You are on page 1of 18

LAPORAN KEGIATAN

F.1 Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

KELOMPOK SAYANG IBU


BAYI BARU LAHIR NORMAL DAN
PERAWATANNYA

Disusun Oleh:
dr. Daisy Ratnasari Haryono

Puskesmas Cebongan
Internsip Dokter Indonesia Kota Salatiga
Periode Agustus 2017 - November 2017

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM)


Laporan F.1 Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

Topik:
Kelompok Sayang Ibu
Penyuluhan Bayi Baru Lahir Normal dan Perawatannya

1
Diajukan dan dipresentasikan dalam rangka praktik klinis dokter internsip sekaligus sebagai
bagian dari persyaratan menyelesaikan program internsip dokter Indonesia di Puskesmas
Kota Salatiga

Telah diperiksa dan disetujui pada tanggal Oktober 2017

Mengetahui,
Dokter Internship, Dokter Pendamping

dr. Daisy Ratnasari Haryono dr. Galuh Ajeng Hendrasti


NIP. 19821014 201001 2 017

A. Latar Belakang
Pelayanan kesehatan neonatal harus dimulai sebelum bayi dilahirkan, melalui
pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil. Berbagai bentuk upaya
pencegahan dan penanggulangan dini terhadap faktor- faktor yang memperlemah kondisi
seorang ibu hamil perlu diprioritaskan, seperti gizi yang rendah, anemia, dekatnya jarak
kehamilan, dan bentuk personal higiene. Disamping itu perlu dilakukan pula pembinaan
kesehatan pranatal yang memadai dan penanggulangan faktor- faktor yang menyebabkan
kematian perinatal yang meliputi: perdarahan, hipertensi, infeksi, kelahiran preterm,
berat bayi lahir rendah, asfiksia dan hiporermia.
Penyebab kematian neonatus berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
tahun 2007 yaitu gangguan/ kelainan pernapasan sebanyak 35,9%, prematuritas sebanyak
32,4%, sepsis 12%, hipotermi 6,3%, kelainan darah/ ikterus 5,6%, post matur 2,8%,
kelainan kongenital 1,4%.
Kejadian kematian neonatus sangat berkaitan dengan kualitas pelayanan
kesehatan, yang dipengaruhi antara lain karena banyaknya persalinan di rumah, status
gizi kurang baik, dan rendahnya pengetahuan keluarga dalam perawatan bayi baru lahir.
Masalah utama bayi baru lahir pada masa perinatal dapat menyebabkan kematian,
kesakitan dan kecacatan.

2
Menurut WHO (2014) mayoritas dari semua kematian neonatal (73%) terjadi
pada minggu pertama kehidupan dan sekitar 36% terjadi dalam 24 jam pertama. Di
Indonesia sendiri, penurunan angka kematian bayi sangat sedikit, yaitu dalam 1000
kelahiran setiap tahunnya didapatkan 15 kematian bayi pada tahun 2011, 15 kematian
bayi pada tahun 2012, dan 14 kematian bayi pada tahun 2013.
Mengutip data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SKDI) tahun 2012
menunjukan bahwa AKB sebesar 32 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2012. Ini
berarti di Indonesia, ditemukan kurang lebih 440 bayi yang meninggal setiap harinya.
Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SKDI) tahun
2012, Angka Kematian Neonatus (AKN) pada tahun 2012 sebesar 19 per 1000 kelahiran
hidup menurun dari 20 per 1000 kelahiran hidup di tahun 2007 dan 23 per 1000
kelahiran hidup berdasarkan hasil SDKI 2002. Perhatian terhadap upaya penurunan
angka kematian neonatal (0-28 hari) menjadi penting karena kematian neonatal memberi
kontribusi terhadap 56% kematian bayi.
Periode neonatal merupakan suatu periode yang krisis nantinya akan
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi bahkan sampai dewasa. Kurang
baiknya penanganan bayi baru lahir yang sehat akan menyebabkan kematian. Petugas
kesehatan khususnya bagi penolong persalinan harus lebih memperhatikan bahwa bayi
baru lahir adalah suatu individu yang utuh. Menolong kelahiran bayi, terampil
memberikan asuhan yang seksama akan membantu bayi melalui proses adaptasi dengan
baik sehingga akan menjadi bayi yang sehat sebagi curahan harapan orang tua, bangsa
dan Negara.
Dalam upaya meminimalisasi dan menurunkan tingkat kematian bayi (AKB),
maka dimulai dari semua hal yang berkaitan dengan masalah kesejahteraan ibu harus
mendapatkan penanganan dan perhatian yang baik khususnya dari pemerintah, para
tenaga kesehatan serta dari masyarakat sendiri. Kelompok Sayang Ibu adalah suatu
kelompok masyarakat yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup
perempuan dalam upaya menurunkan angka kematian ibu karena hamil, melahirkan dan
nifas, dan termasuk juga menurunkan angka kematian bayi.

