You are on page 1of 4

MEDIA SOSIAL SEBAGAI MEDIA INFORMASI

BUKAN KRIMINALISASI

Siapa yang tidak mengetahui media sosial? Menurut McGraw Hill


Dictionary, jejaring sosial atau disebut juga dengan media sosial, yaitu sarana yang
digunakan oleh orang-orang untuk berinteraksi satu sama lain dengan cara
menciptakan, berbagi, serta bertukar informasi dan gagasan dalam sebuah jaringan
dan komunitas virtual. Pesatnya perkembangan media sosial saat ini dikarenakan
semua orang seperti bisa memiliki media sendiri. Semakin beragamnya jenis media
sosial yang bermunculan seperti Twitter, Facebook dan Instagram membuat
semakin banyak orang tertarik untuk menggunakannya, salah satunya adalah para
remaja, generasi muda bangsa Indonesia yang merupakan penerus bangsa di masa
depan yang sangat diharapkan dapat memiliki kualitas yang baik sehingga dapat
membawa kemajuan bagi bangsa di waktu mendatang. Remaja merupakan masa
transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa yang berjarak antara umur 11
tahun sampai 21 tahun. Pada masa ini, remaja mengalami suatu perkembangan,
sehingga dirinya terdorong untuk ingin tahu mengenai banyak hal, tidak terkecuali
media sosial. Namun, dari rasa ingin tahu yang melebihi batas ini menimbulkan
adanya masalah, yaitu penyalahgunaan media sosial.

Penyalahgunaan adalah proses atau cara perbuatan yang menyeleweng


untuk melakukan sesuatu yang tidak sepatutnya atau sesuatu yang tidak semestinya
karena rasa ingin tahu sesuatu hal yang negatif. Jadi, penyalah gunaan media social
adalah perbuatan yang tidak semestinya dilakukan karena hal-hal tertentu misalnya
mencari atau melakukan sesuatu menggunakan media sosial kearah yang negatif
akibat rasa keingintahuan yang berlebih.

Sesungguhnya, media sosial dapat bertindak sebagai alat yang sangat


berharga dan bermanfaat bagi remaja. Media sosial ini dapat membantu mereka
untuk memasarkan keterampilan mereka dan mencari peluang bisnis lewat internet.
Selain itu, situs jejaring sosial juga dapat digunakan untuk hal-hal yang positif
seperti memperluas jaringan pertemanan, semua orang bisa berkomunikasi dengan
siapa saja bahkan dengan orang yang belum dikenal sekalipun dari berbagai penjuru
dunia. Media sosial juga memudahkan penggunanya dalam memperoleh suatu
informasi serta sharing atau berbagi dengan teman lainnya. Akan tetapi, akibat
pengaruh globalisasi, rasa ingin tahu yang tinggi dan lingkungan, membuat banyak
remaja yang menyalahgunakan media sosial tersebut.

Berdasarkan data yang didapatkan, banyak remaja yang menjadikan media


sosial sebagai tempat untuk mencurahkan isi hati mereka, sindir-menyindir antar
teman sebayanya dan memposting foto yang tidak selayaknya untuk di
publikasikan. Banyak hal yang berhubungan dengan privasi mereka juga di
sebarluaskan melalui media sosial yang mengakibatkan kerugian bagi diri mereka
sendiri. Sudah barang tentu, hal-hal tersebut membuat para orang tua merasa sangat
khawatir akan banyaknya hal negatif yang timbul dari penggunaan media sosial
karena kurangnya selektifitas dan proteksi diri dari para remaja itu sendiri, sehingga
kerap kali menimbulkan permasalahan di masyarakat. Dilansir dari
Kriminalitas.com, ada sebuah kasus yang terjadi 3 tahun silam yang dialami
seorang siswi yang masih duduk di bangku kelas tiga SMP di Ciledug, Kota
Tangerang. Ia diculik seorang pria bernama Akar alias Gintala Lugaska (28) yang
mengaku mahasiswa semester lima perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Kasus
penculikan ini berawal dari laporan ibu korban, Melda ke Polsek Ciledug yang
mengaku kehilangan putrinya. Namun, setelah diselidiki ternyata siswi SMP kelas
tiga itu dibawa lari oleh pria yang dikenalnya lewat Facebook. Yang mengagetkan
pelaku meminta uang tebusan sejumlahRp. 700.000,-kepada keluarga korban.
Pelaku mengancam kalau tidak diberikan uang tebusan oleh orang tuanya, korban
akan berbadan dua atau akan dibuat hilang anggota tubuhnya. Saat ditangkap
petugas, pelaku mengaku uang itu untuk biaya makan.

