You are on page 1of 14

A.

JUDUL PENELITIAN
Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap Penderita Diabetes Mellitus Dengan
Kepatuhan Diet Diabetes Mellitus Di RSUD AM. Parikesit Kalimantan Timur.

B. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara motivasi pasien
diabetes mellitus dengan kepatuhan menjalankan program diet di Instalasi Rawat
Jalan RSUD Kota Semarang.

C. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN


Penelitian ini dilakukan di instalasi rawat inap dan instalasi rawat jalan RSUD AM.
Parikesit Kalimantan Timur pada bulan Juli September 2012.

D. HASIL PENELITIAN
1. Analisis Univariat
a. Karakteristik Responden
1.) Umur
Hasil penelitian diperoleh data umur responden di RSUD AM. Parikesit
Kalimantan Timur yang disajikan pada tabel 4.1.
Tabel 4.1 Distribusi responden berdasarkan umur di RSUD AM. Parikesit
Kalimantan Timur Tahun 2012.
Variabel Mean Min Max SD
Umur 37,11 27 49 4,773

Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa umur responden rata-rata adalah 37,11
tahun, dengan standard deviasi 4,773. Umur reponden termuda adalah
umur 27 tahun dan tertua adalah 49 tahun.
2.) Jenis Kelamin
Tabel 4.2 Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin di
RSUD AM. Parikesit Kalimantan Timur Tahun 2012.
Jenis kelamin Frekuensi Presentase
Laki-laki 37 68,5
Perempuan 17 31,5
Jumlah 54 100
Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa jenis kelamin responden
sebagian besar laki-laki sebanyak 37 responden (68,5%).
3.) Pendididkan
Tabel 4.3 Distribusi frekuensi responden berdasarkan pendidikan di RSUD
AM. Parikesit Kalimantan Timur Tahun 2012.
Pendididkan Frekuensi Presentase
Pendididkan dasar 23 42,6
Pendididkan menengah 23 42,6
Pendidikan tinggi 8 14,8
Jumlah 54 100
Berdasarkan Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa pendidikan responden
sebagian besar pendidikan dasar dan pendidikan menengah masing-masing
sebanyak 23 responden (42,6%).
4.) Pekerjaan
Tabel 4.4 Distribusi frekuensi responden berdasarkan pekerjaan di RSUD
AM. Parikesit Kalimantan Timur Tahun 2012.
Pekerjaan Frekuensi Presentase
Bekerja 7 13,0
Tidak bekerja 47 87,0
Jumlah 54 100
Berdasarkan Tabel 4.4 dapat diketahui bahwa responden sebagian besar
bekerja sebanyak 47 responden (87,0%).
5.) Lama DM
Tabel 4.5 Distribusi responden berdasarkan lama DM di RSUD AM.
Parikesit Kalimantan Timur Tahun 2012.
Variable Mean Min Max SD
Lama DM 2,78 1 6 1,208
Berdasarkan Tabel 4.5 dapat diketahui bahwa lama DM responden rata-
rata adalah 2,78 tahun, dengan standard deviasi 1,208. Lama DM
responden paling rendah adalah umur 1 tahun dan paling lama adalah 6
tahun.

b. Pengetahuan penderita diabetes mellitus di RSUD AM. Parikesit Kalimantan


Timur.
Tabel 4.6 Distribusi frekuensi responden berdasarkan pengetahuan penderita
diabetes mellitus di RSUD AM. Parikesit Kalimantan Timur Tahun
2012
Pengetahuan Frekuensi Presentase
Baik 12 22,2
Cukup 18 33,3
Kurang 24 44,4

Jumlah 54 100
Dari hasil pembagian kuesioner terhadap 54 penderita diabetes mellitus di
RSUD AM. Parikesit Kalimantan Timur.

c. Sikap penderita diabetes mellitus di RSUD AM. Parikesit Kalimantan Timur.