B. Permasalahan
Angka kematian bayi khususnya neonatus merupakan indikator dalam menilai
status kesehatan masyarakat suatu bangsa dan kini digunakan juga sebagai ukuran untuk
menilai kualitas pengawasan antenatal.
Menurut hasil riset Badan Pusat Statistik tahun 2016 mencatat bahwa angka
kematian bayi (AKB) mencapai 25,5. Artinya, ada sekitar 25,5 kematian setiap 1.000
3
bayi yang lahir. Selama beberapa tahun terakhir, AKB di Indonesia berangsur- angsur
mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya mencapai 26,0. Meski menurun,
AKB di Indonesia masih tinggi.
Masa neonatal/bayi baru lahir adalah masa penentu perkembangan dan
pertumbuhan bayi/anak selanjutnya serta diperlukan perhatian dan penanganan yang
terpadu dan berkesinambungan.

C. Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


1. Kegiatan
Strategi atau pendekatan yang ditempuh yaitu pemberdayaan
(empowerment). Pemberdayaan ini dilakukan dengan memberikan
kemampuan kepada individu (sasaran) melalui penyuluhan yang dibarengi
dengan kegiatan KSI (Kelompok Sayang Ibu). Pesan-pesan pokok materi
penyuluhan bayi baru lahir normal dan perawatannya antara lain : definisi dari
bayi baru lahir normal, ciri- ciri bayi baru lahir normal, langkah- langkah
asuhan bayi baru lahir, tanda- tanda bahaya bayi baru lahir, pencegahan, dan
penanganan awal.
2. Menentukan Sasaran
Sasaran yang dipilih pada kegiatan penyuluhan bayi baru lahir normal
dan perawatannya ini adalah sasaran primer para kader dari Kelurahan Ledok.
3. Menentukan Tujuan
A. Tujuan Umum
Memberikan informasi kepada kader tentang bayi baru lahir normal dan
perawatannya.
B. Tujuan Khusus
Memberi tambahan informasi kepada kader tentang definisi bayi baru lahir
normal dan ciri- cirinya.
Memberi informasi kepada kader tentang langkah- langkah asuhan bayi baru
lahir.
Memberi informasi kepada kader tentang tanda- tanda bahaya pada bayi baru
lahir, pencegahan serta penanganan awalnya.
4. Menetapkan Metode dan Saluran Komunikasi KIE
Metode komunikasi yang digunakan berupa penyuluhan pada kader
Kelurahan Ledok. Media atau saluran komunikasi yang digunakan adalah slide
power point melalui LCD.
5. Penanggung Jawab
Penanggung jawab dari kegiatan ini terdiri dari dokter internsip dan
petugas kesehatan dari Puskesmas Cebongan.

D. Pelaksanaan Kegiatan
1. Kegiatan :Penyuluhan tentang bayi baru lahir dan perawatannya.
4
2. Tujuan :Meningkatkan pengetahuan kader Kelurahan Ledok
tentang bayi baru lahir dan perawatannya.
3. Peserta :Anggota kader berjumlah 18 orang
4. Waktu :4 Agustus 2017, pukul 09.30-11.00 WIB
5. Metode : Pemberian materi melalui slide presentasi dengan Ms.
Power Point yang berisi materi penyuluhan bayi baru lahir dan perawatannya
antara lain : definisi dari bayi baru lahir normal, ciri- ciri bayi baru lahir
normal, langkah- langkah asuhan bayi baru lahir, tanda- tanda bahaya bayi
baru lahir, pencegahan, dan penanganan awal. Dilanjutkan dengan sesi tanya
jawab.
6. Penanggung Jawab : Dokter internsip dan petugas Puskesmas Cebongan

E. Monitoring dan Evaluasi


Kegiatan penyuluhan dilaksanakan bersamaan dengan agenda rutin yaitu KSI
(Kelompok Sayang Ibu). Kegiatan KSI yang dibawahi Puskesmas Cebongan memilki
beberapa kegiatan yang dilaksanakan setiap bulannya. Kegiatan tersebut meliputi
penyuluhan mengenai ibu hamil, pencatatan dan pelaporan ibu hamil dan ibu hamil
dengan risti, dan kunjungan ibu hamil dan ibu nifas yang dilakukan oleh kader. Jumlah
kader KSI yang tercatat di Kelurahan Ledok terdapat 30 kader, tetapi yang bisa hadir
pada acara kali ini ada 18 kader dengan sisanya tidak hadir tanpa keterangan. Salah satu
acara dalam kegiatan tersebut adalah penyuluhan yang disampaikan oleh tenaga
kesehatan. Pada kesempatan kali ini informasi yang diberikan adalah mengenai
perawatan bayi baru lahir normal. Tujuan penyuluhan adalah agar para kader mengetahui
tentang pengertian dari bayi baru lahir normal, ciri- ciri bayi baru lahir normal, langkah-
langkah asuhan bayi baru lahir, tanda- tanda bahaya bayi baru lahir, pencegahan, dan
penanganan awalnya.
Pada pertemuan KSI bulan Agustus 2017 dimulai pada pukul 09.30 diadakan
penyuluhan mengenai perawatan bayi baru lahir yang disampaikan oleh dokter intersip.
Proses penyuluhan berjalan lancar, sesuai dengan tujuan penyuluhan. Para peserta
berusaha untuk memahami materi, memanfaatkan sesi diskusi dengan baik dan banyak
dari peserta yang bertanya. Sesi diskusi berjalan aktif dan lancar. Saat pemberian
penyuluhan, peserta menyimak dengan tenang dan terlihat antusias. Selama sesi diskusi,
banyak dari peserta yang bertanya. Adapun beberapa pertanyaan yang diajukan oleh
peserta:
1. Kapan waktu yang tepat bayi baru lahir boleh dimandikan?
2. Dimana letak penyuntikan vitamin K pada bayu baru lahir?

5
3. Apa saja penyebab bayi meninggal saat masih dalam kandungan, dan bagaimana
mencegahnya?
4. Apakah ada pengaruh minuman bersoda pada kesehatan bayi dalam kandungan?

Diharapkan saran-saran yang ada dalam penyuluhan ini dapat diterapkan


dalam kehidupan sehari-hari sehingga bisa mencegah ataupun mengurangi terjadinya
kecacatan dan kematian bayi baru lahir.
Setelah dilakukannya penyuluhan, kader melaporkan nama-nama ibu hamil
dan ibu hamil dengan risti di Kelurahan Ledok kepada bidan puskesmas. Dalam
pelaporan tersebut juga terjadi diskusi antara kader dan bidan puskesmas mengenai
masalah-masalah ibu hamil yang terjadi di Ledok.
Monitoring dan evaluasi dilakukan dengan pengecekan pemahaman peserta
penyuluhan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar materi yang telah
disampaikan. Pertanyaan yang dijawab dengan benar oleh para peserta penyuluhan
merupakan bukti keberhasilan bahwa penyuluhan yang telah dilakukan mampu diterima
dan dipahami oleh peserta. Dengan pemahaman tersebut diharapkan para peserta dapat
berbagi informasi kepada keluarga, tetangga maupun teman.

F. Tinjauan Pustaka
1. KELOMPOK SAYANG IBU
1) Definisi
Kelompok Sayang Ibu ( KSI ) adalah Adalah suatu kelompok masyarakat yang
memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan dalam upaya
menurunkan angka kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas serta menurunkan
angka kematian bayi.
2) Tujuan
Tujuan terbentuknya KSI yaitu :
Meningkatkan pengetahuan dan kepedulian lintas sektor terkait dan masyarakat
tentang berbagai faktor yang menyebabkan kematian ibu dan peningkatan upaya
penanggulangan secara integrative;
Meningkatkan pengetahuan mengenai mekanisme rujukan sehingga
keterlambatan pertolongan dapat dihindari;
Meningkatkan upaya masyarakat dalam pendataan ibu hamil dan mengubah
kebiasaan yang merugikan kesehatan ibu hamil;
Meningkatkan peran institusi dan petugas kesehatan di wilayah setempat dalam
pelayanan kesehatan.
3) Unsur Pokok KSI
Terdapat 3 unsur pokok KSI, yaitu :

6
Pertama: Kelompok Sayang Ibu merupakan gerakan yang dilaksanakan oleh
masyarakat bersama dengan pemerintah.
Kedua: Kelompok Sayang Ibu mempunyai tujuan untuk peningkatan dan
perbaikan kualitas hidup perempuan sebagai sumber daya manusia.
Ketiga: Kelompok Sayang Ibu bertujuan untuk mempercepat penurunan angka
kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas
4) Tim Kelompok KSI
Tingkat Kota
Memiliki tugas sebagai berikut :
Melakukan perencanaan, monitoring dan evaluasi kegiatan Kelompok Sayang Ibu
(KSI)
Melakukan advokasi kepada penentu kebijakan di Kota Salatiga tentang KSI
Melakukan sosialisai tentang teknis pelaksanaan KSI
Melakukan pembinaan dan memberikan solusi pemecahan masalah secara
berkala
Menyiapkan format laporan kegiatan
Menghimpun, merekapitulasi dan menganalisa laporan kegiatan
Anggota tim yaitu :
DKK
Bapermas
Kecamatan
Kelurahan
Puskesmas

Tingkat Kelurahan
Memiliki tugas sebagai berikut :
Melakukan pendataan ibu hamil di wilayah masing-masing
Melakukan kunjungan rumah ibu hamil
Memberikan penyuluhan kepada ibu hamil dan keluarga (mis: buku KIA, P4K,
ASI Eksklusif)
Memastikan setiap ibu hamil memiliki stiker P4K dan sudah tertempel di tempat
yang mudah dilihat
Memastikan stiker P4K sudah terisi dengan lengkap dan benar
Mengirimkan laporan kegiatan ke Puskesmas Cebongan sesuai dengan form yang
disediakan

Anggota tim yaitu :


Anggota PKK
Kader Kesehatan
Tokoh Masyarakat
Bidan Setempat
5) Peran Kader
Peran kader/ PKK dalam kegiatan KSI :

7
a. Peran kader/PKK dalam KSI sangat berpengaruh karena kader/PKK melakukan
kegiatan ibu-ibu dengan pengaderan 10T.
b. Pelaksanaan, pencatatan dan pelaporan.
6) Sasaran KSI
Sasaran untuk kegiatan KSI ada 2 yaitu langsung dan tak langsung.
a. Langsung
a. Caten ( Calon Penganten )
b. Pasangan Usia Subur (PUS)
c. Ibu hamil, bersalin dan nifas
d. Ibu meneteki masa perawatan bayi
e. Suami dan seluruh anggota keluarga
b. Tak Langsung
f. Media massa
g. Sector terkait
h. Institusi kesehatan
i. Institusi masyarakat
j. Kaum bapak/ pria
k. Tokoh masyarakat/ agama
7) Kegiatan
Kegiatan sosialisasi pada KSI yang dilakukan melalui :
a. Penyuluhan melalui semua jalur komunikasi yang tersedia dan diharapkan masyarakat
berperan aktif dalam:
Mendata ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya
Mendeteksi adanya risiko ibu hamil
Merencanakan persalinan yang aman
Mendorong keluarga ibu untuk melaksanakan tabulin
Membantu proses pengambilan keputusan di tingkat keluarga saat ibu bersalin
akan dirujuk
Melaksanakan pendataan kelahiran, kematian ibu bersalin, dan kematian bayi
b. Materi penyuluhan ditekankan pada:
Perencanaan kehamilan
Pentingnya pemeriksaan kehamilan (ANC TERPADU )
Deteksi dini risiko ibu hamil
Rencana persalinan yang aman
Rujukan dini terencana
Pendataan dan pelaporan kehamilan, kematian ibu dan bayi
c. Penyuluhan dapat dilaksanakan oleh:
Pejabat pemerintah
Petugas kesehatan
Tokoh agama/ masyarakat
Organisasi masyarakat (PKK,LKMD, LSM)

Kegiatan pada tingkat administrasi, yaitu :


1. Tingkat kelurahan
Membentuk satuan tugas KSI
Mengumpulkan data ibu hamil ibu bersalin, ibu nifas, kematian ibu/bayi
Melakukan kunjungan rumah ibu hamil

8
Memberikan Penyuluhan kepada ibu hamil dan keluarga
Memastikan stiker P4K sudah terisi lengkap dan sudah tertempel di tempat yang
mudah terlihat.
Melaporkan hasil kegiatan/pendataan KSI ke Puskesmas Cebongan selambat
lambatnya pada tanggal 25.
8) Hambatan
Akan tetapi KSI juga menemui hambatan dalam pelaksanaannya, antara lain :
a. Secara Struktural
Berbagai program tersebut masih sangat birokratis sehingga orientasi yang
terbentuk semata-mata dilaksanakan karena ia adalah program wajib yang harus
dilaksanakan berdasarkan SK (Surat Keputusan).
b. Secara Kultural
Masih kuatnya anggapan/pandangan masyarakat bahwa kehamilan dan persalinan
hanyalah persoalan wanita.

2. BAYI BARU LAHIR


1. Pengertian Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir (neonatus) adalah suatu keadaan dimana bayi baru lahir dengan
umur kehamilan 37-42 minggu, lahir melalui jalan lahir dengan presentasi kepala secara
spontan tanpa gangguan, menangis kuat, nafas secara spontan dan teratur, berat badan
antara 2500-4000 gram serta harus dapat melakukan penyesuaian diri dari kehidupan
ekstrauteri.
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37
minggu sampai 42 minggu dan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram (Depkes RI,
2005).

