You are on page 1of 9

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kebutuhan masyarakat untuk menunjang kehidupan sosial kini semakin banyak,seperti adanya fasilitas perkantoran,
perhotelan, dan pusat perbelanjaan. Salah satu fasilitas yang banyak mengalami perkembangan dan juga dibutuhkan oleh
masyarakat terutama masyarakat modern adalah pusat perbelanjaan. Pusat perbelanjaan itu sendiri merupakan sebuah
bangunan yang terdiri dari beberapa toko eceran, yang umumnya dengan satu atau lebih toko serba ada,toko grosir dan
tempat parkir. Saat ini pusat perbelanjaan modern tidak hanya berfungsi sebagai pasar tempat bertemunya penjual dan
pembeli, namun telah menjadi ruang publik tempat masyarakat melakukan interaksi sosial, melakukan pertemuan, bahkan
menjadi tempat rekreasi bagi keluarga (Ishnanto, 2010).
Perkembangan pusat perbelanjaan berawal dari pasar tradisional hingga pasar modern berupa supermaket.Lalu
muncul gerai modern atau departement store. Tahun 1980-an industri ritel memunculkan konsep baru yang dikenal dengan
istilah one stop shopping. Perkembangan lebih lanjut adalah kecenderungan menjadikan pusat-pusat perbelanjaan sebagai
pusat hiburan. Dengan adanya berbagai restoran baik internasional, nasional, maupun lokal, kafe-kafe yang banyak
digemari anak muda, wahana bermain anak, sarana olahraga sampai toko buku. Penggabungan pusat belanja dan fasilitas
hiburan akan menarik pengunjungnya untuk melakukan berbagai kegiatan, seperti makan malam atau berbelanja dengan
suasana terbuka. Fenomena ini memunculkan konsep pusat perbelanjaan baru yang dinamakan dengan City Walk.
Konsep City walk merupakan pusat perbelanjaan yang penataan bangunannya mengelilingi area pejalan kaki dengan
tujuan memberikan suasana baru dan kenyamanan bagi pejalan kaki. City walk sebenarnya tidak lebih dari sebuah ruang
terbuka yang menghubungkan beberapa fungsi komersial dan hiburan dalam suatu kawasan perbelanjaan. Pusat
perbelanjaan berkonsep City Walk ini dapat menjadi tempat tujuan ritel yang nyaman di mana para pengunjungnya dapat
menghabiskan waktu sepanjang hari untuk berbelanja, melihat- lihat, dan bersenang-senang. Konsep integrasi pusat
perbelanjaan dan hiburan di Indonesia menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan, karena secara komersiil memberikan
keuntungan bagi pendapatan daerah. Hal itu terlihat dengan adanya pusat perbelanjaan yang dipadukan dengan fungsi
hiburan dan kenyamanan berbelanja yang dikenal dengan istilah City Walk.

1

dimana perkembangan tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek. Namun. dimana kosep pusat perbelanjaan tersebut merupakan pusat perbelanjaan yang tertutup. Pada masa kolonial Belanda kawasan ini merupakan kawasan pusat perdagangan di Kota Malang selain di kawasan Pecinan. toko grosir. hal ini terlihat dari munculnya beberapa pusat perbelanjaan di kota tersebut. diantaranya aspek ekonomi. Aktivitas perdagangan di kota Malang sudah banyak berkembang. Pada kawasan perdagangan ini terdapat beberapa jenis toko. Kawasan Kayutangan berkonsep koridor jalan yang memiliki fungsi utama sebagai kawasan perdagangan dan jasa serta adapula kawasan permukiman di sekitar Kayutangan. pusat perbelanjaan yang ada di kota Malang masih mengunakan konsep indoor. Sedangkan pusat perbelanjaan dengan konsep City Walk belum perna ada di kota Malang. Tapak perencanaan dikonsentrasikan di wilayah pusat kota Malang. Perkembangan kota-kota di Indonesia kini semakin pesat. Hal ini disebabkan karena banyaknya persaingan di sektor industri perdagangan yang ada di kota Malang. Kecamatan Klojen. diantaranya toko eceran. Memasuki era modernisasi. Basuki Rahmat. hal ini terlihat dari adanya kawasan pertokoan di Kayutangan. kota Malang kini sudah banyak mengalami perubahan. sehingga memerlukan banyak energi listrik untuk membantu adanya pencahayaan buatan yang digunakan oleh lampu-lampu pada siang hari maupun malam hari serta banyaknya pendingin ruangan yang digunakan pada pusat perbelanjaan tersebut. Oleh karena itu. toko serba ada (toserba). 2 . kawasan ini perlu dilakukan re-desain menjadi pusat perbelanjaan yang dapat mengikuti era modern dan terintegrasi dengan konsep City Walk. sosial. Dalam aspek ekonomi. Kayutangan itu sendiri terletak di Jl. khususnya di Kota Malang . pendidikan. dan juga beberapa toko yang menawarkan jasa dan pariwisata. kawasan ini semakin kurang produktif dalam aktivitas perdagangan. Pusat Perbelanjaan ini diharapkan mampu memberikan layanan fasilitas belanja yang mengakomodir kepentingan pusat perbelanjaan dan City Walk yang optimal bagi masyarakat kota Malang maupun para wisatawan/pendatang domestik dan mancanegara. dan budaya. dimana kawasan Kayutangan ini merupakan kawasan bersejarah di kota Malang.