Tabel 4.7 Distribusi frekuensi responden berdasarkan sikap penderita diabetes
mellitus di RSUD AM. Parikesit Kalimantan Timur Tahun 2012.
Sikap Frekuensi Presentase
Tidak baik 30 55,6
Baik 24 44,4
Jumlah 54 100
Dari Tabel 4.7 dapat diketahui bahwa sikap responden sebagian besar tidak
baik sebanyak 30 responden (55,6%).
d. Kepatuhan diet diabetes mellitus di RSUD AM. Parikesit Kalimantan Timur.
Tabel 4.8 Distribusi frekuensi responden berdasarkan kepatuhan diet diabetes
mellitus di RSUD AM. Parikesit Kalimantan Timur Tahun 2012.
Kepatuhan Frekuensi Presentase
Patuh 23 42,6
Tidak patuh 31 57,4
Jumlah 54 100

2. Analisis Bivariat
a. Hubungan pengetahuan dengan kepatuhan diet diabetes mellitus.
Tabel 4.9 Hubungan pengetahuan dengan kepatuhan diet diabetes mellitus di
RSUD AM. Parikesit Kalimantan Timur Tahun 2012.

Pengetahua Kepatuhan Total % Pvalue


n
Patuh Tidak patuh
f % f %
Baik 8 66,7 4 33,3 12 100 0,003
Cukup 11 61,1 7 38,9 18 100
Kurang 4 16,7 20 83,3 24 100
Jumlah 23 31 57,4 54 100

Tabel 4.9 menunjukkan bahwa responden yang mempunyai pengetahuan baik


sebanyak 12 responden, terdapat 8 responden (66,7%) patuh dan tidak patuh
atau kurang sebanyak 4 responden.

b. Hubungan sikap penderita diabetes mellitus dengan kepatuhan diet diabetes


mellitus di RSUD AM. Parikesit Kalimantan Timur tahun 2012.
Tabel 4.10 Hubungan sikap penderita diabetes mellitus dengan kepatuhan diet
diabetes mellitus di RSUD AM. Parikesit Kalimantan Timur Tahun 2012.
Sikap Kepatuhan Total % Pvalue
Patuh Tidak patuh
f % f %
Tidak baik 8 26,7 22 73,3 30 100 0.018
Baik 15 62,5 9 37,5 24 100
Jumlah 23 42,6 31 57,4 54 100

Tabel 4.10 menunjukkan bahwa responden yang mempunyai sikap tidak baik
sebanyak 30 responden, sebagian besar tidak patuh sebanyak 22 responden
(73,3%) dan patuh sebanyak 8 responden (26,7%). Sedangkan responden yang
mempunyai sikap baik sebanyak 24 responden, sebagian besar patuh sebanyak 15
responden (62,5%) dan tidak patuh sebanyak 9 responden (37,5%). Hasil uji Chi-
Square dengan nilai statistik Chi Square sebesar 5,613 dengan pvalue = 0,018
(nilai probabilitas (p) < (0,05)), dapat disimpulkan ada hubungan sikap
penderita diabetes mellitus dengan kepatuhan diet diabetes mellitus di RSUD AM.
Parikesit Kalimantan Timur.

