You are on page 1of 15

Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di daerah pantai yang selalu atau

secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh pasang surut air laut tetapi tidak
terpengaruh oleh iklim. Sedangkan daerah pantai adalah daratan yang terletak di bagian
hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berbatasan dengan laut dan masih dipengaruhi
oleh pasang surut, dengan kelerengan kurang dari 8% (Departemen Kehutanan, 1994
dalam Santoso, 2000).
Menurut Nybakken (1992), hutan mangrove adalah sebutan umum yang digunakan
untuk menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang didominasi oleh
beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai
kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. Hutan mangrove meliputi pohon-pohon
dan semak yang tergolong ke dalam 8 famili, dan terdiri atas 12 genera tumbuhan
berbunga : Avicennie, Sonneratia, Rhyzophora, Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus,
Lummitzera, Laguncularia, Aegiceras, Aegiatilis, Snaeda, dan Conocarpus (Bengen,
2000).
Kata mangrove mempunyai dua arti, pertama sebagai komunitas, yaitu
komunitas atau masyarakat tumbuhan atau hutan yang tahan terhadap kadar
garam/salinitas (pasang surut air laut); dan kedua sebagai individu spesies (Macnae,
1968 dalam Supriharyono, 2000). Supaya tidak rancu, Macnae menggunakan istilah
“mangal” apabila berkaitan dengan komunitas hutan dan “mangrove” untuk individu
tumbuhan. Hutan mangrove oleh masyarakat sering disebut pula dengan hutan bakau
atau hutan payau. Namun menurut Khazali (1998), penyebutan mangrove sebagai bakau
nampaknya kurang tepat karena bakau merupakan salah satu nama kelompok jenis
tumbuhan yang ada di mangrove.

Ekosistem mangrove adalah suatu sistem di alam tempat berlangsungnya
kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan
lingkungannya dan diantara makhluk hidup itu sendiri, terdapat pada wilayah pesisir,
terpengaruh pasang surut air laut, dan didominasi oleh spesies pohon atau semak yang
khas dan mampu tumbuh dalam perairan asin/payau (Santoso, 2000).
Dalam suatu paparan mangrove di suatu daerah tidak harus terdapat semua jenis
spesies mangrove (Hutching and Saenger, 1987 dalam Idawaty, 1999). Formasi hutan
mangrove dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kekeringan, energi gelombang,
kondisi pasang surut, sedimentasi, mineralogi, efek neotektonik (Jenning and Bird, 1967
dalam Idawaty, 1999). Sedangkan IUCN (1993), menyebutkan bahwa komposisi
spesies dan karakteristik hutan mangrove tergantung pada faktor-faktor cuaca, bentuk
lahan pesisir, jarak antar pasang surut air laut, ketersediaan air tawar, dan tipe tanah.

• daerahnya terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat. Penahan intrusi (peresapan) air laut ke daratan.serta akar yang mencuat vertikal seperti pensi. baik setiap hari atau hanya tergenang pada saat pasang pertama. Manfaat dan fungsi hutan mangrove secara biologi : Tempat hidup biota laut.Ciri-Ciri Hutan Mangrove Ciri-Ciri ekosistem Ciri-ciri ekosistem mangrove terpenting dari penampakan hutan mangrove adalah : • memiliki jenis pohon yang relatif sedikit. Penambat bahan-bahan pencemar (racun) diperairan pantai. • memiliki banyak lentisel pada bagian kulit pohon. adalah : • tanahnya tergenang air laut secara berkala. Menurunkan kandungan karbondioksida (CO2) di udara (pencemaran udara). baik untuk berlindung. mencari makan. • tempat tersebut menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat. Sumber makanan bagi spesies-spesies yang ada di sekitarnya. Penahan badai dan angin yang bermuatan garam. Sedangkan tempat hidup hutan mangrove merupakan habitat yang unik dan memiliki ciri-ciri khusus ekosistem mangrove. . • memiliki biji (propagul) yang bersifat vivipar atau dapat berkecambah di pohonnya. pemijahan maupun pengasuhan. Manfaat dan Fungsi Hutan Mangrove Manfaat dan Fungsi hutan Mangrove Manfaat dan fungsi hutan mangrove secara fisik : Penahan abrasi pantai. • memiliki akar tidak beraturan misalnya seperti jangkar melengkung dan menjulang pada bakau.

dan lainnya. pedada. lacang. Sumber bahan kayu untuk bangunan dan kayu bakar. dan burung . pantai selatan Kalimantan. Fungsi hutan bakau seperti akar dari pohon bakau ada yang mencuat ke atas (akar tunjang) dan ada pula yang terendam air. api-api. Namun kini banyak hutan bakau yang telah rusak bahkan musnah. maka orang-orang menganggap hutan bakau sebagai hutan mangrove. buaya. udang. Ciri-ciri Hutan Mangrove Tanah yang digenangi oleh air laut Dipengaruhi pasang surut air laut Tidak dipengaruhi oleh iklim Tidak memiliki struktur tajuk Jenis pohonnya adalah bakau. Penghasil bahan pangan seperti ikan. Hutan bakau Indonesia termasuk dalam salah satu yang paling luas di dunia yaitu sekitar 47. Karena kebanyakan hutan mangrove adalah pohon bakau. Manfaat dan fungsi hutan bakau secara ekonomi : Tempat rekreasi dan pariwisata.Tempat hidup berbagai satwa lain semisal kera. Bahan penghasil obat-obatan seperti daun Bruguiera sexangula yang dapat digunakan sebagai obat penghambat tumor. Dikarenakan adanya aktivitas penebangan pohon bakau untuk dibuat tambak ikan atau arang.8% (8.6 juta hektar) dari 18 juta hektar hutan bakau di seluruh dunia. salah satu contoh adalah hutan bakau. dan lainnya. Padahal di hutan mangrove terdapat bermacam jenis pohon dan jenis sumber daya alam lainnya (tidak hanya bakau) seperti yang dibahas di atas. Sumber mata pencarian masyarakat sekitar seperti dengan menjadi nelayan penangkap ikan dan petani tambak 14 Keunggulan Hutan Mangrove Advertisement Hutan mangrove adalah merupakan jenis-jenis hutan yang terdapat di tepian pantai atau berkembang di sekitar muara sungai. Berikut adalah keunggulan hutan mangrove : . pantai utara Jawa. Penyebaran hutan bakau antara lain di sepanjang pantai timur Sumatera. kepiting.

tetapi juga mampu menyaring zat-zat kimia. Jika sudah cukup besar. polutan. hutan bakau dapat memberi mereka perlindungan dari hewan pemangsanya. Hewan kecil dan larva tersebut dapat menjadi makanan hewan lebih besar yang habitatnya juga di sekitar hutan bakau. 7. Penjernih air – Akar yang mencuat ke permukaan (akar tunjang) tidak hanya berfungsi sebagai alat pernapasan pohon bakau. 4. Mengobati radang kulit dan gatal-gatal dapat memakai campuran kulit batang beberapa spesies mangrove. Awal rantai makanan – Daun-daun bakau yang rontok atau jatuh akan masuk ke air dan diuraikan oleh mikroorganisme yang berupa bakteri atau jamur agar tidak menjadi penyebab pemanasan global. Air rebusan buah ini memberi efek warna cokelat tua atau cokelat kemerahan pada kain batik. rheumatik. Membuat wilayah pantai stabil – Akar dari pohon bakau dapat menjaga wilayah tepian pantai tetap stabil. Buahnya pahit. Obat – Tanaman mangrove dapat digunakan untuk membuat aneka macam obat-obatan. Memberikan nutrisi bagi makhluk hidup di sekitarnya – Adanya hutan bakau dapat memberikan nutrisi kepada ikan-ikan dan binatang yang hidup di perairan hutan tersebut. Nektar bunga api-api dihisap oleh tawon-tawon dan dapat menjadi madu. maka kebersihan air di pantai akan terjaga. (baca : manfaat pasang surut air laut) . 9. Air sungai yang masuk ke laut kebanyakan membawa berbagai macam sampah yang menjadi penyebab banjir dan zat kimia. Pengawet dan pewarna – Buah pohon tancang berguna untuk mengawetkan dan memberi warna kain atau jaring. Bahan makanan – Daun pohon api-api yang masih muda bermanfaat untuk diolah menjadi sayur. berguna untuk bangunan rumah (sebagai tiang atau balok konstruksinya). Bahan bakar dan bangunan – Kayu pohon mangrove bisa dipakai sebagai kayu bakar atau arang. Sedangkan daun lain dari api-api bisa jadi pakan ternak. 3. Tak hanya itu. Sangat cocok sebagai balok konstruksi rumah karena sifat kayunya yang tahan air dan kokoh. 8. Menambatkan kapal – Ketika cuaca buruk terjadi. 10. Tanaman ini juga bermanfaat mengatasi gangguan pencernaan. 5. Dengan adanya hutan bakau di sekitar perairan tersebut. 6. akan tetapi masih bisa dikonsumsi bila dimasak dengan baik dan hati-hati. Air rebusan dari kulit pohon tingi bisa dipakai sebagai pengawet jaring payang (oleh nelayan daerah Labuhan. dan gigitan ular. pohon bakau dapat menjadi pelindung bagi kapal yaitu dengan cara mengikat kapal ke batang bakau. Banten). Hasil dari penguraiannya adalah makanan bagi larva dan hewan-hewan kecil di sekeliling hutan bakau. Menahan air asin supaya tidak merembes ke darat – Adanya hutan atau pohon-pohon bakau dapat menjadi benteng agar air asin tidak merembes jauh ke daratan.1. Akan tetapi jangan sering-sering dilakukan karena bisa membuat batang tanaman bakau rusak dan akan memberikan dampak akibat kerusakan hutan. (baca : manfaat pantai) 2. endapan yang terkandung dalam air laut sehingga menjadi jernih dan bersih. Ombak yang menghantam bisa ditangkal oleh akar-akar tanaman bakau yang mencuat ke permukaan sehingga pantai terhindar dari pengikisan (abrasi).

Penebangan liar . pasti ada saat para nelayan tidak melaut karena berbagai sebab. Pembukaan tambak liar Banyaknya orang yang membuka tambak liar dengan membabat hutan mangrove disebabkan oleh naiknya harga udang. Pencarian kayu mangrove yang berlebihan tersebut dapat berdampak buruk pada kelestarian hutan mangrove. bahkan mencari kayu untuk dijual.11. kepiting. juga ombak kuat. Penghasilan warga rendah Masyarakat pesisir pantai kebanyakan bekerja sebagai nelayan tradisional. mereka pun memanfaatkan keberadaan hutan mangrove. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Dapat hidup di darat dan air – Mangrove yang mulanya tubuh di bibir pantai. 3. tetapi bisa diolah untuk membantu ekonomi warga sekitarnya. Dalam sebulan. Meskipun begitu. ikan kecil. Penyebab Kerusakan Hutan Mangrove sponsored links Dengan segala keindahan dan pemandangan di hutan yang menjadi penyebab mudahnya membuat kerusakan pada hutan mangrove. dan kepiting banyak yang tinggal di wilayah perairan hutan bakau. tidak cukup memenuhi kebutuhan harian. Mereka beternak udang. penghasilan yang mereka dapat setiap hari masih belum memadai. Dan mungkin akan merusak hutan. Pariwisata – Luasnya hutan bakau yang masih alami dapat dikelola dengan baik sehingga menjadi destinasi wisata yang menarik dan banyak orang yang mengunjungi kawasan mangrove ini untuk berlibur bersama keluarga atau teman-terdekat. misalnya Iklim di Indonesia sedang dalam cuaca tidak mendukung atau ada badai. 14. 2. dengan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab merusak dan memanfaatkan hutan mangrove secara sembarangan sehingga membuat hutan mangrove perlu mendapatkan perlindungan hukum yang kuat. Membantu perekonomian masyarakat sekitar pantai – Salah satu contohnya adalah membuat makanan dari buah mangrove (seperti cake mangrove) sehingga buahnya tidak terbuang sia-sia. Mangrove adalah tanaman yang khas karena bisa tumbuh di antara daratan dan laut untuk mengurangi terjadinya erosi tanah dan sementara tanaman lainnya tidak dapat bertahan. 13. Tempak berkembangbiak dan berlindung aneka hewan dan ikan – Udang. antara lain: 1. 12. Mereka dapat berkembangbiak dengan baik dan terhindar dari predator (hewan pemangsanya). Hutan mangrove yang rusak diakibatkan oleh beberapa hal. Apabila dibandingkan dengan kelompok masyarakat yang lain. Mereka yang tidak peduli dengan cara menjaga kelestarian air dan lingkungan terus melakukan pembukaan tambak udang liar dan membuat hutan mangrove sedikit demi sedikit mengalami pengurangan. dapat tumbuh hingga ke laut.

Hukum yang lemah Banyaknya pelanggaran yang dilakukan berkaitan dengan mangrove ini dikarenakan hukum yang lemah. tapi juga untuk hewan. Panjang tandan bunga lebih pendek dari A. dikarenakan arang dari kayu bakau merupakan yang terbaik dan dapat dijual dengan harga tinggi akan menyebabkan sekitar hutan akan terganggu dan tercemar. Namun beberapa berpendapat bahwa hutan mangrove adalah tempat yang kotor.  Daun : Pinggiran daun umumya rata kadang bergerigi seperti A. berlawanan. tempat berkembangbiak nyamuk (utamanya malaria). Peraturan perundang-undangan sudah jelas mengatur tentang pelestarian hutan mangrove. Pandangan Mengenai Hutan Mangrove Hutan mangrove sangat bermanfaat tidak hanya bagi kehidupan manusia.5 cm. dan kepiting. Mangrove melindungi mereka dari hewan pemangsanya dan merupakan habitat hidup hewan-hewan itu. 4. Letak: di ujung. ilicifolius. tetapi seluruh bagiannya lebih kecil. kadang agak putih di bagian ujungnya. dan perkembangbiakan berbagai serangga yang dapat menyebarkan bibit penyakit. ilicifolius.Dampak penebangan hutan secara liar yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak peduli pada lingkungan.  Bunga : Mahkota bunga berwarna biru muda hingga ungu lembayung cerah. Jenis Jenis Pohon Mangrove di Indonesia: Acanthus ebracteatus. Sehingga banyak terjadi penebangan mangrove berlebihan guna menangkal munculnya wabah penyakit. udang. namun ketika banyak terjadi pelanggaran. deskripsi :  Hampir sama dengan A. seperti ikan. sedangkan bunganya sendiri 2-2. Kekurangan hutan mangrove hampir tidak ada. . hukum tidak dapat ditegakkan dengan baik. Bunga hanya mempunyai satu pinak daun utama. Ujung: meruncing. Formasi: bulir. karena yang sekunder biasanya cepat rontok. Unit & Letak: Sederhana. Bentuk: lanset. Ukuran: 7-20 x 4-10 cm. ilicifolius.

