You are on page 1of 133

ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN DANA

MASYARAKAT UNTUK KEGIATAN DHARMA


PENDIDIKAN DI INSTITUT PERTANIAN BOGOR

MOHAMAD NUR HADI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Analisis Efisiensi


Penggunaan Dana Masyarakat untuk Kegiatan Dharma Pendidikan di Institut
Pertanian Bogor adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing
dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun.
Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun
tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan
dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, November 2016

Mohamad Nur Hadi


NIM P056132393.16EK

Pelimpahan hak cipta atas karya tulis dari penelitian kerjasama dengan pihak luar IPB harus
didasarkan pada perjanjian kerjasama yang terkait
RINGKASAN

MOHAMAD NUR HADI. Analisis Efisiensi Penggunaan Dana Masyarakat untuk


Kegiatan Dharma Pendidikan di Institut Pertanian Bogor. Dibimbing oleh
HERMANTO SIREGAR dan HENDRO SASONGKO.

Institut Pertanian Bogor memiliki otonomi dalam pengelolaan perguruan


tinggi. Otonomi tersebut menurut UU Nomor 12 Tahun 2012 pasal 63 harus
dilaksanakan berdasarkan prinsip akuntabilitas, transparansi, nirlaba, penjaminan
mutu, dan efektivitas dan efisiensi. Hingga tahun 2014, IPB telah menjalankan
prinsip akuntabilitas dan transparansi yang ditunjukkan dengan laporan keuangan
yang telah diperiksa oleh Kantor Akuntan Publik. Prinsip nirlaba melalui sistem
SPP tunggal dan tidak memberatkan mahasiswa yang tidak mampu. Sedangkan
prinsip penjaminan mutu di IPB dilaksanakan melalui pembentukan dua kantor
yang bertugas untuk menyusun aturan dan mengawasi pelaksanaan mutu di IPB.
Terkait prinsip efektivitas, IPB belum melakukan evaluasi terhadap prinsip
efektivitas. Prinsip efektivitas saat ini hanya dilakukan dengan menyusun kegiatan
dalam rencana kerja dan anggaran (RKA) yang sesuai dengan tujuan dan rencana
strategis IPB. IPB juga belum melakukan pengukuran prinsip efiensi terhadap
kegiatan operasional IPB.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari tiga tahapan, tahap
pertama bertujuan untuk mengetahui hubungan antara input dan output dengan
menggunakan metode korelasi Pearson. Tahap kedua bertujuan untuk mengetahui
tingkat efisiensi dari Departemen dengan menggunakan metode Data
Envelopement Analysis (DEA). Sedangkan tahap ketiga bertujuan untuk
mengetahu faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat efisiensi dari
Departemen dengan menggunakan metode Regresi Tobit.
Hasil tingkat efisiensi menggunakan DEA menunjukkan nilai tingkat
efisiensi dalam kurun waktu 2012-2014 terbagi menjadi empat kelompok, Pertama,
DMU yang selalu efisien (selalu memperoleh nilai 1) dalam rentang periode 2012-
2014. Kedua, Departemen selalu mengalami peningkatan atau increasing hingga
mencapai titik efisien. Ketiga, Departemen selalu mengalami peningkatan atau
increasing namun masih dibawah tingkat efisiensi. Kempat, Departemen yang
mengalami penurunan tingkat efisiensi atau disebut decreasing. Inefisiensi di
Departemen diperoleh menggunakan regresi tobit dengan hasil sebagai berikut:
Jumlah tenaga pendidik berpengaruh terhadap tingkat efisiensi (Prob. 0,0814)
dengan pegaruh secara positif dan Jumlah mahasiswa berpengaruh terhadap tingkat
efisiensi (Prob. 0,1437) dengan pengaruh secara negatif pada tingkat signifikan =
0,15.
Penelitian ini mengahasilkan saran sebagai berikut: 1) Departemen yang
sudah memperoleh nilai 1 harus mempertahankan nilai Output dalam tingkat
efisiensi, 2) Departemen yang sedang mengalami increasing dan decreasing harus
terus meningkatkan Output yaitu dengan meningkatkan jumlah lulusan dan
meningkatkan jumlah prestasi mahasiswa tingkat internasional dan nasional. 3)
Untuk meningkatkan tingkat efisiensi Departemen, maka dibutuhkan peningkatan
terhadap rasio Dosen terhadap mahasiswa.

Kata kunci: DEA, efisiensi, perguruan tinggi, tobit


SUMMARY

MOHAMAD NUR HADI. Efficiency Analysis of Public Funds for Education


Activity in the Bogor Agricultural University Using Data Envelopment Analysis.
Supervised by HERMANTO SIREGAR and HENDRO SASONGKO.

Bogor Agricultural University (IPB) has a autonomy in the management


university. The Autonomy is according to UU Number 12 on 2012 section 63
should be implemented on the principles of accountability, transparency, non-profit,
quality assurance, and the effectiveness and efficiency. Until 2014, IPB has the
principles of accountability and transparency shown by the financial statements
which have been audited by Public Accountant. Non-profit principle was through
by single SPP system. The principles of quality assurance at IPB implemented by
the establishment of two offices in charge of preparing the rules and oversee the
implementation of quality in IPB. The principle of effectiveness is currently done
by structuring the activities in the work plan and budget (RKA) in accordance with
the objectives and strategic plan of the University. And for efficiency principal,
IPB not yet take measurements especially in the operations of IPB.
The method used in this study consisted of three stage, the first stage is to
determine the relationship between input and output using Pearson correlation
method. The second stage is to determine the level of efficiency of the Department
using Data Envelopement Analysis (DEA). And the third stage is to to determines
factor factors that affect the level of efficiency of the Department by using Tobit
regression method.
The results of the efficiency level using VRS DEA method shows the value
level of efficiency in the period 2012-2014 is divided into four groups, first, the
DMU were always efficient (always obtain a value of 1) in periode 2012-2014.
Second, the Department always increase to the point efficiently. Third, the
Department always increase but still below the level of efficiency. fourth,
Department of decreasing the level of efficiency. Inefficiency in the Department
obtained using tobit regression with the following results: The number of teachers
are affect the level of efficiency (Prob. 0.0814) at a significant value = 0.10 to
positively influence and Total students are affect the level of efficiency (Prob. 0,
1437) at = 0.15 with a significant influence negatively.
This research result in recommendation as follows: 1) The Department
already scored one must maintain the value of output in the level of efficiency, 2)
the Department in increasing and decreasing should continue to increase output like
the number of graduates and the number of student achievement in international
level and national level , 3) To increase the level of efficiency of the Department
also necessary to increase the ratio of lecturers to students

Keywords: DEA, efficiency, higher education, tobit


Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2016
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau
menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN DANA
MASYARAKAT UNTUK KEGIATAN DHARMA
PENDIDIKAN DI INSTITUT PERTANIAN BOGOR

MOHAMAD NUR HADI

Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Manajemen
pada
Program Studi Manajemen dan Bisnis

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016
Penguji pada Ujian Tesis: Dr Ir Hari Wijayanto, MS
Judul Tesis : Analisis Efisiensi Penggunaan Dana Masyarakat Untuk Kegiatan
Dharma Pendidikan di Institut Pertanian Bogor
Nama : Mohamad Nur Hadi
NIM : P056132393.16EK

Disetujui oleh

Komisi Pembimbing

Prof Dr Ir Hermanto Siregar, MEc Dr Hendro Sasongko, SE, Ak, MM, CA


Ketua Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana


Manajemen dan Bisnis

Dr Ir Arief Daryanto, MEc Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr

Tanggal Ujian: Tanggal Lulus:


18 Oktober 2016
PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa taala atas
segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang
dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Januari 2015 ini adalah
Analisis Efisiensi Penggunaan Dana Masyarakat Untuk Kegiatan Dharma
Pendidikan di Institut Pertanian Bogor.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Prof. Dr. Hermanto Siregar,
M.Ec dan Bapak Dr. Hendro Sasongko, SE. MM, CA. selaku pembimbing. Di
samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Setiawan dari Biro
Keuangan IPB, Bapak Suparman dari Direktorat Perencanaan dan Pengembangan
IPB, Bapak Eko Prasetyo yang telah membantu selama proses pengerjaan Tesis ini,
serta rekan-rekan di EK 16. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada Ayah,
Bunda, adik Ria Fajarrohmi dan istriku Dini Muldiani serta seluruh keluarga besar,
atas segala doa, support dan kasih sayangnya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, November 2016

Mohamad Nur Hadi


DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 3
Tujuan Penelitian 7
Manfaat Penelitian 7
Ruang Lingkup Penelitian 7
2 TINJAUAN PUSTAKA 7
Pendanaan PTN BH 7
Sumber Dana di IPB 8
Pengertian Efisiensi 9
Konsep Efisiensi 9
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Efisiensi 11
Pengukuran Efisiensi 12
Teknik Pengukuran Efisiensi 13
Pengertian DEA 13
Orientasi Model 15
Konsep Input dan Output dalam DEA 17
Manfaat DEA 17
Keterbatasan DEA 17
Kajian Penelitian Terdahulu 18
Kerangka Pemikiran 19
3 METODE 20
Waktu dan Lokasi Penelitian 20
Pengumpulan Data 21
Metode Analisis 21
Korelasi Pearson 21
Regresi Tobit 22
Variabel Penelitian 23
Operasional Variabel 23
Jenis Penelitian 25
4 HASIL DAN PEMBAHASAN 25
Hasil Analisis Korelasi Pearson 25
Hasil Analisis DEA 26
Analisis Inefisiensi DMU 28
Analisis Resresi Tobit 31
Implikasi Manajerial 32
5 SIMPULAN DAN SARAN 33
Simpulan 33
Saran 33
DAFTAR ISI (Lanjutan)
DAFTAR PUSTAKA 34
LAMPIRAN 38
RIWAYAT HIDUP 77

DAFTAR TABEL
1 Pendapatan DM 2010-2013 3
2 Pendapatan SPP 2010-2013 4
3 Realisasi Pendanaan di Fakultas 2011-2014 5
4 Mutu dan Jumlah Lulusan Program Pendidikan Sarjana IPB 2010-2013 5
5 Perbandingan Input dengan Jumlah Lulusan 6
6 Kajian Penelitian Terdahulu 18
7 Operasional Variabel 23
8 Hasil Analisis Korelasi Pearson 26
9 Hasil Analisis DEA 27
10 Hasil Regresi Tobit 32

DAFTAR GAMBAR
1 Metode Pengukuran Efisiensi 12
2 Pengklasifikasian Model DEA 16
3 Model CSR dan VSR 16
4 Kerangka Pemikiran 20
5 Inefisiensi JLM 29
6 Inefisiensi PMI 30

DAFTAR LAMPIRAN

7 Input dan Output 2012 39


8 Input dan Output 2013 41
9 Input dan Output 2014 44
10 Hasil MAX DEA 47
11 Hasil Inefisiensi DMU 75
1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Institut Pertanian Bogor sebagai perguran tinggi negeri badan hukum (PTN-
BH) berimplikasi terhadap pengklasifikasian sumber dana. Seluruh dana yang
diperoleh IPB diklasifikasikan menjadi dua sumber yaitu dana yang bersumber dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan yang bersumber dari Dana
Masyarakat (DM). Dana APBN digunakan untuk gaji pegawai dan belanja barang
dan jasa di IPB, pada tahun 2012 IPB juga menerima subsidi dari pemerintah
melalui Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang
dinamakan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi (BOPTN) dimana pada tahun
2015 BOPTN ini berubah nama menjadi Bantuan Pendanaan Perguruan Tinggi
Negeri Badan Hukum (BPPTN-BH). Pemberian subsidi ini bertujuan untuk
mengurangi pembebanan biaya perkuliahan terhadap mahasiswa, sehingga biaya
SPP menjadi lebih terjangkau dan pendidikan dapat diberikan merata kepada
seluruh rakyat Indonesia. Dana Masyarakat bersumber dari SPP, kegiatan
kerjasama antara IPB dan pihak ketiga yang diterima oleh IPB. Dana tersebut bukan
termasuk penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan dapat dikelola langsung oleh
IPB tanpa harus masuk terlebih dahulu kedalam kas negara seperti dana PNBP.
Berdasarkan UU Nomor 12 Tahun 2012, Institut Pertanian Bogor memiliki
otonomi pengelolaan perguruan tinggi yang berbeda dengan Perguruan tinggi
negeri (PTN) biasa. Otonomi tersebut menurut pasal 63 harus dilaksanakan
berdasarkan prinsip akuntabilitas, transparansi, nirlaba, penjaminan mutu, dan
efektivitas dan efisiensi.
Hingga tahun 2014, IPB telah menjalankan prinsip akuntabilitas dan
transparansi yang ditunjukkan dengan laporan keuangan yang telah diperiksa oleh
Kantor Akuntan Publik. Prinsip nirlaba melalui sistem SPP tunggal dan tidak
memberatkan mahasiswa yang tidak mampu. Sedangkan prinsip penjaminan mutu
di IPB dilaksanakan melalui pembentukan dua kantor yang bertugas untuk
menyusun aturan dan mengawasi pelaksanaan mutu di IPB. Terkait prinsip
efektivitas, IPB belum melakukan evaluasi terhadap prinsip efektivitas. Prinsip
efektivitas saat ini dilakukan dengan menyusun kegiatan dalam rencana kerja dan
anggaran (RKA) yang sesuai dengan tujuan dan rencana strategis IPB. IPB juga
belum melakukan pengukuran prinsip efiensi terhadap kegiatan operasional IPB.
Selama ini pengukuran efisiensi hanya dilakukan terhadap pendanaan yang
bersumber dari APBN sesuai dengan Permenkeu nomor 249/PMK.02/2011 tentang
Pengukuran dan Evaluasi Kinerja atas Pelaksanaan Rencana Kerja dan Anggaran
Kementerian Negara/Lembaga. Sedangkan untuk dana yang bersumber dari dana
masyarakat (DM) terutama dalam kegiatan utama yang mendukung tridharma
perguruan tinggi belum dilakukan pengukuran efisiensi penggunaan dana.
Kajian penelitian terkait efisiensi biaya di perguruan tinggi sudah dilakukan
di beberapa negara seperti Amerika Serikat, United Kingdom (UK), dan Mexico.
Kajian efisiensi di Amerika Serikat terkait akuntabilitas perguruan tinggi dilakukan
oleh Powell et al. (2012) yang menyatakan bahwa akuntabilitas perguruan tinggi
telah disuarakan sejak dua dekade terakhir di level legislatif. Penurunan
perekonomian dunia dan US saat ini semakin memperburuk kebutuhan jangka
2

