You are on page 1of 6

BAB XII

PENDIDIKAN KESEHATAN
UNTUK MENCAPAI PHBS
DI KELUARGA DAN MASYARAKAT

A. Pendidikan Kesehatan Keluarga


Pendidikan Kesehatan keluarga berfokus pada fungsi keluarga yang sehat
dalam perspektif sistem keluarga dan memberikan pendekatan terutama
pencegahan . Keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk berfungsi
secara sehat secara luas dikenal: keterampilan komunikasi yang kuat, pengetahuan
tentang perkembangan khas manusia, keterampilan membuat keputusan yang
baik, positif harga diri ,dan hubungan interpersonal yang sehat. Tujuan pendidikan
kehidupan keluarga adalah untuk mengajar dan mengembangkan pengetahuan dan
keterampilan ini untuk memungkinkan individu dan keluarga untuk berfungsi
optimal .
Pendidikan kesehatan keluarga mempertimbangkan isu-isu sosial termasuk
ekonomi, pendidikan, masalah kerja keluarga, orangtua, seksualitas, gender dan
lainnya dalam konteks keluarga. Mereka percaya bahwa masalah sosial seperti
penyalahgunaan zat, kekerasan dalam keluarga, pengangguran, hutang, dan
kekerasan terhadap anak dapat lebih efektif ditangani dari perspektif yang
menganggap individu dan keluarga sebagai bagian dari sistem yang lebih besar.
Pengetahuan tentang fungsi keluarga yang sehat dapat diterapkan untuk mencegah
atau meminimalkan banyak masalah ini.
PHBS di Keluarga adalah upaya untuk memberdayakan anggota keluarga
agar tahu, mau dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta
berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat. PHBS di Keluarga
dilakukan untuk mencapai Keluarga Sehat. Keluarga sehat berarti mampu
menjaga, meningkatkan, dan melindungi kesehatan setiap anggota keluarga dari
gangguan ancaman penyakit dan lingkungan yang kurang kondusif untuk hidup
sehat (Depkes RI, 2007).
Pembinaan PHBS di keluarga dilakukan untuk mewujudkan Keluarga
Sehat. Keluarga Sehat adalah keluarga yang memenuhi 7 indikator PHBS dan 3
indikator Gaya Hidup Sehat sebagai berikut:
Indikator PHBS di Keluarga:
1. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
Adalah pertolongan persalinan dalam keluarga yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan (bidan, dokter, dan tenaga para medis lainnya).
2. Bayi diberi ASI eksklusif
Adalah bayi usia 0-6 bulan hanya diberi ASI saja sejak lahir sampai usia 6
bulan.
3. Penimbangan bayi dan balita
Penimbangan balita dimaksudkan untuk memantau pertumbuhan balita
setiap bulan dan mengetahui apakah balita berada pada kondisi gizi kurang
atau gizi buruk.
4. Mencuci tangan dengan air dan sabun

77
a. Air yang tidak bersih banyak mengandung kuman dan bakteri penyebab
penyakit. Bila digunakan, kuman berpindah ke tangan. Pada saat makan,
kuman dengan cepat masuk ke dalam tubuh yang bisa menimbulkan
penyakit.
b. Sabun dapat mengikat lemak, kotoran dan membunuh kuman. Tanpa
sabun, kotoran dan kuman masih tertinggal di tangan.
5. Menggunakan air bersih
Air yang kita pergunakan sehari-hari untuk minum, memasak, mandi,
berkumur,membersihkan lantai, mencuci alat-alat dapur, mencuci pakaian,
dan sebagainya haruslah bersih, agar kita tidak terkena penyakit atau
terhindar dari penyakit.
6. Menggunakan jamban sehat
Setiap keluarga harus memiliki dan menggunakan jamban leher angsa dan
tangki septic atau lubang penampungan kotoran sebagai penampung akhir.
7. Rumah bebas jentik
Adalah keluarga yang setelah dilakukan pemeriksaan jentik berkala tidak
terdapat jentik nyamuk.
Indikator Gaya Hidup Sehat:
1. Makan buah dan sayur setiap hari
Adalah anggota keluarga umur 10 tahun ke atas yang mengkomsumsi
minimal 3 porsi buah dan 2 porsi sayuran atau sebaliknya setiap hari.
2. Melakukan aktivitas fisik setiap hari
Adalah anggota keluarga umur 10 tahun ke atas melakukan aktivitas fisik 30
menit setiap hari.
3. Tidak merokok dalam rumah
Anggota keluarga umur 10 tahun ke atas tidak boleh merokok di dalam
rumah ketika berada bersama dengan anggota keluarga yang lainnya.
Dari ketujuh indikator PHBS di atas yang berhubungan dengan kejadian
diare adalah: Menggunakan air bersih, dan Menggunakan jamban sehat, dan Cuci
tangan dengan air dan sabun.
Tingkat Pencegahan Dalam Keluarga
1. Pencegahan primer
Pencegahan primer merupakan aktivitas yang dilakukan untuk mencegah
penyakit, ketidakmampuan dan cedera. Pencegahan primer melibatkan
peningkatan kesehatan melalui penyuluhan kesehatan dengan penekanan
pada pembentukan gaya hidup sehat guna meningkatkan tingkat fungsional
optimal (seperti nutrisi, latihan, tiur, rekreasi, relaksasi, tidak menggunakan
alkohol, tembakau, dan obat-obatan), pembentukan kepribadian yang sehat,
konseling, dan pembentukan lingkungan sosial yang sehat (Hitchcook,
Stubert & Thomas, 1999). Pencegahan primer meningkatkan dan
mempertahankan kesehatan keluarga.
Pencegahan primer berdampak dalam peningkatan pendidikan kesehatan di
keluarga, peningkatan kesehatan keluarga menyeluruh untuk setiap anggota
keluarga. Pendidikan kesehatan di desain agar dapat berkontribusi dalam
pertumbuhan, perluasan atau menghasilkan yang terbaik bagi kesehatan.
pendidikan kesehatan hal yang positif, proses dinamis berfokus pada

78
peningkatan kualitas hidup dan perbaikan, bukan semata-mata menghindar
dari penyakit (Pender, Carolyn & Mary, 2002).
2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder adalah aktivitas yang berhubungan dengan deteksi
dini dan treatmen. Fokus pencegahan ini adalah dengan melakukan skrining
untuk mendeteksi penyakit pada fase awal.
3. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier merupakan aktivitas yang dilakukan untuk mencegah
penyakit tidak bertambah parah (kronis) dan tidak menimbulkan
ketidakmampuan pada individu. Pencegahan tersier dapat dilakukan dengan
melakukan rehabilitasi kepada individu yang meliputi rehabilitasi fisik,
psikis, dan spiritual (Hitchcook, Stubert & Thomas, 1999).

B. Strategi Pendidikan Kesehatan Di Masyarakat Dalam Mencapai PHBS.


Pendidikan kesehatan di Masyarakat adalah upaya memberdayakan
individu, kelompok dan di Masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan
melindungi kesehatan, melalui peningkatan pengetahuan, kemauan dan
kemampuan, serta mengembangkan suasana yang mendukung, yang dilakukan
dari, oleh dan untuk di Masyarakat, sesuai dengan sosial budaya dan kondisi
setempat (Depkes RI, 1999).
Konferensi Internasional Pendidikan kesehatan di Ottawa-Canada (1986)
menghasilkan piagam Ottawa Charter yang rumusan strateginya dikelompokkan
menjadi 5 butir,yaitu:
1. Kebijakan Berwawasan Kesehatan (Health Public Policy)
Kegiatan yang ditujukan kepada para pembuat keputusan/ penentu
kebijakan yang berwawasan kesehatan. Setiap kebijakan pembangunan di
bidang apa saja harus mempertimbngkan dampak kesehatannya bagi
masyarakat. Kegiatan ini ditujukan kepada para pengambil
kebijakan (policy makers) atau pembuat keputusan (decision makers) baik
di institusi pemerintah maupun swasta. Sebagai contoh; adanya
perencanaan pembangunan jamban komunal sebagai pengganti jamban
jongkok (jamban terapung) di bantaran sungai sehingga lambat laun dapat
mengubah perilaku masyarakat setempat. Tersedianya jamban komunal
yang direncanakan oleh pemerintah sebagai pengambil kebijakan (policy
makers) atau pembuat keputusan (decision makers) merupakan langkah
baik sehingga akan menciptakan lingkungan terutama persediaan air bersih
yang mencukupi untuk kebutuhan masyarakat setempat.
2. Lingkungan yang Mendukung (Supportive environtment)
Kegiatan untuk mengembangkan jaringan kemitraan dan suasana
yang mendukung yang ditujukan pada:
a. Pemimpin organisasi masyarakat
b. Pengelola tempat
c. Tempat umum
Diharapkan memperhatikan dampak terhadap lingkungan, baik
lingkungan fisik maupun lingkungan non fisik mendukung atau kondusif
terhadap kesehatan masyarakat. Misalnya adalah tersedianya jamban