Pinak daun terbawah selalu terletak jauh dari yang lain dan memiliki gagang yang panjangnya 3 cm. Cabang umumnya tegak tapi cenderung kurus sesuai dengan umurnya.  Ekologi : Ferna tahunan yang tumbuh di mangrove dan pematang tambak. Batang timbul dan lurus. hanya terdapat di bagian pangkal dari gagang.  Ferna berbentuk tandan di tanah. agak berkayu.  Daun : Panjang 1-3 m.3 cm. tepi daun bervariasi: zigzag/bergerigi besar-besar seperti gergaji atau agak rata dan secara gradual menyempit menuju pangkal. Di Bali berbuah sekitar Agustus.  Buah : Warna buah saat masih muda hijau cerah dan permukaannya licin mengkilat. Panjang tandan bunga 10-20 cm. kuat. Ujung: meruncing dan berduri tajam. Pinak daun letaknya berjauhan dan tidak teratur. menebal di bagian tengah. Biji tertiup angin. memiliki tidak lebih dari 30 pinak daun. sangat jarang di daratan. berwarna hitam. Formasi: bulir. sedangkan bunganya sendiri 5-4 cm. Bentuk buah bulat lonjong seperti buah melinjo.  Daun : Dua sayap gagang daun yang berduri terletak pada tangkai. Acanthus ilicifolius . coklat tua dengan peruratan yang luas. sepanjang kali dan sungai payau serta saluran. Sisik yang luas. pucat. berlawanan. Peruratan daun menyerupai jaring. Spora besar dan berbentuk tetrahedral. Bunga kemungkinan diserbuki oleh burung dan serangga. Permukaan daun halus.5. Akar udara muncul dari permukaan bawah batang horizontal. yang memiliki kemampuan untuk menyebar secara vegetatif karena perakarannya yang berasal dari batang horizontal. Pinak daun tersebut tetap menempel seumur hidup pohon.  Buah : Warna buah saat masih muda hijau cerah dan permukaannya licin mengkilat.3 cm. Bentuk buah bulat lonjong seperti buah melinjo. Percabangan tidak banyak dan umumnya muncul dari bagian-bagian yang lebih tua. sampai sejauh 2 m. Ujung daun fertil berwarna coklat seperti karat. Memiliki kekhasan sebagai herba yang tumbuh rendah dan kuat.  Ekologi : Biasanya pada atau dekat mangrove. biji 10 mm. panjang hingga 1 cm. Acrostichum aureum. Ukuran: buah panjang 2. Duri banyak. ketinggian hingga 2m. tinggi hingga 4 m. besar.bercampur dengan urat yang sempit dan tipis. tipis ujungnya. Ujung pinak daun yang steril dan lebih panjang membulat atau tumpul dengan ujung yang pendek.  Bunga : Mahkota bunga berwarna biru muda hingga ungu lembayung. kadang agak putih. Bagian bawah dari pinak daun tertutup secara seragam oleh sporangia yang besar. biji 5- 7 mm. Unit & letak: sederhana. Menebal di bagian pangkal. Bentuk: lanset lebar. Ukuran: 9-30 x 4-12 cm.5. Tingkat toleransi terhadap genangan air laut tidak . Bunga memiliki satu pinak daun penutup utama dan dua sekunder. terjurai di permukaan tanah. Letak: di ujung. ditutupi oleh urat besar. Ukuran: Buah panjang 2.  Herba rendah. sehingga membentuk bagian yang besar dan kukuh.

Kelopak Bunga: 8. Daun Mahkota: putih. Ukuran: 7-17 x 2-8 cm. biasanya pada tanah liat di belakang zona Avicennia. tapi pertumbuhannya lambat. Memiliki buah yang ringan dan mengapung sehinggga penyebarannya dapat dibantu oleh arus air. Ditemukan di bagian daratan dari mangrove. Ujung: agak meruncing. lalu menjadi coklat ketika umur bertambah. berakar lutut dan akar papan yang melebar ke samping di bagian pangkal pohon. setinggi A. atau di bagian tengah vegetasi mangrove kearah laut. Kemampuan tumbuhnya pada tanah liat membuat pohon jenis ini sangat bergantung kepada akar nafas untuk memperoleh pasokan oksigen yang cukup. seperti areal mangrove yang telah ditebangi yang kemudian akan menghambat tumbuhan mangrove untuk beregenerasi.speciosum. Bruguiera exaristata . Bruguiera cylindrica. bawahnya seperti tabung. Warna hijau didekat pangkal buah dan hijau keunguan di bagian ujung. muncul di ujung tandan (panjang tandan: 1-2 cm). ketinggian pohon kadang-kadang mencapai 23 meter.4 mm. relatif halus dan memiliki sejumlah lentisel kecil.  Daun : Permukaan atas daun hijau cerah bagian bawahnya hijau agak kekuningan.  Buah : Hipokotil (seringkali disalah artikan sebagai “buah”) berbentuk silindris memanjang. Jenis ini juga memiliki kemampuan untuk tumbuh pada tanah/substrat yang baru terbentuk dan tidak cocok untuk jenis lainnya. Formasi: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. Tidak seperti A. Ukuran: Hipokotil: panjang 8-15 cm dan diameter 5-10 mm.  Penyebaran : Asia Tenggara dan Australia. Kulit kayu abu-abu. seluruh Indonesia. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Pangkal buah menempel pada kelopak bunga. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. dan oleh karena itu sangat responsif terhadap penggenangan yang berkepanjangan.speciosum. Sisi luar bunga bagian bawah biasanya memiliki rambut putih.  Ekologi : Tumbuh mengelompok dalam jumlah besar. hijau kekuningan. Bentuk: elips. sering juga berbentuk kurva. jenis ini menyukai areal yang terbuka terang dan disinari matahari. 3.  Bunga : Bunga mengelompok. termasuk Irian Jaya.. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. Biasa terdapat pada habitat yang sudah rusak.  Deskripsi : Pohon selalu hijau.

