DERMATOLOGY

ARTIKEL ILMIAH DERMATOLOGI

PENATALAKSANAAN KOMPREHENSIF TINEA PEDIS
Oleh : Rickky Kurniawan

ABSTRAK
Tinea pedis merupakan penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh jamur pada kaki, terutama pada sela-sela jari dan telapak kaki. Tiga genus utama yang menjadi penyebabnya adalah Trichophyton, Epidermophyton dan Microsporum, sedangkan spesies yang paling sering menyebabkan tinea pedis adalah Trichophyton rubrum dan Trichophyton mentagrophytes. Penyakit ini dapat menyerang segala usia, tanpa membedakan jenis kelamin.3 Tinea pedis dapat ditransmisikan melalui kontak langsung, person to person; di kolam renang, penularan terjadi melalui kontak fisik dengan permukaan, seperti lantai kamar mandi umum, ruang ganti dan sebagainya yang terkontaminasi oleh fragmen kulit yang terinfeksi. Gejala yang ditimbulkan antara lain kulit pecah bersisik serta rasa gatal. Kata Kunci : Tinea Pedis- Trichophyton rubrum

PENDAHULUAN
Prevalensi tinea pedis di Istanbul tidak dapat diketahui dengan pasti karena banyak pasien yang tidak mendatangi pusat pelayanan kesehatan selama kualitas hidup mereka tidak terpengaruh. Ini merupakan salah satu alasan mengapa angka prevalensi berbeda pada setiap penelitian.5 Di Amerika Serikat, tinea pedis diperkirakan menjadi penyakit kulit kedua terbanyak setelah jerawat. Di Eropa dan Asia Timur, prevalensi tinea pedis diperkirakan sebesar 20%.1 Sementara di Spanyol, prevalensi tinea pedis adalah sebesar 2,9% (4,2% untuk laki-laki dan 1,7% untuk perempuan).2 Prevalensi lebih tinggi pada ras yang tinggal di daerah tropis. Udara yang panas, kelembapan tinggi, penggunaan sepatu yang sempit serta bekerja di tempat yang basah seperti ibu rumah tangga dan petani mempermudah terjadinya infeksi.3

By : Rickky_Kurniawan@2008

1

DERMATOLOGY

Gambar 1. Trichophyton rubrum

PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI
Faktor resiko tinea unguium dan tinea pedis lebih tinggi pada laki-laki dari pada wanita. hal ini disebabkan karena pada laki-laki lebih sering terjadi trauma pada kuku dan menggunakan sepatu yang ketat. pada penelitian terbaru ditemukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara seringnya melakukan olah raga atau penggunaan pemandian umum dengan terjadinya tinea pedis akan tetapi terdapat sejumlah kecil objek penelitian yang ternyata tidak melemahkan pernyataan tersebut. 2 Beberapa factor host yang berpengaruh pada peningkatan terjadinya tinea pedis diantaranya adalah peningkatan angka kejadian AIDS dan banyaknya pasien yang menjalani kemoterapi, penggunaan steroids, transpalntasi organ dan pemberian nutrisi parenteral. pasien yang mengalami obesitas, penuaan, atau pasien yang mempunyai penyakit sistemik juga mennyebabkan meningkatnya tinea pedis. selain itu factor local yang dapat mempengaruhi kejadian tinea pedis adalah trauma, kelembapan yang berlebihan, pakaian yang ketat dan penggunaan sarana pemandian umum atau kolam renang umum.penelitian terbaru di Israel menunjukan bahwa pencucian kaki berulang kali pada anak sekolah dapat menyebabkan delipidasi dan perubahan pH di stratum corneum yang dapat memacu pertumbuhan jamur. 6 Tiga spesies jamur, Trichophyton rubrum, Trichophyton mentagrophytes, dan Epidermophyton floccosum ketigany bertanggung jawab sebagai penyebab terbanyak terjadinya Tinea Pedis di dunia. diantara ketiga jamur yang memiliki sifat keratophilic tersebut, Trichophyton rubrum adalah

By : Rickky_Kurniawan@2008

2

DERMATOLOGY

yang paling umum berhubungan dengan kejadian Tinea Pedis kronis. Faktor yang mempengaruhi penyebaran dari jamur pathogen ini adalah tergantung pada sumber infeksinya yang biasanya berasal dari manusia lain (anthropophilic), hewan (zoophilic) dan dari tanah (geophilic). 6 T. rubrum mempunyai beberapa mikrokonidia sepanjang hifanya yang membesar pada ujungnya. Konidia meruapakan spora aseksual yang membentuk ujung dari konidiopor. konidia terdiri dari mikrokonidia dan makrokonidia. Trichophyton mentagrophytes secara morfologi dan karakteristik juga hampir sama dengan T. rubrum. Keduanya berbentuk granul granul dengan ditutupi bulu-bulu halus dan kadang sulit dibedakan jika diamati dengan dengan mikroskop.Spesies T. mentagrophytes dapat berwarna kuning pucat di bagian tepinya sedangkan T. rubrum seringnya tetapi tidak selalu berwarna seperti anggur. T. mentagrophytes adalah zoophilic dan berefek pada banya spesies hewan diantaranya tikus, kucing, anjing, dan kuda. 6 Selain itu T. rubrum memiliki sifat-sifat anthropophilic, ectothrix dan tes urease negative. dari kultur macroconidia jarang dan berbentuk seperti pensil. Microconidia berbentuk seperti tetesan air mata (tear shape). T. rubrum juga menghasilkan keratinase yang dapat melisiskan keratin pada stratum korneum kulit sehingga menimbulkan gejala klinis seperti timbulnya skuama. Dengan rusaknya stratum korneum jamur ini dapat menginvasi ke jaringan yang lebih dalam dan menimbulkan reaksi inflamasi local. 6

