You are on page 1of 8

STRATEGI PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG MANUCOCO

BERBASIS MASYARAKAT DI KOTA ADMINISTRATIF ATAURO,


DILI TIMOR-LESTE

Ernesto Matos Soares1*), I Made Antara 2), I Made Adhika 3)

1)
Direktorat Jenderal Lingkungan Hidup Timor-Leste
2)
Fakultas Pertanian, Universitas Udayana
3)
Fakultas Teknik, Universitas Udayana
*
) Email: ernestomatos.soares@yahoo.co.id

ABSTRACT

Manucoco Protected Area is a mountainous conservation area which is very important for Atauro
community because it functions as water catchment areas, especially water sources, important habitat for
birds and other biodiversity, but there are still problems that occur such as deforestation, shifting cultivation,
system of slash-and-burn cultivation, area zoning is not clear, the expansion of settlements and forest fires,
all of these problems can give a less impact on ecological functions of the forest. The aims of this study are 1)
to describe the perception of the public about the conservation of natural resources Manucoco Protected Area
as a conservation area 2) to formulate management strategies for community-based Manucoco Protected
Area. The data collection techniques used questionnaires, interviews, documentation, and focus group
discussions, whereas the determination of the respondents used a purposive sampling method. To formulate
a management strategy, internal and external factors were identified by using SWOT analysis. The results
showed that the public perception of the function of the forest was that the forests had multiple functions, the
public perception related to management policies showed that people did not know the forestry legislations.
Public perception regarding the rights and obligations in the management strategy namely the public has
the perception that forests are common property. Based on the SWOT analysis produced several community-
based management strategies that can be used in the management of Manucoco protected areas as follow 1)
Maximizing the primary function of forests, (2) Increasing public knowledge through an intensive socialization
(3) Increasing the involvement or participation of the community 4) Encouraging the community-based
forests protection through HKM 5) Acceleration of area zoning 6) Increasing related department supervision
7) Performing the empowerment of communities around the protected areas 8) Preparing management
plans which needs to involve all stakeholders 9) Establishing the management unit in the village/sub-district
levels.

Keywords: Manucoco Protected Area, Pubic Perception, Conservation, Management Strategy

1. PENDAHULUAN hutan, sehingga hutan diartikan sebagai asosiasi


masyarakat tumbuh-tumbuhan dan hewan yang
Kawasan lindung sebagai kawasan yang didominasi oleh pohon-pohonan dengan luasan
mempunyai manfaat untuk mengatur tata air, tertentu sehingga dapat membentuk iklim mikro dan
pengendalian iklim mikro, habitat kehidupan liar, kondisi ekologi tertentu (Suparmoko,1997). Widada
sumber plasma nutfah serta fungsi sosial budaya bagi et al. (2006) bahwa hutan mempunyai beberapa
masyarakat di sekitarnya dengan demikian fungsi diantaranya; mengatur tata air, mencegah dan
pengelolaan kawasan lindung harus betul-betul membatasi banjir, erosi serta memelihara kesuburan
sesuai tingkat kepentinganya bagi suatu wilayah. tanah selain itu juga menyediakan hasil hutan untuk
Pengelolaan hutan mempunyai peran penting keperluan masyarakat, memberikan keindahan
untuk menunjang kelangsungan hidup semua alam khususnya dalam bentuk cagar alam, suaka
mahluk hidup khususnya umat manusia, hutan margasatwa,taman wisata, sebagai laboratorium
tidak hanya memberikan manfaat langsung (tangible untuk ilmu pengetahuan, pendidikan dan pariwisata
use) sebagai sumber penghasil hasil hutan berupa fungsi lain juga sebagai salah satu unsur strategi
kayu dan non kayu, tetapi hutan juga memberikan pembangunan nasional.
manfaat tidak langsung (intangible use) sebagai Pengelolaan berbasis masyarakat merupakan
pengatur tata air, kesuburan tanah, iklim mikro, suatu upaya pengelolaan yang dilakukan oleh
pencegah erosi dan longsor, sehingga eksistensinya masyarakat bersama-sama dengan pemerintah
perlu tetap dipertahankan melalui pengaturan fungsi setempat, pengelolaan berbasis masyarakat

ECOTROPHIC 11 (1) : 15 - 22 p-ISSN: 1907-5626, e-ISSN: 2503-3395 15


ECOTROPHIC VOLUME 11 NOMOR 1 TAHUN 2017 p-ISSN: 1907-5626, e-ISSN: 2503-3395

bertujuan untuk melibatkan masyarakat secara aktif bercocok tanam tebas dan bakar bertambahnya
dalam kegiatan perencanaan dan pelaksanaan pemukiman penduduk dan kebakaran hutan semua
pengelolaan (Tulungen et al.2002). permasalahan tersebut erat hubungannya dengan
Persepsi adalah pandangan atau penilaian masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan lindung.
seseorang terhadap obyek tertentu yang dihasilkan Keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi perlu
oleh kemampuan mengorganisasi pengamatan, keterlibatan pemerintah secara aktif untuk
persepsi sebagai proses pengorganisasian, mengajak dan merangkul masyarakat sekitar hutan
penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima untuk ikut menjaga keutuhan kawasan hutan dan
oleh organism atau individu sehingga merupakan memberikan pemahaman betapa pentingnya fungsi
proses yang berarti dan merupakan proses integral dan manfaat kawasan yang ada di sekitarnya,
dalam diri individu. Persepsi merupakan proses masyarakat tidak dilibat dalam suatu rencana
penginderaan dan penafsiran rangsangan suatu pengelolaan maka masyarakat dihadapkan pada
obyek atau peristiwa yang diinformasikan, sehingga posisi yang dilematis dimana di satu sisi bertindak
seseorang dapat memandang, mengartikan dan sebagai pelaku pembangunan dalam aktivitas
menginterpretasikan rangsangan yang diterimanya kesehariannya untuk bertindak sebagai pelindung
sesuai dengan keadaan dirinya dan lingkungan kelestarian hutan dan di sisi lain masyarakat juga
dimana berada, sehingga dapat menentukan turut serta berpartisipasi dalam perusakan, hal ini
tindakannya Walgito (dalam Boedojo, 1986) bisa di pengaruhi karena faktor ekonomi, sosial atau
Wilayah hutan Timor-Leste 869.130.41ha, budaya yang melatarbelangi serta faktor
mewakili 59% dari keseluruhan luas wilayah daratan pengetahuan yang minim.
1.493.130.41 ha, kawasan hutan Timor-Leste Artikel ini membahas tentang dua hal pokok
diklasifikasi menjadi dua bagian yaitu hutan yang yang menjadi fokus pada penelitian ini yaitu 1)
mempunyai tutupan bagus 312,930.67 ha dan Bagaimana persespsi masyarakat tentang konservasi
tutupan hutannya kurang 556.199.74 ha. (MAFP, sumberdaya alam KL Manucoco, 2) Bagaimana
2004). Deforestasi disebabkan sistem curah hujan dan strategi pengelolaan KL Manucoco sebagai kawasan
topografi di mana 41% dari total wilayah memiliki konservasi berbasis masyarakat.
lereng lebih besar dari 40% (Mota, 2002). Timor- Penelitian ini dimaksudkan untuk merumuskan
Leste memiliki 44 Kawasan Lindung yang telah suatu strategi pengelolaan KL Manucoco berbasis
ditetapkan berdasarkan Peraturan UNTAET No.19 masyarakat berdasarkan persepsi masyarakat
tahun 2000. sebagai acuan dan arahan untuk pengelolaan ke
Kawasan Lindung (KL) Manucoco merupakan depan.
kawasan konservasi pegunungan yang sangat
penting bagi masyarakat Atauro karena mempunyai
fungsi sebagai daerah resapan air terutama sumber 2. METODOLOGI
mata air, habitat penting bagi burung dan
keanekaragaman hayati lainnya, kawasan ini Penelitian ini dilakukan di KL (Kawasan
ditetapkan oleh Pemerintah Timor-Leste mengacu Lindung) Manucoco Kota Administratif Atauro,
pada peraturan UNTAET No.19 tahun 2000, luas terutama desa yang berdekatan dengan kawasan
area KL Manucoco 4000 ha, secara administratif lindung seperti Desa Macadade, Desa Maquili, Desa
KL Manucoco terletak di Kota Administatif Atauro Vila dan Desa Beloi, metode yang digunakan adalah
dengan ketinggian 700-970 meter dpl. Keberadaan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif, data
KL Manucoco sangat penting bagi Pulau Atauro yang yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
kondisi geografinya kebanyakan berlereng terdapat primer dan data sekunder, untuk memperoleh data
sedikit dataran rendah di sekitar daerah pesisir, persepsi masyarakat mengunakan kuisioner/angket,
kondisi topografinya didominasi oleh bebatuan analisis data mengunakan analisis deskriptif
karang, curah hujannya pendek sehingga daerah ini kualitatif, dalam merumuskan strategi pengelolaan
adalah daerah kering, sehingga sangat penting untuk mengunakan analisis SWOT berpedoman pada faktor
dikonservasi dan dilestarikan sebagai sumber internal dan eksternal, diskusi wawancara dan
penyedia sumber air bagi pulau tersebut karena dokumentasi.
kebanyakan sumber air bersih yang digunakan oleh
masyarakat sumbernya dari KL Manucoco.
Belum adanya upaya pengelolaan terhadap 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
kawasan lindung ini sehingga terjadi berbagai
fenomena di antaranya kegiatan berladang 3.1. Keadaan Umum KL Manucoco
masyarakat, pengambilan kayu bakar sebagai KL Manucoco merupakan kawasan hutan
sumber energi bahan bakar dan penebangan pohon konservasi yang berada di Kota Administratif Atauro
untuk kepentingan membuat rumah dan kapal Kota Madya Dili dengan luas 4000 hektar, meskipun
tradisional/sampan, ladang berpindah, sistem sudah ditetapkan sebagai kawasan lindung kebijakan

