You are on page 1of 12

BAB 5.

PEMBAHASAN

5.1 Program Penurunan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Mojosari


Sehat tanpa DBD di Desa Mojosari Kecamatan Puger Kabupaten Jember
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang
tergolong dalam 10 penyakit terbanyak berdasarkan data Puskesmas Puger. Dalam
analisis situasi yang kami lakukan terdapat kasus Demam Berdarah Degue (DBD) di
desa Mojosari. Selain itu ada salah satu warga Desa Mojosari yang meninggal karena
penyakit Demam berdarah dalam 1 bulan terakhir. Untuk itu perlu adanya program
intervensi serta pencegahan penyakit demam berdarah.
Menurut Depkes (2005), Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit
yang disebabkan oleh virus dari golongan Arbovirus yang ditandai dengan demam
tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus menerus selama 27 hari,
manifestasi perdarahan (peteke, purpura, perdarahan konjungtiva, epistaksis,
perdarahan mukosa, perdarahan gusi, hematemesis, melena, hematuri) termasuk uji
tourniquet (Rumple Leede) positif, trombositopeni (jumlah trombosit 100.000/ l,
hemokonsentrasi (peningkatan hemotokrit 20%) disertai atau tanpa pembesaran
hati (hepatomegali).
Pada dasarnya ada empat tingkatan pencegahan penyakit secara umum yang
meliputi: pencegahan tingkat dasar (primordial prevention), pencegahan tingkat
pertama (primary prevention) yang meliputi promosi kesehatan dan pencegahan
khusus, pencegahan tingkat kedua (secondary prevention) yang meliputi diagnosa
dini serta pengobatan yang tepat, pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention)
yang meliputi pencegahan terhadap terjadinya cacat dan rehabilitasi (Noor, 2002).
Berdasarkan berbagai tingkatan pencegahan penyakit Demam Berdarah
Dengue (DBD) tersebut, Kelompok II PBL 2 membuat beberapa macam kegiatan
yakni pencegahan tingkat pertama yang berupa penyuluhan mengenai Penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD), lomba kamar mandi sehat, dan pemberantasan

149
150

sarang nyamuk melalui Siswa Pemantau Jentik (Wamantik). Dengan beberapa upaya
pencegahan yang telah dilakukan tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi
tingkat insidensi penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Desa Mojosari
Kecamatan Puger Kabupaten Jember.
5.1.1 Kegiatan Penyuluhan tentang DBD
Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman
mengenai demam berdarah kepada masyrakat dan pada akhirnya dapat mencegah
dan menurunkan angka kejadian demam berdarah di Desa Mojosari, Kecamatan
Puger Kabupaten Jember. Obyek penyuluhannya adalah perkumpulan pengajian ibu
ibu (muslimat) dan bapak - bapak (muslimin), total jumlahnya ada 4 perkumpulan
pengajian (2 bapak, 2 ibu) yang tersebar di dua dusun yaitu Krajan dan Jadugan.
Materi yang diberikan meliputi apa itu demam berdarah, tanda dan gejala, bagaimana
cara pertolongan pertama, dan pencegahannya.
Hasil dari kegiatan penyuluhan ini adalah peningkatan pengetahuan
masyarakat (anggota perkumpulan pengajian) Dusun Krajan dan Dusun Jadukan
Desa Mojosari sebelum dan sesudah penyuluhan tentang Demam Berdarah, yaitu
dengan mengkaji tingkat pemahaman masyarakat (anggota perkumpulan pengajian),
kemudian memberitahukan tentang pentingnya 3M (menguras, mengubur, dan
menutup) penampungan air, pertolongan pertama ketika ada yang terkena demam
berdarah, tanda dan gejala Demam Berdarah sebagai cara pencegahan penyakit
Demam Berdarah. Sehingga masyarakat menjadi lebih paham dan pada akhirnya
diharapkan masyarakat bisa lebih sehat mandiri.
Target peserta pada penyuluhan Demam Berdarah Dengue adalah sebanyak
30 orang dan yang menghadiri dalam penyuluhan ini sebanyak 109 orang. Adequacy
of performance sebesar 363,33% yang artinya kriteria kecukupan dalam segi peserta
yaitu peserta sangat mencukupi dan kegiatan dinyatakan sukses, karena hasil
perhitungan sebesar 363,33%.
151

