You are on page 1of 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Millenium Development Goals (MDGs) atau Sasaran Pembangunan
Milenium merupakan upaya pemenuhan hak-hak dasar kebutuhan manusia
melalui komitmen bersama 189 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) dalam melaksanakan 8 sasaran atau tujuan pembangunan. Adapun
salah satu di antaranya adalah sasaran ke 4 yaitu “Menurunkan angka
kematian anak balita”. Targetnya adalah menurunkan angka kematian balita
sebesar 2/3, antara tahun 1990 dan 2015. Jumlah angka kematian bayi (AKB)
saat ini belum sesuai dengan target Millenium Development Goals (MDGs)
yaitu sebesar 23/1000 kelahiran hidup. Tingginya angka kematian bayi
(AKB) pada masa perinatal dan neonatal, salah satunya disebabkan oleh bayi
dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Kematian perinatal pada bayi
BBLR 8 kali lebih besar daripada bayi lahir dengan berat badan lahir normal.
Menurut “SDKI Tahun 2007, angka kematian neonatal (AKN) terjadi
19/1000 kelahiran hidup. Di mana dalam 1tahun sekitar 86.000 bayi dalam
usia 1tahun meninggal dunia”. (Depkes RI, 2012).
World Health Organization (WHO) mendefinisikan Berat Badan Lahir
Rendah (BBLR) sebagai bayi yang terlahir dengan berat kurang dari
2500gram. BBLR masih terus menjadi masalah kesehatan masyarakat yang
signifikan secara global karena efek jangka pendek maupun panjangnya
terhadap kesehatan (WHO (2014). Sebagian besar bayi dengan BBLR
dilahirkan di negara berkembang termasuk Indonesia, khususnya di daerah
yang populasinya rentan (WHO, 2014). BBLR bukan hanya penyebab utama
kematian prenatal dan penyebab kesakitan. Studi terbaru menemukan bahwa
BBLR juga meningkatkan risiko untuk penyakit tidak menular seperti
diabetes dan kardiovaskuler di kemudian hari (WHO, 2014). Begitu seriusnya
perhatian dunia terhadap permasalahan ini hingga World Health Assembly
pada tahun 2012 mengesahkan Comprehensive Implementation Plan on

Maternal, Infant and Young Child Nutrition dengan menargetkan 30%
penurunan BBLR pada tahun 2025 (WHO,2014).
Data Riskesdas tahun 2013 menunjukan bahwa prevalensi BBLR di
Indonesia sebesar 10,2%, walaupun lebih rendah dari pada tahun 2010 yaitu
sebesar 11,1% namun penurunan dan perubahannya tidak begitu signifikan.
Jawa Barat menjadi salah satu provinsi yang berkontribusi besar terhadap
tingginya Angka Kematian Bayi di Indonesia. Berdasarkan data dari Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Barat pada tahun 2013, Angka Kematian Bayi
(AKB) sebesar 1,3 juta per tahun. (Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat
2013).
Data dari Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya 2013, angka kematian
bayi masih tinggi. Penyebab utama kematian bayi, faktor ekonomi
masyarakat, kurangnya mutu dan gizi kesehatan ibu mengakibatkan Ibu
maupun bayi kurang gizi, berat badan lahir rendah (BBLR) dan penyumbatan
saluran napas hingga infeksi (Afiksia). Angka kematian bayi dalam
kandungan dan saat dilahirkan di Kota Tasikmalaya mencapai 147 kasus per
tahun. Dari 147 kasus, 98 kematian bayi dalam kandungan dan 49 pada
proses melahirkan. Berdasarkan data dari Puskesmas Cibeureum tahun 2016,
angka kejadian BBLR sebanyak 27 orang dengan cakupan 27%.

B. Rumusan Masalah
1. Rumusan Masalah Umum
Adakah hubungan antara pengetahuan gizi, pola makan, dan
anemia pada ibu hamil dengan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di
wilayah kerja Puskesmas Cibeureum Kota Tasikmalaya ?
2. Rumusan Masalah Khusus
a. Adakah hubungan antara pengetahuan gizi pada ibu hamil dengan
BBLR di wilayah kerja Puskesmas Cibeureum Kota Tasikmalaya ?
b. Adakah hubungan antara pola makan pada ibu hamil dengan BBLR di
wilayah kerja Puskesmas Cibeureum Kota Tasikmalaya ?

Lingkup Metode Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode observasional analitik melalui pendekatan cross sectional dan pendekatan retrospektif. Untuk mengetahui hubungan antara pola makan ibu hamil dengan BBLR di wilayah kerja Puskesmas Cibeureum Kota Tasikmalaya. Lingkup Masalah Lingkup masalah yang diambil dalam penelitian ini dibatasi pada pengetahuan gizi. Tujuan Khusus a. c. Untuk mengetahui hubungan antara pola makan ibu hamil dengan BBLR di wilayah kerja Puskesmas Cibeureum Kota Tasikmalaya. b. 2. dan anemia pada ibu hamil dengan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di wilayah kerja Puskesmas Cibeureum Kota Tasikmalaya. 4. Lingkup Keilmuan Penelitian ini termasuk penelitian dalam bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat khususnya dalam bidang epidemiologi kesehatan masyarakat. Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan gizi. 2. pola makan. pola makan dan anemia pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Cibeureum Kota Tasikmalaya. Tujuan Penelitian 1. Adakah hubungan antara anemia pada ibu hamil dengan BBLR di wilayah kerja Puskesmas Cibeureum Kota Tasikmalaya ? C. Lingkup Sasaran . c. Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan gizi pada ibu hamil dengan BBLR di wilayah kerja Puskesmas Cibeureum Kota Tasikmalaya. 3. Ruang Lingkup Penelitian 1. D.

3. Bagi peneliti Sebagai pengalaman yang sangat berharga bagi peneliti sekaligus menambah wawasan dan sarana pengaplikasian teori dan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan 2. . Lingkup Waktu Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2017 E. Instansi Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan bagi pengambil keputusan untuk perbaikan program mengenai BBLR agar dapat menurunkan angka kejadian BBLR diwilayah kerja Puskesmas Cibeureum. Lingkup Tempat Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Cibeureum Kota Tasikmalaya. Sasaran dalam penelitian ini adalah ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas Cibeureum Kota Tasikmalaya 5. Manfaat Penelitian 1. 6. Masyarakat Sebagai sarana untuk dapat menambah wawasan tentang kesehatan reproduksi. sehingga remaja bisa berprilaku sehat dan dapat mengatasi masalah kesehatan reproduksi dengan tepat.

BBLR merupakan salah satu masalah kesehatan yang saat ini masih menjadi perhatian petugas kesehatan. angka kematian bayi masih tinggi. Tabel 2. Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tasikmalaya.1 Kematian Neonatal (0-28 hari) Januari s/d Desember 2016 Puskesmas Cibeureum Tahun 2016 Jenis Tempat Penyebab No Kelurahan Umur (hari) Kelamin Kematian Kematian RSUD dr Afiksia 1 Awipari 6 jam P Sorkardjo Berat RSUD dr 2 Ciakar 8 jam L Anenchepal Sorkardjo RSUD dr 3 Ciherang 13 hari P BBLSR Sorkardjo RSUD dr 4 Ciherang 13 hari P BBLSR Sorkardjo RSUD dr 5 Ciherang 3 hari L BBLSR Sorkardjo RSUD dr Asfiksia 6 Ciherang 20 menit L Sorkardjo Berat 23 jam 50 RSUD dr Asfiksia 7 Kersanegara L menit Sorkardjo Berat RSUD dr 8 Setianegara 1 hari P BBLR Sorkardjo RSUD dr Aspirasi 9 Setianegar 16 hari P Sorkardjo Pneumonia 10 Setianegara 16 hari L RSHS Omfalocele . BAB II HASIL PENGAMATAN A. Data Sekunder Hasil Pengamatan Data sekunder diperoleh dari profil kesehatan Puskesmas Cibeureum Kota Tasikmalaya tahun 2016. Berdasarkan data yang diperoleh. Berikut data BBLR di wilayah kerja Puskesmas Cibeureum kota Tasikmalaya. Pengambilan data dilakukan pada minggu kedua bulan September 2017.

2003 dalam Agustini. Pengertian Bayi berat lahir rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram. BBLR Laki-laki 18 (3%) dan Perempuan (1. Grafik 2.6%).1 Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Menurut Jenis Kelamin di Puskesmas Cibeureum Tahun 2016 1400 1170 1170 1200 1000 800 609 561 561 600 400 200 9 27 0 Jumlah Lahir Hidup BBL Ditimbang BBLR L 609 609 18 P 561 561 9 L+P 1170 1170 27 Berdasarkan Tabel diatas Berat Badan Bayi Lahir Rendah sebanyak 27 orang dengan cakupan 27%. yaitu bayi berat lahir rendah karena premature (usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau bayi berat lahir rendah karena intrauterine growth retardation (IUGR) yaitu bayi cukup bulan tetapi berat badan kurang untuk usianya (Depkes RI. . Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) a. Kajian Teori dan Riview Jurnal 1. N. B. Bayi berat lahir rendah (BBLR) dibedakan dalam dua kategori. 2008).

4) Bayi dengan berat lahir ekstrem rendah (BBLER). Kurang gizi pada saat hamil apabila tidak mendapatkan penanganan dengan baik secara intensif akan mengakibatkan anemia. 2008) : 1) Bayi dengan berat badan normal. yaitu > 2500 gram. Oleh sebab itu pada saat hamil ibu dianjurkan untuk mengkonsumsi tablet zat besi (Depkes RI. yaitu antara 1500 gram-2500 gram. Kebanyakan ibu hamil mengalami anemia gizi. Usia reproduksi optimal bagi seorang ibu adalah antara umur 20-35 tahun. 3) Bayi dengan berat badan sangat rendah (BBLSR). 2002 dalam Agustini. c. 2003b dalam Agustini. N. dimana berat lahirnya adalah < 1500 gram. anemia. dimana berat lahirnya adalah < 1000 gram.b. 2008). Umur ibu kurang dari 20 tahun menunjukkan rahim dan panggul ibu belum berkembang secara sempurna karena wanita pada usia ini masih dalam masa pertumbuhan sehingga panggul dan rahim masih kecil. N. Klasifikasi BBLR Klasifikasi berat badan bayi baru lahir dapat dibedakan atas (Prawirohardjo. 2) Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). DM. Usia diatas 35 tahun cenderung mengakibatkan timbulnya masalah-masalah kesehatan seperti hipertensi. dibawah atau diatas usia tersebut akan meningkatkan risiko kehamilan dan persalinannya. Faktor-faktor BBLR Ada beberapa faktor-faktor yang dapat menyebabkan bayi berat lahir rendah yaitu : 1) Faktor Ibu a) Gizi saat hamil yang kurang (anemia). b) Umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun. TB paru dan dapat menimbulkan persalinan lama dan perdarahan .