panjang dalam rangka pengembangan efisiensi dan efektifitas institusi sehingga


meningkatkan akuntabilitas.
Thanassoulis et al. (2010) menyatakan dalam 20 tahun terakhir merupakan
perubahan secara cepat di dalam sektor perguruan tinggi di UK, banyak politeknik
telah menjadi universitas sehingga meningkatkan jumlah mahasiswa secara
signifikan. Pada tahun 1990 mulai diperkenalkan dana pinjaman mahasiswa untuk
biaya perawatan yang selanjutnya diperkenalkan sebagai biaya kuliah. Penelitian
ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Departement For Education and
Skill, tujuan dari penelitian ini untuk menginvestigasi struktur biaya perguruan
tinggi di UK periode 2000/2001 2002/2003 untuk menunjukkan fakta bahwa
pemerintah UK setiap saat ingin meningkatkan tingkat kehadiran mahasiswa di
universitas.
Penelitian lain mengenai efisiensi biaya terhadap perguruan tinggi di Mexico
di lakukan oleh Castorena (2001) yang menyatakan bahwa pembiayaan terhadap
perguruan tinggi telah menjadi diskusi yang tidak ada habisnya, universitas dan
pemerintah merasakan bahwa metode pembiayaan yang terjadi saat ini tidak sesuai.
Metode saat ini adalah anggaran tahunan diberikan oleh pemerintah dialokasikan
berdasarkan anggaran tahun sebelumnya dengan dana tambahan, alokasi ini tidak
melihat dari input dan Output perguruan tinggi. Sistem ini tidak memberikan
insentif atau hukuman atas performa dari universitas. Model penelitian ini
menguraikan efisiensi capaian dari universitas yang berdasarkan kepada input dan
Output dari sistem pendidikan dan pengusulan pendanaan masa depan dengan
menggunakan pengukuran tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh Sav (2012) menyatakan perkiraan efisiensi
mengendalikan hubungan antar lingkungan operasional di perguruan tinggi
sebagaimana diukur dari pendanaan pemerintah dan kualitas pendidikan.
Penelitian yang dilakukan oleh Ngatindriatun dan Ikasari (2009) bertujuan
untuk menganalisis efisiensi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia setelah
diberlakukannya otonomi kampus. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah
beberapa Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia sudah efisien selama lima tahun
berturut-turut (dari tahun 2002 sampai dengan 2006) antara lain: Universitas
Andalas, Universitas Gajah Mada, Universitas Sumatera Utara dan Institut
Teknologi Bandung. Variabel input = jumlah mahasiswa, Output = lulusan.
Berdasarkan beberapa penelitian tersebut, prinsip efisiensi anggaran penting
dilakukan, karena jika tidak dilakukan maka akan menimbulkan pemborosan di
dalam pengelolaan perguruan tinggi dikarenakan kemungkinan adanya pengeluaran
yang seharusnya tidak perlu, hal ini menandakan bahwa pengendalian penggunaan
anggaran tidak berjalan dengan baik. Selain itu pengukuran efisiensi terhadap
pendanaan pendidikan di perguruan tinggi meningkatkan akuntabilitas penggunaan
dana, pengukuran efisiensi juga mampu menghasilkan alokasi anggaran yang lebih
baik karena pengukuran efisiensi berdasarkan atas input dan Output dari sistem
pendidikan. Hartono (2009) menyatakan bahwa Efisiensi merupakan salah satu
parameter kinerja yang secara teoritis merupakan salah satu kinerja yang mendasari
seluruh kinerja sebuah organisasi. Kemampuan menghasilkan Output yang
maksimal dengan input yang ada, adalah merupakan ukuran kinerja yang
diharapkan. Selain itu Wibowo (2013) dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa
prinsip efisiensi sangat perlu dilakukan untuk menghindarkan diri dari praktik-
3

praktik kotor, buruk dan rusak bagi penyelenggara pemerintahan mulai pemerintah
pusat sampai daerah.

Perumusan Masalah

Studi kasus dalam penelitian ini dilaksanakan di Institut Pertanian Bogor,


dimana berdasarkan latar belakang diatas dapat dapat disimpulkan Kewajiban IPB
sebagai PTN-BH adalah memenuhi enam prinsip yang sesuai dengan UU Nomor
12 Tahun 2012, namun hingga saat ini IPB belum melakukan analisis terkait
efisiensi penggunaan dana yang bersumber dari DM. Hal ini disebabkan karena
belum adanya sistem maupun applikasi untuk mengukur efisiensi penggunaan dana
tersebut.
Penelitian ini untuk melihat tingkat efisiensi dana yang bersumber dari DM
IPB dimana pendapatan DM tahun 2010-2013 dapat dilihat dalam realisasi
pendapatan dalam Tabel 1.
Tabel 1 Pendapatan DM 2010-2013
No Penerimaan 2010 2011 2012 2013
1 Sumber Peserta 218.463.333 232.738.128 246.679.187 264.248.181
Didik
a. SPP 165.774.878 178.126.951 184.500.625 241.761.393
b. Non SPP 52.688.455 54.611.177 62.178.562 22.486.788
2 Titipan dan 35.235.352 39.835.978 59.694.656 51.613.031
Pendapatan Non
Komersial
a. Dana titipan 13.765.264 21.026.489 31.077.052 35.331.461
b. Penerimaan Non 21.470.088 18.809.489 28.617.604 16.281.570
Komersial
3 Kerjasama 98.670.619 126.212.973 132.685.016 138.804.599
Penelitian dan
Pemberdayaan
Masyarakat
4 Kerjasama Lainnya - 16.170.258 24.073.130 23.135.308
5 Bantuan Program - 7.871.022 3.171.607 4.854.584
(Nasional dan
Internasional)
6 Satuan Usaha 4.430.600 6.102.079 6.775.525 21.898.394
7 Sumber Pelayanan 4.033.388 4.273.266 4.910.819 7.241.196
Lainnya
Jumlah 360.833.292 433.203.704 477.989.940 511.795.293
Sumber: RKA IPB 2010-2013
Tabel 1 menunjukkan bahwa pendapatan DM terbesar yang diterima oleh IPB
bersumber dari SPP dengan rata-rata persentase 2010-2013 sebesar 43,22%. Pada
periode yang sama program sarjana memberikan kontribusi terbesar terhadap
pendapatan SPP dengan rata-rata persentase sebesar 44,91%. Rincian pendapatan
SPP dapat dilihat dalam Tabel 2.
4

Tabel 2 Pendapatan SPP 2010-2013


No Sumber 2010 2011 2012 2013
Penerimaan (dalam
juta rupiah)
1 SPP Program 32.451.000 36.435.390 39.020.824 51.404.241
Diploma
2 SPP Program 52.417.776 55.141.557 59.677.730 81.749.238
Sarjana Reguler
3 SPP Program 10.397.103 9.284.794 9.370.996 9.429.975
Sarjana
Penyelenggaraan
Khusus
4 SPP Program 3.452.200 19.200 119.440 28.860
Sarjana Alih
Jenjang
5 SPP Program 12.850.712 11.095.840 15.092.251 14.725.738
Sarjana BUD
6 SPP Program 810.500 937.500 970.000 1.049.500
Pendidikan Dokter
Hewan
7 SPP Program 28.682.060 35.968.416 33.098.961 53.790.457
Pascasarjana
Reguler
8 SPP Program 10.454.359 11.110.114 8.150.000 8.281.225
Peascasarjana
Penyelenggaraan
Khusus
9 SPP Program 13.238.691 16.016.749 16.361.157 18.649.897
Pascasarjana
Manajemen Bisnis
10 SPP Mahasiswa 1.020.477 2.117.392 2.639.267 2.652.267
Asing
Jumlah 165.774.878 178.126.952 184.500.626 241.761.398
Sumber: RKA IPB 2010-2013
Mekanisme Penetapan Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan Bagi
Mahasiswa Program Pendidikan Sarjana Institut Pertanian Bogor diatur dalam
Peraturan Rektor IPB nomor 11/I3/PP/2011 Pasal 1 ayat 2 yang menyatakan SPP
bagi mahasiswa Program Pendidikan Sarjana IPB terdiri atas 2 (dua) komponen,
yaitu : (1) Biaya Penyelenggaraan Mata Kuliah (BPMK); (2) Biaya Peningkatan
Mutu Pendidikan (BPMP). Berdasarkan peraturan tersebut, dana pendapatan SPP
dibagi menjadi 2 kelompok dimana untuk BPMP dialokasikan secara proporsional
ke Departemen, Fakultas, dan Rektorat secara proposional, sedangkan untuk
BPMK dialokasikan Departemen/fakultas sebagai penyelenggara mata kuliah.
Pengukuran efisiensi pada suatu kegiatan dapat dilihat dari pendekatan input
dan Output. Input dalam kegiatan pendidikan adalah pendanaan di Fakultas, input
tersebut digunakan untuk pembiayaan kegiatan pendidikan dan operasional
Fakultas untuk memperoleh Output yang diharapkan. Realisasi pendanaan di
Fakultas dapat dilihat dalam Tabel 3.
5

Tabel 3 Realisasi Pendanaan di Fakultas 2011-2014


No Fakultas 2011 2012 2013 2014
A. Fakultas 6.695.305.534 6.206.428.798 6.520.149.996 8.421.454.240
Pertanian
B. Fakultas 3.113.233.492 3.806.283.541 3.819.071.722 4.792.884.681
Kedokteran
Hewan
C. Fakultas 7.540.228.039 6.671.093.505 6.899.595.336 8.259.451.627
Perikanan
dan Ilmu
Kelautan
D. Fakultas 2.733.789.764 2.969.452.630 2.927.301.931 3.083.295.820
Peternakan
E. Fakultas 4.650.342.800 4.971.158.641 5.252.433.375 6.058.088.214
Kehutanan
F. Fakultas 6.608.690.472 6.542.457.585 6.800.275.425 8.190.268.160
Teknologi
Pertanian
G. Fakultas 9.750.207.885 12.233.252.387 11.530.880.100 14.306.561.332
MIPA
H. Fakultas 12.514.560.482 12.492.372.814 12.060.277.465 13.367.102.324
Ekonomi
dan
Manajemen
I. Fakultas 5.438.941.275 6.689.638.906 7.191.846.322 6.560.359.886
Ekologi
Manusia
Jumlah 59.045.299.743 62.582.138.807 63.001.831.672 73.039.466.284
Sumber: RKA IPB 2011-2014
Sedangkan salah satu Output yang digunakan adalah jumlah serta nilai mutu
lulusan yang dapat dilihat dalam tabel 4.
Tabel 4 IPK dan Jumlah Lulusan Program Sarjana IPB 2010-2013
No Fakultas Mutu Lulusan 2010 2011 2012 2013
A. Fakultas Pertanian Rata-rata IPK 2,92 3,02 3,01 3,02
IPK 3,00 (%) 46,75 54,44 51,33 50,76
Jumlah Lulusan 385 338 263 331
(orang)
B. Fakultas Kedokteran Rata-rata IPK 2,85 2,9 3,33 2,9
Hewan IPK 3,00 (%) 30,85 40,82 73,03 40,15
Jumlah Lulusan 94 98 178 137
(orang)
C. Fakultas Perikanan Rata-rata IPK 3,01 3,01 3,03 3,07
dan Ilmu Kelautan IPK 3,00 (%) 52,17 51,18 55,25 57,81
Jumlah Lulusan 345 297 219 320
(orang)
D. Fakultas Peternakan Rata-rata IPK 2,84 3 3,01 2,96
IPK 3,00 (%) 33,54 50,32 51,3 47,83
Jumlah Lulusan 161 155 154 207
(orang)
6

Tabel 4 IPK dan jumlah Lulusan Program Sarjana IPB 2010-2013 (lanjutan)
No Fakultas Mutu Lulusan 2010 2011 2012 2013
E. Fakultas Kehutanan Rata-rata IPK 2,98 2,86 3,01 2,98
IPK 3,00 (%) 45,67 30,63 49,8 49,83
Jumlah Lulusan 254 284 251 303
(orang)
F. Fakultas Teknologi Rata-rata IPK 3,25 3,21 3,11 3,19
Pertanian IPK 3,00 (%) 77,68 76,47 64,13 72,7
Jumlah Lulusan 336 340 184 315
(orang)
G. Fakultas MIPA Rata-rata IPK 2,96 2,97 2,93 3
IPK 3,00 (%) 47,67 45,63 41,08 52,61
Jumlah Lulusan 514 526 443 652
(orang)
H. Fakultas Ekonomi Rata-rata IPK 3,21 3,17 3,16 3,18
dan Manajemen IPK 3,00 (%) 77,09 68,94 69,37 72,63
Jumlah Lulusan 598 602 506 559
(orang)
I. Fakultas Ekologi Rata-rata IPK 3,23 3,19 3,13 3,16
Manusia IPK 3,00 (%) 79,65 75,64 71,05 70,5
Jumlah Lulusan 226 234 228 278
(orang)
Sumber: RKA IPB 2010-2013
Berdasarkan tabel tersebut dapat kita bandingkan atara input pendanaan dan
Output jumlah lulusan untuk mengansumsikan bahwa kemungkinan terdapat
ineficiency dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan
Tabel 5. Perbandingan Input dengan Jumlah Lulusan
No Fakultas Biaya Perlulusan 2012-2014
A. Fakultas Pertanian 21.035.174
B. Fakultas Kedokteran Hewan 27.009.247
Fakultas Perikanan dan Ilmu
C. Kelautan 25.803.608
D. Fakultas Peternakan 17.020.356
E. Fakultas Kehutanan 17.838.208
F. Fakultas Teknologi Pertanian 25.527.445
G. Fakultas MIPA 21.278.827
Fakultas Ekonomi dan
H. Manajemen 22.350.509
I. Fakultas Ekologi Manusia 26.151.270

Tabel 5 menyatakan dapat dilihat rata-rata antara input terhadap Output


jumlah lulusan FKA, FEMA, FATETA, Faperta dan FPIK jauh lebih tinggi
sehingga kemungkinan terjadi ineficiency dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan.
Berdasarkan uraian, maka pada penelitian ini dapat dirumuskan
permasalahan yaitu:
7

1. Bagaimana tingkat efisiensi pelaksanaan program pendidikan yang bersumber


dari dana DM di Departemen?
2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi pendanaan yang
bersumber dari DM dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan?
3. Bagaimana usulan-usulan yang tepat untuk meningkatkan efisiensi dari
pelaksanaan program pendidikan yang bersumber dari dana DM?

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :


1. Menganalisis tingkat efisiensi dari pelaksanaan program pendidikan yang
bersumber dari dana DM
2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi pendanaan yang
bersumber dari DM dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan
3. Mengkaji usulan-usulan yang tepat untuk meningkatkan efisiensi dari
pelaksanaan program pendidikan yang bersumber dari dana DM yang sesuai
dengan keadaan pendidikan tinggi saat ini

Manfaat Penelitian

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada pimpinan


IPB dalam pengambilan strategi untuk meningkatkan efesiensi penggunaan dari
pelaksanaan program tridharma khususnya program pendidikan yang bersumber
dari dana DM.

Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dalam penelitian ini hanya meliputi pendanaan kegiatan


dharma pendidikan tahun 2012-2014. Unit yang di teliti pada tingkat Departemen
yang ada di IPB. Peneliti tidak melakukan pengukuran terhadap tingkat efektivitas
penggunaan dana di IPB karena untuk mengukur efektifitas menggunakan
perbandingan antara outcome dengan Output kegiatan, sedangkan tercapainya
outcome tidak hanya berasal dari satu kegiatan, melainkan bisa dari banyak
kegiatan. Hal itulah yang mengakibatkan pengukuran efektivitas dari suatu kegiatan
menjadi sulit.

2 TINJAUAN PUSTAKA

Pendanaan PTN BH

Berdasarkan PP 26 Tahun 2015 tentang Bentuk Dan Mekanisme Pendanaan


Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum pasal 2 yang menyatakan Pendanaan PTN
Badan Hukum dapat bersumber dari: (a.) anggaran pendapatan dan belanja negara;
dan (b.) selain anggaran pendapatan dan belanja negara. Pasal 3 menyatakan
Pendanaan PTN Badan Hukum yang bersumber dari anggaran pendapatan dan
belanja negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a, diberikan dalam
8

bentuk: (a.) bantuan Pendanaan PTN Badan Hukum; dan/atau (b.) bentuk lain
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 11 menyatakan bahwa (1) Pendanaan PTN Badan Hukum yang
bersumber dari selain anggaran pendapatan dan belanja negara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 huruf b bersumber dari: a. masyarakat; b. biaya pendidikan;
c. pengelolaan dana abadi; d. usaha PTN Badan Hukum; e. kerja sama tridharma
Perguruan Tinggi; f. pengelolaan kekayaan PTN Badan Hukum; g. anggaran
pendapatan dan belanja daerah; dan/atau h. pinjaman. (2) Usaha PTN Badan
Hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d merupakan layanan penunjang
tridharma Perguruan Tinggi. (3) Sumber Pendanaan PTN Badan Hukum
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penerimaan PTN Badan Hukum
yang dikelola secara otonom dan bukan merupakan penerimaan negara bukan pajak.
(4) Ketentuan mengenai pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf h
diatur dengan Peraturan Menteri.

Sumber Dana di IPB

Rencana Strategis IPB tahun 2014-2018 menyatakan dana pengembangan


IPB yang dapat digunakan bersumber dari dana pemerintah dan dana masyarakat..
1. Dana Pemerintah
Sumber dana pengembangan IPB tahun 2014-2018 dari dana pemerintah,
meliputi:
a. Dana Pemerintah Pusat dari APBN yang dituangkan ke dalam Daftar Isian
Pelaksanaan Anggaran (DIPA) IPB untuk membiayai kebutuhan
dasar/pembiayaan utilitas, pelaksanaan tugas pokok dan fungsi IPB dan
pembiayaan penyelenggaraan kebutuhan dasar, serta pembiayaan untuk
pengembangan IPB yang sifatnya reguler (untuk pembiayaan kebutuhan
minimal peningkatan penyelenggaraan pendidikan terutama untuk
mendukung pengembangan pendidikan program sarjana) dan kegiatan
yang sifatnya prioritas nasional (untuk pembiayaan beasiswa program
sarjana, pascasarjana dan vokasi);
b. Dana Pemerintah Pusat dari APBN yang dituangkan ke dalam DIPA
Kementerian/Lembaga untuk membiayai program pengembangan melalui
pembiayaan kegiatan yang bersifat penugasan khusus (hibah dan bentuk
lainnya) dan bantuan biaya operasional;
c. Dana Pemerintah Daerah dari APBD dalam rangka aktivitas kerjasama
untuk pembangunan daerah dan perluasan akses pendidikan (pendidikan
sarjana) melalui program Beasiswa Utusan Daerah (BUD).

2. Dana Masyarakat
Sumber penerimaan dana masyarakat untuk pengembangan IPB tahun 2014-
2018, meliputi:
a. Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP), meliputi SPP program sarjana,
program sarjana beasiswa utusan daerah (BUD), program pascasarjana,
mahasiswa asing, dan program vokasi;
b. Pendapatan Nonkomersial, meliputi beasiswa (seluruh program
pendidikan selain BPPS, PPA/BBM serta Bidik Misi), auxiliary
enterprises dan usaha lain;
9

c. Dana Kerjasama Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat yang


dikoordinasikan oleh LPPM dan fakultas maupun kerjasama kreatif
lainnya;
d. Usaha Komersial, meliputi hasil usaha dalam bentuk pendapatan dividen
atau pembagian keuntungan atas badan usaha komersial (perusahaan)
yang sahamnya dimiliki IPB secara keseluruhan atau sebagian,
diantaranya PT Bogor Life Science and Technology (PT BLST), PT
Prima Kelola Agribisnis dan Agroindustri, dan perusahaan lain yang akan
didirikan IPB;
Pendapatan lain-lain (pendapatan jasa program, endowment fund, jasa bank,
donatur dan lain-lain).

Pengertian Efisiensi

Berkenaan pengertian efisiensi, Silalahi (2002) menyatakan bahwa: Efisiensi


adalah kemampuan untuk membuat penggunaan sumber-sumber yang ada secara
baik, dalam proses pencapaian sasaran atau tujuan. Anthony (2002) menyatakan
bahwa Efisiensi adalah perbandingan Output terhadap input atau jumlah Output
per unit input. Hidayati (2016) Efisiensi merupakan sebuah konsep ekonomi yang
penting dan digunakan untuk mengukur kinerja suatu unit produksi. Menurut
Wibowo (2013) Efisiensi adalah pola atau cara mengurus dan mengatur
pemerintahan termasuk pengelolah keuangan negar a agar keuangan negara
terkeloa dengan baik tidak boros, semua belanja negara yang dikeluarkan setiap
tahun harus terukur berdasarkan standarisasi harga yang berlaku umum diterima
dan diakui sebagai harga berlaku tetap.
Efisiensi digambarkan sebagai penyampingan dari perbatasan yang
menunjukkan maksimum dari masing-masing tingkat input (Lavado 2009).
Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa efisiensi merupakan
perbandingan Output terhadap input dengan menggunakan sumber-sumber yang
ada secara baik, dalam pencapain sasaran / tujuan.

Konsep Efisiensi

Ditinjau dari teori ekonomi ada dua macam pengertian efisiensi, yaitu
efisiensi teknis dan efisiensi ekonomi. Efisiensi ekonomi mempunyai sudut
pandang makroekonomi, sementara efisiensi teknis mempunyai sudut pandang
mikroekonomi. Pengukuran efisiensi teknis cenderung terbatas pada hubungan
teknis dan operasional dalam proses konversi input menjadi output. Sedangkan
dalam efisiensi ekonomi, harga tidak dapat dianggap sudah ditentukan (given),
karena harga dapat dipengaruhi oleh kebijakan makro (Sarjana dalam Komaryatin
2006). Menurut Hidayati (2016)
Menurut Farrell (1957) efisiensi dari perusahaan terdiri dari dua komponen,
yaitu efisiensi teknis dan efisiensi alokatif. Efisiensi teknis mencerminkan
kemampuan dari perusahaan dalam menghasilkan Output dengan sejumlah input
yang tersedia. Sedangkan efisiensi alokatif menurut Machmuddin (2016)
merupakan rasio antara total biaya produksi suatu Output menggunakan faktor
aktual dengan total biaya produksi suatu Output menggunakan faktor optimal
dengan kondisi efisien secara teknis. Kedua ukuran ini yang kemudian
10

dikombinasikan menjadi efisiensi ekonomi (economic efficiency). Suatu


perusahaan dapat dikatakan efisien secara ekonomi jika perusahaan tersebut dapat
meminimalkan biaya produksi untuk menghasilkan Output tertentu dengan suatu
tingkat teknologi yang umumnya digunakan serta harga pasar yang berlaku. Suatu
perusahaan dikatakan efisien secara teknis apabila perusahaan tersebut mampu
memperoleh Output tertentu dengan menggunakan sejumlah kombinasi input
tertentu, pada teknologi tertentu. Perusahaan dikatakan efisien secara alokatif jika
perusahaan tersebut mampu menggunakan sejumlah input untuk memperoleh
Output dengan menggunakan biaya yang murah (minimal) atau keuntungan yang
maksimal pada teknologi tertentu. Suatu perusahaan dikatakan efisien secara
ekonomi apabila perusahaan tersebut telah efisien secara teknis dan alokatif.
Menurut Kumbhaker dan Lovell (2000), efisiensi teknis hanya merupakan
satu komponen dari efisiensi ekonomi secara keseluruhan. Namun, dalam rangka
mencapai efisiensi ekonominya suatu perusahaan harus efisien secara teknis. Dalam
rangka mencapai tingkat keuntungan yang maksimal, sebuah perusahaan harus
memproduksi Output yang maksimal dengan jumlah input tertentu (efisiensi teknis)
dan memproduksi Output dengan kombinasi yang tepat dengan tingkat harga
tertentu (efisiensi alokatif).
Menurut Amirillah (2010) Suatu perusahaan dikatakan efisien secara teknis
apabila menghasilkan Output maksimal dengan sumber daya tertentu atau
memproduksi sejumlah tertentu Output menggunakan sumber daya yang minimal,
dan perusahaan dalam efisiensi ekonomis menghadapi kendala besarnya harga
input, sehingga suatu perusahaan harus dapat memaksimalkan penggunaan input
sesuai dengan anggaran yang tersedia.
Prasetyo (2008) mengatakan bahwa dalam sudut pandang perusahaan dikenal
tiga macam efisiensi, yaitu:
1) Technical Efficiency yang merefleksikan kemampuan perusahaan untuk
mencapai level Output yang optimal dengan menggunakan tingkat input tertentu.
Efisiensi ini mengukur proses produksi dalam menghasilkan sejumlah Output
tertentu dengan menggunakan input seminimal mungkin. Dengan kata lain, suatu
proses produksi dikatakan efisien secara teknis apabila Output dari suatu barang
tidak dapat lagi ditingkatkan tanpa mengurangi Output dari barang lain.
2) Allocative Efficiency, merefleksikan kemampuan perusahaan dalam
mengoptimalkan penggunaan inputnya dengan struktur harga dan tekhnologinya.
Terminologi efisiensi Pareto sering disamakan dengan efisiensi alokatif untuk
menghormati ekonom Italia Vilfredo Pareto yang mengembangkan konsep
efficiency inexchange. Efisiensi Pareto mengatakan bahwa input produksi
digunakan secara efisien apabila input tersebut tidak mungkin lagi digunakan untuk
meningkatkan suatu usaha tanpa menyebabkan setidak-tidaknya keadaan suatu
usaha yang lain menjadi lebih buruk. Dengan kata lain, apabila input dialokasikan
untuk memproduksi Output yang tidak dapat digunakan atau tidak diinginkan
konsumen, hal ini berarti input tersebut tidak digunakan secara efisien.
3) Economic Efficiency, yaitu kombinasi antara efisiensi teknikal dan efisiensi
alokatif. Efisiensi ekonomis secara implisit merupakan konsep least cost production.
Untuk tingkat Output tertentu, suatu perusahaan produksinya dikatakan efisien
secara ekonomi jika perusahaan tersebut menggunakan biaya dimana biaya per unit
dari Output adalah yang paling minimal. Dengan kata lain, untuk tingkat Output
tertentu, suatu proses produksi dikatakan efisien secara ekonomi jika tidak ada
11

proses lainnya yang dapat digunakan untuk memproduksi tingkat Output tersebut
pada biaya per unit yang paling kecil.
Menurut Farrell (1957) dalam Wahab et al. (2014) terdapat dua jenis efisiensi,
yaitu efisiensi ekonomi (economic efficiency) dan efisiensi teknik (technical
efficiency). Prasetyo (2008) dan Sutawijaya dan Lestari (2009) menyatakan bahwa:
a) Technical Efficiency merefleksikan kemampuan perusahaan untuk mencapai
level Output yang optimal dengan menggunakan tingkat input tertentu. Efisiensi ini
mengukur proses produksi dalam menghasilkan sejumlah Output tertentu dengan
menggunakan input seminimal mungkin. Dengan kata lain, suatu proses produksi
dikatakan efisien secara teknis apabila Output dari suatu barang tidak dapat lagi
ditingkatkan tanpa mengurangi Output dari barang lain; b) Economic Efficiency,
yaitu kombinasi antara efisiensi teknikal dan efisiensi alokatif. Efisiensi ekonomis
secara implisit merupakan konsep least cost production. Untuk tingkat Output
tertentu, suatu perusahaan produksinya dikatakan efisien secara ekonomi jika
perusahaan tersebut menggunakan biaya dimana biaya per unit dari Output adalah
yang paling minimal. Dengan kata lain, untuk tingkat Output tertentu, suatu proses
produksi dikatakan efisien secara ekonomi jika tidak ada proses lainnya yang dapat
digunakan untuk memproduksi tingkat Output tersebut pada biaya per unit yang
paling kecil.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Efisiensi

Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi menurut Cunha dan Rocha


(2012) menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat
efisiensi di institusi perguruan tinggi yaitu
a. lokasi perguruan tinggi atau karakteristik dari lokasi perguruan tinggi,
b. kondisi makroekonomi,
c. umur dari perguruan tinggi,
d. tingkat interdisiplinary perguruan tinggi,
e. komposisi antara dosen dan tanaga administrasi,
f. struktur dari sumber pembiayaan perguruan tinggi.
Selim dan Aybarc (2015) menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi
tingkat efisiensi di perguruan tinggi adalah:
a. Jumlah Proyek TUBITAK
b. Jumlah Mahasiswa laki-laki
c. Jumlah Mahasiswa Perempuan
d. Jumlah Fakultas
e. Umur dari perguruan tinggi
Daghbashyan (2011) menjabarkan faktor-faktor yang mempengaruhi
efisiensi pendanaan di perguruan tinggi adalah:
a. ukuran dari perguruan tinggi,
b. jumlah lulusan pertahun,
c. komposisi antara dosen dan tanaga administrasi terhadap Mahasiswa,
d. Jumlah Dosen,
e. kualitas input mahasiswa,
f. Jumlah dana yang bersumber dari pemerintah, dan
g. jumlah pengeluaran untuk kegiatan pendidikan dan penelitian yang
bersumber dari pihak luar.
12

Penelitian ini membandingkan efisiensi antar Departemen yang ada di dalam


lingkungan IPB sehingga faktor-faktor tersebut tidak semuanya dapat digunakan
dalam penelitian ini, faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi Departemen dalam
lingkup kegiatan dharma pendidikan di penelitian ini adalah:
1. Jumlah Dosen (JTP)
2. Jumlah Tenaga Kependidikan (JTK)
3. Jumlah Mahasiswa (JMS)
4. Ketersediaan Laboratorium yang menggunakan alat Lab (KLB)

Pengukuran Efisiensi

Pengukuran efisiensi merupakan salah satu cara untuk mengukur kinerja dari
suatu entitas, Mukesh Jain dalam Wulansari (2010) menyebutkan 5 (lima) manfaat
adanya pengukuran kinerja suatu entitas pemerintahan, yaitu:
a. Pengukuran kinerja meningkatkan mutu pengambilan keputusan.
b. Pengukuran kinerja meningkatkan akuntabilitas internal.
c. Pengukuran kinerja meningkatkan akuntabilitas publik.
d. Pengukuran kinerja mendukung perencanaan stategi dan penetapan tujuan.
e. Pengukuran kinerja memungkinkan suatu entitas untuk menentukan
penggunaan sumber daya secara efektif.
Sedangkan menurut Malik (2010) penilaian efisiensi akan memberikan
informasi penting mengenai kondisi finansial dan performa manajemen yang dapat
berguna bagi regulator, manajer, dan investor.
Pengukuran efisiensi dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu
pendekatan parametrik dan pendekatan nonparametrik seperti dalam Gambar 1.

Gambar 1 Metode Pengukuran Efisiensi

Pendekatan parametrik melakukan pengukuran dengan menggunakan


ekonometrik yang stokastik dan berusaha untuk menghilangkan gangguan dari
pengaruh ketidakefisienan. Ada tiga pendekatan parametrik ekonometrik, yaitu: 1)
13

Stochastic Frontier Approach (SFA); 2) Thick Frontier Approach (TFA); dan 3)


Distribution-free Approach (DFA).
Sementara itu, pendekatan nonparametrik dengan program linier
(Nonparametric Linear Programming Approach) melakukan pengukuran
nonparametrik dengan menggunakan pendekatan yang tidak stokastik dan
cenderung mengkombinasikan gangguan dan ketidakefisienan. Hal ini dibangun
berdasarkan penemuan dan observasi dari populasi dan mengevaluasi efisiensi
relatif terhadap unit-unit yang diobservasi. Pendekatan ini dikenal sebagai Data
Envelopment Analysis (DEA).

Teknik Pengukuran Efisiensi

Terdapat 2 macam analisis frontier yaitu parametrik dan non-parametrik,


yang akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Analisis Parametrik
Menurut Hadad et al. (2003) terdapat 2 pendekatan, dengan metode
parametrik, yaitu stochastic frontier approach (SFA) dan distribution free
approach (DFA) untuk menghitung efisiensi. Analisis SFA berdasarkan kepada
cost frontier. Model SFA mengasumsikan bahwa biaya total yang dikeluarkan oleh
sebuah bank berbeda dari biaya optimal karena adanya random noise dan komponen
inefisiensi. Dikarenakan asumsi distribusi SFA yang terlalu mengikat untuk
digunakan pada pendugaan satu titik observasi menggunakan data tahun tunggal,
maka DFA dibuat untuk memperbaiki. DFA yang juga menggunakan cost frontier
merupakan sebuah pengukuran relatif terhadap suatu perusahaan dibandingkan
dengan suatu perusahaan tertentu.
Keuntungan dari DFA ini adalah bahwa asumsi tentang distribusi yang kuat
dari efisiensi dapat dihindari.
b. Analisis Non-parametrik
Menurut Firmana (2016) pendekatan non parametrik yang umumnya
digunakan untuk melakukan pengukuran efisiensi teknis adalah Data Envelopment
Analysis (DEA), dengan menggunakan metode program linier di dalam aplikasinya.
DEA mengasumsikan bahwa tidak semua entitas adalah efisien. DEA mampu
menganalisis lebih dari satu input dan/atau Output dengan menggunakan model
linear programming yang menghasilkan nilai efisiensi tunggal untuk setiap
penelitian. DEA adalah teknik berbasis program linier untuk mengukur efisiensi
unit organisasi yang dinamakan Decision Making Units (DMU).
Fungsi produksi frontier ini umumnya banyak digunakan dalam menjelaskan
konsep pengukuran efisiensi dan memiliki defenisi yang tidak jauh berbeda dengan
fungsi produksi, dimana frontier digunakan untuk menekankan kepada kondisi
Output maksimum yang dapat dihasilkan (Coelli et al. 1998)

Pengertian DEA

Data Envelopment Analysis (DEA) diperkenalkan oleh Charnes, Cooper dan


Rhodes. Metode DEA dibuat sebagai alat bantu untuk evaluasi kinerja suatu
aktifitas dalam sebuah unit entitas (organisasi). DEA merupakan suatu pendekatan
non parametrik yang pada dasarnya merupakan teknik berbasis pemrograman linier.
DEA bekerja dengan langkah mengidentifikasi unit-unit yang akan dievaluasi,
14

input serta Output unit. Selanjutnya, dihitung nilai produktivitas dan


mengidentifikasi unit mana yang tidak menggunakan input secara efisien atau tidak
menghasilkan Output secara efektif. Produktivitas yang diukur bersifat komparatif
atau relatif, karena hanya membandingkan antar unit pengukuran dari 1 set data
yang sama. DEA adalah model analisis faktor produksi untuk mengukur tingkat
efisiensi relatif dari set unit kegiatan ekonomi (Umri et al. 2011)
DEA adalah suatu teknik pemrograman matematika yang mengukur tingkat
efisiensi dari unit pengambil keputusan (UPK) atau decision-making unit (DMU)
relatif terhadap DMU yang sejenis ketika semua unit-unit ini berada pada atau
dibawah kurva efisien frontiernya. Pendekatan ini pertama kali diperkenalkan
oleh Charnes, Cooper, dan Rhodes pada tahun 1978. Semenjak itu penerapan
pendekatan ini semakin berkembang. (Cevdet et al. 2000). Pemrograman linier
sangat tergantung kepada populasi yang dijadikan sampel sehingga cenderung jauh
dari kesalahan spesifikasi (Lovell 1993). Selanjutnya, kinerja dari suatu DMU
sangat relatif terhadap DMU lainnya, khususnya yang menyebabkan
ketidakefisienan. Pendekatan ini juga dapat melihat bagaimana suatu DMU itu
melakukan penyempurnaan kinerja keuangannya sendiri sehingga menjadi efisien.
DEA berasumsi bahwa tidak semua unit kerja memiliki kinerja yang efisien.
DEA mengakomodasi banyak input dan Output dalam penghitungan model
program liniernya guna menghasilkan nilai tunggal efisiensi bagi setiap observasi.
Nilai ini bisa digunakan untuk mengukur efisiensi teknis, skala efisiensi, dan
efisiensi alokatif (Wulansari 2010).
DEA adalah metode non parametrik yang menggunakan teknik pemrogram
linier untuk memperoleh praktik terbaik terhadap suatu produk dan mengevaluasi
efisiensi terhadap organisasi yang sejenis (Franca dan Figueiredo 2010). Menurut
Kusreni (2010) DEA digunakan untuk mengukur dan mengevalki efisiensi relatif
suatu unit kegiatan ekonomi/UKE (Decision Making Unit/DMU) suatu organisasi.
Menurut Aritonang (2006) DEA merupakan pengembangan dari linear
programming (LP). Penyelesaian rnasalah dengan LP dilakukan dengan
merumuskan secara matematika fujuan yang akan dicapai dan kendala yang
dihadapi dalam mencapai tujuan itu. Tujuan itu dapat berupa maksimisasi atau
minimisasi hasil yang diinginkan. Dalam konteks DEA, yang digunakan untuk
menilai efisiensi penggunaan sumber-sumber daya untuk mencapai suatu hasil
bertujuan untuk maksimisasi efisiensi. Selain itu menurut Baker (2011) DEA adalah
suatu alat untuk mengukur efisiensi dan peringkat dari unit pengambil keputusan.
DEA biasanya digunakan untuk mengukur efisisensi pelayananan yang
diberikan oleh pemerintah, organisasi non profit maupun BUMN. Unit individual
yang dianalisa ini didalam DEA disimbolkan sebagai DMU (Decision Making Unit)
atau Unit Pengambilan Keputusan (Wulansari 2010).
DEA merupakan alat analisis yang digunakan untuk mengukur efisiensi,
antara lain untuk penelitian kesehatan (healt care), pendidikan (education),
transportasi, pabrik (manufacturing), maupun perbankan. Ada tiga manfaat yang
diperoleh dari pengukuran efisiensi dengan DEA (Insukindro et al. 2000), pertama,
sebagai tolak ukur untuk memperoleh efisiensi relatif yang berguna untuk
mempermudah perbandingan antar unit ekonomi yang sama. Kedua, mengukur
berbagai variasi efisiensi antar unit ekonomi untuk mengidentifikasi faktor-faktor
penyebabnya, dan ketiga, menentukan implikasi kebijakan sehingga dapat
meningkatkan tingkat efisiensinya.
15

Menurut Pribadi (2000) DEA menggunakan teknik seperti program


matematik yang dapat menghitung data yang besar dengan berbagai variabel dan
berbagai kendala sehingga setiap wilayah dianalisis secara individual. Menurut
Prasetyo (2008) penelitian dengan DEA dapat disusun dalam berbagai cara
tergantung pada situasi dan permasalahan actual yang dihadapi. Produk atau
organisasi yang akan diukur efisensi relatifnya disebut sebagai DMU, yang diukur
dengan membandingkan input dan Output yang digunakan dengan sebuah titik yang
terdapat pada garis frontier efisien (efficient frontier). Garis frontier efisien ini
mengelilingi atau menutupi (envelop) data dari organisasi yang bersangkutan, dari
sinilah nama DEA diambil. Garis frontier efisien ini deperoleh dari hubungan unit
yang relative efisien. Unit yang berada pada garis ini dianggap memiliki efisiensi
sebesar 1, sedangkan unit yang berada dibawah atau diatas garis frontier efisien
memiliki efisiensi lebih kecil dari 1.
Pertiwi dan Dina (2007) menyatakan dalam DEA, efisiensi relatif DMU
didefinisikan sebagai rasio dari total Output tertimbang dibagi total input
tertimbangnya (total weighted Output/total weighted input). Inti dari DEA adalah
menentukan bobot untuk setiap input dan Output DMU. Bobot tersebut memiliki
sifat : (1) tidak bernilai negatif, dan (2) bersifat universal, artinya setiap DMU
dalam sampel harus dapat menggunakan seperangkat bobot yang sama untuk
mengevaluasi rasionya (total weightedOutput/total weighted input) dan rasio
tersebut tidak boleh lebih dari 1 (total weighted Output/total weighted input <1).

Orientasi Model

Dalam analisis DEA terdapat dua pengklasifikasian dasar model berdasarkan


orientasinya, yaitu DEA dengan orientasi input dan DEA dengan orientasi Output.
Orientasi ini tergantung pada keterbatasan pengendalian oleh pimpinan instansi
baik terhadap input atau Output yang dimiliki oleh unit tersebut (Wulansari 2010).
Menurut Afonso et al. (2005) Tujuan dari metode input oriented adalah untuk
mengevaluasi seberapa banyak kuantitas input dapat dikurangi secara proporsional
tanpa mengubah jumlah Output. Sedangkan Output oriented digunakan untuk
menilai berapa banyak jumlah Output yang dapat ditingkatkan secara proporsional
tanpa mengubah jumlah input yang digunakan. Keduanya baik input oriented
maupun Output oriented akan memberikan hasil yang sama pada kondisi skala
pengembalian yang konstan (constant return to scale) dan hasil yang berbeda untuk
skala pengembalian variabel (variable return to scale), namun demikian kedua
model tersebut akan mengidentifikasi efisiensi/inefisiensi unit ekonomi pada set
yang sama.
Jika pimpinan unit memiliki kontrol yang terbatas pada Output ataupun tidak
ada keterkaitan sama sekali antara input terhadap Outputnya (misalnya besarnya
insentif yang diterima oleh dosen kurang berpengaruh terhadap jumlah mahasiswa
yang dilayani), maka model DEA yang dipilih adalah yang berorientasi pada input.
Model DEA yang berorientasi pada Output, digunakan pada unit yang telah
memiliki input yang memadai sehingga pimpinan unit tersebut hanya berfokus pada
Output dan pengembangannya atau menaikkan reputasi kualitas pelayanannya di
mata mahasiswa. Jika sebuah organisasi secara teknis tidak efisien dari suatu
perspektif yang berorientasi input, maka dia juga akan secara teknis tidak efisien
dari suatu perspektif yang berorientasi Output seperti dalam Gambar 2.
16

Input CRS

VRS
Orientasi
CRS
Output
VRS
Sumber: Wulansari 2010
Gambar 2 Pengklasifikasian Model DEA
Berdasarkan klasifikasi tersebut, dikenal istilah CSR (Constant Returns To
Scale) yaitu pendekatan berdsarkan hubungan antara variabel input dengan
Outputnya, model ini mengidentifikasikan bahwa penambahan terhadap faktor
input tidak akan memberikan dampak terhadap Output, sedangkan VRS (Variable
Returns To Scale) mengidentifikasikan bahwa penambahan terhadap faktor input
akan memberikan dampak baik penaikan maupun penurunan terhadap Output.
(Rusdiana 2013)
Menurut Wulansari (2010) Hasil yang diperoleh dari penggunaan model CRS
atau VRS, digambarkan sebagai titik-titik yang dihubungkan dengan garis (frontier)
berupa bentuk grafik 2 dimensi, akan menunjukkan pola yang berbeda. Model CRS
akan membentuk garis perbatasan (frontier) lurus yang proposional terhadap
kenaikan input dan Outputnya (OBX) tanpa memperhitungkan ukuran organisasi,
sementara model VRS cenderung akan membentuk garis perbatasan cembung
(VaCBD). Grafik 2 dimensi model CRS dan VRS disajikan dalam Gambar 3.

Sumber: Wulansari (2010)


Gambar 3 Model CSR dan VSR
Titik B merupakan DMU yang mewakili skala efisiensi optimal dibawah
asumsi VRS dan CRS, sedangkan titik C berada pada batasan efisien menurut VRS
tapi inefisien menurut CRS dan titik F berada pada skala inefisiensi karena tak
berada pada batasan efisien baik dengan asumsi VRS atau CRS. Titik I berada
dalam kondisi IRS (Increasing Return To Scale) dimana Skala nilai inefisiensinya
ditentukan oleh rasio jarak HG/HC dengan nilai efisiensinya berdasarkan asumsi
VRS berada pada jarak HC/HI, sementara titik E yang menjauhi skala optimal
berada pada kondisi DRS (Decreasing Return To Scale).
Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah VRS (variable
return to scale). Alasan pemilihan skala efisiensi model VRS ini adalah studi ini
ingin mengetahui tingkat efisiensi sebenarnya (tanpa dibatasi oleh kendala apa pun).
17

Konsep Input dan Output dalam DEA

Menurut Hadad et al. (2003), konsep yang digunakan dalam mendefinisikan


hubungan input-Output dalam tingkah laku dari industri finansial pada metode
parametrik dan non parametrik adalah (i) pendekatan produksi (the production
approach), (ii) pendekatan intermediasi (the intermediation approach), dan (iii)
pendekatan asset (the asset approach).
Akbar (2009) dalam penelitiannya di industri finansial menjabarkan ketiga
pendekatan tersebut yaitu: melihat institusi finansial sebagai produser dari akun
deposit dan kredit pinjaman. Di sini output merupakan jumlah dari akun-akun
tersebut atau dari transaksi-transaksi yang terkait. Sedangkan input adalah jumlah
tenaga kerja, pengeluaran modal pada aset tetap dan material lainnya.
Pendekatan intermediasi Melihat institusi keuangan sebagai lembaga
perantara dalam jasa keuangan, yang merubah dan mentransfer aset-aset finansial
dari unit-unit surplus kepada unit-unit defisit. Dalam hal ini, input-input seperti
biaya tenaga kerja, modal, dan pembayaran bunga pada deposito, dengan output
yang diukur dalam bentuk kredit pinjaman dan investasi finansial.
Pendekatan asset melihat fungsi primer sebuah institusi finansial sebagai
pencipta kredit pinjaman, yang mendekati pendekatan intermediasi, dimana output
benar-benar didefinisikann dalam bentuk aset-aset seperti melakukan penanaman
dana dalam bentuk kredit, suratsurat berharga dan alternatif aset lainnya.
Berdasarkan penjabaran tersebut, maka pendekatan input dan Output yang
sesuai untuk institusi pendidikan adalah pendekatan asset, dimana institusi
pendidikan sebagai penghasil proses kegiatan tridharma.

Manfaat DEA

Dengan menggunakan DEA, selain digunakan untuk mengidentifikasikan


Departemen dengan kinerja terbaik, Pimpinan Institut bisa juga menggunakannya
untuk menemukan cara-cara alternatif guna mendorong Departemen lainnya agar
menjadi unit berkinerja baik. Selain itu DEA dapat membantu para Kepala
Departemen untuk:
a. Menilai kinerja relatif Departemen mereka dengan mengidentifikasi unit
dengan kinerja terbaik di pelaksanaan dharma pendidikan.
b. Mengidentifikasi cara-cara untuk meningkatkan kinerja apabila organisasi
mereka bukan termasuk golongan organisasi dengan kinerja terbaik.
Manfaat lain penggunaan DEA menurut Qurniawati (2013) adalah DEA
dapat melihat sumber ketidakefisienan dengan ukuran peningkatan potensial
(potential improvement) dari masing-masing input.

Keterbatasan DEA

Selain kegunaannya diatas, DEA juga memiliki beberapa keterbatasan dalam


pengaplikasiannya antara lain:
a. DEA adalah teknik nonparametrik/deterministik maka uji hipotesis statistik
sulit dilakukan.
b. DEA merupakan sebuah teknik titik ekstrim, maka kesalahan pengukuran
dapat menyebabkan masalah yang signifikan.
18

Hasil pengolahan data dengan memanfaatkan model DEA dapat dengan baik
memperkirakan efisiensi relatif dari suatu unit dibandingkan dengan unit lainnya
namun akan sulit bila menggunakan pendekatan DEA untuk menentukan nilai
efisiensi mutlak suatu unit secara teoritis.
Menurut Nugraha (2013) Keterbatasan DEA antara lain: a) Mensyaratkan
semua input dan Output harus spesifik dan dapat diukur. b) DEA berasumsi bahwa
setiap unit input atau Output identik dengan unit lain dalam tipe yang sama. c)
Dalam bentuk dasarnya DEA berasumsi adanya CRS (constant return to scale). d)
Bobot input dan Output yang dihasilkan DEA sulit untuk ditafsirkan dalam nilai
ekonomi. e) Maksimasi dalam progam linier digunakan untuk mencari nilai
maksimal pada sistim persamaan linier dengan 2 variabel, dimana dalam penelitian
ini menggunakan 2 variabel, yaitu variabel input dan variabel Output. Sedangkan
kendala dalam progam linear merupakan persamaan-persamaan yang diketahui.

Kajian Penelitian Terdahulu

Penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan judul penelitian ini tersaji


dalam tabel 6.
Tabel 6 Kajian Penelitian Sebelumnya
Peneliti Judul Metodologi Hasil Penelitian
Powel et al. Expenditures, Sampel dari Integrated Tingkat Efisiensi terbaik
(2012) Efficiency, and Postsecondary terutama pada jumlah
Effectiveness Education Data System kredit yang diberikan
in U.S. (IPEDS) and the persmester, tingkat
Undergraduate National efektifitas terbaik
Higher Education: Study of Postsecondary terutama pada rata-rata
A National Faculty (NSOPF) diolah lulusan dalam 6 tahun
Benchmark Model dengan metode LISREL terakhir, sedangkan
Estimates, Standard pengeluaran tertinggi
Errors, dan variabel t pada instruksi
Values
Thanassoulis et Costs and Data envelopment Berdasarkan analisis
al. (2010) efficiency of higher analysis (DEA) dimana DEA menegaskan
education DEA adalah metode bahwa sektor pendidikan
institutions in pemrograman linier tinggi di inggris tidak
England: a DEA yang berfungsi untuk dapat diteliti sebagai satu
analysise memastikan tingkat kesatuan yang saling
efisiensi dari unit menetapkan, dengan
pengambil keputusan menggunakan subset
seperti bank cabang dan institusi yang lebih
universitas homogen dengan sasaran
hasil dan lingkungan
operasi akan mendorong
kearah hasil yang lebih
sempurna dan dapat
dipercaya.
19

Tabel 6 Kajian Penelitian Sebelumnya (lanjutan)


Peneliti Judul Metodologi Hasil Penelitian
Drozdowska dan Effectiveness of Metode pendekatan Dalam jurnal ini
Majewska Higher Education daya saing dipresentasikan indeks
(2013) in the European terbaru mengenai
Union Countries efektifitas di pendidikan
in Context of tinggi termasuk
National komponen yang
Competitiveness menerangkan secara
spesifik mengenai
perkembangan ilmu
ekonomi dan
perkembangan teori
baru.
Sumenge (2013) Analisis Efektifitas Metode analisis data Tingkat dan kriteria
Dan Efisiensi yang digunakan dalam efektifitas anggaran
Pelaksanaan penelitian ini adalah belanja BAPPEDA
Anggaran Belanja metode analisis Minahasa Selatan tahun
Badan deskriptif. Sugiyono 2008 2012 sangat
Perencanaan (2009:206) analisis bervariasi. Tingkat
Pembangunan deskriptif adalah efektifitas tertinggi
Daerah (Bappeda) statistik yang digunakan terjadi pada 2010 dan
Minahasa Selatan untuk menganalisa data yang terendah terjadi
dengan cara pada 2011. Anggaran
mendeskripsikan atau belanja tahun 2008,
memnggambarkan data 2009, 2010 dan 2012
yang telah terkumpul sudah bisa dikatakan
sebagaimana adanya efektif, tetapi pada tahun
tanpa bermaksud 2011 tingkat
membuat kesimpulan efektifitasnya masih
yang berlaku untuk kurang karena realisasi
umum atau generalisasi. anggaran belanja
Untuk mengukur tingkat memiliki perbedaan
efisiensi dan efektifitas yang jauh dengan target
menggunakan rumus anggaran belanja yang
yang ada dalam harus dicapai.
Keputusan Menteri
Dalam Negeri Nomor
690.900-327 tahun 1996

Kerangka Pemikiran

Sebelum dilakukan analisis efisiensi antara input dan Output terlebih dahulu
dilakukan analisis korelasi Pearson untuk mengukur hubungan input dengan Output.
Pengukuran efisiensi menggunakan tools analisis DEA untuk mengukur tingkat
analisis di tingkat Fakultas, sedangkan untuk mengukur faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi efisiensi menggunakan analisis regresi sehingga dapat disimpulkan
usulan-usulan untuk meningkatkan efisiensi kegiatan dharma pendidikan di tingkat
Fakultas. Kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat dilihat dari Gambar 4.
20

Pendanaan PTN BH

APBN Dana Masyarakat


Kegiatan Dharma
Pendidikan

Kondisi Saat Ini


- Terdapat Fakultas yang memiliki input yang cenderung sama. Sedangkan outputnya
yang di tunjukkan melalui mutu lulusan terdapat perbedaan yang cukup signifikan,
sehingga kemungkinan terdapat ineficiency dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan di
Fakultas
- IPB belum melakukan analisis terkait efisiensi penggunaan dana yang bersumber dari
DM.

