You are on page 1of 34

BAB III

TEORI DASAR

3.1 Klasifikasi Reservoir Gas
Secara garis besar reservoir gas dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu
reservoir gas kering (dry gas reservoir), reservoir gas basah (wet gas reservoir) dan
reservoir gas kondensat. Klasifikasinya berdasarkan kondisi tekanan dan temperatur
reservoir dalam hubungan dengan letaknya didaerah dua fasa (gas atau liquid) di
dalam sistem diagram fasa tekanan dan temperatur.

3.1.1 Reservoir Gas kering (Dry Gas Reservoir)
Pada Gambar 3.1 menunjukan suatu contoh diagram fasa untuk reservoir gas
kering, dimana baik pada kondisi reservoir maupun pada kondisi permukaan fasa
tetap dalam keadaan gas. Komponen utama dari dry gas adalah methane dengan
sejumlah kecil ethana dan kemungkinan propana. Istilah “Kering” menunjukkan
bahwa fluida tidak mengandung molekul-molekul hidrokarbon berat yang cukup
untuk membentuk cairan di kondisi permukaan. Dipermukaan biasanya GOR
mencapai lebih dari 100 mscf/stb.

Gambar 3.1 Diagram fasa reservoir dry gas

Secara teoritikal, dry gas tidak menghasilkan liquid di permukaan, bila
terdapat liquid yang berasosiasi dengan gas pada reservoir jenis ini hanyalah air,
tetapi definisi untuk membedakan antara dry gas dengan wet gas masih belum jelas.

3.1.2 Reservoir Gas basah (Wet Gas Reservoir )
Fluida pada kondisi reservoir adalah berupa fasa gas dan tetap dalam fasa gas
pada penurunan tekanan pada temperatur reservoir, sehingga selama proses produksi
di permukaan, temperatur mengalami penurunan yang menyebabkan kondensasi di
sistem pipa dan separator permukaan menghasilkan campuran dua fasa, yang
mengandung molekul-molekul hidrokarbon tingkat menengah. Dari Gambar 3.2
dibawah menunjukkan contoh diagram fasa untuk reservoir jenis ini. Kadangkala gas
diproses untuk dipisahkan dan dicairkan menjadi propana dan butana. Reservoir gas
ini biasanya dicirikan dengan hasil produksi GOR permukaan dapat mencapai 100
mscf/stb dan gravity minyak hingga mencapai 50o API.

Gambar 3.2 Diagram fasa reservoir wet gas

3.1.3 Reservoir Gas Kondensat
Produksi dari reservoir jenis ini didominasi oleh gas dan sedikit liquid yang
terkondisi di separator permukaan, berwarna bening, memiliki API gravity hingga 60o
dan GOR berkisar antara 5 hingga 70 mscft/stb. Pada kondisi awal, seperti dalam
diagram fasa terletak diantara titik kritik (critical point) dan cricondentherm, fluida
yang terbentuk adalah gas, penurunan tekanan padatemperatur reservoir, akan
melewati garis dew point dan cairan terbentuk di reservoir dan sistem pemipaan dan
separator. Diagram fasanya seperti contoh Gambar 3.3 dibawah ini.

Gambar 3.3 Diagram fasa reservoir kondensat

Pada titik 1, fluida reservoir hanya terdiri dari satu fasa, dengan turunnya
tekanan selama proses produksi, terjadi kondensasi retrograde di dalam reservoir.
Pada saat tekanan mencapai titik 2, yaitu titik embun (dew point), cairan mulai
terbentuk, dengan turunnya tekanan dari titik 2 ke titik 3, jumlah cairan bertambah.
Pada titik 3 ini merupakan titik dimana jumlah cairan mencapai maksimum,
penurunan lebih lanjut menyebabkan cairan menguap, dan sekitar 25% mol fluida
yang diproduksikan tetap dalam keadaan cair di permukaan.
.

serta konsep aliran stabil. yang sebelumnya berada dalam lingkungan yang stabil. akan terjadi ketidakseimbangan tekanan dalam reservoir. yaitu : mantap (steady state) dan tidak mantap (unsteady state). Pada suatu saat impuls ini akan mencapai batas yang kedap aliran (no- flow boundary).2. Dengan memproduksikan suatu sumur yang menghubungkan permukaan dengan reservoir gas. Gradien tekanan yang ditimbulkannya akan menyebabkan fluida (dalam hal ini gas) dalam media berpori tersebut mengalir kearah sumur. Seketika sumur dibuka. Hal ini terutama terjadi pada laju produksi yang besar atau pada gradien tekanan yang besar. Kecepatan merambat ini dipengaruhi oleh sifat batuan berpori dan fluida pengisinya. Dengan kata lain. Aliran ini akan terjadi jika batuan reservoir ini porous dan memiliki permeabilitas yang searah dengan aliran serta tenaga pendorongnya. yaitu bersifat dapat dimampatkan (compressible).3.2 Konsep Dasar Aliran Gas Dalam Media Berpori Aliran fluida dalam media berpori merupakan bagian yang penting. aliran fluksi massa gas dari waktu ke waktu. seperti laju produksi atau tekanan aliran dasar sumur (Pwf) tergantung pada seberapa jauh perambatan impuls (transient) itu berlangsung. seperti aliran didekat lubang sumur. melainkan dipengaruhi pula oleh unsur inersia dan turbulensi. kemudian timbul pemikiran/gagasan baru. maka ia akan menimbulkan impuls perubahan tekanan didekatnya. Impuls ini akan merambat menjauhi sumur sebagai fungsi dari waktu. Dengan kata .1 Aliran Mantap (Steady state Flow) Terjadi jika kondisi aliran (laju fraksi massa gas) tidak berubah terhadap waktu. Gas yang mengalir ini mempunyai sifat yang khas. Sifat khas ini serta rendahnya harga viscositas menyebabkan aliran gas tersebut mungkin tidak murni laminer (aliran viscous). Umumnya konsep aliran dibagi menjadi dua. yaitu konsep alir semi (pseudo) mantap untuk keperluan test-test sumur. karena hidrokarbon mengalir dari reservoir ke lubang sumur. Aliran yang ditimbulkannya dan diamati di sumur itu. 3.