2003b dalam Agustini. e) Faktor Sosial Ekonomi. . Faktor risiko lain pada ibu hamil adalah riwayat penyakit yang diderita ibu. jantung dan asma. pada saat persalinan serta risiko terjadinya cacat bawaan pada janin (Hartanto. malaria). 2008). 2008). b) Hamil ganda. yaitu keadaan dimana cairan ketuban melebihi dari normal. c) Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat. 2) Faktor Kehamilan a) Hamil dengan hidramnion. Dengan keterbatasan status sosial ekonomi akan berpengaruh terhadap keterbatasan dalam mendapatkan pelayanan antenatal yang adekuat. 2008). pendidikan anak lebih rendah dan nutrisi kurang (Depkes RI. Banyaknya anak yang dilahirkan seorang ibu akan mempengaruhi kesehatan ibu dan merupakan faktor risiko terjadinya BBLR. tumbuh kembang bayi lebih lambat. yaitu perdarahan yang terjadi pada masa hamil. TB paru dan malaria (Rochjati. penyakit kronis (TBC. c) Perdarahan ante partum. N. Adapun penyakit yang diderita ibu yang berpengaruh terhadap kehamilan dan persalinannya adalah penyakit yang bersifat kronis seperti hipertensi. N. N. N. anemia. 2008). 2003 dalam Agustini. yaitu kehamilan dimana jumlah janin yang dikandung lebih dari satu. sementara itu. ibu hamil yang bekerja cenderung cepat lelah sebab aktifitas fisiknya meningkat karena memiliki tambahan pekerjaan/kegiatan diluar rumah (Depkes RI. d) Penyakit menahun ibu seperti gangguan pembuluh darah. perokok. pemenuhan gizi. 2003b dalam Agustini. 2004 dalam Agustini. cacat congenital.

1998 dalam Agustini. pre-eklampsia/eklampsia yaitu kondisi ibu hamil dengan tekanan darah meningkat keadaan ini sangat mengancam jiwa ibu dan bayi yang dikandung. Ibu harus memiliki pengetahuan tentang gizi baik diperoleh melalui pendidikan formal. 4) Faktor yang belum diketahui 5) Faktor obat-obatan seperti ibu hamil yang keracunan obat (Manuaba. Seseorang yang memiliki pengetahuan yang baik tentang sesuatu hal. 3) Faktor Janin a) Cacat bawaan. 2008). ketuban pecah dini. Wanita khususnya ibu sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap konsumsi makanan bagi dirinya dan keluarga. Pengetahuan tentang gizi sangat diperlukan agar dapat mengatasi masalah-masalah yang timbul akibat konsumsi gizi. N. Pengetahuan Ibu Hamil Pengetahuan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Pengetahuan tentang gizi akan membantu dalam mencari berbagai alternatif pemecahan masalah kondisi gizi keluarga. Seperti ibu yang menderita HIV/AIDS sangat rentan mengakibatkan infeksi dalam rahim. maupun non formal. yaitu keadaan janin yang cacat sabagai akibat pertumbuhan janin didalam kandungan tidak sempurna. Ketuban pecah dini adalah kondisi dimana air ketuban keluar sebelum waktunya dan biasanya faktor penyebab paling sering adalah terjainya benturan pada kandungan. Menurut Berg (1986) . 2008). 2. 2005). maka akan lebih cenderung mengambil keputusan yang lebih tepat berkaitan dengan masalah tersebut dibandingkan dengan yang berpengetahuan rendah (Simarmata. yaitu janin mengalami infeksi sebagai akibat penyakit yang diderita ibu. Pengetahuan adalah hasil tahu yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoadmojo. b) Infeksi dalam rahim. d) Komplikasi hamil: pre-eklampsia/eklampsia.