Bentuk: elips sampai elips-lanset. Letak: di ketiak daun. Substrat yang cocok adalah tanah liat dan pasir.  Bunga : Bunga hijau-kekuningan. silindris agak menggelembung. Bruguiera gymnorrhiza  Deskripsi : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian kadang-kadang mencapai 30 m.5-11. serta tanah yang memiliki aerasi yang baik. panjang 13-16 mm.  Daun : Daun berkulit. bagian bawah memiliki bercak-bercak. serta tahap awal dalam transisi menjadi tipe vegetasi daratan.  Daun : Permukaan atas daun berwarna hitam. Akarnya seperti papan melebar ke samping di bagian pangkal pohon. Kelopak Bunga: 10-14.5-2 cm. Ukuran: 5.  Buah : Hipokotil berbentuk tumpul. Kadang-kadang . Ujung: meruncing. Bunga dan buah terdapat sepanjang tahun. tepi daun sering tergulung ke dalam.5 cm. tumpul dan berwarna hijau tua keunguan. pangkal batang menonjol. Ukuran: Hipokotil: panjang 5-7 cm dan diameter 6-8 mm  Ekologi : Tumbuh di sepanjang jalur air atau menuju bagian belakang lokasi mangrove. Mereka juga tumbuh pada tepi daratan dari mangrove. Kadang-kadang ditemukan suatu kelompok yang hanya terdiri dari jenis tersebut.  Penyebaran : Penyebaran terbatas. Anakan tumbuh tidak baik di bawah lindungan. menggantung.5-22 cm. Hipokotil lurus. pasir dan kadang-kadang tanah gambut hitam.5 cm.  Bunga : Bunga bergelantungan dengan panjang tangkai bunga antara 9-25 mm. berwarna abu-abu tua sampai coklat (warna berubah-ubah). warna merah muda hingga merah. Formasi: soliter. panjang 2-2. Daun Mahkota: 10-14. berwarna hijau pada lapisan atas dan hijau kekuningan pada bagian bawahnya dengan bercak-bercak hitam (ada juga yang tidak).5 x 2. sepanjang tambak serta sungai pasang surut dan payau. Hipokotil relatif kecil dan mudah tersebar oleh pasang surut atau banjir. Letak: di ketiak daun. bundar melintang.  Ekologi : Merupakan jenis yang dominan pada hutan mangrove yang tinggi dan merupakan ciri dari perkembangan tahap akhir dari hutan pantai. Toleran terhadap salinitas yang tinggi. panjang 10-15 mm. Kulit kayu memiliki lentisel. Daun mahkota: 8-10. Jenis ini toleran terhadap daerah terlindung maupun yang mendapat sinar matahari langsung. Ukuran: Hipokotil: panjang 12-30 cm dan diameter 1. Irian Jaya Selatan dan Australia Utara. permukaannya halus hingga kasar. panjang 30-50. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. tepi daun mahkota memiliki rambut berwarna putih dan kemudian akan rontok. juga memiliki sejumlah akar lutut. Ditemukan di tepi pantai hanya jika terjadi erosi pada lahan di hadapannya. Formasi: soliter. Ujung: meruncing Ukuran: 4. Tumbuh di areal dengan salinitas rendah dan kering. dan memiliki sejumlah besar akar nafas berbentuk lutut. menggantung. Kelopak bunga: 8-10. Unit & letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: bulat memanjang.5-7 x 8.5 x4.  Buah : Buah melingkar spiral. putih dan coklat jika tua. Kulit kayu berwarna abu-abu tua. Substrat- nya terdiri dari lumpur. Diketahui dari Timor. panjang 10-13 mm.  Deskripsi : Semak atau pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 10 m.

