You are on page 1of 4

KADER KESEHATAN

Dr. Suparyanto, M.Kes

KADER KESEHATAN

PENGERTIAN
 Kader kesehatan masyarakat adalah laki-laki atau wanita yang dipilih oleh masyarakat
dan dilatih untuk menangani masalah-masalah kesehatan perseorangan maupun masyarakat
serta untuk bekerja dalam hubungan yang amat dekat dengan tempat-tempat pemberian
pelayanan kesehatan (Syafrudin dan Hamidah, 2009:177).
 Kader merupakan tenaga masyarakat yang dianggap paling dekat dengan masyarakat
(Meilani Niken, dkk, 2009: 129).
 Kader adalah tenaga sukarela yang dipilih oleh dan dari masyarakat yang bertugas
mengembangkan masyarakat. (Efendi Ferry dan Makhfudli, 2009: 287).
 Kader kesehatan yaitu tenaga yang berasal dari masyarakat, dipilih oleh masyarakat itu
sendiri dan bekerja secara sukarela untuk menjadi penyelenggara posyandu (R. fallen dan R.
Budi, 2010: 58).

TUJUAN PEMBENTUKAN KADER
 Dalam rangka menyukseskan pembangunan nasional, khususnya di bidang kesehatan,
bentuk pelayanan kesehatan diarahkan pada prinsip bahwa masyarakat bukanlah sebagai
objek tetapi merupakan subjek dari pembangunan itu sendiri. Pada hakikatnya, kesehatan
dipolakan mengikutsertakan masyarakat secara aktif dan bertanggung jawab.
 Keikutsertaan masyarakat dalam meningkatkan efisiensi pelayanan adalah atas dasar
pemikiran bahwa terbatasnya daya dan dana dalam operasional pelayanan kesehatan akan
mendorong masyarakat memanfaatkan sumber daya yang ada seoptimal mungkin. Pola pikir
semacam ini merupakan penjabaran dari karsa pertama yang berbunyi, meningkatkan
kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya dalam bidang kesehatan.
 Menurut K. Santoso (1979), kader yang dinamis dengan pendidikan rata-rata tingkat
desa ternyata mampu melaksanakan beberapa kegiatan yang sederhana tetapi tetap berguna
bagi masyarakat kelompoknya (Efendi Ferry dan Makhfudli, 2009: 288).

DASAR PEMIKIRAN

a. Dari segi kemampuan masyarakat
 Dalam rangka menyukseskan pembangunan nasional, khususnya dibidang kesehatan,
bentuk pelayanan kesehatan diarahkan pada prinsip bahwa masyarakat bukanlah sebagai
objek tetapi merupakan subjek dari pembangunan itu sendiri.
b. Dari segi kemasyarakatan
 Perilaku kesehatan pada mesyarakat tidak terlepas dari kebudayaan masyarakat itu
sendiri. Dalam upaya menumbuhkan partisipasi masyarakat perlu memperhatikan keadaan
sosial budaya masyarakat, sehingga untuk mengikutsertakan masyarakat dalam upaya
dibidang kesehatan, harus berusaha menumbuhkan kesadaran untuk dapat memecahkan
permasalahan sendiri dengan memperhitungkan sosial budaya setempat (R. fallen dan R. Budi,
2010: 59).

PERSYARATAN MENJADI KADER

PERAN FUNGSI KADER  Kegiatan kader akan ditentukan. Para kader kesehatan masyarakat itu seyogyanya memiliki latar belakang pendidikan yang cukup sehingga memungkinkan mereka untuk membaca. dan para pamong desa harus juga mendukung (R. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) 2. 2009: 130). Dapat baca. 2009: 177). fallen dan R. Peningkatan kesehatan ibu. Mereka harus benar-benar menyadari tentang keterbatasan yang mereka miliki. dituntun. mendapat kepercayaan dari masyarakat serta mempunyai kredibilitas yang baik dimana perilakunya menjadi panutan masyarakat. Pemasyarakatan Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi). Oleh karena itu. Namun. diterima masyarakat dan dapat bekerja sama dengan masyarakat 7. serta didukung oleh pembimbing yang terampil dan berpengalaman (Syafrudin dan Hamidah. Dalam hal ini perlu adanya pembatasan tugas yang diemban. Hal ini disebabkan karena kader yang akan dibentuk terlebih dahulu harus diberikan pelatihan kader.  Persyaratan umum yang dapat dipertimbangkan untuk pemilihan kader antara lain: 1. 2009: 129). Pelatihan kader ini diberikan kepada para calon kader di desa yang telah ditetapkan (Meilani Niken. tetapi hanya terbatas pada bidang-bidang atau tugas-tugas yang pernah diajarkan kepada mereka.  Peran dan fungsi kader sebagai pelaku penggerakan masyarakat: 1. 2010: 59-60). Aktif dalam kegiatan sosial maupun pembangunan desanya 6. 2009: 289). Proses pemilihan kader hendaknya melalui musyawarah dengan masyarakat. (Efendi Ferry dan Makhfudli. tulis dengan bahasa Indonesia 2. Budi. mengingat bahwa pada umumnya kader bukanlah tenaga profesional melainkan hanya membantu dalam pelayanan kesehatan. 5. mereka diharapkan mampu dalam menyelesaikan masalah umum yang terjadi di masyarakat dan mendesak untuk diselesaikan. Tinggal tetap di desa yang bersangkutan dan tidak sering meninggalkan tempat untuk waktu yang lama. dkk. Mereka tidak diharapkan mampu menyelesaikan semua masalah yang dihadapinya. 2009: 131). tetapi mereka bekerja dan berperan sebagai seorang pelaku sistem kesehatan. dkk. mereka harus dibina. mempunyai penghasilan tetap. dkk. memiliki jiwa pengabdian yang tinggi. serta sanggup membina masyarakat sekitarnya. Secara fisik dapat melaksanakan tugas-tugas sebagai kader 3. baik menyangkut jumlah maupun jenis pelayanan (Efendi Ferry dan Makhfudli. Perlu ditekankan bahwa para kader kesehatan masyarakat itu tidak bekerja dalam sistem yang tertutup. Upaya penyehatan lingkungan 4. pandai membaca dan menulis. Budi. . Sanggup membina paling sedikit 10 kepala keluarga. dapatlah disimpulkan bahwa kriteria pemilihan kader kesehatan antara lain sanggup bekerja secara sukarela. 2010: 59). menulis dan menghitung secara sederhana (Meilani Niken. Tugas-tugas kader meliputi pelayanan kesehatan dan pembangunan masyarakat. (R.bayi dan anak balita 5. Berwibawa 8. Mempunyai penghasilan sendiri 4.  Dari persyaratan-persyaratan yang diutamakan oleh beberapa ahli di atas. 2009: 290). Dikenal masyarakat. Fallen dan R. (Meilani Niken. Pengamanan terhadap masalah kesehatan di desa 3.