Berdasarkan hasil pretest dan postest di atas, dapat diketahui adanya


peningkatan pengetahuan yang baik mengenai penyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD) dilihat dari kategori penilaian yaitu dari 38,8% menjadi 93,8%. Peningkatan
pengetahuan tentang penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) meningkat sebesar
55% hal ini berarti program yang dijalankan sudah mencapai kriteria evaluasi yaitu
peningkatan pengetahuan sebesar 10%.
Untuk efektifitas kegiatan penyuluhan mengenai Demam Berdarah Dengue
(DBD) adalah 5,5. Dari hasil efektifitas kegiatan penyuluhan Demam Berdarah
Dengue (DBD) tersebut, yang berarti lebih dari 1 (>1) adalah sangat efektif. Dan
ditinjau dari ke-efektifitasan kegiatan tersebut sekiranya memang benar-benar dapat
diterapkan oleh warga Desa Mojosari Kecamatan Puger Kabupaten Jember.
5.1.2 Kegiatan Lomba Kamar Mandi Sehat Sehat Kamar Mandiku, Sehat
Keluargaku
Kegiatan lomba kamar mandi sehat ini dilaksanakan di Desa Mojosari
Kecamatan Puger, tepatnya di Dusun Jadugan dan Dusun Krajan yang dilaksanakan
kurang lebih selama 3 minggu. Kegiatan ini diawali dengan pemberian informasi
kepada masyarakat melalui kegiatan pengajian dan ditentukan peserta yang akan
berpartisipasi dalam lomba kamar mandi sehat. Selanjutnya, dilakukan pemantauan
dan penilaian kamar mandi secara rutin yang disesuaikan dengan kriteria yang telah
ditetapkan. Ada 6 kriteria yang digunakan dalam lomba ini yakni (1) kebersihan
lantai, (2) kebersihan dinding, (3) kebersihan air, (4) ventilasi (pertukaran udara), (5)
pencahayaan, dan (6) ketiadaan jentik nyamuk. Adapun tujuan dari kegiatan lomba
kamar mandi sehat ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam
menciptakan kamar mandi yang sehat sebagai salah satu bentuk pencegahan penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui program 3 M (Menguras, Mengubur, dan
Menutup).
152

