You are on page 1of 10

KEJADIAN VENTILATOR ASSOCIATED PNEUMONIA (VAP) PADA KLIEN DENGAN

VENTILASI MEKANIK MENGGUNAKAN INDIKATOR CLINICAL PULMONARY


INFECTION SCORE (CPIS)
(The Incident of Ventilator Associated Pneumonia (VAP) to Patient with Mechanical Ventilation
using Clinical Pulmonary Infection Score (CPIS) Indicators)

Dally Rahman*, Emil Huriani*, Ema Julita**


* Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas,
Kampus Universitas Andalas Limau Manis Padang
E-mail: dally_rahman@yahoo.co.id
**Rumah Sakit Dr M Djamil Padang

ABSTRACT
Introduction: Ventilator Associated Pneumonia (VAP) is defined as nosocomial pneumonia that occurs
48 hours after using mechanical ventilation. The incident of VAP in Dr. M. Djamil Padang Hospital
was still high when compared to other hospitals that reached only 9%. Nursing intervention that can
be used to avoid VAP is endotracheal secretions suctioning. However, the results of the intervention
has not been evaluated by using standardized measuring tool. The purpose of this study was to
determine the description of signs differences of VAP on first and third day to clients with mechanical
ventilation who were performed endotracheal secretions suctioning in ICU Dr. M. Djamil Hospital
Padang 2011. Method: The type of this study was a descriptive analytic. The samples were 15 who had
a mechanical ventilation during minimal 3 days. Respondents were derived by Accidental Sampling
by using Simplified Version of CPIS as a measuring tool. The statistic test is paired t-test. Result: The
result of this study showed that there was a significant difference of the signs of VAP on the first and the
third day with p=0,048 (< 0.05). Discussion: There were significant difference on symptom of VAP in
mechanically ventilated patient in day 1 and day 3. Simplified version of CPIS was sensitive in early
determining VAP. Simplified Version of CPIS are expected to be included in standard procedures of
patient management and assessment intervention of endotracheal secretions suctioning.

Keywords: Ventilator Associated Pneumonia, endotracheal secretions suctioning, simplified version


of CPIS

PENDAHULUAN saluran nafas bagian atas dan tersedianya


jalan masuk bakteri secara langsung. Karena
Ventilasi mekanik adalah alat bantu
terbukanya saluran nafas bagian atas akan
pernafasan bertekanan negatif atau positif yang
terjadi penurunan kemampuan tubuh untuk
dapat mempertahankan ventilasi dan pemberian
menyaring dan menghangatkan udara. Selain
oksigen dalam waktu yang lama (Brunner dan
itu, reflek batuk sering ditekan atau dikurangi
Suddart, 1996). Sejalan dengan penggunaan
dengan adanya pemasangan ETT, dan gangguan
ventilasi mekanik juga dilakukan intubasi.
pada pertahanan silia mukosa saluran nafas
Intubasi adalah teknik melakukan laringoskopi karena adanya cidera pada mukosa pada saat
dan memasukkan Endotracheal Tube (ETT) intubasi dilakukan, sehingga akan menjadi
melalui mulut atau melalui hidung (Elliott, tempat bakteri untuk berkolonisasi pada trakea.
Aitken dan Chaboyer, 2007). Keadaan ini akan mengakibatkan peningkatan
Terpasangnya ETT akan menjadi produksi dan sekresi sekret (Agustyn, 2007).
jalan masuk bakteri secara langsung menuju Sekret dalam saluran nafas akan tergenang
saluran nafas bagian bawah. Hal ini akan dan menjadi media untuk pertumbuhan bakteri
mengakibatkan adanya bahaya antara saluran (Agustyn, 2007), sehingga pengisapan sekret
nafas bagian atas dan trakea, yaitu terbukanya endotrakheal merupakan intervensi yang