E. PEMBAHASAN
1. Analisis Univariat
a. Karakteristik Responden
1) Umur
Hasil penelitian diperoleh data rata-rata umur responden adalah 37,11
tahun, dengan standard deviasi 4,773. Umur reponden termuda adalah umur
46 tahun dan tertua adalah 49 tahun. Risiko diabetes akan meningkat dengan
bertambahnya usia, terutama diatas 40 tahun, serta mereka yang kurang gerak
badan, massa ototnya berkurang, dan berat badannya makin bertambah. Hasil
penelitian ini sesuai dengan teori Smeltzer & Bare (2001) usia tua beresiko
mengalami diabetes karena kemampuan tubuh pada usia tua terjadi penurunan
fungsi pancreas akibatnya fungsi pancreas untuk bereaksi terhadap insulin
menurun. Glukosa dalam darah secara normal bersikulasi dalam jumlah
tertentu di dalam darah. Oleh karena ketidakmapuan pankreas untuk bekerja
maka dapat mengakibatkan kenaikan kadar glukosa dalam darah.
2) Jenis Kelamin
Hasil penelitian diperoleh data jenis kelamin responden sebagian besar
laki-laki sebanyak 37 responden (68,5%). Smith (2001) menyebutkan bahwa
faktor-faktor resiko yang dapat menyebabkan terjadinya diabetes mellitus
adalah ciri perseorangan. Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya
diabetes mellitus adalah umur, jenis kelamin, dan ras. Pada umumnya
kebiasaan hidup seseorang laki-laki dengan konsumsi gula, kegemukan atau
makan berlebihan, stres atau ketegangan jiwa, kebiasaan merokok, minum
alcohol dan obat-obatan sehingga akan memicu terjadinya diabetes mellitus.
3) Pendididkan
Hasil penelitian diperoleh data pendidikan responden sebagian besar
pendidikan dasar dan pendidikan menengah masing-masing sebanyak 23
responden (42,6%). Pendidikan merupakan hal yang sangat penting, karena
pendidikan mempengaruhi pola pikir seseorang tentang sesuatu hal yang
nantinya akan berpengaruh dalam pengambilan suatu keputusan tertentu.
Menurut Notoatmodjo (2005) semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin
besar pengetahuan dan semakin mudah mengembangkan pengetahuan dan
teknologi yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan seseorang.
4) Pekerjaan
Hasil penelitian diperoleh data responden sebagian besar bekerja
sebanyak 47 responden (87,0%). Nursalam (2001) menyebutkan bahwa
pekerjaan adalah kesibukan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang
kehidupannya dan kehidupan keluarganya. Seseorang yang mempunyai
pekerjaan yang penting dan memerlukan aktifitas akan mengganggu seseorang
dalam memenuhi kebutuhan dietnya.
5) Lama DM
Hasil penelitian diperoleh data lama DM responden rata-rata adalah
2,78 tahun, dengan standard deviasi 1,208. Lama DM responden paling rendah
adalah umur 1 tahun dan paling lama adalah 6 tahun. Semakin lama responden
menderita diabetes mellitus maka responden akan mempunyai pengetahuan
dan pengalaman yang paling baik dalam hal diet sehingga akan patuh terhadap
diet yang dianjurkan. Menurut Sukmadinata (2009) seseorang yang lama
menderita penyakit akan mampu merespon penyakit tersebut dengan rajin
mengikuti pengobatan.
b. Pengetahuan penderita diabetes mellitus di RSUD AM. Parikesit Kalimantan
Timur
Hasil penelitian diketahui bahwa pengetahuan responden tentang diet diabetes
mellitus sebagian besar kurang baik sebanyak 24 responden (44,4%). Hasil
penelitian ini didukung oleh penelitian Rusimah (2011) yang melakukan
penelitian tentang pengetahuan gizi penderita DM di RSUD Dr H Moch
Ansari Saleh Banjarmasin, responden yang mempunyai pengetahuan gizi
dengan kategori sedang sebesar 35,3%. Pengetahuan responden yang kurang
ditunjukkan dengan responden yang tidak mengerti gejala diabetes mellitus.
Menurut Mansjoer (2001), gejala penyakit diabetes mellitus yaitu banyak
makan (polifagia), banyak kencing (poliuria), banyak minum (polidipsi).
Penderita akan mengalami peningkatan berat badan yang cenderung naik
karena pada saat ini jumlah insulin masih mencukupi, bila keadaan tersebut
diatas tidak segera diobati, maka akan timbul gejala yang disebabkan oleh
kemunduran kerja insulin dan tidak lagi polifagia, polidipsia, poliuria (3P) lagi
melainkan hanya 2P saja yaitu nafsu makan mulai berkurang dan kadang-
kadang disusul dengan mual, banyak minum, banyak kencing, mudah capek
atau lelah, berat badan turun dengan cepat (5-10 kg dalam waktu 2-4 minggu).
Pengetahuan yang kurang baik ditunjukkan dengan responden yang belum
mengerti tanda kadar gula darah dibawah normal yaitu lemas, pucat, gemetar,
merasa lapar, jantung berdebar-debar dan keringat berlebih. Responden
menganggap bahwa kadar gula tinggi merupakan kelebihan gula dalam tubuh
yang disebabkan oleh sering mengkonsumsi makanan yang manis.
Pengetahuan yang kurang pada responden dikarenakan pendidikan responden
sebagian besar SMA sebanyak 23 responden (42,6%). Semakin tingginya
tingkat pendidikan maka diharapkan akan semakin luas pula pengetahuan
responden serta semakin mudah dan cepat pula untuk menerima berbagai
informasi dari berbagai media khususnya tentang gizi dan kaitannya dengan
kesehatan. Hal ini didukung oleh teori Santoso (2004), tingkat pendidikan
berpengaruh pada pengetahuan yang dimiliki seseorangf. Semakin tinggi
tingkat pendidikan yang pernah ditempuh maka semakin mudah dalam
menyerap informasi baru. Pendidikan dapat ditempuh melalui jalur formal
maupun non formal.
c. Sikap penderita diabetes mellitus di RSUD AM. Parikesit Kalimantan Timur
Hasil penelitian diketahui bahwa sikap penderita diabetes mellitus
terhadap diet sebagian besar tidak baik sebanyak 30 responden (55,6%). Hasil
penelitian ini didukung oleh penelitian Angelina (2009), yang menunjukkan
bahwa sikap pasien penderita diabetes mellitus di RSUD Temanggung
sebagian besar tidak mendukung sebanyak 45%.
Menurut Effendi (2010), sikap penderita diabetes mellitus sangat
dipengaruhi oleh pengetahuan, dalam hal ini pengetahuan penderita tentang
penyakit diabetes mellitus sangatlah penting karena pengetahuan ini akan
membawa penderita diabetes mellitus untuk menentukan sikap, berpikir dan
berusaha untuk tidak terkena penyakit atau dapat mengurangi kondisi
penyakitnya. Apabila pengetahuan penderita diabetes mellitus baik, maka
sikap terhadap diet diabetes mellitus semestinya dapat mendukung terhadap
kepatuhan diet diabetes mellitus itu sendiri.