Adequacy of performance dari kegiatan Lomba Kamar Mandi Sehat Sehat


Kamar Mandiku, Sehat Keluargaku adalah dengan target peserta sebanyak 20 orang
dan yang berpartisipasi dalam kegiatan lomba ini adalah sebanyak 20 orang. Menurut
Baliwati (2004) perhitungan diatas didapat bahwa Adequacy of performance sebesar
100% yang artinya kriteria kecukupan dalam segi peserta yaitu peserta sangat
mencukupi dan kegiatan dinyatakan sukses, karena hasil perhitungan sebesar 100%.
Efektifitas dari kegiatan lomba kamar mandi sehat ini adalah 1,01.
Berdasarkan Supriyanto dan Damayanti (2003) Dari hasil efektifitas kegiatan Praktek
Pembuatan Menu Seimbang tersebut, yang berarti lebih dari 1 (>1) adalah sangat
efektif.
5.1.3 Kegiatan Praktek Siswa Pemantau Jentik (Wamantik) di SD Negeri 1 Mojosari
dan SD Negeri 2 Mojosari Kecamatan Puger Kabupaten Jember
Kegiatan praktek Siswa Pemberantasan Sarang Nyamuk Siswa Pemantau
Jentik (Wamantik) yang dilaksanakan 2 kali yaitu di Sekolah Dasar (SD) yaitu di
SD Negeri 1 Mojosari dan SD Negeri 2 Mojosari pada tanggal 17 dan 20 Juli 2013.
Rangkaian acara awal dari kegiatan ini adalah diawali dengan kegiatan Wamantik di
SD Negeri 1 Mojosari dan dilanjutkan kegiatan Wamantik di SD Negeri 2 Mojosari.
a. Kegiatan Wamantik di SD Negeri 1 Mojosari pada tanggal 17 Juli 2013 pukul
07.30 WIB dengan 50 siswa yang hadir dari 55 siswa kelas 5. Kegiatan
Wamantik dibuka oleh MC oleh kelompok 2 PBL II dengan memaparkan
rangkaian acara, diikuti dengan pembagian pre-test pada siswa oleh kelompok 2.
Dilanjutkan dengan penyuluhan oleh pemateri dari kelompok 2, dilanjutkan
dengan diskusi dan tanya jawab, kemudian praktek pemantauan jentik nyamuk di
kamar mandi, kegiatan diakhiri dengan post-test. Kegiatan ditutup dengan
pembagian leaflet dipandu oleh MC.
b. Kegiatan Wamantik di SD Negeri 2 Mojosari pada tanggal 20 Juli 2013 pukul
08.00 WIB dengan 27 siswa yan hadir dari 29 siswa kelas 5. Kegiatan wamantik
dibuka oleh MC oleh kelompok 2 PBL II dengan memaparkan rangkaian acara,
153

diikuti dengan pembagian pre-test pada pada siswa oleh anggota kelompok 2.
Dilannjutkan dengan penyuluhan oleh pemateri dari kelompok 2, dilanjutkan
dengan diskusi dan tanya jawab, kemudian dilakukan praktek pemantauan jentik
nyamuk di kamar mandi, kegiatan diakhiri dengan post-test. Kegiatan ditutup
dengan pembagian leaflet dipandu oleh MC.
Menurunkan angka kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan
melaksanakan Praktek Siswa Pemantau Jentik (Wamantik) di SD Negeri 1 Mojosari
dan SD Negeri 2 Mojosari Kecamatan Puger dengan tujuan peningkatan kegiatan
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) sebesar 30%. Pemilihan siswa sebagai target
sasaran kegiatan praktek pemantauan jentik ini dengan tujuan agar siswa dapat ikut
berpartisipasi dalam kegiatan pemberantasan sarang nyamuk dan menjadi kader aktif
dalam memantau jentik nyamuk yang ada di lingkungan sekitarnya. Dengan
terlibatnya siswa dalam kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), secara
langsung maupun tidak langsung juga dapat mempengaruhi orang-orang disekitarnya
untuk ikut terlibat pula dan melaksanakan kegiatan PSN tersebut seperti orangtua,
para guru di sekolah, dan orang-orang yang berada di sekitar rumahnya. Oleh karena
itu, dengan adanya Siswa Pemantau Jentik (Wamantik) ini diharapkan terjadi
perubahan sikap dan perilaku target (dalam hal ini adalah siswa SD Negeri 1
Mojosari dan SD Negeri 2 Mojosari) yang mengikuti kegiatan Praktek Wamantik
sehingga dapat meningkatkan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk di desa
Mojosari Kecamatan Puger Kabupaten Jember.
Adequacy of performance dari kegiatan Praktek Siswa Pemantau Jentik
(Wamantik) di SD Negeri 1 Mojosari dan SD Negeri 2 Mojosari adalah dengan
target peserta sebanyak 50 orang dan yang berpartisipasi dalam kegiatan praktek ini
adalah sebanyak 77 orang. Menurut Baliwati (2004) perhitungan diatas didapat
bahwa Adequacy of performance sebesar 154% yang artinya kriteria kecukupan
dalam segi peserta yaitu peserta sangat mencukupi dan kegiatan dinyatakan sukses,
karena hasil perhitungan sebesar 154%. Efektifitas dari kegiatan lomba kamar mandi
154

