You are on page 1of 6

Morfologi dan Taksonomi Escherichia coli

Bakteri ini termasuk flora normal tubuh yang berbentuk batang pendek
(kokobasil) berukuran 0,4-0,7 μm x 1,4 μm. Bersifat Gram negatif.
E. coli memiliki 150 tipe antigen O, 50 tipe antigen H dan 90 tipe antigen K.
Beberapa antigen O dapat dibawa oleh organisme, sehingga beberapa diantaranya sama
dengan yang dimiliki Shigella. Terkadang penyakit spesifik berkaitan dengan antigen O
ini, seperti yang ditemukan pada penyakit diare dan infeksi saluran kemih. Antigen K
pada Escherichia coli adalah polisakarida dan berfungsi untuk melekat pada sel epitel
sebelum menginvasi saluran cerna atau saluran kemih. Selain itu juga memiliki antigen
CFAs I dan II yang berfungsi untuk melekat pada sel epitel usus binatang. Bakteri ini
termasuk bakteri anaerob fakultatif sehingga dapat hidup dalam kondisi aerob maupun
anaerob. Oksigen digunakan untuk akseptor elektron terminal sehingga dapat tumbuh
baik secara oksidatif dan dapat menggunakan reaksi fermentasi untuk memperoleh energi
secara anaerob. Bakteri jenis fakultatif anaerob merupakan bakteri patogen yang sering
dijumpai.
Taksonomi Escherichia coli yaitu sebagai berikut.

Kingdom : Prokaryotae

Divisi : Gracilicutes

Kelas : Scotobacteria

Ordo : Eubacteriales

Famili : Enterobacteriaceae

Genus : Escherichia

Spesies : Escherichia coli
Pertumbuhan Escherichia coli

Dapat hidup dalam suhu 10-40˚C dengan suhu optimum 37˚C, pH optimum
7,0 – 7,5,hidup ditempat lembab, mati dengan pasteurisasi. E. coli meragi glukosa
menjadi asam disertai dengan pembentukan gas, meragi laktosa, menghasilkan nitrit
hasil reduksi dari nitrat, membentuk indol atau tidak. Pada tes sitrat hasilnya (-).

Bakteri Escherichia coli dapat tumbuh berlebihan dalam tubuh manusia bila
manusia mengkonsumsi makanan yang telah tercemar bakteri ini, seperti daging
mentah, daging yang tidak sempurna dalam proses pengolahan, susu, ataupun feses
yang tercemar dalam pangan atau air.

Bakteri ini dapat tumbuh baik pada hampir seluruh media yang biasa dipakai
untuk isolasi bakteri enterik. Koloni E. coli dalam medium tampak bulat berukuran
kecil hingga sedang, basah, halus, permukaan licin, pinggiran rata dan berwarna
keabu-abuan atau kilap logam.

Patogenesis Penyakit oleh Escherichia coli

Bakteri E. coli termasuk bakteri koliform dan hidup dalam usus manusia
sehingga dapat digunakan sebagai indikator sanitasi. Dengan adanya bakteri ini pada
makanan atau air, maka dapat dikatakan bahwa dalam tahap pengolahannya
berkontak dengan feses dari usus manusia ataupun hewan sehingga menyebabkan
kelainan atau mengganggu kesehatan manusia. Dan karena bakteri ini merupakan
flora normal usus, maka sebenarnya tidak patogen dalam saluran pencernaan dan
adanya kemungkinan memiliki peran dalam fungsi dan nutrisi normal pada tubuh,
namun keberadaannya diluar saluran pencernaan, ditempat yang jarang terdapat flora
normal, atau melebihi batas normal menyebabkannya menjadi patogen.
Bakteri ini dapat menyebabkan infeksi diluar usus seperti sistitis, kolesistitis,
apendisitis, peritonitis, pielonefritis, infeksi pada luka pasca operasi, meningitis dan
sepsis. Infeksi oleh bakteri ini sering juga pada saluran kemih dengan tanda dan
gejala yang tidak khas infeksi Escherichia coli. Selain itu juga dapat menginfeksi
saluran pencernaan dengan klasifikasi bakteri Escherichia coli berdasarkan sifat
virulensinya, dan dapat menyebabkan penyakit diare dengan mekanisme yang
berbeda. Beberapa golongan tersebut yaitu:
1) Escherichia coli enteropatogenik (EPEC)
menyebabkan diare cair yang sering terjadi pada bayi di negara berkembang
dan dapat sembuh sendiri tapi dapat pula menjadi kronik, lamanya diare ini dapat
dipersingkat dengan pemberian antibiotik. EPEC menempel pada sel epitel usus
halus dengan menggunakan adhesin yang dikenal dengan intimin, kemudian
mengeluarkan toksin dan menyebabkan mikrovili hilang dan filamen aktin terbentuk.

2) Escherichia coli enterotoksigenik (ETEC)
menyebabkan diare pada orang yang bepergian sehingga dikenal dengan
traveller’s diarrhea. ETEC mengeluarkan enterotoksin LT (heat-labile enterotoxin,
inaktivasi pada suhu 60˚C dalam 30 menit) atau enterotoksin ST (heat-stable
enterotoxin, tahan suhu >100˚C). Bakteri dengan LT menempel pada brush border
sel epitel usus halus yang mengaktivasi enzim adenilsiklase kemudian siklik
adenosin monofosfat (cAMP) konsentrasinya meningkat, maka permeabilitas sel
epitel usus meningkat sehingga absorpsi natrium terhambat dan terjadi hipersekresi
air dan klorida, akhirnya menyebabkan diare cair masif. Sedangkan ST mengaktivasi
siklik guanilil siklase (cGMP) pada sel epitel sehingga terjadi penurunan motilitas
usus halus dan gangguan absorpsi klorida yang menyebabkan sekresi cairan.