By : Rickky_Kurniawan@2008

3

DERMATOLOGY

GAMBARAN KLINIK
Ukk pada tinea pedis : 1. Biasa terlihat pada interdigitalis diantara jari IV dan V serta dapat meluas hingga subdigital dan sela jari yang lainnya 2. Terlihat fissura yang dilapisi sisik halus dan tipis 3. Terdapat maserasi berupa kulit putih dan rapuh 4. Dapat disertai infeksi sekunder oleh bakteri sehingga dapat terjadi selulitis,limfangitis, limfadenitis dan dapat terjadi erisipelas 5. Dapat berbentuk moccasin foot yaitu pada seluruh kaki, dari telapak , tepi sampai punggung kaki terlihat kulit menebal dan bersisik, dapat ada eritema yang bersifat ringan dan terlihat pada bagian tepi lesi. Vesikel dan papul dapat ditemukan. Pada keaadaan subakut dapat terlihat vesikel, vesiko-pustul dan kadang-kadang bula. Vesikel berisi cairan jernih yang kental, apabila pecah maka vesikel akan meninggalkan sisik yang berbentuk lingkaran dan disebut dengan koleret. Infeksi sekunder data juga terjadi pada keadaan ini sehingga dapat menyebabkan selulitis, limfangitis dan kadang-kadang menyerupai erisipelas.7

By : Rickky_Kurniawan@2008

4

DERMATOLOGY

Gambar tinea pedis

PENATALAKSANAAN KOMPREHENSIF
TERAPI PROMOTIF Sebagai dokter sebaiknya menanyakan tentang perkembangan penyakit tinea pedis seperti penggunaan fasilitas olahraga yang dipakai secara umum, tipe sepatu dan kaos kaki yang sering dipakai, dan pekerjaan yang sehari-hari di lakukan serta apakah kaki penderita lebih dominan terlibat dalam pekerjaannya. Terapi promotif pada penderita Tinea Pedis mengutamakan prinsip pemberian informasi atau penyuluhan baik pada penderita maupun pada orang-orang disekitar penderita yang diharapkan dapat mencegah penularan, kekambuhan serta komplikasi lainnya. Upaya ini antara lain : 1. Memberikan informasi kepada masyarakat atau penderita tentang gambaran umum tinea pedis. 2. Memberikan pengetahuan tentang faktor resiko tinea pedis, sehingga diharapkan dapat melakukan pencegahan. 3. Melakukan penyuluhan untuk tetap menjaga kebersihan pada tubuh dan lingkungan dimana penderita lebih sering terpapar (rumah, tempat kerja, dan lain-lain).

By : Rickky_Kurniawan@2008

5

DERMATOLOGY

4. Jika terdapat penyakit lain yang menyertai seperti diabetes mellitus, segera ke dokter. Karena orang dengan penyakit diabetes lebih rentan terpapar infeksi kulit daripada orang normal. 5. Pada tinea pedis yang kronik dan relapse (kambuh), membutuhkan perawatan kaki yang intensif dan pengobatan untuk kesembuhan beberapa minggu. Prinsip utama untuk upaya pencegahan terhadap tinea pedis adalah tetap menjaga kaki penderita agar tetap bersih dan kering, antara lain : 1. Mencuci seluruh kaki setiap hari dan menggunakan kaos kaki yang bersih setelah mandi atau terpapar air (berenang, hujan, banjir, dan lain-lain). 2. Menjaga agar kaki tetap kering terutama pada setiap sela jari kaki sehabis mandi atau terpapar air (berenang, hujan, banjir, dan lain-lain). 3. Jika pekerjaan penderita berkaitan dengan penggunaan tempat yang lembab seperti kolam renang umum, sebaiknya menggunakan sandal atau alat perlindungan lain agar kaki tidak kontak langsung dengan lantai yang terkontaminasi dengan jamur lainnya. 4. Memilih sepatu kulit daripada sepatu dari bahan vinyl, karena sepatu kulit lebih menyerap keringat sehingga menjaga kaki tetap kering. 5. Menggunakan kaos kaki yang dapat menyerap keringat. 6. Jika memungkinkan, jangan menggunakan sepasang sepatu yang sama dalam dua hari berturut-turut. Karena memberikan kesempatan sepatu dalam 24 jam agar tetap kering. 7. Jangan bergantian menggunakan sepatu dengan orang lain.

TERAPI PREVENTIF 1. Cuci tangan dan kaki secara rutin tiap harinya dengan sabun. 2. Keringkan seluruh kaki setelah dicuci. Jangan mengenakan kaos kaki dalam keadaan kaki yang basah karena akan menyebabkan jamur mudah tumbuh.