Hal ini terlebih lagi kalau seorang ibu tersebut memasuki masa ngidam. Pengetahuan yang dimiliki seorang ibu akan mempengaruhi dalam pengambilan keputusan dan juga berpengaruh pada perilakunya. Menurut Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI. Kebutuhan gizi ibu hamil tidak hanya . makin baik mutu makanannya. kekurangan zat gizi pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh zat gizi dari makanan lainnya. Perencanaan penyusunan makanan bergizi untuk ibu hamil. 2000 2006 dalam Hidayanti. dimana perut tidak mau diisi. dalam Simarmata. 2009 dalam Muazizah dkk. dan trimester III dan harus cukup jumlah dan mutunya dan harus dipenuhi dari kebutuhan makan sehari-hari sehingga janin yang dikandungnya dapat tumbuh dengan baik serta tidak mengalami gangguan dan masalah (Almatsier. F. Gizi pada Ibu Hamil Gizi ibu hamil adalah makanan atau zat-zat gizi (mikro dan makro) yang dibutuhkan oleh seorang ibu yang sedang hamil baik pada trimester I. 2009. 2011). Makanan yang beranekaragam memberikan manfaat yang besar terhadap kesehatan ibu hamil karena makin beragam yang dikonsumsi. kebutuhan gizi ibu hamil dapat terpenuhi apabila ibu mengkonsumsi makanan yang beranekaragam. dengan mengkonsumsi makanan yang beranekaragam. 3. trimester II. F. dan rasa tidak karuan. pengetahuan yang tidak memadai adalah karena tidak adanya informasi yang memadai. 2011). Walaupun dengan kondisi demikian jika seseorang memiliki pengatahuan yang baik maka ia akan berupaya untuk memenuhi kebutuhan gizinya dan juga bayinya (Proverawati. Asfuah. Ibu dengan gizi yang baik. 2008. hal tersebut juga dipengaruhi oleh kemampuan keluarga untuk membeli makanan atau pengetahuan keluarga tentang gizi. 2011. pengetahuan zat gizi dalam makanan berperan penting. 2006 dalam Hidayanti. mual. Masalah gizi akan bisa diatasi bila seseorang tahu bagaimana seharusnya memanfaatkan segala sumber yang dimiliki. kemungkinan akan memberikan gizi yang cukup bagi bayinya.

untuk mencukupi kebutuhan gizi ibu hamil saja. Kebutuhan Energi Kebutuhan energi pada waktu ibu hamil adalah sekitar 300-500 kkal lebih banyak dari makanan yang dimakan ibu setiap hari. Protein Kebutuhan protein meningkat selama hamil guna memenuhi asam amino untuk perkembangan janin. 2009 dalam Muazizah dkk.000 kalori sisanya untuk pembuatan jaringan baru. melainkan juga untuk pertumbuhan dan kesehatan janin yang dikandungnya. Adapun kebutuhan gizi ibu hamil adalah sebagai berikut: a. Kebutuhan protein pada ibu hamil adalah 30 gram lebih banyak dibandingkan kondisi ibu sebelum hamil (Proverawati dan Asfuah. R. dan zat patinya (Nasidul. b. terutama pada hemoglobin dan plasma darah. Selain itu protein digunakan untuk penambahan unsur-unsur di dalam darah. dan kacang.5 kg untuk menambah berat badan sebanyak itu. Berat badan ibu akan bertambah sampai 12. Hampir sekitar 70% protein digunakan untuk pertumbuhan janin. mammae.000 kalori untuk pembakaran tubuh. Protein digunakan untuk menambah jaringan tubuh ibu. 2016).000 kalori dalam jumlah tersebut. dan uterus. Kedua unsur ini penting untuk menunjang kehamilan dalam kebutuhan zat asam dan meningkatkan aliran darah (Nadisul. R. serta jaringan uterus. 36. Kebutuhan protein hewani lebih besar daripada protein nabati. 2011). Dalam tambahan 300 kalori tersebut harus ada protein. Ikan. Ibu hamil membutuhkan protein yang lebih banyak dari biasanya. 44. paling sedikit 60 gram/hari. lemak. dan telur perlu lebih banyak dikonsumsi dibandingkan dengan tahu. tempe. 2007 dalam Arifin. oleh karena itu kebutuhan gizi ibu hamil lebih banyak jika dibandingkan dengan ibu yang tidak hamil. . susu. daging. dibutuhkan kalori berkisar 80. penambahan volume darah dan pertumbuhan mammae ibu. 2007 dalam Arifin. 2016).

Asam folat berperan sebagai pembawa karbon tunggal dalam pembentukan hem. 2008) 2) Vitamin B Vitamin B komplek mengandung: Vitamin B1 (anevrin). Vitamin B2 (Riblovlavin). 2016). R. dan asam folik (Almatsier. Kebutuhan folicin selama hamil antara 400 gram-800 gram/hari. dan jaringan saraf (Almatsier. . 2008 dalam Arifin. Vitamin B12 (Cynocobalamine). sumsum tulang. Asam folat dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah dan sel darah putih dalam sumsum tulang dan untuk pendewasaannya. Adapun macam-macam vitamin yaitu: 1) Vitamin A Vitamin A penting untuk pertumbuhan tulang dan gigi serta meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi dan juga diperlukan untuk pemeliharaan jaringan mata (Musbikin. Gejala klinis yang terjadi pada defisiensi acid biasanya pertama- tama akan terlihat pada jaringan yaitu anemia. Vitamin B6 (Peridoksin). Folic acid memelihara pertumbuhan janin dan mencegah terjadinya anemia macroytic megaloblastic selama masa kehamilan. 2011 dalam Arifin. 3) Acid folad atau faladin Vitamin yang berfungsi sebagai coenzyme dalam sintesa DNA. R. Vitamin diperlukan untuk membantu metabolisme karbohidrat dan protein. Vitamin Kebutuhan vitamin umumnya meningkat selama masa kehamilan.c. Vitamin B12 diperlukan untuk mengubah folat menjadi bentuk aktif dan dalam fungsi normal metabolisme semua sel. terutama sel-sel saluran cerna. 2016). Asam folat berperan sebagai koenzym dalam transportasi pecahan- pecahan karbon tunggal dalam metabolisme asam amino dan sintesis asam nukleat.