meningkatkan kualitas estetika. Menggunakan energi. karena pada kali ini ada penggunaan konsep City Walk bertemakan “Green Building” yang memberikan wajah baru bagi kota malang. Tugas pada kali ini ialah merancang sebuah pusat perbelanjaan dengan konsep City Walk. Tetapi pusat perbelanjaan yang dirancang pada kali ini berbeda dengan pusat berbelanjaan yang ada di kota Malang pada umumnya. dan degradasi lingkungan Perancangan dengan konsep Green Building ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. 3 . dimana pusat perbelanjaan itu sendiri merupakan sekelompok bangunan komersial dengan arsitektur terpadu yang dibangun pada lokasi yang direncanakan. diantaranya dapat memperbaiki kulaitas udara sekitar. Konsep ini dipilih karena di sekitar tapak banyak terdapat unsur-unsur alami yang ditumbuhi oleh banyak pepohonan hijau. dikembangkan. sehingga diharapkan pada bangunan pusat perbelanjaan tersebut akan menyatu dengan alam dan ramah terhadap lingkungan. Mengurangi limbah.2 Gambaran Umum Tema Perencanaan Merancang objek pusat perbelanjaan yang terintegrasi dengan konsep City Walk.1. mereduksi limbah. polusi. air. dan sumber daya lain secara efisien 2. dan dikelola sebagai sebuah unit operasional (Kowinski. Melindungi kesehatan masyarakat 3. Mall ini tidak hanya digunakan sebagai tempat berbelanja tetapi juga digunakan sebagai sarana rekreasi bagi masyarakat. dimiliki. Konsep Green Building itu sendiri merupakan bangunan yang ramah terhadap lingkungan. Selain itu . meningkatkan produktivitas pengunjung. serta meningkatkan kenyamanan pengunjung maupun masyarakat sekitar. 1985). Bangunan Hijau (Green Building) itu sendiri dirancang untuk mengurangi dampak lingkungan bagunan terhadap kesehatan manusia dan lingkungan alami dengan : 1.

3.keterpaduan-kesinambungan gerak dan visual.5.000 m² 1. maupun lingkungan-kawasan kota.5.000 – 10. 4 .5 Jumlah massa: majemuk (> 2 massa).1 Lokasi Tapak berada di kawasan pusat kota Malang.6 Jumlah lantai bertingkat rendah – menengah (2 lantai).keterpaduan-kesinambungan gerak dan visual.1. 1. maupun lingkungan-kawasan kota. tampilan bangunan yang berkarakter sesuai dengan fungsi yang diwadahi. tapak.5. tata ruang efektif dan efisien. untuk massa fungsi utama: 4 lantai.5 Deskripsi Tugas Batasan Tugas 1.5. 1. komposisi ruang-massa yang integrative baik dalam skala bangunan.3 Luas Tapak berkisar 9860 m2. berfariasi – proporsional mulai relatif datar (≥ 10%) sampai dengan maksimal 20% 1.3 Rumusan Masalah 1. serta dapat memenuhi persyaratan bangunan setempat.4 Luas lantai bangunan bangunan fungsional: ≥ 8. tata ruang efektif dan efisien. serta dapat memenuhi persyaratan bangunan setempat? 1. 1.9 Tema: Fasilitas Pusat Perdagangan dan City Walk.7 Koefisien Dasar Bangunan (KDB): maksimal 60% 1.1 Bagaimana cara menciptakan pusat perbelanjaan dengan konsep City Walk di kawasan Kayutangan dengan ruang yang fungsional dan nyaman. tampilan bangunan yang berkarakter sesuai dengan fungsi yang diwadahi. 1.4 Tujuan Merancang pusat perbelanjaan dengan konsep City Walk di kawasan Kayutangan dengan ruang yang fungsional dan nyaman.5. tapak.2 Tersedia 1 lokasi tapak yaitu kawasan pertokoan Kayutangan.5.5.5.8 Topografi tapak untuk peletakan massa-massa banguanan: berkontur. 1.5. komposisi ruang-massa yang integrative baik dalam skala bangunan. 1.