Analisis Metodologi
Efisiensi 1. Pendekatan input output Aset
2. Mencari hubungan input-output
dengan korelasi pearson
Faktor yang Usulan peningkatan 3. Analisis DEA dengan
mempengaruhi efisiensi efisiensi di DMU menggunakan orientasi output
dan model VRS untuk mengukur
tingkat efisiensi antar DMU
Implikasi Manajerial 4. Analisis regresi tobit untuk
melihat faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap efisiensi

Gambar 4 Kerangka Pemikiran

3 METODE

Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan selama 10 bulan mulai dari bulan Juni 2015
sampai dengan Maret 2016. Data-data penelitian ini diperoleh dari Biro Keuangan,
Direktorat Perencanaan dan Pengembangan, Kantor Manajemen Mutu, Direktorat
Administrasi Pendidikan, Direktorat Kemahasiswaan, Direktorat Sumberdaya
Manusia, dan Direktorat Pengembangan Karir dan Hubungan Alumni Institut
Pertanian Bogor Kampus IPB Darmaga Bogor. Penelitian ini menggunakan metode
penelitian kualitatif. Pelaksanaan metode penelitian kualitatif tidak terbatas hanya
sampai pada pengumpulan dan penyusunan data, tetapi meliputi analisis dan
interpretasi tentang arti data tersebut, selain itu semua yang dikumpulkan
berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang diteliti (Moleong dan Lexy
2000).
21

Pengumpulan Data

Data yang digunakan berupa data sekunder, baik kuantitatif maupun kualitatif.
Untuk mendapatkan data tersebut digunakan teknik pengumpulan data berikut :
1. Wawancara
Wawancara ini dilakukan untuk mendapatkan data primer langsung dari
Kepala Bagian dan staff.
2. Observasi
Teknik ini digunakan untuk melakukan pencatatan secara teliti dan sistematis
terhadap obyek kajian dalam melengkapi teknik wawancara.
3. Pengumpulan data sekunder
Data sekunder yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah jumlah
pengeluaran kegiatan dharma pendidikan dari dana DM sebagai input. Jumlah
lulusan, mutu lulusan, prestasi mahasiswa tingkat nasional dan internasional
sebagai Output. Serta sebagai faktor yang mempengaruhi tingkat efisiensi
adalah umur Departemen, jumlah dosen, jumlah tenaga kependidikan, dan
jumlah mahasiswa .
4. Studi Kepustakaan
Metode ini digunakan untuk mempelajari dan mengkaji literatur yang
berhubungan dengan permasalahan yang diteliti. Hal ini dapat memberikan
informasi yang bersifat teoritis sebagai landasan teori dalam menunjang
pelaksanaan penelitian.

Metode Analisis

Analisis Efisiensi ini dilakukan melalui tiga tahap, tahap pertama dilakukan
analisis korelasi pearson untuk mengetahui hubungan antar faktor-faktor input dan
Output, tahap kedua dilakukan analisis DEA untuk mengetahui tingkat efisiensi
suatu DMU dengan menggunakan software Max DEA dimana menurut Charnes et
al. (1978) Metode DEA dibuat sebagai alat bantu untuk evaluasi kinerja suatu
aktifitas dalam sebuah unit entitas (organisasi). Tahap terakhir yaitu tahap ketiga
dilakukan analisis regresi untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi efisiensi suatu DMU dengan menggunakan software EViews.

Korelasi Pearson

Korelasi adalah sebuah teknik statistic yang digunakan untuk menguji ada
atau tidaknya hubungan, seberapa kuatkah hubungan antara satu atau beberapa
variable dengan suatu variable lainnya, serta arah arah hubungan dari dua variable
atau lebih (Wahana Komputer 2015). Jenis data dalam statistik terbagi atas data
kategorik (skala pengukuran nominal dan ordinal) serta numerik (skala pengukuran
interval dan rasio). Penjumlahan skala ordinal dinamakan skala interval, sehingga
apabila skala interval dikorelasikan dengan skala lainnya baik itu interval, rasio,
nominal, dan ordinal menggunakan metode korelasi Pearson (Walpole dalam
Nurfitriana 2016).
Yamin et al. (2011) menyatakan Analisis korelasi pearson digunakan apabila
2 (dua) buah variabel X dan Y yang masing-masing mempunyai skala pengukuran
22

sekurang-kurangnya dan hubungannya merupakan hubungan interval, maka


keeratan hubungan di antara kedua variabel tersebut disebut korelasi Pearson.

Regresi Tobit

Hasil dari DEA meniliki nilai yang terbatas, sehingga hasil dari DEA dapat
dikategorikan sebagai data tersensor. Jenis data tersensor merupakan data yang
memuat nilai nol pada sebagian pengamatan sedangkan untuk sebagian lain
mempunyai nilai tertentu yang bervariasi (Umami et al. 2013).
Banyak penelitian menggunakan alat analisa regresi berganda. Hal ini karena
ada beberapa keunggulan dari analisa tersebut. Sebagian besar analisa yang
dilakukan akademis Indonesia menggunakan metode ordinary least squares (OLS).
Namun untuk analisa menggunakan variabel tidak bebas yang censored, yaitu nilai
dari variabel tidak bebas tersebut terbatas atau sengaja dibatasi, metode OLS tidak
dapat digunakan karena parameter yang dihasilkan oleh OLS mengalami bias dan
juga tidak konsisten. Untuk mengatasi kekurangan tersebut, harus digunakan
metode regresi Tobit, yang dikembangkan oleh Tobin pada tahun 1958 (Suhardi
2001).
Regresi Tobit dikemukakan pertama kali oleh Tobin (1958) yang
mengasumsikan bahwa variabel tidak bebas terbatas nilainya (censored), hanya
variabel bebas yang tidak terbatas, semua variabel (baik bebas maupun tidak bebas)
diukur dengan benar, tidak ada autokorelasi, heteroskeditas dan multikolinearitas
yang sempurna serta menggunakan model matematis yang tepat (Endri 2008).
Apabila data yang akan dianalisis memiliki nilai variabel tidak bebas yang terbatas
(censored), Ordinary Least Square (OLS) tidak dapat diaplikasikan untuk
mengestimasi koefisien regresi. Jika digunakan OLS maka akan terjadi bias dan
estimasi parameter yang tidak konsisten. Regresi Tobit yang mengikuti konsep
maximum likelihood menjadi pilihan yang tepat untuk mengestimasi koefisien
regresi (Chu et al. 2010). Indeks inefisiensi teknis yang dihasilkan dari analisis
DEA berada diantara 0 sampai dengan 1, yang akan digunakan dalam model regresi
Tobit untuk menjelaskan hubungan antara tingkat inefisiensi teknis dengan
karakteristik petani (Idris et al. 2013).
Model Tobit merupakan suatu model regresi yang dapat digunakan untuk
menganalisis suatu masalah dengan variabel dependen yang tersensor. Metode
Tobit menggunakan cara maximum likelihood (ML), bukan least squares lagi.
Daripada meminimalisasikan nilai kwadrat dari error (galat) seperti cara OLS, cara
ML memaximalisasikan nilai dari likelihood function dengan mencari parameter-
parameter regresi yang memberikan nilai tertinggi untuk likelihood function
tersebut (Gujarati 1995)
Regresi Tobit (tersensor) dipilih karena variabel tidak bebas hanya ada pada
selang nilai 0-1 sehingga diluar selang tersebut tersensor. Sedangkan untuk
variabel bebas bernilai bebas. Menurut Fischer dan Getis (2010), dibutuhkan
metode khusus untuk meneliti data tersensor yang memiliki pengaruh spasial dan
metode yang paling cocok adalah Regresi Tobit.
23

Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah sesuatu yang dijadikan obyek pengamatan


penelitian, variabel-variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Variabel Dependen:
1. Efisiensi penggunaan anggaran DM di tingkat Fakultas
Variabel Independen
1. Input
- Jumlah biaya kuliah dan praktikum
- Jumlah biaya ujian
- Jumlah biaya cetak dan buku
- Jumlah biaya daya dan jasa pendidikan
- Jumlah honor mengajar dan praktikum
- Jumlah honor pembimbing dan penguji
- Jumlah bantuan mahasiswa
- Jumlah biaya pemeliharaan dan pengadaan
2. Output
- Jumlah Lulusan
- Mutu Lulusan
- Jumlah prestasi mahasiswa tingkat internasional
- Jumlah prestasi mahasiswa tingkat nasional
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi
- Jumlah Dosen
- Jumlah tenaga kependidikan
- Jumlah Mahasiswa
- Ketersediaan Lab

Operasional Variabel

Untuk memudahkan proses analisis, diperlukan penjabaran dan pengukuran


dari operasionalisasi variabel dalam Tabel 7.
Tabel 7 Operasional Variabel
No Variabel Simbol Satuan Cara Pengukuran
1 Efisiensi Y 0-1 Perbandingan input dan Output dengan
menggunakan metode DEA
2 Input
Sub Variabel:
- Biaya Kuliah dan BKP Rupiah - Jumlah Bahan Kuliah
Praktikum
- Jumlah Bahan Laboratorium
- Jumlah Bahan Praktikum
- Jumlah Biaya Praktek
- Jumlah Biaya Kegiatan Wisuda
- Jumlah Bantuan Seminar
- Jumlah Biaya Alih Semester
- Jumlah Biaya Kegiatan Stadium
Generale/ Kuliah Umum
24

Tabel 7 Operasional Variabel (lanjutan)


No Variabel Simbol Satuan Cara Pengukuran
- Biaya Ujian BUJ Rupiah - Jumlah Bahan Ujian
- Jumlah Biaya Ujian
- Jumlah Biaya Kegiayan Sidang S1
- Kegiatan UTS/UAS
- Biaya Cetak dan BCB Rupiah - Jumlah Biaya Buku
Buku
- Jumlah Biaya Cetak
- Daya dan Jasa DJP Rupiah - Jumlah Daya dan Jasa Pendidikan /
Pendidikan Listrik
- Jumlah Daya dan Jasa Pendidikan /
Telepon
- Jumlah Daya dan Jasa Pendidikan /
Air
- Honor Mengajar HMP Rupiah - Jumlah Honor Asisten Dosen
dan Praktikum
- Jumlah Honor Mengajar
- Jumlah Honor Mengajar Dosen
Tamu
- Jumlah Honor Mengajar Luar Biasa
- Jumlah Honorarium Instruktur
- Honor HPP Rupiah - Jumlah Honor Komisi
Pembimbing dan
Penguji
- Jumlah Honor Pembimbing
Eksternal
- Jumlah Honor Pembimbing Internal
- Jumlah Honor Pembuat Soal Ujian
- Jumlah Honor Pemeriksa Ujian
- Jumlah Honor Pengawas Ujian
- Bantuan BMA Rupiah - Jumlah Bantuan Lokakarya
Mahasiswa
- Jumlah Biaya Perjalanan Mahasiswa
- Jumlah Mahasiswa Berprestasi
- Jumlah Bantuan Pendidikan
- Biaya BPP Rupiah - Jumlah Pemeliharaan
Pemeliharaan dan sarana/prasarana pendidikan
Pengadaan
- Jumlah Pengadaan/ pembelian buku
perpustakaan
- Jumlah Peralatan Laboratorium
- Jumlah Sewa Peralatan untuk Kuliah/
Praktikum
3 Output
Sub Variabel
- Jumlah Lulusan JLM Orang - Jumlah lulusan program sarjana di
masing-masing fakultas
25

Tabel 7 Operasional Variabel (lanjutan)


No Variabel Simbol Satuan Cara Pengukuran
- Mutu Lulusan IPK Point - Rata-Rata IPK Lulusan program
sarjana masing-masing Departemen
- Prestasi PMI Point - Jumlah prestasi mahasiswa tingkat
Mahasiswa internasional
Tingkat
Internasional
- Prestasi PMN Point - Jumlah prestasi mahasiswa tingkat
Mahasiswa Nasional
Tingkat Nasional
4 Faktor-faktor yang
mempengaruhi
Efisiensi
Sub Variabel
- Jumlah Dosen JTP Orang - Jumlah Dosen di Departemen
- Jumlah Tenaga JTK Orang - Jumlah Tendik di Departemen
Kependidikan
- Jumlah JMS Orang - Jumlah Student Body di Departemen
Mahasiswa
- Ketersediaan Lab KLB Point - Ketersediaan Lab yang
(dummy) menggunakan Bahan di Departemen

Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dalam bentuk studi kasus yang
bertujuan untuk memberikan atau menjabarkan suatu keadaan yang terjadi saat ini
dengan menggunakan prosedur ilmiah untuk menjawab masalah secara aktual
(Sugiyono 2006)

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini yang pertama analisis korelasi
pearson dimana analisis ini berfungsi untuk mengukur hubungan antara variabel
input dan Output, setelah itu dilakukan analisis DEA untuk mengukur tingkat
efisiensi antar Departemen dan yang terakhir dilakukan analisis regresi tobit untuk
mengetahui faktor-faktor apa yang mempengaruhi efisiensi di Departemen.
Data input dan Output yang digunakan selama 3 tahun yaitu dalam rentang
tahun 2012-2014, hal ini disebabkan karena sebelum tahun 2012 data input yang
dibutuhkan masih belum tercatat dengan baik di dalam sistem keuangan sedangkan
data tahun 2015 untuk input dan Output masih dalam proses penyusunan. Data input
dan Output tahun 2012-2014 dapat dilihat pada pada lampiran 1.