2. Ciri-ciri bayi baru lahir


Berat badan 2500 4000 gram
Panjang lahir 48 52 cm
Lingkar dada 30 38 cm
Lingkar kepala 33 35 cm
Lingkar lengan 11-12
Frekuensi denyut jantung 120-160x/menit
Kulit kemerah- merahan dan licin karena jaringan subkutan yang cukup.
Rambut lanugo tidak terlihat dan rambut kepala biasanya telah sempurna
Kuku agak panjang dan lemas
Nilai APGAR >7
Gerakan aktif
Bayi lahir langsung menangis kuat
Genetalia :
Pada laki-laki kematangan ditandai dengan testis yang berada pada skrotum dan
penis yang berlubang.

9
Pada perempuan kematangan ditandai dengan vagina dan uterus yang berlubang,
serta labia mayora menutupi labia minora.
Refleks rooting ( mencari putting susu dengan rangsangan taktil pada pipi dan
daerah mulut)sudah terbentuk dengan baik.
Refleks sucking sudah terbentuk dengan baik.
Refleks grasping sudah baik
Refleks morro
Eliminasi baik, urine dan mekonium keluar dalam 24 jam pertama

3. Tahapan Bayi Baru Lahir


Tahap I terjadi segera setelah lahir, selama menit menit pertama kelahiran. Pada
tahap ini digunakan system scoring apgar untuk fisik dan scoring gray untuk
interaksi bayi dan ibu.
Tahap II disebut tahap transisional reaktivitas. Pada tahan II dilakukan pengkajian
selama 24 jam pertama terhadap adannya perubahan perilaku.
Tahap III disebut tahap periodik, pengkajian dilakukan setelah 24 jam pertama
yang meliputi pemeriksaan seluruh tubuh.

4. Tujuan Perawatan Pada Bayi Baru Lahir


Periode pascapartum awal
1. Mencapai dan mempertahankan jalan nafas dan mendukung pernafasan.
2. Mempertahankan kehangatan dan mecegah hipotermi
3. Memastikan keamanan dan mencegah cedera atau infeksi
4. Mengidentifikasi masalah-masalah actual atau potensial yang memerlukan
perhatian segera.
Perawatan Lanjutan
1. Melanjutkan perlindungan dan cedera atau infeksi dan mngidentifikasi masalah-
masalah actual dan potensial yang memerlukan perhatian.
2. Memfasilitasi terbinanya hubungan dekat orang tua-bayi
3. Memberikan informasi kepada orang tua tentang perawatan bayi baru lahir
4. Membantu orang tua dalam mengembangkan sikap sehat tentng praktik
membesarkan anak

5. Perubahan Fisiologi Pada BBL


Menurut pusdiknas (2003) perubahan fisiologis pada bayi baru lahir adalah :
1. Perubahan system pernafasan / respirasi
Selama dalam uterus, janin mendapatkan oksigen dari pertukaran gas melalui plasenta.
Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru-paru.
a. Perkembangan paru-paru
Paru paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx yang bercabang
dan kemudian bercabang kembali membentuk stuktrur percabangan bronkus proses
ini terus berlanjut sampai sekitar 8 tahun, sampai jumlah bronkus dan alveolus akan
sepenuhnya berkembang, walaupun janin memperlihatkan adanya gerakan nafas

10
panjang trimester II dan III. Paru-paru yang tidak matang akan mengurangi
kelangsungan hidup BBL sebelum usia 24 minggu. Hal ini disebabkan karena
keterbatasan permukaan alveolus, ketidakmatangan sistem kapiler paru-paru dan tidak
tercukupinya jumlah surfaktan.
b. Awal adanya nafas
Faktor-faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama bayi adalah :
Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang
merangsang pusat pernafasan di otak.
Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru-paru selama
persalinan, yang merangsang masuknya udara ke dalam paru-paru secara mekanis.
Interaksi antara sistem pernafasan, kardiovaskuler dan susunan saraf pusat
menimbukan pernafasan yang teratur dan berkesinambungan serta denyut yang
diperlukan untuk kehidupan.
Penimbunan karbondioksida (CO2), setelah bayi lahir, kadar CO2 meningkat
dalam darah dan akan merangsang pernafasan. Berkurangnya O2 akan mengurangi
gerakan pernafasan janin, tetapi sebaliknya kenaikan CO2 akan menambah frekuensi
dan tingkat gerakan pernafasan janin.
Perubahan suhu, keadaan dingin akan merangsang pernafasaan.
c. Upaya pernafasan pertama seorang bayi berfungsi untuk :
Mengeluarkan cairan dalam paru-paru
Mengembangkan jaringan alveolus paru-paru untuk pertama kalinya.
2. Perubahan pada sistem peredaran darah
Setelah lahir darah BBL harus melewati paru untuk mengambil oksigen dan
mengadakan sirkulasi melalui tubuh guna mengantarkan oksigen ke jaringan.
Untuk membuat sirkulasi yang baik, kehidupan diluar rahim harus terjadi 2
perubahan besar :
a. Penutupan foramen ovale pada atrium jantung
b. Perubahan duktus arteriousus antara paru-paru dan aorta.
Dua peristiwa yang merubah tekanan dalam sistem pembuluh darah
a. Pada saat tali pusat dipotong resitensi pembuluh sistemik meningkat dan
tekanan atrium kanan menurun, tekanan atrium menurun karena berkurangnya aliran
darah ke atrium kanan tersebut. Hal ini menyebabkan penurunan volume dan tekanan
atrium kanan itu sendiri. Kedua kejadian ini membantu darah dengan kandungan
oksigen sedikit mengalir ke paru-paru untuk menjalani proses oksigenasi ulang.
b. Pernafasan pertama menurunkan resistensi pada pembuluh darah paru-paru dan
meningkatkan tekanan pada atrium kanan oksigen pada pernafasan ini menimbulkan
relaksasi dan terbukanya sistem pembuluh darah paru. Peningkatan volume darah dan
tekanan atrium kanan dengan peningkatan tekanan atrium kanan ini dan penurunan