Seorang ibu hamil membutuhkan zat kapur tambahan 400 mg. 4. pada masa ini kebutuhan zat besi tidak dapat diandalkan dari menu sehari-hari saja. protein. Setiap hari ibu hamil membutuhkan tambahan zat besi sekitar 100-800 mg. Trimester 2 dan 3. Mineral 1) Zat kapur Zat kapur sangat penting untuk pertumbuhan tulang anak. 3) Zat besi Sel darah merah ibu bertambah hingga 30% berarti tubuhnya memerlukan tambahan zat besi. Untuk pengganti nasi dapat digunakan jagung. 2013). dan makanan laut (Fitria. kacang- kacangan. keju. vitamin dan mineral. I. Untuk pengganti protein hewani dapat digunakan daging. 2) Fosfor Mineral ini cukup diperoleh dari makanan sehari-hari. lemak. ubi jalar dan roti. Pola Makan Ibu Hamil Pola makan yang baik bagi ibu hamil harus memenuhi sumber karbohidrat. 2013). Makanan ibu hamil diharapkan dapat memenuhi kebutuhan zat gizi agar ibu dan janin dalam . I. serta karena defisiensi seng juga menurunkan sistem kekebalan dan dapat mengganggu metabolisme besi (Fitria. Interaksi antara besi dan seng berlangsung secara tidak langsung. sayur-sayuran yang berwarna hijau. Zat kapur banyak didapatkan dari susu. ayam dan telur. I. tetapi ibu hamil perlu tambahan tablet besi. Fosfor berhubungan erat dengan zat kapur. Kebutuhan zat besi ibu hamil meningkat pada kehamilan. jika jumlahnya tidak seimbang di dalam tubuh maka akan timbul gangguan seperti kram pada tungkai (Fitria. Kekurangan zat besi akan mengakibatkan seorang ibu hamil mengalami anemia zat besi. peran seng dalam sintesis protein transferin yaitu protein pengangkut besi. es krim dan kue. 2013). d.

mie dikonsumsi dengan frekuensi 1-3x/minggu.5%). roti dan biskuit jarang dikonsumsi. 2009 dalam Hanifah. ubi dengan frekuensi 1-3x/minggu.keadaan sehat. telur dan tahu 1-5x/minggu. dan konsumsi buah-buahan. Hal ini dipengaruhi oleh ketersediaan pangan. mengkonsumsi daun ubi. status kesehatan dan pengetahuan gizi. keadaan gizi ibu pada waktu konsepsi harus dalam keadaaan baik dan selama kehamilan harus mendapatkan tambahan protein. yaitu mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok dengan frekuensi 1-3x/hari. Demi suksesnya kehamilan. vitamin dan energi. konsumsi daging dan telur dengan frekuensi 1-3x/minggu. Jenis bahan makanan pokok yang sering dikonsumsi ibu hamil trimester I adalah nasi dengan frekuensi 1 x/hari. buncis. roti dan umbi-umbian lebih banyak dikonsumsi dengan frekuensi 1-5x/minggu (72. mineral. (Prasetyono. Pola makan ibu hamil trimester I dipengaruhi oleh pengetahuan tentang gizi. mie dengan frekuensi sering (55. Sedangkan mengkonsumsi makanan sayur-sayuran sebagian besar ibu hamil trimester I. kacang panjang dan sawi dengan frekuensi 1x/hari. ketersediaan pangan dan kemampuan membeli pangan.3%). 2009) . sayur jipang dan kangkung dengan frekuensi 1- 3x/minggu. sedangkan kebutuhan konsumsi sayur ikan sebagai lauk-pauk 1-3x/hari.2% dan 83. daun ubi. seperti konsumsi buah jeruk 1- 3x/hari. Konsumsi lauk-pauk diketahui mengkonsumsi ikan kering dan tempe dengan frekuensi 1 x/hari. papaya dan semangka 1-3x/minggu. konsumsi bayam 1- 5x/minggu dan ibu hamil trimester I mengkonsumsi buah-buahan 1- 5x/minggu.ayam dan daging 2x/bulan. Menurut penelitian Simarmata (2008) pola konsumsi ibu hamil berdasarkan frekuensi makan dan jenis makan. konsumsi sayur-sayuran misalnya bayam. Berikut tabel mengenai kebutuhan makan ibu hamil dalam sehari. L. frekuensi konsumsi ikan basah.