By : Rickky_Kurniawan@2008

6

DERMATOLOGY

3. Jangan gunakan handuk yang sama dengan orang lain tanpa terlebih dahulu dicuci. 4. Ganti kaos kaki setiap hari. Kaos kaki berbahan cotton dan kulit lebih baik dari pada yang berbahan nilon dan plastik karena keduanya menyebabkan kaki lebih banyak berkeringat. 5. Gantilah sepatu setiap 2-3 hari dengan sepatu lain agar masing-masing sepatu benar-benar kering setelah dipakai. 6. Gunakan sandal apabila berkunjung ke tempat pemandian umum atau tempat ganti umum untuk menghindari kontak kaki dengan lantai yang mngkin telah terkontaminasi kulit orang yang menderita tinea pedis. 7. Ketika di dirumah, biarkan kaki kontak dengan udara dan jangan terlalu sering menggunakan kaos kaki atau sepatu di dalam rumah.

By : Rickky_Kurniawan@2008

7

DERMATOLOGY

TERAPI KURATIF SECARA UMUM DERMATOFITOSIS I. Pengobatan Topikal ada dua pedoman dalam pengobatan topikal, yaitu : 7 a. Basah dengan basah Berarti jika dermatosis basah (eksudatif) diobati dengan kompres terbuka. Tetapi prinsip ini tidak mutlak, kompres terbuka juga digunakan pada dermatosis dengan peradangan hebat. b. Kering dengan kering Berarti jika dermatosis kering diobati dengan vehikulum yang kering, misalnya salep. 2. Makin akut suatu dermatosis, makin lemah bahan aktif yang dipakai Berarti pada dermatosis yang akut jangan diberi terapi dengan bahan aktif yang kuat, yakni dengan konsentrasi yang tinggi karena akan menghebat. Prinsip obat topikal secara umum terdiri atas dua bagian yaitu bahan dasar (vehikulum) dan bahan aktif dengan penjelasan sebagai berikut : 1. Bahan dasar (vehikulum) Memilih bahan dasar (vehikulum) obat topikal merupakan langkah awal dan terpenting yang harus diambil pada pengobatan penyakit kulit. Pada umumnya sebagai pegangan ialah pada keadaan yang membasah dipakai bahan dasar yang cair atau basah, misalnya kompres; dan pada keadaan kering dipakai bahan dasar padat atau kering, misalnya salep. Secara sederhana bahan dasar dibagi menjadi tiga yaitu cairan, bedak dan salep. Disamping itu ada dua campuran atau lebih bahan dasar, yaitu bedak kocok (lotion), krim, pasta dan linimen.8 a. Cairan Cairan terdiri atas solusio (larutan dalam air) dan tinctura (larutan dalam alkohol). Solusio dibagi dalam kompres, rendam (bath) dan mandi (full bath). Prinsip pengobatan cairan ialah membersihkan kulit yang sakit dari debris (pus, krusta dan sebagainya) dan sisa-sisa obat topikal yang pernah dipakai. Disamping itu terjadi perlunakan atau pecahnya vesikel, bula dan pustula. Hasil akhir pengobatan ialah

By : Rickky_Kurniawan@2008

8

DERMATOLOGY

keadaan yang membasah menjadi kering, permukaan menjadi bersih sehingga mikroorganisme tidak dapat tumbuh dan mulai terjadi proses epitelisasi. Pengobatan cairan berguna juga untuk menghilangkan gejala, misalnya rasa gatal, rasa terbakar, parestesi oleh bermacammacam dermatosis. Harus diingat bahwa pengobatan dengan cairan dapat menyebabkan kulit menjadi terlalu kering. Jadi pengobatan cairan harus dipantau secara teliti. Kalau keadaan sudah mulai kering, maka pemakaiannya dikurangi dan kalau perlu dihentikan untuk diganti dengan bentuk pengobatan lainnya. Cara kompres lebih disukai daripada cara rendam dan mandi, karena pada kompres terdapat pendinginan dengan adanya penguapan, sedangkan pada rendam dan mandi terjadi proses maserasi. Bahan aktif yang dipakai dalam kompres ialah biasanya bersifat astringen dan antimikrobial. Astringen mengurangi eksudat akibat presipitasi protein. Kompres terdiri dari dua macam, yaitu kompres terbuka dan kompres tertutup. Kompres terbuka dasarnya adalah penguapan cairan kompres disusul oleh absorbsi eksudat atau pus. Indikasinya meliputi dermatosis madidans, infeksi kulit dengan eritem yang mencolok (misalnya erisipelas) dan ulkus kotor yang mengandung pus dan krusta.8 Cara kompres bekerja pada radang akut melalui: 1) Penguapan air akan menarik kalor dari lesi, sehingga terjadi vasokonstriksi yang mengakibatkan eritem berkurang.9 2) Vasokonstriksi memperbaiki permeabilitas vaskuler, sehingga pengeluaran serum dan udem berkurang.9 3) Air melunakkan dan melarutkan krusta pada permukaan kulit, sehingga mudah terangkat bersama kain kasa. Pembersihan krusta ini akan mengurangi sarang makanan untuk bakteri dari cairan yang terperangkap di bawah krusta. Kompres tertutup (kompres impermeabel) dasarnya adalah vasodilatasi, bukan untuk penguapan. Indikasinya ialah kelainan yang dalam, misalnya limfogranuloma venereum.8