bagian bawah berbentuk tabung. Berambut pada tepi bawah dan agak berambut pada bagian atas cuping. Ukuran: Hipokotil: panjang 8. Akar lutut dapat mencapai 30 cm tingginya. Bentuk: elips.  Penyebaran : Dari India hingga Burma. Bunga dan buah terdapat sepanjang tahun. Kelopak Bunga: 8.  Bunga : Letak: Di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga (panjang tandan: 18-22 cm).  Daun : Terdapat bercak hitam di bagian bawah daun dan berubah menjadi hijaukekuningan ketika usianya bertambah. warna hijau kekuningan. memiliki kelopak bunga berwarna kemerahan. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bruguiera hainessii  Deskripsi : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 30 meter dan batang berdiameter sekitar 70 cm.  Daun : Daun berkulit. Thailand.  Buah : Hipokotil berbentuk cerutu atau agak melengkung dan menebal menuju bagian ujung. Formasi: kelompok (3-10 bunga per tandan). dengan lentisel besar berwarna coklat-kekuningan dari pangkal hingga puncak. Bruguiera parviflora  Deskripsi : Berupa semak atau pohon kecil yang selalu hijau. seluruh Indonesia dan Papua New Guinea. Ukuran: 9-16 x 4-7 cm.5-2mm. Ukuran: 5. Malaysia. agak melengkung.5-13 x 2-4. Kulit kayu berwarna coklat hingga abu-abu. .  Buah : Buah melingkar spiral. Letak: di ketiak daun. Kulit kayu burik. putihhijau kekuningan.5-1 cm. bercelah dan agak membengkak di bagian pangkal pohon. berwarna hijau pada lapisan atas dan hijau kekuningan di bawahnya. panjang 7-9 mm. Kelopak Bunga: 10. bagian bawah berbentuk tabung. berwarna abu-abu hingga coklat tua. dan mengundang burung untuk melakukan penyerbukan. Bunga relatif besar. juga ditemukan di pinggir sungai yang kurang terpengaruh air laut. menggelembung. permukaannya halus.5 cm. tergantung. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. tinggi (meskipun jarang) dapat mencapai 20 m. panjang 2 cm. panjang 1. Ujung: meruncing. Berambut pada tepinya. panjangnya 7-9 mm. warna hijau kekuningan.  Ekologi : Tumbuh di tepi daratan hutan mangrove pada areal yang relatif kering dan hanya tergenang selama beberapa jam sehari pada saat terjadi pasang tinggi. Hipokotil silindris. Ujung: meruncing. panjangnya 5 mm. Bentuk: elips sampai bulat memanjang. Daun mahkota: 8. Formasi: kelompok (2-3 bunga per tandan. hijau pucat.  Bunga : Bunga mengelompok di ujung tandan (panjang tandan: 2 cm).15 cm dan diameter 0.  Penyebaran : Dari Afrika Timur dan Madagaskar hingga Sri Lanka. hal tersebut dimungkinkan karena buahnya terbawa arus air atau gelombang pasang. Regenerasinya seringkali hanya dalam jumlah terbatas. Daun Mahkota: putih. Malaysia dan Indonesia menuju wilayah Pasifik Barat dan Australia Tropis. Ukuran: Hipokotil: panjang 9 cm dan diameter 1 cm.

dan kadang-kadang . Hipokotilnya yang ringan mudah untuk disebarkan melalui air. Substrat yang cocok termasuk lumpur. Kadang-kadang terdapat pada pantai berpasir.  Penyebaran : Dari India. perbungaan tercatat dari bulan Juni hingga September. Seluruh Asia Tenggara (termasuk Indonesia) hingga Australia utara. Memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian 5 meter. Daunnya berlekuk-lekuk. Di Australia.  Bunga : Letak: Di ketiak daun.  Ekologi : Jenis ini membentuk tegakan monospesifik pada areal yang tidak sering tergenang.  Penyebaran : Dari India. Rhizophora apiculata  Pohon dengan ketinggian mencapai 30 m dengan diameter batang mencapai 50 cm. memiliki sejumlah lentisel berukuran besar. disebabkan oleh gangguan serangga. Kulit kayu coklat muda-abu-abu.  Daun : Daun agak tebal. gymnorrhiza. panjang tabung 10-15 mm. Biasanya tumbuh pada kondisi yang lebih basah dibanding B. dan berbuah dari bulan September hingga Desember. Bruguiera sexangula  Deskripsi : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian kadang-kadang mencapai 30 m. Kadang berambut halus pada tepinya. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Formasi: soliter (1 bunga per tandan). Ukuran: Hipokotil: panjang 6-12 cm dan diameter 1. berkulit. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. payau dan tawar. Ujung: meruncing.5 cm. dan nampaknya tumbuh dengan baik pada areal yang menerima cahaya matahari yang sedang hingga cukup. Kelopak bunga: 10-12. tanah payau dan bersalinitas tinggi. Giesen & Sukotjo. Daun makhota: 10- 11. 1991). dan pangkal batang yang membengkak. Dapat menjadi sangat dominan di areal yang telah diambil kayunya (misalnya Karang Gading-Langkat Timur Laut di Sumatera Utara.  Buah : Hipokotil menyempit di kedua ujung. Toleran terhadap kondisi air asin. Seluruh Asia Tenggara (termasuk Indonesia) hingga Australia utara. warna kuning kehijauan atau kemerahan atau kecoklatan. yang merupakan ciri khasnya. Hipokotil disebarkan melalui air. Akar lutut. Bentuk: elips. Individu yang terisolasi juga ditemukan tumbuh di sepanjang alur air dan tambak tepi pantai. halus hingga kasar. pada berbagai tipe substrat yang tidak sering tergenang. pasir.  Ekologi : Tumbuh di sepanjang jalur air dan tambak pantai. putih dan kecoklatan jika tua. dan memiliki bercak hitam di bagian bawah. panjang 15mm. Bunganya yang besar diserbuki oleh burung. Ukuran: 8-16 x 3-6 cm. dan kadangkadang akar papan. seperti kupu-kupu. Bunga dibuahi oleh serangga yang terbang pada siang hari.