sehat ini adalah 1,2. Berdasarkan Supriyanto dan Damayanti (2003), dari hasil
efektifitas kegiatan Praktek Siswa Pemantau Jentik tersebut, yang berarti lebih dari 1
(>1) adalah sangat efektif.
5.2 Program Memperkecil Faktor Resiko Penyakit Diabetes Mellitus
Manisnya Hidup Tanpa Diabetes Mellitus
Penyakit Diabetes Mellitus merupakan salah satu penyakit yang dianggap
penting oleh masyarakat Desa Mojosari Kecamatan Puger Kabupaten Jember untuk
segera dilakukan intervensi serta pencegahannya. Hal ini karena insidensi penyakit
Diabetes Mellitus di wilayah tersebut terbilang cukup tinggi. Diabetes mellitus (DM)
adalah gangguan kesehatan yang berupa kumpulan gejala yang disebabkan oleh
peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan ataupun resistensi insulin
(Bustan, 2007).
Pada dasarnya ada empat tingkatan pencegahan penyakit secara umum yang
meliputi: pencegahan tingkat dasar (primordial prevention), pencegahan tingkat
pertama (primary prevention) yang meliputi promosi kesehatan dan pencegahan
khusus, pencegahan tingkat kedua (secondary prevention) yang meliputi diagnosa
dini serta pengobatan yang tepat, pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention)
yang meliputi pencegahan terhadap terjadinya cacat dan rehabilitasi (Noor, 2002).
Berdasarkan berbagai tingkatan pencegahan Penyakit Diabetes Mellitus
tersebut, Kelompok II PBL 2 membuat beberapa macam kegiatan yakni pencegahan
tingkat pertama yang berupa penyuluhan mengenai Penyakit Diabetes Mellitus,
kegiatan senam sehat, dan pelatihan pengaturan menu diet bagi penderita Diabetes
Mellitus, serta pencegahan tingkat kedua yang berupa screening pemeriksaan gula
darah. Dengan beberapa upaya pencegahan yang telah dilakukan tersebut diharapkan
dapat membantu mengurangi tingkat insidensi Penyakit Diabetes Mellitus di Desa
Mojosari Kecamatan Puger Kabupaten Jember.
155

5.2.1 Kegiatan Penyuluhan tentang Diabetes Mellitus


Penyuluhan Diabetes Mellitus Manisnya Hidup Tanpa Diabetes Mellitus
yang dilaksanakan 2 kali yaitu di pengajian ibu ibu pada dusun Jadugan dan dusun
Krajan pada tanggal 28 dan 29 Juni bertempat di rumah warga Dusun Jadugan dan
musholla Dusun Krajan Desa Mojosari Kecamatan Puger Kabupaten Jember.
Sasaran dari penyuluhan ini adalah Ibu ibu pengajian Dusun Krajan dan Dusun
Jadugan, Desa Mojosari. Dipilihnya sasaran tersebut bertujuan agar semua lapisan
masyarakat dapat terjangkau di semua pengajian. Penyuluhan tentang Diabetes
Mellitus ini berupa pemaparan materi yang dilanjut dengan diskusi berupa tanya
jawab. Tujuan dari diadakannya penyuluhan tentang Diabetes Mellitus ini agar
masyarakat di Desa Mojosari Kecamatan Puger Kabupaten Jember bisa mengetahui
aspek-aspek tentang Diabetes Mellitus yaitu tentang bahaya penyakit Diabetes
Mellitus, cara pencegaha n, cara penanganan, gejala dan penyebab dari Diabetes
Mellitus. Efektivitas kegiatan penyuluhan tersebut dikatakan sangat efektif karena
dari hasil efektivitas penyuluhan tersebut lebih dari 1 (>1) yaitu 1,3.
Adequancy of performance dari kegiatan penyuluhan Diabetes Mellitus di
Desa Mojosari Kecamatan Puger Kabupaten Jember dinyatakan sukses yang artinya
kecukupan dalam segi peserta yaitu sebesar 156 %, peserta sangat mencukupi dan
kegiatan dinyatakan sukses. Sedangkan berdasarkan hasil pretest dan postest yang
telah dilaksanakan dapat diketahui adanya peningkatan pengetahuan mengenai
penyakit Diabetes Mellitus dilihat dari kategori penilaian yaitu dari 74 % menjadi
87,23 %, jadi peningkatan pengetahuan tentang penyakit Diabetes Mellitus
meningkat sebesar 13,2%. Menurut Supriyanto dan Damayanti (2003) hal ini berarti
program yang dijalankan sudah mencapai kriteria evaluasi yaitu peningkatan
pengetahuan sebesar 10%. Peningkatan pengetahuan telah memenuhi target
disebabkan oleh berbagai faktor yang mendukung antara lain:
156

a. Faktor waktu: Waktu kegiatan penyuluhan yang diadakan pada sore hari disaat
orang-orang dalam keadaan santai karena umumnya mereka bekerja pada waktu
pagi sampai siang hari.
b. Faktor metode dan peralatan: Menggunakan metode ceramah dan diskusi (tanya
jawab) oleh pemateri.
Menurut Supriyanto dan Damayanti (2003) Efektifitas kegiatan penyuluhan
mengenai Penyakit Diabetes mellitus dikatakan sangat efektif karena dari hasil
efektifitas kegiatan penyuluhan tersebut lebih dari 1 (>1) yaitu 1.3.
5.2.2 Kegiatan senam sehat Senam Sehat Tanpa Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus merupakan suatu penyakit yang ditandai oleh kenaikan
kadar gula darah (hyperglikemia) kronik yang dapat menyerang banyak orang di
semua lapisan masyarakat. Menurut Sidartawan (2001), faktor-faktor yang berperan
dalam terjadinya penyakit diabetes adalah faktor keturunan, faktor kegiatan jasmani
yang kurang, faktor kegemukan, faktor nutrisi berlebih, faktor hormon, dan faktor
lain seperti obat-obatan. Faktor keturunan merupakan faktor yang tidak dapat diubah,
tetapi faktor lingkungan (kegemukan, kegiatan jasmani kurang, nutrisi berlebih)
merupakan faktor yang dapat diubah dan diperbaiki. Kegiatan senam sehat
merupakan salah satu upaya intervensi untuk meningkatkan kegiatan jasmani yang
kurang guna mencegah penyakit diabetes mellitus
Kegiatan senam sehat dilaksanakan di Balai Desa Mojosari Kecamatan
Puger Kabupaten Jember Kegiatan ini diadakan pada hari Senin, 1 Juli 2013 pada
pukul 14.00 sampai dengan pukul 15.30 WIB. Metode yang digunakan pada kegiatan
senam sehat ini adalah pemberian materi gerakan senam, dilanjutkan dengan praktik.
Senam Sehat untuk mencegah Diabetes Mellitus dilaksanakan pada hari
Senin tanggal 1 Juli 2013 di Balai Desa Mojosari, Kecamatan Puger, Kabupaten
Jember. Sasaran dari Senam Sehat adalah ibu-ibu di Dusun Krajan maupun di Dusun
Jadugan, Desa Mojosari, Kecamatan Puger. Kegiatan dimulai dengan pengisian
daftar hadir. Setelah itu dilanjutkan dengan pemberian materi senam dan kemudian
157

dilanjutkan dengan penyuluhan singkat mengenai pentingnya aktivitas fisik untuk


mencegah diabetes mellitus. Tujuan dari kegiatan Senam Sehat ini adalah agar
masyarakat Desa Mojosari, Kecamatan Puger, dapat memahami bahwa aktivitas fisik
dapat digunakan sebagai salah satu cara mencegah penyakit diabetes mellitus.
Evaluasi untuk kegiatan kandang percontohan ini berdasarkan tingkat kehadiran
peserta. Efektivitas kegiatan Senam Sehat ini dapat dikatakan sangat efektif karena
hasil dari penghitungan efektivitas kegiatan diperoleh angka lebih dari 1 (>1) yaitu
8,33.
5.2.3 Kegiatan Pemeriksaan Gula Darah
Salah satu kegiatan pencegahan tingkat kedua adanya penemuan penderita
secara aktif pada tahap dini. Kegiatan ini meliputi pemeriksaan berkala, penyaringan
(screening) yakni pencarian penderita dini untuk penyakit yang secara klinis belum
tampak pada penduduk secara umum pada kelompok resiko tinggi dan pemeriksaan
kesehatan atau keterangan sehat (Noor, 2002).
Upaya pencegahan tingkat kedua pada penyakit diabetes adalah dimulai
dengan mendeteksi dini pengidap diabetes. Karena itu dianjurkan untuk pada setiap
kesempatan, terutama untuk mereka yang beresiko tinggi agar dilakukan
pemeriksaan penyaringan glukosa darah. Dengan demikian, mereka yang memiliki
resiko tinggi diabetes dapat terjaring untuk diperiksa dan kemudian yang dicurigai
diabetes akan dapat ditindaklanjuti, sampai diyakinkan benar mereka mengidap
diabetes. Bagi mereka dapat ditegakkan diagnosis dini diabetes kemudian dapat
dikelola dengan baik, guna mencegah penyulit lebih lanjut (Sidartawan, 2001).
Ada beberapa macam metode yang digunakan untuk pemeriksaan gula
darah, yakni pemeriksaan gula darah sewaktu (GDS), gula darah puasa (GDP) dan
pemeriksaan gula darah dua jam setelah makan (post prandial). Pemeriksaan gula
darah yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pemeriksaan gula darah sewaktu
dengan metode rapid test (menggunakan fingerstick dan blood glucose meter).
158

Kegiatan Pemeriksaan Gula Darah dilaksanakan di Balai Desa Mojosari


Kecamatan Puger Kabupaten Jember Kegiatan ini diadakan pada hari Senin, 1 Juli
2013 pada pukul 15.30 sampai dengan selesai. Metode yang digunakan adalah
metode pemeriksaan langsung oleh petugas dari Puskesmas Puger.
Kegiatan ini dilaksanakan setelah kegiatan senam sehat. Pemeriksaan gula
darah diawali dengan pendaftaran untuk pemeriksaan. Pelaksanaan pemeriksaan gula
darah dilakukan untuk mengetahui kadar gula darah masyarakat Desa Mojosari,
apakah termasuk berkadar gula darah normal atau lebih yang berisiko menderita
penyakit Diabetes Mellitus. Masyarakat yang hadir diberi pemberitahuan tentang
kadar gula normal, ajakan untuk berperilaku hidup bersih dan sehat dengan
melakukan aktivitas fisik secara rutin, kemudian masyarakat dengan kadar gula
melebihi batas normal diberi undangan untuk menghadiri kegiatan demo masak
tentang Penyuluhan dan Pelatihan Pengaturan Diit Diabetes Mellitus. Kegiatan
pemeriksaan tersebut diakhiri dengan foto bersama. Sasaran dari kegiatan
pemeriksaan ini adalah ibu-ibu pengajian dusun Krajan dan Jadugan. Dipilihnya
sasaran tersebut bertujuan untuk mengetahui kadar gula mereka, untuk mengetahui
faktor risiko penyakit diabetes mellitus dan memicu kesadaran untuk melakukan
pemeriksaan gula darah secara teratur, serta dapat menjaga kadar gula agar dalam
batas yang normal. Kegiatan pemeriksaan gula darah ini berupa pemeriksaan yang
dilakukan oeh petugas puskesmas. Efektivitas kegiatan pemriksaan gula darah
tersebut dikatakan sangat efektif karena dari hasil efektifitas pemeriksaan tersebut
dapat mengetahui peserta yang beresiko Diabetes Mellitus dengan ditemukannya 4
dari 28 orang peserta yang diketahui beresiko Diabetes Mellitus dengan hasil
pemeriksaan gula darah lebih dari 160 mmHg.
5.2.4 Kegiatan Penyuluhan dan Pelatihan Pengaturan Diit Diabetes Mellitus
Kegiatan Penyuluhan dan Pelatihan Pengaturan Diit Diabetes Mellitus
dilaksanakan pada hari Sabtu, 6 Juli 2013 di Balai desa Mojosari. Sasaran dari
Kegiatan ini adalah ibu-ibu di desa Mojosari yang terdiri dari dusun Krajan dan
159

dusun Jadugan. Dipilihnya sasaran tersebut karena peran seorang ibu dalam keluarga
sangatlah besar untuk mengatur pola makan dalam keluarganya. Tujuan adanya
kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang Penyakit
Diabetes mellitus dan Mencegah Penyakit diabetes mellitus yang salah satu caranya
adalah dengan pengaturan diit diabetes mellitus itu sendiri,Tujuan yang kedua adalah
meningkatkan keterampilan sasaran dalam pengaturan diit diabetes mellitus,dalam
hal ini dilakukan praktek terhadap sasaran,yakni kita mengambil sample sebanyak 4
orang dan membagi menjadi 2 kelompok, kemudian 2 kelompok tersebut
menentukan jenis-jenis bahan makanan yang danjurkan dan dibatasi bagi penderita
diabetes mellitus. Efektivitas kegiatan penyuluhan tersebut dikatakan sangat efektif
karena dari hasil efektivitas penyuluhan tersebut lebih dari 1 (>1) yaitu 1,041.
Adequancy of performance dari kegiatan Penyuluhan dan Pelatihan
Pengaturan Diit Diabetes Mellitus di Desa Mojosari Kecamatan Puger Kabupaten
Jember dinyatakan kurang yang artinya kurang dalam segi peserta yaitu sebesar
53,33 %, peserta kurang mencukupi dan kegiatan dinyatakan tidak sukses dari segi
peserta. Sedangkan berdasarkan hasil pretest dan postest yang telah dilaksanakan
dapat diketahui adanya peningkatan pengetahuan mengenai penyakit Diabetes
Mellitus dilihat dari kategori penilaian yaitu dari 65 % menjadi 96,25 %, jadi
peningkatan pengetahuan tentang penyakit Diabetes Mellitus meningkat sebesar
31,25 %. Menurut Supriyanto dan Damayanti (2003) hal ini berarti program yang
dijalankan sudah mencapai kriteria evaluasi yaitu peningkatan pengetahuan sebesar
10%. Untuk keterampilan pengaturan diit diabetes mellitus yang dilakukan melalui
praktek penentuan bahan makanan yang dianjurkan dan dibatasi bagi penderita
diabetes mellitus, masyarakat yang awalnya tidak tahu, setelah penyuluhan
masyarakat menjadi tahu menegenai bahanan makanan apa saja yang dianjurkan dan
dibatasi. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan telah memenuhi target
disebabkan oleh berbagai faktor yang mendukung antara lain:
160

a. Faktor waktu: Waktu kegiatan penyuluhan yang diadakan pada sore hari disaat
orang-orang dalam keadaan santai karena umumnya mereka bekerja pada waktu
pagi sampai siang hari.
b. Faktor metode dan peralatan: Menggunakan metode ceramah dan diskusi (tanya
jawab) dan juga praktek oleh pemateri.
Menurut Supriyanto dan Damayanti (2003) Efektifitas kegiatan penyuluhan
dan pelatihan penyusunanmenu diit Diabetes mellitus dikatakan sangat efektif karena
dari hasil efektifitas kegiatan penyuluhan tersebut lebih dari 1 (>1) yaitu 1.041.