11
pada atrium kiri, foramen kanan ini dan penusuran pada atrium kiri, foramen ovale
secara fungsional akan menutup.
Vena umbilikus, duktus venosus dan arteri hipogastrika dari tali pusat menutup
secara fungsional dalam beberapa menit setelah lahir dan setelah tali pusat diklem.
Penutupan anatomi jaringan fibrosa berlangsung 2-3 bulan.
3. Pengaturan suhu
Bayi baru lahir belm dapat mengatur suhu tubuhnya, sehingga akan mengalami
stress dengan adanya perubahan lingkungan dari dalam rahim ibu ke lingkungan luar
yang suhunya lebih tinggi. Suhu dingin ini menybabkan air ketuban menguap lewat
kulit, pada lingkungan yang dingin, pembentukan suhu tanpa mekanisme menggigil
merupakan usaha utama seorang bayi untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya.
Pembentukan suhu tanpa menggigil ini merupakan hasil penggunaan lemak coklat
untuk produksi panas. Timbunan lemak coklat terdapat di seluruh tubuh dan mampu
meningkatkan panas tubuh sampai 100%. Untuk membakar lemak coklat, sering bayi
harus menggunakan glukosa guna mendapatkan energy yang akan mengunah lemak
menjadi panas. Lemak coklat ini akan habis dalam waktu singkat dengan adany stress
dingin. Semakin lama usia kehamilan semakin banyak persediaan lemak coklat bayi.
Jika seorang bayi kedinginan, dia akan mulai megalami hipoglikemia,
hipoksia, dan asidosis. Sehingga upaya pencegahan kehilangan panas merupakan
prioritas utama dan bidan berkewajiban untuk meminimalkan kehilangan panas pada
BBL.
4. Metabolisme Glukosa
Untuk memfungsikan otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu.
Dengan tindakan penjepitan tali pusat dengan klem pada saat lahir seorang bayi harus
mulai mempertahankan kadar glukosa darahnya sendiri. Pada saat bayi baru lahir,
glukosa darah akan tutun dalam waktu cepat (1 2 jam). Koreksi penurunan kadar
gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara :
Melalui penggunaan ASI
Melalui penggunaan adangan glikogen
Melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak.
5. Perubahan system gastrointestinal
Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai mengisap dan menelan. Reflek
gumoh dan reflek batuk yang matang sudah terbentuk baik pada saat lahir.
Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencerna makanan
(selain susu) masih terbatas. Hubungan antara esophagus bawah dan lambung
masih belum sempurna yang mengakibatkan gumoh pada bayi baru lahir dan
neonatus, kapasitas lambung masih terbatas kurang darih 30 cc untuk bayi baru

12
lahir cukup bulan. Kapasitas lambung ini akan bertambah secara lambat
bersamaan dengan tumbuhnya bayi baru lahir. Pengaturan makanan yang sering
oleh bayi sendiri penting contohnya memberi ASI on demand.
6. Sistem kekebalan tubuh/imun
Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga menyebabkan
neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi. Sistem imunitas yang
matang akan memberikan kekebalan alami maupun yang di dapat. Kekebalan
alami terdiri dari struktur pertahanan tubuh yang mencegah atau meminimalkan
infeksi. Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel yaitu oleh sel darah
yang membantu BBL membunuh mikroorganisme asing. Tetapi pada BBL sel-sel
darah ini masih belum matang, artinya BBL tersebut belum mampu melokalisasi
dan memerangi infeksi secara efisien.
Kekebalan yang didapatkan akan muncul kemudian. BBL dengan kekebalan
pasif mengandung banyak virus dalam tubuh ibunya. Reaksi antibodi keseluruhan
terhadap antigen asing masih belum dapat dilakukan sampai awal kehidupan anak.
Defisiensi kekebalan alami bayi menyebabkan bayi rentan sekali terjadi
infeksi dan reaksi bayi terhadap infeksi masih lemah. Oleh karena itu, pencegahan
terhadap mikroba (seperti pada praktek persalinan yang aman dan menyusui ASI
dini terutama kolostrum) dan deteksi dini serta pengobatan dini infeksi menjadi
sangat penting.