Terdapat banyak dampak negatif yang ditimbulkan dari penyalahgunaan


media sosial, seperti hilangnya privasi saat mereka menuliskan status vulgar yang
seharusnya adalah privasi mereka dan tidak baik untuk di publikasikan. Terjadinya
kasus Cyber Bullying yang berawal dari komentar atau status, namun dianggap
ejekan (bullying) melalui jejaring sosial, serta maraknya tindak kejahatan yang
menggunakan media sosial sebagai alat untuk melakukan kejahatan seperti
penculikan dan penipuan.

Dilansir dari Kriminalitas.com, kasus-kasus penculikan terhadap remaja


khususnya remaja perempuan setelah berkenalan melalui Facebook,sudah
seringkali terjadi. Sebagian besar korbannya adalah wanita yang usianya masih
relatif muda, yakni belasan tahun. Mereka dengan mudah dibujuk dan dirayu oleh
para pelaku dengan menggunakan akun Facebook palsu. Modus ini biasa dilakukan
oleh para pelaku kejahatan yang pandai membujuk dan merayu korbannya dengan
iming-iming materi atau janji manis lainnya. Hal tersebut telah membuktikan
bahwa remaja masih mudah dipengaruhi oleh lingkungannya

Ada banyak faktor yang mempengaruhi remaja kurang bijak dalam


memperggunakan media sosial, salah satunya adalah kondisi psikologis yang tidak
stabil. Pada masa yang disebut dengan masa remaja ini, mereka cenderung sulit
untuk mengendalikan emosinya, mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya
dan memiliki rasa keingintahuan yang tinggi untuk mengetahui hal-hal baru yang
belum pernah mereka ketahui. Menurut Rifka Annisa, Women Crisis Center Daerah
Istimewa Yogyakarta, peran orang tua sangat dibutuhkan untuk mengawasi anak-
anak usia remaja dalam menggunakan media sosial. Defrenita One, juru bicara
Rifka Annisa juga mengatakan bahwa peran orang tua penting untuk
mengantisipasi niat jahat para pengguna media sosial yang ingin menjebak remaja
khususnya remaja putri sehingga terjadi kasus pencabulan dan pemaksaan aktivitas
seksual. Beliau menyarankan orang tua perlu menasehati anak-anaknya agar
mempertimbangkan segala bentuk data, gambar, dan video sebelum mengunggah
ke media sosial. Hal-hal yang bersifat pribadi, menurutnya tidak perlu diunggah ke
internet. Alasannya, media sosial merupakan ruang publik bukan ruang privat,
orang lain bisa menyalahgunakan data tersebut.

Melihat situasi seperti ini, kita sebagai generasi muda penerus bangsa
sepatutnya dapat menggunakan media komunikasi dan informasi khususnya media
social dengan bijak agar bermanfaat bagi diri sendiri serta lingkungan sekitar.
Adapun contoh pemanfaatan yang dapat dilakukan seperti menjadikan media sosial
sebagai sarana untuk mempromosikan hasil karya yang nantinya dapat diperjual
belikan melalui media sosial itu sendiri. Selain itu, melalui media sosial khususnya
Youtube, dapat dimanfaatkan sebagai peluang usaha seperti membuat chanel
Youtube yang berisikan tayangan edukasi yang bermanfaat bagi penggunanya.