79
komunal yang dibuat masyarakat dengan bekerjasama dengan pemerintah.
Fasilitas yang tersedia akan dijaga dan dirawat keberadaannya oleh
masyarakat setempat untuk tetap melanjutkan kebiasaan hidup bersih dan
sehat demi terciptanya kesehatan bersama.
3. Reorientasi Pelayanan Kesehatan (Reorient Health Services)
Kesalahan persepsi mengenai pelayanan kesehatan, tanggung jawab
pelayanan kesehatan kadang hanya untuk pemberi pelayanan (health
provider), tetapi pelayanan kesehatan juga merupakan tanggung
jawab bersama antara pemberi pelayanan kesehatan (health provider) dan
pihak yang mendapatkan pelayanan. Bagi pihak pemberi pelayanan
diharapkan tidak hanya sekedar memberikan pelayanan kesehatan saja,
tetapi juga bisa membangkitkan peran serta aktif masyarakat untuk
berperan dalam pembangunan kesehatan. Sebaliknya bagi masyarakat,
dalam proses pelayanan dan pembangunan kesehatan harus menyadari
bahwa perannya sangatlah penting, tidak hanya sebagai subyek, tetapi
sebagai obyek. Sehingga peranserta masyarakat dalam pembangunan
kesehatan sangatlah diharapkan. Melibatkan masyarakat dalam pelayanan
kesehatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya sendiri.
Bentuk pemberdayaan masyarakat yaitu LSM yang peduli terhadap
kesehatan baik dalam bentuk pelayanan maupun bantuan teknis (pelatihan-
pelatihan) sampai upaya swadaya masyarakat sendiri. Contoh: Upaya
kesehtan yang dilakukan pemerintah dengan melakukan kerjasama dengan
pihak asing, kerjasama pembangunan jamban dengan anggaran dana dari
pemerintah serta pemerintah asing.
4. Gerakan Masyarakat (Community Action)
Derajat kesehatan masyarakat akan efektif apabila unsur-unsur yang
ada di masyarakat tersebut bergerak bersama-sama. Kutipan piagam
Ottawa, dinyatakan bahwa: Pendidikan kesehatan adalah upaya yang
dilakukan terhadap masyarakat sehingga mereka mau dan mampu untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan sendiri. Adanya gerakan ini
dimaksudkan untuk menunjukan bahwa kesehatan tidak hanya milik
pemerintah, tetapi juga milik masyarakat. Untuk dapat menciptakan
gerakan ke arah hidup sehat, masyarakat perlu dibekali dengan
pengetahuan dan ketrampilan. Selain itu, masyarakat perlu diberdayakan
agar mampu berperilaku hidup sehat. Kewajiban dalam upaya
meningkatkan kesehatan sebagai usaha untuk mewujudkan derajat
setinggi-tingginya, teranyata bukanlah semata-mata menjadi tanggung
jawab tenaga kesehatan. Masyarakat justru yang berkewajiban dan
berperan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Hal ini
sesuai yang tertuang dalam Pasal 9, UU No.36 tahun 2009 Tentang
kesehatan, yang berbunyi : Setiap orang berkewajiban ikut mewujudkan,
mempertahankan, dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya. Untuk Memerkuat kegiatan-kegiatan komunitas
(strengthen community actions) pendidikan kesehatan bekerja melalui
kegiatan komunitas yang konkret dan efisien dalam mengatur prioritas,
membuat keputusan, merencanakan strategi dan melaksanakannya untuk