6. Tindakan pencegahan infeksi pada bayi baru lahir


Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi yang disebabkan oleh paparan atau
kontaminasi mikroorganisme selama proses persalinan berlangsung maupun beberapa
saat setelah lahir. Sebelum menangani bayi baru lahir, pastikan penolong persalinan
telah melakukan upaya pencegahan infeksi berikut :
Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan dengan bayi
Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayu yang belum dimandikan
Pastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan, terutama klem, gunting,
pengisap lendir DeLee dan benang tali pusat telah didisinfeksi tingkat tinggi atau
steril. Gunakan bola karet yang baru dan bersih jika akan melakukan pengisapan
lendir dengan alat tersebut (jangan bola karet yang sama untuk lebih dari satu
bayi)
Pastikan semua pakaian, handuk, selimut, dan kain yang digunakan untuk bayi,
sudah dalam keadaan bersih. Demikian pula halnya timbangan, pita pengukur,
termometer, stetoskop, dan benda-benda lain yang akan bersentuhan dengan bayi,
juga bersih.

13
Dekontaminasi dan cuci setiap kali setelah digunakan.

1) Perlindungan Termal (Termoregulasi)

Mekanisme pengaturan temperatur tubuh pada bayi baru lahir belum berfungsi
sempurna, untuk itu perlu dilakukan pencegahan kehilangan panas pada tubuh
bayi karena bayi dapat mengalami hipotermia. Bayi dengan hipotermia sangat
berisiko tinggi mengalami kesakitan berat bahkan kematian. Hipotermia mudan
terjadi pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan basah atau tidak segera
dikeringkan dan diselimuti walaupun didalam ruangan yang relatif hangat.
Cegah kehilangan panas pada bayi dengan upaya antara lain :
Keringkan bayi dengan seksama
Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat
Selimuti bagian kepala bayi
Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya
Tempatkan bayi dilingkungan yang hangat
2) Pemeliharaan pernafasan
Semua petugas yang bekerja di kamar bersalin hendaknya terlatih mengenai
teknik penilaian dan resusitasi. Dokter anak yang terlatih mengenai resusitasi neonatal
harus dipanggil. Setelah kelahiran neonatus yang normal, perhatian harus ditunjukkan
pada langkah-langkah penting berikut untuk memastikan adaptasi neonatal yang
optimal. Hal-hal yang perlu mendapat perhatian :
a. Membersihkan saluran nafas
Bila kepala keluar dari vagina, dokter harus menggunakan handuk atau
kain kassa untuk membuang sekresi dari muka. Selain itu suatu penyedot
lendir dapat digunakan untuk menyedot sekret dari faring lewat mulut.
Penyedot lendir tidak boleh digunakan untuk penyedotan hidung karena
perangasangan hidung dapat menginisiasikan hembusan nafas dan dapat
menyebabkan terjadinya aspirasi mekonium.
b. Memastikan permulaan pernafasan
Pernafasan biasanya dimulai beberapa detik dari kelahiran tetapi
mengkin tertunda selama sampai 60 detik.
3) Pemotongan tali pusat
Pemotongan dan pengikatan tali pusat menyebabkan pemisahan fisik terakhir
antara ibu dan bayi dan ini sangat tergantung dari pengalaman seorang ahli kebidanan.
Pemotongan sampai denyut nadi tali pusat terhenti dapat dilakukan pada bayi normal,
sedangkan pada bayi gawat perlu dilakukan pemotongan tali pusat secepat mungkin
agar dapat dilakukan resusitasi sebaik-baiknya. Tali pusat dijepit dengan kocher kira-

14
kira 3 cm dan sekali lagi kira-kira 5 cm dari pusat, pemotongan dilakukan diantara
kedua tali penjepit tersebut. Kemudian bayi diletakkan di atas kain bersih atau steril
dan hangat dan ditempat tidurnya.