5 cm.5-5 cm.5-5.  Daun : Daun berkulit.  Bunga : Gagang kepala bunga seperti cagak. seringkali kasar di bagian pangkal. panjangnya 13-19 mm. halus. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. jarang melebihi 30 m. Bentuk: elips melebar hingga bulat memanjang. . Akar tunjang dan akar udara yang tumbuh dari percabangan bagian bawah. Benang sari: 11-12. Daun mahkota: 4. Gagang daun berwarna hijau. kuning-putih. warna hijau tua dengan hijau muda pada bagian tengah dan kemerahan di bagian bawah. Hipokotil silindris.putih.5-8 cm. panjangnya 9-11 mm. tak bertangkai. masing-masing menempel pada gagang individu yang panjangnya 2.  Buah : Buah lonjong/panjang hingga berbentuk telur berukuran 5-7 cm. bersifat biseksual.5 cm.  Daun : Berkulit. melengkung. Percabangan akarnya dapat tumbuh secara abnormal karena gangguan kumbang yang menyerang ujung akar. memiliki akar udara yang keluar dari cabang. Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang kuat secara permanen. berbiji tunggal. Kelopak bunga: 4.5-8. ada rambut. 9 mm. seluruh Malaysia dan Indonesia hingga Australia Tropis dan Kepulauan Pasifik. Hipokotil silindris. Benang sari: 8. panjang 2. tak bertangkai. Tingkat dominasi dapat mencapai 90% dari vegetasi yang tumbuh di suatu lokasi. berwarna hijaukecoklatan. Ujung: meruncing. berisi satu biji fertil. kuning kecoklatan. kepala bunga kekuningan yang terletak pada gagang berukuran <14 mm. Kepiting dapat juga menghambat pertumbuhan mereka karena mengganggu kulit akar anakan. Ukuran: Hipokotil panjang 18-38 cm dan diameter 1-2 cm. Ujung: meruncing. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. kuning pucat. Letak: di ketiak daun. Ukuran: 7- 19 x 3. warna coklat. Pinak daun terletak pada pangkal gagang daun berukuran 5. tidak ada rambut. Formasi: Kelompok (4-8 bunga per kelompok). berwarna hijau jingga. Batang memiliki diameter hingga 70 cm dengan kulit kayu berwarna gelap hingga hitam dan terdapat celah horizontal. Gagang daun panjangnya 17-35 mm dan warnanya kemerahan. Formasi: kelompok (2 bunga per kelompok). Leher kotilodon berwarna merah jika sudah matang. Kelopak bunga: 4. Kulit kayu berwarna abu-abu tua dan berubah-ubah. panjang 2-3. Ukuran: 11-23 x 5-13 cm.  Buah : Buah kasar berbentuk bulat memanjang hingga seperti buah pir.  Penyebaran : Sri Lanka.5 cm. Daun mahkota: 4.  Bunga : Biseksual. Letak: Di ketiak daun. tetapi perbungaan terdapat sepanjang tahun. dalam dan tergenang pada saat pasang normal.  Ekologi : Tumbuh pada tanah berlumpur. Bentuk: elips menyempit. berbintil. Rhizophora mucronata  Pohon dengan ketinggian mencapai 27 m. Tumbuh lambat. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan pasir.

Leher kotilodon kuning kehijauan ketika matang. serta pada tanah yang kaya akan humus. Papua New Guinea dan Australia Tropis. Pertumbuhan optimal terjadi pada areal yang tergenang dalam.  Ekologi : Di areal yang sama dengan R. Pada umumnya tumbuh dalam kelompok. Letak: di ketiak daun. berwarna coklat. Kelopak bunga: 4. Ukuran: Hipokotil: panjang 20-35 cm (kadang sampai 50 cm) dan diameter 1. dekat atau pada pematang sungai pasang surut dan di muara sungai. panjang gagang 1-3. Anakan seringkali dimakan oleh kepiting. Benang sari: 8. berbentuk buah pir. Memiliki akar tunjang dengan panjang hingga 3 m. tetapi juga sebagai jenis pionir di lingkungan pesisir atau pada bagian daratan dari mangrove. Hal tersebut mungkin dikarenakan adanya akumulasi tanin dalam jaringan yang kemudian melindungi mereka.  Bunga :Gagang kepala bunga seperti cagak. Asia tenggara. berbintik teratur di lapisan bawah. Gagang daun berwarna hijau. Unit & Letak: sederhana & berlawanan.5-2.apiculata tetapi lebih toleran terhadap substrat yang lebih keras dan pasir. ada rambut. dan sebuah tangkai putik. pasir dan batu. Rhizophora stylosa  Pohon dengan satu atau banyak batang. Bali. Tercatat dari Jawa. sepanjang Indonesia. Madagaskar. Hipokotil silindris. Ujung: meruncing.  Penyebaran :Di Taiwan. bercelah.5-4 cm. kasar dan berbintil. Sumbawa. Merupakan salah satu jenis tumbuhan mangrove yang paling penting dan paling tersebar luas. Menyukai pematang sungai pasang surut. Sumba. panjangnya 13-19 mm. Sulawesi. Filipina. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. jarang sekali tumbuh pada daerah yang jauh dari air pasang surut. biseksual.5 cm. berbintil agak halus. Sumatera. Kemungkinan diserbuki oleh angin. Menghasilkan bunga dan buah sepanjang tahun. dengan pinak daun panjang 4-6 cm. Formasi: kelompok (8- 16 bunga per kelompok).  Ekologi :Tumbuh pada habitat yang beragam di daerah pasang surut: lumpur. Ukuran: Hipokotil: panjang 36-70 cm dan diameter 2-3 cm. putih. berwarna abu-abu hingga hitam. Terminalia catappa . berisi 1 biji fertil. Leher kotilodon kuning ketika matang.0 cm. Lombok. tinggi hingga 10 m. seluruh Malaysia dan Indonesia. kuning hijau. masing-masing menempel pada gagang individu yang panjangnya 2. dan akar udara yang tumbuh dari cabang bawah. Melanesia dan Mikronesia. Daun mahkota: 4. Ukuran: meruncing. Maluku dan Irian Jaya. Anakan yang telah dikeringkan dibawah naungan untuk beberapa hari akan lebih tahan terhadap gangguan kepiting. Malaysia. 8 mm. Satu jenis relung khas yang bisa ditempatinya adalah tepian mangrove pada pulau/substrat karang. Kulit kayu halus.  Penyebaran :Afrika Timur. Bentuk: elips melebar. Mauritania.  Daun :Daun berkulit.  Buah :Panjangnya 2. Dibawa dan ditanam di Hawaii. sehingga menghambat pertumbuhan mereka.5-5 cm. panjang 4-6 mm.