80
mencapai kesehatan yang lebih baik. Inti dari proses ini adalah
memberdayakan komunitas-kepemilikan mereka dan kontrol akan usaha
dan nasib mereka. Pengembangan komunitas menekankan pengadaan
sumber daya manusia dan material dalam komunitas untuk
mengembangkan kemandirian dan dukungan sosial, dan untuk
mengembangkan sistem yang fleksibel untuk memerkuat partisipasi publik
dalam masalah kesehatan. Hal ini memerlukan akses yang penuh serta
terus menerus akan informasi, memelajari kesempatan untuk kesehatan,
sebagaimana penggalangan dukungan. Gerakan Masyarakat merupakan
suatu partisifasi masyarakat yang menunjang kesehatan. Contoh adanya
gerakan jumat bersih dan minggu hijau.
5. Keterampilan Individu (Personal Skill)
Kesehatan masyarakat adalah kesehatan agregat yang terdiri dari
kelompok, keluarga dan individu-individu. Meningkatnya keterampilan
setiap anggota masyarakat agar mampu memelihara dan meningkatkan
kesehatan mereka sendiri (personal skill) sangat penting. Dalam
mewujudkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan, keterampilan
individu mutlak diperlukan. Semakin banyak individu yang terampil akan
dapat memelihara diri dalam bidang kesehatan, maka akan memberikan
cerminan bahwa dalam kelompok dan masyarakat tersebut semuanya
dalam keadaan yang sehat. keterampilan individu sangatlah diharapkan
dalam mewujudkan keadaan masyarakat yang sehat. Sebagai dasar untuk
terapil tentunya individu dan masyarakat perlu dibekali dengan berbagai
pengetahuan mengenai kesehatan, selain itu masyarakata juga perlu dilatih
mengenai cara-cara dan pola-pola hidup sehat.
Masing-masing individu seyogyanya mempunyai pengetahuan dan
kemampuan yang baik terhadap :
a. Cara cara memelihara kesehatannya
b. Mengenal penyakit-penyakit dan penyebabnya
c. Mampu mencegah penyakit
d. Mampu meningkatkan kesehatannya
e. Mampu mencari pengobatan yang layak bilamana sakit
Program promosi PHBS harus dilakukan secara profesional oleh individu
dan kelompok yang mempunyai kemampuan dan komitmen terhadap kesehatan
masyarakat serta memahami tentang lingkungan dan mampu melaksanakan
komunikasi, edukasi dan menyampaikan informasi secara tepat dan benar yang
sekarang disebut dengan pendidikan kesehatan. Tenaga kesehatan masyarakat
diharapkan mampu mengambil bagian dalam promosi PHBS sehingga dapat
melakukan perubahan perilaku masyarakat untuk hidup berdasarkan PHBS.
Tenaga kesehatan masyarakat telah mempunyai bekal yang cukup untuk
dikembangkan dan pada waktunya disumbangkan kepada masyarakat dimana
mereka bekerja. Dalam mewujudkan PHBS secara terencana, tepat berdasarkan
situasi daerah maka diperlukan pemahaman dan tahapan sebagai berikut:
a. Memperkenalkan kepada masyarakat gagasan dan teknik perilaku Program
promosi hygiene PHBS, yang merupakan pendekatan terencana untuk
mencegah penyakit diare melalui pengadopsian perubahan perilaku oleh

81
masyarakat secara meluas. Program ini dimulai dari apa yang diketahui,
diinginkan, dan dilakukan masyarakat. Perencanaan suatu program promosi
hygiene untuk masyarakat dilakukan berdasarkan jawaban atau pertanyaan
diatas atau bekerjasama dengan pihak yang terlibat, untuk itu diperlukan
pesan-pesan sederhana, positif, menarik yang dirancang untuk
dikomunikasikan lewat sarana lokal seperti poster, leaflet.
b. Mengidentifikasikan perubahan perilaku masyarakat, dalam tahap ini akan
dilakukan identifikasi perilaku beresiko melalui pengamatan terstruktur.
Sehingga dapat ditentukan cara pendekatan baru terhadap perbaikan
hygiene sehingga diharapkan anak-anak terhindar dari lingkungan yang
terkontaminasi.
c. Memotivasi perubahan perilaku masyarakat, langkah-langkah untuk
memotivikasi orang untuk mengadopsi perilaku hygiene termasuk
a) Memilih beberapa perubahan perilaku yang diharapkan dapat diterapkan
b) Mencari tahu apa yang dirasakan oleh kelompok sasaran mengenai
perilaku tersebut melalui diskusi terfokus, wawancara dan melalui uji
coba perilaku
c) Membuat pesan yang tepat sehingga sasaran mau melakukan perubahan
perilaku
d) Menciptakan sebuah pesan sederhana, positif, menarik berdasarkan apa
yang disukai kelompok sasaran
e) Merancang paket komunikasi, pada tahap ini telah dapat menentukan
perubahan perilaku dan menempatkan pesan dengan tepat dengan
memadukan semua informasi yang telah dikumpulkan.
Penerapan PHBS di masyarakat dapat diwujudkan melalui tersedianya
sumber air bersih, jamban, tempat pembuangan sampah, adanya larangan untuk
tidak merokok, serta anjuran untuk menutup makanan dan minuman yang
terhidang (untuk penjaga makanan).
Manfaat PHBS di Masyarakat
Masyarakat menjadi lebih sehat dan tidak mudah sakit
Masyarkat mampu mengupayakan lingkungan sehat, serta mampu
mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan yang dihadapi.
Lingkungan disekitar tempat-tempat umum menjadi lebih bersih, indah
dan sehat, sehingga meningkatkan citra tempat umum.
Meningkatkan pendapatan di masyarakat sebagai akibat dari
meningkatnya kunjungan pengguna tempat-tempat umum.

Soal Latihan

1. Sebutkan 7 indikator PHBS dalam keluarga.


2. Sebutkan 3 indikator gaya hidup sehat.
3. Sebutkan strategi pendidikan kesehatan di masyarakat dalam mencapai PHBS.
4. Sebutkan pemahaman dan tahapan yang perlu dilakukan dalam mewujudkan
PHBS di masyarakat.
5. Sebutkan manfaat PHBS di Masyarrrakat.

82