3) Escherichia coli enteroinvasive (EIEC)
menyebabkan diare seperti disentri (shigellosis). EIEC menginvasi sel epitel
mukosa usus yang menyebabkan ulkus, lesi inflamasi.

4) Escherichia coli enterohemoragik (EHEC)
penyebab diare ringan, colitis hemoragik, sindroma hemotilik uremik hingga
nyeri abdomen berat. EHEC menghasilkan verotoksin yang sifatnya hampir sama
dengan toksin Shiga pada Shigella dysentriae, meskipun secara antigenik dan genetik
berbeda.
5) Escherichia coli enteroaggregative (EAggEC/ EAEC) merupakan
penyebab diare akut dan kronik yang lebih dari >14 hari. EAEC memproduksi
hemolisin dan ST enterotoksin seperti yang dikeluarkan oleh ETEC.

Bakteri Salmonella sp.

Morfologi dan Taksonomi Salmonella sp.

Salmonella berbentuk batang, bersifat Gram negatif, bersifat anaerob fakultatif,
tidak berspora, motil dan berukuran 1-3,5 μm x 0,5-0,8μm.
Antigen utama pada Salmonella yaitu antigen O (somatik) yang digolongkan
menjadi beberapa serogrup A, B, C1, C2, D dan E, antigen H(flagel) dan antigen K/ Vi
(kapsul). S. typhi dan S. choleraesuis masing- masing memiliki satu serotip, sedangkan
S. enteriditis memiliki 140 serotip.

Bakteri ini memiliki taksonomi sebagai berikut.

Kingdom : Bacteria

Divisi : Proteobacteria

Kelas : Gamma proteobacteria

Ordo : Enterobacteriales

Famili : Enterobacteriaceae

Genus : Salmonella

Spesies : S. Typhi, S. Paratyphi A, S.Thyphimurium,
S. Choleraesuis, S.Enteriditis
Pertumbuhan Salmonella sp.

Salmonella dapat menyebar melalui hewan peliharaan ataupun manusia,
salah satu penyebarannya melalui feses orang-orang yang terinfeksi sehingga
mencemari makanan atau sumber air. Penularan paling utama terjadi dengan
menelan pangan yang terdapat bakteri. Bakteri ini banyak mencemari makanan
seperti telur dan daging ayam, serta dapat terus bereproduksi bila pemasakan tidak
sempurna. Sumber infeksi yang paling sering untuk Salmonella adalah air yang
terkontaminasi feses, susu dan produk olahannya yang terkontaminasi feses atau
pasteurisasi tidak sempurna, kerang yang mengandung air yang terkontaminasi,
telur unggas yang terinfeksi atau terkontaminasi, daging atau olahannya dari hewan
ternak yang terinfeksi atau terkontaminasi saat pengolahan dan hewan peliharaan.
Bakteri ini dapat hidup diluar tubuh makhluk hidup selama berminggu-minggu,
dapat bertahan hidup di air selama 4 minggu, tumbuh pada pH 7,2 dengan suasana
aerob dan anaerob fakultatif dan tumbuh baik pada suhu hangat yaitu dengan suhu
optimum 35-37˚C dan akan berhenti pertumbuhannya pada suhu <6,7˚C atau
>46,6˚C. Oleh karena itu, bakteri ini sering terdapat pada makanan yang tidak
dipanaskan secara benar seperti telur, susu atau daging ayam Bakteri ini dapat
tumbuh pada media agar Salmonella Shigella Agar, Mac-Conkey Agar dengan
bentuk koloni bulat, kecil dan tidak berwarna atau transparan, dengan warna hitam
ditengah.

Patogenesis Penyakit oleh Salmonella sp.

Sebagian besar Salmonella bersifat patogen pada hewan yang menjadi
reservoir untuk menginfeksi manusia. Penyakit utama yang disebabkan oleh bakteri
ini yaitu:
1) Demam tifoid (demam enterik)

Penyakit ini paling sering disebabkan oleh Salmonella Typhi yang masuk ke
aliran darah melalui limfatik, kemudian ke berbagai organ termasuk usus. Gejala
yang timbul yaitu demam, malaise, sakit kepala, konstipasi, bradikardia dan mialgia
setelah masa inkubasi 10-14 hari. Setelah itu demam meningkat dan terkadang
muncul bintik-bintik merah pada kulit. Dalam kondisi parah dapat terjadi
pembesaran limpa dan hati.
2) Bakteremia dengan lesi fokal

Bakteri S. Choleraesuis umumnya menjadi penyebab penyakit ini. Bakteri
menginvasi ke aliran darah yang memungkinkan adanya lesi fokal di paru, tulang,
meninges; meskipun sebelumnya menginfeksi mulut, namun tidak ada manifestasi
dalam usus.

3) Enterokolitis

Infeksi pada Salmonella paling sering menyebabkan enterokolitis, dengan
gejala sakit kepala, mual, muntah dan diare hebat disertai demam ringan 2-3 hari.

Lesi inflamasi terjadi dalam usus halus dan usus besar. Beberapa strain
Salmonella dapat melakukan penetrasi pada epitel usus, kemudian Salmonella
mengaktifkan enzim adenil siklase dan siklik AMP sehingga terjadi transport
elektrolit dan perubahan pada cairan di ileum yang menyebabkan sekresi cairan
usus dan diare. Salmonella menempel ke sel epitel dalam usus halus, kemudian
melakukan endositosis. Bakteri ini memperbanyak diri dengan bantuan makanan
dan merusak sel tubuh, hal ini menyebabkan demam, kram dan diare. Bila lebih
parah, dapat menyebabkan bakteremia dengan berpindahnya bakteri pada
pembuluh darah.