan digunakan
beberapa larutan yang disediakan, diantaranya HCl, NaOH, air dan larutan CaCl2 .
Pada percobaan pertama diukur temperatur dari masing masing larutan dan
didapatkan bahwa temperatur 50 ml HCl 1M sebesar 29C dan temperatur 50 ml
larutan NaOH 1M sebesar 29C. Kedua larutan tersebut, HCl dan NaOH
dimasukkan kedalam kalorimeter secara bersamaan dan diaduk dengan
menggunakan batang pengaduk. Pada saat yang sama, diukur temperatur
campuran kedua larutan dengan termometer. Didapatkan suhu campurannya
sebesar 35C. Percobaan diulangi kembali dan didapat temperatur 50 ml HCl 1M
sebesar 29C begitupula temperatur 50 ml larutan NaOH 1M sebesar 29C. Kedua
larutan tersebut, HCl dan NaOH dimasukkan kembali ke dalam kalorimeter secara
bersamaan dan diaduk dengan menggunakan batang pengaduk. Pada saat yang
sama, diukur temperatur campuran kedua larutan dengan termometer. Didapatkan
suhu campurannya sebesar 35C. Percobaan dilakukan kembali untuk yang ketiga
kalinya dan didapatkan temperatur 50 ml HCl 1M sebesar 29C dan temperatur 50
ml larutan NaOH 1M sebesar 29C. Kedua larutan tersebut, HCl dan NaOH
dimasukkan kedalam kalorimeter secara bersamaan dan diaduk dengan
menggunakan batang pengaduk. Pada saat yang sama, diukur temperatur
campuran kedua larutan dengan termometer. Didapatkan suhu campurannya
sebesar 35C.
Apabila suhu awal dari masing-masing larutan serta suhu maksimal campuran
larutan telah diketahui, maka dilakukan pengukuran kapasitas kalorimeter yaitu
sebesar 9,7851 kJ/oC.
Percobaan kedua menggunakan air dan larutan CaCl2. Diukur temperatur air
dan didapatkan bahwa temperatur air sebesar 28,8C. Kemudian, air dan CaCl2
dimasukkan kedalam kalorimeter secara bersamaan dan diaduk dengan
menggunakan batang pengaduk. Pada saat yang sama, diukur temperature
maksimal dan temperatur stabil dari campuran kedua larutan dengan termometer.
Didapatkan suhu maksimal yang dicapai campurannya sebesar 35C dan stabil
pada 34C. Kemudian ditambahkan kembali 50 ml air dan dihitung temperaturnya
dengan menggunakan termometer. Didapatkan temperaturnya yaitu 32C.Kalor
reaksi untuk larutan CaCl2 diperoleh sebesar -4,63954 kJ, sedangkan kalor
pengenceran diperoleh sebesar 1,49664 kJ.
Percobaan ini diulangi sekali lagi, dimulai dari pengukuran suhu air,
didapatkan bahwa temperatur air sebesar 28,8C. Lalu, air dan CaCl2 dimasukkan
kedalam kalorimeter secara bersamaan dan diaduk dengan menggunakan batang
pengaduk. Pada saat yang sama, diukur temperature maksimal dan temperatur
stabil dari campuran kedua larutan dengan termometer. Didapatkan suhu
maksimal yang dicapai campurannya sebesar 35C dan stabil pada 33C.
Kemudian ditambahkan kembali 50 ml air dan dihitung temperaturnya dengan
menggunakan termometer. Didapatkan temperaturnya yaitu 32C. Kalor reaksi
untuk larutan CaCl2 diperoleh sebesar - 4,63954 kJ, sedangkan kalor pengenceran
diperoleh sebesar 0,74832 kJ.
Faktor-faktor yang mempengaruhi besar atau kecilnya kalor baik yang
diterima maupun dilepaskan yaitu sumber kalor, karena adanya sumber kalor
mempengaruhi proses penyampaian kalor tersebut. Selain itu karena massa atau
berat dari benda tersebut, dimana semakin berat benda yang menerima atau
melepaskan kalor maka semakin banyak pula jumlah energi panas atau kalor yang
diberikan. Selanjutnya adalah faktor jenis dari zat tersebut, karena untuk
menentukan suatu kalor maka diperlukan kalor jenis dari benda yang hanya
didapat dengan menentukan jenis zat. Terakhir adalah faktor perubahan suhu
karena besar atau kecilnya kalor bergantung pada tinggi rendahnya suhu.

VII.Simpulan
Dari Percobaan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan yaitu :
1. Kalorimeter adalah alat untuk perubahan entalpi. Kalorimeter yang biasa
digunakan adalah kalorimeter sederhana, kalorimeter sederhana dapat
diibuat dari gelas atau wadah yang bersifat isolator, misalnya gelas
styrofoam atau plastik yang bersifat isolator.
2. Kapasitas kalor (C) adalah jumlah kalor yang dibutuhkan untuk
menaikkan temperatur sejumlah tertentu zat sebesar satu derajat celcius,
sedangkan Kalor jenis (s) yaitu jumlah kalor yang dibutuhkan untuk
menaikkan temperatur satu gram zat sebesar satu derajat celcius.
3. Suhu campuran dari HCl dan NaOH sebesar 35oC.
4. Kapasitas kalorimeter rata-rata dalam percobaan ialah sebesar 9,7851
kJ/oC
5. Pengamatan 1 : qreaksi= - 4,63954 kJ dan qpengenceran= 1,49664 kJ.
Pengamatan 2 : qreaksi= - 4,63954 kJ dan qpengenceran= 0,74832 kJ.
DAFTAR PUSTAKA

Atkins, P.W . 1990 . Kimia Fisika Jilid I Edisi 6 Penerjemah : Kartohadiprojo .


Jakarta : Erlangga.

Brady, J.C . 1999 . Kimia Universitas : Asas dan Struktur Jilid I Edisi 5
Penerjemah : Sukmanah, Ramiarti, Anas dan Sally . Jakarta : Binarupa
Aksara.

Alberty, R.A dan Daniel F . 1992 . Kimia Fisika Jilid I Edisi 5 Penerjemah :
Sudja . Jakarta: Erlangga.

Keenan, CW. Kleifelter, DC & Nood, JH. 1984 . Ilmu Kimia untuk Universitas
Edisi 6 Jilid 1 Alih Bahasa : Pudjaatmaka. Jakarta : Erlangga.

Chang, R. 2004 . Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti Edisi 3 Jilid 2 Alih Bahasa:
Muhammad Abdul Kadir Martoprawiro, Ph.D. dkk. Jakarta : Erlangga.

Bird, T. 1993 . Kimia Fisik untuk Universitas . Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Chang, R. 1995 . Chemistry. USA : Random House.

Aleksishvli, M. & Sidamonidze S. 2002 . Problems In Chemical Thermodynamics


With Solution . Singapura : Word Scientific Publishing Co Ptc. Ltd.

Anonim. 2012. Termokimia dan Entalpi. http://ramadhanakurnia.blogspot.com.


Diakses pada tanggal 31 Maret 2017.

Team Kimia Dasar . 2017 . Penuntun Praktikum Kimia Dasar II . Bukit Jimbaran :
Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana.