You are on page 1of 10

Lex Crimen Vol. II/No.

7/November/2013

PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP terdiri dari tindak pidana kejahatan dan
RESIKO MEDIK DAN MALPRAKTEK DALAM pelanggaran sebagaimana disebutkan
PELAKSANAAN TUGAS DOKTER 1 dalam pasal 85. Tindak Pidana kejahatan
Oleh : Mohamad Rizky Pontoh2 tercantum dalam Pasal 80, Pasal 81 dan
Pasal 82, sedangkan tindak pidana
ABSTRAK pelanggaran tercantum dalam Pasal 84.
Metode yang digunakan dalam penelitian Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa
ini adalah metode pendekatan yuridis pasal 359 dan 338 KUHP tidak dapat
normatif. Metode penelitian ini digunakan diterapkan pada tindakan dokter yang
sesuai dengan kebutuhannya untuk memiliki resiko medik. Hal ini disebabkan
menghasilkan pembahasan yang dapat karena pada resiko medik ada salah satu
diterima baik dari segi yuridis maupun dari unsur dalam pasal 359 dan 338 KUHP yang
segi ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan tidak dapat dipenuhi, yaitu unsur kelalaian.
bagaimana penegakan hukum terhadap Kata kunci: Resiko medik, Malpraktek,
pelaksanaan tugas dokter yang memiliki Kedokteran
resiko medik dibidang kandungan serta
perlindungan hukum bagi dokter terhadap PENDAHULUAN
tugas di bidang kandungan apabila terjadi A. Latar Belakang
malapraktek. Pertama bila unsur kelalaian Menurut Institute of Medicine, medical
dari tindakaan dokter dapat dibuktikan, error didefinisikan sebagai: The failure of a
maka pasal 359 atau 360 KUHP dapat planned action to be completed as intended
dikenakan kepada dokter yang melakukan (i.e., error of execusion) or the use of a
perbuatan yang mengakibatkan luka berat wrong plan to achieve an aim (i.e., error of
ataupun hilangnya nyawa pasien. planning). Artinya kesalahan medis
Disamping itu berdasarkan 2 dasar didefinisikan sebagai: suatu kegagalan
peniadaan kesalahan dokter, yaitu alasan tindakan medis yang telah direncanakan
pembenar (resiko pengobatan) dan alasan untuk diselesaikan tidak seperti yang
pemaaf (terjadinya kecelakaan pada diharapkan, kesalahan tindakan atau
operasi yang sulit). Kedua, sanksi terhadap perencanaan yang salah untuk mencapai
malpraktek medik adalah dikenakannnya suatu tujuan. Kesalahan yang terjadi dalam
tindakan disiplin yang ditentukan oleh proses asuhan medis ini akan
majelis disiplin tenaga kesehatan kepada mengakibatkan atau berpotensi
dokter yang menurut penilaian Majelis mengakibatkan cedera pada pasien, bisa
tersebut telah melakukan kelalaian. berupa Near Miss atau Adverse Event
Sedangkan mengenai ganti rugi yang harus (Kejadian Tidak Diharapkan/KTD). Hal ini
dipenuhi dokter yang bersangkutan sangat merugikan dan
dilaksanakan sesuai dengan peraturan membahayakan, pasien dapat mengalami
perundang-undangan yang berlaku. hal buruk dan pemberi tindakan juga dapat
Peraturan perundang-undangan yang terkena pasal pelanggaran hukum.
berlaku yang mengatur tentang ganti rugi Near Miss atau Nyaris Cedera (NC) juga
dapat mengacu pada kitap undang-undang merupakan suatu kejadian akibat
Hukum Perdata. Mengenai ketentuan melaksanakan suatu tindakan (commission)
pidana yang diatur dalam UU No. 23/1992, atau tidak mengambil tindakan yang
tercantum didalam Bab X yang intinya seharusnya diambil (omission), yang dapat
mencederai pasien, tetapi cedera serius
1
tidak terjadi karena keberuntungan. Hal ini
Artikel Skripsi dapat kita lihat dari banyaknya tindakan-
2
NIM 080711227