ekstraksi vakum/forceps. tangan . Dian. Aziz. 2006. Riwayat keluarga menderita penyakit kencing manis. 14. Jakarta: Rineka Cipta 3. Riwayat nifas berisiko: perdarahan pascapartum. ketuban pecah dini dll. 8. “Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik”. Bayi dalam kandungan gerakannya berkurang atau tidak bergerak. 11. 2007. infeksi masa nifas. Rineka Cipta 4. 4. Demam tinggi atau demam lebih dari 2 hari. Pembinaan kader yang dilakukan bidan yang berisi tentang peran kader dalam deteksi dini tanda bahaya dalam kehamilan meliputi faktor risiko ibu hamil diantaranya: 1. Berat badan kurang dari 38 kg atau lingkar lengan atas < 23. 13. kelainan jantung-ginjal-hati. Alimul. Sedang atau pernah menderita penyakit kronis. “Sikap Manusia”. 2007. kehamilan ektopik terganggu. “Buku Kesehatan Ibu dan Anak Provinsi Jawa Timur”. 19. (Meilani Niken. Anak lebih dari 4. antara lain: tuberculosis. Riwayat kehamilan buruk: keguguran berulang. sistemik lupus dll) tumor dan keganasan. misalnya kelainan tulang belakang atau panggul. http:// www. ”Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisis Data”. Mengalami gangguan jiwa. Arikunto. bidan haruslah dapat bekerja sama denga masyarakat. wajah. 6.info-wikipedia. Jarak persalinan terakhir dan kehamilan sekarang kurang dari 2 tahun. Untuk mengurangi angka kematian dan kesakitan ibu dan bayi. 16. Bengkak di kaki. dkk) DAFTAR PUSTAKA 1. 15. kelainan endokrin (diabetes mellitus. Jakarta: PT. 10. Primigravida kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun. 5. Tinggi badan kurang dari 145 cm. 2008. Ibu muntah terus dan tidak mau makan. psikosis. 20. Ferry dan Makhfudli. hipertensi dan riwayat cacat congenital. 12. 2009. Azwar. Perdarahan lewat jalan lahir (hamil muda dan tua). Riwayat persalinan berisiko: persalinan dengan seksio sesarea. “Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan Praktik dalam Keperawatan”. Keluar cairan berbau dari jalan lahir .5 cm. 3.com diakses tanggal 29 Maret 2011 6. “Risiko Tinggi”. 17. Effendi. Payudara bengkak kemerahan disertai rasa sakit. 2007. 18. Surabaya : Salemba Medika 2. Kelainan bentuk tubuh. 7. psikosis postpartum. Departemen Kesehatan RI. atau sakit kepala kadang disertai kejang. Jakarta : Departemen Kesehatan dan JICA (Japan International Cooperation Agency) 5. 9. Riwayat hipertensi pada kehamilan sebelumnya atau sebelum kehamilan ini. Jakarta : Salemba Medika . 2.

2009. 2008. Niken. 2007. “Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D”. 2009.”Metodologi Penelitian Kesehatan”. Soekidjo. dkk. Sugiyono. “Ilmu Kebidanan”. 2009.7. 2008. Jakarta : EGC 12. 2002. ”Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni”. 2010. Rochjati. 2005. 2007. Notoatmodjo. ”Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal”. ”Statistika untuk Penelitian”. Notoatmodjo. Varney. 2006. R dan R. “Asuhan Keperawatan pada Kehamilan Fisiologis dan Patologis”. Jakarta : Salemba Medika 9. Budi Dwi K. Jakarta : EGC 11. 2010.2005. Manuaba. dkk. Jakarta : Rineka Cipta 14. Bandung : ALFABETA 20. Hidayat. Siti. “Catatan Kuliah Keperawatan Komunitas”. Sarwono. Soekidjo. Saifuddin. 2003. “Tingginya Angka Kematian Ibu dan Bayi”. “Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan. 2009. Bandung: ALFABETA 10. Abdul Bari. 2007. Sugiyono. “Buku Ajar Asuhan Kebidanan Volume 1”. 2001. Metodologi Penelitian Perilaku Kualitatif dan Kuantitatif. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo 17. Bandung : ALFABETA 21. Yogyakarta : Fitramaya 13. Ida Ayu Candranita.com. “Kebidanan Komunitas”. “Kamus Istilah Kebidanan”. “Kebidanan Komunitas”. Ratna. Sedarmayanti. Syafrudin dan Hamidah. Jakarta : Rineka Cipta 15. Poedji. “Skrining Antenatal pada Ibu Hamil”. Fallen. Jakarta : EGC . Info- wikipedia. Maimunah. Surabaya : Airlangga University Press 18. ”Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperwatan”. Suririnah. Helen. Jakarta : EGC 23. Prawirohardjo. http//www. Meilani. Jakarta : YBP-SP 19. Yogyakarta : Nuha Medika 8. Hidayati. dan KB”. Jakarta : Salemba medika 16. dkk. diakses tanggal 11 Maret 2011 22. Nursalam.