d. Kepatuhan diet diabetes mellitus di RSUD AM. Parikesit Kalimantan Timur


Hasil penelitian diketahui bahwa kepatuhan sebagian besar tidak patuh
sebanyak 31 responden (57,4%). Hasil penelitian ini sama seperti penelitian
Winda (2006) di RSUD Salatiga yang menunjukkan hanya 42% pasien yang
patuh menjalankan diet diabetes mellitus sedangkan sebanyak 58% pasien
tidak patuh.
F. APLIKASI PENELITIAN
Diabetes mellitus di Indonesia menempati urutan keempat tertinggi di dunia
setelah India, Cina dan Amerika serikat. Pada tahun 2011 diperkirakan ada sekitar
32,5 juta warga Indonesia menderita diabetes mellitus yang terdiri dari 21,8 juta
warga kota dan 10,7 juta warga desa (Adam, 2011).
Diabetes Mellitus (DM) merupakan sekelompok kelainan heterogen yang
ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. Gangguan
metabolisme secara genetik dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa
hilangnya toleransi karbohidrat. Faktor pencetus penyakit diabetes mellitus, antara
lain faktor keturunan, obesitas (kegemukan), mengkonsumsi makanan instan, terlalu
banyak mengkonsumsi karbohidrat, merokok dan stres, kerusakan pada sel pankreas,
dan kelainan hormonal (Smeltzer and Bare, 2002).
Diabetes melitus memiliki karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena
kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Penderita diabetes mellitus
memerlukan perawatan dan penanganan seumur hidup karena tidak dapat
disembuhkan. Fenomena yang terjadi banyak klien yang keluar masuk rumah sakit
untuk melakukan pengobatan. Empat pilar utama pengelolaan diabetes mellitus adalah
perencanaan makanan, latihan jasmani atau exercise, edukasi atau penyuluhan, dan
intervensi farmakologi.
Penanganan kuratif penyakit diabetes mellitus terlebih dahulu dilakukan
secara non farmakologis yaitu dengan diet dan olah raga untuk mencapai target
glukosa darah yang diinginkan. Bila kedua cara non-farmakologi belum mampu
mencapai target glukosa darah yang diinginkan maka tindakan kuratif diabetes
mellitus dapat dibantu dengan pengobatan farmakologi tetapi tergantung pada tipe
diabetes mellitusnya (Nurrahmani, 2011).
Peran perawat Perawat sebaiknya meningkatkan perannya dalam memberikan
asuhan keperawatan dengan memberikan penyuluhan tentang diit DM, dan kolaborasi
ahli gizi untuk konseling tentang diet bagi penderita DM. Selain itu perawat
melakukan tindakan pemantauan terhadap kadar gula darah setiap 1-2 jam sekali,
kontrol tekanan darah kolesterol maupun asam urat (urit acid).
Macam- macam pengelolaan DM meliputi:
a. Kontrol gula darah
Dalam kontrol glukosa darah yaitu pemantauan gula darah secara mandiri dan
pemantauan HbA1c. Pada pasien yang menggunakan insulin harus melakukan
pemeriksaan gula darah secara mandiri sebanyak 3 kali sedangkan pada pasien yang
tidak mengunakan insulin tidak jelas pengaturannya.
Pemantauan kadar gula darah secara mandiri dapat memotivasi dan
memungkinkan individu melakukan umpan balik dalam melakukan manajemen DM
dapat dioptimalkan untuk mencegah komplikasi (Woo, Cheng, Hanna, & Berard,
2010).
Pada pemeriksaan kadar glukosa darah puasa 5.5 mmol/l atau 100 mg/dl
(normal) nilai target 6.5 mmol.l atau 115 mg/dl (target). Sedangkan untuk nilai gula
darah kapiler setelah makan nilai target adalah 9.0 mmol/l atau 160 mg/dl dan nilai
normal 7.8 mmol/dl atau 140 mg/dl (ADA, 2013; IDF, 2012).
b. Edukasi
Prinsip edukasi pada umumnya yaitu upaya peningkatan kualitas hidup melalui
perawatan diri dengan memperhatikan aspek ekonomi sehingga membantu pasien
untuk mengoptimalkan kontrol gula darah guna mencegah komplikasi (ADA 2013;
IDF 2012).
Teknik edukasi yang paling tepat adalah menggunakan pendekatan berpusat pada
pasien yang diberikan sekitar pada waktu diagnosis, dilakukan secara berkelanjutan,
dan sesuai kebutuhan pasien. Pemberian edukasi harus mempertimbangkan budaya
etnis dan psikososial (ADA 2013; IDF 2012).