126
Kejadian Ventilator Associated Pneumonia (VAP) (Dally Rahman)

sering dibutuhkan pada pasien yang sedang per hari selama 5 hari pertama, 2% per hari
diintubasi (Elliott, Aitken, dan Chaboyer, selama 610 hari, dan 1% per hari setelah
2007). Pengisapan sekret endotrakheal 10 hari (Amanullah dan Posner, 2010).
dibutuhkan untuk mengeluarkan sekret dan Insiden VAP pada pasien yang mendapat
menjaga kepatenan jalan nafas. Sedangkan, ventilasi mekanik sekitar 22,8%, dan pasien
frekuensinya tergantung pada kesehatan klien yang mendapat ventilasi mekanik menyumbang
(Kozier, 1995). Selanjutnya, teknik suction sebanyak 86% dari kasus infeksi nosokomial.
yang aseptik saat melakukan pengisapan pada Selanjutnya risiko terjadinya pneumonia
ETT penting untuk mencegah kontaminasi di meningkat 310 kali lipat pada pasien yang
saluran nafas (Agustyn, 2007). mendapat ventilasi mekanik (Agustyn, 2007).
VAP didefinisikan sebagai pneumonia VAP mempunyai banyak risiko, akan
yang terjadi 48 jam atau lebih setelah ventilator tetapi, banyak intervensi keperawatan yang
mekanik diberikan. VAP merupakan bentuk dapat menurunkan insiden VAP. Tindakan
infeksi nosokomial yang paling sering ditemui yang dapat dilakukan untuk mencegah VAP di
di unit perawatan intensif (UPI), khususnya antaranya cuci tangan dan pemakaian sarung
pada pasien yang menggunakan ventilator tangan sebelum dan sesudah melakukan
mekanik (Wiryana, 2007). tindakan, dekontaminasi oral, intervensi
Diagnosa VAP secara klinis ditegakkan farmakologis oral, stress ulcer prophilaxis,
berdasarkan adanya demam (> 38,3 C), pengisapan sekret endotrakheal, perubahan
leukositosis (> 10.000 mm3), sekret trakea posisi klien, posisi semi-fowler, pengisapan
bernanah dan adanya infiltrat yang baru atau sekret orofaring dan pemeliharaan sirkuit
menetap dari radiologi. Definisi tersebut ventilator (Agustyn, 2007).
mempunyai sensitivitas yang tinggi namun Peninjauan sistematis dan meta-analisis
spesifisitasnya rendah (Joseph, Sistla, Dutta, oleh Melsen (2009) dikutip dari Amanullah
Badhe dan Parija, 2010). Diagnosa VAP dengan dan Posner (2010) tidak menemukan bukti
spesifisitas yang tinggi dapat dilakukan dengan kematian disebabkan VAP pada pasien dengan
menghitung Clinical Pulmonary Infection trauma atau sindrom gangguan pernapasan
Score (CPIS) yang mengkombinasikan data akut. Pemusatan data pada 17.347 pasien
klinis, laboratorium, perbandingan tekanan menunjukkan bahwa di antara pasien trauma,
oksigen dengan fraksi oksigen (PaO2/FiO2) risiko relatif diperkirakan adalah 1,09, dan
dan foto toraks (Luna, 2003). di antara pasien dengan sindrom gangguan
Penelitian tentang perbandingan CPIS pernapasan akut, risiko relatif adalah 0,86.
dan kriteria klinik dalam mendiagnosis VAP Melsen (2009) dikutip dari Amanullah dan
pada pasien ICU yang komplek menunjukkan, Posner (2010) menemukan bukti untuk
40 orang pasien yang dirawat di ICU dengan kematian yang terjadi antara subkelompok
umur rata-rata adalah 14,859,6 tahun. Lama pasien lain, tetapi risiko ini tidak dapat dihitung
hari rawat di ICU antara 14,519,2 hari dengan karena heterogenitas dalam hasil studi. Hasil
rata-rata durasi penggunaan ventilator mekanik juga terkait dengan waktu terjadinya VAP.
12,313,6 hari. Sensitivitas menunjukkan Awal-onset pneumonia terjadi dalam 4 hari
35,3% dan 78,3% pada hari pertama dan pertama rawat inap, sedangkan akhir-onset
ketiga dari hari rawat masing-masing pasien. VAP terjadi 5 hari atau lebih setelah masuk.
Spesifisitas menunjukkan 95,7% dan 81,3% Akhir-onset pneumonia biasanya dikaitkan
pada hari pertama dan hari ketiga dari hari dengan organisme Multi Drugs Resistance
rawat masing-masing pasien (Tan, Banzon, (MDR).
Ayuyao dan Guia, 2007). Meskipun belum ada penelitian
VAP merupakan komplikasi di sebanyak mengenai jumlah kejadian VAP di Indonesia,
28% dari pasien yang menerima ventilasi namun berdasarkan kepustakaan luar negeri
mekanik. Kejadiannya meningkat seiring diperoleh data bahwa kejadian VAP cukup
dengan peningkatan durasi penggunaan ventilasi tinggi, bervariasi antara 927% dan angka
mekanik. Estimasi insiden adalah sebesar 3% kematiannya bisa melebihi 50%. Faktor-faktor