Lihat gambar 3. dari setiap jarak tempuhnya selalu tetap. Aliran Radial Steady State Hukum Darcy untuk aliran dalam media berpori: k dp v …………………………………………………… (3.2)  dx Dimana: v = fluid velocity q = volumetric flow rate k = effective permeability .1)  dx atau kA dp q  vA   ……………………………………………… (3. aliran fluksi massa gas dari waktu ke waktu.lain.4.4 Gambar 3.

Apabila formasinya tidak horizontal. Sebelum diintegrasikan persamaan aliran harus dikombinasikan dengan persamaan keadaan dan persamaan kontinuitas.2. energi hidrostatik atau potensialnya harus diperhitungkan juga. Persamaan (3. banyak informasi yang berguna dapat dihasilkan dari transient test. skin faktor.4) 3. Hal ini biasanya tidak diperhatikan untuk aliran gas dalam reservoir. Persamaan diffusivitas dapat diturunkan dengan mengkombinasikan persamaan kontinuitas unsteady state dengan Hukum Darcy dan persamaan keadaan.3)  dr Dimana: r = jarak radial h = ketebalan reservoir Hukum Darcy menerangkan bahwa kehilangan tekanan karena viscous shear terjadi dalam fluida yang mengalir.3) adalah persamaan differensial dan harus diintegrasikan untuk mengaplikasikannya. Walaupun kapasitas sumur yang diinginkan untuk pseudo steady state atau kondisi stabil.2 Aliran Tidak Mantap (Unsteady state Flow) Aliran ini stabil agak cepat dimana sumur mengalir dalam steady state atau transient sampai gangguan tekanan tercapai pada batas reservoirnya atau sampai interferensi dari sumur lain mempengaruhinya. koefisien turbulensi dan tekanan rata-rata reservoir. Informasi ini meliputi permeabilitas. = fluid viscosity dp/dx = pressure gradient in the direction of flow Untuk aliran radial dimana jarak dinyatakan sebagai positive moving dari sumur. persamaannya menjadi: k 2rh  dp q …………………………………………………… (3. persamaannya adalah: . Persamaan kontinuitas adalah : ρ1q1 = ρ2q2 = konstan…………………………………………… (3.

Suatu waktu tekanan dalam reservoir telah dipengaruhi. Distribusi tekanan dan laju pada t1 kembali muncul segera dan distribusi tekanan dan laju berpindah sampai posisi ini dengan segera. lebih tepatnya pada volume reservoir yang besar. Laju pada sumur telah menurun dari t1 ke t2 sampai pressure drop (Pi – Pw) sama. Penurunan dari waktu t = 0 sampai waktu t2. Sama pada sistem reservoir yang didominasi oleh aliran steady-state. dan akan berlanjut menurun dari t2 ke t3. distribusi tekanan dan laju alir tidak akan dipengaruhi oleh ukuran reservoir atau posisi dari jari-jari pengurasan terluar (re).  2 p 2 1 p 2 C p 2   ………………………………………… (3.7. secara matematis tidak terbatas (infinite). Hal ini menyebabkan laju pada re menjadi nol dan laju bertambah sampai maksimum pada jari-jari sumur. selama produksi adalah akibat dari ekspansi fluida dalam reservoir.5) r 2 r r k t Gambar 3. re. rw.7. Laju q pada t2 mengindikasikan bahwa laju alir pada saat ini meluas sepanjang reservoir ketika semua reservoir telah dipengaruhi dan sudah mempunyai pressure drop yang berarti. Selama waktu ini reservoir dikatakan tidak terbatas (infinite acting) karena selama periode ini jari- jari pengurasan terluar. pengaruh perubahan laju alir dan tekanan sumur pada sumur tersebut akan diselesaikan oleh persamaan aliran unsteady-state sampai hasil perubahan interval waktunya telah cukup untuk . Seperti yang diperlihatkan pada Gambar 3. ketika pressure drop akhirnya dipengaruhi seluruh reservoir. penurunan total pressure drop dari re sampai rw (Pe – Pw). Dalam masalah ini. dalam plot dari q pada t1 laju re nol dan bertambah dengan reduksi dalam radius sampai laju maksimum di reservoir tercapai sampai rw. menunjukkan distribusi tekanan dan laju untuk sistem radial dengan berbagai waktu pada reservoir tertutup (tidak ada aliran di re). maka tekanan akan menurun terus sebagaimana produksi berlanjut terus dan distribusi tekanan ditunjukkan sebagai P pada t3. sebagaimana produksi berlanjut terus menerus mempengaruhi reservoir. Laju tersebut akan menurun selama t1 ke t2 akan bertambah dalam radius yang melewati dimana aliran terjadi.

mempengaruhi seluruh reservoir dan reservoirnya telah mencapai kondisi steady- state.3 Aliran Semi Mantap (Pseudo Steady State Flow) Gambar 3. Aliran Radial Unsteady state Dengan Tekanan Sumur Konstan 3. qw. Gambar 3. memperlihatkan distribusi tekanan dan aliran sama dengan sistem unsteady state tetapi laju alirannya ke dalam sumur.6.2. . dijaga konstan.5.