Hasil Analisis Korelasi Pearson

Analisis Korelasi Pearson menggunakan software SPSS, analisis ini bertujuan


untuk mengetahui hubungan antara variabel input dan Output. Jika ada variabel
26

input dan Output yang tidak terdapat hubungan sama sekali maka variabel tersebut
tidak digunakan dalam analisis berikutnya. Hasil dari korelasi pearson dapat dilihat
pada Tabel 8.
Tabel 8 Hasil Analsisi Korelasi Pearson
Variabel Input\Variabel Output JLM IPK PMI PMN
BKP Pearson Correlation .203* -.054 -.007 -.078
Sig. (2-tailed) .038 .582 .946 .427
N 105 105 105 105
BUJ Pearson Correlation .128 .145 -.079 -.029
Sig. (2-tailed) .193 .139 .422 .770
N 105 105 105 105
BCB Pearson Correlation .242* .014 -.019 .056
Sig. (2-tailed) .013 .887 .850 .572
N 105 105 105 105
DJP Pearson Correlation -.115 .023 .144 -.044
Sig. (2-tailed) .242 .819 .143 .654
N 105 105 105 105
HMP Pearson Correlation .463** -.053 -.226* -.124
Sig. (2-tailed) .000 .590 .021 .208
N 105 105 105 105
HPP Pearson Correlation .482** .063 -.159 -.033
Sig. (2-tailed) .000 .523 .106 .736
N 105 105 105 105
BMA Pearson Correlation .299** -.047 -.148 -.108
Sig. (2-tailed) .002 .633 .133 .274
N 105 105 105 105
BPP Pearson Correlation .173 .059 .044 -.045
Sig. (2-tailed) .078 .552 .653 .650
N 105 105 105 105

Berdasarkan hasil korelasi pearson tersebut dapat dilihat bahwa variabel yang
dapat digunakan untuk analisis berikutnya adalah BKP, BCB, HMP, HPP, BMA
untuk variabel input serta JLM dan PMI untuk variabel Output.
Variabel BUJ, DJP, BPP untuk variabel input serta IPK dan PMN untuk
variabel Output tidak dapat digunakan karena variabel-variabel tersebut tidak
terdapat hubungan sama sekali dengan variabel lainnya.

Hasil Analisis DEA

Analisis Efisiensi terhadap Departemen dihitung dengan menggunakan


analisis DEA dengan asumsi Variable Return to Scale (VRS) yang berorientasi
terhadap Output. Departemen dikatakan efisien jika memiliki tingkat efisien 1
sedangkan yang tidak efisien memperoleh nilai dibawah satu.
Analisis ini menggunakan software Max DEA, DMU yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Departemen sejak tahun 2012-2014 sehingga total 105 DMU
27

dengan total input sebanyak 5 dan Output sebanyak 2 sesuai dengan hasil korelasi
Pearson. Hasil analisis DEA dapat dilihat dalam Tabel 9.
Tabel 9 Hasil Max DEA
Departemen 2012 2013 2014
Agribisnis 1 1 0,664048
Agronomi Dan Hortikultura 1 1 0,94622
Arsitektur Lanskap 1 1 0,371831
Biokimia 0,94047 1 0,174419
Biologi 0,975274 1 0,497292
Budidaya Perairan 0,573491 0,967861 0,143095
Ekonomi Sumberdaya Dan Lingkungan 0,628528 0,719644 0,355613
Fisika 1 0,726708 1
Gizi Masyarakat 1 0,485484 0,632383
Ilmu Dan Teknologi Kelautan 0,388326 1 1
Ilmu Dan Teknologi Pangan 0,895402 0,578324 0,236715
Ilmu Ekonomi 0,634744 0,755223 0,212655
Ilmu Keluarga Dan Konsumen 1 1 0,9375
Ilmu Komputer 0,756037 0,721914 0,334116
Ilmu Nutrisi Dan Teknologi Pakan 1 1 0,666505
Ilmu Produksi Dan Teknologi Peternakan 1 0,598979 0,30145
Ilmu Tanah Dan Sumberdaya Lahan 0,44611 0,320998 0,465615
Kedokteran Hewan 0,864534 1 0,997733
Kimia 0,615737 0,630923 0,476464
Komunikasi Dan Pengembangan Masyarakat 0,829742 0,483255 0,207959
Konservasi Sumberdaya Hutan Dan Ekowisata 0,617206 0,510984 0,174142
Manajemen 1 0,94978 1
Manajemen Hutan 0,655861 0,568925 0,418978
Manajemen Sumberdaya Perairan 0,424286 0,320985 0,099198
Matematika 1 1 1
Meteorologi Dan Geofisika 1 1 1
Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan 0,919631 1 0,130808
Proteksi Tanaman 0,622663 1 0,462998
Silvikultur 0,409991 0,251062 0,203619
Statistika 0,52134 0,312298 0,159512
Teknik Mesin Dan Biosistem 1 0,528557 0,985484
Teknik Sipil Dan Lingkungan 1 1 1
Teknologi Hasil Hutan 0,835491 1 0,375148
Teknologi Hasil Perairan 0,797357 0,348655 0,579553
Teknologi Industri Pertanian 0,529638 0,801075 0,279067
Berdasarkan hasil DEA, maka efisiensi DMU terbagi dalam empat kelompok.
Pertama, DMU yang selalu efisien selama 2012-2014 yaitu Departemen
Matematika, Meteorologi dan Geofisika, Teknik Sipil dan Lingkungan. Kedua,
Departemen mengalami peningkatan atau increasing hingga mencapai titik efisien
pada tahun 2014 yaitu Departemen Ilmu Dan Teknologi Kelautan, Manajemen, dan
Fisika. Ketiga, Departemen mengalami peningkatan atau increasing namun masih
28

dibawah tingkat efisiensi yaitu Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Gizi
Masyarakat, Teknologi Hasil Perairan, Ilmu Tanah daan Sumberdaya Lahan.
Kempat, Departemen yang mengalami penurunan tingkat efisiensi atau disebut
decreasing, contoh Departemen Agronomi dan Hortikultura, Ilmu Keluarga dan
Konsumen, dan Departemen lainnya yang mengalami penurunan nilai baik itu yang
menurun setelah mencapai efisien maupun yang selalu terus menurun meskipun
belum mencapai efisien.

Analisis Inefisiensi DMU

Selain menghasilkan tingkat efisiensi dari DMU, Software Max DEA juga
mampu mendeteksi penyebab tidak efisiennya suatu DMU, sehubungan dengan
pendekatan yang berorientasi terhadap Output dalam penelitian ini. Maka,
penyebab tidak efisiennya suatu DMU hanya dilihat dari sisi Output saja, hasil Max
DEA mampu memberikan nilai efisien dari masing-masing Output sehingga dapat
diambil keputusan berapa besar Output yang perlu ditingkatkan oleh DMU agar
efisien. Penyebab terjadinya inefisiensi DMU berdasarkan software Max DEA
dapat dilihat dalam Gambar 5 dan Gambar 6.
Gambar 5 Inefisiensi JLM
29
Gambar 6 Inefisiensi PMI
30
31

Pada Gambar 5 dan Gambar 6, garis merah menunjukkan titik efisiensi yang
harus diperoleh untuk output JLM dan JMI sedangkan kolom yang berwarna biru
menunjukkan nilai output yang sudah diperoleh dari Departemen sehingga dapat
dilihat Departemen yang memperoleh nilai tidak efisien dan mengalami decreasing
pada dalam rentang tahun 2012-2014. Berikut penyebab beberapa Departemen
yang memperoleh nilai DEA sangat kecil dalam rentang waktu 2012-2014 atau
mengalami penurunan tingkat efisiensi yang sangat jauh dari tahun sebelumnya
yaitu:
1. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan memperoleh nilai 0,424286
pada tahun 2012, nilai 0,320985 pada tahun 2013, dan 0,099198 pada tahun
2014. Departemen ini selalu mengalami penurunan nilai DEA karena
Output yang diperoleh selalu mengalami penurunan yaitu untuk Output
jumlah lulusan dimana pada tahun 2012 sebanyak 63 lulusan namun tahun
2014 menurun menjadi 18 lulusan dan prestasi mahasiswa dimana pada
tahun 2012 sebanyak 2 namun orang ditahun 2014 menurun menjadi 0 orang.
Sementara input yang diperoleh tahun 2014 sebesar Rp. 499.011.750
dimana nilai tersebut lebih besar dari tahun 2012 yaitu Rp. 484.087.957.
2. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan memperoleh nilai
0,919631 pada tahun 2012, nilai 1 pada tahun 2013, namun mengalami
penurunan pada tahun 2014 menjadi 0,130808. Penurunan nilai efisiensi
yang signifikan terjadi pada tahun 2014 hal ini disebabkan karena terjadi
penurunan Output JLM tahun 2014 yang cukup signifikan dibandingkan
dengan Output tahun 2012 yaitu sebesar 44 mahasiswa, sedangkan selisih
input di kedua tahun tersebut tidak jauh berbeda yaitu Rp. 368.218.900,-
pada tahun 2012 dan Rp. 344.650.000,- pada tahun 2014.
3. Departemen Statistika memperoleh nilai 0,52134 pada tahun 2012,
0,312298 pada tahun 2013, dan 0,159512 pada tahun 2014. Departemen ini
selalu mengalami penurunan nilai efisiensi disebabkan Output yang
diperoleh tidak pernah mencapai nilai Output pada tingkat efisien, terutama
pada tahun 2014 Departemen Statistika mengalami penurunan Output JLM
yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan tahun 2012 sebanyak 38
mahasiswa, sedangkan input tahun 2014 lebih besar Rp. 244.298.733,-
dibandingkan tahun 2012.

Analisis Regresi Tobit

Hasil perhitungan efisiensi dengan menggunakan DEA pada dasarnya belum


mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Oleh karena itu untuk
mengukur faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi BUS di Indonesia
digunakanlah second stage analysis. Analisis kedua dari penelitian ini
menggunakan model tobit. Model tobit digunakan karena dependent variabelnya
berupa nilai efisiensi antara 0 dan 1 (Rusydiana 2013).
Regresi tobit digunakan untuk mengukur faktor, faktor apa saja yang
mempengaruhi tingkat efisiensi dari Departemen. Faktor-faktor yang ditentukan
dalam penelitian ini berbeda dengan variabel input dan Output, faktor-faktor
tersebut adalah Jumlah Dosen (JTP), Jumlah Tenaga Kependidikan (JTK), Jumlah
Mahasiswa (JMS), dan sedangkan variabel Y dalam analisis ini adalah hasil dari
32

analisis DEA. Hasil dari tobit dengan eviews 9 dapat dilihat pada Tabel 10
Tabel 10 Hasil Regresi Tobit
Variabel Coefficient Std. Error z-Statistic Prob
JMS -0.000555 0.000379 -1.462107 0.1437
JTP 0.004995 0.002866 1.742805 0.0814
JTK -0.002198 0.002178 -1.009485 0.3127
KLB -0.070130 0.060649 -1.156325 0.2475
C 0.829848 0.107097 7.748541 0.0000

Interpretasi Hasil Regresi Tobit


Berdasarkan hasil dari regresi tobit diperoleh hasil:
1. Jumlah tenaga kependidikan tidak berpengaruh terhadap tingkat efisiensi
(prob. 0,3127)
2. Jumlah tenaga pendidik berpengaruh terhadap tingkat efisiensi (Prob. 0,0814)
pada nilai signifikan = 0,15 dengan pegaruh secara positif yang menjelaskan
bahwa dengan bertambahnya tenaga pendidik maka dapat meningkatkan
efisiensi dari Departemen.
3. Jumlah mahasiswa berpengaruh terhadap tingkat efisiensi (Prob. 0,1437)
pada tingkat signifikan = 0,15 dengan pengaruh secara negatif. Hal ini
menunjukkan bahwa dengan bertambahnya mahasiswa maka dapat
menurunkan tingkat efisiensi Departemen. Pengaruh negatif diakibatkan
karena pada tahun 2012 mulai ditetapkan SPP dengan sistem Uang kuliah
Tunggal (UKT), sehingga meskipun jumlah mahasiswa bertambah tetapi
input tidak mengalami penambahan yang signifikan.
4. Ketersediaan laboratorium yang menggunakan alat lab tidak berpengaruh
terhadap tingkat efisiensi (prob. 0,2475)
Model yang dihasilkan dalam analisis regresi adalah:
Y = -0.000555*JMS + 0.004995*JTP - 0.002198*JTK - 0.070130*KLB +
0.829848

Implikasi Manajerial

Implikasi manajerial menyajikan berbagai implikasi kebijakan yang dapat


dihubungkan dengan temuan-temuan yang dihasilkan dalam penelitian ini.
Implikasi manajerial yang dapat disusun dari hasil penelitian ini adalah:
1. DMU yang tingkat efisiensinya tinggi dalam analisis ini dapat digunakan
oleh pimpinan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk meningkatkan
tingkat efisiensi DMU dengan menjadikan Departemen yang selalu efisien
tersebut sebagai benchmark untuk Departemen lainnya untuk meningkatkan
output Departemen.
2. Untuk meningkatkan efisiensi Departemen, strategi yang harus diambil oleh
pimpinan perguruan tinggi adalah meningkatkan output dari unit kerja
seperti jumlah lulusan dan jumlah prestasi mahasiswa tingkat internasional.
Cara yang digunakan adalah dengan meningkatkan kualitas sarana dan
prasarana kegiatan pendidikan.
3. Pimpinan Departemen juga perlu melakukan analisis jumlah rasio Dosen di
Departemen. Berdasarkan hasil penelitian, jumlah dosen di Departemen
33

merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat efisiensi, semakin


baik rasio dosen maka Departemen semakin efisien. Cara yang dapat
dilakukan oleh Departemen adalah bersama dengan DIrektorat SDM
melakukan analisis rasio kebutuhan Dosen/man power planning di IPB,
setelah itu melakukan perekrutan Dosen PNS maupun Non PNS untuk
memenuhi kebutuhan Dosen tersebut sesuai dengan kompetensi yang
dibutuhkan oleh Departemen.