keadaan gizi ibu pada waktu konsepsi harus dalam keadaan baik dan selama hamil harus mendapatkan tambahan protein. 2009 dalam Hanifah. Dianjurkan juga banyak makan sayuran berwarna hijau. Untuk pengganti nasi dapat digunakan jagung. Untuk memperoleh pengaruh yang lebih baik dari pola makan ibu hamil. Untuk kelancaran pencernaan dianjurkan menghindari makanan yang banyak bumbu. 2009. lauk hewani 4-5 potong. 5 sendok teh 5 sendok teh 5 sendok teh 5 sendok minyak/santan teh Air 4 gelas 6 gelas 6 gelas 6 gelas Garam 1 sendok teh 1 sendk teh 1 sendok teh 1 sendok teh Sumber : Manuaba. vitamin dan energi. perlu diperhatikan prinsip ibu hamil. dkk. Adapun menu ibu hamil yang seimbang setara dengan nasi/pengganti 5-6 piring. I. sayuran 2-3 mangkuk. Tahu. . lauk nabati 3-4 potong. Untuk pengganti protein hewani dapat digunakan Tempe. Pola makan yang baik bagi ibu hamil harus memenuhi sumber karbohidrat. terlalu panas/dingin dan tidak menggunakan alkohol. yaitu jumlah lebih banyak.2 Kebutuhan Makanan Ibu Hamil dalam Sehari Kebutuhan Makan Ibu Hamil dalam Sehari Bahan Wanita Dewasa Ibu Hamil Makanan Tidak Hamil Triwulan 1 Triwulan 2 Triwulan 3 Nasi 3 1/2 piring 3 1/2 piring 4 piring 3 piring Ikan 1 1/2 piring 1 1/2 piring 4 potong 3 potong Tempe 3 potong 3 potong 4 potong 5 potong Sayuran 1 1/2 mangkuk 1 1/2 mangkuk 3 mangkuk 3 mangkuk Buah 2 potong 2 potong 2 potong 2 potong Gula 5 sdm 5 sdm 5 sdm 5 sdm Susu . protein dan lemak serta vitamin dan mineral. buah-buahan 3 potong dan dianjurkan minum 8-12 gelas/hari. selain itu susunan menu juga harus seimbang. Tabel 2. 1 gelas 1 gelas 1 gelas Lemak. mineral.A.C. L. 2009 dalam Fitria. 2013 Menurut Prasetyono. ubi jalar dan roti. Makanan ibu selama hamil diharapkan dapat memenuhi kebutuhan zat gizi agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Demi suksesnya kehamilan. I. mutu lebih baik.

dan memperbanyak sayur- sayuran dan buah-buahan segar untuk menghindari sembelit. S. Bila ibu hamil mempunyai berat kelebihan. b.500 Lemak (g) 75 80 Protein (g) 48 60 Kalsium (Ca) (mg) 500 900 Zat besi (Fe) (mg) 26 56 Vitamin A (RE) 500 700 Vitamin D 400 600 Tiamin (mg) 1 1. maka janganlah menambah garam dapur dalam masakan sehari-hari.2 Roboflavin (mg) 1 1. Pada Trimester II : Nafsu makan ibu membaik.4 Sumber : Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VI. daging.2 Niasin (mg) 10 11 Vitamin C (mg) 60 80 Natrium (mg) 4 2. Hidangan lauk pauk hewani seperti : telur. mual bahkan muntah. dimana . Pada Trimester III : Makanan harus disesuaikan dengan keadaan badan ibu. teri. maka makanan pokok dan tepung-tepungan dikurangi. c. Namun jika terjadi gangguan masa kehamilan maka dapat diatur sebagai berikut (Sayogo. Pada Trimester I : Pada umur kehamilan 1-3 bulan kemungkinan terjadi penurunan berat badan. 2011): a. 1998 dalam Hardinsyah.3 Angka Kecukupan Zat Gizi Ibu Hamil Kalori dan Zat Gizi Tidak Hamil Hamil Kalori (Kal) 2300 2. Tabel 2. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Retno Ningsih (2008) yang berjudul hubungan pola makan ibu dengan kejadian BBLR. makan makanan yang diberikan: 3x sehari ditambah 1x makanan selingan. Bila terjadi keracunan kehamilan/oedem (bengkak-bengkak pada kaki). hati sangat baik dan bermanfaat untuk menghindari kurang darah. Untuk itu dianjurkan porsi makanan kecil tetapi sering. Hal ini disebabkan adanya gangguan pusing. Bentuk makanan kering/tidak berkuah. dkk Banyaknya makanan yang dibutuhkan oleh ibu hamil tergantung dari kondisi badan si ibu. 2007 dalam Wahyuni.

Anemia pada Ibu Hamil a. anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin dibawah 11. Secara fisiologis. Anemia dalam kehamilan didefinisikan sebagai penurunan kadar hemoglobin kurang dari 11g/dl selama masa kehamilan pada trimester I dan ke 3 dan kurang dari 10g/dl selama masa postpartum dan trimester 2. Sedangkan menurut Saifuddin. 2002. Dalam kehamilan jumlah darah bertambah banyak sehingga terjadi pengenceran darah karena jumlah sel-sel darah tidak sebanding dengan pertambahan plasma darah. Terjadinya peningkatan volume darah mengakibatkan hemodilusi atau pengenceran darah sehingga kadar Hb mengalami penurunan dan terjadi anemia. 2003b).5 g% pada trimester II (Depkes RI. Anemia pada ibu hamil dapat meningkatkan resiko terjadinya perdarahan perdarahan postpartum.0 g% pada trimester I dan III atau kadar <10. ibu dengan pola makan teratur tidak beresiko melahirkan bayi dengan BBLR dibanding ibu yang memiliki pola makan tidak teratur. Penyebab Anemia Kehamilan Anemia pada kehamilan yang disebabkan kekurangan zat besi mencapai kurang lebih 95%. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu. Bila anemia terjadi sejak awal kehamilan dapat menyebabkan terjadinya persalinan prematur. 2008). b. Pengertian Anemia Kehamilan Menurut World Health Organization (WHO) anemia pada ibu hamil adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 11. Hemodilusi dianggap . pengenceran darah ini untuk membantu meringankan kerja jantung yang semakin berat dengan adanya kehamilan (Wiknjosastro.0 g%. 5. N. Anemia dalam kehamilan dapat mengakibatkan dampak yang membahayakan bagi ibu dan janin. 2002 dalam Agustini.