127
Jurnal Ners Vol. 6 No. 2 Oktober 2011: 126135

risiko yang berhubungan dengan VAP seperti CPIS dapat mengidentifikasi VAP secara
usia, jenis kelamin, trauma, Penyakit Paru dini (Luna, 2003). Pembuatan diagnosa VAP
Obstruktif Kronik (PPOK) dan lama pemakaian secara dini sangat penting untuk menurunkan
ventilasi telah banyak diteliti. Sebagian besar biaya, angka kesakitan dan kematian serta
faktor risiko tersebut merupakan predisposisi lamanya tinggal dirumah sakit (Agustyn,
kolonisasi mikroorganisme patogen saluran 2007). Selain itu, CPIS dapat digunakan
cerna maupun aspirasi (Wiryana, 2007). sebagai alat yang sensitif untuk mendefenisikan
Saanin (2006) dikutip dari Yuldanita waktu yang tepat untuk memulai terapi VAP
(2009) mengemukakan bahwa insiden VAP (Luna dkk, 2006). Dengan demikian terapi
di Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang pada antibiotik dapat diberikan dengan tepat dalam
klien yang menggunakan ventilasi mekanik menurunkan angka kematian. Pemberian
dan intubasi adalah 1559%. Tingginya angka antibiotik yang tidak tepat dapat meningkatkan
infeksi nosokomial ini tidak terlepas dari biaya, menimbulkan risiko reaksi obat yang
peranan tenaga kesehatan terutama tenaga merugikan dan resistennya flora normal
keperawatan sebagai tenaga mayoritas di terhadap antibiotik tersebut (Gillespie, 2009).
rumah sakit ini.
Data laporan surveilans Pencegahan dan
BAHAN DAN METODE
Pengendalian Infeksi Rumah Sakit (PPIRS)
Dr. M. Djamil Padang (2010), insiden VAP Jenis penelitian ini adalah penelitian
yang terjadi di ICU RS Dr. M. Djamil Padang deskriptif analitik dengan sampel adalah
pada klien yang menggunakan ventilasi 15 orang pasien yang dirawat di ruangan ICU
mekanik dan intubasi adalah 15,52%. Data ini RS Dr. M. Djamil Padang yang menggunakan
masih menggambarkan tingginya angka VAP ventilator mekanik. Teknik pengambilan
di rumah sakit ini. sampel dalam penelitian ini adalah accidental
Hasil penelitian tentang hubungan sampling, dengan kriteria inklusi sampel adalah
pengetahuan dan sikap perawat dengan pasien dengan ventilasi mekanik minimal
tindakan pencegahan VAP di unit perawatan 72 jam dengan berbagai indikasi dengan skor
intensif RS Dr. M. Djamil Padang didapat CPIS awal < 5. Kriteria eksklusi sampel adalah
kesimpulan sebanyak 60% perawat di unit klien dengan ventilasi mekanik karena COPD,
perawatan intensif RS Dr. M. Djamil padang infeksi dan tuberkulosis paru. Pengambilan
memiliki tingkat pengetahuan tinggi tentang data dilakukan selama 2,5 bulan.
tindakan pencegahan VAP, sebanyak 72% Instrumen pengumpulan data yang
perawat memiliki sikap positif tentang digunakan berupa lembar observasi berbentuk
tindakan pencegahan VAP dan sebanyak 60% check list yang digunakan untuk melihat tanda-
perawat melakukan tindakan yang baik dalam tanda VAP yang mengacu pada simplified
pencegahan VAP. Hal ini menggambarkan version of CPIS (suhu, jumlah leukosit, sekresi
bahwa ruang perawatan intensif RS Dr. M. trakea, oksigenasi dan foto toraks) (Luna, 2003).
Djamil Padang sudah melakukan tindakan Suhu tubuh klien diukur setiap 3 jam sekali
pencegahan VAP dengan cukup baik (Yuldanita, dalam rentang waktu 12 jam dan diambil nilai
2009). tertinggi. Jumlah leukosit diketahui melalui
Hasil survei awal peneliti menunjukkan pemeriksaan darah satu kali dalam satu hari.
bahwa pengisapan sekret endotrakheal pada Oksigenasi dinilai dengan membagi hasil
pasien yang terpasang ventilasi mekanik telah Analisa Gas Darah (AGD) yaitu PaO2 dengan
dilakukan sesuai dengan Standar Operasional konsentrasi/FiO2 yang diberikan seperti yang
Prosedur (SOP) ICU RS Dr. M. Djamil Padang. tertera pada ventilator mekanik dan data yang
Akan tetapi, untuk menilai kemajuan pasien diambil adalah nilai terendah dari hasil tersebut
selama tindakan keperawatan belum dilakukan minimal satu kali atau sesuai dengan frekuensi
dengan menggunakan alat ukur terstandar pemeriksaan analisa gas darah arteri.
CPIS. Sekresi trakea dinilai selama 4 jam dan
jumlah sekresi dihitung dengan mengukur tinggi

128
Kejadian Ventilator Associated Pneumonia (VAP) (Dally Rahman)

cairan sekresi dari dasar tabung penampung ke Jumlah responden yang memiliki total
permukaan. Foto toraks hari I dilakukan pada skor simplified version of CPIS hari I adalah
semua pasien yang masuk ke ICU. Foto toraks 1 sebanyak 1 orang (6,7%), skor CPIS 2
hari III dinilai jika ada indikasi foto toraks pada sebanyak 3 orang (20%), skor CPIS 3 sebanyak
pasien sesuai standar operasional prosedur 8 orang (53,3%), dan skor CPIS adalah 4
ICU RS Dr. M. Djamil Padang. Jika pada hari sebanyak 3 orang (20%). Pada hari ke-3,
III tidak ada indikasi foto toraks, maka skor jumlah responden yang memiliki total skor
diberikan nilai 0. Observasi hari III dilakukan CPIS adalah 0 sebanyak 2 orang (20%), skor
pada pasien antara 4872 jam intubasi. CPIS adalah 1 sebanyak 5 orang (33,3%), skor
Analisa data dilakukan secara bertahap CPIS 2 sebanyak 5 orang (33,3%), dan skor
dimulai dengan analisa univariat untuk CPIS adalah 5 sebanyak 3 orang (20%) (Grafik
menggambarkan distribusi dari masing-masing 1). Adapun distribusi frekuensi responden
indikator pada simplified version of CPIS. berdasarkan tanda-tanda VAP pada hari I dan
Selanjutnya, analisa bivariat dilakukan dengan hari 3 dapat dilihat pada Tabel 1.
menggunakan uji T berpasangan dengan tingkat Terdapat penurunan rata-rata total skor
kemaknaan p < 0,05 yang dilakukan dengan simplified version of CPIS hari I dari 2,87
komputerisasi. menjadi 2,00 pada hari III yaitu sebesar 0,867.
Di samping itu diketahui pula penurunan
total skor simplified version of CPIS terbesar
HASIL
adalah 3 dan peningkatan terbesar adalah 2.
Responden sebanyak 15 orang yang Selanjutnya berdasarkan uji statistik dengan
telah terkumpul datanya terdapat sebanyak menggunakan uji t-berpasangan diperoleh nilai
9 orang (60%) berumur 2040 tahun, sebanyak kemaknaan p = 0,048. Hal ini berarti secara
3 orang berusia 4060 tahun dan sebanyak statistik pada tingkat kemaknaan p < 0,05
3 orang berusia lebih dari 60 tahun. Selanjutnya, terdapat perbedaan rata-rata yang bermakna
sebanyak 9 orang (60%) berjenis kelamin laki- antara total skor simplified version of CPIS
laki. Diagnosa medis pasien menunjukkan Hari I dan Hari III.
sebanyak 6 orang (40%) memiliki diagnosa
medis post laparatomy karena berbagai sebab,
PEMBAHASAN
sebanyak 4 orang (26,4%) memiliki diagnosa
medis post kraniotomi karena berbagai sebab Hari I sebanyak 14 orang mengalami
dan 5 orang yang lainnya juga merupakan demam, yaitu sebanyak 11 orang (73,3%)
pasien post operasi. memiliki suhu 38,538,9 C, sedangkan

9
8 8
7
6
ens
i

5 5 5 Hari 1
e u
k

4 Hari 3
Fr

3 3 3 3
2 2
1 1
0 0 0 0
1 2 3 4 5 6
Total Skor CPIS

Grafik 1. Perbandingan frekuensi total skor CPIS hari 1 dan hari 3 pada
responden dengan ventilasi mekanik yang dilakukan penghisapan
sekret endotrakeal.

129
Jurnal Ners Vol. 6 No. 2 Oktober 2011: 126135

Tabel 1. Distribusi frekuensi responden berdasarkan tanda-tanda VAP hari 1 dan hari 3
Hari 1 Hari 3
No. Tanda-Tanda VAP
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
1. Suhu ( C)
Skor 0 (36,538,4) 1 6,7 6 40
Skor 1 (38,538,9) 11 73,3 8 53,3
Skor 2 ( 39 atau 36) 3 20 1 6,7
Total 15 Orang 100 15 Orang 100
2. Leukosit/mm3
Skor 0 (400011000) 2 13,3 5 33,3
Skor 1 (< 4000 atau > 11000) 13 86,7 10 66,7
Total 15 Orang 100 15 Orang 100
3. Sekresi Trakea
Skor 0 (Sedikit) 8 53,3 10 66,7
Skor 1 (Sedang) 7 46,7 3 20
Skor 2 (Sedang + Bernanah) 0 0 2 13,3
Skor 2 (Banyak) 0 0 0 0
Total 15 Orang 100 15 Orang 100
4. Oksigenasi PaO2/FiO2
Skor 0 (> 240 atau ARDS) 12 80 15 100
Skor 2 ( 240 dan tidak ARDS) 3 20 0 0
Total 15 Orang 100 15 Orang 100
5. Foto Toraks
Skor 0 (Tidak Ada Infiltrat) 15 100 12 80
Skor 1 (Bercak atau Infiltrat Difus) 0 0 3 20
Skor 2 (Infiltrat Terlokalisir) 0 0 0 0
Total 15 Orang 100 15 Orang 100

3 orang (20%) memiliki suhu di atas Hari I sebanyak 13 orang (86,7%)


39 C. Marik (2000) menjelaskan dalam hasil responden memiliki jumlah leukosit yang
penelitiannya sebagian besar demam yang meningkat di atas 11.000/mm3. Mekanisme
timbul di ICU bukan karena infeksi melainkan patofisiologi penting yang menyebabkan
disebabkan oleh proses inflamasi dari cidera tingginya jumlah leukosit adalah respons
jaringan. Demam dengan sebab yang tidak sumsum tulang yang normal terhadap
pasti biasanya digambarkan oleh suhu yang rangsangan eksternal dan gangguan sumsum
tidak lebih dari 38,9 C. Oleh karena itu, jika tulang primer. Leukositosis dapat terjadi
peningkatan suhu di atas ambang batas ini harus sebagai respons terhadap rangsangan eksternal
dipertimbangkan pasien memiliki penyebab seperti infeksi, inflamasi, obat-obatan, trauma,
demam oleh infeksi. Di samping itu, demam keganasan, keracunan, olahraga dan gangguan
juga dapat disebabkan oleh proses transfusi kejiwaan. Selain itu, leukositosis dapat juga
darah. Demam ini biasanya dimulai 30 menit terjadi sebagai akibat dari leukimia akut,
sampai 2 jam setelah transfusi darah dan dapat leukimia kronis dan gangguan mieloproliferatif
berlangsung sampai 2 jam atau 24 jam setelah (Asadollahi, 2011).
transfusi.