By : Rickky_Kurniawan@2008

9

DERMATOLOGY

b. Bedak Bedak yang dioleskan di atas kulit membuat lapisan tipis di kulit yang tidak melekat erat sehingga penetresinya sedikit sekali. Efek bedak ialah mendinginkan, antiinflamasi ringan karena ada sedikit efek vasokonstriksi, antipruritus lemah, mengurangi pergeseran pada kulit yang berlipat (intertrigo) dan proteksi mekanis. Pengobatan dengan bedak yang diharapkan terutama ialah efek fisis. Bahan dasarnya ialah talkum venetum. Bedak biasanya dicampur dengan seng oksida, sebab zat ini bersifat mengabsorbsi air dan sebum, astringen, antiseptik lemah dan antipruritus lemah. Indikasi pemberian bedak ialah dermatosis yang kering dan superfisial, mempertahankan vesikel atau bula agar tidak pecah. Kontraindikasinya adalah dermatitis yang basah, terutama bila disertai dengan infeksi sekunder (Hamzah, 2005). Jika terjadi eksudat atau pus, maka campuran bedak dengan eksudat merupakan adonan yang memudahkan terjadinya infeksi.7 c. Salep Salep ialah bahan berlemak atau seperti lemak, yang pada suhu kamar berkonsistensi seperti mentega. Bahan dasar biasanya vaselin, tetapi dapat pula lanolin atau minyak. Indikasinya adalah dermatosis yang kering dan kronik, dermatosis yang dalam dan kronik dan dermatosis yang bersisik dan berkrusta. Kontraindikasinya adalah dermatitis madidans. Jika kelainan kulit terdapat pada bagian badan yang berambut, penggunaan salep tidak dianjurkan dan salep jangan dipakai di seluruh tubuh.8 d. Bedak kocok Bedak kocok terdiri atas campuran air dan bedak yang biasanya ditambah dengan gliserin sebagai bahan perekat, supaya bedak tidak terlalu kental dan cepat menjadi kering maka jumlah zat padat maksimal 40 % dan jumlah gliserin 10 – 15 %. Hal ini berarti jika beberapa zat aktif padat ditambahkan, maka prosentase tersebut jangan

By : Rickky_Kurniawan@2008

10

DERMATOLOGY

terlampaui. Indikasi digunakan bedak kocok adalah dermatosis yang kering, superfisial dan agak luas, serta dermatosis pada keadaan sub akut. Kontraindikasinya ialah dermatitis madidans dan daerah badan yang berambut.8 e. Krim Krim adalah emulsi O/W (oil in water) atau W/O (water in oil). Kombinasi antara minyak dengan air ditambah emulgator menghasilkan emulsi W/O atau O/W, bergantung pada susunan komponen di atas. Krim W/O (cold cream) lebih cocok dipakai waktu malam karena melengket lebih lama di kulit. Krim O/W (vanishing cream) lebih cocok dipakai waktu siang karena lebih cair dan tidak lengket.10 Indikasi digunakan krim ialah indikasi kosmetik, dermatosis yang subakut dan luas, dan boleh digunakan di daerah yang berambut. Kontraindikasi untuk krim W/O ialah dermatitis madidans.8 f. Pasta Pasta ialah campuran homogen bedak dan vaselin. Pasta bersifat protektif dan mengeringkan. Indikasi penggunaan pasta ialah dermatosis yang agak basah. Kontraindikasinya ialah dermatosis yang eksudatif dan daerah yang berambut. Untuk daerah genital eksterna dan lipatan-lipatan badan, pasta tidak dianjurkan karena terlalu melekat.8 Sekarang pasta jarang dipakai karena pengolesan dan pembersihannya lebih sulit.10 g. Linimen Linimen atau pasta pendingin ialah campuran cairan, bedak dan salep. Indikasi penggunaanya yaitu pada dermatosis yang subakut. Kontraindikasinya yaitu dermatosis madidans. Ada vehikulum lain yaitu gel. Gel ialah sediaan hidrokoloid atau hidrofilik berupa suspensi yang dibuat dari senyawa organik. Zat untuk membuat gel di antaranya ialah karbomer, metilselulosa dan tragakan. Bila zat-zat tersebut

By : Rickky_Kurniawan@2008

11

DERMATOLOGY

dicampur dengan air dengan perbandingan tertentu akan terbentuk gel. Karbomer akan membuat gel menjadi sangat jernih dan halus. Gel segera mencair, jika berkontak dengan kulit dan membentuk satu lapisan. Absorbsi per kutan lebih baik daripada krim. 2. Bahan aktif Pemilihan obat topikal selain faktor vehikulum, juga faktor bahan aktif yang dimasukkan ke dalam vehikulum, yang mempunyai khasiat tertentu yang sesuai untuk pengobatan topikal. Khasiat bahan aktif topikal dipengaruhi oleh keadaan fisiko-kimia permukaan kulit, di samping komposisi formulasi zat yang dipakai. Penetrasi bahan aktif melalui kulit dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk konsentrasi obat, kelarutannya dalam vehikulum, besar partikel, viskositas dan efek vehikulum terhadap kulit. Bahan-bahan aktif yang biasa digunakan pada penyakit kulit secara umum di antaranya ialah alumunium asetat, asam asetat, asam benzoat, asam borat, asam salisilat, asam undesilenat, asam vitamin A (tretionin, asam retinoat), benzokain, benzil benzoat, camphora, kortikosteroid topikal, mentol, padofilin, selenium disulfid, sulfur, ter, tiosulfas natrikus, urea, zat antiseptik, antibiotik dan antifungal.7,8 I. 2. Obat Antijamur Topikal , obat antijamur topikal yang ideal adalah obat yang aktif pada konsentrasi sangat rendah, mempunyai formula yang beragam, efek samping minimal atau bahkan tidak ada, dengan formula yang spesifik (misalnya untuk kuku dan mukosa) dan mempunyai manfaat tambahan untuk kelainan yang biasa menyertai infeksi jamur (misalnya antiinflamasi, keratolitik dan antibakteri). Obat topikal yang diperuntukkan pada infeksi dermatofita berdasarkan mekanisme kerjanya meliputi :11 1. Bahan kimia antiseptic Mempunyai sifat antibakteri dan antijamur ringan serta bersifat mengeringkan, misalnya Cestallani paint (solusio carbol fuchsin) dapat digunakan untuk kasus tinea kruris dan kandidosis intertriginosa. Selain itu juga dapat dindikasikan untuk tinea unguium, tinea imbrikata dan tinea korporis.11,12

By : Rickky_Kurniawan@2008

12

DERMATOLOGY

2. Bahan keratolitik Yaitu bahan yang meningkatkan eksfoliasi stratum korneum. Misalnya salep Whitefield mengandung asam salisilat 3 %, asam benzoat 6 % dalam petrolatum, dikatakan efektif bagi tinea pedis dan asam undesilenat krim dan bedak 3 %. Asam salisilat pada konsentrasi rendah (1 – 2 %) berefek keratoplastik, konsentrasi tinggi (3 – 20 %) berefek keratolitik dan dipakai pada keadaan dermatosis yang hiperkeratotik dan pada konsentrasi sangat tinggi (40 %) dipakai untuk kelainan-kelainan yang dalam. Asam salisilat berkhasiat fungisid terhadap banyak fungi pada konsentrasi 3 – 6 % dalam salep, selain itu berkhasiat bakteriostasis lemah. Asam salisilat tidak dapat dikombinasikan dengan seng oksida karena akan terbentuk garam sengsalisilat yang tidak aktif. Asam benzoat mempunyai sifat antiseptik terutama fungisidal. Salep Whitefield dapat juga berguna untuk pengobatan topikal pada tinea kruris, tinea unguium dan tinea korporis. Asam undesilenat dalam bentuk cairan dapat digunakan pada tinea unguium.8,11,12 3. Golongan allilamin, Golongan ini bekerja dengan menghambat enzim epoksidase skualen pada proses pembentukan ergosterol membran sel jamur. Allilamin memiliki efektivitas klinis yang tinggi dengan angka kesembuhan berkisar 70 – 100 %. Naftitin merupakan obat antijamur berspektrum luas dan derivat allilamin yang sintetis. Dapat menurunkan ergosterol yang menghambat pertumbuhan sel jamur. Pada konsentrasi 1 % memiliki daya antiinflamasi. Tersedia dalam bentuk krim, gel atau solusio 1 %. Penderita tinea korporis dewasa maupun anak-anak cukup dioleskan 4 kali sehari pada sekitar lesi selama 2 minggu dalam bentuk krim 1 %. Tinea kruris 4 kali sehari selama 2 – 4 minggu dalam bentuk krim 1 %. Tinea pedis dioleskan 4 kali sehari dalam bentuk krim 1 % atau 2 kali sehari dalam bentuk gel 1 %. Terbinafin merupakan derivat allilamin yang sintetis yang menghambat epoksidase skualen, sebuah enzim penting dalam biosintesis sterol pada jamur yang menghasilkan defisiensi ergosterol, penyebab kematian sel jamur. Penelitian menemukan

By : Rickky_Kurniawan@2008

13

DERMATOLOGY

bahwa obat ini efektif dan tertoleransi dengan baik oleh anak-anak. Terbinafin dioleskan 4 kali sehari pada penderita tinea kruris dan tinea korporis baik dewasa maupun anak-anak dalam waktu 1 – 4 minggu. Penderita tinea pedis dewasa dan anak-anak (>12 tahun) diberikan olesan sebanyak 2 kali sehari dalam bentuk krim.3,9,12 Contoh nama merk dagang obat naftitin yaitu exoderil dan contoh nama merk dagang obat terbinafin yaitu interbi, lamisil dan termisil.
13

Golongan benzilamin, Butenafin merupakan obat anti jamur baru, termasuk golongan benzilamin yang bersifat fungisidik terhadap dermatofit, seperti Trichophyton mentagrophytes, Microsporum canis dan Trichophyton rubrum yang menyebabkan infeksi-infeksi tinea. Butenafin bekerja pada stadium yang lebih dini dalam alur metabolisme sehingga menyebabkan terjadinya akumulasi skualen dan kematian sel jamur. Sifat fungisidik butenafin menyebabkan masa pengobatan yang pendek dengan angka kesembuhan yang tinggi dan angka kekambuhan yang rendah. Penderita tinea korporis dewasa dan anak-anak (> 12 tahun) dioleskan sebanyak 4 kali sehari selama 2 minggu dalam bentuk krim 1 %. Penderita tinea kruris dewasa dan anak-anak (> 12 tahun) dioleskan sebanyak 4 kali sehari selama 2 – 4 minggu dalam bentuk krim 1 %. Penderita tinea pedis dewasa dan anak-anak (> 12 tahun) dioleskan sebanyak 2 kali sehari selama 1 minggu atau 4 kali sehari selama 2 – 4 minggu dalam bentuk krim 1 %. Contoh nama merk dagang obat butenafin adalah mentax.12 4. Golongan imidazol Umumnya senyawa imidazol ini berkhasiat fungistatis dan pada dosis tinggi bekerja fungisid terhadap fungi tertentu. Imidazol memiliki efektivitas klinis yang tinggi dengan angka kesembuhan berkisar 70 – 100 %. Mekanisme kerjanya dengan menghambat sintesis ergosterol, suatu unsur penting untuk integritas membran sel.12 Golongan imidazol meliputi :