. kemudian berubah menjadi merah tua. Tumbuh di bagian tropis Asia.5 cm. sehingga kanopi pohon tampak berwarna merah. Ukuran 5-7 cm x 4x5. Ujung: meruncing.  Daun :Susunan daun berpasangan (umumnya 3-4 pasang pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. Letak: di ketiak daun.  Ekologi : Sebarannya sangat luas.  Daun : Sangat lebar. Bentuk: bulat telur- bulat memanjang. dengan atau tanpa tangkai putik yang pendek. Unit & Letak: majemuk & berlawanan. Sebagian besar dari bunga merupakan bunga jantan. suatu kondisi yang terutama terlihat jelas pada pohon yang masih muda.  Pohon meluruh dengan ketinggian 10-35 m. dengan sebuah kelenjar terletak pada salah satu bagian dasar dari urat tengah. Australia Utara dan Polinesia. Unit & Letak: s e d e r h a n a dan bersilangan. tetapi agak jarang di Sumatera dan Kalimantan. Cabang muda tebal dan ditutupi dengan rapat oleh rambut yang kemudian akan rontok. Mahkota pohon berlapis secara horizontal. umumnya memiliki 6-9 pasang urat yang jaraknya berjauhan. Kulit kayu kasar berwarna coklat dan mengelupas seperti guratan-guratan kecil dan sempit. Bentuk: bulat telur terbalik. Memiliki akar udara tapi tidak jelas. Xylocarpus rumphii  Pohon tingginya dapat mencapai 6 m. Kelopak bunga: halus di bagian dalam.25 x 5-14 cm (kadang panjangnya sampai 30 cm). Kulit buah berwarna hijau hingga hijau kekuningan (mengkilat) di bagian tengahnya.  Buah : Penampilan seperti buah almond.  Penyebaran : Di seluruh Indonesia. Bunga berwarna putih atau hijau pucat dan tidak bergagang. biasanya dua kali setahun (di Jawa pada bulan Januari atau Februari dan Juli atau Agustus). Ukuran: 7 x 12 cm. Bersabut dan cangkangnya sangat keras. Daun berubah menjadi merah muda atau merah beberapa saat sebelum rontok. Formasi: bulir. Warna hijau tua. Ukuran: 8. Tumbuh di pantai berpasir atau berkarang dan bagian tepi daratan dari mangrove hingga jauh ke darat. Ujung: membundar. Pohon menggugurkan daunnya (ketika warnanya berubah merah) sekali waktu.  Bunga : Tandan bunga (panjangnya 8-16 cm) ditutupi oleh rambut yang halus. Penyebaran buah dilakukan melalui air atau oleh kelelawar pemakan buah.

putih krem. . di belakang atau sedikit di atas garis pasang tinggi. granatum). Ukuran: buah: diameter 8 cm (lebih kecil dari X. bulat seperti jambu bangkok. Bunga :Terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja. Formasi: Gerombol acak. Letak: di ketiak.  Buah : Warna hijau. Penyebaran : Di Indonesia terdapat di Jawa dan Bali. Daun mahkota: 4. hijau kekuningan. Terdapat di pantai berpasir atau berbatu. Kelopak bunga: 4 cuping. permukaan licin berkilauan dan di dalamnya terdapat 4-10 kepingan biji berbentuk tetrahedral. Benang sari: menyatu membentuk tabung.  Ekologi : Jenis mangrove sejati. krem-putih kehijauan.