5 SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Kesimpulan dalam penelitian ini adalah:


1. Departemen yang memperoleh nilai efisien 1 dalam periode 2012-2014 dalam
analisis DEA ini adalah Departemen Matematika, Departemen Meteorologi dan
Geofisika, dan Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan.
2. Hasil DEA juga menunjukkan Departemen mengalami peningkatan atau
increasing hingga mencapai titik efisien pada tahun 2014 yaitu Departemen Ilmu
Dan Teknologi Kelautan, Manajemen, dan Fisika. Selain itu Departemen
mengalami peningkatan atau increasing namun masih dibawah tingkat efisiensi
yaitu Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Gizi Masyarakat, Teknologi
Hasil Perairan, Ilmu Tanah daan Sumberdaya Lahan. Terakhir Departemen yang
mengalami penurunan tingkat efisiensi atau disebut decreasing, contoh
Departemen Agronomi dan Hortikultura, Ilmu Keluarga dan Konsumen, dan
Departemen lainnya yang mengalami penurunan nilai baik itu yang menurun
setelah mencapai efisien maupun yang selalu terus menurun meskipun belum
mencapai efisien.
3. Berdasarkan hasil dari regresi tobit diperoleh hasil faktor-faktor yang
mempengaruhi efisiensi di Departemen yaitu Jumlah tenaga pendidik
berpengaruh terhadap tingkat efisiensi (Prob. 0,0814) pada nilai signifikan =
0,10 dengan pegaruh secara positif yang menjelaskan bahwa dengan
bertambahnya tenaga pendidik maka dapat meningkatkan efisiensi dari
Departemen dan Jumlah mahasiswa berpengaruh terhadap tingkat efisiensi (Prob.
0,1437) pada signifikan = 0,15 dengan pengaruh secara negatif. Hal ini
menunjukkan bahwa dengan bertambahnya mahasiswa maka dapat menurunkan
tingkat efisiensi Departemen. Pengaruh negatif diakibatkan karena pada tahun
2012 mulai ditetapkan SPP dengan sistem Uang kuliah Tunggal (UKT),
sehingga meskipun jumlah mahasiswa bertambah tetapi input tidak mengalami
penambahan yang signifikan.

Saran

Saran dalam penelitian ini adalah:


1. Departemen yang sudah memperoleh nilai 1 harus mempertahankan nilai
efisiensinya dengan mempertahankan nilai Output dalam tingkat efisiensi.
34

2. Departemen yang sedang mengalami increasing harus terus meningkatkan nilai


efisiensinya, sedangkan untuk yang mengalami decreasing dan yang nilai
efisiensi berada dibawah 1, maka harus meningkatkan Output yaitu dengan
meningkatkan jumah lulusan dan meningkatkan jumlah prestasi mahasiswa
tingkat internasional dan nasional.
3. Untuk meningkatkan tingkat efisiensi Departemen, maka dibutuhkan
peningkatan terhadap rasio Dosen terhadap mahasiswa. Karena berdasarkan
analisis tobit, tingkat efisiensi Departemen sangat dipengaruhi oleh Jumlah
Dosen.

DAFTAR PUSTAKA

Akbar N. 2009. Analisis efisiensi organisasi pengelola zakat nasional dengan


pendekatan data envelopment analysis. Jurnal Islamic Finance and Business
Review 4 (2): 760-784
Afonso, Antnio, Aubyn MS. 2005. Non-parametric approaches to education and
health efficiency in OECD countries. Journal of Applied Economics. 8(2): 227-
246
Amirillah MA. 2010. Efisiensi perbankan syariah di Indonesia tahun 2005-2009
[tesis]. Semarang(ID): Universitas Dipenogoro
Anthony RN. 2002. Sistem Pengendalian Manajemen. Jakarta(ID): Salemba Empat
Aritonang LR. 2006. DEA sebagai analisis alternatif dalam penelitian akuntansi.
Jurnal Akuntansi Universitas Tarumanagara. 10(3): 283-295.
Baker A. 2011. A data envelopment analysis of the efficiency of higher education
institutions using Americas best colleges ranking data [disertasi],
Washington(US): Walden University.
Castorena GD. 2001. An efficiency-based decision making model for higher
education funding in mexico. [disertasi]. Washington (US): George Washington
University
Coelli T, Rao DSP, Battese GE. 1998. An Introduction to Efficieny and Productivity
Analysis. London (GB): Kluwer Academic Publisher.
Cunha M, Rocha V. 2012. On the Efficiency of public higher education institutions
in Portugal: an exploratory study. FEP Working Papers 468:1-27
Charnes A, Cooper WW, Rhodes E. 1978. Measuring the efficiency of decision
making units. European Journal of Operation Research. 2(6): 429-444
Chu YJ, Yu, Huangl Y. 2010. Measuring Airport Production Efficiency Based on
Two-Stage Correlative DEA. IEEM 17th International Conference; 2010 Oct
29-31; Xiamen (CHN): Industrial Engineering and Engineering Management
Drozdowska EJ, Majewska M. 2013. Effectiveness of higher education in the
european union countries in context of national competitiveness. Quarterly
Journal of Economics and Economic Policy. 8(2):81-100
Endri. 2008. Efisiensi teknis perbankan syariah di Indonesia. Jurnal Keuangan dan
Perbankan. 10(2): 175-191
Firmana F. 2016. Efisiensi teknis usahatani padi di Kabupaten Karawang dengan
pendekatan data envelopment analysis (DEA) [tesis]. Bogor(ID). Institut
Pertanian Bogor
35

Fischer MM, Getis A. 2010. Handbook of Applied Spatial Analysis : Software Tools,
Methods, and Application. New York (US): Springer New York
Franca JMF, Figueiredo JN. 2010. A DEA methodology to evaluate the impact of
information asymmetry on the efficiency of not-for-profit organizations with an
application to higher education in Brazil. Ann Oper Res. 173(1): 3956
Gujarati DN. 1995. Basic Econometrics. Ed Ke-3. New York (US): McGraw-Hill
International Editions
Hadad, Muliaman D, Santoso W, Ilyas D, Mardanugraha E. 2003, Analisis efisiensi
industri perbankan Indonesia: penggunaan metode nonparametrik data
envelopment analysis (DEA), Research Paper. Sistem Keuangan Bank
Indonesia.5(7):1-29
Hartono E. 2009. Analisis efisiensi biaya industri Perbankan indonesia dengan
menggunakan metode parametrik stochastic frontier analysis [tesis].
Semarang(ID): Universitas Dipenogoro
Hidayati R. 2016. Pengaruh efisiensi teknis dan preferensi risiko petani terhadap
penerapan usahatani kubis organik di Kecamatan Baso Kabupaten Agam
Sumatera Barat [tesis]. Bogor(ID): Institut Pertanian Bogor
Idris ND, Siwar C, Talib B. 2013. Determinants of techical efficiency on pineapple
farming. American Journal of Applied Sciences 10(4): 426 432
[IPB] Institut Pertanian Bogor. 2011. Peraturan Rektor IPB nomor: 11/I3/PP/2011
Tahun 2011 tentang mekanisme penetapan sumbangan penyelenggaraan
pendidikan bagi mahasiswa program pendidikan sarjana Institut Pertanian Bogor.
Bogor(ID): IPB
[IPB] Institut Pertanian Bogor. 2013. Rencana Strategis IPB Tahun 2014-2018.
Bogor(ID): IPB
Komaryatin N. 2006. Analisis efisiensi teknis industri BPR di eks karesidenan Pati
[tesis]. Semarang(ID): Universitas Dipenogoro
Kusreni S. 2010. Analisis efisiensi penerimaan pendapatan asli daerah (PAD) di
propinsi di Indonesia (aplikasi model data envelopment analisys) Jurnal Media
Trend. 5(2) : 110-120
Lavado RF. 2009. The efficiency of health and education expenditures in the
Philippines. Central European Journal of Operations Research. 17(3):275291
Machmuddin N. 2016. Analisis efisiensi ekonomi usahatani padi organik dan
konvensional [tesis]. Bogor(ID): Institut Pertanian Bogor
Malik SA. 2010. Are Saudi banks efficient? evidence using data envelopment
analysis (DEA). International Journal of Economics and Finance. 2(2): 53-58
Moleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung(ID): Rosda-
karya.
Ngatindriatun, Ikasari H. 2009. Efisiensi relatif perguruan tinggi negeri di
Indonesia: pendekatan data envelopment analysis (DEA). Jurnal Manajemen
Teori dan Terapan. 2(3): 199-207.
Nugraha BW. 2013. Analisis efisiensi perbankan menggunakan metode non
parametrik data envelopment analysis (DEA). Jurnal Ilmu Manajemen. 1(1):
272-284
Nurfitriana N. 2016. Perilaku kewirausahaan pelaku usaha pempek skala industri
mikro dan kecil di kota Palembang [tesis]. Bogor(ID): Institut Pertanian Bogor
Pertiwi, Dina L. 2007. Efisiensi pengeluaran pemerintah daerah di propinsi Jawa
Tengah. Jurnal Ekonomi Pembangunan. 12(2): 123-139
36

Powel BA, Gilleland GS, Pearson LC. 2012. Expenditures, efficiency, and
effectiveness in U.S. undergraduate higher education: a national benchmark
model. The Journal of Higher Education. 83(1): 102-127
Prasetyo SB. 2008. Analisis efisiensi distribusi pemasaran produk dengan metode
data envelopment analysis (DEA). Jurnal Penelitian Ilmu Teknik. 8(2): 120-128
Pribadi KN. 2000. Kajian data envelopment analysis (DEA) untuk analisis tingkat
efisiensi wilayah dan kota. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota. 11(2): 99-
109
Qurniawati RS. 2013. Efisiensi perbankan di Indonesia dan pengaruhnya terhadap
return saham dengan pendekatan data envelopment analysis (DEA). BENEFIT
Jurnal Manajemen dan Bisnis. 17(1): 27-40
Rusdiana AS. 2013, Mengukur Tingkat Efisiensi dengan Data Envelopment
Analysis (DEA): Teori dan Aplikasi. Bogor(ID): SMART Publishing
Sav GT. 2012, Four-stage DEA efficiency evaluations: financial reforms in public
university funding. International Journal of Economics and Finance. 5 (1): 24-
33
Selim S, Aybarc S. 2015, Efficiency of higher education in Turkey: a bootstrapped
two-stage DEA approach, International Journal of Statistics and Applications
5(2): 56-67
Silalahi U. 2002. Pemahaman Praktis Asas-Asas Manajemen. Bandung(ID):
Mandar Maju
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Bisnis. Ed ke-9. Bandung(ID): CV Alvabeta.
Suhardi IY. 2001, Penggunaan model regresi tobit untuk menganalisa faktor- faktor
yang berpengaruh terhadap kepuasan konsumen untuk jasa pengangkutan barang.
Jurnal Manajemen & Kewirausahaan. 3(2): 106 112
Sumenge AS. 2013. Analisis efektifitas dan efisiensi pelaksanaan anggaran belanja
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Minahasa Selatan. Jurnal
Emba 1(3): 74-81
Sutawijaya A, Lestari EP. 2009. Efisiensi teknik perbankan Indonesia pascakrisis
ekonomi: sebuah studi empiris penerapan model DEA. Jurnal Ekonomi
Pembangunan. 10(1): 49-67
Thanassoulis E, Kortelainen M, Johnes G, Johnes J. 2010. Costs and efficiency of
higher education institutions in England: a DEA analysis. Journal of the
Operational Research Society. 62: 1282-1297
Umri N, Hidayat R, Utami ID. 2011, Kinerja efisiensi biaya dengan metode data
envelopment analysis (DEA). Jurnal Teknik Industri Jurusan Teknik Industri.
1(2): 216 223
Umami AR, Handoyo S, Fitriani R. 2013, Perbandingan model regresi tobit dan
model regresi terpotong (studi kasus data konsumsi rokok rumah tangga kota
Kediri 2011). Jurnal Mahasiswa Statistik. 1(3): 233-236
Wahab A, Hosen MN, Muhari S. 2014. Komparasi efisiensi teknis bank umum
konvensional (BUK) dan bank umum syariah (BUS) di Indonesia dengan
metode data envelopment analysis. Al-Iqtishad: Jurnal Ilmu Ekonomi Syariah.
6(2): 179-194
Wahana Komputer. 2015. Belajar Cepat Analisis Statistik Parametrik dan Non
Parametrik dengan SPSS. Yogyakarta(ID): Penerbit Andi
Wibowo MG. 2013. Analisis efisiensi program studi dan fakultas pada universitas
islam negeri sunan kalijaga. Jurnal EKBISI. 7(2): 261-279
37

Wulansari RRR. 2010, Efisiensi relatif operasional puskesmas di Kota Semarang


tahun 2009 [tesis]. Jakarta(ID): Universitas Indonesia
Yamin S, Rachmach LA, Kurniawan H. 2011. Regresi dan Korelasi dalam
Genggaman Anda. Jakarta(ID): Salemba Empat.
38

LAMPIRAN
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
1
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kota Bogor pada tanggal 24 Januari 1984 dari Ayahanda
Muhadi dan Ibu Suba. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Tahun 2004
penulis diterima di Universitas Pakuan Bogor pada Jurusan Akuntansi, Fakultas
Ekonomi, dan lulus pada tahun 2009. Selama kuliah, penulis aktif dalam kegiatan UKM
Marching Band, Himpunan Mahasiswa Akuntansi FE-UNPAK dan Badan Legislatif
Mahasiswa FE-UNPAK. Pada Tahun 2013 penulis diterima di Program Studi Manajemen
dan Bisnis pada Program Pascasarjana IPB dengan Beasiswa Pendidikan Pascasarjana
Dalam Negri (BPPDN) Tahun 2013.
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kota Bogor pada tanggal 24 Januari 1984 dari Ayahanda
Muhadi dan Ibu Suba. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Tahun 2004
penulis diterima di Universitas Pakuan Bogor pada Jurusan Akuntansi, Fakultas
Ekonomi, dan lulus pada tahun 2009. Selama kuliah, penulis aktif dalam kegiatan UKM
Marching Band, Himpunan Mahasiswa Akuntansi FE-UNPAK dan Badan Legislatif
Mahasiswa FE-UNPAK. Pada Tahun 2013 penulis diterima di Program Studi Manajemen
dan Bisnis pada Program Pascasarjana IPB dengan Beasiswa Pendidikan Pascasarjana
Dalam Negri (BPPDN) Tahun 2013.