Pengaruh dari kerusakan skin dan turbulensi kadang-kadang dimasukkan.6). Aliran Radial Unsteady-state Dengan Laju Produksi Pseudo-steady-state t2 sampai t5 konstan Persamaan aliran pseudo steady state dapat diturunkan menjadi: qsc   703x106 kh Pr  Pw 2 2  ………………………………………(3. q sc   703 x10 6 kh Pr 2  Pw 2  ………………………………… (3.472re  TZLn   rw  Walaupun waktu tidak muncul secara eksplisit dalam Persamaan (3.Gambar 3.6.6)  0.472 re   TZ  Ln    S  Dq sc     rw   .7)   0. seperti terlihat dari Persamaan (3-28). harus diingat bahwa kedua Pr dan Pw akan menurun pada laju yang sama untuk q konstan sekali gangguan tekanan telah tercapai pada batas reservoirnya.

Dimana: S = dimensionless skin factor D = koefisient turbulensi Sehingga untuk mencari kehilangan tekanan dengan qsc diketahui.3 Gas Deliverability Pada pertama kalinya pengujian untuk menentukan kemampuan sumur gas untuk berproduksi dilakukan dengan cara membuka sumur dan menghubungkan sumur dengan tekanan atmosphere. Berdasarkan alasan diatas. maka mulai dikembangkan metoda uji deliverability yang lebih modern dengan menggunakan laju aliran yang sesuai dan dapat dikontrol. Uji ini terdiri dari tiga atau lebih aliran dengan laju alir.…………(3.7 psia).5) menjadi: 1422TZq sc   0.8) 2 2 kh   rw   3. yang didefinisikan sebagai kemempuan suatu sumur gas untuk memperoduksi gas ke permukaan dengan laju alir maksimum pada tekanan alir dasar sumur (sandface) sebesar tekanan atmosphere (± 14. Pada masa awal dari tes . diantaranya yakni Back Pressure. tekanan dan data lain yang dicatat sebagai fungsi dari waktu. dan harga AOF diukur langsung dengan menggunakan impact pressure gauge yang dipasang dipermukaan. Uji deliverability adalah merupakan suatu uji sumur yang umum digunakan untuk menentukan produktivitas sumur gas. maka persamaan (3. Pembukaan sumur yang relatif lama akan menyebabkan pemborosan gas secara sia-sia. Penyajian dengan cara ini hanya efektif untuk digunakan pada sumur yang dangkal.. Isochronal dan Modified Isochronal. Indikator produktivitas yang diperoleh dari uji ini adalah absolute open flow potential (AOFP).472re   Pr  Pw  x  Ln   S  Dq sc  …. sedangkan sumur gas yang dalam dengan ukuran tubing yang kecil akan memberikan hasil yang tidak akurat. selain dapat menimbulkan kerusakan pada formasi serta dapat menimbulkan bahaya lain yang tidak diinginkan.

Persamaan ini menyatakan hubungan antara qsc terhadap P2 pada kondisi aliran yang stabil..9) dimana : qsc = laju aliran gas Mscf/d C = koefisien performance yang menggambarkan posisi kurva deliverability yang setabil...10) p2= (PR2 .…………….………………(3. PR = tekanan rata-rata reservoir.turbulensi berperan dalam aliran maka n < 1 (dibatasi sampai harga paling kecil sama dengan 0......Pwf2).…(3.12) P  = r 2  Pwf2 n psia  2 n .. umumnya berharga antara 0.5-1. Mscfd/psia2 n = bilangan eksponen.9) akan menghasilkan hubungan yang linier.penentuan dari deliverability ini sudah dikenal persamaan empiris yang selaras dengan hasil pengamatan.5).Pembuatan grafik dengan sistem koordinat log-log berdasarkan Persamaan (3.. log qsc = log C + n log P2 ………………………………………... dan bila faktor inersia. psia Pwf = tekanan alir dasar sumur. psia Harga n ini mencerminkan derajat pengaruh faktor inersia turbulensi atas aliran...……..11) Harga C dapat dilihat/dicari yaitu berdasarkan titik perpotongan grafik dan satuannya dapat dinyatakan dalam : q sc  setabil MM SCF / hari C ………………………………… (3...…………………. qsc = C(PR2 ... merupakan inverse slope dari garis kurva deliverability yang setabil dan mencerminkan derajat pengaruh faktor inersia-turbulensi terhadap aliran. Untuk aliran yang laminer akan memberikan harga n sama dengan 1..Pwf2)n ………..(3.……………………….

3. Harga n diperoleh dari sudut kemiringan grafik dengan sumbu tegak (p2). Pierce dan Rawlins (1929) merupakan orang pertama yang mengusulkan suatu metode tes sumur gas untuk mengetahui kemampuan sumur berproduksi dengan memberikan tekanan balik . psia2 Gambar 3. Besar potensial ini diperoleh. Satuan ukuran lainnya digunakan dalam analisa “deliverability” adalah “absolut open flow potensial” (AOF).Grafik Deliverability 3. AOF = C (PR2)n ……………………………………… (3.1 Back Pressure Test Back Pressure Test Back pressure adalah suatu metode pengujian sumur gas dengan memberikan tekanan balik (back pressure) yang berbeda-beda dan digunakan untuk mengetahui kemampuan sumur tersebut berproduksi. bila kedalam Persamaan (3-31) dimasukkan harga pwf sama dengan nol.13) (PR2-Pwf2) x 10-3.7.

Analisa data untuk keperluan pembuatan grafik deliveribility didasarkan kepada metode konvensional atau LIT. Untuk ini disiapkan tabulasi perhitungan sebagai berikut: Tabel 3-2. w1)  w2 (  R. Pelaksanaan dari tes yang konvensional ini dimulai dengan jalan menutup sumur. Analisa deliverability didasarkan pada kondisi aliran yang stabil. Untuk keperluan ini diambil tekanan alir di dasar sumur.8). Pwf pada akhir dari periode suatu laju produksi. Pengolahan Data untuk Analisa Delaveribility Analisa Konvensional : qsc P P2 0 PR - q1 Pwf1 (PR2-Pwf12) q2 Pwf2 (PR2-Pwf22) q3 Pwf3 (PR2-Pwf32) q4 Pwf4 (PR2-Pwf42) Σq Analisa LIT    qsc2 q sc R  w1 (  R. sebelum diganti dengan laju produksi lainnya. Gambar skematis dari proses “back pressure test” diperlihatkan pada gambar (3.(back pressure) yang berbeda-beda. Serlanjutnya sumur diproduksi dengan laju sebesar qsc sehingga aliran mencapai stabil. w2) . dari mana ditentukan harga PR. Setiap perubahan laju produksi tidak didahului dengan penutupan sumur.

Waktu untuk mencapai kestabilan ini dapat diperkirakan berdasarkan waktu mulai berlakunya aliran semi mantap. .8. w3)  w4 (  R. w4)   w   q q 2 sc Gambar 3.  w3 (  R. Diagram Laju Produksi dan Tekanan Dari Back Pressure Test Kemudian dibuat grafik untuk hubungan : Konvensional : log P2 vs log qsc LIT : log (  . Makin lama waktu yang diperlukan untuk mencapai kondisi stabil ini.b qsc2) vs log qsc Lama waktu pencapaian kondisi stabil dipengaruhi oleh permeabilitas batuan.

25 reD ……………………………………………………(3. akan diperlukan waktu yang cukup lama untuk mencapai kondisi yang setabil.637 x 10-4 ……………………………………… (3. Back Pressure test hanya dapat memberikan hasil yang baik bila dilangsungkan pada reservoir dengan permeabilitas tinggi.14) Berdasarkan definisi tD.3. Ia mengusulkan laju yang berbeda tetapi dengan selang waktu yang sama. ts adalah 2   C re 2 C re C re 2 t s  948 t s  948  1000 …………. bahwa jari-jari daerah penyerapan yang efektif (efektive drainage radius).15)  C rw 2 maka harga waktu mencapai kondisi stabil.16) k k k PR dimana : 1 C PR  = viscositas pada P R   vis cos itas pada PR 3. Sedangkan untuk reservoir dengan permeabilitas rendah. seperti pada kondisi aliran yang stabil. akan memberikan grafik log P2 vs log qsc yang linier dengan harga eksponen n yang sama. (3. bila untuk masing-masing harga laju produksi yang direncanakan membutuhkan waktu stabilisasi yang lama. tD = 0. sehingga apabila uji dilakukan pada sumur yang . rd adalah fungsi dari tD dan tidak dipengaruhi oleh laju produksi. Untuk mengatasi hal ini Cullender (1955) mengusulkan suatu cara tes berdasarkan anggapan. yaitu : kt tD = 2.2 Isochronal Test Penyelesaian test “back pressure” akan membutuhkan waktu yang lama.

Ia mengusulkan laju yang berbeda tetapi dengan selang waktu yang sama.9.belum mempunyai fasilitas produksi. sumur dialirkan sampai mencapai keadaan stabil. maka Cullender mengembangkan isochronal test guna memperoleh harga deliverability pada sumur dengan permeabilitas rendah yang memerlukan waktu yang lama untuk mencapai kondisi setabil. seperti pada kondisi aliran yang stabil Tes ini terdiri dari serangkaian proses penutupan sumur sampai mencapai stabil. kecuali pengaliran yang terakhir. rd adalah fungsi dari tD dan tidak dipengaruhi oleh laju produksi. . Setiap perubahan laju produksi didahului oleh penutupan sumur sampai tekanan mencapai stabil. bukanya selang waktu yang sama panjang. PR. Pada periode pengaliran terakhir. Cullender juga mengusulkan suatu cara tes berdasarkan anggapan. yang diusulkan dengan pembukaan sumur. 2. sehingga menghasilkan laju produksi tertentu selama jangka waktu t. akan memberikan grafik log P2 vs log qsc yang linier dengan harga eksponen n yang sama. 3. PR. tetapi hal ini tidak mutlak.9. jumlah gas yang dibakar cukup besar. yaitu : 1. berlangsung dalam selang waktu yang sama. bahwa jari-jari daerah penyerapan yang efektif (efektive drainage radius). Pada Gambar 3. ditunjukkan beberapa hal penting yang berkaitan dengan urutan uji isochronal. Waktu alir. Bertolak dari kelemahan Back Pressure Test. Periode penutupan berlangsung sampai P = P R . tanpa menanti kondisi stabil. Diagram laju produksi dan tekanan di dasar sumur dapat dilihat pada Gambar 3.

waktu aliran dan waktu penutupan sumur dibuat sama besar. keadaan ini terjadi pada aliran transien.9. Perbedaan metode ini dengan metode terletak pada persyaratan bahwa penutupan sumur tidak perlu mencapai stabil. tes ini terdiri dari beberapa laju aliran yang berbeda.3 Modified Isochronal Pada reservoir yang ketat penggunaan tes isochronal belum tentu menguntungkan bila diinginkan penutupan sumur sampai mencapai keadaan stabil. Gambar 3. kemudian . Sesuai dengan prinsip dasar diatas. Selain dari pada itu selang waktu penutupan dan pembukaan sumur dibuat sama besar. Katz dkk (1959) telah mengusulkan suatu metode untuk memperoleh hasil yang mendekati hasil tes isochronal. biasanya terdapat empat laju aliran yang berbeda. Diagram Laju Produksi dan Tekanan Dari Isochronal Test 3. setiap laju aliran dalam waktu tertentu disertai dengan penutupan sumur dalam waktu tertentu pula.3.

Gambar 3.sebelum tes ini berakhir terdapat periode perpanjangan aliran.1. yang diharapkan mencapai stabilnya aliran.10. sedangkan kemampuan reservoir ini untuk memproduksikan gas sangat tergantung pada tingkat kinerja aliran (ipr) dan tekanan alir dasar sumur.4 Gas Well Performance Kemampuan gas untuk dapat diproduksikan kepermukaan tergantung pada tekanan alir dasar sumur (Pwf). Diagram Tekanan Dan Laju Produksi Selama Tes Modified Isochronal 3. demikian pula tekanan yang dicapai pada saat penutupan Pws digunakan sebagai pengganti tekanan rata-rata pada isochronal tes. . Tekanan alir dasar sumur tergantung pada tekanan separator dan system pemipaan. Hal ini dapat dilihat pada gambar 8.

18) Dimana : Psep = tekanan separator ΔPfl = kehilangan tekanan di pipa ΔPch = kehilangan tekanan di choke permukaan ΔPtub = kehilangan tekanan di tubing ΔPrts = kehilangan tekanan di tempat lainnya seperti Subsurface Safety Valve (SSSV). Skematik produksi gas Berdasarkan hal tersebut dapat dituliskan persamaan sebagai berikut : q = PR2 – Pwf2 ……………………………………… (3. Gambar 3.11. .17) dimana harga Pwf dapat ditentukan dengan : Pwf = Psep + ΔPfl + ΔPch + ΔPtub + ΔPrts ………………(3. valve dan fitting. dll.

3. Dalam kasus aliran steady-state. menghitung keadaan statis (atau shut-in) jumlah tekanan untuk mengevaluasi perbedaan tekananan sama dengan berat kolom gas.2. 3. Persamaan ini dihasilkan dari asumsi yang berbeda yang digunakan dalam mengintegrasikan persamaan energi mekanik. tekanan dan temperature permukaan. Dalam menentukan deliverability keseluruhan sumur.12 Aliran dalam pipa . Pada kasus sumur yang mengalir. temperatur formasi dan kedalaman sumur). Hal ini sering tidak praktis atau terlalu mahal untuk mengukur tekanan statis atau tekanan alir dasar sumur. Dengan cara mengukur tekanan dengan alat pengukur tekanan dasar lubang.4. Namun. berat dan efek gesekan kolom gas harus dievaluasi dan disimpulkan. maka perlu untuk menghitung semua parameter dan penurunan tekanan. keseimbangan energi ini dapat dinyatakan sebagai berikut (Gambar 8.1 Dasar Persamaan Energi Banyak persamaan telah dikembangkan untuk aliran gas melalui pipa.4.1 Tekanan Static Dan Alir Dasar Sumur Tekanan statis atau tekanan alir di formasi harus diketahui untuk memprediksi produktivitas atau potensi aliran sumur gas. pada kenyataannya banyak yang hanya menggunakan data yang ada di kepala sumur (specific gravity.1.): Gambar 3.

ft (untuk vertical L = H) du/2αgc = Kehilangan tekanan akibat efek energy kinetic fu2 dL/2gcD = Kehilangan tekanan akibat faktor gesekan Ws = kerja mekanik dilakukan pada atau dengan gas Istilah dari kedua persamaan 8. Psia u = Kecepatan fluida rata-rata.4 digunakan untuk menentukan nilai energi kinetik. ft f = Faktor gesekan D = Diameter dalam pipa. Nilai ini biasanya diabaikan dalam perhitungan aliran pipa.5 untuk laminardan 1. lbm/cu ft p = Tekanan. Bentuk tereduksi dari persamaan energi mekanik dapat ditulis sebagai berikut : 144 g fu 2 dL dp  dZ   0 ……………………………………… (3. ft/sec α = Faktor koreksi (α berkisar 0.0 untuk turbulen) H = Jarak dalam arah vertical.ft L = Panjang string aliran.3 atau 8.21)  gc 2g c D Atau : 2 2 2 g dp 1 144   dZ   fu 2 dL  0 …………………………………(3. u du g dZ fu 2 144 v dp    dL  Ws  0 …………………………(3. cu ft/lbm ρ = Densitas fluida .20) Dimana : v = Volume spesifik fluida.22) 1  g c 1 2g c D 1 .19) 2g c gc 2g c D Atau : u du g dH fu 2 144  dp   dL  Ws  0  2g c gc 2g c D ……………………………(3.

lbf/sq in(Psi) z = faktor deviasi gas R = konstanta gas.23) zRT Kecepatan laju gas ug pada penampang pipa vertikal dapat didefinisikan sebagai : 4m 4mzRT ug   ……………………………………… (3. P = tekanan. 0R µg = kecepatan gas.732 cu ftpsia/lb-mole 0R T = temperatur absolut.24) D  g D (28.97  g dL 2 0. ft/sec m = laju aliran massa. lbm/sec D = diameter dalam tubing. lbm/cu ft 28.23) dan (3.01875  g dL ……………………(3.97 = berat molekul udara γg = SG gas dikeadaan standar.97 g p g  ……………………………………… (3.Densitas gas pada satu titik pipa vertical pada tekanan P dan temperature T adalah sebagai berikut: 28. ft Kombinasi persamaan (3.24) dengan menggunakan satuan perminyakan maka.97) g p 2 2 Dimana : ρg = densitas gas. persamaan aliran vertikal menjadi : z dp 2 p 1 28.732(144) T 1   T 1 5 2 D p Dengan asumsi temperature rata-rata konstan dalam persamaan di atas menjadi : .25) 1 667 fq 2 T 2 z 2 1 10. 10. (3.22).

yang mengasumsikan faktor deviasi gas sebagai fungsi dari temperatur dan tekanan. Dengan demikian. yang mengakibatkan beberapa persamaan akhir memiliki perbedaan akurasi.13 menggambarkan kondisi di tubing atau casing dari sumur gas yang tidak mengalir. seperti mengganti nilai rata- rata z dan/atau T. .4.26) dengan asumsi deviasi faktor gas konstan untuk seluruh kolom aliran pada kondisi rata-rata diasumsikan temperatur dan tekanan. Keadaan temperature tidak membentuk garis lurus dengan sempurna hal ini terjadi karena sirkulasi dalam sumur cenderung lebih tinggi daripada yang ditunjukkan oleh garis lurus yang menghubungkan suhu permukaan dan reservoir.2 Tekanan Statis Dasar Sumur Estimasi tekanan statis dasar sumur dari pengukuran permukaan hanya melibatkan tekanan yang diberikan oleh berat kolom fluida statis. Sukker & Cornell dan Poettman menggunakan persamaan asumsi suhu konstan pada rata-rata nilai tetapi faktor deviasi gas bervariasi sesuai dengan tekanan. Pendekatan yang lebih realistis dinyatakan oleh Cullender & Smith dan Crawford & Fancher.4. namun hal ini mengakibatkan kesalahan perhitungan setiap tingkatan kedalaman. p.26) tidak dapat dengan mudah diintegrasikan karena saling ketergantungan antara variabel z. berbagai peneliti telah membuat asumsi penyederhanaan yang berbeda. Meskipun asumsi ini cukup akurat untuk sumur yang relatif dangkal. dan T. Rzasa dan Katz dan Vitter menggunakan persamaan (3.25) dan (3.01875  g dL ………………………………………(3. Gambar 3. 3. z dp 2 p 0.26) 1 667 fq 2 T 2 z 2  T 1 D5p2 Persamaan (3. Keadaan temperature pada sumur gas yang ditutup dapat terlihat pada gambar 8. Pts adalah tekanan di permukaan dan Pws adalah tekanan bawah permukaan.

25) menjadi : 2 z dp 0.28) Jika diintegrasikan menjadi :  0.2.01875  g dL 2 1 p 1 T ………………………………………(3.01875  g H  Pws  Pts exp   ………………………………………(3.4.29)  zT  .01875  g dL z  pts p  0 T ………………………………………(3.13.27) dapat ditulis menjadi : pws z dp 0. Persamaan (3. Gambar 3.1 Metoda Temperatur Rata-Rata Dan Faktor Deviasi Metode temperature rata-rata dan deviasi gas sering digunakan karena kesederhanaannya.27) 3. Sumur dalam keadaan static Berdasarkan persamaan laju alir (q atau qwg) sama dengan nol maka persamaan (3.

2. jadi harus dilakukan cara iterasi denganmenganggap suatu harga Pws tertentu.31) Ppr1 1 Ppr 2 Dan pada keadaan static dimana harga B = 0 maka : Ppr 2 zd 0. psia γg = SG (udara=1) H = kedalaman dari surface. ft T = temperature rata-rata 0R z = nilai z berarti suhu dan tekanan pada perhitungan tekanan.01875  g H  Ppr Ppr1 dPpr  zT ………………………………………(3.32) Dimana : Ppr1 = tekanan pseudoreduced di kepala sumur Ppr2 = tekanan pseudoreduced di dasar sumur .4.2 Metode Sukkar dan Cornel Metoda ini merupakan metode paling mudah yang digunakan untuk memperkirakan tekanan dasar sumur. psia Pts = tekanan static kepala sumur. Berdasarkan persamaan (3. Karena z harus dievaluasi pada tekanan dan temperature rata-rata yangmelibatkan Pws.Dimana : Pws = tekanan static dasar sumur.30) 3. Metode ini lebih menguntungkan untuk meningkatkan akurasi dan memungkinkan perhitungan tekanana dasar sumur dengan metode trial-and-error.01875  g H Ppr 2  Bz 2  zT ………………………………………(3.5 10-5 H) ………………………………………(3.26) Sukkar dan Cornel mengubahnya menjadi : zdPpr / Ppr 0. Sebagai anggapan pertama dari Pws dapat digunakan persamaan berikut : Pws = Pts ( 1 + 2.

psia Pt = tekanan wellhead (tubing).000 psia.z = faktor deviasi gas pada keadaan T dan P bervariasi dalam string aliran 667 f q 2T 2 B = D 5 Ppc 2 Ppc = tekanan semi kritikaldari gas. psia Karena akurasi dan kesederhanaan.35) Tz Dimana : f = faktor gesekan Pw = tekanan dasar sumur. Cullender dan Smith mengubah satuan dari persamaan (3.25) dan mengatur kembali dalam bentuk berikut : p Pw dP 1000 g H …………………………(3. 3.4.2. psia γg = SG q = laju alir gas MMscfd .33)  Tz  2 Pt 2.3 Metode Cullender dan Smith Dimulai dengan pendekatan yang lebih realistis bahwa faktor deviasi gas merupakan fungsi dari temperatur dan tekanan.6665( f / 4)q 2 I  p    D 5 1000  Tz  Dan pada keadaan static menjadi : p I  1000 ………………………………………(3.6665( f / 4) q 2 I  p 53.34) 2 2. metode Sukkar dan Cornell direkomendasikan untuk digunakan pada sumur gas kondensat sumur dengan tekanan dari bawah lubang kurang dari 10.34    D 5 1000  Tz  p I Tz ………………………………(3.

3 Tekanan Alir Dasar Sumur Tekanan alir dasar sumur gas adalah jumlah dari tekanan kepala sumur padawaktu sumur memproduksikan gas.4.36) mungkin dipisahkan menjadi dua ekspresi. Dipilih kedalaman 0. 3. Metode ini merupakan metode yang paling akurat untuk menghitung tekanan dasar sumur. metode ini umumnya berlaku untuk sumur dangkal dan dalam. biasanya dihilangkan dalam perhitungan.01875  g H Pws  Pms  ………………………………………(3.01875  g H Pms  Pts  ………………………………………(3.1%) terjadi dibandingkan dengan energy lain. ft Persamaan (3. gas asam.T = temperature absolute. Untuk bagian atas menjadi : 0. .33) dapat diselesaikan dengan teknik numerik. Metode Cullender dan Smith tidak membuat asumsi penyederhanaan dari metode lain. inch H = kedalaman sumur. dan energy yang hilang akibat gesekan. Perubahan energi kinetik biasanya sangat kecil (sekitar 0. dan perhitungan digital. perubahan energi kinetik. Ims pada kedalaman H/2 dan Iws pada kedalaman H.39) Ims  Iws Dimana : Its dievaluasi pada kedalaman H=0.36) Persamaan (3. maka digunakan slusi berdasarkan aturan trapesium dan aturan simpson. tetapi karena ini memerlukan waktu yang lama. satu untuk setiap setengah dari string aliran. 0R z = faktor deviasi gas D = diameter dalam.38) Ims  Its Untuk bagian bawah : 0. tekanan yang diberikan oleh berat kolom. H / 2 dan H maka dapat dinyatakan : 2 I dP Pms  PtsIms  Its   Pws  PmsIws  Im s  ……(3.

0R f = Faktor gesekan moody pada T dan P perhitungan rata-rata z = faktor deviasi gas pada perhitungan T dan P perhitungan rata-rata 3.34 T T = temperature rata-rata dasar dan kepala sumur. Alirannya steady-state .43) s D5 Dimana: Pwf = tekanan alirdasar sumur.Persamaan (3. Dimana persamaan penentuan Pwf dengan metodaini yaitu : 25 g T z fL(exp s . Karena metode ini merupakan metode yang paling sederhana.4.1 Metoda Tekanan Dan Faktor Deviasi Metode ini tidak seakurat metode lain dalam perhitungan tekanan alir dasar sumur. 3.2 Metode Sukkar dan Cornel Pada dasarnya metode ini dapat diaplikasikan padajenis sumur vertikal.1) q 2 Pwf 2  Ptf 2 exp s  ………………………………(3. Dan merupakan persamaan yang dibuat untuk aliran fasa tunggal dan mengabaikan energy kinetiknya.00268 5   .41) g p D [p  Persamaan tersebut merupakan persamaan dasar yang digunakan untuk menghitung tekanan alir dasar sumur berdasarkan tekanan observasi dikepala sumur.25) menjadi : 2 53. Dengan sumsi sebagai berikut : 1.4.3.q dL ……………………………(3.42) s D5 Dan apabila faktor gesekan tidak diabaikan menjadi : 100 g T z fL(exp s . psia Ptf = tekanan alir di kepala sumur.1) q 2 Pwf 2  Ptf 2 exp s  …………………………………(3.34 Tz f  Tz  2 dp  dH  0.3. psia s = 2γg H/53.

Perubahan energi kinetik sangat kecil dan dapat diabaikan.34 2. Perubahan energikinetiknya kecil dan diabaikan 4. 2. Persamaan umum : p 1000  g Z Pwf ……………………………(3.rata Tres ln Tsurf 667 f q 2 T 2 B D 5 Ppc 2 cos  Dimana D dalam satuan inch: Cos θ = Z/L θ = sudut drift dari vertical 3.3 Metode Cullender Dan Simth Metoda ini menggunanakan asumsi : 1. Fasa tunggal 3.45)   Tz 2 53. Aliranya satu fasa 3. Gesekan konstan sepanjang saluran tersebut. Aliran steady-state 2.44) 53. jika : . 5. Temperaturnya konstan pada perhitungan rata-rata.34 T Ptf 1  B (z/Ppr) 2 Dimana : Tres  Tsurf T  log temperatu re rata .3. Persamaan integral yang dapat digunakan pada persamaan ini adalah sebagai berikut :  g L cos  Pwf z / Ppr   dPpr …………………………………(3.4.6665( f / 4) q2 1 Z p  Ptf   D 5 1000 L  Tz  Dimana D dalamsatuan inch.

Imf) ……………………………………(3. Untuk perhitungan dua langkah maka : 1000  g Z Pwf (Pmf .Pmf) (Iwf .Itf) ………………………………………(3.Ptf) (Imf – Itf) + (Pwf – Pmf) (Iwf – Imf) …………(3.46) D5 Kemudian : p 1000  g Z Pwf ………………………………………(3. 2.Ptf) (Imf .5  g  (Pmf .34 1 Z p F2  Ptf   1000 L  Tz  Namun.Ptf )( Imf .49) Dan nilai I dapat ditentukan dengan persamaan :  p    I  Tz  ………………………………………(3.50) 2 1 H  p  F  2   1000 L  Tz  Persamaan (3.Itf) (Pwf .48) 53.52) 2 Kemudian persamaan simpson : . Dimana untuk bagian atas dapat ditentukan dengan : H 37. evaluasi integral atas batas tertentu yang dapat dicapai dengan cara numerik.5  g Z = (Pmf .34   Ptf I dp  2  2 Dimana : 37.48) dapat dipisahkan menjadi dua bagian.Imf) ………(3.5  g  (Pwf .Pmf )( Iwf .51) 2 Dan untuk bagian bawah : H 37.47)   Tz 2 53.6665( f / 4) q 2 F2  ………………………………………(3. bagian atas string dan bawah.

Pmf .10796 q Fr q  F  D  4. . Jika nilai (chi square) kecil.54) D 2. membandingkan antara Frekuensi Observasi dengan Frekuensi Teoretis/Harapan.582 3.10337 q Fr q  F  D  4. mengarah pada penerimaan kepada hipotesa nol ( Ho).277 in ……………………………………(3.53) 3 Persamaan (3.56) D 2. antara lain: 1.1 Kegunaan dan Karakteristik Chi‐Square (X2) Uji Chi Square berguna untuk menguji hubungan atau pengaruh dua buah variabel nominal dan mengukur kuatnya hubungan antara variabel yang satu dengan variabel nominal lainnya (C = Coefisien of contingency).582 Dan 0.5. Apakah Frekuensi hasil Observasi menyimpang dari Frekuensi Harapan. Distribusi Chi‐Square Dipakai Dalam Pengujian Hipotesis.46) dapat disederhanakan menggunakan faktor gesekan Nikuradse untuk aliran turbulen berdasarkan kekasaran 0. berarti kedua frekuensi tersebut sangat dekat.00060 diberikan : 0. Frekuensi observasi  nilainya didapat dari hasil percobaan (o) Frekuensi harapan  nilainya dapat dihitung secara teoritis (e) 3.5 Uji Chi‐Square Uji Chi‐Square (X2) adalah pengujian hipotesis mengenai perbandingan antara frekuensi observasi yang benar-benar terjadi (aktual) dengan frekuensi harapan (ekspektasi).277 in ……………………………………(3.5  g Z  (Itf  4Imf  Iwf) ………………………………(3. Uji kecocokan (goodness of fit).Ptf 37.

Uji independensi : menguji apakah ada atau tak ada hubungan antara dua kategori suatu hasil observasi dari suatu populasi dengan kategori populasi lain. . . . . k (Oi  ei ) k ( fo  fe) X2    ……………………………………(3. - B Bi Ai1 Ai2 Aii Aik ni (ei1) (ei1) (eii) (eik) . . Disebut pula sebagai analisis tabel kontingensi. Derajat kebebasan bagi x2 adalah v = (r – 1)(k – 1) Bentuk umum table kontingensi : Klasifikasi Jumlah A1 A2 Ai Ak B1 A11 A12 A1i A1k n1 (e11) (e12) (e1i) (e1k) B2 A21 A22 A2i A2k n2 (e21) (e22) (e2i) (e2k) Klasifikasi . .57) i 1 ei i 1 fe Di mana : Oi = fo = Frekuensi Observasi Ei = fe = frekuensi Harapan / Teoretis V = Derajat kebebasan / Degrees of Freedom = k . Tabel kontingensi adalah tabel berbentuk mantrik ( r x k ). . r baris dan k kolom. - Bk Ak1 Ak2 Aki Akk nk (ek1) (ek1) (eki) (ekk) Jumlah n1 n2 ni nk n Dimana : .1 2. .

i)  (total kolom .j) frekuensi harapan sel (ij)  …………(3. 3. v) atau tolak H0 jika nilai hitung X2 < X2 tabel (α . Menentukan statistic uji yang cocok r k (O ij )  (e ij ) X2    ……………………………………(3. Menentukan taraf nyata dan derajat kebebasan serta menentukan daerah kritisnya.6 Productivity Index (PI) Productivity index (PI) adalah : Indeks kapasitas sumur yang menyatakan kemampuan utnuk berproduksi dari reservoir ke lubang sumur.60) j 1 i 1 e ij 4. Menghitung statistic uji 5. Untuk menetukan hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternative (H1) H0 : tidak ada hubungan antara kategori A dan kategori B H1 : ada hubungan antara ketegori A dan kategori B 2. Persamaan yang digunakan untuk menentukan PI diantaranya yaitu : J = PI q J= . Menarik kesimpulan Kriteria keputusan : Terima H0 jika nilai hitung X2 > X2 tabel (α . bbl / day / psi Ps  Pwf .n = n1 + n2 + ni + nk (total baris .58) total observasi (pengamata n) Atau dapat dinyatakan dengan : (n i )  (n j ) eij  ……………………………………(3. v) 3.59) n Prosedure pengujian : 1.

 Draw down. psi 3.  Sifat-sifat fisik fluida reservoir.5  PI tinggi : > 1.5  PI sedang : 0. 3.5 .1 Faktor PI Harga produktivitas indeks dipengaruhi oleh bebebrapa factor. Dimana : q = laju produksi. yaitu :  PI rendah : < 0.5 sampai 1. dan  Mekanisme pendorong reservoir.  Ketebalan lapisan formasi.6. bbl/day Ps = tekanan statik .2 Batasan PI : Harga produktivitas indeks dibagi menjadi tiga. psi Pwf = tekanan alir dasar sumur.6. berikut factor - faktor yang mempengaruhi harga PI :  Sifat-sifat fisik batuan reservoir.