3) Kurangnya produksi sel darah merah karena kurang mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung zat gizi terutama zat besi. N. diantaranya 300 mg untuk janin plasenta dan 500 mg untuk pertambahan eritrosit ibu. lidah luka. Secara umum. 2006 dalam Agustini. sebagai penyesuaian diri secara fisiologis dalam kehamilan untuk meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa hamil. Gejala Anemia Kehamilan Gejala anemia pada kehamilan yaitu ibu mengeluh cepat lelah. nafsu makan turun (anoreksia). rasa ngantuk. nafas pendek (pada anemia parah) dan keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda (Sohimah. Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut bahkan tidak jarang keduanya saling berinteraksi. N. N. haid terlalu banyak. 2008) Rasa cepat lelah disebabkan karena pada penderita anemia gizi besi. 2008). vitamin C dan zat gizi penting lainnya. Anemia gizi besi dengan keluhan dampak yang paling jelas adalah cepat lelah. protein. seperti penyakit malaria dan thalasemia yang merusak asam folat yang berada di dalam sel darah merah. mata berkunang-kunang. kerusakan atau kelainan lambung). 1999 dalam Agustini. 2008): 1) Banyaknya kehilangan darah karena pendarahan. 2002 dalam Agustini. vitamin B12. Kebutuhan ibu selama kehamilan adalah 800 mg besi. pengolahan (metabolisma) energi oleh otot tidak berjalan secara sempurna karena kurang oksigen. c. asam folat. sering pusing. malaise. gangguan pencernaan (keganasan dan infeksi cacing tambang. 2) Rusaknya sel darah merah. Dengan demikian ibu membutuhkan tambahan sekitar 2-3mg besi/ hari. konsentrasi hilang. (Saifuddin. faktor utama penyebab anemia gizi adalah: (Wirahadikusuma. malaise .

protein. 7. 2013 hanya diteliti tentang asupan energi. 2008). namun dalam penelitian yang dilakukan oleh Rukmana. adalah sebagai berikut: 1) Anemia defisiensi besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah. 1998 dalam Agustini. 2008 menjelaskan bahwa ada hubungan antara pengetahuan gizi dengan kejadian KEK. Pengetahuan seseorang mempengaruhi individu dalam memilih dan mengolah makanan serta menyusun menu seimbang. 1999 dalam Agustini. Kondisi asupan gizi yang demikian dapat mengganggu . Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa asupan zat gizi ibu hamil di wilayah Puskesmas Suruh yang rendah. 3) Anemia hipoplastik adalah anemia yang disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Yuli (2004). Hubungan Pengetahuan Gizi Ibu Hamil dengan kejadian BBLR Pada penelitian yang dilakukan oleh Simarmata. Klasifikasi Anemia Kehamilan Klasifikasi anemia dalam kehamilan menurut Mochtar. d. kelelahan. N. hubungan pendidikan dan pengetahuan gizi ibu dengan Berat Bayi Lahir Rendah menyatakan ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan status gizi. 6. kelemahan. membentuk sel darah merah baru. 2) Anemia megaloblastik adalah anemia yang disebabkan oleh karena kekurangan asam folat. tidak ada satupun ibu memiliki asupan energi yang cukup. Gejala utama adalah anemia dengan kelainan- kelainan pada gambaran darah. serta gejala ko mplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital. 2008). N. 4) Anemia hemolitik adalah anemia yang disebabkan penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya. Fe dan folat. Hubungan Pola Makan dengan kejadian BBLR Asupan gizi ibu hamil terbagi dalam zat gizi makro dan mikro. dan mempunyai wajah yang pucat (Sukirman.

Anemia dapat mengurangi suplai oksigen pada metabolisme ibu karena kekurangan kadar hemoglobin untuk mengikat oksigen yang dapat mengakibatkan efek tidak langsung pada ibu dan bayi antara lain kematian bayi. 2011 dalam Rukmana. Sedangkan pada anemia berat selama masa hamil dapat mengakibatkan risiko morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun bayi yang dilahirkan. Asupan gizi yang kurang dapat menjadi salah satu faktor terjadinya BBLR di wilayah ini. 2013 bahwa asupan gizi ibu hamil yang kurang dan tidak mencukupi untuk menyediakan kebutuhan fisiologis kehamilan yakni perubahan hormon. Hubungan Anemia dengan BBLR Anemia pada saat hamil dapat mengakibatkan efek buruk baik pada ibu maupun kepada bayi yang akan dilahirkannya. bertambahnya kerentanan ibu terhadap infeksi dan kemungkinan bayi lahir prematur (Setyawan. Akibatnya pertumbuhan dan perkembangan janin terhambat dan lahir dengan berat yang rendah. Angka ini lebih tinggi dibandingkan prevalensi BBLR di Jawa Tengah sebesar 9.1%. pertumbuhan dan perkembangan janin sehingga ditemukan bayi dengan berat badan lahir rendah sebesar 17. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ma’rifah. 8. Pada anemia ringan mengakibatkan terjadinya kelahiran prematur dan BBLR. Hal ini menggambarkan bahwa ibu hamil yang memiliki asupan energi yang rendah juga melahirkan bayi dengan berat lahir rendah. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Sinarmata. Selain itu anemia juga dapat mengakibatkan hambatan .9%. meningkatnya volume darah untuk pertumbuhan janin sehingga suplai zat gizi pada janin pun berkurang. 1996). 2008 mengungkapkan bahwa makanan yang dikonsumsi ibu hamil kurang bervariasi dan rata-rata kecukupan gizi (energi dan protein) yang masih dibawah angka kecukupan gizi yang dianjurkan merupakan salah satu penyebab kejadian KEK pada ibu hamil yang merupakan faktor risiko terjadinya Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR).