74
Lex Crimen Vol. II/No. 7/November/2013

tindakan yang dilakukan berbahaya namun menjalankan tugas profesinya,


dapat dicegah sebelum terjadi ataupun berkewajiban untuk tetap bersikap hati-
ditangani sebelum menimbulkan efek, hati, mematuhi standar medis,
misalnya,pasien terima suatu obat kontra menjalankan standar profesi
indikasi tetapi tidak timbul reaksi obat, keahliannya,serta menghormati hak pasien.
pencegahan suatu obat dengan overdosis hal ini dilakukan agar diperoleh
lethal akan diberikan, tetapi staf lain perlindungan hukum baginya.
mengetahui dan membatalkannya sebelum Dalam pengertian pelayan yang bersifat
obat diberikan, dan peringanan suatu obat normatif ini, menimbulkan pengertian
dengan overdosis lethal diberikan, bahwa tenaga kesehatan yang menjalankan
diketahui secara dini lalu diberikan tugas profesinya mempunyai kedudukan
antidotenya. Adverse Event atau Kejadian hukum yang bersifat khusus, yaitu
Tidak Diharapkan (KTD) merupakan suatu mendapatkan perlindungan hukum
kejadian yang mengakibatkan cedera yang kesehatan yang mengandung unsur
tidak diharapkan pada pasien karena suatu normatif bersifat ekseptional, artimya
tindakan (commission) atau tidak dalam menjalankan tugas profesinya,
mengambil tindakan yang seharusnya dihadapkan pada resiko medik yang tinggi.
diambil (omission), dan bukan karena Oleh karena itu, sebelum dinyatakan
underlying disease atau kondisi pasien. adanya tindakan yang salah (error) atau
Kesalahan tersebut bisa terjadi dalam dikualifikasikan sebagai perbuatan
tahap diagnostic seperti kesalahan atau melanggar hukum, menurut hukum yang
keterlambatan diagnose, tidak menerapkan berlaku secara umum, maka terlebih
pemeriksaan yang sesuai, menggunakan dahulu harus dilakukan pemeriksaan awal
cara pemeriksaan yang sudah tidak dipakai (medical audit).
atau tidak bertindak atas hasil pemeriksaan
atau observasi; tahap pengobatan seperti B. PERUMUSAN MASALAH
kesalahan pada prosedur pengobatan, 1. Bagaimana penegakan hukum terhadap
pelaksanaan terapi, metode penggunaan pelaksanaan tugas dokter yang memiliki
obat, dan keterlambatan merespon hasil resiko medik dibidang kandungan?
pemeriksaan asuhan yang tidak layak; 2. Bagaimana perlindungan hukum bagi
tahap preventive seperti tidak memberikan dokter terhadap tugas di bidang
terapi provilaktik sertamonitor dan follow kandungan dan terjadi malapraktek?
up yang tidak adekuat; atau pada hal teknis C. METODE PENELITIAN
yang lain seperti kegagalan berkomunikasi, Penelitian yang dilakukan dalam
kegagalan alat atau system yang lain. penulisan ini yaitu dengan menggunakan
Resiko yang terjadi pada diri manusia penelitian pustaka (library research) yaitu
begitu rentan terhadap suatu tindakan, bila metode penelitian yang dilakukan dengan
tidak dilakukan secara teliti dan cermat cara membaca dan mempelajari teori-teori
akan mengalami kesalahan yang berakibat yang relevan dengan pokok permasalahan.
fatal (resiko medik). Adanya resiko Data yang terkumpul ini kemudian
medik,baik yang sudah terdeteksi diolah dengan mempergunakan metode
sebelumnya maupun yang tidak terdeteksi pengolahan data yang terdiri dari: Metode
sebelumnya atau tidak terduga sama sekali yuridisme normatif yaitu metode
sebelumnya dalam penyelenggaraan penambahan dengan berpegang pada
pelayanan kesehatan hanya bersifat norma atau kaidah hukum yang berlaku.
adequate information. Walaupun demikian Metode pembahasan ini digunakan sesuai
secara normatif tenaga kesehatan dalam dengan kebutuhannya untuk menghasilkan

75
Lex Crimen Vol. II/No. 7/November/2013

pembahasan yang dapat diterima baik dari sedangkan pada malpraktek medik jelas
segi yuridis maupun dari segi ilmiah. ditemukan adanya unsur kelalaian. 5
Selain itu, khusus didalam pelayanan
PEMBAHASAN kesehatan, kelalaian juga dikaitkan dengan
1. Penegakan Hukum Terhadap pelayanan yang tidak memenuhi (dibawah)
pelaksanaan tugas dan kewenangan standar profesi (standar pelayanan medis)
dokter yang memiliki resiko medik yang dalam prakteknya juga perlu
Di dalam KUHP, perbuatan yang digunakan untuk membedakan antara
menyebabkan orang lain luka berat atau resiko medik dan Malpraktek medik. Kalau
mati yang dilakukan secara tidak sengaja terhadap pasien telah dilakukan prosedur
dirumuskan didalam Pasal 359 dan 360. sesuai standar pelayanan medis, tetapi
Adapun unsur-unsur dari pasal 359 dan 360 pasien akhirnya luka berat atau mati, ini
adalah sebagai berikut:3 merupakan resiko medis. sedangkan bagi
1. Adanya unsur kelalaian (kulpa) pasien yang mengalami luka berat maupun
2. Adanya wujud perbuatan tertentu kematian sebagai akibat dokter melakukan
3. Adanya akibat luka berat atau matinya pelayanan dibawah standar medis, maka
orang lain hal ini berarti terjadai malpraktek medik.6
4. Adanya hubungan kausal antara wujud Agar tidak terjadi salah pengertian
perbuatan dengan akibat kematian tentang timbulnya resiko yang merugikan
orang lain itu. pasien, diperlukan adanya informasi yang
Jika 4 unsur diatas dibandingkan dengan jelas dan lengkap oleh dokter dengan
unsur pembunuhan dalam pasal 338, maka bahasa yang muda dimengerti oleh pasien
terlihat bahwa unsur 2,3 dan 4 dari pasal dan dengan mengingat dimana komunikasi
359 tidak ada bedanya dengan unsur tersebut dilakukan. Di sinilah pentingnya
pembunuhan dalam pasal 338. wawancara kesehatan, sehingga pada
Perbedaannya hanya terletak pada unsur akhirnya pasien bersedia memberikan
kesalahannya yaitu pasal 359 kesalahan persetujuan atas tindakan medis yang akan
dalam bentuk kurang hai-hati (kulpa), dilakukan dokter dalam usaha
sedangkan kesalahan dalam pasal 338 menyembuhkan penyakitnya pada transaksi
(pembunuhan) dalam bentuk kesengajaan.4 terapeutik.7 Ini berarti bahwa unsur
Demikian pula jika kita bandingkan kelalaian sangat berperan dalam
antara resiko medik dengan malpraktek menentukan dipidana atau tidaknya
medik. Baik pada resiko medik dan seorang dokter dan kelalaian dalam bidang
malpraktek medik terkandung unsur 2,3 kedokteran sangat erat kaitannya dengan
dan 4 yaitu ada wujud perbuatan tertentu pelaksanaan standar profesi dokter.8 Tidak
yang dilakukan oleh dokter terhadap hanya unsur kelalaian didalam resiko
pasien, perbuatan tersebut sama-sama medik, juga mengandung arti bahwa baik
berakibat luka berat maupun matinya pasal 359 maupun 360 KUHP tidak bisa
orang lain ada hubungan kasual. Tetapi ada diterapkan bagi tindakan dokter yang
satu unsur yang berbeda dari resiko medik memiliki resiko medik, karena salah satu
dengan melpraktek medik, yaitu pada unsur dari pasal 359 maupun 360 KUHP
resiko medik ditemukan unsur kelalaian, tidak dipenuhi didalam resiko medik.

3 5
Anny Isfandyarie, Malpraktek dan Resiko Medik, Ibid, Hal 124-125
6
Op.Cit, Hal 124 Ibid, Hal 125
4 7
Anny Isfandyarie, Malpraktek dan Resiko Medik, Ibid
8
Ibid, Hal 124 Ibid

76
Lex Crimen Vol. II/No. 7/November/2013

Selain itu, tindakan dokter terhadap terutama yang berkaitan dengan tindakan
pasien juga mempunyai alasan pembenar pembiusan dan pembedahan.
sebagaimana disebutkan dalam pasal 50 Sebagaimana diuraikan diatas, hukum
KUHP dan pasal 51 ayat 1 KUHP. Sedangkan pidana menganut asas tiada pidana tanpa
untuk dapat dipidananya suatu kesalahan kesalahan. Selanjutnya daalam pasal 2
yang dapat diartikan sebagai KUHP disebutkan, ketentuan pidana dalam
pertanggungjawaban dalam hukum pidana perundang-undangan Indonesia diterapkan
haruslah memenuhi 3 unsur, sebagai bagi setiap orang yang melakukan suatu
berikut:9 delikmdi Indonesia. Perumusan pasal ini
1. Adanya kemampuan bertanggung menentukan bahwa setiap orang yang
jawab pada petindak artinya berada dalam wilyah hukum indonesia,
keadaan jiwa petindak harus dapat dimintakan pertanggung jawaban
normal. pidana atas kesalahan yang dibuatnya.
2. Adanya hubungan batin antara Berdasarkan pada ketentuan itu, profesi
petindak dengan perbuatannya dokter tidak terlepas dari ketentuan pasal
yang dapat berupa kesengajaan tersebut. Apalagi seorang dokter dalam
(dolus) atau kealpaan (culpa). pekerjaannya sehari-hari selalu
3. Tidak adanya alasan penghapus berkecimpung dengan perbuatan yang
kesalahan atau pemaaf. diatur dalam KUHP. 11
Dengan demikian, agar suatu tindakan Sekalipun hukum pidana mengenal
medis tidak bersifat melawan hukum, maka penghapusan pidana dalam pelayanan
tindakan tersebut harus:10 kesehatan, yaitu alasan pembenar dan
1. Dilakukan sesuai dengan standar profesi alasan pemaaf sebagaimana halnya yang
kedokteran atau dilakukan secara lege terdapat didalam yurisprudensi, namun
artis, yang tercermin dari: tidak serta merta alasan pembenar dan
a. Adanya indiikasi medis yang sesuai pemaaf tersebut menghapus suatu tindak
dengan tujuan perawatan yang pidana bagi profesi dokter. Salah satu
konkrit yurisprudensi yang memuat alasan
b. Dilakukan sesuai dengan prosedurr pembenar dan alasan pemaaf dalam
ilmu kedokteran yang baku pelayanan kesehatan adalah yurisprudensi
2. Dipenuhiya hak pasien mengenai dalam kasus Natanson V. Klien Tahun
informed consent 1960. Yurisprudensi ini berisi persetujuan
Perlu kita sadari bahwa tindakan medis (Informed Consent) sebagai peniadaan
dokter kadang-kadang memang pidana. Namun demikian, tidak berarti
menghasilkan akibat yang tidak diinginkan bahwa bagi profesi dokter dibebaskan dari
baik oleh dokter maupun pasien, meskipun segala tanggung jawab pidana, sebab
dokter telah berusaha maksimal. Karena alasan pembenar dan alasan pemaaf bagi
hampir semua tindakan medis hakekatnya tindakan dokter, hanya terdapat pada
adalah penganiayaan yang dibenarkan oleh pengecualian-pengecualian tertentu. 12
Undang-undang, sehingga kemungkinan Menurut Veronica Komalawati, tindakan
timbulnya resiko cidera atau bahkann atau perbuatan dokter sebagai subjek
kematian sangat sulit untuk dihindari, hukum dalam pergaulan masyarakat dapat