130
Kejadian Ventilator Associated Pneumonia (VAP) (Dally Rahman)

Sekret juga menyumbang skor simplified Analisa peneliti terjadinya VAP pada
version of CPIS pada hari I. Dari 15 orang 3 orang (20%) responden dipengaruhi oleh
responden, sebanyak 7 orang (46,7%) faktor umur. Semua responden yang mendapat
responden telah memiliki sekret sedang. VAP berumur di atas 60 tahun. Joseph (2010)
Agustyn (2007) mengemukakan terpasangnya mengemukakan bahwa salah satu faktor risiko
ETT akan menjadi jalan masuk bakteri secara VAP yang berasal dari pasien adalah faktor
langsung menuju saluran nafas bagian bawah. umur. Pasien yang berada pada umur 60
Hal ini akan mengakibatkan adanya bahaya tahun akan semakin tinggi berisiko VAP. Hasil
antara saluran nafas bagian atas dan trakea, konsensus American Thoracic Society (1995)
yaitu terbukanya saluran nafas bagian atas menyatakan usia lanjut sangat rentan dengan
dan tersedianya jalan masuk bakteri secara peningkatan risiko VAP, terutama karena
langsung. Karena terbukanya saluran nafas peningkatan komorbiditas pada usia lanjut. Di
bagian atas akan terjadi penurunan kemampuan samping itu semakin meningkatnya usia akan
tubuh untuk menyaring dan menghangatkan terjadi penurunan dari kekebalan tubuh.
udara. Selain itu, reflek batuk sering ditekan Sebanyak 3 orang (20%) responden yang
atau dikurangi dengan adanya pemasangan mengalami VAP, 2 orang (13,3%) mempunyai
ETT, dan gangguan pada pertahanan silia diagnosa medis cidera kepala. Dunham dan
mukosa saluran nafas karena adanya cidera Chirichella (2011) menjelaskan angka kejadian
pada mukosa pada saat intubasi dilakukan. VAP yang diakibatkan oleh cidera traumatis
Dengan demikian, akan menjadi tempat bakteri berkisar dari kurang dari 20% sampai 4060%.
untuk berkolonisasi pada trakea dan akan Tingkat VAP dengan cidera otak traumatis yang
mengakibatkan peningkatan produksi dan substensial adalah 3245%, dikarenakan risiko
sekresi sekret. aspirasi paru setelah trauma. VAP mungkin
Hasil pengukuran oksigenasi akan menjadi masalah yang akan berlanjut
menunjukkan sebanyak 3 orang (20%) bagi lembaga yang mengelola pasien cidera
responden memiliki nilai oksigenasi yang otak parah.
< 240. Hal ini berkaitan dengan indikasi Nilai skor simplified version of CPIS
penggunaan ventilasi mekanik yaitu apnea yang banyak meningkat yaitu pada foto toraks.
atau risiko untuk tidak bisa bernafas, kegagalan Hari I semua responden (100%) tidak memiliki
pernafasan akut (biasanya digambarkan dengan infiltrat, sedangkan pada hari III terdapat 3 orang
pH 7,25 dengan PaCO2 50 mmHg), hipoksia (20%) responden memiliki infiltrat yang difus.
berat dan kelumpuhan otot pernafasan (Lewis, Infiltrat yang berada di dalam paru merupakan
2009). Selanjutnya tidak ada responden yang substansi yang masuk ke dalam paru. Infiltrat
memiliki infiltrat pada foto toraks. tampak sebagai area yang lebih terang pada
Hari III diintubasi dari 15 orang foto toraks dan menunjukkan daerah yang tidak
responden terdapat 12 orang (80%) yang terisi udara. Salah satu penyakit paru yang dapat
tidak mengalami VAP, sedangkan 3 orang menyebabkan infiltrat adalah pneumonia yang
(20%) lainnya mengalami VAP. Pada hari menyebabkan paru-paru meradang dan terisi
III, responden memiliki total skor simplified cairan. Foto toraks merupakan pemeriksaan
version of CPIS yang bervariasi. Nilai yang penunjang utama untuk menegakkan diagnosis
didapatkan ada yang menurun, meningkat dan pneumonia dengan menemukan gambaran
sama dibandingkan dengan hari I. radiologis berupa infiltrat (Perhimpunan
VAP merupakan komplikasi di sebanyak Dokter Paru Indonesia, 2003). Agustyn (2007)
28% dari pasien yang menerima ventilasi menambahkan diagnosis VAP paling sering
mekanik. Kejadiannya meningkat seiring didasarkan pada adanya infiltrat baru atau
dengan peningkatan durasi penggunaan ventilasi progresif pada foto toraks.
mekanik. Estimasi insiden adalah sebesar 3% Nilai oksigenasi hari III merupakan nilai
per hari selama 5 hari pertama, 2% per hari yang paling banyak mengalami penurunan.
selama 610 hari, dan 1% per hari setelah Hasil pengukuran menunjukkan terjadi
10 hari (Amanullah dan Posner, 2010). penurunan skor simplified version of CPIS dari