7. Bounding Attachment
Bounding attachment adalah sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan
keterikatan hubungan batin antara orangtua dan bayinya.
Tahap-tahap bounding attachment:
a. Perkenalan dengan melakukan kontak mata, menyentuh, berbicara, dan
mengeksplorasi segera setelah mengenai bayinya
b. Bouding (keterikatan)
c. Attachment, perasaan kasih sayang yang mengikat individu dengan individu lain.

8. Penilaian APGAR
Keadaan umum bayi dimulai 1 menit setelah lahir dengan penggunaan nilai APGAR.
Penilaian ini perlu untuk mengetahui apakah bayi menderita asfiksia atau tidak. Setiap
penilaian diberi angka 0,1 dan 2 dari hasil penilaian tersebut apakah bayi normal
(vigorous baby = nilai apgar 7-10), asfiksia sedang-ringan (nilai apgar 4-6) atau asfiksia
berat (nilai apgar 0-3). Bila nilai apgar dalam 2 menit belum mencpai nilai 7, maka harus
dilakukan tindakan resasitasi lebih lanjut. Oleh karena bila bayi menderita asfiksia lebih
dari 5 menit, kemungkinan terjadi gejala-gejala neurologik lanjutan kemudian hari lebih
besar. Berhubungan dengan itu, menurut apgar dilakukan selain pada umur 1 menit juga
pada umur 5 menit.
Nilai APGAR
0 1 2

Apperance Pucat Badan merah,Seluruh tubuh kemerah-


(Warna Kulit) ekstremitas biru merahan
Pulse Rate Tidak ada Kurang dari 100 Lebih dari 100
(Frek. Nadi)
Tidak ada Sedikit gerakanBatuk/bersih
Grimance mimik (grimance)
(Reaksi
Rangsangan)
Tidak ada Ekstrimitas dalamGarakan aktif
Activity sedikit flexi
(Tonus Otot)
Tidak ada Lemah/tidak teratur Baik/menangis
Respiration
(Pernafasan)

9. Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

15
Inisiasi menyusu dini adalah proses membiarkan bayi menyusu sendiri segera setelah
lahiran. Hal ini merupakan kodrat dan anugrah dari Tuhan yang sudah disusun untuk
kita. Melakukannya juga tidak sulit, hanya membutuhkan waktu sekitar 1-2 jam.
Inisiasi menyusu dini atau disingkat IMD merupakan program yang sedang gencar
dianjurkan pemerintah. Menyusu dan bukan menyusui merupakan gambaran bahwa IMD
bukan program ibu menyusui bayi tetapi bayi yang harus aktif menemukan sendiri puting
susu ibu. Program ini dilakukan dengan cara langsung meletakkan bayi baru lahir di dada
ibunya dan membiarkan bayi ini merayap untuk menemukan putting susu ibu untuk
menyusu. IMD harus dilakukan langsung saat lahir, tanpa boleh ditunda dengan kegiatan
menimbang atau mengukur bayi. Bayi juga tidak boleh dibersihkan, hanya dikeringkan
kecuali tengannya. Proses ini harus berlangsung skin to skin antara bayi dan ibu.
Manfaat inisiasi menyusu dini :
Kehangatan
Dibandingkan bayi-bayi yang diletakkan dalam boks ternyata bayi-bayi yang kontak
kulit dengan kulit ibunya mempunyai suhu tubuh yang lebih hangat dan stabil.
Kenyamanan
Ternyata bayi-bayi yang dilakukan inisiasi dini lebih jarang menangis di bandingkan
dengan bayi-bayi yang dipisahkan dari ibunya.
Kualitas perlekatan
Dibanding bayi yang dipisahkan dari ibunya, bayi-bayi yang di lakukan inisiasi dini
mempunyai kemampuan perlekatan mulut yang lebih baik dari pada waktu menyusu.

Daftar Pustaka
1. Anastasia, Ajeng. 2013. Perawatan Bayi Baru Lahir: Bayi Baru Lahir Juga Butuh
Perawatan Lho. health.detik.com.
2. Departemen Kesehatan RI. 2008. Buku Acuan: Pelatihan Klinik Asuhan Persalinan
Normal. Jakarta: Departemen Kesehatan. Hlm: 119-138.
3. Direktorat Kesehatan Anak Khusus. 2010. Panduan Pelayanan Kesehatan Bayi Baru
Lahir Berbasis Perlindungan Anak. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. Hlm: 18-29.
4. Lissauer, Tom dan Fanaroff, Avroy. 2008. At Glance Neonatologi. Jakarta: Penerbit
Erlangga. Hlm: 44-45.
5. Pusdiknakes-WHO-JHPIEGO. 2001. Buku Asuhan Bayi Baru Lahir. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI. Hlm: 22-26.
6. Rudolf, Abraham. 2006. Buku Ajar Pediatrik. Edisi 20. Jakarta: EGC.

Dokumentasi

16
17
18