By : Rickky_Kurniawan@2008

14

DERMATOLOGY

a. Mikonazol. Derivat mikonazol ini berkhasiat fungisid kuat dengan spektrum kerja lebar sekali. Lebih aktif dan efektif terhadap dermatofit biasa dan kandida daripada fungistatika lainnya. Zat juga bekerja bakterisid pada dosis terapi terhadap sejumlah kuman Gram positif kecuali basil-basil Doderlein yang terdapat dalam vagina. Penderita tinea kruris dewasa dan anak-anak diberikan sebanyak 2 kali sehari selama 4 minggu dalam bentuk krim 2 %, bedak kocok ataupun bedak. Penderita tinea pedis dewasa dan anak-anak diberikan sebanyak 2 kali sehari selama 2 – 6 minggu dalam bentuk krim 2 % atau bedak kocok. Jika menggunakan bedak, maka cukup ditaburkan 2 kali sehari selama 2 – 4 minggu.14Contoh nama merk dagang obat mikonazol yaitu micoskin, mexoderm dan daktarin.13 b. Klotrimazol. Derivat imidazol ini memiliki spektrum fungistatis yang relatif lebih sempit daripada mikonazol. Pada konsentrasi tinggi, zat ini juga berdaya bakteriostatis terhadap kuman Gram positif. Penderita tinea pedis dan tinea korporis dewasa diberikan sebanyak 2 kali sehari selama 2 – 6 minggu dalam bentuk krim 1 % atau solusio, sedangkan pada anak-anak tidak tersedia. Penderita tinea kruris dewasa dan anak-anak diberikan sebanyak 2 kali sehari selama 4 minggu dalam bentuk krim 1 %, solusio ataupun bedak kocok.14Contoh nama merk dagang obat klotrimazol yaitu canesten, lotremin dan fungiderm.13 c. Ketokonazol. Fungistatikum imidazol pertama yang digunakan per oral (1981). Spektrum kerjanya mirip dengan mikonazol dan meliputi banyak fungi patogen. Penderita tinea pedis dewasa dan anak-anak dioleskan sebanyak 2 kali atau 4 kali sehari selama 2 – 4 minggu dalam bentuk krim 1 %. Penderita tinea kruris dewasa dan anak-anak dioleskan sebanyak 2 kali atau 4 kali sehari selama 2 – 4 minggu dalam bentuk krim 2 %. Penderita

By : Rickky_Kurniawan@2008

15

DERMATOLOGY

tinea korporis dewasa dan anak-anak dioleskan sebanyak 4 kali sehari selama 2 minggu dalam bentuk krim 2 %.14 MIMS tahun 2005 menyebutkan contoh nama merk dagang obat ketokonazol yaitu formyco, nizoral dan mycozid.13 d. Ekonazol. Ekonazol adalah derivat mikonazol, tetapi satu dari empat atom klor diganti oleh atom H. Spektrum kerjanya lebih kurang sama, hanya lebih aktif terhadap Aspergillus. Obat ini efektif untuk infeksi kutaneus. Titik tangkapnya berhubungan dengan metabolisme sintesis RNA dan protein, mengganggu permeabilitas dinding sel jamur sehingga menyebabkan kematian sel jamur. Penderita tinea pedis dewasa dan anak-anak dioleskan sebanyak 2 kali atau 4 kali sehari selama 4 minggu dalam bentuk krim 1 %. Penderita tinea kruris dewasa dan anak-anak dioleskan sebanyak 2 kali atau 4 kali sehari dalam bentuk krim 1 %. Contoh nama merk dagang obat ekonazol adalah pevaryl.14 e. Oksikonazol Oksikonazol merupakan obat jamur yang memiliki spetrum luas. Titik tangkapnya yaitu menghambat sintesis ergosterol yang akan menyebabkan kematian sel jamur. Penderita tinea pedis dewasa dan anak-anak dioleskan sebanyak 4 kali sehari selama 2 minggu dalam bentuk krim 1 %. Penderita tinea kruris dewasa dan anak-anak dioleskan sebanyak 4 kali sehari selama 2 – 4 minggu dalam bentuk krim 1 % atau bedak kocok. Contoh nama merk dagang obat oksikonazol adalah oxistat.14 f. Sulkonazol Sulkonazol merupakan obat jamur yang memiliki spektrum luas. Titik tangkapnya yaitu menghambat sintesis ergosterol yang akan menyebabkan kebocoran komponen sel, sehingga menyebabkan kematian sel jamur. Penderita tinea kruris dewasa dan anak-anak (> 12 tahun) dioleskan