131
Jurnal Ners Vol. 6 No. 2 Oktober 2011: 126135

semua responden (100%). Jika dibandingkan 14,519,2 hari dengan rerata durasi penggunaan
dengan hari I terjadi kenaikkan dari nilai ventilator mekanik 12,313,6 hari. Sensitivitas
oksigenasi pada 3 orang (20%) responden. Hal CPIS menunjukkan 35,3% dan 78,3% pada
ini menggambarkan bahwa terjadi kemajuan hari pertama dan ketiga dari hari rawat masing-
pada pasien terhadap tindakan pengisapan masing pasien. Spesifisitas CPIS menunjukkan
sekret endotrakheal yang dilakukan oleh 95,7% dan 81,3% pada hari pertama dan hari
perawat di samping penggunaan ventilator ketiga dari hari rawat masing-masing pasien.
dengan pengaturan yang sesuai. Hal ini sesuai Luna (2003) menambahkan pengukuran skor
dengan kesimpulan penelitian Luna (2003) CPIS dapat menentukan perjalanan klinis
yang mengemukakan bahwa rasio PaO2/FiO2 resolusi VAP dengan indentifikasi yang paling
jauh lebih akurat dan cepat mengukur respons baik dilakukan pada hari III.
pasien terhadap terapi. Nilai rasio PaO2/FiO2 Penelitian ini juga menemukan dari
akan meningkat secara cepat pada pasien yang 3 orang (20%) responden yang mengalami
mendapat terapi yang adekuat. VAP, sebanyak 2 orang (13,3%) mengalami
Hasil pengukuran simplified version penurunan suhu. Selanjutnya tidak terjadi
of CPIS hari III menunjukkan sebanyak perubahan jumlah leukosit dan oksigenasi
9 orang masih mengalami demam. Sebanyak pada semua responden. Akan tetapi, semua
8 orang (53,3%) memiliki suhu 38,538,9 C, responden mengalami peningkatan jumlah
sedangkan 1 orang (6,7%) memiliki suhu di sekret. Dengan demikian tanda VAP yang
atas 39 C. Jika dibandingkan dengan hari I benar-benar terlihat pada responden adalah
sebanyak 7 orang mengalami penurunan suhu. peningkatan jumlah sekret. Sejalan dengan itu,
Disamping itu, 10 orang (66,7%) responden setelah dikonfirmasi dengan menggunakan foto
memiliki jumlah leukosit di atas 11.000/mm3. toraks semua responden memiliki infiltrat.
Jika dibandingkan dengan hari I sebanyak Hasil penelitian ini juga sesuai dengan
3 orang mengalami penurunan jumlah leukosit. penelitian yang dilakukan Nurniti (2002) tentang
Dunham dan Chirichella (2011) mengemukakan efektivitas penghisapan sekret endotrakheal
bahwa respons inflamasi yang terjadi setelah terhadap pencegahan risiko pneumonia pada
48 jam trauma menunjukkan risiko untuk klien dengan ventilasi mekanik di ruang
munculnya VAP. ICU RS Adi Husada Undaan Surabaya
Sekret pada hari III menunjukkan yang mendapatkan kesimpulan penelitian
sebanyak 3 orang (20%) memiliki sekret yang ada pengaruh antara sebelum dan sesudah
sedang dan 2 orang (13,3%) memilki sekret perlakuan pengisapan sekret endotrakeal
sedang dan purulen. Jika dibandingkan dengan terhadap risiko pneumonia pada klien dengan
hari I terdapat penurunan jumlah sekret pada ventilator mekanik secara signifikan yaitu
5 orang (33,3%) responden. hasil uji statistik t-test p = 0,001 di bawah nilai
Penelitian ini menemukan adanya probabilitas 0,05.
VAP hari III pada 3 orang (20%) responden. Pengisapan sekret endotrakheal
Tanda-tanda VAP yang muncul pada 3 orang merupakan salah satu prosedur yang paling
responden tersebut adalah demam, leukositosis, umum dilakukan pada pasien dengan saluran
sekret yang meningkat dan disertai dengan ETT. Pengisapan sekret endotrakheal adalah
purulen pada 2 orang responden. Di samping komponen dari terapi kebersihan bronkial dan
itu, pada foto toraks didapatkan adanya infiltrat. ventilasi mekanik yang melibatkan aspirasi
Hal ini menunjukkan simplified version of secara mekanik sekresi paru pada ETT untuk
CPIS sensitif digunakan pada hari III. Tan dkk. mencegah obstruksi (American Association
(2007) dalam hasil penelitian mereka tentang for Respiratory Care, 2010). Pengisapan
perbandingan CPIS dan kriteria klinik dalam sekret endotrakeal merupakan tindakan yang
mendiagnosis VAP pada pasien ICU yang sangat penting pada pasien dengan ETT untuk
komplek menunjukkan, 40 orang pasien yang menghilangkan sekret dari jalan nafas dan
dirawat di ICU dengan umur rerata adalah memelihara permeabilitas jalan nafas (Lorente,
14,859,6 tahun. Lama hari rawat di ICU antara 2005).

132
Kejadian Ventilator Associated Pneumonia (VAP) (Dally Rahman)

Kozier (1995) mengatakan pengisapan memulai terapi VAP (Luna, 2006). Dengan
sekret endotrakheal dibutuhkan untuk demikian terapi antibiotik dapat diberikan
mengeluarkan sekret dan menjaga kepatenan dengan tepat dalam menurunkan angka
jalan nafas. Sedangkan, frekuensinya tergantung kematian. Pemberian antibiotik yang tidak tepat
pada kesehatan klien. Agustyn (2007) dapat meningkatkan biaya, menimbulkan risiko
menjelaskan pengisapan sekret endotrakheal reaksi obat yang merugikan dan resistennya
akan menurunkan jumlah sekret dan kolonisasi flora normal terhadap antibiotik tersebut
bakteri dalam saluran nafas, sehingga dapat (Gillespie, 2009).
mencegah terjadinya VAP. Kollef (1995) dalam penelitian mereka
Augustyn (2007) mengemukakan menemukan risiko kematian di rumah sakit
pencegahan VAP dapat dilakukan dengan meningkat pada pasien dengan late-onset VAP,
melakukan tindakan mencuci tangan, memakai karena kuman patogen yang berisiko tinggi.
sarung tangan, dekontaminasi oral, intervensi Mereka juga menemukan bahwa terjadinya
farmakologis oral, dan stress ulcer prophylaxis. pneumonia nasokomial karena kuman patogen
Di samping itu, pengisapan sekret endotrakheal, yang berisiko tinggi merupakan prediktor
perubahan posisi klien, posisi semifowler, dan terbaik kematian di rumah sakit di antara pasien
pemeliharaan sirkuit ventilator juga dapat dengan late-onset VAP.
mencegah terjadinya VAP. Hal ini dapat Simplified version of CPIS secara
menurunkan total skor dari simplified version statistik terbukti dapat mengidentifikasi VAP
of CPIS. secara dini (early onset). Di samping itu,
Gillepspie (2009) menjelaskan faktor dapat menentukan perjalanan klinis resolusi
risiko dari VAP terdiri dari faktor intervensi VAP dan menentukan waktu yang tepat untuk
dan faktor pasien. Faktor intervensi yang memulai terapi. Namun demikian, American
dapat menyebabkan berisiko VAP adalah Thoracic Society sampai saat ini masih
intubasi endotrakheal, peningkatan durasi menyarankan untuk menggunakan complete
penggunaan ventilasi mekanik, lama tinggal di version of CPIS, walaupun simplified version
rumah sakit, pemakaian alat yang memerlukan of CPIS telah mampu untuk mendeteksi
tindakan invasif (seperti: ETT, kateter, alat ukur VAP. Perbedaan antara keduanya adalah
pada pemeriksaan kultur. Penelitian ini turut
tekanan vena sentral), penggunaan antibiotik
menyumbang saran perlu dipikirkan kembali
sebelumnya (penggunaan sembarangan
efektivitas pemeriksaan kultur rutin pada hari
antibiotik), transfusi sel darah merah (efek
III intubasi.
imunomodulator), posisi terlentang, tindakan
pembedahan dan obat-obatan.
Penelitian ini menemukan 3 orang (20%) SIMPULAN DAN SARAN
responden yang mengalami VAP pada hari Simpulan
III. Hal ini menunjukkan bahwa VAP dapat
diketahui secara dini (early onset) dengan Terdapat penurunan skor CPIS dari
menggunakan simplified version of CPIS. hari I ke hari III pada pasien yang terpasang
CPIS dapat mengidentifikasi VAP secara ventilator mekanik di ICU Rumah Sakit Dr. M.
dini. Strategi untuk mempersingkat durasi Djamil Padang dari 2,87 menjadi 2,00. Terdapat
terapi dapat dilakukan dengan menentukan perbedaan yang bermakna antara tanda-tanda
perjalanan klinis resolusi VAP. Hal ini dapat VAP pada klien dengan ventilasi mekanik yang
dilakukan dengan mengukur skor CPIS yang dilakukan pengisapan sekret endotrakheal hari
paling baik dilakukan pada hari III (Luna, I dan hari III.
2003). Pembuatan diagnosa VAP secara dini
sangat penting untuk menurunkan biaya, angka Saran
kesakitan dan kematian serta lamanya tinggal Simplified version of CPIS dimasukkan
di rumah sakit (Agustyn, 2007). Selain itu, ke dalam protap pengelolaan pasien yang
CPIS dapat digunakan sebagai alat yang sensitif menggunakan ventilasi mekanik dan penilaian
untuk mendefenisikan waktu yang tepat untuk tindakan pengisapan sekret endotrakeal agar
dapat dilakukan secara rutin oleh perawat. Bagi

133
Jurnal Ners Vol. 6 No. 2 Oktober 2011: 126135

peneliti selanjutnya diharapkan melakukan lipidworld.com., diakses tanggal 18 Juli


penelitian membandingkan penggunaan CPIS 2011, jam 00.06 WIB).
dan simplified version of CPIS dalam menilai Elliot, D., Aitken, LM., Chaboyer, W., 2007.
tanda-tanda VAP hari I dan hari III pada klien Critical Care Nursing. Elsevier Australia:
dengan ventilasi mekanik yang dilakukan Mosby, hlm. 7389.
pengisapan sekret endotrakheal. Gillespie, R., 2009. Prevention and Management
of Ventilator-Associated Pneumonia
The Care Bundle Approach, (Online),
KEPUSTAKAAN (http://ajol.info/index.php., diakses
Amanullah, S., dan Posner, D.H., 2010. tanggal 15 Maret 2011, jam 22.11
Ventilator-Associated Pneumonia, WIB).
(Online), (http://emedecine.medscape. Joseph, et al., 2010. Ventilator-Associated
com., diakses tanggal 15 Maret 201, jam Pneumonia: A Review, (Online),
19.48 WIB). (http://xa.yimg.com/kq/groups
American Association for Respiratory Care, / 1 6 2 9 8 3 2 3 / 2 11 9 3 0 9 9 6 4 / n a m e /
2010. Endotracheal Suctioning of Review+NAV,+EJIM+2010.pdf.,
Mechanically Ventilated Patients With diakses tanggal 04 April 2011, jam
Artificial Airways 2010, (Online),(http:// 21.51 WIB).
rcjournal.com/cpgs/pdf., diakses tanggal Kollef, M.H., Silver, P., Murphy, D.M.,
22 Maret 2011, jam 21.05 WIB). Trovillion, E., 1995. The Effect of Late-
American Thoracic Society, 1995. Hospital- Onset: Ventilator-Associated Pneumonia
acquired Pneumonia in Adults: in Determining Patient Mortality,
Diagnosis, Assessment of Severity, (Online), (http://chestjournal.chestpubs.
Initial Antimicrobial Therapy, and org/content/108/6/1655. diakses tanggal
Preventative Strategies A Consensus 05 Juli 2011, jam 12.01 WIB).
Statement, (Online), (http://thoracic. Kozier, B., et al., 1995. Fundamental of Nursing
org/statements/resources/archive/hosp1- Concepts, Process, and Practiced. United
15.pdf., diakses tanggal 02 Juni 2011, States: Addison-Wesley Publishing
jam 21.04 WIB). Company, hlm. 508522.
Asadollahi, K., Hastings, I.M., Beeching, Lewis, 2007. Medical Surgical Nursing
N.J., Gill, G.V., Asadollahi, P., 2011. Assessment and Management of Clinical
Leukocytosis as an Alarming Sign for Problems. USA: Mosby, hlm.1751
Mortality in Patients Hospitalized 1768.
in General Wards., (Online), (http:// Lorente, et al., 2005. Ventilator-associated
ijms.sums.ac.ir/files/PDFfiles/09-Dr_ pneumonia using a closed versus
%20Asadollahi.pdf., diakses tanggal 15 an open tracheal suction system.
Juli 2011, jam 06.44 WIB). (Online), (http://portalsaudebrasil.com/
Agustyn, B., 2007. Ventilator-Associated artigosuti/resp366, diakses tanggal
Pneumonia Risk Factors and Preventions, 30 Maret 2011 jam 20.32 WIB).
(Online), (http://aacn.org/WD/CETests/ Luna, et al., 2006. Appropriateness and
Media/C0742.pdf, diakses tanggal 15 delay to initiate therapy in ventilator-
Maret 2011 jam 22.45 WIB). associated pneumonia. (Online), (http://
Brunner dan Suddart, 1997. Buku Ajar erj.ersjournals.com/content271158.full.
Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: pdf, diakses tanggal 27 April 2011 jam
Penerbit Buku Kedokteran: EGC, hlm. 21.43 WIB).
543567. Luna, CM., et al., 2003. Resolution of Ventilator-
Dunham, C.M., Chirichella, T.J., 2011. Associated Pneumonia: Prospective
Attenuated Hypocholesterolemia Evaluation of the Clinical Pulmonary
Following Severe Trauma Signals Infection Score as an Early Clinical
Risk for Late Ventilator-Associated Predictor of Outcome. (Online), (http://
Pneumonia, Ventilator Dependency, medscape.com/viewarticle/450885,
and Death: A Retrospective Study of diakses tanggal 01 Mei 2011 jam 00.24
Consecutive Patients. (Online), (http:// WIB).

134
Kejadian Ventilator Associated Pneumonia (VAP) (Dally Rahman)

Marik, P.E., 2000. Fever in The ICU. (Online), Tan, J.C., Banzon, A.G., Ayuyao, F., Guia T.D.,
(http://chestjournal. chestpubs.org/ 2007. Comparison of CPIS (Clinical
content/117/3/855.full, diakses tanggal Pulmonary Infection Score and Clinical
05 Juli 2011 jam 11.50 WIB). Criteria in the Diagnosis of Ventilator-
Nurniti, N., 2002. Efektivitas Penghisapan Associated Pneumonia in ICU Complex
Sekret Endotrakheal terhadap Patiens. (Online), (http://phc.gov.
Pencegahan Risiko Pneumonia pada ph/about-phc/journals/pdf/tan.pdf,
Klien dengan Ventilator Mekanik di diakses tanggal 20 Maret 2011 jam
Ruang ICU RS Adi Husada Undaan 23.14 WIB).
Surabaya. Skripsi: Tidak Dipublikasikan. Wiryana, M., 2007. Ventilator Associated
Surabaya: Universitas Airlangga. Pneumonia. (Online), (http://ejournal.
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah unud.ac.id/abstrak/ventilator%20associ
Sakit (PPIRS) Dr. M. Djamil Padang, ated%20pneumonia.pdf, diakses tanggal
2010. Laporan Surveilans PPIRS 06 Januari 2011 jam 21.21 WIB).
Dr. M. Djamil Padang 2010. Tidak Yuldanita, 2009. Hubungan Pengetahuan
dipublikasikan. dan Sikap Perawat dengan Tindakan
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003. Pencegahan Ventilator Associated
Pneumonia Komuniti. (Online), Pneumonia (VAP) di Unit Perawatan
(http://klikpdpi.com/konsensus/ Intensif RS Dr. M. Djamil Padang Tahun
konsensuspneumoniakom/pnkomuniti. 2009. Skripsi tidak Dipublikasikan.
pdf, diakses tanggal 02 Januari 2011 jam Padang: Universitas Andalas.
21.53 WIB).

135