9 11
Bahder Johan Nasution, Hukum Kesehatan
URL:http//www.jurnal2011.com/rubrik_malpraktek Pertanggung Jawaban Dokter, Rineka Cipta, Jakarta,
medik.htm, Ibid 2005, Hal 74
10 12
Anny Isfandyarie, Malpraktek dan Resiko Medik, Bahder Johan Nasution, Hukum Kesehatan
Ibid, Hal 127 Pertanggung Jawaban Dokter, Ibid, Hal 74

77
Lex Crimen Vol. II/No. 7/November/2013

dibedakan antara tindakan sehari-hari yang dasar-dasar peniadaan hukuman. Namun


tidak berkaitan dengan profesinya. untuk bidang kedokteran, ada faktor-faktor
Demikian juga tanggung jawab hukum khusus yang tidak dijumpai pada hukum
dokter dapat dibedakan antara tanggung yang berlaku umum, misalnya kecelakaan
jawab hukum dokter yang tidak berkaitan medik (medical accident) atau resiko
dengan pelaksanaan profesinya dan pengobatan (risk of treatment).
tanggung jawab hukum yang berkaitan Guwandi menyusun sistematika untuk
dengan profesinya. Tanggung jawab hukum beberapa dasar peniadaan hukuman atau
yang berkaitan dengan pelaksanaan kesalahan khusus bidang medik, yaitu:15
profesinya masih dapat dibedakan antara a. Risiko pengobatan (risk of treatment)
tanggung jawab terhadap ketentuan- Risiko yang inheren atau melekat
ketentuan professional, yaitu Kode Etik Reaksi alergi
Kedokteran Indonesia (KODEKI) yang Komplikasi dalam tubuh pasien
termuat dalam Keputusan Menteri b. Kecelakaan medik (medical accident)
Kesehatan RI No. 434/Men.Kes/SK/X/1983 c. Kekeliruan penilaian klinis (Non-negligent
dan tanggung jawab terhadap ketentuan- error of judgement)
ketentuan hukum yang meliputi bidang d. Volenti non fit iniura
hukum administrasi, hukum pidana dan e. Contributory negligence.
hukum perdata.13 Dalam suatu tindak medik tertentu,
Beberapa dasar peniadaan hukuman selalu ada risiko yang melekat pada tindak
yang tercantum dalam pasal-pasal KUHP, medik tersebut (inherent risk of treatment).
berlaku pula hukum kedokteran, yaitu :14 Apabila dokter melakukan tindak medik
- Pasal 44 (sakit jiwa) tersebut dengan hati-hati, seizin pasien dan
- Pasal 48 (adanya unsur daya berdasarkan SPM (Standar Pelayanan
paksa/overmacht) Medik), tetapi ternyata risiko itu tetap
- Pasal 49 (pembelaan diri terpaksa) terjadi, maka dokter itu tidak dapat
- Pasal 50 (melaksanakan ketentuan dipersalahkan. Demikian pula bila terjadi
Undang-Undang) reaksi alergi yang tidak dapat diperkirakan
- Pasal 51 (melaksanakan perintah jabatan sebelumnya, seperti halnya juga komplikasi
sah) yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya
Selain itu, dikenal pula beberapa (misalnya terjadi emboli air ketuban pada
keadaan sebagai dasar peniadaan hukuman suatu persalinan).
di luar Undang-Undang tertulis tersebut, Dalam penjelasan resmi atas pasal 44 UU
yaitu : praktik kedokteran ditentukan sebagai
1. Tidak ada hukuman walaupun berikut.16
memenuhi semua unsur delik, karena 1. Yang dimaksud dengan "standar
hilangnya sifat bertentangan dengan pelayanan" adalah pedoman yang harus
hukum material. diikuti oleh dokter atau dokter gigi
2. Tidak ada hukuman karena tidak adanya dalam menyelenggarakan praktek
kesalahan. kedokteran.
Secara umum dikatakan bahwa diluar 2. Yang dimaksud dengan "strata sarana
keadaan-keadaan tersebut, tidak ada lagi pelayanan" adalah tingkatan pelayanan
yang standar tenaga dan peralatannya
13
15
URL:http//www.freewebs.com/kelalaianmedik/unsu Ibid
16
r-unsurkelalaian.htm, Diakses tanggal 21 Februari Undang-undang No. 29 Tahun 2004 Tentang
2012 Praktik kedokteran, Indonesia Legal Center
14
Ibid Publising, Jakarta 2010, Hal 106

78
Lex Crimen Vol. II/No. 7/November/2013

sesuai dengan kemampuan yang minority rule yang menyebutkan bahwa


diberikan. seorang dokter tidak dianggap berbuat lalai
Dalam buku standar pelayanan medis apabila ia memilih salah satu dari sekian
dijelaskan bahwa profesi kedokteran adalah banyak cara pengobatan yang diakui oleh
bidang pekerjaan yang mempunyai ciri dunia kedokteran.17
utama keahlian profesi, tanggung jawab, Di luar profesi kedokteran, maka untuk
dan kesejawatan. Dalam menjalankan menentukan adanya kekhilafan yang
praktik profesinya, dua hal pokok yang selanjutnya mengakibatkan luka atau
mendasari perilakunya adalah berbuat matinya seseorang, tidaklah rumit untuk
demi kebaikan pasien (doing good) dan membuktikannya. Akan tetapi bila yang
tidak ada niat untuk menyakiti, demikian itu kita alamatkan kepada dokter
mencederai, dan merugikan pasien dengan keprofesiannya bukanlah sesuatu
(primum non nocere). yang sederhana. Pada dasarnya seorang
Sikap dan tindakan yang wajib dokter baru dihadapkan ke pengadilan
dilaksanakan oleh dokter diatur dalam kalau sudah timbul kerugian pada pasien.
berbagai standar. Setidaknya profesi kerugian itu timbul akibat adanya
memiliki 3 macam standar, yaitu: pelanggaran kewajiban dimana sebelumnya
1. Standar kompetensi: standar kompetensi telah dibuat suatu persetujuan. Sekalipun
adalah yang biasa disebut sebagai kewajiban dokter itu tidak secara rinci
standar profesi dimuat dalam kontrak terapeutik, namun
2. Standar perilaku: standar berperilaku kewajiban seorang dokter tidak sudah
diuraikan dalam sumpah dokter, etik tercakup dalam standar pelayaanan medis.
kedokteran dan standar perilaku IDI. Sedangkan standar peelayanan meedis itu
3. Standar pelayanan: dalam bertindak di dibuat berdasarkan hak dan kewajiban
suatu sarana kesehatan tertentu, dokter dokter, baik yang diatur dalam kode etik
diberi rambu-rambu sebagaimana diatur maupun yang diatur dalam Perundang-
dalam standar prosedur operasi sarana undangan.
kesehatan tersebut. Dengan diundangkannya Undang-
Dalam hal terjadinya kecelakaan medik undang No.36 Tahun 2009 tentang
(medical accident), perlu direnungkan kesehatan, maka ancaman pidana terhadap
ucapan seorang hakim yang mengadili kesalahan atau kelalaian yang dilakukan
suatu perkara demikian, yaitu "Kita oleh dokter yang mengakibatkan pasien
memang mensyaratkan bahwa seorang menderita cacat atau luka-luka, tidak lagi
dokter harus bertindak hati-hati pada semata-mata mengacu pada ketentuan
setiap tindakan yang dilakukan. Namun kita Pasal 359,360, dan 361 KUHP, karena
tidak dapat mencap begitu saja sebagai didalam Undang-undang kesehatan sendiri
tindakan kelalaian terhadap sesuatu yang telah dirumuskan ancaman pidananya.
sebenarnya adalah suatu kecelakaan". Ancaman tersebut dimuat dalam pasal 198
Tentang kekeliruan penilaian klinis pun Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang
sebenarnya juga dapat dipahami karena kesehatan.18
bagaimanapun sebagai seorang manusia
dokter tidak dapat lepas dari kemungkinan
melakukan kesalahan. Suatu adagium
dalam hukum yang terkenal 17

berbunyi errare humanum est (kesalahan URL:http//www.freewebs.com/kelalaianmedik/unsu


adalah manusiawi), agaknya perlu r-unsurkelalaian.htm, Op.Cit
18
direnungkan. Suatu teori respectable Bahder Johan Nasution, Hukum Kesehatan
Pertanggung Jawaban Dokter, Ibid, Hal 83