By : Rickky_Kurniawan@2008

16

DERMATOLOGY

sebanyak 4 kali sehari selama 2 – 4 minggu dalam bentuk krim 1 % atau solusio. Contoh nama merk dagang obat sulkonazol adalah exelderm. g. Sertakonazol. Bentuk krim sertakonazol nitrat merupakan antijamur yang aktif melawan Trichophyton rubrum, Trichophyton mentagrophytes dan Epidermophyton floccosum. Diindikasikan untuk tinea pedis dengan dioleskan 2 kali sehari baik dewasa maupun anak-anak (> 12 tahun). Contoh nama merk dagang obat sertakonazol adalah ertaczo. h. Bifonazol Bifonazol merupakan derivat imidazol yang berkhasiat terhadap beberapa jenis jamur dan ragi yang patogen terhadap manusia serta terhadap beberapa kuman Gram positif. Bifonazol bermanfaat pada pengobatan tinea unguium dalam bentuk losio atau krim yang dikombinasikan bersama urea 40 % dengan bebat.10,14Contoh nama merk dagang obat bifonazol yaitu mycospor.13 6. Golongan lainnya a. Siklopiroks. Senyawa hidroksipiridon ini berspektrum luas. Senyawa ini berkhasiat fungisid terhadap Candida albican dan Trichophyton rubrum, fungistatis terhadap Malassezia furfur (panu), lagi pula bekerja bakteriostatis lemah. Walaupun struktur kimianya berbeda dengan zat-zat imidazol, tetapi mekanisme kerjanya diperkirakan sama, yaitu terhadap membran plasma sel jamur. Mungkin juga mekanisme kerjanya berdasarkan perintah transpor dari asam-asam amino dan ion-ion melalui membran sel. Daya kerjanya diperkuat bila dibuat ester oalmin. Siklopiroks khusus digunakan secara dermal. Penderita tinea pedis dewasa dan anak-anak (> 10 tahun) dioleskan sebanyak 2 kali sehari dalam bentuk krim 1 %, jika tidak ada perbaikan setelah 4 minggu maka perlu dievaluasi lagi. Hal tersebut juga berlaku pada penderita tinea kruris dan tinea kapitis. Solusio siklopiroks

By : Rickky_Kurniawan@2008

17

DERMATOLOGY

telah dilaporkan dapat berpenetrasi melalui semua lapisan kuku pada kasus tinea unguium namun memiliki efikasi yang rendah sehingga perlu kombinasi dengan obat antijamur oral.14 MIMS tahun 2005 menyebutkan contoh nama merk dagang obat siklopiroks yaitu batrafen dan loprox nail lacquer.13 b. Tolnaftat Tonaftat termasuk golongan tiokarbonat dan merupakan antijamur yang sangat efektif terhadap dermatofitosis dan infeksi Pityrosporum orbiculare tetapi tidak terhadap Candida. Mekanisme kerjanya adalah dengan menghambat epoksidasi skualen pada membran sel jamur. Biasanya digunakan 2 kali sehari selama 2 – 4 minggu dan dilanjutkan 2 minggu setelah gejala klinis hilang. Penderita tinea kruris dewasa dan anak anak dioleskan sebanyak 2 kali sehari. Tersedia dalam bentuk krim 1 %, solusio dan bedak. Tolnaftat dapat diindikasikan pada pengobatan topikal untuk tinea korporis dan tinea unguium. Contoh nama merk dagang obat tolnaftat adalah tinactin.3,9 c. Haloprogin. Haloprogin berkhasiat fungisid terhadap Epidermophyton, Pityrosporum, Trichophyton dan Candida. Kadang-kadang terjadi sensitasi dengan timbulnya gatal gatal, perasaan terbakar dan iritasi kulit. Penderita tinea kruris dewasa dan anak-anak dioleskan sebanyak 3 kali sehari. Tersedia dalam bentuk krim 1 % dan solusio. Biasanya digunakan dalam waktu 2 – 4 minggu. Contoh nama merk dagang obat haloprogin adalah halotex.11,14 Pengobatan pada tinea unguium sangat memerlukan kombinasi dengan obat antijamur oral terutama generasi baru seperti itrakonazol dan terbinafin, karena jika hanya mengandalkan obat topikal saja maka daya penetrasi terhadap kuku sangat terbatas sehingga tidak efektif. Pengobatan tinea manus pada prinsipnya sama dengan pengobatan yang dilakukan pada tinea pedis.10