c. Terapi Nutrisi
Tujuan dari pemberian nutrisi adalah mencapai target kadar gula darah,
menurunkan berat badan dengan diet rendah karbohidrat, rendah lemak, kalori
terbatas, mencapai kadar serum lipid, menjaga asupan protein untuk mempertahankan
fungsi ginjal. Terapi nutrisi untuk penurunan berat badan bagi pasien obese adalah 7%
dari berat badan. Dengan melakukan diet nutrisi yang tepat dapat mencegah terhadap
komplikasi. Pasien diabetes harus didorong untuk makan makanan yang berserat
untuk memberikan rasa kenyang dan membatasi asupan dari minuman manis untuk
menghindari kondisi hiperglikemi. Pemantauan karbohidrat baik dari sisi perhitungan,
pilihan untuk mencapai kontrol gula darah, menurunkan asupan lemak jenuh
menurunkan LDL kolesterol dan meningkatkan HDL kolesterol. Terapi nutrisi
merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam pencegahan diabetes dan
edukasi perawatan diri (ADA, 2013: IDF 2012).
Beberapa literatur dan ahli gizi berpedoman terapi nutrisi yang diberikan pada
pasien DM berdasarkan kebutuhan kalori harian. Dalam menentukan kebutuhan kalori
dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, aktivitas fisik, kehamilan, komplikasi dan
berat badan (ADA, 2008).
d. Aktivitas Fisik
Pasien DM disarankan untuk melakukan aktifitas fisik 150 menit/minggu dengan
intensitas aktivitas fisik atau aerobik sedang atau dalam rata-rata denyut jantung
maksimum (THR) 50-70% yang dilakukan minimal 3 kali tiap minggu, tidak
dilakukan 2 hari berturut-turut bila tidak terdapat kontraindikasi. Olahraga secara
teratur terbukti untuk dalam meningkatkan kontrol glukosa darah dan mengurangi
risiko kardiovaskuler, penurunan berat badan serta komplikasi. Pada pasien dewasa
usia lebih dari 65 tahun dapat melakukan aktivitas fisik 150 menit namun jika tidak
kuat maka sesuai dengan kemampuan. Pada penelitian ditemukan rata-rata aman
untuk melakukan latihan yaitu 3-4 kali tiap minggu dan setiap latihan dilakukan 50
menit. Pada pasien dengan risiko tinggi perlu dilakukan pemeriksaan awal atau
instruksikan latihan dengan intensitas yang ringan dan dilakukan secara perlahan dan
bertahap (ADA, 2013: IDF 2012).
e. Terapi farmakologi
Beberapa kondisi memungkinkan pasien lupa dalam waktu penyuntikan insulin.
Dalam kondisi ini jika pasien lupa menyuntikan insulin dan terlewat 1 jam dari waktu
makan maka insulin diberikan secara penuh, jika terlewat 1-2 jam maka insulin
diberikan 75% dari dosis insulin, dan bila terlewat 2-3 jam makan insulin diberikan
50% dari dosis insulin. Pada kondisi dimana pasien tidak dapat menghabiskan porsi
makan maka perlu dilakukan perbandingan karohidrat dengan insulin. Sebagai contoh
bila pasien mendapatkan porsi 75 gram karbohidrat dan insulin yang didapatkan 5
unit, maka 15 gram karbohidrat yang dimakan sebanding dengan 1 unit insulin (NHS,
2012).
f. Terapi psikososial
Dalam melakukan pengelolaan psikososial pasien DM menggunakan pendekatan
pribadi yang utuh dimana melihat pasien sebagai peran sentral dan menghormati
dalam peran tersebut dalam memberikan perawatan pada mereka serta mengunakan
komunikasi yang tidak menghakimi (ADA, 2013: IDF 2012).
Pengelolaan psikososial pasien DM dimulai dari melakukan pengkajian
psikososial dengan menggunakan alat pengkajian yang valid, pengkajian terhadap
depresi dan kecemasan perlu juga dilakukan. Ketika masalah psikososial
diidentifikasi, profesional perawatan kesehatan harus menjelaskan hubungan antara
psikososial dengan kontrol diabetes serta memberikan dan membimbing ke arah untuk
memperoleh bantuan. Intervensi psikologikal dapat dilakukan dengan terapi kognitif
behavioral, terapi motivasi, terapi problem solving, terapi koping dan konseling,
terapi keluarga, yoga dan meditasi, terapi dansa, konseling disfungsi seksual dan
perubahan kebiasaan makan serta didukung oleh terapi psikotropika jika dibutuhkan
(Kalra S. , et al., 2013).
DAFTAR PUSTAKA