79
Lex Crimen Vol. II/No. 7/November/2013

2. Pengaturan pertanggungjawaban kesehatan kepada dokter yang menurut


hukum dokter terhadap pasien jika penilaian Majelis tersebut telah melakukan
terjadi malapraktek kelalaian. Sedangkan mengenai ganti rugi
Hukum kesehataan Indonesia yang yang harus dipenuhi dokter yang
berupa Undang-Undang Kesehatan No. 36 bersangkutan dilaksanakan sesuai dengan
Tahun 2009 tidak menyebutkan secara peraturan perundang-undangan yang
resmi istilah Malpraktek. Tetapi hanya berlaku. Peraturan perundang-undangan
menyebutkan kesalahan atau kelalaian yang berlaku yang mengatur tentang ganti
dalam melaksanakan profesi (tercantum rugi dapat mengacu pada kitap undang-
dalam Pasal 54 dan 55). Dengan demikian, undang Hukum Perdata.20
istilah malpraktek merupkan istilah hukum Mengenai ketentuan pidana yang diatur
yang digunakan dalam Pasal 54 dan 55 dalam UU No.23/1992, Tercantum didalam
tersebut diatas. Bab X yang intinya terdiri dari tindak pidana
Kesalahan atau kelalaian dalam kejahatan dan pelanggaran sebagaimana
melaksanakan profesi yang tercantum disebutkan dalam pasal 85. Tindak Pidana
dalam pasal 54 dan 55 UU No.36 Tahun kejahatan tercantum dalam Pasal 80, Pasal
2009 tentang kesehatan, berbunyi sebagai 81 dan Pasal 82, sedangkan tindak pidana
berikut:19 pelanggaran tercantum dalam Pasal 84.21
Pasal 54 : Apabila dalam hubungan antara dokter dan
1. Terhadap tenaga kesehatan yang pasien dalam transaksi terapeutik atas
melakukan kesalahan atau kelalaian dasar persetujuan kedua belah pihak terjadi
dalam melaksanakan profesinya dapat suatu tindakan dokter yang kurang hati-hati
dikenakan tindakan disiplin. atau kurang cermat sehingga menimbulkan
2. Penentuan ada tidaknya kesalahan atau cacat atau meninggalnya pasien, maka
kelalaian sebagaimana dimaksud dalam akibat itu diatur dalam hukum pidana.
ayat (1) ditentukan oleh Majelis disiplin Hukum di Indonesia memberikan hak
tenaga kesehatan. sepenuhnya bagi masyarakatnya untuk
3. Ketentuan mengenai pembentukan, memperoleh keadilan dan untuk
tugas,fungsi dan tatakerja Majelis memperolehnya dilakukan dengan cara
Disiplin Tenaga Kesehatan ditetapkan mengajukan permohonan, pengaduan, dan
dengan keputusan pengadilan. gugatan. Baik dalam perkara perdata,
Pasal 55 : pidana maupun administrasi. Untuk
1. Setiap orang berhak atas ganti rugi itu,perkara diadili melalui proses peradilan
akibat kesalahan atau kelalaian yang yang bebas dan tidak memihak, dengan
dilakukan tenaga kesehatan. mengacu kepada hukum acara yang
2. Ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam menjamin pemeriksaan objektif oleh hakim
ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan yang jujur dan adil.22 Sanksi dalam hukum
peraturan Perundang-Undangan yang pidana pada dasarnya adalah sanksi yang
berlaku. berupa penyiksaan atau pengekangan
Dari pasal 54 dan 55 tersebut diatas, kebebasan terhadap pelaku tindak pidana.
maka dapat diketahui bahwa sanksi Dengan harapan setelah menjalani sanksi
terhadap malpraktek medik adalah
dikenakannnya tindakan disiplin yang 20
Anny Isfandyarie, Malpraktek dan Resiko Medik,
ditentukan oleh majelis disiplin tenaga Ibid, Hal 72
21
Ibid, Hal 72
22
Darwan Prinst, sosialisasi dan diseminasi
19
Anny Isfandyarie, Malpraktek dan Resiko Medik, penegakan hak asasi manusia, Citra Aditya Bakti,
Op.Cit, Hal 71 Bandung, 2001

80
Lex Crimen Vol. II/No. 7/November/2013

pidana akan menimbulkan efek jera yang berkaitan dengan pelaksanaan


terhadap pelaku atau ada unsur preventif profesinya. 24
terhadap orang lain (masyarakat). Dalam KUHP baru ini ditentukan
Pasal 359 KUHP : perbuatan mana yang tidak boleh dilakukan
barang siapa karena salahnya serta ancaman-ancaman pidananya apabila
menyebabkan matinya orang dihukum larangan-larangan itu dilanggar , dengan
penjara selama lima tahun atau kurangan tujuan agar supaya dengan Ridho Tuhan
selama-lamanya satu tahun Yang Mahaesacita-cita bangsa Indonesia
Pasal 360 KUHP : jangan dihambat dan dihalangi oleh
1. Barang siapa karena kesalahannya perbuatan-perbuatan tadi. 25
menyebabkan orang luka berat dihukum Kejahatan terhadap nyawa dalam KUHP
dengan hukuman penjara selama- dapat dibedakan atau dikelompokkan atas
lamanya satu tahun. dua dasar, yaitu atas dasar unsur
2. Barang siapa karena kesalahannya kesalahannnya dan atas dasar objeknya
menyebabkan orang luka sedemikian (nyawa).26
rupa sehingga orang itu menjadi sakit Atas dasar Kesalahannya ada 2
sementara atau tidak dapat menjalankan kelompok kejahatan terhadap nyawa,
jabatannya atau pekerjaannya yaitu:27
sementara, dihukum dengan hukuman 1. Kejahatan terhadap nyawa yang
penjara selama-lamanya sembilan bulan dilakukan oleh sengaja (dolus misdrijven)
atau hukuman kurungan selama- adalah kejahatan yang dimuat dalam
lamanya enam bulan atau hukuman bab XIX KUHP pasal 338-350
denda setinggi-tinginya Rp.4500,- 2. Kejahatan yang dilakukan dengan tidak
Pasal 361 KUHP : Jika kejahatan yang disengaja (Culpose misdrijven),dimuat
diterangkan dalam bab ini dilakukan dalam dalam bab XXI (khusus pasal 359)
melakukan suatu jabatan atau pekerjaan, Dalam hukum pidana penjatuhan sanksi
maka hukuman dapat ditambah dengan didasarkan kepada kesalahan atau kelalaian
sepertigannya dan sitersalah dapat dipecat baik yang disengaja maupun yang tidak
dari pekerjaannya, dalam waktu mana disengaja. Untuk kesalahan yang disengaja
kejahatan itu dilakukan dan hakim dapat kalau mengakibatkan korbanya meninggal
memerintahkan supaya keputusannya itu dunia disamakan dengan pembunuhan, dan
diumumkan. 23 kalau korbannya tidak meninggal dunia
Tindakan atau perbuatan dokter sebagai dinamakan tindakan penganiayaan dengan
subyek hukum dalam pergaulan sanksi penganiayaan.28
masyarakat, dapat dibedakan antara
tindakannya sehari-hari yang tidak PENUTUP
berkaitan dengan profesinya dan A. Kesimpulan
tindakannya yang berkaitan dengan
pelaksanaan profesinya. Demikian juga
24
tanggung jawab hukum dokter dapat Veronika Komalawati, hukum dan etika dalam
dibedakan antara tanggung jawab hukum praktek dokter, Pustaka sinar harapan, Jakarta, 1989
25
yang tidak berkaitan dengan pelaksanaan Wirjono Projodikoro, Asas-asas hukum pidana di
Indonesia, PT. Eresco, Bandung 1989
profesinya, dan tanggung jawab hukum 26
Adami Chazawi, Kejahatan Terhadap Tubuh dan
Nyawa, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003
27
Adami Chazawi, Kejahatan Terhadap Tubuh dan
Nyawa,Ibid, Hal 55
23 28
Mudakir Iskandarsyah, Tuntutan Pidana dan Mudakir Iskandarsyah, Tuntutan Pidana dan
Perdata Malpraktik, Op.Cit, Hal 91 Perdata Malpraktik, Op.Cit, Hal 91

81
Lex Crimen Vol. II/No. 7/November/2013

1. Bahwa pasal 359 dan 338 KUHP tidak akan mempengaruhi keberhasilan
dapat diterapkan pada tindakan terapi pada pasien. serta agar pasien
dokter yang memiliki resiko medik . dapat memperhatikan dan mematuhi
Hal ini disebabkan karena pada resiko setiap saran atau tindakan yang
medik ada salah satu unsur dalam diberikan oleh dokter terhadap pasien
pasal 359 dan 338 KUHP yang tidak terutama bagi mereka yang menjalani
dapat dipenuhi, yaitu unsur kelalaian. operasi dengan resiko yang besar.
Namun bila unsur kelalaian dari 2. Terhadap dugaan terjdinya malpraktek
tindakaan dokter dapat dibuktikan, medik, masyarakat dapat melaporkan
maka pasal 359 atau 360 KUHP dapat kepenegak hukum (melalui jalur hukum
dikenakan kepada dokter yang pidana) atau tuntutan ganti rugi secara
melakukan perbuatan yang perdata, ataupun menempuh
mengakibatkan luka berat ataupun ketentuan pasal 98 KUHAP
hilangnya nyawa pasien. disamping memasukkan perkara pidana sekaligus
itu berdasarkan 2 dasar peniadaan tuntutan ganti rugi secara perdata.
kesalahan dokter, yaitu alasan
pembenar (resiko pengobatan) dan DAFTAR PUSTAKA
alasan pemaaf (terjadinya kecelakaan Adami Chazawi, Kejahatan Terhadap Tubuh
pada operasi yang sulit). dan Nyawa, PT. Raja Grafindo Persada,
2. Pengaturan pertanggungjawab Jakarta, 2003.
hukum dokter yang melakukan Anny Isfandyarie, Malpraktek dan Resiko
malpraktek kedokteran, pada Medik, Prestasi Pustaka, Jakarta, 2005.
dasarnya didasarkan kepada Ari Suyanto dan Helmi, Hukum Pidana
kesalahan atau kelalaian baik yang Malpraktik Medik, Andi Offset,
disengaja maupun yang tidak Yogyakarta, 2010.
disengaja. Untuk kesalahan yang Bahder Johan Nasution, Hukum Kesehatan
disengaja kalau mengakibatkan Pertanggung Jawaban Dokter, Rineka
korbanya meninggal dunia disamakan Cipta, Jakarta, 2005.
dengan pembunuhan, dan kalau Darwan Prinst, sosialisasi dan diseminasi
korbannya tidak meninggal dunia penegakan hak asasi manusia, Citra
dinamakan tindakan penganiayaan Aditya Bakti, Bandung, 2001.
dengan sanksi penganiayaan. Fred Ameln, Persetujuan Tindakan Medik
pada Perjanjian Medik Dokter/Dokter
B. Saran Gigi, Beberapa Aspek Yuridis Etis,
1. Selain ditegakkannya substansi hukum Jakarta, 1991.
dan alat penegak hukum, juga perlu Konsil Kedokteran indonesia, Kemitraan
dilibatkan partisipasi masyarakat untuk Dalam Hubungan Dokter-Pasien, Jakarta,
mengantisipasi kerugian baik dipihak 2007.
dirinya selaku pasien dan atau M. Jusuf Harafiah dan Amri Amir, Etika
keluarganya maupun dokter. Kalangan Kedokteran dan hukum kesehatan,edisi
pelayan kesehatan perlu melakukan ketiga, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
penyuluhan dengan menghimbau Jakarta, 1999
masyarakat untuk dapat memberikan Mudakir Iskandarsyah, Tuntutan Pidana
informasi secara jelas mengenai dan Perdata Malpraktik, Permata
perjalanan penyakitnya kepada dokter Aksara, Jakarta, 2011
sehingga dokter tidak salah dalam
menentukan diagnosa yang akibatnya

82
Lex Crimen Vol. II/No. 7/November/2013

Muhammad Mulyohadi Ali, Kemitraan


Dalam Hubungan Dokter Pasien, Kansil
Kedokteran Indonesia, Jakarta, 2006.
Rinanto Suryadhimirtha, Hukum
Malapraktik Kedokteran, Total Media,
Yogyakarta, 2011.
Soerjono Soekanto, Segi-segi hukum hak
dan kewajiban pasien, Mandar maju,
Bandung, 1990.
Veronika Komalawati, hukum dan etika
dalam praktek dokter, Pustaka sinar
harapan, Jakarta, 1989
Wirjono Projodikoro, Asas-asas hukum
pidana di Indonesia, PT. Eresco, Bandung
1989

Sumber-sumber Lain :
http://medicastore.com//hubunganpadape
layananmedis. diakses tanggal 28 Januari
2012.
http://www.majalah-
farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDN
ews=605, Diakses pada tanggal 21
Februari 2012.
http:\\www.rohukor.depkes.go.id diakses
tanggal 28 Januari 2012
URL:http//www.jurnal2011.com/rubrik_ma
lpraktekmedik.htm, Diakses pada tanggal 21
Februari 2012
Undang-undang No. 29 Tahun 2004
Tentang Praktik kedokteran, Indonesia
Legal Center Publising, Jakarta 2010.
URL:http//www.freewebs.com/kelalaianme
dik/unsur-unsurkelalaian.htm, Diakses
tanggal 21 Februari 2012

83