persalinan maupun dalam masa nifas terutama pada bayi yang dilahirkan yaitu terjadinya BBLR. ketuban pecah dini (KPD). 1998). Hal ini sesuai dengan penelitian Endang Lestari (2011) yang berjudul hubungan anemia selama kehamilan dengan BBLR di RB Amalia Wonosari Gunung Kidul tahun 2011 dengan hasil uji χ2 didapat nilai sebanyak 10.000)<α(0. Pada penelitian yang dilakukan Agustini. Hal ini dapat dijelaskan bahwa janin menyerap berbagai kebutuhan dari ibunya tetapi bila ibu mengalami anemia akan mengurangi kemampuan metabolisme tubuh sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim (manuaba. 2005). Responden yang anemia sebagian besar melahirkan bayi dengan BBLR yaitu 17 responden (34.05 dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima.0%).tumbuh kembang janin dalam rahim. baik dalam kehamilan.05) berarti Ho ditolak artinya ada hubungan anemia pada ibu hamil dengan kejadian BBLR di Badan Pengelola Rumah Sakit Umum (BPRSU) Rantauprapat Kabupaten Labuhan Batu tahun 2008. Diungkapkan bahwa ibu yang mengalami anemia selama kehamilan akan lebih beresiko mengalami BBLR. Kemudian menurut penelitian Agustini (2009) hasil analisis dengan uji Chi-Square menunjukkan bahwa Probabilitas (0. Hal ini sesuai dengan asumsi peneliti bahwa anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi ibu.001 < 0. 2009.753 pada p sebesar 0. (Manuaba. .

yang frekuensi makan dan dikonsumsi: jumlah kalori Penilaian baik bila menu makanan terdiri dari karbohidrat. Pola Makan Kebiasaan makan ibu Kuesioner 1. kuesionerr <10 2. protein. pola makan ibu hamil.1 Definisi Operasional No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Kategori Skala Ukur Variabel Bebas 1. 2. Definisi Operasional Tabel 3. dan anemia pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Cibeureum Kota Tasimalaya. BAB III RENCANA PENELITIAN A. Pengetahuan Gizi Pengetahuan ibu Kuesioner Pengetahuan Nominal Ibu Hamil tentang kemampuan dari 20 baik jika responden untuk pertanyaan hasil menjawab pertanyaan kuesioner tentang konsumsi >10 makanan bagi ibu Pengetahuan hamil dan akibat kurang baik kurang konsumsi gizi jika hasil bagi ibu hamil. Variabel Bebas Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di wilayah kerja Puskesmas Cibeureum Kota Tasikmalaya. . Aspek Nominal Ibu Hamil hamil yang jenis menekankan pada makanan jenis makanan. Variabel Terikat Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pengetahuan ibu hamil. Variabel Penelitian 1. B.

Aspek frekuensi makan: Baik jika 3x sehari Buruk jika <3x sehari 3. Aspek jumlah kalori yang dihasilkan dari makanan yang dikonsumsi: Penilaian baik bila porsi makanan ibu hamil terdiri dari: a. buah 2 potong f. sayur 3 mangkuk e. protein nabati (tempe atau pengganti 3 potong) d. susu 1 gelas Penilaian buruk bila menu atau . protein hewani (daging atau pengganti 3 potong) c. nasi 3-4 piring b. vitamin dan mineral Penilaian buruk bila menu makanan tidak mengandung unsur gizi yang lengkap 2.lemak.

Sedangkan pada variabel bebas pola makan dan anemia pada ibu hamil melalui pendekatan retrospektif. jumlah makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi seimbang pada ibu hamil 3. Bayi Berat Lahir Berat badan bayi Baby Scale BBLR : < Nominal Rendah (BBLR) yang baru lahir dalam 2500 grm kelahiran 1 jam Yang tidak pertama yang kurang BBLR : > dari 2500 grm 2500 grm C. . Populasi dan Sampel 1. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini pada variabel bebas pengetahuan gizi ibu hamil menggunakan observasional analitik melalui pendekatan cross sectional. D. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang tercatat dalam data kunjungan ibu hamil di Puskesmas Cibeureum 2. Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah ibu hamil yang melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Anemia pada Suatu keadaan Rekam Anemia < Nominal Ibu Hamil dimana kadar medis 11gram% Hemoglobin kurang Tidak dari 11gram% anemia > 11gram% Variabel Terikat 1.