16
Strategi Pengelolaan Kawasan Lindung Manucoco Berbasis Masyarakat di Kota Administratif Atauro...... [Ernesto Matos Soares, dkk.]

pemerintah untuk melakukan pengelolaan terhadap Mata Air Ebua, sedangkan di Desa Macadade yaitu
kawasan tersebut belum berjalan secara maksimal, Mata Air di Kampung Berau, Mata Air Era Amak,
secara keseluruhan masyarakat bersedia untuk Mata Air Essuan, Mata Air Era Apak, Mata Air Eralu
mendukung kebijakan pemerintah dalam dan Mata Air Asame Lolon pemanfatan sumber air
pengelolaan KL Manucoco. Potensi sumberdaya alam yang ada untuk kepentingan masyarakat Kota
KL Manucoco seperti tanaman hias (bunga Administratif Atauro untuk memenuhi kebutuhan
anggrek),rotan, pohon enau, bambu, kopi dan sehari-hari baik untuk air minum,memasak
tanaman hutan lainnya seperti pohon kayu saria maupun mandi. Fungsi ekonomis ialah hutan dapat
(Toona sureni), pohon kenari (Canarium reidentalia), menyediakan tanah yang subur dan hasil hutan yang
ai na (Ptedocarpus indicus) dan berbagai jenis pohon bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk
lainnya, KL Manucoco sebagai habitat penting bagi mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan
burung, observasi peneliti terhadap aktivitas hidup yaitu melakukan aktivitas sehari-hari dengan
masyarakat dapat dilihat bahwa masyarakat dari bertani di sekitar kawasan lindung, mencari kayu
desa yang ada di sekitar kawasan lindung banyak bakar dan menebang pohon yang besar untuk
melakukan aktivitas perladangan untuk menanami membuat perahu tradisional, pengalaman hidup
jagung, kacang, ketela pohon, kelapa, pisang, nenas sehari-hari masyarakat memberikan kontribusi
dan tanaman buah-buahan lainnya. terhadap timbulnya persepsi bahwa hutan memiliki
KL Manucoco memiliki berbagai fungsi yakni fungsi ekonomi.
fungsi sosial, fungsi ekologis dan fungsi ekonomis,
fungsi sosial hutan sebagai tempat wisata atau 3.2. Persepsi Masyarakat Mengenai KL
rekreasi, KL Manucoco menyimpan keindahan alam Manucoco Sebagai Kawasan Konservasi
dan keanekaraman hayati baik flora maupun fauna Berdasarkan data persepsi masyarakat
yang bisa dikelola sebagai obyek wisata alam, fungsi mengenai pelestarian KL sebagai kawasan konservasi
ekologis berdasarkan pengamatan di lapangan terbagi dalam tiga bagian, diantaranya persepsi
terlihat bahwa masyarakat Atauro umumnya masyarakat mengenai fungsi KL Manucoco, persepsi
mengunakan mata air yang ada di KL Manucoco masyarakat tentang kebijakan pengelolaan, persepsi
sebagai sumber air bersih, ada beberapa sumber mata masyarakat tentang hak dan kewajiban masyarakat
air yang permanen atau sepanjang tahun tersedia dalam pengelolaan.
yaitu di Desa Maquili terdapat Mata Air Tulai dan

Gambar 3.1 Peta Lokasi Penelitian

17
ECOTROPHIC VOLUME 11 NOMOR 1 TAHUN 2017 p-ISSN: 1907-5626, e-ISSN: 2503-3395

3.2.1. Persepsi Masyarakat Mengenai Fungsi tingkat ketergantungan pada hutan akan
Hutan KL Manucoco berpengaruh terhadap fungsi kawasan dan luasan
hutan.
A. Persepsi masyarakat mengenai fungsi hutan
Persepsi masyarakat mengenai fungsi hutan, 3.2.2. Persepsi Masyarakat Tentang Kebijakan
dianalisis bahwa hutan merupakan salah satu Pengelolaan
komponen penting sumberdaya alam yang
mempunyai fungsi majemuk yaitu memiliki fungsi A. Pengetahuan masyarakat mengenai peraturan
sosial (sebagai tempat rekreasi/berlibur), fungsi perundanagan
ekologis (seperti menyimpan cadangan air, mencegah Berdasarkan hasil tabulasi pengetahuan
banjir/erosi dan sebagai tempat hidup fauna serta masyarakat tentang peraturan perundangan
keanekaragaman hayati lainya) dan fungsi ekonomi menunjukkan bahwa 68,88% tidak mengetahui
(untuk mencari penghasilan), persepsi tersebut tentang peraturan perundanagan kehutanandan
ditunjukan dengan 60% respon den mempersepsikan 31,11% tahu, kondisi ini mungkin disebabkan karena
bahwa hutan memiliki banyak fungsi (majemuk) saat ini Timor-Leste belum memiliki UU Kehutanan
sedangkan 40% mempersepsikan bahwa hutan dan minimnya frekuensi sosialisasi.
memilki fungsi tunggal.
B. Persepsi masyarakat mengenai kelembagaan
B. Persepsi masyarakat mengenai fungsi pengelolaan hutan.
sumberdaya alam KL Manucoco Masyarakat punya persepsi bahwa lembaga
Pada umumnya masyarakat yang memper- pengelola harus ditandai dengan adanya bangunan
sepsikan fungsi hutan yang masih baik ditandai fisik seperti tersedia kantor untuk aktivitas para
dengan adanya kerapatan vegetasi, aktivitas pengelola, persepsi tersebut dibuktikan dengan
masyarakat yang rendah di dalam kawasan adanya 71,11% responden menyatakan bahwa KL Manucoco
pemanfaatan jasa lingkungan serta ketersediaan belum mempunyai lembaga pengelola, 6.67%
sumber mata air, masyarakat yang mempersepsikan menyatakan ada dan 22,22% tidak tahu, berdasarkan
fungsi hutan masih baik mengindikasikan bahwa hasil tersebut secara tidak sadar masyarakat sudah
secara sadar maupun tidak masyarakat akan mempersepsikan bahwa hutan perlu dikelola. Belum
mengamati kondisi hutan seperti luas hutan dan adanya lembaga pengelola secara psikologis terkait
jumlah penduduk yang tinggal di kawasan hutan dengan stimulan persepsi yang tumbuh di
meskipun masyarakat tidak secara spesifik masyarakat bahwa hutan merupakan teritori yang
menyebutkan angka kuantitatif luas hutan dan bebas dan bisa di manfaatkan untuk kegiatan apa
jumlah penduduk yang tinggal di kawasan hutan, saja secara bebas atau sembarangan oleh
persepsi masyarakat dibuktikan dengan 66,67% masyarakat.
responden menyatakan bahwa KL Manucoco masih
berfungsi dengan baik sebagai kawasan konservasi, C. Persepsi masyarakat mengenai Pengelolaan
17,78% menyatakan tidak berfungsi dengan baik dan hutan membutuhkan rencana
15,55 menyatakan tidak tahu, masyarakat yang Persepsi masyarakat mengenai perlu adanya
mengatakan bahwa kondisi hutan masih baik tidak rencana dalam pengelolaan hutan maka baik
selalu bermakna fungsinya masih baik, melainkan responden yang menjawab tahu tentang Undang-
dapat bermakna bahwa masyarakat setempat masih Undang Kehutanan maupun yang tidak tahu,
dapat menggantungkan kehidupan sosial semuanya menjawab bahwa dalam pengelolaan
ekonominya akibat keberadaan hutan. hutan memerlukan rencana, hal ini dibuktikan
dengan 55,56% menjawab bahwa perlu adanya
C. Persepsi masyarakat mengenai pengaruh KL rencana dalam pengelolaan sumberdaya hutan,
Manucoco terhadap kehidupan masyarakat 35,55% tidak membutuhkan rencana, 8,89% tidak
Berdasarkan hasil tabulasi terhadap persepsi tahu, hasil ini menunjukkan masyarakat
masyarakat menunjukkan bahwa 53,33% mempersepsikan kebijakan sebagai sesuatu yang
menyatakan KL Manucoco berpengaruh terhadap sifatnya diberikan (given) dari pemerintah sebagai
kehidup masayarakat, 20% menyatakan tidak pembuatan kebijakan tanpa diketahui masyarakat
berpengaruh dan 26,67% tidak tahu, hasil tersebut dari mana asal kebijakan itu
menunjukkan bahwa adanya interaksi masyarakat
terhadap kawasan hutan meningkat atau D. Persepsi masyarakat mengenai peran serta
kemungkinan masyarakat umumnya berprofesi dalam pengelolaan KL Manucoco
sebagai petani sehingga mau tidak mau harus Kebijakan yang diterapkan dengan tujuan untuk
melakukan aktivitas bertani di sekitar kawasan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga
hutan sebagai sumber kehidupannya baik ekonomi masyarakat menyadari bahwa kebijakan sebagai
maupun sosial, sadar atau tidak meningkatnya sesuatu yang familiar bagi masyarakat, berdasarkan

18
Strategi Pengelolaan Kawasan Lindung Manucoco Berbasis Masyarakat di Kota Administratif Atauro...... [Ernesto Matos Soares, dkk.]

jawaban responden bahwa perlu peran serta 3.2.3. Persepsi Masyarakat mengenai Hak dan
masyarakat dalam pengelolaan hutan, yaitu Kewajiban dalam Pengelolaan
sebanyak 64,44% responden berpendapat bahwa
masyarakat perlu dilibatkan dalam proses A. Persepsi masyarakat mengenai hak dan
pengelolaan hutan, tidak perlu 20% dan 15,56% tidak kewajiban dalam pengelolaan
tahu, hasil ini menunjukkan bahwa tidak ada Berdasarkan analisis persepsi masyarakat
pelibatan masyarakat akan berdampak terhadap mengenai hak dan kewajiban dalam pengelolaan
tidak adanya rasa memiliki dan peran sertanya hutan merupakan satu paket kegiatan yang tidak
dalam pelestarian hutan sedangkan masyarakat yang dapat dipisahkan satu dan lainnya dalam rangka
dilibatkan dalam pengelolaan hutan tentu rasa memenuhi rasa keadilan publik (public justice)
memiliki relatif lebih tinggi dibandingkan artinya bahwa pemenuhan kewajiban oleh
masyarakat yang tidak dilibatkan. masyarakat harus disertai adanya jaminan bahwa
haknya juga dipenuhi, sesuai dengan hasil analisis
E. Persepsi masyarakat mengenai bentuk pelibatan diketahui bahwa masyarakat tidak memiliki
yang diinginkan dalam pengelolaan pengetahuan yang memadai tentang peraturan
Kebijakan pengelolaan hutan yang diterapkan perundangan kehutanan, jawaban ini dibuktikan
harus menyentuh aspek mendasar kehidupan dengan 62,22% responden tidak mengetahui hak dan
masyarakat yakni aspek ekonomi, pelibatan dalam kewajiban dalam pengelolaan hutan dalam konteks
kerangka pemenuhan kesejahteraan masyarakat hukum yang ada.
sebenarnya secara otomatis dapat menjamin bahwa
masyarakat memiliki rasa tanggungjawab untuk B. Persepsi masyarakat mengenai tindakan
menjaga kelestarian hutan sebagai sumber konservasi
penghidupannya Persepsi masyarakat mengenai Masyarakat memiliki persepsi bahwa tindakan
bentuk pelibatan menunjukkan 57,78% responden konservasi itu perlu karena di dalam tindakan
ingin untuk berpatisipasi dalam pengelolaan (pola konservasi tersebut masyarakat memiliki
pengelolaan partisipatif) sehingga dapat memperoleh kepentingan sosial ekonomi,tindakan konservasi
manfaat ekonomi, turut mengawasi pengelolaan hutan sebenarnya dalam pengertian bahwa
hutan supaya tidak disalahgunakan. Bentuk konservasi tersebut mensyaratkan adanya periode
pelibatan yang diinginkan tersebut berarti penanaman dan penebangan hutan, masyarakat
masyarakat tidak ingin sekedar dilibatkan dalam mempersepsikan bahwa jika sudah menanam dan
pengelolaan hutan dalam bentuk mengawasi merawat tanaman/pohon di hutan, terlepas dari
kelestarian hutan, melainkan melalui keterlibatan jenisnya, periode penanaman dan pemanenan hasil,
akan mendapatkan manfaat ekonomi, keterlibatan maka menurut masyarakat hal itu berarti sudah
tersebut berhubungan dengan tingkat sosial ekonomi ikut berpartispasi dalam konservasi hutan,
masyarakat yang tinggal di kawasan hutan, artinya masyarakat berpendapat bahwa konservasi tersebut
jika ada masyarakat yang tinggal di kawasan hutan menguntungkan karena bisa memenuhi kebutuhan
maka kepentingan ekonominya harus diperhatikan. ekonominya, persepsi ini dibuktikan dengan 88,89%
responden menjawab bahwa tindakan konservasi
F. Persepsi masyarakat mengenai Penyuluhan/ menguntungkan dan 11,11% tidak tahu.
sosialisasi instansi terkait
Penyuluhan merupakan faktor yang penting dan C. Persepsi masyarakat mengenai aktivitas
sebagai salah satu bentuk tindakan dalam rangka mengubah fungsi pokok KL Manucoco
implementasi kebijakan pengelolaan dan pelestarian Terlepas dari pengetahuan masyarakat tentang
hutan, terkait dengan penyuluhan maka 48,88% fungsi pokok hutan masyarakat memiliki persepsi
responden menjawab bahwa penyuluhan pernah bahwa di kawasan hutan dimana mereka berdomisili
dilakukan dan tidak pernah 26,67% dan tidak tahu cenderung tidak ada aktivitas yang merubah fungsi
24,44%, Jawaban ini menunjukkan bahwa tidak pokok hutan, persepsi ini dibuktikan dengan jawaban
meratanya sosialisasi yang dilakukan instansi terkait responden 46,67% ada aktivitas mengubah fungsi KL
kepada masyarakat, program penyuluhan yang Manucoco, tidak ada 42,22% dan tidak tahu 11,11%,
dilakukan hanya sebagai mengejar target program hasil ini menunjukkan bahwa berubahnya fungsi
semata tanpa mengedepan manfaat dari program pokok hutan salah satunya disebabkan oleh tekanan
tersebut. kebutuhan akan perumahan seiring dengan
pertumbuhan penduduk dan aktivitas budidaya.

19
ECOTROPHIC VOLUME 11 NOMOR 1 TAHUN 2017 p-ISSN: 1907-5626, e-ISSN: 2503-3395

Tabel 3.1. Identifikasi Faktor Internal dan Faktor Eksternal

Faktor Internal Faktor Eksternal

Faktor Kekuatan (Strength) Faktor peluang (Opportunitties)

1. KL Manucoco sebagai kawasan konservasi 1. Adanya dukungan pemerintah lokal dalam upaya konservasi
2. Keinginan masyarakat untuk turut serta dalam pengelolaan 2. Masyarakat mendukung untuk berpartisipasi dalam pelestarian kawasan
hutan KL Manucoco lindung Manucoco
3. Sebagai daerah resapan air dan daerah penting bagi burung 3. Status sebagai kawasan lindung
4. Adanya kearifan lokal tarabandu untuk pelestarian hutan
5. Kondisi hutan primer masih baik

Faktor Kelemahan (weaknesses) Faktor Ancaman (Threats)

1. Pengetahuan masyarakat tentang peraturan perundangan 1. Penebangan pohon


kehutanan masih minim 2. Lahan berpindah
2. Kurangnya keterlibatan/swadaya masyarakat dalam pelestarian hutan 3. Adanya pemukiman warga masuk ke dalam kawasan hutan
3. Penataan kawasan belum jelas 4. Kebakaran hutan
4. Minimnya petugas kehutanan dalam pengawasan
5. Kurangnya pemberdayaan masyarakat.
6. Rendanya intensitas sosialisasi
7. Lemahnya penegakan hukum
8. Tidak ada unit/lembaga pengelola

20
Strategi Pengelolaan Kawasan Lindung Manucoco Berbasis Masyarakat di Kota Administratif Atauro...... [Ernesto Matos Soares, dkk.]

D. Persepsi Masyarakat Mengenai Kearifan b) Persepsi masyarakat mengenai kebijakan


Lingkungan pengelolaan pada umumnya masyarakat
Kearifan lingkungan atau kearifan lokal (local tidak mengetahui peraturan atau regulasi
wisdom) merupakan suatu kebiasaan tradisional yang mengatur tentang kehutanan,
yang ada pada suatu daerah yang dipercaya dapat sehingga masyarakat tidak mempunyai pola
berkontribusi dalam menjaga atau melestarikan SDA berfikir mengenai tindakan pengelolaan dan
yang ada pada suatu daerah, menurut informasi yang pelestarian hutan
dapat di lapangan bahwa dalam upaya untuk c) Persepsi masyarakat mengenai hak dan
menjaga kelestarian SDA bahwa telah dilakukan kewajiban dalam pengelolaan sumberdaya
aktivitas upacara ritual tara bandu yang alam ialah masyarakat beranggapan bahwa
diselengarakan yang diprakarsa oleh tokoh adat hutan merupakan barang publik (common
setempat dengan bantuan dari pemerintah yaitu property) sehingga masyarakat merasa
sebagai upaya melarang masyarakat agar tidak punya hak dan kewajiban untuk
merusak sumberdaya alam, hal yang dipantangkan berpartisipasi untuk menjaga dan
seperti dilarang membakar hutan, jangan memelihara kelestarian sumberdaya alam
sembarang menebang pohon di sumber mata air dan yang ada, selain itu masyarakat
lain-lain, apa bila melanggar atau kedapatan maka mempersepsikan bahwa kearifan lokal/
akan dikenakan sanksi, persepsi ini dibuktikan aturan adat sangat bermanfaat dalam upaya
dengan 84,44% menyatakan ada kearifan lingkungan pelestarian sumberdaya alam.
untuk menjaga kelestarian SDA KL Manucoco.
2. Strategi Pengelolaan KL Manucoco Berbasis
3.3. Strategi Pengelolaan KL Manucoco Sebagai Masyarakat yang perlu dilakukan yaitu: (1)
Kawasan Konservasi memaksimalkan fungsi utama hutan (2)
meningkatkan program sosialisai secara intensif
3.3.1. Identifikasi Faktor Internal dan (3) Menerapkan pola perlindungan dan
Eksternal pengamanan hutan berbasis masyarakat (4)
Penyusunan strategi pengelolaan sumberdaya meningkatkan keterlibatan atau peran serta
hutan KL Manucoco diawali dengan pengumpulan masyarakat dan instansi terkait dalam upaya
data faktor internal (Kekuatan dan Kelemahan) dan konservasi terhadap KL Manucoco (5) percepatan
faktor eksternal (Peluang dan Ancaman) untuk penataan kawasan (6) meningkatkan
merumuskan strategi-strategi pengelolaan, seperti pengawasan terhadap pelestarian hutan (7)
disajikan pada Tabel 3.1 meningkatkan pemberdayaan terhadap
masyarakat sekitar kawasan lindung melalui
3.3.2 Strategi Pengelolaan KL Manucoco HKM (8) penyusunan rencana/kebijakan
Sebagai Kawasan Konservasi pengelolaan bersama perlu melibatkan semua
Berpedoman pada hasil observasi lapangan komponen masyarakat (stakeholder) (9)
jawaban responden diskusi dan wawancara maka pembentukan unit pengelola tingkat desa atau
terindentifakasi faktor internal (kekuatan dan kecamatan.
kelemahan) dan eksternal (peluang dan ancaman)
yang mempengaruhi pengelolaan KL Manucoco 4.2. Saran
kemudian dianalisis untuk merumuskan strategi Berdasarkan pembahasan maka dapat
pengelolaan sumberdaya alam KL Manucoco sebagai disarankan beberapa hal yang perlu dilakukan dalam
kawasan konservasi seperti pada Tabel 3.2 pengelolaan KL Manucoco sebagai berikut:
1) Para pemangku kepentingan (stakeholder)
diharapkan untuk menerapkan strategi-strategi
4. SIMPULAN DAN SARAN yang hasilkan dalam penelitian ini sebagai acuan
untuk pengelolaan KL Manucoco ke depan
4.1. Simpulan 2) Pemerintah perlu merampungkan proses
Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat pembuatan Peraturan Perundangan-
dirumuskan beberapa simpulan sebagai berikut: Kehutanan sebagai payung hukum untuk
1. Persepsi masyarakat terhadap pelestarian mengatur tata kelola Kehutanan di Timor-Leste
sumberdaya alam KL Manucoco sebagai dan khususnya KL Manucoco
kawasan konservasi antara lain: 3) Perlu membentuk unit pengelola tingkat desa
a) Persepsi masyarakat mengenai fungsi hutan atau kecamatan (UPTD/UPTK) untuk
bahwa hutan memiliki beraneka ragam melakukan pengelolaan atau pelestarian
fungsi (majemuk) yaitu fungsi ekologis, terhadap KL Manucoco
fungsi sosial dan fungsi ekonomi.

21
ECOTROPHIC VOLUME 11 NOMOR 1 TAHUN 2017 p-ISSN: 1907-5626, e-ISSN: 2503-3395

4) Perlu dilakukan sosialisasi secara intensif serta Suparmoko,1997. Ekonomi Sumberdaya Alam dan
meningkatkan pemberdayaan terhadap masya- Lingkungan, BPFE: Yogyakarta
rakat yang tinggal di sekitar kawasan lindung
Tulungen J. Bayer. T, Dimpudus. M, Kasmidi. M,
5) Bagi masyarakat Atauro perlu menghidupkan
Rotinsulu. C, Sukmara. A,
nilai kebersamaan untuk mempertahankan KL
Manucoco sebagai aset penting melalui program Tangkilisan N. (2002). Panduan Pembentukan dan
konservasi secara swadaya untuk tetap menjaga Pengelolaan Daerah Perlindungan Laut Berbasis
fungsi ekologis hutan Masyarakat. Departemen Kelautan dan
Perikanan Jakarta
DAFTAR PUSTAKA Peraturan UNTAET No. 19/2000 Tentang Penetapan
Boedojo.1986. Arsitektur, Manusia dan Penga- Zona Kawasan Lindung Timor-Leste
matannya. Jakarta: Djambatan
Widada, Sri Mulyati, Hirishi Kobayashi, (2006).
Hadi, P.2005. Dimensi Lingkungan Perencanaan Sekilas Tentang Konservasi Sumberdaya Alam
Pembangunan. Gadjah Mada University Press, Hayati dan Ekosistemnya, Jakarta: Pt. Penebar
Yogyakarta. Swadaya
Mota,F. (2002). Timor Leste: As novas Florestas do
Pais.Ministrio da Agricultura e Pescas, Direco
Geral de Agricultura, Diviso de Florestas.

22