ADA. (2013). Standards of medical care in diabetes. Diabetes Care, 36(1), S11-S66.

Adinugraha. (2013). Analisis penerapan model adaptasi roy dalam asuhan


keperawatan pasien diabetes melitus, Evidence based nursing practice dan inovasi di
Rumah sakit cipto mangunkusumo jakarta. Karya Ilmiah Akhir. Universitas
Indoneasia.

Herlena & Widiyaningsih, P. 2013. Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap


Penderita Diabetes Mellitus Dengan Kepatuhan Diet Diabetes Mellitus Di RSUD
AM. Parikesit Kalimantan Timur. Jurnal Keperawatan Medikal Bedah . Volume 1,
No. 1, Mei 2013; 58-74.

IDF. (2012). Global gideline for type 2 diabetes. Diunduh 12 6, 2013, dari IDF:
http://www.idf.org/global-guideline-type-2-diabetes-2012.
Ignatavicius, D.D., Workman, M. L. (2010). Medical-Surgical Nursing Patient-
Centered Collaborative Care, Vol 3. (6th ed), Saunder Elsevier. St. Louis, Missouri.
Smeltzer, S. C., Bare, B. G., Hinkle, J. L., & Cheever, K. H. (2010). Brunner &
Suddarth's Textbook of Medical-Surgical Nursing (12 ed., Vol. 2). Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins.

Woo, V., Cheng, A., Hanna, A., & Berard, L. (2010). Self-monitoring of blood
glucose in individuals with type 2 diabetes not using insulin: commentary. Canadian
Journal Of Diabetes, 19-23.