b. b. Rencana Rinci Tata Ruang guna tercapainya penataan kota yang asri serta terjaminnya kesehatan. Peraturan Pemerintah No. dan berhasil guna dengan berpedoman pada kaidah penataan ruang sehingga kualitas ruang dapat terjaga keberlanjutannya demi terwujudnya kesejahteraan umum. 2. Peraturan Daerah Kota Malang No. Peraturan Daerah Kota Malang No 4 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Malang Tahun 2010-2030. keselamatan. Bahwa dalam rangka mewujudkan keserasian dan keterpaduan pembangunan antar sektor. Bahwa untuk mendirikan bangunan gedung agar sesuai persyaratan administratif dan persyaratan teknis serta pembangunan yang berwawasan lingkungan serta perlu melakukan penataan dan penertiban bangunan dalam wilayah Kota Malang. 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. berdaya guna. a. dan Daerah Otonom di sekitarnya yang berbatasan. daerah dan masyarakat di Kota Malang. keadilan social.1. dan kelestarian lingkungan. 4. dan keamanan serta ketertiban masyarakat. 20 Tahun 2012 tentang Pengelolaan dan Pemberdayaan Pasar Tradisional. 1 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Bangunan. 5 . 28/2002. Bahwa dalam rangka penataan pembangunan agar sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah. 3. Bahwa pembangunan Kota Malang perlu diarahkan pada pemanfaatan ruang secara bijaksana. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Timur. Bahwa untuk mendorong pasar tradisional mampu berkompetisi dan berdaya saing dengan pusat perbelanjaan dan toko modern diperlukan pengelolaan dan pemberdayaan pasar tradisional secara professional.6 Dasar Hukum Pembangunan Setempat 1. a. maka diperlukan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Malang yang selaras dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.

Peraturan Pemerintah No 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional kabupaten/kota. d. Bahwa agar bangunan gedung dapat terselenggara secara tertib dan terwujud sesuai dengan fungsinya. Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Bahwa bangunan gedung harus diselenggarakan dan diwujudkan sesuai dengan fungsinya. 6 . Pasal 2 : (1) Pendirian Pasar Tradisional. 6. a. serta norma-norma keadilan. sehingga tercipta tertib persaingan dan keseimbangan kepentingan produsen. took modern dan konsumen. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung. saling menguntungkan dan tanpa tekanan dalam hubungan antar pemasok barang dengan took modern serta pengembangan kemitraan dengan usaha kecil. Termasuk Peraturan Zonasi. diperlukan peran masyarakat dan upaya pembinaan. 7. perlu memberikan pedoman bagi penyelenggaraan pasar tradisional. c. Undang-undang No. serta dipenuhinya persyaratan administrative dan teknis bangunan gedung. (2) Peraturan zonasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota setempat dengan mempertimbangkan pemanfaatan ruang dalam rangka menjaga keseimbangan antara jumlah Pasar Tradisional dengan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern wajib berpedoman pada Rencana Tata Ruang Wilayah dan Rencana Detail Tata Ruang Wilayah Provinsi/Kabupaten/Kota. b.5. pusat perbelanjaan dan took modern. Bahwa untuk membina pengembangan industri dan perdagangan barang dalam negeri serta kelancaran distribusi barang. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor : 70/M-DAG/12/2013 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional. pemasok. Bahwa bangunan gudang penting sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya untuk mencapai berbagai sasaran yang menunjang terwujudnya tujuan pembangunan nasional. Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