By : Rickky_Kurniawan@2008

18

DERMATOLOGY

TERAPI KURATIF KHUSUS TINEA PEDIS Pengobatan pada umumnya cukup topical saja dengan obat-obat anti jamur untuk bentuk interdigital dan vesicular. Lama pengobatan 4-6 minggu. Bentuk Moccasin foot yang kronik memerlukan pengobatan yang lebih lama, apalagi bila disertai dengan tinea unguiujm, pengobatan diberikan paling sedikit 6 minggu dan kadang-kadang memerlukan anti jamur per oral, misalnya grisofulvin, intrakonazol, atau terbenafin. Bentuk klinik akut yang disertai selulitis memerlukan pengobatan antibiotic, misalnya penisilin V, fluklosasilin, eritromisin atau spiramisin dengan dosis yang adekuat TERAPI REHABILITATIF Rehabilitasi medik pada pasien tinea pedis pada dasarnya tergantung pada penyebab dasar yang menyertai penyakit tersebut, misalnya diabetes mellitus, HIV AIDS. Adapun langkah-langkah dalam rehabilitasi sebagai berikut : a. Anamnesis ( faktor resiko, adanya penyulit misalnya ulkus diabetik) b. Pemeriksaan fisik : keadaan umum pasien, mobilitas/gerak, fungsi neurologis, sensorik, motorik. c. Pemeriksaan psikis : jika pasien mengalai depresi, stress maka dilakukan model pendekatan baik secara personal maupun kepada keluarga untuk menjelaskan penyakitnya. d. Evaluasi fungsi nutrisi agar adekuat e. Latihan jalan/gerak f. Mengembalikan fungsi aktivitas kehidupan sehari-hari agar dapat maksimal. g. Mencegah kembalinya penyakit dan mengobati faktor resiko. Target rehabilitasi medik secara umum : 1. Mandiri total, dapat bekerja kembali seperti semula

By : Rickky_Kurniawan@2008

19

DERMATOLOGY

2. Mandiri untuk aktivitas kehidupan sehari-hari, bekerja dengan supervisi dalam proses pekerjaan / bekerja paruh waktu 3. Mandiri untuk aktivitas kehidupan sehari-hari , tidak bekerja 4. Mandiri untuk aktivitas kehidupan sehari-hari dengan pengawasan 5. Tergantung sebagian ( Dibantu sebagian ) 6. Tergantung total ( Dibantu seluruhnya )

KESIMPULAN
1. Tinea pedis merupakan penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh jamur pada kaki, terutama pada sela-sela jari dan telapak kaki. 2. manifestasi klinis berupa fisura, maserasi, dpt berupa maccosin foot, bisa terjadi infeksi sekunder. 3. T. rubrum juga menghasilkan keratinase yang dapat melisiskan keratin pada stratum korneum kulit sehingga menimbulkan gejala klinis seperti timbulnya skuama. Dengan rusaknya stratum korneum jamur ini dapat menginvasi ke jaringan yang lebih dalam dan menimbulkan reaksi inflamasi local. 4. Penatalaksanaan perlu dilakukan secara komprehensif.

By : Rickky_Kurniawan@2008

20

DERMATOLOGY

DAFTAR PUSTAKA
1) Abbas Ali Mansour dan Khalil I Hamdi. (2007). Tinea Pedis Among Diabetics in Basrah: prevalence and predictors. Journal of Chinese Clinical Medicine 2, 9. 2) Sofia Perea, Maria Jose Ramos, Margarita Garau, Alba Gonzalez, Antonio R. Noriega, and Amalia Del Palacio. (2000). Prevalence and Risk Factors of Tinea Unguium and Tinea Pedis in the General Population in Spain. Journal Of Clinical Microbiology 38, 9. 3) 4) 5) Siregar, R. S. 2005. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit dalam Penyakit Jamur. Edisi 2. Jakarta. EGC, Hal.23. WHO. (2006) Guidelines for safe recreational water environments. Hal 52. Hapcioglu. (2005). The Prevalence Of Superficial Mycosis (Tinea Pedis And Onychomycosis) In Elementary School Children In Istanbul. J Ist Faculty Med 68, 113-8. 6) Muhannad Al Hasan, S Matthew Fitzgerald, Mahnaz Saoudian, Guha Krishnaswamy. Dermatology for the practicing allergist: Tinea pedis and its complications alvailable at http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=419368 accessed on September 3rd 2008. 7) 8) Djuanda adhi et al. ilmu penyakit kulit dan kelamin edisi ke 4. balai penerbit FKUI, jakarta 2005 : 93 M Hamzah. (2005), Dermatoterapi, dalam Djuanda, A., Hamzah, M. dan Aisah, S. (eds), Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta. 4th ed, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
9)

Hardyanto.(1990).Antijamur Dalam Dermatologi, dalam Ednawati dan Soedarmadi (eds), Pengobatan Penyakit Kulit dan Kelamin, Laboratorium Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Yogyakarta. Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah mada. Hal. 41 – 58.

10)

F Madani. (2000). Infeksi Jamur Kulit, dalam Harahap, M. (ed), Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta. Penerbit Hipokrates. Hal. 73 – 87.

By : Rickky_Kurniawan@2008

21

DERMATOLOGY

11)

Kuswadji., Bramono, K., Menaldi, S.L., Dwihastuti, P. dan Widaty, S. (eds), Dermatomikosis Superfisialis Pedoman Untuk Dokter dan Mahasiswa Kedokteran.Jakarta. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal. 1 – 6.

12)

M Cholis.(2001). Penatalaksanaan Tinea Glabrosa Dan Perkembangan Obat Antijamur baru. Malang. Laboratorium Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Brawidjaja Hal. 21 – 24.

13)

Evaria.(2005). MIMS Edisi Bahasa Indonesia, 6th vol. Jakarta. PT InfoMaster.Hal. 395 – 398. T H Tjay dan K Rahardja.(2003). Obat-Obat Penting, 5th. Jakarta. Penerbit PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia. Hal. 91 – 104.

14)

By : Rickky_Kurniawan@2008

22

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful