You are on page 1of 49

MAKALAH KEBIJAKAN

SELAMATKAN
TELUK
JAKARTA
OLEH

KOALISI PAKAR
INTERDISIPLIN
SELAMATKAN TELUK JAKARTA
Koalisi Pakar Interdisiplin yang berasal
dari institusi dan kepakaran yang
berbeda, menyusun makalah
kebijakan sebagai masukan untuk
menyelamatkan Jakarta dan teluknya.
Studi dilakukan sepanjang 2016, dan
berakhir pada Desember 2016

Studi ini didanai secara mandiri,
namun pencetakan buku
mendapatkan bantuan dari Rujak
Center for Urban Studies melalui
program Urbanisme Warga. 

Studi ini berada di bawah lisensi
Cretive Commons. Lisensi ini
mengijinkan penggunaan karya
kembali selama bersifat non komersial
dan atribusi kepada pengaran
diterapkan. 

Diterbitkan oleh
Rujak Center for Urban Studies
Jl.Cikini Raya 37B
Jakarta 10330
www.rujak.org
info@rujak.org

Keterangan foto sampul
Jembatan menuju Pulau D, 2015 (Elisa
Sutanudjaja

Edisi Pertama: Oktober 2017

editor. Elisa Sutanudjaja
Selamatkan Teluk Jakarta
Jakarta, Rujak Center for Urban
Studies, 2017
iv+44 hlm.; 14 x 21 cm

ISBN 978-602-99898-5-4
MAKALAH KEBIJAKAN

SELAMATKAN
TELUK
JAKARTA

OLEH

KOALISI PAKAR INTERDISIPLIN

Prof. Dr. Jan Sopaheluwakan 
Prof. Dr. Wahyoe Hantoro
Prof. Dr. Henny Warsilah
Dr. Alan Koropitan
Marco Kusumawijaya
Dr. Rameyo T. Adi
Reiza Patters
Bosman Batubara
Tigor Hutapea 
Marthin Hadiwinata 
Arieska Kurniawaty 
Elisa Sutanudjaja
SEKAPUR SIRIH

JAKARTA & TELUKNYA
TENTANG MENGAPA KAMI BERSAMA-SAMA
MENYUSUN MAKALAH INI

Buku yang hadir dihadapan anda ini Pokok utama dari pembangunan
merupakan kerjasama dari banyak wilayah pesisir haruslah berbasis
pihak, seperti Rujak Center for Urban kepada partisipasi publik, kearifan
Studies, Koalisi Nelayan Tradisional lokal yang bertujuan
Indonesia, LBH Jakarta, Institut untuk mensejahterakan nelayan. Hak-
Pertanian Bogor, Universitas Indonesia hak berkota para nelayan ini harus
dan LIPI sendiri. Analisa dari krisis diutamakan dari hak untuk
ekologi dan kebencanaan Teluk Jakarta berinvestasi. Apalagi akhir-akhir ini
berasal dari berbagai disiplin ilmu, sudah terjadi pergeseran ke
sehingga saling melengkapi. pembangunan yang bertujuan untuk
Jakarta yang kita kenal sebagai ibukota pertumbuhan ekonomi semata, dengan
negara, selain terkenal dengan cara pemupukan modal individu dan
keberhasilannya di bidang ekonomi bersifat atas-kebawah dibandingkan
dan politik, ternyata menyimpan paradigma pembangunan sosial yng
masalah besar. Terutama masalah mengutamakan pelibatan publik untuk
kebencanaan banjir, tanah amblas, rob, mencapai kesejahteraan bersama. 
gelombang tinggi, pencemaran air
hingga kepada masalah tumpukan Kajian tentang Selamatkan Teluk
sampah plastik yang tak terurus. Salah Jakarta merupakan sumbangsih para
satu lokasi yang rentan kebencanaan ilmuwan interdisiplin untuk melihat
adalah Teluk Jakarta yang dari dulu Jakarta dari sudut akademis, dan
hingga sekarang dihebohkan dengan semata untuk digunakan sebagai
rencana dan proyek reklamasi, yang masukkan kepada Kantor Staff
dilakukan dengan cara menguruk laut Presiden, Kemenko Maritim,
untuk dijadikan beberapa pulau. Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan, Bappenas dan institusi lain
Namun rasionalitas yang dibangun dalam merencanakan dan menata
karena Jakarta kekurangan lahan, kawasan oesisir dengan prinsip adil
sehingga reklamasi menjadi salah satu dan lestari dan kesejahteraan umum. 
upaya yang dianggap menjadi
solusinya. Sementara beberapa Kami menerima kritik yang
analisa para pakar menunjukkan hal membangun untuk perluasan laporan
yang berbeda, karena justru reklamasi idan terimakasih tak terhingga kami
akan berdampak kepada kerusakan ucapkan kepada semua pihak yang
ekologi laut dan pesisir, dan juga dengan dedikasi keilmuan dan
secara sosial dapat menimbulkan pemihakkannya kepada masyarakat
marjinalisasi  ribuan nelayan yang telah bersusah payah terlibat dalam
telah lama bermukim di sana.  penyusunan laporan ini.
SELAMATKAN TELUK JAKARTA

DAFTAR ISI

iii SEKAPUR SIRIH

iv DAFTAR ISI

01 RANGKUMAN

04 PENGANTAR ISU POKOK

06 PERMASALAHAN
REKLAMASI 17 PULAU &
NCICD

12 PERMASALAHAN JAKARTA

28 REKOMENDASI

36 LAMPIRAN

40 KRONOLOGI REKLAMASI 17
PULAU
01  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

RANGKUMAN
SELAMATKAN JAKARTA DAN TELUK JAKARTA

Status Jakarta saat ini menyandang Hal tersebut berdampak antara
sebagai atau tepatnya dianggap lain pada distribusi keperluan atau
berfungsi sebagai ibukota negara kegiatan apapun pada kehidupan
NKRI, namun juga sebagai kota besar sehari-hari tidak terjamin
hunian dan jasa. Jakarta dengan dua terselenggara dengan baik. Keadaan
status tersebut, saat kesulitan untuk buruk dalam hal transportasi saja
melayani warganya dengan baik. bila dihitung, dalam satu hari,
Yang jelas terlihat adalah bagaimana Jakarta menghamburkan energi
rendahnya efisiensi dan kenyamanan sangat besar yang seharusnya lebih
lalulintas. bermanfaat bila dipakai merata di
Jakarta, secara ruang boleh jadi seluruh Indonesia. Energi listrik
masih bisa dipaksakan yang seharusnya dapat dimanfaatkan
ketersediaannya untuk kepentingan untuk menggerakkan sarana
bagi pemenuhan dua status dan transportasi tidak maksimal
fungsi tersebut, namun pada dipergunakan karena sistim
kenyataannya tidak dapat diiringi transportasinya tidak dibangun ke
oleh dukungan sistim apapun yang arah itu. Energi listrik terhambur
harus ada, antara lain transportasi untuk menopang kenyamanan (sistim
kota. penyejuk dan penerangan).
02  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

Keperluan bahan pangan dipasok dari
kawasan sekelilingnya, namun di sisi
lain, keperluan hunian bagi
masyarakat pelayan jasa Jakarta
berkembang cepat menghabiskan
Keperluan kehidupan dan kegiatan lahan kawasan sekitar Jakarta yang
keseharian semakin meningkat dan seharusnya sebagai kawasan
harus diambil dari kawasan penyangga penghasil pemasok bahan
sekelilingnya (air bersih), namun di pangan (makanan dan air). Kesadaran
sisi lain, air permukaan berlebihan dan perilaku buruk masyarakat
saat hujan dan menjadi genangan seiring sanitasi dan drainase buruk
akibat buruknya drainase tata air. (tanpa pengolah limbah)
Banjir hingga saat ini tidak pernah menghasilkan limbah padat dan cair
dapat diatasi. Drainase yang mencemari lingkungan terutama
tersumbat sampah, rendahnya badan air yang bermuara ke perairan
kemampuan resapan air hujan oleh teluk dan laut menyebar luas
berkurangnya daerah resapan di mencapai kawasan pulau-pulau
Jakarta sendiri dan di hulu. Daya Kepulauan Seribu. Sebagian diantara
dukung geologi Jakarta tidak lagi lmbah bersama sedimen dari hulu
dapat menyediakan air tanah yang memngendap mengisi perairan teluk
semakin tinggi abstraksinya Jakarta membentuk sedimen labil.
mengiringi permintaan yang terus
melonjak. Pembangunan apapun untuk
mengendalikan banjir Jakarta, harus
Abstraksi berlebih air tanah melihat dan mengatasi akar
menyumbang proses pemampatan permasalahan dan bukannya
sedimen diatas mana Jakarta mengincar atau mengusulkan solusi
ditumpukan bebannya, dampaknya yang hanya berdampak semakin
adalah penurunan atau amblesan. rusaknya ekosistim (atmosfer, darat
Walau proses ini juga karena kondisi laut dan bawah permukaan) Jakarta.
alamiah cekungan Jakarta, Para pemangku kepentingan harus
penambahan beban terus menerus berembug dan mencari jalan keluar
akan diikuti penurunan, terlebih di bersama sebelum memutuskan
bagian yang lapisan sedimennya adengan memenangkan
masih labil. Keadaan penurunan pemikiran dan kepentingan sendiri.
menerus sebagian besar Jakarta Sebelum menambah daratan dan
menyebabkan kawasan ini semakin membuat tanggul raksasa, pasti
lebih rendah dari muka air laut. masih ada solusi lain yang dapat
Gabungan antara berlebihnya air diusulkan. Belajar dari pengalaman
permukaan oleh hujan lebat, tinggi negara lain, namun penerapannya
muka laut saat pasut maksimum dan harus diperhitungkan kondisi khusus
rendahnya daya alir saluran semakin Jakarta, niscaya dapat ditemukan
memperluas dan menambah lama solusi bijak dan bermartabat bagi
masa genangan. semua pihak.
03  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

Setiap penambahan dalam bentuk
apapun (sarana, sumberdaya,
amusement, layanan birokrasi, dst),
memerlukan tambahan sumberdaya
yang semakin membebani neraca
distribusi nasional, di sisi lain
menambah kuat daya pikat dan tarik
dari luar masuk dengan pusaran
Jakarta yang telah tidak memiliki sebab akibat yang tidak pernah
daya dukung sumberdaya untuk terputuskan menjadi semakin kuat
mencukupi keperluan sendiri, ketika daya rusaknya bagi status dan
mengandalkan keperluannya dari martabat ibu kota negara.
kawasan sekitarnya akan berdampak Pembangunan kawasan baru dengan
pada perubahan dan bahkan judul dan hasil apapun, khususnya di
kerusakan ekosistim kawasan pesisir, adalah contoh tidak
sekitarnya. Sebagai ibu kota dan mampunya mengendalikan fenomena
sekaligus kota jasa, kebutuhan tersebut. Pemerintah pada tataran
sumberdaya tidak akan pernah apapun terjebak pada paradigma
terpenuhi dan ada solusi yang diplesetkan oleh sekelompok
penangananya. Salah satunya adalah manusia untuk kepentingan sendiri.
keperluan akan lahan, dengan alasan Keadaan carut marut salah faham
mana kemudian pemikiran penataan pembangunan Jakarta mengorbankan
kawsan pesisir dibelokkan menjadi pihak yang tidak punya daya dan
reklamasi yang diartikan membuat akses (hukum, modal, pendidikan,
daratan baru di kawasan Teluk dll) sehingga seolah ada pembenaran,
Jakarta. demi Jakarta, kelompok marginal
ini boleh disisihkan.
Sebagai ibu kota dan sekaligus kota
jasa, dengan segala masalah dan Kasus atau masalah “reklamasi dan
keterbatasannya, menjadi daya tarik tanggul” raksasa dengan judul
bagi semua hal (birokrasi, ekonomi, apapun akhir-akhir ini, sebenarnya
sosial, politik, teknologi, dst) perlu melihat lebih lengkap dan
sehingga terjadi penumpukan dalam permasalahan dan mencari
harapan ke Jakarta. Dampaknya jalan keluarnya. Pertimbangan
adalah selalu dianggap adanya menjaga martabat ibu kota negara
ketidak cukupan pada penyediaan lebih penting dari sekedar
fasilitas untuk semua turbulensi yang membesarkan nilai kota jasa yang
ada dengan dampak merosotnya untuk itu menimbulkan dampak
kualitas pelayanan dan kehidupan negatif skala luas. Penataan kembali
dan dengan demikian menurunkan perencanaan dan pembangunan
martabat Jakarta sebagai kota jasa, Jakarta sebagai ibukota negara harus
terlebih sebagai ibukota negara. segera dilakukan.
Paparan yang melatar belakangi
PENGANTAR pembuatan policy paper ini pertama,

ISU POKOK terkait dengan proyek reklamasi dan
program National Capital Integrated
Coastal Development (NCICD),
karena minimnya atau tiadanya visi
dan paradigma “Jakarta Kota (Hadap)
Air” dan “kemaritiman” dan,
sebaliknya, pembangunan sangat
berorientasi daratan. Kedua, masih
kuat dan mengakarnya mindset
pemburu rente dalam spekulasi lahan
di ruang kota, dan pembangunan
sektor property yang masif tanpa
mengindahkan kaidah-kaidah
inklusifitas secara sosial dan
lingkungan (pembangunan
berkelanjutan).

Kebutuhan ruang untuk perluasan
wilayah perkotaan di Jakarta, karena
sulit dan mahalnya perolehan lahan
yang antara lain disebabkan
spekulasi lahan yang terkait dengan
kentalnya pembangunan Jakarta yang
sangat didorong pasar memunculkan
terjadinya perang informasi
asimetrik dalam inisiatif NCICD.
Yakni, antara antara pihak Belanda
dan Indonesia yang berimplikasi
pada: tidak setaranya penguasaan  
05  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

Sehingga memunculkan beberapa
pertanyaan-pertanyan penting untuk
ditindaklanjuti:
tidak setaranya penguasaan materi Sejauh mana pemahaman publik
teknis, koordinasi dalam rangka dan pengambil keputusan (decision
tersusunnya kebijakan terpadu dan maker) tentang perbedaan dan
kepemilikan publik antara pihak keterkaitan antara proyek
Belanda dan Indonesia. reklamasi dan NCICD?
Apakah yang dilanjutkan itu
Pada kondisi ini, proses pengambilan reklamasi hanya Pulau G atau
keputusan yang nampak sangat seluruh 17 Pulau?
dikendalikan oleh pihak Sejauh mana publik paham
Belanda. Dan, intransparansi proses sepenuhnya dan terhindarkan
pengambilan keputusan dan adanya kemungkinan keterlibatan
kurangnya pelibatan pemangku pihak yang take a free ride?
kepentingan yang kurang
menyeluruh, khususnya dari institusi Observasi yang dilakukan
pengetahuan terutama keterlibatan memunculkan hal-hal sebagai
akademisi, sehingga seluruhnya berikut:
menimbulkan: Kerancuan pemahaman publik dan
pemerintah dalam esensi,
Kerancuan pemahaman tentang
karakteristik, kelebihan dan
esensi dasar, fungsi, tujuan
kekurangan dari masing-masing
rancangan, sejarah, motivasi dasar
proyek reklamasi dan NCICD
dari masing-masing proyek
secara tersendiri maupun secara
reklamasi dan NCICD (yang
terintegrasi.
dikecohkan dengan Simbol Garuda
Berbagai reaksi publik dan
sebagai salah satu bentuk
berkembangnya polarisasi
deceptive mindset) serta
pendapat didasari oleh
keterkaitan dengan hakekat
pemahaman
dan visi bangsa maritim.
secara parsial.
Proses konsolidasi informasi dan Proses dan substansi pengambilan
pengetahuan secara nasional tidak keputusan yang tidak bulat dan
terjadi dalam suasana kejernihan kurang melibatkan institusi
keberpihakan publik dan terkesan pengetahuan (knowledge
diwarnai oleh bias dan institutions) untuk proyek-proyek
pertarungan kepentingan yang yang sangat padat pengetahuan, dan
sangat merugikan kepentingan berdampak luas terhadap lingkungan,
publik dan negara. masyarakat, iklim investasi, dan
Berbagai akibat dan dampak kepastian hukum telah melahirkan
terhadap kepastian hukum, iklim isu-isu liar dan konflik latent antara
investasi, keutuhan kewibawaan pemerintah, masyarakat dan sektor
pemerintah privat.
Salah satu isu yang cukup
MASALAH menghangat diantara kita secara

REKLAMASI nasional dan internasional adalah
reklamasi pesisir. Belajar dari banyak

17 PULAU  negara di dunia, pertumbuhan suatu
wilayah yang paling dominan adalah
DAN NCICD wilayah pesisir. Wilayah Pesisir
seiring dengan pertumbuhan
penduduk dan eksploitasi
sumberdaya laut dan kawasan pesisir
mengalami peningkatan beban. Jika
dibandingkan dengan wilayah pesisir
di negara tetangga, seperti Vietnam
misalnya, di sepanjang aliran sungai
Mekong menjadi fokus pembangunan
tanpa memarginalkan masyarakat
yang tinggal di sepanjang aliran
sungai dan tanpa merusak ekosistem
pesisirnya. Perhatian lebih
difokuskan pada kawasan pesisir
dibandingkan wilayah pedalaman.

Coba kita lihat di Jepang, reklamasi
bandara Kansai sangat dijaga dengan
baik, antara keseimbangan
lingkungan konservasi dengan
kepentingan masyarakat lokal, dan
kepentingan ekonomi. Bagaimana
pengembangan sebuah wilayah
dilakukan tanpa merusak ekosistem
dan memarjinalkan masyarakat lokal.
07  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

Selain itu, alasan reklamasi ini pada
tahun 1995 bertujuan untuk
mencegah pengikisan daratan
Jakarta oleh air laut, serta
membangun beberapa fasilitas kota
lainnya. Tak hanya itu, reklamasi
pantai utara Jakarta juga bertujuan
untuk menata kembali kawasan
Dan, bagaimana keseimbangan itu Pantai Utara Jawa (Pantura) dengan
menjadi titik utama dalam cara membangun kawasan pantai dan
pembangunan dan menjadi poin menjadikan Jakarta sebagai kota
terintegrasi. Hal inilah yang pantai (waterfront city) karena
seharusnya dijadikan bahan ruang Jakarta sudah tidak mungkin
pertimbangan bagi Indonesia ketika diperluas. Terdapat perubahan tata
ingin melakukan pembangunan ruang di Perda No. 1/2012
kawasan pesisirnya, jangan tentang RTRW 2010-2030 menjadi
sampai masalah sosial kultural, pulau-pulau kecil yang terpisah dari
ekosistem terlewat dan terlupakan, daratan.
karena teralu focus pada
pertumbuhan ekonomi dan Pada kenyataannya, permasalahan
melupakan masyarakat atau pembangunan reklamasi teluk Jakarta
sebaliknya, dan banyak lagi hal ini sangat kompleks, baik dari sisi
lainnya. perizinan, masalah ekonomi, sosial
dan lingkungan. Misal dalam masalah
Proyek reklamasi pesisir Kota Jakarta perizinan, masih terdapat dua
dimaksudkan untuk menambah ruang sumber hukum yang bertentangan
pembangunan Jakarta, karena dengan yaitu: Keppres No. 52 tahun 1995
kepadatan penduduk yang tinggi kota sebagai pendukung keberlanjutan
Jakarta sudah tidak mungkin proyek reklamasi yang bertentangan
diperluas (daratan). Saat ini, kawasan dengan Perpres No. 54 tahun 2008
selatan Jakarta sudah tidak mungkin tentang rencana tata ruang
dikembangkan karena fungsinya Jabodetabekpunjur, yang menyatakan
sebagai daerah konservasi. bahwa Kepres 52/1995 sepanjang
Sementara itu, kondisi wilayah timur berkaitan dengan aspek tata ruang
dan barat kota Jakarta sudah tidak lagi berlaku.
dipadati penduduk, sehingga tidak
bisa dikembangkan. Memang dalam UU No. 27/2007 tentang Pengelolaan
perencanaan kota Jakarta, sejak Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
tahun 1985 pengembangan wilayah Kecil juga tidak menjadi acuan
Jakarta sudah diarahkan ke timur dan Pemprov DKI Jakarta dalam
barat. memberikan ijin proyek reklamasi.
08  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

Selain itu, UU No. 26/2007 tentang
Penataan Ruang terkait dengan
kawasan lindung dan kawasan
Terutama Pasal 34 yang menjelaskan budidaya, yang juga tidak menjadi
bahwa reklamasi wilayah pesisir dan acuan. Reklamasi juga tidak sesuai
pulau-pulau kecil dalam rangka dengan prinsip pengadaan lahan
meningkatkan manfaat dan nilai untuk kepentingan umum
tambah harus ditinjau dari aspek sebagaimana tercantum didalam UU
teknis, lingkungan, dan sosial No. 2/2012 tentang Pengadaan Tanah
ekonomi, dan pelaksanaannya harus bagi Pembangunan
melibatkan masyarakat sekitar. untuk Kepentingan Umum.
Dalam hal ini pelaksanaan UU no. Serta UU No. 32/2009 tentang
27/2007 tidak menjadi acuan Pengelolaan dan Perlindungan
dihampir semua proyek reklamasi di Lingkungan Hidup juga tidak menjadi
seluruh Indonesia. acuan dalam pelaksanaan reklamasi
khususnya terkait dengan prinsip
Manifestasi pelaksanaan reklamasi pencegahan dan prinsip kehati-
dapat dilihat dalam izin pelaksanaan hatian. Dengan adanya berbagai
reklamasi pulau G, yang dikeluarkan kajian dan literatur yang
pada Desember 2014, disebutkan menunjukkan akan adanya kerusakan
beberapa dasar hukum, antara lain: lingkungan patut dipatuhi
Kepres No. 52/1995 (tentang prinsip pencegahan serta dengan
Reklamasi Pantai Utara Jakarta), adanya perdebatan harusnya
Perpres No. 54/2008 (tentang kebijakan diarahkan untuk
Penataan Ruang Jabodetabekpunjur), perlindungan lingkungan (in dubio
Perda No. 1/2012 (tentang RTRW pro natura). Lebih lanjut kebijakan
2010-2030), Peraturan Gubernur reklamasi tidak pernah melalui
No.121/2012 (tentang Penataan Ruang proses Kajian Lingkungan Hidup
Kawasan Reklamasi Pantai Utara Strategis (KLHS) yang benar sebagai
Jakarta). Dengan demikian ada mandat dari UU No. 32/2009.
beberapa UU sebagai tata aturan
yang lebih tinggi di atas Kepres yang Pemanfaatan ruang dan wilayah darat
tidak dijadikan acuan, yaitu UU No. dan pesisir Jakarta dilakukan dengan
27/2007 tentang Kawasan Pesisir cara yang tidak terbuka dan
pasal 7 ayat 1 yang mengharuskan melindungi hak-hak khusus nelayan
adanya rencana zonasi. Hal tersebut tradisional. Partisipasi masyarakat
diperkuat oleh Perpres No. 122/2012 dilakukan secara manipulatif
pasal 4 yang mengatakan bahwa berdasar anak tangga partisipasi
penentuan lokasi reklamasi harus yang hanya menjadikan masyarakat
berdasarkan rencana zonasi wilayah yang datang dalam forum konsultasi
pesisir dan pulau-pulau kecil. sebagai stempel formalitas. 
09  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

Kemudian, ke depan proyek
reklamasi diduga akan menambah
beban dengan dibangunnya
infrastruktur gedung permanen di
Sementara itu, permasalahan pinggir laut maka tanah Jakarta akan
lingkungan merupakan hal yang semakin ambles. Untuk diketahui,
paling disorot karena reklamasi bahwa wilayah terparah yang
memang dikenal akan mengganggu mengalami amblesan salah satunya
ekosistem di pantai utara Jakarta adalah di perumahan Pantai Mutiara,
yang kaya dengan terumbu karang, Pluit, dengan 116 cm selama 8 tahun
ikan, kerang dan biota laut lainnya. (dari 2002-2010). Perlu diketahui
Kemudian ada permasalahan dengan lebih lanjut, bahwa perumahan
wilayah tangkap (fishing ground) Pantai Mutiara merupakan area
yang hilang, sehingga nelayan reklamasi (Hasanuddin, dkk:2010).
tradisional harus berlayar lebih jauh
di luar kawasan tangkap tersebut. Kebijakan Presiden Joko Widodo
Padahal nelayan tradisional tidak sebenarnya sangat pro maritim, maka
memiliki peralatan tangkap yang ini menjadi bertentangan ketika
memadai, dan biaya yang dibutuhkan gagasan reklamasi dan program
untuk melaut menjadi lebih mahal. NCICD dikedepankan. Terlebih
Selain itu, diduga proyek ini semakin negara Indonesia sesuai visi presiden
mencemari Teluk Jakarta. Nelayan di akan dijadikan sebagai poros maritim
Teluk Jakarta melaporkan dunia. Pertanyaan yang timbul,
menemukan lumpur berbagai warna bagaimana penerapan kebijakan yang
di sekitar proyek pembangunan berlandaskan poros maritim tersebut
pulau G, yang menyebabkan tidak membuat masyarakat lokal
ketiadaan ikan untuk beberapa tereksklusi secara sosial, tetapi
waktu. Kondisi ini menyebabkan justru terkoneksi dalam suatu global
banyaknya kematian ikan dan village, dan bagaimana hubungan
beralihnya ikan ke tempat lain ketika antar stakeholder dapat berjalan
lumpur berwarna muncul yang secara harmonis?
diduga akibat pembangunan proyek
reklamasi. Berdasarkan permasalahan yang ada
seakan membuat proyek reklamasi ini
Menurut Alan Koropitan (2016) terkesan dipaksakan dalam
proyek reklamasi memberikan pelaksanaannya. Selain itu, ketika
dampak sedimentasi, penurunan kita berbicara tentang program
kualitas air akibat logam berat dan National Capital Integrated Coastal
bahan organik serta terjadinya Development (NCICD) perlu ditilik
penurunan arus laut sehingga lebih lanjut, apa yang sebenarnya
material yang masuk dari sungai ingin dicapai dan fokusnya di mana?
cenderung tertahan (hilangnya
flushing system) menyebabkan (Lihat Kronologi Reklamasi & NCICD)
kematian ikan di Teluk Jakarta.
10  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

NCICD adalah proyek raksasa dengan Fase A ini disebut sebagai no-regret
tujuan melindungi Jakarta dari banjir policy yang memang perlu dilakukan
rob dan memfasilitasi perkembangan untuk melindungi Jakarta dari banjir
sosio-ekonomi. Proyek ini sudah rob. Namun beberapa ilmuwan,
digulirkan sejak tahun 2009 (dulu seperti Muslim Mu’in (ITB), Alan
bernama Jakarta Coastal Defence Koropitan (IPB), Jan Sopaheluwakan
System), yang berubah menjadi (LIPI), Wahyoe Hantoro (LIPI), dan
NCICD pada tahun 2013. JanJaap Brinkman (Deltares
Namun hingga saat ini, proyek ini Konsultan NCICD), mengatakan
tidak memiliki payung hukum yang penguatan tanggul yang dibarengi
jelas, Padahal sebagian proyek dengan penghentian eksploitasi
sudah dilakukan, yaitu fase A dalam penggunaan air tanah, dan perbaikan
bentuk penguatan tanggul pinggir kualitas air sungai serta rehabilitasi
pantai yang sudah ada sebelumnya. Teluk Jakarta dari pencemaran
adalah langkah terbaik. Dengan
Berdasarkan hasil pembahasan demikian, apa yang ingin dikatakan
terbaru BAPPENAS, tgl 1-2 oleh para ilmuwan ini bahwa proyek
September 2016 dalam konsultasi NCICD fase B dan C yang merupakan
ahli di Pluit, secara ringkas tahap pembangunan Great Garuda
pembangunan NCICD dibagi menjadi itu sendiri tidak diperlukan.
3 fase, yaitu: Sementara, NCICD fase A telah
dituangkan dalam Perpres No.
Fase A: meliputi perlindungan 2/2015 tentang
banjir (penguatan dinding atau rencana pembangunan jangka
dike di pesisir dan sungai serta menengah nasional 2015-2019.
pompa), perbaikan drainase
perkotaan dan upaya Secara total (fase A, B, dan C) dari
memperlambat penurunan muka proyek ini memiliki anggaran sebesar
tanah (land subsidence). sekitar 21,5 miliar dollar AS dan
Fase B: pembangunan dinding direncanakan proyek selesai pada
besar (Great Sea Wall atau GSW) di tahun 2080. Proyek ini akan
lepas pantai (proyek Garuda), membutuhkan komitmen dalam
danau resapan air di sebelah dalam jangka panjang, yang diprediksi sulit
GSW. untuk dipenuhi oleh para
Fase C: pembangunan danau stakeholdernya. Sejauh ini, belum
resapan air di sebelah timur Teluk ada dasar hukum untuk fase B dan C,
Jakarta dan terhubung dengan meskipun master plan NCICD
proyek garuda. menyebutkan keharusan adanya
Perpres untuk tahap selanjutnya.
11    SELAMATKAN TELUK JAKARTA

ribu hingga 1,5 juta. Ini bertentangan
dengan usaha melakukan
Kajian yang telah dilakukan Bosman desentralisasi yang menjadi salah
Batubara (2016) memperlihatkan ada satu agenda politik pasca Orde Baru
empat kelemahan program NCICD, yang sangat tersentral.
yakni sebagai berikut: kelemahan
pertama, secara inheren berada Keempat, bertolak belakang dengan
dalam konsep tanggul sebagai klaim-nya sebagai pendekatan yang
infrastruktur hidrolik untuk terintegrasi, rencana induk NCICD
penanggulangan banjir. Tanggul pada justru memperlihatkan logika yang
dasarnya akan menimbulkan bahaya fragmentatif dalam penanganan
yang sangat besar karena banjir untuk konteks Jakarta. Selain
perhitungan kemungkinan yang abai itu, konsep yang dituangkan dalam
terhadap permasalahan infrastruktur master plan NCICD dan berbagai
hidrologi dan manusia. dokumen lampirannya belum detil
dan tidak menjadi solusi untuk land
Kedua, penyebab dominan penurunan subsidence. Hal ini misalnya terlihat
muka tanah (subsidence) di Jakarta untuk kasus kualitas air di waduk di
yang diambil oleh NCICD adalah dalam perimeter tanggul raksasa
ekstraksi air tanah. Sejauh ini, tidak yang akan dijadikan sebagai sumber
ada data yang kuat yang air minum. Bagian ini, seperti diakui
menunjukkan bahwa aktivitas oleh master plan NCICD sendiri,
ekstraksi air tanah adalah penyebab masih membutuhkan perencanaan
utama subsidence di kawasan ini. terkait dengan percepatan perbaikan
Sementara, data pembanding justru kualitas air (Water Quality
menunjukkan bahwa penyebab Acceleration Roadmap) yang sampai
dominan subsidence adalah saat ini belum ada. Karena
pembebanan dari gedung-gedung, berdasarkan prediksi para ahli, jika
terutama pencakar langit. ini tidak dilakukan maka Teluk
Implikasinya, jika disepakati yang Jakarta akan menjadi toilet raksasa.
menjadi penyebab utama penurunan Jejaring koalisi pakar interdisipliner
muka tanah adalah pembebanan dari ini tidak berkeinginan hanya
gedung-gedung, maka pembangunan melemparkan isu, tetapi juga
berbagai infrastruktur hidrologi memberikan solusi bagi pemerintah
menjadi bertentangan dengan usaha sebagai pengambil keputusan.
penanggulangan banjir di DKI Disadari atau tidak ketika kita gagal
Jakarta. memberikan kontribusi perubahan,
maka kita juga termasuk merusak
Ketiga, pulau-pulau reklamasi di pembangunan yang sedang dilakukan.
sekitar tanggul NCICD diproyeksikan Karenanya diharapkan hasil jejaring
akan menarik sekitar 1,7 juta manusia ini dapat menciptakan sebuah
untuk tinggal di sana. Jumlah ini masukan atau rekomendasi kebijakan
belum termasuk populasi yang yang konkrit untuk pemerintah yang
diproyeksikan akan menempati juga memperhatikan kebutuhan
reklamasi 17 pulau, yaitu antara 750  masyarakat secara bersamaan.
A. TATA KELOLA AIR DAN BANJIR
MASALAH
JAKARTA
Berdasarkan genealoginya, seperti
yang sudah diidentifikasi dengan
sangat baik oleh Master Plan NCICD
(Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian Republik Indonesia,
Berikut masalah yang muncul dan 2014, hlm. 23), ada tiga jenis banjir di
membuat Jakarta rentan bencana: Jakarta. Pertama, banjir yang datang
dari laut, atau banjir rob. Kedua,
banjir yang terjadi akibat hujan di
daerah tangkapan air di Puncak, atau
sering disebut dengan"banjir
kiriman". Ketiga, banjir yang terjadi
karena hujan di dalam kota dan
kapasitas sistem hidrologi
terlampaui; banjir jenis ketiga ini
sering juga disebut sebagai banjir
yang terjadi karena "hujan lokal". Jika
ditelisik lebih jauh, maka terjadinya
ketiga jenis banjir ini tidak bisa
dipisahkan dengan pembangunan
spasial yang terjadi di daerah Jakarta
dan sekitarnya.

Untuk jenis banjir pertama, atau
banjir rob, maka neraca
kesetimbangan apakah akan terjadi
banjir atau tidak akan tergantung
pada dua hal, yaitu kenaikan muka
air laut versus penurunan
daratan.
13   SELAMATKAN TELUK JAKARTA

Kedua, jaringan akarnya membantu
air untuk merasuk ke dalam soil dan
selanjutnya meresap ke dalam batuan
sarang dan menjadi air tanah. Ketiga,
jaringan akarnya memperkuat ikatan
Fungsi dari kedua variabel inilah tanah untuk tidak tererosi. Material
yang akan menghasilkan banjir. Dari yang sangat tebal di Kali Ciliwung,
sisi kenaikan muka air laut, meskipun salah satunya adalah karena adanya
terjadi, tapi angkanya relatif kecil, transportasi sedimen sebagai hasil
yaitu di bawah 0,5 cm per tahun erosi yang sangat intens di daerah
(detiknews.com, 2016). Sementara, Puncak. Semakin berkurangnya
seperti yang dapat dilihat pada tutupan hutan artinya semakin
bagian penurunan tanah berkurang pula ketiga fungsi ini.
(subsidence), lajunya di beberapa Akibat keseluruhan adalah semakin
titik relatif jauh lebih besar, ada besarnya laju aliran permukaan
yang mencapai di atas 20 cm per (runoff). Ketika hujan turun,
tahun. Dengan demikian, prioritas sebagian besar air langsung masuk
sepatutnya ditujukan pada aliran permukaan, dan inilah debit
penurunan muka tanah. Sebagai air "yang dikirim" sehingga
catatan, seperti yang sudah menyebabkan kota Jakarta di dataran
disinggung di bagian sebelumnya, rendah mengalami banjir.
state of the art sains di bidang ini
menunjukkan bahwa faktor yang Banjir dalam kota terjadi ketika
berdampak besar terhadap hujan turun di dalam kota dan
subsidence adalah pembebanan kemampuan air sistem hidrologi
bangunan. untuk menyalurkan air terlampaui.
Sistem hidrologi untuk menyalurkan
Sementara banjir kiriman terjadi air misalnya, aliran air permukaan
karena semakin berkurangnya area (sungai dan kanal), air yang meresap
tutupan hujan di daerah ke dalam tanah, dan tempat
Puncak. Berdasarkan data Forest penampungan air (retention basin).
Watch Indonesia (2012) di Daerah Semakin berkurangnya kemampuan
Aliran Sungai (DAS) Ciliwung pada sistem hidrologi Jakarta untuk
2009 tutupan hutan hanya sekitar menyalurkan air ini terjadi karena
3.565,61 hektar, sementara area semakin berkurangnya Ruang
bukan hutan seluas 25.620,93 hektar. Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta. Ini
Hutan memiliki beberapa fungsi mudah dipahami karena RTH
dalam siklus hidrologi. Pertama, memiliki ketiga fungsi hidrologi
dedaunannya melakukan intersepsi (menyalurkan air, tempat meresap
terhadap hujan yang turun sehingga air, dan juga tempat penampungan
ada volume air yang tertahan di sana. air).
14   SELAMATKAN TELUK JAKARTA

KONVERSI LAHAN

Konversi lahan RTH yang melanggar Rencana Umum Tata Ruang Jakarta
1985-2005 misalnya, telah mengubah 1458 hektar ruang hijau di Jakarta
menjadi mall, hotel, apartemen, dan pabrik mobil (Rukmana, 2015). Ketiga
genealogi ini bisa menghasilkan banjir dengan genealogi yang merupakan
kombinasi dari berbagai kondisi di atas. Misalnya, pada saat air laut
sedang pasang juga terjadi banjir kiriman karena hujan di Puncak. Dalam
kasus ini, kompleksitas banjir akan semakin tinggi.
B. LAND SUBSIDENCE
MASALAH Tanah di wilayah Jakarta Utara,
JAKARTA banyak mengalami penurunan,
penurunan ini terjadi bahkan sejak
1974. Misal di daerah Pasar Ikan,
yang merupakan wilayah tempat
Menara Syahbandar berdiri,
merupakan daerah yang paling besar
mengalami penurunan tanah. Besaran
penurunannya mencapai 10
sentimeter per tahun. Bahkan di
beberapa wilayah Jakarta yang lain
amblesan tanah makin parah, seperti
di teliti oleh ahli geoteknologi LIPI
Robert Delinom dan ITB
menggunakan Data GPS (Global
Positioning System) hasil penelitian
menunjukkan `subsidence rate`
(tanah ambles) bisa sampai 25 cm per
tahun. Berdasarkan data GPS
tersebut, ia mengatakan amblesan
tanah tercepat antara 20 hingga 25
cm per tahun terjadi di sekitar
Senayan, Gedung DPR di kawasan
Jalan Gatot Subroto, Joglo.
Sementara itu, skenario banjir rob
mencapai Monas pada 2025,
dibangun diatas data sekunder yang
tak memadai, generalisasi dan proses
berpikir induktif sederhana yang
menampilkan seolah penurunan
tanah di Jakarta terjadi seragam dan
16   SELAMATKAN TELUK JAKARTA

merata dengan kecepatan 7,5  terjadinya differential subsidence
cm/tahun (berdasarkan data 1 titik secara spasial dan temporal, yang
di Pluit), dikombinasi dengan sekaligus menihilkan anggapan dan
kenaikan muka air laut beberapa persepsi yang dikampanyekan
milimeter per tahun (yang (sebagai bagian dari asymmetric and
perilakunya masih perlu ditelaah deceptive information campaign)
lebih lanjut). Terjadi lompatan logika oleh (utamanya) Pihak Belanda bahwa
dalam pembangunan Bendungan Laut Jakarta seolah mengalami penurunan
Raksasa untuk melindungi daratan tanah yang homogen dan merata.
dari bencana banjir sungai dan rob
pasang air laut yang kurang Proyek reklamasi memberikan
didukung oleh data dan informasi dampak sedimentasi, penurunan
multi spasial dan multi temporal dari kualitas air akibat logam berat dan
perilaku daratan pesisir dan bahan organik serta terjadinya
permukaan air laut. penurunan arus laut sehingga
material yang masuk dari sungai
Sudah menjadi pengetahuan publik cenderung tertahan (hilangnya
bahwa penurunan/amblesan tanah di flushing system) menyebabkan
Jakarta merupakan faktor pengendali kematian ikan di Teluk Jakarta.
penting dalam terjadinya banjir oleh Kemudian, di masa depan proyek
sungai dan buruknya sistem reklamasi diduga akan menambah
drainase. Belakangan, oleh NCICD beban dengan dibangunnya
faktor ini diskenariokan sebagai infrastruktur gedung permanen di
pemicu terjadinya penurunan pinggir laut maka tanah Jakarta akan
daratan dan sungai di Jakarta Utara semakin ambles. Untuk diketahui,
dan terjadinya banjir rob besar bahwa wilayah terparah yang
pada tahun 2025 yang dianimasikan mengalami amblesan salah satunya
akan menggenangi kawasan adalah di perumahan Pantai Mutiara
Monas. Sementara sesungguhnya (Pluit) yang merupakan area
terdapat data penelitian (kendati reklamasi, yaitu sebesar 116 cm
dengan resolusi rendah) yang selama 8 tahun (dari 2002-2010).
menunjukkan 
C. MASALAH KERUANGAN
MASALAH JAKARTA

JAKARTA Permasalahan keruangan Jakarta
terletak pada kesenjangan antara
kepadatan manusia / luas-
lahan di satu pihak dan kepadatan
lantai-terbangun serta kepadatan
infrastruktur / pelayanan yang
sesuai. Kepadatan manusia / luas-
lahan di Jakarta adalah sekitar 150
jiwa/Ha, yaitu kepadatan yang
hampir sama dengan yang
direncanakan untuk Singapura,
meskipun di yang terakhir ini
belum tercapai sekarang, dan baru
mencapai separuhnya. Kepadatan
kota Paris adalah 400 jiwa/Ha,
sedangkan kepadatan Copenhagen
adalah 600 jiwa/Ha. Karena itu,
kepadatan Jakarta 150 jiwa/Ha
tidaklah serta merta dikatakan
"terlalu padat" atau penyebab
kekumuhan atau permasalahan
Jakarta.

Permasalahannya adalah bahwa
kepadatan jiwa/Ha lahan di Jakarta
itu TIDAK didukung oleh kepadatan
lantai-terbangun dan
infrastruktur/pelayanan yang
memadai. Di Singapura kepadatan
lantai terbangun adalah 4 (empat) 
18   SELAMATKAN TELUK JAKARTA Land-development (pengembangan
lahan) dalam bentuk urban sprawl
adalah masalah lain Jakarta (dan
Jabodetabek), apabila dibandingkan
dengan pembangunan lantai serta
infrastruktur. Urban-sprawl telah
dikritik selama beberapa puluh tahun
terakhir karena menimbulkan konflik
dengan fungsi lahan lain (misalnya
pertanian), konflik antar-daerah, dan
konflik sosial, serta berbagai masalah
lingkungan. Reklamasi adalah bentuk
lain, dan paling buruk, dari urban
sprawl, sebab reklamasi menambah
tanah namun mengurangi laut. Selain
kali kepadatan lantai-terbangun di itu, ia mengubah apa yang tadinya
Jakarta. Dengan kata lain, setiap milik bersama (commons) menjadi
orang di Singapura menikmati luas milik pribadi. Ia juga memiskinkan
lantai-terbangun rata-rata 8 X lebih lingkungan melalui dampaknya.
luas daripada yang dinikmati rata- Urban sprawl juga menyebabkan
rata setiap orang di Jakarta.  beban tinggi bagi publik berupa biaya
pembangunan dan pemeliharaan
Perasaan kepadatan ruang di Jakarta infrastruktur yang lebih tinggi per
juga muncul dari persepsi atas kapita, dibandingkan dengan
banyaknya kendaraan di jalan-jalan kota yang kompak dengan
Jakarta sehingga hampir selalu peningkatan lantai-terbangun di
macet. Padahal, jumlah kendaraan dalam kawasan perkotaan yang sudah
bermotor di Jakarta adalah sekitar terbangun, bukan lahan baru di
350 buah per 1,000 penduduk. Angka pinggiran kota, termasuk reklamasi.
yang hampir sama dengan di
Singapura, sekitar 325 buah per Oleh karena itu semualah maka tidak
1,000 penduduk. Sementara itu di tepat bila dikatakan Jakarta
kota-kota seperti Amerika Serikat memerlukan penambahan lahan.
angka tersebut mencapai 700 hingga Jakarta memerlukan penambahan
800 kendaraan per seribu penduduk. lantai-terbangun dan infrastruktur
Namun di kota-kota tersebut pendukung. Penambahan lahan
tetap terasa lengang dengan melalui praktik murah dan
kemacetan yang sangat terkendali dimudahkan oleh kebijakan diskresi
atau terbatas. Hal tersebut yang diskriminatif (memberi
disebabkan oleh banyaknya sistem berlebihan kepada yang kaya) seperti
angkutan umum, sehingga trip per reklamasi dan pengembangan lahan
setiap kendaraan pribadi rendah. urban-sprawl akan menimbulkan
Karena itu masalah Jakarta tidak konflik yang tidak perlu, tidak
dapat dikatakan terletak pada menjawab kebutuhan nyata
banyaknya kendaraan bermotor, mayoritas pekerja, dan menyebabkan
melainkan pada frekuensi atau kesulitan-kesulitan bawaan seperti
banyaknya trip per tiap kendaraan, biaya hidup dan pengembangan
yang disebabkan oleh sangat berbagai transportasi yang berbiaya
kurangnya sistem angkutan umum. tinggi.
19   SELAMATKAN TELUK JAKARTA

INFRASTRUKTUR TIDAK MEMUASKAN

Perlu diingat bahwa infrastruktur dasar di Jakarta masih jauh dari
memuaskan. Air terpipa hanya menjangkau 50% rumah tangga, angka yang
sangat rendah bila dibandingkan dengan, misalnya Jawa Tengah, D.I
Yogyakarta dan Bali yang telah mencapai 80%. Jakarta termasuk kelompok
provinsi dengan proporsi rumah tangga yang tersambung dengan air
terpipa terendah di Indonesia. Untuk mengejar ketinggalan ini, strategi
pembangunan perkotaan harus kompak, bukan melebar makin luas dengan
kepadatan rendah.
D. PENCEMARAN
MASALAH Pembangunan DKI Jakarta sejak era
JAKARTA 1970-an sampai sekarang, telah
membawa perubahan besar di
daratan sampai pesisir dan laut.
Bahkan perubahan lingkungan juga
terjadi pada daerah aliran sungai,
dari hulu ke hilir. Sebagai contoh,
telah terjadi konversi vegetasi besar-
besaran menjadi daerah perkotaan
sebesar 80% dalam kurun 1976-2004
(Gambar 1).
Dampak utama dari konversi lahan
adalah sedimentasi yang tinggi di
muara dan pesisir Teluk Jakarta,
yang masuk melalui sungai-sungai.
Hal ini telah mempengaruhi luas
tutupan karang di Kepulauan Seribu.
Misalnya, Pulau Pari dan Pulau Air
telah terjadi perubahan luas tutupan
karang dari 70-80% pada tahun 1970
menjadi tinggal 15-30% pada tahun
1995. Dampak lainnya dari adanya
pemukiman dan industri, adalah
pencemaran logam berat yang tinggi
di Teluk Jakarta yang masuk melalui
sungai. Data isotop menunjukkan
bahwa konsentrasi logam berat di
sedimen dasar Teluk Jakarta pada
kurun 1865-1965 masih stabil, namun
pada tahun 2005 meningkat drastis
lebih dari 100%.
21  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

Gambar 1 Citra satelit perubahan lahan dari vegetasi (warna merah kecoklatan)
ke perkotaan/pemukiman (warna hijau).

Persoalan lainya, adalah limbah hampir setiap tahun juga terjadi
organik yang berasal dari rumah kematian ikan dan mengambang ke
tangga dan industri, yang tanpa permukaan.
diolah masuk ke sungai kemudian
menuju ke Teluk Jakarta. Persoalan Jadi, Teluk Jakarta memang telah
limbah organik ini berdampak pada tercemar berat oleh sedimen, logam
terciptanya kondisi hyper-eutrophic berat dan bahan
di pesisir Teluk Jakarta, yaitu kondisi organik. Namun, kondisi ini
dimana nutrien tinggi tapi oksigen umumnya terjadi di perairan dekat
drop karena aktivitas bakteri dalam muara atau pesisir. Perairan yang
menguraikan limbah organik. relatif jauh dari pesisir masih baik
Penelitian Koropitan et al. (2009) untuk aktivitas penangkapan ikan.
melaporkan bahwa lokasi Hasil riset terbaru Baum et
penumpukan limbah organik al. (2016) menyebutkan bahwa
dikontrol oleh arus musiman, pada walaupun tercemar berat namun
puncak musim barat (Desember – Teluk Jakarta mampu
Februari) terkumpul di sebelah timur menghidupkan jutaan masyarakat.
teluk dan sebaliknya pada puncak Memang sumberdaya kelautan dan
musim timur (Juni – Agustus). Hasil perikanan di Teluk Jakarta
riset Ladwig et al. (2016) yang terus menurun oleh karena
mengukur pada Oktober 2012 pencemaran dan juga penangkapan
(menjelang musim barat), yang berlebih akibat semakin
menemukan bahwa oksigen drop di banyak nelayan. BPS (2012)
sebelah timur Teluk Jakarta. Kondisi menyebutkan bahwa populasi
oksigen drop sesungguhnya terjadi nelayan bertambah dalam waktu 5
hampir setiap tahun, akibatnya tahun sebesar 30%.
E. MASYARAKAT
MASALAH Proyek reklamasi di pantai Utara
JAKARTA Jakarta, pertama berdampak kepada
aspek sosial budaya, dan ekonomi
masyarakat pesisir Jakarta, mereka
merupakan pihak yang paling terkena
imbasnya, terekslusi secara sosial
akibat reklamasi dan proses
pembangunan di kawasan pesisir.
Permasalah sosial budaya yang
berkembang terkait dengan
keterpaparan, kerentanan dan
marginalisasi masyarakat pesisir.
Pertama adalah, masalah ancaman
penggusuran permukiman ada lebih dari
17.000 nelayan yang bermukim di teluk
Jakarta Utara.

Hasil penelitian lapangan menunjukkan
munculnya permasalahan sosial dalam
masyarakat nelayan yakni terganggunya
relasi jejaring sosial yang telah
terbentuk selama bertahun-tahun
dalam masyarakat nelayan, bermula
dari upaya pemenuhan kebutuhan hidup
masyarakat nelayan dan berkembang
menjadi modal sosial dalam sistem
usaha perikanan skala kecil. Dengan
adanya program reklamasi perairan
Teluk Jakarta, maka aktor-aktor dalam
relasi jaringan sosial yang telah terpola
mengalami perubahan untuk 
23  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

mempertahankan kebutuhan ekonomi dengan skenario pengurangan
rumah tangganya. Hasil studi Suzy kerusakan lingkungan, dan Rp 754,4
Anna dan Akhmad Fauzi (IPB: 2007) trilyun dengan asumsi kerusakan
juga menunjukkan adanya pengaruh konstan. Perhitungan di atas
reklamasi terhadap penurunan menyumpulkan proyek reklamasi tidak
pendapatan masyarakat nelayan membawa nilai tambah, dan cenderung
pantura Jakarta. merugi.

Nono Sampono dalam disertasinya Stratifikasi sosial ekonomi nelayan di
(IPB: 2013) menyebutkan kegiatan Jakarta, dapat dikategorikan sebagai
perikanan yang terdampak langsung nelayan pemilik dan pekerja (buruh
dari kegiatan reklamasi adalah nelayan). Pada tahun 2009, jumlah
perikanan payang, dogol, bubu dan nelayan pemilik ada sebanyak 2.366
gillnet serta budidaya kerang hijau. orang, dan 16.581 orang nelayan
Luas daerah penangkapan dan merupakan buruh. Bila dilihat
budidaya kerang hijau (Perna viridis) berdasarkan status kependudukannya,
akan terdampak langsung dari terdapat 10.268 orang nelayan tetap
kegiatan reklamasi mencapai 1.527,34 dan 8.679 orang nelayan pendatang.
ha. Dampak yang paling utama yang Populasi nelayan yang tinggi telah
akan dirasakan dari reklamasi adalah mengakibatkan fasilitas dan
perubahan daerah penangkapan ikan, infrastruktur yang tersedia tidak
hilangnya lokasi budidaya kerang mencukupi termasuk perumahan bagi
hijau, gangguan terhadap jalur para nelayan, sehingga sisi kanal-kanal
perahu nelayan dan penurunan untuk perbaikan kapal telah digunakan
kualitas sumberdaya ikan. juga untuk pemukiman.

Sementara itu, nilai manfaat ekonomi Aktifitas perikanan saat ini didominasi
kegiatan perikanan tangkap yang oleh payang, purse seine, jaring
akan terkena dampak reklamasi rampus, jaring insang, bagan dan
sebesar Rp. 314,5 M, dan 35% perangkap (bubu). Ikan yang menjadi
diantaranya merupakan manfaat target penangkapan diantaranya ikan
ekonomi dari perikanan gillnet. baronang, kerapu, belanak, julung-
Padahal, diperkiralan nilai manfaat julung, cendro dan sebagainya. Selain
langsung dari kegiatan reklamasi sejenis ikan, salah satunya adalah
Teluk Jakarta hanya Rp. 198 M kerang hijau yang dibudidayakan di
dengan total biaya (langsung dan perairan pesisir Utara Jakarta . Kondisi
tidak langsung) mencapai Rp. 91 M. faktual saat ini terdapat 6 (enam)
Pada diskonto 12% nilai manfaat Tempat Pendaratan Ikan disepanjang
bersih dengan pengurangan Teluk Jakarta, yaitu TPI Cilincing, Kali
kerusakan lingkungan hanya sebesar Baru, Muara Baru, Pasar Ikan, Kamal
Rp 625 trilyun, sementara jika asumsi Muara dan PPI Muara Angke. TPI
konstan hanya sebesar Rp 192 Muara Angke merupakan TPI dengan
trilyun. Pada diskonto yang rendah produktivitas tertetinggi dibandingkan
yakni sebesar 3% nilai dengan TPI yang lainnya, mencapai 21
manfaat bersih yang diperoleh lebih ton per tahunnya (Sanpono, 2013:3-4).
besar yakni sebesar Rp 170 triliun
24  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

Akibat pembangunan proyek Masyarakat pesisir semakin terpuruk
reklamasi, tempat tinggal yang sudah dengan dimulainya proyek reklamasi
dihuni bertahun-tahun terpaksa tanpa dilakukan sosialisasi terlebih
harus ditinggal karena akan dahulu, karena ladang
digunakan sebagai lahan proyek. pencahariannya semakin sulit diakses
Mereka meski sebagian bukan akibat proses kontruksi. Sosialisasi
penduduk asli, tetapi telah mendiami program semestinya dilakukan secara
wilayah ini lebih dari 20 tahun lebih, inklusif, sejak awal masyarakat sudah
sehingga dapat disebut sebagai diajak berembug, diajak serta ikut
penduduk lokal. Para nelayan ini terlibat menentukan arah
mengembangkan modalitas, seperti: pembangunan wilayah, dan
modal sosial kelembagaan, jejaring masyarakat ikut berperan. Namun
relasi sosial, modal ekonomi, pada kenyataannya, keberpihakan
interaksi sosial dan modal budaya proyek terhadap masyarakat
dengan cara mengembangkan dapat dikatakan rendah. Padahal
kearifan lokal yang terkait dengan sejak dahulu, pelabuhan sunda Kelapa
budaya bahari. Jadi bukan saja merupakan pintu masuk dan keluar
masyarakat menumbuhkan aset-aset bagi nelayan, jika pelabuhan ini
ekonomi tetapi juga aset sosial, ditutup akan mematikan mata
seperti kohesi sosial, pendidikan dan pencaharian nelayan dan ini akan
kelembagaan sosial sudah dianggap melanggar hak ekosob (hak
berkembang pesat di sini dan ekonomi, social dan budaya)
menjadi motor kemajuan wilayah sebagaimana dijamin dalam UUD 45.
yang baru.
MASALAH F. PEREMPUAN NELAYAN DAN
PEREMPUAN PESISIR
JAKARTA Perempuan nelayan yang sebagian
mencari ikan di laut atau
mengumpulkan kerang di pesisir,
hidupnya sungguh tergantung pada
kekayaan laut dan pesisir. Pun ketika
bertanggungjawab untuk menyiapkan
keperluan melaut dan menjadi
penanggungjawab tunggal rumah
tangga ketika ditinggal melaut, adalah
bagian tak terpisahkan dari laut.
Demikian juga dengan perempuan
pesisir yang banyak berperan dalam
tugas-tugas subsisten pra dan paska
panen. Usaha pemindangan,
pengeringan ikan, perdagangan ikan
dan pembuatan petis serta kerupuk
ikan adalah sebagian dari aktivitas yang
dilakukan oleh perempuan pesisir.
Selain itu ada juga yang bekerja di
sektor jasa, seperti menjadi buruh
angkut dan membuka warung atau toko
yang menjual barang-
barang kebutuhan konsumsi penduduk
setempat. 
26  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

FAO mencatat sebanyak 15% pelaku sejumlah masyarakat sipil lainnya
di sektor primer perikanan untuk memastikan pengakuan dan
(penangkapan dan budidaya) adalah memperkuat perlindungan
perempuan, sedangkan di sektor perempuan di pesisir. Perempuan
sekunder perikanan (pengolahan) hanya disebutkan dalam Pasal 45
jumlah pelaku perempuan hingga sebagai bagian dari rumah tangga
mencapai 90%. Data tersebut masih nelayan, pembudi daya ikan dan
merupakan data global, sedangkan petambak garam yang harus
untuk data nasional tidak diketahui diperhatikan keterlibatannya dalam
karena hingga kini belum ada data kegiatan pemberdayaan.
terpilah gender yang
menggambarkan jumlah dan sebaran Implikasi tiadanya pengakuan
perempuan nelayan di Indonesia. terhadap perempuan nelayan sangat
Hingga kini Indonesia juga belum merugikan. Karakteristik laut yang
memiliki aturan khusus untuk diidentikkan dengan maskulinitas,
pengakuan dan perlindungan seringkali dianggap sebagai ranah
perempuan nelayan sebagaimana yang tidak mungkin menjadi wilayah
rekomendasi FAO dalam 14th session kelola perempuan. Menyempitkan
of FAO Sub-Committee on Fish Trade pengakuan terhadap perempuan
kepada negara-negara anggotanya. hanya sebatas bagian dari rumah
tangga nelayan, pembudidaya ikan
Perempuan nelayan, yang meskipun maupun petambak garam sama
hidupnya tidak dapat dilepaskan dari dengan mengabaikan dan tidak
urusan kenelayanan namun mereka mengakui peran perempuan pesisir.
masih sulit untuk memperoleh Hal ini akan memperkuat
pengakuan sebagai perempuan diskriminasi dan ketidakadilan
nelayan. Perempuan nelayan hanya terhadap perempuan yang selama ini
memiliki status tunggal subordinasi: terjadi. Perempuan nelayan,
isteri atau anak nelayan. Berbagai pembudidaya ikan dan petambak
kalangan, terutama para pengambil garam terpinggirkan dari berbagai
keputusan, memandang hal ini upaya perlindungan dan
sebagai hal yang lumrah dan pemberdayaan yang ditujukan bagi
sederhana. Namun tidak demikian nelayan, pembudidaya ikan dan
bagi perempuan nelayan, maka akses petambak garam.
mereka pada berbagai program
perlindungan dan pemberdayaan Tiadanya pengakuan berimplikasi
nelayan maupun program lainnya pada nihilnya perlindungan dan
sangat terbatas. terkecualikannya perempuan dari
berbagai program ataupun kebijakan.
Pada tanggal 15 Maret 2016, DPR Perempuan juga tidak dilibatkan dan
telah mengesahkan Undang-Undang tidak diperhitungkan situasinya
Perlindungan dan Pemberdayaan dalam proses-proses pengambilan
Nelayan, Pembudidaya Ikan dan keputusan ataupun perumusan
Petambak Garam. Namun pengesahan kebijakan yang terkait dengan
ini tidak mempertimbangkan kelautan dan perikanan.
masukan Solidaritas Perempuan dan 
27  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

Oleh karena dianggap sudah cukup  berusaha lebih keras untuk
terwakili oleh suami sebagai kepala memenuhi kebutuhan keluarganya.
keluarga. Termasuk ketika proyek Sehingga banyak diantara mereka
reklamasi berjalan. Tidak ada analisis yang bekerja serabutan, sebagai
(potensi) dampak yang berbeda pemulung ataupun buruh cuci.
antara laki-laki dan perempuan di Namun pekerjaan perempuan
wilayah pesisir sebelum izin proyek belumlah usai, karena mereka masih
reklamasi dikeluarkan. Perempuan punya tanggungjawab domestik yang
juga tidak pernah diinformasikan terkait dengan aktivitas internal
mengenai rencana dijalankannya rumah tangga seperti memasak,
proyek reklamasi. mengurus anak dan melayani suami.
Dengan beban ganda tersebut,
Reklamasi juga telah mengakibatkan perempuan pesisir setiap hari
hilangnya wilayah tangkap nelayan bekerjanya sedikitnya selama 18 jam.
tradisional karena pencemaran yang Ironisnya, peran perempuan tersebut
terjadi. Pulau reklamasi juga tidak diperhitungkan sebagai kerja
menyebabkan nelayan harus produktif dan hanya dianggap
menempuh jarak yang lebih jauh/ sebagai pelengkap ataupun
memutari pulau untuk mencari ikan, pendukung kerja laki-laki. Bagi
hal ini membuat biaya operasional perempuan, perampasan wilayah
melaut jadi membengkak karena kelola nelayan secara serta merta
dibutuhkan bahan bakar yang lebih akan memperparah rentang
banyak. Situasi ini tentunya kehancuran kehidupannya.
menjadikan perekonomian keluarga Perempuan dijauhkan secara paksa
nelayan pun semakin menghimpit. dari sumber daya laut yang digeluti
sebagai sumber kehidupannya.
Perempuan yang dilekatkan dengan Manakala itu terjadi, maka penolakan
peran gendernya sebagai pengelola terhadap reklamasi menjadi sebuah
keuangan keluarga pun harus keniscayaan.
28  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

REKOMENDASI
DEMI MASA DEPAN TELUK JAKARTA YANG ADIL
DAN LESTARI

Dengan kondisi tercemar akibat Jadi, reklamasi pulau akan
pembangunan sejak 1970-an, maka menurunkan waktu retensi teluk
sudah dapat dipastikan bahwa dalam mencuci bahan pecemar
sumberdaya kelautan dan perikanan yang masuk dari daratan. Misalnya,
terus menurun. Bagaimana dampak kajian DHI (2012) menyebutkan
pembangunan reklamasi 17 pulau? bahwa sedimentasi akan meningkat
Ternyata, hasil simulasi sebelum dan menjadi 50 – 60 cm/tahun, di sekitar
sesudah ada pulau reklamasi (secara pulau-pulau reklamasi tersebut. Jika
keseluruhan 17 pulau, bukan parsial kedalam antar pulau reklamasi
per pulau), menunjukkan semakin ataupun daratan utama sekitar 2
lamanya “waktu cuci” alami teluk meter, maka dalam 2 tahun akan
dalam mengencerkan material yang menjadi dangkal sekitar 1 meter.
masuk, dalam hal ini sedimen, logam Hasil kajian van der Wulp et al.
berat dan bahan organik. Gambar 2 (2016) memperlihatkan bahwa
memperlihatkan perubahan “waktu pembangunan GSW justru berpotensi
cuci” tersebut, karena keberadaan 17 menciptakan “comberan” besar jika
pulau baru menyebabkan terjadi tidak ada infrastruktur pengolahan
perlambatan kecepatan arus. air limbah perkotaan (Gambar 3).
29  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

Gambar 2. Hasil simulasi numerik perubahan “waktu cuci” sebelum dan setelah
pembangunan 17 pulau reklamasi (DHI, 2011).

Gambar 3. Konsentrasi Total Nitrogen rata-rata tahunan untuk kondisi
sebelum ada reklamasi (a), setelah reklamasi 17 pulau (b), setelah proyek
garuda dengan danau resapan air di badan teluk (c) dan pembangunan danau
resapan air di timur (d). Sumber: van der Wulp et al. (2016).
30  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

Jadi, memang benar bahwa Teluk Dengan mengimbangi pasokan lantai
Jakarta sudah tercemar, tetapi terbangun fungsi kerja dengan
reklamasi 17 pulau akan menambah fungsi hunian, maka lalu lintas akan
tingkat pencemaran tersebut. berkurang sehingga juga mengurai
Penambahan GSW akan lebih lagi dan mengurangi masalah kemacetan.
menambah kadar pencemaran dan Pembangunan infrastruktur di
danau buatan di sebelah dalam GSW kawasan-kawasan dengan kepadatan
tidak bisa diandalkan menjadi lantai terbangun lebih terkonsentrasi
sumber air bersih. juga akan lebih efisien. Dan hal ini
berarti tidak memerlukan urban
Pembangunan keruangan Jakarta sprawl maupun pulau reklamasi yang
harus diutamakan pada penuh dengan masalah.
meningkatkan lantai-terbangun,
terutama untuk hunian terjangkau Memperhatikan dampak besar
bagi mayoritas pekerja, di kawasan- reklamasi dan rencana NCICD fase B
kawasan pusat kota. Sebagian besar dan C diteluk jakarta dan daerah
bentangan Jakarta masih lokasi pengambilan material, maka
berkepadatan lantai-terbangun pemerintah harus bersikap jujur dan
sangat rendah, dengan bangunan berani memastikan penegakkan
rata- rata hanya setinggi 2 lapis. hukum lingkungan, hukum tata
Bangunan-bangunan sangat tinggi ruang, dan hukum perlindungan
hanya terdapat di sepanjang jalan- nelayan. Penghentian pelaksanaan
jalan utama, plus beberapa reklamasi dan rencana NCICD fase B
superblok. Perubahan tata guna dan C menjadi jalan terbaik yang
lahan (land-use) selama 30 tahun dilakukan pemerintah bagi
terakhir telah mengubah pusat-pusat masyarakat kemudian mencari solusi
kota menjadi mono-fungsi kerja mengatasi masalah penurunan tanah
(perkantoran, perdagangan), di Jakarta.
sementara hunian terlempar makin
jauh ke pinggiran. Hal ini perlu Berbagai peraturan regulasi yang
diimbangi kembali dengan penting untuk ditegakkan adalah: UU
meningkatkan pasokan hunian Nomor 32 tahun 2009 tentang
terjangkau di pusat-pusat kota. Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup, UU Nomor 26
Peningkatan koefisien lantai Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,
bangunan dari rata-rata dua menjadi UU Nomor 1 tahun 2014 Jo UU Nomor
rata-rata 3 atau 4 di pusat-pusat 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan
kota khusus untuk hunian selama Pesisir dan Pulau-Pulau kecil , UU
lima tahun ke depan akan Nomor 31 Tahun 2004 tentang
menghasilkan nilai tambah yang Perikanan, UU Nomor 7 Tahun 2016
mencukupi untuk digunakan tentang Perlindungan dan
meningkatkan juga infrastruktur, Pemberdayaan Nelayan, UU Nomor 5
pelayanan dan kualitas lingkungan tahun 1990 tentang Konservasi
Jakarta secara keseluruhan.  Sumber Daya Alam Hayati.
31  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

Secara sosial budaya, pembangunan kota yang rakus dan kota yang tidak
seharusnya bertujuan untuk memiliki budaya atau hanya
mensejahterakan masyarakat menciptakan zombie town.
bukan mengeksklusi masyarakat.
Oleh karena itu tawaran yang paling Strategi utama pembangunan inklusif
rasional adalah melakukan dari aspek sosial yang paling utama
pembangunan secara inklusif, yang adalah penciptaan lapangan kerja
menyertakan pelibatan publik, produktif dan menguntungkan,
kelompok marginal dan kelompok penyediaan jaring pengaman sosial
miskin di mana pembangunan itu yang efektif dan efisien untuk
berada dan bertujuan untuk melindungi mereka yang tidak
mensejahterakan mereka bukan mampu bekerja atau yang terlalu
menggusur kehidupan mereka. sedikit mendapatkan manfaat
Secara sosial, pembangunan yang pembangunan, peningkatan
dijalankan seyogianya mampu pelayanan publik dasar dan dukungan
membentuk kelembaaan sosial yang kebijakan publik yang memadai.
bersifat inklusif, untuk kepentingan Selain itu pelibatan partisipasi publik
seluruh masyarakat bukan dalam setiap proses pembangunan di
berdasarkan kepentingan segolongan kawasan mereka bertempat tinggal.
orang. Dan capaian kelembagaan
sosial tersebut untuk mempermudah Strategi utama pembangunan inklusif
kehidupan sosial, dan sebagai media dari aspek tata ruang, adalah
mendorong terwujudnya kohesi bagaimana menciptakan tata ruang
sosial, interaksi sosial, dan media yang adil, yang mampu
penyelesaian konflik. mengakomodir seluruh kepentingan
masyarakat, khususnya memberikan
Secara budaya, pembangunan inklusif ruang kepada kelompok masyarakat
bertumpu pada kearifan lokal yang yang sulit mendapatkan akses
sudah mentradisi, bukan mengganti keruangan ini karena lemahnya
dengan budaya baru yang tidak sumberdaya yang mereka miliki
memiliki akar. Misal dibangun untuk mengakses ruang publik dan
apartemen, mal, hotel mewah yang ruang privat. Apalagi dalam kasus
peruntukannya bukan bagi reklamasi dan NCICD yang ditengarai
masyarakat lokal tetapi bagi akan dijadikan sebagai sebuah
pendatang baru yang memiliki kapital kawasan komersial raksasa yang
belaka. Menjadikan ruang-ruang lebih banyak menguntungkan pemilik
sosial di kota-kota pesisir menjadi modal, namun dengan mengokupasi
ruang sosial semu, hanya tempat ruang publik, yaitu wilayah pantai
transaksi ekonomi belaka. Jika ruang dan laut sebagai ruang privat.
kawasan pesisir hanya dirancang Tentunya akan sangat jauh dari
menjadi ruang sosial palsu, akan prinsip pembangunan inklusif dan
menjadikan suatu tragedi berkeadilan.
kemanusiaan, menciptakan kota
mati, 
Pembangunan Jakarta harus
SOLUSI dibenahi secara fundamental

PARADIG- sebagai bagian dari Visi Bersama
Bangsa dan Negara Maritim, dan

MATIK DAN bahwa reklamasi (bila dilanjutkan)
dan NCICD (bila dilanjutkan, masih
PROSES dengan besaran investasi dan

MEMBANGUN
konstruksi yang disepakati melalui
konsensus besar) adalah bagian

KONSENSUS dari membangun kawasan pesisir
dari suatu peradaban bahari yang
unggul.
Hindarkan paradigma
“pembangunan butuh lahan” yang
dapat mendorong persepsi
“Jakarta sudah padat”. Kunci dari
pembangunan di Jakarta adalah
manajemen kepadatan
(density management), dimana
kepadatan jiwa/Ha lahan di
Jakarta itu HARUS didukung oleh
kepadatan lantai-terbangun dan
infrastruktur/ pelayanan yang
memadai.
33  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

Pembangunan keruangan Jakarta Pemerintah membentuk Tim
harus diutamakan pada Independen yang tidak hanya
meningkatkan lantai-terbangun, melibatkan Kementerian Sektoral
terutama untuk hunian terjangkau dan Bappenas, namun juga
bagi mayoritas pekerja, di melibatkan institusi berbasis
kawasan-kawasan pusat kota. pengetahuan serta beberapa
Sebagian besar bentangan Jakarta Perguruan Tinggi, baik yang telah
masih berkepadatan lantai- terlibat selama ini maupun yang
terbangun sangat rendah, dengan belum (tidak) terlibat.
bangunan rata-rata hanya setinggi Pemerintah mengalokasikan
2 lapis. Bangunan-bangunan sumberdaya (Program, SDM,
sangat tinggi hanya terdapat di Pendanaan) secara khusus untuk
sepanjang jalan-jalan utama, plus menjamin perolehan informasi dan
beberapa superblok. Perubahan pengetahuan dari aspek2 ilmiah,
tata guna lahan (land-use) selama teknis maupun sosial – budaya –
30 tahun terakhir telah mengubah ekonomi – politik yang melibatkan
pusat-pusat kota menjadi mono- pakar dan lembaga-lembaga
fungsi kerja (perkantoran, nasional dan internasional yang
perdagangan), sementara hunian netral, tidak terpengaruh oleh bias
terlempar makin jauh ke pinggiran. kepentingan guna mendapatkan
Hal ini perlu diimbangi kembali obyektifitas dalam perspektif
dengan meningkatkan pasokan pembangunan ketahanan Jakarta
hunian terjangkau di pusat-pusat dan Indonesia yang berkelanjutan
kota. Dengan cara ini, maka dan berdaya saing dalam jangka
keperluan akan lahan melalui pendek, menengah dan panjang.
reklamasi dapat dipertimbangkan
kembali.
Guna memperoleh netralitas dan
transparansi dalam proses
konsensus dan pengambilan
keputusan dan transparansi
pertimbangan teknis – ilmiah
maupun aspek sosial – politik –
ekonomi, direkomendasikan untuk
mengadakan paparan dan debat
publik baik yang menyangkut
proyek NCICD maupun Reklamasi
17 pulau secara integratif maupun
secara tersendiri masing-masing.
Fase A dari NCICD yang disebut
PROYEK sebagai no-regret policy yang

NCICD memang perlu dilakukan untuk
melindungi Jakarta dari banjir rob.
Namun beberapa ilmuwan Indonesia
dan Belanda berpendapat bahwa
penguatan tanggul yang dibarengi
Hindari ketergesaan dalam dengan penghentian
pengambilan keputusan dan tidak eksploitasi penggunaan air tanah, dan
terperangkap dalam pertarungan perbaikan kualitas air sungai serta
kepentingan serta jebakan-jebakan rehabilitasi Teluk Jakarta dari
proses administrative procedural pencemaran adalah langkah terbaik.
legal yang menyesatkan. Dengan demikian, apa yang ingin
dikatakan oleh para ilmuwan ini
bahwa proyek NCICD fase B dan C
yang merupakan tahap lanjutan dari
pembangunan Great Garuda itu
sendiri tidak diperlukan. Sementara,
NCICD fase A telah dituangkan dalam
Perpres No. 2/2015 tentang rencana
pembangunan jangka
menengah nasional 2015-2019.
Bangun skenario parsial maupun
integral dari hubungan sebab akibat
dari proyek NCICD dan reklamasi
dalam aspek fisik, dengan melibatkan
jangkauan hulu – hilir bahkan
hingga Jabodetabek dan Teluk
Jakarta/Kep. 1000; lingkungan dan
bencana alam maupun bencana sosial;
finansial – investasi – keuangan;
serta politik – ketahanan nasional.
Reklamasi merupakan ikhtiar jangka
REKLAMASI panjang dan pembangunannya (bila

17 PULAU dilanjutkan) harus mempertimbangkan
dampak sosial – ekonomi – lingkungan –
spasial. Perlu dilakukan rancang bangun
ulang dengan menyertakan data primer
dan hasil pemantauan menerus
guna membuat skenario yang
menyertakan berbagai risiko multi
dimensi dan harmoni sosio-
spasial dengan daratan utama Pantura.
Mengamati bahwa hal-hal tersebut
belum dilakukan, maka proses reklamasi
yang sudah dilakukan sekarang ini dan
yang akan datang, harus
dihentikan karena tidak memberikan
manfaat baik bagi kepentingan publik
dan justru menambah parah kerusakan
lingkungan di teluk Jakarta, potensial
menyebabkan ancaman banjir semakin
besar dan merugikan kehidupan
masyarakat terdampak.

Proses pembangunan konsensus dan
pengambilan keputusan perlu didukung
oleh skenario dan proyeksi masa depan,
termasuk skenario pentahapan Tahap A
dari NCICD yang dibarengi atau tanpa
program pembersihan sungai dari
polutan dan sedimen, dan sebagainya.
36  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

DAFTAR RUJUKAN

1. Putusan PTUN No.
193/G/LH/2015/PTUN-JKT tentang
pembatalan ijin pelaksanaan pulau G.
2. Dampak sosial ekonomi dan
rekomendasi kebijakan Teluk Jakarta
hasil studi dari Pusat Penelitian Sosial
Ekonomi Kelautan dan Perikanan, 2016
3. Hasil temuan KLHK terkait
kelengkapan analisis dokumen AMDAL
Reklamasi Teluk Jakarta.
4. Under pressure: Investigating
marine resource-based livelihoods in
Jakarta Bay and the Thousand Islands,
Marine Pollution Bulletin, Elseiver,
2016
5. Sustaining The Environments –
Sustaining The Livelihoods: Insights
From The Coast Of Jakarta, Indonesia,
Proceedings 15th Indonesian Scholars
International Convention, 2015
6. Analisis Kebijakan Dalam Mengatasi
Dampak Reklamasi Terhadap Kegiatan
Perikanan Pantai Di Teluk Jakarta,
Disertasi Nono Sampono, 2013
7. Share The Bay: Who is to Blame for
Coastal Resources Degradation in
Jakarta Bay Area,
Proceeding MARE, 2007
KRONOLOGI
REKLAMASI 17 PULAU (1995-2017) JALAN
PANJANG KERUSAKAN LINGKUNGAN

1995 Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
mengeluarkan Peraturan Daerah
8/th 1995 mengeni Penyelenggaraan
1995 Presiden Soeharto mengeluar- Reklamasi dan Tata Ruang Kawasan
kan Keputusan Presiden No. 52 Pantura Jakarta
mengenai reklamasi Teluk Jakarta.
Keppres mengatur bahwa gubernur
1997 Krisis moneter Asia menerpa
DKI Jakarta adalah pihak berwenang
Indonesia sehingga proyek reklamasi
untuk reklamasi. Lampiran Keppres
tertunda. Pemda DKI
menunjukkan gambar di mana
menandatangani Perjanjian Kerja
reklamasi tidak berupa pulau-pulau
Sama dengan PT Kapuk Naga Indah
terpisah dari garis pantai utara
untuk Pulau C (2B), D (2A) dan Pulau
melainkan perluasan Pantura.
E (1)
38  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

2007 Gubernur Sutiyoso menerbitkan
izin prinsip untuk Pulau 2A yang
1999 DPRD dan Pemda DKI di bawah kemudian menjadi Pulau D untuk PT
kepemimpinan Gubernur Sutiyoso Kapuk Naga Indah, anak perusahaan
mengeluarkan Peraturan Daerah Agung Sedayu Group pada 19 Juli
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dalam Surat Gubernur Nomor
di mana reklamasi masuk ke rencana 1571/-1.711
tata ruang dan berubah dari rencana
1995. Tujuan reklamasi disebutkan 2007 Gubernur Fauzi Bowo meminta
untuk perdagangan dan jasa anggaran kepada Bappenas untuk
internasional, perumahan dan melakukan kajian mengenai Banjir
pelabuhan wisata. Perda RTRW Jakarta, namun tidak disetujui.
mengatakan reklamasi seluas kurang Setelah itu Fauzi Bowo menghubungi
lebih 2.700 hektar dan diperuntukkan Walikota Rotterdam untuk
bagi perumahan kelas menengah membantu, dari situ lahirlah skema
atas. Jakarta Coastal Defense Strategy
(JCDS)
2003 Kementerian Lingkungan
Hidup, saat itu dipimpin Menteri 2008 Presiden Susilo Bambang
Nabiel Makarim, menerbitkan Yudhoyono menerbitkan Peraturan
Keputusan Menteri No. 14 yang Presiden No. 54 tentang rencana tata
menyatakan bahwa proyek reklamasi ruang Jakarta, Bogor, Depok,
dan revitalisasi Pantura Jakarta tidak Tangerang, Bekasi, Puncak, dan
layak dilaksanakan. Kementerian Cianjur. Pasal 70 menyatakan bahwa
mengatakan bahwa reklamasi akan Keppres No. 52/1995 masih berlaku
meningkatkan risiko banjir terutama sepanjang tidak bertentangan dengan
di kawasan utara, merusak ekosistem peraturan di bawah Perpres 2008
laut, dan menyebabkan penghasilan tersebut. Namun Pasal 72
nelayan menurun. Proyek juga akan menyatakan Keppres No. 52/1995
membutuhkan sekitar 330 juta meter sepanjang berkaitan dengan aspek
kubik pasir (untuk wilayah seluas tata ruang tidak lagi berlaku. Kedua
2.700 hektar), dan akan mengganggu pasal ini menjadi sumber perdebatan
PLTU Muara Karang di Jakarta Utara. mengenai Keppres No. 52/1995 yang
2003 Enam kontraktor menggugat dijadikan dasar hukum utama
keputusan tersebut ke PTUN. Enam reklamasi Teluk Jakarta oleh Pemda
perusahaan tersebut adalah: PT Bakti DKI Jakarta.
Era Mulia, PT Taman Harapan Indah,
PT Manggala Krida Yudha, Pelindo II, 2009 Mahkamah Agung
PT Pembangunan Jaya Ancol and PT memenangkan Kementerian
Jakarta Propertindo. Lingkungan Hidup dalam kasus
gugatan enam kontraktor terhadap
2007 Banjir rob yang cukup parah keputusan menteri yang menyatakan
menerpa Jakarta Utara disebabkan reklamasi tidak layak pada tingkat
oleh pasang yang sangat tinggi yang kasasi. Sebelumnya kementerian
terjadi satu kali setiap 18 tahun. kalah di dua pengadilan di bawahnya.
39  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

2009 Setelah banjir rob parah di
2007 dan menindaklanjuti
permohonan Fauzi Bowo, pemerintah
Belanda mendatangi pemerintah 2012 Pada bulan Januari, DPRD
Indonesia dan pemerintah daerah Jakarta mengesahkan Perda No.
Jakarta untuk merancang sistem 1/2012 tentang RTRW 2010–2030
pertahanan laut yang dilakukan pada yang memasukkan reklamasi pulau-
2009–2012 , yang kemudian dikenal pulau, saat itu berjumlah 14 sesuai
sebagai “giant sea wall” atau Great lampiran RTRW. Gambar satelit yang
Garuda. Dalam masterplan Jakarta diambil dari Google Earth merekam
Coastal Defense System yang bahwa sudah ada titik kecil di utara
kemudian di 2013 berganti nama Pantai Indah Kapuk yang adalah cikal
menjadi National Capital Integrated bakal Pulau D.
Coastal Development (NCICD), Fauzi
memasukkan rencana reklamasi 2012 Pada tanggal 21 Mei 2012,
pulau-pulau ke dalam NCICD. Pemprov DKI Jakarta, diwakili oleh
Alasannya adalah untuk kemitraan Asisten Pembangunan dan
antara pemerintah dengan Lingkungan Hidup, Wiriyatmoko
pengembang, di mana pengembang menandatangi adendum Perjanjian
diminta sumbangannya untuk Kerja Sama dengan PT Kapuk Naga
memperbaiki tanggul laut yang telah Indah, dimana ada perizinan Pulau C,
ada, yang disebut sebagai NCICD D dan E digabung jadi 1.
Fase A. Masuknya rencana reklamasi
pulau DKI telah menghidupkan lagi 2012 Pada 19 September 2012, Fauzi
rencana reklamasi yang selama ini Bowo menerbitkan Peraturan
nyaris mati suri. Akibatnya banyak Gubernur No. 121/2012 mengenai
orang menyangka bahwa reklamasi Penataan Ruang Kawasan Reklamasi
pulau-pulau DKI bermanfaat untuk Pantai Utara Jakarta. Untuk pertama
melindungi Jakarta dari banjir rob. kalinya Pemda DKI Jakarta
mengungkap bawah akan ada 17 pulau
2009 Pada bulan Desember, Fauzi yang dinamai Pulau A sampai Pulau Q
Bowo membubarkan Badan Pelaksana dengan total wilayah 5.155 hektar.
Reklamasi Pergub memproyeksikan akan ada
750.000 penduduk baru di ke-17
2010 Di bulan Agustus Fauzi Bowo pulau baru.
menerbitkan izin pelaksanaan
sebagai kelanjutan izin prinsip dari 2012 Pada 21 September 2012, Fauzi
Sutiyoso untuk Pulau 2A, yang menerbitkan izin prinsip untuk Pulau
kemudian disebut sebagai Pulau D, F, G, I, dan K. Sehari sebelumnya, 20
kepada PT Kapuk Naga Indah. September, hasil hitung cepat
pemilihan kepala daerah 2012
2011 Dalam persidangan Peninjauan mengumumkan bahwa Fauzi kalah
Kembali kasus Kementerian dari pasangan Joko “Jokowi” Widodo
Lingkungan Hidup vs enam dan Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama.
kontraktor, Mahkamah Agung Pada hari itu Fauzi menelepon
memenangkan enam kontraktor. Jokowi untuk mengucapkan selamat.
40  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

2014 Pada 23 Desember, Ahok
2012 Pada 5 Desember 2012 Presiden menerbitkan izin pelaksanaan untuk
Susilo Bambang Yudhoyono mener- Pulau G untuk anak perusahaan
bitkan PP No. 122 tentang Reklamasi Agung Podomoro Land, PT Muara
di Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Wisesa Samudra. Saat itu Ahok
Kecil Indonesia. Pasal 16 menyatakan kurang dari sebulan resmi menjabat
bahwa izin pelaksanaan reklamasi di sebagai gubernur; ia dilantik pada 19
Kawasan Strategis Nasional Tertentu November 2014.
harus mendapatkan rekomendasi
menteri terkait. 2015 Di bulan April, Menteri
Kelautan dan Perikanan Susi
2013 Pada 12 Desember 2013 Pudjiastuti meminta Pemda DKI
gubernur Jokowi rapat dengan untuk menghentikan reklamasi
Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat dengan alasan itu adalah wewenang
(DPR) mengenai reklamasi dan pemerintah pusat. Pemda DKI
NCICD. Ia mengatakan di rapat yang menanggapi dengan mengatakan
rekamannya tersedia di YouTube bahwa reklamasi 17 pulau bukanlah
bahwa gubernur sebelumnya (Fauzi bagian dari NCICD, dengan demikian
Bowo) baru mengeluarkan izin merupakan wewenang pemda sesuai
pelaksanaan untuk satu pulau dan dengan Keppres 1995 mengenai
ada izin-izin yang kadaluwarsa di reklamasi Teluk Jakarta.
September 2013 namun sengaja tidak
diperpanjang oleh Jokowi. Ia 2015 Di bulan September Koalisi
mengatakan keputusan tidak Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI)
memperpanjang diambil karena ia menggugat pemda DKI karena telah
ingin reklamasi menguntungkan menerbitkan izin untuk Pulau G
masyarakat bukan developer. untuk Pluit City di Pengadilan Tata
Namun Jokowi pun membiarkan Usaha Negara (PTUN). Nelayan
reklamasi bahkan menggunakan dana mengatakan reklamasi telah
dari pulau reklamasi. Rusunawa mengancam wilayah mereka mencari
Muara Baru yang dibangun untuk nafkah sehingga mereka harus
menyediakan korban penggusuran berlayar lebih jauh. Beberapa
waduk Pluit rumah didanai oleh PT nelayan juga bersaksi telah melihat
Jaladri Kartika Pakci (pembangun lumpur mengambang di sekitar
Pulau I), “indirect subsidiary” dari PT wilayah pembangunan Pulau G.
Agung Podomoro dan PT Kapuk Naga
Indah (pembangun pulau C dan D).  2015 Bulan Oktober dan November
Gubernur Basuki menerbitkan empat
2014 Pada 10 Juni 2014, sembilan hari izin pelaksanaan untuk pulau F, H, I,
setelah Jokowi mengambil cuti untuk dan K untuk PT Jakarta Propertindo,
kampanye presiden, Ahok, saat itu anak perusahaan Intiland Tbk, PT
menggantikan Jokowi sebagai Taman Harapan Indah, anak
Pelaksana Tugas atau Plt, mengeluar- perusahaan tak langsung Agung
kan perpanjangan izin prinsip yang Podomoro PT Jaladri Kartika Pakci
sudah kadaluwarsa di September yang bermitra dengan PT
2013 yang dikeluarkan Fauzi di 2012 Pembangunan Jaya Ancol (PJA), dan
untuk pulau F, G, I, dan K. Pulau K untuk PJA.
41  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

2016 Pada tanggal 27 April, Presiden
Jokowi pasca kepulangannya dari
Belanda, mengadakan rapat terbatas
mengenai NCICD, dan meminta agar
NCICD dilanjutkan dan jangan
dipersempit menjadi 17 pulau saja.

2016 Pada tanggal 31 Mei, Pengadilan
2015 Pada 23 November, pemda DKI Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta
mengirimkan dua rancangan memenangkan gugatan nelayan
peraturan daerah tentang zonasi Jakarta Utara melawan PT Muara
reklamasi dan pulau-pulau kecil di Wisesa Samudra dan Pemerintah DKI
utara Jakarta dan rencana tata ruang Jakarta yang mengeluarkan Izin
kawasan strategis reklamasi ke Pelaksanaan Pulau G.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Dalam pertimbangan hukumnya,
(DPRD). Pemda DKI mengatakan hakim menyatakan bahwa izin
reklamasi penting untuk reklamasi
pembangunan waterfront city di • Melanggar hukum karena tidak
Jakarta. dijadikannnya UU 27 Tahun 2007 dan
UU 1 Tahun 2014 sebagai dasar
2016 Di bulan Januari, The Jakarta • Tidak adanya rencana zonasi
Post menemukan gambar satelit dari sebagaimana diamanatkan Pasal 7
Google Earth yang memperlihatkan ayat 1 UU 27 Tahun 2007
bahwa KNI telah membangun Pulau C • Proses penyusunan Amdal tidak
yang melekat pada Pulau D.  partisipatif dan tidak melibatkan
nelayan
2016 Di Februari KNTI menggugat • Reklamasi tidak sesuai dengan
pemda atas penerbitan izin prinsip pengadaan lahan untuk
pelaksanaan pulau F, I, dan K di kepentingan umum sebagaimana UU
PTUN. 2/2012.
• Tidak ada kepentingan umum dalam
2016 Pada bulan Maret, Komisi reklamasi, hanya kepentingan bisnis
Pemberantasan Korupsi (KPK) semata
menangkap tangan anggota DPRD • Mengganggu objek vital
DKI Jakarta dari Partai Gerindra, M. • Menimbulkan dampak fisik, biologi,
Sanusi, dengan tuduhan suap berkait sosial ekonomi, dan infrastruktur.
dua raperda reklamasi. KPK juga • Hakim juga menyatakan bahwa
menahan Presiden Direktur Agung reklamasi menimbulkan kerusakan
Podomoro Land, Ariesman Widjaja lingkungan dan berdampak kerugian
untuk dugaan yang sama. bagi para penggugat (nelayan)

2016 Pada tanggal 18 April, Menko 2016 Pada tanggal 27 Juli, Presiden
Maritim Rizal Ramli mengeluarkan Jokowi melakukan penggantian
moratorium untuk Pulau C, D, E dan kabinet. Rizal Ramli diganti oleh
G. Pekerjaan reklamasi dihentikan. Luhut Binsar Pandjaitan
42  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

2016 Di bulan Januari, The Jakarta 2016 Pada tanggal 10 Mei, KLHK
Post menemukan gambar satelit dari mengeluarkan SK berupa
Google Earth yang memperlihatkan penghentian sementara seluruh
bahwa KNI telah membangun Pulau C kegiatan PT Kapuk Niaga Indah
yang melekat pada Pulau D.  
2016 Pada tanggal 31 Mei, Pengadilan
2016 Di Februari KNTI menggugat Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta
pemda atas penerbitan izin pelak- memenangkan gugatan nelayan
sanaan pulau F, I, dan K di PTUN. Jakarta Utara melawan PT Muara
Wisesa Samudra dan Pemerintah DKI
2016 Pada Tanggal 31 Maret, Komisi Jakarta yang mengeluarkan Izin
Pemberantasan Korupsi (KPK) Pelaksanaan Pulau G. Dalam
menangkap tangan anggota DPRD pertimbangan hukumnya, hakim
DKI Jakarta dari Partai Gerindra, M. menyatakan bahwa izin reklamasi
Sanusi, dengan tuduhan suap berkait • Melanggar hukum karena tidak
dua raperda reklamasi. KPK juga dijadikannnya UU 27 Tahun 2007 dan
menahan Presiden Direktur Agung UU 1 Tahun 2014 sebagai dasar
Podomoro Land, Ariesman Widjaja • Tidak adanya rencana zonasi
untuk dugaan yang sama. sebagaimana diamanatkan Pasal 7
ayat 1 UU 27 Tahun 2007
2016 Pada tanggal 12 April, DPRD DKI • Proses penyusunan Amdal tidak
setuju menghentikan pembahasan 2 partisipatif dan tidak melibatkan
Raperda. nelayan
• Reklamasi tidak sesuai dengan
2016 Pada tanggal 14 April, Rapat prinsip pengadaan lahan untuk
dengar pendapat Komisi IV dengan kepentingan umum sebagaimana UU
KLHK dan Kementerian Kelautan, dan 2/2012.
mengeluarkan rekomendasi • Tidak ada kepentingan umum dalam
penghentian reklamasi reklamasi, hanya kepentingan bisnis
semata
2016 Pada tanggal 18 April, Menko • Mengganggu objek vital
Maritim Rizal Ramli mengeluarkan • Menimbulkan dampak fisik, biologi,
moratorium untuk menghentikan sosial ekonomi, dan infrastruktur.
sementara reklamasi. • Hakim juga menyatakan bahwa
reklamasi menimbulkan kerusakan
2016 Pada tanggal 27 April, Presiden lingkungan dan berdampak kerugian
Jokowi pasca kepulangannya dari bagi para penggugat (nelayan)
Belanda, mengadakan rapat terbatas
mengenai NCICD, dan meminta agar 2016 Pada bulan Juni, Pemprov DKI
NCICD dilanjutkan dan menggelar konsultasi publik untuk
mengintegrasikannya debgab 17 menyusun Kajian Lingkungan Hidup
pulau.  Strategis (KLHS)
43  SELAMATKAN TELUK JAKARTA

2016 Pada bulan September Menko 2017 Pada tanggal 11 Agustus,
Perekonomian dan Maritim yang baru Pemprov DKI Jakarta
Luhut Panjaitan menyatakan menandatangani perjanjian kerja
reklamasi Teluk Jakarta tidak sama Pulau D.
Bermasalah dan bisa dilanjutkan,
sehingga menimbulkan pro dan 2017 Pada tanggal 20 Agustus,
kontra. Presiden Joko Widodo secara
simbolis menyerahkan sertifikat HPL
2016 Pada tanggal 19 Oktober 2016, ke Pemprov DKI Jakarta. 
Kementerian Agraria dan Tata Ruang
mengembalikan berkas permohonan 2017 Pada tanggal 21 Agustus, PT
HPL kepada Pemprov DKI.  Kapuk Naga Indah memasukkan dan
mendaftarkan HGB ke Kantor
2016 Pada tanggal 20 Oktober 2016, Pertanahan Jakarta Utara.
Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
memenangkan Banding kepada PT 2017 Pada tanggal 22 Agustus, KLHK
Muara Wisesa dan Pemerintah menyatakan AMDAL Pulau D sesuai.
Provinsi DKI Jakarta. 
2017 Pada tanggal 23 Agustus,
2016 Pada tanggal 23 Oktober, 2 hari Gubernur Djarot menyurati KLHK
sebelum cuti kampanye, Gubernur agar mencabut sanksi administrasi
Basuki Purnama menandatangani dengan alasan semua syarat sudah
Peraturan Gubernur 206 tentang dipenuhi.
Panduan Rancang Kota Pulau C, D
dan E. 2017 Pada tanggal 24 Agustus,
Sertifikat HGB atas nama PT Kapuk
2017 Pada tanggal 25 April, PTSP DKI Naga Indah untuk Pulau D seluas 312
menerbitkan Kelayakan Lingkungan Ha terbit. 
Hidup dan Izin lingkungan reklamasi
Pulau C dan D 2017 Pada tanggal 30 Agustus, KLHK
mencabut sanksi moratorium karena
2017 Pada tanggal 12 dan 19 Juni, 11 syarat dianggap sudah dipenuhi.
Kementerian ATR menerbitkan
sertifikat HPL atas nama pemerintah 2017 Pada tanggal 2 Oktober,
DKI Jakarta Gubernur Djarot menandatangani
Panduan Rancang Kota Pulau G. 
2017 Pada tanggal 11 Juli, Gubernur
Djarot mengirimkan surat kepada 2017 Pada tanggal 5 Oktober,
KPK untuk meminta pertimbangan Kemenko Maritim mencabut
apakah raperda sudah bisa Moratorium untuk Pulau C, D dan
dilanjutkan pembahasannya. G.  
KOALISI SELAMATKAN TELUK JAKARTA