penetapan fungsi. Pasal 4 : (1) Persyaratan teknis bangunan gedung meliputi: a. dan klasifikasi persyaratan teknis. dan c. 7 . Fungsi dan penetapan fungsi bangunan gedung. 3) Persyaratan kenyamanan bangunan gedung. b. persyaratan tentang tata bangunan dan tata lingkungan. 2) Persyaratan kesehatan bangunan gedung. Klasifikasi bangunan gedung. Persyaratan tata bangunan dan lingkungan yang terdiri dari: 1) Peruntukan lokasi dan intensitas bangunan gedung. 4) Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL).8. dan kemudahan bangunan gedung. dan 5) Pembangunan bangunan gedung di atas dan/atau di bawah tanah. b. kenyamanan. air dan/atau prasarana/sarana umum. 3) Pengendalian dampak lingkungan. Dalam peraturan ini tercantum fungsi. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomer 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung. dan 4) Persyaratan kemudahan bangunan gedung. Persyaratan keandalan bangunan gedung yang terdiri dari: 1) Persyaratan keselamatan bangunan gedung. 2) Arsitektur bangunan gedung. persyaratan keandalan. Pasal 3 : (1) Fungsi dan klasifikasi bangunan gedung meliputi persyaratan mengenai: a. Perubahan fungsi dan/atau klasifikasi bangunan gedung.

dasar hukum dan sistematika pembahasan. polusi dan system utilitas pada tapak. bentuk. BAB II GAMBARAN UMUM PERENCANAAN Pada bab ini menjelaskan tentang deskripsi tapak dari beberapa aspek yaitu aspek fisik dan aspek alami. Dalam aspek fisik membahas tentang lokasi. Persyaratan teknis fasilitas dan aksesibilitas pada bangunan gedung dan lingkungan meliputi: a) Ukuran dasar ruang i) Lift tangga (stairway lift) b) Jalur pedestrian j) Toilet c) Jalur pemandu k) Pancuran d) Area parkir l) Wastafel e) Pintu m) Telepon f) Ram n) Perlengkapan dan Peralatan Kontrol g) Tangga o) Perabot h) Lift p) Rambu dan Marka. rumusan masalah. Sedangkan pada aspek alami membahas tentang iklim yang mencakup pencahayaan alami dan buatan pada tapak serta arah arah angin pada tapak.7 Sistematika Pembahasan Laporan Pendahuluan Diskripsi Proyek merupakan laporan yang membahas tentang data eksisting tapak s ecara menyeluruh dan juga membahas tentang metode perancangan dari tugas kelompok dan tugas individu. pencapaian. 2. ukuran. BAB I PENDAHULUAN Bab Pendahuluan ini merupakan bagian yang membahas tentang pendahuluan laporan diskripsi proyek yang terdiri dari latar belakang. diantaranya : 1. Laporan ini terdiri dari beberapa bagian. batas. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitaspada Bangunan Gedung dan Lingkungan. tujuan. sirkulasi tapak dan juga membahas tentang kebisingan. batasan tugas. 8 . 1. kondisi. 9. view.

baik kelompok maupun individu/mandiri serta dilengkapi pula dengan format sajian pekerjaan. 4. Selain mengenai dua aspek tersebut. 5. pada bab ini juga membahas tentang peraturan daerah setempat serta elemen kota di sekitar tapak. Selain itu dilengkapi pula dengan jadwal pekerjaan yang dikerjakan pada setiap minggunya. BAB IV PRODUK PEKERJAAN Pada bab ini dijelaskan produk-produk pekerjaan yang dihasilkan. 9 . BAB V JADWAL DAN ORGANISASI KERJA Bab ini berisikan tentang tahapan pekerjaan yang disertai dengan penilaian tiap individu yang berkontribusi dalam penyelesaian laporan ini. 3. analisa. Selain itu dilengkapi pula dengan skema atau diagram yang dapat menjelaskan proses atau tahapan-tahapan tersebut. BAB III METODE PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Dalam bab ini berisikan tentang metode serta tahapan dari pengumpulan data. dan perancangan.