You are on page 1of 7

Baby... baby... (Ch.

4)
Author : Ms. Yongyong

Title : Baby...baby... Chapter 4

Cast :

Kwon Ji Yong
Park Hae Yong (You)
Other

Genre : Romance, 17+, Chaptered

Twitter : @diina_mp

A/N : halohaaaaaa ms. Yongyong kembaliiii ada yg kangenkah? Hehe saya lagi dilanda
kegilaan gegara kehabisan ide nih reader. Jadi kalau part ini ajaib dikomen ya biar saya bisa
bikin yg lebih baik lagi hehe

Happy reading ^^

~Ch. 4 Begin...~

Hae Yongs Side

Tak perlu takut, aku akan mendampingimu di saat itu nantinya. Janji.

Aku menghela napas berat. Di setiap pijakan kakiku di butiran pasir yang terasa hangat, aku
mendesah. Kata-kata itu terus terngiang di telingaku selama beberapa minggu ini. Itu
membuatku sedikit tertekan karena hatiku jadi sangat berharap ia benar-benar akan ada
saat aku mengalami masa sulit itu nantinya. Mungkin sebagian besar wanita yang tengah
hamil sangat bahagia mendengar janji itu. Merasa hidup mereka bagaikan sempurna karena
ada sosok pria yang mencintai mereka yang setia mendampingi mereka di saat itu. Tapi
aku? Aku bahkan telah berniat akan menghilang dari kehidupannya saat kehamilanku
menginjak usia sembilan bulan nanti. Aku tak ingin bergantung padanya. Aku bukanlah
siapa-siapa. Aku merasa tak punya hak untuk hal itu. Dan aku tak ingin diriku terus
membutuhkannya setelah semua ini berakhir. Tapi kenapa hati ini terus saja berharap?
Selalu berangan bahwa aku akan merasakan betapa bahagianya melihat buah hatiku lahir di
dunia bersama seorang pria yang menggenggam tanganku, menghapus air mata haruku.
Memang itu adalah impian setiap wanita normal, termasuk aku. Tapi dengan situasi seperti
sekarang apakah aku masih berhak memimpikan itu? Kurasa tidak! Aku bukan lagi diriku
yang dulu, yang bisa memimpikan segala keindahan karena segala kelebihanku. Aku yang
sekarang sama sekali berbeda. Bukan lagi Park Hae Yong yang mengagumkan yang
membuat iri beberapa gadis lain. Aku bukanlah apa-apa saat ini, dan setelah ini. Tak ada lagi
yang bisa kubanggakan. Hidup bersama seorang anak tanpa sosok suami. Rasanya hanya
keburukan yang begitu menonjol di diriku kini. Bahkan aku mungkin tak akan siap
menghadapi hari esok yang kejam. Dicemooh, digunjingkan, dan dikucilkan. Mungkin aku
akan sulit beradaptasi dengan situasi itu.

Aegi-ya, apakah keputusanku untuk mempertahankanmu adalah sebuah kesalahan?


lirihku.

Aku terdiam sembari mengelus perutku dengan sayang. Sayang? Ya, aku sangat menyayangi
janinku. Entah sejak kapan aku juga tak terlalu ingat. Sepertinya melalu hari-hari bersama
calon manusia di rahimku selama beberapa bulan ini telah menumbuhkan rasa cinta dan
ingin melindungi di hatiku. Bahkan ada sedikit rasa membutuhkan. Aku seperti butuh
kehadirannya yang akan melalui hari-hari bersamaku kelak. Dan tak jarang juga aku
memimpikan betapa bahagianya menimang sosok mungil itu, merawatnya dan melihat
tumbuh kembangnya setiap hari. Begitukan perasaan seorang ibu yang menantikan buah
hatinya? Mungkin.

Aegi-ya. Maaf karena dulu aku begitu membencimu. Aku bahkan mengutuk kehadiranmu.
Maaf... tapi kini aku berjanji akan selalu menjaga dan menyayangimu. Aku bahkan akan
mempertaruhkan nyawaku demi dirimu, aegi-ya. Tapi kumohon, jangan pernah
membenciku atas apa yang telah terjadi. Jangan pernah membenciku karena kerasnya hari-
harimu kelak... butiran air mata mulai menetes membasahi pipiku.

Baby...baby...

Authors Side

Dari mana saja kau, Park Hae Yong-ssi?

Suara dingin itu menyambut Hae Yong bertepatan dengan pintu apartemen yang terbuka.
Menghasilkan suasana mencekam yang begitu kental mengelilinginya dan sosok pria yang
tengah bersandar di dinding. Dia menatap wanita itu tajam, mengerikan.

Kau tau jam berapa sekarang?

Hae Yong menunduk takut. Tak berani menatap raut wajah marah Ji Yong yang bahkan lebih
mengerikan daripada saat ia memarahinya waktu itu.

Jawab aku! Aku tak suka wanita yang hanya bisa diam saat melakukan kesalahan.

Maaf... gumam Hae Yong. Aku hanya bosan sendirian di sini. Aku hanya keluar melepas
jenuh.

Dengan menghilang dan meninggalkan ponselmu di kamar. Ji Yong menambahkan datar.

Membuat Hae Yong kembali menunduk.

Kau tau, aku mencarimu ke mana-mana. Aku buru-buru ke rumah sakit saat tak
mendapatimu di rumah, kukira kau sudah lebih dulu ke rumah sakit karena hari ini jadwal
check up mu. Tapi yang kudapatkan adalah ceramah dari Hyunsoo karena tak becus
menjagamu. Aku bahkan pergi ke apartemenmu, tapi tetap tak menemukanmu.

Wanita benar-benar ketakutan saat ini. Tak tau harus berbuat apa. Maaf...

Maaf? Hanya itukah yang bisa kau katakan? Ji Yong berteriak murka. Setelah semua ini
kau hanya bisa mengatakan maaf? Tak taukah kau betapa khawatirnya aku? Aku bahkan tak
bisa berpikir jernih karena tak bisa menemukanmu! Bagaimana jika terjadi hal yang buruk?
Janinmu lemah, Hae Yong-ssi! Bukanlah sesuatu yang baik jika kau pergi ke luar seorang diri,
itu bisa membahayakan dirimu!

Hae Yong memberanikan diri menatap Ji Yong, tepat di matanya. Tatapan nanar dengan
bola matanya yang bergerak-gerak takut. Ada apa denganmu? Kenapa begitu suka
membentakku? Aku tau aku salah, tapi bisakah menegurku dengan lembut? Aku tau
seberapa lemahnya diriku, dan aku tau bagaimana menjaga diriku. Kau tak perlu
menghawatirkanku. Aku tau, aku hanya beban bagimu, tapi kau tak berhak
memperlakukanku seperti ini! bentaknya tak kalah keras.

Ji Yong tersnyum lelah. Aku yang harusnya bertanya ada apa denganmu. Apakah yang
kulakukan selalu salah di matamu? Dulu ketika aku sibuk dengan diriku sendiri, kau meminta
pertemanan dariku. Sekarang ketika aku mulai memperhatikanmu, ingin menjagamu dan
menghawatirkanmu, kau melarangku. Sebenarnya apa maumu, Park Hae Yong?

Hae Yong terdiam. Ia hanya ingin melindungi hatinya. Ia tak ingin kebaikan Ji Yong
mencelakainya suatu hari nanti. Ia tak akan sanggup bertahan jika satu perasaan bernama
cinta itu bersarang dihatinya. Perasaan yang hanya akan menyiksanya setengah mati
karena mengharapkan Ji Yong yang tak akan bisa dimilikinya.

Tetesan air mata yang mengaliri pipi wanita itu tertangkap jelas oleh retina Ji Yong.
Membuat relungnya berteriak menahan perih. Entah karena apa dan sejak kapan, ia
merasakan perih di dadanya tiap kali melihat air mata mengaliri wajah cantik Hae Yong.
Perlahan Ji Yong melangkah mendekat. Diraihnya tubuh mungil Hae Yong, merengkuhnya
lembut. Aku tau, kau pasti bosan seharian terkurung di sini. Aku tidak melarangmu keluar.
Kau boleh kemanapun yang kau mau, tapi kau harus mengabariku agar aku tidak
menghawatirkanmu. Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi. Ujarnya smabri mengelur
helaian rambut ikal Hae Yong. Berusaha menenangkan wanita itu. Maaf, karena aku
membentakmu. Aku hanya terlalu menghawatirkanmu.

Hae Yong tak merespon apalagi membalas pelukan Ji Yong. Ia hanya terus menangis dalam
dekapan pria itu. Dalam tangis berusaha menata hati agar tak terjebak dalam kebaikan Ji
Yong.

Maaf... Aku memang egois... Tapi aku tak suka dibentak... gumam Hae Yong disela
isakannya yang tak kunjung berhenti.

Aku tak akan melakukannya lagi.

Baby...baby...
Pagi itu, apartemen Ji Yong yang biasanya begitu tenang dan diam terasa sedikit rusuh
karena suara-suara gaduh dan umpatan kesal dari sang pemilik. Suara itu berasal dari dapur
yang tak lagi jelas wujudnya karena begitu banyak barang-barang yang berserakan di mana-
mana. Membuat tak jarang pria itu terjatuh atau terpeleset dan kembali menghasilkan
teriakan frustasi yang keluar dari bibirnya. Namun hal itu tak menyurutkan semangatnya. Ia
terus mondar-mandir dari satu tempat ke tempat lain dengan membawa box yang berisi
masakan. Begitu sibuk dan berkonsentrasi pada pekerjaannya. Bahkan ia tak menyadari
hadirnya sosok lain yang memperhatikannya dengan tatapan heran tak jauh darinya.
Menyisiri sekeliling dapur yang terlihat sangat kacau dengan sepasang matanya yang masih
terlihat mengantuk.

Apa yang kau lakukan sepagi ini, Ji Yong-ssi? Ujarnya sembari melangkah pelan memasuki
dapur.

Kaget Ji Yong menoleh dan mendapati wanita yang tengah melangkah dengan mata
setengah terpejam itu semakin mendekatinya. Jangan kesini...... di sini berbahaya.
Teriaknya nyaring.

Hae Yong yang tadinya masih sangat mengantuk tiba-tiba tersadar seratus persen setelah
indranya menangkap teriakan nyaring Ji Yong yang sangat mengganggu itu. Ia terdiam di
tempat. Sepasang bola mata almond nya itu menatap Ji Yong heran. Apa yang kau
lakukan? Ini masih terlalu pagi untuk merusak dapur mewahmu. Tandas wanita itu tanpa
perasaan.

Jangan berkomentar jika itu tak akan membantuku! balas Ji Yong tak kalah sadisnya.

Aku tak ingin mencelakai diriku dan bayiku dengan memasuki medan perang yang kau
buat!

Aku tak meminta bantuanmu untuk menjadi salah satu prajurit di medan perangku!

Selamat berperang, Ji Yong-ssi! Semoga sukses!

Ji Yong ternganga. Dalam hati, segala macam umpatan dan makian diucapkannya. Kesal?
Tentu. Ia bahkan ingin melempari kepala Hae Yong dengan wajan panas jika mereka adalah
dua orang yang tak saling kenal, saking kesalnya. Mendengar kata-kata wanita itu membuat
semangatnya jatuh ke titik terendah, nyaris hilang sama sekali. Apa yang tengah
dilakukannya terasa akan sia-sia karena wanita itu sepertinya tak tertarik sama sekali. Ia
bahkan tak bertanya apa yang dibuatnya dan untuk apa di pagi-pagi buta seperti itu. Yang
ditanyakannya hanya apa yang tengah Ji Yong lakukan. Dan itu pasti sudah terjawab saat ia
melihat ke arah wajan. Hei, ia jelas-jelas sedang memasak sesuatu di pagi buta itu.

Dasar wanita tak berperasaan! umpat Ji Yong yang tanpa sadar terus melanjutkan
pekerjaannya di dapur.

Semburat mentari pagi yang menembus tirai menyadarkan Ji Yong bahwa ia telah begitu
lama berkutat di dapurnya. Tak penting baginya berapa jam dan seberapa lelahnya ia
menyiapkan semua itu. Ia hanya ingin menjalankan rencana yang tiba-tiba muncul di
benaknya setelah apa yang terjadi di hari kemarin. Dengan senyum cerahnya, pria itu
meraih sebuah nampan berisikan sandwich dan segelas susu, dan melangkah menuju
sebuah kamar. Tanpa mengetuk ia memasuki kamar yang memang tak pernah dikunci oleh
wanita itu- dan mendapati Hae Yong tengah berdiri menikmati sapaan mentari di balkon
kamarnya.

Matamu bisa rusak jika terus menatap ke arah sana. Komentar Ji Yong seraya meletakkan
nampan yang dibawanya di meja.

Untuk apa ke sini? Apa perangmu sudah usai? lagi, wanita itu berujar sadis.

Bisakah kau sedikit bersikap manis padaku?

Tidak! Aku tak pernah bersikap manis pada siapapun. Aku selalu begini!

Baiklah! Setidaknya jangan ungkit lagi hal itu. itu menyakitkan!

Baiklah, apa maumu? Mengantarkan sarapan? Terimakasih, Ji Yong-ssi. Wanita itu


tersenyum, dibuat-buat. Menyembunyikan hatinya yang berjingkrak riang.

Ya, itu juga. Dan aku ingin mengajakmu piknik. Bagaimana? tanya Ji Yong santai.

Hae Yong menatap pria di hadapannya itu heran. Tatapannya seolah berkata hei, setan apa
yang tengah merasukimu? Kenapa tiba-tiba mengajak piknik?.

Jangan menatapku seperti itu! tandas Ji Yong dingin. Dalam hati pria itu sedikit bertanya-
tanya apa yang merasuki wanita di hadapannya itu. Kemarin dan beberapa waktu yang lalu
begitu sensitif, begitu mudah menangis. Tapi hari ini? Begitu dingin dan mengeluarkan kata-
kata sadis. Dan ajaibnya ia tak memperlihatkan raut wajah terluka sedikitpun saat Ji Yong
balas mengeluarkan kata-kata yang tak kalah sadisnya. Sebenarnya apa yang terjadi pada
para ibu hamil? Kenapa mereka begitu membingungkan dan semaunya? Membuat orang
lain selalu berada di posisi yang kalah?, batinnya.

Jadi kau menghancurkan dapur pagi-pagi buta untuk bekal berpiknik?

Ji Yong berusaha menenangkan hatinya dan mengangguk.

Tanpa diduga Hae Yong tersenyum manis. Kita piknik ke mana?

Ke suatu tempat yang sering kukunjungi dulu. Kata Ji Yong dengan tatapan menerawang.

Baby...baby...
Ji Yong melangkah pelan menikmati sapaan angin lembut yang menerbangkan rambutnya.
Menikmati indahnya pantai Incheon yang menjadi tempat piknik favoritnya bersama
seseorang dulu. Kedua tangannya menjinjing keranjang piknik berisikan hasil karyanya tadi
pagi. Dengan senyuman yang terus menghiasi wajahnya, ia terus menjejal langkah ke bagian
pantai yang tak terlalu ramai, bahkan nyaris tak ada orang. Sesekali pria itu menatap ke
belakang, melihat Hae Yong yang begitu asyik menyeret gaho yang berjalan kemana-mana.
Tak jarang wanita itu mengumpat atau bahkan membentak anjing kesayangan Ji Yong itu
karena tak mau berjalan dengan tenang. Ingin rasanya Ji Yong menggoda Hae Yong yang
setengah mati menolak membawa Gaho dengan alasan takut digigit, tapi kini malah terlihat
begitu girang dengan kehadiran anjing itu. Tapi tak dilakukannya. Ia lebih senang melihat
Hae Yong yang begitu asyik dengan gaho. Seperti melihat sosok lain dari wanita yang sangat
dingin dan misterius itu. Entah setan apa yang merasuki Hae Yong, sejak awal ia terus
berceloteh dan bahkan bertingkah aneh. Benar-benar seperti bukan dirinya. Tapi itu lebih
baik dari pada ia terus bersikap dingin. Dan tanpa terasa memperhatikan Hae Yong
membuat Ji Yong lupa akan luka di hati yang sontak muncul saat mereka tiba di pantai itu
tadi.

Sudah berapa kali Gaho menggigitmu, Hae Yong-ssi? akhirnya, Ji Yong tak mampu
menahan mulutnya untuk tidak menggoda wanita itu.

Hae Yong hanya memanyunkan bibirnya dan menatap Ji Yong penuh kebencian,
menggemaskan.

Gaho-ya! Ayo gigit wanita itu!

Yha! Kau! Dasar tidak berperasaan! Jangan mengganggu! Urus saja keranjang piknikmu
itu! tandas Hae Yong sadis dan kembali bermain lempar bola bersama Gaho.

Ji Yong terkekeh geli. Sesuatu yang seperti hilang dari dirinya beberapa tahun belakangan
ini. Bahkan ia tertawa lepas karena kata-kata dan tingkah wanita itu. Sepertinya ia benar-
benar dirasuki setan jahat seharian ini. Ia bahkan membuat gaho basah kuyup dengan
melemparkan bola ke arah air laut. Untung saja anjing itu tak sampai tenggelam. Iba melihat
anjing kesayangannya disiksa, Ji Yong memilih mendekat dan memeluk gaho erat.

Jangan bermain di sini, nona! Kau bisa membuat anjingku tenggelam. Katanya membuat
Hae Yong kembali merajuk.

Kau mengganggu kebahagianku dan gaho! gerutunya sambil berlalu. Entah karena apa, ia
merasa sangat bahagia saat ini. Rasa bahagia yang membuncah yang tak mampu lagi
disembunyikannya. Mungkin ini adalah pertama kalinya -sejak orang tuanya meniggal- Hae
Yong kembali ceria dan merasa begitu bahagia. Tak tau kemana lepasnya Hae Yong yang
dingin yang memendam sejuta luka di hatinya itu. Yang ada sekarang hanya Hae Yong yang
bermain dengan riang. Yang tersenyum dan tertawa lepas tanpa beban.

Ji Yong kembali tertawa. Dengan gaho dipangkuannya, ia menjajari langkah Hae Yong.
Mendengarkan celotehan dan dengusan wanita itu tentang betapa lucunya gaho ketika
menggerak-gerakkan tubuhnya agar kering padahal ia nyaris tak memiliki bulu yang bisa
bergoyang karena saking tipisnya. Seberkas rasa hangat menyelimuti hati Ji Yong melihat
wanita di hadapannya terus saja mengomel karena merasa belum puas bermain.

Kau tak boleh terlalu banyak bergerak, Hae Yong-ssi. Apalagi bermain bersama gaho lama-
lama. Itu berbahaya. Ji Yong mengingatkan.

Hae Yong yang tengah mengunyah makannya itu tiba-tiba saja menunduk, melihat ke arah
perutnya yang tercetak jelas di balik gaun yang menempel karena cipratan air. Dengan
sayang ia mngelus perutnya menggunakan sebelah tangan. Apa aku mengganggu tidurmu,
aegi-ya? Maaf. Aku hanya terlalu bahagia karena akhirnya bisa bermain keluar. Sehatlah di
dalam sana, aegi. Gumamnya pelan tanpa sadar bahwa ada Ji Yong yang melihat dan
mendengar dengan jelas apa yang dikatakannya.
Pria itu hanya menatap Hae Yong yang tengah mengunyah makanannya dengan tenang,
seperti tak ada kata-kata manis yang baru saja keluar dari bibirnya yang membuat rasa
hangat menjalari dada Ji Yong. Ia terlihat begitu indah saat ini. Tak ada lagi Hae Yong yang
dingin dan sering melamun. Kini sepertinya hanya ada Hae Yong yang manis. Membuat Ji
Yong begitu terpesona akan sosoknya yang tiba-tiba terlihat sungguh indah. Mengacuhkan
seberkas rasa terlarang yang mulai lancang memasuki hatinya itu. Bahkan membuatnya tak
sadar akan adanya sepasang mata indah yang tengah memperhatikan gerk-gerik mereka
dengan pandangan sendu.

TBC...

Haaaaaaaaaaaaaaaaaaa saya mau teriakkkk.... maaf reader, saya bener-bener kehabisan ide
sepertinya. Mungkin part ini agak sedikit membingungkan dan nggak nyambung. Dan kalau
reader bingung atau malah merasa part ini aneh banget, komen ajaaaa. Yg suka kalau ada
hehe- juga komen yaa. Aku pasti balas komennya buat ngejelasin kok :D :D
sebelumnya makasii udah baca reader *bow*